MATERI UTAMA MENULIS

Document Sample
MATERI UTAMA MENULIS Powered By Docstoc
					“Writer’s Block”, “Kotak Peralatan”-Menulis, dan
“Free Writing”: Kiat-Kiat Menulis dengan Rasa
Percaya Diri yang Tinggi
Oleh
Hernowo



“Banyak orang berpikir, para sarjana otomatis bisa menulis. Faktanya, banyak dosen
yang mengambil program doktor kesulitan merajut pemikirannya menjadi tulisan
yang baik. Hanya dengan mengajar, tak ada jaminan seorang pendidik bisa menulis.

karya yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk. Namun, sepanjang itu original,
Menulis membutuhkan latihan dan, seperti seorang pemula, ia pasti memulai dengan

patut dihargai.” RHENALD KASALI



Menulis bisa sangat mudah dan bisa sangat sulit. Menulis—menulis apa pun—
menjadi sangat mudah apabila seseorang, yang berniat menuliskan sesuatu itu,
mengawali kegiatan menulisnya dengan cara menulis yang ditujukan kepada dirinya
sendiri terlebih dahulu. Namun, menulis dapat tiba-tiba berubah menjadi monster
yang sangat menakutkan alias sulit sekali dilakukan apabila, sebelum mengawali
menulis, seseorang sudah memikirkan terlebih dahulu hal-hal yang berada di luar
kendalinya—misalnya, bagaimana menemukan judul yang ”menggigit”, membuat
pembuka yang menarik, atau memiliki argumentasi yang meyakinkan dan sangat
kokoh.

Membuat judul yang baik, membuka tulisan dengan sesuatu yang menarik
perhatian, atau memiliki referensi yang kokoh adalah penting. Namun, semua itu
dapat dipikirkan dan ditemukan bukan di awal kegiatan menulis. Sebaiknya, itu
dipikirkan setelah dia selesai mengeluarkan (menuliskan) bahan-bahan mentah
yang ingin dijadikan materi-dasar sebuah tulisan—apakah itu berupa karya ilmiah,
artikel opini, atau sebuah buku. Tak sedikit orang yang telah memiliki bahan yang
baik dan juga potensi menulis yang lumayan, ujung-ujungnya, setelah kepayahan
menulis, menjadi berhenti total menulis gara-gara tidak langsung dapat menuliskan
(menemukan) sesuatu yang membuat dirinya percaya diri.

Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa hal penting
terkait dengan kegiatan menulis (menulis apa pun) dan bagaimana menghasilkan
tulisan yang membuat diri sangat percaya diri. Saya berharap, gagasan saya ini
dapat membantu Anda untuk menjadi mudah dalam menjalani kegiatan menulis
dan, pada akhirnya, Anda juga dapat menghasilkan tulisan yang benar-benar dapat
mencerminkan diri Anda. Materi tulisan ini, terutama, memang, saya tujukan untuk


                                                                                 1
membuat diri Anda dapat menulis dengan penuh percaya diri. Tak berhenti di situ,
saya berharap juga, nantinya, materi ini dapat membantu Anda dalam
memanfaatkan kegiatan menulis untuk pengembangan diri.

Ada tiga materi yang akan saya sampaikan: Pertama, materi yang berkaitan dengan
”writer’s block” atau kebuntuan yang sering dialami oleh seorang penulis, baik
penulis pemula maupun profesional; kedua, tentang ”kotak peralatan” (tool box)-
menulis yang dapat Anda miliki dan manfaatkan untuk mengatasi kebuntuan atau
kemacetan menulis yang tiba-tiba dan tidak terduga; dan ketiga tentang teknik
menulis yang digagas dan dikembangkan oleh Natalie Goldberg (dalam bukunya
Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within), Peter Elbow (Writing without
Teachers), dan James W. Pennebaker (Opening Up: The Healing Power of Expressing
Emotions).



Tentang ”Writer’s Block”

Tentu, kita semua—yang pernah merasakan bagaimana repotnya menulis—
memahami bahwa ada banyak sekali faktor yang membuat seseorang mengalami
kemacetan atau kebuntuan menulis. Bagi saya, faktor-faktor itu dapat dikategorikan
menjadi dua: teknis dan nonteknis. Problem-problem menulis yang bersifat teknis
biasanya dapat dipecahkan dengan teknik-teknik menulis. Beberapa contoh: Jika
seseorang tidak berhasil menemukan judul yang baik, dia dapat mendaftar pelbagai
kombinasi kata yang memberikan arti baru dan berbeda terkait dengan materi inti
atau gagasan yang ditulisnya. Lantas, jika seseorang tidak dapat menuliskan apa pun
(blank) di layar komputernya—ketika ingin mengawali menulis—dia dapat,
misalnya, menggunakan teknik ”free writing” (menulis bebas): tulis satu kata atau
nama benda yang ada di sekitar tempat dia menulis.

Berbeda dengan problem-problem teknis, problem nonteknis lebih rumit untuk
dipahami dan diatasi karena sifatnya yang, kadang, tidak jelas (sulit sekali
dirumuskan). Sebagai contoh sederhana, terkait dengan problem nonteknis, adalah:
Bagaimana kita dapat merasa nyaman dan percaya diri ketika menuliskan sesuatu?
Bagaimana pula kita dapat menemukan gagasan yang dahsyat? Dan bagaimana agar,
selama menuliskan materi, kita dapat menjadikan gagasan awal itu berkembang
sedikit demi sedikit dan akhirnya mencapai puncak? Contoh lain adalah terkait
dengan bagaimana kita membangkitkan gairah dan semangat untuk mencicil
menulis. Menulis tidak dapat sekali jadi. Jika menulis dipaksakan dan harus segera
jadi, yang muncul adalah siksaan dan rasa frustrasi. Nah, bagaimana mengatasi
pelbagai problem nonteknis menulis ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda
dengan yang bersifat teknis.

Dapat merumuskan dan kemudian memahami ”writer’s block”—tanpa harus segera
memecahkannya—sesungguhnya sudah sangat menguntungkan bagi seorang
penulis. Setidaknya, dia dapat tidak memaksakan diri untuk terus menulis. Dia


                                                                                 2
kemudian sadar bahwa menulis memang tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu dicicil
dan dikembangkan secara perlahan-lahan dan hati-hati. Terburu-buru atau tergesa-
gesa menyelesaikan sebuah tulisan akan menghalanginya untuk menghasilkan
tulisan yang baik—tulisan yang dapat membuat dirinya sangat percaya diri.


”Kotak Peralatan”-Menulis

Terkait dengan ”kotak peralatan”-menulis ini, marilah kita meminta bantuan
Stephen King. Siapa King? King adalah penulis novel ”thriller” kondang yang sangat
produktif. Beberapa novelnya telah dilayarlebarkan. Salah satu yang terkenal (dan
mencekam) adalah film Green Mile yang pemeran-utamanya Tom Hanks. Pada tahun
2000, King menerbitkan karya nonfiksi satu-satunya, On Writing: A Memoir of the
Craft. Karya nonfiksi King ini telah mendapatkan banyak pujian, antara lain
mendapatkan penghargaan berupa ”Bram Stoker Award 2000”, ”Horror Guild
2001”, dan ”Locus Award 2001”. Dalam karyanya ini, King menceritakan secara
menarik tentang pengalamannya menulis dan apa itu menulis dalam pandangannya.

Saya menemukan istilah ”kotak perkakas”-menulis di buku On Writing. Secara
sangat impresif, King mengisahkan ihwal ”kotak perkakas”-menulis mulai di
halaman 145. Ketika itu, King berusia sembilan tahun. Dia punya paman bernama
Oren. Paman Oren berprofesi sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, rumah yang
ditempati King pintunya rusak. Paman Oren pun diminta untuk membetulkan pintu
yang rusak tersebut. King melihat Paman Oren membawa ”kotak perkakas” (tool
box) yang beratnya dapat mencapai 60 kilogram. Ternyata, Paman Oren hanya
mengambil satu jenis obeng untuk membetulkan pintu tersebut. King merasa heran.
Mengapa hanya perlu satu obeng kok Paman Oren harus membawa-bawa ”kotak
perkakas” yang sangat berat.

”Ya; tapi Stevie,” kata Paman Oren melihat keheranan King, ”aku tidak tahu apa lagi
yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini. Yang paling tepat adalah aku
membawa semua peralatan itu. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu
yang tidak kauharapkan dan jadi kecewa.” Dari pengalaman pada masa kecilnya itu,
King kemudian menulis: ”Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan
tulisan terbaik—sesuai dengan kemampuanmu—kau harus menyediakan kotak
perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa
mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya
pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau
segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja.”

Salah satu peralatan penting menulis yang harus ada di ”kotak perkakas”-menulis,
menurut King, adalah kosakata. Saya menamakannya dengan kekayaan bahasa.
Seorang penulis mungkin sudah memiliki banyak teknik menulis. Hanya teknik-
teknik menulis itu tidak akan bermanfaat—misalnya untuk mengatasi problem
teknis menulis—jika dia tak memiliki kekayaan bahasa. Menulis adalah
mengeluarkan sesuatu dari dalam diri—baik itu berupa pengalaman, pengetahuan,


                                                                                 3
atau gagasan—dengan bantuan kata-kata. Jika seorang penulis miskin bahasa atau
kata-kata, dia akan kesulitan mengeluarkan dan merumuskan gagasannya.
Bagaimana agar kita kaya kata-kata? Kuncinya adalah dengan rajin membaca teks-
teks yang ”bergizi”.

Selain kosakata, saya mengusulkan dua peralatan lagi yang harus tersedia di ”kotak
perkakas”: mengikat makna dan pemetaan pikiran (mind mapping). Mengikat
makna adalah sebuah konsep yang saya temukan untuk membuat kegiatan
membaca seseorang menjadi efektif dan kegiatan menulisnya pun akan menjadi
mudah dan lancar. Inti konsep mengikat makna adalah ”membaca memerlukan
menulis dan menulis memerlukan membaca”. Sementara itu, pemetaan pikiran
adalah sebuah cara untuk mengembangkan ide dan menemukan ide yang tidak
biasa. Pemetaan pikiran, yang ditemukan oleh Tony Buzan, kemudian
dikembangkan oleh Dr. Gabriele L. Rico menjadi teknik ”clustering”. Teknik
”clustering” ini sangat berguna untuk menjalankan kegiatan menulis yang alamiah.


Teknik Menulis Bebas

Kata-kata Rhenald Kasali yang saya kutip di paling awal tulisan ini, saya peroleh dari
artikel-menariknya di Kompas edisi Selasa, 20 April 2010. Judul artikel itu ”Orang
Pintar Plagiat”. Bagaimana agar kita dapat menuliskan sesuatu yang ”original” yang
berasal dari pikiran kita sendiri? Gunakanlah teknik menulis bebas (free writing)
ketika Anda sedang berlatih menulis atau menjalankan kegiatan awal menulis. Ada
tiga tokoh yang saya rujuk terkait dengan teknik menulis bebas. Pertama, Natalie
Goldberg. Natalie adalah instruktur menulis bebas yang sangat terkenal di Amerika
Serikat. Kedua, Peter Elbow. Elbow adalah profesor bahasa dan Direktur Program
Menulis di Universitas Massachusetts, Amherst, Amerika Serikat. Dan ketiga, Dr.
James W. Pennebaker, seorang psikolog peneliti yang meneliti tentang kegiatan
menulis yang dapat menyembuhkan.

Sebagaimana telah saya tunjukkan di bagian sebelum ini, Natalie menulis buku
berjudul Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within (1986). Buku ini telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2005 dengan judul Alirkan

Natalie, dalam bukunya, memang tak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana
Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis.

menulis bebas. Dia meminta kepada siapa saja yang menggunakan tekniknya untuk
kemudian menemukan jati dirinya selama menulis bebas. Bagi saya, mengalirkan
jati diri identik dengan mengalirkan sesuatu yang “original” yang berasal dari diri
kita.

Berbeda dengan Natalie, Elbow lebih menekankan bagaimana seorang penulis dapat
meraih kenyamanan terlebih dahulu ketika ingin memulai kegiatan menulis.
Kenyamanan menulis sangat penting untuk diraih di awal sebelum seorang penulis
berhasil mengeluarkan ide-ide hebatnya. Dalam bukunya, Writing without Teachers
(terbit pertama kali pada 1973 dan kemudian direvisi pada 1998)—edisi revisi


                                                                                    4
karya Elbow sudah diterjemahkan pula dengan judul Merdeka dalam Menulis
(2007)—Elbow menginginkan agar seseorang, ketika mengawali menulis, bagaikan
sedang menyampaikan sesuatu secara lisan (berbicara). Teknik menulis bebasnya
ini ingin mengajak setiap penulis untuk tidak buru-buru mengoreksi apa yang sudah
berhasil dikeluarkannya secara tertulis.

Nah, lewat risetnya, Dr. Pennebaker menemukan bahwa kegiatan menulis yang
sangat bebas (”opening up” atau blak-blakan) dapat membantu seseorang untuk
mengatasi tekanan hebat (depresi). Riset Dr. Pennebaker kemudian dibukukan pada
tahun 1990. Saya pernah mempraktikkan saran Dr. Pennebaker ini untuk
“membuang”—dengan memanfaatkan kegiatan menulis—seluruh materi yang
menggangu pikiran saya. Materi atau “sampah” pikiran itu saya keluarkan secara
mencicil dan setiap kali selesai (karena lelah), saya berhenti dan tidak membaca
materi tersebut. Saya biasa mengendapkannya sehari. Materi “sampah” itu saya
baca dengan cara menyeleksi (bukan mengoreksi). Saya membuang yang tidak perlu
dan kemudian mengumpulkan materi—di antara tumpukan materi “sampah”—yang
benar-benar sangat penting dan berharga bagi diri saya.

Efek yang saya rasakan dalam menjalankan kegiatan menulis dengan teknik
“opening up” ini luar biasa! Pada tahun 2001 hingga 2005, ketika usia saya melewati
angka 44, saya dapat membuat buku sebanyak 24 judul. Jika dipukul rata, setiap dua
bulan sekali, lahirlah satu buku karya saya. Bukan hasil yang banyak dan cepat itu
yang ingin saya banggakan di sini. Lewat pemanfaatan teknik ”opening up”, saya
dapat membebaskan diri saya dari segala “penjara” aturan menulis—ketika saya
ingin memulai menulis. Aturan menulis tentu baik-baik saja dan dapat memandu
kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. Hanya jika aturan menulis itu kemudian
berubah menjadi kerangkeng—menjadikan kita ragu-ragu dalam mengeluarkan
pikiran kita—tentulah itu dapat membuat diri kita impoten (tidak mampu)
menulis.[]




                                                                                 5
Memilih dan Mengembangkan Ide dengan
Teknik “Free Writing” dan “Clustering”
Oleh Hernowo




November 2010 lalu, saya berkeliling ke beberapa instansi pemerintah dan lembaga
pendidikan untuk memberikan pelatihan menulis. Materi yang saya bawakan, salah
satunya, adalah bagaimana memilih dan kemudian mengembangkan ide.

Saya tidak ingin mendefinisikan ide itu apa. Bagi saya, sebuah tulisan yang tidak
mengandung ide adalah tulisan yang “bisu”, datar, dan hampa. Tulisan itu tidak
berbunyi dan, ada kemungkinan, tidak mampu menggugah para pembacanya.

Untuk membuat agar sebuah tulisan memiliki ide, biasanya seorang penulis sibuk
memikirkannya: Ada yang menyepi, ada pula yang mengisi dirinya dengan banyak
membaca. Ringkasnya, perlu diadakan banyak kegiatan untuk mendapatkan ide.

Namun, hampir semua orang—bukan hanya penulis—telah menyadari bahwa ide
tidak dapat ditunggu. Yang lebih aneh, ide itu hanya akan mendatangi seseorang
yang sudah siap untuk menerima ide dan kehadiran ide tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu—merujuk ke film Mendadak Dangdut, bisa disebut memiliki ide
sebagai “Mendadak Ide!”

Dalam sebuah pelatihan menulis, tidak mudah mengajak seseorang untuk
memahami soal ide dalam kegiatan menulis ini. Meskipun dalam kegiatan menulis,
ide itu sangat penting; namun, mencoba menjelaskan dan merasakan ide bukan
persoalan gampang.

Saya beruntung dapat memahami hakikat teknik “free writing” dan “mindmapping”
atau “clustering”. Kedua teknik—saya lebih senang menyebutnya sebagai



                                                                               6
“peralatan” penting—menulis ini dapat membantu saya dalam merekayasa
kehadiran sebuah ide.

Saya belajar tentang teknik “free writing” kepada tiga tokoh: Natalie Goldberg, Peter
Elbow, dan James W. Pennebaker. Dua tokoh yang pertama memang ahli menulis,
namun tokoh yang ketiga adalah seorang doktor di bidang psikologi.

Intinya, “free writing” dapat melatih seorang penulis untuk mengeluarkan sesuatu
yang “original” dari dalam dirinya. Bagaimana mendeteksi bahwa sesuatu yang
“original” telah dapat dikeluarkan? Berikut beberapa isyarat yang dapat dirasakan:




Grabiele Rico, Ph.D

Pertama, penulis tersebut memang sudah sering mempraktikkan “free writing”—
minimal 10 hingga 15 menit setiap hari. Kedua, dia sudah tidak lagi, secara otomatis,
mengoreksi hasil kegiatan “free writing”-nya. Dan ketiga, pada saat-saat tertentu,
dia merasakan kelegaan luar biasa sehabis mempraktikkan “free writing”.

Teknik yang kedua, yang disebut “mindmapping” atau “clustering”, saya manfaatkan
untuk memilih dan mengembangkan ide dalam bentuk “peta” (gambar)—lihat
contoh-contohnya di sini. Dalam menggunakan teknik ini, saya tidak merujuk ke
Tony Buzan (penemunya), melainkan ke Dr. Gabriele Luser Rico.

Rico mengadopsi “mindmapping” menjadi “clustering”. Salah satu pesan Rico yang
sangat penting adalah menulislah sesuatu secara mencicil, sedikit demi sedikit.
Menulis memang tidak dapat sekali jadi. Menulis harus dikembangkan perlahan-
lahan secara kelompok demi kelompok ide.

Penerapan teknik “clustering” hampir persis dengan penerapan teknik
“mindmapping”: Ambil selembar kertas ukuran A4 dan posisikan secara landscape.



                                                                                   7
Di tengah-tengah kertas, tuliskanlah topik yang ingin dieksplorasi secara tertulis.
Topik tersebut ingin kita kembangkan menjadi sebuah ide yang menggoda.

Misalnya, kita ingin menulis tentang kursi. Topik tentang kursi ini ingin kita
kembangkan menjadi tulisan yang tidak biasa-biasa saja dan, nantinya, di dalam
pengembangan itu kita dapat menemukan sebuah ide baru. Nah, langkah pertama
saya harus kita tempuh adalah dengan meletakkan kata KURSI persis di tengah
kertas A4.

Setelah itu, tariklah empat garis yang memancar dari tulisan KURSI menuju empat
arah berbeda. Pandangi secara saksama empat garis itu. Kemudian, secara sangat
spontan, bubuhkan satu kata tanpa berpikir di atas keempat garis tersebut. Karena
tanpa dipikirkan lagi, diharapkan keempat kata itu tidak ada yang berkaitan dengan
kata kursi.

Misalnya saja, empat kata yang kita tuliskan adalah ufuk, meja, bau, dan duku. Kata
meja jelas masih ada hubungannya dengan kursi. Untuk mendapatkan dan
mengembangkan ide yang baru, kata meja ini terpaksa kita coret. Yang tersisa
adalah ufuk, bau, dan duku.




Dari ketiga kata tersisa, kita harus memilih satu kata. Misalnya, yang kita pilih
adalah ufuk. Apa hubungannya kursi dan ufuk? Tidak ada. Pada titik ini, kita telah
berani menantang pikiran kita. Kita menantang pikiran kita untuk mengubah
perspektif dalam memandang kata kursi.

Langkah berikutnya adalah menggunakan jalur kursi-ufuk untuk mengembangkan
ide. Buatlah tiga garis cabang dari jalur (garis) kursi-ufuk yang titiknya dari kata
ufuk. Lalu bubuhkan tiga kata lagi secara spontan di atas tiga garis cabang tersebut.
Misalnya kita membubuhkan kata merah, darah, dan utang.

Pengembangan ide telah mencapai tahap kedua dan menurut Rico, kita harus
berhenti dan meng-cluster (mengelompokkan) ide kita itu. Untuk meng-cluster jalur
kursi-ufuk, kita harus memilih satu kata dari tiga kata cabang yang ada. Misalnya,
kita memilih kata merah.




                                                                                   8
Nah, sampai di sini, kita telah menemukan jalur kursi-ufuk-merah. Setelah kita
menemukan tiga kata ini, cobalah tantang pikiran Anda dengan melakukan kegiatan
menulis yang menggunakan tiga kata tersebut-kursi, ufuk, merah-untuk menemukan
sebuah ide yang lain daripada yang lain.

Selamat berlatih dan selamat mengalami “Mendadak Ide!” Salam.[]




                                                                             9
Mengeluarkan Sesuatu yang “Original” dari Pikiran
Oleh Hernowo, penulis Mengikat Makna

“Ketika Anda mulai menulis dari pikiran Anda sendiri, Anda mesti bersedia untuk

waktu yang lebih panjang dari itu.” NATALIE GOLDBERG
menulis sampah selama lima tahun karena kita telah mengumpulkannya selama



sebelum Anda akhirnya merasakan suasana yang nyaman.” RAY BRADBURY
“Anda harus menulis berkali-kali dan menyingkirkan sekian banyak materi sampah


“Banyak orang berpikir, para sarjana otomatis bisa menulis. Faktanya, banyak dosen
yang mengambil program doktor kesulitan merajut pemikirannya menjadi tulisan
yang baik. Hanya dengan mengajar, tak ada jaminan seorang pendidik bisa menulis.

karya yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk. Namun, sepanjang itu original,
Menulis membutuhkan latihan dan, seperti seorang pemula, ia pasti memulai dengan

patut dihargai.” RHENALD KASALI


Kenalkah Anda dengan Natalie, Ray, dan Rhenald? Jika tak kenal, tak apa. Yang
penting, pada saat ini, Anda memiliki kesempatan untuk merasakan apa yang
dikatakan oleh mereka. Saya ingin menjadikan kata-kata mereka sebagai panduan
untuk menjelaskan tentang apa saja yang dapat kita lakukan ketika kita ingin
menjalankan kegiatan menulis di tingkat yang paling dasar.

Mengapa kita perlu mengenal dan merasakan kegiatan menulis di tingkat yang
paling dasar? Sebab tak sedikit orang yang ingin dapat menulis dihadapkan dengan
kenyataan ini: mereka langsung menulis di sebuah tingkat yang tinggi tanpa
melewati tingkat yang paling dasar. Sesungguhnya, ya tidak ada masalah. Namun,
sering terjadi, orang-orang yang melompat tersebut akhirnya berhenti menulis
karena hasil tulisannya tidak kunjung menghadirkan rasa percaya diri.

Merasakan kegiatan menulis di tingkat yang paling dasar akan banyak membantu
calon penulis dalam memecahkan pelbagai persoalan nonteknis menulis—salah
satu contohnya ya soal kepercayaan diri itu. Tentu, ketika menjalani proses menulis
di tingkat yang paling dasar, seseorang tak boleh hanya mengikuti secara ala
kadarnya. Beberapa sikap—seperti kesungguhan, kesabaran, kecintaan,
kecermatan, kegigihan, kedisiplinan, kejujuran, dan masih banyak lagi—perlu
dimunculkan dan dilibatkan ketika menulis.

*

Marilah kita jalani kegiatan menulis di tingkat paling dasar dengan dipandu oleh
Natalie, Ray, dan Rhenald. Siapa sih Natalie, Ray, dan Rhenald? Natalie Goldberg
adalah pencetus metode revolusioner ”menulis bebas” dan instruktur menulis
terlaris di Amerika Serikat. Sementara itu, Ray Bradbury adalah sastrawan kondang



                                                                                10
berkebangsaan Amerika Serikat. Dan Rhenald Kasali adalah penulis Indonesia yang
telah melahirkan karya-karya serius tetapi mudah dinikmati—Change! (2005) dan
Myelin (2010) adalah dua contoh karya-hebatnya.

Dari pesan Natalie, kita bisa belajar bahwa menulis itu tidak dapat sekali jadi. Ketika
ingin memulai menulis, kita harus berani ”menulis bebas”. Ini berarti, kita harus
nekad menuliskan (mengeluarkan) apa saja. Jika yang ingin kita tulis adalah ”A”, dan
ternyata yang keluar adalah ”E”, ya kita harus menerimanya. Saya menganggap
menulis seperti ini adalah menulis di ”Ruang Privat”—kita seakan-akan berada
sendirian di muka bumi. Kegiatan menulis di sini juga identik dengan kegiatan
”membuang”—ingat, kita perlu banyak-banyak membuang ”sampah” tulisan.

Ray memandu kita agar tidak terburu-buru dalam menulis. Sebab ada kemungkinan,
kita harus berkali-kali melakukan kegiatan ”membuang” agar perasaan kita nyaman
dalam menulis. ”Menulislah secara mencicil dan jika macet ya berhenti,” kira-kira
begitulah pesan-penting Ray. Dan ingat, dalam tahapan menulis seperti ini, kita
dilarang keras untuk mengoreksi atau membaca hasil tulisan begitu kita selesai
menulis. Kita bahkan dianjurkan untuk membacanya pada keesokan harinya. Nah, di
sinilah kita perlu memanfaatkan kesabaran yang kita miliki.

Saran dari Rhenald, sekaligus untuk menutup penjelasan tentang kegiatan menulis
di tingkat yang paling dasar ini, perlu kita perhatikan secara saksama. Ketika kita
sedang ”membuang” apa saja, kita juga perlu berkonsentrasi penuh untuk
mengeluarkan sesuatu yang ”original”. Untuk dapat mencapai keadaan seperti itu,
ada baiknya, sebelum mengeluarkan sesuatu, kita merenung terlebih dahulu. Fokus
dan perhatikan secara sangat cermat hal-hal yang berseliweran di kepala kita. Lalu,
sesegera mungkin kita menangkap (menyetop) sesuatu yang berkelebat yang ada di
dalam pikiran kita—apa pun bentuknya.

Setelah berhasil menangkap sesuatu yang berkelebat di dalam pikiran kita, secara
sangat cepat pula, kita pun harus bersegera merumuskan tentang apa yang berhasil
kita tangkap itu. Nah, jika kita dapat melakukan kegiatan menulis seperti ini berkali-
kali, insya Allah, pada suatu saat nanti, kita akan dapat menangkap dan
mengeluarkan sesuatu yang ”original”—sebagaimana yang dimaksudkan oleh
Rhenald Kasali—yang berasal dari pikiran kita. Pedulikan dan hargai tulisan awal
Anda ini—sekali lagi, apa pun bentuknya. Selamat mencoba dan merasakan
keasyikan menulis.[]




                                                                                    11
Hernowo dan Karya-Karyanya
Hernowo, lahir di Magelang pada 12 Juli 1957, telah bekerja di Penerbit
Mizan selama 27 tahun. Di Penerbit Mizan, selama bertahun-tahun, dia
menekuni dunia pengemasan buku—bagaimana membuat judul yang eye
catching, memadukan bahasa kata (teks) dan rupa (visual) secara sinergis
dan harmonis, serta menata pelbagai komponen-penting buku (sinopsis,
halaman-halaman awal dan akhir, lembar pemisah antarbagian buku,
halaman awal setiap bab, dll.), agar bersuara nyaring sehingga sebuah buku
dapat mengusik pembacanya.

Ketekunan dan kegigihan dalam menggeluti dunia pengemasan itu mengubah
jalan hidup Hernowo menjadi seorang penulis. Hernowo menjadi penulis di
usia lewat 40 tahun dan berhasil menciptakan konsep baru membaca-
menulis bernama “mengikat makna”. Lewat konsep baru itu, Hernowo
menjadi sangat produktif dan kreatif dalam membuat buku. Selama empat
tahun (2001-2005) sebanyak 24 judul buku dihasilkannya. Hingga 2009,
Hernowo telah menghasilkan 35 judul buku. Buku-bukunya yang mencetak
best-seller, antara lain, Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza,
Quantum Reading, dan Quantum Writing.

Keaktifannya menggalakkan budaya baca-tulis di Indonesia diganjar oleh
Panitia ”World Book Day Indonesia I” pada tahun 2006. Hernowo menjadi
orang pertama dari Indonesia yang mendapat penghargaan dari Panitia
”World Book Day Indonesia I” sebagai penulis yang berhasil menginspirasi
dan membangkitkan semangat para pembaca bukunya untuk menjalankan
kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan. Dan pada Desember
2010, karya tulisnya, “Agar Perpustakaan Tak Jadi Kuburan” meraih juara
ketiga dalam sayembara karya tulis menuju perpustakaan nasional ideal.

Kini kesibukan sehari-harinya adalah mengelola Klinik Baca-Tulis yang dia
buka via SMS dan e-mail. Di samping itu, dia juga menjadi pemimpin redaksi
www.mizan.com. Di website ini, setiap dua minggu sekali, tulisan-tulisannya
tentang learning, reading, and writing muncul di rubrik “Plong”. Ada juga
rubrik ”Klinik Baca-Tulis” di website tersebut yang dimanfaatkannya untuk
melayani pertanyaan masyarakat tentang kegiatan membaca dan menulis
serta belajar-mengajar yang memberdayakan.

Pada 2011, selain ingin merintis pendirian “Sekolah Berpikir Mengikat
Makna”, Hernowo juga berencana membuat buku yang ke-36 dan ke-37
sekaligus. Kedua buku baru yang sedang dirancangnya ini ingin diterbitkan


                                                                        12
dalam bentuk dwilogi—meniru buku Dwilogi Padang Bulan-nya Andrea
Hirata. Buku ke-36 rencananya akan berjudul, “Christopherian Encounters”:

Mengembangkan Pikiran, dan buku ke-37 rencananya akan berjudul, “Reading
Menjadikan Kegiatan Membaca-Menulis untuk Menggerakkan dan

for Pleasure”: Agar Perpustakaan Tak Jadi Kuburan.


   (1) Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan plus Kemampuan Membaca dan Menulis
Karya-Karya Hernowo (2001-2009)
        Buku (2001, cetakan ke-7).
   (2) Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan “Word Smart” (2003, cetakan ke-
        3).
   (3) Spirit Iqra’: Menghimpun Samudra Makna Ramadhan (edisi sebelumnya berjudul, Bagaimana
        Memaknai Ibadah Puasa: Catatan Harian Sebulan Ramadhan, 2003).
   (4) Tujuh Warisan Berharga: Wasiat Seorang Ayah kepada Putra-Putrinya dengan Menggunakan Metode
        “Pemetaan Pikiran” (2003, cetakan ke-2).
   (5) Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Membaca (2003,
        cetakan ke-6).
   (6) Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis (2003,
        cetakan ke-7).
   (7) Larik-Lirik Mencuatkan Potensi Unik (2003, Editor)
   (8) Menulis Diary Membangkitkan Rasa Percaya Diri (2003, Editor)
   (9) Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (2004, cetakan ke-3).
   (10) Main-Main dengan Teks sembari Mengasah Kecerdasan Emosi (2004, cetakan ke-2).
   (11) Bu Slim dan Pak Bil: Kisah tentang Kiprah Guru “Multiple Intelligences” di Sekolah (2004, cetakan ke-3).
   (12) Bu Slim dan Pak Bil Membincangkan Pendidikan di Masa Depan (2004, cetakan ke-3).
   (13) Smart Book 1: 40 Hari Mencari Makna (2004).
   (14) Smart Book 2: 40 Hari Mencari Ilmu (2004).
   (15) Smart Book 3: 40 Hari Mencari Tuhan (2004).
   (16) Mengikat Makna untuk Remaja (2004).
   (17) Bu Slim dan Pak Bil Menggagas-Kembali Pendidikan Berbasiskan Buku (2004).
   (18) Self-Digesting: “Alat” untuk Mengurai dan Mengenali Diri (2004).
   (19) Vitamin T: Bagaimana Mengubah Diri lewat Membaca dan Menulis (2004).
   (20) Breaking the Habit: Menulis untuk Mengenali dan Mengubah Diri (2004, Editor)
   (21) Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku (2005, cetakan ke-2).
   (22) Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan (2005, cetakan ke-6).
   (23) Bu Slim dan Pak Bil Mengobrolkan Kegiatan Belajar-Mengajar Berbasiskan Emosi (2005).
   (24) Mengubah Sekolah: Catatan-Catatan Ringan Berbasiskan Pengalaman (2005).
   (25) Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual (2005,
        cetakan ke-3).
   (26) Bu Slim dan Pak Bil Mengimpikan Sekolah Imajinasi (2005).
   (27) Mengikat Makna Sehari-hari: Bagaimana Mengubah Beban Membaca dan Menulis menjadi Kegiatan
        yang Ringan-Menyenangkan (2005)
   (28) Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Kreatif (2006, cetakan ke-3).
   (29) Poligami yang Tak Melukai Hati (2007, dengan nama pena: Abu Fikri)
   (30) Al-Quran Bukan Da Vinci Code (2007, dengan nama pena: Khulqi Rasyid)
   (31) Aku Ingin Bunuh Harry Potter! (2007, cetakan ke-3)
   (32) Aku Ingin Bunuh Harry Potter!: Extended Version (2007)
   (33) Membacalah Agar Dirimu Mulia: Pesan dari Langit (2008)
   (34) Terapi Hati di Tanah Suci: Ya Allah, Jadikan Aku Cahaya (2008)
   (35) Mengikat Makna Update: Membaca dan Menulis yang Memberdayakan (November 2009)




                                                                                                            13