Docstoc

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS - Download as DOC

Document Sample
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS - Download as DOC Powered By Docstoc
					                   PROPOSAL

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS
 VIII A MTsN AMUNTAI UTARA MELALUI MODEL
 PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE LEARNING
  TOGETHER (LT) TAHUN PELAJARAN 2011/2012


                Tugas Mata Kuliah
         Penelitian Pendidikan Matematika


                 Dosen Pengajar :
               Drs. H. Karim, M. Si


                      Oleh
                AHMAD RIFANI
                 NIM A1C108049




   PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
   JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
   FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
      UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
                 BANJARMASIN
                    JUNI 2011
              PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


A. JUDUL:
   Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII A MTsN Amuntai Utara
   Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (LT) Tahun
   Pelajaran 2011/2012


B. LATAR BELAKANG MASALAH
       Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang
didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di
kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak
dipaksa untuk mengingat dan menimbun informasi tanpa dituntut untuk
memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan
kehidupan sehari-hari.
       Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak anak dengan berbagai bahan
ajar yang harus dihafal, pendidikan kita tidak diarahkan untuk membangun dan
mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki. Dengan kata lain, proses
pendidikan kita tidak diarahkan membentuk manusia yang cerdas, memiliki
kemampuan memecahkan masalah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk
manusia yang kreatif dan inovatif. Kenyataan ini berlaku untuk semua mata
pelajaran termasuk matematika.
       Upaya peningkatan kualitas pendidikan matematika di Indonesia telah
dilakukan melalui berbagai cara, antara lain dengan pembaharuan kurikulum dan
penyediaan perangkat pendukungnya seperti silabus, buku siswa dan buku
pedoman untuk guru, penyediaan alat peraga, dan memberikan pelatihan bagi
guru-guru matematika. Namun, berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil
yang menggembirakan terhadap kualitas pendidikan matematika di tanah air.
       Banyak faktor yang bisa menyebabkan suatu proses pengajaran
matematika menjadi kurang efektif. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari
minat dan motivasi siswa yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan
prasarana yang kurang memadai. Keberhasilan pembelajaran juga sangat
ditentukan oleh pemilihan model pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Penyajian pembelajaran yang menarik akan dapat membangkitkan motivasi
belajar siswa. Sebaliknya jika pembelajaran itu disajikan dengan cara yang kurang
menarik, maka akan membuat siswa kurang termotivasi.
        Prestasi belajar matematika siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara
masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diperoleh saat
mereka berada di kelas VII. Prestasi siswa yang rendah ini disebabkan karena
model pembelajaran langsung yang dilaksanakan oleh guru matematika di kelas
menyebabkan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Pembelajaran lebih terfokus
pada pencapaian target kurikulum daripada pemahaman siswa. Pembelajaran lebih
didominasi oleh guru sehingga siswa menjadi pasif. Keadaan ini menyebabkan
prestasi belajar mereka secara klasikal rendah.
        Peneliti menilai bahwa pembelajaran yang selama ini diterapkan tidak
memotivasi mereka untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar matematika. Hal inilah yang diperkirakan menjadi penyebab utama
rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Keadaan ini hendaknya segera
direspon secara positif oleh guru dengan mencari alternatif model pembelajaran
yang efektif sehingga dapat membuat siswa mudah memahami materi pelajaran
matematika dan aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
        Berdasarkan      uraian di atas maka peneliti ingin memberikan suatu
alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran yang meliputi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai
sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau
mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama lainnya (TIM MKPBM, 2001).
Pembelajaran kooperatif menjadi pilihan karena pembelajaran ini dirancang untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa dan kelas dirancang sedemikian rupa agar
terjadi interaksi positif antarsiswa.
        Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe, salah satunya adalah
tipe Learning Together (LT). Model pembelajaran kooperatif model Learning
Together    (LT)    merupakan     suatu   model   pembelajaran   kooperatif   yang
dikembangkan oleh David dan Roger Johnson beserta rekan-rekan mereka di
University of Minnesota.
       Hasil penelitian Rija (2011) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Barabai
tahun pelajaran 2010/2011 menunjukkan bahwa dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) pada materi pokok kubus
dan balok dapat meningkatkan prestasi siswa. Selain itu, berdasarkan hasil
wawancara dengan bapak Drs. Barkatullah           selaku guru mata pelajaran
matematika kelas VIII di MTsN Amuntai Utara bahwa model kooperatif tipe
Learning Together (LT) dengan pendekatan kontekstual tidak pernah digunakan
dalam pembelajaran matematika di sekolah tersebut.
       Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul: “Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Kelas VIII A MTsN Amuntai Utara Melalui Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Learning Together (LT) Tahun Pelajaran 2011/2012”.


C. PERUMUSAN MASALAH
       Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian
ini dirumuskan sebagai berikut:
(1) Bagaimana aktivitas siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun pelajaran
   2011/2012      dalam     pembelajaran    matematika   menggunakan    model
   pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan
   kontekstual?
(2) Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dapat
   meningkatkan prestasi belajar matematika siswa di kelas VIII A MTsN
   Amuntai Utara tahun pelajaran 2011/2012?


D. BATASAN MASALAH
       Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak meluas, maka masalah dalam
penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
(1) siswa yang diteliti adalah siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun
   pelajaran 2011/2012, dan;
(2) materi pengajaran dilakukan pada materi kubus dan balok.
E. RENCANA PEMECAHAN MASALAH
         Alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa adalah dengan cara menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
Learning Together (LT) pada proses belajar mengajar. Hasil penelitian Rija
(2011)    telah menunjukkan     hasil yang positif dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa. Dengan menerapkan model pembelajaran ini, diharapkan prestasi
belajar siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara dapat ditingkatkan dan siswa
dapat terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.


F. TUJUAN PENELITIAN
         Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
(1) Mengetahui aktivitas siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun
   pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran matematika menggunakan model
   pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan
   kontekstual, dan;
(2) mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun
   pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran matematika dengan model
   pembelajaran kooperatif      tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan
   kontekstual.


G. MANFAAT PENELITIAN
          Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1) Bagi siswa, sebagai upaya menumbuhkan motivasi belajar dan melatih siswa
   bekerja sama dengan siswa lain.
(2) Bagi guru, sebagai bahan masukan dan informasi untuk dapat digunakan
   dalam perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran matematika.
(3) Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dan informasi untuk meningkatkan
   kualitas pengajaran matematika di sekolah.
(4) Bagi peneliti, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kemampuan dan
   pengetahuan dalam bidang pendidikan.
(5) Sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut, khususnya penelitian
   mengenai model kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan
   kontekstual apabila ada yang melakukan kegiatan penelitian yang berkaitan.


H. ANGGAPAN DASAR
       Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa:
(1) siswa yang diteliti mempunyai kemampuan dasar serta tingkat emosional dan
    mental yang relatif sama.
(2) alat evaluasi yang digunakan memenuhi kriteria alat ukur yang baik.


I. TINJAUAN PUSTAKA
1. Belajar dan Pembelajaran
       Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui
interaksi dengan lingkungan. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan
bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih
luas dari itu, yakni mengalami. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah
laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 2003).
       Menurut Sanjaya (2006) belajar bukan hanya menyampaikan materi
pelajaran saja, akan tetapi merupakan pekerjaan yang bertujuan dan bersifat
kompleks. Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah
proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan
munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya
interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
       Dimyati dan Mudjiono (2006) berpendapat bahwa belajar merupakan
tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. sebagai tindakan maka belajar hanya
dialami oleh siswa sendiri. Belajar merupakan proses internal siswa dan
pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar. Dari segi siswa, belajar
merupakan kegiatan peningkatan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik
menjadi lebih baik. Dari segi guru, belajar merupakan akibat tindakan
pembelajaran.
       Djamarah (2002) berpendapat bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan
jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut
kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan menurut Syah (2004), belajar dapat
dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif
menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang
melibatkan proses kognitif.
       Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap
sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan pembelajaran merupakan penataan
lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang
secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam
diri individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja
direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku (Fontana, Tim MKPBM, 2001).
       Pembelajaran merupakan perpaduan antara kegiatan pengajaran yang
dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan
pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara
guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan
dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara
aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga mencapai kompetensi
yang diharapkan (Widyantini, 2006).
       Dalam arti sempit proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam
lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses pembelajaran adalah proses
sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber atau
fasilitas, dan teman sesama siswa (Tim MKPBM, 2001). Menurut Ivor K. Devais
(Sanjaya, 2006), salah satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah
melupakan bahwa hakikat pembelajaran adalah belajarnya siswa dan bukan
mengajarnya guru.
       Menurut Hamalik (2003), dalam proses pengajaran, unsur proses belajar
memegang peranan vital. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar,
kegiatan mengajar akan bermakna apabila terjadi kegiatan belajar murid. Menurut
Sudjana (1996), mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar
adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa
sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar.
         Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian
informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu
sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Untuk proses mengajar,
sebagai proses menyampaikan pengetahuan, akan lebih tepat diartikan dengan
menanamkan ilmu pengetahuan seperti yang dikemukakan Smith bahwa mengajar
adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan (Sanjaya, 2006).
         Menurut Sanjaya (2006), mengajar jangan diartikan sebagai proses
menyampaikan materi pembelajaran, atau memberikan stimulus sebanyak-
banyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur
lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang
dimilikinya. Istilah mengajar bergeser pada istilah pembelajaran, yang dapat
diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah
perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan
perbedaan yang dimiliki siswa.
         Menurut Gagne (Sanjaya, 2006), mengajar atau teaching merupakan
bagian dari pembelajaran (instruction), di mana peran guru lebih ditekankan
kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas
yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari
sesuatu.
         Pembelajaran menurut makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan
mempelajari. Perbedaan esensiil istilah ini dengan pengajaran adalah pada tindak
ajar.    Pada pengajaran guru mengajar, peserta didik belajar, sementara pada
pembelajaran guru mengajar diartikansebagai upaya guru mengorganisir
lingkungan terjadinya belajar. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran
adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didiknya untuk
mempelajarinya. Jadi, subjek pembelajaran adalah peserta didik (Suprijono,
2010).


2. Pembelajaran Matematika
         Istilah   matematics   (Inggris),   mathematik   (Jerman),   mathematique
(Perancis), matematico (Itali). matematiceski (Rusia), atau mathematick/wiskunde
(Belanda) berasal dari perkataan Latin mathematica, yang mulanya diambil dari
perkatan Yunani, mathematike, yang berarti ”relating to learning”. Perkataan itu
mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge,
science). Perkataan mathematike berkaitan sangat erat dengan sebuah kata lainnya
yang serupa, yaitu mathenein yang mengandung arti belajar (berpikir).
Berdasarkan etimologis, matematika berarti ”ilmu pengetahuan yang diperoleh
dengan bernalar” (Tim MKPBM, 2001).
         Dinyatakan dalam GBPP bahwa pengajaran matematika di sekolah
terutama bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan
dunia yang dinamis dengan menekankan pada penalaran logis, rasional dan kritis,
serta memberikan keterampilan kepada mereka untuk mampu menggunakan
matematika dan penalaran matematika dalam memecahkan berbagai masalah
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mempelajari bidang ilmu lain (Hadi,
2005).
         Menurut Niss (Hadi, 2005), salah satu alasan utama diberikan matematika
kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada setiap individu
pengetahuan yang dapat membantu mereka untuk mengatasi berbagai hal dalam
kehidupan, seperti pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan
sosial, dan kehidupan sebagai warga negara.
         Menurut Gagne (TIM MKPBM, 2001), dalam belajar matematika ada dua
objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tak langsung.
Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memcahkan masalah,
belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana
semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep
dan aturan.
         Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran
matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif. Untuk
pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin
tahu siswa. Siswa harus diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga
diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna.
         Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan
menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan
siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun sosial. Prinsip belajar
aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran
matematika yang kreatif dan kritis. Strategi yang dipilih dalam pengajaran
matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua
unsur pembelajaran serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa. Penekanan
pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta,
tetapi pada pemahaman konsep.


3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

        Belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, Nasution (Djamarah, 2002)
mengemukakan berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
sebagai berikut:
(1)   Faktor Lingkungan, yang terdiri dari:
      (a)   Lingkungan alami
            Lingkungan hidup adalah tempat tinggal anak didik, hidup dan
            berusaha di dalamnya. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas
            diakui sebagai kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk
            terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.
      (b)   Lingkungan sosial budaya
            Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang
            mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan anak didik di
            sekolah. Anak didik tidak dapat berkonsentrasi dengan baik apabila
            berbagai gangguan seperti kebisingan lalu lintas, keributan suasana
            pasar dan sebagainya selalu terjadi di sekitar anak didik.

(2)   Faktor instrumental, yang terdiri dari:
      (a)   Kurikulum
            Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar
            anak didik. Pemadatan kurikulum dengan alokasi waktu yang
            disediakan relatif sedikit secara psikologis menggiring guru pada
            pilihan untuk melaksanakan percepatan belajar anak didik untuk
            mencapai target kurikulum. Hal ini tidak harus terjadi bila ingin
            meningkatkan kualitas belajar mengajar.
      (b)   Program
            Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan
            disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan
            pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program
            pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan
            potensi sekolah yang tersedia baik tenaga, finansial dan sarana
            prasarana.

      (c)   Sarana dan fasilitas
            Sarana dan fasilitas mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di
            sekolah. Anak didik tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan
            bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajar anak
            didik.

      (d)   Guru
            Guru yang profesional lebih mengedepankan kualitas pengajaran
            daripada materiil oriented.

(3)   Kondisi Fisiologis
      Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan
      belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan
      berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

(4)   Kondisi Psikologis, yang terdiri dari:
      (a)   Minat
            Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi,
            dan sebaliknya.
      (b)   Kecerdasan
            Berbagai hasil penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara IQ
            dengan hasil belajar di sekolah. Sekitar 25% hasil belajar di sekolah
            dapat dijelaskan dari IQ, yaitu kecerdasan sebagaimana diukur oleh tes
            intelegensi.
      (c)   Bakat
            Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan
            hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada orang yang membantah
             bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar
             kemungkinan berhasilnya usaha itu.
     (d)     Motivasi
             Motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong
             seseorang untuk belajar.
     (e)     Kemampuan kognitif
             Ada tiga tujuan pendidikan yang sangat dikenal dan diakui oleh para
             ahli pendidikan, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah
             kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut kepada anak
             didik untuk dikuasai. Karena penguasaan kemampuan pada tingkatan
             ini menjadi dasar bagi penguasaan ilmu pengetahuan.

4. Model Pembelajaran
       Menurut      Ismail   (Widyantini,   2008),     istilah   model   pembelajaran
mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Suatu
model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh
strategi atau metode tertentu, yaitu rasional teoritik yang logis yang disusun oleh
penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang
diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan, serta lingkungan belajar yang
diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
           Menurut Tim MKPBM (2001), model pembelajaran adalah pola interaksi
siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode,
dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar di kelas. Menurut Suprijono (2010), model pembelajaran merupakan
landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan
teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi
kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model
pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan
kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas.
           Menurut Arends (Suprijono, 2010), model pembelajaran mengacu pada
pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan
pembelajaran,      tahap-tahap    dalam     kegiatan     pembelajaran,    lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
       Beberapa model pembelajaran menurut Widdiharto (2004) antara lain
yaitu model penemuan terbimbing, model pemecahan masalah, model
pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual, model Missouri
Mathematics Project dan model pengajaran langsung.

5. Model Pembelajaran Kooperatif
        Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar
kooperatif kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yaitu
penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vigotsky yakni bahwa
fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau
kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam
individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky adalah dikehendakinya susunan
kelas berbentuk kooperatif (Ratnasari, 2010).
       John Dewey (Dimyati dan Mudjiono, 2006) mengemukakan bahwa belajar
adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka
inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah.
Belajar sebaiknya dialami dengan melakukan perbuatan langsung. Belajar harus
dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara
memecahkan masalah (problem solving).
       Piaget (Sanjaya, 2006) berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu
sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan
menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya
diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang
bermakna.
        Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yaitu
siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan
tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas, anggota saling bekerja
sama dan membantu untuk memahami bahan pembelajaran. Belajar belum selesai
jika salah satu teman belum menguasai bahan pembelajaran (Amiroh, 2009).
       Menurut Nurhadi dan Senduk (Wena, 2009), pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah
sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar, tetapi juga
sesama siswa. Menurut Lie (Wena, 2009), pembelajaran kooperatif adalah sistem
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama
dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur dan dalam sistem ini
guru bertindak sebagai fasilitator. Wena (2009) berpendapat bahwa pembelajaran
kooperatif adalah sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman
sejawat (siswa lain) sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar
yang lain.
       Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut
:(Ibrahim dkk, 2000)
(1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
   belajarnya,
(2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
   rendah,
(3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis
   kelamin berbeda-beda,
(4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

       Menurut Ismail (2003) pengelolaan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif, paling tidak ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu:
(1) Hasil belajar akademik,
(2) Pengakuan adanya keragaman,
(3) Pengembangan keterampilan sosial.

        Roger dan David Johnson (Suprijono, 2009) mengatakan bahwa tidak
semua belajar kelompok dapat dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk
mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif
harus diterapkan, yaitu:
1) Saling ketergantungan positif
        Dalam sistem pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu
menciptakan suasana belajar yang mendorong agar siswa merasa saling
membutuhkan. Siswa yang satu membutuhkan siswa yang lain, demikian pula
sebaliknya. Dalam hal ini kebutuhan antara siswa tentu terkait dengan
pembelajaran. Hubungan yang saling membutuhkan antara siswa satu dengan
siswa yang lain inilah yang disebut dengan saling ketergantungan positif (Wena,
2009).
         Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif, setiap anggota kelompok
masing-masing perlu membagi tugas sesuai denga tujuan kelompoknya. Tugas
tersebut tentu saja disesuaikan dengan tujuan kelompoknya. Inilah hakikat
ketergantungan positif, artinya tugas kelompok tidak mungkin bisa diselesaikan
manakala ada anggota yang tak bisa menyelesaikan tugasnya, dan semua ini
memerlukan kerja sama yang baik dari masing-masing anggota kelompok.
Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan
mampu membantu temannya untuk menyelesaikan tugas (Sanjaya, 2006).
         Suprijono (2009) menguraikan beberapa cara membangun saling
ketergantungan positif, yaitu:
a) Menumbuhkan perasaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam
   kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai
   tujuan. Peserta didik harus bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan. Tanpa
   kebersamaan, tujuan mereka tidak akan tercapai.
b) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan
   yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan.
c) Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dalam kelompok
   hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok. Artinya,
   mereka belum dapat menyelesaikan tugas sebelum mereka menyatukan
   perolehan tugas mereka menjadi satu.
d) Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung
   dan saling berhubungan, saling melengkapi, dan saling terikat dengan peserta
   didik lain dalam kelompok.
2) Tanggung jawab perseorangan
         Mengingat pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dalam bentuk
kelompok, maka setiap anggota harus belajar dan menyumbangkan pikiran demi
keberhasilan pekerjaan kelompok. Untuk mencapai tujuan kelompok (hasil belajar
kelompok), setiap siswa harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi
pembelajaran secara maksimal karena hasil belajar kelompok didasari atas rata-
rata nilai anggota kelompok. Kondisi belajar yang demikian akan mampu
menumbuhkan tanggung jawab (akuntabilitas) pada masing-masing individu.
Tanpa adanya tanggung jawab individu, keberhasilan kelompok akan sulit
tercapai (Wena, 2009).
        Beberapa cara menumbuhkan tanggung jawab perseorangan menurut
Suprijono (2009) adalah:
a) kelompok belajar jangan terlalu besar;
b) melakukan assesmen terhadap setiap siswa;
c) memberi     tugas     kepada    siswa   yang   dipilih   secara   random   untuk
   mempresentasikan hasil kelompoknya kepada guru maupun kepada seluruh
   peserta didik di depan kelas;
d) mengamati setiap kelompok dan mencatat frekuensi individu dalam
   membentuk kelompok;
e) menugasi seorang peserta didik untuk berperan sebagai pemeriksa di
   kelompoknya;
f) menugasi peserta didik mengajar temannya.
3) Interaksi tatap muka
        Dalam pembelajaran kooperatif, setiap kelompok harus diberikan
kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan
memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan
semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan
kelebihan, dan mengisi kekurangan (Wahib, 2009).
        Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara heterogen, yang berasal dari
budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan
semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar
anggota kelompok (Sanjaya, 2006).
        Dalam interaksi tatap muka, antar anggota kelompok melaksanakan
aktivitas-aktivitas dasar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, menunggu
dengan sabar teman yang sedang memberi penjelasan, berkata sopan, meminta
bantuan, memberi penjelasan, dan sebagainya. Pada proses pembelajaran yang
demikian, para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber
belajar lebih bervariasi (Wena, 2009).
4) Komunikasi antar anggota
        Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi
aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka
dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan
kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.
Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan
mendengarkan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok
ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya.
        Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali
dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi. Misalnya, cara menyatakan
ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak
memojokkan, cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggapnya baik
dan berguna.
        Keterampilan berkomunikasi memang memerlukan waktu. Siswa tak
mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu
terus melatih dan melatih, sampai pada akhirnya siswa memiliki kamampuan
untuk menjadi komunikator yang baik (Sanjaya, 2006).
5) Evaluasi proses kelompok
        Dalam melaksanakan evaluasi proses kelompok, guru hendaknya
menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu dilaksanakan setiap kali ada kerja
kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali
siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif.

        Adapun unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang diuraikan
oleh Muslimin Ibrahim (Purkoni, 2010) adalah sebagai berikut:
(1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka ”sehidup
   sepenanggungan bersama”.
(2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti
   milik mereka sendiri.
(3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya
   memiliki tujuan yang sama.
(4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara
    anggota kelompoknya.
(5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga
    akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
(6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk
    belajar bersama selama proses belajarnya.
(7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang
    ditangani dalam kelompok kooperatif.

         Urutan langkah-langkah perilaku guru dalam model pembelajaran
kooperatif yang diuraikan oleh Arrends (Wahib, 2009) adalah sebagaimana
terlihat pada tabel berikut ini.
                Tabel 1. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
              Fase                      Tingkah Laku Guru
 Fase 1                  Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran
 Menyampaikan tujuan dan yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut yang
 memotivasi siswa        ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
                         memotivasi siswa belajar.
 Fase 2                  Guru menyajikan informasi kepada siswa
 Menyajikan informasi    dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
                         bacaan.
 Fase 3                  Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
 Mengorganisasikan siswa caranya membentuk kelompok belajar dan
 ke dalam kelompok-      membantu setiap kelompok agar melakukan
 kelompok belajar        transisi secara efisien.
 Fase 4                  Guru membimbing kelompok-kelompok belajar
 Membimbing kelompok     pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
 bekerja dan belajar
 Fase 5                  Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
 Evaluasi                yang telah dipelajari atau masing-masing
                         kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
 Fase 6                  Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik
 Memberikan penghargaan  upaya maupun hasil belajar individu dan
                         kelompok.

         Terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam
model pembelajaran kooperatif (Aryawan, 2009) yaitu:
a. Forming      (pembentukan)      yaitu   keterampilan   yang dibutuhkan   untuk
    membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
b. Functioning (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur
   aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja
   sama diantara anggota kelompok.
c. Formating     (perumusan)    yaitu      keterampilan   yang   dibutuhkan   untuk
   pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang
   dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan
   menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan.
d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
   merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif,
   mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk
   memperoleh kesimpulan.
         Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalarn membantu
siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah
menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang
berhubungan dengan hasil belajar. Di samping itu, pembelajaran kooperatif dapat
memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok
atas. Dalam bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, siswa kelompok
atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Sementara itu, siswa
kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki
orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas
akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai
tutor rnembutuhkan pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang
terdapat di dalam materi tertentu (Ratnasari, 2010).
         Menurut Muslimin Ibrahim (Widyantini, 2008), hasil penelitian
menunjukkan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar
yang rendah antara lain:
a. meningkatkan pencurahan waktu pada tugas;
b. rasa harga diri menjadi lebih tinggi;
c. memperbaiki kehadiran;
d. penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar;
e. perilaku mengganggu menjadi lebih kecil;
f. konflik antar pribadi berkurang;
g. sikap apatis berkurang;
h. motivasi lebih besar atau meningkat;
i. hasil belajar lebih tinggi;
j. meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

         Pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelemahan yang harus
dihindari, yakni adanya anggota kelompok yang tidak aktif atau disebut difusi
tanggung jawab. Kelemahan ini dapat dihindari dengan cara sebagaimana
dikatakan oleh Slavin (Sanjaya, 2006), yaitu:
(1) Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab atas unit yang berbeda
   dalam tugas kelompok.
(2) Membuat para siswa bertanggung jawab secara individual atas pembelajaran
   mereka. Masing-masing kelompok dihargai berdasarkan jumlah skor kuis
   individual atau hasil kerja individual lainnya. Dengan cara ini, tugas-tugas
   kelompok adalah memastikan bahwa tiap orang telah mempelajari materi
   pelajaran.

         Selain itu kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif antara lain
terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam suatu strategi
pembelajaran yang memang berbeda dengan pembelajaran yang selama ini
diterapkan. Guru dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut.
Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan
cara pemberian pelatihan yang kemudian disertai dengan kemauan yang kuat
untuk mencobanya. Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan cara
menyediakan panduan yang memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang
sumber yang dapat dieksplorasi, serta deskripsi tentang hasil akhir yang
diharapkan, sistem evaluasi, dan sebagainya. Kendala lain adalah waktu. Strategi
pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel,
meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua
kali tatap muka ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran
(Aryawan, 2009).
6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (LT)
       Slavin (2008) mengungkapkan bahwa David dan Roger Johnson dari
Universitas   Minnesota   mengembangkan       model   Learning    Together   dari
pembelajaran kooperatif (Jhonson and Jhonson 1987; Jhonson dan Jhonson &
Smith, 1991). David dan Roger Johnson menekankan pada empat unsur yakni :
(1) Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang
   beranggotakan empat sampai lima orang,
(2) Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan
   kelompok,
(3) Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka
   secara individual telah menguasai materinya,
(4) Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil : para siswa
   diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan
   mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai
   tujuan mereka.
       Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan
penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual
metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga
menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok,
dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat
atau bentuk rekognisi lainnya.
       Metode ini membagi siswa dalam kelompok heterogen dengan 4 - 5
anggota. Setiap kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan
penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok (Slavin, 1997).

       Adapun sintaks dari Learning Together (Slavin, 2008) adalah:
(1) Guru menyajikan pelajaran.
(2) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 orang secara heterogen
    (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).
(3) Masing-masing kelompok menerima lembar tugas dan menyelesaikannya.
(4) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
(5) Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.
         Metode ini menekankan pada kegiatan-kegiatan pembinaan kerjasama tim
sebelum siswa mulai bekerja sama dan melakukan diskusi terjadwal di dalam
kelompok tentang seberapa jauh mereka berhasil dalam bekerjasama. Menurut
Slavin (1997) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe belajar bersama,
yaitu:
(1)   Menyampaikan tujuan pembelajaran yang diiringi dengan memotivasi siswa
      dalam belajar.
(2)   Menyajikan informasi kepada siswa tentang materi pembelajaran.
(3)   Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan
      tugas.

(4)   Mengevaluasi     hasil   belajar   tentang   materi   yang   dipelajari   dan
      mempresentasikan hasil kerjanya.

7. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

         Pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan
membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari
dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam
lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
         Melalui pembelajaran yang kontekstual ini, siswa didorong untuk mengerti
apa makna belajar, apa manfaat dan bagaimana mencapainya. Diharapkan mereka
sadar bahwa yang mereka pelajari itu berguna bagi hidupnya. Dengan demikian
mereka akan memosisikan dirinya sebagai pihak yang memerlukan bekal untuk
hidupnya nanti (Sardiman, 2010).
         Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar              yang membantu guru
menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

8. Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama
         Sekolah Menengah Pertama adalah salah satu pendidikan formal yang
merupakan kelanjutan dari SD atau sederajat. Dengan adanya program pemerintah
yaitu ”wajib belajar 9 tahun” merupakan awal dari serangkaian kebijakan yang
akan bermuara pada peningkatan sumber daya manusia.
       Pembelajaran matematika di SMP disebut pembelajaran matematika
sekolah artinya matematika terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih
guna menumbuhkembangkan kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu
pada perkembangan IPTEK. Matematika yang diajarkan di SMP berfungsi untuk
mengembangkan      kemampuan       menghitung,     mengukur,   menurunkan   dan
menggunakan rumus matematika yang diperlukan.

9. Kubus dan Balok
       Perhatikan benda-benda di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering menemukan benda-benda seperti kardus bekas mainan, dadu, kotak kue,
dan sebagainya. Berbentuk apakah benda-benda tersebut? Dari benda-benda
tersebut manakah yang berbentuk kubus? Mana pula yang berbentuk balok?
Dapatkah kalian tentukan sisi, rusuk, dan titik sudutnya?

9.1. Kubus
1. Pengertian kubus
       Sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk persegi dan semua
rusuknya sama panjang. Bangun ruang seperti itu dinamakan kubus.




       Dari kubus PQRS.TUVW, diperoleh
    a. sisi : PQRS, TUVW, PQUT, QRVU, SRVW, dan PSWT.
    b. rusuk : PQ, QR, RS, SP, TU, UV, VW, WT, PT, QU, RV, SW.
    c. titik sudut : P, Q, R, S, T, U, V, dan W.
    d. diagonal bidang : PU, QT, QV, RV, RU, RW, SV, ST, PW, PR, QS, TV,
       dan UW.
    e. diagonal ruang : PV, QW, RT, dan SU.
    f. bidang diagonal : PRVT, QSWU, PSVU, QRWT, SRTU, dan RSTU.
2. Jaring-jaring kubus
       Jika suatu kubus, bila diiris (digunting) pada rusuk-rusuk tertentu dan
direbahkan, sehingga terjadi bangun datar, maka bangun datar itu dinamakan
jaring-jaring kubus.




3.   Luas permukaan kubus




       Dari Gambar di atas terlihat suatu kubus beserta jaring-jaringnya. Untuk
mencari luas permukaan kubus, berarti sama saja dengan menghitung luas jaring-
jaring kubus tersebut. Oleh karena jaring-jaring kubus merupakan 6 buah persegi
yang sama dan kongruen maka luas permuakaan kubus sama dengan luas jaring-
jaring kubus. Maka
4.   Volume kubus




       Gambar di atas menunjukkan bentuk-bentuk kubus dengan ukuran
berbeda. Kubus pada Gambar (a) merupakan kubus satuan. Untuk membuat
kubus satuan pada Gambar (b) , diperlukan 2 × 2 × 2 = 8 kubus satuan, sedangkan
untuk membuat kubus pada Gambar (c) , diperlukan 3 × 3 × 3 = 27 kubus satuan.
Dengan demikian, volume atau isi suatu kubus dapat ditentukan dengan cara
mengalikan panjang rusuk kubus tersebut sebanyak tiga kali. Sehingga :

volume kubus = panjang rusuk × panjang rusuk × panjang rusuk

               = s×s×s

               = s3

Jadi, volume kubus dapat dinyatakan sebagai berikut.




9.2. Balok
1. Pengertian balok
       Banyak sekali benda-benda di sekitar kita yang memiliki bentuk seperti
balok. Misalnya, kotak korek api, dus air mineral, dus mie instan, batu bata, dan
lain-lain. Mengapa benda-benda tersebut dikatakan berbentuk balok? Untuk
menjawabnya, cobalah perhatikan dan pelajari uraian berikut.
       Perhatikan gambar kotak korek api.        Jika kotak korek api tersebut
digambarkan secara geometris, hasilnya akan tampak seperti bangun ruang
ABCD.EFGH, pada gambar tersebut memiliki tiga pasang sisi berhadapan yang
sama bentuk dan ukurannya, di mana setiap sisinya berbentuk persegipanjang.
Bangun ruang seperti ini disebut balok. Dari balok ABCD.EFGH, diperoleh :
a. sisi/bidang: ABCD, EFGH, ABFE, DCGH, BCGF dan ADHE
b. rusuk: AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan HD.
c. titik sudut: A, B, C, D, E, F, G, dan H.
d. diagonal bidang: AC, BD, EG, FH, CF, BG, AH, ED, AF, BE, CH, dan DG.
e. diagonal ruang: AG, BH, CE, dan DB.
f. bidang diagonal: ACGE, FBDH, FGAD, ABGH, BCEH, dan CDEF.

2. Jaring-jaring balok
       Sama halnya dengan kubus, jaring-jaring balok diperoleh dengan cara
membuka balok tersebut sehingga terlihat seluruh permukaan balok. Coba kamu
perhatikan alur pembuatan jaring-jaring balok di bawah ini :




3. Luas permukaan balok
       Cara menghitung luas permukaan balok sama dengan cara menghitung
luas permukaan kubus, yaitu dengan menghitung semua luas jaring-jaringnya.
Coba kamu perhatikan gambar di bawah ini :
        Segi-p misalkan, rusuk-rusuk pada balok diberi nama p (panjang), l
(lebar), dan   t (tinggi) seperti pada gambar .Dengan demikian, luas permukaan
balok   tersebut adalah

luas permukaan balok = luas persegipanjang 1 + luas persegipanjang 2 +
                          luas peranjang 3 + luas persegipanjang 4 +
                          luas persegipanjang 5 + luas persegipanjang 6
Jadi, luas permukaan balok dapat dinyatakan dengan rumus :




4. Volume balok
        Proses penurunan rumus balok memiliki cara yang sama seperti pada
kubus. Caranya adalah dengan menentukan satu balok satuan yang dijadikan
acuan untuk balok yang lain. Proses ini digambarkan pada di bawah ini. Coba

cermati dengan saksama.




        Gambar di atas menunjukkan pembentukan berbagai balok dari balok
satuan. Gambar (a) adalah balok satuan. Untuk membuat balok seperti pada
Gambar (b) ,diperlukan 2 × 1 × 2 = 4 balok satuan, sedangkan untuk membuat
balok seperti pada Gambar (c) diperlukan 2 × 2 × 3 = 12 balok satuan. Hal ini
menunjukan bahwa volume suatu balok diperoleh dengan cara mengalikan ukuran
panjang, lebar, dan tinggi balok tersebut.




J. HIPOTESIS PENELITIAN
       Hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe
Learning Together (LT) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa di
kelas VIII A MTsN Amuntai Utara.


K. METODE PENELITIAN
1. Pendekatan Penelitian
       Penelitian yang akan dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. PTK
merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti status
kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu      sistem pemikiran
ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk
membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki
(Nazir, 2003).

2. Setting Penelitian
   (a) Tempat Penelitian
       Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTsN Amuntai Utara untuk
       mata pelajaran matematika. Subyek penelitian adalah kelas VIII A tahun
       pelajaran 2011/2012.
   (b) Waktu Penelitian
       Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran 2011/2012, yaitu
       bulan September sampai dengan bulan Desember 2011. Penentuan waktu
       penelitian ini mengacu pada kalender pendidikan karena PTK memerlukan
       beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif
       di kelas.
3. Faktor yang Diselidiki
   a. Minat siswa dalam proses belajar mengajar
   b. Keaktifan dan sifat kooperatif siswa dalam proses belajar mengajar
   c. Kerjasama dalam mengomunikasikan hasil belajarnya


4. Skenario Tindakan




                     Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Siklus I
a. Perencanaan (Planning)
       Kegiatan-kegiatan    pada   tahap   ini    adalah   merencanakan     dan
mempersiapkan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar
mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan, yaitu:
(a) Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui standar kompetensi dan
   kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa pada proses
   pembelajaran.
(b) membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),
(c) menyusun lembar kerja siswa (LKS) untuk kegiatan diskusi kelompok siswa,
(d) menyiapkan instrumen penelitian (soal tes, lembar observasi, panduan
   wawancara dan angket),
(e) Mengadakan pembagian tugas antara peneliti, pengajar, dan pengamat
   (observer).
b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
         Tahap ini merupakan implementasi dari semua rencana yang telah dibuat.
Tahapan ini berlangsung di dalam kelas. Tahapan ini adalah realisasi dari segala
rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya, meliputi rencana pelaksanaan
pembelajaran, lembar kerja siswa, serta instrumen lainnya yang telah disiapkan.
c. Observasi (Observing)
         Pada tahap ini dilakukan observasi sebagai upaya merekam segala
peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Hal
ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran.
d. Refleksi (Reflecting)
       Peneliti melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi
evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Selain itu juga
melakukan diskusi dengan guru untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario
rancangan tindakan dan pelaksanaannya. Peneliti melakukan perbaikan tindakan
sesuai dengan hasil observasi yang diperoleh untuk menyusun rencana siklus
berikutnya.
         Tahap ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada
saat dilakukan pengamatan. Refleksi juga merupakan upaya untuk mengkaji apa
yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan pelaksanaan
tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil observasi dari observer dan hasil
evaluasi di akhir siklus maka akan dijadikan pertimbangan memasuki siklus
berikutnya.


Siklus II
         Siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan
hasil observasi dari pengamat (observer), hasil diskusi dengan pengajar selaku
pelaksana tindakan serta prestasi belajar siswa yang dilihat dari ketuntasan belajar
siswa secara individu maupun klasikal. Apabila prestasi belajar siswa sudah
memenuhi atau mencapai indikator keberhasilan dari penelitian maka siklus II
tidak dilaksanakan.
        Tahapan pada Siklus II sama seperti pada Siklus I. Jika hasil yang
diperoleh dalam Siklus II telah mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti
dapat menganalisis data dan menyusun laporan. Jika hasil yang diperoleh dalam
Siklus II belum mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti dapat melanjutkan
dengan siklus berikutnya dengan tahapan yang sama.


5. Data dan Cara Pengambilannya
        Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini berasal dari siswa dan
guru.
(a) Siswa
   Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam
   proses belajar mengajar.
(b) Guru
   Untuk mengetahui tingkat keberhasilan             implementasi pembelajaran
   kooperatif tipe Learning Together (LT) serta sikap guru terhadap proses
   pembelajaran.

        Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi,
angket dan wawancara.
(a) Tes Tertulis
   Tes tertulis dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa.
   Tes yang diberikan terbagi dua, yaitu tes individu dan tugas kelompok.
(b) Observasi
    Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dan
    guru selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh
    pengamat yang merupakan teman sejawat peneliti dengan menggunakan
    lembar pengamatan. Sebelum digunakan, lembar ini terlebih dahulu
    dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.
(c) Angket
   Dipergunakan untuk mendapatkan data tentang sikap dan minat siswa dalam
   implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT).
(d) Wawancara
   Dilakukan    untuk      mendapatkan     data   tentang   tingkat   keberhasilan
   implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT).

       Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
(a) Soal Tes
   Peneliti menggunakan instrumen soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa
   setelah mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT).
(b) Lembar Observasi
   Lembar observasi digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam
   proses belajar mengajar.
(c) Angket / kuesioner
   Angket atau kuesioner digunakan untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa
   tentang implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT).
(d) Panduan Wawancara
   Digunakan untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan guru tentang
   pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT).


6. Teknik Analisis Data
       Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif dilakukan
secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase, yakni dengan
menghitung ketuntasan klasikal dan ketuntasan individual dengan rumus sebagai
berikut:
                                   Jumlah skor
Ketuntasan individual skor =                       100%
                               Jumlah skor maksimal
                         Jumlah siswa yang tuntas belajar
Ketuntasan klasikal =                                     100%
                              Jumlah seluruh siswa
Keterangan:
Ketuntasan individual : Jika siswa mencapai ketuntasan ≥ 60 %
Ketuntasan klasikal     : Jika ≥ 80% dari seluruh siswa yang mencapai ketuntasan
≥ 60 %.
       Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kualitatif dianalisis
secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, pemaparan data, dan analisis data.


L. INDIKATOR PENELITIAN
       Penelitian ini dikatakan berhasil optimal dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tercapainya ketuntasan klasikal ≥ 80% dan ketuntasan individual ≥ 60%.
2. Bila respon siswa menunjukkan keaktifan ≥ 90% dan guru mengurangi
   keaktifan dalam pengelolaan pembelajaran.


M. JADWAL PENELITIAN
                                             Bulan (minggu ke-)
        Kegiatan            September       Oktober      November       Desember
                            1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Observasi lapangan          X
Menyusun proposal           X
Menyepakati jadwal dan
                               X
tugas
Menyusun instrumen             X
Menyiapkan kelas dan
                                   X
alat
Melaksanakan
                                       X X X
penelitian Siklus I
Melaksanakan
                                                 X X X
penelitian Siklus II
Mengolah data hasil
                                                            X
penelitian
Menulis draf laporan                                            X X
Seminar hasil                                                          X
Perbaikan laporan                                                          X
Menulis laporan akhir                                                          X X



N. DAFTAR PUSTAKA

Amiroh. 2009. Pembelajaran Inovatif. http://blog.unila.ac.id/sinung/2009/09/17/
        cooperative-learning-untuk-meningkatkan-motivasi-belajar-matematika-
        siswa/
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta,
        Jakarta.

Aryawan, B. 2009. Pembelajaran kooperatif Learning (Cooperative Learning)
       Untuk             Membangun              Pengetahuan          Siswa.
       http://riyadi.purworejo.asia/2009/07/pembelajaran-kooperatif-
       cooperative.html

Djamarah, S. B. 2002. Psikologi Belajar. Rineka Cipta, Jakarta.

Dimyati dan Mudjiono. 2003. Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta,
        Jakarta.

Endah Budi Rahaju. 2008. Contextual Teaching and Learning Matematika:
       Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4.
       Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Fahlifi, Rija.2010. Implementasi Pembelajaran Matematika Menggunakan Model
              Kooperatif Tipe Learning Together (Lt) Dengan Pendekatan
              Kontekstual Di Smp Negeri 5 Barabai          Tahun Pelajaran
              2010/2011.Bjm:Unlam.
Hadi, S. 2005. Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Tulip,
        Banjarmasin.

Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara, Jakarta.
Ibrahim, M., Fida R., Mohamad N., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif.
         Pusat Sains dan Matematika Sekolah Program Pascasarjana UNESA,
         University Press.
Ismail. 2003. Model-Model Pembelajaran. Dit. Pendidikan Lanjutan Pertama,
         Jakarta:http://www.puskur.net/download/naskahakademik/bidangketram
         pilan/lifeskills/matematikasmk/modelpembelajaran2.doc
Jumberi,H.2009. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Kooperatif
           Tipe Think-Pair-Share (Tps) Pada Pokok Bahasan Garis Singgung
           Lingkaran Di Kelas Viii A Smp Negeri 2 Daha Utara Tahun
           Pelajaran 2008/2009.Bjm:STIKIP PGRI.
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai
       Pengembangan Profesi Guru. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Nadiya, M.Z.2010.Proposal Tindakan Kelas.Banjarmasin:Unlam.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Nuharini, Dewi. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya: untuk SMP/MTs
         Kelas VIII. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Purkoni, H. 2010. Pola Pembelajaran Yang Berbasis Student and Process
        Oriented.        http://hadikomarapurkoni.blogspot.com/2010/01/pola-
        pembelajaran-yang-berbasis-student.html

Ratnasari. 2010. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Part 1.
        http://ratnasari.student.fkip.uns.ac.id/2010/01/21/pembelajaran-
        kooperatif-cooperative-learning/
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
        Pendidikan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning. Nusa Media, Bandung.
---------, R.E. 1997. Cooperatitive Learning Teori, Riset dan Praktik. Nusa Media,
           Bandung.
Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo
       Persada, Jakarta.
Sudjana, N. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.
        Sinar Baru Algensindo, Bandung.

Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Pustaka
        Pelajar, Yogyakarta.

Syah, M. 2004. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
     Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Wahib, M. 2009. Cooperative Learning- Teknik Jigsaw. http://www.wahib-
       dr.com/pembelajaran/295-_c_o_o_p_e_r_a_t_i_v_e_-
       _l_e_a_r_n_i_n_g_-_t_e_k_n_i_k_-_j_i_g_s_a_w.html

Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan
       Konseptual Operasional. Bumi Aksara, Jakarta.

Widdiharto, R. 2004. Model-Model Pembelajaran Matematika SMP. Depdiknas,
       Yogyakarta.

Widyantini. 2008. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP
       MATEMATIKA: Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam
       Pembelajaran Matematika SMP. Pusat Pengembangan dan
       Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika,
       Depdiknas, Yogyakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3724
posted:6/29/2011
language:Indonesian
pages:35