UTANG LUAR NEGERI

Document Sample
UTANG LUAR NEGERI Powered By Docstoc
					UTANG LUAR NEGERI

   Krisis utang menjadi isu besar pada agustus 1982 ketika meksiko
    mengumumkan kebangkrutan ekonominya. Tahun 1983               costa rica,
    sudan, cuba, togo, zambia, romania, cili, peru, ekuador, brazil, nigeria,
    zambia juga mengalami kesulitan dalam membayar utang ln.
   Utang Bagi Negara Berkembang Bukan Menjadi Bantuan Dlm
    Pembangunan Tapi Merupakan Beban Krn
     Utang diterima lebih banyak dalam bentuk mata uang asing sehingga
       rentan thdp fluktuasi moneter inter
     Utang dominan diterima dlm btk US$, jml US$ di pasar terbatas dibanding
       mata uang lainnya
   Untuk melihat sejauh mana utang membebenai negara indikatornya :
     DSR (DEBT SERVICE RATIO) Yaitu Perbandingan Antara Pembayaran
       Bunga Dan Cicilan Pokok Terhadap Penerimaan Ekspor (20%)
     DGNP (DEBT TO GNP RATIO) yaitu persentase utang terhadap GNP
       (40%)
     DER (DEBT EXPORT RATIO) yaitu ratio utang LN terhadap expor
       (200%)
   Negara melakukan utang karena untuk menutupi two gaps:
     Kurangnya tabungan dalam negeri (saving-investment gap)
     Kurangnya kemampuan menghasilkan devisa (foreign exchange
       gap)
   Logika two gaps berawal dr konsep harold domar yg menyatakan
    pembangunan berdasarkan pd pembentukan modal. Model ini pd
    awalnya cukup ampuh diterapkan seperti di jepang melalui Marshal
    Plane. Sukses tsb diikuti oleh LDCS lainnya yg menghasilkan NICS (Brasil,
    Meksiko,Korsel). Konsep ini dikenal dng debt led growth industri
    substitusi impor, intervensi negara dan terbukanya pintu thdp modal
    asing.
   Secara metodologis, hubungan ketiga jenis defisit di atas dapat
    dijelaskan melalui identitas pendapatan nasional (national income
    identity).       Dalam    konteks   ekonomi   makro   terbuka,     identitas
    pendapatan nasional dapat dilihat dari sisi pengeluaran agregat dan
    sisi pendapatan agregat, masing-masing dituliskan sebagai berikut
    (Hyman, 1992:606-608) :
         Y  C+I+G+X-M                                                [2.1]
         Y  C+S+T                                                    [2.2]
dimana :
         Y       =    produk domestik bruto
         C       =    konsumsi
         I       =    investasi
         G       =    pengeluaran pemerintah
         X       =    ekspor barang dan jasa
         M       =    impor barang dan jasa
         S       =    tabungan domestik
         T       =    penerimaan pemerintah di luar bantuan asing
                     (penerimaan pajak).


         Selanjutnya, tabungan domestik pada persamaan [2.2] dapat
dipilah menjadi tabungan masyarakat (SP) dan tabungan pemerintah
(SG) (Alun, 1992:31) :
         S  SP + S G                                                [2.3a]
         Karena tabungan pemerintah sama dengan pendapatan pajak
dikurangi pengeluaran pemerintah (T - G), maka :
         S  SP + (T - G)                                            [2.3b]


         Berdasarkan persamaan identitas [2.1]-[2.3b], kita dapat melihat
keterkaitan ketiga jenis defisit di atas seperti di bawah ini (Alun, 1992:32;
Gordon, 1993:379) :
         SP + (T - G)  I + (X - M)                                  [2.4a]
atau :
         (SP - I) + (T - G)  (X - M)                                [2.4b]
dimana :
       X - M = defisit transaksi berjalan
       T - G = defisit anggaran pemerintah
       SP - I = defisit tabungan-investasi swasta


       Selanjutnya, hubungan defisit-defisit di atas dengan utang luar
negeri dapat diuraikan sebagai berikut. Misalkan :
       Dlt   = utang luar negeri jangka panjang
       Dst   = utang luar negeri jangka pendek
       If    = penanaman modal asing langsung
       Ip    = investasi portofolio (PMA tidak langsung)
       Rt - Rt-1= perubahan cadangan devisa
       u     = variabel pengganggu,
maka kaitan utang luar negeri dengan defisit transaksi berjalan dan defisit
anggaran pemerintah dapat diformulasikan :
       Dlt + Dst + If + Ip = (X - M) + (Rt - Rt-1) + u                 [2.5]


   Setelah kita melihat hubungan antara defisit-defisit dengan utang luar
    negeri, berikutnya kita teruskan keterkaitannya dengan pertumbuhan
    ekonomi. Keterkaitan tersebut dapat kita uraikan seperti di bawah ini.


   Dengan semakin tingginya target pertumbuhan ekonomi yang
    hendak dicapai, namun tidak diimbangi dengan peningkatan
    kemampuan         perekonomian          domestik        untuk     menopang
    pembiayaannya, maka akan mengakibatkan semakin besarnya defisit
    pada sisi kanan dan juga sisi kiri persamaan [2.4b]. Dengan kata lain,
    kian besar penambahan utang luar negeri yang diperlukan untuk
    pemulihannya.     Kondisi   seperti   ini   bisa     dipahami   melalui    teori
    pertumbuhan yang dikembangkan oleh Roy F. Harrod dan Evsey D.
    Domar, atau lebih dikenal dengan duet Harrod-Domar.
   Secara       matematis   model   pertumbuhan    Harrod-Domar     dapat
    dipaparkan sebagai berikut (Todaro, 1994a:65-66) :
(1). Tabungan (S) merupakan bagian (s) dari pendapatan nasional (Y),
    atau :
             S = s.Y                                           [2.6]
(2). Investasi (I) didefinisikan sebagai perubahan dari stok kapital (K),
    atau :
             I = K                                            [2.7]
(3). Jumlah stok kapital (K) mempunyai hubungan langsung dengan
    jumlah pendapatan nasional atau output (Y) yang ditunjukkan oleh
    rasio kapital-output (capital-output ratio, COR, atau dilambangkan
    dengan k), maka :
             K/Y = k                                          [2.8a]
    atau :
             K/Y = k                                        [2.8b]
             K = k.Y                                        [2.8c]
(4). Identitas       pendapatan   nasional   menyatakan   bahwa    jumlah
    keseluruhan tabungan (S) sama dengan jumlah keseluruhan investasi
    (I), atau :
             S = I                                            [2.9a]
    sehingga persamaan [2.6] dan [2.8c] dapat dituliskan menjadi :
             s.Y = k.Y                                       [2.9b]
(5). Apabila kedua sisi pada persamaan [2.9b] dibagi mula-mula dengan
    Y dan kemudian dengan k, maka diperoleh :
             Y/Y = s/k                                      [2.10a]
    atau :
             g = s/k                                         [2.10b]
    dimana g merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi (persentase
    perubahan pendapatan atau produk nasional).
   Persamaan [2.10b]         menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi
    ditentukan secara bersama-sama oleh rasio tabungan (s) dan rasio
    kapital-output (k). Lebih khusus lagi persamaan ini mengungkapkan
    bahwa (1) pertumbuhan ekonomi akan secara langsung atau secara
    positif bertalian dengan rasio tabungan, artinya kian banyak bagian
    dari pendapatan yang ditabung, maka pertumbuhan ekonomi akan
    semakin tinggi, atau sebaliknya; dan (2) tingkat pertumbuhan ekonomi
    secara tidak langsung atau secara negatif berhubungan dengan rasio
    kapital-output, artinya kian besar k (COR) maka akan makin kecil g,
    atau sebaliknya.


   Apabila pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 7% dengan
    perubahan rasio kapital-output (incremental capital-output ratio,
    ICOR) sebesar 5, maka investasi yang dibutuhkan untuk mencapai
    tingkat pertumbuhan yang ditargetkan adalah 35% dari PDB.
    Seandainya      tingkat    tabungan      domestik   hanya   20%,   berarti
    kesenjangan yang harus ditutup dengan utang luar negeri adalah 15%
    dari PDB. Berdasarkan kondisi seperti ini, kita dapat memodifikasi
    persamaan [2.10b] menjadi :
       g = (s + a)/k                                             [2.10c]
dimana a merupakan utang luar negeri sebagai persentase dari
pendapatan nasional.

   Dlm perkembangannya utang yang dipinjam LDCS telah melampaui
    batas sehingga kriditur tdk mau memberi. Akhirnya dipinjam dr bank
    komersial dng suku bunga tinggi, masa jatuh pinjaman (maturity of
    debt) dan tenggang waktu (grace period) lebih pendek.
   Kondisi tersebut akhirnya menggeser debt led growth menjadi growth
    led debt sehingga berdampak pada krisis utang ln.
   Penyebab krisis utang dpt dilihat dari aspek :
     Sistim moneter internsional
     Sistim perbankan swasta internasional
     Negara peminjam
        Hubungan antara pinjaman dan investasi
        Adanya aliran dana ke LN (capital flight)dikarenakan suku bunga tdk
         realistis dan kurs tukar tdk stabil serta daya tarik investasi di negara
         maju.
   Manajemen krisis utang :
     Pemilahan penanganan utang swasta dan pemerintah. Utang
       pemerintah ada paris club (1956) sbg mediatornya
        Penjadwalan utang kembali (rescheduling)
            Perpanjangan tenggang waktu pengembalian
            Pengurangan tingkat bunga
            Pengunduran waktu pengembalian
            Keringanan utang
        Penghapusan utang (cut hair)
        Konversi
     Untuk utang swasta bentuk penjadwalan yg dpt dilakukan :
        BRIDGING LOAN : pinjaman sementar yg diberikan utk membiayai
         masa krisis hingga diperoleh pinjaman baru.
        Paket IMF : pelaksanaan paket kebijakan imf sblm perjanjian
         penjadwalan kembali disetujui.
        Penundaan pembayaran utang pokok dan hanya membayar
         bunganya dng tkt bunga tertentu
        Pemberian pinjaman baru dng suku bunga pasar
     Pembayaran utang berdampak pada membesarnya dana yg lari ke LN.
       Kebijakan yg dpt dilakukan :
        Kebijakan devaluasi
        Pembatasan ekspan kredit
        Menurunkan defisit anggaran
        Penghapusan subsidi harga

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:114
posted:6/28/2011
language:Indonesian
pages:6