SHOLAT DUHA

Document Sample
SHOLAT DUHA Powered By Docstoc
					                              SHOLAT DHUHA
Mukaddimah,

Sholat Duha adalah salah satu sholat sunnah yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW.
Umat islam dalam melaksanakan sholat Duha bermacam-macam. Ada yang
mengerjakan dengan sering, setiap hari. Ada yang jarang atau kadang-kadang. Ada
juga yang tidak pernah mengerjakan sama sekali. Bagaimana sebenarnya yang
dilakukan oleh Rosulullah SAW ?

Cara Sholat Duha Rosulullah SAW,

Hadits-hadits tentang sholat Dhuha :

َ ٗ ‫حذرََْا ٍغيٌِ بِْ إِبْشإيٌ أَخبَشَّا شعْبَتُ حعذرََْا ببَّعاطل اىَشِْعشُو ُٕع٘ ابْعِ ََعشو‬
          ُ َ          ِ َ ُ ْ           َ َّ َ ْ ُ َ ْ َ ِ َ ُ ُ ْ ُ َّ َ
                        ‫بِ أَبِي بزَاُ اىَّْٖذُِّ بِ أَبِي ُٕشِْشةَ سضي َّللاُ بُْٔ قَاه‬
                        َ      ْ َ َّ َ ِ َ َ َ                ْ َ ِْ َ َُْ                  ْ َ
‫أَٗصاِّي خيِييِي بِزََلد َل أَدبُِٖ حخَّى أٍَع٘ث صعً٘ رََلرَعت أََِّعاً ٍعِ معو شعْٖش‬
ٍ َ ِّ ُ ْ ِ ٍ ِ َ ِ ْ َ َ ُ                    َ َّ ُ َ َ ٍ َ             َ     َ ْ
                                                    ٍ ِْ
                                                    ‫ٗصَلة اىضو حى ًَّٗ٘ بيَى ٗحش‬
                                                           َ ٍْ َ َ           ِ ََ َ
(BUKHARI - 1107) : Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah
mengabarkan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami 'Abbas Al
Jurairiy dia adalah anak dari Farrukh dari Abu 'Utsman An-Nahdiy dari Abu Hurairah
radliallahu 'anhu berkata: "Kekasihku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) telah
berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan
hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha
dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu".

   ْ َّ َ َ ْ ِّ                     َّ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ َ َّ َ
‫حذرََْا شيبَاُ بِْ ََشو ٗ َ حذرََْا ببذ اىع٘اسد حعذرََْا َِضِعذ َِِْْعي اىششعل حعذرَخِْي‬
                     ْ ُ ِ                                            ُ ُ َْ             َّ َ
                                            ‫ٍْارةُ أَََّّٖا عأَىَج بائِشتَ سضي َّللاُ بَْٖا‬
                                               ْ َ َّ َ ِ َ َ َ ْ َ                    َ َُ

َ ‫مٌ معاُ سعُع٘ه َّللاِ صعيَّى َّللاُ بيَيْعٔ ٗععيٌَّ ُِ َ عيِّي صعَلةَ اىضو عحى قَاىَعج أَسْ بَع‬
           ْ        َ          َ َ            َ َ َ ِ َ َّ                َ َّ ُ        َ َ َ َْ
                                                                           َ َ َ ُ ِ َ ٍ ََ َ
                                                                           ‫سمْاث َِٗضِذ ٍا شاء‬

                                                                    ُ ْ ُ ُ َّ َ ُ َّ َ
ِ‫حذرََْا ٍحَذ بِْ اىَزََّْى ٗابِْ بَشاس قَاَل حذرََْا ٍحَذ بِْ جْفَش حذرََْا شْبَتُ ب‬
ْ َ ُْ         َّ َ ٍ ْ َ ُ ُ َّ َ ُ َّ َ َ ٍ َّ ُ َ
                                       َّ َ َ َ ُ ِ َ َ ْ ِ ِ ْ ِ ْ َ َ ِ
                                    ُ‫َِضِذ بَِٖزا اْلعَْاد ٍزئَُ ٗقَاه َِضِذ ٍا شاء َّللا‬
(MUSLIM - 1175) : Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh telah
menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu
Yazid Ar Risyk telah menceritakan kepadaku Ma'adzah, ia pernah bertanya kepada
'Aisyah Radhiyallahu'anha; "Berapa raka'atkah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
melakukan shalat (sunnah) dhuha?" Aisyah menjawab; "Empat raka'at, namun
terkadang beliau menambah sekehendaknya." Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, keduanya berkata; telah menceritakan
                                               1
kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari
Yazid dengan sanad seperti ini, Yazid mengatakan; "Sekehendak Allah." (bukan
sekehehdaknya -pent).

  ِ‫أَخبَشَّا إِعَْيو بِْ ٍغُْ٘د قَاه أَّبَأََّا خاىِذ ُٕٗ٘ ابِْ اىحاسد بِ مَٖظ ب‬
  ْ َ ٍ َْ َ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ ‫َ ل‬         ْ َ ٍ ْ َ ُ ُ َِ ْ َ ْ
                                                         َ ٍ َ ِ ْ َّ ِ ْ َ
                                                         ‫ببذ َّللاِ بِ شقِيق قَاه‬
‫قُ ْيج ىِْائِشتَ أَماُ سعُ٘ه َّللاِ صيَّى َّللاُ بيَئ ٗعيٌَّ ُِ َ يِّي صَلةَ اىضو حى قَاىَج‬
  ْ       َ             ََ              َ َ َ ِ ْ َ َّ          َ َّ ُ َ َ َ َ َ ُ
ٌَّ‫َل إَِل أَُ ََِععيء ٍععِ ٍِيبِ عٔ قُ ْيععج َٕععوْ مععاُ سععع٘ه َّللاِ صععيَّى َّللاُ بيَي عٔ ٗعععي‬
َ َ َ ِ ْ َ َّ                َ َّ ُ ُ َ َ َ                  ُ     ِ ِ َ ْ ِ َ ِ ْ َّ َ
‫َِ ًُ٘ شٖشًا ميَّعُٔ قَاىَعج َل ٍعا بيَِعج صعاً شعٖشًا ميَّعُٔ إَِل سٍضعاُ َٗل أََ َعش‬
 َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ ُ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ َ ْ                                          ُ ْ َ ُ
                                                                                َ ِْ َ
                                                         ِٔ‫حخَّى َِ ًُ٘ ٍُْٔ حخَّى ٍضى ىِغبِيي‬
                                                         ِ َ         َ َ                           َ
(NASAI - 2155) : Telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin Mas'ud dia berkata;
telah memberitakan kepada kami Khalid bin Al Harits dari Kahmas dari 'Abdullah bin
Syaqiq dia berkata; Aku pernah bertanya kepada Aisyah; "Apakah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Dluha?" Ia menjawab; "Tidak, kecuali
jika beliau datang dari bepergian." Aku bertanya; "Apakah Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam berpuasa satu bulan penuh?" Ia menjawab; "Tidak, aku tidak pernah
mengetahui beliau berpuasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadlan dan tidak
pernah berbuka hingga berpuasa dari bulan itu sampai beliau melakukan pepergian."

Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memang tidak pernah
mendawamkan pelaksanaan sholat dhuha bahkan dalam suatu riwayat dijelaskan
bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Rasulullah SAW melaksanaknnya
kecuali Ummu Hani RA.

(IBNUMAJAH - 1369) : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah
berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Yazid bin Abu
Ziyad dari Abdullah Ibnul Harits ia berkata, "Pada masa pemerintahan Utsman bin
Affan aku bertanya, banyak orang-orang yang meninggalkan shalat dluha hingga aku
tidak mendapatkan seseorang yang memberitahuku bahwasanya ia -yakni Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam- melaksanakannya (shalat dluha) selain Ummu Hani`. Ia
mengabarkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakannya
dengan mengerjakan delapan raka'at. "


Adapun hukum mendawamkan (melaksanakn setiap hari/terus menerus) pelaksanaan
sholat dhuha bagi umatnya, para ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut ;


A. Jumhurul Ulama menyatakan bahwa disunnahkan untuk mendawamkan
pelaksanaan sholat dhuha, karena keumuman hadits : "Amal yang paling dicintai oleh
Alloh adalah yang amal yang didawamkan meskipun hanya sedikit" (HR Muslim)
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada yang menjaga
pelaksanaan sholat dhuha kecuali Awwab". Beliau pun bersabda : "Ia termasuk sholat
Awwabiin" (HR Hakim/Mauquf)

                                                 2
B. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa tidak disunahkan melaksanakan sholat dhuha
terus menerus (setiap hari), hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
SAW. Dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa: "Rasulullah SAW biasa
melaksanakan sholat dhuha sehingga kami berkata beliau tidak pernah
meninggalkannya, kemudian beliau meninggalkan pelaksannannya sehingga kami
berkata beliau tidak pernah melaksanakannya" (HR Tirmidzy) Mereka pun beralasan
bahwa melaksanakan sholat dhuha terus menerus akan menyerupai pelaksanaan
sholat-sholat fardu. (Mausu'ah Fiqhiyyah 27/223)

Adapun sholat sunnah yang baru datang dari safar biasa Rasulullah SAW laksanakan
di Masjid. Hal tersebut berdasarkan hadis dari Ka.ab bin Malik RA, : "Rasulullah
SAW apabila datang dari berpergian, beliau datang ke Masjid dan melaksanakan
sholat dua rakaat kemudian beliau duduk mengahadap para shahabatnya" (HR.
Bukhori Muslim) Di dalam hadis ini, diterangkan bahwa disunnahkan bagi mereka
yang baru datang dari bebergian agar dalam keadaan berwudhu dan hendaklah
mendatangi masjid terlebih dahulu sebelum rumahnya dan melaksanakan sholat di
dalamnya. Dan ini berbeda dengan sholat dhuha.

Bolehkah sholat Dhuha berjama'ah ?

Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar Al-
’Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik RA tersebut, bahwa Rasulullah SAW
telah melakukan sholat Dhuha (subhata adh-dhuha) di rumahnya [rumah 'Itban bin
Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan
sholat beliau. (fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi). (Ibnu Hajar Al-
’Asqalani, Fathul Bari, 4/177).

Riwayat „Itban bin Malik tersebut memang betul terdapat dalam Fathul Baari sebagai
berikut.

‫بَِ بخبَاُ بِْ ٍاىِل " أَُ سعُ٘ه ََّللاِ صيَّى سٗآُ أَحْ َذ ٍِ طَشِق اَىضٕشُ بَِ ٍحْ َ٘د بِْ اَىشبِي ٍا‬
 َ    َّ              ُ َ ْ ّ ِ ْ ‫و‬          ِ ْ ِ َ             َ َ     َ َّ َ َ َّ                     َ  ِْ ْ
                َّ ُ
             ُ‫" ٗساءُٓ ََ َ يَّْ٘ ا بِ َ َلحِٔ بيَئ ٗعيٌَّ صيَّى َِي بَيخِٔ عبْحت اَىضو حى ََقَاٍ٘ا ََّللا‬
                               َ        َ ُ ِ ْ             َ َ َ َ ِْ َ ِ َ                         َ َ َ
Ada riwayat dari Imam Ahmad dari jalur Az Zuhriy, dari Mahmud bin Ar Robi‟, dari
„Itban bin Malik, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa
sallam pernah shalat Dhuha di rumahnya, lalu para sahabat berada di belakang beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengikuti shalat yang beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam lakukan.[1]

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya. Ibnu Hajar mengatakan
bahwa hadits ini dikeluarkan pula oleh Muslim dari riwayat Ibnu Wahb dari Yunus
dalam hadits yang cukup panjang, tanpa menyebut “shalat Dhuha”.[2] Al Haitsami
mengatakan bahwa para perowinya adalah perowi yang shahih.[3] Syaikh Syu‟aib Al
Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sebagaimana syarat Bukhari-
Muslim.[4]


Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara
berjama‟ah ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

                                                       3
pernah melakukan dua cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara
sendirian (munfarid). Perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama Anas, ibunya dan seorang anak
yatim; beliau juga pernah mengimami para sahabat di rumah „Itban bin Malik[5];
beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu „Abbas.[6]

Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menjelaskan hadits Ibnu „Abbas yang berada di rumah
Maimunah dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau rahimahullah mengatakan,

                                                     َ َ ْ ِ ْ َ ِ َ
                                 ‫َِٗئ ٍششُٗبيَّت اىََابَت َِي اىَّْاَِيَت‬

“Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara
berjama‟ah.”[7]

An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau
rahimahullah mengatakan,

      َ َ َ ْ ِ                 ْ ِ َّ ِ َ                        ِْ َ ِ َ َ      ْ َ            َّ
    ‫إَِل َِي َّ٘اَِو ٍخ ُ٘صت ٕٗي : اىْيذ اىَّْاَِيَت جَابَت ، ٗىَنِ اَلخخِيَاس َِيَٖا اَلّفِشاد ج٘اص‬
                                                 َ َ                                    َ
                                  ُْ َ     ُْ ْ ِْ ِ َ
                          ‫ٗاَلعخِغقَاء ٗمزا اىخَّشاِٗح بْذ اىََُٖ٘س ٗاىنغُ٘ف‬
                                                                   ََ َ   ْ ْ ِ َ

“Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama‟ah. Namun pilihan yang paling
bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat
khusus seperti shalat „ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo‟ (minta
hujan), begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”[8]

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al
Utsaimin rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah)
dengan berjama‟ah. Syaikh rahimahullah menjawab,

  ‫ٍششٗع، ٗأٍا ماُ اْلّغاُ ِشِذ أُ َِْو اىْ٘اَو دائَا ً َي جَابت ميَا ح ٘ع، َٖزا غيش إرا‬
‫صيى َّللا بيئ ٗعيٌ مَا َي صَلة صَلحٖا أحياّا ً َي جَابت َإّٔ َل بأط بٔ ى٘سٗد رىل بِ اىْبي‬
‫ٍْٔ أّظ بِ ٍاىل سضي َّللا بْٔ ٗاىيخيٌ َي بيج ابِ بباط ٍْٔ َي صَلة اىييو(2)، ٗمَا صيى‬
                                 3(‫.)أً عييٌ ٍٗا أشبٔ رىل‬

“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama‟ah,
maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari‟atkan. Adapun jika dia melaksanakan
shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama‟ah, maka tidaklah mengapa
karena terdapat petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini
seperti shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu „Abbas[9]. Sebagaimana pula
beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak
yatim di rumah Ummu Sulaim[10], dan masih ada contoh lain semisal itu.”[11]

Namun kalau shalat sunnah secara berjama‟ah dilakukan dalam rangka pengajaran,
maka ini diperbolehkan karena ada maslahat. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat
Anas bersama anak yatim di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara
berjama‟ah, beliau mengatakan,


                                                    4
                                              ِ َْ         ْ ّ َ َ ُ ِ ْ
َُ‫َِنُ٘ َُْٕاكَ ٍ ْ يَحت ماىخَّْيِيٌ ، بَوْ َُِنِ ٍحو اىفَضْ و اى٘اسد َِي صَلة اىَّْاَِيَت ٍْفَشدًا حيْذ َل ٗأ‬
َّ َ َ ُ َ ِ ْ ُ                    ََ                                         ِ ْ َ َ         َ           ُ
                                                                           َ ْ َ َ َ َ
                 ‫. ٗعيٌَّ ُٕ٘ إِر راكَ أََضو َٗل عيََّا َِي حقّٔ صيَّى َّللا بيَئ أَُ ُِقَاه‬
                        ْ ِ ْ َ َّ          َ    َ      َ ِ ََ َ ْ
“Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika
memang di sana tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun
dapat dikatakan bahwa jika shalat sunnah secara berjama‟ah dilakukan dalam rangka
pengajaran, maka ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam (yang bertugas untuk memberi contoh pada umatnya, -pen).”

Kesimpulan:

1. Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid
(sendiri) dan lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

               َْْ                    ِ َْ
        َ‫ََ َ يو٘ا أَِوَٖا اىَّْاطُ َِى بُيُ٘حِنٌ ، ََإُِ أََضو اى َّ َلَة صَلَةُ اىَشْ ء َِى بَيخِٔ إَِلَّ اىَنخُ٘بَت‬
                           ِ ْ                     َ ِ          َ َ ْ َّ      ُْ
“Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena
sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR.
Bukhari no. 731)

2. Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyari‟atkan secara berjama‟ah seperti shalat
tarawih.

3. Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama
dilakukan secara munfarid , meskipun boleh dilakukan secara berjama‟ah namun
tidak rutin atau tidak terus menerus, akan tetapi kadang-kadang saja.

4. Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjama‟ah
seperti untuk mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjama‟ah.

---------------------------------------------------------------------------
[1] Fathul Baari, 4/177, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
[2] Idem
[3] Majma’ Az Zawa-id, 2/278, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1412 H
[4] Lihat Ta’liq Syaikh Syu’aib Al Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad, Muassasah Qurthubah,
Kairo
[5] Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.
[6] Al Maqsu’ah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jama’ah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits, Asy
Syamilah.
[7] Fathul Baari, 3/421
[8] Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
[9] Hadits muttafaq ‘alaih.
[10] Hadits muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah ‘alal
Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara berjama’ah 266
(658)
[11] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah




                                                              5

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:434
posted:6/28/2011
language:Indonesian
pages:5