Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa

Document Sample
Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa Powered By Docstoc
					Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.
Written by Yoggi Herdani
Thursday, 03 June 2010 07:46
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari
proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu
menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Kemdiknas
sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang
dibinannya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian
yang cukup besar, kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk
Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”.
Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini, dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan
Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.

Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof.dr.Fasli Jalal, Ph.D, hadir pula menjadi
pembicara seperti Prof.Dr.Mahfud,MD,SH, SU. Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie, SH.
Prof.Dr.Djohermansyah Djohan, M.A. Prof.Dr.H.Sunaryo Kartadinata,M.Pd. Prof.Dr.H.Dadan
Wildan, M.Hum dan Drs. Yadi Ruyadi, M.si.

Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan
negara, beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh
keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945.
Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta
bertanggung jawab.”

Dari bunyi pasal tersebut, Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi
peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan
karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan
karakter.

Wamendiknas pun mengatakan bahwa, pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari
fitrah yang diberikan Ilahi, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya
sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan
memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.

Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan
memiliki peranan yang sangat penting. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan
seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture , dimana setiap sekolah memilih
pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas
pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu
memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.

Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan
kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Selain itu mengenai
sarana-prasaran, pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa, karena
yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan.

Prihal pengembangannya sendiri, Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di
pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter,
mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas.

Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05), di Ruang Rapat Komisi X, DPR-RI,
diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Hadir dirapat tersebut selain 25
anggota fraksi, adalah Menkokesra, Mendiknas, Menag, Menbudpar, Menpora, Wamendiknas,
Perwakilan Kementerian Dalam Negeri, serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait.

Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai
pendidikan karakter tersebut. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini
menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana
mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya
Keppres mengenai pendidikan karakter. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya
pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya.

Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak
dan paradigma masyarakat Indonesia. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi
proses pencarian watak bangsa saja, melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan
peradaban bangsa.
Kolom
Jumat, 07 Mei 2010 13:51:15

RESONANSI:
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MEMBANGUN KEBERADABAN BANGSA
Kategori: Internal (11508 kali dibaca)
Mengawali tulisan ini, patut kiranya kita memberikan “makna” lebih tentang tema besar yang
diangkat pada acara Hari Pendidikan Nasional tahun 2010 yakni ”Pendidikan Karakter Untuk
Membangun Keberadaban Bangsa”. Karena Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor
penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat
mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis
dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Nagara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan
norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

”Dari mana asalmu tidak penting, Ukuran tubuhmu juga tidak penting, Ukuran Otakmu cukup
penting, ukuran hatimu itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang
paling kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak” Simak, telaah, dan renungkan
dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran memberikan peluang bagi peserta
didik untuk multi kecerdasan yang mampu mengembangkan sikap-sikap; kejujuran, integritas,
komitmen, kedisipilinan, visioner, dan kemandirian.

Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan
pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan.
Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para
Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran
pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk
bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi
persoalan bagi mereka.

Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila, dan landasan
konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar
“Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah
untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya
bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara
sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial
budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang
negara Indonesia.

Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal, dan
secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan
bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa.
Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat
penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut
adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan budaya bangsa.

”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”, adalah kearifan dari
keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika
seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang
terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika
menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. pendidikan karakter bukanlah
sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan
dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban
bangsa Indonesia. Pesan akhir tulisan ini, berikan layanan yang terbaik kepada Pendidik dan
Tenaga Kependidikan sehingga terwujud masyarakat yang ”beradab” yang
mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia........ Pembiasaan berperilaku santun
dan damai adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka. (Muktiono Waspodo)



Pendidikan Karakter
Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan
pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas
kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.

Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède,
Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian
dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.

Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari
determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-
sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha
untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang
positivisme ala Comte.

Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek
dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang
mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang
selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.




Empat karakter

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana
setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah
terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun
rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi
pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak
lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa
yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas
menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan
personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah
yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.




Pengalaman Indonesia

Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika
politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi
relevan untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan
panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang
ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental
dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.

Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai
kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat
pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.

Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum
menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik
menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru.




Loncatan sejarah

Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah
pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme
lebih dahulu?

Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental
maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-
anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang
mendasari paham mereka tentang manusia.

Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada
dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. Kemampuan
membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. Karena itu, mereka
mampu menjadi agen perubahan sejarah.

Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan
dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan
sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita. Pendidikan karakter
masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita, terlebih karena bangsa kita kaya
akan tradisi religius dan budaya.

Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam
masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai
kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh
berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.




eberapa Hal Yang Mungkin Tidak Diketahui Anak Tentang Ayahnya Friday, November 12,
2010




                                              1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih
banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung
pada siapapun, dan selalu membutuhkan kehadirannya.

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak
ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

4. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman
mereka. kkarena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

5. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi
begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

6. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk
melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskannya.

7. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.
8. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan
menyayangi.

9. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

10. Ayah benar-benar senang membantu seseorang, tapi ia sukar meminta bantuan.

11. Ayah di dapur. Membuat dan memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus
dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan
persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan"
^_~

12. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi
tidak takut.

13. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak
dapat sedikitpun bagian dari makanan itu.

14. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita
jarang bahkan jarang sekali mendoakannya.

15. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika
pawai lewat.

16. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa
tahu kamu membutuhkannya.

17. Ayah percaya orang harus tepat waktu. Karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.

18. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.

19. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara.

20. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar uang sekolahmu tiap semester,
meskipun kamu tidak pernah memikirkannya, bagaimana ia mendapatkannya.

21. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling
beban itu.

22. Ayah akan berkata, "Tanyakan saja pada ibumu," ketika ia ingin berkata, "Tidak".
23. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya
menginap di rumah teman tanpa izin.

24. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap
rokok dikamar mandi.

25. Ayah mengatakan, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan
apa yang kamu harapkan.

26. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang
baik persis seperti caranya.

27. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri.

28. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan
rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

29. Ayah tidak suka meneteskan air mata. Ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis
untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali
lagi ini bukan menangis).

30. Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau
mimpi akan dibunuh monster...

31. Tapi, ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis
kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

32. Ayah pernah berkata, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas
tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari
pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan
cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

33. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan, "Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku,
pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih
baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu".

34. Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan, "Jangan cengeng meski kau seorang
wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-
laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan
posisi Ayah di hatimu"

35. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu.

36. Ayah bisa membuatmu percaya diri, karena ia percaya padamu.

37. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.




Tentang Pendidikan Karakter
Posted on 20 Agustus 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai
pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut,
pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang,
termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna
mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik
sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000),
ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan
teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill
dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil
dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini
mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk
ditingkatkan.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran,
sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam
pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan,
dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari
standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan
implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya
dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan
dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan
pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata
dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian
Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,
jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional
pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.
Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut
dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual
development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa
dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan
karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1
menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal
yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan
keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi
yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah
hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada
dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di
sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan
kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta
didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang
tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan
pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan
pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan
kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam
hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil
belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .

Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran.
Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran
perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh
pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di
masyarakat.

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media
yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik.
Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat
mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga
kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra
kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta
potensi dan prestasi peserta didik.

Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan
sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan,
dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara
memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan
kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait
lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam
pendidikan karakter di sekolah.

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke
pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan
nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera
dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih
operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan
di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta
didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan
karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu
nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang
dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah
merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia
negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan
administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama
ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best
practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.

Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan
terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia.
Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh
peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain
meliputi sebagai berikut:

   1.  Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
   2.  Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
   3.  Menunjukkan sikap percaya diri;
   4.  Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
   5.  Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam
       lingkup nasional;
   6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain
       secara logis, kritis, dan kreatif;
   7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
   8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang
       dimilikinya;
   9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan
       sehari-hari;
   10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
   11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
   12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
       bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
   13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
   14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
   15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan
       baik;
   16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
   17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;
       Menghargai adanya perbedaan pendapat;
   18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
   19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa
       Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
   20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
   21. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya
sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh
semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.



Pendidikan Umum dalam Perspektif Pendidikan Karakter Bangsa

Posted by humas on 2/18/11 • Categorized as Lain-Lain

                         Oleh Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si.

                        (Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)




Universitas, seperti halnya parlemen dan katedral, adalah hasil karya abad pertengahan.
Walaupun kedengarannya aneh, tetapi benar, masyarakat Yunani dan Romawi Kuno tidak
mengenal universitas dalam pengertian yang kita pergunakan selama 700 tahun terakhir ini.
Mereka memang memiliki balai pendidikan tinggi, tetapi terminologi itu tidak sinonim dengan
universitas. Institusi pendidikan, dalam hukum, retorika, dan falsafah, walaupun berkadar tinggi
tidak terstruktur dalam kelembagaan yang permanen. Socrates tidak pernah memberi diploma,
tetapi muridnya yang datang dari segala penjuru dunia abad klasik bersimpuh di hadapannya
mengadakan dialog. Kalau Socrates puas dengan hasil dialog itu maka pencari ilmu itu dipercaya
untuk mandiri dan menumbuhkan pusat pengecambahan pemikiran baru. Legitimasi tidak
ditandai dengan diploma, tetapi terpancar dari wibawa, kecakapan dan wawasan pembaruan,
yang tumbuh dalam alam pikiran si pencari ilmu itu (baca: siswa, mahasiswa).

Di Indonesia, tradisi semacam itu pernah ditampakkan secara serius ketika para muda dari segala
penjuru Nusantara datang menemui guru atau pandita untuk men-cantrik. Tali-temali intelektual
pandita-cantrik itu begitu indah dan menghasilkan, pada waktunya, pusat-pusat pengecambahan
pemikiran yang baru tanpa ditandai ijazah, diploma, atau SK. Kepercayaan sistem terbentuk oleh
kemampuan para cantrik itu membesarkan pusat keunggulan dan mengetengahkan pemikiran dan
kajian. Baru setelah abad ke-12 lahirlah organisasi terstruktur untuk memberikan pengajaran.
Organisasi itu memperkenalakan mesin instruksional yang ditandai adanya birokrasi, staf
pengajar, ujian, diploma, dan semacamnya yang membekas pada atribut universitas yang kita
kenal sekarang ini (Unesco, 1986).

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang terlahir sebagai Perguruan Tinggi Tenaga Guru
(PTPG) berkiprah untuk mengantar selapis generasi intelektual ke pentas pengabdian (bidang
keguruan dan nonkeguruan) dengan mengusung visi leading and outstanding university. Visi
UPI sebagai universitas pelopor dan unggul mengandung motivasi yang kuat untuk melakukan
perubahan dan perbaikan diri yang mengarah kepada terjadinya peningkatan mutu secara terus-
menerus (continous quality improvement) sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, UPI
secara bertahap dapat menembus daftar universitas terbaik di tingkat nasional, regional, dan
dunia.

Dalam mendukung terwujudnya visi UPI di atas, Sekolah Pascasarjana diarahkan menjadi
pelopor keunggulan dalam penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian,
dan pengabdian kepada masyarakat). Untuk itu pengakuan masyarakat internasional
(international recognition) terhadap mutu Sekolah Pascasarjana (SPs) perlu diupayakan secara
lebih terencana dan sistematis. Dengan demikian SPs UPI diharapkan memiliki landasan yang
kokoh untuk memperoleh pengakuan internasional yang perlu didukung oleh seluruh komponen
secara sinergis dan berkelanjutan. Program Studi Pendidikan Umum dalam konteks ini
merupakan bagian dari SPs UPI dan menjadi salah satu garda terdepan (front line) bagi upaya
memperoleh pengakuan internasional. Sesuai dengan karakteristik keilmuan maupun program-
program kurikulernya, Program Studi Pendidikan Umum secara terencana dan sistematis akan
mengembangkan berbagai pemikiran unggul dan terkemuka dalam pendidikan karakter bangsa.

Keberadaan program studi Pendidikan Umum dalam perspektif pendidikan karakter bangsa
menjadi suatu keniscayaan untuk dapat menjawab berbagai persoalan dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Jika dilihat melalui kaca pembesar hal itu memperlihatkan bahwa
masyarakat kita mengalami krisis “moral”. Melihat kembali sejarah pendidikan moral, semenjak
“Republic-nya” Plato dan “Politic-nya” Aristoteles pun kita tidak usah heran karena moralitas
memang harus selalu menjadi perhatian karena ubahan internal maupun eksternal sistem. Sudah
banyak diajarkan bahwa membentuk organisasi kemasyarakatan secara rasional harus beranjak
dari moralitas kokoh. Aristoteles menyatakan bahwa seseorang yang baik tidak hanya
mempunyai satu kebajikan, sikap dan tindak tanduk orang tersebut adalah panduan moralita
dalam segala hal (Hersh, et.al., 2009). Kebajikan itu harus terpancar dari samanya ucapan, sikap,
dan perbuatan atau jika meminjam konsep Thomas Lickona (1999) adalah harmoninya antara
moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pengertian bahwa seseorang yang
berkarakter itu mempunyai pikiran yang baik (thinking good), memiliki perasaan yang baik
(feeling good), dan juga berperilaku baik (acting good).

Pentingnya pendidikan moral (baca: karakter) itu juga ditegaskan Alexis de Toqueville (Branson,
1998:2): “…each new generation is a new people that must acquire the knowledge, learn the
skills, and develop the dispositions or traits of private and public character that undergird a
constitutional democracy. Those dispositions must be fostered and nurtured by word and study
and by the power of example. Democracy is not a “machine that would go of itself,” but must be
consciously reproduced, one generation after another”.

Visi dan Misi

Program Studi Pendidikan Umum memiliki visi mendorong terwujudnya UPI sebagai “the
Campus of Character” yang akan menjadi rujukan (main reference) baik bagi lembaga
pendidikan, lembaga pemerintahan, lembaga sosial/kemasyarakatan, maupun masyarakat luas,
dalam menghasilkan pemikiran unggul dan terkemuka dalam bidang pendidikan karakter bangsa.

Program Studi Pendidikan Umum mengemban misi melaksanakan program unggulan untuk
menghasilkan gagasan inovatif dan sumber daya manusia yang terlatih di bidang pendidikan
karakter. Misi ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yaitu, pendidikan, pelatihan,
penelitian, pengembangan yang unggul, serta penyebarluasan gagasan inovatif dalam kaitan
dengan pendidikan karakter bangsa.

Kondisi Objektif

Program Studi Pendidikan Umum saat ini didefinisikan sebagai “Pendidikan Nilai”. Ini memang
tidak keliru, terutama yang bertujuan untuk menumbuh-kembangkan nilai moral pada peserta
didik. Namun, pendidikan nilai yang telah ada dalam kurikulum sekolah selama ini (PKn,
pendidikan agama, atau pendidikan kepribadian lainnya) sejak pembakuan Kurikulum 1975,
belum terbukti berhasil dalam membentuk karakter siswa. Sejak digulirkan program
pembangunan karakter dalam lingkup nasional dan pendidikan karakter dalam lingkup
Kementerian Pendidikan Nasional (lihat Perpres tentang Kebijakan Nasional Pembangunan
Karakter Bangsa), Pemerintah memerlukan pendidikan karakter yang berbeda dengan pendidikan
nilai yang selama ini dilaksanakan dalam kurikulum dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu,
UPI “harus” tampil dalam pemikiran, melalui pendidikan, penelitian dan pengembangan yang
sistematis dan terfokus untuk membantu pemerintah membangun pendidikan karakter bangsa
yang dapat berhasil secara lebih terukur. UPI ditantang untuk dapat menghasilkan berbagai
gagasan dan pemikiran inovatif yang mungkin berbeda dengan pendidikan nilai yang selama ini
berkembang dalam kurikulum sekolah.

Berdasarkan rasionale tersebut di atas, maka Program Studi Pendidikan Umum SPs UPI, perlu
direvitalisasi sedemikian rupa dan dikembangkan menjadi Program Studi Pendidikan Umum
dengan konsentrasi Pendidikan Karakter. Pendidikan karakter dalam konteks ini harus didasari
oleh cara berpikir yang lebih maju, rasional, applicable, akuntabel, dan terukur mulai dari
tingkatan pemikiran, model, sistem manajemen, pelaksanaan pembelajaran, sampai pada sistem
penilaian (assessment).

Guna melahirkan program strategis untuk mewujudkan visi dan misi program studi terlebih
dahulu perlu dilakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT Analysis).
SWOT Analysis merupakan teknik dalam manajemen untuk menemukan kekuatan dan
kelemahan suatu institusi dikaitkan dengan kajian atas perkembangan masyarakat untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi
pengemabangan lembaga menuju visinya. Dengan demikian, gambaran singkat tentang kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman program studi Pendidikan Umum (baca: Pendidikan Karakter)
adalah sebagai berikut.

   1. Kekuatan
          1. Gedung dan sarana fisik berstandar internasional.
          2. Tersedia fasilitas internet (termasuk akses melalui jaringan wireless).
          3. Tersedia dosen dalam jumlah yang memadai.
          4. Otonomi akademik pada tingkat program studi.
   2. Kelemahan
          1. Angka efisiensi edukasi yang kecil dan jumlah mahasiswa kongesti yang besar (terutama
              mahasiswa program doktor).
          2. Intensitas dan kualitas pelayanan akademik dosen yang masih rendah.
          3. Akses terhadap sumber belajar, terutama jurnal ilmiah bertaraf internasional, yang
              masih terbatas.
          4. Penguasaan bahasa Inggris para mahasiswa yang masih lemah.
          5. Transisi dari budaya PNS ke budaya korporasi.
   3. Peluang
          1. Adanya kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang memerlukan berbagai
              pemikiran dari universitas.
          2. Adanya sejumlah lembaga internasional (seperti Ausaid, Usaid, JICA, Unesco, Civitas-
              International) yang mendorong kemitraan antara perguruan tinggi di Indonesia dengan
              berbagai perguruan tinggi di Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.
          3. Adanya sejumlah lembaga nasional (seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter
              Bangsa Pusat, Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa Provinsi, Badan
              Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa Kabupaten/Kota, dan Satuan Kerja
              Pembangunan Karakter Bangsa baik di pusat maupun di daerah) yang memerlukan mitra
              kerjasama dengan perguruan tinggi yang memikliki kepakaran dalam pendidikan
              karakter.
          4. Meningkatnya minat masyarakat untuk studi pada jenjang magister dan doktor bidang
              pendidikan karakter seiring dengan kebijakan nasional yang menjadikan pendidikan
              karakter sebagai program pendidikan yang inklusif, yakni bidang yang harus
              dikembangkan oleh semua mata pelajaran dan semua program pendidikan di sekolah,
              luar sekolah, maupun pada lingkungan keluarga.
          5. Makin banyaknya beasiswa dan skema penelitian yang ditawarkan oleh berbagai
              lembaga, baik di dalam maupun luar negeri (teruta untuk mahasiswa program doktor).
   4. Ancaman
          1. Perkembangan perguruan tinggi di Indonesia yang relatif cepat, baik negeri maupun
              sewasta, berpotensi melahirkan program-program studi sejenis.
          2. Ekspansi dari perguruan tinggi swasta yang relatif “gurem” yang menawarkan program
              sejenis dengan waktu studi yang relatif lebih pendek dan biaya yang relatif lebih murah.

Lingkup Pengembangan

Program Studi Pendidikan Umum dengan konsentrasi Pendidikan Karakter memiliki perbedaan
yang hakiki dengan pendidikan nilai yang selama ini berkembang dalam kurikulum sekolah,
termasuk dalam program Pendidikan Umum/Nilai di lingkungan SPs-UPI. Perbedaan paling
utama terletak dalam perspektif pemikiran, atau dapat juga disebut sebagai perubahan parade-
gmatik dalam pendidikan nilai. Perubahan yang cukup mendasar dan perspektif pemikiran ini
akan berakibat pada perubahan yang mendasar dalam berbagai bentuk aplikasi pendidikan
karakter seperti organisasi kontennya, pendekatannya, strategi pembelajarannya, asesmennya,
serta aspek lain yang berkaitan dengan managemen institusi dan managemen pembelajaran.

Perspektif ini percaya bahwa pendidikan karakter belum berhasil dilakukan melalui mata
pelajaran sesuai dengan kurikulum tertulis di sekolah. Dari pengalaman selama ini, pendidikan
moral, karakter atau kepribadian di Indonesia diselenggarakan melalui dua atau tiga mata
pelajaran seperti PKn, pendidikan agama, pendidikan kepribadian, atau mata pelajaran lain yang
mengandung pendidikan nilai. Dalam perjalanan sejarah perkembangan kurikulum sejak tahun
1975, mata pelajaran tersebut disusun, dikembangkan dan diimplementasikan melalui
pembelajaran konvensional di kelas (classroom instruction) tetapi sampai saat ini belum ada
bukti yang menunjukkan bahwa pendidikan nilai seperti itu telah berhasil. Berdasarkan
pengalaman itu, dapat ditegaskan bahwa jika pendidikan nilai ini “dikemas” dalam mata
pelajaran, dapat dipastikan bahwa pendidikan karakter seperti itu tidak pernah memperoleh
keberhasilan. Oleh karena itu, program studi Pendidikan Umum dengan konsentrasi Pendidikan
Karakter, harus mampu melakukan revitalisasi dalam perspektif pemikiran sedemikian rupa
sehingga program studi pendidikan karakter memiliki kemampuan untuk melahirkan gagasan
yang inovatif, kreatif, applicable, accountable, dan measurable.

Suatu program studi di lingkungan SPs harus memiliki dialektika yang secara dinamis dapat
menyeimbangkan antara dua kepentingan yang tarik-menarik, yaitu daya tarik pasar (market
pool) di satu pihak, dan pengembangan disiplin ilmu di lain pihak. Dengan kata lain, program,
sudi ini harus mampu menjawab kedua kepentingan sekaligus secara berimbang. Untuk dapat
menarik pasar, program studi ini perlu dikembangkan sedemikian rupa agar semua mata kuliah
yang menjadi bagian dari kurikulum harus memiliki karakteristik yang lebih praktis, realistis,
konstekstual, dapat diterapkan, dan memiliki relevansi yang tinggi dengan kebijakan dan
program pemerintah dan/atau perguruan swasta yang memiliki program serupa.

Untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, kurikulum program studi ini harus
menawarkan beberapa mata kuliah dasar yang menyangkut grand theory dalam pendidikan
karakter, seperti pendidikan nilai, pendidikan karakter bangsa, sosiologi pendidikan, kebijakan
publik, politik pendidikan, ekonomi pendidikan, dan ilmu dasar lain yang berkaitan. Agar dapat
menjawab dua kepentingan tersebut di atas, program studi Pendidikan Umum dengan konsentrasi
Pendidikan Karakter ini harus memiliki program penelitian dan pengembangan pendidikan
karakter yang cukup banyak, baik dalam level makro maupun mikro, baik yang dilakukan oleh
mahasiswa maupun dosen, termasuk kerja sama dengan Kementerian.

Dalam perspektif ke depan, pendidikan karakter memiliki dua pendekatan yang berbeda tetapi
saling melengkapi satu sama lain, yaitu pendidikan karakter dengan pendekatan makro, dan
pendidikan karakter dengan pendekatan mikro. Dengan demikian, Program Studi Pendidikan
Umum/Karakter dapat mengembangkan dua pendekatan, yaitu Pendidikan Karakter Mikro dan
Pendidikan Karakter Makro, sebagai berikut.
Pertama; pendekatan mikro dalam Pendidikan Karakter adalah pendidikan nilai dan perilaku
dalam lingkungan persekolahan yang dapat memperkuat kerangka dasar pada tingkatan individu
untuk mendorong tumbuh-kembang karakter seseorang, seperti: kemampuan nalar, nilai
kehidupan bersama, pradisposisi, perilaku, serta kecakapan individu peserta didik melalui
pemahaman, pembiasaan dan aplikasi.

Kedua; pendekatan makro dalam Pendidikan Karakter, adalah pengembangan institusi dan
lingkungan yang memungkinkan tumbuh-kembangnya nilai karakter individu secara konsisten
dan berkelanjutan. Dalam perspektif ini diyakini bahwa karakter seseorang akan dapat tumbuh-
kembang secara berkelanjutan jika institusi sekolah, kantor pemerintah, atau institusi sosial
dalam masyarakat sebagai lingkungan peserta didik juga dapat berfungsi sebagai “a moral
institution”.

Misalnya, karakter siswa tidak mungkin berkembang dengan baik jika sekolah itu sendiri tidak
menjadi sekolah yang berkarakter (a character school). Oleh karena itu, penelitian dan
pengembangan harus dapat dikembangkan melalui program studi ini agar dapat menghasilkan
berbagai model pemikiran ke arah terwujudnya sekolah yang berkarakter dalam semua sisi, yaitu
manajemen kelas, manajemen sekolah, manajemen lingkungan, organisasi siswa, kegiatan non-
kurikuler, serta berbagai aspek lain yang kondusif untuk tumbuh-kembangnya nilai dan karakter
peserta didik.

Program Strategis

Untuk menjadi program studi unggulan yang mampu menawarkan dan dapat diminati oleh pasar
serta dapat memperkaya perbendaharaan ilmu pengetahuan, terdapat empat jenis program yang
ditawarkan melalui program studi ini, yaitu sebagai berikut.

   1. a. Program Pendidikan

Program pendidikan atau kurikulum program studi ini menawarkan mata kuliah yang
dikategorikan ke dalam: Mata Kuliah Dasar (core subjects), Mata Kuliah Penunjang (Tools
subjects), Mata Kuliah Terapan (Applied subjects), mata kuliah konsentrasi. Oleh karena itu
kegiatan lokakarya pengembangan kurikulum perlu dilakukan.

   1. b. Program Penelitian dan Pengembangan

Program penelitian dan pengembangan perlu dituangkan di dalam rencana yang matang baik
untuk dosen maupun untuk mahasiswa. Penelitian untuk dosen dilakukan baik yang didukung
oleh pembiayaan dari UPI secara kompetitif, dari Dikti, serta dari lembaga pemerintah lainnya.
Penelitian dan pengembangan untuk mahasiswa (S2 atau S3) perlu dirancang sedemikian rupa
oleh program studi dengan melakukan pemetaan isu dan permasalahan yang akan dijadikan
sebagai topik-topik penelitian untuk tesis dan disertasi secara terarah, sehingga setiap penelitian
benar-benar dapat menjawab berbagai permasalahan yang ada berkaitan dengan pendidikan
karakter. Program strategis yang perlu disiapkan adalah penyusunan payung penelitian program
studi.
    1. c. Program Pelatihan

Program studi ini dapat menawarkan mata kuliah bagi mahasiwa nonreguler dan mahasiswa
paruh waktu (part-time students) yang mungkin hanya tertarik untuk mengambil sebagian mata
kuliah yang benar-benar berguna untuk meningkatkan wawasan serta kecakapan untuk
peningkatan karier pendidik dan tenaga kependidikan. Program studi ini juga dapat menawarkan
program-program pelatihan dalam jabatan bagi pendidik atau tenaga kependidikan yang
membutuhkan pengetahuan, kecakapan bidang pendidikan karakter.

    1. d. Penyebarluasan Gagasan

Program Studi ini menyelenggarakan program kegiatan yang berkaitan dengan promosi
pendidikan karakter, seperti seminar, workshop, serta kegiatan promosi program studi
Pendidikan Umum/Karakter dengan menyebarluaskan gagasan melalui media massa seperti surat
kabar, internet, dan jurnal ilmiah.




Pendidikan Karakter dan Hardiknas 2010
Sunday, 2 May 2010 (11:18) | Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi, Religi, Sosial | 3,687 pengunjung | 110 komentar |
Print this Article




H            ari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei tahun ini mengambil tema

“Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Sebuah tema strategis yang
memang amat kontekstual dengan situasi kekinian yang dinilai makin abai terhadap persoalan-
persoalan akhlak dan budi pekerti. Degradasi moral dan involusi budaya telah menjadi fenomena
rutin yang makin menenggelamkan kemuliaan dan martabat bangsa. Perilaku kekerasan,
vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kelatahan
kolektif. Untuk mendapatkan harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan
cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan ilmu permalingan dan
berselingkuh dengan dunia klenik dan mistik. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas
kolosal yang menyuguhkan repertoar tragis, pilu, dan menyesakkan dada.

Dalam situasi demikian, bangsa dan negeri yang besar ini perlu diingatkan kembali pada nilai-nilai
genuine yang secara historis telah membuat kesejatian diri bangsa menjadi lebih terhormat dan
bermartabat. Tanpa bermaksud untuk tenggelam ke dalam romantisme masa silam, yang jelas
bangsa kita perlu belajar pada nilai-nilai kearifan lokal masa silam sebagai basis perilaku untuk
memasuki pusaran arus global yang makin rumit dan kompleks sehingga bangsa kita sanggup
menjadi bangsa yang maju dan modern tanpa harus kehilangan pijakan nilai-nilai budaya dan
kearifan lokal. Negeri kepulauan yang memiliki kemajemukan dalam soal etnis, bahasa, budaya, ras,
dan berbagai kekuatan primordial lainnya itu sejatinya bisa membangun sebuah kesenyawaan
peradaban yang menggambarkan mosaik keindonesiaan yang toleran, demokratis, bermartabat,
berbudaya, dan beradab.

Namun, secara jujur mesti diakui, 65 tahun hidup merdeka, bangsa kita justru kian tenggelam dalam
cengkeraman budaya pragmatis, instan, dan bar-bar, yang dinilai telah gagal memerdekakan
manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Di tengah capaian pembangunan yang demikian
pesat secara lahiriah, rohaniah bangsa kita justru kering-kerontang; tak sanggup membebaskan diri
dari ketertindasan dan kesewenang-wenangan. Merebaknya perilaku tak beradab, seperti korupsi,
penggusuran, main hakim sendiri, dan berbagai aksi kekerasan lainnya bisa menjadi bukti bahwa
bangsa kita belum sepenuhnya bisa hidup merdeka. Pekik “merdeka!” hanya lantang diucapkan di
atas mimbar dan podium orasi. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Masih banyak warga bangsa
yang harus mengais rezeki dari tong-tong sampah, tidur di emper-emper toko, dan harus main
kucing-kucingan dengan Satpol PP ketika mereka mencari peruntungan di trotoar atau alun-alun
kota. Dengan dalih menjaga ketertiban dan kenyamanan kota, elite negeri ini rela berbuat biadab
terhadap sesamanya dengan menggusur dan menistakan rakyat kecil yang hidup susah dan terlunta-
lunta.

Merebaknya aksi-aksi kekerasan dan vandalisme di atas panggung sosial negeri ini sesungguhnya
tak bisa dilepaskan dari karakteristik kekuasaan yang (nyaris) tak pernah berpihak kepada “wong
cilik”. Hukum hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Melalui “hamba-
hamba” hukum yang bisa mereka ajak untuk berselingkuh dan kongkalingkong, mereka bisa dengan
mudah melakukan rekayasa kasus agar perilaku korup dan jahat yang mereka lakukan tak tersentuh
oleh hukum. Sebaliknya, rakyat kecil yang tak berdaya bisa dengan mudah diperdayai dan
dijebloskan ke penjara hanya karena maling coklat, kapuk randu, atau semangka, yang hanya
sekadar dijadikan sebagai alat pengganjal perut. Akumulasi kekecewaan dan rasa tidak puas
terhadap karakteristik kekuasaan yang semacam itu, disadari atau tidak, telah menumbuhkan
semangat kolektif untuk melakukan “perlawanan” dengan melakukan aksi-aksi jalanan yang tak
jarang menimbulkan situasi chaos dan berdarah-darah.

Di tengah situasi masyarakat yang chaos dan berdarah-darah semacam itu, pendidikan yang menjadi
basis dan kawah candradimuka peradaban, jelas menghadapi tantangan yang makin rumit dan
kompleks. Dunia pendidikan tak hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa
didik, tetapi juga harus mampu menjalankan peran dan fungsinya untuk menaburkan,
menanamkan, menyuburkan, dan sekaligus mengakarkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti,
sehingga keluaran pendidikan benar-benar menjadi sosok yang “utuh” dan “paripurna”; menjadi
pribadi yang berkarakter jujur, rendah hati, dan responsif terhadap persoalan-persoalan
kebangsaan.




                                           Setidaknya, ada tiga hal penting dan mendasar yang
perlu segera diagendakan agar pendidikan karakter benar-benar bisa diimplementasikan ke dalam
institusi pendidikan kita. Pertama, membangun keteladanan elite bangsa. Sudah bertahun-tahun
lamanya, semenjak rezim Orba berkuasa, negeri ini telah kehilangan sosok negarawan yang bisa
menjadi teladan dan anutan sosial dalam perilaku hidup sehari-hari. Kaum elite kita, diakui atau
tidak, hanya pintar ngomong di atas mimbar pidato, tetapi implementasi tindakannya ibarat “jauh
panggang dari api”. Mereka ngomong “berantas korupsi dan mafia hukum”, tetapi realitas yang
terjadi justru proses pembiaran terhadap perilaku-perilaku jahat dan korup. Mereka berteriak
“membela wong cilik”, tetapi kenyataan yang terjadi justru peminggiran peran dan penggusuran
rakyat kecil di mana-mana. Insitusi pendidikan tak akan banyak maknanya apabila kaum elite kita
hanya berada “di atas menara gading kekuasaan”, miskin keteladanan, dan hanya sibuk bermain
akrobat untuk mempertahankan kekuasaan semata.

Kedua, memberdayakan guru. Secara jujur harus diakui, profesi guru, semenjak disahkannya UU
Guru dan Dosen, menjadi lebih “bergengsi” dan bermartabat. Setidak-tidaknya, guru yang
dinyatakan sudah lulus sertifikasi sudah bisa menikmati tunjangan profesi sebesar satu kali gaji
pokok. Namun, sesungguhnya bukan hanya semata-mata tingkat kesejahteraan yang dibutuhkan
guru, melainkan juga pemberdayaan dari ranah kompetensi yang selama ini masih menyisakan
tanda tanya. Empat kompetensi –profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial– yang menjadi
syarat wajib bagi guru profesional belum sepenuhnya bisa diimplementasikan dalam perilaku dan
kinerja guru sehari-hari. Belum lagi persoalan perlindungan dan advokasi terhadap kinerja guru
yang dianggap masih lemah, sehingga guru belum sepenuhnya mampu menjalankan peran dan
fungsinya secara optimal. Yang tidak kalah penting, guru juga perlu terus diberdayakan dalam soal
pengembangan pendidikan karakter lintas-mata pelajaran. Artinya, pendidikan karakter bukan
hanya semata-mata menjadi tanggung jawab guru PKn atau Agama saja, melainkan juga menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari kinerja guru secara menyeluruh dan terpadu.

Ketiga, dukungan lingkungan sosial, kultural, dan religi terhadap keberlangsungan pendidikan
karakter dalam dunia pendidikan. Di tengah situasi peradaban yang makin abai terhadap nilai-nilai
akhlak dan budi pekerti, institusi pendidikan tak bisa sepenuhnya “otonom” dan berjalan sendiri
tanpa “intervensi” lingkungan. Segenap elemen bangsa, mulai tokoh masyarakat, agama, hingga
media, perlu memberikan dukungan penuh dan optimal terhadap implementasi pendidikan
karakter. Media televisi yang selama ini telah menjadi “tuhan” baru di kalangan anak-anak dan
remaja perlu menjalankan fungsinya sebagai pencerah peradaban dengan memberikan suguhan dan
tayangan yang edukatif. Jangan sampai anak-anak yang tengah “memburu jati diri” dicekoki dengan
tayangan sinetron mistik atau entertaintment yang serba glamor, hingga membuat anak-anak
bangsa di negeri ini makin kehilangan pegangan dan basis pendidikan karakter dalam hidup dan
kehidupannya.

Nah, selamat memeringati Hardiknas 2010, semoga pendidikan karakter yang menjadi tema dan
narasi besar tahun ini tak hanya mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka! ***




Urgensi Pendidikan Karakter
Prof . Suyanto Ph.D

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter
baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari
keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun
2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta
didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan
Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir
generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta
agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr.
Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan
yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini,
maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan
menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak
menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam
tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter
cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga,
kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong
dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan
keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan
kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan
metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah
diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan
feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa
membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang
mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa
melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para
ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan
anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas
kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi
pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah
sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi
pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat
sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya
pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama
sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu
lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan
peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan
untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini
diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education
Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St.
Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-
sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam
pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat
menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001)
mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap
keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di
sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada
karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata
80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak
(IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan
belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat
dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya
para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja
seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya
adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan
bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada
pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa
segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai
nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*



PEMBANGUN POLA PENDIDIKAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
01/25/2011 history22education Tinggalkan komentar Go to comments




Rate This

 ” jika ingin mengubah negara untuk kegiatan – kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik,
pencinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan. Jika anda ingin
mempunyai negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi anda yang akan
datang, saya yakin anda dapat melakukannya”

(Gerlorfd Nelson dalam catalyst conference speech university of Illionis, 1990)

Pendahuluan

Sebelum melangkah lebih jauh melihat gerakan lingkungan baiknya kita tinjau masalah
lingkungan. Masalah masalah lingkungan hidup seringkali tidak menjadi prioritas yang tinggi
dan seringkali menjadi sub agenda dengan demikian akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-
tema kampanye yang lebih luas dan abstrak. sementara itu gerakan lingkungan atau dsebut juga
enviromentalisme yaitu suatu faham yang menempatkan lingkungan hidup sebagai pola dan arah
gerakannya. Bagi sebagian pihak enviromentalisme mungkin asing karena enviromentalisme
dianggap sebagai gerakan yang membahayakan orde pada waktu itu (orde baru) terutama dalam
menentukan kebijakan yang berkaitan dengan ekploitasi hutan. Organisasi non politik yang
concern pada lingkungan pada masa itu pun di arahkan langsung oleh Emil Salim waktu itu
menjabat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup untuk tidak mengikuti taktik
Green Peace ataupun The German Green yang bisa masuk mengkritisi setiap kebijakan
pemerintah yang tidak memperhatikan dampak lingkungan hidup terhadap alam ataupun
masyarakat.

Sedangkan gerakan lingkungan hidup menurut literatur sosiologi istilah “gerakan lingkungan
hidup” digunakan dalam tiga pengertian yaitu pertama sebagai penggambaran perkembangan
tingkah laku kolektif (collective behavior). Kedua, sebagai jaringan konflik-konflik dan interaksi
politis seputar isu-isu lingkungan hidup dan isu-isu lain yang terkait. Ketiga, sebagai perwujudan
dari perubahan opini publik dan nilai-nilai yang menyangkut lingkungan.

Di Indonesia istilah gerakan lingkungan hidup di pakai dalam konsorsium : “15 tahun Gerakan
Lingkungan Hidup : Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan”. Yang di selenggarakan
oleh kantor Meneg Kependudukan Dan Lingkungan Hidup di Jakarta, 5 Juni 1972.
Denton E Morrison mengusulkan bahwa yang di sebutkan gerakan lingkungan hidup
sesungguhnya terdiri dari 3 komponen yaitu komponen pertama, the organized or voluntary
enviromental movement ( gerakan lingkungan yang terorganisir atau gerakan yang sukarela )
termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund,
Green Peace atau di Indonesia ada WALHI Jaringan Pelestarian Hutan “SKEPHI”. Komponen
kedua, The public enviromental movement (gerakan lingkungan publik ) adalah khalayak ramai
yang dengan sikap sehari-hari dalam tindakan dan kata-kata mereka menyatakan kesukaan
mereka terhadap ekosistem tertentu, pola hidup tertentu serta flora dan fauna tertentu. Komponen
ketiga The Institusional Enviromental Movement (gerakan lingkungan terlembaga ) ini sangat
menentukan dalam negara negara berkembang dimana peranan negara sangat dominan dan
peranan aparat-aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap
kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagai
contoh di Amerika ada Badan Perlindungan Lingkungan ( EPA – Enviromental Protection
Agency), Dinas Pertamanan Nasional ( National Park Service) padanannya di Indonesia adalah
Kantor Meneg KLH, DEPHUT.

Komponen gerakan lingkungan terlembaga ini penting untuk di amati sendiri ambilah contoh
keberhasilan EPA dalam mengendalikan polusi air dan udara misalnya di pengaruhi kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kebijaksanaan luar negeri serta
ketersediaan sumber-sumber energi

Hakikat gerakan lingkungan menurut Buttel dan Larson mempunyai beberapa manfaat, pertama
struktur gerakan lingkungan di setiap negara yakni hubungan diantara tiga komponen itu bisa
berbeda-beda dan ini membawa variasi yang cukup berarti di antara paham lingkungan
(enviromentalism) negara-negara itu. Kedua, taktik dan ideologi gerakan lingkungan terorganisir
di suatu negara dapat di lihat sebagai hasil interaksi diantara komponen – komponen kelas negara
itu satu pihak, dan kelompok-kelompok kepentingan (interces group) dilain pihak.

Melakukan Gerakan Cinta Lingkungan

Manusia dalam kehidupannya tidak bisa terlepaskan dari lingkungan yang ada di sekitarnya, baik
lingkungan sosial atau lingkungan alam. Antara ketiganya merupakan satu kesatuan yang
integral . Manusia dalam keberadaannya di muka bumi sebagai khalifah sudah seyogyanyalah
berusaha seoptimal mungkin memainkan perannnya. Dengan berperan secara “adil” maka
diharapkan akan tercipta suatu kondisi lingkungan yang harmonis, selaras, serasi dan seimbang.
Dan apa yang diidealkan oleh banyak orang selama ini akan bisa terwujud. “Lestari alamku,
sejahtera masyarakatku”.
Dalam konteks gerakan lingkungan, maka tantangan semakin yang semakin besar di masa
mendatang mengharuskan kita untuk melakukan reposisi gerakan lingkungan menjadi gerakan
sosial, karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi dominasi pasar dan globalisasi
Kondisi idealita seperti itu saat ini sepertinya bak sesuatu yang langka dan mahal. Bagaimana
tidak ?? Polusi udara semakin menghebat sehingga lapisan ozon makin menipis. Udara terasa
panas dan bumipun ikut panas. Kebakaran hutan, penebangan hutan secara liar semakin
menggila. Banyak oknum yang tidak bertanggungjawab berbuat tidak senonoh terhadap
indahnya alam yang dulu hijau.
Pendidikan yang penting sebenarnya dimulai dari lingkungan sosial yang paling kecil, yaitu
keluarga. Keluarga yang berfungsi salah satunya untuk pendidikan menjadi basic yang kuat
dalam proses internalisasi nilai-nilai yang diterapkan oleh suatu unit sosial yang terkecil
tersebut.. Karena begitu pentingnya peran pendidikan keluarga bagi pengembangan kepribadian
anak, maka disinilah dituntut agar keluarga bisa benar-benar sebagai “laboratorium mini” yang
kondusif bagi si anak. Keluarga harus mengembangkan sistem yang ada dalam instisusi kecil
tersebut secara adil , harmonis, transparan, aspiratif dan demokratis. Sehingga pada akhirnya bisa
tercipta suatu kondisi yang memang benar-benar kondusif.
Dalam konteks pendidikan lingkungan bagi si anak , keluarga berperan sebagai “agent of values
transformation”. Institusi ini mempunyai fungsi untuk mensosialisasikan kepada anak akan
urgensi lingkungan yang sehat, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam yang ada di
sekitarnya. Lingkungan sosial yang sehat artinya adalah bahwa selaku anggota masyarakat setiap
orang harus bisa berperan sesuai dengan kapabilitasnya. Artinya adalah bahwa dalam suatu
lembaga sosial yang lebih besar (dalam hal ini masyarakat) orang harus mengetahui akan sistem ,
nilai –nilai dan budaya yang ada di sekitarnya. Sehingga ia bisa memainkan perannya sebagai
“makhluk sosial’ secara baik, tanpa ada kepincangan pergaulan yang menajam, yang pada
akhirnya bisa membawa implikasi pada timbulnya “penyakit sosial” yang akut.
Sementara itu , lingkungan alam yang sehat mempunyai makna bahwa apa yang ada di muka
bumi sebagai kekayaan alam, yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa harus kita
jaga, kita rawat dan kita manfaatkan secara adi, selaras dan optimal dengan tetap memperhatikan
kelestariannya. Artinya , dalam konteks ini kita tidak boleh mengesksploitasi alam yang di luar
batas kewajaran. Kalau sampai kita (manusia-manusia yang diamanahi oleh Tuhan untuk
memelihara alam yang ada) melakukan itu, maka tidak segan-segan Tuhan memberikan
hukumannya. (Seperti apa yang telah di-nash-kan Oleh-Nya dalam kitab suci Alqur’an).
Namun apa daya, ternyata manusia lupa dengan apa yang telah difirmankan oleh Tuhan. (Atau
manusia memang sengaja melupakan batasan-batasan yang telah diberikan oleh Tuhan ??!!)
Kondisi riil yang ada menunjukkan pada kita semua bahwa degradasi lingkungan telah terjadi di
bumi Indonesia. Ibu pertiwi sedih. Ibu pertiwi menangis. Indonesia yang dikenal oleh dunia
sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakatnya yang ramah ternyata
tidak seindah apa yang dinilai oleh dunia . Atau lebih tepatnya lagi, kalau memang kita jujur
seharusnya kita malu dengan apa yang ada dalam kenyataannya. Sebagian kecil masyarakat
Indonesia ternyata tidak ramah terhadap lingkungannya.

Sumber-Sumber



 Implementasi Pen




Pendidikan yang berwawasan ekologi atau lingkungan telah dirintis oleh Fr. A. Finger
(1808-1888) di Jerman dengan “pengajaran alam sekitar” dan J. Ligthart (1859-1916) di Belanda
dengan “kehidupan senyatanya” (Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo, 2005). Prinsip gerakan
“pengajaran alam sekitar”, sebagai berikut.
a. Dengan pengajaran alam sekitar guru dapat memperagakan secara langsung.
b. Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak aktif.
c. Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas (tidak
mengenal pembagian mata pelajaran, menarik minat, dan hubungan bahan pelajaran erat dan
teratur).
d. Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kokoh dan
tidak verbalistis; serta memberikan apersepsi emosional.
Di lain pihak, J.Ligthart dengan “kehidupan senyatanya”, mengemukakan gagasannya
sebagai berikut ;
a. Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya.
b. Pengajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya atau mata
pelajaran yang lain harus dipusatkan atas pengajaran itu.
c. Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya ke semua jurusan, agar murid
paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya (pengajaran alam
sekitar).
Untuk di Indonesia, Moh. Yamin (2008) mengusulkan kurikulum pendidikan berbasis
ekologi perlu dan sangat penting dihidupkan di setiap lembaga pendidikan. Adanya kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diharapkan mampu dibuat sesuai dengan kebutuhan
lokalitas daerah atau satuan pendidikan masing-masing adalah jalan menuju pembentukan
karakter anak didik cinta lingkungan. Sebab, muatan KTSP diciptakan dan dilahirkan oleh para
pendidik di sekolah tersebut. Di setiap materi pelajaran ataupun kuliah yang diajarkan, nilai-nilai
kecintaan dan kepedulian kepada lingkungan harus diperkuat sedemikian rupa, baik teoretis
maupun praksis. Pada beberapa materi pelajaran maupun kuliah yang memiliki hubungan erat
dengan kehidupan lingkungan, perlu diberi waktu pembelajaran-pengajaran yang cukup selama
itu tidak mengurangi konsentrasi muatan jurusan yang diinginkan di setiap lembaga pendidikan
terkait. Akhirnya, bila anak didik mulai TK hingga PT diberikan materi ajar cinta lingkungan,
niscaya generasi-generasi masa depan akan berparadigma ekologis.
Implikasi pendidikan berwawasan ekologis di salah satu SMP Santa Maria dapat menjadi
salah satu contoh (Martinus, 2008). Di sekolah ini pendidikan yang ekologis mulai diterapkan
sebagai upaya untuk menumbuhkan sikap kritis individu baik secara moralitas maupun
intelektualitas merupakan wujud nyata kepedulian pada lingkungan sekitar. Melalui kegiatan
observasi lingkungan diharapkan siswa dapat berinteraksi langsung pada sesama, alam maupun
pada diri sendiri. Hal ini dapat memunculkan kesadaran personal bahwa manusia adalah
mahkluk ekologis yang memandang semua kehidupan baik manusia, hewan maupun tumbuhan
merupakan mahkluk yang bernilai maka dari itu harus dirawat dan dijaga kelestariannya.
Melalui komunitas Duta Lingkungan maka peserta diajak untuk berpikir kritis tentang
kelestarian alam. Kegiatan observasi hutan bakau adalah salah satu contoh dimana siswa diajak
untuk mengkritisi ekosistem tanaman ini, manfaat bakau bagi masyarakat dan sebagainya.
Kegiatan lain adalah penelitian pencemaran pada air. Dengan kegiatan ini siswa akan
menemukan akibat ulah manusia yang tidak pernah memikirkan lingkungannya, bagaimana
melestarikan air yang setiap harinya digunakan untuk konsumsi manusia dan sebagainya. Contoh
yang lain adalah observasi hutan konservasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat
sekitarnya yang selama ini terancam oleh perilaku eksploratif manusia melalui illegal loging.
Kegiatan ke dalam dari komunitas ini antara lain pengolahan sampah menjadi kompos yang
tentunya memberikan nilai lebih dan pemilahan sampah.
Lain halnya dengan program pendidikan lingkungan yang diselenggarakan di Sekolah
Alam Bogor (SAB). Salah satu pogram yang dilakukan oleh SAB untuk memupuk kepedulian
anak terhadap lingkungan adalah dengan melakukan penanaman pohon dan sayuran yang
dilakukan secara berkelompok. Pohon ataupun sayuran yang ditanam pun bermacam-macam,
misalnya padi, terong, kangkung, dan bayam. Dalam penanaman ini pupuk yang digunakan
adalah pupuk kompos, pupuk kompos di sini adalah pupuk hasil olahan sampah organik buangan
SAB. Pohon tersebut dirawat dan dikelola agar dapat tumbuh dengan baik dan hasilnya dapat
dijual pada kegiatan ”business day” (seminggu sekali) atau ”market day” (setiap satu semester).
Diterbitkan di: Maret 01, 2011
Mohon Ringkasan ini dinilai :1       2      3     4   5
Nilai :     1 2 3 4 5


Lebih lanjut tentang: Implementasi Pendidikan Berwawasan Ekologi di Sekolah

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:3188
posted:6/28/2011
language:Indonesian
pages:28