Makalah HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL
Shared by: ivanfck
Tags
kata kunci, jika tidak, Kesehatan Ibu Dan Anak, Social Media, masa subur, lain yang, pdf search, Word Free, Hukum Lingkungan, Tarif Pajak, Pajak Penghasilan, bahasa inggris, PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, SPT Masa PPN, 21 Tahun, TAHUN 1984, Kabupaten Ngawi, famous lake, Pada tahun, makalah hukum, Jawa Timur, Kabupaten Magetan, Java Indonesia, Pengumuman CPNS, hubungan Internasional, Hukum Internasional, Hak Asasi Manusia, Free Ebooks, jurnal penelitian,
-
Stats
- views:
- 2346
- posted:
- 6/27/2011
- language:
- Indonesian
- pages:
- 17
Document Sample


I. Pendahuluan
Konvensi I Jenewatahun 1949 pasal 47 berbunyi sebagai berikut:
“ Pihak peserta berjanji untuk baik di pihak damai maupun di aktu perang,
menyebarkan teks konvensi ini seluas mungkin dalam Negara mereka masing-masing,
dan terutama untuk memasukkan pengajaran nya dalam program-program pendidikan
militer, dan jika mungkin dalam program pendidikan cipil sehingga asas-asas
konvensi ini dapat di kenal oleh seluruh penduduk, terutama oleh seluruh angkatan
perang oleh anggota dinas kesehatan dan pendeta.”
Pasal 47 ini berisi tentang kewajiban bagi Negara peserta agung untuk
menyebarluaskan isi Konvensi Jenewa 1949. Kepad siapa saja konvensi itu harus di
sampaikan ?. Dikatakan bahwa asas-asas konvensi ini harus di kenal oleh seluruh
penduduk, terutama anggota angkatan bersenjata. Juga di nyatakan bahwa asas-asas
konvensi ini harus di masukan selain dalam kurikulum pendidikan militer, juga dalam
program pendidikan sipil.
Mengingat bahwa dalam prinsipnya semua penduduk harus memahami isi
konvensi, memerhatikan pula luas dan kompleksnya isi konvensi itu di berikan
kepada semua penduduk.
II. Latar Belakang
Untuk memenuhi suatu tugas individu mata kuliah HUKUM DAN HAM yang
berkaitan dengan Hukum Humaniter Internasional yang telah di bahas dalam tugas
kelompok sebelumnya, yang hanya membahas secara general atau dengan kata lain
secara umum yaitu tentang apa itu Hukum Humaniter atau Hukum Perang, dasar
hokum apa yang di gunakan dan apa perbadaannya dengan hukum-hukum yang lain.
Maka di sini penulis mencoba mengeksplorasi lebih lanjut tentang Hukum
Humaniter Internasional dalam kaitan dengan system “Pelatihan Hukum Perang (
laws of training )”, yang pada hakekatnya memiliki tujuan dan fungsi yang sangat
penting dalam mengimplementasikan Hukum Humaniter itu sendiri.
Singkatnya dengan adanya suatu Pelatihan Hukum Perang ( laws of war
training ), Hukum Humaniter atau Hukum Perang dapat di laksanakan dengan baik
dalam kondisi peperangan tentunya.
II. Rumusan Masalahan
Di sini timbul suatu permaslahan dalam kaitan atau mengenai Prioritas, yaitu
sebagai berikut:
a. Siapa atau bagian mana dari penduduk yang harus di dahulukan ?
b. Bagian-bagian mana dari konvensi yang harus di berikan terlebih dahulu ?
Jadi, prioritas itu menyangkut, baik siapa yang harus di utamakan, maupun apa yang
harus di dahulukan.
III. Pembahasan
A. Pelajaran Hukum Perang
Pelajaran hukum perang yang di berikan kepada anggota angkatan bersenjata
biasanya di lakukan dalam suasana kurang menguntungkan, yang menghambat
atau mempersulit di terimanya pelajaran tersebut. Suasana yang dimaksudkan
adalah adanya sikap sisnis, yang sudah a priori atau tidak percaya akan kegunaan
hokum perang.
Dapat di katankan bahwa umumnya di kalangan anggota angkatan bersenjata
terdapat perasaan yang meremehkan hokum perang. Apa yang menjadi penyebab
perasaan seperti itu ? dalam hal ini kiranya dapat di kemukakan dua penyebab
utama, yaitu sebagai berikut :
1. Pada umumnya mereka beranggapan bahwa hokum perang itu mempersulit
mereka dalam melaksanakan tugas ( tempur ) mereka. Hukum perang kata
mereka di susun oleh para ahli hukum yang tidak dapat memahami suasana
pertempuran /atau peperangan.
2. Tidak ada gunannya menaati hulum perang karena lawan belum tentu
menaatinya. Selain itu, apa sanksinya jika mereka ( lawan )melanggar
ketentuan hokum perang ?
Suasana yang kurang menguntungkan ini harus di perbaiki dahulu supaya
pelajaran dapat di terima dengan baik. Kepada para pendengar harus di jelaskan
mengapa hukum itu harus di laksanakan dan harus di berikan alasan-alasan yang
dapat mereka terima mengapa hokum perang harus di taati. Mereka harus di
yakinkan dahulu akan penting dan manfaatnya pelaksanaan hokum perang.
Dalam hal ini si pengajar mempunyai peran yang sangat menentukan. Ia hanya
dapat mengubah suasana sinis ini apabila ia sendiri percaya akan mutlak
pentingnya hokum perang. Apabila pengajar sendiri tidak percaya pada hukum
perang, dapat di ramalkan bahwa hasil pengajaran akan nihil.
Jadi seorang pengjar sudah harus dapat menemukan jawaban atas pertanyaan
“ mengapa hokum perang itu perlu di pelajari dan harus di laksanakan ”.
Pada umumnya pelajaran hokum perang yang di berikan kepada anggota
angkatan bersenjata di laksakan dalam suatu ruangan dengan metode kuliah atau
ceramah. Seiring dengan kemajian teknologi, di pakailah alat instruksi baru,
misalnya penggunaan slide atau pemutaran film instruksi.
Salah satu kelemahan dari cara ini adalah bahwa mereka yang menerima
pelajaran secara maksimal hanya dapat memahami materi yang di ajarkan, tetapi
belum tentu mereka dapat memperaktikkannya padahal dalam hal ini belum cukup
apabila mereka hanya memahami saja. Mereka harus dapat memperaktikkannya.
Kita dapat mengetahui bahwa orang tidak dapat menembak atau mengendarai
mobil dengan hanya di beritahu bagaimana cara menembak dan mengendarai
mobil tanpa di beri kesempatan untuk memperaktikkannya.
Berdasarkan kenyataan tersebut akhir-akhir ini telah di kembangkan metode
baru, yang beryujuan agar anggota angkatan bersenjata tersebut dapat
melaksanakan meteri yang mereka sudah ketahui. Metode baru ini di sebut laws of
war training.
B. Latihan Hukum Perang ( Laws of War Training )
Seperti di uraikan di atas, belumlah cukup apabila si prajurit hanya
mengetahui hokum perang. Seorang prajurit dalam medan perang harus dapat
bertindak sesuai dengan ketentuan hokum perang.
Tindakan tersebut harus sudah merupakan suatu tindakan yang reflektif,
seperti kemahirannya untuk menghadapi keadaan yang ada hubungannya dengan
hukumperang misalnya ia menawan prajurit lawan harus sama dengan
kemahirannya mengggunakan senjatanya.
Hukum perang sekarang sudah amat luas dan sangat kompleks. Oleh karena
itu, si prajurit tidak mungkin mengetahuinya semua dan ini mungkin memeng
tidak perlu. Jadi yang harus di tentuakan terlebih dahulu adalah ketentuan yang
harus mereka ketahui. Jadi di sini harus di tentukan ketentuan yang mendapat
perioritas yang tertinggi.
Di samping masalah prioritas, timbul masalah lain yaitu bagaimanakah yang
harus di gunakan agar tujuan seperti di gambarkan di atas dapat tercapai. Dengan
perkataan lain, perlu di temukan metode ya ng paling efektif.
1. Prioritas
Apabila kita berbicara masalah prioritas, seperti telah di kemukakan di atas,
harus di bedakan antara:
a. Prioritas dalam hal subjektif, dan
b. Prioritas dalam hal objek, dalam arti siapa yang harus di dahulukan.
Pembahasan sekarang adalah mengenai siapa yang harus di beri prioritas
untuk mendapat latihan. Mengenai hal ini Konvensi Jenewa tidak banyak memberi
petunjuk. Hanya di dalam pasal-pasal yang mengatur penyebarluasan terdapat
beberapa ketentuan yang dapat di pakai sebagai pegangan. Perlu di perhatikan
bahwa perumusan keempat pasal mengenai penyebarluasan yang terdapat dalam
Konvensi I, II, III, dan IV, tidak persis sama.
Konvensi I – Pasal 47, antara lain berbunyi sebagai berikut.
…..sehingga asas-asas konvensi ini dapat di kenal oleh seluruh penduduk,
terutama angkatan perang, anggota dinas kesehatan dan pendeta.
Konvensi II – Pasal 48, berbunyi sama dengan pasal 47 tersebut di atas.
Konvensi III – Pasal 127, berbunyi sebagai berikut:
( Perumusan sama denagan pasal 47 di atas di tambah dengan:
…..tiap penguasa militer atau penguasa lainnya, yang bertanggung jawab atas
tawanan perang di waktu perang, harus memiliki teks Konvensi dan telah di
beri pelajaran khusus mengenai ketentuan-ketentuan yang terdapat di
dalamnya.
Konvensi IV – Pasal 44 berbunyi sama dengan pasal 127 Konvensi III.
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa yang harus di dahulukan adalah :
a. Angkatan perang
b. Dinas kesehatan dan pendeta
c. Penguasa militer yang bertanggung jawab atas tawanan perang.
Dari Konvensi Jenewa kita tidak mendapatkan pegangan golongan dari
angkatan perang, yaitu Tamtama, Bintara, atau Perwira, yang harus di beri
prioritas.
Tidak salahlah kirannya apabila di katakana bahwa hokum perang harus di
berikan untuk pertama kalinya pada waktu seorang warga negara mengikuti
pendidikan dasr ( basic training ) ketentaraan. Sudah barang tentu pelajaran
pertama ini belum mencukupi semua materi sehingga harus di ikuti dengan
pelajaran atau latihan lebih lanjut pada tahap pendidikan yang lebih tinggi.
Selain harus di tentukan prioritas golongan yang harus mendapat pelajaran,
juga harus di perhatikan prioritas materi yang harus di berikan. Dengan perkataan
lain, bagian mana dari konvensi yang harus di dahulukan ?. Hal ini tidak terlepas
dari persoalan siapa yang akan menerima pelajaran itu.
Apabila kita perhatikan isi ke-4 Konvensi Jenewa 1949, dapat di katakana
sebagai berikut.
a. Konvensi I dan II terutama di tujukan atau penting bagi medical personnel
yang berada di garis belakang.
b. Konvensi III terutama di ajukan kepada personal yang mendapat tugas
untuk mengurus Tawanan Perang.
c. Konvensi IV adalah khusus untuk para Perwira Teritorial.
Dengan demikian, dapat di ambil kesimpulan bahwa sebenarnya hanya sedikit
ketentuan yang harus di ketahui oleh semua anggota angkatan perang.
Dapat pula di kemukakan di sini semacam dalil bahwa semakin tinggi atau
tingkat kedudukan seseorang, semakin luas dan mendalam ( seharusnya )
pengetahuannya mengenai hukum perang.
Diatas telah di katakana bahwa anggota angkatan perang harus mendapat
prioritas pertama untuk mendapat pelajaran dan latihan hokum perang karena
apabila pecah suatu perang atau pertikaian bersenjata, para Tamtamalah yang
secara langsung harus dapat menerapkan beberapa ketentuan dari hokum tersebut.
Disamping itu, juga para Bintara yang memegeng komando, demikian pila para
perwira yang menjabat Dan Ton atau Dan Ki, perlu mendapat latihan hokum
perang.
Di dalam suatu pertempuran, merekalah yang kemungkinan di hadapkan pada
situasi yang memerlukan pengetahuan hukum perang dalam usaha
menghadapinnya.
2. Metode
Seperti telah di uraikan di atas, salah satu hal yang kurang membantu
berhasilnya pelajaran atau latihan hukum perang adalah adanya suasana yang
seolah-olah a priori menentang pelajaran itu. Mengingat adanya suasana semacam
itu, kewajiban pertama dari seorang instruktur adalah menimbukan suasana yang
dapat membantu suksesnya pelajaran atau latihan.
Jadi dalam hal ini peran instruktur merupakan factor penentu. Pelajaran dan
latihan hannya akan berhasil apabila instruktur sendiri percaya akan menfaat
hokum perang.
Perlu selalu di ingat bahwa pelajaran dan latihan hokum perang harus selalu di
landasi prinsip-prinsip moral yang telah di miliki bangsa tersebut. Ini berarti
bahwa bagi bangsa Indonesia, pelajaran dan pelatihan hokum perang harus di
landasi Falsafah bangsa Indonesia yaitu pancasila terutama sila ke dua. Selain itu
juga ada Sapta Marga.
Saat di kenal dua tipe mengajar Hukum Perang, yaitu sebagai berikut :
1. Teaching to Convince
Cara ini di pakai untuk mengajara orang-orang, yang karena kedudukannya
atau kecakapannya, mampu untuk mengajar hukum perang dengan cara yang
efektif dan dapat di pertanggungjawabkan. Cara ini bertujuan untuk:
a. Menunjukan persoalan-persoalan yang timbul dalam hokum perang
b. Menunjukan hal-hal yang menarik perhatian umum
c. Menunjukan hal-hal yang berhubungan dengan kesenjataan atau dinas
tertentu.
Harus selalu di ingat bahwa ketentuan-ketentaun hokum perang harus selalu di
pelajari dengan memperhatiakan aspek-aspek khusus angkatan perang dan Negara
yang bersangkutan.
Contoh metode mengajar terdapat dalam kursus yang di selenggarakan oleh
international Intitut of Humanitarian Law di San Remo ( Italia ).Peserta kursus ini
adalah perwira senior yang mempunyai tanggungjawab penuh terhadap
penyebarluasan hokum perang.
Dalam kursus ini tidak di berikan pelajaran mengenai konvensi-konvensi
secara sistematik tetepai secara subjektif. Dengan begitu persoalan yang ada
dalam konvensi-konvensi yang berbeda-beda dapat di bahas bersama.
Titik berat dalam kursus tersebut adalah adanya diskusi-diskusi dalam
kelompok-kelompok kecil. Kelompok ini di pimpin oleh seorang class leader,
yaitu seorang perwira yang telah mendalami hokum perang.
Salah satu latihan yang menarik dan bermanfaat adalah dual action Exercise
latihan ini merupakan simulasi dengan menggunakan sekenario yang sederhana.
Dua Negara diandaikan sedang berperang dan ada Negara ketiga yang bersikap
netral.
Para peserta melakukan peran yang berbeda-beda mulai dari yang terandah
sampai pada ya g tertinggi, course director membca kejadian tertentu yang harus
di jawab atau di tanggapi oleh peserta yang bersangkutan secara cepat. Course
leader hanya memberi koreksi apabila jawaban peserta terlalu menyimpang.
Pelajaran yang alinnya seperti exercise sesuai dengan keadaan taktis yang
sebenarnya. Di sini dapat di ajukan tugas komandan pada tingkat yang berbeda-
beda.
2. Teaching Properly so Called
Pelajaran atau latihan ini diberikan kepada semua tingkat dan keahlian. Di sini
harus dihilangkan kesan pelajaran atau latihan hokum perang itu seolah-olah
embel-embel atau hannya tambahan dari pelajaran lain; dengan perkataan lain
harus di hilangkan kesan bahwa pelajaran hukum perang itu merupakan pelajaran
yang tidak penting. Di dalam bukunya: Law of War and Armed Forces,ltk.
The teaching of the war must cease to be marginal, as it all too
frequently is, and must become integral part of the day-to day work
and life of the soldier.
Ada suatu asumsi bahwa yang harus di prioritas kan dalam perang adalah para
tamtama yang harus di berikan catatan tentang perang. Perlu di ingat bahwa
seorang Tamtama sering dengan tiba-tiba menghadapi situasi dimana ia harus
menghadapi suatu tindakan yang sesuai dengan hokum perang.
Biasanya tindakan itu harus diambil dengan waktu yang singkat. Dan tidak ada
seorangpun yang dapat di ajak berbicara mengenai situasi itu. Jadi dalam situasi
demikian keputusan mengenai tindakan apa yang harus ia lakukan, benar-benar
harus dia ambil sendiri.
Untuk menghadapi peristiwa seperti itulah seorang tamtama harus di bekali
pengetahuan dan keterampilan secukupnya. Sebagai contoh dari situasi semacam
itu dapat di kemukakan disisni seperti:
a. Menghadapai musuh yang menyerah dengan mengangkat tangannya;
b. Bertemu dengan musuh yang luka-luka berat;
c. Dalam suatu serangan melihat penduduk berlari-lari mendekati.
Dalam hal ini seorang prajurit harus dapat merespon dengan tepat dan cepat,
artinya tindakan harus sesuai dengan hokum perang. Respon semacam ini harus
dapat di berikan secara otomatis dalam segala keadaan.
Agar prajurit mampu melakukan hal demikian, ia harus di latih. Respon yang
otomatis itu hany dapat di capai dengan latihan yang intensif dan berulangkali.
Untuk dapat mencapai tingkat yang demikian, harus di adakan latihan yang
terus menerus. Latihan hokum perang itu tidak perlu di lakukan sendiri, bahkan
seharusnya di masukkan dalam atihan-latihan kecil sehari-hari di lakukan oleh
kesatuan itu.
Misalnya di dalam latihan regu atau pleton dalam serangan, atau dalam patroli
pengintai, dapat di selipkan adegan-adegan yang mengharuskan seorang prajurit
memangmbil tindakan sesuai dengan Hukum Perang. Maka, itulah sebabnya
mengapa di setiap latihan di selipkan aturan hokum perang, agar dapat mencapai
dua keuntungan, yaitu:
a. Karena terus-menerus di latih, dapat di capai respons yang otomatis;
b. Para prajurit akan memperoleh kesadaran bahwa pelajaran latihan hokum
perang itu memeng mereka butuhkan.
Di samping para prajurit, para Bintara yang biasanya bertindak sebagai
komando regu juga perlu mendapat latihan serupa. Pada umumnya, sebagai
komandan regu mereka harus mengambil keputusan sendirisering karena mereka
beroperasi jauh dari induk pasukannya. Mereka harus di berikan sesuai dengan
fungsi mereka.
Demikian pula para Komandan Peleton dan Komandan Kompi harus di beri
latihan semacam itu. Tingkat letihan pun menyesuaikan pangkat atau kedudukan
mereka yaitu seakin tinggi pangkat atau kedudukan perwira tersebut semakin berat
pula pelatihannya.
Latihan Hukum Perang untuk para prajurit, sebaiknya oleh pimpinan di
terbitkan oide memoire seperti yang di sebutkan Ltk de Milenen. Aide memoire
suatu petunjuk untuk bertindak tentang tindakan yang harus di lakukan apabila ia
menangkap atau menawan musush dan peristiwa yang mungkin terjadi lainnya.
Serta ada baiknya puala kalau pimpinan memberikan suatu petunjuk hal-hal yang
di larang di lakukan di dalam medan perang atau sering di sebut dengan ( soldier’s
rules ).
IV. Kesimpulan
Bahwa untuk meyakinkan dan memberi pengertian tentang pentingnya hukum
perang yang sering di artikan a priori oleh para prajurit perang, perlu danya
pembelajaran dan pelatiahan yang tidak hanya menekankan pada teori tentang
hokum perang tetapi juga langsung pada praktek atau tindakan yang di sesaikan
dengan kurikulum pelajaran para prajrit baik dalam ruangan atau di luar ruangan
atau sering di sebut lapangan.
Mengenai hal apa saja yang harus di berikan tentang pengetahuan tentang
hukum perang di sesuaikan dengan tingkat pangkat atau kedudukan masing-
masing prajurit, jadi semakin tinggi pangkat prajurit maka semakin tinggi tingkat
kesulitan yang di dapat dalam pelatihan atau pelajaran hokum perang.
Sebagai penutup dikutip ucapan Ltk. de Miliner yang sangat cocok untuk para
instruktur, yaitu sebagai berikut.
Only men convinced of the need and credibility of the law of war will wish to
do and know how to do what is required to ensure its respect.
V. Daftar Pustaka
Haryomataram S.H, KGPH, Pengantar Hukum Humaniter
Sejarah diplomasi republik Indonesia dari masa ke masa Buku II, Periode 1950-1960.
Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. 1996
Kusumaatmadja, Prof Mochtar, Konfensi Palang Merah.1949-1979
Oppenheim, International Law Vol II. 1951
Schindler-Taman, The Laws of Armed Conflicts.1981
PELATIHAN HUKUM PERANG
(LAWS OF WAR TRAINING)
“HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL”
Di susun oleh:
Nama : WIDA VIANASARI
Kelas : A
NIM : 2005061040
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMDIYAH YOGYAKARTA
2007
Related docs
Other docs by ivanfck
ANALISIS SIKAP KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN SEPEDA MOTOR MEREK SANEX DAN KANZEN DI KOTA MALANG
Views: 1177 | Downloads: 33
Get documents about "