; I B - Kelompok 1 - Kebutuhan _ Peran Gizi Pada Bayi _ Balita
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

I B - Kelompok 1 - Kebutuhan _ Peran Gizi Pada Bayi _ Balita

VIEWS: 1,920 PAGES: 20

  • pg 1
									              MAKALAH

                  ILMU GIZI

KEBUTUHAN DAN PERAN GIZI PADA BAYI DAN BALITA




                  DISUSUN OLEH:

                  -KELOMPOK 1-

                ADE YUDA WINATA

              DEVI FITRIA RAHMAWATI

                   EKA SAFITRI

                FAJRIATIN BUDIANTI

                     HALIA

                  KHAIRUN NISA

               LINDA RACHMAWATI

                  RISKA ANANDA

                  SITI ARBAINAH

                SRI WAHYUNINGSIH

               WILLIAM HADIWIJAYA



                   TINGKAT I B
                                      KATA PENGANTAR



         Puji syukur Kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat
dan hidayat-Nya sehingga Kami bisa menyelesaikan makalah ILMU GIZI tentang
“KEBUTUHAN & PERAN GIZI PADA BAYI DAN BALITA” tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sebagai tugas kelompok dari mata kuliah Ilmu Gizi.
          Tidak lupa pula Kami mengggucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut
membantu menyelesaikan makalah ini dan dukungan dari dosen pembimbing & dosen mata
kuliah Kami. Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
pembaca.
          Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Hal ini disebabkan oleh terbatasnya wawasan yang Kami miliki. Dengan demikian saran dan
kritik yang membangun sangat Kami harapkan. Atas perhatiannya Kami ucapkan terima
kasih.




                                                        Samarinda, 17 Oktober 2010




                                                                   Penyusun




               Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                    1
                                                            DAFTAR ISI



Haman Judul ....................................................................................................................... 0
Kata Pengantar .................................................................................................................... 1
Daftar Isi ............................................................................................................................. 2
Bab I Pendahuluan .............................................................................................................. 3
a. Latar Belakang .............................................................................................................. 3
b. Ruang Lingkup ............................................................................................................... 3
c. Tujuan ............................................................................................................................ 3
Bab II Pembahasan ............................................................................................................. 4
a. Kebutuhan dan Peran Gizi Pada Bayi dan Balita ........................................................... 4
b. Gizi Bayi Sapihan .......................................................................................................... 10
c. Masalah Gizi Anak ......................................................................................................... 13
d. Penilaian Status Gizi ...................................................................................................... 15
Bab III Penutup ................................................................................................................... 18
a. Kesimpulan .................................................................................................................... 18
b. Saran .............................................................................................................................. 18
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 19




                   Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                                                                   2
                                             BAB I

                                      PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
       Dalam hal pemenuhan gizi pada bayi dan balita amatlah penting, oleh karena itu pada
asuhan gizi bayi dan balita harus sesuai dengan standar gizi yang diperlukan, agar tidak
terjadi kesalahan yang berakibat fatal pada bayi dan balita tersebut.
       Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, kebutuhan dan peran gizi sangat di
butuhkan kerena dapat mempengaruhi tumbuh kembang bayi dan balita itu tersebut. Tapi
kenyataannya sekarang banyak orang tua yang memberi bayi dan balita mereka susu formula,
kerana mereka anggap itu praktis, padahal susu formula itu tidak bisa mengganti asupan gizi
yang didapat pada ASI ibu.
       Fenomena tentang peran dan kebutuhan bayi dan balita ini masih banyak kita jumpai,
yang belum memenuhi standar kebutuhan gizi, dari itulah muncul pertayaan apakah
kebutuhan dan peran gizi untuk bayi dan balita itu ? Hal ini sangat wajar mengigat banyaknya
masalah yang timbul dari persoalan ini.
       Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang kebutuhan dan
peran gizi pada bayi dan balita, sehingga diharapkan setiap orang tua maupun perawat lebih
mengetahui apa yang harus diberikan kepada bayi dan belita sesuai kebutuhan gizinya.


B. Ruang Lingkup
      Adapun ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini adalah tentang kebutuhan gizi
pada bayi dan balita, gizi bayi sapihan, masalah gizi anak dan penilaian status gizi.


C. Tujuan
   1. Menjelaskan kebutuhan gizi pada bayi dan balita.
   2. Dapat memahami, mengerti dan menjelaskan pemeriksaan status gizi bayi dan balita.
   3. Menjelaskan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keadaan gizi anak balita.
   4. Memahami, mengerti dan menyebutkan masalah perkembangan anak balita.




             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      3
                                             BAB II

                                       PEMBAHASAN



a. Kebutuhan Gizi Pada Bayi dan Balita
     Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan
kesejahteraan manusia. Bayi, remaja, ibu hamil dan orang dewasa memiliki kebutuhan gizi
yang berbeda beda. Pada bayi khususnya, mereka tidak dapat mencerna makanan yang berat,
lambung dan usus bayi belum begitu matang. Bayi dapat mencerna susu (laktosa), tetapi
belum mampu menghasilkan amilase dalam jumlah cukup. Ini berarti, bahwa bayi tidak
mencerna tepung sampai paling tidak usia 3 tahun.
     Makanan pertama dan utama pada bayi yaitu air susu ibu. Air susu ibu sangat cocok
untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam segala hal: karboohidrat dalam ASI berupa laktosa;
lemaknya banyak mengandung polyunsaturated fatty acid (asam lemak tak jenuh ganda);
protein utamanya lactalbumin yang mudah dicerna ; kandungan vitamin dan mineral banyak;
rasio kalsium-fosfat sebesar 2:1 yang merupakan kondisi yang ideal bagi penyerapan
kalsium. Selain itu, ASI juga mengandung zat anti infeksi.
     Informasi yang tepat mengenai zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi hanya mengenai
beberapa macam zat gizi, tetapi jumlah yang direkomendasikan untuk dikonsumsi, yang
dapat mendukung pertumbuhan seorang bayi yang sehat, dapat dilihat pada tabel berikut:
     Zat-zat Gizi                                   Umur (bulan)
                              0-3 bulan               3-6 bulan        6-12 bulan
Energi (Kkal)                BB (kg) x 115          BB (kg) x 105         1300
Protein (gr)                       10                     15                19
Kalsium (mg)                      225                    440               600
Magnesium (mg)                     30                     40                50
Zat Besi (mg)                       -                      7                 9
Iod (ug)                           30                     40                50
Seng (mg)                           -                      3                 5
Selenium (ug)                      13                     13                13
Vitamin A (ug RE)              375-420                375-420           375-420
Vitamin D (ug)                    7, 5                    10                10
Vitamin E (mg a-TE)                 2                      3                 4
Vitamin C (mg)                  25-35                   25-35            25-35
Folasin (ug)                       16                     24                32
Niasin (mg NE)                      4                      5                 6
Riboflavin (mg)                  0, 25                   0, 4              0, 6
Tiamin (mg)                       0, 2                   0, 4              0, 5
Piridoksin (mg)                  0, 15                   0, 3              0, 4   Sumber: Guthrie (1986)
Vitamin B12 (ug)                  0, 3                   0, 4              0, 5
             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      4
 Energi
     Kebutuhan energi bayi yang cukup selama tahun pertama kehidupan sangat bervariasi
menurut usia dan berat badan. Taksiran kebutuhan energi selama 2 bulan pertama, yaitu pada
masa pertumbuhan cepat, adalah 120kkal/kg BB/hari. Secara umur selama 6 bulan pertam
kehidupan, bayi memerlukan


  Cara sederhana menghitung keluaran energi bayi
Berat        Jumlah Energi
0-10         100 kkal/kg BB
11-12         1000 kkal +(50 kkal/kg BB di atas 10
>20 kg       kg)
             1500 kkal + (20 kkal/kg BB di atas 20
             kg)

Perkiraan energi bayi sampai usia 6 bulan
Komponen keluaran energi                Kkal/kg BB
Keluaran energi saat istirahat          50-50
Energi kegiatan fisik                   10-25
Energi pertumbuhan                      20-25
Lain-lain (SDA)                         20-20
jumlah                                  100-120

     Energi sebesar kira-kira 115-120 kkal/kg/hari, yang kemudian berkurang sampai sekitar
105-110 kkal/ka/hari pada 6 bulan sesudahnya.
     Energi dipasok terutama oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga dapat
digunakansebagai sumber energi, terutama jika sumber lain sangat terbatas. Kebutuhan energi
dapat ditaksir dengan cara mengukur luas permukaan tubuh, atau menghitung secara
langsung konsumsi energi itu: yang hilang dan terpakai. Namun cara yang terbaik adalah
denga mengamati pola pertumbuhan yang meliputi berat dan tinggi badan, lingkar kepala,
kepuasan dan kesehatan bayi.


 Protein
     Besaran pasokan protein dihitung berdasarkan kebutuhan untuk bertumbuh kembang
dan jumlah nitrogen yang hilang lewat air seni, tinja dan kulit. Mutu protein bergantung pada
kemudahannya untuk dicerna dan diserap (digestibility and absorpability) serta komposisi
asam amino didalamnya. Jika asupan asam amino kurang, pertumbuhan jaringan dan organ,
berat dan tinggi badan, serta lingkar kepala akan terpengaruh.

             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                       5
      Asupan protein yang berlebihan, terutama pada bayi yang kecil, akan menyebabkan
kelebihan asam amino yang harus dimetabolisasi dan dieleminasi sehingga menimbulkan
stress berat pada hati dan ginjal tempat deaminasi berlangsung.
      Dalam menghitung kebutuhan protein berdasarkan air susu ibu, perlu dipikirkan faktor
lain disamping “kemudahcernaanya”. Didalam ASI yang mengandung nitrogen, banyak
komponen yang berisi faktor yang berperan sebagai sesuatu yang tidak berkaitan dengan
fungsi protein itu sendiri. Laktoferin misalnya, berfungsi sebagai antibakteri. Sistem
kekebalan didalam ASI ini akan menghalangi munculnya reaksi akibat keterpanjangan
antigen pada ibu bayi. Jika terpacu, limfoblas atau limfosit akan berpindah kedalam sirkulai
atau kelenjar susu untuk masuk kedalam air susu dan saluran cerna bayi. Immunoglobulin
yang terbanyak didalam ASI (yaitu SIgaA) menjamin keamanan terhadap lapisan lender.
Limfosit, netrofil, makrofag, dan lisozim dalam ASI akan menjaga bayi dari infeksi, termasuk
pengamanan terhadap payudara ibu. Makrofag, agaknya, menyintesis laktoferin komponen
kopmplemen protein lain dan prostaglandin E2. Faktor bifidus ASI menekan multifikasi
E.coli.


      Tabel Perbandingan unsur protein dalam ASI dan susu sapi.
      Dikutip dari manual on feeding infantas and young children” oleh Margaret Cameron
dan yngve hofvander, oxford medical publication, 1993.
              Unsur                            ASI                     Susu sapi (g/dl)

   Casein                                       0, 2                         2, 7
   Whey                                         0, 7                         0, 6
   Lactalbumin                                 0, 26                        0, 11
   Lactoferrin                                 0, 17                       Sedikit
   Lactalbumin                                   0                          0, 36
   Lysozyme                                    0, 05                       Sedikit
   Albumin                                     0, 05                        0, 04
   IgA                                         0, 10                        0, 03
   Peroxidase                                 Sedikit                         -
   Bifidus factor                             Sedikit                         -
   Nonprotein nitrogen                         0, 20                        0, 03


 Cairan
      Kebutuhan bayi akan cairan berkaitan dengan asupan kalori, suhu lingkungan, kegiatan
fisik, kecepatan pertumbuhan dan berat jenis air seni. Air menyusun kira-kira 70% berat
badan pada saat lahir yang kemudian menurun sampai 60% menjelang bayi berusia 12 bulan.

             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      6
Jumlah air yang dibutuhkan oleh bayi (dan anak) lebih besar 50% dibanding kebutuhan orang
dewasa. Rasio cairan: kalori adalah 1, 5 cc/1 kkal (rasio orang dewasa =1cc/kkal).
     Bayi yang sehat akan merasa kenyang dengan pasokan ASI sebanyak 150- 200 cc/kg
BB (setara dengan 100-130 kkal/kg/hari) selama 6 bulan kehidupan. Jika bayi mampu secara
teratur meminum ASI sejumlah seperti yang ditulis di atas. Ia tidak membutuhkan tambahan
air dari sejak lahir hingga akhir tahun pertama, kecuali jika diberi tambahan makanan padat.
               Rata-rata kebutuhan cairan
               Usia            Berat          Cairan (cc/kg)
               3 hari          3, 0 kg        80-100
               10 hari         3, 2 kg        125-145
               3 bulan         5, 4 kg        140-160
               6 bulan         7, 3 kg        130-155
               9 bulan         8, 6 kg        125-150
               12 bulan        9, 5 kg        120-135
               24 bulan                       155-155


 Lemak
     Air susu ibu memasok sekitar 40-50% energy selama lemak (3-4 g/100cc). Lemak
minimal harus menyediakan 30% energy, yang dinbutuhkan bukan saja untuk mencukupi
kebutuhan energy, tetapi juga untuk memudahkan penyerapan asam lemak esensial, vitamin
yang terlarut dalam lemak, kalsium serta mineral lain, dan juga untuk menyeimbangan diet
agar zat gizi lain tidak terpakai sebagai sumber energy. Setidaknya 10% asam lemak
sebaiknya dalam bentuk tak jemu ganda, yang biasanya dalam bentuk asam linoleat. Asam
linoleat juga merupakan asam lemak esensial. Asam ini terkandung dalam sebagian minyak
tetumbuhan. Sayang sekali jumlah kebutuhan yang tepat belum diketahui dengan pasti. Dari
air susu ibu, bayi menyerap sekitar 85-90% lemak. Enzim lipase di dalam mulut (lingual
lipase) mencerna zat lemak sebesar 50-70%.


 Karbohidrat

     Kebutuhan akan karbohidrat tergantung pada besarnya kebutuhan akan kalori. Belum
ada anjuran berapa jumlah karbohidrat yang harus dikonsumsi dalam satu hari. Namun
sebaiknya 60-70% energy dipasok oleh karbohidrat. Jenis karbohidrat yang sebaiknya
diberikan adalah laktosa, bukan sukrosa. Karena laktosa bermanfaat untuk saluran
pencernaan bayi. Manfaat ini berupa pembentukan flora yang bersifat asam dalam usus besar
sehingga penyerapan kalsium meningkat dan penyerapan fenol dapat dikurangi. Pada ASI

             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                           7
dan sebagian besar pada susu formula, laktosa memang menjadi sumber karbohidrat utama.
Sumber kalori pasokan karbohidrat diperkirakan sebesar 40-50% yang sebagian besar dalam
bentuk laktosa.



 Vitamin dan Mineral
 Kalsium
     Susu sapi mengandung hampir 4 kali lipat kalsium daripada ASI per unit volume. Bayi
yang mendapat ASI menerima sekitar 60 mg kalsium per kg berat badan setiap hari dan yang
menerima susu bayi formula, menerima sekitar 170 mg kalsium per berat badan. Presentase
kalsium yang terdapat pada ASI lebih rendah daripada susu sapi sehingga jumlah total retensi
kalsium susu formula masih lebih tinggi. RDA (USA) menyarankan konsumsi kalsium bagi
bagi 0-6 bulan sebanyak 360 mg dan 6-12 bulan 540 mg. FAO/WHO menyarankan 500-600
mg per hari bagi semua bayi sampai usia 12 bulan.


 Seng
     Seng adalah mineral yang sangat dibutuhkan manusia. Ratusan enzim-enzim yang
berperan dalam metabolisme, bahkan dalam sintessa DNA mengandung Zn. Dalam tubuh
manusia Zn terdapat pada prostat, semen, otak, mata, jantung, kelenjar adrenal dan kulit. Zn
yang diabsorpsi sebesar 20-40% tergantung dari kebutuhan tubuh dan keasaman lambung.
Kadar seng yang tinggi salah satunya terdapat dalam kolostrum (4 mg per liter yang menurun
jumlahnya menjadi 2 mg per liter pada air susu putih setelah enam bulan, dan menjadi 0, 5
mg per liter setelah satu tahun) hal ini dapat mengkompensasi kebutuhann bayi yang diberi
ASI akan seng tersebut.


 Besi
     Sebagian klinis menganjurkan agar bayi baru lahir diberi 7 mg Fe sulfat (keterserapan
10%). Sebagian lagi tidak setuju, kecuali jika bayi telah berusia 4-6 bulan, karena tambahan
ini akan menjenuhkan protein bakteriostatik dalam ASI, yaitu laktoferin, yang pada
gilirannya dapat menurunkan keefektifan laktoferin. Gejala yang tidak nginkan akibat Fe
ialah sembelit, muntah, diare, pewarnaan gigi, serta defisiensi Zn (karena penyerapannya
diganggu oleh Fe).




             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      8
 Yodium
     Bayi yang mendapat air susu ibu dengan gizi yang baik biaanya menerima yodium
dalam jumlah yang cukup. Bila sehari bayi mengkonsumsi 580 ml ASI, ia akan dapat
menerima 60-120 mg yodium. RDA (USA) menganjurkan 45 mg untuk bayi berumur 6 bulan
sampai 12 bulan.


 Natrium
     Kebutuhan akan natrium bagi bayi usia satu tahun pertama adalah 4-8 mg per hari
(Forman, 1967). Bayi yang mendapat air susu ibu sebanyak 150-200 ml per kg berat badan
per hari akan mengkonsumsi 1,0 – 1,4 per mEq per kg berat badan. Bagi bayi usia 3 bulan hal
itu berarti mengkonsumsi sekitar 5,5 – 7,5 mEq per hari. Bayi yang mengkonsumsi susu sapi
yang tidak diencerkan akan menerima natrium kira-kira 3-4 kali lebih banyak.
     Kadar natrium yang dikonsumsi bayi menurun secara drastis. National research council
Amerika Serikat telah menetapkan batas aman tetapi cukup bila mengkonsumsi sebanyak
150-350 mg untuk bayi berumur 6-12 bulan. Batas aman tetapi cukup bila mengkonsumsi
sebanyak 115-350 mg per hari untuk bayi sampai umur 6 bulan, dan 250-750 mg untuk bayi
berumur 6-12 bulan.


 Vitamin A
     Bayi yang baru dilahirkan mempunyai cadangan vitamin A dalam hatinya, yang
banyaknya tergantung dari jumlah yang dikonsumsi ibunya. Jumlah yang direkomendasikan
untuk dikonsumsi oleh bayi adalah sebanyak 375 ug RE (Retinol Equivalent) per hari, lebih
rendah dari jumlah yang terdapat dalam 750 ml ASI. Keracunan vitaminA akan terjadi bila
bayi mengkonsumsi 25.000-50.000 RE per hari selama 30 hari, yang akan menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan dalam tempurung kepala dan mengandung banyak air
(hydrocephalus).


 Vitamin D
     Kebutuhan akan vitamin D pada bayi akan meningkat pada waktu terjadinya klasifikasi
tulang dan gigi yang cepat. Meskipun konsumsi vitamin D sebanyak 100 IU Per hari dpat
mencegah timbulnya penyakit polio (rickets) dan 300 IU /hari dapat mengobati penyakit
tersebut, konsumsi sebanyak 400 IU/hari (10 mg khole-kalsiferol per hari) dapat
meningkatkan penyerapan kalsium dan pembentukan tulang rangka. Konsumsi yang lebih


            Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      9
besar dari jumlah ini tidak menguntungkan, pada tingkat lebih besar dari 18.000 IU, akan
terjadi penurunan penggunaan kalsium.
      Bayi yang diberi konsumsi vitamin D secara terus menerus sebanyak 1.000 sampai
3.000 IU per hari akan mengalami “hiperkalsemia” (terdapatnya kalsium secara berlebihan
dalam semua jaringan), menurunnya nafsu makan dan pertumbuhannya terhambat. Meskipun
kandungan vitamin D dalam ASI adalah sebesar 22 IU per liter, disarankan dilakukannya
pemberian suplemen pada minggu pertama kehidupan bayi. Bayi yang memperoleh susu
formula hanya memerlukan suplemen bila susu tidak difortifikasi.


 Vitamin E
      Karena hanya sedikit vitamin E yang dapat menembus plasenta, bayi dilahirkan dengan
kandungan vitamin E yang rendah dalam jaringan tubuhnya. Disarankan untuk memberi
vitamin E sebanyak 2-4 mg TE (Tochoperol Equivalent) per hari selama tahun pertama
kehidupan bayi. Bila lemak susu dalam susu formula digantikan dengan lemak nabati, maka
kebutuhan bayi (yang diberi susu formula) akan vitamin E meningkat.
      Bayi yang dilahirkan prematur selain mengandung kadar vitamin E yang rendah
didalam tubuhnya, juga mengalami kesulitan untuk menyerap vitamin ini, sehingga bayi
tersebut akan mengalami anemia karena membran sel-sel darah merahnya dapat mengalami
kerusakan akibat tidak adanya vitamin E Yang bertindak sebagai anti oksidan. Konsumsi
makanan yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh jamak (PUFA, polyunsaturated
fatty acids), dapat memperburuk keadaan.


 Vitamin K
      Untuk mencegah pendarahan dianjurkan pemberian vitamin K secara parental. Sebab
produksi vitamin K oleh mukosa usus belum berlangsung karena selama beberapa hari
sesudah lahir, saluran usus bayi masih steril.


b. Gizi Bayi Sapihan
      Menyapih, secara harfiah berarti membiasakan. Maksudnya, bayi secara berangsur-
angsur dibiasakan menyantap makanan orang dewasa. Selama masa penyapihan, makanan
bayi berubah dari ASI saja kemakanan yang lazim dihidangkan oleh keluarga, sementara air
susu diberikan hanya sebagai makanan tambahan.



             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                  10
     Permulaan masa menyapih merupakan awal dari suatu perubahan besar baik bagi bayi
maupun ibunya. Keakraban yang telah terjalin lama, sejak bayi didalam kandungan, perlahan-
lahan mulai dilonggarkan. Proses ini harus diupayakan agar tidak terjadi secara mendadak.


 Usia Pertama Menyapih
     Memasuki usia 4-6 bulan, bayi telah siap menerima makanan bukan cair, karena gigi
telah tumbuh dan lidah tidak lagi menolak makanan setengah padat. Di samping itu, lambung
juga telah lebih baik mencerna zat tepung. Menjelang usia 9 bulan bayi telah pandai
menggunakan tangan untuk memasukkan benda kedalam mulut. Jelaslah, bahwa pada saat
tersebut bayi siap mengonsumsi makanan (setenga) padat.
     Jika kemudian bayi disapih pada usia 4 atau 6 bulan, tidak berarti karena bayi telah siap
menerima makanan selain ASI, tetapi juga karena kebutuhan gizi bayi tidak lagi cukup
dipasok oleh hanya ASI. Memang, ada sebagian bayi yang terus tumbuh dengan memuaskan
meskipun tidak diberi makanan tambahan. Namun di lain pihak, banyak sekali bayi yang
membutuhkan zat gizi dan energi lebih dari sekedar yang tersedia di dalam ASI.
     Yang harus selalu diingat adalah, bahwa bayi merupakan bagian dari keluarga. Karena
itu, sepanjang proses penyapihan, kepada mereka sebaiknya diberikan makanan yang lazim
disantap oleh anak yang lebih besar dan orang dewasa dalam keluarga itu. Juga selalu diingat,
bahwa makanan yang diberikan bukan untuk menggantikan, melainkan mendampingi ASI.
     Disamping itu tujuan fisik (guna mencukupi kebutuhan zat gizi dan energi), menyusui
dapat sekaligus mengakrabkan hubungan ibu dan bayi, hal yang sangat bermanfaat bagi
perkembangan jiwa bayi. Semakin akrab mereka berdua (ibu dan bayi), semakin mudah ibu
mengenali kebutuhan bayinya. Oleh karena itu, penyapihan yang mendadak sebaiknya
dihindari, termasuk (dalam hal ini) meninggalkan atau menitipkan bayi pada orang lain dalam
waktu lama. Jika seandainya ibu terpaksa (tidak dapat tidak) mengalihkan tanggung jawabnya
ke orang lain, hal ini selayaknya tuntas pada usia 12 bulan. Sejak saat itu bayi sudah harus
terbiasa, dan secara teratur, mengonsumsi makanan orang dewasa.


 Pedoman pemberian makanan sapihan
  Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan makanan sapihan.
1. Makanan padat pertama harus bertekstur sangat halus dan licin. Bayi perlahan-lahan akan
  siap menerima tekstur yang lebih kasar.



             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                        11
2. Bubur saring baru boleh diberikan jika bayi telah tumbuh gigi, dan makanan cincang
      setelah bayi pandai mengunyah.
3. Pada satu waktu makan, cukup diperkenalkan satu jenis makanan saja, dalam jumlah kecil.
      Jika seandainya bayi tidak dapat menoleransi makanan ini, atau bahkan menimbulkan
      reaksi alergi, gejala yang timbul mudah dikenali, makanan itu tidak diberikan lagi.
4. Bayi harus diajari cara memegang makanan. Seiring pertambahan usia, bayi diajari pula
      cara mengambil makanan padat dari sendok makan.
5. Makanan sebaiknya tidak dicampur, Karena bayi harus mempelajari tekstur dan rasa
      makanan.
6. Makanan padat jangan dimasukkan kedalam botol susu, atau membuat lubang dot lebih
      besar yang mengesankan seolah bayi “meminum” makanan padat
7. Volume pemberian susu jangan segera dikurangi sebelum bayi mampu bersantap dengan
      sendok.
8. Makanan padat sebaiknya disuapkan sebelum susu diberikan.
9. Selama menyuapi bayi, tersenyum dan berbicaralah padanya.


                                          Makanan Bayi Usia 0-12 bulan
(dikutip dari “Application of Clinical Nutrition” oleh FJ Zeman dan Denise MN, Prentice Hall 1988)
        Usiaa             0         1      2     3     4     5    6      7     8     9    10    11 12
         BBb             3,3       4,1    5,0 5,7 6,4 7,0 7,5 8,0 8,5 8,9 9,2 9,6 9,9
        kkalc                    115 kkal/kg (95-145 kkal/kg)               105 kkal (80-135 kkal/kg)
      Cairand                                             125-145 ml/kg
        Susue            8/>       7/8    6/7      4 atau 5                 3 atau 4                3
      Formula           2,5-4     3,5-5 4-6 5-7                         6-8                        6-7
       (30 cc)
       Padatf                                                                   Bubur Saring
                                                                             Makanan lembek (bubur biasa)
                                                                                          Makanan dewasa
     Roti dan                                             Beras, sereal      Biskuit       Sereralia campur
      Serealia                                            difortifikasi      kunyah          difortifikasi
     Sayuran                                                                Wortel, kacang polong
       Buah                                                                  Buah pear, pisang, peach
    Daging/ganti                                                               Daging giling, keju, yogurt,
        nyag                                                                   kacang tumbuk, kuning telur
        Usia              0           1        2    3    4     5      6      7      8    9     10     11 12
Keterangan :
a
    Usia dalam bulan
b
    BB, berat badan, dalam kilogram
c
    Kkal = rata-rata kilokalori dalam 24 jam
d
    Cairan = cairan yang diberi dalam 24 jam

                  Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                          12
e
    Susu = frekuensi pemberian susu selama 24 jam. Jenis formula yang dianjurkan sepanjang usia tahun pertama
adalah whole milk
f
    Makanan padat tidak boleh diberikan sebelum usia 4 atau 6 bulan, atau berat badan telah mencapai dua kali
berat badan lahir
g
    Telur lengkap, air jeruk, jeruk sitrun jangan berikan hingga berusia 12 bulan



c. Masalah Gizi Anak
 Anemia Defisiensi Besi
         Keadaan ini terjadi karena terlalu sedikit kandungan zat besi dalam makanan, terutama
pada anak yang terlalu banyak mengonsumsi susu sehingga menegendurkan keinginan untuk
menyantap makanan lain. Untuk mengatasi keadaan ini, disamping memberikan suplementasi
zat besi (jika dokter menganggap ini perlu), anak harus pula diberi dan dibiasakan menyantap
makanan yang mengandung banyak besi. Sementara itu, sebagian susu diganti dengan air
atau air jeruk. Meski tidak mengandung besi, air jeruk kaya akan vitamin C yang dapat
mmbantu penyerapan besi.


 Penyakit Kronis
         Penyakit yang tidak menguras cadangan energy sekalipun, jika berlangsung lama dapat
mengganggu pertumbuhan karena menghilangkan nafsu makan anak. Di samping itu, ada
pula jenis penyakit yang menguras cadangan vitamin A.


 Berat Badan Berlebih
         Jika tidak tertasi, berat badan berlebih (apalagi jika telah mencapai obesitas) akan
berlanjut sampai remaja dan dewasa. Sama seperti orang dewasa, kelebihan berat badan anak
terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan keluar, terlalu banyak
makan, terlalu sedikit olahraga, atau keduanya. Berbeda dengan dewasa, kelebihan berat anak
tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang
diperlukan untuk pertumbuhan. Laju pertambahan berat selayaknya dihentikan atau
diperlambat sampaii proposi berat terhadap tinggi badan kembali normal. Perlambatan ini
dapat dicapai dengan cara mengurangi makan sambil memperbanyak olahraga.


 Pica
         Yaitu mengonsumsi sesuatu bukan makanan, semisal perca dan debu, tergolong ke
dalam pica. Perilaku tersebut tidak membahayakan hidup anak sejauh dia tidak menyantap

                  Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                                       13
zat toksik. Pica harus dibedakan dengan „kebiasaan‟ anak, terutama balita, memasukkan
barabg kedalam mulut. Pada masa balita, anak menggunakan mulut untuk belajar, misal
menggigiti kelereng, dan ini bukan pica.


 Televisi
      Sesungguhnya bukan televisi yang menimbulkan masalah gizi, melainkan dampak
tayangnya, terlebih iklan yang dilakonkan oleh anak. Pemirsa anak yyang belum dapat
berpikir kritis mudah terbujuk dan hamper seketika menyukai, misalkan keripik kentang,
permen, atau makanan lain yang “tak bergizi” yang iklannya dibintangi oleh sebaya mereka.
Iklan makanan anak bergizi jarang sekali ditayangkan. Hal ini sulit sekali diatasi. Satu-
satunya cara yang efektif untuk menghindarkan tayangan “buruk” itu adalah dengan
mematikan TV atau memindahkan ke saluran lain, yaitu saluran yang tidak menayangkan
iklan ketika iklan yang tidak diinginkan       itu tampil di layar TV. Jika anak (besar) sudah
dapat diajak berkomunikasi, berikan pengajaran tentang dampak negative makanan yang
diiklankan.


 Berat Badan Kurang
      Kekurangan berat yang berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan
masalah serius. Kondisiini mencerminkan kebiasaan makan yang buruk. Sama seperti
masalah klebihan berat, langkah penanganan harus didasarkan pada penyebab serta
kemungkinan pemecahannya.


 Alergi
      Secara literal, alergi makanan diartikan sebagai respons tidak normal terhadap makanan
yang orang biasa dapat menoleransinya. Alergi makanan tidak jarang terlihat pada anak (5-
8%) dan dewasa (1-2%), terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga sebagai penderita
alergi (niestijr et al, 1994). Angka kejadian ini akan terus meningkat sama seperti kasus alergi
lain semisal atopic atau asma.
      Bergantung pada jenis makanan yang disantap, alergi boleh jadi bersifat sementara atau
bahkan menetap. Aleergi yang dipicu oleh susu, kedelai, telur, dan tepung terigu dapat reda
sendiri, sementara yang disebabkan oleh kacang, ikan dan kerang cenderung menetap.
Kebanyakan alergi susu muncul pada tahun pertama kehidupan ketika anak diperkenalkan



              Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                        14
pada susu sapi atau susu formula yang dibuat dari susu sapi. Alergi ini didapat mereda sejalan
dengan pertambahan usia, kecuali mereka yang memang bersifat „atopik‟.
      Prefalensi alergi terhadap telur diperkirakan sekitar 1,6-2,6% dari populasi anak.
Dikalangan penderita dermatitis atopic, angka ini lebih tinggi lagi. Reaksi alergi terlihat kira-
kira 30 menit setelah santap, yang termanifestasi sebagai gangguan kulit (85%), saluran cerna
saluran cerna (60%), dan pernapasan (40%). Memasuki usia sekolah, sebagian anak (44%)
kembali dapat menikmati telur tanpa khawatir alergi, sementara sisanya (56%) tidak.
      Angka prevasi terhadap kacang hanya menyentuk angka 0,6%. Gejala yang muncul
pada kali pertama menyantap kacang terjadi kurang dari 30 menit (90%), bermanifestasi
mulai dari gangguan kulit hingga pernapasan. Gejala akan semakin berat (40% pada santapan
berikutnya). Sementara 20% anak yang tadinya alergi justru dapat mengunyah kacang dengan
aman pada santapan berikutnya.


 Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Bayi dan Balita
      Pada prinsipnya ada dua faktor yang mempengaruhi status gizi balita, yaitu
faktor langsung dan tidak langsung. Faktor yang langsung berpengaruh adalah asupan
makanan, tingkat kebutuhan gizi (sesuai umur, jenis kelamin, aktifitas), dan faktor kesehatan
(misalnya penyakit infeksi, penyakit metabolisma, pasca operasi). Faktor yang tidak langsung
berpengaruh antara lain: tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan orang tua, budaya.


d. Penilaian Status Gizi
      Pada prinsipnnya, penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian pada periode
kehidupan lain. Pemeriksaan yang perlu diperhatikan tentu saja bergantung pada bentuk
kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein, misalkan
lazim menjangkiti anak. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala kearah sana
termasuk pula kelainan lain yang menyertainya, perlu dipertajam.
 Pemeriksaan klinis diarahkan untuk mencari kemungkinan adanya bintik bitot, xerosis
   konjungtiva, anemia pembesaran kelenjar parotis, kheiosis angular, fluorosis, karies,
   gondok, serta hepato dan splenomegali.
 Penilaian antropometis yang penting dilakukan ialah penimbangan berat dan pengukuran
   tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan kulit triseps. Pemeriksaan ini penting, terutama
   pada anak pra sekolah yang berkelas ekonomi dasar dan social rendah. Pengamatan anak
   usia sekolah dipusatkan terutama pada percepatan tumbuh. Uji pertumbuhan pada


             Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                          15
  golongan ini setidaknya diselenggarakan setahun sekali, karena laju pertumbuhan pada
  fase ini relative lambat. Sebagai patokan, pertambahan berat anak usia 5-10 tahun berkisar
  sampai 10%-nya, sementara tinggi badan hanya bertambaah sekitar 2 cm setahun.
 Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, serta pemeriksaan
  apusan darah untuk malaria. Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan
  telur cacing saja.


 Pemantauan Pertumbuhan
  - Menghitung Berat Badan Ideal
     Perhitungan berat badan ideal pada bayi:
      1. Berat badan lahir diketahui
         Berat Badan Ideal:
         - Usia 1 – 6 bulan = Berat Badan Lahir (gr) + usia (bln) x 600 gr
         - Usia 7-12 bulan = Berat Badan Lahir (gr) + usia (bln) x 500 gr
      2. Berat badan lahir tidak diketahui
         BB Ideal:
         ( usia dalam bulan : 2 ) + 3 Kg


   - Menggunakan KMS
           Pertumbuhan anak dapat diamati secara cermat dengan menggunakan “kartu
   menuju sehat” (KMS) balita. Kartu menuju sehat berfungsi sebagai alat bantu
   pemantauan gerak pertumbuhan, bukan menilai status gizi. Berbeda dengan KMS yang
   diedarkan Depkes RI sebelum tahun 2000, garis merah pada KMS versi tahun 2000
   bukan merupaka pertanda gizi buruk, melainkan “garis kewaspadaan”. Manakala berat
   badan balita tergelincir dibawah garis ini, petugas kesehatan harus melakukan
   pemeriksaan lanjutan terhadap indikator antropometrik lain.
           Dibawah (Gambar1) adalah cetak biru KMS balita rancangan WHO yang telah
   ditiru dan digunakan, tentu saja dengan berbagai modifikasi, di banyak Negara, termasuk
   Indonesia. Garis melengkung dibagian bawah adalah garis merah, sementara garis yang
   lebih hitam dan diselingi oleh tanda bulatan ialah grafik pertumbuhan anak. Hasil
   pencatatan ini perlu dikomunikasikan dengan ibu balita, atau pengasuhnya, karena KMS
   bukan sekedar alat bagipetugas kesehatan, tetapi juga sebagai media komunikasi dan
   pendidikan para ibu.


            Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      16
Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita   17
                                           BAB III

                                         PENUTUP



A. Kesimpulan
     Makanan pertama dan utama pada bayi yaitu air susu ibu. Air susu ibu sangat cocok
untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam segala hal. Namun bayi juga memerlukan zat-zat gizi
agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Zat-zat gizi yang diperlukan antara lain
Energi (Kkal), Protein (gr), Kalsium (mg), Magnesium (mg), Zat Besi (mg), Iod (ug), Seng
(mg), Selenium (ug), Vitamin A (ug RE), Vitamin D (ug), Vitamin E (mg a-TE), Vitamin C
(mg), Folasin (ug), Niasin (mg NE), Riboflavin (mg), Tiamin (mg), Piridoksin (mg) &
Vitamin B12 (ug). Zat-zat gizi tersebut juga memiliki kadar yang berbeda sesuai dengan
kebutuhan bayi tersebut.
     Semakin umur bayi bertambah maka makanan yang harus di konsumsi pun mengalami
perubahan, mulai dari ASI hingga menyapih makanan. Menyapih, secara harfiah berarti
membiasakan. Maksudnya, bayi secara berangsur-angsur dibiasakan menyantap makanan
orang dewasa. Selama masa penyapihan, makanan bayi berubah dari ASI saja kemakanan
yang lazim dihidangkan oleh keluarga, sementara air susu diberikan hanya sebagai makanan
tambahan. Pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan dengan cara menghitung berat badan
ideal pada bayi dan menggunakan Kartu Menuju Sehat.


B. Saran
     Disarankan agar pembaca dapat menerapkan pola makan yang baik di kehidupan
sehari-hari, menjaga kesehatan serta memberi nutrisi yang cukup khususnya kepada bayi.




            Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      18
                                   DAFTAR PUSTAKA




Buku Sumber :
     Arisman. (2004), Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC.
     Muchtadi, Dr.Ir Deddy, MS. 2002. Gizi Untuk Bayi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
     Moehji, Sjahmien, B.Sc. 1992. Ilmu Gizi. Jakarta: Bhratara Niaga Media.
     Moehji, Sjahmien, B.Sc. 1988. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Jakarta: Bhratara
          Karya Aksara.
     Sediaoetama, Prof. DR. Achmad Djaeni, M.Sc. 2008. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan
          Profesi. Jakarta: Dian Rakyat.
     Wiryo, Hananto. (2002), Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan Menyusui
          dengan Makanan Lokal. Jakarta: Sagung Seto.




            Ilmu Gizi | Kebutuhan & Peran Gizi Pada Bayi dan Balita                      19

								
To top