MAKALAH EJAAN BAHASA INDONESIA by RiskaAnanda

VIEWS: 9,825 PAGES: 18

									MAKALAH BAHASA INDONESIA

   “EJAAN YANG DISEMPURNAKAN”




             KELOMPOK 1




          Ayu Suryani Baskara


              Khairun Nisa


          Monika Sriayu Lestari


              Rina Astriani


             Riska Ananda


              Zaira Adriani


               Tingkat I B




Akademi Keperawatan Pemerintah Provinsi


           Kalimantan Timur


                 2010
                        KATA PENGANTAR



     Puji syukur kami panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa, karena

atas berkat, rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan

makalah     BAHASA      INDONESIA        dengan       judul     “EJAAN         YANG

DISEMPURNAKAN “.


     Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada pihak -pihak

yang turut membantu menyelesaikan makalah ini dan dukungan dari

dosen-dosen pembimbing kami. Dengan ditulisnya makalah ini kami

berharap dapat bermanfaat bagi pembaca.


     Kami   menyadari    bahwa     dalam    penulisan     ini   banyak       terdapat

kekurangan. Hal ini disebabkan terbatasnya wawasan dari literature yang

kami miliki. Dengan demikian saran dan kritik yang membangun guna

menyempurnakan makalah ini sangat kami harapkan. Atas perhatiannya

kami ucapkan terima kasih.




                                              Samarinda, 13 Oktober 2010




                                                        Kelompok 1




                     MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”    1
                            DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR …….……………………………………………….……………… 1


DAFTAR ISI… …………………………………………………………………………....2-3


Bab I PENDAHULUAN ………………………………………………………….……….3


1.1.   Latar Belakang ……………..……………………………………………….……..3


1.2.   Tujuan ……………………………..……………………………………….……….3


Bab II PEMBAHASAN ……………………..……………………………………….……..4


A. Pemenggalan kata…………………………………...……………………………..…4-5


B. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring …………………….……………...…….5-7


C. Penulisan kata ……………………………………………..……………………..…….7-8


D. Singkatan dan akronim …………………………………………………..……………8-9


E. Pemakaian tanda baca ……………………………………….……………………….10-14


F. Angka dan Lambang Bilangan ……………………………………………………….14-15


Bab III PENUTUP ……………………………………………………………….....………..16


3.1. Kesimpulan ………………………………………………………………….....……….16


3.2. Saran …………………………………………………………………………….………16


DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………17




                   MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   2
                                        BAB I

                               PENDAHULUAN




1.1.     Latar Belakang


         Agar dapat menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam

menjalankan tugas dalam profesi keperawatan.


         Serta dapat memperlancarkan setiap kata-kata atau kalimat yang kita ucapkan

kepada lawan bicara kita tanpa menyelipkan kata-kata atau bahasa daerah yang tidak

dimengerti oleh lawan bicara kita terutama kalau kita berbicara dengan pasien yang kita

rawat.


         Tentunya dengan penggunaan bahasa yang baik, sopan santun kita akan

tergambar dengan sendirinya, dan dengan sendirinya komunikasi kita dengan orang-

orang atau pasien kita di rumah sakit maupun puskersmas akan berjalan dengan baik

dan lancar.


1.2.     Tujuan


Tujuan kami selaku penyusun makalah ini yaitu :


    Agar mengetahui cara pemakaian huruf dengan benar.


    Agar mengetahui cara pemakaian huruf kapital dan huruf miring.


    Agar mengerti cara penulisan kata dengan baik.


    Mengetahui panulisan unsur serapan.


    Cara pemakaian tanda baca yang tepat.


    Dan tentunya dapat mengerti dan memahami ejaan bahasa Indonesia yang

         disempurnakan dengan baik dan benar.

                          MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   3
                                        BAB II

                                 PEMBAHASAN



EJAAN BAHASA INDONESIA


      Ejaan   adalah    keseluruhan     peraturan    bagaimana     melambangkan       bunyi,

memenggal suku kata, dan menggabungkan kata – kata.


Ejaan yang hidup di Indonesia :


   1. Ejaan Van Ouphuysen (1901-1947)


   2. Ejaan Soewandi / republic (19 maret 1947-16 agustus 1972)


   3. Ejaan yang disempurnakan (16 agustus 1972)


   Pada garis besarnya, ejaan terbagi atas :


   1. Pemenggalan kata.


   2. Penulisan kata.


   3. Pemakaian huruf kapital.


   4. Pemakaian tanda baca.


   5. Penulisan unsur serapan.




   A. Pemenggalan kata


   1. Jika ditengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan

      dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan kedua.


      Contoh : in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las.



                         MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”    4
2. Imbuhan awalan dan akhiran, termasuk awalan yang mengalami perubahan

  bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai kata dengan kata dasarnya,

  dapat dipenggal pada pergantian baris.


  Contoh : makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah.




B. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring


  1. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.


     Contoh :


     -   Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”


     -   Bapak menasihatkan, “berhati – hatilah, Nak!”


     -   “Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat.”


  2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang

     berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk

     Tuhan.


     Contoh :


     -   Allah, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Alquran, Weda,

         Islam,Kristen.


     -   Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba – Nya.


     -   Bimbinglah hamba – Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.


  3. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,

     keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


     Contoh :


     Sutan Takdir, Raden Wijaya, Nabi Isa.




                    MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   5
4. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan

   pangkat yang diikuti nama orang atau yang digunakan sebagai pengganti

   nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.


   Contoh :


   Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Mentri Nehru, Profesor Soepomo,

   Gubernur Irian Jaya.


5. Huraf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur – unsur nama orang.


   Contoh : Amir Hamzah, Dewi Sartika, Halim Perdanakusumah.


6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari

   besar keagamaan dan peristiwa sejarah.


   Contoh :


   tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid.


7. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama geografi.


   Contoh :


   Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan.


8. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan

   kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik dan paman dalam

   penyapaan dan pengacuan.


   Contoh :


   -   “Kapan Bapak brangkat?” Tanya Harto.


   -   Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”


   Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan

   kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.


   Contoh :


   -   Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.


                  MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   6
     -   Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.


  9. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah,

     dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.


     Contoh : majalah Bahasa dan Kesusastraan, buku Negarakertagama.


  10. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan

     huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.


     Contoh : Huruf pertama kata abad ialah a.


  11. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau

     ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.


     Contoh :


     Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.


     Tetapi ;


     Negara itu telah mengalami empat kudeta.


     Catatan :


     Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring

     diberi satu garis dibawahnya.




C. Penulisan Kata


1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.


    Contoh : bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.


2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai

    dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.


    Contoh : bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.


3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran

    sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

                    MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   7
    Contoh       :      menggarisbawahi,      menyebarluaskan,        melipatgandakan,

    menghancurleburkan.


4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan

    kata itu ditulis serangkai.


    Contoh : adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta.


5. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.


    Contoh : acapkali, adakalanya, bagaimana, barangkali.




D. Singkatan dan Akronim


1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.


   a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, atau pangkat diikuti dengan

      tanda titik.


   Contoh : A.S.          (Kramawijaya)


             M.B.A.       (Master of Bussines Administration)


   b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau

   organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata,

   ditulisdenga huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.


   Contoh :


   DPR             (Dewan Perwakilan Rakyat)


   PGRI            (Persatuan Guru Republik Indonesia)


   c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.


      Contoh :


      dll.         (dan lain – lain)


      dsb.         (dan sebagainya)



                        MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   8
     Namun, jika ada singkatan yang terdiri atas dua huruf masing – masing huruf

     diikuti titik.


     a.n.         (atas nama)


     d.a.         (dengan alamat)




2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku

  kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan

  sebagai kata.


  a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis

     seluruhnya dengan huruf kapital.


     Contoh :


     PAN          (Partai Amanat Nasional)


     LAN          (Lembaga Administrasi Negara)


  b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf

     dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awalnya huruf kapital.


     Contoh :


     Bappenas           (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)


     Iwapi              (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)


  c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,

     ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis

     dengan huruf kecil.


     Contoh :


     pemilu (pemilihan umum)


     rapim (rapat pimpinan)




                      MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   9
E. Pemakaian Tanda Baca


1. Tanda titik (.)


       a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau

           seruan.


           Contoh : Ayahku tinggal di Solo.


       b. Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagian atau

           ikhtisar, atau daftar.


           Contoh : III. Departemen Dalam Negeri


                 A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa


                 B. Direktoral Jenderal Agraria


   Catatan :


   Tanda titik tidak dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau

   ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka

   atau huruf.


       c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang

           menunjukkan waktu.


           Contoh : 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)


       d. Tanda titik dipakai diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir

           dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar

           pustaka.


           Contoh : Siregar, Merari, 1920. Azab dan Sengsara.


       e. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.


           Contoh : Desa itu berpenduduk 24.200 orang




                       MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   10
      f. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala

         karangan atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.


         Contoh : Acara Kunjungan Adam Malik


      g. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat

         atau (2) nama dan alamat penerima surat.


         Contoh :


         Jalan Diponegoro 82


         Jakarta (tanpa titik)


         1 April 1995 (tanpa titik)


2. Tanda koma (,)


      a. Tanda koma digunakan diantara unsur – unsur dalam suatu perincian

         atau pembilangan.


         Contoh : saya membeli tas, pena dan tinta.


      b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan

         kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata hubung sperti tetap ,

         melainkan, sedangkan.


         Contoh : Saya ingin datang, tetapi hari hujan.


      c. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk

         kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimatnya.


         Contoh : Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.


      d. Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk

         kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimat.


         Contoh : Saya tidak akan datang kalau hari hujan.


      e. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung

         antrakalimat yang terdapat pada awal kalimat, termasuk di dalamnya oleh

         karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
                     MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   11
     Contoh : Oleh karena itu, kita harus berhati – hati.


f. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian

     lain dalam kalimat.


     Contoh : Kata Ibu, “ Saya gembira sekali “.


g. Tanda koma dgunakan antara nama orang dan gelar akademik yang

     mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga,

     atau marga.


     Contoh : B. Ratulangi, S.E.


h. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan yang

     sifatnya tidak membatasi.


     Contoh : Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.


     Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak

     diapit tanda koma :


     Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.


i.   Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh,

     kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.


     Contoh : O, begitu ?


j.   Tanda koma dipakai diantara (i) nama dan alamat, (ii) bagian – bagian

     alamat, (iii) tempat dan tanggal, (iv) nama tempat da wilayah atau negeri

     yang ditulis berurutan.


     Contoh :


     Surat – surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran,

     Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.


k.   Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama yang dibalik

     susunannya dalam daftar pustaka.




                 MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   12
           Contoh : Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949, Tatabahasa Baru Bahasa

           Indonesia .Jilid 1 dan 2. Djakarta : PT Pustaka Rakjat.


      l.   Tanda koma dipakai diantara bagian – bagian dalam catatan kaki.


           Contoh : W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk karang –

           mengarang (Yogyakarta : UP Indonesia, 1967), hlm. 4.


      m. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau diantara rupiah

           dan sen yang dinyatakan dengan angka.


           Contoh : 12, 5 m


      n. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang

           keterangan yang terdapat pada awal kalimat.


           Contoh : Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terimakasih.




3. Tanda hubung (-)


      a. Tanda hubung menyambung unsur – unsur kata ulang.


           Contoh : anak – anak, berulang – ulang.


      b. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas hubungan bagian –

           bagian kata atau ungkapan dan penghilangan bagian kelompok kata.


           Contoh : ber-evolusi, dua puluh lima – ribuan (20 x 5000)


           Bandingkan dengan ; be-revolusi, dua – puluh – lima – ribuan (1 x 25000)


      c. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan (1) se- dengan kata

           kapital, (2) ke- dengan angka, (3) angka dengan –an, (4) singkatan

           berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (5) nama jabatan

           rangkap.


           Contoh : se- Indonesia, se – Jawa Barat, hadiah ke – 2.


      d. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia

           dengan unsur bahasa asing.
                      MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   13
         Contoh : di – smash, pen – tackle – an.


     e. Tanda hubung dipakai untuk menyambung suku – suku kata dasar yang

         terpisah oleh pergantian baris.


         Contoh : Disamping cara – cara lama itu ada ju –


                  ga cara yang baru.


     f. Tanda hubung dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di

         belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada

         pergantian baris.


         Contoh : Kini ada cara baru untuk meng –


                  ukur panas.


         akhiran –I tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada

         pangkal baris.


     g. Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu –

         satu dan bagian – bagian tanggal.


         Contoh : p – a – n – i – t – i – a        28-8-1992




F. Angka dan Lambang Bilangan


  1. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut :


     Contoh :


     Paku Buwono X, pada awal abad XX, dalam kehidupan pada abad ke-20.


  2. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis

     dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan digunakan secara

     berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.


     Contoh :


     -   Amir menonton drama itu sampai tiga kali.


                     MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   14
   -   Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.


3. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika perlu, susunan

   kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu

   atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.


   Contoh :


   -   Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.


   -   Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.


4. Angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Di dalam

   tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.


   Angka Arab         : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,


   Angka Romawi : I,II,II,IV,V,VI,VII,VIII,IX,X


                      L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M(1.000.000)


   Pemakaiannya lebih diatur lebih lanjut dalam pasal – pasal berikut ini.


5. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi,

   (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, (iv) kuantitas.


   Contoh :


   0,5 sentimeter            1 jam 20 menit


6. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,

   atau kamar pada alamat.


   Contoh : Jalan Tanah Abang I No.15


7. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.


   Contoh : Bab X, Pasal 5, halaman 252




                    MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”    15
                                   BAB III

                                PENUTUP

1.KESIMPULAN


       - Nama orang, badan hukum dan nama diri yang lain disesuaikan dengan

       Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan

       khusus.


       - Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring

       diberi satu garis di bawahnya.


       - Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-

       syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku

       kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan

       mengndahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai

       dengan pola kata Indonesia yang lazim.




  2.SARAN


    Agar pembaca bisa lebih memahami materi diharapkan membaca tidak sekilas,

    dan agar mempunyai sumber sumber dari buku – buku lain yang lebih terperinci,

    karena sumber buku yang dipakai dalam makalah ini masih terbatas.




                     MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   16
                                DAFTAR PUSTAKA




Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman

      Umum Pembentukan Istilah .Bandung: Pustaka Setia.


Arifin, E. Zaenal, dan S. Amran Tasai. (1987), Cermat Berbahasa Indonesia.

      Jakarta: Balai Pustaka.


Foster, Bob. (2005), Instan Bahasa Indonesia SMA. Jakarta: Erlangga.




                    MAKALAH BAHASA INDONESIA | “Ejaan Yang Disempurnakan”   17

								
To top