Makalah tentang Profesionalisme Guru

Document Sample
Makalah tentang Profesionalisme Guru Powered By Docstoc
					                    Makalah tentang Profesionalisme Guru

Profesionalisme berakar pada kata profesi yang berarti pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian, profesionalisme itu sendiri dapat berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang
merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Profesionalisme guru dapat berarti
guru yang profesional.
Menurut Sanusi, et.al dalam Sujipto (1994:17) bahwa ciri-ciri utama suatu profesi itu sebagai
berikut :
a) Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosoial yang menentukan (crusial).
b) Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu
c)     Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah
dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
d) Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit
yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum.
e)    Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup
lama.
f)    Proses pendidikan untuk jabatan itu juga aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional itu
sendiri.
g)    Dalam memberikan layanan kepada masyarakat anggota profesi itu berpegang teguh pada
kode etik yang timbul yang dikontrol oleh organisasi profesi.
h)     Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap
permasalahan profesi yang dihadapinya.
i)     Dalam prakteknya melayani masyarakat anggota profesi otonom dan bebas dari campur
tangan orang lain.
j)      Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat dan oleh karenanya
memperoleh imbalan yang tinggi pula.

Ini berarti bahwa pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat
dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan
oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan yang lain.
Dengan bertitik tolak dari pengertian ini, maka guru profesional adalah orang yang memiliki
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan
maksimal atau dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan
baik serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.
Perihal teori tentang guru profesional telah banyak dikemukakan oleh para pakar manajemen
pendidikan, seperti Rice & Bishoporik dalam Bafadal (2003:5) dan Glickman dalam Bafadal
(2003:5) guru profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam
melaksanakan tugas-tugasnya. Profesionalisasi guru oleh kedua pasangan tersebut dipandang
sebagi sebuah proses gerak yang dinamis dari ketidaktahuan (ignorance) menjadi tahu, dari
ketidakmatangan (immaturity) menjadi matang, dari diarahkan (other-directedness) menjadi
mengarahkan diri sendiri. Peningkatan mutu yang berbasis sekolah (MPMBS) mensyaratkan
adanya guru-guru yang memilki pengetahuan yang luas, kematangan, dan mampu menggerakkan
dirinya sendiri dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu perlunya dilakukan
peningkatan mutu profesi seorang guru baik secara formal maupun secara informal. Peningkatan
secara formal merupakan peningkatan mutu melalui pendidikan dalam berbagai kursus, sekolah,
maupun kuliah di perguruan tinggi atau lembaga lain yang berhubungan dengan bidang
profesinya. Disamping itu, secara formal guru dapat saja meningkatkan mutu profesinya dengan
mendapatkan informasi dari media massa (surat kabar, majalah, radio, televisi dan lain-lain) atu
dari buku-buku yang sesuai dengan bidang profesi yang bersangkutan.
Sedangkan Glickman dalam Bafadal (2003: 5) menegaskan bahwa seorang akan bekerja secara
profesional bilamana orang tersebut memiliki kemampuan (ability) dan motivasi (motivation).
Maksudnya adalah seseorang akan bekerja secara profesional bilamana memiliki kemampuan
kerja yang tinggi dan kesungguhan hati untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya.
Lebih lanjut menurut Glickman, seorang guru profesional bilamana memiliki kemampuan tinggi
(high level of abstract) dan motivasi kerja tinggi (high level commitment) komitmen lebih luas
dari concern sebab komitmen itu mencakup waktu dan usaha. Tingkat komitmen guru terbentang
dalam satu garis kontinum, bergerak dari yang paling rendah ketempat yang paling tinggi. Guru
yang memiliki komitmen rendah biasanya kurang memberikan perhatian kepada murid,
demikian pula waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu pendidikan pun
sedikit. Sebaliknya, seorang guru yang memiliki komitmen yang tinggi biasanya tinggi sekali
perhatian terhadap murid, demikian pula waktu yang disediakan untuk peningkatan mutu
pendidikan pun lebih banyak. Sedangkan tingkat abstraksi yang dimaksudkan disini adalah
kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, mengklarifikasi masalah-masalah
pembelajaran, dan menentukan alternatif pemecahannya. Menurut Glickman dalam Bafadal
(2003:5) guru yang memiliki abstraksi yang tinggi adalah guru yang mampu mengelola tugas,
menemukan berbagai permasalahan dalam tugas, dan mampu secara mandiri memecahkannya.
Guru yang profesional bukan hanya sekadar alat untuk transmisi kebudayaan tetapi
mentransformasikan kebudayaan itu kearah budaya yang dinamis yang menuntut penguasaan
ilmu pengetahuan, produktivitas yang tinggi, dan kualitas karya yang bersaing. Tugas seorang
guru profesional meliputi tiga bidang utama: 1) dalam bidang profesi, 2) dalam bidang
kemanusiaan, 3) dalam bidang kemasyarakatan.
Dalam bidang profesi, seorang guru profesional berfungsi untuk mengajar, mendidik, melatih,
dan melaksanakan penelitian masalah-masalah pendidikan. Dalam bidang kemanusiaan, guru
profesional berfungsi sebagai pengganti orang tua khususnya didalam bidang peningkatan
kemampuan intelektual peserta didik. Guru profesional menjadi fasilitator untuk membantu
peserta didik mentransformasikan potensi yang dimiliki peserta didik menjadi kemampuan serta
keterampilan yang berkembang dan bermanfaat bagi kemanusiaan.
Adapun 10 kompetensi profesional guru yang dikutip Samana (1994) adalah :
   1. Guru dituntut mengusai bahan ajar, meliputi bahan ajar wajib, bahan ajar pengayaan, dan
       bahan ajar penunjang untuk keperluan pengajarannya. Guru mampu mengelola program
       belajar mengajar meliputi : Merumuskan tujuan instruksional; Mengenal dan dapat
       menggunakan metode pengajaran; Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang
       tepat; Melaksanakan program belajar mengajar; Mengenal kemampuan anak didik; dan
       Merencanakan dan melaksanakan pengajaran.
   2. Guru mampu mengelola kelas antara lain mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran dan
       menciptakan iklim mengajar yang serasi sehingga Proses Belajar Mengajar berlangsung
       secara maksimal.
   3. Guru mampu mengunakan media dan sumber pengajaran untuk itu diharapkan
       mempunyai : Mengenal, memilih dan menggunakan media; Membuat alat bantu
       pengajaran sederhana; Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam Proses Belajar
       Mengajar; Mengembangkan laboratorium; Menggunakan perpustakaan dalam Proses
       Belajar Mengajar; Menggunakan mikro teaching dalam PPL.
   4. Guru menghargai landasan-landasan pendidikan. Landasan pendidikan adalah sejumlah
       ilmu yang mendasari asas-asas dan kebijakan pendidikan baik di dalam sekolah maupun
       di luar sekolah.
   5. Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Dalam pengajaran guru dituntut
       cakap termasuk penggunaan alat pengajaran, media pengajaran dan sumber pengajaran
       agar siswa giat belajar bagi dirinya.
   6. Guru mampu menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
   7. Guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
   8. Guru mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
   9. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan
       pengajaran.

Berkaitan dengan itu Sahabuddin (1993:6) mengemukakan bahwa seorang guru profesional
harus mempunyai empat gugus kemampuan yaitu: (a) merencanakan program belajar mengajar,
(b) melaksanakan dan memimpin Proses Belajar Mengajar, (c) menilai kemajuan Proses Belajar
Mengajar dan (d) memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi
lainnya dalam penyempurnaan Proses Belajar Mengajar. Sedangkan dalam UU No. 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen pada pasal 10 ayat 1 disebutkan bahwa kompetensi guru meliputi
: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional
yang diperoleh dari pendidikan profesi.
Didalam bidang kemasyarakatan, profesi guru berfungsi untuk memenuhi amanat dalam
pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan
diferensiasi tugas dari suatu masyarakat modern, sudah tentu tugas pokok utama dari guru
profesional ialah didalam bidang profesinya tanpa melupakan tugas-tugas kemanusiaan dan
kemasyarakatan.
Untuk mencapai suatu profesionalisme bukanlah hal yang mudah, tapi harus melalui suatu
pendidikan dan latihan yang relevan dengan profesi yang ditekuni. Profesionalitas sangat
diperlukan di era global, jika tidak maka kita akan tergilas oleh arus dan pada akhirnya tersisih.
Demikian pula halnya dengan guru, sebuah profesi yang tak kalah mulianya dibanding profesi
yang lain, bahkan dari profesi inilah lahir generasi-generasi yang diharapkan menjadi penentu
masa depan. Guru adalah aset nasional intelektual bangsa dalam pelaksanaan pendidikan yang
mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik dalam rangka melahirkan sumber daya
manusia yang mampu, cerdas, terampil dan menguasai IPTEK serta berakhlak mulia guna
menunjang peran serta dalam pembangunan.
Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas tidaklah semudah membalik telapak tangan,
banyak masalah yang dihadapi dalam Proses Belajar Mengajar, diantaranya keterbatasan sumber
belajar, keterbatasan penguasaan pengetahuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
dalam kemajuan pendidikan, cara menyampaikan materi pelajaran, cara membantu anak agar
belajar lebih baik, cara membuat dan memakai alat peraga, peningkatan hasil belajar anak dan
pelaksanaan berbagai perubahan kebijakan yang berhubungan dengan tugasnya.
Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu diciptakan suatu sistem pembinaan profesional
bagi guru yang berfungsi memberi bantuan kepada guru agar mereka dapat meningkatkan
profesionalnya dengan berupaya menyelesaikan masalah yang hadapinya. Menurut Shapero
dalam Bafadal (2003:10) menegaskan bahwa untuk memiliki pegawai yang profesional dapat
ditempuh dengan menjawab 2 pertanyaan pokok yaitu bagaimana mendapatkan guru profesional
dan bagaimana memberdayakan guru sehingga mandiri dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Kegiatan-kegiatan esensial untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam peningkatan mutu
pendidikan yaitu: 1) rekrutmen guru mulai dari perencanaan guru, seleksi guru dan pengangkatan
guru, 2) peningkatan kemampuan guru, 3) peningkatan motivasi kerja guru, 4) pengawasan
kinerja guru.
Pemerintah sudah menunjukkan perhatian serius terhadap guru dengan berupaya meningkatkan
anggaran pendidikan dan membuat produk hukum yang mengatur tentang guru yaitu Undang-
undang Guru.
Dalam undang-undang ini, sudah diatur mulai dari ketentuan umum kedudukan fungsi dan
tujuan, prinsip profesionalitas guru, kualifikasi kompetensi dan sertifikasi, hak dan kewajiban
serta sanksi. Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan
dasar, menengah, dan usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan aturan
perundang-undangan. Guru berfungsi untuk meningkatkan martabat sebagai agen pembelajaran,
pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Serta pengabdian pada masyarakat
berfungsi meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip
memiliki bakat minat, panggilan jiwa dan idealisme, memiliki komitmen untuk meningkatkan
mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Memiliki kualifikasi akademik dan
latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. Memiliki tanggung jawab atas
pelaksanaan tugas keprofesionalan, memperoleh penghasilan sesuai prestasi kerja. Memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan berkelanjutan dengan belajar sepanjang
hayat.
Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan memiliki
organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hak yang berkaitan dengan
keprofesionalan guru.

http://www.masbied.com/2011/04/01/makalah-tentang-profesionalisme-guru/

				
DOCUMENT INFO
Sri Budi Sukiyanto Sri Budi Sukiyanto SMPN 230 Jakarta http://inspendik.blogspot.com/
About