drama, novel, cerpen, puisi

Document Sample
drama, novel, cerpen, puisi Powered By Docstoc
					     Tugas
Bahasa dan Sastra
   Indonesia




       Oleh
   Khairunnisa
  Kelas XI IPA 2
SMAN 1 Daha Utara
Cerpen :
                                   Menu Makan Malam
     Cerpen Kadek Sonia Piscayanti

       Sesuatu        yang      kelak     retak      dan         kita  membikinnya        abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi mewujudkan
keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia menghabiskan hidupnya di
dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu makanan hanya untuk menghidangkan
menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam
di lemari dapurnya. Daftar itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali
lipat kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A hingga
Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari hingga kini menginjak usia
25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu, bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari
daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari
tabloid-tabloid wanita yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.
       Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya ada tiga
kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya, pikirannya adalah menu-menu
masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah ritual resmi yang secara tersirat
dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak
dewasa, ia tak pernah surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika
ia melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
       Keluarga ini tumbuh bersama di meja makan. Mereka telah akrab dengan kebiasaan
bercerita di meja makan sambil menikmati menu-menu masakan Ibu. Mereka berbicara tentang
apa saja di meja makan. Mereka duduk bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing.
Tak peduli apakah peristiwa-peristiwa itu nyambung atau tidak, penting bagi yang lain atau
tidak, pokoknya bercerita. Yang lain boleh menanggapi, memberi komentar atau menyuruh diam
kalau tak menarik. Muka-muka kusut, tertekan, banyak masalah, stres, depresi, marah, kecewa,
terpukul, putus asa, cemas, dan sebagainya, bisa ditangkap dari suasana di atas meja makan.
Sebaliknya muka-muka ceria, riang, berseri, berbunga-bunga, jatuh cinta, juga bisa diprediksi
dari ritual makan bersama ini. Ibu yang paling tahu semuanya.
       Ia memang punya kepentingan terhadap keajegan tradisi makan bersama ini. Satu
kepentingan saja dalam hidupnya, memastikan semua anggota keluarganya dalam keadaan yang
ia harapkan. Bagi Ibu, sehari saja ritual ini dilewatkan, ia akan kehilangan momen untuk
mengetahui masalah keluarganya. Tak ada yang bisa disembunyikan dari momen kebersamaan
ini. Dan kehilangan momen itu ia rasakan seperti kegagalan hidup yang menakutkan. Ia tak mau
itu terjadi dan ia berusaha keras untuk membuat itu tak terjadi.
       Ia tak berani membayangkan kehilangan momen itu. Sungguh pun tahu, ia pasti
menghadapinya suatu saat nanti, ia merasa takkan pernah benar-benar siap untuk itu. Yang agak
melegakan, semua anggota keluarganya telah terbiasa dengan tradisi itu dan mereka seolah
menyadari bahwa Ibu mereka memerlukan sebuah suasana untuk menjadikannya "ada". Semua
orang tahu dan memakluminya. Maka semua orang berusaha membuatnya merasa "ada" dengan
mengikuti ritual itu. Namun, kadang beberapa dari mereka menganggap tradisi ini
membosankan.
                                               ***

       Jam empat pagi. Ibu telah memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan sangat serius.
Ibu tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh. Ia tak pernah percaya bahwa
seorang istri yang tak pernah memasak untuk keluarganya adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada
yang meremehkan pekerjaan memasak, Ibu akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan
yang diberkahi Tuhan adalah masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu yang menghadirkan
cinta dan kasih sayangnya pada setiap zat rasa masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa
makanan adalah bahasa cinta seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan yang
menghubungkan batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan berhenti mendengar
penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu takkan berhenti bicara kalau
kedamaiannya diusik. Dan yang bisa menghentikannya hanya dirinya sendiri.
       Sarapan tiba. Ibu menyiapkan sarapan di dapur. Ia menyiapkan menu sesuai dengan yang
tertera di daftar menu di lemari makanan. Telur dadar, sayur hijau dan sambal kecap. Ada lima
orang di keluarganya. Semua orang memiliki selera berbeda-beda. Suaminya suka telur yang tak
matang benar, agak asin, tanpa cabe. Aries suka telur yang benar-benar tergoreng kering, dan
harus pedas. Pisca, suka makanan serba manis. Telur dadarnya harus setengah matang dengan
kecap manis dan sedikit vitsin. Sedangkan Canestra, tak suka pada kuning telur. Sebelum
didadar, kuning telur harus dipisahkan dulu dari putihnya. Jika tidak dibuatkan yang sesuai
dengan pesanannya, ia bisa mogok makan. Berhari-hari.
      Bagaimana dengan Ibu? Ibu bahkan tak pernah macam-macam. Telur dadarnya adalah
yang standar, tidak ada perlakuan khusus. Ia boleh makan apa saja, yang penting makan, jadilah.
Pukul 07.05. Telur dadar setengah matang asin, telur dadar pedas, telur manis dengan vitsin, dan
telur tanpa kuning, berikut sayur hijau dan sambal kecap telah terhidang. Semua telah
menghadapi hidangan masing-masing sesuai pesanan. Makan pagi biasanya tak ada yang terlalu
banyak bicara. Semua sibuk dengan rencana masing-masing di kepalanya. Kelihatannya, tak ada
yang ingin berbagi. Aries kini sudah bekerja di sebuah kantor pemerintah, menjadi tenaga honor
daerah. Ia harus tiba di kantor setidaknya pada tujuh dua lima, karena ada apel setiap tujuh
tigapuluh. Pisca harus ke kampus. Ia duduk di semester tujuh kini. Tampaknya sedang tak bisa
diganggu oleh siapa pun. Wajahnya menunjukkan demikian. Mungkin akan bertemu dengan
dosen pembimbing atau entah apa, tapi mukanya keruh. Mungkin banyak persoalan, tapi Ibu
cuma bisa memandang saja. Sedang Canestra masih di SMA. Ia tampak paling santai. Tangannya
memegang komik. Komik Jepang. Makan sambil membaca adalah kebiasaannya. Sang Bapak,
duduk diam sambil mengunyah makanan tanpa bersuara dan tanpa menoleh pada yang lain. Pria
yang berhenti bekerja beberapa tahun lalu itu tampak lambat menyelesaikan makannya. Ia
menikmati masakan itu, atau tidak peduli? Tak ada yang tahu.
      Satu per satu mereka meninggalkan ruang makan. Hanya piring-piring kotor yang tersisa di
meja makan. Ibu membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu sampai bersih dan mengelap
meja makan. Ritual berikutnya adalah menyerahkan anggaran belanja ke pasar hari itu kepada
suaminya. Saat-saat inilah yang paling ia benci seumur hidupnya. Ia benci menerima uang dari
suaminya yang selalu tampak tak rela dan tak percaya.
      Akhirnya, memang bahan-bahan menu itu dipangkas seenak udelnya, ia tak mau tahu apa
pun. Ujung-ujungnya ia cuma memberi sepuluh ribu saja untuk semua itu. Tentu saja kurang dari
anggaran yang seharusnya, dua puluh ribu. Untuk itu semua, maka otomatis menu berubah; tak
ada ayam bumbu rujak, tak ada capcay, yang ada tinggal perkedel jagung dan tempe. Sayur
hijau, katanya, bolehlah. Yang penting sayur, dan murah. Ah… Ibu berjalan ke pasar dengan
gontai. Hari itu Jumat. Hari pendek. Anak-anak akan pulang lebih cepat dari biasa. Ia
mempercepat langkahnya. Tak mudah membagi waktu, kadang pekerjaan teramat banyaknya
sampai-sampai tak ada waktu untuk melakukan hal lain selain urusan dapur. Kadang ia berpikir
ada sesuatu yang memang penting untuk dilakukan tapi itu akan mengabaikan urusan dapur dan
itu berarti pula mengabaikan selera anak-anaknya. Itu tidak mungkin. Tak ada yang mengerti
selera anak-anaknya kecuali dia.
      Tapi kadang ia bosan berurusan dengan menu-menu. Ia telah mencoba semua menu yang
ada di buku-buku masakan, ia telah mencoba semua resep masakan di teve, dan ia kehabisan ide
suatu ketika. Ia mencatat menu-menu yang sudah pernah dibikinnya. Serba-serbi sambal: sambal
goreng krecek, sambal goreng hati, sambal godog, sambal kentang, sambal bawang, sambal
kecicang, sambal serai, dll. Aneka ca, semacam: ca sawi, ca kangkung, ca bayam, ca tauge, ca
bunga kol, dll. Semua jenis perkedel dan gorengan kering: perkedel ketimun, perkedel kentang,
perkedel jagung, pastel kentang, kroket kentang, dan seterusnya. Sampai makanan golongan
menengah dilihat dari mahalnya bahan pokok semacam: babi kecap, gulai kare ayam, gulai
udang, sate bumbu rujak, opor ayam, sup kaki ayam dengan jamur tiongkok, dendeng sapi,
kepiting goreng. Juga serba-serbi makanan China semacam: shiobak, koloke, fuyung hai, ang sio
hie, hao mie, tao mie, dan seterusnya. Daftar ini masih akan bertambah panjang kalau disebutkan
serba-serbi pepes, serba-serbi urap, atau serba-serbi ikan.
      Semua menu sudah dicobanya habis tak bersisa, tapi sepertinya masih saja ada sesuatu
yang kurang. Ia pun lebih kerap berkreasi, satu menu masakan kadang-kadang dipadu dengan
menu masakan lain, misalnya pepes tempe, gulai pakis, sate tahu, dan sebagainya. Tapi masih
saja menu-menu itu terasa tak cukup untuk membuat variasi menu yang berbeda setiap harinya.
Karena itulah yang akan membuat keluarganya betah dan merindukan makan malam
Ia pernah merasa ingin berhenti saja memikirkan menu-menu itu, tapi suaminya akan berkata,
"Kau telah memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, tidak bekerja dan melayani keluarga.
Bahkan kau bersumpah akan membangun keluarga di atas meja makan, kenapa tidak kau
pikirkan sebelumnya?"
      Ibu merenungkan kata-kata suaminya. Ada yang salah terhadap penilaian-penilaian. Ada
yang tak adil di dalamnya. Hampir selalu, yang menjadi korban adalah mereka yang dinilai,
mereka yang tertuduh, mereka yang melakukan sesuatu tapi dinilai salah dan dianggap biasa-
biasa saja. Tapi apa sesungguhnya yang terjadi dengan biasa dan tak biasa? Apa yang
menentukan yang biasa dan yang tak biasa? Menjadi Ibu adalah sangat luar luar luar biasa.
Apakah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk keluarga lebih
biasa daripada seorang ibu yang tak pernah sekalipun berpikir tentang keluarganya, meski ia
punya tujuh perusahaan dan kaya raya? Lagipula, itu cuma perasaan, bukan angka-angka dalam
matematika, namanya juga perasaan. Tercium bau hangus. Ibu tersentak dari lamunannya.
Tempenya gosong.
      Ia menyudahi goreng-menggoreng tempe itu. Lalu dengan bergegas ia menyambar
sekeranjang cucian kotor, mulai mencuci. Anaknya datang satu per satu. Ibu belum selesai
mencuci. Ia agak tergesa karena harus menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya. Setelah
menyiapkan makan siang, ia kembali bekerja, menyelesaikan cucian.
      Makan siang Ibu adalah jam 3 sore. Setelah itu, ia tidur dua jam. Sehabis jam 5 sore,
sehabis tidur siangnya, ia harus menyiapkan makan malam. Sehabis makan malam, jangan kira ia
selesai. Ada Bapak yang setiap hari minta dipijit, tapi setiap hari mengeluh pijitan Ibu tak pernah
mengalami kemajuan. Ah… Dia melakukannya selama sisa hidupnya. Ia berkutat dengan semua
itu selama puluhan tahun, tak pernah ada yang memujinya, dan ia pun tak ingin dipuji, tapi
itukah yang disebut perempuan biasa?
      Suatu      ketika,     sebuah     peristiwa       datang      mengusik       keluarga     itu.
Hari itu Selasa, ketika sebuah perubahan memperkenalkan dirinya kepada keluarga itu. Aries
menolak makan bersama. Ia tentu punya alasan di balik aksi mogoknya. Tapi tak ada yang tahu
apa alasan Aries.
      Ibu kecewa. Menu makan malamnya tak dicicipi selama tiga hari berturut-turut. Ini adalah
beban mental bagi seorang Ibu. Ia bukanlah orang yang suka memaksa, tapi selalu membaca dari
tanda-tanda dan suka juga menebak-nebak. Sialnya, Aries tak pernah memiliki cukup waktu
untuk menjelaskan semua itu. Ia tampak begitu sibuk. Kadang ia bahkan terlihat menyibukkan
diri, menghindar dari Ibu. Ia menomorduakan ritual makan malam mereka. Ibu menangis, ia
merasa segala usahanya untuk membangun tradisi makan malam ini sia-sia saja. Salahkah jika ia
berusaha membikin sesuatu yang kelak retak menjadi abadi? Mungkin memang salah, tapi dulu
tak seorang pun cukup berani menunjukkan di mana letak salahnya, tak seorang pun tega
mengecewakan Ibu. Tapi Aries, kini telah membuatnya kecewa secara nyata.
      Suasana menjadi semakin keruh ketika di hari kelima, keenam dan ketujuh, Aries juga
absen makan malam. Ibu bertindak. Ia masuk ke kamar si sulung, lalu, mungkin, bicara di sana.
Pisca dan Canestra duduk di depan tivi, tidak mendengar apa-apa.
      Satu jam kemudian, Ibu keluar dengan wajah murung, tapi dibikin agar kelihatan berseri.
Ia tampak aneh."Aku tahu selama ini kita tak pernah jujur dengan makan malam itu. Satu-
satunya yang jujur hanya dia. Kita semua sudah bosan, ya kan? Ibu juga. Dan mulai saat ini,
tidak ada lagi kebohongan apa pun. Tinggalkan saja jika kalian memang tak setuju. Ibu juga
sudah lelah memikirkan menu-menu makan malam untuk kalian. Ibu ingin merasa tidak perlu
menyiapkannya untuk kalian. Ibu akan mencoba. Selamat bersenang-senang!"
      Ibu terlihat enteng menyelesaikan persoalannya. Bapak menyusul Ibu ke kamar. Mudah-
mudahan mereka bercinta. Ah ya mereka sepertinya tak pernah bercinta lagi sejak beberapa
tahun ini. Padahal itu perlu, terutama bagi Ibu yang lelah luar biasa. Fisik dan jiwa. Pisca
menyelinap masuk ke kamar Aries, meninggalkan Canestra yang masih asyik nonton tivi. Ia
sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan Ibu dan Aries, sehingga Ibu keluar dengan wajah aneh,
murung tapi dipaksakan berseri. Pisca bertanya, "Ada apa?" Aries tak menjawab, namun tiba-tiba
menangis dan menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Dengan sesenggukan, ia berkata,
"Untuk apa lagi mempertahankan sebuah kepalsuan di depan Ibu? Salah satu dari kita semua
telah mengkhianati Ibu, untuk apa lagi semua ini dipertahankan?"
      Pisca menangkap ucapan kakaknya dengan jelas, namun ia tak mengerti, dan tak ingin
mengerti, karena semua itu terlalu menyedihkan baginya. Apalagi yang lebih menyedihkan
ketika tahu seseorang telah berkhianat kepada Ibu? Siapa pun dia, Pisca tak ingin tahu. Ia tak
ingin mendendam, apalagi terhadap keluarganya sendiri. Tapi, bukankah Ibu selalu tahu apa
yang terjadi? Semua pertanyaan bertumpuk-tumpuk di kepalanya.
      Sesuatu yang kelak retak, yang Ibu pernah berusaha membikinnya abadi, kini sudah benar-
benar retak berkeping-keping dan tak mungkin disatukan lagi. Sejak saat itu, makan malam
bersama tidak rutin lagi bagi mereka. Hanya Ibu yang masih betah di sana. Sesekali Pisca atau
Canestra mendampinginya. Mungkin tiba saat ketika ia benar-benar rindu makan malam
bersama.
      Sialnya, Bapak benar-benar tak memahami persoalan dengan baik. Ia sok bijak dan pandai.
Kata-katanya sungguh tak tepat untuk menggambarkan seluruh keadaan ini. "Benar kan, Ibumu
memang perempuan biasa-biasa saja. Ia bahkan menganggap hal remeh ini sebagai kiamat dalam
hidupnya!" Pisca meradang. Ia merasa Bapak yang sombong itu harus dihentikan.
"Apa yang biasa? Apa yang tak biasa? Bapak juga laki-laki biasa, yang tak bisa seperti Ibu.
Bapak jauh lebih biasa dari Ibu. Ibu, setidaknya berusaha membikin tradisi agar kita tahu arti
kebersamaan sekalipun di atas meja makan. Tapi lihatlah Bapak yang hanya suka mengejek tapi
tak pernah melakukan apa pun, bahkan tak pernah berusaha melakukan apa pun!" Bapak diam.
Dia kelihatan tersinggung. Tapi Pisca suka dan puas membuatnya tersinggung. Pisca
memutuskan untuk menemui Ibu. Ibu menyambutnya dengan senyum. Ia tahu Pisca akan
berbicara soal Bapak, soal biasa dan tak biasa. Ibu mencegahnya bicara lebih dulu, "Begini.
Bapak benar soal Ibu yang biasa-biasa saja. Ini sudah seharusnya. Ibu menerima semua itu,
bukan karena Ibu pasrah tapi Ibu mengerti betul kalian semua dan juga persoalan ini. Ibu
memang perempuan biasa, tak ingin menjadi yang tak biasa. Ibu mencintai Bapak, kalian semua.
Ibu tak bisa memberi uang, maka Ibu cuma memberi kemampuan Ibu memasak, itu pun jika
kalian mau menikmatinya." "Tapi Bu, ini penghinaan. Masalah makan malam itu bukan masalah
sekadar, bukan masalah remeh temeh. Sebesar itu usaha Ibu membangun tradisi kebersamaan di
keluarga kita, tapi Bapak bahkan menganggapnya tak ada. Kita belajar satu sama lain di meja
makan itu, kita memutuskan hidup kita di atas meja makan itu, dan ingat, ketika Bapak berhenti
bekerja di kantor karena penyelewengan dana yang sangat memalukan itu, yang menolong
Bapak adalah kita, juga di atas meja makan itu." "Bapak kini sedang merasa kesepian, ia
kehilangan saat-saat terbaiknya, itu hal tersulit yang pernah ditemuinya. Kita harus memahami
itu."
      Dari beranda, Bapak mendengar semua percakapan itu. Ia berpikir bahwa istrinya memang
baik, pengertian dan sabar, tapi sungguh ia sangat biasa, dan yang terpenting, tak
menggairahkan.
Drama :
Judul      : Penyesalan
Pemain     : 6 orang
             - Papah
             - Mamah
             - Ikal
             - Lucy
             - Gisela
             - Joe

      Ada suatu Keluarga yang hidup dengan serba kemewahan mereka sering menghambur-
hamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting, padahal mereka mempunyai anak yang sangat
berbeda sifat dengan orang tuanya, yang baru duduk di kelas 2 SMP, walaupun anaknya sering
menasehati kedua oarangtuannya tetapi malahan mereka tidak mau menanggapinya, mereka
menganggap omongan anaknya tidak berarti apa-apa baginya, anak mereka juga tidak boleh
bergaul dengan orang miskin. sampai pada malam hari di rumah mereka sedang berkumpul dan
berbicang bincang di ruang keluarga.

Mamah      : Papa ! tadikan mama ke Mall bersama teman arisan mamah, mamah melihat
             perhiasan yang sangat bagus dan langka lho !!! bolehkah mamah membeli
             perhiasan itu ??? ( duduk di samping suaminya sambil menarik-narik baju
             suaminya )
Papah      : Tentu saja boleh, apa sih yang enggak buat mamah, mau mamah membeli Tokonya
             juga papa belikan kok !
Mamah      : Wah ! papa baik sekali dengan mamah terima kasih ya pah !!!
Papah      : Iya mah sama-sama !
Lucy       : Mamah, bukankah kemarin mamah baru membeli kalung berlian ? mengapa
             sekarang mamah ingin membeli perhiasan lagi ?
Mamah      : Sudahlah biarkan saja, lagi pula papah mu mengizinkan mamah untuk membelinya
             kok !! memangnya kamu ingin membelinya juga ?
Lucy       : Tidak-tidak, tapi mah… itu kan sama saja kita melakkan pemborosan, apa lagi
             mamah kan setiap hari selalu mejeng diMall bersama teman arisan mamah
Papah      : Sudahlah nak.. tidak apa-apa selama kita masih hidup berkecukupan, kita boleh
             kok melakukan atau membeli-beli barang yang kita mau, memangnya kamu mau
             papah belikan apa ?
Lucy       : Oh tidak usah pah… terima kasih, tapi apa salahnya kita berhemat, bisa saja saat
             kita kesusahan dan krisis nanti kita dapat memakainnnya .
Mamah      : Helloo ???? jaman sekarang berhemat untuk apa sayang ??? apa kau tidak melihat
             perusahaan papah mu itu ada dimana-mana, seharusnya kamu bersyukur hidup
             serba berkecukupan seperti ini malah ingin berhemat !!
Lucy       : Ya sudahlah mah, aku kan tadi hanya usul saja ! baiklah mah sudah larut malam
             aku ingi tidur dulu ya ! selamat malam semuanya ( bersalaman kepada kedua orang
             tuanya )
Papah      : Salamat malam juga sayang, mimpi indah ya nak !!!
Lucy       : Iya pah ! ( sambil menuju Kamar )

      Pada keesokan paginya mereka bersiap-siap untuk melakukan aktifitasnya masing-masing,
anaknya ber Sekolah dan papahnya berangkat ke Kantor, di sekolah Lucy mempunyai tiga teman
mereka mempunyai sifat yang berbeda-beda ada salah satu temannya yang kurang mampu tetapi
sangat baik hati, pintar, ramah rendah hati dan percaya diri, sedangkan dua temannya itu memliki
sifat yang sombong, suka memilih-milih teman, jahat,,memang mereka berdua adalah orang
yang serba berkecukupan,sampai padasuatu hari di sekolah ada sedikit perselisihan dan
kebetulan juga mereka sekelompokuntukmengerjakan tugas Sekolah.

Lucy       :     Hai bagaimana ini, kita kerja kelompoknya kapan ? sebentar lagikan tugas
               Sekolahnya akan seger dikumpulkn.
Ikal       : Wah ia juga ya,bagaimana jika nanti sehabis pulang Sekolah, tetapi kita berkerja
             kelompok dimana ?
Gisela     : Yang pasti kita jangan bekerja kelompok di Rumah Ikal, Rumah dia kan kecil dan
             kumuh,laginkan aku nggak boleh sama orang tua aku jika bermain ketempat
             kumuh-kumuh seperti itu .
Joe        : Iya betul sekali itu pastikan Rumah Ikal itu bau banget dan sempit sekali, pokoknya
             aku tidak akan mau kerja kelompok jika dirumah Ikal !
Lucy       : Teman kalian jangan ngomong seperti itu, belum tentu apa yng di ucapkan kalian
             itu benar, lagiankan tujuan kita itu untuk belajar bukan untuk bermain !
Ikal       : Sudahla tidak apa-apa perkataan mereka itu benar kok,kalu kita belajar di tempat
             yang tidak nyaman kan juga mempengaruhi tugas kita juga .
Joe        : Bagaimana kalau di Rumah Lucy saja !
Gisela     : Iya aku setuju, papah dan mamah aku kan kenal dekat dengan orang tua mu Lucy!
Lucy       : Ya sudahlah, kalian langsung ke Rumah ku ya, nanti aku di jemput dengan mobil,
             kalian bisakan ?
Ikal       : Okelah !

     Bel pulang Sekolah pun berbunyi mereka bersiap-siap untuk ke Rumah Lucy, Lucy sudah
dijemput oleh supir pribadinya, mereka semua pun langsung menuju Rumah Lucy. Sampai di
sana mamah Lucy sedang membaca-baca buku.

Lucy       : Mamah aku pulang ! ( mencium tangan mamahnya )
Mamah      : Sayang kamu sudah pulang, wah teman-teman mu kok pada kesini emangnya ada
             acara apa ?
Lucy       : Mau kerja kelompok mah !
Joe        : Selamat Siang tante ! ( mencium tangan mamahnya Lucy)
Mamah      : Iya selamat Siang !!!
Gisela     : Tante selamat Siang, (mencium tangan mamahnya Lucy )
Mamah      : Iya selamat Siang juga….
Ikal       : Tante, selamat Siang !(mencium tangan mamahnya Lucy)
Mamah      : Iya selamat Siang juga !Ayo semua masuk jagan malu-malu silahkan duduk!
Ikal       : Terima kasih tante !
Lucy       : Teman-teman ku tinngal sebentar dulu ya!
Ikal       : Oh….. yasudah !!
Mamah      : Kalian mau minum apa ?
Gisela     : Oh tidak usah tante terima kasih banyak!
Joe        : Iya tante tidak usah, jadi merepotkan !
Mamah      : Oh tidak kok !

     Agak lama kemudian Lucy pun datang, dia baru saja mengganti baju ! lalu bekajar pun
dimulai, pada saat belajar Lucy dan Ikal sangat serius,tetapi Gisela dan Joe malah asyik bermain
dam mengobrol- ngobro ! hingga terjadi perselesihnan.

Ikal       : Hai kalian jangan bisanya santai-santai saja ! cepat bantu aku dan Lucy
             menyelesaikan ini semua agar cepat selesai .
Ikal       : Iya kalau kalian santai- santai seperti ini akan kulaporkan pada pak guru lho !!
Gisela     : Cerewet sekali kalian berdua aku itu lelah dan capek !
Joe        : Lagian kan tugasnya mudah sekali, kita berdua hanya ingin beristirahat sebentar
             saja kau jangan emosian gitu dong !
Lucy       : Siapa coba yang emosian, aku hanya memperingati kau saja kok.
Ikal       : Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi, nanti kita tidak bakal selesai nih
             mengerjai tugasnya kan besok harus di kumpulkan !
Gisela     : Baiklah !

     Mereka mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam Gisela dan Joe menunggu
jemputan di Rumah Lucy, sedangakan Ikal pulang dengan berjalan kaki. Pada saat Gisela dan
Joe menunggu jemputan, papah Lucy pun datang, mereka berdua pun mengobrol-mgobrol
dengan kedu orangtuanya Lucy tentang si Ikal, pada saat mengobrol Aulia sedang Kamar.

Mamah      :   Kalian belum juga dijemput ?
Joe        :   Belum tante sedang di perjalanan !
Mamah      :   Apa perlu supir tante yang mengantarkan kalian pulang ?
Gisela     :   Oh.. tidak usah tante, lagian juga supir aku sedang di perjalanan !
Papah      :   Sepertinya om pernah meliat kamu ! (berbicara dengan Gisela)
Gisela     :   Iya om aku anaknya pak Bastian pemilik perusaan Mobil terkenal itu lho…
Papah      :   Oh iya om ingat sekali dia itu kan temn kerja om !
Gisela     :   Saya juga tau om.. Papah aku kan sering cerita sama aku !
Papah      :   Om nitip salam ya buat papa kamu !
Gisela     :   Oke om !
Papah      :   Terima kasih ya, oh ya om mau kebelakang dulu ya !
Mamah      :   Oh ternyata kamu itu anaknya pak Bastian ya !
Gisela     :   Iya tante !
Joe        :    Wah sepertinya jemputan ku sudah datang nih ! tante aku pulang dulu ya terima
              kasih banyak tante, Gisela aku pulang duluan ya !
Mamah       : Oh iya sama-sama hati-hati ya, lain kali main kesini lagi ya ! (melambai-lambaikan
              tangannya)
Gisela      : Iya, hati-hati ya !
Joe         : Iya tante !!! (melambai – lambaikan tangannya)
Setelah Joe pulang., mamahnya Lucy bersama Gisela membicarakan kehidupannya Ikal.
Mamah       : Tadi anak laki-laki itu siapa namanya ?
Gisela      : Oh itu namanya Ikal tante, memangnya ada apa dengan dia tante ?
Mamah       : Sepertinya dia beda ya dengan kalian semua, maksudnya tante itu dia dekil seperti
              orang miskin !
Gisela      : Emang benar tante dia itu orang miskin, aku saja malu sekelompok sama dia, dia
              itu bau tante ! Rumahnya saja kumuh dan kecil sekali,
Mamah       : Wah menjijikan sekali , jangan sampai lah Lucy bermain dengan anak itu!
Gisela      : Tante, Lucy itu kalau di Sekolah selalu bermain bersama Ikal, kita saja udah sering
              bilang ke Lucy untuk jangan bermain bersama Ikal tapi tetap saja Lucy tidak mau
              mendengar kata-kata aku !
Mamah       : Baiklah nanti tante saja yang akan bicara dengan Lucy !
Gisela      : Tante itu dia jemputan ku sudah datang. Aku pulang dulu ya tante terima kasih
              banyak ya …
Mamah       : Iya terima kasih kembali, lain kali main kesini lagi ya !! (melambai-lambaikan
              tangannya)

     Pada     malam     harinya    papah      dan     mamahnya     Lucy     memperingati
Lucy untuk jangan bermain dengan Ikal, tetapi Lucy tidak mau mengikuti apa yang dikatakan
orang tuanya.

Mamah      : Lucy! kemarilah ada yang ingin papah dan mamah sampaikan kepada mu !
Papah      : Lucy kemarilah sayang !
Lucy       : Iya pah ! mah ! ada apa ? sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan
             kepadaku ! (berjalan menghampiri mamah dan papah nya)
Papah      : Sini duduklah di samping papah !
Lucy       : Ada pah! Mah! ?
Mamah      : Kamu ingat tidak dulu mamah sudah pernah bilang kepada mu untuk tidak boleh
             bermain bersama anak miskin !
Lucy       : Jadi ini yang ingin papah dan mamah sampaikan ? mengapa sih mah pah aku tidak
             boleh bermain berama Ikal ? dia itu anak baik- baik dia juga pintar dalam segala
             pelajaran
Papah      : Bukan begitu Lucy , bisa saja dia itu jahat , memang dia pintar dalam segala
             pelajaran, jadi kamu dekat dengan dia itu karena dia pintar ?
Lucy       : Iya juga pah, dia itu juga baik, rendah hati, tidak sombong, maka dari itu aku ingin
             bermain dengan dia !
Papah      : Pintar ? papah bisa menyewa guru atau orang paling pintar untuk mengajari kamu,
             banyakkan teman yang lebih baik dari pada dia !
Lucy       : Tidak pah, dia adalah teman terbaikku !
Mamah      : Cukup sudah Lucy, kesabaran mamah sudah hilang, mamah tidak mau mendengar
             alasan kamu lagi ! ( membentak dan berdiri dari duduknya )
Lucy       : Baiklah kalau mau mamah seperti itu, mamah dan papah tidak tau mana yang baik
             dan mana yang buruk, hanya bisa menilai orang dari kaya dan miskinnya saja !
Mamah      : Beraninya kamu bicara seperti itu !! (hampir menampar Lucy dan sempat di tahan
             tangannya oleh papah )
Papah      : Sabar mamah !
Lucy       : Tampar Lucy mah silahkan ! (menangis dan sambil membentak mamahnya)
Papah      : Lucy cepat kamu masuk kamar
Lucy       : Baiklah ! kalau itu mau mamah aku akan menurutinya, demi kebaikkan mamah.
             (meninggalkan papah dan mamahnya)

      Keesokan pagi harinya di Sekolah Lucy pun pada saat istirahat tidak mengobrol dan
bermain bersama Ikal lagi, tetapi bermain bersama Gisela dan Joe, tetapi Lucy sebenarnya
terpaksa melakukan hal ini.

Lucy       : Gisela kita ke kantin yuk !
Gisela     : Tumben kau mau bermain bersama kita ! ada apa dengan mu ?
Lucy       : Tidak apa-apa kok, memangnya aku tidak boleh bermain dengan mu?
Joe        : Ya.. aneh aja biasanya kan kamu bermain dengan Ikal !
Lucy       : Tidak, aku tidak mau bermain dengannya lagi!
Joe        : Memangnya kenapa ?
Lucy       : Sudah lah jangan banyak omong, aku sudah malas membicarakannya lagi !
Gisela     : Hahhahaha bagus ! gue suka gaya lo !

     Pada saat bermain Ikal pun menghampiri Lucy, Gisela, dan Joe yang sedang asyik
bermain, tetapi mereka malah mengusir

Ikal       :teman-teman bolehkah aku ikut bermain bersama kalian ?
Gisela     : Apa iku bermain bersama kita hahaha… nyadar dong !
Ikal       : mamangnya ada apa dengan aku ?
Joe        : kamu udah bau, dekil, kumel, jorok, jelek mirip Sarimin topeng monyet juga masih
             ga nyadar ?
Ikal       : aku itu salah apa sih sama kalian sampai-sampai kalian menjauhi ku ?
Gisela     : masih kurang jelas juga ? (membentak Ikal )
Joe        : Dasar bodoh !!!
Ikal       : Dan kamu Lucy mengapa tiba-tiba kamu menjauhi ku?
Lucy       : Karena…????
Ikal       : Mengapa Lucy jawab pertanyaanku !!!!
Gisela     : Udah sana pergi !!!
Ikal       : Gisela aku ini berbicara dengan Lucy bukan dengan kamu!
Lucy       : hmmm…. Kamu Tanya saja kepada mereka !!!
Ikal       : Lucy ku mohon jawab pertanyaan aku !
Joe        : Apa belum jelas apa yang udah aku omongi tadi ?
Ikal       : apakah semua itu benar Lucy ?
Lucy       : sudah cepat kamu pergi! (membentak dan mendorong Ikal hingga terjtuh)
Ikal       : Baiklah kalau itu yang kalian mau aku akan pergi !

      Pada saat itu Lucy sangat menyesal atas semua perbuatn yang ia lakukan pada Ikal. Pada
saat itu Ikal ketempat yang sangat sepi dari orang-orang dia merenungkan sesuatu hal yaitu
mengapa teman-temannya menjauhinya.
Ikal      : Mengapa teman-teman menjauhi aku ? sebenarnya salah aku itu apa ? apa karena
            aku miskin, jelek ? aku benar-benar tidak tau apa yang menyebabkan mereka semua
            menjauhi ku !! apa lagi dengan Lucy tiba-tiba tanpa ada sebab dia menjauhi ku…
            berarti sekarang aku harus bergaul dengan orang yang selevel dengan ku, bukan
            bersama Lucy, Gisela, dan Joe mereka semua kan orang kaya tidak sepeti aku, yang
            bisanya menyusahkan orang lain saja.

     Pada saat pulang Sekolah Lucy bersama Keluargannya pergi bersenang-senang ke Mall
membeli-membeli belanjaan sangat banyak sekali menghabiskan uang banyak sekali, sebenarnya
Lucy tidak suka melakukan hal ini karena dipaksa oleh orang tuanya.

              Lucy      : Mamah kita pulan saja yuk kita sudah berbelanja barang-barang banyak
              sekali nih
Mamah     :   Iya juga sih kam tdak mau membeli apa-apa lagi nih ?
Papah     :   Iya Lucy kamu tidak ingin membeli apa-apa lagi ?
Lucy      :   Sudah pah, aku tidak ingin membeli apa-apa lagi !
Papah     :   Ya sudah ayo kita pulang !!!

      Pada saat sampai di Rumah, Lucy pun beristirahat pada saat itu mamahnya dan
pembantunya sedang tidak masak untuk makan malam, akhirnya Lucy pergi keluar Rumah untuk
membeli makanan sendirian dan pada saat itu Lucy bertemu dengan Ikal yang sedang berjalan
sendirian     membawa      buku,     dan     tidak    sengaja    mereka       bertabrakan.
Brukkk !!!!!!

Lucy      : Aduh, bagaimana sih kamu seharusnya kalau jalan tuh jangan meleng dong gimana
            sih !!!
Ikal      : Aduh maaf ya aku tidak sengaja ! (membereskan bukunya yang jatuh)
Lucy      : Iya tidak apa-apa kok !
Ikal      : Eh Lucy kamu mau kemana ?
Lucy      : aku ingin membeli makanan, kamu mau kemana ?
Ikal      : aku tadi habis mambawakan makanan untuk orang tia ku yang sedang berjualan,
            sambil membantu-membantu di sana !
Lucy      : Tetapi megapa kamu membawa buku ?
Ikal      : Oh iya tadi aku sambil membaca buku !
Lucy      : Wah kamu rajin sekali ya!
Ikal      : Tidak ah biasa sja !
Lucy      : Oh ya suda aku mau membeli makanan dulu ya !
Ikal      : Oh yasudah hati-hati ya !

      Keesokan harinya sepulsang Sekolah Lucy mendapakan berita buruk dari orang tuanya
yaitu, ternyata perusahan yang dimiliki oleh papanya bangkrut Lucy dan Keluarganya sangat
sedih, sampai-sampai Rumah yang ia tempati bersam Keluargaya pun juga disegel oleh Bank,
mereka tidak tau harus kemana lagi, merekapun akhirnya mengontrak disebuah rumah kecil,
mamanya sangat tidak bisa menerima ini semua.

Mamah     : Aku tidak menyangka bisa terjadi hal seperti ini, semua perhiasan mamah koleks-
            koleksi mamah yang mamah beli di luar negeripun juga di ambil oleh Bank.
Papah     : Sabar mah. Ini cobaan yang berat untuk kita!
Lucy      : Coba saja dulu kita menabung pada saat ini kan bisa terpakai, maksud aku itu ini,
            jadi pada saat krisis seperti ini bisa terpakai!
Mamah     : Iya mamah sangat menyesal sekali, tapi sekarang kita ingin tinggal dimana ??
Papah     : Sudah kita cari saja kontrakan yang murah…
Mamah     : Memangnya paah punya simpanan uang ?
Papah     : Alhamdulillah papa masih punya simpanan uang !

      Setelah mereka mencari-mencari kontrakan akhirnya mereka mendapatkan kontrakan yang
kecil dan murah. Pada keesokan harinya Lucypun Sekolah. Sesampainya di Sekolah ternyata
teman-teman Lucy sudah tau bahwa Keluarganya Lucy jatuh miskin, dan mereka mengejek-
ngejek Lucy.

Gisela      : Eh…. Lihat… ternyata seorang anak orang kaya, sekarang sudah jatuh miskin…
              hahahaha
Joe         : Huu… pasti orangtuanya mendadak bangkrut, karena mempunyai banyak hutang !!
Ikal        : Eh… Kalian jangan begitu dong… kalian itu bukan sahabat yang baik, saat Lucy
              susah seharusnya kalian menghibur bukan malah mengejek !!
Gisela      : Apa ?? bersahabat dengan dia ga salah denger, kapan kita bersahabat dengan dia
              kayanya ga pernah tuh…!!1
Lucy        : Gisela… kamu jangan kaya gitu dong !!! kitakan pernah bersahabat
Joe         : Aku cuman bersahabat dengan Lucy yang kaya raya, bukan Lucy yang anak
              miskin!
Ikal        : Sudah Ikal kita pergi saja tidak ada gunanya ngomong sama anak kaya raya yang
              sombong.

       Lalu Ikal dan Lucy pun pergi ke kantin…

Lucy        : Ikal kamu kenapa membela aku ? padahalkan dulu Keluarga ku pernah mencela
              kmu ?
Ikall : Aku tidak pernah memikirkan apa yang pernah papa dan mama kamu katakan pada ku dan
              lagi pula aku tau sebenarnya kamu dipaksa oleh orangtua mu untuk menjauhi aku
              !!!
Lucy        : Kau memang sahabat ku yang baik !!!

                Saat pulang Sekolah dan sesampainya di Rumah…!!!

                Lucy     : Assalamualaikum !
Mamah       :   walaikumsalam !
Lucy        :   Papah kemana mah ?
Mamah       :   Papah pergi mencari pekerjaan, sudah kamu makan sana !
Lucy        :   Iya mah…
Mamah       :   Sayang kamu tau ga tadi Malam mamah tidur digigit nyamuk… kamu gimana pasti
                kamu juga terganggu kan ?
Lucy        :   Iya sih mah tapi mau bagaimana lagi, ini cobaan untuk kita tadi di SEkolah di ejek-
                ejek orang miskin !
Mamah       :   Apa ? siapa yang mengejek kamu orang misin ? kurang ajar!!
Lucy        :    Biarkan sajalah mah…. Kitakan dulu juga bersifat seperi itu kepada orang yang
                kurang mampu !
Mamah       :    Sudahlah biarkanlah seperti itu yang lalu biarkanlah berlalu nasi telah menjadi
                bubur!
Lucy        :   Ya sudah mah aku sudah lelah mau tidur dulu !!!!!!!

      Pada malam hari papahnya pun datang, lalu mamahnya pun menceritakan kejadian yang
telah di alami Lucy di Sekolah.

Mamah       : Pah, tadi di Sekolah Lucy diejek oleh teman-temannya oaring miskin !
Papah       : Mamah ini semua salah kita, seharusnya pada sat kita kaya dulu kita rajin
              menabung bukan menghambur-hamburkan uang, jadinya seperi ini deh kita susa
              dan tidak mempunyai uang!
Mamah       : Iya pah mamah juga menyesal atas kelakuan mamah yang sering menghambur-
              hamburkan uang, mama juga menyesal telah menghina orang miskin.
Papah       : Ya sudah lah mah..! kita menitip salam permintaan maaf saja kepada Lucy untuk
              Ikal !!
Mamah       : Oh iya benar juga pah !
Papah       : Mah maaf ya hari ini papah belum mendaptkan pekerjaan !!!!!
Mamah       : Tidak apa-apa kok pah ! kita harus berusaha lagi !
Papah       : Sudah larut malam, ayo kita tidur mah !!!

     Pada keesokan Pagi harinya papah dam amah Lucy menitip permintaan maaf untuk Ikal
kepada Lucy.

Mamah       : Lucy, mamah mau menitip permintan maaf kepda Ikal ! (di depan pintu )
Papah       : Lucy, papah juga ya..!!
Lucy        : Iya nanti akan kusampaikan kepda Ikal, aku senang sekali mamah dan papah mau
              minta maaf kepada Ikal, mah pah aku berangkat dulu ya…!!!!
Mamah       : Iya hati-hati ya nk !!

      Pada saat sampai di Sekolahan, Lucypun menyampaikan kepada Ikla atas permintaan maaf
dari papah dan mamahnya.

Lucy        : Ikal ! aku ingin menyampaikan permintaan maaf mamah dan papah ku atas
              kesalahan yang telah membuat hati mu terluka !
Ikal        : Tidak apa-apa kok Lucy. Aku sudah memaafkannya, syukurlah mereka sadar.
Lucy        : Terimakasih ya, kmu memang sahabat terbaik ku !

      Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ikal pun pulang, Ia melewati Rumah Joe yang
ternyata kebakaran, ia pun memberitahukan pada Lucy dan Gisela atas musibah itu.

Ikal        : Astagfirullah Rumah Joe kebakaran… aku harus memberi tahukan pada Gisela !

       Ketika menuju Rumah Gisela, ia bertemu dengan Lucy.

Lucy        : Ada apa Kal ? kamu sepertinya terburu-buru sekali !!
Ikal        : Ru…ru…ru.. Rumah Joe kebakaran !!
Lucy        : Yang benar kamu ??
Ikal        : Benar aku tidak bohong !
Lucy        : Ayo kita beri tau Gisela !

       Ketika sampai di Rumah Gisela.

Ikal        : Assalamualaikum !!! Gisela !!!
Lucy        : Gisela !!!
Gisela      : Ada apa sih Lucy anak miskin di bawa keRumah ku ?
Lucy        : Jangan begitu Gisela, kamu hargai teman mu dong !!
Ikal        : Kamu jangan salah paham dong kita berdua kesini ke Rumah kamu tuh pingin beri
              tau doing, bahwa Rumah Joe kebakaran.
Gisela      : apa ? kebakaran ?
Ikal        : Iya benar cepat kita ke Rumah Joe ! (lari keluar panggung )

       Mereka bertiga menuju Rumah Joe. Sampai di Rumah Joe.

Joe         : Ngapain kalian kesini ? kalian mau menghina ku ya, karena Rumah ku kebakaran
              dan menjadi orang miskin ?
Ikal        : Tidak kok, kami hanya ingin melihat keadaan mu saja, kamu baik-baik sajakan ?
Joe         : Tidak jangan mendekat, kalian senangkan melihat aku seperti ini ?
Gisela      : Kamu sabar ya, mungkin ini cobaan untuk kamu !!!
Joe         : Kamu bisa bicara seperti itu ? kamu tidak merasakan apa yang kurasa sekarang ini !
Ikal        : Sudahlah Joe, mungkin ini cobaan untuk kamu yng tabah ya !
Joe         : Terimakasih ya atas suportnya aku minta maaf ya selama ini aku sering berbuat
              jahat kepada kalian berdua, aku sering menghina.
Gisela      : Iya kal, aku juga mintaa maff ya aku sudah mempermalukan mu.
Ikal        :Sudahlah aku sudah memaafkan kalian kok, lupakan yang kemarin, kita buka
              lembaran baru.
Lucy     : Nah gitu dong, coba aja dari dulu kayak gini pasti asyik, gak ada yang saling
           megejek.
Gisela   : Sekarang keta berteman ya…!!!!
Ikal     : tentu !!!
Puisi :
                                  Senja Merah Jambu



Di senja merah jambu
yang merona seperti pipimu
aku pernah menaburkan mimpi
kau pun menyandarkan harapan bukan?
dan kita sama-sama mengumbar kemesraan

                                         lalu mendung menggulung
                                         satu lagi kemesraan yang robek
                                         dalam gerimis
                                         sementara aku belum mencatatnya sebagai
                                         kenangan

sementara kau masih saja menyalahkan waktu
dan aku memaki gurat-gurat takdir

                                         Ah,
                                         inilah cinta kita
                                         serpihan mimpi yang kuhamburkan
                                         mungkin sebagai kenangan yang luput dari ingatan
Novel :

                               Takbir Cinta Zahrana

                                            Satu
       Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan iman dalam dada ia mungkin telah
memilih sirna dari dunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan orang-orang seusianya.
Banyak yang memandangnya sukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang terhormat dan
bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia mampu meraih gelar master teknik dari sebuah institut
teknologi paling bergengsi di negeri ini. Dan kini ia dipercaya duduk dalam jajaran pengajar
tetap di universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa Tengah: Semarang.
       Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai dosen paling
berdedikasi di kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan dicintai oleh
mahasiswanya. Ia juga disayang oleh keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan seusianya,
nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya. Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang
kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa sejatinya ia sangat menderita.
       Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali bermunajat kepada Sang Pencipta
siang dan malam. Ia menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir sebagai perawan tua
yang belum juga menemukan jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria. Ia bisa
menyembunyikan derita dan sedihnya dengan sikap tenangnya.
       Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa tidak menikah sejak masih duduk di S.l
dahulu? Kenapa tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian mencintainya sejak
duduk dibangku kuliah itu mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh Gugun. Ia
menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses
jadi pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya banyak dan anaknya sudah tiga.
Gugun sekarang juga punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali bertemu, nyaris ia tidak
berani mengangkat muka.
       Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung menikah? Kenapa ia lebih tertantang
masuk S.2 di ITB Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si Yuyun menawarkan
kakaknya yang sudah buka kios pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa ia
begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang
kakaknya Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu yang lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia
menikah dengan seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak. Dan sekarang telah
membuka SDIT di Sleman. Apa sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga cepat
dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses. Ia meneteskan airmata.
       Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya ia tolak tanpa pertimbangan. Dan kini
mutiara itu tidak lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagi tersedia untuknya.
Hanya bebatuan dan sampah yang kini banyak datang dan membuatnya menderita batin yang
cukup dalam.
       Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendah hati. Ketika ia sadar prestasi sejati
tidaklah semata-mata prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencari pendamping hidup
yang baik. Baik bagi dirinya dan juga bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan ingin
menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari, semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal
yang panjang yang menguji kesabarannya.
       Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat tahun. Teman-teman seusianya sudah
ada yang memiliki anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adik tingkatnya, bahkan
mahasiswi yang ia bimbing skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidak terhitung berapa
kali ia menghadiri pernikahan mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri menyaksikan
mereka berhasil menyempurnakan separo agamanya.
       Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang. Datang kepada orangtuanya untuk
meminangnya. Ia masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah sangat tahu siapa yang
akan datang. Dan sebenarnya ia juga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun pahit ia
merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal dan panjang sampai ia menemukan mutiara yang
ia harapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan pemahaman kepada ayah-ibunya
yang sudah mulai renta?
       Handphone-nya berdering. Dengan berat ia angkat,
      "Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu Merlin, atasannya di kampus. Bu Merlin,
atau lengkapnya Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I. Ia orang kepercayaan Pak
Karman. Sejak SMA ia di Semarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa Jawanya bisa
dibilang halus.
      "Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes di pipinya.
      "Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai Pedurungan. Dua puluh menit lagi
sampai." "Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara serak.
      "Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana, bukalah hatimu kali ini. Pak Karman
memiliki apa yang diinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenan menginginkanmu."
      "Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaik nanti bisa saya berikan."
      "Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya jangan lupa dandan yang cantik."
      Klik. Tanpa salam.
      Kali ini yang datang melamarnya bukan orang sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc.,
Dekan Fakultas Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat dia mengajar. Duda berumur lima
puluh lima tahun. Status dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji. Kredibilitas
intelektualnya tidak diragukan. Materi tak usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom
bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana untuk memaafkannya. Repotnya, jika
ia menolak ia sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkata bagaimana.
      Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabat karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-
buku Islami di Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah Tlogosari Kulon. Lina
berpendapat untuk tidak mengambil risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak Karman
itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalah nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari
seseorang, ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.
      Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya ia tidak melangit. Mencari manusia
setengah malaikat itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat dan puasa ya terima
saja. Apalagi ia orang terpandang. Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang. Terakhir
Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah denganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia
sepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan. Bukankah itu bagian dari dakwah yang
agung pahalanya?"
      Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Ia nyaris memutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman. Namun jika ia teringat apa
yang dilakukan Pak Karman pada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam, ia tak
mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tibatiba wajah keriput kedua orangtuanya muncul
dengan sebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk? Kowe ngenteni opo? Dadine kapan kowe
kawin, Nduk?"
                                              ***

      Lima menit sebelum rombongan Pak Karman datang, Zahrana berbicara kepada kedua
orangtuanya. Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nanti mengambil keputusan yang
mungkin tidak melegakan mereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya menangkap
apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali pasrah dalam kekecewaan. Namun mereka tetap
berharap akan terjadi hal yang membahagiakan. Mereka berdoa, kali ini semoga keputusan putri
semata wayang mereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga hatinya terbuka. Segera menikah.
Dan segera lahir cucu yang jadi penerus keturunan.
      la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga memprediksi gaya bahasa yang akan disampaikan
pihak Pak Karman. Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuk menjawab. la juga tidak lupa
menyiapkan hidangan yang pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia rapikan.
Bunga-bunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa
menjaga kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya dalam menghadapi siapapun:
harus tenang, bicara yang tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata para pemenang. Dan ia
harus menang. Ia teringat perkataan Napoleon Hill,
      "Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampak melalui kerendahan hati dan tidak
banyak cakap."
       Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental yang ia siapkan adalah mental seorang
dosen pembimbing yang siap maju sidang membela mahasiswanya mempertahankan skripsinya.
Ia sangat yakin akan kekuatannya.
       Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijau muda kesayangannya. Sangat serasi dengan
gamis bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil. Hanya dirinya dan kedua
orangtuanya yang akan menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang para kerabat. Sebab seperti
yang telah lalu, jika terjadi hal yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjingan panjang tak
berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi. Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang
sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang kecuali kebaikan. Kali ini yang ia
undang justru dua orang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganya selama ini.
       Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengah lima sore. Tidak main-main. Empat
mobil. la harus mengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua. Juga keberhasilan Bu
Merlin memprovokasi Pak Karman untuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak
menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius ini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya
cukup luas. Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk. Terpaksa duduk di beranda.
       la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin tidak tahu visi hidupnya saat ini.
Bukan sekadar materi dan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya. la mencari calon
suami yang bisa dijadikan imam. Imam yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya
kala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya benar-benar sulit kali ini. Bu Merlinlah
yang selama ini banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu memberi bocoran
adanya lowongan dosen di kampusnya.
       Rombongan telah duduk tenang. Pak Karman menyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia
tampak lebih muda dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam membuatnya tampak alim.
Seorang lelaki setengah baya, mengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak Darmanto
mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam.
Tak bicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya memang cerewet yang banyak
mengimbangi bicara. Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkan suasana. Makanan dan
minuman dikeluarkan oleh dua orang ibu-ibu yang rapi berkerudung.
       "Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana ini dengan penuh cinta. Siapa yang
memakannya insya Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakan tamu-tamunya
menikmati hidangan seadanya. Mendengar hal itu spontan Pak Karman berkomentar dengan
gaya lucu,
       "Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harus mencicipi. Agar awet muda dan bisa
menyunting bidadari."
       Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yang hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa
perkataan itu menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampah yang hendak dijejalkan ke
telinganya. Bagaimana mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya saja tidak mau ia dengar.
       Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto, juru bicara Pak Karman, masuk pada
inti kedatangan,
       "...dan maksud kedatangan kami adalah untuk menyambung persaudaraan dan
kekeluargaan dengan keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyunting putri Bapak
Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk saudara kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah
bahagianya jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."
       Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yang terbata-bata, "Pertama....tama, ka...kami
sekeluarga menyampaikan rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami juga bahagia. Bagi
ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk penghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya
dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur.
Putri kami sudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada kami berdua. Dia bisa
memutuskan sendiri mana yang baik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan."
       Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat ke arahnya. la tahu bola sekarang ada di
tangannya. Dialah sekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha untuk tenang.
Setenang ketika ia membantu argumen mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi,
       "Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad Saw., pernah bersabda, 'Al 'ajalatu
minasy syaithan. Tergesa-gega itu datangnya dari setanl' Saya tidak mau tergesa-gesa. Saya tidak
mau mengecewakan siapapun. Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya untuk
menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan langsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya
hormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab sekarang."
       Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Darmanto dan Pak Karman. Namun keduanya
tidak bisa bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum tanda setuju. Yang lain bisa
memahami dan memaklumi. Hanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata mendengar
jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana arah perkataan putrinya itu.
       Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana langsung ke kamarnya mengatur kata
yang tepat untuk disampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, dengan senyum yang susah
diartikan.
                                              ***

      "Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk? Pak Karman memang agak tua, tapi ia
berpendidikan dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya yang sudah tahu
keputusannya.
      "Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimana Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang
pas di hati saya. Itu saja." Jawab Zahrana.
      "Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia sudah haji. Sudah menyempurnakan
rukun Islam. Kita saja belum." Bantah ibunya.
      Ia merasa, memang agak susah memahamkan ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari
sudah haji atau belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak. Tidak bisa dilihat dari pakai
peci putih atau peci yang lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yang bertitel haji. Setiap
tahun haji justru untuk menutupi kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan kejahatan
di musim haji. Ibunya tidak akan nyambung dia ajak dialog masalah itu.
      "Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang. Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya
satu kampus dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti saya menikah Bu."
       Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan "pokoknya", sang ibu langsung diam
dengan raut muka sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya Tapi ia tidak mau asal
menikah. Menikah adalah ibadah, tidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat rukunnya.
Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua yang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau
gegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya kelak.
      Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban untuk Pak Karman dengan komputernya.
Bahasanya tegas dan lugas:
      Kepada Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c Di Semarang Assalamu'alaikum Wr. Wb. Semoga
Bapak senantiasa sehat dan berada dalam naungan hidayah-Nya. To the point saja, tanpa
mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya belum bisa
menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon
maklum dan mohon maaf jika tidak berkenan. Wassalam, Dewi Zahrana
      la lalu menge-print surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Ia akan minta
bantuan seorang mahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada Pak Karman besok pagi.
Dan ia sudah berketetapan akan mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pasti tidak
diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangat mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga
hal yang tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dan kembali masuk jika suasana kembali
seperti sediakala.
      Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia prediksi terjadi.
      Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Pak Karman:
      "Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa jawabanmu sangat mengecewakan
aku! "
      Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak. Entah kenapa ia merasakan ada aroma
jahat dalam setiap huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya.
      Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin:
      " Hari ini saya dicaci maki Pak Karman gara-gara jawabanmu . Saya sungguh kecewa
dengan kamu ! "
      Airmatanya meleleh.
       "Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih. Ia merasakan dunia ini begitu
sempit. Dinding-dinding kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamarnya seakan mau
rubuh menimpanya. Ia hanya bisa pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap kuat
dan tegar di jalan-Nya.
                                               ***
                                             Dua
      Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirim jawaban itu, Bu Merlin datang ke
rumahnya. Saat itu ia masih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimik serius. Mimik
yang ditakuti oleh para bawahannya, apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampusnya
itu berkata,
      "Zahrana, kamu memang bebas menentukan pilihanmu. Namun terus terang saya tidak
mengerti apa maumu. Saya tak perlu berdusta padamu, saya sangat kecewa padamu. Padahal
saya telah berusaha melakukan yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman. Namun
agaknya ini semua berantakan karena keangkuhanmu."
      "Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah berusaha menata hati dan jiwa untuk
menerima Pak Karman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat menikah, lantas saya
menikah untuk seolah-olah bahagia. Saya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya
benar-benar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya tidak mau, setelah menikah sosok Pak
Karman justru jadi monster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama sekali tidak bisa
mencintainya Bu. Meskipun sebutir zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon ibu
bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar dengan mengajak bicara dari hati ke hati.
      "Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di muka bumi ini yang bisa memaksa.
Meskipun saya kecewa saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak mengenalmu aku
tahu kau orang baik. Begini Zahrana, saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu dengan
satu tuduhan serius yang akan sangat mempermalukanmu. Ia mengisyaratkan hal itu kemarin
setelah membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kau mundur dengan terhormat
daripada dipecat! Jika marah Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak."
      "Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada kaget.
      "Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri saja. Itu saranku sebagai orang yang
sangat paham peta politik di kampus."
      "Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawan sampai titik darah penghabisan!"
      "Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak
Karman. Jika kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekat untuk dipukul sampai
mati. Mundurlah dulu. Bertiaraplah sementara waktu. Ini yang kulihat baik untukmu. Saya
berjanji suatu saat nanti jika saya ada kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kali ini
percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik kamu jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan
yang sudah saya cium dari sekarang."
      Zahrana akhirnya paham dengan apa yang disampaikan Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata
yang disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan. Namun ia belum bisa mengambil
sikap dengan cepat. Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah,
      "Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkan matang-matang saran Ibu. Saya sangat
berterima kasih."
      "Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu. Masih ada urusan yang harus saya
kerjakan." Kata Bu Merlin.
                                                ***

      Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan rasa sayang padanya, meskipun ia telah
mengecewakannya. Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya: Memaksimalkan manfaat
meminimalisir konflik. Jika masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulah yang harus
ditempuh.
      Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengendarai sepeda motornya ke rumah Lina,
temannya paling akrab sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu orang yang bisa diajak
bicara memutuskan masalahnya.
      "Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada Zahrana.
      "Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang jelas apa yang sebaiknya kulakukan
setelah mendengar saran Bu Merlin."
      "Yang paling penting menurutku adalah, apa kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu
Merlin?"
      Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat teman karibnya itu,
      "Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu Merlin. Saya percaya padanya."
      "Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu sedang sangat tersinggung dan marah
besar karena kamu tolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap denganmu di kampus. Dan
Bu Merlin melihat dia akan membuat perhitungan denganmu."
      "Jadi?"
      "Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan diri dengan baik-baik, daripada dipecat
dengan membawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat posisinya daripada kamu. Ingat
dia orang nomor satu di Fakultas tempat kamu mengajar."
      "Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apa yang harus aku katakan pada ayah dan
ibu?"
      "Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru. Dengan begitu kau bisa berdalih degan
seribu alasan yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidak kerasan lagi di kampus. Cari
pengalaman baru dan lain sebagainya."
      Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan diri. "Kau benar Lin. Besok aku akan
mengundurkan diri."
      "Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."
      "Kau memang sahabatku yang baik Lin."
                                               ***

       Pagi itu Zahrana datang ke kampus dengan membawa dua pucuk surat pengunduran
dirinya. Satu untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang rapat dengan rektor. Itu
kesempatan baginya untuk mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya sesama dosen
banyak yang kaget.
       "Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolak lamaran Pak Karman. Apa karena itu
terus kamu juga harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosen mata kuliah struktur beton
yang meja kerjanya paling dekat dengannya.
       "Saya hanya ingin cari suasana baru dan pengalaman baru. Mungkin saya akan mencoba
kerja di sebuah perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil merapikan berkas-berkasnya.
"Apa ini benar-benar sudah keputusan final?"
       "Ya. Final."
       "Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami sangat kehilangan kamu jika kamu keluar.
Tidak banyak pengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin kembali ke kampus ini jangan
segan-segan. Kami para dosen akan men-support-mu."
       "Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama ini banyak berbuat salah."
       "Sama-sama."
       Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat pengunduran dirinya di meja kerja Pak
Karman. Lalu mencari mahasiswi yang bisa membantunya mengangkat barang. Di koridor ia
bertemu dengan mahasiswi berjilbab hitam.
       "Nina!"
       "Ya Bu Rana."
       "Bisa bantu saya sebentar?"
       "Bisa Bu."
       "Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang kerja saya. Saya minta bantuannya
sedikit."
       "Baik Bu."
       Ia lalu balik ke ruang kerjanya.
       "Pak Didik?"
       "Ya Bu Rana."
       "Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampaikan ke Pak Rektor begitu saya pergi.
Data-data saya di komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus saya minta tolong dicarikan
taksi."
       "O bisa Bu."
       Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi berjilbab, dan dua orang mahasiswa datang.
Kepada mereka Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari kampus itu.
       "Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif di Lembaga Pers Kampus.
       "Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja."
       "Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.
       "Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yang berani menekan Ibu tho San." Jawab
Zahrana pada mahasiswa bernama Hasan.
       "Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?" tanya mahasiswa itu lagi.
       "O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan
membantumu, insya Allah."
       "Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipun ibu tidak di kampus ini lagi?"
       "Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana
sambil memandang wajah mahasiswanya satu per satu.
       Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barangbarangnya ke luar gedung. Tak lama
taksi datang. Zahrana pun meninggalkan kampus itu dengan membawa seluruh barang-
barangnya.
       Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruang kerjanya. Keputusannya sudah mantap
yaitu memecat Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya: tidak disiplin. "Perawan
tua itu harus diberi pelajaran!" Geramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia menangkap
sepucuk surat tergeletak di atas meja kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika meluap,
"Kurang ajar!"
       Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tiba-tiba malah dipukul KO. Ia sama sekali
tidak memperhitungkan Zahrana akan membuat keputusan nekat itu. Namun ia tetap akan
membuat perhitungan dengan satusatunya dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu.
                                               ***

      Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dari seorang
teman ia mendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen, Demak, sedang membutuhkan
seorang guru baru yang profesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah berada di
payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren besar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan
lamaran dan hari itu juga ia diterima.
      Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri Pesantren Al Fatah sangat senang.
Pengalaman mengajar Zahrana ketika mengajar di FT universitas swasta terkemuka di Semarang
adalah jaminan kualitas.
      Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang sebagian besar adalah santri. Ia berusaha
mendalami kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belum pernah menjadi santri sama
sekali. Ia merasakan nuansa yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar mahasiswa. Ada
tantangan tersendiri mengajar santri yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidak penting,
yang menganggap "ilmu umum" lainnya juga tidak penting.
      Dianggap tidak penting, karena para santri berpikiran bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum",
kelak tidak akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpenting adalah "ilmu agama",
karena ilmu itulah yang akan dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu diluruskan. Dan
Zahrana tertantang untuk meluruskannya.
      la merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih menenteramkan. Entah kenapa? Apa
karena dekat dengan banyak ulama? Atau karena m e m a n g di pesantren tempat ia mengajar
tidak ada manusia seperti Pak Karman yang dalam pandangannya sangat-sangat durjana. Hari-
harinya ia lalui dengan lebih tenang dan tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benar-benar hilang
tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultan sebuah perusahaan properti. Ia juga masih
sering didatangi mahasiswanya.
      Yang masih sering datang adalah mahasiswanya yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan
memang di bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugas pembimbingan diambil alih
oleh Bu Merlin. Hasan dan teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi dan meminjam
referensi. Ia merasa senang dengan kedatangan mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya
sendiri. Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia meninggalkan kampus dan memilih mengajar
di STM Al Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab,
      "Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan para santri."
      Ayahnya hanya mendesah tanda tidak setuju. Namun ia kemudian berusaha menghibur,
      "Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di lingkungan pesantren jadi jalan bagi
Zahrana menemukan jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh yang Zahrana harap tidak
juga datang."
      Wajah ayahnya itu sedikit cerah, "Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu harus
berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu beliau bisa membantu menemukan jodohmu." "Iya
Yah. Mohon doanya terus." "Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu siang dan malam,
Anakku." "Terima kasih Ayah."
                                                ***
       Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak didiknya Zahrana membuka komputer. Ia
hendak berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat apakah ada email yang masuk.
Apakah ada berita yang menarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan membuat blog ia
bisa menemukan jodohnya.
       Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering beberapa kali. Ada tiga SMS yang
masuk. Ia membukanya:
       "Sedang apa perawan tua ? "
       "Ternyata jadi perawan tua itu indah."
       "Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi daging tuamu yang sudah busuk di
kerubung lalat!"
       Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror paling primitif, dengan kata-kata yang
merendahkan dan menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak ia kenal. la nyaris
membalas SMS itu dengan kata-kata yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisa
menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnya ia memilih diam. Diam tanpa pernah
menganggap SMS itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh. Menanggapi omongan
orang gila berarti ikut jadi gila. Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu.
       Internetnya sudah konek. Lima email dari temantemannya sesama dosen. Semuanya
menyayangkan keputusannya meninggalkan kampus. Dan semuanya mendoakan semoga sukses
dengan pilihannya.
       Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka,
       "Apa kabar Perawan Tua?"
       "Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya. Banggalah jadi perawan tua ! "
       Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinya sakit. Tapi ia harus menang. Diam
adalah senjata pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladeni kata-kata yang tidak
mencerminkan datang dari orang terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih asyik
berselancar di dunia maya.
       Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email. Yang satu dari sebuah komunitas milis,
memanggilnya untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi bertanya ada apa dengan Pak
Didik. Baru kali ini Pak Didik mengirim email kepadanya. la buka email itu: Subjeknya:
SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN.
       Baru dikirim beberapa jam yang lalu.
        la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran. Tawaran apa yang dimaksud Pak
Didik, yang celananya selalu di atas mata kaki itu?
       Assalamu'alaikum Wr. Wb. Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu. A m i n .
Sebelumnya mohon maaf jika email saya ini mengganggu . Sebenarnya sudah lama saya ingin
mengirim email ini tapi terhambat karena beberapa sebab. Hari ini saya merasa hari yang tepat
saya mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa
saya sampaikan lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara lisan takut terjadi salah
paham. Karena bahasa tulisan bisa diedit sementara bahasa lisan tidak.
       Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang I b u . Juga apa yang Ib u cari selama
ini saya memberanikan diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk menjadi suami ibu. Maaf, to
the point saja Bu. Saya menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap lancang, untuk
menjadi isteri kedua saya. Saya yakin isteri saya bisa menerimanya nanti.
       Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang sebenarnya yang saya harapkan
adalah seorang isteri yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan yang bisanya cuma
arisan seperti isteri saya saat ini. Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya
meninggalkan dia.
       Saya yakin dengan kita membina rumah tangga bersama, kita bisa bersinergi.
dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga ibu berkenan dengan harapan ini. Saya
kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salah kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak
diartikan sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud seperti itu . Saya bermaksud kita
saling memberi manfaat. Itu saja. Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat saya, Didik Hamdani, M.T.
       Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar, mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa
yang ia rasakan. Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah menjadi gadis yang
terlambat menikah. Dan betapa susah menjadi wanita.
       Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah duda sekalipun, tawaran itu mungkin
akan sedikit menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus dijadikan yang kedua. Ia tidak
tega. Ia tidak tega pada perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga tidak tega pada
perasaan kedua orangtuanya. Mereka semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia
sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap" menjadi isteri kedua. Sakit rasanya.
Bagaimanapun ia adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada umumnya, yang benar-
benar "tidak siap", atau lebih tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidak mau"
dimadu.
        la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya, bila ia menerima tawaran Pak Didik
itu, ternyata isterinya tidak setuju. Isterinya itu lantas melabra knya dan mengatakan kepadanya,
       "Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudah tidak ada lelaki sehingga kamu tega
merampas suami orang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayu orang saja!"
       Ia tidak tahu akan menjawab apa.
       Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ia lakukan adalah men-delete-nya tanpa
me-reply sama sekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada. Matanya masih berkaca-kaca.