seni dan kebudayaan

Document Sample
seni dan kebudayaan Powered By Docstoc
					Ebeg
Ebeg' adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah Banyumasan. Varian lain dari jenis
kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang, ada juga yang
menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur) namun di wilayah Kecamatan Tambak
(Wilayah Kabupaten Banyumas bagian selatan) lebih dikenal dengan nama "ebleg". Tarian ini
menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau
putih dan diberi kerincingan. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut
dan berkacamata hitam, mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Pada kedua pergelangan
tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg
selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih, dua orang
berperan sebagai penthul-tembem, seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang, 7 orang lagi
sebagai penabuh gamelan, jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. Semua
penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. Tarian ebeg
termasuk jenis tari massal, pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti
lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. Waktu pertunjukan umumnya siang hari
dengan durasi antara 1 – 4 jam. Peralatan untuk Gendhing pengiring yang dipergunakan antara lain
kendang, saron, kenong, gong dan terompet. Selain peralatan Gendhing dan tari, ada juga ubarampe
(sesaji) yang mesti disediakan berupa : bunga-bungaan, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda
(dewegan),jajanan pasar,dll. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama
Banyumasan seperti ricik-ricik, gudril, blendrong, lung gadung,eling-eling,( crebonan), dan lain-lain.
Yang unik, disaat pagelaran, saat trans (kerasukan/mendem) para pemainnya biasa memakan
pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari
tangkainya, dhedek (katul), bara api, dll. sehingga menunjukkan kekuatannya Satria, demikian pula
pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala
atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul dan
cepet. Dalam pertunjukannya, ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe.

Laisan
Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Laisan dilakukan oleh seorang
pemain pria yang sedang mendem, badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam
kurungan, biasanya kurungan ayam, di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita.
Setelah terlebih dulu dimantra-mantara, kurunganpun dibuka, dan munculah pria tersebut dengan
mengenakan pakaian wanita lengkap. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Pada pertunjukan
ebeg komersial, salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena
sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. Laisan juga dikenal di wilayah lain
(wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren.
Lengger-Calung
Kesenian tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang di wilayah ini. Sesuai namanya, tarian
lengger-calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu), gerakan tariannya sangat
dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Di antara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan
geyol, gedheg dan lempar sampur.



Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita, kini penarinya umumnya wanita
cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk
memeriahkan suasana, badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. Jumlah penari lengger
antara 2 sampai 4 orang, mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat
menarik, rambut kepala disanggul, leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka, sampur atau
selendang biasanya dikalungkan dibahu, mengenakan kain/jarit dan stagen. Lengger menari
mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul
sehingga terlihat sangat menggemaskan. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung,
gambang penerus, dhendhem, kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam),
sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. Dalam penyajiannya calung diiringi
vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota
terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.

Angguk
Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang
dari wilayah Mataram-Bagelen. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan
gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi
sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang
semakin jarang dipentaskan. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia
sekitar 12 tahun. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis
merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Celana panjang sampai lutut dengan
hiasan garis merah pula, mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu, serta memakai
topi pet berwarna hitam. Perangkat musiknya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2
rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji
sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini
gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas
Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”,
bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja
putri...
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Banyumasan juga gemar menonton
pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit di wilayah Banyumas lebih cenderung mengikuti
pedalangan “gagrag” atau gaya pedalangan khas Banyumasan. Seni pedalangan gagrag
Banyumasan sebenarnya mirip gaya Yogya-Solo bercampur Kedu baik dalam hal cerita, suluk
maupun sabetannya, bahasa yang dipergunakanpun tetap mengikuti bahasa pedalangan layaknya,
hanya bahasa para punakawan diucapkan dengan bahasa Banyumasan. Nama-nama tokoh wayang
umumnya sama, hanya beberapa nama tokoh yang berbeda seperti Bagong (Solo) menjadi Bawor
atau Carub. Menurut model Yogya-Solo, Bagong merupakan putra bungsu Ki Semar, dalam versi
Banyumas menjadi anak tertua. Tokoh Bawor adalah maskotnya masyarakat Banyumas.

Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah napas kerakyatannya yang begitu kental
dan Ki Dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat.
Tokoh pedalangan untuk Wayang Kulit Gagrag Banyumasan yang terkenal saat ini antara lain Ki
Sugito Purbacarito, Ki Sugino Siswacarito, Ki Suwarjono dan lain-lain.

Gending Banyumasan
Gending khas lagu-lagu Banyumasan sangat mewarnai berbagai kesenian tradisional Banyumasan,
bahkan dapat dikatakan menjadi ciri khasnya, apalagi dengan berbagai hasil kreasi barunya yang
mampu menampilkan irama Banyumasan serta dialek Banyumasan. Ciri-ciri khas lainnya antara lain
mengandung parikan yaitu semacam pantun berisi sindiran jenaka, iramanya yang lebih dinamis
dibanding irama Yogya-Solo bahkan lebih mendekati irama Sunda. Isi-isi syairnya umumnya
mengandung nasihat, humor, menggambarkan keadaan daerah Banyumas serta berisi kritik-kritik
sosial kemasyarakatan. Lagu-lagu gending Banyumasan dapat dimainkan dengan gamelan biasa
maupun gamelan calung bambu. Seperti irama gending Jawa pada umumnya, irama gending
Banyumasan mengenal juga laras slendro dan pelog.

Begalan
Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan
yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita.
Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. Yang
menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan
petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini
diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara
seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak
tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama
gending. Jumlah penari 2 orang, seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan
dapur), seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Barang-barang yang dibawa antara lain
ilir, ian, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan
wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang
kayu. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa. Dialog yang
disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis
barang yang dibawa, contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi
suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Centhing, tempat nasi artinya bahwa hidup itu
memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri.
Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi, ini melambangkan bahwa setelah berumah
tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan
irama gending, penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Biasanya usai
pertunjukan, barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Sayangnya pertunjukan
begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang
upacara pengantin.

Rengkong
Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek
secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. Pikulan bambu tersebut berukuran
besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua, biasanya
menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2,6 meter. Pada kedua ujung bambu dibuat lobang
persegi panjang selebar 1 cm, sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat
bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk
mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). Di tengah masing-masing ikatan
padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke
badan bambu rengkong dekat gantungan tali ijuk. Cara memainkannya, pikulan bambu rengkong
yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri
dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada
badan bambu rengkong pun bergerak-gerak, gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan
suara berderit-derit nyaring. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan
timbul suara yang mengasyikan, khas alam petani, terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-
arakan maka suasananya akan lebih semarak.

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang
dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisionaldengan ciri
khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari
                                            [60]
keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,        yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan
hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan
nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga
musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik
Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Setelah Wayang, Batik, Keris diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, Kini giliran Angklung di
perjuangkan menjadi Warisan Budaya Dunia.
Alat Musik dari bambu ini ini selain terdapat di Sunda (Jawa Barat) ternyata juga terdapat di Jawa
tengah, Jawa timur.
berikut ini adalah ulasan tentang angklung Sunda yang terangkum dari wikipedia:

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang
disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi
wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik
angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan
(batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor,
adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari
ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman
padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah
semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus
terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang
masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung
menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat
Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini
melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi
kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan
huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan
terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak
mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun
untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi
tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah
struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya
dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-
wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan
padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat
mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung.
Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi
sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi
iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke
Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand,
antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di
sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan
berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain
angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
[sunting] Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena
hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung
digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung
ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan
(Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski
demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya
boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya
padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh
dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan
acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung
setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka
memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam
lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari
Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung
Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur,
Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh
angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri
sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari)
dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki.
Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan
pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan.
Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing,
engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh
seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan
instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug
sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa
ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan
terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua
orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di
samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir
(59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung
tersebut.
[sunting] Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat
Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan
Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya,
tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali,
setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung
adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-
pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk
masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai
keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit
bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan
pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini
berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor
telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan,
dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2
buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang
terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan
oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si
Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan
angklung cenderung tetap.
[sunting] Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah
berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam
padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim
paceklik.
[sunting] Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat
musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu
berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan
masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual
penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar
di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen,
belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah
menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan
kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4
angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau
gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa
Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-
nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain
menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.
[sunting] Buncis

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari,
Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan
padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan
dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal
berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis
dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan
dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-
rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke
mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan
demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak
diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis
kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini
dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug,
angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1
talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet,
kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau
degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela,
Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan
penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja
tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung
Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung
Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan
Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang
dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung
Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle
(1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan
berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan
dimainkan secara orkestra besar. (wikipdia)

Diposkan oleh budaya di 18:18 3 komentar

Senin, 27 April 2009

Gamelan (pengaruh dalam kehidupan sosial )




Manusia Mahluk Musical.
Tubuh manusia terdapat irama yang harmonis, (detak jantung, tarikan nafas, aliran darah, detak nadi
mempunyai keteraturan yang membentuk musik) seperti halnya alam semesta yang juga berirama.
Nada-nada alam semesta yang tertangkap oleh kepekaan rasa diungkapkan menjadi nada-nada
Gamelan. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritual.
Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Sang
Maha Pencipta, bahasa pertama yang menjadi asal muasal kehidupan. Sebagai media dan bentuk
komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran,
diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas
etnis, agama, komunitas dan negara.
Musik gamelan (Jawa,Bali,Sunda) adalah salah satu musik tradisional Indonesia yang kian dapat
diterima keberadaannya di dunia internasional. Alat musik yang diduga kuat telah ada sejak tahun
167M telah diajarkan disekolah-sekaolah maupun universitas diantaranya di Amerika, Inggris,
kanada, Australia, Singapura dan masih banyak Negara lainnya, bahkan baru-baru ini gamelan telah
tersebar di benua afrika tepatnya di negara Namibia. Menurut Prof Dr. Rahayu Supanggah dalam
sarasehan gamelan for the young beberapa waktu lalu di Laurensia School, gamelan telah diajarkan
sebagai pendidikan karakter bagi anak-anak sekolah dasar di Singapura, bahkan di Inggris digunakan
sebagai media terapi bagi narapidana kelas satu, program ini dikenal dengan good vibrations. Nilai-
nilai filosofi dalam gamelan adalah nilai-nilai keharmonisan hubungan manusia baik secara
horizontal maupun vertical dengan sang maha penciptanya.

Nilai-Nilai Strategis Dalam Gamelan
Menurut Judith Becker dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central
Java”, mengemukakan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, elemen Gamelan digunakan
sebagai media pemujaan eksternal dan internal. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan
makna esoteris nada-nada Gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa.
Gamelan sebagai yantra, alat, dapat membantu tahapan meditasi sebelum mencapai keadaan
Samadhi/Semedi. Melalui media musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan fikir, penjernihan
hati dan pemurnian jiwa yang berujung pada penyembuhan psikologis.
Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi air, sehingga musik yang indah
akan membuat air membentuk kristal hexagonal yang indah. Memahami bahwa baik manusia,
hewan dan tanaman mengandung air, maka suara musik akan mempengaruhi semua makhluk hidup.
Organ-organ manusia mempunyai getaran dengan berbagai frekuensi. Walau frekuensi yang dapat
didengar manusia berkisar 20 Hz-20 KHz, frekuensi suara berbagai alat gamelan sangat bervariasi
dan memungkinkan terjadinya frekuensi yang sama dengan organ tubuh. Bila getaran suara
Gamelan mempunyai frekuensi yang sama dengan suatu organ tubuh yang lemah, maka resonansi
yang terjadi dapat memperkuat dan menyembuhkan organ yang bersangkutan. Musik yang
harmonis juga akan mebuat sapi merasa tenang dan mempengaruhi sistem kelenjar yang
berhubungan dengan susu. Selanjutnya, getaran frekuensi tinggi dari Gamelan akan merangsang
‘stomata’ tanaman untuk tetap terbuka, meningkatkan proses pertumbuhan. Bunga-bunga yang
beraneka warna pada umumnya mempunyai panjang gelombang sama seperti panjang gelombang
warnanya. Suara alat-alat musik yang bervariasi panjang gelombangnya dapat mempengaruhi organ
yang sama panjang gelombangnya.
Sebuah lembaga penelitian tentang perkembangan otak di jepang mengadakan riset tentang
pengaruh gelombang suara supersonic terhadap perkembangan otak. Gelombang suara supersonic
adalah suara yang tidak dapat dideteksi/didengar oleh telinga kita tanpa bantuan alat khusus.
Ternyata gelombang suara supersonic mampu menstimulasi peningkatan produksi beberapa
hormon penting di otak yang mana sangat baik untuk perkembangan otak. dan ternyata gamelan
(Jawa dan Bali) banyak sekali
memproduksi gelombang supersonic ini jauh lebih tinggi dari musik klasik. Sesuatu yang mungkin
tidak pernah diketahui oleh kita yang mempunyai budaya ini, tetapi justru orang asing yang
menelitinya dan mampu memanfaatkannya.
Pertanyaan yang sangat menggelitik adalah, kenapa bangsa asing begitu giat menggunakan gamelan
sebagai media pendidikan? Sedangkan ditanah kelahirannya gamelan masih saja mendapatkan
stigma sebagai seni musik tradisional yang ketinggalan jaman? terjebak pada istilah pelestarian seni
tradisi dan tidak melihat gamelan sebagai sebuah media pencerdasan emosional dan estetika.
Ada beberapa factor yang membuat gamelan belum maksimal di dunia pendidikan maupun di
masyarakat, factor kurangnya keberanian para praktisi gamelan keluar dari pakem yang selama ini
dianutnya, pakem dianggap aturan/tatacara yang sudah final sehingga tidak perlu lagi adanya
pakem-pakem baru. Kedua adalah factor minimnya para peneliti/ilmuwan dalam seni tradisi
(gamelan) tentang kegunaan/efek gamelan bagi kecerdasan emosional anak. Ketiga factor gamelan
yang dipresepsikan hanya untuk dimainkan oleh orang dewasa, keempat minimnya komposisi musik
gamelan yang khusus dimainkan oleh anak-anak. Kelima hegemoni musik barat yang selalu
dipaksakan menjadi acuan dalam pembelajaran musik di Indonesia, padahal sejak era 2000an hingga
kini pendidikan musik di Negara maju sudah mulai mengadopsi gamelan sebagai bagian dari
pendidikan karakter, karena gamelan dinilai sebagai musik yang humanis, karena nilai-nilai
kebersamaan, empati, toleransi dan kolektifitas yang menjadi suatu kekhasan dalam gamelan,
karena hal tersebut tidak didapatkan dari musik klasik barat yang cenderung individualis, miskin
improvisasi, dan kaku karena harus memainkan sesuai dengan perintah partitur.

Strategi Pembelajaran Musik Gamelan
Materi-materi pembelajaran gamelan harus dibuat untuk tidak menyulitkan para siswa. Yang
diutamakan adalah efek rasa senang, serta dapat berekspresi. Dalam materi untuk tingkatan awal
komposisi nada-nada sederhana yang bersifat ritmik akan dapat membantu tingkat kepekaan dan
keteraturan emosi, tingkatan awal ini sangat membantu bagi para siswa pemula (termasuk siswa
dengan kebutuhan khusus) untuk selanjutnya dapat bermain dengan dinamika permainan emosi dan
dapat berkomunikasi musical dengan baik. Komunikasi musical musik gamelan tidak diatur dalam
notasi/partitur seperti halnya musik barat, namun disampaikan melalui symbol symbol suara yang
mengalir sehingga kepekaan, konsentrasi dan intuisi akan sangat berperan penting dalam hal ini.
Kolektivitas dalam musik gamelan akan membuat ritme dan dinamika permainan musik dapat
berjalan mengikuti pola layaknya sebuah aliran air yang terkadang berjalan cepat dan lambat secara
bersamaan.
Pengendalian diri dan emosi dalam sebuah permainan gamelan membutuhkan proses yang tidak
sebentar, keharmonisan hubungan social diantara siswa akan berpengaruh baik pada kualitas musik
yang dihasilkan begitu pula sebaliknya, ketidakharmonisan social dalam sebuah kelompok akan
berpengaruh buruk pada musik yang dihasilkan. Hal tersebut sudah menjadi konsekuensi logis
karena dalam bermain gamelan sangat dibutuhkan rasa empati dan toleransi. Tingkatan permainan
gamelan memang mempunyai tingkat kesulitan yang sama dengan dengan musik orkestra di barat,
namun ketika diposisikan sebagai media untuk belajar tentu saja diperlukan berbagai variasi
komposisi yang sesuai dengan kemampuan musical siswa, sehingga keberadaan tingkatan/jenjang
dalam sebuah komposisi musik di gamelan tidak mutlak diperlukan.
Permainan musik yang sederhana, dinamis dan mudah akan dapat menjadi alat terapi yang murah
dan meyenangkan bagi pengendalian emosi, dan stimulus otak sebab ketika bermain musik secara
kolektif dengan akustik gamelan yang bersuara supersonic, maka tingkat kesadaran, kekompakan
dan konsentrasi kita berada pada titik frekuensi yang sama, sehingga apabila ada beberapa individu
yang tidak mampu berkonsentrasi dan lemah dalam pengendalian emosinya maka akan berdampak
pada keseluruhan harmoni yang dibangun, sehingga diperlukan latihan yang lebih intensif dan
mandiri.
Individu yang belum halus dan terasah rasanya dan mempunyai kecenderungan menggunakan logika
dari otak kirinya, sulit menerima hal-hal yang berada di luar logika. Padahal manusia yang utuh tidak
hanya menggunakan logika, tetapi rasa, intuisi dan juga hati nuraninya.
Diposkan oleh budaya di 18:07 0 komentar

Label: tulisan joko

Minggu, 08 Februari 2009

Seni Tari Jaipong




Jaipongan

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung,
Gugum Gumbira.
Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui
dan mengenal betul
perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Gerak-gerak bukaan, pencugan,
nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi
untuk mengembangkan
tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sejarah

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk
tari pergaulan ini.
Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam
pertunjukan tari-tari
pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak
lagi berfungsi untuk
kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan
memiliki daya tarik
yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh
masyarakat Sunda,
diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini
hanya didukung oleh
unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah
ketuk, dan gong.
Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari
yang sederhana sebagai
cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan
aktif dalam seni pertunjukan
Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah
Pantai Utara Jawa Barat
(Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran
yang pola tarinya maupun
peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk
Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi
tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola
gerak Bajidoran diambil dari
tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi
(Ketuk Tilu) yang mengandung
unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada
gilirannya menjadi dasar penciptaan
tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta
Topeng Banjet adalah
Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang
memang karena dasar tarian itu
merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental
dengan warna ibing Ketuk Tilu,
baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan
sebutan Jaipongan.

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong"
dan "Rendeng Bojong"
yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu
muncul beberapa nama penari
Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal
kemunculan tarian tersebut sempat
menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari
ekspos beberapa media cetak,
nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980
dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta.
Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi,
hajatan maupun perayaan-perayaan
yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari
untuk lebih aktif lagi menggali jenis
tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan
oleh para penggiat seni tari untuk
menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam
sebagai pemikat tamu undangan, dimana
perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai
usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama
Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan
Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan
kesederhanaan (alami, apa adanya).
Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola)
seperti pada seni Jaipongan yang
ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan
Subang dan Karawang. Istilah ini
dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya,
Jaipongan gaya kaleran ini,
sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing
Pola), biasanya dibawakan oleh
penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan
lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan
dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan)
sambil salam tempel. Istilah jeblokan
diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum
Gumbira menciptakan tari lainnya seperti
Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari
Kawung Anten. Dari tarian-tarian
tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri,
Miming Mintarsih, Nani, Erna,
Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini
nampak pada beberapa acara-acara
penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut
dengan pertunjukan tari Jaipongan.
Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari
Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat
Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan
hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan
dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni




Sumber:
* Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat,
Bandung.
* wikipedia

Diposkan oleh budaya di 17:19 0 komentar

Label: Tari jaipong sunda

Rabu, 21 Januari 2009

Seni Budaya Banjar




Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu
kaum/puak/suku/bangsa tertentu.
Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang
yang terdahulu.
Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidamauan masyarakat untuk
mengikuti tradisi tersebut.

Seni Tradisional Banjar Tak Berbasis Sastra
Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya
belum maksimal, meliputi berbagai bidang seni budaya.

Seni Tari
Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana
(kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama
"Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata
tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan
dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-
gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni
tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :
* Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.
* Tari Baksa Panah
* Tari Baksa Dadap
* Tari Baksa Lilin
* Tari Baksa Tameng
* Tari Radap Rahayu, dalam upacara perkawinan
* Tari Kuda Kepang
* Tari Japin/Jepen
* Tari Tirik
* Tari Gandut
Lagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :
* Ampar-Ampar Pisang
* Sapu Tangan Babuncu Ampat
* Paris Barantai
* Lagu Banjar lainnya

Seni Anyaman
Seni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan
kopiah.

Seni Lukisan Kaca
Seni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan
Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan
pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.

Seni Tatah/Ukir
Motif jambangan bunga dan tali bapilin dalam seni tatah ukir Banjar
Seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu
dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan
masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan
benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam
kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung,
geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.

Pencak Silat Kuntau Banjar
Pencak Silat Kuntau Banjar adalah ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah
perantaun suku Banjar.

Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)
Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi
yang merupakan tempat kediaman raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang
menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat. Jenis-jenis rumah Banjar:

1. Rumah Bubungan Tinggi, kediaman raja
2. Rumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat raja
3. Rumah Gajah Manyusu, kediaman "pagustian" (bangsawan)
4. Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawa
5. Rumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh
6. Rumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagar
7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara)
8. Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasa
9. Rumah Tadah Alas
10. Rumah Lanting, rumah diatas air
11. Rumah Joglo Gudang
12. Rumah Bangun Gudang

Jukung Banjar
Miniatur jukung gundul suku Banjar
Erik Petersen telah mengadakan penelitian tentang jukung Banjar dalam bukunya Jukungs Boat From
The Barito Basin, Borneo. Jukung adalah transportasi khas Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada
teknik pembuatannya yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang kayu bulat
yang akan dibuat menjadi jukung. Jenis Jukung :

1. Jukung Sudur (rangkaan)
1. Jukung Sudur Biasa
2. Jukung Sudur Bakapih
3. Jukung Sudur Anak Ripang
2. Jukung Patai
1. Jukung Biasa
2. Jukung Hawaian
3. Jukung Kuin
4. Jukung Pelanjan
5. Jukung Ripang Hatap
6. Jukung Pemadang
3. Jukung Batambit
1. Jukung Tambangan
2. Jukung Babanciran
3. Jukung Undaan
4. Jukung Parahan
5. Jukung Gundul
6. Jukung Pandan Liris
7. Jukung Tiung

Jenis perahu lainnya misalnya :
1. Penes
2. Kelotok

Wayang Banjar
Wayang Banjar terdiri dari :
1. Wayang kulit Banjar
2. Wayang gung/wayang Gong yaitu (wayang orang versi suku Banjar

Mamanda
Mamanda merupakan seni teater tradisonal suku Banjar.

Tradisi Bananagaan
1. Naga Badudung
2. Kepala Naga Gambar Sawit
3. Kepala Naga Darat

Madihin
oleh Tajuddin Noor Ganie, MPd

Etimologi dan definisi
Madihin berasal dari kata madah dalam bahasa Arab artinya nasihat, tapi bisa juga berarti pujian.
Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja.
Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara
mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar.
Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat
anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan
bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor
Banjar di Kalsel.

Bentuk fisik
Masih menurut Ganie (2006), Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait.
Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya
minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a,
a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus
sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara
tematis.

Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan.
Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1
orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan). Anggraini Antemas
(dalam Majalah Warnasari Jakarta, 1981) memperkirakan tradisi penuturan Madihin (bahasa Banjar :
Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526.

Status Sosial dan Sistim Mata Pencaharian Pamadihinan

Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa
Banjar Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan,
keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak,
pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala,
dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar).

Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan
merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara
perorangan maupun secara berkelompok.

Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni :
(1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang
sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk
mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin
secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika
menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin
(menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika
menuturkan Madihin di depan publik.

Tradisi Bamadihinan masih tetap lestari hingga sekarang ini. Selain dipertunjukkan secara langsung
di hadapan publik, Madihin juga disiarkan melalui stasiun radio swasta yang ada di berbagai kota
besar di Kalsel. Hampir semua stasiun radio swasta menyiarkan Madihin satu kali dalam seminggu,
bahkan ada yang setiap hari. Situasinya menjadi semakin bertambah semarak saja karena dalam satu
tahun diselenggarakan beberapa kali lomba Madihin di tingkat kota, kabupaten, dan provinsi dengan
hadiah uang bernilai jutaan rupiah.

Tidak hanya di Kalsel, Madihin juga menjadi sarana hiburan alternatif yang banyak diminati orang,
terutama sekali di pusat-pusat pemukiman etnis Banjar di luar daerah atau bahkan di luar negeri.
Namanya juga tetap Madihin. Rupa-rupanya, orang Banjar yang pergi merantau ke luar daerah atau
ke luar negeri tidak hanya membawa serta keterampilannya dalam bercocok tanam, bertukang,
berniaga, berdakwah, bersilat lidah (berdiplomasi), berkuntaw (seni bela diri), bergulat, berloncat
indah, berenang, main catur, dan bernegoisasi (menjadi calo atau makelar), tetapi juga membawa
serta keterampilannya bamadihinan (baca berkesenian).

Para Pamadihinan yang menekuni pekerjaan ini secara profesional dapat hidup mapan. Permintaan
untuk tampil di depan publik relatif tinggi frekwensinya dan honor yang mereka terima dari para
penanggap cukup besar, yakni antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Beberapa orang di antaranya
bahkan mendapat rezeki nomplok yang cukup besar karena ada sejumlah perusahaan kaset, VCD,
dan DVD di kota Banjarmasin yang tertarik untuk menerbitkan rekaman Madihin mereka. Hasil
penjualan kaset, VCD, dan DVD tersebut ternyata sangatlah besar.

Pada zaman dahulu kala, ketika etnis Banjar di Kalsel masih belum begitu akrab dengan sistem
ekonomi uang, imbalan jasa bagi seorang Pamadihinan diberikan dalam bentuk natura (bahasa
Banjar : Pinduduk). Pinduduk terdiri dari sebilah jarum dan segumpal benang, selain itu juga berupa
barang-barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel

Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para
peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air kita. Salah seorang di antaranya adalah Pak
Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor
yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra. Saking
terkesannya, beliau ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus)
kepada Jon Tralala. Selain Jhon Tralala dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim
Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling
senior di kota Martapura), Rasyidi dan Rohana(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan
Mastura Kandangan), Khair dan Nurmah (Kandangan), Utuh Syahiban Banjarmasin), Syahrani
(Banjarmasin), dan Sudirman(Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya
Melayu.

Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin

Pada zaman dahulu kala, Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para
pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan supranatural yang
disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh gaib yang tidak kasat mata yang
mereka sapa dengan sebutan hormat Datu Madihin.

Pulung difungsikan sebagai kekuatan supranatural yang dapat memperkuat atau mempertajam
kemampuan kreatif seorang Pamadihinan. Berkat tunjangan Pulung inilah seorang Pamadihinan
akan dapat mengembangkan bakat alam dan kemampuan intelektualitas kesenimanannya hingga ke
tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar
di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamadihinan, karena Pulung hanya diberikan oleh Datu
Madihin kepada para Pamadihinan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah
dengannya (hubungan nepotisme).

Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai seorang tokoh mistis yang
bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2014
posted:6/22/2011
language:Malay
pages:20