Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

seni budaya - DOC

VIEWS: 2,289 PAGES: 21

									                               SENI BUDAYA
 Seni Budaya Tari

                               SENI TARI JAWA TENGAH



Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut
mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar
menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh
yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya.
Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif,
Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat
dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami
kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada
pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di
Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta
seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh
di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak
berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau
kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian
terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Macam-macam tariannya :


Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana.
Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera
Damarwulan.


Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari
gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu
tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari
semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti :
-- Dadung Ngawuk, Kuda Kepang, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg,
Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.


Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang
tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih
bebas, lebih perseorangan.


Dalam seni tari dapat dibedakan menjadi klasik, tradisional dan garapan baru. Beberapa jenis
tari yang ada antara lain :


1. Tari Klasik


-- Tari Bedhaya :
Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit.
Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali
Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada
Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya,
Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari
berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan
Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral,
dengan nama peranan sebagai berikut :


a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri


Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan :
-- Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
-- Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
-- Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit


Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan
menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang
disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan
Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan
bersifat monumental.


Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu
adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.


Contoh Bedhaya garapan baru :
-- Bedhaya La la lama tarian 15 menit
-- Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
-- Bedhaya Alok lama tarian 15 menit
dll.


-- Tari Srimpi
Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula.
Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan
bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat
penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya
segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang
suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit)
maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
dll.
Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi :
a. Beksan Gambyong : berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng
Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik,
akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana
sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari
Gambyong.


Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara
peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri Tari ini :
-- Jumlah penari seorang putri atau lebih
-- Memakai jarit wiron
-- Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
-- Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
-- Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.


b. Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul,
yang 'aeng', yang 'linuwih'. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur
dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan
alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang
dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :
-- Ditarikan oleh dua orang putra/i
-- Bentuk tariannya sama
-- Tidak mengambil suatu cerita
-- Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
-- Bentuk pakaiannya sama
-- Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
-- Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian
diteruskan gendhing ketawang
-- Tidak ada yang kalah/menang atau mati.


c. Tari Pethilan : hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan
/ bagian dari ceritera pewayangan.


Ciri-cirinya :
-- Tari boleh sama, boleh tidak
-- Menggunakan ontowacono (dialog)
-- Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
-- Ada yang kalah/menang atau mati
-- Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
-- Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
-- Bambangan Cakil
-- Hanila
-- Prahasta, dll.


d. Tari Golek : Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada
upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910.
Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-
cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan
menarik. Macam-macamnya :
-- Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
-- Golek Montro iringan Gendhing Montro
-- Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.


e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi :
-- Bondan Cindogo
-- Bondan Mardisiwi
-- Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih
sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang
ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta
perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri
pakaiannya :
-- Memakai kain Wiron
-- Memakai Jamang
-- Memakai baju kotang
-- Menggendong boneka, memanggul payung
-- Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini
menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan
tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal
pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing
lengkap. Ciri pakaiannya :
-- mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
-- Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai
jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu,
sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang
menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton.
Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.


f. Tari Topeng :
Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah
mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan
disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog,
Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan
Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis
topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono,
Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan
topeng yang diikat pada kepala.



2. Tari Tradisional


Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan
berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya
karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa contoh kesenian tradisional :
a. Tari Dolalak, di Purworejo.
Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian
prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri
dari kentrung, rebana, kendang, kencer, dllnya. Menurut cerita, kesenian ini timbul pada masa
berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain.


b. Patolan (Prisenan), di Rembang.
Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang
Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan
sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan
purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat
ini berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai antara kecamatan Pandagan, Kragan,
Bulu sampai ke Tuban, Jawa Timur.
c. Blora.
Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang, Barongan dan Wayang
Krucil(sejenis wayang kulit terbuat dari kayu).
d. Pekalongan
Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Kuntulan adalah kesenian bela
diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, terbang,
dllnya. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain
di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang
menari dalam keadaan tidak sadarkan diri, sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut
dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek,
kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Atraksi ini
dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen.
e. Obeg dan Begalan.
Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau
pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), serta diiringi
dengan bunyi-bunyian tertentu. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang (dukun) yang
dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar.
Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas.
Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap, Purbalingga
maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Yang bersifat khas Banyumas antara lain
Calung, Begalan dan Dalang Jemblung.
f. Calung dari Banyumas
Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyi- bunyian semacam
gambang yang terbuat dari bambu, lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas
Banyumas. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita.
Sedangkan untuk Begalan biasanya diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya
mengawinkan anaknya. Yang mengadakan upacara ini adalah dari pihak orang tua mempelai
wanita.
g. Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung
Kesenian ini diperagakan secara massal, sering dipentaskan untuk menyambut tamu -tamu
resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara
h. Lengger dari Wonosobo
Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing
berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara
lain berupa Angklung bernada Jawa. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana
yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit. Dalam pencariannya itu ia diganggu
oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. Pada puncak tarian penari mencapai
keadaan tidak sadar.
i. Jatilan dari Magelang
Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang
yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende, kenong dll. Dan pada puncaknya pemain
dapat mencapai tak sadar.
j. Tarian Jlantur dari Boyolali
Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki.
Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian
ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang, dahulu merupakan tarian
penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.
k. Ketek Ogleng dari Wonogiri
Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji, mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman
kerajaan Kediri. Ceritera ini kemudian diubah menurut selera rakyat setempat menjadi
kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro
Tompe dengan Ketek Ogleng. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis
gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti
wayang orang. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali.


3. Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)


Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-
unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Sebagai contoh :
a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan
senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk
melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria
memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.
                             Seni Tari DSeni Tari Dayakayak

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu
penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan
wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara
lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku
Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai
dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

                          2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
                          Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah
                          berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah,
                          gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si
                          penari.

                          Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian

Tari Perang               tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang
                          seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan
lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.




3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan
keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo
menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang
padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
                                                                        Tari Kancet Ledo
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian
tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu
ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo
disebut juga Tari Gong.

4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku
Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet
Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya
seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung
Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau
duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung
Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

5.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara
paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan
diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian
lagu Leleng.

6. Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang
menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau
daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat
hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku
Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk                  Tari Hudoq
memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan
diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita'
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku
Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk
menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik.
Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng,
gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan
panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah
manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng
dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari
manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati
orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik
Serumpai (sejenis seruling bambu).

                                 9. Tari Belian Bawo
                                 Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit,
                                 mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya.
                                 Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada
                                 acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya.
Tari Belian Bawo                 Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

10. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga
pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang
menebang pohon tersebut.

11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo
Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu
bertahun-tahun.

12. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti,
boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang
kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur
dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap
daerah suku Dayak Kenyah.

13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan
Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara
teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

14. Tari Baraga' Bagantar
Awalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon
bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh
suku Dayak Benuaq.
 Seni Budaya Wayang
     Wayang Salah Satu Puncak Seni Budaya Bangsa Indonesia



WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara
banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik,
seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang
terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah,
pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli
Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama
Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini
merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk
cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk
menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.


Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa
terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi
merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya,
kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_
pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk
memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan
yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.


Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli
sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang
merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah
walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian,
wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.


Asal Usul


Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang
berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain
dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan
hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok
ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.


Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya
dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.
Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong,
hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah
teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.


Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama
dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom,
Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris,
negeri Eropa yang pernah menjajah India.


Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang
memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.


Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan
Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang
makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para
pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin
berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang
merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya,
para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa
Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah
Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan
gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya
derigan cerita asli versi India, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu
Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri
(1130 - 1160).


Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman
pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah
menyebutkan kata-kata "mawayang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah pertunjukan
wayang.


Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan
Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman
neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas
tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehistoric Research in the Netherland Indie (1945)
dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indonesia halaman 987.


Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini
sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik
kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir
itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada
kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana
yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan
pesinden pada masa itu diduga belum ada.


Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit
diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata.
Sejak saat itulah ceritacerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai
diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih
banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga
diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai
mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.


Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada
budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15,
yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang
disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.


Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan
mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang
mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.
Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai
dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang
carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan,
yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia,
sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang
India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya,
orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.


Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan.
Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa
melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara
tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di
Kulonprogo.


Asal Usul Wayang

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun
orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam masyarakat. Wayang merupakan
salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya
tradisional dan merupakan puncak budaya daerah.

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini banyak para cendekiawan dan budayawan
berusaha meneliti dan menulis tentang wayang, diantaranya Hazeu dan Rassers. Dan
pandangan dari pakar Indonesia, seperti K.P.A, Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri
Mulyono, dan lain-lain. Dan menurut para cendekiawan, wayang sudah ada dan berkembang
sejak kuna, sekitar tahun 1500 SM.

Wayang yang dalam bentuknya sederhana ialah asli Indonesia. Wayang memiliki landasan
yang kokoh. Landasan utamanya memiliki sifat „Hamot‟ ( keterbukaan untuk menerima
pengaruh dan masukan dari dalam dan luar ) , „Hamong‟ ( kemampuan untuk menyaring
unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai warna yang ada , „Hamemangkat‟

( memangkat suatu nilai menjadi nilai baru. Periodisasi perkembangan budaya wayang juga
merupakan suatu hahasan yang menarik.

Bermula zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan
dinamisme. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang
dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka tetap dipuja dan dimintai pertolongan.
Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut „hyang atau dahyang‟. Orang bisa berhubungan
dengan „hyang atau dahyang‟ ini melalui seorang medium yang disebut „syaman‟. Ritual
pemujaan nenek moyang „hyang‟ dan „syaman‟ inilah yang akhirnya menjadi asal mula
pertunjukkan wayang. „hyang‟ menjadi wayang dan „syaman‟ menjadi dalang. Sedangkan
ceritanya ialah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan ialah
bahasa Jawa asli yang masih dipakai hingga sekarang. Jadi, wayang berasal dari ritual
kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia disekitar tahun 1500 SM.

Berjalan dengan seiringnya waktu, wayang terus berkembang samapai pada masuknya agama
Hindu di Indonesia sekitar abad keenam.

Dalam pewayangan cerita, bermula dari kisah Ramayana yang terus bersambung dengan
Mahabrata, dan diteruskan dengan kisah zaman kerajaan kediri. Falsafah Ramayana dan
Mahabrata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga diwarnai nilai-nilai agama
Islam.

Masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan yang sangat
besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan besar-besaran tersebut, tidak saja
terjadi dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Bentuk
wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relief candi-candi, distilir
menjadi bentuk imajinatif seperti sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan
pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu sebagai alat
penerangan pada pertunjukkan wayang kulit dan juga mempunyai makna simbolik, yaitu
memanfaatkan masukan serta pengaruh budaya lain baik dari dalam maupun dari luar
Indonesia, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang, dan masih banyak lagi.

Asal usul wayang Indonesia menjadi jelas dan mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis
yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tidak saja
berbeda bentuk serta cara pementasannya, cerita Ramayana dan Mahabrata yang digunakan
juga berbeda. Cerita terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan
berkembang di Indonesia. Keaslian Wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti
Wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, kotak dan lain-lain. Kesemuanya itu menggunakan
bahasa Jawa asli. Berbeda dengan cempala, yaitu alat pengetuk kotak yang menggunakan
bahasa sansekerta. Biasanya wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa
disebut „basa rinengga’.
Kekuatan utama budaya Wayang ialah kandungan nilai falsafahnya. Wayang yang tumbuh
dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan
hidup dan dapat terus dilestarikan dalam pertunjukkan wayang.

Memasuki pengaruh agama Islam, kokoh sudah landasan wayang sebagai tontonan yang
mengandung tuntunan, yaitu acuan moral budi luhur menuju terwujudnya „akhlaqul karimah’.
Wayang bukan lagi sebagai tontonan bayang-bayang atau „shadow play’, melainkan sebagai
‟wewayangane ngaurip’, yaitu bayangan hidup manusia.

Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup „sangkan paraning damadi’,
manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali keribaan-Nya.

banyak ditemui seni budaya semacam wayang yang terkenal dengan „puppet show’, namun
tidak seindah dan sedalam maknanya sulit menandingi Wayang Kulit Purwa.


 Seni Budaya Patung

                 Patung Dewa Ruci Dalam Perspektif Budaya Bali




Menurut Koentjaraningrat (1990:203-204) setiap kebudayaan suku bangsa di dunia memiliki
tujuh unsur kebudayaan yang universal yaitu: 1) bahasa, 2) Sistem pengetahuan 3) organisasi
sosial, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem matapencaharian hidup 6) sistem
religi, 7) kesenian. Kesenian adalah merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang
universal tersebut, oleh karena itu seni atau kesenian merupakan produk dari sebuah
kebudayaan dari setiap suku atau bangsa di dunia. Untuk itu memahami sebuah fenomena
kesenian atau seni tidak bisa dipisah-kan dari latar belakang di mana seni itu lahir.

Untuk dapat mengerti menyelami dan menilai usaha karya seni dari sesuatu bangsa dengan
seksama,    tidaklah   cukup   hanya    menganalisa     bentuk-bentuk    karya    seninya   saja,
kesusastraannya, seni suaranya, tari-tariannya dan seni rupanya. Pemahaman terhadap gaya
hidup, keyakinan kepercayaan dan struktur penghidupan dan kehidupan dari suatu masyarakat
adalah sendi-sendi yang sangat penting dalam penuangan bentuk karya seninya dan dengan
demiki-an dianggap sangat perlu untuk diselami dengan penuh simpati dan secara tertib
untuk dapat mengadakan interpretasi dan peninjau-an yang tepat (Murdowo, 1967:18).

Bali salah satu dari suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristik seni dan budaya yang
menarik. Oleh karena itu Bali tetap menarik bagi wisatawan mancanegara untuk dikunjungi
untuk melihat kepaduan estetika budaya yang diilhami oleh sebuah frame yaitu religiusitas
Hinduisme. Berdasarkan hal tersebut Bali terkenal dengan berbagai julukan seperti Pulau
Sorga, Paradise created, Pulau seribu pura, Pulau Pariwisata dan lain sebagainya. Berbicara
mengenai seni di Bali, karena hubungan agama Hindu dengan seni tak dapat dipisahkan, hal
itu dapat menumbuhkan rasa seni yang sangat mendalam dalam masyarakat dalam berbagai
bidang, ter-utama dalam bidang seni pahat, seni gamelan, seni lukis, seni tari, seni hias, seni
patung dan lain-lain (Mantra,1991:5).

Hal ini dipertegas lagi oleh I Gusti Bagus Sugriwa (1952:22) bahwa kesenian Bali atau seni
budaya suku Bali-Hindu yang hidup bergolak sampai sekarang, pada hakikatnya adalah anak
atau cabang ranting dari agama Hindu Bali. Kesenian dengan agama ini mempunyai
hubungan yang amat erat pada umumnya tidak dapat dipisahkan satu sama lainya. Tegasnya
jika agama Hindu Bali itu musnah dari nusa Bali ini, tak dapat dipungkiri lagi kesenian Bali-
Hindu yang meliputi seni sastra, seni nyanyi, seni tari, seni ukir, seni rupa dan lukis dan
bunyi-bunyian pun akan turut hilang. Sebaliknya bila kesenian Bali-Hindu itu hilang,
mungkin pula agama Hindu-Bali itupun gaib juga. Meskipun apa yang dikemukakan oleh I
Gusti Bagus Sugriwa secara realitas emperik belum meyakinkan, namun secara normatik
memang beralasan, dalam pengertian ada kekhawatiran beliau akan “kepunahan tradisi seni
Hindu”. Konsep berkesenian dalam masyarakat Bali berkaitan dengan nilai agama Hindu
yang sering terjelma dalam karya-karya seni.

Keindahan Bali dapat mencakup aspek-aspek seperti yang dikemukakan oleh The Liang Gie
(1976:35) yaitu keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual.
Dua aspek keindahan terakhir menyangkut kaidah estetika yang bersumber pada agama
Hindu. Keindahan moral menyangkut sikap dan perilaku masyarakat Bali berdasarkan ajaran
agama Hindu, demikian juga keindahan intelektuil tercermin pada makna gagasan yang
menjadi isi dari setiap seni yang tercipta. Estetika adalah salah satu unsur yang penting dalam
hidup manusia. Ia menggerakkan manusia ke arah konstruktif dalam berbagai lapangan
hidup, antara lain kepada rasa jengah yang berlandaskan Rajasika dan Satwika (Mantra, op.
cit. p. 12).

Landasan Rajasika dan Satwika ini merupakan dasar-dasar yang meletakkan hubungan
keindahan dengan esensi agama Hindu sebagai “roh” karya seni yang lahir dan berkembang di
Bali. Kesenian Bali telah berkembang begitu pesatnya, seiring dengan perkembangan dunia
pariwisata, maka dampak dari perkembangan pariwisata tersebut, muncullah kreativitas seni
yang mencoba untuk memperindah pulau Bali itu sendiri. Salah satu seni yang turut
memperindah tata ruang kota atau jalan di Bali adalah seni patung. Seni patung ini termasuk
seni pahat, yang meliputi seni-seni patung dan relief (Widia,1991:1). Dalam pandangan
Murdowo (1967:41) bahwa pulau Bali dipenuhi dengan ukiran dan patung-patung; di puri-
puri, pura-pura di pinggir dan persimpangan jalan selalu ada patung-patung yang terukir
sangat indah dan mempunyai gaya style yang tersifat bagi seni pahat Bali. Patung-patung
yang menghiasi sudut-sudut kota atau persimpangan jalan, seperti patung Caturmuka di
jantung kota Denpasar , Patung Kala Rau di Kota Gianyar, Patung Pemuteran Mandara Giri
di Kota Gianyar, Dewa Indra Menjaga Tirta Suci di Gianyar dan sebagainya. Patung-patung
seperti itu sumber penciptaannya diambil dari mitologi Hindu.

Secara umum patung-patung yang menghiasi keindahan kota di Denpasar, baik di wilayah
Kabupaten Badung maupun di Kodya dapat digolongkan menjadi 1) patung Kala; Catur
Muka di perempatan Jln. Gajah Mada, 2) Monumen Puputan Badung di Lapangan Puputan
Badung, Monumen Anumerta Kapten Japa di Simpang Empat Sanur, Monumen Anumerta
Kapten Cokorde Agung Tresna di Simpang Empat Gatot Subroto, dan Monumen Anumerta
Mayor I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar di Simpang Empat Terminal Ubung. Monumen
Anumerta I Gusti Ngurah Rai di Pertigaan Tuban Nusa Dua, 3) patung Wayang/Dewa-Dewa;
Pendeta di Suci, Gatotkacasraya Airport Tuban, Dewaruci di Simpang Siur Kuta, dan
sebagainya. Secara khusus Denpasar pasti memiliki lebih dari 20 patung, patung-patung kecil,
serta Monumen yang dapat dibagi menjadi 1) patung tradisional dan religius dari batu, 2)
patung besar, modern dan realistik dari perunggu, 3) patung-patung kecil serta Monumen dari
batu lunak atau semen kebanyakan dilapisi cat sebagai pelindung, dan antara lain karena ciri
kerakyatannya disebut „seni semen‟. Patung-patung tersebut ber-kaitan dengan:1) Dewa dan
roh, 2) perjuangan kemerdekaan pada awal atau akhir abad ini, 3) tokoh-tokoh wayang, 4)
kebijaksanaan pemerintah misalnya pemberantasan buta huruf dan 5) kegiatan sosial budaya
yakni patung sebagai hiasan seperti yang sering kita lihat terbuat dari kayu untuk para
wisatawan (Nas, 1996:14).
Tak kalah menariknya untuk disimak adalah Patung Dewa Ruci yang terletak di
persimpangan Jalan Arteri Nusa Dua-Tanah Lot, penciptaan patung Dewa Ruci adalah
merupakan transformasi dari teks-teks karya Sastra Jawa Kuna khususnya. Namun dalam
perkembangan di lapangan terjadilah improvisasi bentuk patung, kehadiran tokoh Bhima ini
menjadi hal yang menarik untuk dikaji, baik secara material maupun secara konseptual.
Secara material adalah aspek estetika ragawi yang dapat dicerna oleh indria penglihatan,
sedangkan aspek konseptual meliputi nilai-nilai tersirat yang ada pada Patung Dewa Ruci itu.
Sebagai sebuah konsep visualisasi dari sebuah ajaran agama, maka Patung Dewa Ruci/Nawa
Ruci sarat akan makna hidup dan kehidupan.

Fungsi Patung Bagi Suku Dayak
Suku Dayak mengenal seni pahat patung yang berfungsi sebagai ajimat,
kelengkapan upacara atau sebagai alat upacara.

Patung Ajimat
                                                                              Seorang kakek
Patung sebagai ajimat terbuat dari berbagai jenis kayu yang dianggap
                                                                              Dayak dengan alat
berkhasiat untuk menolak penyakit atau mengembalikan semangat
                                                                              pahatnya
orang yang sakit.

Patung Kelengkapan Upacara
Patung-patung kecil untuk kelengkapan upacara biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara
adat seperti pelas tahun, kuangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil ini terbuat dari
berbagai bahan, seperti kayu, bambu hingga tepung ketan.

                          Patung Alat Upacara
                          Patung sebagai alat upacara contohnya adalah patung blontang yang
                          terbuat dari kayu ulin. Tinggi patung antara 2 - 4 meter dan dasarnya
                          ditancapkan kedalam tanah sedalam 1 meter.

                           Motif Pahatan Suku Dayak
Patung blontang suku      Suku Dayak memiliki pola-pola atau motif-motif yang unik dalam
Dayak ini                 setiap pahatan mereka. Umumnya mereka mengambil pola dari
mengingatkan kita         bentuk-bentuk alam seperti tumbuhan, binatang serta bentuk-bentuk
pada totem yang           yang mereka percaya sebagai roh dari dewa-dewa, misalnya Naang
dimiliki oleh suku        Brang, Pen Lih, Deing Wung Loh, dan sebagainya
Indian di Amerika.

								
To top