Docstoc

pengaruh kebudayaan bacson hoabinh

Document Sample
pengaruh kebudayaan bacson hoabinh Powered By Docstoc
					                                                     NAMA        : DINI SETIYOWATI
                                                     KELAS       :X–8
                                                     NO. ABSEN :
                                                     TUGAS




                PENGARUH KEBUDAYAAN BACSON HOABINH DI INDONESIA


        Pusat    kebudayaan   zaman Mesolithikum di    Asia   berada   di   dua   tempat,   yakni   di
Bacson dan Hoabinh.Kedua tempat tersebut berada di Tonkin Vietnam. Penyebutan untuk ciri khas
kebudayaan zaman Mesolithikum diberikan oleh ahli Prasejarah Prancis,Madeleine Colani.
        Dari Tonkin kebudayaan Bacson – Hoabinh menyebar ke wilayah Asia Tenggara
lainnya.Persebaran kebudayaan tersebut bersamaan dengan masa perpindahan masyarakat di
wilayah Vietnam ke Asia Tenggara.Ras yang masuk ke Indonesia pada zaman Mesolithikum adalah
ras Papua Melanosoid.Ras ini umumnya sekarang bertempat tinggal di Papua.
        Ras Papua Melanosoid sampai ke Indonesia pada zaman Holosen (Aluvium).Ras Melanosoid
datang ke Indonesia dengan menggunakan transportasi perahu bercadik.Pada awalnya mereka
mendiami sumatera dan Jawa, namun karena terdesak oleh ras Melayu yang datang kemudian.Mereka
berpindah ke wilayah Indonesia timur.
        Ras Papua melanosoid sudah hidup setengah menetap (semi-nomaden), hidup berburu,
menangkap ikan dan bercocok tanam.Mereka tinggal digua-gua atau di rumah panggung untuk
menghindar dari binatang buas.Mereka meninggalkan sampah dapur (kjokkenmoddinger) digua-gua
(abris sous roche).Kjokkenmoddinger juga dibuang dibawah kolong rumah panggung mereka sehingga
menumpuk dan menggunung. Disampin itu juga ditemukan peralatan sehari-hari yang terbuang atau
terjatuh, antara lain:
   1.     Pebble adalah jenis kapak genggam mesolithikum yang sering juga di sebut kapak sumatera.
   2.     Hache Courti (kapak pendek) yang mempunyai bentuk bulat dan panjang.
   3.     Batu gilingan kecil yang berfungsi menggiling makanan dan bahan pewarna untuk berhias.
   4.     Kapak proto-Neolithikum yang sudah halus
   5.     Pecahan tembikar
        Manusia pada zaman mesolithikum juga sudah mengenal kesenian. Wujud seni ditemukan,
pada umumnya berupa lukisan seperti:
   1.    Lukisan pada kapak berupa garis sejajar dan lukisan seperti mata yang ditemukan di
         kjokkenmoddinger.
   2.    Lukisan babi-rusa yang banyak ditemukan digua-gua diwilayah Leang-leang Maros. Usia
         lukisan itu diperkirakan 4 ribu tahun. Menurut penafsiran, diperkirakan lukisan tersebut
         adalah lukisan magis yang mempunyai tujuan tertentu.
   3.    Lukisan telapak tangan yang berwarna merah.


        Perkembangan Budaya Bacson-Hoabinh Istilah Bacson-Hoabinh ini dipergunakan sejak tahun
1920-an, yaitu untuk menunjukkan suatu tempat pembuatan alat-alat batu yang khas dengan ciri
dipangkas pada satu atau dua sisi permukaannya. Daerah tempat penemuan dari peninggalan
kebudayaan Bacson-Hoabinh di temukan diseluruh wilayah Asia Tenggara, hingga Myanmar (Burma)
di barat dan keutara hingga propinsi-propinsi selatan dari kurun waktu antara 18000 dan
3000    tahun   yang    lalu.   Namun     pembuatan      kebudayaan    Bacson-Hoabinh      masih    terus
berlangsung di beberapa kawasan, sampai masa yang lebih baru. Ciri khas alat batu kebudayaan
Bacson-Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran lebih
kurang satu kepalan, dan sering kali seluruh tepiannya menjadi bangian yang tajam.Hasil
penyerpihannya itu menunjukkan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat, segitiga dan beberapa
diantaranya ada yang mempunyai bentuk berpinggang.
        Menurut C.F. Gorman dalam bukunya The Hoabinhian and After: Subsistance Patterns in
South East Asia during the latest pleistocene and early recent periods ( 1971 ) menyatakan bahwa
penemuan alat-alat dari batu paling banyak ditemukan dalam penggalian pegununggan batu kapur di
daerah Vietnam bagian utara, yaitu daerah Bacson pegunungan Hoabinh. Disamping alat-alat dari batu
yang berhasil ditemukan, juga ditemukan alat-alat serpih batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari
tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia yang dikuburkan dalam posisi terlipat dan ditaburi zat
warna merah.
        Sementara itu, didaerah Vietnam ditemukan tempat-tempat pembuatan alat-alat batu,
sejenis alat-alat batu dari kebudayaan Bacson-Hoabinh. Bahkan di Gua Xom Trai ( dalam
buku Pham Ly Houng ; Radiocarbon Dates of The Hoabinh Culture in Vietnam, 1994 ) ditemukan
alat-alat batu yang sudah diasah pada sisi yang tajam. Alat-alat batu dari Gua Xom Trai tersebut
diperkirakan berasal dari 18000 tahun yang lalu. Kemudian dalam perkembangannya,alat-alat dari batu
atau yang dikenal dengan kebudayaan Bacson- Hoabinh, tersebar dan berhasil ditemukan, hampir
diseluruh daerah Asia Tenggara, baik daratan maupun kepulauan, termasuk wilayah Indonesia.
        Di   wilayah    Indonesia,    alat-alat   batu   dari   kebudayaan     Bacson-Hoabinh      dapat
ditemukan pada daerah Sumatra, Jawa , Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi sampai Ke Papua (
Irian Jaya ). Di daerah Sumatra alat-alat batu sejenis kebudayaan Bacson- Hoabinh ditemukan di
Lhokseumawe dan Medan.Benda-benda itu berhasil ditemukan pada bukit-bikit sampah kerang yang
berdiameter sampe 100 meter dengan kedalaman 10 meter.Lapisan kerang tersebut diselang selingi
dengan tanah dan abu. Tempat penemuan bukit kerang ini pada daerah dengan ketinggian yang hampir
sama dengan permukaan air laut sekarang dan pada kala Holosen. Daerah tersebut merupakan garis
pantai.Namun, ada beberapa penemuan yang pada saat sekarang telah berada di bawah permukaan
laut. Tetapi kebanyakan tempat-tempat penemuan alat-alat dari batu disepanjang pantai telah terkubur
dibawah endapan tanah, sebagai akibat terjadinya proses pengendapan yang berlangsung selama
beberapa milenium yang lalu. Banyak benda-benda peralatan budaya dari batu yang berhasil
dikumpulkan oleh para ahli dari bukit sampah kerang di Sumatra.sebagian besar dari peralatan yang
ditemukan berupa alat-alat batu yang diserpih pada satu sisi dengan lonjong atau bulat
telur.
         Pada daerah jawa, alat-alat kebudayaan batu sejenis dengan kebudayaan Bacson- Hoabinh
berhasil ditemukan didaerah lembah sungai bengawan solo. Penemuan alat-alat dari batu ini dilakukan
ketika penggalian untuk menemukan fosil-fosil (tulang belulang) manusia purba. Peralatan batu yang
berhasil ditemukan memiliki usia yang jauh lebih tua dari peralatan batu yang berhasil ditemukan
memiliki usia jauh lebih tua dari peralatan batu yang ditemukan pada bukit-bukit sampah kerang di
Sumatra hal ini terlihat dari cara pembuatannya. Peralatan batu yang berhasil ditemukan di daerah
lembah Bengawan Solo (Jawa) dibuat dengan cara dengan sangat sederhana dan belum diserpih atau di
asah. Dimana batu kali yang telah dibelah langsung di gunakan dengan cara menggengamnya. Bahkan
menurut Fon Koenigswand (1935–1941), peralatan dari batu itu digunakan oleh manusia
purba     Indonesia   sejenis   Pithecanthropus    Erectus   dan       juga   berdasarkan   penelitiannya,
peralatan-peralatan dari batu itu berasal dari daerah Bacson-Hoabinh.
         Kebudayaan Bascon Hoabinh. Bascon hoabinh adalah nama tempat di wilayah Vietnam Utara.
Kebudayaan Bascon Hoabinh. Merupakan kebudayaan masyarakat berburu dan mengumpulkan
makanan.Hasil utama kubudayaan Bascon Hoabinh adalah peralatan yang terbuat dari batu.
Ciri khas kebudayaan Bascon Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu.
Kebudayaan Bascon Hoabinh dalam penyebarannya di Indonesia dapat kita temukan di daerah
Sumater, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.
         Sisa-sisa kebudayaan Bascon Hoabinh ini antara lain adalah kapak lonjong, kapak persegi,
kapak Sumatera (pebble), kapak genggam,dan jenis-jenis perhiasan dari batu. Sedangkan kebudayaan
kapak persegi dan kapak lonjong penyebarannya ke Indonesia di bawa oleh bangsa Proto Melayu
(Melayu Tua). Kebudayaan Dongson. Penyebaran kebudayaan Dongson ini dibawa oleh orang-orang
Deutero Melayu (Melayu Muda). Semua peralatan yang ditemukan berupa senjata-senjata .Jenis-jenis
persenjataan tersebut misalnya; tombak, sabit, pisau, dan lain-lain.
         Diantara teknik pembuatan logam yang bercorak kebudayaan Dongson adalah dengan teknik
cetak lilin. Teknik ini adalah teknik mencetak dengan membuat bentuk terlebih dahulu dengan
menggunakan lilin Dan logam atau sudah mengenal care perdue (cetak lilin). Kebudayaan Dongson =>
kebudayaan dari Vietnam yang dibawa oleh orang-orang Melayu muda. Hasil kebudayaan dongson =>
benda-benda dari perunggu. Kebudayaan Sa Huynh. Kebudayaan Sa Huynh didukung ole kelompok
penduduk yang berbahasa Austronesia, yang memiliki kedakatan dengan Indonesia. Penyebaran
kebudayaan melalui jalur utara mengikuti jalur perdagangan Indonesia – Cina. Ssecara keseluruhan
alur penyebaran ke Indonesia dari kebudayaan Sa Huynh sebagai berikut:
       Jalur darat, perjalanan pengaruh kebudayaan Sa Huynh yang melalui jalur ini meliputi M
       Jalur laut, perjalanan pengaruh kebudayaan Sa Huynh yang melalui jalur ini yaitu dengan cara
       menyebringi lautan.
Hasil kebudayaan Sa Huynh antara lain adalah kapak corong, bejana-bejana kecil, gelang, dan
perhiasan.
       ASAL-USUL DAN PERSEBARAN MANUSIA DI KEPULAUAN INDONESIA


A. PENDAPAT PARA AHLI MENGENAI ASAL USUL MANUSIA DI KEPULAUAN
  INDONESIA


  1. Prof. Dr. H. Kern dengan Teori Imigrasi menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia
     (Campa, Kochin China dan Kamboja) . Hal ini didukung oleh adanya perbandingan bahasa
     yang digunakan di kepulauan Indonesia yang akar bahasanya adalah bahasa Austronesia.
  2. Van Heine Geldern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Pendapat ini
     didkukung oleh adanya artefak-artefak yang ditemukan di Indonesia memiliki banyak
     persamaan dengan yang ada di daratan Asia.
  3. Moh. Yamin, mengatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Indonesia. Dia melihat bahwa
     banyak penemuan artefak maupun fosil tertua di Indonesia dalam jumlah yang besar.
  4. Drs. Moh Ali, mengatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan.
  5. J. Krom, berpendapat bahwa asal-usul bangsa Indoensia berasal dari daerah Cina Tengah.
  6. Dr. Brandes, mengatakan bahwa bangsa yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki
     banyak persamaan dengan bangsa-bangsa di daerah yang terbentang dari sebelah Utara
     Formosa, sebelah Barat Madagaskar, sebelah Selatan Pulau Jawa-Bali, sebelah Timur sampai
     tepi Barat Amerika melalui perbandingan bahasa.
  7. Pendapat beberapa ahli, mengatakan bahwa masyarakat yang menempati wilayah-wilayah
     Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Nenek moyang bangsa Indonesia datang melalui
     dua gelombang yaitu:
     a. Proto Melayu (Melayu Tua), merupakan orang Austronesia yang pertamakali datang ke
         Indonesia sekitar tahun 1500 SM melalui jalur Barat (Malaysia-Sumatera) dan jalur Timur
         (Philipina-Sulawesi) dengan membawa kebudayaan kapak persegi (Jalur Barat) dan kapak
         lonjong (jalur Timur) Bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Proto Melayu adalah:
         Suku Dayak, Toraja, Batak, Papua dsb.
     b. Deutro Melayu ( Melayu Muda ), masuk ke wilyah Indonesia sekitar 400-300 SM melalui
         jalur Barat, dengan membawa kebudayaan Logam, seperti : Nekara ( Moko ), Kapak
         corong, juga mengembangkan kebudayaan Megalitik. Bangsa Indonesia yang termasuk
         keturunan Deutro Melayu adalah : Jawa, Melayu dan Bugis.
B. PERKEMBANGAN KEHIDUPAN DAN HASIL BUDAYA MANUSIA PURBA DI
   INDONESIA
1. Jenis Manusia Purba di Indonesia
    a. Meganthropus Palaeojavanicus Merupakan jenis manusia besar tertua di Pulau Jawa.
       Ditemukan di daerah Sangiran pada tahun 1941 oleh Van Koenigswald. Hasil temuannya
       berupa rahang atas dan bawah.
    b. Pithecanthropus
       1). Mojokertensis (Robustus)
       2). Erectus
    c. Homo Sapiens
       1). Homo Soloensis
       2). Homo Wajakensis.
2. Hasil Budaya manusia purba
    a. Kebudayaan Material (Kebendaan)
       Berupa alat-alat yang dapat membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
       Hasil kebudayaan mereka pada masa berburu dan mengumpulkan makanan seperti : Kapak
       genggam,alat serpih dan alat tulang/tanduk. Sedangkan pada masa bercocok tanam berupa
       Kapak genggam Sumatra ( Pabble ), Kapak Pendek ( Bache Courte ), flakes, dsb. Dan pada
       masa Perundagian berupa alat-alat dari logam seperti : Kapak corong ( Kapak sepatu ),
       Nekara, Bejana Perunggu, perhiasan dan manik-manik dari perunggu.
    b. Kebudayaan Immaterial (Rohani)
       Munculnya sistem kepercayaan dalam kehidupan manusia berlangsung sejak masa berburu
       dan mengumpulkan makanan melalui penemuan penghormatan terakhir pada orang yang
       sudah meninggal, kemudian berubah menjadi pemujaan terhadap roh-roh leluhur pada
       masa bercocok tanam (Animisme dan dinamisme), terlihat dengan adanya hasil
       kebudayaan megalitik. Dalam perkembangan selanjutnya manusia menyadari dan
       merasakan adanya kekuatan yang maha besar di luar diri manusia yaitu kekuatan Tuhan
       (Monotheisme).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:9380
posted:6/22/2011
language:Indonesian
pages:6