Docstoc

hubungan budaya bacson

Document Sample
hubungan budaya bacson Powered By Docstoc
					     HUBUNGAN BUDAYA BACSON-HOABINH, DONGSON, SA HUYNH, INDIA DENGAN
                PERKEMBANGAN MANUSIA PURBA DI INDONESIA


1. Perkembangan Budaya Bacson-Hoabinh
     Istilah Bacson-Hoabinh ini dipergunakan sejak tahun 1920-an, yaitu untuk menunjukkan
   suatu tempat pembuatan alat-alat batu yang khas dengan ciri dipangkas pada satu atau dua sisi
   permukaannya. Daerah tempat penemuan dari peninggalan kebudayaan Bacson-Hoabinh di
   temukan diseluruh wilayah Asia Tenggara, hingga Myanmar (Burma) di barat dan keutara
   hingga propinsi-propinsi selatan dari kurun waktu antara 18000 dan 3000 tahun yang lalu.
   Namun pembuatan kebudayaan Bacson-Hoabinh masih terus berlangsung di beberapa
   kawasan, sampai masa yang lebih baru. Ciri khas alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh
   adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran lebih kurang
   satu kepalan, dan sering kali seluruh tepiannya menjadi bangian yang tajam. Hasil
   penyerpihannya itu menunjukkan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat, segitiga dan
   beberapa diantaranya ada yang mempunyai bentuk berpinggang. Menurut C.F. Gorman dalam
   bukunya The Hoabinhian and After: Subsistance Patterns in South East Asia during the latest
   pleistocene and early recent periods ( 1971 ) menyatakan bahwa penemuan alat-alat dari batu
   paling banyak ditemukan dalam penggalian pegununggan batu kapur di daerah Vietnam
   bagian utara, yaitu daerah Bacson pegunungan Hoabinh.
     Disamping alat-alat dari batu yang berhasil ditemukan, juga ditemukan alat-alat serpih batu
   giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia yang
   dikuburkan dalam posisi terlipat dan ditaburi zat warna merah. Sementara itu, didaerah
   Vietnam ditemukan tempat-tempat pembuatan alat-alat batu, sejenis alat-alat batu dari
   kebudayaan Bacson-Hoabinh. Bahkan di Gua Xom Trai ( dalam buku Pham Ly Houng ;
   Radiocarbon Dates of The Hoabinh Culture in Vietnam, 1994 ) ditemukan alat-alat batu yang
   sudah diasah pada sisi yang tajam. Alat-alat batu dari Gua Xom Trai tersebut diperkirakan
   berasal dari 18000 tahun yang lalu. Kemudian dalam perkembangannya,alat-alat dari batu atau
   yang dikenal dengan kebudayaan Bacson- Hoabinh, tersebar dan berhasil ditemukan, hampir
   diseluruh daerah Asia Tenggara, baik daratan maupun kepulauan, termasuk wilayah
   Indonesia.
     Di wilayah Indonesia, alat-alat batu dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukan pada
   daerah Sumatra, Jawa , Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi sampai Ke Papua ( Irian Jaya ).
   Di daerah Sumatra alat-alat batu sejenis kebudayaan Bacson- Hoabinh ditemukan di
   Lhokseumawe dan Medan. Benda-benda itu berhasil ditemukan pada bukit-bikit sampah
   kerang yang berdiameter sampe 100 meter dengan kedalaman 10 meter. Lapisan kerang
   tersebut diselang selingi dengan tanah dan abu. Tempat penemuan bukit kerang ini pada
   daerah dengan ketinggian yang hamper sama dengan permukaan air laut sekarang dan pada
   kala Holosen. Daerah tersebut merupakan garis pantai. Namun, ada beberapa penemuan yang
   pada saat sekarang telah berada di bawah permukaan laut. Tetapi kebanyakan tempat-tempat
   penemuan alat-alat dari batu disepanjang pantai telah terkubur dibawah endapan tanah,
   sebagai akibat terjadinya proses pengendapan yang berlangsung selama beberapa milenium
   yang lalu. Banyak benda-benda peralatan budaya dari batu yang berhasil dikumpulkan oleh
   para ahli dari bukit sampah kerang di Sumatra.sebagian besar dari peralatan yang ditemukan
   berupa alat-alat batu yang diserpih pada satu sisi dengan lonjong atau bulat telur. Pada daerah
   jawa, alat-alat kebudayaan batu sejenis dengan kebudayaan Bacson- Hoabinh berhasil
   ditemukan didaerah lembah sungai bengawan solo. Penemuan alat-alat dari batu ini dilakukan
   ketika penggalian untuk menemukan fosil-fosil (tulang belulang) manusia purba. Peralatan
   batu yang berhasil ditemukan memiliki usia yang jauh lebih tua dari peralatan batu yang
   berhasil ditemukan memiliki usia jauh lebih tua dari peralatan batu yang ditemukan pada
   bukit-bukit sampah kerang di Sumatra hal ini terlihat dari cara pembuatannya. Peralatan batu
   yang berhasil ditemukan di daerah lembah Bengawan Solo (Jawa) dibuat dengan cara dengan
   sangat sederhana dan belum diserpih atau di asah. Dimana batu kali yang telah dibelah
   langsung di gunakan dengan cara menggengamnya. Bahkan menurut Fon Koenigswand
   (1935–1941), peralatan dari batu itu digunakan oleh manusia purba Indonesia sejenis
   Pithecanthropus Erectus dan juga berdasarkan penelitiannya, peralatan-peralatan dari batu itu
   berasal dari daerah Bacson-Hoabinh. Di daerah Cabbenge (Sulawesi Selatan) berhasil
   ditemukan alat-alat batu yang berasal dari kala pleistosen dan Holosen.penggalian dalam
   upaya untuk menemukan alatalat dari batu juga dilakukan di daerah pedalaman sekitar Maros.
   Sehingga dari beberapa tempat penggalian, berhasil menemukan alat-alat dari batu termasuk
   alat serpih berpunggung dan mikrolit yang dikenal dengan Toalian. Alat-alat batu Toalian
   diperkirakan berasal dari 7000 tahun yang lalu. Perkembangan peralatan batu dari daerah
   Maros ini, diperkirakan kemunculannya bertumpang tindih dengan munculnya tembikar di
   kawasan itu. Di samping daerah-daerah diatas, peralatan batu kebudayaan Bacson-Hoabinh,
   juga berhasil ditemukan pada daerah-daerah seperti daerah pedalaman Semenanjung Minahasa
   (Sulawesi Utara), Flores, Maluku Utara dan daerah-daerah lain di Indonesia. Untuk
   memahami mengenai jalan persebaran kebudayaan tersebut dapat diketahui dengan melihat
   peta persebarannya.

2. Perkembangan Budaya Dong Son
     Pembuatan benda-benda perunggu di daerah Vietnam Utara dimulai sekitar tahun 2500 SM
   dan dihubungkan dengan tahap-tahap budaya Dong Dau danGo Mun. apabila dibandingkan
   dengan daerah Muangthai Tengah dan Muangthai Timur Laut, daerah Vietnam memiliki bukti
   paling awal tentang pembuatan perunggu di Asia Tenggara. Namun perlu diketahui bahwa
   benda-benda perunggu yang telah ada sebelum tahun 500 SM terdiri atas kapak corong
   (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atua pegangannya)
   dan ujung tombak, sabit bercorong, ujung tombak bertangkai, mata panah dan benda-benda
   kecil lainnya seperti pisau, kail, gelang dan lain-lain. Penemuan benda-benda dari kebudayaan
   Dong Son sangat penting kerena bendabenda logam yang ditemukan diwilayah Indonesia pada
   umunya bercorak Dong Son,dan bukan mendapat pengaruh budaya logam dari India maupun
   Cina. Budaya perunggu bergaya Dong Son tersebar luas di wilayah Asia Tenggara dan
   kepulauan Indonesia, hal ini terlihat dari kesamaan corak hiasan bahan-bahan yang di
   pergunakannya. Misalnya nekara, menunjukkan pengaruh yang sangat kuat dari tempat-
   tempat pembuatan benda-benda perunggu di daerah Dong Son, Vietnam Utara. Nekara dari
   tipe Heger I memiliki kesamaan dengan nekara yang paling bagus dan tetua di Vietnam.
   Nekara itu memiliki lajur hiasan yang disusun mendatar bergambar manusia, hewan dan pola
   geometris. Hiasan seperti itu ditemukan hampir pada semua nekara tipe ini dan juga termasuk
   pada nekara-nekara yang ditemukan diwilayah Indonesia. Benda-benda perunggu lainnya
   yang berhasil dietmukan di daerah Dong Son serta beberapa kuburan seperti di daerah Vie
   Khe, Lang Ca, Lang Vac mencakup alat-alat rumah tangga (mangkuk dan ember kecil),
   miniatur nekara dan genta, kapak corong, cangkul bercorong, mata panah dan mata tombak
   bertangkai atau bercorong, belati dengan bentuk antropomorfis, gelang, timang, ikat pinggang
   dan banyak benda-benda lainnya. Satu nekara yang sangat besar berhasil digali di daerah Co
   Loa. Nekara tersebut berisi 96 mata bajak perunggu bercorang. Dari penemuan itu terdapat
   alat-alat dari besi, walaupun jumlahnya sangat sedikit.
     Dari penemuan benda-benda budaya Dong Son itu, diketahui cara pembuatannya dengan
   menggunakan teknik cetak lilin hilang yaitu dengan membuat bentuk dari lilin, kemudian lilin
   itu dibalut dengan tanah liat dan dibakar hingga terdapat lubang pada tanah liat tersebut.
   Selanjutnya pada cetakan tanah liat itu dituangkan cairan logam dan setelah dingin, tanah liat
   dipecahkan, maka terwujudlah benda yang diinginkan itu. Budaya Dong Son sangat besar
   pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Indonesia. Bahkan tidak kurang
   dari 56 nekara yang berhasil ditemukan di beberapa wilayah Indonesia dan terbanyak nekara
   ditemukan di daerah pulau Sumatera, Jawa, dan Maluku Selatan. Beberapa contoh nekara
   yang penting ditemukan di wilayah Indonesia, seperti nekara Makalaman dari Pulau Sangeang
   dekat Sumbawa. Nekara ini berisi hiasan gambar orang-orang berpakaian seragam menyerupai
   pakaian dinasti Han (Cina) atau Kushan (India Utara) atau Satavahana (India Tengah). Nekara
   dari kepulauan Kei (Maluku)memiliki hiasan lajur mendatar berisi gambar kijang dan adegan
   perburuan macan. Nekara dari pulau Selayar (Sulawesi Selatan) berisi hiasan gambar gajah
   dan burung merak. Seluruh hiasan pada nekara-nekara itu diperkirakan tidak dikenal oleh
   penduduk dari pulau-pulau di wilayah Indonesia bagian timur tempat nekara itu dietmukan.
   Berdasakan penemuan itu, para ahli menyimpulkan bahwa tidak mungkin nekaranekara itu
   dibuat oleh masyarakat pada daerah-daerah tempat penemuannya.
     Oleh karena itu, dari sudut gaya dan kandungan timahnya yang cukup tinggi maka nekara-
   nekara yang ditemukan di daerah Indonesia diperkirakan dibuat di daerah Cina. Namun Heine
   Geldern ( 1947 ) yang meneliti nekara menyatakan bahwa nekara yang ditemukan di daerah
   sangeng diperkirakan dicetak di daerah Funan yang telah terpengaruh oleh budaya India pada
   250 M. Pengamatan yang menarik dari Berner Kempers menunjukkan bahwa semua nekara
   yang ditemukan di sebelah timur Bali mempunyai empat patung katak pada bagian bidang
   pukulnya. Selain itu, pola-pola hiasnya yang tidak begitu terpadu, antara lain dapat dilihat dari
   gambar berupa prajurit dan motif perahu yang banyak ditemukan pada nekara-nekara tertua di
   Vietnam. Berners Kempers memberikan gambaran cara nekara tipe Heger I dicetak secara
   utuh. Awalnya lembaran lilin ditempelkan pada inti tanah liat (menyerupai bentuk nekara dan
   berfungsi sebagai cetakan bagian dalam), lalu dihias dengan cap-cap dari tanah liat atau batu
   yang berpola hias perahu dan iring-iringan manusia. Untuk menambahkan hiasan yang lebih
   naturalistik, seperti gambar rumah, lembaran lilin tadi langsung ditambah goresan gambar
   yang dikehendakinya. Kemudian lembaran lilin yang telah dihias itu ditutup dengan tanah liat
   yang berfungsi sebagai cetakan bagian luar, setelah terlebih dahulu diberi paku-paku penjaga
   jarak. Setelah itu dibakar dan lilin meleleh keluar rongga yang ditinggalkan lilin tersebut diisi
   dengan cairan logam. Penyebaran nekara-nekara tipe Heger I terutama pada daerah-daerah
   Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan lain-lain. Selain nekara, wilayah
   Indonesia juga ditemukan benda-benda perunggu lainnya seperti patung-patung, peralatan
   rumah tangga, peralatan bertani maupun perhiasan-perhiasan.

3. Perkembangan Budaya Sa Huynh
     Budaya Sa Huynh di Vietnam bagian selatan didukung oleh suatu kelompok penduduk yang
   berbahasa Austronesia ( Cham ) yang diperkirakan berasal dari daerahdaerah di kepulauan
   Indonesia. Tampaknya mereka telah menduduki kawasan ini dari daerah Semenanjung Malaya
   atau Kalimantan. Munculnya permukiman ini dapat dilacak dari keberadaan budaya Sa Huynh
   itu sendiri, yang pada ( 600 SM telah berada pada bentuknya yang mapan ). Para pakar
   arkeologi Vietnam menyatakan bahwa hasil-hasil penemuan benda-benda arkeologi diduga
   menjadi bukti cikal bakal budaya ini. Sebelum adanya budaya Sa Huynh atau budaya
   turunannya langsung, daerah Vietnam bagian selatan sepenuhnya didiami oleh bangsa yang
   berbahasa Austronesia. Orang-orang Cham pernah mengembangkan peradaban yang
   dipengaruhi oleh budaya Cina Champa. Kemudian mereka dikalahkan ekspansi penduduk
   Vietnam sekarang dan hanya sebagai kelompok minoritas hingga dewasa ini. Dari sudut
   pandang Indonesia, keberadaan orang-orang Cham dekat pusat-pusat penemuan benda-benda
   logam di Vietnam Utara pada akhir masa pra sejarah mempunyai arti yang amat penting,
   karena mereka adalah kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Austronesia dan
   mempunyai kedekatan kebangsaan dengan masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia.
   Namun hubungan-hubungan langsung dengan pusat pembuatan benda-benda perunggu di
   daerah Dongson sangat terbatas. Hal ini terbukti dengan penemuan 7 buah nekara tipe Heger I
   di daerah selatan Vietnam dari 130 nekara yang berhasil di temukan hingga menjelang tahun
   1990. Dengan demikian benda-benda perunggu yang tersebar sampai wilayah Indonesia
   melalui jalur-jalur antara lain :
         1. Melalui jalur darat, yaitu Muangthai dan Malaysia terus kekepulauan Indonesia.
         2. Melalui jalur laut, yaitu dengan menyeberangi lautan dan terus tersebar di daerah
             kepulauan Indonesia.
     Kebudayaan Sa Huynh yang diketahui hingga saat sekarang kebanyakan berasal dari
   penemuan kubur tempayan (jenazah di masukkan ke dalam tempayan besar) dan penguburan
   ini adalah adat kebiasaan yang mungkin di bawa oleh orang-orang Cham pertama
   kekepulauan Indonesia. Secara umum, penguburan dalam tempayan bukan khas budaya
   Dongson atau budaya lain yang suzaman di daratan Asia Tenggara dan di duga merupakan
   pengaruh yang bersumber dari kebudayaan Cham. Penemuan-penemuan Sa Huynh terdapat
   dikawasan pantai mulai dari Vietnam Tengah ke Selatan sampai ke delta lembah sungai
   Mekong. Kebudayaan dalam bentuk tempayan kubur yang ditemukan termasuk tembikar-
   tembikar yang berhasil di temukan itu memiliki hiasan garis dan bidang-bidang yang di isi
   dengan tera tepian kerang. Kebudayaan Sa Huynh ini memiliki banyak persamaan dengan
   tempayan kubur yang di temukan di wilayah Laut Sulawesi. Hal ini diperkuat dengan adanya
   kemiripan bentuk anting-anting batu bertonjolan (ling-ling O) dan sejenis anting-anting yang
   khas atau bandul kalung dengan kedua ujung nya berhias kepala hewan yang ditemukan pada
   sejumlah tempat di Muangthai, Vietnam, Palawan, Serawak Kebudayaan Sa Huynh yang
   berhasil ditemukan meliputi berbagai alat yg bertangkai corong seperti sekop, tembilang, dan
   kapak. Namun ada pula yg tidak bercorong seperti sabit, pisau bertangkai, kumparan tenun,
   cincin dan gelang bentuk spiral. Sementara itu, teknologi pembuatan peralatan-peralatan besi
   yg diperkenalkan ke daerah Sa Huynh diperkirakan berasal dari daerah Cina. Peralatan dari
   besi lebih banyak dipakai dalam kebudayaan Sa Huynh adalah dari kebudayaan Dongson.
   Bendabenda perunggu yg berhasil ditemukan di daerah Sa Huynh berupa berbagai perhiasan,
   gelang, lonceng, dan bejanabejana kecil. Juga ditemukan beberapa manik-manik emas yang
   langka dan kawat perak. Selain itu ditemukan pula manik-manik kaca dari batu agate bergaris
   dan berbagai manik-manik Carnelian. Dengan demikian, kebudayaan Sa Huynh diperkirakan
   berlangsung antara tahun 600 SM sampai dengan tahun masehi.

4. Hubungan dengan India
     Selain menjadi jembatan penghubung antara dua benua, kepulauan nusantara juga terletak
   dalam jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan kuno, yaitu India dan Cina. Letaknya
   dalam jalur perdagangan internasional ini besar pengaruhnya terhadap perkembangan sejarah
   Indonesia. J.C. van Leur and O.W. Wolters berpendapat bahwa hubungan dagang antara India
   dengan Indonesia lebih dahulu berkembang dari pada hubungan dagang antara Indonesia
   dengan Cina. Para ahli berpendapat bahwa hubungan dagang antara Indonesia dengan India
   telah terjadi sejak Zaman Prasejarah. Di India Selatan terdapat beberapa suku bangsa yang
   memiliki kesamaan ciri-ciri fisik dengan penduduk Indonesia, misalnya suku bangsa Parawar
   dan Shanar. Orang-orang Parawar sejak dulu dikenal sebagai penyelam mutiara di teluk
   Manar. Mereka juga menggunakan perahu bercadik, sedangkan Suku Shanar kehidupannya
   terutama dari perkebunan kelapa. Tanaman kelapa tersebut di perkirakan berasal dari
   Indonesia melalui Srilangka. Di samping itu wilayah kepulauan Nusantara banyak disebutkan
   dalam kitab-kitab kuno, baik dari India maupun dari bangsa Barat. Dalam kitab Jataka yang
   berisi tentang kehidupan Sang Budha menyebutkan tentang Suvarnabhumi sebagai negeri
   yang memerlukan perjalanan yang jauh dan penuh bahaya untuk mencapainya. Suvarnabhumi
   berarti pulau emas. Menurut S. Levi yang dimaksud dengan Suvarnabhumi adalah sebuah
   negeri di sebelah timur Teluk Benggala, sedangkan Kitab Ramayana menyebutkan nama
   Yawadwipa yang diperkirakan adalah Pulau Jawa. Dikisahkan bahwa tentara kera yang
   bertugas mencari Sita di negeri-negeri sebelah timur telah memeriksa Yawadwipa yang dihias
   oleh 7 kerajaan. Pulau ini adalah “Pulau Emas dan Perak”. Kitab ini juga menyebutkan nama
   Suwarnadwipa yang berarti “pulau emas”. Suwarnadwipa memang kemudian dipergunakan
   untuk menyebutkan Pulau Sumatra.
     Dalam kitab dari Barat yang berjudul Periplous tes Erythras thalases merupakan kitab
   pedoman untuk berlayar di Samudra India. Kitab ini di tulis oleh seorang nahkoda Yunani
   Mesir yang biasa mengadakan pelayaran antara Asia barat dengan India. Diperkirakan kitab
   ini ditulis pada awal tarikh Masehi. Dalam kitab Periplous tersebut terdapat uraian yang
    menerangkan bahwa ada kapal-kapal Colandia berangkat ke Chryse (negeri emas) yang
    diperkirakan Pulau Sumatra, sedangkan Colandia di perkirakan adalah K’un-lun, sebutan
    tambo Cina untuk bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Perluasan pelayaran dan perdagangan ke
    arah Timur dari India ini disebabkan adanya angin muson yang baik untuk menyeberangi
    Samudra Hindia ke Timur dan sebaliknya. Seorang nahkoda yang bernama Hippalos adalah
    orang Barat pertama yang mengetahui tentang adanya angin muson tersebut pada abad
    pertama masehi bertepatan pula pada saat itu mulai dibuat kapal-kapal besar untuk pelayaran
    jarak jauh. Sebuah sumber dari Barat lain adalah kitab Geographike Hypegesis yang ditulis
    oleh Claudius Ptolomeus seorang Yunani di Iskandaria pada abad ke-2 Masehi. Kitab ini
    berisi petunjuk cara-cara membuat peta. Dalam kitabn tersebut ditemikan lagi nama-nama
    tempat yang berhubungan dengan emas dan perak. Tempat tersebut adalah Argyre Chora,
    Chryse Chora, dan ChrysE Chersonesos. Kitab ini juga menyebutkan pula nama labadiou.
    Ywa dalam bahasa Sansekerta berarti jelai. Diou dalam bahasa Pakrit adalah diwu dan Dwipa
    dalam bahasa Sansekerta yang artinya pulau. Jadi, yang dimaksud dengan Iabadiou adalah
    Yawadwipa yang besar kemungkinan adalah Pulau Jawa.
      Dalam Prasasti Canggal yang berangka tahun 654 Saka atau tahun 732 Masehi, Pulau Jawa
    disebut dengan nama Dwipa Yawa. Berdasarkan kitab-kitab tersebut di atas dapat disimpulkan
    bahwa sejak awal Masehi kepulauan Nusantara telah masuk dalam jaringan perdagangan
    internasional. Motivasi utama kedatangan orang-orang India itu untuk berdagang. Menurut
    Van Leur barang-barang yang diperdagangkan pada masa itu adalah barang-barang yang
    bernilai tinggi, seperti logam mulia, perhiasan, berbagai jenis tenunan, barang-barang pecah
    belah disamping barang-barang baku yang diperlukan untuk berbagai kerajinan. Selain itu,
    juga bahan-bahan ramuan untuk wangi-wangian dan obat sehingga barang-barang tersebut
    memerlukan masyarakat dalam taraf perkembangan tertantu sebagai konsumen. Selain itu,
    tentang berpindahnya minat para pedagang India kedaerah timur, Coedes menjelaskan bahwa
    menjelang awal tarikh Masehi, India kehilangan sumber emas yang utama, yaitu Siberia.
    Sebelumnya emas di datangkan oleh para khalifah dari Siberia melalui Baktria. Akan tetapi,
    gerakan berbagai bangsa di Asia Tengah telah memutuskan jalan-jalan kalifah dari utara itu.
    Sebagai gantinya India mengimpor mata uang emas dalam jumlah besar dari Romawi. Usaha
    ini kemudian dihentikan oleh Kaisar Vespasianus (69-79) karena mengalirkan emas keluar
    negeri ternyata telah membahayakan ekonomi negara sehingga hal ini mendorong para
    pedagang India untuk mencari emas di daerah lain. Barang-barang yang diperdagangkan dari
    Indonesia selain emas berupa kayu cendana dan cengkeh dari daerah Indonesia bagian timur.
      Dalam kitab Raghuvansa karangan Kalidasa yang menurut para ahli hidup sekitar tahun 400
    Masehi, disebutkan bahwa lavanga (cengkeh) yang berasal dari dvipantar. Wolter percaya
    bahwa yang dimaksud dengan dvipantara adalah kepulauan Nusantara (dwipa=nusa=pulau).
    Kehadiran orang-orang India di Asia Tenggara ternyata berpengaruh besar pada
    perkembangan budaya di wilayah ini, khususnya dalam proses pengendalian Asia Tenggara.
    kehadiran orang-orang India di Asia Tenggara ini ternyata berpengaruh besar pada
    perkembangan budaya di wilayah ini, khususnya dalam proses pengendalian Asia Tenggara.


Nama         : Tri Rahayu
Kelas        : X-9
No. Absen    : 33

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3547
posted:6/22/2011
language:Malay
pages:5