Docstoc

bencana alam

Document Sample
bencana alam Powered By Docstoc
					Posko Bencana Kawah Timbang Diperpanjang hingga Selasa
BANJARNEGARA--MICOM: Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah,
memperpanjang waktu pelayanan posko bencana Kawah Timbang, Gunung Dieng, meskipun
masa tanggap darurat berakhir pada 12 Juni 2011.

"Pelayanan Posko Penanggulangan Bencana Alam Kecamatan Batur diperpanjang hingga hari
Selasa (14/6) meskipun masa tanggap darurat berakhir hari ini," kata staf Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Andri Sulistyo di
Banjarnegara, Minggu (12/6).

Menurut dia, perpanjangan tersebut dilakukan untuk memberi pelayanan pemulihan
pascabencana gas beracun Kawah Timbang yang saat ini masih berstatus waspada. Kendati
demikian, dia mengatakan, sebagian relawan telah kembali ke pangkalan mereka masing-
masing.

"Kami masih tetap siaga di posko, tetapi sebagian relawan ada yang telah kembali ke
pangkalannya. Jika ini telah selesai, penanganannya akan dilakukan oleh Camat bersama para
Muspika Batur," katanya.

Disinggung mengenai keberadaan pengungsi di pos-pos penampungan sementara (pengungsian),
dia mengatakan, tempat tersebut telah ditinggalkan warga sejak Sabtu (11/6) malam. Dalam hal
ini, seluruh pengungsi dari Dusun Simbar dan Serang, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur,
kembali ke rumah masing-masih setelah diperbolehkan pulang karena status Kawah Timbang
telah diturunkan dari siaga menjadi waspada sejak Jumat (10/6) pukul 18.45 WIB.

"Sebagian pengungsi mulai pulang ke rumah mereka pada Sabtu pagi. Dengan demikian, tempat
pengungsian telah kosong sejak Sabtu malam," kata dia. (Ant/OL-5)



Penjelasan Ustad Gempa, Danny Hilman Tentang Gempa
Selat Sunda
Sebagai ahli gempa, Danny Hilman yang memperoleh gelar Doktor di bidang kegempaan dai
Caltech University, memberikan penjelasan seputar berita ancaman Gempa Selat Sunda.

  “Nah kalau yang berbicara Ustadz Gempa, mestinya lebih pas ya Pakdhe?”

Penjelasan beliau dituangkan dalam diskusi diantara ahli kebumian di IAGI-net (Ikatan Ahli
Geologi Indonesia) sebagai berikut:

Rekan-rekan ysh,

Perihal isyu potensi gempa 8.7 SR yang mengancam Jakarta kok tafsiran-nya kesana-kemari
yah?

Siapapun dan ngomong apapun kalau dilhat dengan kacamata minus dan tebal prasangka pasti
terlihat buruk.
Mari kita lebih positif menanggapinya. Saya akan bahas substansi issue-nya saja ( ilmiah-teknis)
sesuai dengan bidang saya, seperti di bawah ini:

1. Apakah benar wilayah Selat Sunda punya potensi gempa di atas magnitude 8
(atau 8 SR-lah istilah populernya)?




                              Jawaban: Tentu saja! Silahkan tanya ke para ahli gempa (yang
sungguhan) siapa saja di seluruh dunia. Kita memang tidak tahu berapa besar gempa yang akan
terjadi di ―megathrust‖ Sunda, tapi tidak sulit kalo hanya menghitung potensi maksimumnya (=
MCE – Maximum Credible Earthquake). Potensi gempa sebanding dengan dimensi sumber
gempa. Ukur saja panjang zona subduksi (megathrust) dari P. Enggano – Selat Sunda –
Pangandaran) = 450 km (tidak salah juga kalau diukur sampai JaTim). Lebar sumber gempa
megathrust (bidang batas lempeng yang biasa lengket/locked) bisa sampai 150 km. Kecepatan
relatif lempeng Hindia-Australia menunjam di zona subduksi Selat Sunda – Jawa Selatan = 6
cm/tahun. Apakah gerak lempeng 6 cm/tahun ini semuanya diakumulasikan menjadi regangan
tektonik (stress), artinya batas lempeng terkunci 100%, atau tidak, kita belum tahu karena belum
ada penelitian/data-analisa-nya yang bagus untuk segmen Sunda. ―Ellapsed time‖ bisa 300
tahun,bahkan 1000 tahun atau lebih (karena selama 300 tahun terakhir tidak ada catatan ada
gempa besar dalam sejarah — selebihnya tidak ada data— karena belum ada penelitiannya.

Besar ―moment magnitude‖ (Mw) maximum di Selat Sunda = (Log Mo-16)/1.5 ( Hanks and
Kanamori, 1971), Mo = u*(LengthxWidth)xDisplacement ; dimana u = 3*10^11 dyne/cm^2,
Length=450*10^5 cm, Width = 150*10^5 cm, Displacement (asumsi elapsed time = 500
tahun)= 500*6=3000 cm. Kalo dihitung maka hasilnya : Mw = 9.15 (=setara dengan gempa
Aceh 2004).

Apabila kita asumsikan ―locking‖ selat Sunda hanya 50 %, maka akumulasi slipna hanya=
500*6*0.5 = 1500 cm, dan hitungan Mw = 9.0. Apabila locking-nya 25%, Mw-nya = 8.7 (atau
populer disebut 8.7 SR).

Catatan: HERAN JUGA kalau ada instansi terkait atau ―ahli kebumian kita‖ yang katanya
meragukan potensi gempa Mw 8.7 ini. Masa iya engga ngerti materi kuliah ―earthquake geology
101‖

  “Pakdhe MCE itu kan kalau maksimum semua keluar bareng-bareng kan ?”

  “Ya mirip seperti dongengan isue gempa skala 9 di Sumatera itu. Paling tidak penjelasan
Pak Danny menunjukkan POTENSI sebesar itu”
2. Pernah terjadi gempa besar megathrust > 8SR di wilayah Jakarta di masa
lalu?

Jawaban: TIDAK TAHU. Kita hanya tahu pernah terjadi gempa besar yang kerusakannya serius,
yaitu tahun 1699 (tidak tahu sumbernya di mana dan berapa magnitudenya), 1852 (intensitas
gempa mencapai MMI 8-9 di wilayah Selat Sunda), 1908 ( besarnya ~8SR tapi tidak diketahui
apakah megathrust, Patahan Sumatra, atau patahan lainnya yang belum diketahui). Data pre-
historis gempa (paleoseismologi) tidak ada karena belum ada penelitiannya.

3. Apakah isyu gempa 8.7SR yang dilontarkan Pak Andi Arief itu isyu baru?

Jawaban: Sama sekali tidak. Sering saya lemparkan di berbagai seminar sejak 5 tahun terakhir.
Bahkan sebulan lalu hal ini pernah saya presentasikan pada seminar jembatan Selat Sunda di
PU. Pihak PU merespon bahwa hal ini sangat perlu diteliti lebih lanjut dan berjanji akan
menghubungi saya untuk mendiskusikan follow-upnya, tapi belum ada kabar sampai sekarang.
Baru-baru ini ada juga mahasiswa Indonesia program S3 Tektonik Geodesi di Jepang yang coba-
coba menghitung Moment Magnitude Segmen Sunda ini berdasarkan data pengukuran GPS
yang ada, dan hasilnya sekitar 8.5 SR. Analisa ini tentu masih sangat prelimineray karena data
yang tersedia masih terlalu sedikit sehingga ibaratnya dia mencoba menerka-nerka ―binatang
apa‖ dengan hanya meraba-raba pantatnya J

4. Apakah benar sudah banyak pemetaan dan penelitian sumber dan potensi
gempa di Indonesia (termasuk di Selat Sunda)?

Jawaban: Saya kira rekan-rekan IAGI-net sudah sangat mahfum bahwa penelitian ini masih
sangat sedikit. Ahli/penelitinya-pun sangat langka. Silahkan sebut siapa saja ahli
geologi/seismologi atau instansi yang benar-benar meneliti dengan serius sumber-sumber gempa
dan efeknya dan mempublikasikan hasilnya, khususnya untuk Selat Sunda.

Status Dieng naik menjadi SIAGA (Level 3)
Posted on 30 Mei 2011 by Rovicky


4 Votes

 Ststus Dieng dinaikkan menjadi SIAGA (Level 3) oleh Badan geologi setelah dilakukan
evaluasi aktifitasnya yang meningkat. Dibawah ini cuplikan dari surat yang dikeluarkan oleh
Badan Geologi mengenai peningkatan status G Dieng ini.

  “Wah Pakdhe, tadi malam sebenernya sudah denger beritanya ya ?”

  “Iya Thole tetapi penumpang kan tidak boleh mendahului supir”

Dalam peenjelasannya, Badan Geologi mendasari pada pengamatan Visual, Kegempaan, serta
Gas CO2.

Gunungapi Dieng secara geografis terletak pada 70 54’ LS dan 1090 54’ BT dan secara
administrasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara dan
Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Pada tanggal 23 Mei 2011, pukul 14:00 WIB, status
kegiatan Gunungapi Dieng dinaikkan dari Normal ke Waspada. Catatan erupsi freatik terakhir
Gunung Dieng terjadi di Kawah Sileri pada 27 September 2009 pukul 00.05 WIB berupa
semburan lumpur.

PEMANTAUAN

Visual




Lokasi Kawah Timbang (tanda X) sebelah kiri atas.

Pemantauan secara visual terhadap Kawah Timbang, sejak tanggal 22 Mei 2011 mulai teramati
hembusan asap kawah berwarna putih tipis ketinggian sekitar 20 meter dengan perioda
kemunculan berkisar antara 15 – 30 menit

Sejak 29 Mei 2011, pukul 06:00 – 16:14 WIB, teramati aliran gas dari Kawah Timbang sejauh
50 meter kearah selatan melalui lembah. Setelah dilakukan pengecekan (semua Pengamat
menggunakan masker), teramati tumbuhan tampak kering terkena gas dan dijumpai burung mati
(diambil sebagai bukti/sample). Dilakukan pengecekan di Jembatan Sumberejo menggunakan
kelinci, gas berbahaya belum mencapai Jembatan Sumberejo, sebagai bukti, kelinci tetap hidup.
Hingga saat ini (29 Mei 2011, pukul 18:02 WIB) teramati asap tipis keluar dari Kawah Timbang
mengalir kearah Selatan.

Kawah Sileri Kawah Sinila, Kawah Siglagah, Kawah Condrodimuko dan Kawah Sikidang tidak
terjadi perubahan secara visual.

Kegempaan

Dalam periode 18-22 Mei 2011, terekam 62 kejadian gempabumi Vulkanik Dalam, 59 kejadian
gempabumi Vulkanik Dangkal, 3 kejadian Gempabumi Tektonik Jauh dan 1 (satu) kejadian
Gempabumi Tektonik Lokal.
Pada tanggal 29 Mei 2011 pukul 00:00 hingga 06:00 WIB, terekam 5 kejadian Gempabumi
Vulkanik Dalam, 3 kejadian Gempabumi Tektonik Lokal dan 2 kejadian Gempabumi Tektonik
Jauh. Pada pukul 06:02 WIB, terekam Gempabumi Terasa MMI 2, kemudian diikuti serentetan
Gempabumi Vulkanik kecil-kecil yang merupakan Gempabumi Vulkanik Dangkal.

Gas CO2

Pada status Waspada konsentrasi gas CO2 di Kawah Timbang mencapai 0,106 % volume Pada
28 Mei 2011, tiba-tiba terjadi peningkatan konsentrasi gas CO2.


Bencana alam gunung merapi yogyakarta

gunung merapi di yogyakarta
tanggal 5 november 2010



Kenapa selalu ada kerusakan ?

Gunung Merapi terus meletus dan mengeluarkan lahar panas, awan panas, serta debu dan kerikil. Dua
dusun di lereng Merapi luluh-lantak diterjang lahar panas,
para pengungsi ditempat tempat posko yang telah disediakan tetap saja masih terkena dan harus di
pindahkan kemana lagi.
memang dengan adanya bencana ini adalah suatu pelajaran bagi kita yang lupa akan kewajiban untuk
menjaga alam yang telah memberikan kita nafkah sehari hari.
kita manusia yang telah berhari hari bahkan sampai bertahun tahun mendapatkan hasil dari alam akan
tetapi apa yang terjadi?kita melupakan untuk menjaganya dan kinilah saatnya alam meminta kembali
apa yang telah di berikan hasilnya untuk manusia.
tapi apa daya kita sekarang,mari kita saling memikirkan untuk saling membantu sesama umat yang
membutuhkan uluran tangan kita dan bersama kembali berdoa kepada yang kuasa untuk segera cepat
mengembalikan suasana tenang juga nyaman.seiring waktu apa yang terjadi kita harus bisa melindungi
alam kita,tempat dimana kita tinggal untuk menjaga dan merawatnya,dan jika alam bisa merasakan kita
untuk saling berbuat baik atau bermaafan pastilah alam akan perlahan lahan meredakan emosinya yang
bertubi tubi yang di sebabkan oleh manusianya sendiri.



Bencana Alam : Gempa Bumi di Yogyakarta

YOGYAKARTA–Masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya, Kamis (28/1) dini hari, kembali
dikejutkan oleh goncangan gempa bumi. Bahkan goncangan gempa yang terjadi dua kali
tersebut membuat masyarakat sedikit cemas akan adanya gempa susulan yang lebih tinggi.

Menurut data Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, gempa
yang sangat terasa di Yogyakarta tersebut terjadi pada pukul 03.35 WIB dan gempa susulan
terjadi pada pukul 03.48 WIB. Gempa utama berkekuatan 5, 2 skala richter (SR) dan gempa
kedua berkekuatan 2,6 SR.
Menurut Kepala Stasiun Geofisikan BMKG Yogyakarta, Budi Waluyo, pusat gempa berada di
17 kilometer dibawah Samudra Indonesia atau tepatnya di 115 Km Tenggara Gunungkidul atau
143 Km Tenggara Yogyakarta. ―Ini bukan gempa susulan dari aktivitas lempengan pada Mei
2006 yang menggoncang Yogya cukup parah waktu itu. Ini gempa baru,‖ paparnya saat
dihubungi, Kamis (28/1).

Menurutnya, gempa tersebut merupakan aktivitas benturan antara lempeng Indoaustralia dan
eurasia. Gempa itupun sangat terasa di wilayah Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, dan Pacitan.

Endang (27) warga Kotabaru, Yogyakarta mengaku kaget ketika tempat tidurnya terasa
bergoyang-goyang pada pukul 03.35 WIB Kamis dini hari kemarin. ―Saya kira saya sedang
mimpi, tetapi kok terasa sekali. Saya sempet bangun tapi tidak terjadi apa-apa lalu tidur lagi,‖
paparnya.

Di Bantul, beberapa kelompok masyarakat yang sadar akan gempa tersebut sempay
membunyikan kentongan tanda kewaspadaan. Di Wonokromo, Pleret, Bantul, masyarakat
kelompok ronda membunyikan kentongan akibat gempa tersebut.

―Ronda hampir bubar, tetapi saat jalan tiba-tiba terasa bergoyang. Langsung saja lari ke Pos
Ronda dan kita memperingatkan warga agar waspada,‖ terang Jariman, salah seorang warga

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: bencana, alam
Stats:
views:96
posted:6/22/2011
language:Indonesian
pages:6