ISI LAPoran by laluadhye

VIEWS: 1,014 PAGES: 80

									                                                                            1




                                     BAB I

                             PENDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG

        Dunia terus berjalan dan zaman terus berkembang, pemenuhan

 kebutuhan manusia melesat pesat seiring ilmu pengetahuan yang melejit

 membahana di segala penjuru kehidupan.      Permasalahan ini tergambar dari

 dunia bisnis yang kian membumi, berlari dan tumbuh dewasa sebagai jawaban

 atas tantangan zaman globalisasi. Sebagaimana tergambar dalam ilmu akuntansi

 yang kita kenal sebagai alat dalam dunia bisnis pun melakukan metamorfosis

 hingga kini telah menjadi suatu alat untuk adanya – minimal – dua tujuan

 utama, yakni sebagai media pertanggungjawaban satu pihak terhadap pihak lain,

 dan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan bisnis.

        Dua peran dasar tersebut praktis tidak mengalami perubahan dalam

 akuntansi sejak dahulu kala, walaupun sejumlah perubahan tertentu lainnya

 terjadi walaupun tidak begitu jelas. Secara abstrak terdapat perubahan-

 perubahan yang bergeser orientasi pertanggungjawaban, yakni terbatas kepada

 para pemilik modal (stock/shareholders). Kalaupun kemudian muncul lagi

 perubahan yang memperluas area pertanggunjawaban kepada pihak yang lebih

 luas, yakni stakeholders, namun dominasi kepentingan para pemilik modal alias

 stockholders tetap terasa kental.

        Dalam tatanan akuntansi konvensional teramat jelas tergambar

 kecenderungan mengadopsi peran akuntansi untuk memihak kepada pemilik
                                                                             2




modal atau pihak-pihak tertentu. Hal ini memicu hadirnya wacana baru yang

memunculkan        akuntansi   syariah   yang   tampaknya   lebih   cenderung

mengembangkan konsep keadilan secara merata sesuai ayat dalam al-Qur’an

yang artinya “Takarlah timbanganmu dengan benar”. Kehadiran akuntansi

syariah juga dipicu pula atas keberadaan (kembali) berbagai lembaga-lembaga

yang mencoba membangun dirinya atas dasar syariah Islamiah. yang merupakan

konsekuensi logis dari kesadaran banyak pihak untuk kembali ke dalam pelukan

Islam yang sempurna dan komprehensif.

       Akuntansi Islam berlandaskan syariah Islam merupakan akuntansi yang

berpedoman penuh atas dasar keadilan, kebenaran, dan pertanggunjawaban.

Dengan prinsip yang telah diatur rapi sedemikian rupa sebagai suatu kerangka

gambaran dari proses pengembangan akuntansi syariah yang panjang dan tidak

serta merta mengabaikan peran ilmu akuntansi yang sudah lama berkembang,

yakni sejak sebelum Islam muncul dalam periode Muhammad, serta dalam dan

sesudah periode Muhammad.

       Sebagaimana dalam akuntansi syariah, secara spesifik merupakan

kerangka pemikiran para pemikir ekonomi yang berkesinambungan dari zaman

pra Islam, Islam dan sesudah Islam hingga detik ini telah menjadi satu kesatuan

yang utuh yang memerlukan perkembangan dan inovasi yang tetap berpedoman

kepada nash al-Qur’an, al-Hadist serta Tajdid para ulama. Sehingga akuntansi

syariah merupakan jawaban yang pantas atas segala permasalahan dalam

masyarakat luas.
                                                                           3




       Sehingga demikian, Ikatan Akuntan Indonesia atau yang kita kenal

dengan sebuatan IAI pun melakukan renovasi dan inovasi untuk mengatur

Akuntansi di Indonesia secara fleksibel yang memunculkan PSAK No.59 yang

disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan

yang berakhir tahun 2003 yang mengatur khusus Perbankkan Syariah (Umum

dan BPRS). Berlaku hanya dalam tempo 5 tahun. PSAK 101-106 disahkan

tangal 27 Juni 2007 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2008 atau pembukuan

tahun yang berakhir tahun 2008 yang mengatur tentang entitas perbankan

syariah dan non perbankan syariah.

       Perkembangan ilmu akuntansi syariah di Indonesia yang begitu pesat

dipicu oleh perkembangan perbankan syariah yang begitu siginifikan dengan

produk-produk yang dimilikinya, keunikannya, serta kekhasannya sebagai

lembaga aktivitas bisnis yang syarat dan berorientasi pada nilai kemanusiaan,

keadilan, kebenaran, etika dan ibadah.      Perkembangan ini secara jelas

berdampak terhadap ekonomi masyarakat dalam hal jasa keuangan. Sehingga

perbankan syariah mampu memberikan kita gambaran singkat betapa peran

agama (Islam) sudah mulai menkover dunia bisnis di Indonesia. Seperti halnya

dalam PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram yang berdiri tahun 2002

sudah melaksanakan sistem akuntansi syariah secara totalitas dan proses

akuntansi bersdasarkan PSAK dan PAPSI (Peraturan Akuntansi Perbankan

Syariah) sebagai pedomannya.

       Produk-produk Bank syariah yang didelegasikan untuk kemaslahatan

ummat, kesejahteraan bersama, dan untuk keseimbangan pemerataan ekonomi
                                                                             4




rakyat(distribusi kekayaan), merupakan produk-produk murni syariah yang

terdiri dari beberapa sub-pokok, yaitu: (a)Pendanaan (funding), (b)pembiayaan/

penyaluran   dana    (financing),   dan   (c)Jasa   (Service).   Dalam   proses

Penghimpunan dana bank syariah khususnya PT. Bank Syariah Mandiri Cabang

Mataram (BSM Mataram) sebagai Lembaga keuangan/Perbankkan syariah

bersumber pada prinsip dasar yakni, Simpan Murni (Al-Wadi’ah) dan

Mudharabah. Sedangkan produk penyaluran dana bersumber pada prinsip Jual

Beli (At-Tijarah), Sewa (Al-Ijarah), Bagi Hasil (syirkah). Serta untuk Produk

jasa bersumber pada prinsip Fee/ jasa (Al-Ajr Wal Umulah). Produk-produk

tersebut di sajikan dan ditawarkan secara luwes dan lugas kepada masyarakat

dengan tetap berprinsip atas dasar al-Qur’an dan al-Hadist.

       Dalam hal produk Pembiayaan, BSM Mataram memiliki tiga

pembiayaan pokok, yaitu Mudharabah (pembiayaan modal kerja), Murabahah

(pembiayaan jual beli), dan Musyakarah (pembiayaan dalam bentuk kongsi atau

kerja sama). Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah dengan berbagai macam

jenisnya menganut sistem “bagi Hasil” dan termasuk ke dalam pembiayaan

produktif, sedangkan pembiayaan Murabahah menganut sistem “margin” dan

merupakan pembiayaan konsumtif. Pada bank konvensional pembiayaan

produktif sudah lazim kita kenal dengan peminjaman modal kerja dan

pengembalian dengan cara mengangsur ditambah dengan besarnya bunga.

Namun, untuk bentuk pembiayaan konsumtif seperti pembiayaan Murabahah

ini, bisa dikatakan lebih awam dan perlu untuk lebih diteliti dan dikaji lebih

dalam lagi akan keunggulan atau kemudahanya dalam melakukan pembiayaan
                                                                           5




ini, baik bagi nasabah yang berorientasi pada bisnis maupun nasabah orientasi

non bisnis atau disebut murni konsumtif. Yang mana pembiayaan murabahah

itu sendiri merupakan suatu mekanisme pembiayaan jual-beli suatu barang

antara pembeli (nasabah) dan penjual (bank) menentukan perjanjian secara

terbuka mengenai beberapa ketentuan yang telah diatur berdasarkan al-Qur’an

dan al-Hadist.

       Oleh karena itu, dari dasar di atas penulis mengangkat judul Laporan

Praktek Kerja Lapangan; “PENERAPAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN

MURABAHAH          BERDASARKAN PSAK NO. 102 PADA PT BANK

SYARIAH MANDIRI CABANG MATARAM”. Dimana pengangkatan judul

ini di dasari atas keunikan dari pembiayaan Murabahah yang lebih berorientasi

kepada prinsip at-tijarah (jual beli) yang mengedepankan nilai keadilan dan

transparansi ketimbang dikategorikan pemberian kredit sebagaimana yang

dilakukan oleh bank konvensional pada umumnya. Sehingga penulis mengangap

perlu untuk memahami lebih dalam lagi penerapan akuntansi pembiayaan

murabahah sebagaimana telah diatur dalam PSAK No.102 yang memuat tentang

karakteristik, pengakuan, serta pengukuran akuntansi Murabahah pada lembaga

keuangan syariah dalam hal ini perbankan syariah.
                                                                            6




1.2. TUJUAN DAN MANFAAT

  1.2.1 Tujuan

     a) Untuk mengetahui tentang akuntansi pembiayaan murabahah pada

        PT.Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram.

     b) Untuk memahami secara rill ilmu akuntansi yang berlaku secara umum

        (konvensional)   yang   diterima   dari   bangku   perkuliahan   serta

        membandingkannya dengan akuntansi pada PT. Bank Syariah Mandiri

        Cabang Mataram yang berbasis Akuntansi Syariah.

     c) Untuk dapat memberikan pemahaman dan wawasan penerapan PSAK

        No. 102 tentang Akuntansi Murabahah Pada Bank Syariah.

  1.2.2 Manfaat

     a) Secara akademis merupakan salah satu syarat untuk mencapai

        kebutuhan studi pada program Diploma III Akuntansi Fakultas

        Ekonomi Universitas Mataram.

     b) Secara teoritis sebagai wahana/ sarana/ wadah/ media transformasi

        teori-teori yang telah diperoleh dari literature baik buku maupun

        handout dosen mata kuliah untuk diaplikasikan secara langsung dalam

        kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) yang dilakukan. Sehingga,

        Kami dapat mengetahui Secara rill praktek akuntansi di perusahaan

        khususnya perbankan Syariah. Dan disamping itu pula, Kami

        mendapatkan pengalaman serta pemahaman             tentang akuntansi

        mengenai pembiayaan murabahah (jual beli) di dalam perbankkan

        syariah.
                                                                           7




      c) Secara teknis/ praktik Laporan dari program praktik kerja lapangan

          (PKL) ini dapat diharapkan sebagai bahan informasi serta acuan yang

          berguna bagi kami dan pihak Bank yakni, PT.Bank Syariah Mandiri

          Cabang Mataram.

1.3. KERANGKA KONSEPTUAL

 Gambar 1: Kerangka Konseptual Bank Syariah Mandiri


                               PT. BANK SYARIAH
                               MANDIRI CABANG
                                   MATARAM




                            Penerapan Pembiayaan
                                 Murabahah




                             PSAK NO. 102

Keterangan:

PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram menerapkan Pembiayaan Murabahah
berdasarkan peraturan PSAK No. 102
                                                                                 8




                                      BAB II

                          TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Bank syariah

 2.1.1     Pengertian Bank Syariah

                Menurut IAI dalam PSAK pengertian bank adalah lembaga yang

         berperan sebagai perantara keuangan (financial intermeditary) antara pihak

         yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana, serta sebagai

         lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

                Pengertian bank menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang

         Perubahan UU No. 7 tahun 1992 adalah “badan usaha yang menghimpun

         dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada

         masyarakat dalam bentuk pembiayaan atau bentuk-bentuk lainnya dalam

         rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Sedangkan bank syariah

         menurut PP No.72 tahun 1992 adalah bank yang sistem operasinya

         berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

                Bank syariah menurut Muhammad (2005:1) adalah lembaga

         keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa

         lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang

         operasinya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Sedangkan

         menurut Martawiredja (2009:54) Bank syariah adalah bank yang

         menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri

         atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Lembaga
                                                                        9




 keuangan (Bank) syariah harus beroperasi secara ketat dengan prinsip

 syariah prinsip ini sangat berbeda dengan prinsip yang dianut oleh

 lembaga non syariah. Adapun prinsip-pinsip yang dirujuk oleh bank Islam

 yang dinyatakan oleh Muhammad dalam bukunya Pengantar Akuntansi

 Syariah (2005:12) sebagai berikut:

 1. Larangan menerapkan bunga pada semua bentuk dan jenis transaksi;
 2. Menjalankan aktivitas bisnis dan perdagangan berdasarkan pada
    kewajaran dan keuntungan yang halal;
 3. Mengeluarkan zakat dari hasil kegiatannya;
 4. Larangan menjalankan monopoli; dan
 5. Bekerja sama dalam membangun masyarakat, melalui aktivitas bisnis
    dan perdagangan yang tidak dilarang oleh Islam.

2.1.2   Fungsi Bank Syariah

         Sebagaimana yang kita ketahui fungsi bank sebagai penghimpun

 dan penyalur dana masyarakat kepada pihak yang membutuhkan dana, dan

 berfungsi menjalankan jasa keuangan, maka jasa perbankan syariah

 mempunyai fungsi yang berbeda dengan bank konvensional. Fungsi bank

 syariah menurut Muhammad (2005:195-196) adalah:

 1.     Manajer investasi
        Bank syariah dapat melaksanakan fungsi ini berdasarkan kontak
        mudharabah atau kontrak perwakilan. Menurut kontrak mudharabah,
        bank (dalam kapasitasnya sebagai mudharib, yaitu pihak yang
        melaksanakan investasi dana dari pihak lain) menerima persentase
        keuntungan hanya dalam kasus untung. Dalam hal terjadi kerugian,
        sepenuhnya menjadi tanggungan penyedia dana (shahibul maal)
        sementara bank tidak ikut menanggung.
 2.     Investor
        Bank syariah menempatkan dana pada dunia usaha (baik dana modal
        maupun dana rekening investasi) dengan menggunakan alat-alat
        investasi yang konsisten dengan syariah. Diantara contohnya adalah
        kontrak al murabahah, mudharabah, musyarakah, ba’i as-salam, ba’i
        istishna, ijarah dan lain-lain. Rekening investasi dapat dibagi
        menjadi tidak terbatas (unrestricted mudharabah) atau terbatas
        (restricted mudharabah).
                                                                          10




 3.     Jasa-jasa keuangan
        Bank syariah dapat juga menawarkan berbagai jasa keuangan lainnya
        berdasarkan upah (fee based) dalam sebuah kontrak perwakilan atau
        penyewaan. Contohnya garansi, transfer kawat, L/C, dan sebagainya.
 4.     Sosial
        Konsep bank syariah mengharuskan bank tersebut melaksanakan jasa
        sosial, bisa melalui dana pinjaman kebaikan (qardh), zakat, atau dana
        sosial yang sesuai ajaran Islam. Lebih jauh lagi konsep perbankan
        Islam juga mengharuskan bank Islam memainkan peran dalam
        pengembangan sumber daya insani dan menyumbang dana bagi
        pemeliharaan serta pengembangan lingkungan hidup.

2.1.3   Ciri-Ciri Bank Syariah

         Dalam beberapa hal bank syariah memiliki persamaan dengan bank

 konvensioanl (secara umum) seperti dalam sesi teknis penerimaan uang,

 mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan. Namun, banyak

 perbedaan yang mendasar antara bank syariah dan bank konvensional

 sebagaimana Menurut Antonio (2001:29) perbedaan itu dalam hal:

 1. Akad dan aspek legalitas
    Dalam bank syariah akad yang dilakukan memiliki konsekuensi
    duniawi dan ukhrowi, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum
    Islam. Sering kali nasabah berani melanggar kesepakatan/ perjanjian
    yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif
    belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki
    pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.
 2. Lembaga penyelesaian sengketa
    Berbeda dengan perbankan konvensional, jika pada perbankan syariah
    terdapat perbedaan atau perselisihan antara nasabah dengan bank,
    kedua belah pihak tidak menyelesaikan di pengadilan negeri, tetapi
    menyelesaikannya sesuai tata cara berdasarkan dan hukum syariah.
    Lembaga yagn mengatur hukum materi dan atau berdasarkan prinsip
    syariah di Indonesia dengan nama Badan Arbitrase Mauamalah
    Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan
    Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.
 3. Bisnis dan usaha yang dibiayai
    Bisnis yang dibiayai oleh bank syariah tidak mungkin mengandung
    usaha hal-hal yang haram.
 4. Linkungan kerja
    Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang
    sejalan dengan syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan
                                                                      11




   shiddiq harus dilandasi setiap karyawan sehingga tercipta
   profesionalisme yang berdasarkan Islam. Demikian pula reward and
   punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariah.
   Selain itu juga cara berpakaian dan tingkah laku karyawan merupakan
   cerminan dari lembaga Islam.

Selain dari kelima perbedaan tersebut, prinsip dan mekanisme perhitungan

bagi hasil pada bank syariah juga berbeda dengan bank konvensional

antara lain: (Antonio, 1999: 264)

1. Perbandingan pertama
   Pada bank syariah bagi hasil yang diperoleh deposan bergantung pada:
   pendapatan bank, nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank, nominal
   deposito nasabah, rata-rata saldo untuk jangka waktu tertentu yang ada
   pada bank, jangka waktu deposito karena berpengaruh pada lamanya
   investasi. Pada bank konvensional besar kecilnya bunga yang
   diperoleh deposan tergantung pada tingkat bunga yang berlaku,
   nominal deposito, jangka waktu deposito.
2. Perbandingan kedua
   Bank syriah memberikan keuntungan kepada deposan dengan
   pendekatan Loan to Deposit (LDR), yaitu pertimbangan rasio antara
   dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang dilakukan. Dalam
   perbankan syariah LDR bukan saja mencerminkan keseimbangan
   tetapi juga keadilan , karena bank benar-benar membagikan hasil rill
   dari dunia usaha (Loan) kepada penabung. Sedangkan pada bank
   konvensional, semua bunga yang diberikan kepada deposan menjadi
   beban biaya langsung tanpa memperhitungkan beberapa pendapatan
   yang dapat dihasilkan dari dana yang dihimpun. Konsekuensinya bank
   harus menambahi bila bunga dari peminjam ternyata lebih kecil
   dibandingkan dengan kewajiban bunga kepada deposan. Hal ini
   terkenal dengan istilah negaitf spread atau keuntungan negatif alias
   rugi.
      Tabel 1: Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional


    No.              Bank Syariah                     Bank Konvensional

          Melakukan investasi yang halal Melakukan investasi baik yang
      1
          saja.                          halal maupun yang haram
          Berdasarkan prinsip bagi hasil,
      2                                   Memakai perangkat bunga
          jual beli, atau sewa

      3   Profit dan faalah oriented          Profit oriented
                                                                           12




                  Hubungan dengan nasabah dalam Hubungan dengan nasabah dalam
            4
                  bentuk kemitraan              bentuk debitur – kreditur
                  Penghimpunan dana harus sesuai
            5     dengan fatwa dewan pengawas Tidak ada dewan sejenis
                  syariah
                  Besarnya      bagi   hasil    yang
                  diperoleh deposan tergantung Besarnya bunga yang diperoleh
                  pendapatan bank, nisbah bagi deposan tergantung tingkat bunga,
            6
                  hasil, nominal doposito, rata-rata nominal deposito, jangka waktu
                  saldo deposito untuk jangka waktu deposito
                  tertentu, jangka waktu deposito
                                   Sumber Antonio (2001: 34)

2.2. Akuntansi

    2.2.1   Pengertian Akuntansi Secara Umum (Konvensional)

                Kata akuntansi berasal dari kata to account yang berarti

      memperhitungkan atau mempertanggungjawaban dan kata accountancy

      yang berarti hal-hal yang bersangkutan dengan sesuatu yang dikerjakan

      oleh akuntan (accountant). Sebagai pengetahuan, istilah yang umum

      digunakan dalam bahasa inggris adalah accounting yang punya pengertian

      yang lebih luas dibandingkan dengan istilah accountancy.

             Menurut Soemarso (2002:3) Akuntansi adalah suatu disiplin yang
      menyediakan informasi penting sehingga memungkinkan adanya
      pelaksanaan dan penilaian jalannya perusahaan secara efisien. Akuntansi
      juga dapat didefinisikan sebagai proses mengidentifikasikan, mengukur
      dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan dilakukan
      adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang
      membutuhkan.

                Menurut Zaki Baridwan (1992:10), menyatakan bahwa akuntansi

      adalah satu kegiatan jasa fungsinya adalah menyediakan data kuantitatif,

      terutama yang mempunyai sifat keuangan, dari kesatuan usaha ekonomi
                                                                          13




 yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi

 dalam alternatif-alternatif dari suatu keadaan.

         Menurut Jusuf (2005:4-5), ditinjau dari suatu kegiatannya,
 akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, pengolahan,
 pengikhtisaran, pelaporan, dan penganalisaan laporan keuangan suatu
 organisasi. Dan ditinjau dari sudut pemakai, akuntansi didefinisikan
 sebagai suatu disiplin yang menyediakan informasi dimana diperlukan
 untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi suatu
 kegiatan-kegiatan organisasi yang diperlukan untuk membuat perencanaan
 efektif, pengawasan dan pengambilan keputusan oleh manajemen dan
 pertanggungjawaban orgainsasi kepada investor, kreditor, dan badan
 pemerintah.

         Menurut    Rudianto,    (2009:14).    Akuntansi   adalah   aktivitas

 mengumpulkan, menyajikan dalam bentuk anagka, mengklasifikasikan,

 mencatat, meringkas dan melaporkan aktivitas/ transaksi perusahaan

 dalam bentuk informasi keuangan.

2.2.2   Pengertian Akuntansi Secara Syariah

         Dalam pengertian akuntansi menurut syariah (Islam) selalu

 dilandaskan kepada al-Qur’an dan al Hadist, yang dalam hal ini dapat

 dilihat melalui Al-quran dalam surah Al-Baqarah (02) ayat 282 yang artinya

 sebagai berikut:

   “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak
   secara tunai untuk yang ditentukan, hendaklah seorang penulis diantara
   kamu menulisnya dengan benar. Dan jangan penulis enggan
   menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka
   hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu
   menginfakkan apa yang ditulis itu, dan hendaklah ia bertakwa kepada
   Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada
   utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akal atau lemah
   keadaannya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka
   hendaklah wakilnya mengimlakkan dengan jujur dan persaksikanlah
   dengan dua saksi dari orang laki-laki diantara kamu….. “(Al Qur’an
   Surah Al Baqarah ; 282).
                                                                     14




        Dari ayat tersebut dapat kita catat bahwa dalam Islam sejak

 munculnya peradaban Islam telah ada perintah untuk melakukan sistem

 pencatatan yang tekanannya adalah untuk tujuan kebenaran, kepastian,

 keterbukaan, keadilan antara dua pihak yang mempunyai hubungan

 muamalah tadi. Sehingga Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat

 didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan

 permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber syariah Islam dan

 dipergunakan sebagai aturan oleh seorang akuntan dalam pekerjaannya,

 baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun

 penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau

 peristiwa. Dan Akhyar adnan juga berpendapat akuntansi syariah

 merupakan akuntansi yang konsepnya dibangun berdasarkan bingkai

 syariah Islam. (Adnan, 2005: )

2.2.3 Persamaan Dan Perbedaan Akuntansi (Konvensional) Dengan

      Syariah

        Secara teoritis terdapat Persamaan yang mendasar mengenai

 kaidah antara Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional yang

 terdapat pada hal-hal sebagai berikut :

 (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/09)


 1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi;
 2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun
    pembukuan keuangan;
 3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal;
 4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang;
 5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan
    income dengan cost (biaya);
                                                                        15




6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan;
7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.

Sedangkan perbedaannya, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai
berikut:

1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan
   nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat
   ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum
   ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian
   berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal
   pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam
   ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas;
2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua
   bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar
   (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang
   pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa
   barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan
   barang dagang;
3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain
   yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan
   hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau
   harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;
4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian
   dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta
   mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep
   Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau
   harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk
   cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko;
5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup
   laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang
   haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari
   aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok)
   dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan
   dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta
   menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para
   ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk
   mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal;
6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada
   ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah
   bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan
   pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang
   belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untu menyatakan
   laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.
                                                                           16




2.3. Pembiayaan

    2.3.1   Pengertian Pembiayaan

             Kegiatan umum dari sebuah bank adalah menghimpun dana dari

     masyarakat luas dalam bentuk simpanan giro, tabungan, deposito dan

     kemudian menyalurkannya kembali ke masyarakat yang membutuhkan

     dana. Penyaluran dana tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pinjaman

     yang lebih dikenal dengan pembiayaan.

             Menurut IAI (2007: 31 paragraf 11), pengertian pembiayaan dapat
     didefinisikan sebagai berikut: “pembiayaan adalah peminjaman uang atau
     tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
     kesepakatan peminjam meminjam antara bank dan pihak lain yang
     mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka
     waktu tertentu denang jumlah bunga, imbalan atau pembagiah hasil.

             Menurut Muhammad (2005:17) pembiayaan atau financing yaitu

     pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk

     mendukung investasi yang telah direncanakan baik dilakukan sendiri

     maupun lembaga.

    2.3.2   Tujuan Pembiayaan

             Tujuan pembiayaan merupakan bagian dari tujuan bank sebagai

     perusahaan, yaitu untuk memperoleh keuntungan serta keholdersnya. Oleh

     karena itu, tujuan pembiayaan harus mendukung visi, misi dan strategi

     usaha bank. Tujuan pembiayaan harus dirumuskan dengan jelas, realistis

     dan dapat diketahui oleh semua orang yang terlibat dalam organisasi agar

     mereka dapat berpartisipasi dengan penuh kesadaran. (Arifin, 2003: 210)
                                                                        17




         Secara umum tujuan pembiayaan di bedakan menjadi 2 kelompok

 (Muhammad, 2005:18), yaitu:

 a. Tujuan untuk tingkat mikro
    Secara umum tujuan pembiayaan adalah meningkatkan ekonomi
    masyarakat, tersediayan dana bagi peningkatan usaha, peningkatan
    produktivitas, membuka lapangan kerja baru, terjadinya distribusi
    pendapatan.
 b. Tujuan untuk tingkat makro
    Secara makro tujuan pembiayaan adalah untuk memaksimalkan laba,
    meminimkan resiko, pendayagunaan sumber ekonomi, dan penyaluran
    kelebihan dana.

2.3.3   Jenis-Jenis Pembiayaan

         Menurut Antonio (2001: 160) pembiayaan pada perbankan syariah

 dibagi berdasarkan sifat penggunaan menjadi:

 a. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk
    memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas yaitu untuk
    meningkatkan usaha baik usaha produksi, perdagangan, maupun
    investasi.
    Pembiayaan produktif dapat dilihat dari keperluannya menjadi:
    1. Pembiayaan modal kerja
        Pembiayaan modal kerja yaitu pembiayaan untuk memenuhi
        kebutuhan:
        i. Peningkatan produksi baik secara kuantitatif, yaitu jumlah hasil
            produksi maupun secara kualitatif, yaitu peningkatan kualitas
            dari suatu hasil produksi.
        ii. Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility oplace
            dari suatu barang.
        Unsur-unsur modal kerja terdiri atas komponen-komponen alat
        likuid (cash); piutang dagang (receivable), dan persediaan
        (inventory) yang umumnya terdiri atas persediaan bahan baku (raw
        material), persediaan barang dalam proses ( work in process), dan
        persediaan barang jadi (finhised good). Oleh karena itu,
        pembiayaan modal kerja merupakan salah satu kombinasi dari
        pembiayaan likuiditas (cash financing), pembiayaan piutang
        (receivable financing) dan pembiayaan persediaan (inventory
        financing).
    2. Pembiayaan investasi
        Merupakan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah untuk
        keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna
                                                                      18




        mengadakan rehabilitasi, peluasan usaha, ataupun pendirian proyek
        baru.
        Ciri-ciri pembiayaan investasi adalah:
        i. Untuk mengadakan barang-barang modal.
        ii. Mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan
             terarah.
        iii. Pembiayaan berjangka waktu menengah dan panjang.
        Pada umumnya pembiayaan investasi ini, bank syariah
        menggunakan skema musyarakah mutanaqishah, yang dalam hal
        ini bank syariah memberikan pembiayaan dengan perinsif
        penyertaan modal bersama dan secara bertahap bank melepaskan
        penyertaannya dan pemilik perusahaan akan mengambil alih baik
        dengan menggunakan surplus cash flow maupun dengan
        menambah modal yang berasal dari setoran pemegang saham yang
        ada ataupun dengan mengundang pemegang saham yang baru.
        Skema lain yang dapat digunakan adalah al-ijarah, al-muntahihah,
        bittamlik yaitu menyewakan barang modal dengan opsi diakhiri
        dengan kepemilikan. Sumber perusahaan untuk membayar sewa ini
        adalah amortisasi atas barang modal yang bersangkutan, surplus
        dan sumber-sumber lain yang dapat diperoleh perusahaan.
 b. Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk
    memenuhi kebutuhan konsumsi yang akan habis digunakan untuk
    dipakai memenuhi kebutuhan. Pembiayaan ini biasanya pemenuhan
    kebutuhan primer, yaitu kebutuhan yang berupa barang, baik makanan,
    minuman, pakaian dan tempat tinggal. Maupun jasa seperti pendidikan
    dasar dan pengobatan, sedangkan untuk kebutuhan sekunder adala
    kebutuhan tambahan yang secara kualitatif maupun kuantitatif lebih
    tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer, baik seperti
    pendidikan tinggi, pelayanan kesehatan, pariwisata, liburan, dan
    sebagainya.

2.3.4 Prosedur Umum Pembiayaan Pada Bank Syariah

 Secara umum terdapat prosedur pembiayaan pada bank syariah secara

 umum yang dapat terlihat sebagai berikut:
                                                                           19




     Gambar 2: Prosedur Umum Pembiayaan Pada Bank Syraiah


                                              Pengajuan
                                             Pembiayaan

                                           Mengisi Formulir
                                            Permohonan

                    Pembiayaan Produktif                       Pengajuan
                       dan Konsumtif                             Sosial


              MSA       MDA         MBA     BBA                    QH



                                              Distribusi
     Keterangan:
     MSA = Musyarakah
     MDA = Mudharabah
     MBA = Murabahah
     BBA     = Ba’I Bithaman Ajil
     QH      = Al-Qardhul Hasan
                           Sumber: Muhammad (2008: 195)
2.4. Murabahah

    2.4.1   Pengertian Murabahah

             Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga

     perolehan dan keuntungan (marjin) yang disepakati oleh penjual dan

     pembeli. (Martawiredja, 2001: 180)

             Pengertian murabahah menurut IAI (2007:Akuntansi Murabahah,

     Paragraf 05) adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya

     prolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus

     mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli. Dan

     menurut Laksmana (2009:24) bahwa murabahah adalah pembiayaan jual

     beli dimana penyerahan barang dilakukan diawal akad, bank menetapkan
                                                                           20




   harga jual barang yaitu harga pokok perolehan ditambah sejumlah marjin

   keuntungan bank harga jual disepakati di awal akad tidak boleh berubah

   selama jangka waktu pembiayaan. Dan adapun syarat dalam transaksi

   pembiayaan murabahah (Antonio, 2001:102) adalah:

   i.    Memberi tahu biaya modal kepada nasabah.
   ii.   Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.
   iii.  Kontrak harus bebas dari riba.
   iv.   Penjual menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang
         sesudah pembelian.
    v. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
         pembelian misalnya jika pembeli dilakukan secara hutang.
             Menurut Muhammad (2005: 121), sejumlah alasan yang digunakan
    untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi
    perbankan Islam, yaitu:
    i. Murabahah adalah suatu mekanisme jangka pendek dan dibandingkan
         dengan sistem loss sharing.
    ii. Mark up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga
         memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan bank-bank
         berbasis bunga yang menjadi saingan bank-bank Islam.
    iii. Murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari
         bisnis-bisnis profit dan loss sharing.
  2.4.2      Sksema Teknis Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah

   `       Secara garis besar terdapat skema/ alur pembiayaan murabahah

   yang diterapkan pada perbankan syariah sebagai berikut:

                  Gambar 3 : Skema Teknis Penyaluran Dana Murabahah

                              1. Negosiasi & Persyaratan

                               2. Akad Jual


                 Bank                                            Nasabah
                                 6. Bayar

                                                                      5. Terima Barang &
3. Beli Barang                         Suplier             4. kirim      Dokumen


                            Sumber: Muhammad (2008: 112)
                                                                          21




2.4.3 Akuntansi Pembiayaan Murabahah Dalam PSAK No. 102

        Dalam transaksi murabahah ada beberapa hal yang harus diperhatikan

 agar transaksi yang dilakukan berjalan sesuai dengan syariah. Ketentuan-

 ketentuan tersebut dikeluarkan berdasarkan fatwa dari Dewan Pengawas Syariah

 (DSN) yang tertuang dalam PSAK No. 102, yaitu:

 a. Akad murabahah

    1. Akad murabahah memperkenankan penawaran harga yang berbeda

        untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad murabahah

        dilakukan. Namun, jika akad tersebut telah disepakati maka hanya ada

        satu harga (harga dalam akad) yang digunakan (PSAK 102: Akuntansi

        Murabahah, paragraf 9).

 b. Aset Murabahah

    1. Adalah aset yang diperoleh dengan tujuan untuk dijual kembali dengan

        menggunakan akad murabahah (PSAK 102: Akuntansi Murabahah,

        paragraf 05).

    2. Murabahah dapat dilakukan secara pesanan atau tanpa pesanan. Yang

        mana dalam murabahah berdasarkan pesanan penjual melakukan

        pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli (PSAK 102:

        Akuntansi Murabahah, paragraf 06).

    3. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak

        mengikat pembeli untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam

        murabahah pesanan mengikat pembeli tidak dapat membatalkan

        pesanannya. Jika aset murabahah yang telah dibeli oleh penjual
                                                                           22




      mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli, maka

      penurunan nilai tersebut menjadi tanggungan penjual dan akan

      mengurangi akad (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf 07).

   4. Pada saat diperoleh, aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar

      biaya perolehan (PSAK 102: Akuntansi Murbahah, paragraf 18).

   5. Pesanan mengikat dinilai sebesar biaya perolehan. Jika terjadi penurunan

      nilai aktiva karena usang, rusak atau kondisi lainnya sebulum diserahkan

      ke nasabah, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan

      mengurangi aset (PSAK 102:Akuntansi Murabahah, paragraf 19).

   6. Jika murabahah tanpa pesanan atu pesanan tidak mengikat dinilai

      berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasikan,

      mana yang lebih rendah. Dan jika nilai bersih yang dapat direalisasikan

      lebih rendah dari biaya perolehan atau biaya bersih yang dapat

      direalisasi mana yang lebih rendah maka selisihnya diakui sebagai

      kerugian. (PSAK 102, Akuntansi Murabahah, paragraf 19).

c. Pembayaran murabahah

   1. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh.

      Pembayaran tangguh adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat

      barang yang diserahkan kepada pembeli, tetapi pembayaran dilakukan

      secara angsuran atau sekaligus pada saat tertentu (PSAK 102: Akuntansi

      Murabahah, paragraf 08).
                                                                         23




d. Uang muka

  1. Uang muka adalah jumlah yang dibayar oleh pembeli kepada penjual

     sebagai bukti komitmen untuk membeli barang dari penjual (PSAK 102:

     Akuntansi Murabahah, paragraf 05).

  2. Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti

     komitmen pembeli sebelum akad disepakati. Uang muka menjadi bagian

     pelunasan piutang murabahah, jika akad murabahah batal, maka uang

     muka dikembalikan kepada pembeli setelah dikurangi kerugian rill yang

     ditanggung oleh penjual (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf

     14).

  3. Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang
     diterima. Jika barang jadi dibeli oleh pembeli, maka uang muka diakui
     sebagai pembayaran piutang (merupakan bagian pokok). Dan jika barang
     batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan kepada pembeli
     setelah diperhitungkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh
     penjual. (PSAK N0. 102, Akuntansi Murabahah, paragraf 30)

    e. Piutang murabahah dan keuntungan murabahah

       1. Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar

            biaya perolehan aset murabahah ditambah keuntungan yang

            disepakati (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf 22).

       2. Keuntungan murabahah diakui (PSAK 102: Akuntansi Murabahah,
          paragraf 23)
          a) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara
              tunai atau tangguh yang tidak melebihi satu tahun.
          b) Selama periode akad sesuai tingkat resiko dan upaya untuk
              merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh
              lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan,
              dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik resiko dan
              upaya transaksi murabahahnya:
              i. Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah.
                                                                          24




               ii. Keuntungan diakui proporsional dengan besaran taksiran
                    kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah.
               iii. Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil
                    ditagih.
f. Potongan.

   1. Potongan transaksi murabahah adalah pengurang kewajiban pembeli

      akhir yang diberikan oleh pihak penjual (PSAK 102: Akuntansi

      Murabahah, paragraf 05).

   2. Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli

      yang melunasi secara tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang

      disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah (PSAK 102:

      Akuntansi Murabahah, paragraf 26).

   3. Pemberian potongan pelunasan piutang murabahah dapat dilakukan

      dengan menggunakan salah satu metode berikut (PSAK 102: Akuntansi

      Murabahah, paragraf 27).

           i. Diberikan pada saat pelunasan yaitu penjual mengurangi

               piutang murabahah dan keuntungan murabahah.

           ii. Diberikan setelah pelunasan, yaitu        penjual menerima

               pelunasan piutang dari pembeli dan kemudian membayar

               potongan pelunasan kepada pembeli.

   4. Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:

           i. Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat

               waktu, maka diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah;

           ii. Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran

               pembeli, maka diakui sebagai beban.
                                                                          25




   5. Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang

      murabahah jika pembeli: (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf

      26).

             i. Melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu, atau

             ii. Melakukan pembayaran lebih cepat dari waktu yang telah

                disepakati

   6. Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut: (PSAK 102:

      Akuntansi Murbahah, paragraf 28).

             i. Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat

                waktu, maka diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah.

             ii. Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran

                pembeli maka diakui sebagai beban

g. Denda

   1. Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya

      sesuai. Dengan akad, dan denda yang diterima diakui sebagai bagian dari

      dana kebajikan (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf 29).

   2. Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai
      dengan perjanjian, maka penjual dapat mengenakan denda kecuali jika
      dapat dibuktikan bahwa pembeli tidak atau belum mampu melunasi
      disebabkan oleh force majeur. Denda tersebut didasarkan pada
      pendekatan ta’jir yaitu membuat pembeli disiplin terhadap
      kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan perjanjian dalam akad dan
      dana yang berasal dari denda diperuntukan sebagai dana kebajikan
      (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf 15).

h. Diskon

   1. Diskon atas pembelian barang yang diterima setelah akad murabahah

      disepakati deperlakukan sesuai dalam akad tersebut. Jika diatur dalam
                                                                          26




      akad maka diskon tersebut menjadi hak penjual (PSAK 102: Akuntansi

      Murabahah, paragraf 12).

   2. Jika penjual mendapatkan diskon sebelum akad maka diskon tersebut

      merupakan hak pembeli. (PSAK 102: Akuntansi Murabahah, paragraf

      10).

   3. Diskon dapat terkait dengan pembelian barang, antara lain:

      1) Diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian barang;

      2) Diskon biaya asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka

          pembelian barang;

      3) Komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan

          pembelian barang.

i. Jaminan murabahah

   1. Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang

      murabahah, antara lain dalam bentuk barang yang telah dibeli dari

      penjual dan/atau aset lainnya. (PSAK 102: Akuntansi Murabahah,

      paragraf 13)
                                                                                 27




                                  BAB III

                     KEGIATAN SELAMA PKL


       Salah satu tujuan umum dilaksanakannya Praktek Kerja Lapangan (PKL)

ini adalah untuk memperoleh pengalaman belajar yang berharga melalui

keterlibatan dalam dunia kerja secara langsung, guna menerapkan keterampilan

dalam bidang keahlian yang di miliki. Berdasarkan tujuan tersebut, maka penulis

didalam melaksanakan PKL pada suatu perusahaan berusaha menyesuaikan diri

dengan lingkungan kerja, terutama pada bagian akuntansi dan pembukuan.

1.   Survey dan Penentuan Objek PKL

            Sebagai langkah awal dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan

     adalah penentuan tempat atau lokasi PKL yang berguna di dalam

     mendukung kelancaran PKL. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah

     objek PKL yang nantinya dipilih kegiatan yang dilakukan telah sesuai

     dengan praktek akuntansi atau teori yang telah diperoleh dibangku kuliah.

2.   Jangka Waktu PKL

            Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan selama 2

     bulan yaitu dari tanggal 01 Maret s/d tanggal 31 April 2011. Kegiatan

     Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilakukan pada PT. Bank Syariah Mandiri

     Cabang Mataram.
                                                                            28




3.   Kegiatan Selama PKL

            Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama Praktek Kerja

     Lapangan (PKL) pada PT Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram sebagai

     berikut:

     1. Membantu membuat nota analisis pembiayaan consumer ( NAPC) bagi

        marketing officer dalam menganalisa calon nasabah yang mengajukan

        pembiayaan. Kegiatan ini merupakan kegiatan analisis data nasabah

        yang hendak melakukan pembiayaan (penulis bertugas pada pembiayan

        murabahah) baik pembiayaan produktif maupun konsumtif. Dari hasil

        pembuatan nota analisis pembiayaan yang terangkum di dalamnya

        berbagai aspek tentang nasabah, jumlah pembiayaan, penghasilan

        (income) nasabah, yang di input dari data nasabah yang tertera dalam

        formulir yang diisi oleh calon nasabah dan data lampiran berupa BI

        Checking, laporan keuangan 3 bulan atau 1 tahun terakhir, dan berkas-

        berkas persyaratan lainnya yang dilampirkan oleh calon nasabah.

     2. Membantu karyawan marketing officer dalam menyurvei jaminan

        perusahaan untuk membuat laporan on the spot sebagai lampiran dalam

        SP3. kegiatan ini merupakan kegiatan terjun langsung untuk melihat

        jaminan/ agunan dari pembiayaan yang hendak diberikan kepada calon

        nasabah,   membuat      berita   acara   dari    hasil   survei   serta

        mendokumentasikan gambar jaminan yang akan disajikan sebagai

        lampiran dalam Surat Penegasan Pengajuan Pembiayaan nasabah.
                                                                          29




3. Membantu dalam Membuat SP3 (Surat Penegasan Persetujuan

   Pembiayaan) bagi pembiayaan murabahah. Dalam SP3 terangkum

   mengenai penegasan pembiayaan nasabah yang sudah layak untuk

   mendapatkan pembiayaan.

4. Membantu membuat berkas pengikatan calon nasabah pembiayaan

   murabahah. Kegiatan ini merupakan suatu rangkaian prosedur ketika

   nasabah sudah mendapatkan kelayakan untuk mendapatkan pembiayaan

   selanjutnya dilakukan pengikatan jaminan nasabah. Pengikatan ini

   bertujuan untuk

5. Membantu menginput data isian nasabah pembiayaan murabahah untuk

   membuat data memorandum, memo pencairan fasilitas dan sebagainya.

6. Membantu membuat surat promes dan tanda terima jaminan nasabah

   pembiayaan murabahah.

7. Dan membantu dalam hal mengarsip data pembiayaan nasabah

   murabahah. Pengarsipan data/ berkas-berkas nasabah pembiayaan

   murabahah adalah kegiatan akhir dalam rangka melayani nasabah

   pembiayaan. Kegiatan ini adalah kegiatan yang bertujuan untuk

   memahami bahwa berkas pembiayaan yang telah dibuat harus disimpan

   pada tempat penyimpanan menurut criteria seperti, pembiayaannya, sifat

   pembiayaan    produktif   atau   konsumtif,   jenis   nasabah    apakah

   perseorangan ataupun badan usaha. Sehingga pengarsipan berkas-berkas

   pembiayaan nasabah tidak hilang apabila diperlukan suatu saat nanti.
30
                                                                             31




                                   BAB IV

                    HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 HASIL

  4.1.1 Gambaran Umum Bank Syariah Mandiri Cab. Mataram

    4.1.1.1 Sejarah singkat Perusahaan

               Secara singkat sejarah Bank Syariah Mandiri (BSM) berawal dari

    lahirnya    Undang-undang     No.    10   tahun   1998   yang     merupakan

    penyempurnaan dari Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang lembaga

    perbankan     Syariah.   Undang-undang     tersebut   merupakan    indikator

    terciptanya peluang bagi bank-bank di Indonesia khususnya perbankan

    syariah untuk memungkinkan beropersi sepenuhnya secara syariah atau

    dengan membuka cabang khususnya syariah. Inilah awal dari suatu masa

    dunia perbankan mempunyai warna warna baru dari konvensional dengan

    warna syariah, yang mana perbankan konvensional boleh menerapkan

    prinsip syariah dengan membentuk lembaga perbankan syariah, bank yang

    memiliki sistem konvensional dan sistem syariah di bawah satu payung

    yang kita sekarang lebih mengenal dengan dual banking sistem.

               Seperti yang terjadi pada PT Bank susila bakti yang dimiliki oleh

    Martawiredjasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara

    dan PT Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis 1997-1999 dengan

    berbagai cara sampai pada akhirnya terjadilah merger empat bank (Bank

    Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Bapindo) ke
                                                                      32




dalam bank Mandiri (Persero) pada tanggal 13 Juli 1999, dan rencana

perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi Bank syariah dengan nama Bank

Syariah Sakinah diambil alih oleh PT. Bank Mandiri (Persero).

         PT Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung

sepenuhnya rencana perubahan PT. Bank Susila Bakti menjadi Bank

Syariah, karena hal tersebut sejalan dengan keinginan PT Bank Mandiri

(Persero) untuk membentuk unit keuangan syariah. Sebagai langkah

awalnya PT Bank Susila Bakti berubah nama menjadi PT Bank Syariah

Sakinah. Namun, Pada tahun 1999 berdasarkan Akta Notaris Ny. Machrani,

M.S, SH, No. 29 tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta No. 23

tanggal 8 september 1999 Notaris Sutjipto,SH nama PT Bank Syariah

Sakinah Mandiri diubah menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Tepatnya pada

tanggal 25 oktober BI melalui keputusan Gubernur Bank Indonesia No.

1/2/KEP.GBI/1999 telah memberikan ijin perubahan kegitan usaha

konvensional menjadi kegiatan berdasarkan prinsip syariah.

         Selanjutnya, pada tanggal 1 November 1999 atau yang bertepatan

pada hari senin 27 Rajab 1420 H merupakan hari pertama beroperasinya

Bank Syariah Mandiri. Bank yang beroperasi dari buah usaha bersama dari

para perintis Syariah di PT Bank Susila Sakinah Bakti dan Manajemen PT

Bank Mandiri yang memandang pentingnya bank syariah di lingkugan Bank

Mandiri yang mampu mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai

rohani yang melandasi operasinya. Hal inilah yang mendasari dan melandasi
                                                                      33




serta keunggulan dari PT Bank Syariah Mandri sebagai alternatif jasa

perbankan di Indonesia.

         Dalam kehadirannya yang begitu special dan perannya yang sangat

signifikan. PT Bank Syariah Mandiri mengembangkan sayap usahanya se-

Nusantara dengan membentangkan cabang-cabangnya ke berbagai kota.

Salah satu cabang PT. Bank Syariah Mandiri adalah PT. Bank Syariah

Mandiri Cabang Mataram atau lebih dikenal dengan sebutan BSM Mataram.

Diresmikan sejak tanggal 24 Desember 2002 oleh Menteri Agama RI Prof.

DR.H.Sahid Agil Husein Al-Munawwar, MA, alamat kantor pusat pertama

di jalan Pejanggik No.128 Mataram, yang selanjutnya pada tahun 2009

berpindah lokasi hingga sekarang bertempat di jalan sultan Hasanuddin No.

40 Cakranegara Kota Mataram.

         Seperti halnya dalam Bank syariah pada umumnya, PT. Bank

Syariah Mandiri adalah lembaga keuangan yang memberikan pelayanan

kepada masyarakat, dimana bentuk pelayanan yang diberikan seperti Giro

Syariah Mandiri, Syariah Mandiri Dolar, Tabungan Syariah Mandiri,

Tabungan Mabrur, Deposio Berjangka, Jasa operasional, Jasa/Produk IT

Based, serta pembiayaan      yang meliputi Pembiayaan Mudharabah,

Murabahah, dan Musyarakah.

         Disamping itu pula, PT bank syariah mandiri juga mempunyai visi,

misi dengan tujuan untuk diketahui, dipahami, dan dihayati serta

dilaksanakan oleh seluruh karyawan dilingkungan bank baik pusat maupun

cabang PT Bank Syariah Mandiri sehingga penerapan totalitas syariah
                                                                      34




berdasarkan al-Quran dan Hadis dapat direalisasikan secara sempurna.

Adapun misi visi PT. Bank Syariah antara lain:

a. Visi Perusahaan

 1. Menjadi bank Syariah terpercaya pilihan mitra usaha

b. Misi Perusahaan

 1. Menciptakan suasana pasar perbenkan syariah agar dapt berkembang

     dengan mendorong terciptanya syarikat dagang yang terkoordinasi

     dengan baik..

 2. Mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan

     melalui sinergi dengan mitra strategis agar menjadi bank syariah

     terkemuka di Indonesia yang mampu meningkatkan nilai bagi para

     pemeganng saham dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat

     luas.

 3. Memperkerjakan pegawai yang professional dan sepenuhnya mengerti

     operasional perbankan syariah.

 4. Menunjukan komitmen terhadap standar kinerja operasional perbankan

     dengan pemanfaatan teknologi mutahikhir, serta memegang teguh

     prinsip keadilan, keterbukaan dan kehati-hatian.

 5. Mengutamakan mobilisasi pendanaan dari golongan menengah dan

     ritel, memperbesar portofolio pembiayaan untuk skala menengah dan

     kecil, serta mendorong terwujudnya manajemen zakat, infaq dan

     sadaqah yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian sosial.
                                                                                        35




           6. Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan

              lain, seganap lapisan masyarakat dan investor asing.

        4.1.1.2 Struktur Organisasi

                 Struktur organisasi menggambarkan pembagian kerja, wewenang

        antara orang-orang atau unit-unit dalam organisasi. Strutur organisasi

        merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi tingkat keberhasilan

        suatu perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah di tetapkan.

           Gambar 4: Struktur Organisasi PT. Bank Syariah Mandiri Cab. Mataram.

                                      KEPALA CABANG                               PKP
                                                                                 OFFICER




    MARKETING                      OPERATING            KCP          KCP            KCP            KCP
     MANAJER                        MANAJER           PANCOR         BIMA          PRAYA         SUMBAWA




ACCOUNT                FUNDING        CUSTUMER          HEAD                       BACK OFFICE
 OFFICER               OFFICER         SERVICE         TELLER                        OFFICER




  PMS                  OFFICER               CS       TELLER              ADMIN                 BO D & C
                        GADAI        RESPRESENTATIF                    PEMBIAYAAN




             MICRO               PELAKSANA                            SDI & GA               ACCOUNTING
           ACCOUNT                 GADAI
            OFFICER




                      Sumber: PT Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram.
                                                                       36




4.1.1.3 Job Description

A. Kepala cabang

   1. Mengelola operasional cabang berdasarkan sistem syariah secara

       efektif dan efisien untuk mencapai target operasional yang meliputi

       penghimpunan dana, penyaluran pembiayaan, jasa-jasa, hasil usaha,

       dan kualitas aktiva produktif.

   2. Pemberian pembiayaan yang aman, sesuai dengan kebutuhan

       nasabah dan menghasilkan.

   3. Pelayanan yang prima kepada nasabah (customer satisfaction).

   4. Terlaksananya pertumbuhan operasional cabang yang wajar dan

       sehat

   5. Menjamin bahwa seluruh transaksi telah di administrasikan dan

       dibukukan sesuai ketentuan yang berlaku.

   6. Mewakili Direksi untuk tugas-tugas yang berhubungan dengan

       kegiatan cabang.

   7. Menandatangani surat-surat yang dikeluarkan atas nama cabang.

   8. Bersama-sama anggota komite lainnya memutuskan pembiayaan

       sesuai dengan kewenangannya.

   9. Melakukan evaluasi berkala terhadap kualitas dan kuantitas sumber

       daya yang tersedia guna menetapkan langkah-langkah/ strategi yang

       akan dilakukan.
                                                                     37




   10. Melakukan penelitian pegawai, mengusulkan kenaikan gaji/ pangkat,

      promosi jabatan, penghargaan/ hukuman pegawai cabang sesuai

      dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

   11. Memastikan bahwa prinsip kepatuah telah dilaksanakan oleh seluruh

      jajaran cabang.

   12. Mengkoordinir Pembuatan Rencana Kerja (RKAP) tahunan cabang.

B. Manajer pemasaran

   1. Membantu Pimpinan Cabang dalam mengelola dan melaksanakan

      operasional cabang di bidang pemasaran berdasarkan sistem syariah

      dan ketentuan yang berlaku efektif dan efisien untuk tercapainya,

      terlaksananya kegiatan pamasaran produk dan jasa-jasa bank kepada

      masyarakat di wilayah kerjanya.

   2. Terlaksananya pemberian pembiayaan yang aman dan sesuai

      kebutuhan nasabah.

   3. Mengelola secara optimal sumber daya bidang pemasaran agar dapat

      mendukung kelancaran operasional cabang.

   4. Membuat rencana kerja (RKAP) tahunan bidang pendanaan,

      pembiayaan, jasa-jasa dan hasil usaha.

   5. Melakukan review atas pemberian pembiayaan dengan penekanan

      kepada upaya antisipsi resiko pembiayaan.

   6. Bersama-sama      dengan   anggota   komite   pembiayaan   lainnya

      memutuskan pembiayaan sesuai dengan batas wewenangnya.
                                                                    38




7. Meyakinkan bahwa kelengkapan dokumen sebagai prasyarat / syarat

   pencarian fasilitas pembiayaan telah dipenuhi nasabah.

8. Mengkoordinir penagihan kewajiban nasabah yang telah jatuh

   tempo/ menunggak.

9. Melakukan pembinaan terhadap nasabah maupun investor.

10. Melakukan evaluasi berkala terhadap kecukupan kualitas dan

   kuantitas sumber daya bidang pemasaran guna menetapkan strategi

   yang akan dilakukan.

11. Mewakili Kepala Cabang untuk tugas-tugas yang berhubungan

   dengan kegiatan cabang.

C. Manajer Operasi

1. Membantu Pimpinan Cabang dalam mengelola dan melaksanakan

   operasional cabang secara efektif dan efisien di bidang operasi

   berdasarkan sistem syariah dan ketentuan yang berlaku untuk

   tercapainya target operasional cabang meliputi penghimpunan dana,

   penyalurang pembiayaan, jasa-jasa, hasil usaha, dan kualitas aktiva

   produktif.

2. Kelancaran pelayanan kepada nasabah maupun investor.

3. Melaksanakan operasional administrasi/ akuntansi secara benar.

4. Melaksanakan ketetapan dalam pelaporan baik kepada kantor pusat

   maupun pihak ekstern.

5. Mengelola secara optimal sumber daya operasi agar dapat

   mendukung kelancaran operasional cabang.
                                                                     39




   6. Membuat rencana dan sasaran kerja tahunan cabang di bidang

      operasi.

   7. Memberi rekomendasi disetujui/ ditundanya pencairan pembiayaan

      berdasarkan hasil pengecekan persyaratan pembiayaan yang telah di

      lakukan.

   8. Mengkoordir dan memastikan terselenggaranya filling dokumen

      pembiayaan (legal file) secara tertib dan aman.

   9. Memastikan pencapaian target operasional.

   10. Mengkoordinir pelaksanaan administrasi pembiayaan dan pelaporan.

   11. Melakukan pengecekan pemenuhan persyaratan/ syarat pembiayaan

      berdasarkan surat penegasan persetujuan pembiayaan (SP3) dan akad

      pembiayaan.

   12. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Cabang.

   13. Pelaporang ke kantor pusat dan bank Indonesia telah dilakukannya

      dengan benar dan tepat waktu.

D. Marketing Officer

   1. Terlaksananya kegiatan pemasaran produk dan jasa-jasa bank kepada

      masyarakat diwilayah kerjanya.

   2. Tercapainya pelayanan yang prima kepada nasabah maupun investor.

   3. Membantu manajer pemasaran dalam menetapkan kerja (RKAP)

      tahunan bidang pemasaran baik pembiayaan, pendanaan, maupun

      jasa-jasa bank.
                                                                    40




4. Melaksanakan strategi pemasaran produk guna mencapai volume/

   sasaran yang telah ditetapkan.

5. Melayani pemohon pembiayaan murabahah.

6. Memberikan informasi kepada nasabah mengenai persyaratan

   pembiayaan yang harus dipenuhi sehingga dengan permohonan

   pembiayaan nasabah.

7. Menerima dan memeriksa kebenaran dan kelengkapan berkas

   pemohonan pembiayaan nasabah.

8. Melakukan       investigasi   melalui   wawancara,   bank   cheking,

   pemeriksaan setempat, trade dan market checking.

9. Membuat surat penolakan atas permohonan pembiayaan nasabah

   yang ditolak.

10. Melakukan pengawasan dan membina nasabah sehubungan dengan

   fasilitas pembiayaan yang sedang dinikmati.

11. Melaksanakan penagihan rutin atas kewajiban nasabah yang jatuh

   tempo.

12. Melaksanakan pekerjan-pekerjaan lain yang ditugaskan atasan.

13. Terselenggaranya pengawasan dan pembinaan nasabah sehubungan

   dengan fasilitas yang diberikan cabang.

14. Membuat nota analisis pembiayaan (NAP).

15. Mempersiapkan dokumen pembiayaan yang telah diputuskan antara

   lain membuat surat penegasan persetujuan pembiayaan (SP3), akad

   pembiayaan, surat sanggup, menyiapkan dokumen untuk pengikatan
                                                                        41




       jaminan melalui notaris, melaksanakan penutupan asuransi yang

       dipersyaratkan dalam persetujuan akad pembiayaan.

   16. Melakukan monitoring atas nama berlakunya legalitas usaha

       nasabah, asuransi dan hak atas jaminan yang diterima (jika berbentuk

       HGB, HGU, Hak Pakan).

E. Pelaksana Personalia

   1. Terpenuhinya kebutuhan pegawai sesuai kondisi cabang.

   2. Terlaksananya pengembangan karir pegawai sesuai pengetahuan dan

       kemampuan pegawai bersangkutan.

   3. Menata usahakan dan membayar gaji seluruh pegawai.

   4. Mensosialisasikan peraturan perusahaan dan ketentuan-ketentuan

       bidang ketenagakerjaan kepada seluruh pegawai.

   5. Membuat rencana pendidikan pegawai dan memastikan bahwa

       rencana tersebut sesuai dengan keperluan atasan.

   6. Mengimplementasikan corporate culture Bank Syariah Mandiri

       secara optimal

   7. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

   8. Pengawasan intern dan kepatuhan.

   9. Dipatuhinya bank Indonesia perjanjian dan komitmen dengan

       nasabah, peraturan perundang-undangan lain yang berlaku dan juga

       peraturan/ kebijakan intern oleh Cabang Bank Syariah Mandiri.

   10. Memastikan kebijakan intern, prosedur operasional atau peraturan

       lainnya telah tersedia di cabang.
                                                                       42




   11. Memastikan bahwa kebijakan/ ketentuan kantor pusat telah

      disosialisasikan.

   12. Memastikan kebenaran pelaksanaan operasional telah sesuaia dengan

      pedoman operasional bank, surat edaran, atau ketentuan lainnya baik

      dari kantor pusat maupun pihak ekstern (BI atau pihak ketiga

      lainnya).

   13. Memastikan bahwa proses pembiayaan telah sesuai dengan

      kebijakan/ ketentuan intern bank.

   14. Memastikan bahwa kebenaran administrasi pembiayaan yang

      diberikan.

   15. Memastikan bahwa fisik jaminan telah dikuasai oleh bank dengan

      aman dan sesuai dengan nilai dan alokasinya.

   16. Memastikan bahwa hak pegawai telah dipenuhi sesuai ketentuan.

   17. Memastikan pengelolaan arsip cabang telah berjalan sesuai dengan

      ketentuan.

   18. Menyimpan, membuat daftar file, dan bertanggungjawab atas

      bukti/file pembukuan yang telah dilakukan pemeriksaan.

   19. Terealisasinya kegiatan kerja cabang secara baik.

F. Administrasi Pembiayaan.

   1. Terselenggaranya monitoring dengan tertib.

   2. Terselenggaranya penyimpanan legal dokumen pembiayaan dengan

      tertib dan aman.

   3. Terlaksananya pencairan pembiayaan dengan aman.
                                                                         43




   4. Pembuatan laporan pembiayaan dengan benar dan tepat waktu.

   5. Melakukan      pengecekan     kelengkapan      pemenuhan    dokumen

       pembiayaan sebelum fasilitas dicairkan berdasarkan kelengkapan

       pemenuhan dokumen pembiayaan sebelum fasilitas dicairkan

       berdasarkan prasyarat/ syarat yang telah disepakati.

   6. Monitoring kewajiban nasabah yang telah jatuh tempo untuk

       diinformasikan kepada manajer pemasaran untuk ditindak lanjuti.

   7. Membuat dan menyampaikan laporan di bidang pembiayaan baik

       kepada kantor pusat maupun kepada Bank Indonesia secara benar

       dan tepat waktu.

   8. Manerima surat permintaan Informasi bank dari bank lain.

   9. Melaksanakan pekerjaan lain oleh manajer operasi maupun kepala

       cabang.

G. Teller

   1. Terselenggaranya pelayanan bidang kas secara benar dan cepat.

   2. Terkelolanya persediaan uang tunai secara efektif dan efisien.

   3. Tercatatnya di buku mutasi kas secara benar.

   4. Membuka dan menutup khasanah brankas.

   5. Mengambil dan menyimpan uang tunai dengan kepala cabang dalam

       brankas.

   6. Mengambil penyetoran/ penarikan tunai maupun non tunai dengan

       benar dan cepat.
                                                                       44




   7. Mengkompilasi daftar penerimaan dan pengeluaran kas, menghitung

      saldo kas akhir hari dan mencocokannya dengan jumlah fisik saldo

      uang tunai yang ada dalam box-nya sendiri.

   8. Menyesuaikan tanda tangan nasabah pada bukti penarikan dengan

      contoh tanta tangan (CTT) nasabah.

   9. Menjaga ketertiban dan keamanan sistem komputerisasi secara fisik

      maupun administrasi.

   10. Malaksanakan tugas-tugas lainnya yang ditujukan atasan.

H. Customer service

   1. Terselenggaranya pemasaran produk Bank Syariah Mandiri kepada

      masyarakat.

   2. Terselenggaranya kecepatan dan ketepatan pelayanan kepada

      nasabah maupun investor.

   3. Memberikan penjelasan kepada nasabah/ calon nasabah mengenai

      produk-produk Bank Syariah Mandiri berikut syarat-syarat maupun

      tata cara prosedurnya.

   4. Melayani pembukaan rekening tabungan/ giro karena ketentuan bank

      maupun karena peraturan Bank Indonesia.

   5. Bertanggung jawab atas pengimputan data nasabah yang sebenarnya

      sesuai dengan identitas diri nasabah.

   6. Melayani penertiban dan pencairan deposito berjangka dari investor.
                                                                         45




    7. Melayani nasabah dalam hal pelayanan jasa-jasa seperti transfer,

        inkaso, pemindahanbukuan antar rekening, auto save, surat referensi

        bank, dan sebagainya.

    8. Terselenggaranya pengawasan dan pembinaan nasabah sehubungan

        dengan fasilitas yang diberikan cabang.

    9. Pemberian pelayanan kepada nasabah yang prima.

4.1.2 Prinsip Dan Aktivitas Usaha Bank Syariah Mandiri Cabang

    Mataram

 Ada beberapa prinsip operasional bank yang diterapkan antara lain:

 a. Prinsip bagi hasil (musyarakah/ mudharabah)

    Prinsip ini dapat dilakukan melalui musyarakah atau mudharabah.

    Musyarakah adalah akad antara dua belah pihak atau lebih untuk usaha

    tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dan

    keuntungan serta kerugian yang ditanggung bersama sesuai dengan

    kesepakatan bersama. Sedangkan mudharabah adalah akad antara

    pemilik modal dan pemilik keahlian.

 b. Prinsip jual beli (al ba’i Murabahah)

    Prinsip jual beli yang diaplikasikan adalah murabahah yang merupakan

    jual beli barang pada harga pokok dengan tambahan keuntungan

    (margin) yang disepakati. Penjual memberitahukan harga produk yang ia

    beli dan menentukan suatu tingkatan keuntungan sebagai tambahannya.

    Prinsip ini diaplikasikan dalam pembiayaan. Jenis lainnya adalah prinsip

    istisnha yaitu kontrak penjualan antara pembeli dan penjual dimana
                                                                        46




   pembayaran dapa dilakukan dimuka, secara cicilan atau ditangguhkan

   sampai waktu yang disepakati.

c. Prinsip sewa (al-ijarah)

   Prinsip ini diaplikasikan menjadi al-Ijarah al-Muntahia bit-Tamlik, yang

   berarti perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya

   adalah akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan

   penyewa.

d. Prinsip jasa-jasa (Ju’alah)

   Adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada

   pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan

   pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama.

Dan adapun aktivitas yang dilaksanakan oleh bank syariah mandiri sebagai

lembaga keuangan atau perusahaan jasa perbankan syariah antara lain

sebagai berikut:

a. Bagian yang mengelola dana dari nasabah untuk disalurkan kembali ke

   masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai jaminan yang berguna untuk

   meningkatkan taraf hidup dengan mengelola dana tersebut menjadi

   usaha yang dikelola oleh peminjam. Bagian ini dipimpin oleh manajer

   investasi.

b. Menampung dan mengelola masyarakat yang mempunyai kelebihan

   dana dan menginvestasikan dana miliknya atau dana yang dititipkan oleh

   nasabah kepada yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usaha

   atau membuka usaha baru.
                                                                          47




   c. Jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran merupakan termasuk dalam

      bidang jasa-jasa perbangkan yang memudahkan nasabah untuk

      melakukan transaksi perbankan.

   d. Kegiatan sosial merupakan kegiatan yang mengeluarkan dan mengelola

      zakat maupun dana sosial lainnya.

4.2 PEMBAHASAN

  4.2.1 Penerapan Pembiayan Murabahah

          Sebagaimana yang tertera bahwa bank Islam atau yang lebih dikenal

   dengan nama bank syariah telah memiliki standar sistem akuntansi keuangan

   yang memadai dengan berlandaskan dan berpedoman pada ketentuan

   perbankan dan standar keuangan yang ditetapkan. Yang mana perbankan

   syariah selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanity), etika

   (ethic), moralitas (morality), sosial (social), dan nilai ketuhanan (value

   divinity). Peran ulama di dalam alur perbankan syariah mengenai

   pengawasan bank yang berbasis syariah terasa begitu kental, pengawasan

   yang ketat dari para ulama yang terangkum dalam dewan pengawas syariah

   atau yang disingkat DPS mampu memberikan dampak positif bagi

   kelangsungan operasional bank baik dalam operasional manajemen maupun

   operasional keuangan bank. Hal ini dapat terlihat dari kinerja Dewan

   Pengawas Syariah yang secara rutin harus membuat pernyataan berkala

   (biasanya tiap tahun) bahwa bank yang diawasi telah berjalan sesuai dengan

   ketentuan syariah. Pernyataan ini dimuat dalam laporan tahunan (Annual

   Report) bank bersangkutan.
                                                                       48




       Tugas lain dewan pengawas syariah adalah meneliti dan membuat

rekomendasi produk baru dari bank yang diawasinya. Dengan demikian

pengawas syariah bertindak sebagai penyaring pertama sebelum suatu

produk diteliti kembali dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional

(DSN). Fungsi utama dewan syariah Nasional adalah mengawasi produk-

produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam.

Sehingga bisnis dan usaha yang dilaksanakan oleh lembaga syariah tidak

lepas dari saringan syariah. Sehingga bank syariah tidak mungkin akan

membiayai usaha yang terkandung di dalamnya terdapat unsur-unsur hal

yang diharamkan oleh syariat Islam.

       Dari dasar itu pula, PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram

membuat suatu ketentuan dalam hal pembiayaan, untuk menyaring setiap

pembiayaan sebelum disetujui, karena permbiayaan tidak akan disetujui

sebelum dipastikan beberapa hal pokok, diantarannya sebagai berikut:

1. Apakah objek yang dibiayai halal atau haram?


2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat?


3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/ asusila?


4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian?


5. Apakah usaha itu berkaitan dengan industry senjata yang illegal atau

   berorientasi pada pengembangan senjata pembunuh missal?
                                                                                     49




6. Apakah proyek dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung

   maupun tidak langsung?


       Jika semua persyaratan untuk pembiayaan itu telah dikategorikan

layak maka, pihak bank akan melakukan transaksi pembiayaan sebagaimana

mestinya yang dilakukan oleh perbankan syariah lainnya. Pembiayaan pada

bank syariah mandiri lazimnya menerapkan prinsip keadilan seperti

perbankan syariah pada umumnya, yaitu prinsip bagi hasil (profit

sharing/syirkah), jual beli (sell and purchase/at-tijarah), dan prinsip sewa (al-

Ijarah). Prinsip bagi hasil lebih terfokus kepada produk mudharabah dan

musyarakah, produk untuk at-tijarah lebih kepada murabahah, sedangkan

sewa mengacu kepada produk bank seperti al ijarah. Produk murabahah/

pembiayaan murabahah adalah suatu produk perbankan Islam yang

menerapkan konsep at-tijarah yang berfungsi mengganti riba dalam konsep

Islam, sebagaimana tertera dalam perintah Allah dalam al-qur’an surah al-

baqarah: 275 sebagai berikut:

       275. orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri
       melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan)
       penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka
       berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah
       telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah
       sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil
       riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang
       larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil
       riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
       dalamnya.

       Penerapan pembiayaan murabahah pada PT. Bank Syariah Mandiri

Cabang Mataram merupakan suatu kerangka dari prosedur-prosedur yang

saling berhubungan yang telah disusun dengan skema pembiayan yang
                                                                      50




menyeluruh. Untuk menghasilkan informasi pembiayaan, khususnya

pembiayaan murabahah dengan cepat, tepat dan akurat serta dapat

dipertanggungjawabkan maka diperlukan kerjasama yang baik disetiap unit

yang berhubungan dengan pembiayaan umumnya dan pembiayaan

murabahah khususnya.

       Kerangka ini merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan

yang membentuk sinergi kerja dalam pembiayaan murabahah yang

diterapkan oleh bank syariah mandiri untuk dapat selalu mengacu pada

aturan main yang ditetapkan oleh dewan pengawas syariah. Acuan tersebut

dilaksanakan oleh PT Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram dalam

menyediakan fasilitas murabahah berupa pembiayaan produktif dan

konsumtif kepada nasabah. Jenis pembiayan produktif untuk menambah

modal kerja sedangkan pembiayaan konsumtif untuk pembelian yang

bersifat konsumtif seperti pembelian rumah, kendaraan, pemilikan ruko dan

sebagainya. Adapun Gambaran singkat penerapan pembiayaan al-

murabahah yang diterapkan oleh PT. Bank Syariah Mandiri cabang mataram

sebagai berikut:

       Pada transaksi murabahah marketing officer dan calon nasabah

melakukan negosiasi perjanjian/ akad anatara kedua belah pihak. Nasabah

akan meminta pembiayaan barang meliputi jenis barang, kualifikasi barang,

harga barang dan bank akan memberikan Plafon pembiayaan sebesar 70%

sampai 100%. Biasanya transaksi murabahah pada bank syariah mandiri

cabang mataram dilakukan dengan cara nasabah datang mengajukan
                                                                          51




pembiayaan dengan spesifikasi yang telah ia tetapkan, suppliernya dan harga

barang yang diminta supplier.

       Lalu pihak bank akan mengajukan penawaran pembiayaan beserta

berkas yang harus di lampirkan oleh calon nasabah sebagai persyaratan dari

pihak bank. Lalu jika persyaratan telah mampu dipenuhi oleh calon nasabah,

maka bank akan melakukan tahap berikutnya. Dimana bank akan

menentukan besaran angsuran perbulan dari suatu pembiayaan yang diminta

oleh nasabah. Dan Bank akan meminta uang muka yang merupakan bagian

dari pengurang pokok harga barang dan atau pelunasan pembayaran. Setelah

adanya kesepakatan antara nasabah dan bank, selanjutnya marketing officer

menghubungi supplier barang yang akan dibeli bersepakat untuk melakukan

pembelian barang yang sesuai permintaan nasabah. Setelah ada kesepakatan

antara bank dengan nasabah, bank dan supplier lalu dilakukan transaksi.

Pihak bank akan membuka rekening bagi nasabah dan rekening bagi

supplier yang bersangkutan terkait dengan transaksi secara tangguh.

       Selain itu pula, transaksi yang dilakukan/ yang sering terjadi di Bank

Syariah Mandiri Cabang Mataram adalah nasabah untuk dana atas nama

bank (berdasarkan kuasa bank kepada nasabah) dapat membeli barang

langsung kepada supplier sesuai permintaan nasabah. Selanjutnya

penyerahan barang dilakukan langsung dari supplier kepada nasabah,

transaksi ini dilakukan langsung antara nasabah dan supplier.

       Jangka waktu yang diberikan oleh bank syariah mandiri untuk cicilan

dari 1 tahun sampai 15 tahun dengan besarnya nisbah/ margin yang
                                                                        52




ditetapkan untuk pembiayaan murabahah adalah 12% sampai dengan 14%

per tahun. Pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh bank syariah

mandiri cabang mataram meminta nasabah menyetor uang muka sebasar

20% sampai 30 % yang menjadi bagian dari pelunasan dalam pembiayaan

murabahah. Pembayaran urbun (uang muka) dapat dilakukan nasabah

membayar langsung kepada bank, atau nasabah membayar langsung ke

supplier yang bersangkutan. Cara kedua merupakan cara transaksi

pembayaran urbun paling sering dilakukan dalam transaksi murabahah di

bank syariah mandiri cabang mataram. Hal ini terkait bank melakukan

transaksi akad wakalah yang berarti Akad ini bisa terjadi pada dua kondisi,

pertama ketika nasabah menabung dibank. Yaitu mewakilkan bank untuk

membeli komoditi seharga uang yng ditabungkan kebank. Kedua ketika

nasabah menunjuk Bank sebagai wakilnya untuk menjual kembali komoditi

tersebut. Dalam Hukum Islam wakalah adalah akad yang sah, yang dapat di

lakukan dengan upah atau komisi atau free of charge/gratis.

       Bank juga menilai jaminan minimum 125% dari plafon pinjaman

yang biasanya berbentuk akta tanah, bangunan, BPKB, deposito dan

sebagainya. Agunan nasabah yang djaminkan dapat pula berupan barang

murabahah yang di pesan/beli dalam transaksi antara pihak bank dan

nasabah sesuai akad. Jaminan ini akan disimpan oleh disimpan oleh unit

kontrol intern. Penilaian jaminan berdasarkan harga pasar yang ditentukan

atas informasi yang bersasal dari pemerintah, masyarakat maupun lembaga

penilaian jaminan.
                                                                          53




       Nasabah yang menunda pembayaran sampai batas waktu yang

ditentukan akan mendapat denda atas keterlambatan pembayaran. Jika

nasabah pailit tidak mampu membayar, bank syariah mandiri memberi masa

tenggang waktu sesuai kesepakatan dan melakukan langkah-langkah sesuai

restrukturasi. Dan jika nasabah masih tidak mampu membayar maka bank

akan menarik kembali barang yang telah dibiayai. Barang tersebut akan

dijual kepada pihak ketiga sesuai harga pasar. Kelebihan maupun

kekurangann pembiayaan atas penjualan barang atau jaminan itu akan

diberikan kepada nasabah. Namun, bila nasabah dapat mempercepat proses

pembayaran angsuran tiap bulan, maka nasabah akan diberi discount/

potongan oleh bank syariah mandiri sesuai dengan akad yang telah

ditentukan.

       Dalam hal pengakuan pendapatan margin yang diperoleh bank

menggunakan dasar cash basic yang besarnya jumlah pendapatan margin

diakui sesuai besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang nasabah. Artinya

bahwa pendapatan dari transaksi murabahah ini baru dapat diukur dan dakui

setelah nasabah memenuhi angsuran kewajiban sesuai dengan akad yang

disepakati pada transaksi murabahah, namun pihak bank juga menggunakan

dasar accrual basic sebagai penerapan konsep konservatisme. Dan yang

menjadi pendapatan bank tidak hanya dari keuntungan (margin) atas barang

yang dijual tetapi juga dari jasa (fee based income) dan biaya administrasi

yang diwajibkan oleh bank. Biaya-biaya yang dikenakan kepada nasabah

berkaitan dengan pembaiyaan murabahah antara lain: biaya administrasi,
                                                                       54




biaya materai, biaya pengikat jaminan, biaya asuransi jaminan yang harus

dibayar terlebih dahulu tanpa mengurangi dari jumlah pencairan

pembiayaan. Yang artinya semua biaya harus dibayar oleh nasabah secara

cash atau tunai.

         Untuk dapat menerapkan standar kerja yang efektif dan efisien

bank memiliki proses dan prosedur pembiayaan. Adapun prosedur

pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh bank syariah mandiri cabang

mataram secara garis besar terdapat kesesuaian dengan prosedur yang

dimiliki bank syariah mandiri kantor cabang lainnya. Dalam hal ini nasabah

yang ingin memperoleh pembiayaan maka harus menempuh langkah-

langkah yang diawali dengan pengajuan usulan pembiayaan sampai pada

proses untuk mendapatkan persetujuan hingga pencarairan pembiayaan.

Prosedur tersebut antara lain:

Prosedur aplikasi pembiayaan murabahah

       Prosedur yang mengawali langkah calon nasabah untuk memperoleh

persetujuan pembiayaan. Langkah tersebut antara lain:

Calon nasabah mengajukan permohonan pembiayaan yang dibuat langsung

oleh calon nasabah disertakan dengan dokumen-dokumen yang diperlukan

sebagai syarat permohonan pembiayaan yang disertakan kepada marketing

officer. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah:

a. Pembiayaan Konsumtif

   Untuk pegawai (karyawan swasta/PNS/ABRI)

   1. kartu identitas calon nasabah dan istri: KTP
                                                                   55




   2. kartu keluarga

   3. Surat nikah

   4. Slip Gaji Terakhir

   5. Surat Referensi dari kantor tempat bekerja/SK pengangkatan untuk

      pegawai negeri sipil (PNS)

   6. Salinan rekening 3 bulan terakhir

   7. Data Jaminan

b. Pembiayaan Produktif

   Untuk pengusaha perorangan

   1. Legalitas usaha

   2. Kartu identitas usaha calon nasabah

   3. Kartu keluarga dan surat nikah

   4. Laporan keuangan

   5. Salinan rekening bank 3 bulan terakhir

   6. Data jaminan

   Untuk badan usaha:

   1. Legalitas usaha

   2. Kartu identitas pengurus

   3. Data jaminan

   4. Laporan keuangan 2 bulan terakhir

   5. Salinan rekening bank 3 bulan terakhir.

        Proposal yang disampaikan calon nasabah dinilai oleh marketing

 officer. Dalam penilaian layak tidaknya suatu pembiayaan disalurkan
                                                                        56




maka dilakukan penilaian pembiayaan. Penilaian awal (prescreening)

dengan memperhatikan pasar sasaran yakni jenis usaha atau barang yang

dilarang dibiayai, jenis usaha yang perlu dihindari, daftar kredit macet di

bank Indonesia ( BI checking), daftar hitam bank Indonesia dan daftar

hitam bank syariah mandiri. Setelah analisis tersebut dinyatakan layak

maka marketing officer melakukan analisis lebih lanjut.

        Langkah selanjutnya marketing officer malekukan interview awal

dengan calon nasabah untuk memperoleh informasi mengenai calon

nasabah, penyelidikan tentang tujuan penggunaan pembiayaan, kunjungan

ke lokasi jaminan calon nasabah untuk mengetahui kebenarannya dan

menilai jaminan, penilaian atas legalitas usaha dan untuk mengetahui

gambaran umum mengenai kemampuan keuangan calon nasabah.

        Menganalisis pembiayaan murabahah oleh bank dapat dilakukan

dengan berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan tentang nasabahnya,

seperti dengan ukuran yang ditetapkan sudah menjai standar penilaian

setiap bank. Biasanya kreteria penilaian yang dilakukan oleh bank Syariah

mandiri cabang mataram untuk menilai kelayakan nasabah yang patut/

layak mendapat kan pembiayaan maka dilakukan analaisis 5C ( character,

capacity, capital, condition, collateral)

Character

  Analisi ini merupaka analisis pribadi calon nasabah yang hendak

  mendapatkan pembiyaan, seperti gaya hidup, sifat, kebiasaan individu

  yang dapat mempengaruhi kewajibannya kelak.
                                                                     57




Capacity

 Analisis ini bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan calon

 nasabah dalam mengelola pembiayaan yang diberikan. Hal-hal yang

 perlu diperhatikan:

 Aspek manajemen

 Aspek menajemen adalah kemampuan mengelola perusahaan antara lain

 kemamupuan untuk menetapkan visi, misi dan strategi dalam berusaha,

 mentejemahkan visi, misinya dalam sasaran yang hendak ingin dicapai

 dengan merumuskan strategi secara efektif dan efisien serta melakukan

 evaluasi.

 Aspek produksi

 Disini perlu untuk diperhatikan bahwa bank syariah mandiri melakukan

 analisis ini bertujuan untuk mengetahi kemampuan permohonan untuk

 berproduksi/ berdagang serta berkesinambungan.

 Aspek pemasaran

 Tujuan analisis ini bank syariah mandiri cabang mataram dapat menilai

 kemampuan calon nasabahnya dalam memasarkan produksinya. Hal-hal

 yang perlu diperhatiak anrara lain: data penjualan masa lalu, tingkat

 persaingan, angka proyeksi pemasaran pada masa yang akan datang

 meliputi peerencanaan dan strategi pemasaran yang akan dilakukan.

 Aspek personalia

 Bank menganalisis aspek ini untuk dapat menilai kemampuan

 perusahaan perusahaan yang dimiliki calon nasabah (perusahaan) dari
                                                                      58




   segi kuantitas maupun kualitas tenaga kerja yang dimilikinya dalam

   mendukung    aktivitas   perusahaan      dan   kemampuan    perusahaan

   memelihara hubungan baik antara tenaga kerja dengan perusahaan.




   Aspek keuangan

   Analisis aspek ini bertujuan untuk menilai kemampuan perusahaan

   mengelola dana dan membayar dimasa yang akan datang. Dalam aspek

   ini terkait dengan laporan keuangan nasabah untuk dianalisis dengan

   menggunakan analisis yang secara umum diterapkan oleh standar

   perbankan secara umum.

Capital

 Analisis ini Bank syariah juga akan menilai modal berasal dari mana, dan

 untuk usaha seberapa besar modal digunakan secara efektif dan efisien

 untuk menunjang pembayaran pembiayaan kelak, sehingga bank akan

 mengukur    kemampuan      usaha   calon    nasabah   untuk   mendukung

 pembiayaan modalnya sediri, semakin besar kemampuan modal berarti

 semakin besar porsi pembiayaan yang didukung oleh modal sendiri.

Colletaral

 Setiap pemberian pembiayaan harus disertakan jaminan fisik yang jumlah

 dan nilainya harus dapat menjamin besarnya pembiayaan yang disetujui,

 bank syraiah mandiri meminta calon nasabah untuk dapat memberikan

 jaminan yang nilainya minimal 125% dari jumlah pembiayaan untuk dapat
                                                                       59




 menkover pembiayaan jika kelak dikemudaian hari nasabah tidak dapat

 membayar kewajibannya. Sehingga bank melakukan penilaian jaminan

 atas dasar bahwa jaminan tersebut dapat menjai alat pengaman atas

 pembiayaan yagn diberikan.

 Setelah memperoleh keyakinan atas keabsahan dokumen dari hasil

 penyelidikan   dan   wawancara    maka    langkah   selanjutnya   adalah

 memberikan keputusan, menerima atau menolak pembiayaan tersebut.

 Persetujuan pembiayaan merupakan sarana pengendalian resiko, sasaran

 pengendalian proses manajemen pembiayaan, cermin kemampuan

 pengelola pembiayaan, dan hasil akhirnya memperlihatkan kualitas

 pembiayaan secara keseluruhan. Bila telah dianggap layak menerima

 pembiayaan maka persetujuan pembiayaan dberikan oleh marketing

 officer yang dituangkan dalam NAPC (nota analisis pembiayaan

 cosutmer).

 Selanjutnya nota analisis pembiayaan akan diajukan oleh marketing officer

 kepada komite pembiayaan dalam hal ini manajer marketing dan pimpinan

 cabang untuk meminta persetujuan pembiayaan. Jika pimpinan cabang

 menyetujui pembiyaan tersebut maka akan dinyatakan dalam surat

 keputusan pembiayaan (SKP) yang telah dibuat oleh Adminstrasi

 pembiayaan.

Prosedur realisasi pembiayaan murabahah

      Realisasi pembiayaan murabahah adalah proses pencarian dana atas

permohonan pembiayaan yang talah disetujui pimpinan cabang. NAP, SKP
                                                                                60




dan dokumen lainnya akan diserahkan kepada administrasi pembiayaan

untuk selanjutnya dibuatkan SP3 (Surat Penegasan Pengajuan Pembiayaan)

dan didudukkan dalam perjanjian akad pembiayaan persetuja untuk

menempatkan dana dan modal bank pada aktiva yang beresiko. Dalam

persetujuan pembiayaan ini harus mencerminkan suatu pernyataan bahwa

nasabah yang disetujui adalah nasabah yang layak menerima pembiayaan.

          Tahap selanjutnya adalah pencairan pembiayaan. Dana yang

diberikan sesuai dengan jumlah yang disetujui dalam akad perjanjian

pembiayaan murabahah yang akan langsung ditransfer ke dalam rekening

yang ada di bank syariah mandiri cabang mataram.

Prosedur pembiayaan dan monitoring pembiayaan murabahah

          Prosedur ini meliputi informasi yang diperoleh marketing officer

khusunya dan unit-unit yang terkait lainnya, yang mencakup pemeriksaan

jumlah saldo pemenuhan kewajiban nasabah. Secara periodik marketing

officer    menghubungi      nasabah    untuk      mengingatkan     nasabah    akan

kewajibannya dan untuk pembiayaan produktif marketing officer melakukan

kunjungan ke lokasi usaha yang biasanya dilakuakn minimal 3 bulan

sekali.monitoring    yang    dilakukan    oleh     marketing     officer   meliputi

pemantauan langsung ke tempat usaha pemeriksaan laporan keuangan

maupun perkembangan nilai jaminannya.

          Setiap bulan nasabah harus memberikan laporan keuangan atau

catatan     pembukuan    kepada       marketing     officer   untuk    mengetahui

perkembangan usaha yang dibiayai berdasarkan data-data yang diperoleh
                                                                     61




dari riwayat pembayaran nasabah dan data-data yang ada dalam file

pembiayaan. Apabila dalam evaluasi tersebut terdapat indikasi adanya

masalah dalam pelaksanaan kegiatan nasabah, maka marketing officer

melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait lainnya, dan

mengusulkan tindakan-tindakan yang dapat diambil untuk mengetahui dan

memecahkan masalah.

        Dalam melakukan penutupan pembiayaan murabahah nasabah

haruslah melunasi seluruh pembiayaan yang telah disepakati, kemudian

marketing officer melakukan pemeriksaan melalui data yang ada pada

computer untuk melihat kebenaran, apakah nasabah telah benar-benar

melunasi sejumlah pembiayaan. Jika nasabah telah melunasi pembiayaan

maka administrasi pembiayaan akan membyuat pelunasan yang harus

disetujui oleh Pimpinan Cabang. Bila pimpinan cabang telah menyetujui

surat pelunasan tersebut maka ia akan memberikan perintah kepada Unit

control Intern untuk mengeluarkan jaminan nasabah.

Dapat disimpulkan bahwa tahap proses pembiayaan dalam PT Bank Syariah

Mandiri sebagai berikut:

      Tabel 2: Tahap Proses Pembiayaan Murabahah Pada PT Bank Syariah

                           Mandiri Cabang Mataram

No.               Tahap                            Keterangan
        Pengajuan permohonan
 1                              Tahap pengajuan permohonan pembiayaan
        pembiayaan oleh nasabah
 2      Investigasi             Kegiatan untuk mengenali pemohon pembiayaan
                                Kegiatan mencari dan menggali informasi lebih
 3      Sosialisasi             dalam melalui kunjungan langsung kepada usaha
                                nasabah
 4      Analisis pembiayaan     Usulan berbentuk proposal yang dibuat oleh Market
                                                                62




                            officer berisikan analisis atas segala aspek
                            mengenai permohonan pembiayaan untuk
                            dimintakan persetujuan dari komite pembiayaan
                            tahap diputuskannya persetujuan suatu permohonan
                            oleh komite pembiayaan. Selanjutnya dilakukan
5   Pemutusan pembiayaan
                            pembuatan surat penugasan persetujuan
                            pembiayaan kepada pemohon pembiayaan
                            tahap pemenuhan dokumen-dokumen terkait
                            pembiayaan secara menyeluruh utnuk disimpan di
6   Dokumentasi
                            bank di bawah tanggung jawab bagian legal dan
                            administrasi pembiayaan yaitu dokumen-dokumen
                            Tahap pencairan pembiayaan setelah seluruh
7   Realiasi pembiyaan      persyaratan terpenuhi dan dokumen jaminan
                            diserahkan kepada pihak bank
                            tahap dimana peohon pembiayaan telah menjadi
                            nasabah dan mempunyai kewajiban untuk
8   Palaksanaan kewajiban
                            membayar angsuran atau bagi hasil sebagai
                            konsekuensi atas pembiayaan yang diterima
                              Sumber: olahan
                                                                                 63




Gambar 5: Alur Proses Pembiayaan Murabahah Pada PT. Bank Syariah Mandiri

                              Cabang Mataram
                        Pengajuan Pembiayan Oleh Nasabah



                           Pemenuhan Data dan Dokumen




                                   Trade Checking                          Tidak Lolos
                                    BI Checking
                                    Negative List
                                        DHN




                    On The Spot: Survei Usaha dan Survei Jaminan


                                                                   Tidak Layak
                                 Analisi Pembiayaan



                        Penyusunan Usulan Pembiayaan


                                                                             Tidak Disetujui
                           Persetujuan Komite Pembiayaaan




                   Penerbitan Surat Penegasan Persetujuan Pembiayaan
                                         (SP3)


                                                                            Tidak Bisa Dipenuhi
                               Pemenuahan Syarat SP3




                             1. Penandatanganan Akad
                              2. Pengikatan Jaminan.
                             3. Pencarian Pembiayaan
                                                                        64




4.2.2 Akuntansi Pembiayaan Murabahah.

        Setelah mengetahui penerapan pembiayaan murabahah yang

 dilakukan oleh PT Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram, pembahasan

 selanjutnya   adalah   mengenai   bagaimana   perlakuan   akuntansi   atas

 pembiayaan al-murabahah yang merupakan konsep jual beli dalam

 pengertian gamblangnya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa akuntansi

 meruapakan     suatu   proses   dalam   menghasilkan   laporan   keuangan

 perusahaan. Di dalam suatu proses yang panjang dan berkesinambungan

 dalam arti saling berkaitan dari tahap pertama, kedua dan ketiga sehingga

 akuntansi dalam pembiayaan murabahah dapat diartikan merupakan proses

 pengumpulan data, pengidentifikasian data, pencatatan, pengikhtisaran dan

 pelaporan data pembiayaan murabahah.

        Dari dasar tersebut dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui

 sejauh mana PT Bank syariah mandiri memperlakukan akuntansi

 pembiayaan murabahah tentang pengakuan dan pengukurannya. Hal ini

 tergambar dari penerapan pembiayaan murabahah yang dilaksanakannya

 sebagai berikut:

        Dalam transaksi penjualan murabahah bank syariah mandiri cabang

 mataram pada saat akad disepakati bank akan melakukan pencatatan atas

 transaksi sebagai berikut:

 a. Asset murabahah

          Bank menilai pada saat terjadi akad murabahah bank tidak

   melakukan pencatatan karena bank menilai bahwa belum sepenuhnya
                                                                     65




 terjadi transaksi yang sah. Pada saat pengiriman dana pembiayaan kepada

 pemasok/ supplier bank akan mengakui barang/asset murabahah tersebut

 sebesar harga perolehan. Bank juga menilai dan mencatat dan mengakui

 barang/aset tersebut pada saat nasabah menerima barang dari pemasok

 sebesar jumlah harga pokok ditambah keuntungan/ margin yang disepakati

 atau yang disebut limit pembiayaan.

b. Keuntungan (margin)

          Bank mengakui keuntungan dari hasil pembiayaan dalam akad

 tersebut dengan menggunakan metode cash basic serta mengakui

 keuntungan murabahah (margin murabahah) secara proporsional dengan

 bersaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah sebagaimana

 yang dijelaskan dimuka. Yang artinya bank akan mengakui keuntungan

 pada saat angsuran/ pembayaran yang dilakukan oleh nasabah namun bank

 juga menggunakan metode accrual dalam transaksi jika terjadi tunggakan

 pembayaran yang dilakukan oleh pihak nasabah. Bank menghitung

 keuntungan dengan mengunakan sejumlah persentase margin sebesar 12%

 s/d 15% pertahun dan menghitung dengan menggunakan persentase

 effektif margin aunnuity dengan rumus sebagai berikut:

                                                    
                                                    
                                                    
                                 i       1          
 angsuran.bulanan = pembiayaan x                    
                                12  1     1        
                                           i 
                                                 m
                                                     
                                       1         
                                     12           

  Keterangan: angsuran dilakukan secara bulanan.
                                                                                   66




  Setelah mendapatkan angsuran per m(bulan) bank akan mencari harga jual

  barang tersebut dengan rumus:

  Harga jual = Angs.bulanan x Jumlah bulan( Banyaknya angsuran)

  Margin         = harga jual - jumlah pembiayaan yang diberikan bank

                   (plafon Pembiayaan)

  Dan untuk mengetahui tingkat margin perbulan bank menerapkan rumus:

  % margin perbulan = % margin pertahun / 12 x 100%

  Dan bentuk tabel angsuran pembiayaan meliputi No, Tgl angsuran, sisa

  pembiayaan pokok, pokok Angsuran perbulan (Rp), margin angsuran

  perbulan (Rp), total angsuran perbulan.

          Tabel 3: Tabel Angsuran Pembayaran Pembiayaan Murabahah.
              Tanggal         Sisa pokok               Angsuran       Total Angsuran
    No.      Angsuran        Pembiayaan          Pokok       Margin      Perbulan
                (Rp)             (Rp)             (Rp)        (Rp)          (Rp)
     1
    TOTAL (∑)
               Sumber: PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram

Keterangan: angsuran dilakukan secara bulanan.



Rumus untuk sisa pokok pembiayaan = sisa pokok pinjaman bulan

sebelumnya sebelumnya – pokok pembiayaan tahun ke n, untuk ansuran

pokok pinjaman = total angsuran perbulan – margin angsuran perbulan,

margin perbulan didapat dari persentase margin perbulan x sisa pokok

margin bulan sebelumnya, dan untuk total angsuran di hitung menggunakan

rumus perhitungan annuity dengan angsuran perbulan tetap.
                                                                       67




c. Uang muka pembiyaan

        Bank Syariah Mandiri memperlakukan uang muka sebagai

 pengurang pelunasan dari jumlah pembiayaan yang diminta oleh nasabah.

 Sebagaimana penerapannya sebagian besar transaksi yang terjadi di BSM

 Mataram, bank memberikan kuasa kepada pembeli untuk membayar

 langsung uang muka kepada supplier dalam pengertian nasabah tidak

 menyerahkan uang muka pada bank tetapi dipegang dan dibayar langsung

 oleh nasabah kepada pemasok sehingga bank dalam hal ini bank tidak

 perlu mengakui dan mengukur nilai uang muka yang digunakan nasabah.

 Dan perhitungan untuk uang muka (urbun) sebagai pengurang harga

 pokok barang sebagai berikut:

 Harga pokok                                      Rp. xxx
 Urbun Murabahah (harga pokok x % urbun)          Rp. xxx _
 Pembiayaan dari bank                             Rp. xxx

 Namun jika dalam transaksi dalam bank dilakukan dengan cara nasabah

 membayar uang muka kepada bank maka bank akan akan mendebit urbun

 tersebut ke dalam rekening nasabah dan menkredit piutang murabahah.

d. Pembayaran



e. Diskon pembelian

        Mengenai diskon, karena transaksi pada bank syariah sebagian

 besar nasabah diberikan kuasa/ wewenang kepada nasabah untuk

 melakukan membayar langsung uang muka pembayaran dan bank hanya

 sebatas mengenai pembiayaan yang dilakukan dengan mentrasfer ke dalam
                                                                     68




 rekening supplier sebesar pembiayaan yang diberikan oleh bank. Maka;

 diskon pembelian dalam bentuk apapun dari pemasok atas barang jarang di

 perhitungkan oleh pihak bank, namun jika diskon yang berhubungan

 dengan biaya asuransi, komisi bank akan melakukan berdaskan ketentuan.

 Jika bank mendapatkan diskon sebelum akad disepakati bank akan

 memberikannya kepada nasabah namun jika akad telah disepakati maka

 diskon bagi pihak bank. Dan memperlakukan diskon sebagai pengurang

 biaya perolehan jika sebelum akad, dan sebagai tambahan keuntungan atau

 pendapatan operasi lain jika terjadi setelah akad dan atau tidak

 diperjanjikan dalam akad.

f. Biaya-biaya yang dibebankan kepada nasabah

 Pendapatan bank bukan berupa margin/ keuntungan dari pembiayaan

 melainkan juga dari biaya- biaya yang dibebankan kepada nasabah. Bank

 memperlakukan biaya-biaya tersebut dengan mendebit rekening nasabah

 dan menkredit semua biaya yang dibebankan kepada nasabah tersebut ke

 dalam rekening pendapatan.

g. Potongan pembiayaan

 Mengenai potongan pembiayaan pelunasana piutang murabahah bank

 melakukan berdasarkan jika pembeli mempercepat pembayaran sebelum

 waktu yang disepakati dan pengakuannya bank akan mengakui sebagai

 pengurang keuntungan murabahah. Namun jika disebabkan oleh

 penurunan kemampuan pembayaran pembeli bank akan menilai dan
                                                                                         69




 mengakui sebagai bagian dari beban bank. Dan bank menghitung dengan

 metode potongan setelah pelunasan.

h. Denda

 Bank memberikan denda kepada nasabah dengan spesifikasi yang telah

 ditetapkan oleh pihak bank sesuai dengan kesepakatan dalam akad, denda

 ini akan dimasukkan dengan mendebit ke dalam rekening nasabah dan

 menkredit rekening dana kebajikan. Pembayaran denda dilakukan

 bersamaan dengan pembayaran angsuran.



Tabel 4: Jurnal Transaksi Pembiayaan Murabahah Yang Dilakukan Oleh PT.
                Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram
                                                                   Nominal
  No                      Transaksi / Jurnal
                                                               Debit        Kredit

  1    Saat negosiasi
       tidak ada jurnal
  2    Aset
       a) saat akad disepakati dan malakukan (akad wakalah)
       Pembelian asset
       Db; Piutang Wakalah                                    Rp       -
           Cr; Rekening - Nasabah                                          Rp        -
       b) saat pembiayaan/ penyerahan asset murabahah
       Db; Persediaan Aset Murabahah                          Rp       -
           Cr; Piutang Wakalah                                             Rp        -
  3    Uang Muka
       a) jika nasabah membayar sendiri uang muka
       tidak ada jurnal
       b) jika nasabah membayar ke bank
       Db; Rekening – Nasabah                                 Rp       -
           Cr; Piutang Murabahah                                           Rp        -
  4    Penjualan
       Db; Piutang Murabahah                                  Rp       -
           Cr; persediaan Aset Murabahah                                   Rp        -
           Cr; Marjin Murabahah Yang Ditangguhkan                          Rp        -
  5    Pencatatan biaya-biaya secara tunai
       Db;Kas/ Cash                                           Rp       -
                                                                          70




            Cr; Pendapatan bank                                  Rp   -
   6     Angsuran
         Db; Rekening – Nasabah                         Rp   -
            Cr; Piutang Murabahah                                Rp   -
         Db; Marjin yang ditangguhkan                   Rp   -
            Cr; pendapatan marjin murabahah                      Rp   -
         Jika nasabah terlambat bayar
         Db; Piutang Murabahah jatuh Tempo              Rp   -
            Piutang Murabahah                                    Rp   -
         Db; Pendapatan Marjin Murabahah ditangguhkan   Rp   -
            Cr; Pendapatan marjin murabahah - acrual             Rp   -
         Pada saat pembayaran
         Db; Rekening – Nasabah                         Rp   -
            Cr; Piutang Murabahah Jatuh Tempo                    Rp   -
         Db; Pendapatan Marjin Murabahah - Acrual       Rp   -
            Cr; Pendapatan Marjin Murabahah                      Rp   -
   8     Denda
         Db; Rekening – Nasabah                         Rp   -
            Cr; Dana Kebajikan                                   Rp   -
   9     Potongan pelunasan
         Db; Rekening – Nasabah                         Rp   -
            Cr; Piutang Murabahah                                Rp   -
         Db; Marjin yang ditangguhkan                   Rp   -
            Cr; Pendapatan Marjin Murabahah                      Rp   -
         Db; Pendapatan Marjin Murabahah                Rp   -
            Cr; Rekening - Nasabah                               Rp   -
         Jika terjadi karena penurunan kemampuan
         Pembayaran
         Db; biaya bank                                 Rp   -
            Cr; Rekening - Nasabah                               Rp   -
   7     Diskon
         jika dilakukan sebelum akad
         Db; diskon Pembelian Aset                      Rp   -
            Cr; persediaan Aset Murabahah                        Rp   -
         jika dilakukan sesudah akad
         Db; diskon Pembelian asset                     Rp   -
            Cr; pendapatan operasioanal lain                     Rp   -
       Sumber: data olahan dari PT. Bank Syariah Mandiri Cab. Mataram

Ilustransi kasus:
                                                                      71




Pada tanggal 3 Januari 2011 seorang calon nasabah a.n. Tn Maul datang ke

BSM Mataram untuk mengajukan pembiayaan sebesar Rp210jt untuk

pembelian rumah tinggal disalah satu komplek perumahan milik PT.

Varindo dengan harga Rp230jt. Bank meminta berkas yang terkait dengan

pembiayaan tersebut kepada Tn Maul. Setelah berkas memenuhi persyaratan

pihak bank mengajukan penawaran bahwa pembiayaan bisa dilakukan

dengan jumlah persentase 80% dari harga pokok pembiayaan. Setelah terjadi

negosiasi tawar menawar Tn. Maul menyetujui pembiayaan tersebut.

Pada tanggal 9 Januari 2011 bank merealisasikan pembiayaan yang diajukan

oleh Tn.Maul dengan perjanjian bahwa:

1. Bank meminta rumah yang dibeli dijadikan sebagai jaminan oleh pihak

   nasabah kepada pihak bank.

2. Bank mengenakan biaya administrasi 1%, biaya asuransi 0.21%

   pertahun, biaya materai Rp120,000, biaya notaries 0.25% dari

   pembiayaan yang diberikan oleh bank. Dan denda keterlambatan 0.6%

   pendapatan marjin murabahah.

3. Bank menyetujui pembiayaan dengan tangguh selama 2 tahun kepada

   nasabah. Pembayaran angsuran dimulai pada bulan berikutnya yakni

   bulan februari. Dan bank meminta 20% dari harga pokok pinjaman

   dibebankan kepada nasabah untuk di bayar langsung kepada pemasok

   (PT. Varindo). Serta bank mengenakan marjin sebesar 14% p.a eff. dari

   pembiayaan.

Dan isi dari akad wakalah sebagai berikut:
                                                                            72




1. Dengan      diterimanya     Dana,      maka       NASABAH/WAKIL        akan

   menandatangani Tanda Bukti Penerimaan Uang (TATUNA) sebagai

   bukti    telah    diterimanya      Dana   oleh     NASABAH/WAKIL        dari

   BANK/MUWAKIL.

2. BANK/MUWAKIL akan membayarkan pembelian Barang dimaksud ke

   rekening Penjual/Pemasok melalui rekening NASABAH/WAKIL yang

   ada pada BANK/MUWAKIL.

3. NASABAH/WAKIL menerima invoice, kwitansi atau tanda pembayaran

   lain dari Penjual/Pemasok sebagai bukti telah dilakukannya pembelian

   Barang untuk kemudian diserahkan kepada BANK/MUWAKIL sebagai

   Tanda Terima Barang oleh NASABAH/WAKIL.

4. Penyerahan Barang dimaksud dilakukan oleh Penjual/Pemasok langsung

   kepada NASABAH/WAKIL dengan persetujuan BANK/MUWAKIL

   atau     yang     dipersyaratkan     dalam       pembelian   Barang   kepada

   Penjual/pemasok.

5. BANK/MUWAKIL tidak bertanggungjawab atas keadaan/kondisi

   Barang     yang     telah   diterima      oleh     NASABAH/WAKIL        dari

   Penjual/Pemasok.

Diminta: Buatlah jurnal untuk transaksi yang bersangkutan, dan jika bank

mendapat potongan harga dari notaris sebesar 5% dari total biaya notaris.

Dan jika pada angsuran ke 3 Tn A menunggak pembayaran angsuran dan

dikenakan denda 0.6% dari angsuran. Dan pada ansuran ke 20 Tn A

melunasi piutang pembiayaannya.
                                                                     73




Jawab:

Jumlah pinjaman = Rp 230,000,000 x 0.8

                = Rp 184,000,000

                                                 
                                                 
                                                 
                                i     1          
angsuran.bulanan = pembiayaan x                  
                               12       1        
                                    1
                                        i 
                                              m   
                                   1  
                                                 
                                                  
                                    12         

                                                         
                                                         
                                                         
                                    0.14       1         
angsuran.bulanan = Rp.184,000,000 x                      
                                     12          1       
                                           1
                                           0.14  24    
                                          1 
                                                        
                                                          
                                                12     

angsuran.bulanan = Rp 8,834,370.52

pembiayaan yang diangsur Rp 8,834, 370.52 x 24 = Rp 212,024,892.51

Harga Pokok                    :     Rp.   230,000,000.00
Margin                         :     Rp.   . 28,024,892.51 ( + )
Harga Jual                     :     Rp.   258,024,892.51
Angsuran Pendahuluan           :     Rp.     46,000,000.00 ( - )
Pembayaran Yang Diangsur       :     Rp.   212,024,892,51
Limit Pembiayaan               :     Rp.   184,000,000.00
Angsuran Per - Bulan           :     Rp       8,834,370.52
                                                                                74




           Tabel 5: Tabel Angsuran Tn. Maul Dalam Ilustrasi Kasus
Plafond        184,000,000.00   Rupiah
jml. Angs                  24   Kali
Rate                      14%   Per tahun


Angsuran        Angsuran         Angsuran         Total             Sisa             Tanggal
   Ke             Pokok            Bunga        Angsuran       Pinjaman pokok        Angsuran
       0                                                         184,000,000.00
       1         6,687,703.85    2,146,666.67   8,834,370.52     177,312,296.15      Feb-2011
       2         6,765,727.07    2,068,643.46   8,834,370.52     170,546,569.08      Mar-2011
       3         6,844,660.55    1,989,709.97   8,834,370.52     163,701,908.53      Apr-2011
       4         6,924,514.92    1,909,855.60   8,834,370.52     156,777,393.61      Mei-2011
       5         7,005,300.93    1,829,069.59   8,834,370.52     149,772,092.68       Jun-2011
       6         7,087,029.44    1,747,341.08   8,834,370.52     142,685,063.24       Jul-2011
       7         7,169,711.45    1,664,659.07   8,834,370.52     135,515,351.79      Agst-2011
       8         7,253,358.08    1,581,012.44   8,834,370.52     128,261,993.70      Sept-2011
       9         7,337,980.59    1,496,389.93   8,834,370.52     120,924,013.11      Okt-2011
   10            7,423,590.37    1,410,780.15   8,834,370.52     113,500,422.74      Nov-2011
   11            7,510,198.92    1,324,171.60   8,834,370.52     105,990,223.82      Des-2011
   12            7,597,817.91    1,236,552.61   8,834,370.52      98,392,405.91       Jan-2012
   13            7,686,459.12    1,147,911.40   8,834,370.52      90,705,946.79      Feb-2012
   14            7,776,134.48    1,058,236.05   8,834,370.52      82,929,812.31      Mar-2012
   15            7,866,856.04      967,514.48   8,834,370.52      75,062,956.27      Apr-2012
   16            7,958,636.03      875,734.49   8,834,370.52      67,104,320.24      Mei-2012
   17            8,051,486.79      782,883.74   8,834,370.52      59,052,833.45       Jun-2012
   18            8,145,420.80      688,949.72   8,834,370.52      50,907,412.65       Jul-2012
   19            8,240,450.71      593,919.81   8,834,370.52      42,666,961.95      Ags-2012
   20            8,336,589.30      497,781.22   8,834,370.52      34,330,372.65      Sept-2012
   21            8,433,849.51      400,521.01   8,834,370.52      25,896,523.14      Okt-2012
   22            8,532,244.42      302,126.10   8,834,370.52      17,364,278.72      Nov-2012
   23            8,631,787.27      202,583.25   8,834,370.52       8,732,491.45      Des-2012
   24            8,732,491.45      101,879.07   8,834,370.52               0.00       Jan-2013
                                                                                            75




     Jurnal:
pada saat akad
  tidak ada jurnal
pada saat pembelian barang/ pengiriman transfer ke pemasok
  piutang wakalah                            Rp 184,000,000
      rekening nasabah                                        Rp 184,000,000
pada saat penyerahan barang
  persediaan aset murabahah                  Rp 184,000,000
      piutang wakalah                                         Rp 184,000,000
bank mencatat jurnal penjualan
  piutang murabahah                          Rp 212,024,893
      persediaan aset murabahah                               Rp 184,000,000
      marjin murabahah yang ditangguhkan                      Rp 28,024,893
mencatat biaya yang dikenakan ke nasabah
  kas/rekening nasabah                       Rp 3,192,800                      *perhitungan:
      pendapatan administrasi                                 Rp   1,840,000   by. Adm (1% x Rp184,000,000)
      persediaan materai                                      Rp     120,000
      rekening notaries                                       Rp     460,000   by. Notaris (0.25%xRp184,000,000)
      rekening perusahaan asuransi                            Rp     772,800   by. Asuransi (0.21%x2xRp184,000,000)
mencatat potongan biaya asuransi
  rekening notaries                          Rp      23,000
      pendapatan operasional lain.                            Rp     23,000
mencatat angsuran bulan 1
  rekening nasabah                           Rp 6,687,704
      piutang murabahah                                       Rp   6,687,704
  marjin murabahah yang ditangguhkan         Rp 2,146,667
      pendapatan marjin murabahah                             Rp   2,146,667
mencatat angsuran bulan ke 3 yang diakui
  piutang murabahah jatuh tempo              Rp 6,844,661
      piutang murabahah                                       Rp   6,844,661
  pendapatan marjin murabahah - acrual       Rp 1,989,710
      pendapatan marjin murabahah                             Rp   1,989,710
pada saat membayar dengan keterlambatan 15 hari
  rekening nasabah                           Rp 6,844,661
      piutang murabahah jatuh tempo                           Rp   6,844,661
  pendapatan murabahah yang ditangguhkan     Rp 1,989,710
      pendapatan majin murabahah- acurual                     Rp   1,989,710
  rekening nasabah                           Rp     179,074                    *perhitungan denda
      rekening dana kebajikan                                 Rp    179,074    (0.6% x 15 x Rp1,989,710)
pada saat mendapat potongan pelunasan piutang
  rekening nasabah                           Rp 44,171,853
      piutang murabahah                                       Rp 44,171,853
  marjin yang ditangguhkan                   Rp 1,504,891
      pendapatan marjin murabahah                             Rp   1,504,891
  potongan marjin murabahah                  Rp     150,489                    *perhitungan potongan
      rekening nasabah                                        Rp    150,489    (10% x Rp1,504,891)
                                                                       76




4.2.3 Penilaian Berdasarkan PSAK No. 102

       Dari hasil penelitian bahwa penerapan pembiayaan murabahah yang

dilakukan oleh bank syariah mandiri cabang mataram secara umum telah

sesuai dengan PSAK No. 102 Kesesuaian penerapan pembiayaan murabahah

yang terkait dengan PSAK No. 102 antara lain:

1. Bank syariah dalam melakukan pembiayaan harga yang disepakati dalah

   harga jual sedangkan biaya perolehan diberitahukan (PSAK No.102

   Akuntansi Murabahah, Paragraf 10)

2. Bank syariah mandiri cabang mataram dalam melakukan pembiayaan

   murabahah bertindak sebagai penjual dengan menyatakan harga jual dan

   keuntungan yang disepakati antara bank dan nasabah. Hal ini sesuai

   dengan akuntansi murabahah yang menyatakan bahwa dalam sistem

   pembiayaan transaksi murabahah bank bertindak sebagai penjual dan

   nasabah bertindak sebagai pembeli atas barang dan dinilai sebesar harga

   jual ditambah keuntungan. (PSAK No.102 Akuntansi Murabahah,

   Paragraf 06)

3. Bank Syariah Mandiri Cabang Medan Meminta Nasabah untuk

   membayar uang muka sebesar 20% hingga 30 %yang akan menjadi

   pelunasan pembiayaan. Dalam prakteknya bank syariah mandiri cabang

   mataram tidak akan membebankan nasabah untuk membayar uang muka

   sebelum transaksi tersebut benar-benar terjadi, dan pembayaran uang

   muka bank syariah mandiri menekankan kepada nasabah untuk

   membayar secara tunai/cash. Hal ini sesuai dengan akuntansi murabahah
                                                                        77




   yang menyatakan bahwa bank dapat meminta uang muka kepada

   nasabah yang merupakan bagian dari pelunasan pembiayaan dan harus

   mengembalikan uang muka bila nasabah tidak jadi melakukan

   pembiayaan (PSAK No.102 Akuntansi Murabahah, Paragraf 14)

4. Bank syariah mandiri cabang mataram mengakui keuntungan murabahah

   (margin murabahah) secara proporsional dengan bersaran kas yang

   berhasil ditagih dari piutang murabahah. Hal ini sesuai dengan akuntansi

   murabahah yang menyatakan bahwa keuntungan diakui pada saat

   penyerahan asset murabahah atau secara proposional dengan besaran kas

   yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. (PSAK No.102 Akuntansi

   Murabahah, Paragraf 23)

5. Pada praktek perbankan, bank menerima pesanan dari pembeli/nasabah

   sesuai kriteria nasabah, dan mengingat bank bukan sebagai pedagang

   barang maka bank dalam praktek transaksi murabahah dilakukan dengan

   cara nasabah dan untuk atas nama bank (berdsarkan atas nama bank

   kepada nasabah) membali barang langsung kepada supplier dengan

   spesifikasi yang telah disepakati antara nasabah dengan bank. Nasabah

   tersebut bertindak untuk dan atas nama bank, maka pembayaran tersebut

   dikuasakan kepada nasabah untuk          membayar kepada supplier.

   Selanjutnya penyerahan barang dilakukan langsung dari supplier kepada

   nasabah. Dalam hal ini nasabah bertindak untuk dan atas nama bank.
                                                                    78




         Tabel 6: Penilaian berdasarkan PSAK No. 102
            Penerapan Pembiayaan            Penilaian Berdasarkan
No.
           Oleh Bank BSM Mataram                 PSAK No. 102
1 Mengenai harga dalam akad             paragraf 9, 10
2 Transaksi murabahah                   paragraf 6,7
3 Asset murabahah                       paragraf 18, 19,
4 Mengenai pembayaran/ angsuran         paragraf 8
5 Uang Muka                             paragraf 14,30
6 Diskon pembelian                      paragraf 10,12, 20
7 Jaminan murabahah                     paragraf 13
8 Potongan murabahah                    paragraf 26,28
9 Denda                                 paragraf 15,29
10 piutang dan keuntungan murabahah     paragraf 22,23,
                       sumber: Data olahan.
                                                                           79




                                  BAB V

                   KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

 1. Murabahah adalah suatu produk layanan perbankan yang paling banyak

    dijalankan oleh bank syariah mandiri saat ini karena karakteristik yang

    profitable mudah dalam penerapannya serta resiko pembiayaan yang ringan.

 2. PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram telah menerapkan sistem

    pembiayaan murabahah yang operasionalnya dengan ketentuan yang berlaku

    yaitu PSAK No. 102 tentang Akuntansi             Murabahah. Di dalam

    pelaksanaannya BSM Mataram sebagai penjual dan nasabah sebagai

    pembeli.   Penilaian pembiayaan sebesar      biaya   perolehan ditambah

    keuntungan yang disepakati dan bank harus mengungkapkan biaya

    perolehan barang tersebut kepada nasabah. Dan berdsasarkan kuasa nasabah

    sebagian besar pembiayaan dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri Cabang

    Mataram adalah nasabah untuk dan atas nama bank (berdasarkan kuasa bank

    kepada nasabah) membeli barang langsung kepada supplier dengan

    spesifikasi yang telah disepakati. Selanjutnya penyerahan barang dilakukan

    langsung dari supplier kepada nasabah.

 3. Bank menghitung bunga margin dengan perhitungan margin annuity dengan

    angsuran perbulan tetap.

5.2. SARAN

       Berdasarkan kesimpulan di atas penulis memberikan saran yaitu, sistem

 pembiayaan murabahah pada bank syariah mandiri cabang mataram secara
                                                                     80




keseluruhan telah memenuhi kesesuaian dengan PSAK No. 102. untuk itu PT.

Bank Syariah Mandiri lebih berupaya meningkatkan kinerja pelakasanaan

penerapannya dalam hal pembiayaan murabahah yang bersifat konsumtif dan

pembiayaan produktif.

								
To top