Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT

VIEWS: 2,077 PAGES: 73

REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT

More Info
									REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI
  MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA
PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT




                  SKRIPSI


                   Oleh


                WAHYUDI
              NIM. F 03107013




     PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
  JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
  FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
         UNIVERSITAS TANJUNGPURA
                   2011
 REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI
     MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA
 PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT




                          WAHYUDI
                        NIM. F 03107013




                           SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
             MIPA pada Program Studi Pendidikan Fisika




         PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
    JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
   FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
               UNIVERSITAS TANJUNGPURA
                               2011
                    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama                  : Wahyudi
NIM                   : F03107013
Jurusan / Prodi       : Pendidikan MIPA / Pendidikan Fisika


Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil alihan tulisan
atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri


Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,
saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.




                                                       Pontianak, 10 Juni 2011
                                                       Yang Membuat Pernyataan




                                                       Wahyudi
REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI
   MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA
PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT




                           Wahyudi
                        NIM: F 03107013




                            Disetujui,


      Pembimbing I                         Pembimbing II




     Dr. Leo Sutrisno             Dra. Haratua Tiur Maria S., M. Pd
  NIP. 19510504197502002              NIP. 196702221991012001




                            Disahkan
                                Dekan,




                          Dr. Aswandi
                    NIP. 195805131986031002



  Lulus tanggal: 10 Juni 2011
REMEDIASI MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENGATASI
   MISKONSEPSI SISWA KELAS VII MTs IKA-PGA
PONTIANAK PADA MATERI PEMUAIAN ZAT PADAT


                           Wahyudi
                        NIM: F 03107013



                             Disetujui,

      Pembimbing I                             Pembimbing II




     Dr. Leo Sutrisno               Dra. Haratua Tiur Maria. S, M. Pd
  NIP. 19510504197502002                NIP. 196702221991012001



        Penguji I                                Penguji II




Drs. Syukran Mursyid, M.Pd                  Drs. Syaiful B. Arsyid
 NIP. 195608091985031003                  NIP. 195910031987031001

                           Mengetahui,
               Ketua Jurusan Pendidikan MIPA




                    Drs. Agung Hartoyo, M.Pd
                    NIP. 196102131988101001
                              KATA PENGANTAR



         Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala,

karena atas rahmat dan hidayahnya-Nya skripsi yang berjudul “Remediasi

Menggunakan Model Cooperative Learning tipe Talking Stick untuk Mengatasi

Miskonsepsi Siswa Kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak pada Materi Pemuaian

Zat Padat” dapat diselesaikan.

         Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dorongan dan dukungan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu dalam penulisan desain ini, terutama kepada :

1. Bapak Dr. Leo Sutrisno selaku dosen pembimbing pertama atas bimbingan

   dan arahan yang diberikan.

2. Ibu     Dra. Haratua Tiur Maria Silitonga, M.Pd selaku dosen pembimbing

   kedua, selaku dosen pembimbing akademik dan selaku Ketua Program Studi

   Pendidikan Fisika FKIP UNTAN atas bimbingan dan arahan yang diberikan.

3. Bapak Drs. Syukran Mursyid, M.Pd selaku dosen penguji pertama yang telah

   memberikan masukan dan pengarahan.

4. Bapak Drs. Syaiful B. Arsyid selaku dosen penguji kedua yang telah

   memberikan masukan dan pengarahan.

5. Bapak Ibu dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNTAN.

6. Bapak Drs. Agung Hartoyo, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

   FKIP UNTAN.

7. Bapak Dr. Aswandi selaku Dekan FKIP UNTAN.
8. Kedua orang tua, abang dan seluruh keluarga di Natuna atas dukungan dan

   do`anya

9. Bapak Drs. H. Ahmad Tafsir selaku Kepala MTs IKA-PGA Pontianak dan

   selurur guru-guru MTs IKA-PGA Pontianak yang memberikan kesempatan

   bagi penulis untuk melakukan penelitian di MTs IKA-PGA Pontianak.

10. Ibu Fenny Teti Ermanita, A.Md selaku guru bidang studi IPA MTs IKA-PGA

   Pontianak yang telah berkenan berpartisispasi dalam penelitian serta bersedia

   membantu penulis.

11. Seluruh siswa kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak yang telah bersedia

   berpartisipasi dalam penelitian ini.

12. Bapak Drs. H. Rambali selaku Kepala MTs Mujahidin Pontianak yang telah

   memberi kesempatan bagi penulis untuk melakukan uji coba soal di MTs

   Mujahidin Pontianak

13. Jajaran staf akademik FKIP Untan yang membantu dalam administrasi.

14. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNTAN.

15. Serta semua pihak yang turut membantu yang tidak dapat disebutkan satu-

   persatu

      Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi tercapainya kesempurnaan.

                                                        Pontianak, 10 Juni 2011



                                                                Penulis
                                                  DAFTAR ISI
                                                                                                               Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................                       i

DAFTAR ISI ..............................................................................................           iii

DAFTAR TABEL ......................................................................................                 vi

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................                   vii

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................                     viii

ABSTRAK ..................................................................................................           x

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................                        1

     A. Latar Belakang ...............................................................................               1

     B. Masalah ..........................................................................................           5

     C. Tujuan .............................................................................................         7

     D. Manfaat Penelitian .........................................................................                 8

     E. Hipotesis Penelitian ........................................................................                8

     F. Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................                      9

          1. Variabel Penelitian ...................................................................                 9

          2. Definisi Operasional ................................................................                  11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................                            14

     A. Miskonsepsi Siswa........................................................................                   14

     B. Remediasi Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe

          Talking Stick ...................................................................................         16

          1.     Pengertian Remediasi...............................................................                16

          2.     Tujuan Remediasi.....................................................................              17
         3.    Fungsi Remediasi......................................................................         17

         4.    Jenis-Jenis Kegiatan Remediasi................................................                 20

         5.    Model Cooperative Learning Tipe Talking Stick.....................                             23

    C. Materi Pemuaian Zat Padat.............................................................                 26

         1.    Materi Pemuaian Zat Padat di Universitas...............................                        26

         2.    Materi Pemuaian Zat Padat di MTs..........................................                     31

         3.    Perbandingan Materi Fisika Universitas dengan Materi Fisika

               di MTs......................................................................................   36

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................                       39

    A. Jenis Penelitian ...............................................................................       39

    B. Populasi dan Sampel Penelitian ......................................................                  40

    C. Instrumen Penelitian . .....................................................................           40

         1.    Validitas Tes.............................................................................     41

         2.    Reabilitas Tes............................................................................     42

    D. Prosedur Penelitian..........................................................................          44

    E. Analisis Data ..................................................................................       46

    F. Jadwal Pelaksanaan Penelitian........................................................                  54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................                                55

    A. Hasil .…...........................................................................................    55

         1    Penyajian Data..........................................................................        55

         2    Perhitungan Statistik.................................................................          61

    B. Pembahasan ………………………………………………………                                                                       63

    C. Kelemahan Penelitian …………………………………………….                                                                67
BAB V PENUTUP .....................................................................................             68

     A. Kesimpulan .....................................................................................        68

     B. Saran ...............................................................................................   69



DAFTAR REFERENSI ..............................................................................                 70

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................                        73
                                            DAFTAR TABEL
                                                                                                             Halaman
Tabel 2.1 Beberapa Koefisien Zat Padat..................................................                          29

Tabel 2.2 Koefisien Muai Panjang Berbagai Jenis Zat Padat.................                                        33

Tabel 2.3 Perbedaan materi universtas dengan materi MTs...................                                        38

Tabel 3.1 Tingkat Reliabilitas Instrumen Penelitian...............................                                44

Tabel 3.2 Rekapitulasi Hasil Pre-test......................................................                       46

Tabel 3.3 Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Pre-test..............                                         46

Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Post-test....................................................                        47

Tabel 3.5 Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Post-test                                                      47

Tabel 3.6 Persentase Miskeponssi Siswa Pada Saat Pre-test

                dan Post-test.............................................................................        47

Tabel 3.7 Uji – t.......................................................................................          51

Tabel 3.8 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ...............................................                           54

Tabel 4.1 Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Pre-test...............                                        58

Tabel 4.2 Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Post-test.............                                         59

Tabel 4.3 Rekapitulasi Miskeponssi Siswa Pada Saat Pre-test

                 dan Post-test............................................................................        60
                                  DAFTAR GAMBAR
                                                                                                   Halaman
Gambar 2.1   Pemuaian Panjang Pada Batang Logam.............................                            27

Gambar 2.2   Pertambahan Panjang Sebatang Logam.............................                            32

Gambar 2.3   Pertambahan Luas Keping Empat Persegi Panjang

             Ketika Dipanaskan.............................................................             34

Gambar 2.4   Demonstrasi Muai Volume Zat Padat Dengan

             Menggunakan Bola dan Cincin Logam ..............................                           35

Gambar 3.1   Rancangan                  One              Group                Pretest-Posttest

             Design..................................................................................   39
                                   DAFTAR LAMPIRAN
                                                                                                    Halaman
LAMPIRAN A (PERANGKAT PEMBELAJARAN)

Lampiran A - 1      Kisi-Kisi Soal Penelitian....................................................            74

Lampiran A - 2      Lembar Soal Pre-test..........................................................           76

Lampiran A - 3      Kunci Jawaban Soal Pre-test...............................................               80

Lampiran A - 4      Soal Post-test.......................................................................    81

Lampiran A - 5      Kunci Jawaban Soal Post-test..............................................               85

Lampiran A - 6      Soal Diskusi.........................................................................    86

Lampiran A - 7      Kunci Jawaban Soal Diskusi..............................................                 90

Lampiran A - 8      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran....................................                     92

LAMPIRAN B (HASIL PENELITIAN)

Lampiran B - 1 Perhitungan Tingkat Validitas.........................……………                                  109

Lampiran B - 2 Hasil Uji Coba Tes.........................................…………….                            124

Lampiran B - 3 Distribusi Hasil Pre-Test…………….........................……                                    126

Lampiran B - 4 Distribusi Hasil Pos-Test.........................................………                        127

Lampiran B - 5 Jumlah jawaban Benar Pre-Test dan Post-Tes

                    Siswa………………...........................................................                  128

Lampiran B - 6 Daftar Urut Siswa Berdasarkan Nilai Pre-

                    Test………………….........................................................                    129

Lampiran B - 7 Susunan Kelompok Siswa ………………................……..                                            130
LAMPIRAN C (ADMINISTRASI)

Lampiran C - 1   Surat Keputusan Dosen Pembimbing Skripsi…………….                                               131

Lampiran C - 2   Surat Izin Riset....................................................................         132

Lampiran C - 3   Surat Tugas dari FKIP........................................................                133

Lampiran C - 4   Surat Keterangan Penelitian................................................                  134

Lampiran C - 5   Surat Keterangan Uji Coba Soal.......................................                        135

Lampiran C - 5   Surat Keterangan Validitas................................................                   136

LAMPIRAN D (PERHITUNGAN STATISTIK)

Lampiran D - 1   Uji Normalitas Data Pre-Tes ..............................................                   139

Lampiran D - 2   Uji Normalitas Data Post-Tes ............................................                    143

Lampiran D - 3   Uji-t.....................................................................................   148

Lampiran D - 4   Perhitungan Effect Size......................................................                151

Lampiran D - 5   Tabel Luas di Bawah Lengkungan Normal Standar dari

                  0 ke Z.................................................................................. 152

Lampiran D - 6   Tabel Distribusi t Studens..................................................                 153

LAMPIRAN E (HASIL PRE-TEST DAN POST-TEST SISWA)................                                               154
                                   ABSTRAK

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas remediasi
menggunakan model Cooperative Learning Tipe Talking stick untuk mengatasi
miskonsepsi siswa kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak Tentang Pemuaian Zat
Padat. Pada penelitian ini digunakan bentuk Pre-Eksperimental Design dengan
rancangan One Group Pretest - Posttest Design. Alat pengumpul data berupa tes
pilihan ganda yang terdiri dari tiga alternatif pilihan tanpa alasan. Penelitian ini
melibatkan 18 siswa kelas VII sebagai sampel. Dari hasil perhitungan dengan
menggunakan Uji-t (t hitung = 8.88, α = 5%, df = 17) mengubah penurunan
persentase miskonsepsi yang signifikan sesudah dilaksanakan remediasi
menggunakan model Cooperative Learning Tipe Talking stick. Remediasi
menggunakan model Cooperative Learning Tipe Talking stick efektif untuk
mengatasi miskonsepsi siwa dengan kriteria Effect Size sebesar 2,33 (berkategori
tinggi). Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif kegiatan
remediasi bagi siswa agar dapat mengatasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa.

Kata Kunci: Miskonsepsi Siswa, Remediasi, Talking stick, dan Pemuaian Zat
            Padat
                                      BAB I

                                 PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang

              Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu

     tentang alam secara sistematis. IPA bukan hanya berhubungan dengan

     penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,

     atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

     Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk

     mempelajari manusia dan isi alam semesta pada umumnya. Proses

     pembelajaran IPA ditekankan pada pemberian pengalaman langsung

     (Depdiknas, 2006). Salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang

     dipelajari di SMP/MTs adalah fisika.

              Fisika   mempelajari   struktur   materi   dan    interaksinya    untuk

     memahami sistem alam dan sistem buatan (Teknologi) (Sutrisno, Kresnadi,

     dan Kartono, 2007: 27). Menurut Suparno (2005: 94), proses pembelajaran

     fisika haruslah mengembangkan perubahan konseptual. Oleh karena itu,

     dalam mempelajari fisika diperlukan pemahaman konsep yang sesuai

     dengan konsep ilmuwan. Pemahaman konsep menurut ilmuan menjadi

     sangat    penting   untuk   menghindari     miskonsepsi.     Sutrisno     (2007),

     menyatakan miskonsepsi adalah konsepsi-konsepsi lain, yang tidak sesuai

     dengan konsepsi ilmuwan secara umum.
       Menurut Suparno (2005: 11), miskonsepsi banyak terjadi dalam

bidang fisika. Pemuaian zat padat merupakan salah satu materi dalam fisika

yang masih terdapat miskonsepsi.

       Juliana (2008) menemukan bentuk miskonsepsi pada siswa kelas VII

B SMP       Negeri 11 Pontianak tentang pemuaian zat padat, diantaranya:

siswa mengatakan zat padat memuai karena dibakar dan akan menjadi cair

(27,02 %); siswa mengatakan bimetal yang dipanaskan akan membengkok

karena besi itu mengalami pemuaian (56,75%); siswa mengatakan bola

dingin agak merenggang sehingga bisa melewati gelang sedangkan bola

panas memuai sehingga tidak dapat melewati gelang (21,62 %); siswa

mengatakan rel kereta api dibuat bengkok supaya tidak memuai terkena

panas (37,83 %).

       Ada banyak      cara   yang dapat    membantu    siswa mengatasi

miskonsepsi. Secara garis besar, beberapa langkah yang digunakan untuk

membantu mengatasi miskonsepsi adalah:

       1.  Mencari atau mengungkap miskonsepsi yang dilakukan siswa
       2.  Mencoba menemukan penyebab miskonsepsi tersebut
       3.  Mencari perlakuan yang sesuai untuk mengatasi miskonsepsi
           (Suparno, 2005: 55).
       Pada langkah 1 dan 2 telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya

(Juliana,2008), maka pada penelitian ini dilakukan langkah 3 yaitu mencari

perlakuan yang sesuai untuk mengatasi miskonsepsi siswa.

       Untuk mengatasi miskonsepsi yang dialami siswa, perlu dilakukan

usaha perbaikan. Kegiatan perbaikan untuk mengatasi miskonsepsi siswa itu

dikenal dengan istilah remediasi. Menurut Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono
(2007: 21), remediasi merupakan suatu proses untuk membantu siswa

mengatasi kesulitan belajar terutama mengatasi miskonsepsi-miskonsepsi

yang dimiliki.

       Beberapa bentuk kegiatan perbaikan mengajarkan kembali (re-

teaching), bimbingan individu/kelompok kecil, memberikan pekerjaan

rumah, menyuruh siswa mempelajari sendiri sumber-sumber yang ditunjuk

guru, menggunakan alat bantu audio visual yang lebih banyak, serta

bimbingan oleh wali kelas/guru bidang studi dan guru BP (Ischak dan Warji,

1987: 42-43).

       Pada penelitian ini, dilakukan kegiatan perbaikan dalam bentuk

pengajaran ulang (re-teaching). Pengajaran ulang perlu dilakukan agar siswa

dapat mengingat kembali materi yang telah diajarkan dan dapat

memperbaiki konsepsi yang salah. Guru perlu memberikan penjelasan

kembali dengan menggunakan model pembelajaran yang lebih tepat.

Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk melakukan pengajaran

ulang (re-teaching) adalah model cooperative learning tipe talking stick.

       Cooperative learning tipe talking stick merupakan salah satu model

yang dapat diterapkan dalam pembelajaran fisika sebagai model yang tepat

dan cocok digunakan pada siswa SMP/MTs kelas VII, mengingat model

cooperative learning tipe talking stick berorientasi pada penciptaan kondisi

dan suasana belajar aktif dari siswa karena adanya unsur permainan dalam

proses pembelajaran. Model pembelajaran cooperative learning tipe talking

stick untuk meremidiasi siswa yang mengalami miskonsepsi telah
dimodifikasi, sehingga dalam satu kelompok terdiri dari 3 orang siswa, yang

bertugas sebagai ketua, penggagas dan penyanggah dalam diskusi. 1

kelompok akan mendapat 3 kartu soal dan kunci jawabannya, setiap 1 soal

ada 1 ketua, 1 penggagas dan 1 penyanggah, jadi 3 siswa dalam 1 kelompok

akan bergantian menjadi ketua, penggagas dan penyanggah, sehingga semua

siswa akan merasakan tugas sebagai ketua, penggagas dan penyanggah.

Ketika penggagas dan penyanggah selesai berbicara, ketua membaca kunci

jawaban dari soal yang mereka diskusikan kemudian tongkat diberikan

kepada kelompok lain yang mereka inginkan, kelompok yang mendapat

tongkat harus melakukan diskusi yang sama seperti kelompok pertama

dengan soal yang berbeda. Kelompok yang tidak memegang tongkat tidak

boleh berbicara, mereka harus menyimak diskusi dari kelompok yang

sedang berdiskusi dan mencatat hasil diskusinya.

        Beberapa hasil penelitian yang menggunakan model cooperative

learning tipe talking stick disajikan seperti berikut ini.

1. Ika Rahmawati (2007) menunjukkan bahwa cooperative learning tipe

    talking stick dapat meningkatkan aktivitas belajar dan kemandirian

    belajar siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.

2. Filein Sofiawati (2010) menunjukkan bahwa cooperative learning tipe

    talking stick dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika pada

    pokok bahasan persegi dan persegi panjang pada siswa kelas VII SMP

    Negeri 3 Kartasura.
          Model cooperative learning tipe talking stick dapat dijadikan salah

   satu alternatif untuk meremediasi miskonsepsi siswa tentang pemuaian zat

   padat. Pada penelitian yang diajukan ini akan dilakukan di sekolah yang

   berbeda dari penelitian sebelumnya. Peneliti sebelumnya, Juliana (2008)

   melakukan penelitian di SMP Negeri 11 Pontianak, namun penelitian ini

   akan dilakukan di MTs IKA-PGA Pontianak karena kedua sekolah ini

   memiliki kemiripan diantaranya sama-sama terakreditasi B, guru fisikanya

   sama-sama tidak berlatar belakang sarjana pendidikan fisika, SMP Negeri

   11 Pontianak memiliki laboratorium tetapi belum difungsikan dengan baik

   sedangkan MTs IKA-PGA tidak memiliki laboratorium, kemudian

   kesetaraan tarap ekonomi orang tua siswa kedua sekolah. Selain itu belum

   pernah dilakukan penelitian yang serupa di MTs IKA-PGA Pontianak,

   sehingga diharapkan kegiatan remediasi dengan menggunakan model

   cooperative learning tipe talking stick ini dapat mengatasi miskonsepsi

   tentang pemuaian zat padat yang dialami siswa.



A. Masalah Penelitian

          Azwar dan Prihartono (2003: 11) menuliskan ada beberapa kriteria

   yang menentukan suatu masalah layak untuk diprioritaskan, lima di

   antaranya menjadi alasan penentuan masalah dalam penelitian ini.

   1. Tergantung dari waktu terjadinya masalah.

           Miskonsepsi siswa tentang pemuaian zat padat banyak ditemukan

      pada siswa, terutama pada jenjang tingkat sekolah menengah pertama
  seperti yang ditemukan di SMP Negeri 11 Pontianak yang diteliti oleh

  Juliana pada tahun 2008, maka perlu cara untuk mengatasi miskonsepsi

  tersebut.

2. Tergantung dari akibat yang ditimbulkan masalah.

        Jika miskonsepsi siswa tentang pemuaian zat padat tidak

  diperbaiki, dikhawatirkan siswa akan terus menerus mengalami

  miskonsepsi pada jenjang pendidikan berikutnya yang lebih tinggi.

3. Tergantung dari jumlah siswa yang miskonsepsi

        Jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi tentang materi

  pemuaian zat padat yang baru diteliti cukup besar dengan persentase rata-

  rata miskonsepsi 72,56% (Juliana, 2008) pada kelas yang dijadikan

  sampel penelitian, maka miskonsepsi harus segera diatasi.

4. Tergantung dari hubungannya dengan program yang sedang berjalan.

        Miskonsepsi siswa tentang materi pemuaian zat padat sangat

  mempengaruhi hasil belajar siswa untuk standar ketuntasan minimal

  (SKM) mata pelajaran fisika, yang merupakan salah satu mata pelajaran

  yang termasuk dalam mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

5. Tergantung dari pernah atau tidaknya masalah tersebut diteliti.

        Penelitian tentang miskonsepsi siswa tentang pemuaian zat padat

  pernah dilakukan. Namun, penelitian tentang remediasi miskonsepsi

  siswa tentang pemuaian zat padat dengan melakukan pengajaran ulang

  menggunakan model cooperative learning tipe talking stick belum

  pernah dilakukan.
           Dari kelima kriteria yang telah dijelaskan, maka masalah dalam

      penelitian   ini   adalah   “Bagaimana   efektifitas   remediasi   dengan

      menggunakan model cooperative learning tipe talking stick untuk

      mengatasi miskonsepsi siswa MTs IKA-PGA Pontianak kelas VII pada

      materi pemuaian zat padat?”.



B. Tujuan Penelitian

        Tujuan penelitian yang baik mengandung beberapa keterangan (Azwar

   dan Prihartono, 2003: 32). Penelitian ini mengandung lima (5) keterangan.

   1. Keterangan tentang jenis penelitian.

            Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen tentang kegiatan

      remediasi materi pemuaian zat padat dengan melakukan pengajaran

      ulang menggunakan model cooperative learning tipe talking stick.

   2. Keterangan tentang waktu penelitian.

           Waktu penelitian ini pada tahun ajaran 2010/2011.

   3. Keterangan tentang lokasi penelitian.

            Lokasi penelitian ini di MTs IKA-PGA Pontianak.

   4. Keterangan tentang sasaran penelitian.

            Sasaran penelitian ini yaitu materi pemuaian zat padat pada siswa

    kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak

   5. Keterangan tentang hasil penelitian.

           Hasil dari penelitian ini adalah tingkat efektifitas pembelajaran

      remediasi dalam mengatasi miskonsepsi pada materi pemuaian zat padat.
              Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

      efektifitas model cooperative learning tipe talking stick untuk

      meremediasi miskonsepsi siswa dalam memahami konsep pemuaian zat

      padat pada siswa kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak tahun ajaran 2010 /

      2011.



C. Manfaat Penelitian

        Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan alternatif

   bagi guru dalam melakukan kegiatan remediasi untuk memperbaiki

   kesalahan siswa, khususnya kesalahan siswa dalam memahami konsep

   pemuaian zat padat. Selain itu, juga diharapkan dapat melatih siswa

   bekerjasama dalam kelompok untuk memahami konsep pemuaian zat padat

   yang sesuai dengan konsep ilmuwan, sehingga miskonsepsi yang terjadi

   pada siswa dapat diatasi.



D. Hipotesis Penelitian

         Hipotesis dalam penelitian ini adalah pengajaran ulang dengan

   menggunakan model cooperative learning tipe talking stick efektif dalam

   meremediasi miskonsepsi siswa kelas VII MTs IKA-PGA Pontianak pada

   materi pemuaian zat padat.
E. Ruang Lingkup Penelitian

   1. Variabel Penelitian

     1. Variabel Bebas

        Variabel bebas: kegiatan remediasi dengan menggunakan model

        cooperative learning tipe talking stick.

     2. Variabel Terikat

        Variabel terikat: penurunan miskonsepsi siswa pada materi pemuaian

        zat padat.

     3. Variabel Kontrol

        Variabel kontrol yang diusulkan dalam penelitian ini yaitu :

        1.    Soal tes.

              Semua siswa mendapatkan tes yang sama sehingga diharapkan

              pengaruh tes pada semua siswa yang mengalami miskonsepsi

              akan sama. Soal yang digunakan dalam penelitian ini

              diadaptasikan dari soal penelitian Juliana (2008).

        2.    Materi pemuaian zat padat

              Semua siswa sudah mempelajari materi pemuaian zat padat

              sehingga diharapkan mereka memiliki pemahaman yang sama

              pula.

        3.    Guru yang mengajar

              Latar belakang pendidikan, tingkat kedisiplinan, kemampuan

              dan pengalaman guru yang mengajar semua siswa sama
       sehingga diharapkan siswa mendapatkan ilmu dan pemahaman

       yang sama pula dari guru tersebut (Sulipan, 2010).

4. Variabel Ekstrane

  Variabel ekstrane yang diusulkan dalam penelitian ini yaitu :

  1.   Latar belakang kebudayaan siswa

       Siswa yang mempunyai kebudayaan yang berbeda besar

       kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda

       pula. Ada siswa yang setiap hari selalu belajar bersama dengan

       kakak-kakaknya, mengikuti pelajaran tambahan setiap sore,

       sehingga    akan   mempengaruhi      hasil   belajarnya.   Namun

       pengaruhnya tidak dapat diperhitungkan sehingga dapat

       diabaikan (Sulipan, 2010).

  2.   Kelelahan, kesiapan dan suasana hati siswa

       Kelelahan, kesiapan dan suasana hati siswa akan berpengaruh

       pada konsentrasi dan prestasi belajar tetapi unsur tersebut tidak

       dapat dikendalikan, dihapuskan dari penelitian dan pengaruhnya

       terhadap variabel terikat juga tidak dapat diperhitungkan secara

       pasti sehingga dapat diabaikan (Poerwanto, 2000: 138-139)
2. Definisi Operasional

  a.   Miskonsepsi

             Miskonsepsi adalah konsepsi seseorang yang tidak sesuai

       dengan konsepsi ilmuwa (Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono, 2007: 3).

             Miskonsepsi dalam penelitian yang diusulkan ini adalah

       konsepsi siswa (setelah ikut pembelajaran) pada materi pemuaian zat

       padat yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan, yang ditandai

       dengan adanya kesalahan dalam menyelesaikan soal tentang

       pemuaian zat padat.

             Siswa dikatakan miskonsepsi jika:

       1.   Tidak menjawab sama sekali

       2.   Menjawab tetapi pilihannya keliru dalam mengisi soal tes.

  b.   Remediasi

             Remediasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang

       dilaksanakan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang

       kurang berhasil (Sutrisno, Kresnadi, dan Kartono, 2007: 22).

             Remediasi dalam penelitian ini adalah kegiatan untuk

       memperbaiki      miskonsepsi    siswa     yang   dilakukan     dengan

       pembelajaran ulang menggunakan model cooperative learning tipe

       talking stick.
c.   Efektivitas

           Efektivitas dalam penelitian ini adalah terjadi penurunan

     miskonsepsi siswa yang signifikan tentang konsep pemuaian zat

     padat setelah diberikan remediasi dengan pengajaran ulang

     menggunakan model cooperative learning tipe talking stick.

d.   Model Cooperative Learning Tipe Talking Stick.

           Cooperative    Learning    merupakan     salah   satu   model

     pembelajaran dimana tempat siswa belajar adalah didalam kelompok

     kecil yang terdiri dari 3-6 orang siswa (Trianto, 2007: 41). Dalam

     penelitian ini yang dimaksud dengan model cooperative learning

     tipe talking stick adalah pembelajaran remediasi yang satu kelompok

     terdiri dari 3 siswa yaitu ketua, pengagas, dan penyanggah dengan

     menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran,

     kelompok yang memegang tongkat harus melakukan diskusi.

e.   Pemuaian Zat Padat

           Menurut Lea Prasetio dan Sandi Setiawan (dalam Leonie,

     2010: 13), pemuaian zat padat merupakan perubahan suatu ukuran

     benda akibat kenaikan suhu. Dalam penelitian ini materi

     pembelajaran pemuaian zat padat yang akan diteliti adalah materi

     bahan ajar pemuaian zat padat yang tercangkup dalam KTSP MTs

     IKA-PGA Pontianak yaitu muai panjang, muai luas dan muai

     volume serta beberapa manfaat dari pemuaian. Sedangkan, zat padat

     dalam penelitian ini adalah, logam, besi, kuningan, bimetal, kaca dan
yang sejenisnya, tidak termasuk karet, kertas, plastik dan yang

sejenisnya.
                                    BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA

A.   Miskonsepsi Siswa

            Menurut Suparno (2005: 4), miskonsepsi atau salah konsep

     menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah

     yang diterima para pakar bidang itu, kemudian dikatakan bahwa

     miskonsepsi sebagai suatu kesalahan dan hubungan yang tidak benar antara

     konsep-konsep.

            Filsafat   konstruktivisme   secara   singkat    menyatakan   bahwa

     pengetahuan dibentuk oleh siswa sendiri dalam bentuk kontak dengan

     lingkungan, tantangan, dan bahan yang dipelajarinya. Oleh karena siswa

     sendiri yang mengkonstruksi pengetahuannya, maka tidak mustahil dapat

     terjadi kesalahan dalam mengkonstruksi. Hal ini dapat disebabkan siswa

     belum terbiasa mengkonstruksi konsep fisika secara tepat, belum

     mempunyai kerangka ilmiah yang dapat digunakan sebagai patokan

     (Suparno, 2005: 30).

            Menurut Suparno (2005: 29), miskonsepsi dapat disebabkan oleh

     siswa, guru, buku teks, konteks, dan metode mengajar.

     Adapun miskonsepsi yang disebabkan oleh siswa adalah sebagai berikut ini.

     1.   Prakonsepsi atau Konsepsi Awal Siswa

              Sebelum mengikuti pelajaran formal, siswa sudah memiliki

          konsepsi awal yang sering mengalami miskonsepsi. Prakonsepsi ini

          biasanya diperoleh dari pengalaman dan lingkungan siswa itu sendiri.
2.   Pemikiran Asosiatif Siswa

         Asosiasi siswa terhadap istilah-istilah sehari-hari bisa membuat

     miskonsepsi (Suparno, 2005: 35). Kata dan istilah yang digunakan oleh

     guru dalam proses pembelajaran diasosiasikan lain oleh siswa.

3.   Pemikiran Humanistik

         Siswa sering kali memandang semua benda dari pendangan

     manusiawi. Tingkah laku benda dipahami seperti tingkah laku manusia

     hidup.

4.   Reasoning yang Tidak Lengkap

         Menurut Comins (dalam Suparno, 2005: 38), miskonsepsi juga

     dapat disebabkan oleh reasoning atau penalaran yang salah atau tidak

     lengkap. Reasoning yang salah dapat terjadi karena logika yang salah

     dalam mengambil kesimpulan atau generalisasi suatu konsep.

5.   Intuisi yang Salah

         Intuisi yang salah dan perasaan siswa juga dapat menyebabkan

     miskonsepsi. Intuisi adalah suatu perasaan yang salah dalam diri

     seseorang, yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya

     tentang sesuatu sebelum secara objektif dan rasional diteliti. Pemikiran

     atau pengertian intuitif itu biasanya berasal dari pengamatan akan benda

     atau kejadian yang terus-menerus, akhirnya secara spontan, bila

     menghadapi persoalan fisika tertentu, yang muncul dalam benak siswa

     adalah pengertian spontan itu.
     6.    Tahap Perkembangan Kognitif Siswa

               Secara umum, siswa masih dalam tahap operasional konkret (lebih

           mudah menangkap suatu peristiwa yang nyata), bila mempelajari suatu

           bahan pembelajaran yang abstrak sulit menangkap dan salah mengerti

           tentang konsep tersebut.

     7.    Kemampuan Siswa

               Siswa yang kurang mampu dalam pelajaran fisika, sering

           mengalami kesulitan dalam menangkap konsep yang benar dalam

           proses belajar. Meskipun guru telah menyampaikan bahan ajar dengan

           benar serta buku teks tertulis dengan benar sesuai dengan pengertian

           para ahli. Pengertian yang mereka tangkap dapat tidak lengkap bahkan

           salah.

     8.    Minat Siswa

               Siswa yang tidak tertarik atau benci pada fisika, biasanya kurang

           minat untuk belajar fisika atau kurang memperhatikan penjelasan guru

           tentang materi fisika yang disampaikan. Akibatnya mereka lebih mudah

           salah menangkap dan membentuk miskonsepsi.

B.   Remediasi Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe Talking

     Stick

     1. Pengertian Remediasi

               Menurut Ischak dan Warji (1987: 35-36), remediasi adalah

          kegiatan perbaikan yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada

          siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
  Remediasi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk membetulkan

  kekeliruan yang dilakukan siswa (Kartono, 2007: 22).

2. Tujuan Remediasi

        Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu

  siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Secara umum tujuan

  kegiatan remediasi adalah memperbaiki miskonsepsi siswa. Secara

  khusus kegiatan remediasi bertujuan membantu siswa menuntaskan

  penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan (Kartono, 2007: 22).

3. Fungsi Remediasi

        Warkitri, dkk dalam Kartono (2007: 26-27) menyebutkan enam

  fungsi   kegiatan   remediasi,    yaitu:   fungsi   kuratif,   pemahaman,

  penyesuaian, pengayaan, akselerasi, dan terapeutik.

 1. Fungsi Korektif

        Kegiatan remediasi mempunyai fungsi korektif dalam kegiatan

   pembelajaran karena melalui kegiatan remediasi guru memperbaiki cara

   mengajar dan siswa memperbaiki cara belajar. Berdasarkan hasil analisis

   kesulitan belajar siswa, guru memperbaiki berbagai aspek proses

   pembelajaran, mulai dari rumusan indikator hasil belajar, materi,

   pengalaman belajar dan evaluasi serta tindak lanjut.

 2. Fungsi pemahaman

        Dengan kegiatan remediasi diharapkan terjadi proses pemahaman

   baik bagi guru dan siswa. Bagi seorang guru untuk melaksanakan

   kegiatan remediasi, terlebih dahulu harus memahami kelebihan dan
 kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Sebelum seorang

 guru menentukan jenis kegiatan remedial yang akan dilakukan, guru

 terlebih dahulu mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah

 dilaksanakannya. Bagi siswa, kegiatan remediasi diharapkan         siswa

 dapat memahami kelebihan dan kelemahan cara dan sikap belajarnya.

 Dengan pemahaman ini, diharapkan siswa akan memperbaiki sikap dan

 cara belajarnya sehingga dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik.

3. Fungsi Penyesuaian

      Kegiatan remediasi memiliki fungsi penyesuaian, yaitu dalam

 remedial seorang guru dalam melaksanakan pembelajarannya harus

 menyesuaikan dengan karakteristik siswa. Dalam menentukan hasil

 belajar siswa dan materi pembelajaran disesuaikan dengan kesulitan

 yang dihadapi siswa. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru

 harus menerapkan kekuatan yang dimiliki individu siswa melalui

 penerapan berbagai metode dan alat /media pembelajaran.

4. Fungsi Pengayaan

      Kegiatan remediasi memilki fungsi pengayaan bagi proses

 pembelajaran karena melalui kegiatan remedial guru memanfaatkan

 sumber belajar, metode pembelajaran, alat bantu pembelajaran yang

 lebih bervariasi dari pada pembelajaran biasa.
5. Fungsi Akselerasi

      Kegiatan remediasi memiliki fungsi akselerasi terhadap proses

 pembelajaran, karena melalui kegiatan remedial guru dapat mempercepat

 penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.

6. Fungsi Terapiutik

      Kegiatan remediasi mempunyai fungsi terapiutik karena melalui

 kegiatan remediasi guru dapat membantu mengatasi kesulitan belajar

 siswa yang berkaitan dengan aspek sosial pribadi.

      Kegiatan    remediasi    dengan   melakukan    pengajaran    ulang

 menggunakan model cooperative learning tipe talking stick memiliki

 dua fungsi yaitu fungsi korektif dan fungsi akselerasi. Melalui kegiatan

 pengajaran ulang menggunakan model cooperative learning tipe talking

 stick guru dapat memperbaiki cara mengajarnya dan siswa dapat

 memperbaiki cara belajarnnya. Selama ini metode pembelajaran

 cenderung bersifat guru menjelaskan dan siswa menerima penjelasan

 dari guru. Dalam pembelajaran model cooperative learning tipe talking

 stick guru membimbing siswa untuk menemukan jawaban suatu

 permasalah melalui diskusi kelompok. Pembelajaran model cooperative

 learning tipe talking stick    juga akan mengaktifkan siswa dalam

 pembelajaran karena semua siswa dituntut untuk mengungkapkan

 pendapatnya.
4. Jenis-Jenis Kegiatan Remediasi

        Kegiatan–kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam rangka

  membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar diantaranya sebagai

  berikut (Kartono, 2007: 30-31).

  1. Melaksanakan pembelajaran kembali

        Melalui    bentuk    kegiatan     ini   seorang   guru   melaksanakan

     pembelajaran kembali materi yang belum dikuasai siswa.

  2. Melakukan aktivitas fisik, misal demonstrasi, atau praktek

        Kegiatan remediasi ini yaitu dengan melakukan praktek atau

     demonstrasi misalnya pada materi fluida dan alat ukur listrik.

  3. Kegiatan Kelompok

          Diskusi kelompok dapat digunakan guru untuk membantu siswa

     yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan kelompok dapat efektif

     dalam membantu siswa, jika diantara anggota kelompok ada siswa

     yang benar-benar menguasai materi dan mampu memberi penjelasan

     kepada siswa lainnya.

  4. Tutorial

          Kegiatan tutorial dapat dipilih sebagai kegiatan remediasi.

     Dalam kegiatan ini seorang guru meminta bantuan kepada siswa yang

     lebih pandai untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan

     belajar. Siswa yang dijadikan tutor bisa berasal dari kelas yang sama

     atau dari kelas yang lebih tinggi.
5. Menggunakan sumber belajar lain

        Penggunaan sumber belajar lain yang relevan dapat membantu

  siswa yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran.

  Misalanya guru meminta untuk mengunjungi ahli atau praktisi yang

  berkaitan dengan materi yang dibahas.      Atau juga siswa diminta

  membaca sumber lain dan bahkan kalau mungkin mendatangkan

  anggota masyarakat yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan

  materi yang dipelajari.

        Dalam penelitian ini, dilakukan kegiatan remediasi dengan

  mengajarkan kembali (re-teaching) dengan menggunakan model

  cooperative learning tipe talking stick.

         Berikut disajikan sejumlah alasan yang mendukung pemilihan

  dilakukan kegiatan remediasi dengan mengajarkan kembali (re-

  teaching) menggunakan model cooperative learning tipe talking stick.

  Menurut Sukmadinata dan Thomas (1978) ( dalam Ischak dan Warji,

  1987: 38) ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam

  menentukan bentuk kegiatan remediasi, dua diantaranya menjadi

  alasan penentuan bentuk remediasi pada penelitian ini.

  1. Jumlah siswa yang memerlukan kegiatan perbaikan

             Jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi

     pemuaian zat padat cukup besar dengan persentase rata-rata

     72,56% (Juliana 2008) pada kelas yang dijadikan sampel. Jika

     sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar atau
  mengalami kesulitan belajar maka perlu dilakukan pengajaran

  ulang.

2. Siapa yang memberikan kegiatan perbaiakan

           Yang akan memberikan perbaikan dalam penelitian ini

  adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini peneliti lebih menguasai cara

  perbaikan dengan pengajaran ulang dibandingkan dengan cara-cara

  lain.

           Selain dua alasan diatas penyebab terjadinya miskonsepsi

  siswa juga menjadi       alasan melakukan remiediasi        dengan

  pengajaran ulang menggunakan model cooperative learning tipe

  talking stick. Juliana (2008) menyebut diantara penyebab

  miskonsepsi pada materi pemuaian zat padat dikarenakan siswa

  tidak termotivasi untuk belajar fisika dan kesalahan siswa berupa

  resoning yang tidak lengkap. Penyebab miskonsepsi seperti ini

  lebih cocok diatasi dengan cara melakukan pengajaran ulang

  karena menerut Ischak dan Warji (1987: 42) pengajaran ulang

  mempunyai cara pengajaran yang berbeda, yaitu kegiatan belajar-

  mengajar dilakukan dalam situasi kelompok, melibatkan siswa

  secara aktif dalam kegiatan belajar dan memberikan dorongan

  (motivasi) kepada siswa pada kegiatan belajar.
5. Model Cooperative Learning Tipe Talking Stick

        Model cooperative learning merupakan model pembelajaran yang

  bernaung    dalam       teori     konstruktivis.   Ada   beberapa   prinsip

  konstruktivisme, antara lain:

  (1)   Pengetahuan dibangun dari siswa itu sendiri, baik secara personal

        maupun sosial

  (2)   Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali

        hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar

  (3)   Murid aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga selalu terjadi

        perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap,

        serta sesuai dengan konsep ilmiah

  (4)   Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar

        proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997: 49).

        Cooperative learning muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih

  mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling

  berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok

  untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks

  (Trianto, 2007: 41).

        Cooperative      learning    disusun dalam sebuah usaha untuk

  meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman

  sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta

  memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar

  bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam
Cooperative learning siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun

sebagai guru.

      Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri berikut ini.

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan

    materi belajar

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi,

    sedang, dan rendah.

3) Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya,

    suku, dan jenis kelamin yang beragam

4) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu

      Talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif

dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota

tiap kelompok 3 siswa yang terdiri dari ketua, penggagas dan

penyanggah. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat,

kelompok yang memegang tongkat harus melakukan diskusi, sedangkan

kelompok yang belum mendapat giliran memegang tongkat harus

menyimak dan mencatat hasil diskusi kelompok yang yang melakukan

diskusi.

       Model pembelajaran dengan menggunakan tongkat ini pertama

kali diterapkan di Amerika yang diadopsi dari suatu kebiasaan suku-suku

Indian Amerika sebagai alat yang memberikan kesempatan kepada

seseorang untuk berbicara dalam suatu diskusi (Fujioka, 1998). Dengan

menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe talking stick
ini siswa akan saling menghormati sebab siswa yang tidak memegang

tongkat tidak boleh berbicara, tetapi dia harus konsentrasi menyimak

diskusi kelompok pemegang tongkat.

       Cooperative learning tipe talking stick membutuhkan persiapan

yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan.

Persiapan-persiapan tersebut adalah sebagai berikut ini.

1.    Perangkat Pembelajaran

           Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini perlu

      disiapkan   perangkat    pembelajaran    yang    meliputi    Rencana

      Pembelajaran (RPP), tongkat, kartu pertanyaan beserta lembar

      jawabannya.

2.    Membentuk kelompok kooperatif

           Dalam menentukan anggota kelompok diusahakan agar

      kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan

      kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif

      homogen.      Pembentukan    kelompok    dapat       didasarkan   pada

      kemampuan akademik, yaitu dengan cara melihat hasil pre-testnya.

      Tujuannya adalah untuk mengurutkan siswa sesuai kemampuan

      sains fisikanya dan digunakan untuk mengelompokkan siswa ke

      dalam kelompok-kelompok.
          3.   Menentukan skor awal

                    Dalam penelitian ini, skor awal diambil berdasarkan hasil

               pretest dari masing-masing siswa. Tujuannya untuk mengetahui

               perubahan miskonsepsi siswa dalam memahami konsep tentang

               pemuaian zat padat setelah dilaksanakan remediasi.

          4.   Pengaturan tempat duduk

                    Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu diatur

               dengan baik, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan

               pembelajaran kooperatif.

                    Pada penelitian ini, tempat duduk diatur berkelompok dan

               kemudian kelompok-kelompok itu dibuat melingkar. Dalam

               pembelajaran cooperative learning tipe talking stick lingkaran yang

               dibentuk memiliki makna, yaitu sebuah lingkaran kehidupan yang

               harus terus bergerak maju.

C.   Materi Pemuaian Zat Padat

     1.    Materi Pemuaian Zat Padat di Universitas

                  Benda yang diberi panas pada umumnya akan mengalami

           kenaikan suhu. Naiknya suhu ini berarti bahwa getaran molekul

           menjadi lebih keras. Makin banyak tumbukan yang terjadi makin besar

           jarak pisah antara molekul-molekul itu, sehingga terlihat bahwa benda

           tersebut mengembang atau memuai (Prasetio, Lea dan Setiawan Sandi

           dalam Leony, 2010: 28).
       Perubahan ukuran ini biasanya tidak besar (terutama pada zat

padat) sehingga tidak dapat diamati dengan mudah, namun akibatnya

dapat kita temui dalam contoh kehidupan sehari-hari. Ketika kaca

jendela tidak dipasang dengan benar, maka akan pecah ketika memuai ,

karena antara kaca dan bingkainya tidak diberi celah untuk memuai.

(Prasetio, Lea dan Setiawan Sandi dalam Leony, 2010: 28).

a.   Pemuaian Panjang

      Sebagian besar zat padat memuai jika dipanaskan dan menyusut

ketika didinginkan. Besarnya pemuaian dan penyusutan bervariasi pada

materi itu sendiri.

      Gambar berikut ini menunjukkan bahwa perubahan panjang L

pada semua zat padat, berbanding lurus dengan perubahan temperatur

yang sama.

                         Lo

         To


          T
                               L



Gambar 2.1 Pemuaian Panjang Pada Batang Logam (Giancoli 2001 :

              453)

Batang tipis dengan panjang Lo pada temperatur To dipanaskan

sampai temperatur serba sama T dan panjang menjadi L di mana :
                L  Lo  L..............................................................(2.1)

Dimana  konstanta pembanding disebut koefisien muai linier untuk

zat tertentu dan mempunyai satuan 1/ 0C .          
       L  Lo1   .T        ...............................................................(2.2)

Keterangan :

 Lo   = Panjang awal (m)

 L    = Panjang setelah dipanaskan (m)

 T    = Pendinginan atau temperatur (C0)

     = 1                                                 (Giancoli 2001 : 454)
           Tabel 2.1 Beberapa Koefisien Zat Padat.

                  Koefisien muai panjang       Koefisien muai volume 
     Zat Padat
                         ( C 0 ) 1                    ( C 0 ) 1

Aluminium               2 ×10 6                       7 ×10 6

Kuningan                19 ×10 6                      56 ×10 6

Besi atau baja          12 ×10 6                      35 ×10 6
Timah hitam
                        29 ×10 6                      87 ×10 6
Kaca (Pyrex)
                        3 ×10 6                       9 ×10 6
Kaca (biasa)
                        0,9 ×10 6                     27 ×10 6
Kwarsa
                        0,4 ×10 6                     1 ×10 6
Beton dan bata
                        12 ×10 6                      36 ×10 6
Marmer
                        1,4 ×10 6                     4 ×10 6



                                       Sumber : (Giancoli, 2001 : 455)



b.    Muai Luas

       Jika sebuah zat isotropik memuai, maka jarak antara dua titik

dalam zat tersebut bertambah sebanding dengan                    tiap derajat

kenaikan suhu. Koefisien muai luas suatu zat padat ialah perubahan luas

persatuan waktu tiap derajat perubahan suhu. Satuan                   adalah

kebalikan derajat celsius      C  atau
                                     o 1
                                                kebalikan kelvin       1 / K  .
Koefisisen muai linier untuk padatan atau cairan biasanya tidak banyak
berubah dengan tekanan tetapi dapat berubah dengan temperatur.

(Tipler, 2005 : 568).

c.     Pemuaian Volume

         Perubahan volume zat yang mengalami perubahan temperatur

yang sama.  Biasanya sama dengan sekitar 3  . (Giancoli, 2001 :

456)

                      V   .Vo  T           .....................................................(2.3)

Keterangan :

 T       = perubahan temperatur (C0)

 Vo        = volume awal (m3)

 V = perubahan volum (m3)

         = koefisien muai volum (m3)

         Jadi, untuk zat padat yang tidak isotropik berarti memiliki sifat

yang sama ke segala arah.

Besaran ini adalah rasio fraksi perubahan panjang terhadap perubahan

temperatur.

            L= L0 + L0.α. T2-T1

     L – L0 = L0.α. T2-T1

       L = L0.α. T

       L = α. T
       L0
              L L
           =      ..............................................................................(2.4)
               T
     Keterangan :

             = Koefisien muai linier (1 / OC).

      L      = Perubahan panjang (m3)

      T       = pendingin atau temperatur (Co)

      T      = Perubahan temperatur (Co)

             Dengan beberapa pengecualian, volume tiap benda akan

     bertambah dengan naiknya suhu jika tekanan dari luar terhadapnya

     tetap konstan. Umpamanya suatu zat padat atau sebesar dT (skala

     derajat celcius merupakan selang suhu yang sama harganya). Koefisien

     muai volume  didefinisikan sebagai koefisien muai volume suatu zat

     padat ialah perubahan volume persatuan waktu tiap derajat perubahan

     suhu.

             1 dV  1 dV
      =      .   = .   (pada tekanan gas konstan)..........................(2.5)
             v dT  v dT

     Keterangan :

          = Koefisien muai volume (m3)

      dV = Perubahan fraksional (m3)

      dT = Perubahan suhu (Co)                (Sears dan Zemansky, 1982 : 365)

2.   Materi Pemuaian Zat Padat di MTs

              Setiap benda terdiri dari dimensi panjang, lebar dan tinggi. Jika

     suatu benda mengalami pemuaian, benda tersebut akan mengalami

     penambahan panjang, lebar dan tinggi. Pemuaian zat padat dapat

     diselidiki dengan alat yang disebut alat musschenbroek. Pemuaian zat
padat dapat berupa pemuaian panjang, pemuaian luas dan pemuaian

volume.

a.      Pemuaian Panjang

         Pemuaian panjang adalah pertambahan panjang batang logam

akibat mendapat panas. Dengan alat musschenbroek dapat ditunjukkan

bahwa pemuaian panjang akan mengikuti hal-hal sebagai berikut :

yaitu, sebanding dengan kenaikan suhu, sebanding dengan batang

semula dan bergantung pada jenis logamnya. (Kanginan, 2004 : 19)

         Koefisien muai panjang tiap-tiap logam berbeda-beda. Koefisien

muai panjang adalah bilangan menunjukkan besarnya pertambahan

panjang tiap satuan meter pada kenaikan suhu 1o C . (Kanginan, 2004 :

18)

                            Lo

            To



            T

                                   Lt



Gambar 2.2 Pertambahan Panjang Sebatang Logam (Kanginan,2004 :

                 20)

         Jika panjang mula-mula sebuah benda yang bersuhu To adalah


Lo , panjang benda setelah dipanaskan hingga suhu T sebagai berikut

ini :
           Lt  Lo   T  To...........................................................(2.6)
                   1

Keterangan :

Lt = Panjang benda setelah dipanaskan (m)

Lo = Panjang benda mula-mula (m)

 = Koefisisen muai panjang benda (1 / OC).

T       = Suhu benda setelah dipanaskan ( 0 C)

To = Suhu benda mula-mula ( 0 C)

         Beberapa nilai koefisisen muai panjang untuk beberapa jenis zat

dapat dilihat pada tabel berikut ini.



         Tabel 2.2 Koefisien Muai Panjang Berbagai Jenis Zat Padat.

                                                        Koefisien muai panjang
    No                 Jenis Zat
                                                                    ( /K)

    1       Aluminium                                            0, 000024

    2       Kuningan                                             0, 000019

    3       Tembaga                                              0, 000017

    4      Kaca biasa                                            0, 000011

    5      Kaca pyrex                                            0, 000033

    6      Baja                                                  0, 000012

    7      Berlian                                               0, 000001

    8      Grafit                                                0, 000008

                                                    Sumber : (Kanginan, 2004 : 110)
b.       Pemuaian Luas




         Gambar 2.3 Pertambahan Luas Keping Empat Persegi Panjang

                     Ketika Dipanaskan. (Kanginan, 2004 : 22)

          Jika luas sebuah lempengan benda yang bersuhu To adalah Ao .

Luas lempengan tersebut dipanaskan hingga suhu T sebagai berikut ini :

                    At  Ao   T  To............................................(2.7)
                            1

Keterangan :

     At = Luas lempeng benda setelah dipanaskan (m 2 )

     Ao = Luas lempeng benda mula-mula (m 2 )

      = 2  = Koefisisen muai luas banda ( C 0              1
                                                                  )

     T     = Suhu benda setelah dipanaskan (Co)

     To = Suhu benda mula-mula (Co)
c.       Pemuaian Volume




          Gambar 2.4 Demonstrasi Muai Volume Zat Padat Dengan

                          Menggunakan Bola dan Cincin Logam. (Kanginan,

                          2004 : 23)

          Jika volume sebuah benda bersuhu To adalah Vo , volume benda

tersebut setelah dipanaskan hingga suhu T sebagai berikut ini :

           Vt  Vo   T  To ...........................................................(2.8)
                   1

Keterangan :

     Vt = Volume benda setelah dipanaskan (m 3 )

     Vo = Volume benda mula-mula (m 3 )

         = 3  = Koefisien muai volum benda (Co 1 )

     T    = Suhu benda setelah dipanaskan (Co)

     To = Suhu benda mula-mula (Co)
3.   Perbandingan Materi Fisika Universitas dengan Materi Fisika di

     MTs

             Di buku universitas materi pemuaian zat padat dijabarkan lebih

     lengkap dibandingkan di buku MTs. Hal ini disebabkan beberapa faktor

     berikut ini.

     1.   Faktor usia.

             Usia siswa MTs jauh lebih muda daripada mahasiswa. Dari usia

     yang berbeda maka perkembangan intelektualnya tentu berbeda pula.

     Perkembangan intelektual pada siswa MTs dimana usia sekolah

     menegah pertama kemampuan berpikir anak baru mulai dari berpikir

     abstrak (Samantri dan Syaodih, 2004: 46). Berpikir abstrak adalah

     berpikir tentang ide-ide yang oleh Jean Piaget disebut sebagai berfikir

     formal operasional, yang ditandai dengan tiga hal penting yaitu anak

     mulai mampu melihat (berfikir) tentang kemungkinan-kemungkinan,

     anak telah mampu berfikir ilmiah, anak telah mampu memadukan ide-

     ide secara logis (Samantri dan Syaodih, 2004: 47). Sedangkan pada usia

     dewasa (mahasiswa), perkembangan intelektual yang ada makin

     berkembang, kemampuan berpikir lebih meluas komprehensif dan

     mendalam (Samantri dan Syaodih, 2004: 55).

     2.   Faktor waktu

             Pada tingkatan MTs waktu yang mereka gunakan untuk belajar

     fisika secara umum terutama materi pemuaian zat padat cenderung

     lebih sedikit dibandingkan tingkat perguruan tinggi, karena ditingkat
MTs belum ada jurusan sehingga waktu yang tersedia digunakan untuk

mempelajari bermacam-macam pelajaran sedangkan di perguruan tinggi

waktu yang tersedia akan difokuskan pada jurusannya.

       Selain dua faktor itu di tingkatan siswa MTs materi pemuaian

zat padat yang diberikan untuk diketahui dan dipahami saja, sedangkan

ditingkat perguruan tinggi materi pemuaian zat padat tidak hanya untuk

diketahui dan dipahami saja tetapi juga membuktikan, membangun

kompetensi untuk memecahkan berbagai problem fisika, menekankan

pada berbagai prinsip serta sejumlah aplikasi yang berbasis kompetensi

yang lengkap.
Tabel 2.3 Perbedaan materi universtas dengan materi MTs.

               Materi Universitas                     Materi SMP/MTs
 1. Koofesien muai linear pada suatu temperatur 1. tidak ada
    tertentu T dengan mengambil limit T
    mendekati nol
           L L
    α = lim T
       1 dL
    = L dT
 2.Kefesien muai volume                          2. Langsung  = 3 

                L L
      = lim
                 T
           1 dV
        = V dT
     Koefesien muai volume adalah 3 kali
     koefesien muai linear bisa dibuktikan
     Perhatikan kotak dengan ukuran L1, L2 dan
     L3. Volume pada temperatur T adalah V=L1
     L2 L3
     Laju perubahan volume terhadap temperatur
     adalah
      dV          dL3          dL2 dL1
          =            +           +
      dT L1 L2 dT L1 L3 dT           dT L2 L3
     Bila tiap ruas dibagi volume maka
           1 dV
       =
          V dT
             1 dL3 1 dL2 1 dL1
         =           +         +
             L3 dT L 2 dT L1 dT
     Karena tiap suku diruas kanan persamaan
     diatas sama dengan α maka didapatkan
       =3 
 3. Penulisan nilai koefesien di universitas      3. Penulisan koefesien di
    menggunakan bilangan pangkat negatif             SMP/MTs mengunakan
                                                     bilangan desimal contoh
    contoh 2 × 10 -6
                                                     0,000024
                                   BAB III

                          METODE PENELITIAN

A.   Jenis Penelitian

             Jenis penelitian ini adalah penelitian eksprimen dengan bentuk Pre-

     Experimental Designs menggunakan rancangan One Group Pretest-Posttest

     Design. Rancangan One Group Pretest-Posttest Design menggunakan

     sekelompok subjek yang dikenai perlakuan untuk jangka waktu tertentu,

     pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan diberikan, dan

     pengaruh perlakuan diukur dari perbedaan antara pengukuran awal (T1) dan

     pengukuran akhir (T2) (Suryabrata, 2005: 117).

             Rancangan One Group Pretest-Posttest dapat digambarkan sebagai

     berikut ini.


                            T1      X      T2


     Gambar 3.1 Rancangan One Group Pretest-Posttest Design

     Keterangan : T1 = Tes awal (Pre-test) tentang miskonspsi materi pemuaian

                            zat padat.

                    T2 = Tes akhir (Post-Test) tentang miskonspsi materi

                            pemuaian zat padat.

                    X    = Perlakuan yaitu pemberian remediasi dengan cara

                            melakukan pengajaran ulang menggunakan model

                            cooperative learning tipe talking stick pada materi

                            pemuaian zat padat.
            Perlakuan dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri karena

     pertimbangan model cooperative learning tipe talking stick dalam penelitian

     ini mimiliki perbedaan dari langkah-langkah asalnya karena sudah

     dimodivikasi, oleh karena itu penelitilah yang lebih mengetahui tentang

     cooperative learning tipe talking stick dalam penelitian ini. Sehingga jika

     perlakuan dilakukan oleh orang lain tujuan dan langkah pembelajarannya

     tidak sesuai dengan yang diinginkan dalam penelitian.

B.   Populasi dan Sampel Penelitian

     1.   Populasi Penelitian

                 Populasi dalam penelitian ini adalah 23 orang siswa kelas VII

          Madrasah Tsanawiah Ikatan Alumni Pendidikan Guru Agama (MTs

          IKA-PGA) Pontianak tahun ajaran 2010/2011

     2.   Sampel Penelitian

                 Sampel dari penelitian ini adalah 18 siswa kelas VII Madrasah

          Tsanawiah Ikatan Alumni Pendidikan Guru Agama (MTs IKA-PGA)

          Pontianak tahun ajaran 2010/2011 yang hadir pada saat pre-test.

                 Tiga orang orang tidak hadir pada saat pre-test karena sakit dan

          dua orang lainnya tanpa keterangan.

C.   Instrumen Penelitian

            Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes pilihan

     ganda dibagi menjadi dua yaitu, pre-test dan pos-test yang disusun paralel.

     Instrumen diadaptasi dari kisi-kisi penelitian Juliana (2008) dengan

     beberapa pengembangan. Instrumen disusun melalui tahapan berikut ini.
1.   Validitas Tes

            Soal tes disusun berdasarkan kurikulum yang digunakan yaitu

     KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006. Validitas tes yang

     akan digunakan dalam tes ini adalah validitas isi. Validitas isi dapat

     dilakukan dengan cara berikut.

      a.   Menentukan materi.

      b.   Menentukan indikator

      c.   Menyusun soal pilihan ganda dengan tiga alternatif pilihan

      d.   Memilih panel fisika yang qualified untuk mengevaluasi soal.

           Penilaian validitas isi dapat dilakukan melalui penilaian panelis

           (pakar) fisika. Pengembangan prosedur penilaian panelis dapat

           dilakukan melalui beberapa langkah berikut ini.

           4.   Pertama, menetapkan skala yang digunakan, yaitu: 1 = sangat

                rendah, 2 = rendah, 3 = sedang, 4 = tinggi, dan 5 = sangat

                tinggi.

           5.   Kedua, menetapkan kriteria penilaian yang mencakup: (1)

                kesesuaian materi dengan indikator; (2) kesesuaian indikator

                dengan soal; (3) kesesuaian materi dengan soal.

           6.   Ketiga, panelis memberi penilaian berdasarkan skala yang

                sudah ditetapkan.

      e.   Merangkum hasil evaluasi dengan cara sebagai berikut ini.

           1.   Menghitung tingkat validitas rata-rata kecocokan materi

                dengan indikator dari semua panelis.
          2.   Menghitung tingkat validitas rata-rata kecocokan materi

               dengan soal dari semua panelis.

          3.   Menghitung tingkat validitas rata-rata kecocokan indikator

               dengan soal dari semua panelis.

          4.   Menghitung tingkat validitas rata-rata poin 1, 2 dan3.

          5.   Kualitas masing-masing soal didasarkan atas rata-rata hasil

               penilaian panelis, dengan kriteria 1,00 – 2,33 rendah; 2,34 –

               3,66 sedang; 3,67 – 5,00 tinggi (Widhiarso, 2010).

            Dalam penelitian ini instrumen divalidasi oleh 1 orang dosen

     pendidika fisika FKIP UNTAN, 1 orang guru fisika MTs IKA – PGA

     Pontianak dan 1 orang guru fisika MTs Mujahidin Pontianak.

     Berdasarkan hasil perhitungan (Lampiran B-1) diperoleh 4,69, maka

     berdasarkan aturan ruas jari instrumen yang digunakan memiliki

     validitas tinggi sehingga dapat digunakan tanpa ada revisi.

2.   Reliabilitas Tes

            Pengujian reliabilitas pada instrumen ini menggunakan internal

     consistency, yaitu dengan cara mencobakan instrumen sekali saja,

     kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik Kuder

     Richadson 20 (KR-20). Untuk soal tes, skor yang dipergunakan dalam

     instrumen ini adalah skor dikotomi (1 dan 0). Skor 1 untuk jawaban

     benar dan skor 0 untuk jawaban salah. Rumus yang digunakan untuk

     menghitung koefisien reliabilitas instrumen dapat dinyatakan dengan

     rumus KR 20 (Kuder Richardson) sebagai berikut:
                              k  st   pi qi 
                                              
                    ri                       
                           (k  1) 
                                      st
                                          2
                                               
                                                        ................................ (3.1)

Rumus untuk menghitung varians totalnya adalah:

                                           2
                                      Xt
                            St 
                              2

                                       n

                                       X t 2
                     X t  X t 
                       2          2

                                               n   ........................................(3.2)

Keterangan:

ri   = reliabilitas tes yang dicari

k    = banyaknya butir soal

Npi = proporsi jumlah siswa yang mendapat skor 1

         banyaknyasubjek yang skornya1
pi   =
                      n

qi   = 1 – pi

st2 = varians total

Xt   = jumlah jawaban item yang benar pada setiap subjek

n    = jumlah responden

                                      (Retnosari, Kurniasih dan Ratna, 2010)
                Tabel 3.1 Tingkat Reliabilitas Instrumen Penelitian


                 Nilai Koefisien                      Tingkat Reliabilitas


                   0,00 – 0,199                            Sangat rendah
                   0,20 – 0,399                               Rendah
                   0,40 – 0,599                               Sedang
                   0,60 – 0,799                                Kuat
                   0,80 – 1,000                             Sangat kuat


                                                      Sumber: Sugiyono, 2007 : 216

                 Uji reliabilitas tes dilaksanakan pada kelas VII MTs Mujahidin

     Pontianak, karena menurut data dari situs resmi Badan Akreditasi Propinsi

     Sekolah/Madrasah           Propinsi      Kalimantan      Barat    (http://www.ban-

     sm.or.id/provinsi/kalimatan-barat)   bahwa MTs Mujahidin Pontianak memiliki

     akreditasi sama dengan MTs IKA –PGA Pontianak yaitu B. Siswa kelas VII

     MTs Mujahidin Pontianak yang mengikuti tes sebanyak 21 orang siswa.

     Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa reliabilitas instrumen yang

     digunakan dalam penelitian ini adalah tergolong sedang yaitu 0,504

     sehingga dapat digunakan untuk tes (Lampiran B-2).

D.   Prosedur Penelitian

     1.   Persiapan

          a. Melakukan observasi ke sekolah

          b. Menyiapkan instrumen penelitian berupa soal Pre-test dan Post-test
     c. Menyiapkan perangkat pembelajaran model cooperative learning

       tipe talking stick. Dengan perangkat sebagai berikut :

         Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

         Lembar pertanyaan, lembar yang berisikan soal-soal pertanyaan

            sebanyak 3 soal essay setiap kelompok tentang konsep

            pemuaian zat padat.

         Lembar jawaban yang digunakan untuk meremediasi siswa atau

            yang digunakan ketua kelompok untuk menjawab pertanyaan.

         Tongkat yang digunakan sebagai alat penunjuk giliran kelompok

            yang akan melakukan diskusi.

2.   Tahap Pelaksanaan

     a. Memberi pretest untuk mengetahui jumlah miskonsepsi tentang

       pemuaian zat padat.

     b. Melaksanakan kegiatan remediasi dengan mekakukan pengajaran

       ulang menggunakan model cooperative learning tipe talking stick

       pada materi pemuaian zat padat.

     c. Memberi tes akhir untuk mengetahui penurunan jumlah miskonsepsi

       siswa tentang pemuaian zat padat

3.   Tahap Akhir

     a. Menganalisis data

     b. Menarik kesimpulan berdasarkan anallisis data

     c. Menyusun laporan
E.   Analisis Data

              Perubahan jumlah miskonsepsi siswa diperhatikan dalam kegiatan

     remediasi ini. Remediasi dikatakan efektif apabila terjadi penurunan jumlah

     miskonsepsi siswa pada materi pemuaian zat padat setelah diberikan

     remediasi menggunakan model cooperative learning tipe talking stick.

              Berikut ini langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menganalisis

     data.

     1.   Menganalisis hasil siswa pada Pre-test



          Tabel 3.2: Distribusi Hasil Pre-test


                   Kode                Jawaban siswa per soal            
             No                                                          Benar
                   siswa
                            1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
              1
              2
              3
             ...



     2.   Menganalisis jumlah miskonsepsi siswa pada Pre-test

          Tabel 3.3: Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Pre-test

                                  Pilihan Benar    Pilihan Salah   Miskonsepsi
             Konsep   No Soal
                                       (%)              (%)           (%)




                                Rata-rata persentase miskonsepsi
3.    Menganalisis     miskonsepsi     siswa    sesudah   diberikan   remediasi

      menggunakan model cooperative learning tipe talking stick.

      Tabel 3.4: Distribusi Hasil Post-test


               Kode                 Jawaban siswa per soal             
        No                                                            Benar
               siswa
                        1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
         1
         2
         3
        ....

      Tabel 3.5: Rekapitulasi Miskonsepsi Siswa pada Soal Post-test

                                Pilihan Benar   Pilihan Salah   Miskonsepsi
        Konsep     No Soal
                                     (%)             (%)           (%)




                             Rata-rata persentase miskonsepsi


     Tabel 3.6 Persentase Miskonsepsi Siswa Pada Saat Pre-test dan Post-test

                                      Jumlah Miskonsesi (%)
                                                                 Penurunan
                                     Sebelum        Setelah
       Konsep      Nomor soal                                    Miskonsepsi
                                    remediasi      remediasi
                                                                    (%)
                                    (Pre-test)    (Post-test)



       Rata-Rata

4.    Untuk mengetahui penurunan yang signifikan pada jumlah miskonsepsi

      siswa setelah dilaksanakan remediasi menggunakan model cooperative

      learning tipe talking stick pada materi pemuaian zat padat, maka data

      pre-test dan post-test diolah berdasarkan langkah-langkah berikut ini.
1.   Untuk mengetahui apakah data pre-test dan post-test berdistribusi

     normal atau tidak normal, maka digunakan uji chi-kuadrat.

     Langkah-langkah uji chi-kuadrat adalah sebagai berikut:

     a. Menentukan jumlah jawaban yang benar pada saat Pre-test dan

          Post-test

     b. Melakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji chi

          kuadrat dengan prosedur sebagai berikut ini.

     1.    Menentukan rumus rata-rata hitung ( x )

           Rumus:


                                 x
                                       xi
                                        n       .............................................(3,3)

           Keterangan:

           xi = Jumlah jawaban siswa yang benar

           n = Jumlah siswa

     2.    Menentukan standar deviasi (SD)

           Rumus:


                           SD 
                                     (x  x )  i
                                                    2


                                            n           ......................................(3.4)

           Keterangan:

           SD = Standar deviasi jawaban yang benar Pre-test

            x = Mean Jumlah jawaban yang benar Pre-test

            n = Banyaknya data

            x i = Data ke i, i = 1,2,3,...,n.
3.   Menentukan jumlah kelas interval (k)

     Rumus:

                         k = 1 + 3,3 log (n)..................................(3.5)

4.   Menentukan rentang nilai (R)

     Rumus:

                R = Nilai tertinggi – Nilai terendah...................(3.6)

5.   Menentukan panjang kelas interval (P)

       Rumus:

                                 R
                          P
                                 k ................................................(3.7)
6.   Menentukan batas atas dan batas bawah dari tiap-tiap kelas

     interval

7.   Menentukan Z batas kelas

     Rumus:

                                         bk  x
                        Z bataskelas 
                                          SD         ...............................(3.8)

     Keterangan:

     Bk = Batas kelas

     x = Rata-rata

     SD = Standar Deviasi

8.   Mencari nilai di bawah kurva normal dari Z dengan melihat

     ”tabel luas di bawah kurva normal dari 0 sampai Z”

9.   Menghitung luas tiap kelas interval (L)
     10. Menghitung frekuensi pengamatan (oi)

     11. Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei) dari tiap kelas

         interval

         Rumus:

                                      L
                                         n
                                Ei  100
                                      100 ...........................................(3.9)

     12. Menentukan nilai chi kuadrat (χ2)

          Rumus:

                                   (oi  Ei ) 2
                                     k

                           χ 
                            2

                              i 1     Ei       ................................(3.10)

     13. Menentukan derajat kebebasan (dk)

          Rumus:

                                    dk = k – 3......................................(3.11)

     14. Membandingkan harga chi kuadrat hitung dengan chi kuadrat

         tabel.

         Jika χ2 hitung < χ2 tabel, maka kelas berdistribusi normal dan

         jika sebaliknya maka kelas tidak berdistribusi normal

         (Arikunto, 1989: 379)

2.   Jika data berdistribusi normal maka digunakan Uji-t untuk

     mengukur       penurunan      miskonsepsi         yang      signifikan       setelah

     diberikan remediasi dengan menggunakan model pembelajaran

     cooperative     learning     tipe     talking     stick.     Adapun        langkah-

     langkahnya adalah sebagai berikut:
a.   Membuat tabel uji-t

Tabel 3.7 Uji - t

           Jumlah Jumlah
          Jawaban Jawaban              Deviasi Kuadrat
     Kode   benar   benar    Selisih Perbedaan Deviasi
 No Siswa Pre-test Post-test   (d)    (d – Md)  (x2d)
  ..
                    Jumlah


b.   Mencari selisihnya (d)

c.   Menentukan mean perbedaan (Md) dengan rumus:


                           Md 
                                    d ......................................(3.12)
                                     n

d.   Mencatat deviasi perbedaan dengan mengurangi tiap-tiap

     perbedaan dengan mean perbedaan

e.   Mencatat masing-masing deviasi perbedaan

f.   Mencari jumlah kuadrat deviasi dari perbedaan-perbedaan

        (  x 2 d ).

g.   Menghitung nilai t dengan rumus:

                                     Md
                              t               ................................(3.13)
                                     x2d
                                   n(n  1)

     Keterangan:

     Md = Mean perbedaan

     x d 2
              = Jumlah kuadrat deviasi

     n = Jumlah sampel

     d = selisih
     h.    Menentukan derajat kebebasan (db) dengan rumus:

                                  db = n – 1......................................(3.14)

     i.    Menentukan nilai t tabel dari daftar

     j.    Jika t hitung > t tabel maka terdapat penurunan yang signifikan

           setelah diberikan remediasi dengan menggunakan model

           pembelajaran cooperative learning tipe talking stick (Arikunto,

           1989:491).

3.   Jika salah satu data atau keduanya tidak berdistribusi normal maka

     untuk mengukur penurunan miskonsepsi yang signifikan setelah

     diberikan remediasi dengan menggunakan model pembelajaran

     cooperative learning tipe talking stick digunakan Uji Wilcoxon,

     dengan langkah-langkah sebagai berikut ini.

     a. Menentukan Hipotesis Nol (Ho)

          Tidak terdapat penurunan iskonsepsi yang signifikan setelah

          diadakan    remediasi   menggunakan            model       pembelajaran

          cooperative learning tipe talking stick pada materi pemuaian zat

          padat

     b. Membuat daftar rank hasil tes sebelum dan sesudah dilakukan

          remediasi     dengan    menggunakan           model        pembelajaran

          cooperative learning tipe talking stick pada materi pemuaian zat

          padat.

     c. Menentukan tingkat signifikansi

          Digunakan taraf signifikansi α = 5%, dengan N ≤ 25
     d. Menentukan nilai Thitung

     e. Daerah penolakan

        Jika Zhitung < ZTabel maka Ho ditolak

        Jika Zhitung ≥ ZTabel maka Ho diterima

     f. Keputusan hipotesis

                                                                (Siegal, 1997: 93)

4.   Untuk mengetahui efektifitas pemberian                   remediasi      dengan

     menerapkan model pembelajaran cooperative learning tipe talking

     stick yang diwujudkan dengan hasil belajar siswa dilakukan dengan

     menghitung Effect Size. Rumus dan kriteria besarnya Effect Size

     yang digunakan merupakan rumus dari Glass (dalam Sutrisno,

     2010) sebagai berikut ini.

     Efektivitas remediasi ditetapkan dengan menghitung Effect Size

                                M 2  M1
                         ES 
                                    S    ......................................(3.15)

     Keterangan :

                     ES = Effect Size

                     M2 = Mean Jumlah Benar Post-test Siswa Pada

                                Materi Pemuaian Zat Pada

                     M1 = Mean Jumlah Benar Pre-test test Siswa

                                Pada Materi Pemuaian Zat Pada

                     S     = Standar Deviasi Jumlah Benar Pre-test

                                Siswa Pada Materi Pemuaian Zat Padat
             Kriteria besarnya efek size diklasifikasikan sebagai berikut ini.

              ES  0,2             : tergolong rendah

             0,2  ES  0,8        : tergolong sedang

              ES  0,8             : tergolong tinggi



F.   Jadwal Pelaksanaan Penelitian

     Adapun susunan kegiatan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

     Tabel 3.8 : Susunan Kegiatan Penelitian

      No     Waktu Kegiatan      Kegiatan
       1     18 April 2011       Mengadakan Pre-test pada kelas VII MTs
                                 IKA – PGA Pontianak
       3     19 April 2011       Melaksanakan remediasi menggunakan model
                                 cooperative learning tipe talking stick
                                 pertemuan pertama pada kelas VII MTs
                                 IKA – PGA Pontianak
       4     20 April 2011       Melaksanakan remediasi menggunakan model
                                 cooperative learning tipe talking stick
                                 pertemuan kedua pada kelas VII MTs
                                 IKA – PGA Pontianak
       5     21 April 2011       Melaksanakan remediasi menggunakan model
                                 cooperative learning tipe talking stick
                                 pertemuan ketiga pada kelas VII MTs
                                 IKA – PGA Pontianak
       6     21 April 2011       Mengadakan Pos-test pada kelas VII MTs
                                 IKA – PGA Pontianak
                            DAFTAR REFERENSI


Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
     Jakarta : Rineka Cipta.

Azwar, Azrul dan Joedo Prihantoro. 1987. Metode Penelitian Kedokteran dan
    Kesehatan Masyarakat. Batam: Binarupa Aksara.

Candler, Laura. 2010. Talking Stick Book Discussion.                     (online).
     http://lauracandler.com/book/TPT/TalkingStickPrivew.pdf.
     Diakses 6 Oktober 2010.

Depdiknas. 2006. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu. (online)
     http://www.scribd.com/doc/38670015/37395273-IPA-terpadu. Diakses 6
     Oktober 2010


Fujioka, Kimberly. 1998. The Talking Stick: An American Indian Tradition in the
      ESL      Classroom.      (online)      http://iteslj.org/Techniques/Fujioka-
      TalkingStick.html Diakses 6 Oktober 2010

Giancolli, Douglas C. 2001. Fisika. Jilid I Edisi Kelima. (Pentejemah: Dra.
     Yuhilza Hanum, M. Engg). Jakarta: Erlangga.

Ischak, dan Warji. 1987. Program remedial dalam proses belajar mengajar.
     Yogyakarta: Liberty.

Juliana. 2008. Miskonsepsi Siswa Kelas VIII Pada Konsep Pemuaian Zat Padat
      di SMP Negeri II Pontianak. Pontianak: FKIP UNTAN (Skripsi).

Kanginan, Marthen. 2004. IPA Fisika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga.


Leonie, Citra. 2010. Remediasi Miskonsepsi Siswa Kelas VII B SMP Negeri 11
     Pontianak Tentang Pemuaian Zat Padat Melalui Metode Permainan
     Halma. Pontianak: FKIP UNTAN (Skripsi)

Nawawi, Hadari. 2007. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah
    Mada University Press.
Poerwanto, Endang. 2000. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan.
     Malang: FKIP Universitas Muhammadiyah.

Pór, George. 2010. The "Talking Stick" Circle An Ancient Tool For Better
     Decision   Making     And    Strengthening   Community.    (online).
     www.terrapsych.com/Talking%20Stick%20Circle.pdf Diakses 6 Oktober
     2010

Rahmawati, Ika. 2007. Penerapan Model Pembelajaran Inovatif (Innovatif
    Learning) Metode Talking Stick Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan
    Kemandirian Belajar Siswa Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.
    (online).http://fe.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/11/abstrak1.pdf.
    Diakses 14 November 2010

Retnosari, Dwi Asih. Kurniasih, Rizky dan Ratna S, Christianti. 2010. Validitas &
     Reliabilitas Instrumen. (online) www.scribd.com/doc/42844199/Validitas-
     Dan-Reliabilitas. Diakses 12 januari 2011.

Samantri, M, dan Syaodih, 2004, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
    Universitas Terbuka.

Sears, Francis Weston dan Zemansky, Mark Weston, 1982. Fisika Untuk
      Universitas I. (Penterjemah: Pantur Silaban). Jakarta: Bina Cipta.

Siegel, S. 1997. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. (Penterjemah:
     Zanzawi Suyuti dan Landung Simatupang dalam koordinsi Peter Hagul).
     Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sofiawati, Filein. 2010. Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika Melalui
     Metode Cooperative Learning Tipe Talking Stick (PTK Pada Siswa Kelas
     VII SMP Negeri 3 Kartasura. (online). http://etd.eprints.ums.ac.id/8332/
     Diakses 14 November 2010.

Sulipan, 2010. Penelitian Eksprimen.(online).
      http://sekolah.8k.com/rich_text_4.html Diakses 20 November 2010

Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.


Suparno, Paul. 2005. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan
     Fisika. Jakarta: Grasindo.
Sutrisno, Leo. 2010. Effect Size. (online).
       http://www.scribd.com/doc/28025523/Effect-Size Diakses 7 Januari 2011.

Sutrisno, Leo. Heri Kresnadi dan Kartono. 2007. Bahan Ajar Untuk
      Pengembangan pembelajaran IPA SD. Pontianak: LPPJ PGSD.

Tipler, P. A. 2005. Fisika Untuk Sains dan Teknik. (Penterjemah: Dra. Lea
      Prasetio, M.Sc dan Rahmad W. Adi, Ph.D). Jakarta: Erlangga.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
     Surabaya: Prestasi Pustaka.

Widhiarso, Wahyu. 2010. Validitas Isi. (online).
    http://www.docstoc.com/docs/43532158/Validitas-Isi Diakses 12 Januari
    2011

								
To top