Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Efesiensi Pengajaran

VIEWS: 263 PAGES: 18

									                                  EFISIENSI PENGAJARAN



A. Latar belakang masalah

       Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses

   yang lebih „murah‟. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita

   memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik

   pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang

   mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah

   disepakati. Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya

   pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak

   hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga

   berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

       Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi

   kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih rendah jika kita bandingkan

   dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa

   kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di

   sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.

   Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya

   sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih,

   namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang

   biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita

   pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya

   pengajaran, namun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks

   pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu




   Efisiensi Pengajaran                                                               Page 1
   diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang

   mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik

   tersebut.

       Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah

   waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap

   muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan

   formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari

   dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00. Hal tersebut jelas tidak efisien,

   karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang

   menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga

   pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat,

   bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik

   akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai

   kurang.

       Selain itu, masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu

   pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang

   mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga

   membutuhkan uang lebih. Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh

   pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Sistem pendidikan yang baik juga

   berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat

   disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan

   pendidik dan peserta didik.



B. Identifikasi masalah




   Efisiensi Pengajaran                                                                Page 2
   Dari latar belakang masalah yang ada dapat di identifikasikan masalah berikut :

   1. Rendahnya mutu pendidikan

   2. Rendahnya mutu tenaga pendidik dikarenakan pendidik yang mengajar tidak sesuai

       dengan kompetensinya.

   3. Penggunaan waktu dalam proses pembelajaran yang tidak efisien.

   4. Mahalnya pendidikan di Indonesia yang tak sebanding dengan mutu pendidikan yang

       diberikan.

   5. Sistem pendidikan yang berubah – ubah yang membingungkan pendidik dan peserta

       didik.



C. Efisiensi Pengajaran

   1. Konsep dasar Efisiensi Pengajaran

            Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan

       secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang

       sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri

       terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan

       dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang

       sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan

       atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.Dengan kata lain Efisien adalah

       bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih

       „murah‟. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan

       untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu

       jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang

       mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang




   Efisiensi Pengajaran                                                                  Page 3
    telah disepakati.Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas

    merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat

    dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan

    dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai

    dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah

    ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu

    menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber

    pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.Kenyataan

    yang terjadi di Indonesia, penyediaan sumber-sumber pendidikan, khususnya

    anggaran pendidikan, masih mengalami hambatan. Alokasi dana pendidikan di

    Indonesia termasuk rendah apabila dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia

    Tenggara, khususnya Negara-negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan

    singapura. Anggaran pendidikan di Indonesia selama ini „hanya; dialokasikan di

    bawah 10% dari APBN, padahal dalam pasal 31 ayat 4 UUD 1945, secara jelas

    pemerintah mempunyai suatu kewajiban konstitusi untuk memprioritaskan anggaran

    pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD guna memenuhi

    kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.



2. Pengertian efisiensi pengajaran

    a) Pengertian efisiensi

            Efesiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi

        besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatanyang dijalankan.

        Menurut Mulyamah (1987:3) efisiensi merupakan suatu ukuran dalam

        menbandingkan rencana penggunaan masukan dengan penggunaan yang




Efisiensi Pengajaran                                                           Page 4
        direalisasikan atau perkataan lain penggunaan yang sebenarnya. Efesiensi ini

        menuntut kita untuk tidak membuang waktu dan tenaga agar tidak terjadi

        pemborosan, dalam artian bisa melaksanakan dan menjalankan tugas dengan

        baik, tepat serta memperoleh hasil sebanyak banyaknya. Semakin tinggi tujuan

        yang kita capai maka semakin efisien dan semakin kecil biaya operasional maka

        makin efisiensi pula. Pengertian efisiensi menurut SP. Hasibuan (1984)

        menyatakan bahwa efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input

        (masukan) dan output (keluaran).

    b) Pengertian efisiensi pengajaran

            Efisiensi pengajaran dapat diukur dengan indicator utama yaitu waktu,

        personalia, sumber belajar (Degeng 1999;172). Efisiensi pengajaran dapat

        diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan

        dengan hasil yang diperoleh atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu

        dengan benar. Ciri yang terkandung meliputi: merancang kegiatan pembelajaran

        berdasarkan model mengacu pada kepentingan, kebutuhan kondisi peserta didik

        pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi, misalnya

        lingkungan atau latar belakang diperhatikan, pemanfaatan berbagai sumber daya

        dengan pembagian tugas seimbang, serta pengembangan dan pemanfaatan

        aneka sumber belajar sesuai keperluan, pemanfaatan sumber belajar bersama,

        usaha inovatif yang merupakan penghematan, seperti misalnya pembelajaran

        jarak jauh dan pembelajaran terbuka yang tidak mengharuskan pembangunan

        gedung dan mengangkat tenaga pendidik yang digaji secara tetap. Inti dari

        efisiensi adalah mengembangkan berbagai faktor internal maupun eksternal




Efisiensi Pengajaran                                                          Page 5
        (sistemik) untuk menyusun alternatif tindakan dan kemudian memilih tindakan

        yang paling menguntungkan.



3. Faktor – faktor yang mempengaruhi dan menciptakan efisiensi pengajaran

    a) Faktor guru

        1) Memberikan motivasi kepada guru, agar kreatif dalam mengembangkan

            proses belajar mengajar

        2) Mengikuti seminar-seminar pendidikan yang sesuai memberikan prioritas bagi

            guru yang berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya

        3) Mengirim guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan

            Berdasarkan uraian diatas, maka guru diberikan pembinaan agar memiliki

       kemampuan professional dengan diadakannya kegiata supervise yang dilakukan

       oleh kepala sekolah, penilik dan pengawas dalam rangka meningkatkan

       kompetensi guru. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh guru ada empat

       kompetensi yaitu :

         Kompetensi Pendagogik yang meliputi:

             Penguasaan karakteristik siswa yang meliputi aspek fisik, moral, kultur,

                emosional, dan intelektual.

             Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran

             Mengembangkan kurikulum

             Menyelenggarakan kegiatanpengembangan yang mendidik

             Memanfaatkan teknologi informasi

             Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik

             Berkomunikasi secara efektif, empati, dan santun



Efisiensi Pengajaran                                                           Page 6
             Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar

             Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

                pembelajaran

             Melakukan tindakan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

         Kompetensi kepribadian yang meliputi :

             bertindak sesuai dengan norma agam, hukum, social, dan budaya

                Indonesia

             penampilan diri yang sesuai dengan pribadi yang jujur,berakhlak mulia,

                dan menjadi teladan bagi peserta didik

             menampilkan diri sebagai diri yang mantap, stabil, dewasa, arif dan

                berwibawa

             menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga

                menjadi guru, dan rasa percaya diri

             menjunjung tinggi kode etik profesi guru

         Kompetensi sosial meliputi :

             Bersikap inklusif, bertindak objektif, dan tidak diskriminatif

             Berkomunikasi secara efekti, empati, dan santundengan sesame pendidik,

                tenaga pendidikan, orang tua dan masyarakat

             Bersdaptasi dengan tempat tugas dimanapun tempatnyayang memiliki

                keragaman social budaya

             Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara

                lisan dan tulisan atau bentuk lain




Efisiensi Pengajaran                                                             Page 7
         Kompetensi professional yang meliputi :

             Menguasai materi, truktur, konsep, dan pola piker keilmuan yang

                mendukung mata pelajaran

             Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran

             Mengembangkan materi pelajaran secara kreatif

             Mengembangkan keprofessional secara berkelanjutan dengan melakukan

                tindakan refleksi

             Memanfaatkan            teknologi   informasi     dan     komunikasi      untuk

                mengembangkan diri

    b) Faktor Proses Belajar Mengajar

        1) Menciptakan kelas yang kondusif, PAIKEM

        2) Meningkatkan dan mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran

        3) Tersedianya sumber belajar yang cukup

        4) Menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh

            warganya

             Proses belajar mengajar merupakan factor untuk menimgkatkan mutu

        pendidikan, dalam bukunya (Israel Schegffer dalam Siti Jumairoh) dijelaskan

        bagaimana meningkatkan kualias proses belajar mengajar. Melalui 3 demensi

        relevansi :

         Relevansi epistomologi-pengetahuan diperoleh melalui proses pemahaman

            tentang bagaimana pengetahuan

         Relevansi      psikologis     mengutamakan      aktifitas   belajar   yang   dapat

            mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah




Efisiensi Pengajaran                                                                   Page 8
         Relevansi social moral-terjadinya proses sosialisasi dalam aktivitas belajar

            ,seperti kerjasama, toleransi, perbedaan pendapat, kejujuran, pemanfatan

            pengetahuan yang diperoleh. (Learning How to Live Together)

    c) Faktor manajemen sekolah

        Manajemen adalah suatu proses untuk mencapai tujuan dalam organisai dengan

        melakukan kegiatan yang berkesinambungan dari empat fungsinya yaitu :

        1) Planning (merencanakan)

        2) Organising (pengorganisasian)

        3) Aktuating (pergerakan)

        4) Controlling (mengendalikan)

        Beberapa indikator yang menunjukan karakter dari konsep menajemen adalah :

         Lingkungan sekolah yang aman dan tertib

         Sekolah memlki misi dan target mutu yang ingin dicapai

           Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat

         Adanya harapan yang tinggi dari personal sekolah untuk berprestasi

         Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan

            IPTEK

         Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek

            akademik dan administras, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan

            atau perbaikan mutu dan

         Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid atau wali dan

            masyarakat

            Pengembangan      konsep     manajemen    didesain     untuk   meningkatkan

        kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan



Efisiensi Pengajaran                                                             Page 9
           kaitannya dengan tujuan keseluruhan yang telah ditentukan oleh pemerintah dan

           otoritas pendidikandemi kemajuan dan keberhasilan sekolah untuk menyiapkan

           pendidikan yang berkualitas dan bermutu bagi masyarakat. Dalam manajemen

           sekolah yang harus dipersiapkan adalah :

            Menerapkan reward & punishment secara konsisten

            Menerapkan asa transparasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran

               sekolah

            Menggalakkan dan meningkatkan kegiatan ekstrakrikuler dalam menunjang

               pengembangan diri siswa

            Menyediakan kelengkapan administrasi pengajaran sesuai tuntutan PBM



D. Pelaksanaan Supervisi guna efisiensi pengajaran

   1. Pengertian Supervisi

       Arti Supervisi telah dirumuskan dari beberapa pendapat antara lain :

       a. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi),

           bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu

           ( semantik). Adapun pengertian tersebut :

           1) Etimologi Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “

               Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan.

           2) Morfologis Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya.

               Supervisi terdiri dari dua kata Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik,

               awasi. Seorang supervisor memang mempunyai posisi diatas atau mempunyai

               kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya.




   Efisiensi Pengajaran                                                                    Page 10
        3) Semantik Pada hakekatnya isi yang terkandung dalam definisi yang

            rumusanya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan, tetapi

            memiliki makna yang sama.

    b. Wiles, Secara singkat telah merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan

        pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik.

    c. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya

        menyangkut perbaikan dan efisiensi proses belajar mengajar.

    d. Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut : “ Pembinaan yang

        diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan

        kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “.

        Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan

        situasi belajar mengajar yang lebih efisien dan efektif, Untuk itu ada dua hal

        (aspek) yang perlu diperhatikan :

        1) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

        2) Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar Karena aspek utama

            adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus lebih diarahkan

            kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam

            mengelola kegiatan belajar mengajar.

    e. Good Carter memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas

        sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki

        pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan

        perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan

        pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran guna efektifitas dan

        efisiensi pengajaran.




Efisiensi Pengajaran                                                            Page 11
    f. Purwanto, Supervisi pengajaran ialah kegaiatn kepengawasan yang ditujukan

        untuk memperbaiki kondisi-kondisi, baik personal maupun material, yang

        memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik dan efisien

        demi tercapainya tujuan pendidikan (Purwanto, 2009: 89).



2. Tujuan Supervisi

    Tujuan dari supervisi pendidikan yaitu :

    a. Meningkatkan mutu kinerja guru

        1) Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah

            dalam mencapai tujuan tersebut

        2) Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan

            dan kebutuhan siswanya.

        3) Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu

            tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling

            menghargai satu dengan lainnya.

        4) Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan

            prestasi belajar siswa.

        5) Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan

            alat pengajaran.

        6) Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat

            membantu guru dalam pengajaran.

        7) Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk

            reposisi guru.




Efisiensi Pengajaran                                                              Page 12
    b. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana

        dengan baik

    c. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada

        untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan

        keberhasilan siswa

    d. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung

        terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai

        prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.

    e. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang

        dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang

        menunjukkan keberhasilan lulusan.

3. Prinsip – prinsip supervisi

         Secara sederhana prinsip - prinsip Supervisi adalah sebagai berikut :

        a. Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi.

        b. Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif

        c. Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan

            sebenarnya.

        d. Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana.

        e. Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan

            didasarkan atas hubungan pribadi.

        f. Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi

            dan sikap pihak yang disupervisi.

        g. Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak

            tergantung pada kepala sekolah.




Efisiensi Pengajaran                                                              Page 13
     Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan juga boleh dikatakan sebagai berikut :

        a. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada

            guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan

            dan bukan mencari-cari kesalahan.

        b. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa

            pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau

            dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan

            untuk dapat mengatasi sendiri.

        c. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik,

            sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya

            supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk

            mengajukan pertanyaan atau tanggapan.

        d. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan

            sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.

        e. Suasana     yang    terjadi   selama    supervisi   berlangsung    hendaknya

            mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang

            disupervisi tercipta suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar

            pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat

            tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.

        f. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau

            terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal

            penting yang diperlukan untuk membuat laporan.




Efisiensi Pengajaran                                                                Page 14
E. Solusi Terhadap permasalahan yang dijumpai

           Menyikapi permasalahan yang dijumpai seputar efisiensi pengajaran terkait

       dengan pelaksanaan supervisi pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan

       yaitu :

       a. Mensejahterakan masyarakat, dimana jika masyarakat sudah sejahtera maka

           berapapun biaya pendidikan pasti dapat dijangkau oleh masyarakat.

       b. Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi

           pengajaran di Indonesia, bukan sistem pendidikan membingungkan pendidik dan

           peserta didik.

       c. Seorang supervisor diharapkan melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan

           baik sehingga tujuan pelaksanaan supervisi untuk memberikan bantuan

           pembinaan guna efisiensi pengajaran bisa terwujud.

       d. Kerja sama yang baik diantara komponen pendidikan (Orang tua, guru, siswa,

           kepala sekolah, supervisor dan yang terkait dengan pendidikan) guna

           menciptakan efisiensi

       e. Pelaksanaan Proses pengajaran diharapkan dapat memanfaatkan waktu seefisien

           mungkin.

       f. Supervisor dapat membantu pihak sekolah dalam penyusunan KTSP sehingga

           efisiensi pengajaran dapat terwujud dan mutu pendidikan lebih baik.



F. Kesimpulan

   Adapun kesimpulan yang dapat kami sampaikan yaitu :

   1. Efisiensi pengajaran perlu dimaksimalkan sehingga mutu pendidikan di Indonesia

       akan lebih maju.




   Efisiensi Pengajaran                                                          Page 15
2. Peningkatan kesejahteraan sebagai pendukung untuk menciptakan efisiensi

    pengajaran.

3. Supervisi diharapkan dapat membantu guru dan pihak sekolah dalam mengelola

    seluruh kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan mutu.

4. Peran pemerintah sangat diperlukan dalam peningkatan efisien pengajaran guna

    terciptanya peningkatan mutu pendidikan.




Efisiensi Pengajaran                                                    Page 16
                                         Daftar Pustaka.



Ahmadi, A., & Uhbiyati, N. 2010. Ilmu Pendidikan.Rineka Cipta : Jakarta.

Ali, Lukman, et al. 1995. Kamus Besar Bahasan Indonesia, Edisi kedua. Depdikbud & Balai

                   Pustaka : Jakarta

Arikunto, S. 2004. Dasar – dasar Supervisi. Rineka Cipta. Jakarta

Aqib Z. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah Untuk Pengawas, Kepala sekolah dan Guru,

         Yrama Widya : Bandung

.............. 2009. Standar Pengawas Sekolah / Madrasah Yrama Widya, Bandung.

.............. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah,Yrama Widya,

           Bandung.

............... 2002. Profesionalisme guru dalam Pembelajaran Insan Cendekia, Surabaya.

Atmodiwiryo, S., dan Darmawan, P. 2011, Manajemen Pengawasan dan Supervisi Sekolah.

                                       Ardadizya Jaya : Jakarta

Buchori, Mochtar. 1995. Transformasi Pendidikan. Jakarta : IKIP Muhammadiyah Jakarta

                   Press.

Chan, M. S. 2010. Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daarah. Rajawali Pers

              : Jakarta

Coleman, M., dan Bush. 2010. Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan. IRCiSoD :

                            Yogyakarta

Djauzak, A. 1996. Penunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di sekolah Dasar. Depdikbud :

              Jakarta

Danim, S., dan Khairil, H. 2010. Profesi Kependidikan. Alfabeta : Bandung

Danim, S. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Bumi Aksara : Jakarta




   Efisiensi Pengajaran                                                                   Page 17
Daryanto. 2010. Administrasi Pendidikan. Rineka Cipta : Jakarta.

................. 2010. Belajar dan Mengajar. Yrama Widya : Bandung

Depdiknas. 2009. Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas: Direktorat Jenderal

           Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan : Jakarta

Hadis, A. 2010. Manajemen Mutu Pendidikan. Alfabeta : Bandung

Sahertian, P.     2008. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka

                 pengembangan Sumber Daya Manusia, Rineka Cipta : Jakarta

Sagala, S. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Alfabeta :

             Bandung.

................. 2009. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Alfabeta : Bandung.

Sallis, E. 2010. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan, IRCiSoD : Yogyakarta.

Sukardjo dan Komarudin U. 2009, Landasan Pendidikan konsep dan Aplikasi. Rajawali Pers :

                              Jakarta

Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan disekolah. Rineka Cipta : Jakarta.

Tirtarahardja, U., dan La Sulo L. 2008. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta : Jakarta.

Tjiptono, 2003. Total Quality Mnajemen Edisi Revisi, Andi. Yogyakarta.




    Efisiensi Pengajaran                                                                Page 18

								
To top