Docstoc

Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia

Document Sample
Tantangan Pendidikan Tinggi Indonesia Powered By Docstoc
					Tantangan Pendidikan Tinggi
Indonesia
Ditulis oleh Irwandi
Thursday, 30 October 2008
Enam puluh tiga tahun (63) tahun sudah pendidikan tinggi Indonesia eksis dan
berkembang di bumi persada ini, dimulai dari hanya memiliki 200 orang mahasiswa saja
pasca perang dunia kedua, sampai sekarang berjumlah 4,3 juta mahasiswa dengan
155.000 dosen, yang tersebar pada 82 universitas negeri dan 2800 perguruan tinggi
swasta. Dalam interval perjalanan panjang itu perguruan tinggi menghadapi berbagai
masalah dan tantangan yang tidak sama dari masa ke masa. Dan satu pertanyaan
mendasar -bisa juga dikatakan sebagai ekspektasi- yang selalu ditanyakan masyarakat
adalah apa yang telah dikontribusikan perguruan tinggi untuk mencerdaskan dan
mensejahterakan kehidupan bangsa ini. Salah satu masalah mendasar yang dihadapi
perguruan tinggi adalah problem relevansi dan mutu yang tidak menggembirakan.
Pendidikan tinggi belum bisa menjadi factor penting bagi kenaikan kesejahteraan
masyarakat; pendidikan tinggi belum mampu melahirkan para entrepreneur/risk taker
dengan orientasi job creating dan kemandirian; pengangguran terdidik dari pendidikan
tinggi terus bertambah; belum lagi problem pengabdian masyarakat, di mana perguruan
tinggi dirasa kurang responsif dan berkontribusi terhadap problem masyarakat yang
berada di wilayah di mana kampus itu berdiri. Perguruan tinggi belum mampu
melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki akhlak mulia dan karakter yang kuat.
Anarkisme/kekerasan intra dan inter kampus seperti membentuk lingkaran kekerasan.
Tentu banyak juga prestasi yang telah dicapai, akan tetapi gaung masalah lebih bergema
dibandingkan deretan prestasi-prestasi itu.

Apa sebetulnya yang menjadi akar masalah. Apakah akarnya pada paradigma dan
legislasi tentang pendidikan tinggi, atau pada implementasinya. Apakah ini problem
kultural/mindset, legasi kolonial dan transisi paradigma pendidikan dari pendidikan
Belanda ke Pola pendidikan Amerika yang tidak pernah tuntas. Apakah komunikasi yang
tidak pernah terjadi perguruan tinggi dengan stakeholders, baik pada triple helix, maupun
antara program studi dengan program studi, fakultas dengan fakultas, universitas dengan
universitas lain. Melihat pemindaian sederhana ini, Bagaimana pendidikan tinggi
Indonesia ke depan.

Untuk itulah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berinisiatif menyelenggarakan
sebuah Focus Group Discussion (FGD) pada 29 s/d 30 Oktober ini yang dihadiri oleh
para stakeholder pendidikan tinggi. Mereka yang diundang adalah perwakilan perguruan
tinggi, pihak Industri/pengusaha, Media, budayawan, Kadin, pemerintah daerah, LPND,
organisasi kemasyarakatan, pemerhati dan praktisi pendidikan, dan penerbit. Dari Dikti
hadir Dirjen Dikti yang langsung menjadi pengantar dan moderator FGD; para direktur
dikti dan Dewan Pertimbangan Perguruan Tinggi (DPT). FGD dibagi dalam empat
kelompok diskusi.

Menurut Dirjen Dikti, Fasli Jalal, FGD ini hanya bersifat brainstorming, segala masukan
yang sangat berharga dan sangat kaya dari peserta akan direkam, ditulis, dikristalisasi dan
dianalisa dengan baik, serta menjadi acuan penting bagi penyusunan renstra pendidikan
nasional terutama di bagian pendidikan tinggi, renstra jangka menengah dan panjang
yang di susun oleh Bappenas. Setelah masukan dianalisa dan dikluster per tema, Dirjen
meminta para stakeholder secara volunteer untuk bergabung sesuai dengan tema yang
diminati pada FGD kedua nanti.

By Irwandi

Sebanyak 12.000 Dosen Segera
Disertifikasi
Ditulis oleh Publisher
Monday, 28 April 2008
Departemen Pendidikan Nasional akan segera melakukan sertifikasi dosen sebagai syarat
memperoleh tunjangan profesi bagi pengajar di perguruan tinggi. kuota pada tahun
pertama ini 12.000 dosen. Khusus guru besar, tunjangan profesi otomatis.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal di
sela-sela acara Seminar Internasional Menuju Universitas Kelas Dunia, di Auditorium
JICA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Sabtu (26/4). Ia mengatakan,
sekitar 2.900 guru besar dari seluruh Indonesia segera mendapat tunjangan profesi satu
bulan ini.
“Aturan bagi professor sudah kami siapkan drafnya, termasuk tata cara pembayarannya.
Tinggal tanda tangan Menteri, “ tuturnya.

Bagi guru besar yang diangkat sebelum 2008, tunjangan diperhitungkan sejak Januari
2008. Bagi yang diangkat 2008, tunjangan terhitung 2009. Besar tunjangan Rp. 2 juta-Rp
2,5 juta perbulan tergantung kepangkatan. Kuota tersisa, sekitar 9100 dosen (non-guru
besar), akan dibagi kesejumlah perguruan tinggi.

Menurut Fasli, sertifikasi akan dimulai Juli 2008. Jumlah dosen tetap di Indonesia sekitar
120.000 orang, dari perguruan tinggi negeri dan swasta.

Ia menambahkan, instrumen penilaian adalah portofolio dengan sistem pendekatan peer
reviewing, penilaian dari teman sejawat, atasan dan mahasiswa.

Fasli menjelaskan akan ada 3 kelompok perguruan tinggi, yaitu perguruan tinggi (PT)
Pembina, universitas yang boleh menilai dosennya sendiri sekaligus membina PT lain;
PT Mandiri, hanya berwenang menilai dosennya sendiri; PT dibina, tidak mendapat
otonomi menilai. Jumlah PT Pembina sekitar 30 buah.

Pengamat Pendidikan dari UPI, Prof. Chaedar Alwasilah, berpendapat, jika akan
digunakan portofolio dalam proses sertifikasi dosen, item atau indikatornya haruslah
spesifik terukur, dan erat terkait dengan kompetensi dosen. “peer review itu harus
dilakukan oleh sejawat yang betul-betul ahi di bidangnya. Minimal punya tingkat
kepakaran yang sama,” ujarnya.

(Jon) sumber Kompas, Senin 28/04/08.

Recommend this article...




Membangun Sekolah Berwawasan Internasional
By admin ⋅ June 11, 2008 ⋅ Post a comment

Sekolah merupakan mahligai sakti mandraguna yang bisa melabuhkan ambisi seseorang
dalam meraih keningratan dalam hidupnya. Selain itu juga bisa digunakan sebagai
jembatan emas dalam mengantarkan anak-anak bangsa menjadi pelaku sejarah yang tidak
membebani masyarakat dan bangsanya (AM Rahman, 2004)




                                                                            Seiring
dengan ungkapan tersebut, untuk menciptakan anak bangsa yang demikian, diperlukan
pendidikan yang bermutu melalui sekolah yang bermutu. Terkait dengan peningkatan
mutu sekolah, kajian empiris tentang peningkatan mutu sekolah telah dilakukan oleh
Lezzote dan Bancroft (1985), dalam kajiannya menentukan karakteristik-karakteristik
sekolah yang unggul antara lain : 1) lingkungan sekolah yang aman dan tertib; 2) iklim
serta harapan yang tinggi; 3) kepemimpinan instruk-sional yang logis; 4) misi yang jelas
dan terfokuskan; 5) kesempatan untuk belajar dan mengerjakan tugas belajar bagi siswa;
6) pemantauan yang sering dilaku-kan terhadap kemajuan siswa. Untuk mencapai
keunggulan yang dicita-citakan, banyak pendekatan yang dapat dilakukan salah satunya
apa yang dipa-parkan oleh Salisbury (1996) yaitu tentang Five Technologies untuk
perubahan pendidikan yaitu : 1) System Thinking (Berpikir serba Sistem), 2) System
Design (Perancangan Sistem), 3) Quality Science (Ilmu Kualitas), 4) Change
Management (Manajemen Perubahan), dan 5) Instructional Technology (Teknologi
Pembelajaran)
Sebagai sekolah unggul yang berwawasan Internasional, Al Ya‟lu telah menerapkan
sistem peningkatan mutu, mulai dari aspek pembelajaran, lingkungan hingga
kepemimpinan sekolah. Al Ya‟lu memiliki misi besar yang terus bersinambungan dan
berkembang, yaitu untuk menciptakan siswa yang cerdas, pemikir yang kritis, pemecah
masalah, pembicara efektif, pekerja yang kolaboratif, pembelajar yang terarah, pekerja
ilmu, dan individu yang toleran dan berbudi pekerti.

Konsep Pendidikan
“Kata pendidikan tidak bisa disamakan dengan pengajaran sebagaimana kata educate
dalam bahasa Inggris. Pendidikan adalah proses informal yang berlangsung di
masyarakat. Proses ini dimulai dari masyarakat terkecil yaitu keluarga, kemudian
sekolah. Sedangkan pengajaran merupakan proses formal pada bidang kognitif.
Keduanya jelas sangat berbeda,” kata J. Drost SJ seorang pengamat pendidikan berdarah
Belanda. Drost juga meng-ungkapkan bahwa Di luar keluarga, seorang anak tetap
mendapat pendidikan hingga bangku sekolah. Di Taman Kanak-kanak (TK) seseorang
harus mendapat pendidikan sepenuhnya, bukan pengajaran. Kalaupun ada pengajar-an,
hanya mengenal huruf dan angka saja lewat bermain.
Di tingkat internasional, ada tiga golongan SMP. Kira-kira 30% adalah SMP yang terdiri
atas lulusan SD dengan nilai 7 ke atas, 50% adalah mereka yang mendapat nilai antara 6
dan 7, 20 % di bawah 6. Di Eropa serta beberapa negara Asia seperti Singapura,
Malaysia, Jepang juga Australia, lulusan SD masuk ke sekolah khusus untuk anak pintar.
Di Jerman disebut Gimnasium, di Inggris dan Belanda lain lagi istilahnya. SMP di negara
lain digabungkan dengan SMA, yaitu sekolah menengah. Sedangkan anak lulusan SD
dengan nilai antara 6 hingga 7 direkomendasikan melanjutkan ke sekolah menengah
dengan kurikulum yang lebih ringan dibanding sekolah unggul tadi. Setelah lulus nanti
mereka tidak boleh masuk universitas, melainkan sekolah tinggi atau akademi. Yang
memiliki nilai di bawah 6, mereka masuk ke sekolah menengah kejuruan yang
menitikberatkan pada keterampilan. Jadi lulus SMA nanti mereka benar-benar punya
ketrampilan untuk modal kerja. (J. Drost, SJ. www.sinarharapan.co.id: 2002)
Di Al Ya‟lu konsep yang dgunakan adalah bermain dan belajar, Full Day School menjadi
program andalan dalam menciptakan pendidikan unggul, memberi peluang siswa lebih
banyak untuk berkembang. Didalamnya Al Yak‟lu menggunakan konsep Pembelajaran
terpadu yang mensinergikan bakat intelegensi, emosional, dan keterampilan
siswa.Sehingga siswa lebih siap menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Pentingnya Sekolah Unggul

Keberadaan Sekolah Unggul menjadi suatu keharusan di Indonesia sebagaimana
diungkap oleh Prof. Dr. Dipl. Ing. Wardiman Djojonegoro melalui Antara News sebagai
berikut. “Dengan adanya sekolah unggul di Indonesia, tidak ada lagi para orang tua me-
nyekolahkan anaknya keluar daerah atau bahkan ke luar negeri” (www.antara.co.id :
2007)

Ahli Tafsir M. Quraish Shihab dalam Kompas, mengungkapkan tentang substansi model
pendidikan keunggulan manusia. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki
unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal serta jiwa). Pembinaan akal
menghasilkan ilmu, pembinaan jiwa meng-hasilkan kesucian dan etika, serta pembinaan
jasmani menghasilkan keterampilan. Dengan menggabungkan unsur-unsur tersebut
menghaslikan maklhuk dwidimensi dalam suatu keseimbangan dunia dan akhirat.
(Kompas, 2/3/2008)
Misi Al Ya‟lu sebagai Sekolah Unggul di Kota Malang dan Indonesia pada umumnya
adalah menciptakan siswa yang memiliki kemampuan unggul. Melalui tiga pilar
Pendidikan , Kebangsaan, dan Kecerdasan, Al Ya‟lu ingin menciptakan insane yang
mampu menyelesaikan masalah, mandiri, mampu berkolaborasi, mampu menyampaikan
ide, terarah dan menjadi indivudu yang toleran dan teladan. Menciptakan insan yang
memiliki ilmu dan akhlak yang baik melalui pendidikan religius dan keilmuan.

Faktor Pendukung
Bebrapa faktor yang menjadi penentu kualitas sekolah diantaranya adalah Lingkungan,
Kepemimpinan, Sarana Belajar, Fasilitas, Kualitas Pembelajaran yang mencakup
Kualitas Guru dan Murid, dan Peran Kepemimpinan. Kualitas pembelajaran misalnya,
akan mementukan kualitas siswa yang dihasilkan. Pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang terjadi di kelas yang ideal. Seperti halnya yang tertuang dalam aturan
Kelas Ideal yang menentukan jumlah maksimal siswa yang mengikuti kegiatan belajar
mengajar haruslah ideal.
Dalam Aturan Baru Dinas P & K Provinsi Jatim SK nomor 420/2679/108.03/ 2008,
kepala Dinas P dan K Jatim member-lakukan aturan baru kelas ideal. Aturan tersebut
tertuang dalam pasal 5 ayat 1 sampai ayat 11. Isinya, jumlah peserta didik TK/RA dalam
satu rombongan belajar (rombel) per kelas maksimum 25 siswa. Sedangkan TK LB
maksimal 5 siswa. Untuk SD/MI kelas reguler satu rombel dibatasi 28 siswa, sekolah
standar nasional (SSN) maksimal 26 siswa, sekolah bertaraf internasional (SBI)
maksimal 24 orang, dan kelas akselerasi atau kelas percepatan maksimal 20 siswa.
Aturan rombel SMP/MTs per kelas maksimal 32 siswa, SMPLB dan SMLB 8 orang,
SMA, MA, dan SMK per kelas maksimal 32 siswa, SSN 26 siswa, serta SBI 24 siswa.
(www.indopos.co.id: 2008)
Namun pada beberapa tempat, kelas ideal tidaklah sepenuhnya dilaksanakan, terkait
dengan kebijakan dan banyaknya peserta didik yang harus ditampung. Untuk
mengatasinya diperlukan beberapa metode dan sistem untuk mensiasatinya. Sebagaimana
telah di-ungkapkan oleh Praktisi Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (dh. IKIP
Negeri Surabaya) berikut, “Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana menyiasati
kelas “besar” dengan berbagai teknik. Misalnya, seating arrangement (pengaturan tempat
duduk) diupayakan bisa diubah-ubah sesuai dengan kegiatan kelas. Sebuah kelas dengan
jumlah siswa 40-an tetap bisa diupayakan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam
PBM (Proses Belajar Mengajar) bila tempat duduk diubah untuk kerja berpasangan dan
kerja ke-lompok. Guru juga perlu mengupayakan agar selalu ada ruang gerak bagi guru
untuk “go around the class” untuk mengawasi kegiatan setiap kelompok.” (Pratiwi,
www.klubgu ru.com : 2008)
Terkait dengan sarana belajar, di Austria, telah dikenalkan metode pembelajaran
matematika menggunakan perangkat muthakhir yang disebut “Construct3D”. Dalam
pembelajaran tersebut siswa dikenalkan geometri suatu obyek seperti Kubus, Konus, dan
sebagainya menggunakan Sisten CAD (Computer Aided Design) yang ditampilkan
menggunakan Virtual Reality. Sehingga siswa dapat melihat bentuk tersebut secara 3
dimensi. “Construct3D mudah untuk dipelajari, memudahkan ekperimen dengan
konstruksi geometri dan meningkatkan skill siswa.” (Kaufmann and Schmalstieg .
“Mathematics And Geometry Education With Collaborative Augmented Reality.”
Austria: 2002)
Instrumen lain yang tak kalah penting adalah sistem Learning By Doing, metode ini
cukup efektif untuk memberikan pemahaman terhadap suatu materi, sehingga siswa tidak
hanya memiliki kemampuan secara teori. Al Ya‟lu memberikan fasilitas baik berupa
sarana maupun program untuk siswanya untuk mengembangkan kemampuan dan
keterampilannya melalui berbagai programnya. Diantaranya Taman bermain, APE (Alat
Permainan Edukatif), berbagai program jaminan mutu, AL YA‟LU EDUTAINMENT,
AL YA‟LU SMART ACCURATE CONTEST, AL YA‟LU FAIR, STUDY OF
INTRODUCTION TO PROFESSION, dan LANGUAGE CONTEST.

Sekolah Bertaraf Internasional
Pendidikan di Indonesia dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul
di segala bidang, mampu bersaing di dunia kerja, tetapi jiwa kebangsaannya tidak
diragukan lagi. Jadi output dari lembaga pendidikan di Indonesia selain unggul di bidang
akademik juga harus berwawasan kebangsaan. (Kusnadi, www. taruna-nusantara-
mgl.sch.id : 2006)
Kabupaten/kotamadya harus mempunyai sedikitnya satu TK-SD bertaraf internasional
sesuai amanat UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam
UU tersebut, disebutkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mengembangkan
sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan bertaraf
internasional. Peran pemerintah pusat dengan memberikan dana perangsang untuk
mengajak pemerintah daerah dan masyarakat membangun pendidikan bertaraf
internasional tersebut. Menurut Direktur Pembinaan TK-SD Mudjito AK, pembangunan
dan pengembangan TK dan SD bertaraf internasional ini akan dilengkapi dengan
berbagai fasilitas baik pembelajaran, berupa ruang kelas, ruang observasi, laboratorium
bahasa, lab matematika, lab IPA dan komputer, ruang perpustakaan, ruang keterampilan,
ruang kesenian, serta fasilitas olahraga. Menurutnya, negara tetangga kita seperti
Malaysia, Filipina, dan Singapura sudah lama memiliki sekolah berstandar internasional.
Dan jika Indonesia sendiri tak mengem-bangkan sekolah berstandar internasional,
anggaran kita akan habis, karena banyak warga negara Indonesia yang melanjutkan
pendidikan di luar negeri. Devisa kita akan terkuras ke luar negeri. (Tirani,
www.forumpendidikan.com: 2006)

Setiap bulan rata-rata pelajar Indonesia di luar negeri menerima kiriman 1.000 Dollar AS.
Padahal jumlah pelajar Indonesia di luar negeri mencapai lebih dari 1.000 orang. Artinya
setiap bulan 1 Juta Dollar AS atau setara 9 Milyar Rupiah, mengalir keluar negeri.
(Kompas 29/4/2008)

Seiring dengan hal itu, diungkap bahwa setiap bulan rata-rata pelajar Indonesia di luar
negeri menerima kiriman 1.000 Dollar AS. Padahal jumlah pelajar Indonesia di luar
negeri mencapai lebih dari 1.000 orang. Artinya setiap bulan 1 Juta Dollar AS atau setara
9 Milyar Rupiah, mengalir keluar negeri. (Kompas 29/4/2008)
Al ya‟lu sebagai sekolah TK dan SD Berwawasan Internasional senantiasa
mengembangkan metode pengajaran dan meningkatkan mutu pendidiknya, hingga
menyekolahkan tenaga pengajarkan ke Jepang untuk menempuh S2. Hal ini merupakan
upaya untuk meningkatkan kualitas sekolah, sehingga memberikan pilihan kepada orang
tua siswa untuk tidak menyekolahkan putra-putrinya ke luar daerah atau ke luar negeri.
DF/MA

 Tags: Konsep Pendidikan, SD Unggul, Sekolah Bertaraf Internasional, Sekolah Unggul,
TK Unggul


Pengelolaan Pendidikan Bertaraf Internasional
http://ganto.web.id/index.php?option=com_content&task=view&id=150&Itemid=46
Oleh Marjohan

Pendidikan bertaraf internasional mempunyai karaktertistik khusus dan berbeda dengan
pendidikan non internasional. Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madarasah Bertaraf
Internasional Departemen Pendidikan Nasional (2007) menjelaskan bahwa sekolah
bertaraf internasional adalah sekolah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional
Pendidikan, serta mengacu pada standar pendidikan salah satu negara Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD), dan/atau negara maju lainnya yang
mempunyai keunggulan tertentu di bidang pendidikan. Esensi dari rumusan pendidikan
yang bertaraf internasional ialah pemenuhan delapan standar menurut PP 19 tahun 2005,
peningkatan keunggulan bertaraf internasional melalui cara adaptasi dan adopsi, serta
peningkatan daya saing internasional. Ini berarti lulusannya dapat melanjutkan
pendidikan pada satuan pendidikan bertaraf internasional, mengikuti sertifikasi
internasional dan meraih medali tingkat internasional, serta dapat bekerja pada lembaga
internasional.



Komponen Pendidikan Bertaraf Internasional
Menurut Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madarasah Bertaraf Internasional
Depdiknas (2007), terdapat sembilan komponen pendididikan bertaraf internasional yang
perlu dipenuhi oleh satuan-satuan pendidikan. Pertama, komponen standar pengelolaan.
Satuan pendidikan diharapkan dapat meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau
sesudahnya dan ISO 14000, dan merupakan sekolah multi-kultural. Sekolah ini menjalin
hubungan "sister school" dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri, bebas
narkoba dan rokok, bebas kekerasan (bullying), menerapkan prinsip kesetaraan gender
dalam segala aspek pengelolaan sekolah, dan meraih medali tingkat internasional pada
berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olahraga.


Selanjutnya adalah komponen akreditasi. Satuan pendidikan yang bertaraf internasional
adalah sekolah yang telah memenuhi persyaratan pengelolaan pendidikan yang bermutu,
dengan ketentuan memiliki akreditasi minimal A, serta akreditasi dari salah satu negara
OECD. Komponen ketiga adalah kurikulum. Sekolah menerapkan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), memenuhi standar isi, dan menerapkan standar kompetensi
lulusan (SKL) melebihi sekolah yang memenuhi standar nasional. Di samping itu,
sekolah tersebut harus dapat menerapkan sistem administrasi akademik yang berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta memberikan muatan mata pelajaran
setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah
satu negara OECD.


Keempat, komponen proses pembelajaran. Pembelajaran bersifat interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Satuan pendidikan
bertaraf internasional juga merupakan sekolah yang telah memenuhi standar penilaian
pendidikan, yang diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari
negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya, yang mempunyai keunggulan
tertentu dalam bidang pendidikan. Selanjutnya adalah komponen pendidik. Semua
gurunya mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK. Khusus untuk guru mata
pelajaran kelompok sains, matematika dan kejuruan, dipersyaratkan mampu
menggunakan pembelajaran berbahasa Inggris. Di samping itu, pada sekolah bertaraf
internasional jenjang SLTA, minimal 30% guru-gurunya dipersyaratkan berpendidikan
S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A.


Komponen ketujuh adalah tenaga kependidikan. Kepala sekolah berpendidikan minimal
S2 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A, dan telah menempuh
pelatihan kepala sekolah dari lembaga pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh
pemerintah, mampu berbahasa Inggris secara aktif, dan memiliki visi internasional, yaitu
mampu membangun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta
memiliki jiwa kepemimpinan dan enterpreneural yang kuat. Selain itu, dari segi sarana
dan prasarana, setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK,
perpustakaan digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di
seluruh dunia, serta dilengkapi dengan ruang multimedia, ruang seni budaya, fasilitas
olahraga, klinik, dan lainnya. Komponen terakhir adalah pembiayaan. Satuan pendidikan
bertaraf internasional wajib menerapkan model pembiayaan yang efisien, untuk mencapai
berbagai target.



Pelayanan Unggul dalam Pendidikan
Kajian utama dalam pendidikan yang sukses adalah bagaimana mengupayakan pelayanan
pendidikan diselenggarakan melalui pelayanan unggul. Keunggulan pelayanan ini
ditentukan oleh keunggulan pengajaran oleh guru, keunggulan pelayanan konseling oleh
konselor, serta keunggulan pengelolaan oleh pimpinan satuan pendidikan, melalui
harmonisasi kinerja seluruh personil dalam satuan pendidikan yang dimaksud.
Keunggulan-keunggulan itu akan muncul dari energi yang secara laten ada dalam
komponen upaya pendidikan, yang kemudian disinergikan, serta diharmonisasikan
sehingga menjadi energi pembelajaran yang hebat.
Sejak semula pada diri peserta didik telah ada energi belajar yang akan dikembangkan
melalui proses pembelajaran. Pada diri pendidik tersimpan energi pelayanan
pembelajaran, yang akan menjadi efektif oleh kinerja pendidik yang tinggi komitmen dan
dedikasinya. Lingkungan pun mengandung energi yang dapat dimanipulasi dengan
berbagai cara, untuk mendukung pemanfaatan energi yang ada pada diri peserta didik dan
pendidik menjadi energi pembelajaran yang hebat. Apabila ketiga sumber energi tersebut
terpadukan melalui sistem pengelolaan satuan pendidikan berbasis kinerja, maka
terkembangkanlah di sana pelayanan unggul yang diarahkan sebesar-besar dan sekuat-
kuatnya untuk kesuksesan pengembangan potensi peserta didik secara optimal.


Dalam suasana yang seperti itu, tidak ada lagi keluhan ataupun kambing hitam yang
mengatakan bahwa kelemahan dan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah
karena para pendidiknya under trained atau bahkan untrained, uncomitted, under
facilitated, dan ataupun underpaid. Dengan kondisi seperti itulah sekolah/madrasah dapat
dikatakan sudah mencapai kondisi tinggal landas, untuk selanjutnya ditingkatkan misinya
ke arah tuntutan yang bersifat internasional. Ini merupakan tantangan dan lahan yang
sangat menguntungkan bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), untuk
memberikan sumbangsih yang sebesar-besarnya bagi tercapainya kondisi tinggal landas
bagi sekolah/madrasah, melalui dikuasainya trilogi profesi oleh para pendidik, dan
dikemasnya pengelolaan satuan pendidikan melalui pengelolaan pendidikan berbasis
kinerja. Apa yang menjadi arah upaya LPTK tersebut di atas perlu mendapat perhatian
dan sokongan sepenuhnya dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, antara lain melalui
kebijakan yang memberikan peluang yang sehat dan dinamik, serta alokasi dana yang
mencukupi.
Penulis Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling dan Kepala UPBK UNP



 Mutu & Rambu-rambu Sekolah Bertaraf Internasional
Oleh Tatat Hartati

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=22698

Keberadaan sekolah bertaraf internasional (SBI) dewasa ini merupakan respons dari kesadaran masyarakat
akan pentingnya sekolah berkualitas untuk mempersiapkan generasi masa depan yang berakhlak mulia,
cerdas, mandiri, kreatif, inovatif, dan demokratis sejalan dengan percepatan perubahan sosial sebagai
bagian dari rekayasa era global. Fenomena ini selayaknya dijadikan modal dan ajang unjuk kinerja terbaik
untuk menata SBI sepatut-patutnya sehingga kelak berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Untuk itu,
diperlukan sikap optimistis dan rasa tanggung jawab yang tinggi sebab mengelola sekolah merupakan
institusi paling kompleks di antara institusi sosial yang ada. Kompleksitas tersebut bukan saja dari
masukannya yang bervariasi, melainkan dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dalamnya
(Hanson, 1985; McPherson,1986).

Sayangnya, banyak sekolah SBI atau yang masih dalam taraf perintisan tidak menyiapkan rambu-rambu
dan bagaimana implementasi yang riil di lapangan. Depdiknas sendiri baru mengeluarkan "Pedoman
Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah"
pada pertengahan 2007. Hal ini agak terlambat dibandingkan dengan bermunculannya SBI di kota-kota
besar. Walau bagaimanapun, seyogianya pedoman tersebut menjadi rujukan bagi sekolah dan Dinas
Pendidikan dalam penyelenggaraan SBI agar tidak salah kaprah dan salah arah. Bagi orang tua pedoman itu
dapat menjadi referensi dalam memasukkan putra-putrinya ke SBI selain untuk menjalin kemitraan dan
sinergi dengan sekolah.

Hal-hal mendasar yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan SBI, antara lain, pendidik dan tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, kurikulum, dan pembiayaan. Standar pendidik dan tenaga
kependidikan menurut Depdiknas (2007: 1) semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK;
2) guru mata pelajaran sains, matematika dan inti kejuruan mampu mengampu pembelajaran berbahasa
Inggris; 3) minimal 10% guru berpendidikan S-2/S-3 dari PT yang program studinya berakreditasi A untuk
SD/MI dan 20% untuk guru SMP/MTs., 30% untuk guru SMA/SMK/MA/MAK; 4) kepala sekolah selain
berpendidikan minimal S-2, mampu berbahasa Inggris secara aktif, bervisi internasional, mampu
membangun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan
kewirausahaan kuat.

Dalam hal sarana dan prasarana SBI diharuskan memenuhi standar sarana dan prasarana sekolah nasional
(SSN) dilengkapi ruang kelas berbasis TIK, digitalisasi perpustakaan yang dapat mengakses sumber
pembelajaran dari seluruh dunia; ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik,
dsb. Untuk manajemen sekolah, SBI diharapkan menerapkan manajemen berbasis sekolah yang memenuhi
standar pengelolaan Depdiknas dan diharapkan dapat mencapai indikator kinerja kunci tambahan seperti: 1)
meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000; 2) merupakan sekolah/madrasah
multikultural; 3) menjalin hubungan sister school dengan SBI di luar negeri; 4) bebas narkoba dan rokok;
5) bebas kekerasan; 6) menerapkan prinsip kesetaraan gender; 7) diharapkan meraih medali tingkat
internasional pada kompetisi: sains, matematika, teknologi, seni, olah raga, dsb.

Mengenai kurikulum, pembiayaan dan sistem penyelenggaraan SBI, pemerintah menetapkannya : 1)
menerapkan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan); 2) menerapkan sistem satuan kredit semester di
SMA/SMK/MA/MAK; 3)memenuhi standar isi; 4) memenuhi standar kompetensi lulusan. Pembiayaan SBI
dijamin sekurang-kurangnya tiga jenis: biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. Untuk sistem
penyelenggaraannya dapat dipilih model model terpadu: satu atap-satu sistem, model terpisah: tidak satu
atap-satu sistem, model terpisah: tidak satu atap-beda sistem, dan model entry-exit: mengelola kelas regular
dan kelas internasional (seperti yang banyak diselenggarakan akhir-akhir ini sebagai SBI rintisan).

Walaupun demikian, masyarakat dan pendidik banyak yang belum jelas tentang keberadaan dan konsep
SBI, apalagi siswa dan calon siswa. Ada yang menerjemahkannya sekolah berstandar internasional, sekolah
internasional, sekolah unggulan, sekolah global, sekolah bilingual, dsb. Di jenjang sekolah dasar kita
mengenal kualifikasi atau kategori SD Imbas (SD regular), SD Inti (kepala gugus SD), SD Standar
(mendekati Standar Nasional Pendidikan), SD – SSN (sesuai Standar Nasional Pendidikan), SD-SBI (
Sekolah Bertaraf Internasional= SSN Plus) dan SD Berstandar Internasional (SSN Plus & Standar
Internasional). Pemerintah sendiri merumuskan sekolah/madrasah bertaraf internasional adalah
sekolah/madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan
mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development) dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam
bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional (Depdiknas, 2007).

Agar SBI mencapai sasarannya yang antara lain menyejajarkan kualitas pendidikan dengan negara maju
dan mampu bersaing di tataran global, sekolah perlu menaati rambu-rambu penyelenggaraan yang diatur
pemerintah. Di samping itu, aspirasi orang tua seyogianya diperhatikan. Banyak orang tua yang memiliki
respons yang cukup kritis dan saksama ketika akan menyekolahkan anaknya ke sekolah internasional,
misalnya, apakah di sekolah tersebut pelajaran agamanya cukup baik, adakah pelajaran PPKn, apakah ada
kesenian daerah? Pertanyaan tersebut mengindikasikan agar a siswa memperoleh landasan moral,
kebangsaan, dan budaya yang sesuai agar mereka memiliki jati diri sebagai orang Indonesia yang
mumpuni.
Yang tak kalah penting bagaimana upaya SBI menciptakan iklim yang kondusif baik secara internal dan
eksternal. Secara internal bagaimana siswa juga guru SBI berinteraksi dengan baik dengan sesama rekan di
suatu sekolah yang seatap demikian pula interaksi dengan sekolah-sekolah di sekitarnya. Kekhawatiran
berbagai pihak akan terjadi ekslusivisme, diskriminatif dan kecemburuan sosial lainnya dapat dicegah
melalui program-program sekolah yang memberikan manfaat bagi siswa-siswa di lingkungannya.
Misalnya, piknik bersama, English Club, bazar bersama, riset kolaboratif bahkan sesekali mengundang
siswa-siswa sekolah-sekolah lokal datang untuk belajar bersama semisal pelajaran kesenian dan olah raga.

Untuk SBI yang masih dalam tahap rintisan, selain harus berkoordinasi dengan dinas pendidikan provinsi,
kota/kabupaten, juga selayaknya bekerja sama dengan LPMP, LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan). Tentunya pengalaman perguruan tinggi dapat dimanfaatkan dalam bentuk "forum
kemitraan", yaitu hubungan kerja sama yang ideal yang dibangun atas dasar profesionalitas, kesetaraan,
kepercayaan, dan saling menghormati baik sebagai individu maupun masing-masing lembaga.

Demikian pula kerja sama dengan instansi lain. Contoh, di Australia ada SD yang bekerja sama dengan
Dinas Perhubungan, sehingga tiap semester siswanya dapat naik kereta api dan pesawat terbang berkeliling
kota dengan gratis. Namun, yang harus dicontoh dari sekolah di luar negeri, bukan hanya manajemen,
fasilitas, kurikulum, model- model pembelajaran; melainkan tanggung jawab stakeholder-nya. Penulis
melihat bagaimana kepsek dan guru melayani siswa secara maksimal (dagdag-degdeg istilah Sundanya).
Demikian pula orang tua siswa, tidak peduli kaya atau miskin, berlomba membantu sekolah, kalau tidak
materi mereka membantu dengan tenaga (mengapur, menata taman, dsb.). Tampaknya orang tua di
Indonesia pun sudah siap, terbukti ada kegiatan Parent Supporting Group, Parent and School Board, dsb.
Demikian pula pemerintah siap mengucurkan dana ratusan juta rupiah bagi setiap SBI dan rencananya
dikembangkan 112 unit SBI (SD, SMP, SMA, dan SMK).

Pada akhirnya masyarakat hanya bisa berharap semoga rintisan SBI sebagai salah satu upaya mengatasi
ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain dapat mencapai sasarannya, dijauhkan dari malapraktik
pendidikan yang membodohi dan menyengsarakan rakyat, sambil kita pun tetap berusaha dan berdoa agar
sekolah-sekolah nun jauh di sana, baik sekolah terapung di laut, sekolah reyot di pelosok, maupun sekolah
kumuh perkotaan dapat segera diperbaiki nasibnya, ditingkatkan mutu dan martabatnya.***

Penulis, dosen Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung & Peneliti di Universiti Sains Malaysia –
Penang

World Class University, suatu kalimat yang mendengung dan menggema di sekitar
kampus kita tahun lalu, 2007. Institut Pertanian Bogor dengan bangga mengumumkan
bahwa pada tahun 2007, IPB terdaftar sebagai 500 besar Universitas Kelas Dunia (World
Class University) menurut versi Time Higher Education Supplement (THES) World
Universty Rangking. Spanduk berukuran besar ucapan selamat kepada universitas ini
terpampang di dekat pintu masuk IPB. Suatu prestasi yang menggembirakan mengingat
IPB tidak pernah sebelumnya berada dalam jajaran 500 universitas kelas dunia ini.
Namun apa yang terjadi pada tahun 2008 ini, berbeda dengan universitas-universitas
nasional lainnya seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB),
dan Universitas Gadja Mada (UGM), IPB terlempar dari jajaran 500 universitas kelas
dunia menjadi urutan ke-545. Ketiga universitas tersebut, UI, ITB, UGM, berhasil
meningkatkan posisi mereka dari tahun 2007. Bahkan, UI berhasil menduduki posisi ke-
287 yang meningkat jauh dari posisi tahun lalu yaitu 395. Kemerosotan peringkat IPB ini
membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di balik Universitas Kelas
Dunia ini.
http://visakana.wordpress.com/2008/10/28/world-class-university-pemicu-peningkatan-
kualitas-pendidikan-di-ipb/

World Class University pemicu kualitas pendidikan di ipb

ialah suatu ukuran yang dipakai untuk menentukan peringkat perguruan tinggi di dunia
menggunakan survei yang dikenal dengan The Times Higher Education Supplement
(THES) yang setidaknya 13000 perguruan tinggi masuk dalam survey ini. Suatu survei
dengan kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria-kriteria tersebut ialah academic peer
review dengan bobot 40 %, employer review dengan bobot 10%, faculty student ratio
dengan bobot 20%, citations per faculty dengan bobot 20%, international faculty dengan
bobot 5%, dan international student dengan bobot 5%. Academic peer review dilakukan
dengan survei secara online yang disebar ke akademisi-akademisi di seluruh dunia.
Employer review dilakukan sama seperti academic peer review yaitu dengan survei
online ke para pekerja. Perbandingan mahasiswa dan pengajar, penghargaan yang
diperoleh oleh para pengajar di suatu universitas, serta faktor internasional seperti
banyaknya pengajar dan mahasiswa luar juga mempengaruhi peringkat suatu universitas.

Ada empat pilar kunci dari pendekatan universitas kelas dunia, yaitu research quality,
teaching quality, graduate employability, dan international outlook. Research quality
ialah indikator yang menunjukkan seberapa baik publikasi hasil penelitian suatu
universitas. Jika suatu universitas merupakan pusat keunggulan dari multidisiplin ilmu
maka universitas tersebut akan dikenal oleh seluruh dunia karena telah berkontribusi bagi
kemajuan ilmu pengetahuan. Indikator ini juga dapat dilihat dari kualitas peneltian,
produktivitas (banyaknya paper yang dipublikasikan), penghargaan yang diperoleh,
bahkan awards seperti penerima hadiah Nobel atau fields medals. Teaching quality ialah
seberapa baik metode pengajaran yang dilakukan termasuk fasilitas pengajaran. Graduate
employability ialah indikator yang menunjukkan seberapa baik lulusan universitas dapat
bekerja dalam berbagai bidang serta seberapa besar gaji mereka. International outlook
ialah indikator yang menunjukkan apakah universitas tertentu dapat berkontribusi tidak
hanya bagi negaranya tetapi juga bagi negara lain yang dilihat dari proporsi mahasiswa
asing, staf asing, mahasiswa pertukaran pelajar, serta kekuatan hubungan internasional
dengan universitas lainnya di seluruh dunia.

Tujuan dari adanya Time Higher Education Supplement (THES) World Universty
Rangking ini ialah mengetahui dan mengenali universitas-universitas sebagai organisasi
multidimensi serta untuk menyediakan perbandingan secara global agar menjadi
universitas berkelas dunia. Adanya World Class University ini tentu dirasakan
manfaatnya bagi universitas-universitas di seluruh dunia. Suatu universitas akan lebih
dikenal oleh dunia internasional yang imbasnya bisa pada berbagai hal. Misalnya, dengan
adanya peringkat ini, banyak calon mahasiswa asing yang ingin belajar di universitas top
dunia tersebut. Selain itu, peringkat universitas ini akan berimbas pada peningkatan
kualitas dari universitas itu sendiri. Dengan adanya peringkat universitas ini, banyak
upaya yang dilakukan universitas-universitas di seluruh dunia agar universitas-universitas
tersebut dapat berstandar internasional. Penelitian-penelitian dalam berbagai bidang pun
digalakkan, pembenahan kualitas dosen dan mahasiswa melalui metode pengajaran yang
selalu diperbaiki pun dilakukan. Peringkat dalam World Class University ini seharusnya
dapat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan terutama di universitas di seluruh dunia
tidak hanya menjadi suatu kebanggaan atau „gelar bergengsi‟ semata.

Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu universitas di negeri ini juga terkena dampak
dari adanya peringkat dalam World Class University. Isu yang mulai berkembang sejak
IPB masuk ke 500 peringkat dunia. Namun tahun ini, IPB tidak berhasil mempertahankan
peringkat tersebut. Jika kita lihat dari indikator-indikator World Class University, banyak
hal yang menyebabkan IPB belum mampu setaraf universitas-universitas luar negeri yang
bertaraf internasional seperti Harvard University. Publikasi hasil penelitian di IPB masih
minim. Jarang hasil penelitian IPB tersebar luas di masyarakat Indonesia apalagi sampai
bertaraf internasional. Ironis sekali memang ketika tiap tahunnya ratusan bahkan ribuan
hasil penelitian mahasiswa tidak dipublikasikan sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat luas. Begitu juga dengan fasilitas belajar di IPB yang masih belum mampu
memenuhi kebutuhan seluruh mahasiswanya. Jika ditinjau dari banyaknya mahasiswa
asing di IPB, rasio/perbandingannya dengan seluruh mahasiswa IPB masih sangat kecil.
Dosen IPB pun jarang sekali terdengar yang menerima penghargaan baik itu berupa
penghargaan atas karya ilmiah yang dibuat atau penghargaan sebagai penerima hadiah
Nobel.

Peningkatan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik terus diupayakan oleh IPB.
Tidak hanya untuk menjadi universitas yang bertaraf internasional tetapi untuk
memberikan pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat, IPB selalu berusaha memberi
yang terbaik. Berbagai usaha telah dilakukan oleh IPB untuk menyongsong universitas
bertaraf internasional. IPB akan meningkatkan mutu atau kualitas pusat-pusat di bawah
naungan LPPM IPB menuju World Class University. Diantaranya dengan meningkatkan
publikasi jurnal internasional dan meningkatkan kualitas sistem informasi terutama
database. Begitu juga dengan diadakannya Lomba Situs Web Unit Kerja IPB agar situs
web IPB dan unit-unit di dalamnya dapat ditingkatkan dan disesuaikan dengan standar
internasional yang ada sehingga dapat mendukung tujuan IPB agar termasuk dalam
World Class University.

Upaya-upaya lain yang seharusnya dilakukan oleh IPB menuju World Class University
ialah menawarkan paket-paket kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan kepada
mahasiswa dari perguruan tinggi luar negeri yang ingin melakukan International
Exchange di Indonesia. IPB juga dapat memfasiltasi mahasiswa yang ingin melakukan
kegiatan International Exchange dengan bekerja sama dengan KBRI dan universitas di
negara tujuan. Selain itu juga, IPB harus segera menggalakkan publikasi internasional.
IPB juga harus mengembangkan dan menerapkan IPTEK pertanian yang bermanfaat bagi
kesejahteraan bangsa dan seluruh umat manusia. Peran pemerintah pun akan cukup andil
dalam perwujudan IPB menuju World Class University dengan kebijakannya mengenai
dana pendidikan. IPB yang merupakan salah satu universitas yang membebankan biaya
yang murah bagi mahasiswanya akan sangat terbantu dengan adanya peningkatan dana
pendidikan dari pemerintah.
World Class University jangan dijadikan tujuan utama bagi IPB. Jangan sampai IPB
melakukan jalan pintas untuk menuju World Class University. Tujuan utama IPB ialah
mampu memberikan ilmu yang dapat bermanfaat bagi perkembangan IPTEK dan sumber
daya manusia. Sesuai dengan motto IPB, IPB harus mencari dan memberi yang terbaik
bagi bangsa dan masyarakat di seluruh dunia. Seluruh civitas akademika IPB hendaknya
berpartisipasi dan memberikan persembahan terbaik bagi IPB. Sebagai mahasiswa, kita
harus menyikapi bahwa World Class University ialah suatu tujuan demi peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia. Mari kita dukung perwujudan IPB sebagai universitas
bertaraf internasional.

*)suatu pandangan seorang mahasiswa

« Jumat, 17 Oktober 2008 Refreshing… ahh… »

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:262
posted:6/15/2011
language:Indonesian
pages:14