Docstoc

LAPORAN RINGKAS HASIL SUSEDA 2004

Document Sample
LAPORAN RINGKAS HASIL SUSEDA 2004 Powered By Docstoc
					LAPORAN RINGKAS

BAB IV

Penetapan visi Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai propinsi termaju dan mitra terdepan ibukota negara pada Tahun 2010 menjadi pemacu pemerintah daerah Jawa Barat untuk mewujudkannya melalui tahapan pembangunan berkelanjutan. Salah satu indikator keberhasilan dari pencapaian visi tersebut adalah tercapainya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat pada Tahun 2010 sebesar 80. Meningkatnya pencapaian IPM bisa diartikan secara sederhana yaitu meningkatnya satu atau lebih komponen IPM yang meliputi komponen pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Sasarannya jelas yaitu masyarakat dapat menikmati pendidikan, memperoleh pelayanan kesehatan dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Pergerakan nilai IPM Jawa Barat tidak begitu cepat dari tahun ke tahun. IPM Jawa Barat (Angka regional) Tahun 2002 mencapai sebesar 67,45 dan meningkat 0,42 pada Tahun 2003 menjadi 67,87. Ini menggambarkan semakin membaiknya derajat kesehatan, dan tingkat pendidikan penduduk dan kemampuan daya beli walaupun kenaikannya tidak terlalu signifikan. Upaya pemerintah Jawa Barat dalam rangka akselerasi pencapaian visi Jawa Barat 2010 perlu didukung oleh seluruh dinas/intansi terkait dan seluruh masyarakat Jawa Barat. Dukungan data dalam rangka memotret perkembangan IPM dan indikator yang mempengaruhi IPM perlu terus diadakan secara rutin dan berkesinambungan. Salah satu sumber data dimaksud adalah Data Survei Sosial Ekonomi Daerah (SUSEDA) Jawa Barat. Suseda telah dilaksanakan sejak Tahun 2001 sampai dengan Tahun 2004. Suseda merupakan hasil kerjasama Bapeda dengan BPS Propinsi Jawa Barat. Suseda merupakan survei yang dirancang untuk dapat memenuhi data bagi kebutuhan perencanaan pembangunan, monitoring dan evaluasi situasi sosial ekonomi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Berikut disajikan laporan singkat hasil Suseda 2004 Propinsi Jawa Barat yang meliputi data Kependudukan, Kesehatan, Pendidikan, Ketenagakerjaan & Kesejahteraan rumahtangga dan sosial budaya.

11

4.1

KEPENDUDUKAN

Penduduk merupakan target sekaligus pelaku pembangunan. Hasil pembangunan muaranya adalah meningkatnya kesejahteraan penduduk dan meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang berkualitas akan lebih memacu pergerakan roda pembangunan dan sebaliknya dengan semakin banyaknya SDM yang kualitasnya rendah akan menjadi beban dalam proses pembangunan. Penduduk Jawa Barat Tahun 2004 menurut hasil Suseda (kondisi bulan Juli 2004) sebesar 39.140.812 orang. Penduduk laki-laki sebesar 19.801.832 orang dan penduduk perempuan sebesar 19.338.980 orang dengan sex ratio sebesar 102,4 yang berarti setiap 1.000 perempuan berbanding dengan 1.024 laki-laki. Jumlah penduduk Jawa Barat terus meningkat dan akan menjadi persoalan tersendiri bila tidak ditangani dengan baik. Karena itu pemerintah daerah melalui dinas/intansi terkait terus melakukan upaya pengendalian jumlah penduduk diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Jawa Barat masih merupakan propinsi dengan jumlah penduduk terbesar dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia Tujuh kabupaten/kota di Jawa Barat yang penduduknya diatas 2 juta jiwa adalah Kabupaten Bandung (4.134.504 orang), Kabupaten Bogor (3.945.411 orang), Kota Bandung (2.290.464 orang), Kabupaten Garut (2.260.478 orang), Kabupaten Sukabumi (2.210.091 orang), Kabupaten Cirebon (2.084.572 orang) dan Kabupaten Cianjur (2.079.306 orang). Padahal dua kabupaten yang disebut terakhir (Kabupaten Cirebon dan Cianjur) pada Tahun 2002 penduduknya masih dibawah 2 juta orang. Penduduk perempuan umur 10 tahun ke atas yang pernah kawin sebanyak 11,15 juta orang sebesar 29,34 persen diantara mereka melakukan perkawinan pertama dibawah umur 17 tahun; 29,37 persen pada umur 17 – 18 tahun; 35,62 persen pada umur 19 – 24 tahun, dan hanya 5,67 persen yang melakukan perkawinan pertama diatas umur 25 tahun atau lebih. Perkawinan usia muda menjadikan umur reproduksi semakin panjang, kesempatan memperoleh anak semakin besar yang pada akhirnya akan meningkatkan angka kelahiran.

12

Tabel 1. Penduduk dan Beberapa Informasi Demografi Jawa Barat Tahun 2003-2004

Informasi Demografi 1. Jumlah Penduduk Total Laki-laki Perempuan 2. Sex Ratio 3. Komposisi Umur 0 – 14 15 – 64 65+ 4. Angka Beban Ketergantungan

2003 38.132.356 19.322.255 18.810.101 102,7 11.402.511 25.134.466 1.595.379 51,7

2004 39.140.812 19.801.832 19.338.980 102,4 11.766.004 25.669.971 1.704.837 52,5

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2003-2004

Laju pertumbuhan penduduk (LPP) Tahun 2003 – 2004 hasil Suseda sebesar 2,64 sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan LPP Tahun 2002 – 2003 (hasil Susenas) mencapai angka 2,89. Angka beban ketergantungan (Dependency Ratio) Jawa Barat Tahun 2004 mencapai angka 52,5. Angka ini sedikit meningkat dibanding Tahun 2003 yaitu sebesar 51,7. Angka beban ketergantungan merupakan perbandingan antara penduduk yang belum /tidak produktif (usia 0 – 14 tahun dan usia 65 tahun ke atas) dibanding dengan penduduk usia produktif (usia 15 – 64 tahun). Berarti pada Tahun 2004 setiap 100 penduduk usia produktif di Jawa Barat menanggung sebanyak 53 penduduk usia belum/tidak produktif. Perlu hati-hati dalam menterjemahkan angka beban ketergantungan karena naik turunnya angka beban ketergantungan tidak bisa secara langsung diartikan sebagai naik turunnya tanggungan ekonomi penduduk usia produktif terhadap usia belum/tidak produktif. Meskipun penduduk usia kurang 15 tahun dan penduduk usia diatas 65 tahun termasuk penduduk tidak produktif faktanya banyak diantara mereka yang bekerja membantu ekonomi rumahtangga.

13

4.1.1 Tingkat Pendidikan Penduduk Pendidikan merupakan salah satu faktor penting kemajuan bangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat suatu daerah semakin tinggi kualitas SDM di wilayah tersebut. Dengan tingginya tingkat pendidikan semakin terbuka untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dan penghasilan lebih dibanding mereka yang berpendidikan rendah. Karena itu tantangan ke depan adalah bagaimana pemerintah dapat menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan serta regulasi pendidikan sehingga pendidikan dapat dinikmati atau dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Hasil Suseda 2004 memberi informasi bahwa persentase penduduk Jawa Barat usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 64,73 persen; tamat SMP sebesar 16,77 persen; tamat SMU/SMK sebesar 15,30 persen; dan sebanyak 3,20 persen yang tamat pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). Berarti dari 1.000 orang penduduk 10 tahun ke atas hanya 32 orang yang berkesempatan menyelesaikan pendidikan tinggi (Diploma 1 ke atas).
Tabel 2. Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelamin di Jawa Barat Tahun 2004

Pendidikan Yang ditamatkan 1. 2. 3. 4. 5.

Laki-laki

2004 Perempuan

Total 26,73 38,00 16,77 15,30 3,20 100 31.539.153

< SD 23,33 30,18 SD 37,22 38,79 SLTP sederajat 17,65 15,88 SM sederajat 17,83 12,74 Akademi/PT 3,97 2,41 Jumlah (%) 100 100 N 15.886.008 15.653.145

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Bila dicermati, terjadi penurunan persentase penduduk yang menamatkan SD ke bawah dan persentase penduduk yang menamatkan perguruan tinggi. Di sisi lain persentase penduduk yang menamatkan pendidikan SMP dan SMU/SMK mengalami peningkatan. Ini berarti keinginan masyarakat untuk menyekolahkan anak hingga SMP, SMU/SMK semakin meningkat. Tetapi ketika mereka sudah menyelesaikan pendidikan

14

SMU/SMK nya, mereka memilih tidak melanjutkan lagi atau memilih masuk angkatan kerja. Wacana yang mengemuka dalam masyarakat dan banyak dikeluhkan adalah besarnya biaya pendidikan yang semakin tinggi dan semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat Jawa Barat. Apalagi pada jenjang pendidikan tinggi. Perlu dukungan finansial yang cukup untuk mampu menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi. Bila tidak dicermati secara serius dan komprehensif antara pemerintah, sektor terkait dan lembaga penyelenggara pendidikan, maka tidak mustahil pendidikan hanya suatu angan-angan saja. Suatu hal yang tidak tersentuh dan hanya mampu dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang berkemampuan secara ekonomi. Menurut hasil Susenas Modul Pendidikan Tahun 1998, 57,23 persen penduduk usia 7 – 24 tahun yang tidak melanjutkan lagi disebabkan karena kesulitan biaya. Berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan laki-laki Jawa Barat lebih tinggi dibanding dengan tingkat pendidikan perempuan. Untuk jenjang pendidikan SD ke bawah persentase perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Sebaliknya untuk jenjang pendidikan SMP, SMU/SMK dan perguruan tinggi persentase laki-laki diatas perempuan. Hasil Suseda 2004 menggambarkan bahwa dalam situasi keuangan sulit preferensi orang tua untuk meyekolahkan anak ke jenjang pendidikan SMP ke atas lebih mengutamakan laki-laki (23,62 persen) dibanding perempuan (8,28 persen). Sedangkan sebesar 68,10 persen orang tua memberikan kesempatan yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan. Sosialisasi bahwa pendidikan itu penting baik bagi laki-laki maupun perempuan terus perlu disuarakan. Sebagai salah satu komponen IPM, dengan meningkatnya tingkat pendidikan penduduk yang berarti juga meningkatnya SDM, akan lebih memberi kontribusi pada kenaikan IPM.

4.1.2 Partisipasi Sekolah dan Angka Buta Huruf Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Pendidikan satu bangsa. Indikator penting lainnya yang berkaitan dengan pendidikan selain tingkat pendidikan yang ditamatkan adalah partisipasi dan angka buta huruf. Angka Partisipasi merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia serta mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial ekonomi

15

Sekolah (APS) merupakan indikator yang menunjukkan partisipasi sekolah penduduk yang bersekolah. Hasil Suseda 2004 menginformasikan bahwa APS penduduk usia 7 – 12 tahun sebesar 96,52 persen. Artinya dari seluruh penduduk usia 7 – 12 tahun yang masih bersekolah sebesar 96,52 persen, sedangkan sisanya ada yang tidak/belum bersekolah dan yang sudah tidak bersekolah lagi. APS kelompok penduduk usia 13 – 15 tahun sebesar 78,07 persen dan pada kelompok penduduk usia 16 – 18 tahun mencapai 45,04 persen. Pada kelompok ini (penduduk usia 16 – 18 tahun) banyak yang tidak bersekolah lagi. Sebagian diantaranya mereka masuk ke dalam angkatan kerja. Semakin tinggi tingkatan sekolahnya semakin turun tingkat partisipasi sekolahnya.
Tabel 3. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk Usia Sekolah dan Angka Buta Huruf Menurut Jenis Kelamin Jawa Barat Tahun 2004

Indikator A. Penduduk Usia Sekolah 1. 7 – 12 tahun 2. 13 – 15 tahun 3. 16 – 18 tahun B. Angka Partisipasi Sekolah (%) 1. APS usia 7-12 tahun (SD) 2. APS usia 13-15 tahun (SLTP) 3. APS usia 16-18 tahun (SMU/K) C. Angka Buta Huruf (%) 1. Total 2. Laki-laki 3. Perempuan

2004 5.074.014 2.286.315 2.141.400 96,52 78,07 45,04

5,34 3,10 7,63

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Secara umum APS laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan. Hasil Suseda 2004 menunjukkan untuk kelompok usia 7 – 12 tahun, APS laki-laki (96,64 persen) lebih besar dari perempuan (96,40 persen), dan pada kelompok usia 16 – 18 tahun. APS laki-laki (46,85 persen). Sedangan APS perempuan (42,88 persen). Pada kelompok usia 13 – 15 tahun, APS perempuan (78,64 persen) sedikit lebih tinggi dibanding APS laki-laki (77,54 persen).

16

Kemampuan membaca dan menulis memberi peluang penduduk dalam menyerap maupun menyampaikan informasi dan membantu kemudahan dalam berkomunikasi. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketidakmampuan membaca dan menulis memberi andil terhadap keterbelakangan dan meningkatnya penduduk miskin. Mereka tidak bisa bersaing dalam mencari lapangan kerja serta pilihan-pilihan pekerjaan yang sangat terbatas. Menurunnya angka buta huruf di Jawa Barat mengidentifikasi adanya keberhasilan program pembangunan dalam bidang pendidikan. Penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta huruf (tidak dapat membaca huruf latin atau huruf lainnya) menurut hasil Suseda 2004 sebanyak 1,68 juta orang (atau sebesar 5,34 persen), dengan komposisi laki-laki sebanyak 0,49 juta orang (3,10 persen) dan perempuan sebanyak 1,19 juta orang (7,63 persen). Angka buta huruf (total) ini sedikit menurun bila dibandingkan dengan hasil Suseda 2003 yaitu sebesar 5,63 persen. Sama seperti tahun sebelumnya angka buta huruf perempuan masih lebih tinggi dari angka buta huruf laki-laki. Hal ini didukung fakta lain bahwa secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih tinggi dibanding dengan perempuan. Masih tampak nyata budaya di masyarakat utamanya di daerah pedesaan yang masih cenderung mengutamakan pendidikan bagi anak laki-lakinya dibanding perempuan. Meski demikian angka buta huruf perempuan juga menurun dibanding Tahun 2003 yang mencapai 7,93 persen. Empat kabupaten yang angka buta hurufnya diatas 10 persen adalah Kabupaten Indramayu (22,28 persen); Kabupaten Karawang (12,42 persen); Kabupaten Subang (11,44 persen); dan Kabupaten Cirebon (10,75 persen).

4.2

KESEHATAN Tujuan dari pembangunan bidang kesehatan adalah agar semua masyarakat

memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan terjangkau. Dengan upaya ini diharapkan derajat kesehatan masyarakat akan meningkat. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan antara lain dengan memberi penyuluhan kesehatan agar tercipta perilaku hidup sehat, menyediakan berbagai fasilitas kesehatan umum seperti puskesmas, pos yandu, pondok bersalin desa serta mengupayakan tersedianya fasilitas air bersih. Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan penduduk adalah angka kesakitan (morbidity rate).

17

Penduduk Jawa Barat yang mengeluh sakit (dalam periode sebulan sebelum pencacahan) sebanyak 9,47 juta orang (sekitar 24,2 persen). Artinya, dari 100 orang penduduk, 24 orang diantaranya mengalami keluhan kesehatan. Jenis keluhan kesehatan yang banyak dialami adalah pilek, batuk dan panas. Persentase penduduk perempuan yang mengeluh sakit (sekitar 24,75 persen) sedikit lebih tinggi dibanding penduduk laki-laki (sekitar 22,97 persen). Salah satu upaya penyembuhan yang dilakukan penduduk adalah dengan cara mengobati sendiri dan atau berobat jalan. Persentase penduduk yang mengobati sendiri sebesar 75,89 persen, sedangkan yang berobat jalan mencapai 40,81 persen. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan balita diantaranya adalah kesehatan ibu dan penolong kelahiran. Data komposisi penolong kelahiran bayi dapat dijadikan salah satu indikator kesehatan terutama dalam hubungannya dengan tingkat kesehatan ibu dan anak serta pelayanan kesehatan secara umum. Dilihat dari kesehatan ibu dan anak, persalinan yang ditolong oleh tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya) dianggap lebih baik dibandingkan yang ditolong oleh dukun, famili, atau lainnya. Pada Suseda kali ini, informasi penggunaan garam iodium digali. Dari 10,62 juta rumahtangga sebesar 99,45 persen (sekitar 10,57 juta rumahtangga) menggunakan garam untuk memasak. Sisanya tidak menggunakan garam untuk memasak. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini adalah rumahtangga tunggal seperti mahasiswa, buruh pabrik atau orang yang sudah renta yang tidak memasak. Mereka memperoleh dengan cara membeli atau diberi oleh orang lain. Dari 10,57 juta rumahtangga yang menggunakan garam untuk memasak, sebesar 70,99 persen garam yang dipakai mengandung iodium dengan kandungan cukup, sebesar 18,43 persen kandungan iodiumnya kurang, dan sebesar 10,58 persen tidak mengandung iodium. Sebesar 7,48 juta rumahtangga (70,77 persen) mengetahui manfaat penggunaan garam iodium. Sebagian besar dari mereka tahu bahwa iodium dapat mencegah penyakit gondok (85,12 persen); dapat meningkatkan kecerdasan anak sebesar 7,7 persen; dapat membantu perkembangan fisik dan mental anak (4,33 persen); dan yang menyatakan dapat mencegah keguguran pada ibu hamil sebesar 0,24 persen.

18

Tabel 4. Penduduk yang Sakit, Lama Balita Menyusui dan Persentase Penolong Kelahiran Terakhir Menurut Jenis Kelamin di Jawa Barat Tahun 2004

Indikator A. Keluhan Sakit 1. Jumlah Penduduk 2. Jumlah yang Sakit 3. Persentase yang Sakit B. Balita 1. Jumlah Balita 2. Balita yang Disusui 3. % disusui > 24 bulan 4. % disusui 12-23 bulan 5. % disusui < 12 bulan C. Penolong Kelahiran (terakhir) 1. Dokter 2. Bidan 3. Paramedis Lain 4. Dukun 5. Famili/Lainnya

Laki-laki 19.801.832 4.690.840 22,97

Perempuan 19.338.980 4.782.913 24,73

Jumlah 39.140.812 9.473.753 24,20

1.829.099 1.753.213 35,37 43,14 21,49

1.710.806 1.638.039 35,15 45,32 21,53

3.539.905 3.391.252 34,29 44,2 21,51

6,91 53,06 0,53 37,66 1,84

6,82 52,48 0,71 38,47 1,52

6,86 52,78 0,62 38,05 1,69

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Pada tahun 2004 tingkat keamanan ibu yang melahirkan maupun anak yang dilahirkannya meningkat dibanding tahun 2003. Penolong kelahiran terakhir balita yang dilakukan oleh tenaga medis pada tahun 2003 sebesar 56,25 persen meningkat menjadi 60,26 persen pada tahun 2004. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatan balita semakin baik. Dari 3,5 juta balita di Jawa Barat pada tahun 2004 hanya sekitar 6,86 persen yang kelahirannya ditolong oleh dokter, 52,78 persen oleh bidan, dan 0,62 persen oleh tenaga medis lainnya. Sedangkan yang ditolong oleh tenaga non medis seperti dukun sekitar 38,05 persen dan 1,69 persen ditolong oleh famili/lainnya.

19

Dibandingkan dengan Tahun 2003, persentase balita yang kelahirannya ditolong oleh dukun mengalami penurunan sebesar 4,38 persen, sementara yang ditolong oleh bidan naik sebesar 4,33 persen. Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi perkembangan dan kesehatan balita. ASI merupakan zat yang sempurna utuk pertumbuhan bayi dan mempercepat perkembangan berat badan. Lamanya balita disusui secara tidak langsung berpengaruh pada faktor kesehatan. Dari seluruh balita di Jawa Barat pada tahun 2004, sebanyak 3,39 juta balita atau 95,80 persen pernah diberi ASI. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 34,29 persen yang disusui oleh ibunya selama 2 tahun atau lebih, sedangkan yang disusui selama satu sampai kurang dari dua tahun sebesar 44,2 persen, dan sisanya disusui kurang dari satu tahun (21,51 persen). Bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2003, persentase balita yang disusui kurang dari satu tahun menurun, dan terjadi peningkatan balita yang disusui selama 1-2 tahun. Ini berarti banyak ibu-ibu yang telah menyadari pentingnya ASI bagi bayinya.

4.3

KETENAGAKERJAAN

Masalah ketenagakerjaan masih merupakan masalah yang rumit. Masalah-masalah dasar selama ini terutama berkisar pada sempitnya lapangan kerja, lambannya transformasi tenaga kerja dari sektor primer ke sektor sekunder, produktivitas yang rendah dan masalah pengangguran.

4.3.1

Angkatan Kerja Penduduk usia 10 tahun ke atas masuk kategori angkatan kerja bila mereka

bekerja atau menganggur (sedang mencari pekerjaan), dan bukan angkatan kerja bila mereka bersekolah, mengurus rumahtangga, atau lainnya. Banyaknya penduduk yang berada pada golongan angkatan kerja menggambarkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Menurut hasil Suseda Tahun 2004 TPAK penduduk Jawa Barat adalah sebesar 52,75 persen, dengan TPAK laki-laki sebesar 74,31 persen dan 30,86 persen untuk perempuan.

20

Angka ini menunjukkan penurunan dibanding tahun 2003 dimana TPAK laki-laki dan TPAK perempuan berturut-turut sebesar 75,41 persen dan 35,33 persen. Masih tampak bahwa peran serta perempuan di Jawa Barat sangat kurang dalam angkatan kerja dibandingkan dengan peran serta laki-laki.

4.3.2

Pola Serapan Tenaga Kerja Dari sisi penyerapan tenaga kerja pada sektor-sektor yang ada, tampak bahwa ada

4 sektor utama lapangan usaha penduduk Jawa Barat yaitu sektor pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Sektor pertanian masih merupakan lapangan usaha yang mendominasi penyerapan tenaga kerja walaupun dari tahun ke tahun persentasenya mengalami penurunan. Dari 14,6 juta penduduk Jawa Barat yang bekerja, 29,82 persen ditampung oleh sektor pertanian, 22,82 persen di sektor perdagangan, 17,60 persen di sektor industri, 12,55 persen di sektor jasa, dan sisanya tersebar di berbagai sektor seperti keuangan, angkutan, kontruksi dan lain-lain. Dibandingkan dengan tahun 2003 terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, namun disisi lain terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor industri dan perdagangan. Apabila dilihat dari status pekerjaan, sebesar 45,19 persen dari 14,6 juta penduduk Jawa Barat yang bekerja merupakan pekerja dengan status pekerjaan sebagai buruh/karyawan, 29,93 persen berusaha sendiri, 14,16 persen adalah berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap, 3,6 persen berusaha dengan dibantu buruh tetap dan sisanya merupakan pekerja dengan status sebagai pekerja keluarga/pekerja tak dibayar dengan persentase sebesar 7,12 persen. Masih tingginya penduduk yang bekerja sebagai pekerja keluarga/pekerja tidak dibayar memberi indikasi masih kurang optimalnya pemanfaatan tenaga kerja di Jawa Barat. Mereka yang masuk kelompok ini, pada umumnya hanya sekedar membantu usaha yang dilakukan oleh keluarga mereka dengan tingkat produktivitas yang rendah dan tidak mendapatkan upah/gaji atau sekalipun ada balas jasa yang diterima sangat jauh dari memadai. Indikator ini juga merefleksikan masih lemahnya perekonomian daerah dalam penyerapan tenaga kerja yang produktif.

21

4.3.3

Pengangguran Tidak seimbangnya antara laju pertumbuhan angkatan kerja dengan laju

pertumbuhan kesempatan kerja menjadi penyebab terjadinya masalah ketenagakerjaan. Akibatnya banyak angkatan kerja yang tidak terserap oleh lapangan pekerjaan yang ada, atau dengan kata lain timbul permasalahan pengangguran. Informasi tentang pengangguran menjadi vital terutama berkenaan dengan kemampuan sektor-sektor ekonomi yang ada untuk menyerap tenaga kerja ke dalam aktivitas ekonomi produktif dan merupakan hal yang stategis untuk terus dicermati.
Tabel 5. Beberapa Indikator Ketenagakerjaan Jawa Barat , Tahun 2004

Indikator 1 . Jumlah Angkatan Kerja 2. Jumlah yang Bekerja 3. Pola Distribusi Sektoral 3.1 Pertanian 3.2 Industri 3.3 Perdagangan 3.4 Jasa-jasa 3.5 Lainnya 4. Status Pekerjaan 4.1 Berusaha sendiri 4.2 Berusaha dgn dibantu Buruh tdk tetap 4.3 Berusaha dengan Buruh Tetap 4.4 Buruh/karyawan 4.5 Pekerja keluarga 5. Pengangguran Total Laki-laki Perempuan

2004 N 16.636.057 14.598.311 4.353.604 2.569.523 3.331.241 1.831.527 2.512.416 4.368.904 2.067.538 524.826 6.597.553 1.039.490 2.037.746 1.142.006 895.740 % 52,75 87,75 29,82 17,60 22,82 12,55 17,21 29,93 14,16 3,60 45,19 7,12 12,25 9,67 18,54

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Salah satu indikator ketenagakerjaan yang secara tidak langsung menggambarkan kondisi ekonomi suatu daerah adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT menunjukkan proporsi penduduk yang mencari pekerjaan secara aktif terhadap seluruh

22

angkatan kerja. Tinggi rendahnya angka ini memiliki kepekaan terhadap dinamika pasar kerja dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Tingginya angka pengangguran akan memiliki implikasi keamanan dan stabilitas regional. Hasil Suseda 2004 menggambarkan bahwa TPT Jawa Barat mencapai sebesar 12,25 persen menurun sebesar 0,44 persen dibanding tahun 2003. TPT penduduk laki-laki sebesar 9,67 persen, dan TPT penduduk perempuannya sebesar 18,54 persen. Jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota tingkat pengangguran di wilayah-wilayah kota cenderung lebih besar dibandingkan wilayah desa. TPT di wilayah berstatus kota lebih besar dibanding daerah yang bertipe pedesaan. Kondisi ini dimungkinkan berdasarkan kenyataan bahwa tenaga kerja terdidik, yang sensitif terhadap dinamika pasar kerja, memang lebih bertumpuk di daerah perkotaan, sehingga peluang terjadinya pengangguran juga akan lebih besar di daerah tersebut.

4.4

PERUMAHAN

Kondisi dan kualitas rumah/tempat tinggal penduduk menunjukkan keadaan sosial ekonomi rumahtangga. Kualitas tersebut ditentukan antara lain oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan, faktor kesehatan, maupun fasilitas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas perumahan dan fasilitas yang memadai akan memberi tingkat kenyamanan dan kesehatan kepada penghuni rumah tersebut. Semakin baik kondisi dan kualitas rumah yang ditempati menunjukkan semakin baik keadaan sosial ekonomi rumahtangga. Salah satu determinan kesejahteraan dapat dilihat dari luas lantai hunian. Standar WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa luas lantai rumah yang memenuhi kriteria rumah sehat adalah minimal luasnya 10 m2 per anggota keluarga. Semakin sempit luas lantai rumah semakin tidak sehat rumah tersebut. Beberapa jenis penyakit mudah saling tertularkan diantara sesama anggota rumah tangga karena sempitnya ruangan rumah. Di Propinsi Jawa Barat, 3,08 persen rumahtangga tinggal di rumah dengan luas lantai kurang dari 20 m2, sekitar 41,14 persen rumahtangga menempati rumah dengan luas lantai antara 20-49 m2, sekitar 44,93 persen menempati rumah dengan luas lantai 50 – 99 m2, dan mereka yang menghuni rumah dengan luas lantai diatas 100 m2 sebanyak 10,85

23

persen rumahtangga. Bila dibandingkan dengan data tahun 2003, rumahtangga dengan luas lantai hunian kurang dari 50 m2 semakin menurun, sedangkan rumahtangga dengan luas lantai diatas 50 m2 persentasenya semakin meningkat. Hal ini menggambarkan adanya perbaikan kesejahteraan rumahtangga masyarakat Jawa Barat. Sebesar 92,52 persen rumah di Jawa Barat sudah memakai material sebagai penutup lantai tanahnya, sedangkan 7,48 persen rumah yang beralaskan tanah. Menurut jenis atap yang digunakan, dari 10.623.935 rumahtangga di Jawa Barat, 93,96 persennya telah menggunakan atap genteng dan yang beratap beton sebesar 1,56 persen. Selain genteng, ada beberapa jenis atap lain yang biasa digunakan rumahtangga, seperti sirap (0,86 persen), seng (0,24 persen), asbes (2,89 persen), ijuk, dan lainnya (0,49 persen). Perumahan di Jawa Barat juga hampir homogen dalam hal jenis dinding yang digunakan. Dinding rumah tembok adalah jenis dinding yang paling populer digunakan yaitu oleh 75,67 persen rumahtangga. Rumah yang berdinding kayu dan bambu/lainnya berturut-turut sebesar 3,94 persen dan 20,39 persen. Sumber air minum yang biasa dipakai rumahtangga masih bervariasi. Sebagian telah menggunakan sumur terlindung (35,05 persen), pompa (25,94 persen), air ledeng (14,34 persen). Masih ada rumahtangga yang menggunakan sumber air minum yang kurang sehat yaitu dari sumur tidak terlindung (8,87 persen), dan dari mata air tak terlindung (4,82 persen). Sebesar 1,27 persen rumahtangga yang sumber air minumnya berasal dari air sungai/air hujan/lainnya. Secara ringkas dapat disebutkan bahwa sekitar 15 dari 100 rumahtangga di Jawa Barat mengkonsumsi air dari sumber air minum yang kurang higienis.

24

Tabel 6. Beberapa Indikator Fasilitas Perumahan Jawa Barat, Tahun 2004

Indikator 1. Jumlah Rumahtangga 2. Rumahtangga dengan luas lantai < 20 M2 20 – 49 M2 50 – 99 M2 > 100 M2 3. Rumahtangga berlantai tanah 4. Rumahtangga dengan atap rumah selain dari genteng dan beton 5. Rumahtangga dengan rumah berdinding bambu/lainnya 6. Rumahtangga minum dari air sumur tidak terlindung, air sungai,air hujan dan mata air tidak terlindung 7. Rumahtangga dengan sumber penerangan selain listrik

2004 N 10.623.935 328.514 4.370.458 4.772.810 1.152.153 795.038 476.577 2.166.826 1.588.532 3,08 41,14 44,93 10,85 7,48 4,48 20,39 14,96 %

238.991

2,26

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat dan Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Sumber penerangan yang digunakan oleh rumahtangga di Propinsi Jawa Barat sebagian besar adalah listrik baik yang berasal dari PLN maupun non PLN yaitu sebesar 97,74 persen Sisanya menggunakan sumber penerangan selain listrik seperti petromak/aladin, pelita/sentir/obor, dan sumber penerangan lainnya dengan keseluruhan persensetase sebesar 2,26 persen.

4.5

PENGELUARAN RUMAHTANGGA

Besarnya menggambarkan

konsumsi/pengeluaran tingkat kesejahteraan

yang

dikeluarkan

oleh

rumahtangga Peningkatan

suatu

rumahtangga.

konsumsi/pengeluaran rumahtangga, terutama porsi pengeluaran untuk bukan makanan, menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan rumahtangga yang bersangkutan.

25

Rumahtangga dengan pendapatan terbatas tentu akan mendahulukan kebutuhan makanan dibandingkan dengan kebutuhan non makanan. Pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah akan terlihat bahwa sebagian besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi makanan. Seiring dengan meningkatnya pendapatan, maka lambat laun akan terjadi pergeseran yaitu penurunan porsi pendapatan yang dibelanjakan untuk makanan dan sebaliknya terjadi peningkatan makanan. Pengeluaran rumah tangga merupakan proxy dari pendapatan rumah tangga. Hal ini dikarenakan survei yang langsung ditujukan untuk mendapatkan data pendapatan masyarakat seringkali sulit dilakukan, terutama dalam teknis wawancara. Karena itu pendapatan rumahtangga dalam hal ini didekati dengan pengeluaran rumah tangga. Pergeseran komposisi atau pola pengeluaran tersebut terjadi karena elastisitas permintaan terhadap makanan pada umumnya rendah sementara elastisitas permintaan terhadap barang bukan makanan pada umumnya tinggi. Keadaan akan semakin jelas pada kelompok penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh, sehingga peningkatan pendapatan sebagian besar akan digunakan untuk barang bukan makanan, ditabungkan atau bahkan diinvestasikan. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa pola pengeluaran dapat dipakai sebagai salah satu alat untuk menilai tingkat kesejahteraan (ekonomi) penduduk, dan perubahan komposisi pengeluaran dapat memberikan indikasi perubahan pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Pola pengeluaran per kapita rumah tangga di Propinsi Jawa Barat hasil Suseda 2004, menunjukkan sebanyak 55,56 persen pengeluaran rumahtangga digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan makanan. Sisanya 44,44 persen untuk konsumsi bukan makanan. Proporsi pengeluaran makanan ini, dibandingkan tahun 2003 mengalami penurunan yaitu sebesar 1,81 persen. Membaiknya kondisi perekonomian Nasional secara makro diduga memberi andil pada penurunan proporsi pengeluaran makanan penduduk. Peningkatan harga kebutuhan pokok yang relatif stabil ikut pula mendorong membaiknya pola konsumsi masyarakat. pada pengeluaran konsumsi bukan

26

4.6

SOSIAL BUDAYA DAN KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA

4.6.1 Preferensi Orang tua dalam Pendidikan Seperti telah diungkapkan di muka bahwa tingkat pendidikan, angka melek huruf laki-laki lebih tinggi dibandingkan denagn perempuan. Hasil Suseda 2004 menunjukkan bahwa dalam situasi keuangan yang sulit (terbatas), para orang tua telah mengutamakan pendidikan laki-laki (sebesar 23,62 persen) dibanding perempuan (sebesar 8,28 persen). Namun demikian sebesar 68,10 persen orang tua tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam menyekolahkan anaknya. Hasil ini konsisten dengan data Suseda 2003. 4.6.2 Asset Kendaraan yang Dimiliki/Dikuasai Rumahtangga Asset rumahtangga yang digali dalam Suseda 2004 hanya terbatas pada sarana transportasi rumahtangga yang meliputi kendaraan bermotor roda 4, kendaraan bermotor roda 2, kendaraan tidak bermotor, dan lainnya seperti bemo, perahu, dan lainlain. Penguasaan terhadap kendaraan bermotor (baik roda 4 maupun roda 2) menunjukkan status ekonomi rumahtangga yang semakin baik. Hasil Suseda 2004 menginformasikan bahwa dari sekitar 10,6 juta rumahtangga, hanya sekitar 6,73 persen yang menguasai kendaraan bermotor roda 4 dan sekitar 26,08 persen rumahtangga yang menguasai kendaraan bermotor roda 2. Maraknya tawaran kemudahan kepemilikan kendaraan sepeda motor dari berbagai dealer, diduga mendongkrak besarnya rumahtangga yang menguasai sepeda motor. Dibanding situasi Tahun 2003 persentase rumahtangga yang menguasai mobil pun semakin meningkat dari 5,93 persen menjadi 6,73 persen. Kondisi ini dimungkinkan tingkat kesejahteraan penduduk yang mulai membaik dan tawaran kredit kepemilikan mobil maupun sepeda motor dengan suku bunga dan uang muka yang rendah. Popularitas sepeda motor tengah menanjak dan menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat Jawa Barat dibanding mobil. Disamping harganya yang murah juga menjadi alat transportasi yang relatif anti macet.

27

4.6.3 Partisipasi Dalam Bermasyarakat Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan akan berdampak pada tatanan lingkungan sehingga menjadi lebih harmonis, bersih, aman dan saling menghormati. Kepedulian ini dipotret dari keikutsertaan masyarakat dalam rapat rukun tetangga (RT) selama setahun yang lalu. Hasil Suseda 2004 menggambarkan bahwa sebesar 53,51 persen rumahtangga pernah hadir dalam rapat yang diselenggarakan oleh RT. Persentase ini mengalami kenaikan sebesar 9,05 persen dibanding Tahun 2003. Dalam survei ini tidak digali lebih lanjut alasan ketidakhadiran penduduk dalam rapat RT.

4.6.4 Bantuan Pangan/Sembako/Kredit Disamping meluncurkan kartu sehat pada tahun yang telah lalu untuk keluarga tidak mampu, pemerintah juga melaksanakan program bantuan pangan/sembako/kredit untuk membantu penduduk yang secara ekonomi tergolong miskin. Hasil Suseda 2004 memberi informasi bahwa sebanyak 4.794.086 rumahtangga (45,13 persen) di Jawa Barat pernah mendapat bantuan beras murah dalam periode 1 tahun sebelum survei, bantuan sembako gratis sebesar 2,51 persen, kredit usaha sebesar 1,02 persen dan dana bergulir sebesar 0,94 persen. Dari 4.794.086 rumahtangga yang memperoleh bantuan beras murah, sebanyak 28,54 persen memperoleh sebanyak 3 kali atau kurang dalam setahun, 24,55 persen memperoleh antara 4-7 kali dalam setahun, dan 46,92 persen memperoleh 8 kali atau lebih dalam setahun. Penyaluran beras murah, sembako gratis, pemberian dana bergulir/kredit dalam pelaksanaannya perlu terus dipantau, dimonitoring sehingga tepat sasaran. Pakaian (atau sandang) merupakan salah satu kebutuhan primer manusia selain pangan dan papan. Hasil Suseda 2004, sebesar 90,52 persen rumahtangga, mampu membeli minimal 1 stel pakaian untuk salah satu anggota rumahtangganya.

28

Tabel 7. Persentase Rumahtangga yang memperoleh bantuan beras murah dalam 1 tahun terakhir Tahun 2004

Frekuensi Memperoleh beras murah

Persentase (%)

< 4 kali 4-7 kali 8+ kali

28,54 24,55 46,91

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

4.6.5 Kebiasaan Mengkonsumsi Makanan Sehat dan Bergizi Untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan tubuh manusia perlu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari manusia memerlukan energi yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Makanan dan minuman yang dikonsumsi selain diubah menjadi energi, juga dapat mempengaruhi tingkat perkembangan, kebugaran, kesehatan bahkan tingkat kecerdasan seseorang. Program empat sehat lima sempurna memberi informasi bahwa konsumsi yang kita makan setidaknya mengandung karbohidrat, lauk pauk (protein), sayur mayur, buah-buahan dan disempurnakan dengan mengkonsumsi susu. Suseda 2004 menggali masalah ini. Persentase rumahtangga yang frekwensi konsumsi makanan pokok (karbohidrat) dalam sehari sebelum pencacahan sebanyak 1 – 2 kali sehari sebesar 34,74 persen, dan 65,26 persen rumahtangga frekwensi konsumsi makanan pokok 3 kali atau lebih. Tidak semua rumahtangga mengkonsumsi sayur/buah-buahan dalam sehari terakhir sebelum pencacahan. Hasil Suseda 2004 menunjukkan bahwa sebanyak 1,4 juta rumahtangga (sekitar 12,91 persen) tidak mengkonsumsi sayuran/buah-buahan, sebanyak 6,7 juta rumahtangga mengkonsumsi sayuran/buah-buahan 1 – 2 kali dalam sehari, dan sekitar 24,12 persen yang mengkonsumsi sayuran/buah-buahan 3 kali atau lebih.

29

Demikian juga untuk konsumsi protein nabati. Sebanyak 1,75 juta rumahtangga (sebesar 16,47 persen) tidak mengkonsumsi protein nabati, sebanyak 6,74 juta rumahtangga (63,45 persen) mengkonsumsi protein nabati dengan frekwensi 1 – 2 kali dalam sehari dan sebanyak 20,08 persen rumahtangga yang frekwensi mengkonsumsi protein 3 kali atau lebih dalam sehari. Sedangkan frekwensi mengkonsumsi protein hewani berturut-turut sebanyak 0 kali (36,82 persen rumahtangga); 1 – 2 kali (47,41 persen); dan 3 atau lebih (15,76 persen).

4.6.6. Kebiasaan Merokok Kebiasaan merokok tampaknya sudah menjadi budaya bagi sebagian penduduk Jawa Barat. Walaupun gerakan anti rokok begitu gencar dikampanyekan pemerintah, dan lembaga lain yang peduli dengan kesehatan masyarakat serta tulisan peringatan akan bahaya merokok dalam setiap kemasan rokok, tetapi fakta yang berhasil direkam Suseda 2004 bahwa dari 15,9 juta penduduk laki-laki Jawa Barat usia 10 tahun ke atas, sekitar 63,9 persen atau 10,15 juta penduduk diantaranya pernah merokok. Diantara mereka yang pernah merokok, sebanyak 78,52 persen merokok setiap hari, sedangkan yang hanya kadang-kadang saja merokok sebesar 15,47 persen. Sisanya sekitar 6,01 persen pada saat survei dilaksanakan sudah tidak merokok lagi tapi sebelumnya pernah merokok. Sedangkan untuk perempuan yang pernah merokok sebesar 1,94 persen dari 15,65 juta penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas. Kenyataan yang cukup menarik lainnya sekitar 80,70 persen perokok laki-laki Jawa Barat mengkonsumsi rokok sebanyak 25 batang atau lebih dalam seminggu sedangkan untuk perempuan yang mencapai sebesar 58,10 persen. Sebagian besar perokok, pertama kali merokok pada usia 15 – 19 tahun. Mereka yang masuk golongan ini sebanyak 66,89 persen. Bahkan ada perokok (sekitar 7,35 persen) yang mulai merokok pada usia kurang dari 15 tahun. Fakta ini perlu menjadi perhatian tersendiri bagi pemerhati masalah kesehatan.

30

Tabel 8. Penduduk 10 Tahun ke atas yang Merokok, Jumlah Rokok yang Dihisap, Jawa Barat Tahun 2004 Indikator A. Penduduk yang pernah Merokok Laki-laki Perempuan B. Jumlah Rokok yang Dihisap Seminggu (batang) Jumlah 10.456.479 10.152.539 300.795 Persentase 33,15 63,91 1,94

Laki-laki (yang setiap hari dan kadang-kadang merokok)
1. < 13 2. 13 – 24 3. 25 + 1. < 13 2. 13 – 24 3. 25 + 762.228 1.079.627 7.700.221 53.759 57.532 154.330 7,99 11,31 80,70 10,24 11,31 58,10

Perempuan (yang setiap hari dan kadang-kadang merokok)

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

4.6.7. Menonton Televisi, Membaca Surat Kabar/ Majalah/Tabloid Media massa elektronik maupun media cetak merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan informasi dan menjadi sarana meningkatkan pengetahuan penduduk. Berbagai informasi dan pengetahuan disampaikan ke masyarakat media massa. Mereka yang mengakses media tersebut cenderung pengetahuannya semakin luas dan meningkat. Dalam Suseda 2004, menonton televisi didefinisikan sebagai kegiatan yang mengarahkan perhatian atau meluangkan waktu untuk menonton televisi mengerti isinya dan atau menikmatinya. Sedangkan sehingga surat membaca melalui wawasan

kabar/majalah/tabloid adalah membaca minimal satu topik dan mengerti isi dari topik yang dibacanya. Hasil Suseda 2004 menunjukkan bahwa 3 stasiun televisi yang banyak ditonton penduduk Jawa Barat adalah Indosiar (28,02 persen), SCTV (27,89 persen), dan RCTI (24,49 persen). Selanjutnya adalah TPI (10,09 persen), Tran TV (4,26 persen), dan TV lainnya (5,25 persen). Tidak semua daerah dapat menerima siaran televisi dari stasiun televisi yang ada.

31

Tabel 9. Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas yang Menonton Televisi, Membaca Surat Kabar, Majalah/Tabloid Tahun 2004

Kegiatan Penduduk 10 Tahun ke atas Persentase (%) A. Menonton Televisi Ya Tidak B. Membaca Majalah/Tabloid Ya Tidak C. Membaca Surat Kabar Ya Tidak 15,29 84,71 8,42 91,58 88,66 11,34

Sumber: BPS Propinsi Jawa Barat & Bapeda Propinsi Jawa Barat Hasil Suseda 2004

Penduduk 10 tahun ke atas hasil Suseda 2004 yang menonton televisi sebesar 88,66 persen, yang membaca majalah/tabloid sebesar 8,42 persen, dan membaca surat kabar sebesar 15,29 persen. Laki-laki lebih banyak yang membaca surat kabar (19,38 persen) dibanding perempuan (12,61 persen). Sebaliknya untuk majalah/tabloid, perempuan (8,75 persen) sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki (7,93 persen).

4.7

Kesimpulan dan Saran

Gambaran pencapaian pembangunan SDM dan keadaan sosial ekonomi masyarakat Jawa Barat secara ringkas telah diuraikan dimuka. Pembangunan yang telah dilaksanakan telah membawa kemajuan baik aspek fisik maupun yang menyangkut aspek kesejahteraan rakyat. Meningkatnya tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, dan sedikit membaiknya capaian tingkat angka ekonomi IPM rumahtangga Barat. akan berkontribusi demikian pada meningkatnya Jawa Walupun tantangan

pembangunan ke depan akan selalu ada dan harus dihadapi dan diantisipasi.

32

Struktur umur penduduk masih relatif muda, laju pertumbuhannya relatif tinggi walaupun menunjukkan penurunan. Tantangan penyediaan fasilitas pelayanan masyarakat dan penyediaan lapangan kerja di masa datang masih akan cukup berat. Upaya pengendalian penduduk terus dilakukan dan disertai upaya peningkatan kualitas penduduk. Tingkat pendidikan dan melek huruf penduduk Jawa Barat khususnya penduduk perempuan lebih rendah dibandingkan dengan penduduk laki-laki. Begitu juga dengan kualitas pendidikan dan partisipasi angkatan kerja perempuan masih tampak nyata kesenjangannya. Laju pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi terutama untuk kaum perempuan dan lambatnya kesempatan kerja yang mampu disiapkan pemerintah dan masyarakat telah menyebabkan semakin bertambahnya jumlah penganggur perempuan. Masih banyaknya penduduk Jawa Barat belum mampu akses ke berbagai fasilitas kesehatan yang tersedia. Mereka masih banyak yang terikat pada pola-pola tradisional. Perkawinan usia muda penduduk perempuan masih banyak terjadi. Kondisi ini akan mempersulit tercapainya penurunan laju pertumbuhan penduduk, menghambat upayaupaya besar Pemerintah Daerah Jawa Barat dalam rangka meningkatkan angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Dengan usia perkawinan usia muda akan cenderung mempersulit penurunan tingkat kematian bayi. Angka harapan hidup akan pendek, akibatnya IPM akan sulit ditingkatkan. Masih banyak rumahtangga yang menempati rumah belum memenuhi syaratsyarat kesehatan. Tantangan ini harus dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya. Banyak penduduk Jawa Barat yang hidup dalam keluarga yang berdesak-desakan di rumah yang sempit yang luasnya tidak sesuai dengan jumlah anggota rumahtangganya. Jumlah mereka yang tinggal di rumah-rumah berlantai tanah, dan tanpa penerangan listrik cukup banyak. Mengenai perilaku perokok di Jawa Barat diperoleh gambaran bahwa rata-rata jumlah batang yang dihabiskan dalam seminggu sebanyak 25 batang atau lebih. Merokok bukan saja dilakukan oleh laki-laki tetapi juga perempuan walaupun persentasenya kecil. Perempuan yang merokok tidak hanya akan berpengaruh terhadap kesehatannya tetapi juga akan mempengaruhi janin yang ada dalam rahim manakala perempuan tersebut hamil.

33

Partisipasi masyarakat dalam mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh RT juga masih rendah. Padahal partisipasi ini sangat penting, disamping dapat mengetahui perkembangan di wilayah ke RT an, juga dapat mempererat silaturahmi warga yang pada akhirnya dapat memperkokoh rasa saling percaya dan tercipta kondisi lingkungan yang aman dan damai. Suseda 2004 Jawa Barat telah memberikan temuan-temuan yang sangat berharga. Ternyata baik dalam kehidupan sosial, ekonomi individu rumahtangga, maupun pada dimensi spiritual, tantangan pembangunan kita sangat tidak ringan. Perencana maupun pelaksana pembangunan di Jawa Barat telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita menyadari sepenuhnya bahwa dampaknya pada perubahan sosial masyarakat tidak dapat dirasakan dengan cepat. Diantara banyak permasalahan yang telah dikemukakan, tampaknya di tahun 2005 diperlukan identifikasi mana yang akan menjadi prioritas penanganan. Jika salah satu ukuran penting keberhasilan pembangunan sosial kita adalah angka IPM yang perlu ditingkatkan, maka upaya ekstra kuat untuk meningkatkan angka melek huruf, menciptakan pendidikan murah dan terjangkau, pendewasaan usia kawin dan upaya penciptaan lapangan kerja produktif sebanyak-banyaknya merupakan prioritas yang menuntut penanganan sungguh-sungguh, cermat, dan bersifat lintas sektor. Tentu saja upaya untuk terus meningkatkan kesejahteraan rumahtangga dikalangan masyarakat sebagai salah satu faktor yang sangat penting. Indikator-indikator statistik yang obyektif dan penting telah dihadirkan oleh Suseda 2004. Semua pihak yang terlibat intensif sebagai perencana, pelaksana, dan pengendali pembangunan seyogyanya mencermati angka-angka statistik yang dihasilkan, karena hanya dengan menggunakan perangkat dan data statistik yang benar, realitas sosial ekonomi masyarakat secara jernih dapat kita pahami. Monitoring secara berkesinambungan sangat diperlukan dan kebutuhan. Bandung, Agustus 2004 BPS Propinsi Jawa Barat Suseda setiap tahun menjadi

34


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:294
posted:7/7/2009
language:Indonesian
pages:24
Description: Survey Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) Jawa Barat Tahun 2004