Kerja Praktek Ku by NurHadiFianto

VIEWS: 1,402 PAGES: 78

More Info
									                     LAPORAN KERJA PRAKTIK


           SISTEM TRANSMISI ISDN DAN XDSL SEBAGAI
           LAYANAN TEKNOLOGI BERBASIS JARLOKAT
                (JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA)
           DI PT. TELKOM,Tbk. ACCESS NETWORK AREA
                     KANDATEL PURWOKERTO




                             Disusun oleh:
                         NUR HADI FIANTO
                          NIM I1A004062




Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan pada Pendidikan Strata Satu
                       Fakultas Sains dan Teknik
                    Universitas Jenderal Soedirman

              DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
               UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
                   FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
                PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
                           PURWOKERTO
                                 2008
                            LEMBAR PENGESAHAN FAKULTAS


                                  LAPORAN KERJA PRAKTIK


                      SISTEM TRANSMISI ISDN DAN XDSL SEBAGAI
                      LAYANAN TEKNOLOGI BERBASIS JARLOKAT
                          (JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA)
                      DI PT. TELKOM,Tbk. ACCESS NETWORK AREA
                                  KANDATEL PURWOKERTO


Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan pada Pendidikan Strata Satu Fakultas Sains dan Teknik
                                  Universitas Jenderal Soedirman
                                          disusun oleh :
                                         Nur Hadi Fianto
                                         NIM I1A004062

                      Diterima dan disetujui
                      Tanggal :


                                          Disetujui oleh :
                                          Pembimbing Utama




                                       Hesti Susilawati, ST, MT
                                           NIP 132257747

                                               Mengetahui,
                                         Ketua Jurusan Teknik



                                   Ir. Agus Margiwiyatno, MS.,PhD.
                                            NIP 131660162
                          LEMBAR PENGESAHAN PERUSAHAAN

                                 LAPORAN KERJA PRAKTIK


                      SISTEM TRANSMISI ISDN DAN XDSL SEBAGAI
                      LAYANAN TEKNOLOGI BERBASIS JARLOKAT
                            (JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA)
                      DI PT. TELKOM,Tbk. ACCESS NETWORK AREA
                                 KANDATEL PURWOKERTO




Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan pada Pendidikan Strata Satu Fakultas Sains dan Teknik
                                 Universitas Jenderal Soedirman




                                          disusun oleh :
                                        Nur Hadi Fianto
                                        NIM I1A004062



                                    Pelaksanaan Kerja Praktik
                         Tanggal 1 Februari 2008 s/d 29 Februari 2008




                                Telah diperiksa dan disetujui oleh:


                                     Pembimbing Lapangan




                                            Sugiyono
                                           NIK 591604
                                         KATA PENGANTAR


         Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan

rahmat, hidayah serta karunia-Nya sehingga penulis dapat diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan

kerja praktik ini.

         Kemajuan teknologi yang begitu pesat menuntut kita untuk selalu belajar banyak agar tidak

ketinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pada era globalisasi nantinya dimana kebebasan

diberikan sepenuhnya, maka daya saing yang akan kita hadapi dalam menyongsong masa depan akan

semakin menyulitkan. Hal tersebut diatas memacu kita untuk terus belajar mengenai ilmu pengetahuan

dan teknologi baru yang terus berjalan cepat seiring perubahan jaman.

         Laporan kerja praktik yang berjudul “Sistem Transmisi ISDN dan xDSL Sebagai Layanan

Teknologi Berbasis Jarlokat (Jaringan Lokal Akses Tembaga) di PT. Telkom,Tbk. Access Network Area

Kandatel Purwokerto ” ini, penulis susun untuk memenuhi kurikulum akademis sebagai salah satu syarat

kelulusan yang ada di Strata Satu Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada :

                      a. Bapak Ir. H. Purnama Sukardi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknik

                         Unsoed.

                      b. Bapak Tomy selaku Manager Access Area Network Purwokerto PT.

                         Telekomunikasi Indonesia, Tbk yang telah memberi kesempatan melaksanakan

                         kerja praktik pada tempat yang bapak pimpin.

                      c. Ibu Hesti Susilawati,S.T.,M.T. selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro

                         Universitas Jenderal Soedirman.

                      d. Bapak Sugiyono selaku Pembimbing Lapangan.
                    e. Bapak Slamet, Amin, dan Haryanto yang telah bersedia berbagi ilmu.

                    f. Ibu Hesti Susilawati,S.T.,M.T. selaku Dosen Pembimbing kerja praktik.

                    g. Seluruh Staf dan Karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Access area

                        Network Purwokerto yang telah memberi bantuan selama melaksanakan kerja

                        praktik.

                    h. Kedua orang tua yang sangat saya sayangi, yang telah banyak berkorban serta

                        tulus ikhlas memberikan kasih sayangnya kepada penulis.

                    i. Adik-adiku, Zaki dan Riski semoga kalian dapat menjadi orang yang

                        bermanfaat untuk agama dan keluarga tentunya.

                    j. Seseorang yang paling baik Qonita, SE yang selama ini memberikan semangat

                        dan dukungan tanpa henti.

                    k. Teman-teman Electrical Engineering Community 2004 (e_ling ’04) dan the

                        e_ling’04 angel’s yang telah memberi dukungan doa dan semangat dalam

                        menyelesaikan laporan kerja praktik ini.

                    l. Teman-teman Kost Bonjer II, yang selama ini menemani saya untuk menjalani

                        hidup di Purwokerto.

                    m. Pihak-pihak lain yang belum penulis sebutkan.

        Penulis menyadari bahwa laporan kerja praktik ini masih banyak kekurangannya dan jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Harapan penulis

adalah laporan kerja praktik ini bisa bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan ataupun mengingatkan

kembali kepada penulis maupun pembaca.
Purwokerto, April 2008



    Penulis
                                                                     DAFTAR ISI



Halaman Judul.....................................................................................................       i
Halaman Pengesahan Fakultas............................................................................. ii
Halaman Pengesahan Perusahaan........................................................................ iii
Kata Pengantar..................................................................................................... iv
Daftar Isi.............................................................................................................. vi
Daftar Tabel......................................................................................................... ix
Daftar Gambar.....................................................................................................       x
BAB I. PENDAHULUAN
     1.1. Latar Belakang........................................................................................         1
     1.2. Ruang Lingkup Kajian............................................................................               2
     1.3. Maksud dan Tujuan................................................................................              2
     1.4. Metode Pengumpulan Data.....................................................................                   3
     1.5. Sistematika Penulisan.............................................................................             3
BAB II. TINJAUAN PERUSAHAAN
       2.1 Sejarah Perusahaan................................................................................            5
       2.2 Peran Telekomunikasi...........................................................................               8
       2.3 Visi dan Misi Perusahaan......................................................................                8
       2.4 Logo, Maskot, Kredo, Budaya Perusahaan...........................................                             9
BAB III. DASAR INFRASTRUKTUR JARLOKAT
        3.1 Jaringan Akses...................................................................................... 12
        3.2 Konfigurasi Jarlokat.............................................................................. 13
        3.3 Konfigurasi Jaringan Hybrid Jarlokat................................................... 15
        3.4 Parameter Elektris Jarlokat................................................................... 16
             3.4.1 Karakteristik dan Performansi Elektrikal Jarlokat........................ 16
             3.4.2 Parameter Elektris......................................................................... 16
                     3.4.2.1 Kontinuitas...................................................................... 17
                     3.4.2.2 Tahanan Isolasi................................................................. 18
                     3.4.2.3 Redaman Saluran.............................................................. 19
                3.4.2.4. Tahanan Loop.................................................................. 21
                3.4.2.5 Impedansi.......................................................................... 22
                3.4.2.6 Crosstalk........................................................................... 24
                3.4.2.7 FEXT (Far End Crosstalk)............................................... 26
                3.4.2.8 NEXT (Near End Crosstalk)............................................ 26
                3.4.2.9 Tahanan Screen................................................................. 27
                3.4.2.10 Grounding....................................................................... 27
                3.4.2.11 S/N.................................................................................. 28
BAB IV. LAYANAN TRANSMISI ISDN ( INTEGRATED SERVICE DIGITAL                                                         NETWORK )
   4.1 Definisi ISDN........................................................................................ 29
    4.2 Kelahiran ISDN.................................................................................... 29
    4.3 Jenis kanal ISDN................................................................................... 32
    4.4 Tipe Akses ISDN.................................................................................. 33
   4.5 Layanan ISDN....................................................................................... 35
        4.5.1 Inter-LAN..................................................................................... 36
        4.5.2 Workgroup.................................................................................... 36
        4.5.3 Sistem Alarm (Remote Security Control).................................... 37
         4.5.4 Video conference......................................................................... 37
         4.5.5 Wide voice................................................................................... 37
         4.5.6 Hi-Q-Fax...................................................................................... 37
         4.5.7 LC (Leased Channel) Back-up.................................................... 38
         4.5.8 Tele-doctor................................................................................... 38
         4.5.9 Bank Account Line...................................................................... 38
   4.6 Kategori Layanan ISDN........................................................................ 39
         4.6.1 Bearer Service.............................................................................. 39
         4.6.2 Teleservice................................................................................... 40
         4.6.3 Supplementary Service................................................................ 40
   4.7 Konfigurasi ISDN.................................................................................. 42
   4.8 Model Terminal Pelanggan................................................................... 45
        4.8.1 Telepon ISDN............................................................................... 55
             4.8.2 Faksimil G-4................................................................................. 46
            4.8.3 Perangkat dan sistem teleconference............................................ 46
            4.8.4 PABX ISDN................................................................................. 46
            4.8.5 PC (Personal Computer) ISDN..................................................... 46
BAB V. TEKNOLOGI XDSL
       5.1 Definisi XDSL....................................................................................... 48
        5.2 Media Transmisi XDSL........................................................................ 48
        5.3 Dasar Sistem XDSL.............................................................................. 49
        5.4 Model Perangkat XDSL........................................................................ 49
             5.4.1 Stand Alone atau Back-to-back.................................................... 50
        5.5 Sejarah Keluarga XDSL....................................................................... 50
             5.5.1 Macam Teknologi XDSL............................................................. 50
             5.5.1.a DSL........................................................................................... 53
            5.5.1.b HDSL........................................................................................ 55
            5.5.1.c SDSL......................................................................................... 58
             5.5.1.d ADSL........................................................................................ 60
                        5.5.1.d.1 Keunggulan ADSL................................................... 67
                        5.5.1.d.2 Bentuk Layanan Bisnis ADSL.................................. 68
                        5.5.1.d.3 Sasaran Pemakai....................................................... 69
                        5.5.1.d.4 ADSL-Lite................................................................ 70
                        5.51.f VDSL........................................................................... 71
BAB VI. PENUTUP
       6.1 Kesimpulan............................................................................................ 79
       6.2 Saran...................................................................................................... 80
Daftar Pustaka...................................................................................................... 81
                                                          DAFTAR TABEL


Tabel 4.1 Tipe Kanal ISDN................................................................................. 33
Tabel 4.2 Tipe Akses ISDN................................................................................. 34
Tabel 5.1 Pengelompokan teknologi xDSL berdasarkan bentuk transmisinya... 51
Tabel 5.2 Perkembangan Teknologi xDSL.......................................................... 52
Tabel 5.3 Kecepatan Data dan Jarak Opersional VDSL ...................................... 73
                                                              DAFTAR GAMBAR


Gambar 3.1 Model Infrastruktur Jarlokat Primer-Sekunder................................13
Gambar 3.2 Model Infrastruktur DCL............................................................... 13
Gambar 3.3 Pengukuran Menggunakan Multimeter.......................................... 17
Gambar 3.4 Model Pengukuran Kontinuitas dengan Pair Checker................... 17
Gambar 3.5 Skema Kabel Terpotong................................................................. 18
Gambar 3.6 Tahanan Isolasi antar Urat Kabel................................................... 18
Gambar 3.7 Model Pengukuran Tahanan Isolasi dengan Insulation Tester...... 19
Gambar 3.8        Prinsip Pengukuran Daya Redaman Kabel................................... 19
Gambar 3.9        Konfigurasi Pengukuran............................................................... 20
Gambar 3.10 Prinsip Pengukuran Daya dengan Menggunakan Oscilator dan level Meter
                   ........................................................................................................21
Gambar 3.11 Prinsip Pengukuran Tahanan Loop............................................... 22
Gambar 3.12 Pengukuran secara Zoc................................................................. 23
Gambar 3.13 Pengukuran secara Zsc.....................................................................24
Gambar 3.14 Prinsip Terjadinya FEXT............................................................. 26
Gambar 3.15 Prinsip Pengukuran FEXT..............................................................26
Gambar 3.16 Prinsip Terjadinya NEXT............................................................. 26
Gambar 3.17 Prinsip Pengukuran NEXT............................................................ 27
Gambar 3.18 Skema Raman Fiber Amplifiers (RFAs)....................................... 30
Gambar 3.19 Karakteristik single-mode............................................................. 31
Gambar 3.20 Karakteristik dispersi.......................................................................32
Gambar 3.21 Skema WDM receiver.................................................................. . 35
Gambar 3.22 Metropolitan Area Add/Drop WDM dengan multi-wavelength source                                                       37
Gambar 3.23 Operasi add-drop di stasiun end-users.......................................... 38
Gambar 4.1         Konsep IDN dan ISDN................................................................ 30
Gambar 4.2        Aplikasi Layanan ISDN..................................................................36
Gambar 4.3         Konfigurasi ISDN secara umum.................................................. 42
Gambar 4.4         Contoh Terminal Adapter............................................................ 44
Gambar 4.5         Telepon ISDN..................................................................................45
Gambar 5.1 Model Interkoneksi Stand Alone (Back-to-back)............................50
Gambar 5.2 Konfigurasi DSL untuk Aplikasi Internet...................................... 55
Gambar 5.3 Konfigurasi Umum Modem HDSL................................................ 57
Gambar 5.4 Konfigurasi HDSL......................................................................... 58
Gambar 5.5 Topologi ADSL.............................................................................. 65
Gambar 5.6 Konfigurasi ADSL......................................................................... 66
Gambar 5.7 DMT..................................................................................................69
Gambar 5.8         Konfigurasi G.Lite (Spliterless DSL)........................................... 71
Gambar 5.9         Konfigurasi VDSL........................................................................ 76
Gambar 5.10 Konfigurasi VDSL........................................................................ 76
                                Gambar 5.11 Konfigurasi Implementasi..........................78
                                                BAB II
                                     TINJAUAN PERUSAHAAN




2.1. Sejarah Perusahaan
         PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara
informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap
(full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM (yang selanjutnya disebut juga
Perseroan atau Perusahaan) menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon
tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data & internet dan network &
interkoneksi baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi.
         Sampai dengan 31 Desember 2006 jumlah pelanggan TELKOM sebanyak 48,5 juta pelanggan
yang terdiri dari pelanggan telepon tidak bergerak kabel sejumlah 8,7 juta, pelanggan telepon tidak
bergerak nirkabel sejumlah 4,2 juta pelanggan dan 35,6 juta pelanggan jasa telepon bergerak.
Pertumbuhan jumlah pelanggan TELKOM di tahun 2006 sebanyak 30,73% telah mendorong kenaikan
Pendapatan Usaha TELKOM dalam tahun 2006 sebesar 23% dibanding tahun 2005.
         Sejalan dengan visi TELKOM untuk menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan
regional serta mewujudkan TELKOM Goal 3010 maka berbagai upaya telah dilakukan TELKOM untuk
tetap unggul dan leading pada seluruh produk dan layanan.
         Hasil upaya tersebut tercermin dari market share produk dan layanan yang unggul di antara para
pemain telekomunikasi. Selama tahun 2006 TELKOM telah menerima beberapa penghargaan baik dari
dalam maupun luar negeri, di antaranya The Best Value Creator, The Best of Performance Excellence
Achievement, Asia’s Best Companies 2006 Award dari Majalah Finance Asia.




         Saham TELKOM per 31 Desember 2006 dimiliki oleh pemerintah Indonesia (51,19%) dan
pemegang saham publik (48,81%), yang terdiri dari investor asing (45,54%) dan investor lokal (3,27%).
Sementara itu harga saham TELKOM di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2006 telah meningkat sebesar
71,2% dari Rp 5.900,- menjadi Rp 10.100,-. Kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir 2006 sebesar
USD 22,6 miliar.
         Dengan pencapaian dan pengakuan yang diperoleh TELKOM, penguasaan pasar untuk setiap
portofolio bisnisnya, kuatnya kinerja keuangan, serta potensi pertumbuhannya di masa mendatang, saat ini
TELKOM menjadi model korporasi terbaik Indonesia.
         Pada awalnya PT. TELKOM bernama Post-En Telegraftdless Post-En Telegraftdless yang
didirikan oleh perusahaan swasta Hindia Belanda pada tahun 1884. Pada tahun 1906, perusahaan ini
diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan tepat 1927 ditetapkan sebagai perusahaan Negara
berbentuk jawatan dengan nama Post Telegrafen Telefoondients atau disebut PTT Dients.
         Melalui Perpu No.204 Th 1961, perusahaan ini dilebur menjadi satu dalam suatu perusahaan
Negara Post dan Telekomunukasi di Sumatra. Pemerintah memisah             perusahaan Negara Post dan
Telekomunikasi menjadi 2 perusahaan milik Negara, yaitu PN Post dan Giro, dan PN Telekomunukasi.
         Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1965 maka berdirilah Perusahan Pos dan Giro
(PN Pos dan Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi) diatur dalam peraturan
pemerintah No. 30 tahun 1965. Bentuk ini pun dikembangkan menjadi Perusahaan Umum (PERUM)
Telekomunikasi melalui Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 1974. Dalam peraturan tersebut dinyatakan
pula Perusahaan Umum Telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri. Tentang hubungan
telekomunikasi luar negeri pada saat itu juga diselenggarakan oleh PT. Indonesian Satellite Corporation
(Indosat) yang masih berstatus perusahaan asing, yakni dari American Cable & Radio Corporation.
American Cable & Radio Corporation adalah suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan Peraturan
Perundangan Negara bagian Delaware, Amerika Serikat .
         Pada tahun 1980, bisnis telekomunikasi Internasional dipindahkan dari Perumtel ke Indosat.
Tahun1991, Pemerintah mengubah Perumtel dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Negara dengan
layanan untuk masyarakat umum sebagai tujuan utama perusahaan, yaitu Persero. Perusahaan Negara
mempunyai keterbatasan kewajiban untuk tujuan komersial, yang kemudian berubah nama menjadi
Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Telekomunikasi Indonesia atau PT. TELKOM pada tahun 1995.
         Daerah Bisnis TELKOM terbagi menjadi 12 unit operasi regional, yang dikenal dengan nama
Witel, dimana semua dikontrol oleh kantor pusat TELKOM di Bandung, Jawa barat. Tiap Witel
mempunyai struktur manajemen sendiri yang bertanggung jawab untuk segala aspek bisnis TELKOM
dalam wilayah mereka, dari penyediaan jasa telepon hingga kegiatan manajemen dan pengamanan,
meskipun mereka bukan merupakan perusahaan berorientasi keuntungan yang terpisah.
           Sebagai bagian dari Restrukturisasi, kegiatan bisnis perusahaan terbagi kedalam 3 area utama,
yaitu :
                      2.1 Primary Businesses (Bisnis Utama)
          Bisnis Utama perusahaan adalah menyediakan jasa sambungan lokal dan sambungan lokal jarak
          jauh. Bisnis yang berhubungan termasuk jasa seluler bergerak, saluran sewa, telex, penyewaan
          satelit transponder, VSAT dan berbagai jasa tambahan lainnya.
                      3.1 Related Businesses (Bisnis Sampingan)
          Bisnis sampingan merupakan bisnis yang tidak dioperasikan langsung oleh TELKOM, tapi melalui
          kerja sama joint venture dimana TELKOM mempunyai keuntungan langsung dan tidak langsung.
                      4.1 Jasa Pendukung Bisnis atau overhead perusahaan.
           Sebagai bagian dari restrukturisasi, TELKOM menghilangkan struktur Witel dan membuat
delapan Divisi Operasi pada tanggal 1 Juli 1995, termasuk tujuh Divisi Regional (Divre) dimana penyedia
jasa telepon tidak berdasarkan wilayahnya dan divisi jasa jaringan dimana menyediakan jasa sambungan
lokal jarak jauh melalui operasi secara nasional infrastruktur jaringan transmisi. Fungsi tiap divisi adalah
terpisah, tim bergerak dalam desentralisasi (tidak terpusat) manajemen dan aspek biaya dan keuntungan
dibagi terpisah, dengan menjaga internal aspek keuangan masing-masing.
           Perusahaan juga mengorganisasi jasa pendukung bisnis untuk penyediaan jasa informasi,
memperbaiki, pelatihan dan pendukung manajemen dalam divisi Regional TELKOM. Dari Divisi I
sampai VI mewakili wilayah geografis Indonesia seperti : Divisi I Sumatra; Divisi II, Jakarta dan
sekitarnya; Divisi III, Jawa Barat; Divisi IV, Jawa Tengah; Divisi V, Jawa Timur; Divisi VI, Kalimantan;
Divisi VII, Indonesia Timur. Pemetaan terangkum dari lokasi wilayah divisi-divisi I, II, III, VI dan VII
beroperasi dengan unit KSO dengan mewakili nama TELKOM, untuk TELKOM dan investor KSO
masuk tanggal 1 Januari 1996.


2.2. Peran Telekomunikasi
          Melalui Telekomunikasi, maka :
    1. Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa.
    2. Memperlancar kegiatan pemerintahan dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan.
    3. Mendorong upaya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
    4. Sebagai suatu fasilitas dalam memperlancar pertumbuhan ekonomi
   5. Dapat mempererat hubungan antar bangsa.


2.3. Visi dan Misi Perusahaan
     Visi
     “To become a leading InfoCom player in the region”
     Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia
     Tenggara, Asia dan akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik.
     Misi
1. To Provide One Stop Services with Excellent Quality and Competitive Price
            Telkom mempunyai misi memberikan layanan " One Stop InfoCom " dengan jaminan bahwa
            pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan jaringan
            berkualitas, dengan harga kompetitif.
2. Managing Business Through Best Practices, Optimizing Superior Human Resource, Competitive
   Technology, and Synergizing Business Partners
            Telkom akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan
            sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun
            kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.


2.4. Logo, Maskot, Kredo, Budaya Perusahaan
                    1.1 Logo
                 Keterangan Logo PT. Telekomunikasi Indonesia :
            a. Bentuk bulatan dari logo melambangkan : Keutuhan Wawasan Nusantara; Ruang gerak
                  TELKOM secara nasional dan internasional.
            b. TELKOM yang mantap, modern, luwes dan sederhana.
            c. Warna biru tua dan biru muda bergradasi melambangkan teknologi telekomunikasi tinggi /
                  canggih yang terus berkembang dalam suasana masa depan yang gemilang.




         4. Kredo




                 Arti Kredo :
1. Kami selalu fokus kepada pelanggan.
2. Kami selalu memberikan pelayanan yang prima dan mutu produk yang tinggi serta harga yang
   kompetitif.
3. Kami selalu melaksanakan segala sesuatu melalui cara-cara yang terbaik (Best Practices).
4. Kami selalu menghargai karyawan yang proaktif dan inovatif dalam peningkatan produktivitas dan
   kontribusi kerja.
5. Kami selalu berusaha menjadi yang terbaik.
         5. Maskot
                 Maskot Be Bee :
                 2.2 Antena Lebah, sensitive terhadap segala keadaan dan perubahan.
                 3.2 Mahkota Kemenangan.
                 4.2 Mata yang Tajam dan Cerdas.
                 5.2 Sayap Lincah dan Praktis.
                 6.2 Tangan Kuning memberikan Karya Yang Terbaik
                 Filosofi di balik sifat dan perilaku Be Bee :
                       Lebah tergolong makhluk sosial yang senang bekerja sama, pekerja keras, mempunyai
                 kesistemen berupa pembagian peran operasional dan fungsional untuk menghasilkan yang
                 terbaik yaitu madu yang bermanfaat bagi berbagai pihak. Di habitatnya lebah mempunyai
              dengung sebagai tanda keberadaannya dan loyal terhadap kelompok berupa perlindungan
              bagi koloninya, maka akan menyerang bersama jika diganggu. Lebah memiliki potensi diri
              yang baik berupa tubuh yang sehat. Liat dan kuat sehingga bisa bergerak cepat, gesit dan
              efektif dalam menghadapi tantangan alam. Lebah berpandangan jauh ke depan dengan
              merancang sarang yang kuat dan efisien, berproduksi, berkembang biak dan menyiapkan
              persediaan makanan bagi kelangsungan hidup koloninya.
       6. Budaya TELKOM
                                        THE TELKOM WAY 135
                   Sabagai budaya korporasi yang dikembangkan, TELKOM merupakan bagian yang
              penting dari upaya perusahaan untuk meneguhkan hati, merajut pikiran dan menyerasikan
              langkah semua insan TELKOM dalam menghadapi persaingan bisnis InfoCom. Di dalamnya
              terkandung berbagai unsur, yang secara integral harus menjiwai insan TELKOM, yakni :
              a. Satu asumsi dasar yang disebut :


              b. Tiga nilai inti, mencakup :
1. Custemer Value
2. Exellent Service
3. Competent People
              c. Lima langkah perilaku untuk memenangkan persaingan, terdiri dari :
1. Stretch the Goals
2. Simplify
3. Involve Everyone
4. Quality is My Job
5. Reward the Wnners
                                                BAB III
                              DASAR INFRASTRUKTUR JARLOKAT


3.1 Jaringan Akses
        Dari konsep FTP (Fundamental Telecommunication Plan) 2000 Jaringan Akses didefinisikan
sebagai seluruh jaringan transmisi yang menghubungkan service node dan user node. Antara service node
dan jaringan akses menggunakan interface layanan (SNI) dan antara jaringan akses dan user node
menggunakan interface pengguna (UNI). Jaringan lokal akses adalah media transmisi yang disediakan
untuk hubungan dari penyedia layanan, dalam hal ini seperti sentral ISDN (sentral lokal) menuju ke
pelanggan. Sementara media transmisi penghubung antar sentral biasa dikenal dengan istilah jaringan
trunk atau jaringan backbone. Berdasarkan jenis media transmisi, PT TELKOM membagi jaringan lokal
akses ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:
       a. Jaringan Lokal Akses Tembaga (JARLOKAT)
       b. Jaringan Lokal Akses Fiber Optik (JARLOKAF)
       c. Jaringan Lokal Akses Radio (JARLOKAR)
        Dengan melihat perkembangan teknologi jaringan akses, terdapat teknologi akses yang
menggunakan media transmisi campuran atau dikenal dengan istilah hybrid seperti kombinasi jaringan
akses fiber dengan jaringan koaksial dan jaringan fiber dengan jaringan kabel tembaga.
Teknologi yang berkembang di jaringan akses saat ini antara lain:
       a. Teknologi berbasis Jarlokat : ISDN, xDSL.
       b. Teknologi berbasis Jarlokaf : PON, AON, DLC.
       c. Teknologi berbasis Jarlokar : PHS, DECT, WLAN, Wireless DSL.
       d. Teknologi Hybrid : HFC, DLC, remote DSLAM dan MSOAN.




3.2 Konfigurasi Jarlokat
        Infrastruktur jarlokat secara garis besar terbagi atas dua model jaringan. Pertama model jaringan
primer-sekunder dan model jaringan catu langsung atau disebut dengan istilah DCL (Daerah Catuan
Langsung).
               Gambar 3.1 Model Infrastruktur Jarlokat Primer-Sekunder




                            Gambar 3.2 Model Infrastruktur DCL


a. MDF (Main Distribution Frame)
       Berupa susunan rak/frame yang digunakan sebagai titik awal interkoneksi jaringan kabel
antara sentral dengan jaringan kabel di luar (outside plant). Susunan rak MDF terdiri atas sisi
horizontal dan vertikal. Sisi horizontal sebagai interkoneksi kabel dari sentral, sementara sisi
vertikal sebagai interkoneksi menuju ke jaringan luar. Tujuan pemisahan interkoneksi ini adalah
untuk kemudahan bila terjadi suatu gangguan atau kerusakan, disamping beberapa keperluan lain
misalnya untuk kemudahan proses change over (pemindahan sentral layanan).
b. Cable vault/chamber
       Berupa suatu ruangan di bawah MDF yang digunakan sebagai tempat meletakkan kabel-
kabel besar yang akan menuju ke luar. Kabel besar tersebut diatur pada rak-rak kabel agar urutan
teratur dan proses pemeliharaannya menjadi tidak sulit.
c. Duct/conduit
       Merupakan rute pipa yang ditanam dalam tanah sebagai tempat jalur kabel. Pipa duct juga
melindungi kabel dari gangguan lingkungan dalam tanah.
d. Manhole
       Manhole mempunyai bentuk semacam bak di dalam tanah sebagai tempat untuk proses
penyambungan jaringan kabel dan sebagai titik pengukuran jaringan kabel bila terjadi gangguan
atau kerusakan.
e. Handhole
       Pada prinsipnya fungsi handhole sama dengan manhole. Hal yang membedakan adalah
ukuran dari handhole lebih kecil jika dibandingkan dengan manhole. Proses penyambungan,
pemeliharaan atau pengukuran jaringan pada handhole dilakukan di luar.
f. CCP (Cross Connection Point) atau RK (Rumah Kabel)
       Merupakan kabinet interkoneksi jaringan kabel primer dengan jaringan kabel sekunder.




g. DP (Distribution Point)
       Merupakan kotak interkoneksi antara jaringan kabel sekunder dengan kabel drop yang
menuju ke rumah-rumah atau gedung. DP dapat terletak di tiang, di dinding suatu bangunan atau
gedung.
h. Demarcation point atau KTB (Kotak Terminal Batas)
             Merupakan titik terminasi yang digunakan untuk interkoneksi kabel drop dengan sistem
      perkabelan di dalam rumah atau dalam gedung.


3.3 Konfigurasi Jaringan Hybrid Jarlokat
             Beberapa teknologi akses mengadopsi model infrastruktur hybrid (kombinasi) khususnya
      dengan jaringan fiber optik. Teknologi hybrid antara jarlokat dengan jarlokaf antara lain:
      a. HFC (Hybrid Fiber Coaxial)
             Teknologi berbasis TV-cable dengan menggunakan infrastruktur jaringan FO mulai sisi
      Headend sampai perangkat Fiber Node atau Distribution dan dikombinasikan dengan jaringan
      kabel koaksial sebagai jaringan distribusi ke pelanggan.
      b. DLC (Digital Loop Carrier)
             Teknologi OAN (Optical Access Network) yang dikombinasikan dengan jaringan kabel
      tembaga dari sisi remote untuk distribusi ke jaringan pelanggan.
      c. MSOAN (Multi Service Optical Access Network)
             Dapat dikatakan sebagai Next Generation DLC.
      d. Remote DSLAM
             Aplikasi teknologi xDSL dimana perangkat DSLAM berada pada cabinet outdoor atau
      cabinet indoor gedung. Perangkat remote DSLAM ada yang termasuk dalam kategori perangkat
      MSOAN.




3.4 Parameter Elektris Jarlokat
      3.4.1 Karakteristik dan Performansi Elektrikal Jarlokat
             Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian untuk memperoleh kualitas pengiriman
      dan penerimaan sinyal transmisi yang baik pada jaringan telekomunikasi adalah dengan menjaga
      nilai karakteristik elektris jaringan kabel sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Nilai ini
      akan mencerminkan baik atau buruknya kondisi dari jaringan kabel tersebut. Apa saja parameter
      dari karakteristik elektris yang dibutuhkan tergantung dari sistem transmisi apa yang digunakan,
      analog atau digital dan berapa kecepatan bit yang diperlukan, serta dengan melihat teknologi apa
      yang akan dilalukan pada jaringan kabel tersebut.
3.4.2 Parameter Elektris
         Parameter elektris Jarlokat meliputi:
a. Kontinuitas
b. Tahanan Isolasi
c. Redaman Saluran
d. Tahanan Loop
e. Impedansi
f. Crosstalk (FEXT dan NEXT)
g. Tahanan Screen
h. Grounding
i. S/N
j. BER
k. Longitudinal Balance
l. Wideband Noise
m. Impulse Noise
             3.4.2.1 Kontinuitas
                 Pengukuran kelurusan urat-urat kabel (urat a dan b) pada suatu pair kabel.
         Memastikan bahwa secara elektris urat-urat kabel dari ujung ke ujung lainnya tersambung
         baik, tidak terputus baik untuk kabel yang belum diinstalasi, dalam tahapan instalasi
         maupun sesudah instalasi. Pengukuran kontinuitas dilakukan dapat dilakukan dengan
         perangkat pair checker atau multimeter dengan metode open dan short antar urat a dan b.
         Ada dua metode pengukuran, yaitu:
                           n. Menggunakan Multimeter (AVO Meter)
                       Gambar 3.3 Pengukuran Menggunakan Multimeter


       Apabila kita menggunakan Multimeter, maka kontinuitas kabel ditunjukkan dengan nilai
tahanan tertentu atau dengan bunyi tone.
                        o. Menggunakan Pair Checker




                Gambar 3.4 Model Pengukuran Kontinuitas dengan Pair Checker


       Kontinuitas saluran dicek dengan mengirim nada berfrekuensi 550 ± 100 Hz yang
dibangkitkan dan dipancarkan oleh alat ukur dan dipasangkan pada ujung kabel yang satu. Nada
tersebut dapat didengar dengan headphone melalui alat penerima pada ujung kabel lainnya.
           3.4.2.2 Tahanan Isolasi
              Pengukuran nilai tahanan isolator kabel (pembungkus konduktor kabel) terhadap
       kebocoran listrik yang terjadi antara urat yang diukur dengan urat lainnya maupun antara
       urat yang diukur dengan pentanahan (grounding). Transmisi sinyal informasi yang melalui
       konduktor kabel secara umum tidak terpengaruh terhadap nilai tahanan isolasi.
                             Gambar 3.5 Skema Kabel Terpotong




                         Gambar 3.6 Tahanan Isolasi antar Urat Kabel


       Pengukuran tahanan isolasi dilakukan secara end-to-end jaringan. satuan/unit
tahanan isolasi adalah Ohm (Ω).
     Gambar 3.7 Model Pengukuran Tahanan Isolasi dengan Insulation Tester


    3.4.2.3 Redaman Saluran
       Impedansi karakteristik merupakan suatu nilai redaman yang pasti ada pada semua
media transmisi, termasuk kabel tembaga. Sementara pada frekuensi kerja sistem, kabel
tembaga menghasilkan redaman saluran yang besarnya berbeda-beda tergantung frekuensi
kerjanya. Redaman pada kabel tembaga disebabkan karena konduktivitas konduktor yang
tidak sempurna dan juga disebabkan oleh resistansi dielektrik yang berhingga (idealnya tak
terhingga). Redaman ini merupakan kerugian daya yang terjadi dalam saluran. Definisi
redaman ialah nilai logaritma dari daya sumber dibagi dengan daya yang di dapat dari
pengukuran. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui kerugian daya yang terjadi dalam
saluran.




                     Gambar 3.8 Prinsip Pengukuran Daya Redaman Kabel




                       Gambar 3.9 Konfigurasi Pengukuran


       Pengukuran kemampuan konduktor kabel jika dilalui sinyal informasi pada
frekuensi sinyal tertentu. Dalam kalimat lain mengukur redaman saluran adalah mengukur
besarnya redaman/loss sepanjang kabel. Berbeda pada pengukuran kontinuitas atau tahanan
isolasi dimana kabel tidak dilewati sinyal informasi, maka pada pengukuran redaman
saluran, kabel akan dilewatkan suatu sinyal informasi. Pengukuran redaman kabel dapat
menggunakan perangkat oscilator (generator sinyal) dengan level meter atau menggunakan
alat ukur xDSL. Satuan/unit redaman saluran adalah Decibell (dB).


Redaman saluran = 10 log (Po / Pi).....................(Persamaan 3.1)


        Pengukuran kemampuan konduktor kabel jika dilalui sinyal informasi pada
frekuensi sinyal tertentu. Dalam kalimat lain mengukur redaman saluran adalah mengukur
besarnya redaman/loss sepanjang kabel. Berbeda pada pengukuran kontinuitas atau tahanan
isolasi dimana kabel tidak dilewati sinyal informasi, maka pada pengukuran redaman
saluran, kabel akan dilewatkan suatu sinyal informasi. Pengukuran redaman kabel dapat
menggunakan perangkat oscilator (generator sinyal) dengan level meter atau menggunakan
alat ukur xDSL. Satuan/unit redaman saluran adalah Decibel (dB).




Gambar 3.10 Prinsip Pengukuran Daya dengan Menggunakan Oscilator dan level Meter


        Contoh: Apabila dikirimkan sinyal sebesar 100 mW, kemudian setelah melalui
saluran tersebut ternyata hanya diterima sebesar 10 mW. Maka pada saluran terjadi
redaman sebasar : a = log 10 = 10 log 0,1 = -10 dB 100 artinya redaman saluran itu 10 dB
atau pada oscillator di set pada +20 dBm (10 log 100mW) dan terukur pada level meter
+10 dBm, maka loss yang terjadi adalah selisih level kirim dengan daya terima adalah 10
dB. Pada beberapa alat ukur yang ada saat ini, pengukuran redaman dapat langsung
menunjukkan hasil nilai ukurnya tanpa harus dilakukan perhitungan secara manual seperti
di atas.
    3.4.2.4 Tahanan Loop
           Pengukuran tahanan loop adalah untuk mengetahui nilai resistansi/tahanan murni
kabel. Pengukuran tahanan loop adalah murni nilai resistansi konduktor atau urat kabel.
Pada pengukuran tahanan loop, kabel tidak dilewati suatu sinyal informasi. Tahanan loop
kadang disebut juga dengan istilah tahanan DC (DC Resistance). Pengukuran tahanan loop
dapat menggunakan perangkat multimeter. Satuan/unit tahanan loop adalah Ohm (Ω).


           R = 2.ρ . L.1000 / A................................(Persamaan 3.2)
   Keterangan:
   R = tahanan loop (Ω/km)
   ρ = konduktivitas kabel tembaga = 0,0175 Ω mm2 /m pada 200 C
   L = panjang saluran (m)
   A = luas penampang kabel (mm2 )




                       Gambar 3.11 Prinsip Pengukuran Tahanan Loop


    3.4.2.5 Impedansi
                Dalam setiap media transmisi yang digunakan sebagai saluran sinyal informasi,
         baik itu informasi layanan ISDN terdapat sifat-sifat induktif, kapasitif dan redaman yang
         apabila pada saluran tersebut dilewatkan sinyal dengan frekuensi tertentu atau tegangan
         bolak-balik dengan besar tegangan tertentu. Karena masing-masing sifat induktif, kapasitif
         dan redaman mempunyai perilaku yang berbeda-beda dan saling mempengaruhi, maka
         akan terjadi impedansi saluran. Suatu jaringan kabel tembaga, mempunyai karakteristik
         impedansi saluran tertentu, yang biasa disebut dengan impedansi karakteristik. Impedansi
         karakteristik tergantung pada parameter-parameter induktif, kapasitif, redaman dan juga
         frekuensi yang dirumuskan dalam persamaan:



                    Zo =             Ohm.........................(Persamaan 3.3)



                Keterangan:
                R = tahanan saluran murni atau tahanan jerat (Ohm)
                C = kapasitansi (Farad)
                L = induktansi (Henry)
                G = konduktansi = 1/R (Mho)
                Parameter impedansi ini penting, terutama setelah saluran atau jaringan kabel
         berhubungan dengan sistem perangkat. Hal ini karena pada perangkat juga mempunyai
         nilai impendansi. Impedansi saluran atau jaringan harus bersesuaian dengan nilai
         impedansi perangkat untuk menghindari terjadinya sinyal informasi terpantul balik atau
         terbias (refleksi) yang akan mengurangi kualitas sinyal informasi yang dikirim atau terima.
         Secara praktis ada tiga metode pengukuran yang dapat dilakukan, yaitu :
1. Mengukur Zoc (Open Circuit Impedance)
                                        Gambar 3.12 Pengukuran secara Zoc




   2. Mengukur Zsc (Short Circuit Impedance)




                                        Gambar 3.13 Pengukuran secara Zsc


              c. Mengukur impedansi terhadap frekuensi
2. Untuk keperluan lain sering juga diadakan pengukuran impedansi karakteristik dengan berbagai
   frekuensi. Cara pengukuran maupun alat ukurnya sama dengan yang dipergunakan pada pengukuran
   diatas, namun frekuensinya diubah-ubah mulai 250 Hz sampai 4.000 Hz dengan kenaikan 250 Hz
   untuk jenis layanan POTS. Untuk jenis layanan lainnya dapat disesuaikan dengan frekuensi masing-
   masing.
3. Hasil ukurnya dibuatkan grafik, sehingga dapat diketahui pengaruh berbagai frekuensi terhadap
   impedansi karakteristik.
4. Pengukuran impedansi ini sangat perlu dilakukan terutama pada saluran-saluran junction karena
   biasanya Junction akan dihubungkan dengan perangkat sentral atau transmisi, atau repeater transmisi.
                   3.4.2.6. Crosstalk
                      Croostalk adalah transfer energi elektromagnetik atau coupling dari satu saluran
              transmisi ke saluran transmisi lainnya yang letaknya berdekatan. Parameter ini
dimaksudkan untuk mengetahui sampai seberapa jauh nilai ikut dengar suatu saluran bila
saluran lain dalam jaringan kabel sedang berkomunikasi. Seperti halnya pada komunikasi
telepon, kadang sering terdengar komunikasi dari pembicaraan lain atau suara dari
pemancar radio, dan lainnya.
Ada dua jenis parameter cakap silang, yaitu :
a. NEXT (Near End Cross Talk), cakap silang ujung dekat.
b. FEXT (Far End Cros Talk), cakap silang ujung jauh.


Crosstalk = 10 log (Po / Pi) dB..........................(Persamaan 3.4)


Keterangan:
Po = Daya yang dikirim saluran 1
Pi = Daya yang diterima saluran 2
Dalam pengukuran crosstalk, yang diukur adalah interferensi antar pasangan kabel (pair
kabel) dalam quad yang sama, antar pair kabel dalam quad yang bersebelahan (the
adjoining quad), dan antar pair kabel dalam quad yang terpisah oleh satu quad lainnya (the
next adjoining quad). Crosstalk antara dua pair saluran akan berbeda dengan crosstalk dua
pair saluran lainnya yang terdapat dalam suatu kumpulan pair saluran, dengan kata lain
crosstalk antara pair nomor 10-11 akan berbeda dengan crosstalk antara pair nomor 20-21
pada suatu kabel berisi 100 pair. Demikian pula jika total jumlah pair kabel dalam kabel
berbeda. Crosstalk yang terjadi pada kabel berisi 100 pair berbeda dengan crosstalk yang
terjadi pada kabel berisi 200 pair atau 1200 pair. Untuk panjang kabel yang berbeda
memberikan crosstalk yang berbeda baik NEXT dan FEXT. Hal ini disebabkan karena
semakin panjang kabel maka posisi kabel secara keseluruhan akan berubah, dan perubahan
posisi kabel akan mengakibatkan crosstalk yang berbeda, baik untuk pair dalam quad yang
sama, quad yang bersebelahan, atau quad yang berseberangan terhadap pair referensi.
Secara umum crosstalk yang akan terjadi akan semakin kecil dengan semakin jauhnya
jarak antar pair yang dilalui layanan. Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, faktor
interferensi atau gangguan dari luar, seperti dari motor listrik perangkat pengukuran dapat
diabaikan karena pengaruhnya yang kecil (orde di bawah 100 dBm).
3.4.2.7 FEXT (Far End Crosstalk)
  Istilah lainnya cakap silang jauh.




                   Gambar 3.14 Prinsip Terjadinya FEXT




                   Gambar 3.15 Prinsip Pengukuran FEXT
3.4.2.8 NEXT (Near End Crosstalk)
  Istilah lainnya cakap silang dekat.




                     Gambar 3.16 Prinsip Terjadinya NEXT
                       Gambar 3.17 Prinsip Pengukuran NEXT


    3.4.2.9 Tahanan Screen
       Isolator jaringan kabel tembaga dibuat dari bahan alumunium foil, berupa pita
alumunium yang dipasang secara tumpang tindih melilit sepanjang kabel, yang berfungsi
sebagai pengaman urat-urat kabel dari gangguang tegangan luar (asing). Dalam
penerapannya alumunium foil ini harus terhubung dengan baik ke grounding yang ada di
setiap titik interkoneksi jaringan kabel, baik di MDF, RK dan DP. Setiap urat kabel harus
mempunyai nilai tahanan screen terhadap grounding, maupun antar urat-urat kabel sesuai
dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran besarnya resistansi screen (alumunium foil) di
sepanjang kabel. Satuan/unit dari tahanan screen adalah Ohm (Ω).
    3.4.2.10 Grounding
       Semua perangkat aktif harus dihubungkan dengan grounding atau dikenal juga
dengan istilah pentanahan, yang tujuannya adalah untuk membuang arus/tegangan petir dan
arus/tegangan asing. Satuan/unit dari grounding adalah Ohm (Ω). Parameter ini sebagai
standar parameter sistem telekomunikasi dan juga berlaku untuk jaringan. Parameter ini
untuk mengetahui nilai tahanan tanah dari jaringan dan kelengkapannya (misalnya RK,
KTB, DP dan lain-lain) yang tujuannya adalah untuk membuang arus/tegangan petir dan
arus/tegangan asing.


    3.4.2.11 S/N
       Definisi dari Signal to Noise Ratio, perbandingan antara level sinyal informasi
dengan noise yang mengganggunya. Satuan/unit dari S/N adalah dB. Makin besar nilai S/N
maka makin baik performansi sistem yang ada. Perhitungan Signal to Noise Ratio akibat
cakap silang self-FEXT adalah sebagai berikut :
S/N = S(f)/NF (f) = 1/(kxdxf2 ) ..........................(Persamaan 3.5)
Keterangan:
k = 8x10-20 , secara empiris diperoleh dari pengukuran FEXT
d = panjang loop (m)
f = frekuensi (Hz)
                                                     BAB IV
                                        LAYANAN TRANSMISI ISDN


4.1 Definisi ISDN
        Secara bahasa ISDN merupakan singkatan dari Integrated Service digital Network, yang secara
umum berarti suatu bentuk jaringan komunikasi digital yang dapat memberikan beberapa layanan secara
terpadu. Definisi ISDN berdasarkan CCITT Recommendation I.110, 1998 adalah :
"…. a network, in general evolving from a telephony Integrated Digital Network (IDN) , that provides
end-to-end digital connectivity to support a wide range of services, including voice and non-voice
services, to which users have access by a limited set of standard multi-purpose network interfaces".
        Dari beberapa referensi, ISDN didefinisikan sebagai suatu jaringan yang secara umum ber-
evolusi dari suatu jaringan telepon digital IDN (Integrated Digital Network) yang menyediakan hubungan
komunikasi digital secara penuh (end to- tend) untuk menunjang layanan berbasis suara dan non-suara,
melalui jaringan akses dengan antarmuka standar. Di Indonesia, ISDN dikenal dengan istilah PASOPATI
yang merupakan singkatan dari Paduan Solusi Teknologi Informasi. ISDN atau yang dikenal dengan
istilah PASOPATI merupakan hasil evolusi jaringan telepon PSTN yang mampu memberikan berbagai
macam layanan melalui antarmuka standar.


4.2 Kelahiran ISDN
        Alih teknologi sentral analog ke dalam bentuk digital dan perkembangan kemampuan media
transmisi untuk mengirimkan sinyal digital merupakan proses awal perubahan konsep jaringan telepon.
Sejak saat itu cikal bakal ISDN lahir, diawali dengan lahirnya konsep IDN, dimana sistem IDN masih
menggunakan sistem analog pada titik jaringan pelanggan.
                                    Gambar 4.1 Konsep IDN dan ISDN


Keterangan:
LX = Local exchange
TX = Transit exchange
A/D = analog to digital converter
D/A = digital to analog converter
        Banyak faktor yang mendorong makin berkembangnya teknologi ISDN, seperti:
       a. Pertumbuhan demand layanan komunikasi digital baik suara dan data, khususnya area bisnis dan
          perkantoran untuk kepentingan komunikasi domestik serta internasional.
       b. Tuntutan fleksibilitas, penyederhanaan bentuk dan konfigurasi jaringan yang mengarah kepada
          efektifitas dan kesederhanaan jaringan, serta operasional dan pemeliharaan sistem yang lebih
          sederhana. Dengan demikian maka biaya operasi dan pemeliharaan relatif lebih rendah
          dibandingkan dengan menggunakan banyak macam jaringan.
       c. Evolusi terminal pelanggan ISDN yang makin sederhana, kompak, dan mempunyai nilai daya
          tarik penampilan dengan tetap melihat evolusi konfigurasi jaringan. Teknologi ISDN telah
          mengawali perubahan bentuk pengiriman layanan telekomunikasi. Jika pada masa-masa
          sebelumnya, untuk dapat menyalurkan sinyal informasi melalui telepon, faksimili ataupun
          untuk proses transfer data dilakukan dengan menggunakan media transmisi yang terpisah satu
          dengan yang lainnya, teknologi ISDN menawarkan kemampuan untuk melalukan semua
          layanan tersebut pada sebuah media transmisi yang sama. Teknologi ISDN mempunyai
          kemampuan untuk mengirimkan beberapa layanan analog maupun layanan digital. Penerapan
          jaringan ISDN memberikan kemudahan penerapan berbagai aplikasi komunikasi yang kita
          butuhkan.
        Jaringan ISDN dapat mengirim dan menerima beberapa layanan secara mudah dan terintegrasi.
Teknologi ISDN bersifat integrasi, dalam arti sebagai suatu sistem jaringan tunggal yang dapat
menyediakan berbagai jenis layanan bagi para pelanggan, dan didukung oleh sistem administrasi dalam
proses pelayanannya. Dalam jaringan komunikasi konvensional,pelanggan membutuhkan berbagai
perangkat fisik dan secara fungsi berbeda-beda sesuai dengan permintaan setiap jenis layanan. Sebagai
contoh dahulu layanan transmisi data membutuhkan media penghubung dari terminal data yang harus
dipasang pada sentral dan di sisi pelanggan. Kemudian perangkat sentral data dan terminal harus dapat
bekerja dengan antarmuka X.25. Contoh lainnya adalah layanan data melalui telex, dimana dibutuhkan
jaringan telex antara pemakai sampai dengan sentral telex.
        Sisi lain keunggulan yang ditawarkan oleh ISDN antara lain:
       a. Efektif, dimana kecepatan pengiriman dan penerimaan informasi yang             lebih cepat
          dibandingkan dengan jaringan PSTN. Kualitas layanan yang baik dan jumlah informasinya
          lebih banyak.
       b. Efisiensi, dengan antar muka yang standar memungkinkan pelanggan bebas memilih peralatan
          terminal. Di lain sisi berbagai layanan telekomunikasi dapat dilalukan ke pelanggan dengan
          menggunakan sebuah media transmisi yang sama.
       c. Akurat, dengan sistem transmisi digital diharapkan akan mengurangi kemungkinan terjadinya
          distorsi pada sinyal yang dikirimkan sehingga cacat sinyal dapat ditekan.
       d. Fleksibilitas, dalam penambahan atau pencabutan suatu terminal tidak mempengaruhi terminal
          yang lain, terutama pada saat hubungan. Selain itu teknologi ISDN lebih bersifat ’terbuka’
          terhadap beberapa standar antarmuka sistem. Di sisi lain banyak hal yang harus
          dipertimbangkan sebelum teknologi ISDN tersebut diimplementasikan secara nyata.
          Kemampuan ISDN dalam mengintegrasikan layanan yang ada harus didukung oleh peralatan
          dengan spesifikasi tertentu seperti halnya perangkat terminal, perangkat transmisi dan perangkat
          sentral.
                  Beberapa faktor pertimbangan dalam penerapan teknologi ISDN, antara lain :
       a. Kemampuan sistem sentral dalam menyediakan layanan ISDN.
       b. Sistem billing dari sentral untuk menghitung pulsa pemakaian layanan ISDN.
       c. Karakteristik elektrik jaringan kabel yang dipersyaratkan sebagai media transmisi sinyal ISDN.
       d. Kemampuan interoperability dan sistem interworking antara perangkat ISDN dengan sentral.
       e. Beberapa metode instalasi jaringan kabel dan terminal ISDN.
       f. Proses O,A&M (Operational, Administration and Maintenance) termasuk metode pengetesan
          dan pengukuran.
       g. Otorisasi perangkat ISDN (NT1) pada sisi pelanggan.


4.3 Jenis kanal ISDN
       a. Kanal B
           Kanal ini berfungsi untuk membawa sinyal informasi pengguna ke jaringan dalam bentuk
suara, data, gambar dan video. Kanal ini membawa sinyal informasi dengan laju transmisi 64 Kbps. Kanal
B juga dapat dipakai untuk penyaluran sinyal suara dengan band frekuensi lebar (7 KHz atau 15 KHz).




       b. Kanal D
           Fungsi kanal D adalah untuk menyalurkan sinyal pengaturan/control sinyal dengan kecepatan
16 Kbps atau 64 Kbps (tergantung jenis layanan yang akan digunakan).
       c. Kanal H
Fungsi kanal H sama dengan kanal B, tetapi untuk layanan dengan kecepatan di atas 64 Kbps. Digunakan
untuk keperluan transmisi kecepatan tinggi seperti high-speed data, high quality audio, teleconference dan
video services.


                                         Tabel 4.1 Tipe Kanal ISDN
 Tipe Kanal                    Fungsi                         Kecepatan Bit
      B     Layanan Dasar                                        64 Kbps
     D      5. Sinyal Kontrol                                    16 Kbps
            6. Informasi paket data                              64 Kbps
     H0     Terdiri dari 6 Kanal B :                            384 Kbps
            Kom. Data kecepatan tinggi (high speed
            data)
     H1     Kanal alternatif layanan PRA :                     1,536 Mbps
            H11 = 24 kanal B ( High quality audio)             1,920 Mbps
            H12 = 30 kanal B (tele conference)
     H2     Layanan pita lebar ( broadband) :                 32,768 Mbps
            H21                                               43 – 45 Mbps
            H22
     H4     Layanan pita lebar (broadband)                  132 – 138,24 Mbps

4.4 Tipe Akses ISDN
        Standar layanan ISDN secara garis besar dibagi atas dua kelompok, yaitu: Basic Rate Access
(BRA) dan Primary Rate Access (PRA).
        a. Basic Rate Access (BRA)
           BRA sering juga disebut Micro Access mempunyai kanal 2B + D yaitu dua kanal B yang
masing-masing kecepatannya 64 Kbps dan satu kanal D yang kecepatannya 16 Kbps. Kanal B berfungsi
untuk mengalirkan informasi sedangkan kanal D digunakan untuk keperluan kontrol sinyal. Kecepatan
data untuk pelanggan sebesar 144 Kbps (2B+D) dan total kecepatan data untuk sistem beroperasi sebesar
192 Kbps pada kedua arah (kirim dan terima).
        b. Primary Rate Access (PRA)
           PRA sering juga disebut Macro Access mempunyai dua macam tipe yaitu PRA dengan
kapasitas 1536 Kbps (23B+D) dan 2 Mbps atau tepatnya 1984 Kbps (30B+D) dimana tiap kanal B dan D
masing-masing mempunyai kecepatan 64 Kbps. Pada PRA apabila kanal D tidak sepenuhnya digunakan
untuk signaling maka dapat difungsikan untuk mengalirkan informasi. Tipe PRA yang digunakan di
Indonesia adalah 30
           B + D. Struktur kanal PRA 2 Mbps digunakan untuk sistem PCM 30 dan kanal PRA 1536
Kbps untuk sistem PCM 24.


                                        Tabel 4.2 Tipe Akses ISDN
    Tipe Akses         Struktur Kanal      Kecepatan Data     Kecepatan Data
                                               Total            Pelanggan
       BRA            2 B + D(16)         192 Kbps           144 Kbps
       PRA          23 B + D(64)        1,54 Mbps           1,536 Mbps
                    3 H0 + D(64)        1,54 Mbps           1,536 Mbps
                    4 H0                1,54 Mbps           1,536 Mbps

                    30 B + D(64)        2,048 Mbps          1,984 Mbps
                    5 H0 + D(64)        2,048 Mbps          1,984 Mbps
                    H12 + D(64)         2,048 Mbps          1,984 Mbps



4.5 Layanan ISDN
        Secara garis besar layanan pada ISDN dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
        a. Layanan lingkup kecil (micro access services)
           Layanan ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pada segmen pelanggan perumahan dan
perusahaan kelas menengah yang memerlukan layanan dalam bentuk suara, teks, data dan gambar.
Kecepatan transmisi maksimal yang dialokasikan sampai dengan 144 Kbps yang terdiri atas kanal 2B+D.
Kanal B 64 Kbps akan digunakan untuk membawa sinyal informasi berupa suara, teks, data dan gambar.
Kanal D 16 Kbps digunakan untuk mendukung proses pensinyalan selama pengiriman sinyal informasi.
Jumlah terminal pelanggan yang dapat terhubung pada layanan ini maksimal 8 terminal. Layanan lingkup
kecil ini identik dengan tipe akses ISDN BRA.
        b. Layanan lingkup besar (macro access services)
           Layanan macro access menyediakan tuntutan kebutuhan pelanggan bisnis menengah ke atas
dengan kebutuhan kecepatan dan kapasitas layanan yang lebih besar disamping kualitas dan sisi keamanan
yang lebih. Kecepatan transmisi untuk layanan ini sebesar 1984 Kbps yang terdiri dari 30 kanal B
ditambah 1 kanal D sebesar 64 Kbps. Layanan macro access lebih dikenal dengan sebutan layanan 2
Mbps. Model layanan lingkup besar yang lain sebesar 1536 Kbps yang terdiri dari 23 kanal B ditambah
satu kanal D sebesar 64 Kbps. Dengan alokasi kecepatan yang besar ini, aplikasi layanan yang dapat
dikirimkan selain suara, data, dan gambar juga dapat dipergunakan untuk layanan video conference.
Layanan lingkup besar ini identik dengan tipe akses ISDN PRA.
                          Gambar 4.2 Aplikasi Layanan ISDN


     Gambaran umum aplikasi ISDN seperti di atas dapat dijabarkan seperti berikut:
4.5.1 Inter-LAN
       Dalam keperluan dimana dibutuhkan suatu sistem komunikasi data intern sebuah institusi,
maka inter-LAN menjadi salah satu solusi yang handal dalam hal ini. Jaringan LAN berbasis 64
Kbps menawarkan solusi efisiensi pemakaian jaringan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan
yang ada.
4.5.2 PC Workgroup
       Dalam sebuah jaringan dimana beberapa komputer bekerja secara bersamaan, komunikasi
di antara komputer-komputer tersebut menjadi hal yang penting. ISDN mengalokasikan sebuah
kanal B-nya untuk melayani workgroup ini.
4.5.3 Sistem Alarm (Remote Security Control)
       Pada beberapa lokasi yang berbeda dapat dikontrol dari suatu pusat control dengan
menggunakan kemampuan ISDN. Seorang petugas cukup memonitor seluruh aktifitas yang terjadi
pada tempat-tempat tersebut melalui layar monitor dari satu tempat saja. Dengan menggunakan
kamera yang terhubung dengan satu kanal BRA, pengiriman gambar bergerak dapat dilakukan. Di
beberapa negara Eropa contoh aplikasi ini banyak digunakan pada pengamanan perangkat ATM
(Automatic Teller Machine) bank-bank.
4.5.4 Video conference
       Salah satu aplikasi ISDN yang sering digunakan adalah video conference, berupa metode
komunikasi yang memungkinkan suatu forum (seperti rapat, pemberian materi pengajaran) untuk
berkomunikasi secara audio visual dengan lawan forum lainnya. Aplikasi ini memberikan fasilitas
semacam pertemuan jarak jauh, disamping ditambahkan juga kemampuan pengiriman data secara
bersamaan.
4.5.5 Wide voice
       Suatu bentuk komunikasi suara yang lebih baik, dimana lebar frekuensi yang dipakai 7
kHz, lebih besar dari telepon analog (3 kHz). Diharapkan dengan lebar frekuensi yang lebih
tersebut mampu memberikan kualitas suara yang lebih baik. Aplikasi ini akan sangat
bermanfaatkan digunakan oleh para pemancar radio. Dengan satu kanal B, aplikasi dapat
menyiarkan secara langsung suatu konser musik dan mengirimkan langsung ke stasiun pemancar.
4.5.6 Hi-Q-Fax
       Bila kita menginginkan pengiriman melalui faksimil dengan hasil yang lebih tajam, maka
Hi-Q-Fax lah jawabannya. Kemampuannya menyalurkan faksimil dengan resolusi lebih tinggi dan
cepat (sekitar 6 kali lebih cepat dari faksimil biasa) menjadi suatu layanan yang dapat diberikan
oleh ISDN. Hi-Q-Fax merupakah faksimil generasi ke-4, sehingga sering diistilahkan dengan
fax.G-4, sementara sistem faksimil analog dikenal dengan istilah fax.G-2 dan G-3. Faksimil grup
ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya proses pengiriman dokumennya cukup lama dan
resolusi hasilnya kurang tajam.
4.5.6 LC (Leased Channel) Back-up
       Layanan ini berfungsi sebagai saluran cadangan kanal-kanal transmisi ISDN. Sebagai kanal
cadangan, secara otomatis akan menggantikan kanal transmisi utama dalam menyalurkan sinyal
informasi sehingga komunikasi berjalan terus menerus.
4.5.7 Tele-doctor
       Salah satu aplikasi layanan ISDN yang memungkinkan seorang dokter dapat melihat
laporan kesehatan pasiennya dari rumah tanpa perlu membuka arsip di rumah sakit, atau
memberikan konsultasi kesehatan kepada pasiennya di rumah mereka secara langsung. Namun
aplikasi ISDN ini belum banyak dimanfaatkan di Indonesia.
4.5.8 Bank Account Line
       Bank account line disediakan untuk memberikan kemudahan para nasabah bank dalam
mengakses informasi dari berbagai produk dan jasa layanan perbankan. Dengan memanfaatkan
layanan CLIP yang ada pada terminal pelanggan, nasabah dengan menggunakan suatu nomor
tertentu atau password dapat memperoleh layanan yang diinginkan. Nomor atau password nasabah
oleh sistem ISDN akan diklarifikasi sesuai dengan data-data nasabah yang ada pada database bank
tersebut.
       Layanan ISDN melalui kanal B:
       a. Telepon analog dan digital
       b. Transmisi data
       c. ISDN teletext
       d. ISDN telefax
       e. ISDN teletext mixed mode
       f. Voice mail
       g. Text mail
       h. Telewriting
       i. Still image transfer service
       j. Videotelephony
       k. ISDN alarm service
             l. ISDN teleaction
             m. Fax mail
             n. ISDN videotext
             Layanan ISDN melalui kanal H adalah semua layanan yang dapat diberikan oleh kanal B
     dengan tambahan berikut:
             a. Broadcast video
             b. Switched video
             c. Interactive video
       Layanan ISDN melalui kanal D:
             a. Data transmission (packet switched)
             b. Alarm services
             c. Teleaction
4.6 Kategori Layanan ISDN
       Mengacu kepada standar ITU, layanan ISDN terbagi dalam tiga kategori:
      4.6.1 Bearer Service
                    Definisi dari bearer service adalah suatu layanan penyaluran sinyal yang disediakan
             oleh ISDN, yang dibatasi pada layer bawah model referensi OSI (layer 1 sampai layer 3).
             Service merupakan layanan ISDN yang memberikan pengiriman sinyal digital ISDN antara
             pelanggan dan jaringan. Dalam perencanaan system jaringan, konsep bearer service harus
             mampu mendefinisikan dengan baik parameter-parameter teknik, seperti tipe interkoneksi
             yang digunakan dan antarmuka. Jika dilihat dari sisi pengguna layanan, bearer service
             memberikan berbagai variasi layanan yang ditawarkan dengan berdasarkan:
            a. Karakteristik dan kualitas sinyal digital, seperti kecepatan bit dan ketersediaan layanan.
            b. Perbedaan prinsip operasi perangkat dan pengelolaan sistem pentarifan.
                    Bearer service hanya dapat diberikan pada sisi titik referensi S dan T. Contoh dari
             bearer service antara lain UDI (Unrestricted Digital Information), RDI (Restricted Digital
             Information), komunikasi suara dengan bandwidth 3,1 KHz, komunikasi suara dan video
             dengan bandwidth 7 KHz. Pada implementasi awal ISDN di Indonesia ditawarkan tiga
             macam bearer service, yaitu speech, komunikasi suara berbasis 3,1 KHz dan komunikasi
             data 64 Kbps UDI.
4.6.2 Teleservice
              Teleservice merupakan layanan ISDN yang membedakan layanan sesuaidengan
       terminal ISDN yang digunakan. Teleservice merupakan layanan tambahan dari bearer
       service, dapat juga disebut dengan VAS (Value Added Services). Layanan tersebut sesuai
       dengan Rekomendasi I.240. Implementasi teleservice terdapat pada layer 4 sampai layer 7
       model OSI. Contoh aplikasi teleservice adalah telepon ISDN, terminal videotext, faksimili
       G3 dan G4 serta teletext.
4.6.3 Supplementary Service
              Bearer service dan teleservice merupakan layanan dasar ISDN. Supplementary
       service selalu berasosiasi dengan kedua layanan tersebut serta berfungsi sebagai layanan
       tambahan. Beberapa layanan tambahan yang ditawarkan tersebut meliputi:
       a. CLIP (Calling Line Identification Presentation)
              Fasilitas yang diberikan untuk menampilkan nomor layanan pemanggil pada
       terminal ISDN. Fasilitas ini seperti fasilitas standar pada system GSM.
       b. CLIR (Calling Line Identification Restriction)
              Merupakan layanan yang berlawanan dengan CLIP, dimana pemanggil tidak ingin
       nomor layanannya dapat dikenali oleh penerimanya.
       c. COLP (Connected Line Presentation)
              Menampilkan nomor layanan ISDN dari terminal yang terhubung pada terminal
       ISDN pemanggil. Dengan layanan CLOP, pelanggan ISDN dapat mengetahui nomor
       terminal yang terhubung dari pemanggilan yang dilakukan.
       d. COLR (Connected Line Restriction)
              Merupakan layanan yang berkebalikan dari layanan CLOP, dimana penerima tidak
       menginginkan nomor terminalnya ditampilkan di sisi pemanggil.
       e. CUG (Closed User Group)
              Layanan yang memungkinkan pelanggan ISDN untuk membentuk suatu kelompok
       dalam jumlah tertentu dimana jenis panggilan yang datang dan keluar dapat dibatasi.
       Layanan ini sangat bermanfaat pada lingkungan perkantoran, untuk pengaturan akses
       sistem komunikasi antar bidang/bagian pekerjaan.
       f. UUS (User to User Signalling)
                   Layanan ini memanfaatkan kanal D yang biasanya dipergunakan untuk keperluan
            signalling. Dengan UUS dimungkinkan pelanggan ISDN dapat mengirim atau menerima
            informasi melalui kanal D ini, walaupun dalam kapasitas dan kecepatan yang lebih kecil
            dibandingkan dengan kanal B.g. DDI (Direct Dialling In) Layanan tambahan ini
            disediakan untuk memudahkan sistem komunikasi dari suatu PBX ISDN tanpa melalui
            operator PBX.
            h. MSN (Multiple Subscriber Number)
                   Pada layanan BRA, pelanggan ISDN dapat memanfaatkan saluran ISDN BRA yang
            dimiliki untuk dihubungkan dengan berbagai jenis terminal ISDN yang ada sebanyak
            maksimal 8 terminal. Konfigurasi terminal tersebut dikenal dengan short passive bus atau
            extended passive bus. Konfigurasi ini akan dijelaskan pada bahasan konfigurasi sistem
            ISDN, pada bab selanjutnya. Dengan layanan MSN, setiap jenis terminal ISDN pelanggan
            dapat diberikan nomor yang berbeda-beda, walaupun terminal-terminal tersebut terhubung
            ke satu saluran ISDN BRA.


4.7 Konfigurasi ISDN




                Gambar 4.3 Konfigurasi ISDN secara umum
Keterangan:
LT =Line Termination
NT1 = Network Termination 1
NT2 = Network Termination 2
TA = Terminal Adapter
TE1 = Terminal Equipment 1
TE2 = Terminal Equipment 2
        Titik referensi R, S, T, U Konfigurasi akses pelanggan ISDN termasuk didalamnya fungsi
terminal di pelanggan mengacu ke standar internasional ITU-T rekomendasi I.411.
        NT1 (Network Termination type 1) merupakan antar muka yang menghubungkan terminal
pelanggan (TE) dengan sentral ISDN secara fisik (layer 1). NT 1 mengkonversi sinyal pada titik referensi
T dan hanya dihubungkan dengan satu saluran ke terminal. NT 1 berfungsi sebagai:
              a. Terminasi jaringan transmisi
              b. Maintenance dan monitoring performansi jaringan pada layer 1
              c. Transfer kebutuhan catu daya perangkat
              d. Multiplexing pada layer 1
        NT2 (Network Termination type 2) berfungsi sebagai:
              a. Mengendalikan fungsi antarmuka layer 2 dan 3
              b. Fungsi multiplexing
              c. Fungsi switching
              d. Fungsi concentration
              e. Fungsi maintenance jaringan
        Sebagai contoh, PBX dapat menyediakan fungsi NT2 pada layer 1, 2 dan 3. Terminal kontrol
dapat menyediakan fungsi NT2 hanya pada layer 1 dan 2. Multiplexer TDM yang sederhana dapat
menyediakan fungsi NT2 hanya pada layer 1. Pada beberapa sistem teknologi jaringan akses, fungsi NT2
hanya menyangkut sambungan fisik. TE (Terminal Equipment) merupakan perangkat terminal yang ada di
sisi pelanggan dan terhubung ke NT (Network Termination). Ada dua macam TE yaitu TE 1 terminal yang
dirancang untuk ISDN dan TE 2 terminal yang bukan didisain untuk ISDN tetapi bisa dihubungkan
dengan NT dengan menggunakan perangkat TA. Contoh perangkat TE adalah telepon digital, perangkat
terminal data dan workstation.
        TE mempunyai fungsi:
              a. Mengendalikan fungsi antarmuka.
              b. Pemelihara keberadaan layanan.
              c. Hubungan antar perangkat.
        TE harus mempunyai kemampuan menjaga hubungan fisik media transmisi layer 1 dan layer
diatasnya sesuai model referensi dari rekomendasi X.200.
        TE1 (Terminal Equipment type 1) adalah terminal pelanggan yang sudah kompatibel dengan
antar muka ISDN, atau dapat menerima sinyal digital dari layanan ISDN.
        TE2 (Terminal Equipment type 2) adalah terminal pelanggan yang tidak kompatibel dengan antar
muka ISDN dan masih bersifat analog. Untuk dapat dihubungkan dengan ISDN maka TE2 membutuhkan
Terminal Adaptor (TA).
        TA (Terminal Adaptor) berfungsi menghubungkan perangkat analog (TE2) dengan jaringan
ISDN. Dengan TA dimungkinkan perangkat non-ISDN atau TE2 dapat berkomunikasi. TA dirasakan
penting pada kondisi dimana sebagian besar pelanggan atau calon pelanggan ISDN masih menggunakan
terminal yang bersifat analog.
        TA (Terminal Adapter) dihubungkan dengan interface pada titik referensi .S. dan juga bisa
digabungkan dengan NT2. TA berfungsi untuk mengkonversi protokol. Berikut beberapa contoh TA, ITA
dari RAD Comm., ZyXEL dan Hayes Accura.




                                 Gambar 4.4 Contoh Terminal Adapter


        Konfigurasi akses pelanggan ISDN termasuk didalamnya fungsi terminal di pelanggan mengacu
ke standar internasional ITU-T rekomendasi I.411.
         Titik referensi pada sistem ISDN terdiri atas referensi R, S,T, dan U. Maksud dari pemberian titik
referensi ini adalah untuk membatasi antarmuka unit-unit yang berbeda, karena dimungkinkan terjadi
perubahan atau konversi sinyal pada titik-titik tersebut.
         Titik referensi R, merupakan antarmuka antara TE2 dan TA. Fungsi utamanya adalah bagaimana
perangkat TE2 dan TA dapat saling berkomunikasi. Titik referensi S, merupakan antarmuka TE1 atau TA
dengan terminal sisi jaringan akses (NT1 atau NT2). Titik referensi T, merupakan antarmuka sisi
pelanggan (NT2) dan terminal jaringan akses (NT1). Terakhir titik referensi U, merupakan antarmuka
NT1 dengan sentral.


4.8 Model Terminal Pelanggan
         4.8.1 Telepon ISDN
                       Berbeda dengan telepon analog yang biasa dipakai, telepon ISDN dirancang lebih
               untuk dapat memberikan layanan-layanan ISDN, seperti layanan call waiting, call hold,
               fasilitas UUS, CUG, dan layanan ISDN lainnya. Telepon ISDN ada yang dirancang untuk
               bandwith 3,1 KHz dan juga 7 KHz. Telepon ISDN mempunyai beberapa feature seperti:
                       a. Layar LCD (Liquid Crystal Display) yang menunjukkan informasi status
                         pemanggil, termasuk nomor telepon pemanggil.
                       b. Softkeys, fungsi-fungsi softkeys dapat diprogram dalam telepon dan dapat
                         mendukung operasi feature-feature melalui ISDN seperti call waiting,
                         conference call dan call transfer dan juga dapat mendukung feature-feature yang
                         ada dalam pesawat telepon umum seperti redial dan speed dialing.
                       c. User programmable keys, Hold and Release, dan Speaker volume control.
                                         Gambar 4.5 Telepon ISDN
 4.8.2 Faksimil G-4
             Seperti telah dijelaskan sebelumnya, faksimil ini memberikan kemampuan yang
      lebih dibanding generasi faksimil sebelumnya. Seperti halnya telepon ISDN, faksimil ini
      juga terhubung ke jaringan ISDN melalui titik referensi S/T.
4.8.3 Perangkat dan sistem teleconference
             Perangkat teleconference merupakan terminal yang mempunyai kemampuan
      memberikan layanan konferensi antara pelanggan individu atau dalam suatu kelompok
      yang berada pada lokasi yang berbeda. Terdapat banyak bentuk model teleconference,
      diantaranya konferensi dalam bentuk suara yang dilengkapi juga dengan pertukaran
      informasi non-suara seperti text dan grafik. Bentuk teleconference yang lain adalah real
      teleconference atau yang dikenal dengan istilah videoconference. Perangkat-perangkat
      yang digunakan dalam teleconference diantaranya terminal telepon ISDN, kamera video,
      dan PC. Konfigurasi pemasangannya tergantung aplikasi yang dijalankan.
4.8.4 PABX ISDN
             Dengan PABX ISDN, pelanggan di suatu kantor atau gedung dapat menerima
      layanan ISDN pada jaringan PBX-nya dengan menggunakan PABX ISDN. Tersedia tipe
      PABX ISDN yang terhubung ke jaringan ISDN melalui akses BRA, PRA atau kombinasi
      dari keduanya. Untuk PABX ISDN yang dicatu dari akses BRA, hanya diperlukan NT1
      seperti halnya terminal telepon ISDN atau faksimil G-4. Sedang untuk PABX yang dicatu
      dari akses PRA, umumnya PABX juga mempunyai fungsi NT (NT1 dan NT2) yang
      terintegrasi didalamnya.
4.8.5 PC (Personal Computer) ISDN
             PC ISDN digunakan pada aplikasi videoconference. Disamping itu aplikasi
      komunikasi data seperti transfer file dan telepon juga dapat dilakukan dengan
      menggunakan aplikasi perangkat lunak (software) tertentu. PC biasa dapat dijadikan
      menjadi PC ISDN dengan menambahkan perangkat NIC (Network Interface card) ISDN.
      Card ini berfungsi sebagai antarmuka antara terminal komputer dengan jaringan ISDN.
      Untuk NIC ISDN yang dihubungkan dengan akses BRA, maka NIC berfungsi sebagai
                 antarmuka titik referensi S/T. Sedangkan apabila NIC ISDN ingin dihubungkan dengan
                akses PRA, maka harus digunakan NIC yang berfungsi sebagai antarmuka titik referensi U.




                                                BAB V
                                         TEKNOLOGI XDSL



      g. Definisi xDSL
           Definisi XDSL adalah sepasang modem (COT/ROT atau DSLAM/CPE) untuk menyalurkan data
kecepatan tinggi atau untuk mentransmisikan signal digital dengan menggunakan media transmisi berupa
kabel tembaga atau jarlokat. XDSL mampu membawa data (termasuk gambar), dan voice. Sinyal data
dikoneksikan secara kontinyu karena XDSL menyediakan bandwidth secara dedicated (no-share
bandwidth). Singkatan dari XDSL adalah x-Digital Subscriber Line. "X" berarti type/jenis untuk setiap
teknologi DSL, seperti : ADSL, SDSL, VDSL, HDSL, dan lain-lain.
           Teknologi XDSL merupakan teknologi jaringan yang memungkinkan terjadinya komunikasi
suara, video dan data berkecepatan tinggi melalui jaringan kabel tembaga. XDSL memiliki varian
diantaranya adalah ADSL, HDSL (High bit rate Digital Subcriber Line), RADSL ( Rate Adaptive Digital
Subcriber Line), dan lain sebagainya. Metode pembagian bandwidth untuk transmisinya secara umum
terbagi dua yaitu simetris dan asimetris. Teknologi XDSL memiliki beberapa turunan yang dapat
mentransmisikan data antara 60 Kbps s/d 60 Mbps dan lebih cepat dari ISDN (Integrated Service Digital
Network).
           Mode transmisi pada teknologi XDSL dikenal dengan istilah simetris dan asimetris. Mode
simetris menjelaskan bahwa kecepatan transmisi arah kirim (Upstream) sama dengan transmisi arah
terima (Downstream).


      h.     Media Transmisi xDSL
           Media transmisi xDSL adalah jaringan kabel tembaga. Jarlokat yang dibutuhkan terdiri atas 1
pair (2 kawat) atau 2 pair (4 kawat), tergantung jenis teknologi xDSL-nya. Untuk teknologi XDSL yang
berbasis ADSL, SDSL, G.Lite, G.SHDSL dan VDSL menggunakan 1 pair jarlokat. Untuk XDSL yang
menggunakan 2 pair atau bahkan 3 pair adalah HDSL. Teknologi HDSL saat ini banyak dikenal dengan
istilah HDSL-1P (HDSL dengan menggunakan 1 pair kabel, teknologinya sama dengan SDSL) dan
HDSL-2P (HDSL dengan menggunakan 2 pair kabel).


      i. Dasar Sistem xDSL
   a. xDSL dapat menyalurkan akses broadband melalui jaringan telepon.
                Dengan xDSL pelanggan dapat mengakses aplikasi broadband, seperti streaming video,
      online gaming, multimedia applications, high speed internet access dan telecommuting.
   b. xDSL selalu "always-on".
                Tidak seperti modem dial-up, XDSL tidak perlu logging on/off atau menunggu dial tone.
      Dengan XDSL, koneksi 24 jam. Sebagai tambahan, dengan XDSL (ADSL, VDSL) hubungan
      telepon masih dapat tetap berlangsung.
   c. Bandwidth XDSL dedicated.
                Tidak seperti halnya sistem pada cable modem (HFC) atau wireless LAN, xDSL
      memberikan bandwidth yang tetap besarnya. Bandwidth tidak dibagi-bagi jika ada penambahan
      pelanggan yang akses (log on).
    d. xDSL secure.
                Dikarenakan koneksi XDSL bersifat point-to-point, bukan point-tomultipoint ataupun
      share bandwidth, maka faktor keamanan jaringan menjadi lebih handal.
      j.     Model Perangkat xDSL
           Secara fisik, model perangkat XDSL ada dua jenis, yaitu:
                a. Stand alone atau back-to-back
                b. DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer)
   4.4.1 Stand Alone atau Back-to-back
                  Merupakan interkoneksi xDSL antara modem COT dan ROT dalam bentuk tunggal (1
            koneksi sistem). Konfigurasi ini dipakai untuk kebutuhan dalam skala yang sangat kecil seperti
            instalasi untuk skala dibawah 10 sistem.
                          Gambar 5.1 Model Interkoneksi Stand Alone (Back-to-back)
         k. Sejarah Keluarga xDSL
          Sambungan telepon dari kantor (pos-pos) telepon ke rumah-rumah menggunakan frekuensi 4 kHz
untuk pengiriman sinyal analog suara. DSL menggunakan sambungan telepon biasa ini untuk mengirim
sinyal-sinyal digital berkecepatan tinggi. Pada DSL terdapat berbagai jenis DSL. Misalnya Asymetric DSL
(ADSL) untuk keperluan akses cepat internet, untuk perusahaan-perusahan ada High speed DSL (HDSL),
Single Pair HDSL (SHDSL), Synchonized Symetric DSL (SSDSL) dan gabungan antara serat optik Very
High DSL (VDSL). Untuk menyingkat emua istilah-istilah ini dikenal dengan sebutan xDSL. ISDN
(Integrated Services Digital Network) yang memiliki dua jenis, yaitu 1B (64 kbps) dan 2B (128 kbps) juga
merupakan salah satu keluarga xDSL. Di Amerika sebutan untuk ISDN dikenal dengan IDSL
(Intermediate DSL). Adapun keterangan tentang xDSL bisa dilihat pada tabel 8 berikut ini.
         5.5.1 Macam Teknologi xDSL
                     Jenis teknologi xDSL banyak sekali ragamnya. Bahkan ada teknologi xDSL yang sama
         mempunyai beberapa nama. Berikut beberapa teknologi xDSL yang umum diaplikasikan:
         a. DSL (Digital Subscriber Line)
         b. IDSL (Integrated Services Digital Network DSL)
         c. HDSL (High Bit-rate DSL)
         d. SDSL (Symmetric DSL)
         e. G.SHDSL
         f. G.Lite
         g. ADSL (Asymmetric DSL)
         h. G.SHDSL
         i. VDSL (Very High Rate DSL)


         Tabel 5.2 Pengelompokan teknologi xDSL berdasarkan bentuk transmisinya
              Simetris                         Asimetris
 SDSL (Single line Digital Subcriber ADSL (Asymetric Digital Subcriber
 Line)                                       Line)
 HDSL       (High       data   rate   Digital RADSL-Late (Rate Adaptive Digital
 Subcriber Line)                             Subcriber Line)
                              VDSL (Very high data rate Digital
                              Subcriber Line)




                     Tabel 5.3 Perkembangan Teknologi xDSL
                   Bandwith    Bandwith         Jarak    Jumlah
                                                         Kabel
Nama     Arti      Upstream    Downstream Maks                        Aplikasi
                                                         Tembaga
       Integrate                                                  Layanan
       d Service                                                  ISDN komu-
ISDN    Digital    160 Kbps    160 Kbps         6 km     1 pasang nikasi    data
        Network                                                   dan suara
       High data    1,544                                2 atau 3 Layanan
HDSL      rate      Mbps       1,544 Mbps                pasang   E1/T1 WAN,
        Digital     2,048      2,048 Mbps 4 km                    LAN
       Subcriber    Mbps
         Line
                                                                    Sama dengan
        Single      1,544                                           HDSL ditam-
SDSL     line       Mbps        1,544 Mbps      3,3 km   1 pasang   bah dengan
        Digital     2,048       2,048 Mbps                          akses pada la-
         Line       Mbps                                            yanan sime-
                                                                    tris
                                                                    Akses inte-
                                                                    rnet Video on
       Asymetric                                                    demand, Sim-
ADSL    Digital  16 - 640         1,5 – 9       6 km     1 pasang   plek Video,
       Subcriber Kbps             Mbps                              Akses remote
         Line                                                       LAN, Multi-
                                                                                   media   inter-
                                                                                   net
                      Rate         Bervariasi
                    Adaptive        dalam      Bervariasi                          Sama dengan
              RADSL  Digital         range    dalam range 6 km         1 pasang    ADSL
                    Subcriber       ADSL         ADSL
                      Line
                    Very high                                                      Sama dengan
                    data rate        1.5 – 2,3    13 – 52     800 m                ADSL ditam-
              VDSL   Digital          Mbps         Mbps       – 2 km 1 pasang      bah dengan
                    Subcriber                                                      HDSL
                      Line




                  5.5.1.a DSL
                           DSL merupakan modem yang dapat digunakan untuk mentransmisikan layanan
                  ekuivalen dengan layanan ISDN BRA. Digital Subscriber Lines sebagai teknologi
                  transmisi sebenarnya dibangun untuk ISDN (Integrated Services Digital Network) Basic
                  Rate Access Channel. Nama DSL digunakan untuk untuk mendiskripsikan teknologi
                  transmisi atau physical layer untuk ISDN Basic Rate Access Channel. Saat ini, DSL, atau
                  disebut juga xDSL digunakan sebagai penamaan umum untuk semua jenis sistem DSL.
                  Transmisi full-duplex pada jaringan telepon 2 kawat, menggunakan 3 macam metode :
3. FrequencyDivisionMultiplex(FDM)
4. TimeCompressionMultiplex(TCM)
5. Echocancellation(EC)
                           Perbedaan pendapat di antara metode TCM dan EC untuk transmisi DSL masih
                  berlangsung hingga saat ini. Isu utama yang diperbandingkan yaitu tentang rugi-rugi
                  transmisi, echo level, kompatibilitas dengan sistem lain, dan kompleksitas sistem. Secara
                  garis besar, sistem TCM kelebihannya tidak membutuhkan echo canceller, sebagai pemisah
                  transmisi yang berbeda arahnya yang terjadi pada suatu waktu. Tetapi dengan
                  berkembangnya teknologi Very Large Integrated Circuit (VLSI), maka untuk
                  merealisasikan echo canceller menjadi bisa lebih ekonomis. Sistem EC berpotensi lebih
                  kompleks, menggunakan 50 % bandwidth transmisi lebih sedikit daripada pesaingnya
          Teknologi DSL yang memanfaatkan jaringan kabel tembaga dapat mengirim
paket data hingga kecepatan 160 Kbps. Teknik line coding yang digunakan adalah 2B1Q (2
Binary 1 Quartenary), yang juga digunakan pada ISDN. Modem ini dirancang untuk
digunakan pada akses jaringan data atau internet. DSL mengirim data secara duplex (dua
arah sekaligus, dari pengirim dan penerima). Data dapat dikirim dua arah secara simultan
dengan kecepatan 160 Kbps pada kabel berdiameter 0,6 mm dengan jarak 6 km. Selain itu
dikombinasikan dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk menggandakan saluran
menjadi beberapa kanal suara yang lebih dikenal dengan istilah Pairgain, meskipun
sebenarnya terminologi pairgain adalah nama vendor pembuat produk tertentu, termasuk
pengganda saluran telepon. Proses multiplexing dan demultiplexing data menjadi 2 kanal B
masing-masing 64 Kbps dan kanal D 16 Kbps dan overhead untuk diteruskan ke terminal
pelanggan. Modem DSL mempunyai spektrum frekuensi dari 0 s/d 80 KHz. Beberapa
sistem di Eropa menggunakan 120 KHz. DSL saat ini digunakan pada aplikasi pengganda
saluran digital, dimana DSL mengkonversi saluran tunggal menjadi dua kanal logic,
sehingga instalasi saluran kedua secara fisik tidak perlu dilakukan.
         Secara umum, teknologi DSL mempunyai karakteristik sebagai berikut:
       a. Jumlah pair : 1 pair kabel.
       b. Mode transmisi : simetrik.
       c. Kecepatan akses : 160 kbps.
       d. Teknik modulasi : 2B1Q (Interface-U ISDN).
           Gambar 5.2 Konfigurasi DSL untuk Aplikasi Internet
 5.5.1.b HDSL
         Perkembangan DSL terus berjalan dan menemukan bentuk teknologi baru yang
 dikenal sebagai HDSL yaitu teknologi modem yang menggunakan 2 atau 3 pair kabel
 tembaga untuk mengirim sinyal digital hingga 1,5 Mbps atau 2 Mbps. Munculnya dua
 macam kecepatan (bit rate) data tersebut dikarenakan adanya penggunaan dua standar
 acuan yang berbeda yaitu ETSI (E1) dan ANSI (T1). HDSL merupakan sebuah sistem
 yang lebih baik untuk mengirimkan T1/E1 melalui saluran kawat tembaga twisted pair.
 HDSL memerlukan bandwidth yang lebih kecil dan tidak memerlukan repeater. Dengan
 menerapkan teknik modulasi yang lebih baik, HDSL dapat mengirimkan data dengan
 transfer rate 1,544 Mbps atau 2,048 Mbps hanya dengan bandwidth sekitar 80 kHz hingga
 240 kHz atau lebih kecil.
         Aplikasi    HDSL    di   lapangan   ada   dua    kemungkinan     yaitu   tanpa
 multiplexer/demultiplexer atau dengan multiplexer/ demultiplexer. Untuk aplikasi tanpa
 multiplexer/demultiplexer, HDSL dipasang di sisi pelanggan menggunakan dua pasang
 saluran tembaga. Sistem HDSL dengan multiplexer/demultiplexer adalah dengan
 menambahkan perangkat multiplexer/demultiplexer pada kedua sisi, yang berfungsi untuk
 memecah sinyal kecepatan sampai 2 Mbps ke kecepatan yang lebih rendah sesuai dengan
 kebutuhan pelanggan.
         HDSL adalah teknologi modem digital yang merupakan pengembangan
teknologi PCM-30 (Pulse Code Modulation) berbasis kecepatan 2 Mbps. Implementasi
HDSL semula dimaksudkan untuk mengantisipasi keterbatasan jarak jangkauan jaringan
penghubung antar sentral telepon atau gerbang komunikasi data yang membutuhkan
saluran kapasitas 2 Mbps maupun kelipatannya. Dalam perkembangannya teknologi HDSL
2 Mbps ini mendapat perhatian untuk digunakan di dalam jaringan lokal akses atau pada
hubungan antara sentral dengan pelanggan langsung. Pelanggan ini akan dapat mengakses
layanannya bila ditambahkan perangkat yang dikenal dengan nama multiplexer. Kombinasi
HDSL dan multiplexer ini pada umumnya digunakan sebagai pengganda layanan, dimana
kapasitas 2 Mbps HDSL dapat dibagibagi/ dimultiplex menjadi 30 kanal suara (64 Kbps).
Kanal 64 Kbps ini dapat digunakan untuk layanan telepon digital atau komunikasi data,
bahkan untuk ISDN. Teknik modulasi yang digunakan dalam HDSL adalah QAM
(Quadrature Amplitude Modulation) dan CAP (Carrierless Amplitude/Phase Modulation).
Pada sisi sentral ditempatkan modem HTU-C (HDSL Transceiver Unit-Central Terminal)
dan pada sisi sentral lawan atau pelanggan ditempatkan HTU-R (HDSL Transceiver Unit-
Remote Terminal).




              Gambar 5.3 Konfigurasi Umum Modem HDSL


         HTU ditempatkan di masing-masing lokasi sebagai antarmuka komunikasi antara
lokasi satu dengan lokasi yang lainnya. Jaringan kabel tembaga yang digunakan untuk
HDSL dapat memakai 2 pair kabel atau 3 pair kabel tembaga. Penggunaan HDSL dengan 2
pair kabel lebih direkomendasi karena akan lebih menghemat penggunaan jaringan kabel.
HDSL yang dioperasikan sebagai pengganda saluran di jaringan akses direkomendasikan
repeaterless system (tanpa perangkat penguat sinyal) meskipun beberapa vendor telah
mengeluarkan repeater HDSL. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya over
boundary sentral (terjadi tumpang tindih perencanaan jaringan sentral) yang nantinya akan
mempengaruhi perencanaan Jarlokat.
         Secara umum, teknologi DSL mempunyai karakteristik sebagai berikut:
       a. Jumlah pair : 2 pair atau 3 pair kabel.
       b. Mode transmisi : simetrik.
       c. Kecepatan akses : 2 Mbps.
       d. Teknik modulasi : QAM.
                    Gambar 5.4 Konfigurasi HDSL
5.5.1.c SDSL
         Teknologi SDSL hampir sama dengan HDSL. Perbedaan mendasar antara HDSL
dengan SDSL adalah pada sisi pelanggan dapat langsung terhubung ke terminal pelanggan
seperti halnya pesawat telepon. Sementara HDSL untuk terhubung langsung ke terminal
pelanggan membutuhkan perangkat multiplex tambahan. SDSL mampu menyalurkan sinyal
T.1 maupun E.1 dengan satu saluran telepon saja, sehingga dalam satu saluran dapat
mengirim sinyal dalam format POTS dan T1/E1 secara simultan. Selain itu SDSL hanya
menggunakan satu pasang kabel tembaga sebagai media transmisinya. Oleh karena itulah
disebut SDSL (Single Line Digital Subscriber Line). SDSL disebut pula Symmetric DSL
dikarenakan sifat transmisi SDSL yang mempunyai mode transmisi simterik, kecepatan
downstream dan upstream sama besar 2 Mbps.
         SDSL akan banyak dibutuhkan pada aplikasi yang memerlukan akses simetris
dan karena itu dapat dikatakan bahwa layanan SDSL adalah komplementari dari aplikasi
ADSL. Hal yang perlu diperhatikan bahwa jangkauan dari SDSL tidak akan melebihi 3000
m, di mana pada jarak tersebut ADSL mampu mencapaibit rate 6 Mbps.
         SDSL mempunyai keunggulan komparatif karena SDSL cukup menggunakan
satu saluran saja tanpa perlu menambah saluran lagi seperti yang dibutuhkan dalam
pemasangan HDSL. Ini merupakan suatu keunggulan dari sudut pandang pelanggan yang
biasanya hanya mempunyai satu saluran saja. Kecepatan data yang bisa dikirim oleh SDSL
sama dengan HDSL yaitu 1,5 Mbps atau 2 Mbps. Oleh karena menggunakan satu pasang
kabel tembaga maka jarak operasi yang bisa dicapai relatif lebih pendek dari HDSL.
         Secara umum, teknologi SDSL mempunyai karakteristik sebagai berikut:
       a. Kecepatan akses = 2 Mbps.
       b. Jumlah pair kabel = 1 pair kabel.
       c. Mode transmisi = simetrik (downstream = upstream = 2 Mbps).
       d. Multi rate (adjustable rate dan adaptive rate).
       e. Interface = Ethernet.
       f. Aplikasi:
    1.2 Private Line (LC)
    2.2 LAN to LAN Interconnections (remote LAN Access)
    3.2 Digital Voice Transmission, IP, Frame Relay
    4.2 SOHO
    5.2 Dan sebagainya
5.5.1.d ADSL

         Seperti namanya, ADSL mentransmisikan data secara asimetrik yaitu kecepatan
transmisinya berbeda antara saat downstream (dari jaringan ke pelanggan) dan saat
upstream (dari pelanggan ke jaringan). Kecepatan downstream lebih tinggi dari kecepatan
upstream. Ada beberapa alasan mengenai transmisi datanya yang asimetrik antara lain
karena kebutuhan kecepatan transmisinya, sifat saluran transmisi dan sisi aplikasinya.
ADSL menyediakan channel digital yang asimetrik pada bit rate yang tinggi dengan
menggunakan kabel tembaga. Channel ini terdiri dari bit rate downstream yang tinggi
untuk pengiriman informasi dan bit rate upstream yang rendah untuk pensinyalan dan
fungsi kontrol. Sebagaimana didefinisikan oleh ANSI, ADSL memiliki tujuh kelas
transport; empat untuk multiple T1 (1.5 Mbit/s) bandwith downstream dan tiga untuk
multiple E1 (2 Mbit/s) bandwith downstream.
          ADSL memiliki bit rate yang berbeda antara arah kirim (upstream) dan arah
terima (downstream). Kecepatan upstream-nya berkisar antara 16 kbps hingga 640 kbps,
sedangkan kecepatan downstream-nya antara 1,544 Mbps hingga lebih dari 7 Mbps.
Karenanya ADSL sangat ideal untuk layanan internet/intranet,video on demand dan
remote LAN access. Karena biasanya pengguna- pengguna aplikasi tersebut lebih banyak
membutuhkan menerima informasi/download daripada mengirim informasi.
          Kebutuhan kecepatan yang tidak perlu sama dapat dilihat dari kebiasaan yang
ada sampai saat ini yaitu biasanya para pelanggan (misalnya pelanggan layanan internet)
hanya memerlukan pengambilan data (download) dari penyedia informasi. Jika informasi
yang diambil tersebut berupa informasi multimedia (atau apapun yang memiliki ukuran
data yang relatif besar), seharusnya diperlukan saluran transportasi dengan kecepatan yang
besar untuk keperluan download jauh lebih besar daripada tersebut.
          Disisi lain, pelanggan jarang sekali melakukan pengiriman data ke jaringan
(upload). Oleh karena itu, hanya diperlukan saluran transmisi dengan kecepatan terbatas.
Adakalanya pelanggan melakukan upload ke jaringan dengan mengirimkan data-data yang
cukup besar. Akan tetapi, itupun relatif lebih jarang dilakukan dibandingkan dengan
download. Artinya bahwa kebutuhan untuk download jauh lebih besar daripada upload.
Jika dipaksakan untuk mempunyai rate yang sama, hal ini akan membuat bandwidth
menjadi tidak efisien.
          Jika dilihat dari media transmisinya, saluran-saluran transmisi yang ada (saluran
telepon) tidak disalurkan satu per satu ke setiap pelanggan (saluran tunggal), melainkan
beberapa saluran dijadikan satu dalam satu bundel saluran. Biasanya dalam satu bundel
terdapat 50 saluran. Dengan kondisi seperti ini, interferensi antar saluran akan sangat
mungkin terjadi. Bahkan, jika dalam satu bundel yang sama terjadi transmisi arah yang
berlawanan, sinyal yang dipancarkan pada satu sisi (sisi bundel kabel) yang memiliki level
sinyal yang masih tinggi akan mengganggu penerima pada sisi yang sama (sisi bundel
kabel yang sama dengan pemancar) di mana level sinyal pada penerima yang lemah sekali.
Kejadian ini disebut NEXT. Akan tetapi, jika pada bundel yang sama tersebut sedang
terjadi transmisi sinyal pada arah yang sama dan level sinyal yang ada pada kedua saluran
tersebut bisa dianggap sama kuat, gangguan saluran juga dapat terjadi. Efek gangguannya
lebih kecil dari pada NEXT. Kejadian ini disebut dengan FEXT. Selain itu, jika pada
saluran yang sama ingin dilakukan komunikasi fullduplex, biasanya komunikasi dilakukan
dengan mengirimkan kedua sinyal (sinyal yang dikirimkan dan diterima) dengan
memodulasikannya pada frekuensi pembawa yang sama sehingga dapat terjadi echo (sinyal
yang dipancarkan masuk ke bagian penerima kembali atau sinyal balik).
         ADSL, asymetrik digital subscriber line, adalah teknologi modem kecepatan
tinggi yang banyak melihatnya setidaknya sebagai solusi jangka pendek untuk mengatasi
bottleneck komunikasi data yang dibuat oleh meningkatnya popularitas Internet. ADSL
menyediakan data rate transfer sampai 8 Mbps, atau 200 kali lebih cepat dari modem
tradisional saat ini, melalui jalur telepon tembaga konvensional, dengan tanpa interupsi
pada POTS (plain-old telephone service). ADSL membagi jaringan suara dengan
bandwidth 1 MHz penuh ke dalam kanal multiple, yang memungkinkan pelanggan
mengakses Internet, memesan video untuk dilihat, dan mengirim fax atau berbicara melalui
telepon, pada saat yang bersamaan. Karena ADSL tidak membutuhkan perubahan yang
besar pada infrastruktur telepon yang telah ada, dapat dikembangkan dengan lebih cepat
dan berbiaya rendah dibanding dengan sistem alternatif lainnya untuk data kecepatan tinggi
dan transmisi video. ADSL memerlukan modem atau line cards pada sentral telepon dan
pada rumah pelanggan, ditambah splitter POTS, yang memisahkan suara dan transmisi data
dalam jaringan. Dirancang untuk ujung jaringan dari sentral telepon ke rumah pelanggan,
ADSL dapat beroperasi melalui jarak sejauh 12000 feet (3.7 km) bahkan 18000 feet (5.5
km). Seperti pada namanya, transmisinyal adalah asimetrik, yang memungkinkan ADSL
untuk menyediakan bandwidth downstream lebih besar ke pelanggan dibanding upstream
dari pelanggan ke jaringan. Hal ini untuk menjaga kebutuhan bandwidth yang tidak tetap
untuk kebanyakan aplikasi, user biasanya men-download data dan video lebih banyak
dibanding data yang mereka kirim ke jaringan.
         ADSL merupakan teknologi lanjutan setelah munculnya teknologi DSL dan
HDSL. Teknologi DSL dan HDSL adalah teknologi jaringan digital pelanggan yang
dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan jaringan pelanggan. Kedua teknologi ini
sering dikenal sebagai teknologi pengganda yang dapat meningkatkan kapasitas layanan.
         ADSL digunakan untuk meningkatkan kemampuan menyalurkan jenis layanan
yang berkecepatan tinggi. Disamping itu, secara bersamaan (dalam pair kabel yang sama)
teknologi ADSL masih dapat menyalurkan layanan eksisting POTS yang telah ada
sebelumnya. Untuk menghindari terjadinya interferensi antara arah transmisi upstream dan
downstream maka dilakukan pemisahan penggunaan frekuensi untuk upstream dan untuk
downstream. Besarnya bit rate downstream bervariasi dari 1,5 Mbps sampai 6 Mbps (saat
ini sedang dikembangkan hingga 8 Mbps ), sedangkan untuk upstream bervariasi dari 16
Kbps sampai 640 Kbps. Akses internet kecepatan tinggi kini dapat dinikmati oleh para
pemakai internet dengan menggunakan teknologi ADSL. Pacific Link bekerja sama dengan
PT. Telkom dengan jenis layanan MMA (Multi Media Access). Untuk layanan yang
disediakan sekarang oleh Telkom MMA adalah upstream maksimum 64Kbps, downstream
maksimum 512 Kbps. Layanan ini menggunakan kabel telepon yang sama dengan yang
digunakan para pelanggan telepon sekarang. Koneksi ADSL baik hingga jarak sekitar 5 km
dari STO (Sentral Telepon Otomat) terdekat.
         Mode transmisi ADSL bersifat asimetrik. Biasanya pengiriman data seperti film
atau gambar dari sumber layanan (server) ke arah pelanggan (downstream) membutuhkan
kecepatan transmisi yang tinggi. Hal ini disesuaikan dengan karekteristik pelanggan yang
lebih banyak melakukan download daripada upload. Sementara sinyal informasi yang
dikirim dari pelanggan (upstream)hanya berupa perintah-perintah untuk proses
pengiriman/penerimaan sinyal,sehingga kecepatan data yang dibutuhkan relatif rendah.
Kecepatan data yang bisa dilayani oleh modem ADSL ini bervariasi yaitu:
       a. Downstream mulai dari 2 Mbps hingga 8 Mbps.
       b. Upstream mulai dari 64 Kbps hingga 1 Mbps.
         Saat ini ada dua sistem transport yang digunakan dalam ADSL yaitu berbasis
jaringan ATM (Asyncrounus Tranfer Mode) dan berbasis Ethernet (10 Base- T). Teknik
line coding yang digunakan adalah DMT (Discrete Multi Tone). Teknik line coding DMT
memberikan keuntungan dimana sistem lebih tahan terhadap derau/noise atau interferensi.
Disamping itu dengan menggunakan DMT memungkinkan ADSL menjadi rate adaptive
(kecepatan transmisi dapat berubah relatif mengikuti performansi jaringan kabel tembaga
yang digunakan sebagai media transmisinya). Dengan menggunakan DMT juga
dimungkinkan terjadinya proses inisialisasi jaringan untuk menentukan sampai pada
tingkat kecepatan berapa jaringan tembaga dapat mentransmisikan data dengan aman.
Sementara pada teknik konvensional jika performansi kabel turun kualitasnya, maka sinyal
yang dimodulasi/demodulasi oleh modem akan menjadi rusak. ADSL membagi bandwith
menjadi tiga bagian:
    a. Band frekuensi rendah (0 ~ 4 kHz) untuk voice (POTS) atau fax G.3.
    b. Band frekuensi tinggi (38 kHz ~ 1.2 MHz) untuk data.
    c. Antara 4kHz - 38kHz digunakan sebagai guard band.
         Dilihat dari bentuk spektrrum frekuensinya, digambarkan sebagai berikut :




       Grafik 5.1 Spektrum Frekuensi ADSL
               Konfigurasi ADSL dalam aplikasinya digambarkan sebagai berikut:




                                       Gambar 5.5 Topologi ADSL
                         Sistem hubungan komunikasi pada perangkat ADSL dapat dilakukan
               menggunakan 2 sistem switching yaitu narrowband switching dan broadband switching.
               Sistem hubungan layanan POTS atau layanan narrowband dilakukan berbasis circuits-
               switching, sedangkan layanan data, video atau layanan broadband berbasis packet-
               switching.
                         Secara umum, teknologi ADSL mempunyai karakteristik sebagai berikut:
                      a. Jumlah pair kabel = 1 pair kabel.
                      b. Mode transmisi = asimetrik (downstream > upstream).
                      c. Kecepatan akses downstream sampai dengan 8 Mbps.
                      d. Kecepatan akses upstream sampai dengan 1 Mbps.
                      e. Multi rate (adjustable rate dan adaptive rate).
                      f. Interface = Ethernet, USB.
                      g. Aplikasi:
6. Internet kecepatan tinggi (high speed internet access).
7. VoD, MoD, KoD dan sebagainya.
8. Warnet, hotel, SOHO dan sebagainya.




                                  Gambar 5.6 Konfigurasi ADSL




                 5.5.1.d.1 Keunggulan ADSL
                  5.1 Kecepatan koneksi lebih stabil karena masing-masing pemakai ADSL mempunyai
                     jalur tersendiri hingga ke peralatan multiplexer di sisi Telkom. Kecepatan tidak
                     terpengaruh oleh pertambahan jumlah pelanggan yang akses bersamaan.
                  6.1 Berbagai aplikasi multimedia masa depan, akan dapat dinikmati dengan kualitas
                     serta kenyamanan yang optimal. Anda bisa mulai menjelajahi dunia Internet masa
                     depan, Internet 3D – yang padat dengan animasi-video-musik.
                  7.1 Dapat menggunakan saluran telepon yang ada.
                  8.1 Dibandingkan dengan 56k modem, DSL mampu menawarkan kecepatan hingga
                     125x lebih cepat. Kecepatan ini memungkinkan Anda untuk bias ber video
                     teleconfence ataupun menonton film di internet.
9.1 Biaya koneksi DSL biasanya flat dan relatif murah, jadi Anda bebas menggunakan
    tanpa perlu takut kelebihan Biaya. Namun saat ini Telkom membatasi pemakaian
    hingga 1Gb (±10,000 halaman web)
10.1Tidak perlu dial-up lagi, begitu komputer hidup, koneksi langsung tersambung
    dan tersedia 24 x 7.
11.1Biasanya perusahaan telepon yang paling terjamin, dimana hanya beberapa saat
    down time dalam setahun
12.1Karena koneksi dilakukan dengan kabel sendiri, maka setiap pelanggan
    mendapatkan masing-masing koneksi point-to-point ke internet. Sehingga
    kestabilan koneksi dan keamanan lebih terjamin
13.1ADSL memberikan kemampuan Internet dan Voice/Fax secara simultan. Ini
    berarti anda dapat Surfing internet dan menggunakan Telepon atau Fax pada saat
    bersamaan. Ini akan memberikan kepuasan bagi Anda untuk menikmati High-
    Speed Internet Access tanpa kehilangan kontak telepon dengan relasi Anda.


5.5.1.d.2 Bentuk Layanan Bisnis ADSL
        Dari berbagai teknologi/sistem pengiriman yang ada pada xDSL, yang telah
dikembangkan adalah ADSL, dimana teknologi ADSL ini pertama kali diujicobakan di
Amerika, Eropa dan Jepang. Pada saat itu aplikasi teknologi ADSL ini hanya sebatas
pada VOD (Video On Demand = menyaksikan suatu acara (program TV, video film
dan sejenisnya) sesuai dengan keinginan kita saja). Karena pada VOD kecepatan tinggi
untuk akses pen-download-an (dari server ke user) sangat diperlukan, sedangkan
kecepatan akses peng-upload-an (dari user ke server) tidaklah begitu dipentingkan.
Dengan kata lain kecepatan akses untuk download dan upload pada VOD berbeda
(asymmetric). ADSL sendiri sebenarnya hanyalah suatu MODEM yang biasa kita
gunakan untuk akses internet dengan dial up connection., bukan suatu sistem
sambungan atau jaringan. Teknologi ADSL adalah suatu teknologi MODEM.
Perbedaan antara modem ADSL dengan modem konvensional yang paling mudah kita
jumpai adalah dalam kecepatan pentransferan (upload/download) data. Walaupun
sama-sama menggunakan saluran telepon umum sebagai jalur komunikasinya,
   kecepatan pada modem ADSL berkisar antara 1.5 Mbps sampai 9 Mbps. Perbedaan
   kecepatan yang mencolok diantara keduanya (modem konvesional dan ADSL)
   dikarenakan perbedaan penggunaan frekuensi untuk mengirim sinyal/data. Pada
   modem konvesional digunakan frekuensi dibawah 4 kHz, sedangkan pada modem
   ADSL digunakan frekuensi di atas 4 kHz. Umumnya modem ADSL menggunakan
   frekuensi antara 34 kHz sampai 1104 kHz (lihat gambar). Inilah penyebab utama
   perbedaan kecepatan pentransferan sinyal/data antara modem konvensional dan
   modem ADSL.




                           Gambar 5.7 DMT

           Dengan adanya teknologi yang disebut Asymetric Digital Subscriber Line
   (ADSL) orang dapat memanfaatkan jaringan kabel tembaga untuk telepon yang analog,
   untuk menyalurkan data, suara dan video secara digital dengan kecepatan tinggi.
   Penyaluran ini tidak akan mengganggu saluran telepon, apabila orang sedang
   bertelepon. Aplikasi teknologi xDSL pada umumnya masih terbatas sebagai jaringan
   penghubung, atau Leased Channel.
5.5.1.d.3 Sasaran Pemakai :
    1.1 Perusahaan, instansi pemerintah, atau institusi yang memiliki LAN dengan user 10
       orang atau lebih.
    1.1 Penyedia content (dotcom companies) yang ingin servernya dapat diakses lebih
       cepat dan tetap siaga 7 x 24 jam.
    1.1 Warung internet (Warnet)
     1.1 Pemilik atau pengelola gedung yang ingin menyediakan fasilitas akses internet
        bagi para penyewanya.
     1.1 Perorangan di rumah yang intens menggunakan internet untuk usaha, main games,
        video-conference dengan relasi atau keluarga.
5.5.1.e ADSL-Lite
          Ketika ADSL dirancang mampu untuk mengirim sinyal downstream sampai 8
Mbps, menjadi suatu pertanyaan apakah kecepatan tersebut dapat seluruhnya dinikmati
oleh pelanggan. Teknologi ADSL tersebut terbentur oleh kecepatan internet backbone yang
rendah. Pengetesan pada beberapa kecepatan ADSL, mulai dari laju 64 Kbps hingga 8
Mbps terhubung dengan akses internet yang didapat adalah tipikal throughput rata-rata
sebesar 250 Kbps dan sangat jarang mencapai 400 Kbps. Hasil yang tidak jauh berbeda
diperoleh jika lokasi server diletakkan di sentral lokal dekat dengan perangkat ADSL.
Sebagai kesimpulan terbatasnya throughput internet tergantung pada jaringan backbone
yang dipakai provider dan lokasi. Dari kondisi diatas kemudian lahir nya teknologi G.Lite.
Teknologi ini lahir dengan mengurangi kompleksitas modem ADSL yang didisain untuk
kecepatan akses internet.
          Versi awal G.Lite mempunyai kemampuan lebih cepat 8 sampai 10 kali
dibandingkan dengan ISDN yang menawarkan akses internet, yaitu mampu menyediakan
kecepatan downstream 2 Mbps dan Upstream 386 Kbps. ADSL Lite menggunakan teknik
multiplexing dan modulasi yang sama dengan ADSL yang telah ada , tetapi terjadi
pengurangan jumlah kanal yang digunakan menjadi 127 kanal dan lebar frekuensi tiap-tiap
kanal tetap yaitu 4,3125 KHz. Hal yang mendasar pada ADSL Lite adalah mengacu pada
prinsip splitterless di pelanggan dimana pada perangkat yang digunakan menggunakan
microfilter sebagai pengganti splitter. Hal ini ditawarkan oleh ADSL Lite untuk
mengurangi cost di pelanggan, baik untuk instalasi maupun pemeliharaan.
          Sementara splitter masih diperlukan di sisi sentral, dikarenakan yang masuk ke
ADSL Lite tetap berasal dari dua sumber yaitu PSTN dan data, di bawah ini merupakan
gambar konfigurasi dari jaringan ADSL Lite. Secara fisik ADSL Lite yang digunakan
berupa model rack. Pada model ini ATU-C berupa card atau modul yang diletakkan pada
sisi sentral (mempunyai rack sendiri) Jaringan kabel yang digunakan adalah jaringan kabel
tembaga yang telah ada. Dalam penggunaan ADSL Lite tidak diperkenankan saluran yang
memakai loading coil, pengganda saluran ( contoh : DPG) dan bridge tap.




                 Gambar 5.8 Konfigurasi G.Lite (Spliterless DSL)


5.5.1.f VDSL
         VDSL sebelumnya disebut sebagai VADSL karena pada awalnya, VDSL hanya
dapat mengirimkan data digital secara asimetrik seperti ADSL, tetapi dengan kapasitas
yang lebih tinggi dari ADSL dan panjang saluran yang lebih pendek. Belum ada standar
yang umum untuk VDSL, kapasitas downstream yang umum untuk VDSL adalah 12,96
Mbps, 25,82 Mbps dan 51,84 Mbps. Untuk keperluan upstream, kapasitas tersedia antara
1,6 Mbps hingga 2,3 Mbps. Istilah VADSL banyak ditentang, karena menunjukkan sesuatu
yang tidak simetrik. Padahal banyak yang menginginkan suatu saat akan benar-benar
simetrik. Oleh karena itu, nama VDSL lebih disukai.
         Dalam beberapa hal, VDSL lebih sederhana dibandingkan ADSL. Saluran
transmisi yang lebih pendek pada VDSL menyebabkan hambatan-hambatan pada saluran
yang mungkin terjadi pada saluran yang lebih panjang menjadi dapat ditekan. Oleh karena
             itu, teknologi transceivernya dapat menjadi lebih sederhana dan kapasitasnya akan 10 kali
             lebih tinggi. VDSL merupakan sasaran dari arsitektur jaringan ATM. VDSL
             memungkinkan terminasi jaringan pasif dan dapat digunakan pada lebih dari satu modem
             VDSL untuk digunakan pada saluran pelanggan, sama halnya dengan sistem telepon analog
             biasa (POTS).
                        VDSL, very high data rate digital subscriber line, masih berhubungan dengan
             ADSL yang juga memungkinkan transfer data super cepat melalui jalur telepon
             konvensional. VDSL berbeda, dalam beberapa cara penting. Tidak seperti ADSL, yang
             bekerja dengan infrastruktur telepon terpasang, VDSL memerlukan upgrade ke jaringan
             fiber to the curb (FTTC). VDSL bekerja pada jarak yang relatif dekat (1000 feet atau 300
             meter untuk kecepatan optimal) dari jaringan fiber optik ke rumah pelanggan. Suatu
             teknologi yang mempunyai kecepatan lebih tinggi dibanding ADSL, VDSL dapat
             mengantarkan data dengan kecepatan sampai 52 Mbps. Rate ini akan mendukung transmisi
             enam kanal video terkompresi MPEG4 terpisah, memuaskan kebutuhan bandwidth sebuah
             rumah dengan jumlah televisi yang banyak dan PC. Pengamat industri mengatakan rata-
             rata rumah tangga di masa depan akan mempunyai dua TV, dua VCR, dan dua PC. Dengan
             VDSL, tiap perangkat tersebut dapat men-download data dan video secara bersamaan.


                        Tabel 5.4 Kecepatan Data dan Jarak Opersional VDSL
           VDSL Simetrik                            VDSL asimetrik
Downstream     Upstream       Perkiraan   Downstream      Upstream     Perkiraan
                                Jarak                                    Jarak
  (Mbps)        (Mbps)                       (Mbps)        (Mbps)
                               (Meter)                                  (Meter)
   34             34              -            52            6,4          300
   26             26             300       34 atau 38        4,3           -
   19             19              -            26            3,2         1000
   13             13            1000           19            2,3           -
   6,5            6,5           1500           13            1,6         1500
   4,3            4,3           2500          6,5         1,6 atau 8     2000
   2,3            2,3           3500

                        Untuk mengimplementasikan VDSL, perusahaan telepon dengan arsitektur
             FTTC memasang modem atau line card pada ATM switch atau pada optical network unit
(ONU). ONU adalah perangkat yang mempunyai transceiver VDSL dengan digital signal
processing dan kemampuan konversi. Teknik line coding yang lebih maju memungkinkan
sinyal optik ditransmisikan melalui fiber untuk dikonversikan ke sinyal elektronik untuk
ditransmisikan ke PC atau set top box TV. Permintaan lingkungan transmisi point to
multipoint memerlukan solusi yang benar-benar kuat yang dapat menangani multi kanal
data dan video ke dan dari jaringan. Kekuatan solusi, yang berdampak luas, tergantung
pada pilihan teknik line coding. Teknologi yang dapat dipilih adalah teknologi CAP
(Carrierless Amplitude Phase) untuk rute dari jaringan ke rumah, dan DWMT, teknologi
discrete wavelet multi-tone, untuk rute upstream dari rumah kembali ke jaringan. CAP
dipilh karena menawarkan biaya yang paling efektif dan pendekatan efisiensi daya untuk
jarak yang relatif dekat dimana data memerlukan perjalanan melalui kabel tembaga.
DWMT menyediakan isolasi sinyal dan resistansi noise yang benar-benar kuat untuk
performansi upstream yang optimum. DWMT adalah varian dari standar DMT yang
diambil dari ADSL. Pada awal kemunculannya teknologi VDSL disebut dengan VADSL
(Very highrate ADSL), karena VDSL dianggap juga sebagai modem asimetrik seperti
halnya ADSL, namun dengan kecepatan yang lebih tinggi. VDSL juga diistilahkan dengan
BDSL (Broadband DSL) karena dapat mendukung layananlayanan komunikasi broadband.
Dengan kecepatan downstream sampai dengan 52 Mbps, teknologi modem VDSL sebagai
suatu langkah maju teknologi x-DSL setelah pengembangan teknologi ADSL. VDSL
datang dengan dua versi, versi sebagai modem simetrik dan sebagai modem asimetrik. Ide
lahirnya VDSL adalah bagaimana memberikan layanan kecepatan data yang lebih besar
dari 8 Mbps atau layanan yang lebih dari ADSL melalui jaringan kabel tembaga yang sama
? Harapan aplikasi yang akan dapat diberikan VDSL seperti:
       a. Dapat mengirim layanan berbagai macam saluran TV digital (HDTV), yang
         selama ini dikirim melalui media satelit ataupun jaringan TV kabel.
       b. Mengkombinasikan layanan data dan video pada jaringan kabel yang sama.
       c. Memberikan layanan komunikasi data kecepatan tinggi dan leased line (sekitar
         10 Mbps atau bahkan 25 Mbps).
      Secara umum, teknologi VDSL mempunyai karakteristik sebagai berikut:
      a. Jumlah pair kabel = 1 pair kabel.
b. Mode transmisi = simetrik dan/atau asimetrik (tergantung produk vendor).
c. Untuk mode asimetrik, kecepatan downstream sampai dengan 52 Mbps.
d. Untuk mode simetrik, kecepatan downstream = upstream, sampai dengan 25
  Mbps.
e. Dalam implementasinya, VDSL diterapkan dalam sistem remote DSLAM atau
  MSOAN, kombinasi dengan jarlokaf, dan VDSL terpasang pada jaringan kabel
  tembaga yang relatif pendek.
f. Aplikasi:
p. Aplikasi-aplikasi ADSL.
q. Interactive HDTV.
r. Leased line.




               Gambar 5.9 Konfigurasi VDSL
                              Gambar 5.10 Konfigurasi VDSL
5.5.2 Ekivalen Teknologi xDSL
        Kadang suatu teknologi xDSL mempunyai lebih dari istilah yang berbeda. Biasanya
istilah kedua tersebut dibuat berdasarkan suatu karakter yang spesifik dari modem tersebut.
Beberapa jenis teknologi xDSL yang mempunyai istilah lebih dari satu adalah:
   2.2 HDSL, ada penyebutan bagi teknologi HDSL-1P dan HDSL-2P.
   3.2 ADSL, kadang disebut dengan ADSL Full rate.
   4.2 G.Lite, kadang disebut dengan istilah DSL-Lite, splitterless ADSL atau universal ADSL
       (UADSL).
   5.2 SDSL, mempunyai 2 definisi yang berbeda Single-line DSL dan Symmetric DSL.
5.5.3 Layanan/Aplikasi Teknologi xDSL
        Beberapa model layanan yang dapat dikirimkan pada teknologi xDSL antara lain:
              a. POTS (analog voice)
              b. Internet / fast internet
              c. Broadcast TV
              d. VoD, MoD, KoD
              e. Audio/video conference
              f. Tele-education/distance learning
              g. Transfer file
              h. Email, sms, paging
              i. VoDSL (Voice over DSL); VOIP based
              j. Interactive services (online game, tele-shopping, tele-medicine dan sebagainya)
        Yang menjadi catatan adalah setiap model layanan tersebut tentunya mempunyai
kebutuhan bandwidth yang berbeda-beda agar layanan tersebut dapat berjalan dengan baik (contoh
pengiriman gambar tidak patah-patah, suara tidak delay dan sebagainya).




5.5.4 Konfigurasi Implementasi
        Dalam implementasinya, teknologi xDSL dapat diterapkan dalam jaringan kabel tembaga
secara menyeluruh (end-to-end) ataupun dikombinasikan dengan sistem jarlokaf atau hybrid.
Kombinasi dengan jarlokaf umumnya dalam implementasi sistem MSOAN (Multi Service Optical
Access Network), metro access, softswitch, remote DSLAM atau outdoor DSLAM, ataupun
DSLAM dalam gedung.




                         Gambar 5.11 Konfigurasi Implementasi
5.6 Positioning xDSL dalam Next Generation Network
      a. End-to-end BB Copper Network
                    d. Solusi stand alone koneksi HSIA kepada individual user melalui koneksi
                       modem.
                    e. Alternatif solusi voice over broadband (VoBB) dalam jaringan softswitch.
      b. Remote DSLAM Network
        xDSL sebagai last mile teknologi akses optik (packet).
      c. BB Feeder Network
            Feeder untuk teknologi wireless data / Surf Zone
                                              BAB VI

                                              PENUTUP



6.1   Kesimpulan



       Berdasarkan dari hasil pengamatan selama melaksanakan kegiatan kerja praktik serta dalam proses

pembuatan laporan ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan Jaringan Akses yakni

:

                  6.2 Pada teknologi yang berkembang di jaringan akses, khususnya teknologi yang

                      berbasis jarlokat yaitu antara lain ISDN dan XDSL.

                  7.2 Dalam implementasinya, teknologi xDSL dapat diterapkan dalam jaringan kabel

                      tembaga secara menyeluruh (end-to-end) ataupun dikombinasikan dengan sistem

                      jarlokaf atau hybrid.

                  8.2 Karena dapat diimplementasikan pada jaringan lokal akses tembaga (jarlokat)

                      maka teknologi ADSL dapat digunakan sebagai alternatif penanganan layanan pita

                      lebar, disamping jaringan lokal akses fiber (jarlokaf) atau jaringan lokal akses

                      radio (jarlokar).



6.2    Saran

                     s. Agar perangkat ADSL dapat bekerja secara optimal, diperlukan saluran kabel

                        tembaga sebagai media transmisinya yang memenuhi spesifikasi teknis yang
   ditentukan, disamping perangkat ADSL itu sendiri baik disisi sentral maupun

   disisi pelanggan.

t. Pemeliharaan jaringan akses mestinya harus selalu dilakukan dalam jangka

   waktu yang teratur, sehingga sistem transmisi senantiasa dapat selalu terkontrol.

u. Mayoritas jaringan yang dipakai sekarang ini menggunakan jaringan kabel

   tembaga. Karenanya dibutuhkan suatu “injeksi teknologi” untuk meningkatkan

   kemampuan kabel tembaga dalam mentransmisikan sinyal informasi.

v. Untuk menghindari terjadinya interferensi antara arah transmisi upstream dan

   downstream, maka dilakukan pemisahan penggunaan frekuensi untuk upstream

   dan untuk downstream.

w. Pengecekan perangkat secara berkala harus tetap dilakukan agar bila terjadi

   sedikit penyimpangan dapat segera diselesaikan dengan baik. Tindakan ini

   dilakukan untuk meningkatkan pelayanan telekomunikasi, karena dengan

   adanya perangkat yang rusak, kerugian yang di peroleh perusahaan maupun

   konsumen akan menjadi besar.

x. Kemampuan sistem sentral dalam menyediakan layanan ISDN sebaiknya lebih

   ditingkatkan lagi.

								
To top