Docstoc

Pemetaan

Document Sample
Pemetaan Powered By Docstoc
					Iskandar Muda




TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 1

SMK




      Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
      Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
      Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang




TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 1

Untuk SMK
Penulis                 : Iskandar Muda



Perancang Kulit         : TIM



Ukuran Buku             :   17,6 x 25 cm



 MUD      MUDA, Iskandar.
 t                Teknik Survei dan Pemetaan Jilid 1 untuk SMK oleh
          Iskandar Muda ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
          Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
          Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
              x, 173 hlm
              Daftar Pustaka : Lampiran. A
              Glosarium      : Lampiran. B
              Daftar Tabel   : Lampiran. C
              Daftar Gambar : Lampiran. D
              ISBN           : 978-979-060-151-2
              ISBN           : 978-979-060-152-9

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
                         KATA SAMBUTAN


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
                                                    i
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.



                                           Jakarta, 17 Agustus 2008
                                           Direktur Pembinaan SMK
                                                                                      iv




                          PENGANTAR PENULIS

      Penulis mengucapkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya buku
teks “Teknik Survei dan Pemetaan” dapat diselesaikan dengan baik. Buku teks “Teknik
Survei dan Pemetaan” ini dibuat berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dibuat,
silabus mata kuliah Ilmu Ukur Tanah untuk mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Sipil dan D3
Teknik Sipil FPTK UPI serta referensi-referensi yang dibuat oleh penulis dalam dan luar
negeri.
      Tahap-tahap pembangunan dalam bidang teknik sipil dikenal dengan istilah SIDCOM
(survey, investigation, design, construction, operation and mantainance). Ilmu Ukur Tanah
termasuk dalam tahap studi penyuluhan (survey) untuk memperoleh informasi spasial
(keruangan) berupa informasi kerangka dasar horizontal, vertikal dan titik-titik detail yang
produk akhirnya berupa peta situasi.
     Buku teks ini dibuat juga sebagai bentuk partisipasi pada Program Hibah Penulisan
Buku Teks 2006 yang dikoordinir oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Penulis mengucapkan terima kasih :
  1. Kepada Yth. Prof.Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd, selaku Rektor Universitas
      Pendidikan Indonesia di Bandung,
  2. Kepada Yth. Drs. Sabri, selaku Dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
      Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung,
atas perhatian dan bantuannya pada proposal buku teks yang penulis buat.
      Sesuai dengan pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak”, penulis merasa masih
banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proposal buku teks ini, baik
substansial maupun redaksional. Oleh sebab itu saran-saran yang membangun sangat
penulis harapkan dari para pembaca agar buku teks yang penulis buat dapat terwujud
dengan lebih baik di masa depan.
       Semoga proposal buku teks ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan
penulis khususnya serta memperkaya khasanah buku teks bidang teknik sipil di perguruan
tinggi (akademi dan universitas). Semoga Allah SWT juga mencatat kegiatan ini sebagai
bagian dari ibadah kepada-Nya. Amin.




                                                Penulis,
                                                                                          v




DAFTAR ISI                                   4.3. Prosedur Pengukuran Sipat Datar
                                                  Kerangka Dasar Vertikal            96
Lembar Pengesahan                            4.4. Pengolahan Data Sipat Datar
Kata Sambutan                                     Kerangka Dasar Vertikal            104
Pengantar Penulis                     iv     4.5. Penggambaran Sipat Datar
Daftar Isi                            v           Kerangka Dasar Vertikal            105
Deskripsi Konsep                      viii
Peta Kompetensi                       ix      5. Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan
                                                  Sistem Kordinat                121
 1. Pengantar Survei dan Pemetaan     1
                                             5.1. Proyeksi Peta                      121
                                             5.2. Aturan Kuadran                     137
1.1. Plan Surveying dan Geodetic             5.3. Sistem Koordinat                   138
     Surveying                        1      5.4. Menentukan Sudut Jurusan           140
1.2. Pekerjaan Survei dan Pemetaan    5
1.3. Pengukuran Kerangka Dasar                6. Macam Besaran Sudut                145
     Vertikal                         6
1.4. Pengukuran Kerangka Dasar
     Horizontal                       11     6.1. Macam Besaran Sudut                145
1.5. Pengukuran Titik-Titik Detail    18     6.2. Besaran Sudut dari Lapangan        145
                                             6.3. Konversi Besaran Sudut             146
                                             6.4. Pengukuran Sudut                   163
 2. Teori Kesalahan                   26
                                              7. Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke
2.1. Kesalahan-Kesalahan pada                     Muka                            193
     Survei dan Pemetaan              26
2.2. Kesalahan Sistematis             46     7.1. Jarak Pada Survei dan Pemetaan     193
2.3. Kesalahan Acak                   50     7.2. Azimuth dan Sudut Jurusan          196
2.4. Kesalahan Besar                  50     7.3. Tujuan Pengikatan ke Muka          201
                                             7.4. Prosedur Pengikatan Ke muka        203
                                             7.5. Pengolahan Data Pengikatan
 3. Pengukuran Kerangka Dasar                     Kemuka                             207
    Vertikal                          61
                                              8. Cara Pengikatan ke Belakang
3.1. Pengertian                       61         Metode Collins                     213
3.2. Pengukuran Sipat Datar Optis     61
3.3. Pengukuran Trigonometris         79
3.4. Pengukuran Barometris            82     8.1. Tujuan Cara Pengikatan ke
                                                  Belakang Metode Collins            215
 4. Pengukuran Sipat Datar Kerangka          8.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur
    Dasar Vertikal                  91            Pengikatan ke Belakang Metode
                                                  Collins                            216
                                             8.3. Pengolahan Data Pengikatan ke
4.1. Tujuan dan Sasaran Pengukuran                Belakang Metode Collins            221
     Sipat Datar Kerangka Dasar              8.4. Penggambaran Pengikatan ke
     Vertikal                         91          Belakang Metode Collins            233
4.2. Peralatan, bahan, dan formulir
   pengukuran sipat datar kerangka
   dasar vertikal                  92
vi




 9. Cara Pengikatan ke Belakang Metode          13. Garis Kontur, Sifat dan
     Cassini                      239               Interpolasinya                       387


9.1. Tujuan Pengikatan ke Belakang             13.1. Pengertian Garis Kontur             387
     Metode Cassini                     240    13.2. Sifat Garis Kontur                  388
9.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur             13.3. Interval Kontur dan Indeks Kontur   390
     Pengikatan ke Belakang Metode             13.4. Kemiringan Tanah dan Kontur
     Cassini                            241          Gradient                            391
9.3. Pengolahan Data Pengikatan ke             13.5. Kegunaan Garis Kontur               391
     Belakang Metode Cassini            246    13.6. Penentuan dan Pengukuran Titik
9.4. Penggambaran Pengikatan ke                      Detail untuk Pembuatan Garis
     Belakang Metode Cassini            253          Kontur                              393
                                               13.7. Interpolasi Garis Kontur            395
                                               13.8. Perhitungan Garis Kontur            396
 10. Pengukuran Poligon Kerangka
                                               13.9. Prinsip Dasar Penentuan Volume      396
     Dasar Horisontal                 259
                                               13.10. Perubahan Letak Garis Kontur
                                                      di Tepi Pantai                     397
10.1. Tujuan Pengukuran Poligon                13.11. Bentuk-Bentuk Lembah dan
      Kerangka Dasar Horizontal         259           Pegunungan dalam Garis Kontur      399
10.2. Jenis-Jenis Poligon               261    13.12.Cara Menentukan Posisi, Cross
10.3. Peralatan, Bahan dan Prosedur                   Bearing dan Metode
      Pengukuran Poligon                271           Penggambaran                       401
10.4. Pengolahan Data Poligon           279    13.13 Pengenalan Surfer                   402
10.5. Penggambaran Poligon              282
                                                14. Perhitungan Galian dan
                                                    Timbunan                          417
 11. Perhitungan Luas                 313

                                               14.1. Tujuan Perhitungan Galian dan
11.1. Metode-Metode Pengukuran          313          Timbunan                        417
11.2. Prosedur Pengukuran Luas                 14.2. Galian dan Timbunan             418
      dengan Perangkat Lunak                   14.3. Metode-Metode Perhitungan
      AutoCAD                           338          Galian dan Timbunan             418
                                               14.4. Pengolahan Data Galian dan
                                                     Timbunan                        430
 12. Pengukuran Titik-titik Detail Metode
                                               14.5. Perhitungan Galian dan Timbunan 432
     Tachymetri                        345
                                               14.6. Penggambaran Galian dan
                                                     Timbunan                        439
12.1. Tujuan Pengukuran Titik-Titik
      Detail Metode Tachymetri           345    15. Pemetaan Digital                     445
12.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur
      Pengukuran Titik Titik Detail Metode
      Tachymetri                         359   15.1. Pengertian Pemetaan Digital         445
12.3. Pengolahan Data Pengukuran               15.2. Keunggulan Pemetaan Digital
      Tachymetri                         367         Dibanding Pemetaan
12.4. Penggambaran Hasil Pengukuran                  Konvensional                        445
      Tachymetri                         368   15.3. Bagian-Bagian Pemetaan Digital      446
                                               15.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
                                                     Pemetaan Digital                    450
                                               15.5. Pencetakan Peta dengan Kaidah
                                                     Kartografi                          473
                                              vii




 16. Sistem Informasi Geografis     481


16.1. Pengertian Dasar Sistem
      Informasi Geografis               481
16.2. Keuntungan Sistem Informasi
       Geografis                        481
16.3. Komponen Utama SIG                486
16.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
      Pembangunan SIG                   491
16.5. Jenis-Jenis Analisis Spasial
      dengan SIG dan Aplikasinya pada
      Berbagai Sektor Pembangunan       500

LAMPIRAN
A. Daftar Pustaka
B. Glosarium
C. DAFTAR TABEL
D. DAFTAR GAMBAR
                                                                              viii




                                 DESKRIPSI

      Buku Teknik Survei dan Pemetaan ini menjelaskan ruang lingkup Ilmu ukur
tanah, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada Ilmu Ukur tanah untuk
kepentingan studi kelayakan, perencanaan, konstruksi dan operasional pekerjaan
teknik sipil. Selain itu, dibahas tentang perkenalan ilmu ukur tanah, aplikasi teori
kesalahan pada pengukuran dan pemetaan, metode pengukuran kerangka dasar
vertikal dan horisontal, metode pengukuran titik detail, perhitungan luas, galian
dan timbunan, pemetaan digital dan sistem informasi geografis.

      Buku ini tidak hanya menyajikan teori semata, akan tetapi buku ini
dilengkapi dengan penduan untuk melakukan praktikum pekerjaan dasar survei.
Sehingga, diharapkan peserta diklat mampu mengoperasikan alat ukur waterpass
dan theodolite, dapat melakukan pengukuran sipat datar, polygon dan tachymetry
serta pembuatan peta situasi.
                                                                                               ix




                               PETA KOMPETENSI

Program diklat            :   Pekerjaan Dasar Survei
Tingkat                   :   x (sepuluh)
Alokasi Waktu             :   120 Jam pelajaran
Kompetensi                :   Melaksanakan Dasar-dasar Pekerjaan Survei


                                                             Pembelajaran
   No      Sub Kompetensi
                                               Pengetahuan                    Keterampilan
    1   Pengantar survei dan      a.   Memahami ruang lingkup plan Menggambarkan diagram
        pemetaan                       surveying dan geodetic         alur ruang lingkup pekerjaan
                                  b.   Memahami ruang lingkup         survei dan pemetaan
                                       pekerjaan survey dan
                                       pemetaan
                                  c.   Memahami pengukuran
                                       kerangka dasar vertikal
                                  d.   Memahami Pengukuran
                                       kerangka dasar horisontal
                                  e.   Memahami Pengukuran titik-
                                       titik detail
    2   Teori Kesalahan           a.   Mengidentifikasi kesalahan-
                                       kesalahan pada pekerjaan
                                       survey dan pemetaan
                                  b.   Mengidentifikasi kesalahan
                                       sistematis (systematic error)
                                  c.   Mengidentifikasi Kesalahan
                                       Acak (random error)
                                  d.   Mengidentifikasi Kesalahan
                                       Besar (random error)
                                  e.   Mengeliminasi Kesalahan
                                       Sistematis
                                  f.   Mengeliminasi Kesalahan
                                       Acak
    3   Pengukuran kerangka       a.   Memahami penggunaan sipat      Dapat melakukan
        dasar vertikal                 datar kerangka dasar vertikal  pengukuran kerangka dasar
                                  b.   Memahami penggunaan            vertikal dengan
                                       trigonometris                  menggunakan sipat datar,
                                  c.   Memahami penggunaan            trigonometris dan
                                       barometris                     barometris.
    4   Pengukuran sipat dasar    a.   Memahami tujuan dan            Dapat melakukan
        kerangka dasar vertikal        sasaran pengukuran sipat       pengukuran kerangka dasar
                                       datar kerangka dasar vertikal  vertikal dengan
                                  b.   Mempersiapkan peralatan,       menggunakan sipat datar
                                       bahan dan formulir             kemudian mengolah data
                                       pengukuran sipat datar         dan menggambarkannya.
                                       kerangka dasar vertikal
                                  c.   Memahami prosedur
                                       pengukuran sipat datar
                                       kerangka dasar vertikal
                                  d.   Dapat mengolah data sipat
                                       datar kerangka dasar vertikal
                                       Dapat menggambaran sipat
                                       datar kerangka dasar vertikal
                                                                                       x




                                                        Pembelajaran
No      Sub Kompetensi
                                         Pengetahuan                    Keterampilan
5    Proyeksi peta, aturan   a.   Memahami pengertian            Membuat Proyeksi peta
     kuadran dan sistem           proyeksi peta, aturan kuadran  berdasarkan aturan kuadran
     koordinat                    dan sistem koordinat           dan sisten koordinat
                             b.   Memahami jenis-jenis
                                  proyeksi peta dan aplikasinya
                             c.   Memahami aturan kuadran
                                  geometrik dan trigonometrik
                             d.   Memahami sistem koordinat
                                  ruang dan bidang
                             e.   Memahami orientasi survei
                                  dan pemetaan serta aturan
                                  kuadran geometrik
6    Macam besaran sudut     a.   Mengetahui macam besaran       Mengaplikasikan besaran
                                  sudut                          sudut dilapangan untuk
                             b.   Memahami besaran sudut         pengolahan data.
                                  dari lapangan
                             c.   Dapat melakukan konversi
                                  besaran sudut
                             d.   Memahami besaran sudut
                                  untuk pengolahan data

7    Jarak, azimuth dan      a. Memahami pengertian jarak       Mengukur jarak baik dengan
     pengikatan kemuka          pada survey dan pemetaan        alat sederhana maupun
                             b. Memahami azimuth dan sudut      dengan pengikatan ke
                                jurusan                         muka.
                             c. Memahami tujuan pengikatan
                                ke muka
                             d. Mempersiapkan peralatan,
                                bahan dan prosedur
                                pengikatan ke muka
                             e. Memahami pengolahan data
                                pengikatan ke muka
                             f. Memahami penggambaran
                                pengikatan ke muka

8    Cara pengikatan ke      a. Tujuan Pengikatan ke            Mencari koordinat dengan
     belakang metode            Belakang Metode Collins         metode Collins.
     collins                 b. Peralatan, Bahan dan
                                Prosedur Pengikatan ke
                                Belakang Metode Collins
                             c. Pengolahan Data Pengikatan
                                ke Belakang Metoda Collins
                             d. Penggambaran Pengikatan ke
                                Belakang Metode Collins

9    Cara pengikatan ke      a. Memahami tujuan pengikatan      Mencari koordinat dengan
     belakang metode            ke belakang metode cassini      metode Cassini.
     Cassini                 b. Mempersiapkan peralatan,
                                bahan dan prosedur
                                pengikatan ke belakang
                                metode cassini
                             c. Memahami pengolahan data
                                pengikatan ke belakang
                                metoda cassini
                             d. Memahami penggambaran
                                pengikatan ke belakang
                                metode cassini
                                                                                                xi




                                                            Pembelajaran
No      Sub Kompetensi
                                           Pengetahuan                        Keterampilan
10   Pengukuran poligon        a.   Memahami tujuan                  Dapat melakukan
     kerangka dasar                 pengukuran poligon               pengukuran kerangka dasar
     horisontal                b.   Memahami kerangka dasar          horisontal (poligon).
                                    horisontal
                               c.   Mengetahui jenis-jenis poligon
                               d.   Mempersiapkan peralatan,
                                    bahan dan prosedur
                                    pengukuran poligon
                               e.   Memahami pengolahan data
                                    pengukuran poligon
                               f.   Memahami penggambaran
                                    poligon
11   Pengukuran luas           a.   Menyebutkan metode-metode        Menghitung luas
                                    pengukuran luas                  bedasarkan hasil dilapangan
                               b.   Memahami prosedur                dengan metoda saruss,
                                    pengukuran luas dengan           planimeter dan autocad.
                                    metode sarrus
                               c.   Memahami prosedur
                                    pengukuran luas dengan
                                    planimeter
                               d.   Memahami prosedur
                                    pengukuran luas dengan
                                    autocad
12   Pengukuran titik-titik    a.   Memahami tujuan                  Melakukan pengukuran titik-
     detail                         pengukuran titik-titik detail    titik dtail metode tachymetri.
                                    metode tachymetri
                               b.   Mempersiapkan peralatan,
                                    bahan dan prosedur
                                    pengukuran tachymetri
                               c.   Memahami pengolahan data
                                    pengukuran tachymetri
                               d.   Memahami penggambaran
                                    hasil pengukuran tachymetri

13   Garis kontur, sifat dan   a. Memahami pengertian garis          Membuat garis kontur
     interpolasinya               kontur                             berdasarkan data yang
                               b. Menyebutkan sifat-sifat garis      diperoleh di lapangan.
                                  kontur
                               c. Mengetahui cara penarikan
                                  garis kontur
                               d. Mengetahui prosedur
                                  penggambaran garis kontur
                               e. Memahami penggunaan
                                  perangkat lunak surfer

14   Perhitungan galian dan    a. Memahami tujuan                     Menghitung galian dan
     timbunan                     perhitungan galian dan             timbunan.
                                  timbunan
                               b. Memahami metode-metode
                                  perhitungan galian dan
                                  timbunan
                               c. Memahami pengolahan data
                                  galian dan timbunan
                               d. Mengetahui cara
                                  penggambaran galian dan
                                  timbunan
                                                                                   xii




                                                     Pembelajaran
No      Sub Kompetensi
                                      Pengetahuan                   Keterampilan
15   Pemetaan digital    a.   Memahami pengertian
                              pemetaan digital
                         b.   Mengetahui keunggulan
                              pemetaan digital
                              dibandingkan pemetaan
                              konvensional
                         c.   Memahami perangkat keras
                              dan perangkat lunak
                              pemetaan digital
                         d.   Memahami pencetakan peta
                              dengan kaidah kartografi
16   Sisitem informasi   a.   Memahami pengertian sistem
     geografik                informasi geografik
                         b.   Memahami keunggulan
                              sistem informasi geografik
                              dibandingkan pemetaan
                              digital perangkat keras dan
                              perangkat lunak sistem
                              informasi geografik
                         c.   Mempersiapkan peralatan,
                              bahan dan prosedur
                              pembangunan sistem
                              informasi geografik
                         d.   Memahami jenis-jenis analisis
                              spasial dengan sistem
                              informasi geografik dan
                              aplikasinya pada berbagai
                              sektor pembangunan
                                                                                                      1

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                    1. Pengantar Survei dan Pemetaan

                                                       permukaan bumi baik unsur alam maupun
    1.1 Plan surveying dan geodetic                    unsur buatan manusia pada bidang yang
        surveying
                                                       dianggap datar. Plan surveying di batasi
                                                       oleh daerah yang sempit yaitu berkisar
llmu ukur tanah merupakan bagian rendah
                                                       antara 0.5 derajat x 0.5 derajat atau 55 km x
dari ilmu yang lebih luas yang dinamakan
                                                       55 km.
ilmu Geodesi.

Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud :                                                  Plan Surveying
a. Maksud ilmiah : menentukan bentuk                   Geodesi
     permukaan bumi
b. Maksud praktis : membuat bayangan                                                 Geodetic Survaying
     yang dinamakan peta dari sebagian
     besar atau sebagian kecil permukaan               Bentuk bumi merupakan pusat kajian dan
     bumi.                                             perhatian dalam Ilmu ukur tanah. Proses
                                                       penggambaran permukaan bumi secara
Pada maksud kedua inilah yang sering
                                                       fisiknya adalah berupa bola yang tidak
disebut      dengan        istilah      pemetaan.
                                                       beraturan bentuknya dan mendekati bentuk
Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya
                                                       sebuah jeruk. Hal tersebut terbukti dengan
dapat dibagi 2, yaitu :
                                                       adanya pegunungan, Lereng-lereng, dan
•    Geodetic Surveying                                jurang jurang. Karena bentuknya yang tidak
•    Plan Surveying                                    beraturan maka diperlukan suatu bidang
                                                       matematis. Para pakar kebumian yang ingin
Perbedaan        prinsip     dari      dua     jenis
                                                       menyajikan informasi tentang bentuk bumi,
pengukuran dan pemetaan di atas adalah :
                                                       mengalami      kesulitan      karena   bentuknya
Geodetic     surveying     suatu       pengukuran
                                                       yang tidak beraturan ini, oleh sebab itu,
untuk menggambarkan permukaan bumi
                                                       mereka berusaha mencari bentuk sistematis
pada bidang melengkung/ellipsoida/bola.
                                                       yang dapat mendekati bentuk bumi.
Geodetic     Surveying     adalah      llmu,   seni,
teknologi untuk menyajikan informasi bentuk            Awalnya para ahli memilih bentuk bola
kelengkungan          bumi           atau      pada    sebagai     bentuk     bumi.      Namum     pada
keiengkungan       bola.     Sedangkan         plan    hakekatnya,      bentuk        bumi    mengalami
Surveying adalah merupakan llmu seni, dan              pemepatan pada bagian kutub-kutubnya,
teknologi untuk menyajikan bentuk                      hal   ini   terlihat   dari    Fenomena     lebih
2

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




panjangnya jarak lingkaran pada bagian                    adalah bila daerah mempunyai ukuran
equator di bandingkan dengan jarak pada                   terbesar tidak melebihi 55 km (kira-kira 10
lingkaran yang melalui kutub utara dan                    jam jalan).
kutub selatan dan akhirnya para ahli                      Terbukti, bahwa bentuk bumi itu dapat
memilih Ellipsoidal atau yang dinamakan                   dianggap      sebagai     bentuk    ruang    yang
ellips      yang      berputar     dimana         sumbu   terjadi   dengan    memutar         suatu    ellips
pendeknya          adalah      suatu      sumbu    yang   dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu
menghubungkan kutub utara dan sumbu                       putar. Bilangan - bilangan yang penting
kutub       selatan    yang      merupakan        poros   mengenai      bentuk     bumi      yang     banyak
perputaran         bumi,       sedangkan          sumbu   digunakan dalam ilmu geodesi adalah :
panjangnya            adalah          sumbu        yang
menghubungkan equator dengan equator
yang lain dipermukaan sebaliknya.




    Bentuk jeruk                              Bentuk bola                         Bentuk Ellipsoidal

Gambar 1. Anggapan bumi



Bidang Ellipsoide adalah bila luas daerah                 Sumbu panjang ellipsoid a
                                  2
lebih besar dari 5500 Km , ellipsoide ini di              Sumbu panjang ellipsoid b
dapat dengan memutar suatu ellips dengan                  Angka pergepengan x =         a−b
sumbu kecilnya sebagai sumbu putar a =                                                   a
6377.397, dan sumbu kecil b = 6356.078                                                        1   a
                                                          Yang banyak dipakai adalah            =
m. Bidang bulatan adalah elips dari Bessel                                                    x a−b
mempunyai sumbu kurang dari 100 km.
Jari-jari    bulatan     ini    dipilih    sedemikian,                                 a2 − b2
                                                          Eksentrisitas kesatu e2 =
sehingga bulatan menyinggung permukaan                                                   a2
bumi di titik tengah daerah. Bidang datar
                                                                                                      3

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                        a2 − b2
                              ’2
                                                      Salah satu hal yang harus diperhatikan
Eksentrisitas kedua e =
                          b2                          berkaitan dengan ellipsoidal bumi adalah

Ellipsoid Bumi Internasional yang terakhir            bahwa    ellipsoide     bumi    itu   mempunyai

diusulkan             pada    tahun   1967    oleh:   komponen – komponen sebagai berikut :

International           Assosiation   of   Geodesy       •    a adalah sumbu setengah pendek

(l.A.G) Pada Sidang Umum International                        atau jari-jari equator,

Union of Geodesy and Geophysics, dan                     •    b adalah setengah sumbu pendek

diterimanya dengan dimensi :                                  atau jari-jari kutub,

            a = 6.37788.116660,000 m                     •    pemepatan        atau     penggepengan
           b = 6.356.774, 5161 m                              yaitu     sebagai      parameter   untuk
            e2 = 0, 006.694.605.329, 56                       menentukan          bentuk    ellipsoidal/
            e'2 = 0, 006..739.725.182, 32                     ellips,

            1                                            •    eksentrisitet          pertama       dan
              = 298,247.167.427
            x                                                 eksentrisitet kedua.

                      2a + b
R   rata - rata   =          = 6.371. Q31, 5Q54 m
                        3




Gambar 2. Ellipsoidal bumi
4

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




Keterangan :
                                                     Bentuk     bumi yang         asli tidaklah bulat
0 = pusat bumi (pusat ellipsoide bumi)
                                                     sempurna          (agak       lonjong)        namun
Ku = Kutub Utara bumi
                                                     pendekatan bumi sebagai bola sempurna
Ks = Kutub selatan bumi
                                                     masih cukup relevan untuk sebagian besar
EK = ekuator bumi
                                                     kebutuhan,           termasuk             penentuan
Untuk skala yang lebih luas, asumsi ini              kedudukan dengan tingkat presisi yang
tidak dapat diterapkan mengingat pada                relatif rendah.
kenyataannya permukaan bumi berbentuk
                                                     Pada kenyataannya kita ingin menyajikan
lengkungan bola. Asumsi bumi datar hanya
                                                     permukaan bumi dalam bentuk bidang
dapat diterapkan sejauh kesalahan jarak
                                                     datar. Oleh sebab itu, bidang bola atau
dan    sudut     yang    terjadi     akibat   efek
                                                     bidang ellipsoide yang akan dikupas pasti
kelengkungan bumi masih dapat diabaikan.
                                                     ada distorsi atau ada perubahan bentuk
Lingkar    paralel    adalah      lingkaran   yang   karena harus ada bagian dari bidang
memotong tegak lurus terhadap sumbu                  speroid    itu     yang      tersobekan       dengan
putar bumi. Lingkaran paralel yang tepat             kenyataan        tersebut      didekati       dengan
membagi dua belahan bumi utara-selatan               perantara bidang proyeksi. Bidang proyeksi
                           0
yaitu lingkar paralel 0        disebut lingkaran     ini terbagi dalam tiga jenis, yaitu :
equator. Lingkar paralel berharga positif ke
                                                     •   Bidang        proyeksi     bidang      datarnya
utara hingga 90° pada titik kutub utara dan
                                                         sendiri      atau     dinamakan       perantara
sebaliknya negatif ke selatan hingga -900
                                                         azimuthal dan zenithal,
pada titik kutub selatan. Lingkar meridian
                                                     •   Bidang       perantara      yang      berbentuk
adalah    lingkaran     yang      sejajar   dengan
                                                         kerucut dinamakan bidang perantara
sumbu bumi dan memotong tegak lurus
                                                         conical,
bidang equator. Setengah garis lingkar
                                                     •   Bidang proyeksi yang menggunakan
meridian yang melalui kota Greenwich di
                                                         bidang perantara berbentuk silinder
UK (dari kutub utara ke kutub selatan)
                                                         yang      dinamakan        bidang     perantara
disepakati sebagai garis meridian utama,
                                                         cylindrical.
yaitu longituda 00. Setengah lingkaran tepat
1800 di belakang garis meridian utama                Dari   bidang      perantara     ini    ada    aspek
disepakati     sebagai     garis     penanggalan     geometric dari permukaan bumi matematis
internasional. Kedua garis ini membagi               itu ke bidang datar berhubungan dengan
belahan bumi menjadi belahan barat dan               luas, maka dinamakan proyeksi equivalent,
belahan timur.                                       berhubungan        dengan       jarak     (jarak   di
                                                                                                                5

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




permukaan bumi sama dengan jarak pada
bidang       datar      dalam          perbandingan            1.2 Pekerjaan survei dan
                                                                   pemetaan
skalanya) dinamakan proyeksi equidistance
dan berhubungan dengan sudut (sudut
                                                             Dalam     pembuatan         peta    yang      dikenal
permukaan bumi sama dengan sudut di
                                                             dengan istilah pemetaan dapat dicapai
bidang datar) dinamakan proyeksi conform.
                                                             dengan         melakukan                pengukuran-
Contoh     aplikasi    yang       mempertahankan             pengukuran di atas permukaan bumi yang
geometric itu adalah proyeksi equivalent                     mempunyai          bentuk      tidak      beraturan.
yaitu pemetaan yang biasanya digunakan                       Pengukuran-pengukuran              dibagi      dalam
oleh BPN, proyeksi equidistance yaitu                        pengukuran         yang       mendatar         untuk
pemetaan yang digunakan departemen                           mendapat hubungan titik-titik yang diukur di
perhubungan       dalam       hal      ini    misalnya       atas     permukaan          bumi        (Pengukuran
jaringan     jalan.      Sedangkan                proyeksi   Kerangka       Dasar          Horizontal)        dan
conform yaitu pemetaan yang digunakan                        pengukuran-pengukuran              tegak        guna
untuk keperluan navigasi laut atau udara.                    mendapat hubungan tegak antara titik-titik

Berdasarkan          bidang     perantara            yang    yang diukur (Pengukuran Kerangka Dasar

diterangkan di atas yaitu ada 3 jenis bidang                 Vertikal) serta pengukuran titik-titik detail.

perantara      dan      mempunyai             3      jenis   Kerangka dasar pemetaan untuk pekerjaan

geometric maka kita bisa menggunakan 27                      rekayasa sipil pada kawasan yang tidak

kombinasi/       variasi/      altematif            untuk    luas, sehingga bumi masih bisa dianggap

memproyeksikan           titik-titik         di      atas    sebagai       bidang         datar,       umumnya

permukaan bumi pada bidang datar.                            merupakan bagian pekerjaan pengukuran
                                                             dan pemetaan dari satu kesatuan paket
Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari
                                                             pekerjaan      perencanaan              dan     atau
tiga bagian besar yaitu       :
                                                             perancangan bangunan teknik sipil. Titik-
a) Pengukuran kerangka dasar Vertikal                        titik kerangka dasar pemetaan yang akan
     (KDV)                                                   ditentukan tebih dahulu koordinat dan
b) Pengukuran kerangka dasar Horizontal                      ketinggiannya itu dibuat tersebar merata
     (KDH)                                                   dengan      kerapatan       tertentu,    permanen,
c)   Pengukuran Titik-titik Detail                           mudah     dikenali     dan     didokumentasikan
                                                             secara      baik     sehingga          memudahkan
                                                             penggunaan selanjutnya.
6

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                                                          1.3 Pengukuran kerangka dasar
                                                              vertikal

                                                      Kerangka dasar vertikal merupakan teknik
                                                      dan cara pengukuran kumpulan titik-titik
                                                      yang telah diketahui atau ditentukan posisi
                                                      vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap
                                                      bidang rujukan ketinggian tertentu.

                                                      Bidang ketinggian rujukan ini biasanya
                                                      berupa ketinggian muka air taut rata-rata
                                                      (mean sea level - MSL) atau ditentukan
                                                      lokal.
Gambar 3. Aplikasi pekerjaan pemetaan pada
           bidang teknik sipil
                                                      •    Metode sipat datar prinsipnya adalah
                                                           Mengukur tinggi bidik alat sipat datar
Dalam      perencanaan           bangunan     Sipil
                                                           optis di lapangan menggunakan rambu
misalnya perencanaan jalan raya, jalan
                                                           ukur.
kereta api, bendung dan sebagainya, Peta
                                                      •    Pengukuran Trigonometris prinsipnya
merupakan hal yang sangat penting untuk
                                                           adalah Mengukur jarak langsung (Jarak
perencanaan bangunan tersebut. Untuk
                                                           Miring),    tinggi   alat,   tinggi,   benang
memindahkan titik - titik yang ada pada
                                                           tengah rambu, dan suclut               Vertikal
peta perencanaan suatu bangunan sipil ke
                                                           (Zenith atau Inklinasi).
lapangan       (permukaan         bumi)      dalam
pelaksanaanya pekerjaan sipil ini dibuat              •    Pengukuran Barometris pada prinsip-

dengan     pematokan/      staking    out,    atau         nya adalah mengukur beda tekanan

dengan perkataan lain bahwa pematokan                      atmosfer.

merupakan kebalikan dari pemetaan.                    Metode sipat datar merupakan metode
                                                      yang paling teliti dibandingkan dengan
                                                      metode trigonometris dan barometris. Hal
                                                      ini dapat dijelaskan dengan menggunakan
                                                      teori perambatan kesalahan yang dapat
                                                      diturunkan melalui persamaan matematis
                                                      diferensial parsial.

Gamba 4. Staking out
                                                                                                     7

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




1.3.1.   Metode pengukuran sipat datar
                                                     nivo yang melalui titik A dan B. Umumnya
         optis
                                                     bidang nivo adalah bidang yang lengkung,




   Gambar 5. Pengukuran sipat datar optis
                                                     tetapi bila jarak antara titik-titik A dan B
Metode     sipat   datar    prinsipnya      adalah
                                                     dapat    dianggap      sebagai    Bidang     yang
Mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis
                                                     mendatar.
di lapangan menggunakan rambu ukur.
                                                     Untuk      melakukan        dan   mendapatkan
Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi
                                                     pembacaan pada mistar yang dinamakan
dengan menggunakan metode sipat datar
                                                     pula Baak, diperlukan suatu garis lurus,
optis masih merupakan cara pengukuran
                                                     Untuk garis lurus ini tidaklah mungkin
beda tinggi yang paling teliti. Sehingga
                                                     seutas     benang,     meskipun      dari   kawat,
ketelitian kerangka dasar vertikal (KDV)
                                                     karena benang ini akan melengkung, jadi
dinyatakan sebagai batas harga terbesar
                                                     tidak lurus.
perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat
                                                     Bila diingat tentang hal hal yang telah di
datar pergi dan pulang.
                                                     bicarakan tentang teropong, maka setelah
Maksud       pengukuran           tinggi    adalah   teropong       dilengkapi   dengan     diafragma,
menentukan beda tinggi antara dua titik.             pada teropong ini di dapat suatu garis lurus
Beda tinggi h diketahui antara dua titik a           ialah garis bidik. Garis bidik ini harus di buat
dan b, sedang tinggi titik A diketahui sama          mendatar supaya dapat digunakan untuk
dengan Ha dan titik B lebih tinggi dari titik        menentukan beda tinggi antara dua titik,
A, maka tinggi titik B, Hb = Ha + h yang             ingatlah pula nivo pada tabung, karena pada
diartikan dengan beda tinggi antara titik A          nivo tabung dijumpai suatu garis lurus yang
clan titik B adalah jarak antara dua bidang          dapat mendatar dengan ketelitian besar.
8

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




Garis lurus ini ialah tidak lain adalah garis                    tengah-tengah antara rambu belakang dan
nivo. Maka garis arah nivo yang dapat                            muka .Alat sifat datar diatur sedemikian rupa
mendatar         dapat     pula        digunakan     untuk       sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu
mendatarkan garis bidik di dalam suatu                           dengan mengetengahkan gelembung nivo.
teropong, caranya; tempatkan sebuah nivo                         Setelah gelembung nivo di ketengahkan
tabung diatas teropong. Supaya garis bidik                       barulah di baca rambu belakang dan rambu
mendatar, bila garis arah nivo di datarkan                       muka yang terdiri dari bacaan benang
dengan menempatkan gelembung di tengah-                          tengah, atas dan bawah. Beda tinggi slag
tengah, perlulah lebih dahulu.                                   tersebut      pada        dasarnya            adalah
                                                                 pengurangan     benang      tengah      belakang
Garis bidik di dafam teropong, dibuat sejajar
                                                                 dengan benang tengah muka.
dengan garis arah nivo. Hal inilah yang
menjadi syarat utama untuk semua alat ukur                       Berikut ini adalah syarat-syarat untuk alat
penyipat datar. Dalam pengukuran Sipat                           penyipat datar optis :
Datar     Optis      bisa        menggunakan              Alat
                                                                 •   Garis arah nivo harus tegak lurus
sederhana dengan spesifikasi alat penyipat
                                                                     pada sumbu kesatu alat ukur penyipat
datar yang sederhana terdiri atas dua tabung
                                                                     datar. Bila sekarang teropong di putar
terdiri   dari    gelas         yang    berdiri     dan     di
                                                                     dengan sumbu kesatu sebagai sumbu
hubungkan dengan pipa logam. Semua ini
                                                                     putar dan garis bidik di arahkan ke mistar
dipasang diatas statif. Tabung dari gelas dan
                                                                     kanan, maka sudut a antara garis arah
pipa penghubung dari logam di isi dengan zat
                                                                     nivo dan sumbu kesatu pindah kearah
cair yang berwarna. Akan tetapi ketelitian
                                                                     kanan, dan ternyata garis arah nivo dan
membidik kecil, sehingga alat ini tidak
                                                                     dengan    sendirinya    garis     bidik    tidak
digunakan orang lagi. Perbaikan dari alat ini
                                                                     mendatar, sehingga garis bidik yang
adalah mengganti pipa logam dengan slang
                                                                     tidak mendatar tidaklah dapat digunakan
dari karet dan dua tabung gelas di beri skala
                                                                     untuk pembacaan b dengan garis bidik
dalam mm.
                                                                     yang     mendatar,     haruslah      teropong
Cara menghitung tinggi garis bidik atau                              dipindahkan          keatas,        sehingga
benang tengah dari suatu rambu dengan                                gelembung di tengah-tengah.
menggunakan              alat     ukur      sifat     datar      •   Benang     mendatar     diagfragma         harus
(waterpass). Rambu ukur berjumlah 2 buah                             tegak lurus pada sumbu kesatu. Pada
masing-masing di dirikan di atas dua patok                           pengukuran titik tinggi dengan cara
yang merupakan titik ikat jalur pengukuran                           menyipat datar, yang dicari selalu titik
alat sifat optis kemudian di letakan di                              potong garis bidik yang mendatar dengan
                                                                                  9

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




     mistar-mistar yang dipasang diatas titik-
     titik, sedang diketahui bahwa garis bidik
     adalah garis lurus yang menghubungkan
     dua titik potong benang atau garis
     diagframa dengan titik tengah lensa
     objektif teropong.
•    Garis     bidik    teropong        harus    sejajar
     dengan garis arah nivo. Garis bidik
     adalah            Garis           lurus      yang
                                                           Gambar 7. Pita ukur
     menghubungkan             titik    tengah    lensa
     objektif dengan titik potong dua garis
     diafragma, dimana pada garis bidik
     pada teropong harus sejajar dengan
     garis arah nivo sehingga hasil dari
     pengukuran adalah hasil yang teliti dan
     tingkat kesaIahannya sangat keciI.
Alat-alat    yang      biasa      digunakan      dalam
pengukuran kerangka dasar vertikal metode
sipat datar optis adalah:
     •   Alat Sipat Datar                                  Gambar 8. Rambu ukur

     •   Pita Ukur
     •   Rambu Ukur
     •   Statif
     •   Unting – Unting
     •   Dll




                                                           Gambar 9. Statif

Gambar 6 . Alat sipat datar
10

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




1.3.2. Metode pengukuran barometris                 dalam hal ini misalnya elevasi ± 0,00 meter
                                                    permukaan air laut rata-rata.
Pengukuran Barometris pada prinsip-nya
                                                              f m.a
adalah mengukur beda tekanan atmosfer.              P=          =   = Phg . g. H
Pengukuran tinggi dengan menggunakan                          A   A
metode      barometris     dilakukan      dengan                         MV 2
                                                    FC = - FC =
menggunakan sebuah barometer sebagai                                      R
alat utama.                                         Keterangan :
                                                    p = massa jenis rasa air raksa (hidragirum)
                                                    g = gravitasi - 9.8 mJsZ - 10 m/s2
                                                    h= tinggi suatu titik dari MSL ( Mean Sea
                                                    level )
                                                    ∆HAB = PA − PB = p.g a .ha − p.g b .hb
                                                                          (g a + gb )
                                                    = (ha − hb ) p
                                                                               2
                                                    1.3.3. Metode pengukuran trigonometris



                                                                                                          BT

                                                                                                           B

Gambar 10. Barometris

                                                         Inklinasi
                                                            (i)
Seperti telah di ketahui, Barometer adalah
                                                     A                          dAB
alat pengukur tekanan udara. Di suatu
tempat     tertentu     tekanan   udara    sama
                                                    Gambar 11. Pengukuran Trigonometris
dengan     tekanan      udara     dengan    tebal
                                                                     d AB = dm . cos i
tertentu pula. Idealnya pencatatan di setiap
                                                                     ∆ HAB =dm. sin i + TA – TB
titik dilakukan dalam kondisi atmosfer yang
sama tetapi pengukuran tunggal hampir               Pengukuran              kerangka       dasar      vertikal
tidak mungkin dilakukan karena pencatatan           metode           trigonometris       pada      prinsipnya
tekanan        dan        temperatur       udara    adalah perolehan beda tinggi melalui jarak
mengandung kesalahan akibat perubahan               langsung teropong terhadap beda tinggi
kondisi atmosfir. penentuan beda tinggi             dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut
dengan cara mengamati tekanan udara di              vertikal (zenith atau inklinasi) serta tinggi
suatu tempat lain yang dijadikan referensi          garis bidik yang diwakili oleh benang
                                                                                                        11

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




tengah rambu ukur. Alat theodolite, target              data sudut mendatar yang diukur pada
dan rambu ukur semua berada diatas titik                skafa fingkaran yang letaknya mendatar.
ikat.    Prinsip    awal       penggunaan       alat    Bagian-bagian dari pengukuran kerangka
theodolite sama dengan alat sipat datar                 dasar horizontal adalah :
yaitu     kita      harus         mengetengahkan        •   Metode Poligon
gelembung        nivo    terlebih    dahulu     baru    •   Metode Triangulasi
kemudian           membaca            unsur-unsur       •   Metode Trilaterasi
pengukuran yang lain. Jarak langsung                    •   Metode kuadrilateral
dapat    diperoleh      melalui     bacaan     optis    •   Metode Pengikatan ke muka
benang atas dan benang bawah atau                       •   Metode pengikatan ke belakang cara
menggunakan         alat       pengukuran      jarak        Collins dan cassini
elektronis yang sering dikenal dengan
nama        EDM         (Elektronic      Distance       1.4.1 Metode pengukuran poligon

Measurement). Untuk menentukan beda                     Poligon digunakan apabila titik-titik yang
tinggi    dengan        cara    trigonometris     di    akan     di     cari       koordinatnya    terletak
perlukan alat pengukur sudut (Theodolit)                memanjang        sehingga      tnernbentuk    segi
untuk dapat mengukur sudut sudut tegak.                 banyak        (poligon).      Pengukuran      dan
Sudut tegak dibagi dalam dua macam,                     Pemetaan Poligon merupakan salah satu
ialah sudut miring m clan sudut zenith z,               pengukuran dan pemetaan kerangka dasar
sudut miring m diukur mulai ari keadaan                 horizontal       yang         bertujuan      untuk
mendatar, sedang sudut zenith z diukur                  memperoleh koordinat planimetris (X,Y)
mu(ai dari keadaan tegak lurus yang selalu              titik-titik pengukuran. Pengukuran poligon
ke arah zenith alam.                                    sendiri mengandung arti salah satu metode
                                                        penentuan titik diantara beberapa metode

  1.4 Pengukuran kerangka dasar                         penentuan titik yang lain. Untuk daerah
      horizontal                                        yang relatif tidak terlalu luas, pengukuran
                                                        cara poligon merupakan pilihan yang sering
Untuk mendapatkan hubungan mendatar                     di gunakan, karena cara tersebut dapat
titik-titik yang diukur di atas permukaan               dengan mudah menyesuaikan diti dengan
bumi maka perlu dilakukan pengukuran                    keadaan        daerah/lapangan.       Penentuan
mendatar     yang       disebut     dengan    istilah   koordinat titik dengan cara poligon ini
pengukuran kerangka dasar Horizontal.                   membutuhkan,
Jadi untuk hubungan mendatar diperlukan
12

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




1.       Koordinat awal                                                 ke    matahari      dari        titik     yang
         Bila      diinginkan     sistem         koordinat              bersangkutan.       Dan         selanjutnya
         terhadap        suatu         sistim      tertentu,            dihasilkan   azimuth       kesalah        satu
         haruslah dipilih koordinat titik yang                          poligon         tersebut                dengan
         sudah       diketahui          misalnya:       titik           ditambahkan ukuran sudut mendatar
         triangulasi atau titik-titik tertentu yang                     (azimuth matahari).
         mempunyai hubungan dengan lokasi
                                                                    4. Data ukuran sudut dan jarak
         yang akan dipatokkan. Bila dipakai
                                                                        Sudut mendatar pada setiap stasiun
         system koordinat lokal pilih salah satu
                                                                        dan jarak antara dua titik kontrol
         titik,    BM     kemudian          beri     harga
                                                                        perlu diukur di lapangan.
         koordinat tertentu dan tititk tersebut
         dipakai sebagai acuan untuk titik-titik
         lainya.                                                                                   β2

2.       Koordinat akhir
         Koordinat titik ini di butuhkan untuk                                β1
                                                                                                          d2
         memenuhi syarat Geometri hitungan                                            d1

         koordinat dan tentunya harus di pilih
         titik yang mempunyai sistem koordinat
         yang sama dengan koordinat awal.                       Gambar 12. Pengukuran poligon

3.       Azimuth awal                                           Data ukuran tersebut, harus bebas dari
         Azimuth        awal     ini     mutlak      harus      sistematis yang terdapat (ada alat ukur)
         diketahui sehubungan dengan arah                       sedangkan salah sistematis dari orang atau
         orientasi dari system koordinat yang                   pengamat dan alam di usahakan sekecil
         dihasilkan dan pengadaan datanya                       mungkin bahkan kalau bisa di tiadakan.
         dapat di tempuh dengan dua cara
                                                                Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi
         yaitu sebagai berikut :
                                                                dalam dua bagian, yaitu :
     •       Hasil hitungan dari koordinat titik -
                                                                •   Poligon berdasarkan visualnya :
             titik yang telah diketahui dan akan
                                                                    a. poligon tertutup
             dipakai sebagai tititk acuan system
             koordinatnya.
     •       Hasil      pengamatan              astronomis
             (matahari). Pada salah satu titik
             poligon sehingga didapatkan azimuth
                                                                                           13

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                                          Untuk mendapatkan nilai sudut-sudut dalam
                                          atau sudut-sudut luar serta jarak jarak
                                          mendatar antara titik-titik poligon diperoleh
                                          atau diukur di lapangan menggunakan alat
                                          pengukur jarak yang mempunyai tingkat
                                          ketelitian tinggi.

                                          Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan
                                          dicari   koordinatnya        terletak    memanjang
                                          sehingga membentuk segi banyak (poligon).
     b. poligon terbuka
                                          Metode poligon merupakan bentuk yang
                                          paling baik di lakukan pada bangunan karena
                                          memperhitungkaan            bentuk      kelengkungan
                                          bumi yang pada prinsipnya cukup di tinjau
                                          dari bentuk fisik di lapangan dan geometrik-
                                          nya. Cara pengukuran polygon merupakan
                                          cara yang umum dilakukan untuk pengadaan
                                          kerangka dasar pemetaan pada daerah yang
     c.   poligon bercabang
                                          tidak terlalu luas sekitar (20 km x 20 km).
                                          Berbagai bentuk poligon mudah dibentuk
                                          untuk menyesuaikan dengan berbagai bentuk
                                          medan pemetaan dan keberadaan titik – titik
                                          rujukan maupun pemeriksa. Tingkat ketelitian
                                          sistem koordinat yang diinginkan dan kedaan
                                          medan lapangan pengukuran merupakan
                                          faktor-faktor        yang    menentukan       dalam
                                          menyusun        ketentuan      poligon     kerangka
                                          dasar.Tingkat ketelitian umum dikaitkan
                                          dengan jenis dan atau tahapan pekerjaan
                                          yang sedang dilakukan. Sistem koordinat
                                          dikaitkan dengan keperluan pengukuran
•    Poligon berdasarkan geometriknya :
                                          pengikatan. Medan lapangan pengukuran
     a. poligon terikat sempurna
                                          menentukan bentuk konstruksi pilar atau
     b. poligon terikat sebagian
                                          patok sebagai penanda titik di lapangan
     c.   poligon tidak terikat
14

1 Pengantar Survei dan Pemetaan




dan juga berkaitan dengan jarak selang                      kepulauan Sunda Kecil, Bali dan Lombik
penempatan titik.                                           dengan       datum      Gunung      Genuk,       pulau
                                                            Bangka dengan datum Gunung Limpuh,
1.4.2 Metode pengukuran triangulasi                         Sulawesi dengan datum Moncong Lowe,
                                                            kepulauan Riau dan Lingga dengan datum
Triangulasi        digunakan       apabila    daerah
                                                            Gunung Limpuh dan Kalimantan Tenggara
pengukuran mempunyai ukuran panjang
                                                            dengan datum Gunung Segara. Posisi
dan lebar yang sama, maka dibuat jaring
                                                            horizontal (X, Y) titik triangulasi dibuat
segitiga. Pada cara ini sudut yang diukur
                                                            dalam         sistem        proyeksi        Mercator,
adalah sudut dalam tiap - tiap segitiga.
                                                            sedangkan posisi horizontal peta topografi
Metode Triangulasi. Pengadaan kerangka
                                                            yang        dibuat      dengan         ikatan     dan
dasar horizontal di Indonesia dimulai di
                                                            pemeriksaan ke titik triangulasi dibuat
pulau Jawa oleh Belanda pada tahun 1862.
                                                            dalam       sistem     proyeksi    Polyeder.      Titik
Titik-titik kerangka dasar horizontal buatan
                                                            triangulasi buatan Belanda tersebut dibuat
Belanda ini dikenal sebagai titik triangulasi,
                                                            berjenjang turun berulang, dari cakupan
karena pengukurannya menggunakan cara
                                                            luas paling teliti dengan jarak antar titik 20 -
triangulasi. Hingga tahun 1936, pengadaan
                                                            40 km hingga paling kasar pada cakupan
titik triangulasi oleh Belanda ini telah
                                                            1 - 3 km.
mencakup          pulau    Jawa    dengan      datum
Gunung Genuk, pantai Barat Sumatra
dengan datum Padang, Sumatra Selatan
dengan datum Gunung Dempo, pantai
Timur    Sumatra          dengan    datum      Serati,


                            Tabel 1. Ketelitian posisi horizontal (x,y) titik triangulasi

           Titik                    Jarak                      Ketelitian                     Metode
              P                20 - 40 km                        ± 0.07                     Triangulasi
              S                10 – 20 km                        ± 0.53                     Triangulasi
              T                   3 – 10 km                      ± 3.30                       Mengikat
              K                   1 – 3 km                          -                         Polygon


Selain posisi horizontal (X Y) dalam sistem                 dalam        sistem       geografis      (j,I)    dan
proyeksi Mercator, titik-titik triangulasi ini              ketinggiannya terhadap muka air laut rata-
juga dilengkapi dengan informasi posisinya
                                                                                                             15
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




rata       yang      ditentukan        dengan       cara   segitiga yang seluruh jarak jaraknya di ukur
trigonometris.                                             di lapangan.
Triangulasi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
       •   Primer
       •   Sekunder
       •   Tersier

Bentuk geometri triangulasi terdapat tiga
buah bentuk geometrik dasar triangulasi,
yaitu :
       •   Rangkaian            segitiga            yang
           sederhana cocok untuk pekerjaan-
           pekerjaan     dengan         orde    rendah
                                                           Gambar 13. Jaring-jaring segitiga
           untuk ini dapat sedapat mungkin
                                                           Pada jaring segitiga akan selalu diperoleh
           diusahakan sisi-sisi segitiga sama
                                                           suatu titik sentral atau titik pusat. Pada titik
           panjang.
                                                           pusat tersebut terdapat beberapa buah
       •   Kuadrilateral       merupakan        bentuk
                                                           sudut yang jumlahnya sama dengan 360
           yang terbaik untuk ketelitian tinggi,
                                                           derajat.
           karena lebih banyak syarat yang
           dapat dibuat. Kuadrilateral tidak               1.4.4.     Metode pengukuran pengikatan

           boleh panjang dan sempit.                                  ke muka

       •   Titik pusat terletak antara 2 titik             Pengikatan ke muka adalah suatu metode
           yang      terjauh      dan      sering     di   pengukuran data dari dua buah titik di
           perlukan.                                       lapangan       tempat       berdiri      alat   untuk
                                                           memperoleh suatu titik lain di lapangan
1.4.3 Metode pengukuran trilaterasi                        tempat berdiri target (rambu ukur, benang,
                                                           unting-unting)       yang         akan      diketahui
Trilaterasi digunakan apabila daerah yang
                                                           koordinatnya     dari     titik   tersebut.     Garis
diukur ukuran salah satunya lebih besar
                                                           antara      kedua       titik     yang      diketahui
daripada ukuran          lainnya,       maka    dibuat
                                                           koordinatnya dinamakan garis absis. Sudut
rangkaian segitiga. Pada cara ini sudut
                                                           dalam yang dibentuk absis terhadap target
yang diukur adalah semua sisi segitiga.
                                                           di titik B dinamakan sudut beta. Sudut beta
Metode       Trilaterasi       yaitu     serangkaian
                                                           dan alfa diperofeh dari tapangan.
16
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




Pada       metode     ini,   pengukuran         yang
                                                        Adapun perbedaan pada kedua metode di
dilakukan hanya pengukuran sudut. Bentuk
                                                        atas terletak pada cara perhitungannya,
yang digunakan metoda ini adalah bentuk
                                                        cara Collins menggunakan era perhitungan
segi tiga. Akibat dari sudut yang diukur
                                                        logaritma. Adapun pada metode Cassini
adalah sudut yang dihadapkan titik yang
                                                        menggunakan mesin hitung. Sebelum alat
dicari,    maka     salah    satu   sisi     segitiga
                                                        hitung berkembang dengan balk, seperti
tersebut harus diketahui untuk menentukan
                                                        masa kini maka perhitungan umumnya
bentuk dan besar segitinya.
                                                        dilakukan dengan bantuan daftar logaritma.
                                                        Adapun metode Cassini menggunakan alat
                                                        hitung karena teori ini muncul pada saat
                                                        adanya alat hitung yang sudah mulai
                                                        berkembang.         Pengikatan      kebelakang
                                                        metode         Collins     merupakan        model
                                                        perhitungan        yang      berfungsi       untuk
                                                        mengetahui suatu letak titik koordinat, yang
                                                        diukur melalui titik-titik koordinat lain yang
                                                        sudah      diketahui.      Pada     pengukuran
                                                        pengikatan ke belakang metode Collins,
Gambar 15. pengukuran pengikatan ke muka                alat theodolite ditegakkan di atas titik yang
                                                        ingin atau belum diketahui koordinatnya.
1.4.5 Metode pengukuran Collins                         Misalkan titik itu diberi nama titik P. titik P
       dan Cassini
                                                        ini akan diukur melalui titik-titik lain yang
                                                        koordinatnya       sudah    diketahui      terlebih
Metode pengukuran Collins dan Cassini
                                                        dahulu. Misalkan titik lainnya itu titik A, B,
merupakan      salah     satu     metode      dalam
                                                        dan titik C.
pengukuran        kerangka      dasar      horizontal
untuk menentukan koordinat titik-titik yang             Pertama titik P diikatkan pada dua buah
diukur dengan cara mengikat ke belakang                 titik lain yang telah diketahui koordinatnya,
pada titik tertentu dan yang diukur adalah              yaitu diikat pada titik A dan titik B. Ketiga
sudut-sudut yang berada di titik yang akan              titik   tersebut   dihubungkan      oleh     suatu
ditentukan        koordinatnya.      Pada        era    lingkaran dengan jari-jari tertentu, sehingga
mengikat ke belakang ada dua metode                     titik C berada di luar lingkaran.
hitungan yaitu dengan cara Collins dan
Cassini.
                                                                                                  17
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




Kemudian tariklah titik P terhadap titik C.         Pada       cara       perhitungan      Cassini
Dari hasil penarikan garis P terhadap G             memerlukan dua tempat kedudukan untuk
akan memotong tali busur lingkaran, dan             menentukan suatu titik yaitu titik P. Lalu titik
potongannya akan berupa titik hasil dari            P diikat pada titik-titik A, B dan C.
pertemuan persilangan garis dan tali busur.         Kemudian Cassini membuat garis yang
Titik itu diberi nama titik H, dimana titik H ini   melalui titik A dan tegak lurus terhadap
merupakan titik penolong Collins. Sehingga          garis    AB       serta   memotong      tempat
dari informasi koordinat titik A, B, dan G          kedudukan yang melalui A dan B, titik
serta sudut-sudut yang dibentuknya, maka            tersebut diberi nama titik R. Sama halnya
koordinat titik P akan dapat diketahui.             Cassini pula membuat garis lurus yang

                   A (Xa,Ya)
                                                    melalui titik C dan tegak lurus terhadap
                                                    garis    BC       serta   memotong      tempat
                                                    kedudukan yang melalui B dan C, titik
             α                     B (Xb,Yb)        tersebut diberi nama titik S.
        P     β

                                                    Sekarang hubungkan R dengan P dan S
                               H                    dengan P. Karena 4 BAR = 900, maka garis
                                                    BR merupakan garis tengah lingkaran,

Gambar 15. Pengukuran Collins
                                                    sehingga 4 BPR = 900. Karena ABCS= 900
                                                    maka garis BS merupakan garis tengah
1. titik A, B ,dan C merupakan titik                lingkaran, sehinggga αBPR = 900. Maka
     koordinat yang sudah diketahui.                titik R, P dan S terletak di satu garus lurus.
2. titik P adalah titik yang akan dicari            Titik R dan S merupakan titik penolong
     koordinatnya.                                  Cassini. Untuk mencari koordinat titik P,
3. titik H adalah titik penolong collins yang       lebih dahulu dicari koordinat-koordinat titik-
     dibentuk oleh garis P terhadap C               titik penolong R dan S, supaya dapat
     dengan lingkaran yang dibentuk oleh            dihitung sudut jurusan garis RS, karena PB
     titik-titik A, B, dan P.                       1 RS, maka didapatlah sudut jurusan PB,
                                                    dan kemudian sudut jurusan BP untuk
Sedangkan Metode Cassini adalah cara
                                                    dapat menghitung koordinat-koordinat titik
pengikatan kebelakang yang menggunakan
                                                    P sendiri dari koordinat-koordinat titik B.
mesin hitung atau kalkulator. Pada cara ini
theodolit diletakkan diatas titik yang belum
diketahui koordinatnya.
18
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




          A (Xa, Ya)



                           dab
                                          B (Xb, Yb)
         dar




                                                  dcb
                                                                  C (Xc, Yc)
          α
     R
                                  α        β




                                                            dcs
                                                        β
                                      P
                                                            S




                       Cassini (1679)
Gambar 16. Pengukuran cassini


Rumus-rumus yang akan digunakan adalah

               x1 − x 2 = d12 sin a12
               y 2− y1 = d12 cos a12
               tgna12 = ( x 2 − x1 ) : ( y 2 − y1 )
               cot a12 = ( y 2 − y1 ) : ( x 2 − x1 )
                                                                                Gambar 17. Macam – macam sextant


Metode Cassini dapat digunakan untuk                                            Metode penentuan ini dimaksudkan sebagai
metode              penentuan                  posisi                   titik   acuan dan pegangan dalam pengukuran
menggunakan dua buah sextant.                                                   penentuan posisi titik-titik pengukuran di
                                                                                perairan pantai, sungai, danau dan muara.
Tujuannya              untuk     menetapkan                         suatu
                                                                                Sextant adalah alat pengukur sudut dari dua
penentuan posisi titik perum menggunakan
                                                                                titik bidik terhadap posisi alat tersebut, posisi
dua buah sextant, termasuk. membahas
                                                                                titik   ukur    perum      adalah   titik-titik   yang
tentang ketentuan-ketentuan dan tahapan
                                                                                mempunyai koordinat berdasarkan hasil
pelaksanaan pengukuran penentuan posisi
                                                                                pengukuran.
titik perum.


                                                                                   1.5 Pengukuran titik-titik detail


                                                                                Untuk          keperluan      pengukuran          dan
                                                                                pemetaan selain pengukuran Kerangka
                                                                                Dasar Vertikal yang menghasilkan tinggi
                                                                                                              19
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




titik-titik ikat dan pengukuran Kerangka
Dasar        Horizontal        yang          menghasilkan
koordinat titik-titik ikat juga perlu dilakukan
pengukuran             titik-titik       detail          untuk
menghasilkan yang tersebar di permukaan
bumi yang menggambarkan situasi daerah
pengukuran.

Dalam         pengukuran              titik-titik        detail   Gambar 18. Alat pembuat sudut siku cermin

prinsipnya adalah menentukan koordinat
dan tinggi titik-titik detail dari titik-titik ikat.
Metode yang digunakan dalam pengukuran
titik-titik detail adalah metode offset dan
metode tachymetri. Namun metode yang
sering        digunakan              adalah          metode
Tachymetri karena Metode tachymetri ini
                                                                  Gambar 19. Prisma bauernfiend
relatif cepat dan mudah karena yang
diperoleh dari lapangan adalah pembacaan
rambu,         sudut         horizontal             (azimuth
magnetis),      sudut        vertikal        (zenith      atau
inklinasi)     dan      tinggi       alat.    Hasil      yang
diperoleh       dari      pengukuran               tachymetri
adalah       posisi      planimetris          X,     Y    dan
ketinggian Z.
                                                                  Gambar 20. Jalon

1.5.1. Metode pengukuran offset

Metode offset adalah pengukuran titik-titik
menggunakan alat alat sederhana yaitu pita
ukur,    dan      yalon.         Pengukuran              untuk
pembuatan peta cara offset menggunakan
alat utama pita ukur, sehingga cara ini juga
biasa disebut cara rantai (chain surveying).
Alat bantu lainnya adalah :
                                                                  Gambar 21. Pita ukur
20
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




Dari jenis peralatan yang digunakan ini, cara          lurus dan jarak miring "direduksi" menjadi
offset biasa digunakan untuk daerah yang               jarak horizontal dan jarak vertikal.
relatif    datar   dan     tidak   luas,   sehingga
                                                       Pada gambar, sebuah transit dipasang pada
kerangka dasar untuk pemetaanyapun juga
                                                       suatu titik dan rambu dipegang pada titik
dibuat      dengan    cara    offset.   Peta   yang
                                                       tertentu. Dengan benang silang tengah
diperoleh dengan cara offset tidak akan
                                                       dibidikkan pada rambu ukur sehingga tinggi t
menyajikan informasi ketinggian rupa bumi
                                                       sama dengan tinggi theodolite ke tanah.
yang dipetakan.
                                                       Sudut vertikalnya (sudut kemiringan) terbaca
Cara pengukuran titik detil dengan cara offset
                                                       sebesar    a.    Perhatikan     bahwa       dalam
ada tiga cara:
                                                       pekerjaan tachymetri tinggi instrumen adalah
  •       Cara siku-siku (cara garis tegak lurus),
                                                       tinggi garis bidik diukur dari titik yang
  •       Cara mengikat (cara interpolasi),
                                                       diduduki (bukan TI, tinggi di atas datum
  •       Cara gabungan keduanya.                      seperti dalam sipat datar). Metode tachymetri
                                                       itu paling bermanfaat dalam penentuan lokasi
1.5.2 Metode pengukuran tachymetri
                                                       sejumlah    besar    detail   topografik,    baik
 Metode       tachymetri     adalah     pengukuran     horizontal maupun vetikal, dengan transit
menggunakan alat-alat optis, elektronis, dan           atau planset. Di wilayah-wilayah perkotaan,
digital. Pengukuran detail cara tachymetri             pembacaan sudut dan jarak dapat dikerjakan
dimulai dengan penyiapan alat ukur di atas             lebih cepat dari pada pencatatan pengukuran
titik ikat dan penempatan rambu di titik bidik.        dan pembuatan sketsa oleh pencatat.
Setelah alat siap untuk pengukuran, dimulai
                                                       Tachymetri "diagram' lainnya pada dasarnya
dengan perekaman data di tempat alat
                                                       bekerja atas bekerja atas prinsip yang, sama
berdiri,      pembidikan      ke    rambu      ukur,
                                                       sudut vertikal secara otomatis dipapas oleh
pengamatan azimuth dan pencatatan data di
                                                       pisahan garis stadia yang beragam. Sebuah
rambu BT, BA, BB serta sudut miring .
                                                       tachymetri swa-reduksi memakai sebuah
Metode tachymetri didasarkan pada prinsip
                                                       garis horizontal tetap pada sebuah diafragma
bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi
                                                       dan garis horizontal lainnya pada diafragma
yang sepihak adalah sebanding.
                                                       keduanya dapat bergerak, yang bekerja atas
Kebanyakan pengukuran tachymetri adalah                dasar perubahan sudut vertikal. Kebanyakan
dengan garis bidik miring karena adanya                alidade    planset   memakai       suatu     jenis
keragaman topografi, tetapi perpotongan                prosedur reduksi tachymetri.
benang stadia dibaca pada rambu tegak
                                                                                              21
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                                                                          1
                                                                          BA
                                                                      i           Z




                                                              Z
                                                                          BT




                                                              i
                                                                  Z

                                  Z                                       BB
                                                dA B                                  ? HAB


                                                                          O'
                                      i




                    O



         Ta


                   A                                   dABX                   B




                  Titik Nadir

    Gambar 22. Pengukuran titik detail tachymetri
22
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                             Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-01
                                           Model Diagram Alir
                                         Perkenalan Ilmu Ukur Tanah
                                   Pengantar Survei dan Pemetaan
                     Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT


                                          Bentuk                     Bentuk
             Bumi                                                                           Rotasi Bumi
                                          Jeruk                       Bola




                             Bentuk Ellipsoida
                                                                                   Pemepatan
                    (Ellips putar dengan sumbu putar
                                                                         (Radius Kutub < Radius Ekuator)
                              kutub ke kutub)




                      Plan Surveying                                                 Geodetic
                    (Ilmu Ukur Tanah)                                                Surveying



          Ilmu, seni dan teknologi untuk menyajikan             Ilmu, seni dan teknologi untuk menyajikan
        informasi bentuk permukaan bumi baik unsur            informasi bentuk permukaan bumi baik unsur
            alam maupun buatan manusia di bidang                  alam maupun buatan manusia di bidang
             datar (luas < 55 km x 55 km) atau (< 0,5          lengkung (luas > 55 km x 55 km) atau (> 0,5
                       derajat x 0,5 derajat)                               derajat x 0,5 derajat)



                                                                    (1.1) Pengukuran Sipat Datar KDV


             (1) Pengukuran Kerangka Dasar
                                                                     (1.2) Pengukuran Trigonometris
                        Vertikal



                                                                       (1.3) Pengukuran Barometris


                                                                                       Pengikatan ke Muka
                                                        (2.1) Pengukuran Titik
                                                                Tunggal
                                                                                         Pengikatan ke
             (2) Pengukuran Kerangka Dasar
                                                                                       Belakang (Collins &
                       Horisontal
                                                        (2.2) Pengukuran Titik              Cassini)
                                                                Jamak
                                                                                          Triangulasi,
                                                                                           Trilaterasi,
                                                         Poligon     Kuadrilateral       Triangulaterasi



                                                                       (3.1) Pengukuran Tachymetri
              (3) Pengukuran Titik-Titik Detail

                                                                          (3.2) Pengukuran Offset



     Gambar 23. Diagram alir pengantar survei dan pemetaan
                                                                                       23
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                                      Rangkuman

          Berdasarkan uraian materi bab 1 mengenai pengantar survei dan pemetaan, maka
dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu :
     a. Geodetic Surveying
     b. Plan Surveying
2. Geodetic surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi
     bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung
     (luas > 55 km x 55 km) atau (>0,5 derajat x 0,5 derajat)
3. Plan Surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk
     permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas <
     55 km x 55 km) atau (<0,5 derajat x 0,5 derajat)
4. Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu   :
     a. Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV)
     b. Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH)
     c.   Pengukuran Titik-titik Detail
5. Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik
     yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap
     bidang rujukan ketinggian tertentu.
6. Pengukuran kerangka Dasar vertical pada dasarnya ada 3 metode, yaitu :
     a. Metode pengukuran kerangka dasar sipat datar optis;
     b. Metode pengukuran Trigonometris; dan
     c.   Metode pengukuran Barometris.
7. Pengukuran kerangka dasar horizontal adalah untuk mendapatkan hubungan
     mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan
     pengukuran mendatar.
8. Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah :
     a. Metode Poligon
     b. Metode Triangulasi
     c.   Metode Trilaterasi
     d. Metode kuadrilateral
     e. Metode Pengikatan ke muka
     f.   Metode pengikatan ke belakang cara Collins dan cassini
24
1 Pengantar Survei dan Pemetaan




                                  Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !
1. Sebutkan bagian-bagian pengukuran dari ilmu ukur tanah! Jelaskan
2. Mengapa bumi dianggap bulat?
3. Jelaskan pengertian dari pengukuran kerangka dasar vertikal ! sebutkan metode-
     metode yang digunakan dalam pengukuran kerangka dasar vertikal!
4. Jika kita akan mengukur beda tinggi suatu wilayah, pengukuran apa yang tepat untuk
     dilakukan ? Jelaskan!
5. Mengapa pengukuran titik-titik detail metode tachymetri sering digunakan ? Jelaskan!
                                                                                                      25




                                      2. Teori Kesalahan

                                                          Adapun sumber–sumber kesalahan yang
 2.1      Kesalahan-kesalahan
                                                          menjadi penyebab kesalahan pengukuran
          pada survei dan pemetaan
                                                          adalah sebagai berikut:

Pengukuran         merupakan          proses      yang    1. Alam;      perubahan       angin,     suhu,
mencakup tiga hal atau bagian yaitu benda                    kelembaban udara, pembiasan cahaya,
ukur,     alat    ukur    dan      pengukur       atau       gaya berat dan deklinasi magnetik.
pengamat.        karena     ketidak     sempurnaan
                                                          2. Alat;   ketidak    sempurnaan     konstruksi
masing-masing bagian ini ditambah dengan
                                                             atau penyetelan instrumen.
pengaruh lingkungan maka bisa dikatakan
bahwa tidak ada satu pun pengukuran yang                  3. Pengukur;     keterbatasan      kemampuan
memberikan          ketelitian     yang        absolut.      pengukur dalam merasa, melihat dan
Ketelitian bersifat relatif yaitu kesamaan                   meraba.
atau      perbedaan       antara       harga      hasil
                                                          Kondisi alam walaupun pada dasarnya
pengukuran dengan harga yang dianggap
                                                          merupakan suatu fungsi yang berlanjut,
benar, karena yang absolut benar tidak
                                                          akan tetapi mempunyai karakteristik yang
diketahui.       Setiap   pengukuran,          dengan
                                                          dinamis. Hal inilah yang menyebabkan
kecermatan yang memadai, mempunyai
                                                          banyak aplikasi pada bidang pengukuran
ketidaktelitian yaitu adanya kesalahan yang
                                                          dan pemetaan. Pengukuran dan pemetaan
berbeda-beda, tergantung pada kondisi alat
                                                          banyak tergantung dari alam.
ukur, benda ukur, metoda pengukuran dan
kecakapan si pengukur.                                    Pelaksanaan pekerjaan dan pengukuran
                                                          jarak, sudut, dan koordinat titik pada foto
Kesalahan dalam pengukuran–pengukuran
                                                          udara juga diperlukan suatu instrumen
yang dinyatakan dalam persyaratan bahwa:
                                                          pengukuran     yang       prosedurnya    untuk

1.     Pengukuran tidak selalu tepat,                     mengupayakan kesalahan yang kecil. Dan

2.     Setiap pengukuran mengandung galat,                jika diantara kesalahan itu     terjadi maka

3.     Harga       sebenarnya          dari      suatu    pengukuran dan pengumpulan data harus di

     pengukuran tidak pernah diketahui,                   ulang.

4.   Kesalahan       yang    tepat     selalu     tidak   Kesalahan terjadi karena salah mengerti
     diketahui                                            permarsalahan,          kelalaian,        atau
                                                          pertimbangan yang buruk. Kesalahan dapat
26




diketemukan         dengan     mengecek       secara   Bila   garis   bidik   datar   (horizontal),
sistemetis      seluruh         pekerjaan       dan    pembacaan pada rambu A = Pa dan
dihilangkan        dengan      jalan     mengulang     rambu B = Pb. Perbedaan tinggi ∆H =
sebagian atau bahkan seluruh pekerjaan.                Pa – Pb, bila garis bidik tidak horizontal

Dalam melaksanakan ukuran datar akan                   (membuat       sudut   α   dengan     garis

selalu terdapat “Kesalahan”. Kesalahan–                horizontal) maka pembacaan pada

kesalahan     ini    disebabkan        baik   karena   rambu A = Pa’ dan pada rambu ∆ =

kekhilapan maupun karena kita manusia                  Pb’. Perbedaan tinggi adalah Pa’ – Pb’,

memang         tidak         sempurna         dalam    dalam hal ini Pa’ – Pb’ akan sama

menciptakan alat–alat.                                 dengan Pa–Pb. Bila ukuran dilakukan
                                                       dari tengah – tengah AB (PA = PB =1)
Kesalahan      ini     dapat    kita    golongkan      karena Pa’Pa = Pb’Pb = ∆. Tapi kalau
dalam :                                                ukuran tidak dilakukan dari tengah AB
                                                       missal dari Q, maka hasil ukuran
1. Kesalahan          instrumental/       kesalahan
                                                       adalah qa – qb dan qa – qb ≠ Pa – Pb
     karena alat
                                                       karena qa – Pa = ∆1 dan qb – Pb = ∆2.
2. Kesalahan karena pengaruh luar/ alam
3. Kesalahan pengukur                                  Dengan     demikian     ukuran     sedapat
                                                       mungkin dilakukan dari tengah.
A. Kesalahan karena alat
Dalam kesalahan karena alat termasuk :
a)   Karena kurang datarnya garis bidik




     Gambar 24. Kesalahan pembacaan rambu
                                                                                                                                 27




b)   Tidak samanya titik O dari rambu                                Bila              ukuran    dilaksanakan                 dengan
                                                                     meletakkan rambu A selalu di belakang
     Titik O dari rambu mungkin tidak sama
                                                                     dan rambu B selalu di depan, maka
     karena mungkin salah satu rambu
                                                                     kesalahan A–B mempunyai tanda yang
     sudah aus. Titik O dari rambu B
                                                                     sama–tiap                  sipatan             kesalahannya
     misalnya telah bergeser 1 mm. Dengan
                                                                     +1 mm. Kalau 100 sipatan berarti 100
     demikian, rambu A dibaca 1.000 mm
                                                                     mm.
     maka di rambu B dibaca 999 mm.
                                                                                                           II
                                                                          I

                                           II
                                                                                                          b4
                  I

                                      b2                                      m2
             b1                                 m1                   b3                                         m3




                                                                          B                                B
                                                                          A
                                           B
                  A      1 m
                         +m                                  1 m
                                                             +m                            1 m
                                                                                           +m
                                           A


      Gambar 25. Pengukuran sipat datar




                                                                                                                    II
                                                                              I

                                           II
                                                                                                               b4
             I

                                      b2                                          m2
        b1                                      m1                    b3                                                 m3




                                                                              A                                     B


             A
                      A - B = +1 mm                  B - A = -1 mm   A - B = +1 mm




      Gambar 26. Prosedur Pemindahan Rambu
28




      Untuk mengatasi kesalahan–kesalahan              B. Kesalahan         karena     pengaruh        luar/
      tersebut, dalam pelaksanaan ukuran                    alam
      tiap tiap kali sipatan rambu belakang
                                                            Pengaruh      luar    dalam     melaksanakan
      harus ditukar dengan rambu depan.
                                                            ukuran datar adalah:
      (gambar 26)

      Dengan        demikian      kesalahannya         a. Cuaca

      adalah A – B = +1 mm; B – A = +1 mm.                  Panas matahari sangat mempengaruhi
      Dan seterusnya.                                       pelaksanaan      ukuran       datar.    Apabila

 c) Kurang tegak lurusnya rambu                             matahari sudah tinggi antara jam 11.00 –
                                                            jam 14.00, panas matahari pada waktu
      Syarat pokok dalam melaksanakan
                                                            itu    akan          menimbulkan         adanya
      ukur datar ialah bahwa garis bidik
                                                            gelombang udara yang dapat terlihat
      harus horizontal dan rambu harus
                                                            melalui   teropong.      Dengan        demikian,
      vertikal.     Bila     rambu         vertikal,
                                                            gelombang udara didepan rambu akan
      pembacaan rambu = Pa akan tetapi
                                                            terlihat sehingga angka pada rambu ikut
      bila rambu tidak vertikal pembacaan
                                                            bergelombang dan sukar dibaca.
      pada rambu adalah Pa’.



                                                                       pa   pa'




                  Gambar 27. Kesalahan Kemiringan Rambu

     Jarak APa ≠APa’; APa’ > APa. Dengan               b.    Lengkungan bumi
     demikian waktu melaksanakan ukuran
                                                             Permukaan       bumi     itu    melengkung,
     datar, rambu harus benar–benar vertikal.
                                                             sedangkan jalannya sinar itu lurus.
     Membuat      vertikal   rambu   ini     dapat
     dilaksanakan dengan nivo.
                                                                                          29




          Gambar 28. Pengaruh kelengkungan bumi


Karena itu oleh alat ukur datar dibaca            c. Kesalahan karena pengukur
titik    A    pada    rambu     sedangkan           Kesalahan pengukur ini ada 2 macam :
perbedaan tinggi mengikuti lengkungan
                                                    a) Kesalahan kasar kehilapan
bumi, jadi seharusnya dibaca B. Dengan
                                                       1. Keslahan    kasar   dapat   diatasi
demikian, maka tiap kali pengukuran
                                                          dengan mengukur 2 kali dengan
dibuat kesalahan ∆. Besar ∆ ini dapat
                                                          tinggi teropong yang berbeda.
dihitung
                                                          Pertama dengan tinggi teropong
        R2 + a2 = (R +∆)2; R2 + a2
                                                          h1 didapat perbedaan tinggi ∆h 1 =
               = R2 + 2R∆ +∆2                             Pa – Pb. Pada pengukuran kedua

∆ kecil sekali jadi kalau dikuadratkan                    dengan tinggi teropong h2 didapat

dapat dihapus sehingga kita dapat R2 +                    perbedaan tinggi ∆h 2 = qa – qb.
a2 = F + 2R . Bilangan ini kecil sekali                   ∆h 1 harus sama dengan ∆h 2, bila
tapi kalau tiap kali dibuat kesalahan akan                terdapat   kesalahan/   perbedaan
menumpuk menjadi besar. Kesalahan ini                     besar maka harus diulang.
bisa diatasi dengan tiap kali mengukur
dari tengah.
30




                                                                          qb
                     qa
                                                                          pb
                     pa
                          h2



                               h1




          Gambar 29. Kesalahan kasar sipat datar


       2. Dapat diatasi pula dengan selain         c. Kesalahan yang tak teratur, disebabkan
          membaca benang tengah dibaca                 karena kurang sempurnanya panca
          pula benang atas dan benang                  indera    maupun        peralatan   dan
          bawah sebab:                                 kesalahan ini sulit dihindari karena
          benang atas + benang bawah / 2 =             memang merupakan sifat pengamatan\
          benang tengah.                               ukuran.

Sifat Kesalahan                                    2.1.1   Kesalahan pada pengukuran KDV

a. Kesalahan kasar, adalah kesalahan
                                                   Kesalahan yang terjadi akibat berhimpitnya
     yang besarnya satuan pembacaannya.
                                                   sumbu vertikal theodolite dengan garis arah
     Miasalnya mengukur jarak yang dapat
                                                   vertikal. Sumbu vertikal theodolite x miring
     dibaca sampai 1 dm, namun terjadi
                                                   dan membentuk sudut v terhadap garis
     perbedaan pengukuran sampai 1 m. Ini
                                                   vertikal x. AB adalah arah kemiringan
     berarti   ada   kesalahan      pembacaan
                                                   maksimum dengan sasaran s pada sudut
     ukuran dan harus diulang.
                                                   elevasi h dalam keadaan dimana sumbu
b. Kesalahan teratur, terjadi secara teratur       vertikal theodolite berhimpit dengan arah
     setiap kali melakukan pengukuran dan          garis vertikal yang menghasilkan posisi
     umumnya terjadi karena kesalahan alat.        lintasan teleskop csd dalam arah u dari
                                                                                                                                  31




kemiringan maksimum. Sedangkan dalam                diperoleh beda tinggi pada jalur sama
keadaan dimana sumbu vertikal theodolite            menghasilkan angka nol.
miring sebesar v terhadap garis vertikal
                                                    Jarak belakang dan muka setiap slag
menghasilkan lintasan c’sd’ dalam arah u’
                                                    menjadi suatu variabel yang menentukan
dari kemiringan yang maksimum. Dari dua
                                                    bobot           kesalahan              dan           pemberi         koreksi.
lintasan ini akan diperoleh segitiga bola scc’
                                                    Semakin panjang suatu slag pengukuran
yang sumbu vertikal β dinyatakan dalam
                                                    maka bobot kesalahannya menjadi lebih
persamaan berikut :
                                                    besar, dan sebaliknya
          β = u’ – u
          β = v sin u’ ctgn (90 – h)                                                 C
                                                                   C'
          β = v sin u’ tgn h                                  u'
                                                                             u
                                                                                                                         C'
                                                                                                                              r
                                                                                                                                  C

                                                                                                                              u
                                                          S                                                         u'
                                                                                 r
Karena kesalahan sumbu vertikal tak dapat                                                       B'



dihilangkan dengan membagi rata dari                A                                O
                                                                                                     B
                                                                                                                     S
                                                     A'       D
observasi dengan teleskop dalam posisi                                  D'


normal      dan    dalam       kebalikan,   maka                                         Kesalahan sumbu vertikal

pengukuran untuk sasaran dengan elevasi
                                                    Gambar 30. Kesalahan Sumbu Vertikal
cukup besar.
                                                    Salah satu pengaplikasian pada pengukuran
Koreksi kesalahan pada pengukuran dasar             kerangka dasar vertikal dapat dilihat dari
vertikal menggunakan alat sipat datar optis.        pengukuran sipat datar.
Koreksi kesalahan didapat dari pengukuran
                                                    Pada pengukuran kerangka dasar vertikal
yang menggunakan dua rambu, yaitu rambu
                                                    menggunakan sipat datar optis, koreksi
depan dan rambu belakang yang berdiri 2
                                                    kesalahan sistematis berupa koreksi garis
stand.
                                                    bidik yang diperoleh melalui pengukuran
Koreksi kesalahan acak pada pengukuran              sipat datar dengan menggunakan 2 rambu
kerangka dasar vertikal dilakukan untuk             yaitu belakang dan muka dalam posisi 2
memperoleh beda tinggi dan titik tinggi ikat        stand (2 kali berdiri dan diatur dalam bidang
definit. Sebelum pengelohan data sipat              nivo).               Sedangkan               pada         pengukuran
datar kerangka dasar vertikal dilakukan,            kerangka dasar horizontal menggunakan
koreksi      kesalahan         sistematis   harus   alat theodolite, koreksi kesalahan sistematis
dilakukan terlebih dahulu dalam pembacaan           berupa nilai rata-rata sudut horizontal yang
benang tengah. Kontrol tinggi dilakukan             diperoleh melalui pengukuran target (berupa
melalui suatu jalur tertutup yang diharapkan        benang dan unting-unting) pada posisi
32




teropong biasa (vizier teropong pembidik                    Apabila teleskop dipasang dalam keadaan
berasal diatas teropong) dan pada posisi                    terbalik, tanda kesalahan menjadi negatip
teropong     luas       biasa       (vizier    teropong     dan apabila sudut yang dicari dengan
pembidik berasal di bawah teropong)                         teleskop dalam posisi normal dan kebalikan
                                                            dirata–rata     maka       kesalahan       sumbu
Sebelum      pengolahan         data      sipat     datar
                                                            horizontal dapat hilang.
kerangka dasar vertikal dilakukan, koreksi
sistematis perlu dilakukan terlebih dahulu                  Sedang koreksi pengukuran kerangka dasar
kedalam pembacaan benang tengah setiap                      horizontal menggunakan theodolite, koreksi
slang. Kontrol tinggi dilakukan melalui suatu               kesalahan sistematis berupa nilai rata–rata
alur tertutup sedemikian rupa sehingga                      sudut horizontal yang diperoleh melalui
diharapkan diperoleh beda tinggi pada jalur                 pengukuran target. Pada posisi teropong
tertutup sama dengan nol, jarak belakang                    biasa dan luar biasa.
dan muka setiap slang menjadi variabel                      Kesalahan acak pada pengukuran kerangka
yang menentukan bobot kesalahan dan                         dasar      horizontal       dilakukan       untuk
bobot pemberian koreksi. Semakin panjang                    memperoleh       harga     koordinat     definitip.
jarak     pada    suatu     slang       maka       bobot    Sebelum       pengolahan     poligon     kerangka
kesalahan dan koreksinya lebih kecil.                       dasar      horizontal      dilakukan,     koreksi

2.1.2     Kesalahan pada pengukuran KDH                     sistematis harus dilakukan terlebih dahulu
                                                            dalam pembacaan sudut horizontal. Kontrol
Kesalahan        yang     terjadi     akibat      sumbu     koordinat dilakukan melalui 4 atau 2 buah
horizontal tidak tegak lurus sumbu vertikal                 titik ikat bergantung pada kontrol sempurna
disebut     kesalahan           sumbu         horizontal.   atau sebagian
Kedudukan garis kolimasi dengan teleskop
                                                            Jarak datar dan sudut poligon setiap titik
mengarah pada s berputar mengelilingi
                                                            poligon       merupakan       variabel       yang
sumbu      horizontal     adalah        csd.      Apabila
                                                            menentukan untuk memperoleh koordinat
sumbu horizontal miring sebesar i menjadi
                                                            definitip tersebut. Syarat yang ditetapkan
a’b’, tempat kedudukan adalah c’sd’. Dalam
                                                            dan harus diperhatikan adalah syarat sudut
segitiga bola sdd’, dd’ = α . Merupakan
                                                            lalu syarat absis dan ordinat. Bobot koreksi
kesalahan sumbu horizontal, dan apabila
                                                            sudut tidak diperhitungkan atau dilakukan
sumbu horizontal miring sebear i maka,
                                                            secara sama rata tanpa memperhatikan
Sin α = tgn h / tgn ( 90 – i ). Tgn h. tgn i                faktor lain. Sedangkan bobot koreksi absis
Karena a dan I biasanya sangat kecil,                       dan ordinat diperhitungkan melalui dua
persamaan dapat terjadi α = I tan h                         metode :
                                                                                                          33




  a.    Metode Bowditch                              kedalam        pembacaan         sudut       horizontal.
                                                     Kontrol koordinat dilakukan melalui 4 atau 2
        Metode      ini    bobot        koreksinya
                                                     buah titik ikat tergantung pada ikat kontrol
        berdasarkan jarak datar langsung.
                                                     sempurna atau sebagian saja. Jarak datar
  b.    Metode Transit                               dan sudut poligon setiap poligon merupakan

        Metode ini bobot koreksinya dihitung         suatu variabel yang menentukan untuk

        berdasarkan proyeksi jarak langsung          memperoleh         koordinat     definitif    tersebut.

        tehadap sumbu x dan pada sumbu y.            Syarat yang ditetapakan dan harus dipenuhi

        Semakin     besar     jarak      langsung    terlebih dahulu adalah syarat sudut baru

        koreksi bobot absis dan ordinat maka         kemudian absis dan ordinat. Bobot koreksi

        semakin besar nilainya.                      sudut tidak diperhitungkan atau dilakuan
                                                     secara sama rata tanpa memperhitungkan
Kesalahan acak pada pengukuran kerangka
                                                     faktor-faktor lain. Sedangkan bobot koreksi
dasar      horizontal       dilakukan       untuk
                                                     absis dan ordinat diperhitungkan melalui 2
memperoleh beda tinggi dan tinggi titik ikat
                                                     metode,       yaitu     metode       bowditch       dan
relatif. Sebelum pengolahan data sipat datar
                                                     transit. Metode bowditch bobot koreksinya
kerangka dasar vertikal dilakukan, koreksi
                                                     dihitung berdasarkan jarak datar langsung,
sistematis perlu dilakukan terlebih dahulu
                                                     sedangkan terhadap sumbu x (untuk absis)
kedalam pembacaan benang tengah setiap
                                                     dan        sumbu   y    (untuk    sumbu        ordinat).
slang. Kontrol tinggi dilakukan melalui suatu
                                                     Semakin besar jarak datar langsung, koreksi
alur tertutup sedemikian rupa sehingga
                                                     bobot absis dan ordinat semakin besar,
diharapkan diperoleh beda tinggi pada jalur
                                                     demikian pula sebaliknya.
tertutup sama dengan nol, jarak belakang
dan muka setiap slang menjadi variabel               Di    atas    telah     dijelaskan    bentuk-bentuk

yang menentukan bobot kesalahan dan                  kesalahan yang mungkin terjadi pada waktu

bobot pemberian koreksi. Semakin panjang             melakukan              pengukuran,           kesalahan

jarak   pada     suatu    slang    maka     bobot    kesalahan pengukuran dapat di sebabkan

kesalahan dan koreksinya lebih kecil.                oleh ;

Koreksi kesalahan acak pada pengukuran                     a. Karena kesalahan pada alat yang

kerangka dasar horizontal dilakukan untuk                        digunakan (seperti yang telah di

memperoleh koordinat (absis dan ordinat)                         jelaskan di atas)

definitif. Sebelum pengolahan data poligon                 b. Karena keadaan alam, dan

kerangka       dasar      horizontal,      koreksi         c.    Karena pengukur sendiri

sistematis harus dilakukan terlebih dahulu
34




a. Kesalahan pada alat yang dugunakan                            waktu     antara    pengukuran      satu
                                                                 mistar dengan mistar lainnya, baik
Alat-alat yang digunakan adalah alat ukur
                                                                 kaki tiga maupun mistar ke dua
penyipat datar dan mistar. Lebih dahulu
                                                                 masuk      kedalam      tanah,    maka
akan di tinjau kesalahan pada alat ukur
                                                                 pembacaan pada mistar kedua akan
penyipat datar. Kesalahan yang didapat
                                                                 salah bila digunakan untuk mencari
adakah yang berhubungan dengan syarat
                                                                 beda tinggi antara dua titik yang
utama. Kesalahan ini adalah: Garis bidik
                                                                 ditempati oleh mistar-mistar itu.
tidak     sejajar   dengan      garis    arah    nivo.
Kesalahan ini sering kita jumpai pada saat                   •   Karena perubahan arah garis nivo.
melakukan         pekerjaan   pengukuran         beda            Karena alat ukur penyipat datar
tinggi.                                                          kena panas sinar matahari, maka
                                                                 terjadi   tegangan      pada     bagian-
b. Kesalahan karena keadaan alam
                                                                 bagian alat ukur, terutama pada
     •     Karena     lengkungnya        permukaan               bagian yang terpenting yaitu pada
           bumi, pada umumnya bidang-bidang                      bagian nivo.
           nivo      karena       melengkungnya
                                                         c. Karena pengukur sendiri
           permukaan bumi akan melengkung
           pula dan beda tinggi antara dua titik         Kesalahan pada mata, kebanyakan orang
           adalah antara jarak dua didang nivo           pada waktu mengukur menggunkan satu
           yang melalui dua titik itu.                   mata saja. Yang secara tidak langsung akan
                                                         mengakibatkan       kasarnya       pembacaan.
     •     Karena lengkungnya sinar cahaya,
                                                         Apalagi bila nivo harus dilihat tersendiri,
           akan     dijelaskan     pada         bagian
                                                         karena tidak terlihat dalam medan teropong,
           koreksi boussole
                                                         sehingga    kurang      tepatnya    meletakan
     •     Karena     getaran     udara,        karena   gelembung nivo di tengah-tengah.
           adanya pemindahan hawa panas
                                                         Kesalahan pada pembacaan, karena kerap
           dari permukaan bumi ke atas, maka
                                                         kali harus melakukan pembacaan dengan
           bayangan dari mistar yang dilihat
                                                         cara menaksir, maka bila mata telah lelah,
           dengan teropong akan bergetar,
                                                         nilai taksirannya menjadi kurang.
           sehingga pembacaan dari mistar
           tidak dapat dilakukan dengan teliti           Kesalahan    yang      kasar,   karena    belum

     •     Karena masuknya lagi tiga kaki dan            pahamnya pembacaan pada mistar. Mistar-

           mistar ke dalam tanah. Bila dalam             mistar mempunyai tata cara tersendiri dalam
                                                         pembuatan skalanya. Kesalahan ini banyak
                                                                                                        35




sekali dibuat dalam menentukan banyaknya            Kesalahan arah sejajar garis ukur = l sin α
meter dan desimeter angka pembacaan.                Kesalahan arah tegak lurus garis ukur = l - l

Salah    satu    pengaplikasian      pengukuran     cos α

kerangka      dasar    horisontal    ini   adalah   Bila skala peta adalah 1 : S, maka akan
pengukuran tachymetri dengan bantuan alat           terjadi salah plot sebesar 1/S x kesalahan.
theodolite.                                         Bila kesalahan pengukuran jarak garis ofset

Kesalahan       pengukuran    cara    tachymetri    δ l, maka gabungan pengaruh kesalahan

dengan theodolite                                   pengukuran jarak dan sudut menjadi: {(l sin
                                                    α ) 2 + δ l 2}1/2.
Kesalahan alat, misalnya ;
                                                    Ketelitian pengukuran cara offset dalam
a.   Jarum kompas tidak benar-benar lurus.
                                                    upaya meningkatkan             ketelitian hasil ukur
b.   Jarum kompas tidak dapat bergerak
                                                    cara offset bisa dilakukan dengan :
     bebas pada porosnya.
c.   Garis bidik tidak tegak lurus sumbu            1. Titik-titik kerangka dasar dipilih atau
     mendatar (salah kolimasi).                          dibuat mendekati bentuk segitiga sama
d.   Garis skala 0° - 180° atau 180° - 0°                sisi.
     tidak sejajar garis bidik.                     2. Garis ukur:
e.   Letak teropong eksentris.                            • Jumlah         garis        ukur      sesedikit
f.   Poros penyangga magnet tidak sepusat                     mungkin.
     dengan skala lingkaran mendatar.                     • Garis        tegak     lurus       garis   ukur
                                                              sependek mungkin.
Kesalahan pengukuran, misalnya;
                                                          • Garis ukur pada bagian yang datar.
a.   Pengaturan       alat   tidak     sempurna
     (temporaryadjustment)
b.   Salah taksir dalam pembacaan                   3. Garis offset pada cara siku-siku harus
c.   Salah catat.                                        benar-benar tegak lurus garis ukur.
                                                    4. Pita ukur harus benar-benar mendatar
Kesalahan akibat faktor alam misalnya;                   dan diukur seteliti mungkin.
a.   Deklinasi magnet.                              5. Gunakan kertas gambar yang stabil
b.   atraksi lokal.                                      untuk penggambaran.
Kesalahan pengukuran cara offset                    Pada         perhitungan     dari      survei      yang
Kesalahan       arah garis offset α dengan          menggunakan          metode      closed       traverse
panjang l yang tidak benar-benar tegak lurus        selalu terjadi kesalahan (penyimpangan).
berakibat:                                          yaitu adanya dua stasiun yang meskipun
36




pada     kenyataannya    dilapangan,    stasiun      Pada survei yang menggunakan theodolite,
tersebut hanya satu. Kesalahan tersebut              kesalahan yang terjadi adalah akumulatif,
meliputi kesalahan koodinat dan elevasi              dalam kesalahan dalam salah satu stasiun,
stasiun terakhir yang seharusnya adalah              akan pempengaruhi bagi posisi stasiun
sama dengan stasiun awal. Hal ini terjadi            berikutnya.
karena kesalahan pada ketidak-sempurnaan
                                                     Sedangkan survei menggunakan kompas,
terhadap :
                                                     kesalahan yang terjadi pada salah satu
1. Alat (Tidak ada alat yang sempurna)               stasiun, tidak mempengaruhi bagi stasiun
2. Pembacaan (tidak ada penglihatan yang             berikutnya. Distribusi kesalahan pada Survei
     sempurna)                                       magnetik, dengan cara yang sederhana
                                                     yaitu jumlah total kesalahan dibagi dengan
Sewaktu survei dilakukan dan tidak mungkin
                                                     jumlah    lengan    survai,    kemudian     di
kesalahan itu tidak dapat dihindarkan sebab
                                                     distribusikan ke setiap stasiun tersebut.
tidak ada alat dan manusia yang ideal untuk
menghasilkan pengukuran yang ideal pula.




Gambar 31. Pengaruh kesalahan kompas t0 Theodolite



Untuk mengatasi hal itu, angka kesalahan             Dibawah ini merupakan distribusi untuk
yang terjadi harus di distribusikan ke setiap        survei non magnetic
stasiun. Kesalahan yang terjadi karena
                                                     Perataan penyimpangan elevasi
survei   magnetic    (dengan    menggunakan
                                                     Berikut ini gambar sket perjalanan tampak
kompas dan survay grade x) menggunakan
                                                     samping memanjang
theodolithe, memiliki jenis yang berbeda.
                                                                                                          37




                                                       Koreksi bousole

                                                       Dari ilmu alam diketahui, bahwa jarum
                                                       magnet diganggu oleh benda-benda dari
                                                       logam yang terletak di sekitar jarum magnet
                                                       itu. Bila tidak ada gangguan, jarum magnet
Gambar 32. Sket perjalanan                             akan   terletak    didalam        bidang    meridian
                                                       magnetis, ialah dua bidang yang melalui dua
Setelah    perhitungan        dilakukan,    ternyata
                                                       kutub magnetis dan bidang magnetios itu.
elevasi titik akhir yang seharusnya sama
                                                       Karena untuk keperluan pembuatan peta
dengan     titik   1   terdapat     penyimpangan
                                                       diperlukan meridian geografis yang melalui
sebesar:
                                                       dua kutub bumi dan tempat jarum itu, dan
Elevasi koreksi = elevasi titik + koreksi              karena meridian magnetis tidak berhimpit
                                                       dengan meridian geografis yang disebabkan
Perataan penyimpangan koordinat
                                                       oleh tidak samanya kutub-kutub magnetis
Setelah    perhitungan        dilakuan,     hasilnya   dan kutub-kutub geografis, maka azimuth
stasiun terakhir tidak kembali ke stasiun              magnetis   harus         diberi   koreksi     terlebih
awal, ada selisih jarak sel (d).d2=f(y)2+f(x)2         dahulu, supaya didapat besaran-besaran
                                                       geografis: ingat pada sudut jurusan yang
                                                       sebetulnya sama dengan azimuth utara-
                                                       timur. Untuk menentukan koreksi boussole
                                                       ada dua cara. Ingatlah lebih dahulu apa
                                                       yang diartikan dengan koreksi. Koreksi
                                                       adalah besaran yang harus ditambahkan
Gambar 33. Gambar Kesalahan Hasil Survei               pada pembacaan atau pengukuran, supaya
                                                       didapat besaran yang betul. Kesalahan
Penyimpangan           yang       terjadi    adalah    adalah besaran yang harus dikurangkan dari
penyimpangan absis f(x) dan ordinat f(y)               pembacaan         atau     pengukuran,        supaya
koreksi terhadap penyimpangan absis:                   didapat besaran yang betul.

Absis terkoreksi = absis lama + koreksi.               a. Mengukur azimuth suatu garis yang

Koreksi terhadap penyimpangan ordinat,                    tertentu; Seperti telah diketahui garis

analog dengan perhitungan diatas                          yang    tertentu        adalah     garis     yang
                                                          menghubungkan dua titik P(Xp;Yp) dan
                                                          Q(Xq;Yq) yang telah diketahui koordinat-
38




     koordinatnya.           Alat       ukut       BTM         punggungnya ke arah matahari yang
     ditempatkan pada salah satu titik itu,                    diukur dan keadaan tepi-tepi matahari
     misalnya di titik P, dengan sumbu                         dilihat dari ujung objektif pada kertas
     kesatuan tegak lurus diatas titik P.                      putih yang di pasang pada lensa okuler.
     Arahkan garis bidik tepat pada titik Q,                   Besarnya          refraksi      yang         selalu
     Misalkan         pembacaan         pada       skala       mempunyai         tanda      minus    tergantung
     lingkaran mendatar dengan ujung utara                     pada tinggi h yang di dapat dari
     jarum magnet ada A. Hitunglah sudut                       pengukuran.         Untuk      harga        koreksi
     jurusan αab garis PQ dengan tg αab =                      berlaku tabel. Tinggi h yang didapat dari
     (xq-xp) : (yp-yp) yang setelah sudut                      hasil pengukuran koreksi refraksi dengan
     jurusan αpq ini di sesuaikan dengan                       tanda minus.
     macam sudut azimuth yang ditunjuk oleh                    Tinggi h yang telah diberi koreksi refraksi
     jarum magnet alat ukur BTM ada α,                         ini adalah tinggi sebenarnya dari pada
     maka karena α adalah besaran yang                         tepi atas atau tepi bawah matahari.
     betul, dapatlah ditulis:                                  Karena yang diperlukan sekarang adalah
                                                               tinggi titik pusat matahari dan sudut lihat
     α=A+C            Dalam     rumus     C     adalah
                                                               kedua tepi atas dan tepi bawah matahari
     rumus boussole, sehingga C = α-A
                                                               ada D = 32’, maka tinggi sebenarnya tadi
b. Mengukur tinggi matahari; Dasar cara                        harus dikurangi dengan ½ D = 16’, bila di
     kedua ini adalah mengukur tinggi suatu                    ukur     tepi    bawah       mata    hari    untuk
     bintang     yang       diketahui    deklinasinya          mendapatkan tinggi sebenarnya dari
     pada      saat    pengukuran        bintang     itu.      pada titik pusat matahari.
     Dengan tinggi h, deklinasi δ bintang itu
     dan    lintang     ϕ     tempat     pengukuran         2.1.3     Kesalahan Pengukuran
     dapatlah di hitung azimuth astronomis
                                                            Banyak faktor yang mempengaruhi hasil
     yang sama dengan azimuth geografis
                                                            pengukuran sipat datar teliti, mulai dari
     bintang itu. Bila azimnuth astronomis itu
                                                            faktor-faktor      yang     pengaruhnya         dapat
     dibandingkan       dengan      azimuth        yang
                                                            dihilangkan        sampai    faktor-faktor       yang
     ditunjuk oleh jarum magnet pada saat
                                                            pengaruhnya         hanya       dapat     diperkecil.
     pengukuran, dapatlah ditentukan koreksi
                                                            Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
     boussole.
                                                                      Keadaan tanah jalur pengukuran
     Ingatlah     selalu,     bahwa      pada      saat               Keadaan/ kondisi atmosfir (getaran
     pengukuran si pengukur berdiri dengan                            udara)
                                                                                                              39




          Refraksi atmosfir.                                a. Keadaan jalur pengukuran
          Kelengkungan bumi.
                                                               Pengukuran sipat datar pada umumnya
          Kesalahan letak skala nol rambu.
                                                               harus menggunakan jalur pengukuran
          Kesalahan panjang rambu (bukan
                                                               yang keras, seperti jalan diperkeras,
          rambu standar).
                                                               jalan raya, jalan baja.
          Kesalahan pembagian skala (scale
          graduation) rambu.                                   Dengan demikian turunya alat dan

          Kesalahan pemasangan nivo rambu                      rambu dalam pelaksanaan pengukuran

          Kesalahan garis bidik.                               dapat diperkecil, karena apabila terjadi
                                                               penurunan      alat    dan   rambu       maka
Dari faktor-faktor tersebut dapat ditarik
                                                               pengukuran            akan        mengalami
pelajaran bahwa sudah seharusnya seorang
                                                               kesalahan. Besarnya kesalahan akibat
juru ukur mengetahui hal-hal yang akan
                                                               penuruanan alat-alat tersebut dijelaskan
mengakibatkan           kesalahan         pada
                                                               dibawah ini:
pengukuran.



      I                                           II                                                I

                                                       λ1                     2             δ2
                                     δ1      b2
                            1
                                                                                                        m2
 b1
                                                       m1




  A                     turun
                                              turun
                                                                           turun                   B




                                                        Gambar 34. Kesalahan karena penurunan alat


                                                              Pada salag 1 selama waktu pembacaan
                                                              rambu    belakang      dan    memutar          alat
                                                              kerambu muka, alat ukur turun δ1. Pada
40




     waktu alat pindah ke slag 2, rambu turun                  Di bawah ini adalah usaha yang bisa
     λ1 dan selama pengukuran berlangsung                      dilakukan untuk memperkecil pengaruh
     alat turun δ2.                                            turunnya alat dan rambu:

     Rumus        yang      digunakan        untuk                  Pada perpindahan slag, pembacaan

     menentukan beda tinggi (∆h) akibat                             dimulai pada rambu yang sama

     penurunan alat antara A dan B yaitu:                           seperti       pembacaan     pada        slag
                                                                    sebelumnya,
Slag 1: ∆h1 = (b1 − ( m1 + δ 1 )                                    Pada      setiap    slag    pembacaan
                                                                    dilakukan dua kali untuk setiap
Slag 2: ∆h2 = (b2 − λ1 ) − ( m 2 + δ 2 )
                                                 +                  rambu.
∆h AB = (b1 − m1 ) + (b2 − m 2 ) − (δ 1 + δ 2 + λ1 )
                                                                Untuk kedua usaha di atas dapat
∆h AB = ∆h AB − (δ 1 + δ 2 + λ1 ) = ∆h AB − K 1
           u

                                                                diterangkan sbb:
     Dimana:
                                                                    Pembacaan dimulai pada rambu
     ∆h u AB = beda tinggi hasil ukuran
                                                                    no I.
     K1       = ( δ 1 + δ 2 + λ1 ) = kesalahan                      Dari slag 1 : ∆h1 = (b1 – m1) + δ1
              karena turunya alat dan rambu                         Dari slag 2 : ∆h2 = (b2 – m2)+ δ2 - λ1

     Dari      penjelasan        diatas      dapat                            ∆hAB = ∆hAB – (λ1 - δ1 - δ2 )

     disimpulkan, bahwa apabila pengukuran                                    ∆hAB = ∆h AB − K 2
                                                                                        u


     antara dua titik (pilar) terdiri dari banyak                   Dimana K2 < K1
     slag pengaruh turunnya alat dan rambu
     akan menjadi lebih besar (akumulasi).

          I                                          II                                            I

                                                λ1             δ2             2
                             1             δ1             b2                                           m2
     b1
                                                          m1




       A                                                                                           B

     Gambar 35. Pembacaan pada rambu I
                                                                                                            41




       Pembacaan diulang 2x

                   I                                                                 II



                                                        1               δ1
             b1
                                                                                          m1
                                                                                          m2
             b'1
                                                                        δ2




  Gambar 36. Pembacaan pada rambu II


       Dari slag 1 :                                        Secara sistematis dapat dirumuskan
       Bacaan pertama : ∆h1 = (b1 – m1)-δ1                  sbb:
       Bacaan kedua : ∆h1 = (b1 – m1) + δ2
                                                            Misal rambu I mempunyai kesalahan δ1,
       Rata-rata ∆h1 = ∆h1u − 1 (δ 1 − δ 2 )
                              2                             Dan rambu II mempunyai kesalahan δ2,
       Dengan cara yang sama dari slag                      δ2 ≠ δ1, maka:
       dua diperoleh:
                                                            Slag 1:    ∆h1 = (b1 + δ 1 ) − (m1 + δ 2 )
       Rata-rata ∆h2 = ∆h2 − 1 (δ 2 − δ1 )
                         u

                                                                             = (b1 − m1 ) + (δ 1 − δ 2 )
                             2


       Maka ∆h AB = ∆h AB
                               u
                                                            Kesalahannya: (δ1 - δ2)

b. Kesalahan letak skala nol rambu
                                                            Slag 2:    ∆h1 = (b2 + δ 2 ) − (m2 + δ 1 )
   Kesalahan letak skala nol rambu dapat                                     = (b2 − m 2 ) + (δ 2 − δ 1 )
   terjadi karena kesalahan pembuatan
                                                            Kesalahannya: (δ2 - δ1)
   alat    (pabrik)       atau       rambu      yang
   digunakan           sudah       sering     dipakai       Jumlah kesalahan dari dua slag adalah
   sehingga            permukaan            bawahnya        (δ1 - δ2) + (δ2 - δ1) = 0
   menjadi aus.                                             Artinya:   ∆h AB = ∆h AB
                                                                                  u


   Pengaruh            kesalahan       ini     dapat
   diterangkan dengan gambar 37.
42




                                                                                                                            I


                                                                                                          II
                                                                            I

                                          II
                                                                                                     b4                         m4
                    I

                                     b2                                         m2
               b1                              m1                      b3                                      m3




                                                                                                                            C


                                                                                                          2
                                                                            B

                                          1
                    A




                                                         4
                                                                                               4
                                                         3
                                                                                               3
                                                         2
                                                                                               2
                                                         1
                                                                                               1
                                                         0
                                                    δ                                          0
                                                                                           δ




     Gambar 37. Kesalahan Skala Nol Rambu

     Jadi dapat disimpulkan bahwa beda                                               Hal       ini              mengakibatkan        data   hasil
     tinggi hasil ukuran antara dua titik tidak                                      pengukuran mengalami kesalahan.
     mengandung             kesalahan                         akibat
                                                                                     Besarnya pengaruh dijelaskan dalam
     kesalahan letak skala nol rambu, bila
                                                                                     gambar 38.
     pengukuran             dilakukan                        dengan
     prosedure sbb:                                                                  Secara sistematis dapat dirumuskan
                                                                                     sebagai berikit:
        Jumlah slag antara titik-titik yang
        diukur harus genap.                                                          Misal rambu I muai sebesar δ1m dan
        Posisi rambu harus diatur selang-                                            rambu II muai δ2m; panjangnya rambu
        seling (I – II – I – II .... dst .... I)                                     standar adalah L m, umumnya 3m;
                                                                                     maka dalam satu slag:
c.   Kesalahan panjang rambu
                                                                                     Beda tinggi ukuran                   = ∆hu = b1 – m1
     Panjang rambu akan berubah karena
                                                                                     Beda tinggi yng beanr = ∆h = b – m
     perubahan temperatur udara. Misalnya
                                                                                     Karena
     panjang        rambu    invar             3m,           panjang
     rambu      tersebut       tepat                    3m     pada                  b1 = ⎛ L + δ 1 ⎞ ⋅ b 1 = ⎛ 1 + δ 1 ⎞ ⋅ b
                                                                                          ⎜         ⎟         ⎜         ⎟
     temperatur standar t0. Bila pada waktu                                               ⎝ L ⎠               ⎝     L⎠

     pengukuran temperatur udara adalah t                                            m1 = ⎛ L + δ 2 ⎞ ⋅ m1 = ⎛1 + δ 2 ⎞ ⋅ m
                                                                                          ⎜         ⎟        ⎜        ⎟
     (lebih besar atau lebih kecil dari t0)                                               ⎝ L ⎠              ⎝     L⎠

     maka rambu tidak lagi 3m, tetapi 3m ±                                           Maka ∆h = b – m = ∆hu + ⎛ δ 1                      δ      ⎞
                                                                                                                                ⎜   b1 + 2 m 1 ⎟
                                                                                                                                ⎝ L      L     ⎠
     α(t - t0) dimana α adalah angka muai
     invar.
                                                                                                43




          I                                                                   II
               δ1                                                                     δ2



                                              1
      b                                                                              m




    Gambar 38. Bukan rambu standar


   Artinya, data pengukuran mengandung               Penaksiran bacaan pada interval skala

   kesalahan sebesar: ⎛ δ 1 b 1 + δ 2 m 1 ⎞          yang   kecil   akan   berbeda          dengan
                      ⎜                   ⎟
                         ⎝ L         L    ⎠          bacaan pada interval skala yang lebih
   Dengan      cara     yang   sama      dapat       besar, artinya ketelitian bacaan akan
   diterangkan kesalahan untuk rambu                 berbeda, hal ini tidak dikehendaki.
   yang mengkerut.
                                                     Cara   pencegahannya          yaitu    apabila
   Cara pencegahan agar rambu tidak                  terdapat     kesalahan        akibat     tidak
   mengalami pemuaian, yaitu jika pada               meratanya      pembagian       skala     pada
   saat pengukuran udara panas atau                  rambu, sebaiknya rambu tersebut tidak
   hujan maka rambu ukur harus dilindungi            digunakan dan dalam pemilihan rambu
   dengan payung sehingga rambu ukur                 sebaiknya harus teliti agar memperoleh
   dapat terlindungi.                                rambu yang sama dalam pembagian
                                                     skalanya.
d. Kesalahan pembagian skala rambu
                                                  e. Kesalahan pemasangan nivo rambu
   Kesalahan     pembagian     skala     rambu
   terjadi pada waktu pembuatan (pabrik).            Pada        rambu     keadaan           tegak,
   Misalkan panjang rambu 3m, maka                   seharusnya gelembung nivo berada
   apabila ada satu bagian skala dibuat              ditengah. Akan tetapi karena kesalahan
   terlalu kecil, pasti dibagian yang lain           pemasangan, keadaan di atas tidak
   ada yang lebih besar.                             dipenuhi, artinya gelembung nivo sudah
44




     berada ditengah rambu dalam keadaan                   yang melalui alat sipat datar bila
     miring.         Apabila   rambu    miring      baik   bidang-bidang nivo dianggap saling
     kedepan,            kebelakang,        kesamping,     sejajar. Dengan garis bidik mendatar,
     maka bacaan rambu akan terlalu besar.                 karena kelengkungan bumi tersebut
                                                           tidak memberikan beda. Permasalahan
     Secara sistematis dapat dirumuskan
                                                           di atas dijelaskan dalam gambar 41.
     sebagai berikut:
                                                           Dari   bacaan     garis    bidik   mendatar
     Bacaan rambu dalam keadaan miring
                                                           menghasilkan selisih bacaan (b - m)
     adalah b1, bacaan seharusnya adalah b.
                                                           yang tidak sama dengan selisih (tA - tB).
     Bila kemiringan rambu adalah sudut α,
                                                           Kesalahn karena kelengkungan bumi
     maka:
                                                           pada beda tinggi adalah dh
             1
     b = b Cos α
                                                           Dh = (b - tA) – (m - tB)
     karena umumnya α kecil:
                                                           Sedangkan pada pembacaan rambu
             1
     b = b (1 – ½ α + ....)                                masing-masing adalah:
     b = b1 – ½ α b1 + ....
                                                           Rambu belakang : Xb = (b - tA)
     Besarnya kesalahan pembacaan adalah                   Rambu muka         : Xm = (m - tB)
                 1
     ½ α b . Karena α konstan, besarnya                    Besarnya X adalah (lihat gambar 42):
     kesalahan tergantung tingginya bacaan
                                                           (R + h)2 + D2 = {(R + h) + X}2
     b1. Makin tinggi b1 maka makin besar
                                                           (R + h)2+ D2 = (R + h)2 + 2 (R + h)X + X2
     kesalahannya.
                                                           D2 = 2 (R + h)X + X2
     Cara pencegahannya yaitu pada saat
                                                           Karena h <<< R dan X <<< R dapat
     pengukuran           periksalah    pemasangan
                                                           Dianggap: (R + h) ≈ R dan X2 ≈ 0, maka
     nivo dan pada waktu pengukuran garis
                                                                        D2 = 2R.X
     bidik       tidak   terlalu   tinggi    dari   atas
                                                                              2
     permukaan tanah.                                      Atau         X = D
                                                                            2R
f.   Kelengkungan bumi
                                                           Dengan demikian:
     Jarak antara bidang-bidang nivo melalui
                                                                  Db2
     masing-masing titik yang bersangkutan                 Xb =
                                                                  2R
     disebut beda tinggi antara dua titik.
                                                                   2
                                                                  Dm
                                                           Xm =
     Beda tinggi antara dua titik dapat                           2R
     ditentukan dari ketinggian bidang nivo
                                                                                                       45




   Dan                                                    pengukuran sipat datar dijelaskan pada
           Db2 Dm
                2
                    1                                     gambar 43.
    dh =      −   =   ⋅ ( Db2 − Dm )
                                 2

           2R 2R 2R
                                                          Secara sistematis besarnya pengaruh

   Berikut contoh besarnya X dan dh.                      refraksi atmosfir pada pengukuran sipat

   Bila      D = 40 m, R = 6000 km,                       datar adalah sebagai berikut:

   Mak       X =
                        40 2                              Skala      t      akan      nampak      di    t1,
                                = 0.13mm
                     2(6000000)                           kesalahannya adalah Y = t1 – t.
   Bila      Db = 40 m, Dm = 30 m,                        Besarnya Y adalah :
                         1              2     2
   Maka      dh =               (40 - 30 )                                       D2
                     2(6000000)                           Y               = K⋅
                                                                                 2R
                 = 0.06 mm                                Dimana K = koefisien refraksi atmosfir
   Cara pencegahaannya adalah:                            = R ≈ 0.14
                                                            R1
       Usahakan agar didalam setiap slag
       Db seimbang dengan Dm agar dh=0                    Contoh:

       Karena kelengkungan bumi bacaan                    Bila D = 40 m, K = 0.14, maka:

       rambu        terlalu    besar,       sehingga      Y = 0.14 ⋅        40 2    = 0.02 mm
       koreksi X bertanda negatif                                        2(6000000)

       Bila Db > Dm koreksi dh adalah                     Catatan:
       negatif                                            Koreksi         refraksi     atmosfir        dan
       Bila Db < Dm koreksi dh adalah                     kelengkungan bumi biasanya digabung
       positif                                            menjadi        satu    karena   refraksi     dan
                                                          kelengkungan bumi terjadi bersama-
g. Refraksi atmosfir
                                                          sama pada saat pengukuran dilakukan.
   Karena lapisan atmosfir mempunyai
                                                          Rumusnya : r = k − 1 D 2
   kerapatan yang tidak sama (makin                                       2R
   kebawah, makin rapat) jalannya sinar/                                   k −1 2
                                                                     r=        ( Db − D m )
                                                                                        2

   cahaya (matahari) adalah mengalami                                       2R
   pembiasan (melengkung).
                                                          Dimana:
   Sehingga      benda-benda        akan          lebih   r = adalah koreksi terhadap bacaan
   tinggi dari posisi seharusnya. Besarnya                r = adalah koreksi terhadap beda tinggi
   pengaruh         refraksi    atmosfir          pada        (satu slag)
46




h. Getaran udara
                                                               Cara pencegahannya yaitu sebelum
     Biasanya,        bayangan        rambu      pada          pengukuran      dimulai,    pastikan      dulu
     teropong     nampak           bergetar     karena         bahwa garis bidik sudah sejajar dengan
     adanya       pemindahan           panas       dari        garis jurusan nivo.
     permukaan tanah ke atas.
                                                          k.   Paralak
     Dengan demikian cara pencegahannya
                                                               Dalam       pengukuran         pada       saat
     yaitu karena pembacaan rambu tidak
                                                               pembacaan,      gelembung        nivo    harus
     dapat dilakukan dengan teliti, maka
                                                               tepat     ditengah.    Untuk     mengetahu
     sebaiknya pengukuran dihentikan.
                                                               dengan tepat bahwa gelembung nivo

i.   Perubahan arah garis jurusan nivo                         berada ditengah, yaitu dengan cara

     Pada alat ukur akan terjadi tegangan                      menempatkan mata tegak diatas nivo

     pada bagian-bagian alat ukur terutama                     langsung atau bayangan (lewat cermin

     sekali    nivo     apabila      terkena    panas          atau prisma).

     matahari langsung.                                        Bila dari samping, karena paralak,

     Montur      nivo      mendapat           tegangan         gelembung nivo akan nampak sudah

     sehingga      arah      garis    jurusan     nivo         tepat ditengah. Sehingga megakibatkan

     mengalami perubahan dan tidak sejajar                     kedudukan garis bidik belum mendatar

     lagi     dengan      garis    bidik.     Sehingga         maka pembacaan akan mengandung

     mengakibatkan                bacaan        rambu          kesalahan.

     mengandung kesalahan.                                     Cara pencegahannya yaitu pada saat

     Cara pencegahannya yaitu agar hal ini                     akan      memulai      pengukuran        maka

     tidak     terjadi,     maka        pada      saat         gelembung nivo diatur dulu hingga

     pengukuran        berlangsung          hendaknya          benar-benar sesuai dengan aturan.

     alat ukur di lindungi oleh payung.

j.   Kesalahan garis bidik                                 2.2    Kesalahan sistematis

     Garis bidik harus sejajar dengan garis
     jurusan nivo hal ini merupakan syarat                Kesalahan      sistematis    adalah      kesalahan

     utama alat sipat datar. Apabila tidak                yang    mungkin      terjadi    akibat       adanya

     sejajar, pada kedudukan gelembung                    kesalahan pada suatu sistem. Kesalahan

     nivo      ditengah      garis      bidik     tidak   sistem dapat diakibatkan oleh peralatan dan

     mendatar.                                            kondisi alam.
                                                                                                        47




Peralatan yang dibuat manusia walaupun                 Apabila penyebab suatu kesalahan telah di
dibuat dengan canggihnya, akan tetapi                  ketahui sebelumnya dan apabila pada saat
masih diperlukan suatu prosedur guna                   pengukuran kondisinya telah pula di ketahui
mengetahui        kemungkinan           munculnya      maka dapat di lakukan koreksi terhadap
kesalahan     pada     pengukuran       baik   alat,   kesalahan-kesalahan         yang      timbul    dan
maupun data.                                           kesalahan semacam ini di sebut kesalahan
                                                       sistematis.


                       Rambu belakang                                              Rambu muka

           BTb                                                                     BTm




                   1                             A                             2
                    Arah Pengukuran


        Gambar 39. Sipat Datar di Suatu Slag

Apabila penyebab suatu kesalahan telah                 Sebagai       contoh,   sehubungan          dengan
diketahui sebelumnya dan apabila pada saat             adanya        kesalahan-kesalahan          tersebut,
pengukuran kondisinya telah pula diketahui,            bahwa pada pita ukur baja biasanya untuk.
maka      dapat     dilakukan     koreksi      pada    Harga-harga ukurnya terdapat konstanta-
kesalahan yang ada. Contohnya, pita ukur               konstanta koreksi skala atau kloreksi suhu.
baja yang terdapat koreksi skala atau                  Selanjutnya,     seperti     halnya     kesalahan
koreksi suhu. Selanjutnya, seperti pada                petugas yang timbul pada pengukuran
kesalahan yang besarnya hampir sama dan                elevasi dengan instrumen ploting, terdapat
jika dilakukan koreksi dengan suatu nilai              semacam kesalahan yang besarnya hampir
tertentu terhadap harga ukurnya, maka akan             sama dan jika di lakukan koreksi dengan
mendekati harga benar walaupun tidak                   suatu nilai tertentu terhadap harga ukurnya,
dapat diketahui dengan pasti penyebab                  maka      akan    mendekati        harga       benar
kesalahan tersebut. Kesalahan seperti ini              walaupun tidak dapat di ketahui dengan
dapat      pula      diklasifikasikan       sebagai    pasti     penyebab         kesalahan       tersebut
kesalahan sistematis.
48




Kesalahan     seperti    ini   dapat    pula   di   BTb1 dan BTm2 yang akan di dapat bila
klasifikasikan sebagai kesalahan sisitematis.       garis bidik mendatar jadi telah sejajar
Kesalah sistematis dapat terjadi karena             dengan garis arah nivo, maka koreksi garis
kesalahan alat yang kita gunakan.                   bidik untuk diatas sama dengan:
                                                           ( BTb1 − BTm1) − ( BTb 2 − BTm2)
Alat-alat yang di gunakan adalah alat ukur             =
penyipat datar dan mistar. Lebih dahulu kita                   (db1 − dm1) − (db2 − dm2)
akan tinjau kesalahan yang ada pada alat            Kesalahan sistematis dapat juga disebabkan
ukur penyipat datar. Kesalahan yang di              oleh karena keadaan alam yang dapat di
dapat adalah yang berhubungan dengan                sebabkan oleh:
syarat utama. Kesalahan itu adalah garis
                                                       1. Karena         lengkungan       permukaan
bidik tidak sejajar dengan dengan garis arah
                                                             bumi.    Pada      umumnya         karena
nivo.   Dapat     diketahui     bahwa     untuk
                                                             bidang-bidang nivo karena pula dan
mendapatkan beda tinggi antara dua titik
                                                             beda tinggi antara dua tititk adalah
mistar yang diletakan di atas dua titik harus
                                                             jarak antara dua bidang nivo yang
di bidik dengan garis bidik yang mendatar.
                                                             melalui dua titik itu.
Semua pembacan yang di lakukan dengan
garis bidik yang mendatar diberi tanda                 2. Karena          melengkungnya           sinar

dengan angka 1. pembacaan dengan garis                       cahaya (refraksi). Sinar cahaya yang

bidik yang mendatar adalah BTb1-BTm1,                        datang dari benda yang di teropong

sedang pembacaan yang di lakukan dengan                      harus melalui lapisan-lapisan udara

garis bidik miring dinyatakan dengan angka                   yang tidak sama padatnya, karena

2. bila gelembung di tengah-tengah, jadi                     suhu dan tekannya tidak sama.

garis arah nivo mendatar dan garis bidik               3. Karena        getaran       udara.     akibat
tidak sejajar dengan garis arah nivo, maka                   adanya pemindahan hawa panas
garis bidik akan miring dan membuat sudut                    dari permukaan bumi keatas, maka
α    dengan   garis     arah   nivo,   sehingga              bayangan dari mistar yang di lihat
pembacaan       pada    kedua    mistar    akan              dengan     teropong      akan     bergetar
menjadi BTm dan BTb.                                         sehingga     pembacan       ada     mistar

Beda tinggi antara titik A dan titik B sama                  tidak dapat di lakukan.

dengan t = BTb1-BTm1. Sekarang akan                    4. Karena masuknya lagi kaki tiga dan
dicari hubungan antara selisih pembacaan                     mistar kedalam tanah. Bila dalam
BTb2 dan BTm2 yang di dapatkan garis                         waktu    antara     pengukuran       satu
bidik miring dengan selisih pembacaan                        mistar dengan mistar lainya baik
                                                                                                       49




           kaki tiga maupun mistar kedua               2.2.2     Pengaruh kesalahan nol skala
           masuk lagi kedalam tanah maka                         dan satu satuan skala mistar ukur
           pembacan pada mistar kedua akan
                                                       Akibat hal–hal tertentu artinya dasar/ ujung
           salah bila di gunakan untuk mencari
                                                       bawah mistar ukur bahwa mistar ukur dan
           beda tinggi antara dua titik yang
                                                       tidak samanya satu satuan skala dari
           ditempati oleh mistar-mistar itu.
                                                       masing–masing        mistar     ukur   yang      di
    5. Karena perubahan garis arah nivo,               gunakan timbul hal – hal sebagai berikut :
           karena alat ukur penyipat datar             σ = Kesalahan yang timbul akibat salah nol
           terkena napas sinar matahari maka                   skala.
           akan terjadi tegangan pada bagian-          ∆ = Kesaahan yangtimbul akibat satu–
           bagian alat ukur, terutama pada                     satuan skala.
           bagian penting seperti nivo.
                                                       Hasil ukuran :
2.2.1      Pengaruh kesalahan garis bidik
                                                               ∆h1 = (b10 + δ0 + ∆0) – (m10 + δ1 + ∆1)

Bila garis bidik sejajar dengan garis arah                         = (b10 + m10) + (δ0 + ∆0 – δ1 – ∆1

nivo, maka hasil pembacaan tidak benar,                        ∆h2 = (b20 + m20) + (δ0∆0 + δ1∆1)

dan akibatnya, beda tinggi tidak benar.
                                                               ∆h1 + ∆h2 = (b10 + m10) + (b20 + m20)
Mengatasi kesalahan garis bidik ada dua
cara :                                                                  Σ∆h = Σb0 - Σm0

        Dasar/ dihitung kemiringan garis bidik,        Dari hal-hal diatas dapat dilihat bahwa,

        dan selanjutnya dikoreksikan terhadap          akibat dari dua kesalahan yang timbul, hasil

        hasil ukuran.                                  ukuran menjadi tidak benar, tetapi dalam hal
                                                       ini dapat di eliminasi dua cara :
        Eleminasi,       yaitu   dengan   mengatur
        penempatan alat sehingga kesalahan                     Di jumlah slag genap.

        tersebut     hilang      dengan   sendirinya           Pengaturan perpindahan mistar ukur.

        (tereliminir).                                 Bila pada slag sebelumnya mistar ukur

        Mencari kesalahan garis bidik                  merupakan         mistar      belakang,       slag
                                                       selanjutnya harus menjadi mistar muka dan
                                                       sebaliknya.
50




 2.3 Kesalahan acak                                      2.4 Kesalahan besar


Adalah suatu kesalahan yang objektif yang               Kesalahan     besar    dapat   terjadi      apabila
mungkin terjadi akibat dari keterbatasan                operator      atau     surveyor     melakukan
panca indera manusia. Keterbatasan itu                  kesalahan yang seharusnya tidak terjadi
dapat berupa kekeliruan, kurang hati-hati,              akibat kesalahan pembacaan dan penulisan
kelalaian, ketidakmengertian pada alat, atau            nilai yang diambil dari data pengukuran.
belum menguasai sepenuhnya alat.                        Dengan demikian, jika terjadi kesalahan
Walaupun       demikian,         pengukur        yang   yang besar maka pengukuran harus diulang
berpengalaman tidak mutlak pengukurannya                dengan rute yang berbeda.
itu benar. Karena itu dalam mempersiapkan
                                                        2.4.1   Koreksi kesalahan
dan merencanakan pekerjaan pengukuran
harus diperhatikan hal–hal sebagai berikut:             Seluruh pengukuran untuk kepentingan dari
                                                        pemetaan      maupun     aplikasi   lain,     pada
     •   Menggunakan metode yang berbeda,
                                                        dasarnya        memperhatikan        kesalahan
     •   Mengupayakan rute pengukuran yang
                                                        sistematis dan acak yang sering terjadi.
         berbeda.
                                                        Khusus untuk pengukuran kerangka dasar
Kesalahan ini lebih mudah dikoreksi dengan              horizontal, koreksi kesalahan sistemtik dan
pendekatan ilmu statistik. Pada fenomena                acak mutlak dilakukan. Maka dari itu, kita
pengukuran dan pemetaan suatu syarat                    mengenal      adnya    rumus   KGB       (koreksi
geometrik menjadi kontrol                               kesalahan garis bidik)

Kesalahan      ini    bersifat     subjektif     yang              (BTm1 – BTb1) – (BTm2 – BTb2)
                                                        KGB =
mungkin terjadi akibat terjadi perbedaan
                                                                   (dm1 – db1) – (dm2 – db2)
keterbatasan         panca       indra      manusia.
Kesalahan      acak      relatif    lebih      mudah
                                                        2.4.2   Kesalahan        pengukuran          sipat
dieleminir      atau         dikoreksi         dengan
                                                                datar
pendekatan-pendekatan ilmu statistik. Pada
fenomena pengukuran dan pemetaan suatu                  Kesalahan pengukuran sipat datar dapat

syarat     geometrik    menjadi       kontrol     dan   dikelompokan dalam :

pengikat data yang tercakup pada titik-titik            1. Kesalahan pengukur

kontrol pengukuran.                                         Kesalahan pengukur mempunyai panca
                                                            indra     (mata)   tidak   sempurna        dan
                                                            pengukur kurang hati-hati, lalai, tidak
                                                                                                                   51




   paham menggunakan alat ukur, dan                           dari persamaan (1) dan (2) dapat
   tidak paham menggunakan pembacaan                          dimengerti               bahwa           pengaruh
   rambu.                                                     kesalahan garis bidik sama dengan
                                                              nol haruslah diusahakan agar :
2. Kesalahan alat ukur
                                                                                                           n
                                                              Db          =     Dm      atau       (   ∑           Db-
   Kesalahan yang diakibatkan oleh alat                                                                        1
   ukur antara lain :                                             n
                                                              ∑           Dm)….(3)
                                                                      1
   Dijelaskan dalam gambar 24.
                                                              Persamaan (1) dapat dijelaskan
   a) Garis bidik tidak sejajar dengan                        sebagai berikut:
      garis      jurusan        nivo.     Sehingga            h yang benar adalah : h = a – b
      mengakibatkan                      kesalahan
                                                              dari ukuran diperoleh: h1=a1-b1
      pembacaan pada rambu. Apabila
      garis jurusan nivo mendatar garis                       agar         h1    menjadi       betul,          maka

      bidik tidak mendatar. Alat sipat datar                  haruslah a1 dan b1 dikoreksi
      demikian      dikatakan           mempunyai
                                                              h = (a1-a a1) – (b1-b b1)
      kesalahan         garis      bidik.       Besar
                                                              h = (a1- b1) – (a a1- b b1)
      pengaruh      kesalahan           garis    bidik
      terhadap hasil beda tingi adalah:                       karena a a1 = tan α (Db-Dm)
      ∆h = tan α (Db-Dm) = α (Db                              h1-h = ∆h = tan α (Db-Dm)
      Dm)….(1)                                                bila sudut α kecil :
      dimana :                                                ∆h = α (radial) x (Db-Dm)
      ∆h =       kesalahn pada ukuran beda
                                                         b)   Bila rambu baik               maka garis nol
      tinggi
                                                              skala           rambu        harus       berhimpit
      Db = jarak kerambu belakang
                                                              dengan            alas       rambu.       Karena
      Dm = jarak kerambu muka
                                                              kesalahan pembuatan garis nol
      α = kesalahan garis bidik
                                                              dapat terletak diatas alas rambu.
      apabila jarak antara dua titik yang                     Karena seringnya rambu dipakai
      diukur     jauh    dan       dibagi       dalam         maka ada kemungkinan alas rambu
      beberapa seksi, maka pengaruhnya                        menjadi aus. Ini berarti bahwa
      adalah :                                                angka skala nol terletak di bawah
                         nn                                   alas         rambu.      Beda     tinggi         yang
       ∆h = tan α ( ∑ Db-∑ Dm)
                     1      1
                                                              didapat               dari        pembacaan-
              n    n
       = α ( ∑ Db-∑ Dm)….(2)                                  pembacaan              yang      salah     karena
               1     1
52




           adanya kesalahan garis nol skala                   Bila ∆Lb dan ∆Lm adalah kesalahan
           rambu akan betul, apabila jumlah                   panjang rambu belakang dan muka
           seksi antara dua titik dibuat genap                Lb dan Lm panjang rambu belakang
           dan       pemindahan      rambu      ukur          dan     muka       a     dan   b   adalah
           selama pengukuran harus selang                     pembacaan pada rambu belakang
           seling,                                            dan      muka          yang    mempunyai
                                                              kesalahan maka beda tinggi yang
      c)    Untuk     menegakan       rambu     ukur
                                                              betul adalah :
           digunakan       nivo      kotak     yang
           diletakan     pada     rambu.     Apabila                h=h1+{∆Lba - ∆Lm b}
           gelembung         nivo     ditempatkan                              Lb      Lm
           ditengah, rambu harus tegak. Akan            3. Kesalahan karena faktor alam
           tetapi bila gelembung nivo sudah
                                                           a) Karena      lengkungan         permukaan
           ditengah      tetapi     rambu     miring,
                                                              bumi.     Pada         umumnya     bidang-
           dikatakan terdapat kesalahan nivo
                                                              bidang nivo karena pula dan beda
           kotak karena salah mengaturnya.
                                                              tinggi antara dua tititk adalah jarak
      d) Kesalahan pembagian skala rambu.                     antara dua bidang nivo yang melalui
           Seharusnya        pembagian         skala          dua titik itu.
           rambu adalah sama. Apabila ada                  b) Karena           melengkungnya       sinar
           interval yang tidak sama sekali
                                                              cahaya (refraksi). Sinar cahaya yang
           terlalu besar sekali lagi terlalu kecil            datang dari benda yang di teropong
           maka       dikatakan     bahwa     rambu
                                                              harus melalui lapisan-lapisan udara
           mempunyai kesalahan pembagian                      yang tidak sama padatnya, karena
           skala. Kesalahan ini tidak dapat
                                                              suhu dan tekannya tidak sama.
           dihilangkan.      Oleh      sebab      itu
                                                            c) Karena getaran udara . karena
           gunakan rambu dengan baik.
                                                               adanya pemindahan hawa panas
     e)    Kesalahan panjang rambu.                            dari permukaan bumi keatas, maka
           Seharusnya panjang rambu yang                       bayangan dari mistar yang di lihat
           digunakan adalah standard. Artinya                  dengan teropong akan bergetar
           apabila angka rambu mulai dari 0 –                  sehingga pembacan ada mistar
           3m panjang rambu harus tepat 3m.                    tidak dapar di lakukan.
           Bila dikatakan bahwa rambunya
           mempunyai        kesalahan panjang.
                                                                                                           53




     d) Karena masuknya lagi kaki tiga dan             Yang       mempengaruhi             sudut        serta
           mistar kedalam tanah. Bila dalam            pengukuran:
           waktu     antara       pengukuran    satu
                                                       -   Sudut diukur pada satu titik, kedua
           mistar dengan mistar lainya baik
                                                           titik sebelum dan sesudah titik sudut
           kaki tiga maupun mistar kedua
                                                           tersebut. Penempatan alat pada titik
           masuk lagi kedalam tanah maka
                                                           sudut haruslah tepat kalau tidak
           pembacan pada mistar kedua akan
                                                           demikian      maka          akan        terdapat
           salah     bila    di    gunakan     untuk
                                                           kesalahan sudut. Untuk membantu
           mencari beda tinggi antara dua titik
                                                           dalam sentrering alat–alat pengukur
           yang di tempati oleh mistar-mistar
                                                           sudut yang baru dilengkapi dengan
           itu.
                                                           alat      sentering         optis.          Karena
        e) Karena perubahan garis arah nivo,               sentrering         yang         menggunakan
           karena alat ukur penyipat datar                 unting–unting sangat menyusahkan
           kena napas sinar matahari maka                  dilapangan         karena       unting–unting
           akan terjadi tegangan pada bagian-              sangat mudah bergoyang bila tertiup
           bagian alat ukur, terutama pada                 angin.     Selain       titik   sudut,       yang
           bagian penting seperti nivo.                    penting     lainnya        adalah       titik–titik
                                                           arah.
2.4.3     Kesalahan pada ukuran
                                                       Kesalahan jarak
Disini akan dibicarakan sedikit mengenai
kesalahan pada sudut dan kesalahan pada                Kesalahan jarak yang sering dilakukan
jarak:                                                 ialah disebabkan para pengukur jarak
                                                       merentangkan         pita     ukurnya           kurang
    Kesalahan sudut
                                                       tegang, sehingga terdapat kesalahan
    Sudut yang diukur merupakan suatu                  pengukuran jarak. Satu hal yang sangat
    data untuk perhitungan poligon dan                 penting dan yang kadang – kadang
    dengan         sendirinya      pula   ketelitian   dilupakan orang ialah mengecek alat
    poligon sebagaian tergantung dari pada             pengukur      jarak.     Karena          bila     tidak
    pengukuran sudutnya dengan demikian                demikian      akan      terdapat         kesalahan
    salah satu cara untuk meninggikan                  sistematis.
    ketelitian     poligon    pengukuran       sudut
    harus diukur dengan teliti.
54




2.4.4   Mencari       kesalahan–kesalahan           2.4.5     Mencari kesalahan besar pada
        besar pada jarak                                      sudut

Yang dimaksud dengan kesalahan besar                Kemungkinan kesalahan besar pada sudut
disini ialah kesalahan sudut atau kesalahan         terbagi 2 macam cara :
jarak yang biasanya disebabkan oleh karena
                                                            Kesalahan    besar     sudut,         dapat
kekeliruan, baik karena kekeliruan membaca
                                                        ditemukan bila poligon itu dihitung atau
maupun menulis. Kesalahan besar dalam
                                                        digambar      secara   grafis     muka     dan
ukuran sudut suatu poligon sudah dapat
                                                        belakang. Perpotongan kedua poligon
terlihat pada salah penutup yang terlalu
                                                        itu menunjukkan titik poligon dimana
besar. Kesalahan besar dalam ukuran jarak
                                                        terdapat kesalahan besar.
suatu poligon terlihat pada salah penutup
koordinat    yang   jauh   lebih   besar     dari       Kesalahan besar sudut, dapat dicari
toleransi.                                              tempatnya        dengan         tidak     perlu
                                                        menghitung atau menggambar poligon
                                                        tetapi   cukup   menghitung        satu    kali.




                                           m e n d a ta r                      b
                                                                                            b'
                                                                                   α




Gambar 40. Rambu miring
                                                                                                     55




                                               mendatar
       b                                                                                 m

                Xb                                                                      Xm

                                                                   tb
                                                                                         Bidang
                                                                                         nivo Alat


           tA
                                                                            B       Bidang
                                                                  tA - tB           nivo B
                 A
                                                              Bidang
                                                              nivo A


Gambar 41. Kelengkungan Bumi




                                            D mendatar


                                                              t


                                                                         bidang nivo
                                                                         melalui alat
                                                          h


                                                                  Bumi




                                    R
                                               R




                               Pusat Bumi

Gambar 42. Kelengkungan bumi
56




                                                              t'
                                                                     Garis pandangan

                                                               Y

                                                          t   Lengkung cahaya
                                                      h


                                                              Bumi




                               R
                                     R = jari-jari bumi




                                         R' = jari-jari lengkung cahaya




                        Pusat Bumi




Gambar 43. Refraksi atmosfir
                                                                                                         57




                          Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-02
                                      Model Diagram Alir
                                           Teori Kesalahan
                                        Teori Kesalahan
                  Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT




                                                               Koreksi dengan Metode Pengukuran

                                                              Koreksi Garis Bidik (Sipat Datar KDV)
                                                               Pembacaan Teropong Biasa & Luar
                           Kesalahan Sistematis                     Biasa (Theodolite KDH)
                           (Systemathical Error)              Jumlah Slag Genap (Sipat Datar KDV)
                                                              Jumlah Jarak Belakang ~ Jarak Muka
                                                                       (Sipat Datar KDV)

                        Kesalahan yang disebabkan oleh
                         sistem peralatan dan kondisi
                                     alam



      Kesalahan yang
      mungkin terjadi                 Kesalahan Acak                    Koreksi dengan Hitung Perataan
     pada pengukuran                  (Random Error)                           dan Ilmu Statistik
       dan pemetaan




                          Kesalahan yang disebabkan oleh keterbatasan
                                     panca indera manusia


                                       Titik Kontrol Tinggi
                                             (H atau Z)


                                          Titik Kontrol
                                                                         Komponen-Komponen Koreksi
                                      Planimetris (X dan Y)


                                         Kontrol Sudut
                                                                                   Sistem
                                      Horisontal (Azimuth)
                                                                                 Pembobotan
                                                                                   Koreksi


                                      Kesalahan Besar                     Pengukuran harus diulangi
                                         (Blunder)




                             Kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan
                                   membaca/melihat angka-angka




Gambar 44. Model diagram alir teori kesalahan
58




                                   Rangkuman

        Berdasarkan uraian materi bab 2 mengenai teori kesalahan, maka dapat
disimpulkan sebagi berikut:

1.   Bagian yang harus ada saat pengukuran yaitu benda ukur, alat ukur, dan
     pengukur/pengamat.
2.   Persyaratan kesalahan saat pengukuran yaitu:
     a. Pengukuran tidak selalu tepat
     b. Setiap pengukuran mengandung galat
     c. Harga sebenarnya dari suatu pengukuran tidak pernah diketahui
     d. Kesalahan yang tepat selalu tidak diketahui
3.   Penyebab kesalahan pengukuran yaitu : alam, alat dan pengukur
4.   Factor- factor yang mempengaruhi hasil pengukuran yaitu : keadaan tanah jalur
     pengukuran,    keadaan/kondisi     atmosfer      (getaran   udara),   refraksi   atmosfer,
     kelengkungan bumi, kesalahan letak skala nol rambu, kesalahan panjang rambu (bukan
     rambu standar), kesalahan pembagian skala (scale graduation) rambu, kesalahan
     pemasangan nivo rambu, kesalahan garis bidik.
5.   Macam-macam kesalahan yaitu : kesalahan sistematis, kesalahan acak, kesalahan
     besar.
6.   Kesalahan pada ukuran dibagi dua, yaitu : kesalahan sudut dan kesalahan jarak.
                                                                               59




                                  Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1. Jelaskan secara singkat definisi dari koreksi dan kesalahan?
2. Bagaimana cara mengkoreksi kesalahan sistematis pada pengukuran kerangka dasar
   vertical dan kerangka dasar horizontal?
3. Jelaskan secara singkat faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran?
4. Bagaimana cara mengatasi kesalahan garis bidik?
5. Gambarkan model diagram alir teori kesalahan!
                                                                                                           61




                    3. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal


                                                            perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat
   3.1 Pengertian
                                                            datar pergi dan pulang. Pada tabel 2
                                                            ditunjukkan contoh ketentuan ketelitian sipat
Kerangka         dasar       vertikal    merupakan
                                                            teliti untuk pengadaan kerangka dasar
kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau
                                                            vertikal.    Untuk    keperluan      pengikatan
ditentukan       posisi      vertikalnya        berupa
                                                            ketinggian, bila pada suatu wilayah tidak
ketinggiannya       terhadap      bidang     rujukan
                                                            ditemukan TTG, maka bisa menggunakan
ketinggian       tertentu.     Bidang      ketinggian
                                                            ketinggian titik triangulasi sebagai ikatan
rujukan ini bisa berupa ketinggian muka air
                                                            yang    mendekati     harga    ketinggian    teliti
laut rata-rata (mean sea level - MSL) atau
                                                            terhadap MSL.
ditentukan lokal. Umumnya titik kerangka
dasar vertikal dibuat menyatu pada satu                     Tabel 2. Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar

pilar dengan titik kerangka dasar horizontal.                   Tingkat/ Orde                   K

Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal                                I                     ± 3mm
dimulai oleh Belanda dengan menetapkan
                                                                        II                    ± 6mm
MSL di beberapa tempat dan diteruskan
                                                                        III                   ± 8mm
dengan     pengukuran          sipat    datar     teliti.
Bakosurtanal, mulai akhir tahun 1970-an
                                                            Pengukuran tinggi adalah menentukan beda
memulai upaya penyatuan sistem tinggi
                                                            tinggi antara dua titik. Beda tinggi antara 2
nasional dengan melakukan pengukuran
                                                            titik dapat ditentukan dengan :
sipat datar teliti yang melewati titik-titik
kerangka dasar yang telah ada maupun                        1. Metode pengukuran penyipat datar
pembuatan titik-titik baru pada kerapatan                   2. Metode trigonometris
tertentu. Jejaring titik kerangka dasar vertikal            3. Metode barometri
ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi
(TTG).
                                                             3.2 Pengukuran sipat datar
Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi
sipat    datar      masih       merupakan         cara      Metode sipat datar optis adalah proses
pengukuran beda tinggi yang paling teliti.                  penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau
Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal                 pengukuran perbedaan elevasi. Perbedaan
(K) dinyatakan sebagai batas harga terbesar                 yang dimaksud adalah perbedaan tinggi di
62




atas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang         tabung harus di tengah setiap kali akan
garis vertikal. Perbedaan tinggi antara titik-          membaca skala rambu.
titik akan dapat ditentukan dengan garis
                                                        Karena interval skala rambu umumnya 1
sumbu pada pesawat yang ditunjukan pada
                                                        cm, maka agar kita dapat menaksir bacaan
rambu yang vertikal.
                                                        skala dalam 1 cm dengan teliti, jarak antara
Tujuan dari pengukuran penyipat datar                   alat sipat datar dengan rambu tidak lebih
adalah mencari beda tinggi antara dua titik             dari 60 meter. Artinya jarak antara dua titik
yang      diukur.      Misalnya      bumi,     bumi     yang akan diukur beda tingginya tidak boleh
mempunyai permukaan ketinggian yang                     lebih dari 120 meter dengan alat sipat datar
tidak sama atau mempunyai selisih tinggi.               ditempatkan    di   tengah   antar   dua    titik
Apabila selisih tinggi dari dua buah titik              tersebut dan paling dekat 3,00 m.
dapat diketahui maka tinggi titik kedua dan
                                                        Beberapa istilah yang digunakan dalam
seterusnya      dapat     dihitung   setelah    titik
                                                        pengukuran alat sipat datar, diantaranya:
pertama diketahui tingginya.

                     Rambu belakang                                              Rambu muka

        BTb                                                                      BTm




                 1                              A                            2
                 Arah Pengukuran

                     ∆H1.2 = BTb - BTm

     Gambar 45. Pengukuran sipat datar optis


Sebelum       digunakan      alat    sipat     datar    a. Stasion
mempunyai syarat yaitu: garis bidik harus                  Stasion adalah titik dimana rambu ukur
sejajar dengan garis jurusan nivo. Dalam                   ditegakan; bukan tempat alat sipat datar
keadaan di atas, apabila gelembung nivo                    ditempatkan. Tetapi pada pengukuran
tabung berada di tengah garis bidik akan                   horizontal, stasion adalah titik tempat
mendatar. Oleh sebab itu, gelembung nivo                   berdiri alat.
                                                                                                     63




b. Tinggi alat                                              untuk menentukan ketinggian stasion
     Tinggi alat adalah tinggi garis bidik di               tersebut.
     atas tanah dimana alat sipat datar
                                                      h. Seksi
     didirikan.
                                                            Seksi adalah jarak antara dua stasion
c. Tinggi garis bidik                                       yang    berdekatan,   yang     sering   pula
     Tinggi garis bidik adalah tinggi garis bidik           disebut slag.
     di   atas    bidang     referensi   ketinggian
                                                      Istilah-istilah di atas dijelaskan pada gambar
     (permukaan air laut rata-rata)
                                                      46.
d. Pengukuran ke belakang
                                                      Keterangan Gambar 46:
     Pengukuran       ke      belakang      adalah
                                                            A, B, dan C = stasion: X = stasion antara
     pengukuran ke rambu yang ditegakan di
                                                            Andaikan stasion A diketahui tingginya,
     stasion yang diketahui ketinggiannya,
                                                      maka:
     maksudnya untuk mengetahui tingginya
                                                      a. Disebut pengukuran ke belakang, b =
     garis bidik. Rambunya disebut rambu
                                                            rambu belakang;
     belakang.
                                                      b. Disebut pengukuran ke muka, m =
e. Pengukuran ke muka                                       rambu muka.
     Pengukuran         ke       muka       adalah
                                                      Dari pengukuran 1 dan 2, tinggi stasion B
     pengukuran ke rambu yang ditegakan di
                                                      diketahui, maka:
     stasion yang diketahui ketinggiannya,
     maksudnya untuk mengetahui tingginya             c. Disebut pengukuran ke belakang;
     garis bidik. Rambunya disebut rambu              d. Disebut pengukuran ke muka, stasion B
     muka.                                                  disebut titik putar

f.   Titik putar (turning point)                                Jarak AB, BC dst masing-masing
     Titik putar (turning point) adalah stasion                 disebut seksi atau slag.
     dimana pengukuran ke belakang dan ke                       Ti = tinggi alat; Tgb= tinggi garis
     muka    dilakukan       pada   rambu     yang              bidik.
     ditegakan di stasion tersebut.
                                                      Pengertian lain dari beda tinggi antara dua
g. Stasion antara (intermediate stasion)              titik adalah selisih pengukuran ke belakang
     Stasion antara (intermediate stasion)            dan pengukuran ke muka. Dengan demikian
     adalah titik antara dua titik putar, dimana      akan diperoleh beda tinggi sesuai dengan
     hanya dilakukan pengukuran ke muka               ketinggian titik yang diukur.
64




         b                                          m m=b                                            m

                                                                    3                 4
                        1                  2
                                                                                                         m2




                                                                                          t2
                                               t1




                                                               Tb
 Ta




         A                                              B                                            C
                                                    X



                                                                                                          bidang referensi




Gambar 46. Keterangan pengukuran sipat datar



                                        garis bidik mendatar
                                                                                  b
         ta




                    A                                                                                hAB = ta - b
                            T




                                                                                               hAB
             HA




                                                                              B
                                                                                               HB




                                                                                                         bidang referensi



      Gambar 47. Cara tinggi garis bidik


Berikut           adalah    cara-cara       pengukuran              Dengan demikian dengan mengukur
dengan sipat datar, diantaranya:                                    tinggi alat, tinggi garis bidik dapat
                                                                    dihitung. Apabila pembacaan rambu di
a. Cara kesatu
                                                                    stasion   lain    diketahui,          maka      tinggi
      Alat sipat datar ditempatkan di stasion
                                                                    stasion ini dapat pula dihitung. Seperti
      yang diketahui ketinggiannya.
                                                                    pada gambar 47.
                                                                                            65




Keterangan gambar 47:                         b. Cara kedua
ta   = tinggi alat di A                            Alat sipat datar ditempatkan diantara
T    = tinggi garis bidik                          dua stasion (tidak perlu segaris).
HA = tinggi stasion A
                                                   Perhatikan gambar 48:
b    = bacaan rambu di B
HB = tinggi stasion B                              hAB = a – b

hAB = beda tinggi dari A ke B = ta – b             hBA = b – a

untuk      menghitung      tinggi stasion B        Bila tinggi stasion A adalah HA, maka
digunakan rumus sbb:                               tinggi stasion B adalah:
HB = T – b
                                                   HB = HA + hAB = HA + a – b = T – b
HB = HA + ta – b
HB = HA + hAB                                      Bila tinggi stasion B adalah HB, maka
                                                   tinggi stasion A adalah:
Cara tersebut dinamakan cara tinggi
garis bidik.                                       HA = HB + hBA = HB + b – a = T – a

Catatan:                                      c.   Cara ketiga
ta dapat dianggap hasil pengukuran ke              Alat   sipat   datar   tidak   ditempatkan
belakang, karena stasion A diketahui               diantara atau pada stasion.
tingginya. Dengan demikian beda tinggi
                                                   Perhatikan gambar 49:
dari A ke B yaitu hAB = ta – b. Hasil ini
                                                   hAB = a – b
menunjukan bahwa hAB adalah negatif
                                                   hBA = b – a
(karena ta < b) sesuai dengan keadaan
dimana stasion B lebih rendah dari                 bila tinggi stasion C diketahui HC, maka:
stasion A.                                         HB = HC + tc – b = T – b
                                                   HA = HC + tc – a = T – a
 beda tinggi dari B ke A yaitu hBA = b –
 t. Hasilnya adalah positif. Jadi apabila          Bila tinggi stasion A diketahui, maka:
 HB dihitung dengan rumus HB = HA +                HB = HA + hAB = HA + a - b
 hAB hasilnya      tidak    sesuai   dengan
                                                   Bila tinggi stasion B diketahui, maka:
 keadaan dimana B harus lebih rendah
                                                   HA = HB + hAB = HB + b – a
 dari A.

 Dari catatan poin 1 dan 2 dapat
 disimpulkan bahwa hBA = -hAB agar
 diperoleh hasil sesuai dengan keadaan
 yang sebenarnya.
66




                                            garis bidik mendatar
                  a                                                                b




                                                                       T
 hAB = a - b                                                                   B        hBA = b - a

                       A
                  HA                                                               HB
                                                                                        bidang referensi
Gambar 48. Cara kedua pesawat di tengah-tengah




                           garis bidik mendatar                    b
     a



                                                                                   tc


                                                                                   C
                                                                   B
                                                                                              T
                                      h




     0
         A



             HA                                                        HB          HC


Gambar 49. Keterangan cara ketiga


     Dari ketiga cara di atas, cara yang                       datar tepat di tengah-tengah antara
     paling teliti adalah cara kedua, karena                   stasion A dan B (jarak pandang ke A
     pembacaan a dan b dapat diusahakan                        sama dengan jarak pandang ke B).
     sama teliti yaitu menempatkan alat sipat
                                                                                                              67




    Pada cara pertama pengukuran ta                           Yaitu semua titik yang ditempati oleh
    kurang    teliti     dibandingkan        dengan           rambu ukur tersebut.
    pengukuran b, dan pada cara ketiga
                                                              Sipat   datar         memanjang         dibedakan
    pembacaan a kurang teliti dibandingkan
                                                              menjadi:
    dengan       pembacaan      b.    Selain       itu,
                                                                  Memanjang terbuka,
    dengan cara kedua hasil pengukuran
                                                                  Memanjang keliling (tertutup),
    akan bebas dari pengaruh kesalahan-
                                                                  Memanjang              terbuka          terikat
    kesalahan garis bidik, refraksi udara
                                                                  sempurna,
    serta kelengkungan bumi.
                                                                  Memanjang pergi pulang,

3.2.1 Jenis-Jenis Pengukuran Sipat Datar                          Memanjang double stand.

                                                           5. Sipat datar resiprokal
Ada beberapa macam pengukuran sipat
datar di antaranya:                                           Kelainan pada sipat datar ini adalah
                                                              pemanfaatan konstruksi serta tugas
4. Sipat datar memanjang.
                                                              nivo yang dilengkapi dengan skala
    Digunakan apabila jarak antara dua                        pembaca            bagi   pengungkitan       yang
    stasion yang akan ditentukan beda                         dilakukan          terhadap      nivo    tersebut.
    tingginya sangat berjauhan (di luar                       Sehingga dapat dilakukan pengukuran
    jangkauan jarak pandang). Jarak antara                    beda tinggi antara dua titik yang tidak
    kedua stasion tersebut dibagi dalam                       dapat dilewati pengukur. Seperti halnya
    jarak-jarak pendek yang disebut seksi                     sipat datar memanjang, maka hasil
    atau slag.                                                akhirnya adalah data ketinggian dari

    Jumlah aljabar beda tinggi tiap slag                      kedua      titik     tersebut.    Seperti    pada

    akan menghasilkan beda tinggi antara                      gambar 50 :

    kedua stasion tersebut.                                   Perbedaan tinggi antara A ke B adalah

    Tujuan pengukuran ini umumnya untuk                       hAB = ½ {(a - b) + (a’ + b’)}. Titik-titk C,

    mengetahui         ketinggian    dari    titik-titik      A, B, dan D tidak harus berada pada

    yang     dilewatinya        dan         biasanya          satu garis lurus.

    diperlukan sebagai kerangka vertikal                      Apabila jarak antara A dan B jauh, salah
    bagi suatu daerah pemetaan. Hasil                         satu rambu (rambu jauh) diganti dengan
    akhir daripada pekerjaan ini adalah data                  target dan sipat datar yang digunkan
    ketinggian dari pilar-pilar sepanjang                     adalah tipe jungkit.
    jalur pengukuran yang bersangkutan.
68




                                                                                 b'
                    a'


                                                                                 b
                    a


                                                                               B           D

      C                 A




Gambar 50. Contoh pengukuran resiprokal


     Apabila sekrup pengungkit dilengkapi               n1 = bacaan skala pengungkit pada

     skala untuk menentukan banyaknya                          saat garis bidik mengarah ke

     putaran seperti nampak pada gambar                        target atas.

     51, yang dicatat bukan kedudukan                   n2 = bacaan skala pengungkit pada

     gelombang nivo akan tetapi banyaknya                      saat garis bidik mengarah ke

     putaran      sekrup     pengungkit     yang               target bawah

     ditentukan    oleh     perbedaan     bacaan
     skala yang diperoleh.

     Rumus        yang      digunakan      untuk
     menghitung b adalah:
                                                                                         Indek bacaan
                       n − n2                                                            Sekrup pengungkit

     B = b0 + b1 = b0 + 0        ⋅i                                                      berskala

                        n1 − n 2
     Dimana:
                                                   Gambar 51. sipat datar tipe jungkit
     n0 = bacaan skala pengungkit pada
           saat gelombung nivo berada di
           tengah.
                                                                                                          69




Catatan:                                                      selanjutnya        dapat      diperhitungkan
                                                              banyaknya galian dan timbunan yang
     Untuk      memperoleh            ketelitian    tinggi,
                                                              perlu      dilakukan       pada       pekerjaan
     lakukanlah       pengukuran          ke       masing-
                                                              konstruksi.
     masing target berulang-ulang, misalkan
     20x.


                      C
                       x                                                             D
                                                                                   x




               A
                                                                                                B

            Gambar 52. Contoh pengukuran resiprokal


     Pengukuran sebaiknya dilakukan pada                      Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan
     keadaan cuaca yang berbeda, misalnya                     dalam dua bagian yang disebut sebagai
     ukuran pertama pagi hari dan ukuran                      sipat   datar     profil   memanjang       dan
     kedua sore hari. Hal ini dimaksudkan                     melintang. Hasil akhir dari pengukuran
     untuk memperkecil pengaruh refraksi                      ini adalah gambaran (profil) dari pada
     udara.                                                   kedua jenis pengukuran tersebut dalam
                                                              arah potongan tegaknya.
      Untuk           memperkecil              pengaruh
      kesalahan            refraksi       udara       dan     Profil memanjang
      kelengkungan                bumi,       pengukuran      Maksud dan tujuan pengukuran profil
      sebaiknya            dilakukan          bolak-balik.    memanjang adalah untuk menentukan
      Maksudnya, pertama kali alat ukur                       ketinggian titik-titik sepanjang suatu garis
      dipasang sekitar A kemudian dipindah                    rencana       proyek       sehingga      dapat
      ke tempat sekitar B seperti nampak                      digambarkan       irisan    tegak      keadaan
      pada gambar berikut ini:                                lapangan      sepanjang      garis     rencana
                                                              proyek tersebut. Gambar irisan tegak
6.    Sipat datar profil.
                                                              keadaan     lapangan       sepanjang      garis
      Pengukuran            ini     bertujuan        untuk
                                                              rencana         proyek      disebut       profil
      mengetahui profil dari suatu trace baik
                                                              memanjang.
      jalan        ataupun         saluran,     sehingga
70




     Di lapangan, sepanjang garis rencana                  menghubungkan               titik-titik       yang
     proyek dipasang patok-patok dari kayu                 mempunyai ketinggian sama. Garis ini
     atau beton yang menyatakan sumbu                      dinamakan kontur.
     proyek. Patok-patok ini digunakan untuk
                                                           Pada jenis pengukuran sipat datar ini
     pengukuran profil memanjang.
                                                           yang      paling        diperlukan          adalah
     Profil melintang                                      penggambaran profil dari suatu daerah
     Profil   melintang      diperlukan        untuk       pemetaan         yang      dilakukan       dengan
     mengetahui profil lapangan pada arah                  mengambil ketinggian dari titik-titik detail
     tegak lurus garis rencana atau untuk                  di   daerah      tersebut       dan   dinyatakan
     mengetahui profil lapangan ke arah yang               sebagai wakil daripada ketinggiannya,
     membagi sudut sama besar antara dua                   sehingga dengan melakukan interpolasi
     garis rencana yang berpotongan.                       diantara ketinggian yang ada, maka
                                                           dapat ditarik garis-garis konturnya di
     Apabila profil melintang yang dibuat
                                                           atas peta daerah pengukuran tersebut.
     mempunyai jarak pendek (± 120 m),
     maka pengukurannya dapat dilakukan                    Cara pengukurannya adalah dengan
     dengan cara tinggi garis bidik. Apabila               cara tinggi garis bidik. Agar pekerjaan
     panjang,      dilakukan     seperti       profil      pengukuran berjalan lancar maka pilihlah
     memanjang.                                            tempat    alat     ukur     sedemikian        rupa,
                                                           hingga dari tempat ini dapat dibidik
7. Sipat datar luas
                                                           sebanyak mungkin titik-titik di sekitarnya.
     Untuk        merencanakan          bangunan-
     bangunan, ada kalanya ingin diketahui              3.2.2   Ketelitian pengukuran sipat datar

     keadaan tinggi rendahnya permukaan
                                                        Dalam pengukuran sipat datar akan pasti
     tanah.     Oleh    sebab    itu     dilakukan
                                                        mengalami kesalahan-kesalahan yang pada
     pengukuran sipat datar luas dengan
                                                        garis besarnya dapat digolongkan ke dalam
     mengukur sebanyak mungkin titik detail.
                                                        kesalahan     yang           sifatnya        sistimatis
     Kerapatan dan letak titik detail diatur            (Systematic errors) dan kesalahan yang
     sesuai dengan kebutuhannya. Apabila                sifatnya kebetulan (accidental errors).
     makin rapat titik detail pengukurannya             Kesalahan-kesalahan            yang          tergolong
     maka     akan      mendaptkan      gambaran        sistematis   adalah          kesalahan-kesalahan
     permukaan       tanah   yang      lebih   baik.    yang telah diketahui penyebabnya dan
     Bentuk       permukaan      tanah         akan     dapat   diformulasikan        ke    dalarn      rumus
     dilukiskan      oleh    garis-garis       yang     matematika maupun fisika tertentu.
                                                                                                 71




Misalnya, kesalahan    -    kesalahan yang     Untuk      mengetahui      apakah     pengukuran
terdapat pada alat ukur yang digunakan         harus diulangi atau tidak             dan untuk
antara lain kesalahan garis bidik, kesalahan   mengetahui baik tidaknya pengukuran sipat
garis nol skala rambu; kesalahan karena        datar (memanjang), maka ditentukan batas
faktor alam antara lain refraksi udara dan     harga kesalahan terbesar yang masih dapat
kelengkungan bumi.                             diterima       yang      dinamakan          toleransi
                                               pengukuran.
Kesalahan - kesalahan yang tergolong
kebetulan adalah kesalahan-kesalahan yang      Angka toleransi dihitung dengan rumus:
tidak dapat dihindarkan dan pengaruhnya
                                                                   T=±K        D
tidak dapat ditentukan, akan tetapi orde
                                               Dimana :
besarnya biasanya kecil-kecil saja serta
                                                 T = toleransi dalam satuan milimeter
kemungkinan positif dan negatifnya sama
                                                 K = konstanta yang menunjukan tingkat
besar.
                                                        ketelitian pengukuran dalam satuan
Misalnya, kesalahan menaksir bacaan pada                milimeter
skala rambu, menaksir letak gelembung nivo       D = Jarak antara dua titik yang diukur
di tengah. Karena kesalahan sistimatik                  dalam satuan kilometer
bersifat menumpuk (akumulasi), maka hasil
pengukuran     harus       dibebaskan   dari   3.2.3      Syarat-syarat alat sipat datar
kesalahan sistematis tersebut. Cara yang
                                               Pengukuran sipat datar memerlukan dua
dapat ditempuh yaitu dengan memberikan
                                               alat utama yaitu sipat datar dan rambu ukur
koreksi terhadap hasilnya atau dengan cara-
                                               alat sipat datar. Biasanya alat ini dilengkapi
cara pengukuran tertentu. Misalnya, untuk
                                               dengan       nivo      yang     berfungsi      untuk
menghilangkan pengaruh kesalahan garis
                                               mendapatkan           sipatan    mendatar        dari
bidik, refraksi udara dan kelengkungan
                                               kedudukan alat dan unting-unting untuk
bumi, alat sipat datar harus ditempatkan
                                               mendapatkan kedudukan alat tersebut di
tepat di tengah antara dua rambu (jarak ke
                                               atas titik yang bersangkutan.
rambu belakang dan ke rambu muka harus
dibuat sama besar).                            a. Pesawat Sipat Datar
                                                   Pesawat sipat datar yang kita gunakan
Dengan demikian hasil pengukuran hanya
                                                   dapat ditemukan pada beberapa alat
dipengaruhi   kesalahan      yang   sifatnya
                                                   berikut.
kebetulan.
72




1. Dumpy Level                                               Teropong         ini    dilengkapi       dengan
                                                             sekumpulan peralatan optis dan
     Kelebihan dari alat sipat datar ini yaitu
                                                             peralatan untuk dapat memperbesar
     teleskopnya hanya bergerak pada suatu
                                                             bayangan, reticule dengan benang
     bidang yang menyudut 90° terhadap
                                                             diafragma, serta peralatan penyetel
     sumbu rotasinya. Alat ini adalah alat
                                                             lainnya.
     yang paling sederhana.
                                                             Nivo
     Bagian dari alat ini meliputi:
                                                             Pada      alat    ukur         sipat   datar   ini
          Landasan alat
                                                             umumnya terdapat dua buah nivo.
         Landasan alat ini terletak di atas dari
                                                             Dari jenis kotak yang terletak pada
         tripod     (statif)      dan     merupakan
                                                             tribach    dan         jenis     tabung    yang
         landasan datar tempat alat ukur
                                                             terletak di atas teropong. Nivo kotak
         tersebut      diletakan         dan        diatur
                                                             tersebut               digunakan           untuk
         sebelum melakukan pengukuran.
                                                             mendatarkan bidang nivo dari alat
          Sekrup penyetel                                    tersebut, yaitu agar tegak lurus pada
          Sekrup penyetel berfungsi untuk                    garis grafvitasi dan nivo tabung
         mendatarkan           alat    ukur    di    atas    digunakan          untuk          mendatarkan
         landasan alat tersebut, juga untuk                  teropong pada jurusan bidikan.
         mendatarkan sebuah bidang nivo
         yaitu    bidang        yang     tegak      lurus
         terhadap garis gaya gravitasi.

          Tribach
         Tribach adalah platform ataupun
         penghubung statip dan alat sipat
         datar.

          Teropong
         Teropong ini duduk di atas tribach
         dan kedudukan mendatarnya diatur
         oleh ketiga sekrup penyetel yang
         terdapat pada tribach diatas.
                                                                                   73




       Gambar 53. Dumpy level


Tipe kekar terdiri dari:                  2. Tipe Reversi ( Reversible level )
1) Teropong,
                                             Kelebihan dari sipat datar ini yaitu pada
2) Nivo tabung,
                                             teropong terdapat nivo reversi dan
3) Skrup koreksi/pengatur nivo,
                                             teropong mempunyai sumbu mekanis.
4) Skrup koreksi/pengatur diafragma (4
                                             Pada type ini teropong dapat diputar
    buah),
                                             sepanjang sumbu mekanis sehingga
5) Skrup pengunci gerakan horizontal,
                                             nivo tabung letak dibawah teropong.
6) Skrup kiap (umumnya 3 buah),
                                             Karena nivo tabung mempunyai dua
7) Tribrach, penyangga sumbu kesatu
                                             permukaan maka dalam posisi demikian
    dan teropong,
                                             gelembung      nivo    akan     nampak.
8) Trivet, dapat dikuncikan pada statip
                                             Disamping itu teropong dapat diungkit
9) Kiap (leveling head), terdiri dari
                                             sehingga garis bidik bisa mengarah
    tribrach dan trivet,
                                             keatas, kebawah maupun mendatar.
10) Sumbu kesatu (sumbu tegak) ,
11) Tombol focus
74




                          Tipe Reversi terdiri dari:

                          1) Teropong,
                          2) Nivo     reversi    (mempunyai   dua
                              permukaan),
                          3) Skrup koreksi/pengatur nivo
                          4) Skrup koreksi/pengatur diafragma,
                          5) Skrup pengunci gerakan horizontal,
Gambar 54. Tipe reversi   6) Skrup kiap,
                                                                                          75




   7) Tribrach,                                        Teropong
   8) Trivet,                                          Teropong yang terdapat pada alat
   9) Kiap,                                            ukur ini sama dengan pada alat ukur
   10) Sumbu kesatu (sumbu tegak),                     dumpy level ataupun teropong pada
   11) Tombol focus,                                   umumnya.
   12) Pegas,
                                                       Nivo
   13) Skrup pengungkit teropong,
                                                       Demikian pula nivo yang terletak di
   14) Skrup pemutar,
                                                       atas teropong tersebut mempunyai
   15) Sumbu mekanis,
                                                       fungsi yang sama dengan yang

3. Tilting Level                                       terdapat pada alat-alat lainnya.

    Perbedaan tilting level dan dumpy level
    adalah teleskopnya tidak dapat dipaksa
    bergerak sejajar dengan plat paralel di
    atas. Penyetelan pesawat ungkit ini
    lebih   mudah       dibandingkan   dengan
    dumpy level. Kelebihan dari pesawat
    tilting level yaitu teropongnya dapat
    diungkit naik turun terhadap sendinya,
    dan mempunyai dua nivo yaitu nivo
    kotak dan nivo tabung.

    Dalam tilting level terdapat sekrup
    pengungkit teropong dan hanya terdiri
    dari tiga bagian saja. Bagian dari alat
    ini, diantaranya:

       Dudukan alat
       Pada bagian alat ini dapat berputar
       terhadap sumbu vertikal alat, yaitu
       dengan tersedianya bola dan soket
       diantara landasan statif dan tribach     Gambar 55. Dua macam tilting level
       tersebut.
                                                   Berbeda dengan tipe reversi, pada tipe
                                                   ini teropong dapat diungkit dengan
                                                   skrup pengungkit.
76




         Gambar 56. Bagin-bagian dari tilting level

      Keterangan :                                    4. Automatic Level
     1. Teropong,                                        Pada alat ini yang otomatis adalah
     2. Nivo tabung,                                     sistem pengaturan garis bidik yang tidak
     3. Skrup koreksi/pengatur nivo,                     lagi bergantung pada nivo yang terletak
     4. Skrup koreksi/pengatur diagram,                  di     atas   teropong.   Alat    ini   hanya
     5. Skrup pengunci gerakan horizontal,               mendatarkan bidang nivo kotak melalui
     6. Skrup kiap,                                      tiga    sekrup    penyetel       dan    secara
     7. Tribrach,                                        otomatis sebuah bandul menggantikan
     8. Trivet,                                          fungsi nivo tabung dalam mendatarkan
     9. Kiap (leveling head),                            garis nivo ke target yang dikehendaki.
     10. Sumbu kesatu (sumbu tegak),
                                                         Bagian-bagian dari alat sipat datar
     11. Tombol focus,
                                                         otomatis diantaranya: kip bagian bawah
     12. Pegas,
                                                         (sebagai      landasan    pesawat        yang
     13. Skrup pengungkit teropong,
                                                         menumpu pada kepala statif), sekrup
                                                                                              77




penyetel kedataran (untuk menyetel
nivo), teropong, nivo kotak (sebagai
pedoman       penyetelan       rambu     kesatu
yang      tegak     lurus    nivo),   lingkaran
mendatar (skala sudut), dan tombol
pengatur fokus (menyetel ketajaman
gambar objek).

Keistimewaan utama dari penyipat datar
otomatis adalah garis bidiknya yang
melalui    perpotongan        benang     silang
tengah     selalu     horizontal      meskipun
sumbu       optik     alat    tersebut    tidak
horizontal.
                                                  Gambar 57. Instrumen sipat datar otomatis




       Gambar 58. Bagian-bagian dari sipat datar otomatis
78




     Keterangan :                                   bidik   dengan    permukaan         tanah.
     1. Teropong,                                   Rambu ukur terbuat dari kayu atau
     2. Kompensator,                                campuran        logam       alumunium.
     3. Skrup koreksi/ pengatur diafragma,          Ukurannya, tebal 3 cm – 4 cm,
     4. Skrup pengunci gerakan horizontal,          lebarnya ±10 cm dan panjang 2 m, 3
     5. Skrup kiap,                                 m, 4 m, dan 5 m. Pada bagian
     6. Tribrach,                                   bawah diberi sepatu, agar tidak aus
     7. Trivet,                                     karena sering dipakai.
     8. Kiap (leveling head/base plate), dan
                                                    Rambu ukur dibagi dalam skala,
     9. Tombol focus.
                                                    angka-angka menunjukan ukuran
     Ketepatan penggunaan dari keempat              dalam desimeter. Ukuran desimeter
     alat sipat datar diatas yaitu sama-sama        dibagi dalam sentimeter oleh E dan
     digunakan untuk pengukuran kerangka            oleh kedua garis. Oleh karena itu,
     dasar vertikal, dimana kegunaan dari           kadang disebut rambu E. Ukuran
     keempat alat di atas yaitu hanya untuk         meter yang dalam rambu ditulis
     memperoleh informasi beda tinggi yang          dalam angka romawi. Angka pada
     relatif akurat pada pengukuran di suatu        rambu    ukur    tertulis   tegak    atau
     lapangan.                                      terbalik. Pada bidang lebarnya ada
                                                    lukisan milimeter dan diberi cat
b. Rambu Ukur
                                                    merah dan hitam dengan cat dasar
     Rambu untuk pengukuran sipat datar             putih agar saat dilihat dari jauh tidak
     (leveling) diklasifikasikan ke dalam 2         menjadi silau. Meter teratas dan
     tipe, yaitu:                                   meter terbawah berwarna hitam,
     1. Rambu         sipat     datar      dengan   dan     meter    di    tengah       dibuat
         pembacaan sendiri                          berwarna merah.
         a) Jalon                                   Fungsi rambu ukur adalah sebagai
         b) Rambu sipat datar sopwith               alat bantu dalam menentukan beda
         c) Rambu sipat datar bersendi              tinggi dan mengukur jarak dengan
         d) Rambu sipat datar invar                 menggunakan        pesawat.     Rambu
                                                    ukur biasanya dibaca langsung oleh
      2. Rambu sipat datar sasaran
                                                    pembidik.
         Rambu      ukur      diperlukan    untuk
         mempermudah/membantu
         mengukur beda tinggi antara garis
                                                                                                     79




                                                 Pada    pengukuran            tinggi    dengan     cara
                                                 trigonometris ini, beda tinggi didapatkan
                                                 secara tidak langsung, karena yang diukur
                                                 di sini adalah sudut miringnya atau sudut
                                                 zenith. Bila jarak mendatar atau jarak miring
                                                 diketahaui       atau     diukur,      maka     dengan
                                                 memakai       hubungan-hubungan               geometris
                                                 dihitunglah        beda      tinggi    yang     hendak
                                                 ditentukan itu.

                                                 Bila jarak antara kedua titik yang hendak
                                                 ditentukan beda tingginya tidak jauh, maka
                                                 kita masih dapat menganggap bidang nivo
          Gambar 59. Rambu ukur                  sebagai bidang datar.

                                                 Akan tetapi bila jarak yang dimaksudkan itu
 3.3 Pengukuran trigonometris                    jauh, maka kita tidak boleh lagi memisahkan
                                                 atau mengambil bidang nivo itu sebagai
Metode    trigonometris   prinsipnya    adalah   bidang datar, tetapi haruslah bidang nivo itu
mengukur jarak langsung (jarak miring),          dipandang sebagai bidang lengkung, Di
tinggi alat, tinggi benang tengah rambu dan      samping itu kita harus pula menyadari
sudut vertikal (zenith atau inklinasi) yang      bahwa jalan sinarpun bukan merupakan
kemudian direduksi menjadi informasi beda        garis     lurus,     tetapi      merupakan        garis
tinggi menggunakan alat theodolite.              lengkung. Jadi jika jarak antara kedua titik

Seperti telah dibahas sebelumnya, beda           yang akan ditentukan beda tingginya itu

tinggi antara dua titik dihitung dari besaran    jauh, maka bidang nivo dan jalan sinar tidak

sudut    tegak   dan   jarak.   Sudut    tegak   dapat dipandang sebagai bidang datar dan

diperoleh dari pengukuran dengan alat            garis   lurus,      tetapi     haruslah    dipandang

theodolite sedangkan jarak diperoleh atau        sebagai       bidang         lengkung     dan     garis

terkadang diambil jarak dari peta.               lengkung.
80




                                                                                   BT

                                                      dm

                                       i

                 ta                                                                          H   AB



                            A                                                      B
                                                  dAB

     Gambar 60. Contoh pengukuran trigonometris

         i          : Inklinasi (sudut miring)                    HAB = (TB + TB’) + B’B’’ – TB
         dab        : dm . cos i                                      = D tan m + t – 1 ⇒cot z + t-1
         ∆HAB       : dm . sin I + ta – BT                        HAB = Dm sin m + t – 1
                                                                      = Dm cos z + t – 1
Titik A dan B akan ditentukan beda tingginya
dengan       cara     trigonometris.       Prosedur    Sudut tegak ukuran perlu mendapat koreksi
pengukuran dan perhitungannya adalah                   sudut      refraksi   dan   bidang-bidang        nivo
sebagai berikut:                                       melalui A dan B harus diperhitungkan

         Tegakkan theodolite di A, ukur                sebagai      permukaan         yang   melengkung

         tingginya sumbu mendatar dari A.              apabila beda tinggi dan jarak AB besar dan

         Misalkan t,                                   beda tinggi akan ditentukan lebih teliti.

         Tegakkan target di B, ukur tingginya          Lapisan udara dari B ke A akan berbeda
         target dari B, misalkan l,                    kepadatannya karena sinar cahaya yang
         Ukur sudut tegak m (sudut miring)             datang dari target B ke teropong theodolite
         atau z (sudut zenith),                        akan melalui garis melengkung. Makin dekat
         Ukur jarak mendatar D atau Dm                 ke   A      makin     padat.    Dengan         adanya
         (dengan EDM), dan                             kesalahan karena faktor alam tersebut di
         Dari besaran-besaran yang diukur,             atas hitungan beda tinggi perlu mendapat
         maka:                                         koreksi.
                                                                                                 81




       Gambar 61. Gambar koreksi trigonometris


Keterangan:                                                                          1− k
                                                          h AB = D cot z '+t − 1 +        ⋅ D2
          z’ = sudut zenith ukuran                                                    2R
          z   = sudut zenith yang betul
                                                    Dimana:
          m’ = sudut miring ukuran
                                                          k   = koefisien refraksi udara = 0.14
          m = sudut miring yang betul
                                                          R = jari-jari bumi 6370 km
          r   = sudut refraksi udara
                                                          Besarnya sudut refraksi udara r
          0   = pusat bumi
                                                          dapat dihitung dengan rumus:
          D = jarak (mendatar)
                                                          R = rm . Cp . Ct
Dari gambar 61:
                                                          rm = sudut refraksi normal pada
          hAB = (TB + BB’) + B’B’’ + B’’B’’’ – TB                tekanan udara 760 mmHg,
                           2                                     temperatur udara 100C dan
          hAB = D tan m + D + t – 1
                          2R                                     kelembaban nisbi 60%

                                    D2                            P
atau      h AB = D tan(m'−r ) +        + t −1             Cp =       ; P = tekanan udara di A
                                    2R                           760
                                  D2                             dalam mmHg
          hAB = D tan(m'− r ) +      + t −1
                                  2R                              283
                                                          Ct =           ; t = temperatur udara
                                    1− k                         273 + t
atau      h AB = D tan m'+t − 1 +        ⋅ D2
                                     2R                          di A dalm mmHg 0C
82




Agar beda tinggi yang didaptkan lebih baik,
                                                          Pada prinsipnya menghitung beda tinggi
maka pengukuran harus dilakukan bolak-
                                                          pada suatu wilayah yang relatif sulit dicapai
balik. Kemudian hasilnya dirata-ratakan,
                                                          karena kondisi alamnya dengan bantuan
dapat pula beda tinggi dihitung secara
                                                          pembacaan tekanan udara atau atmosfer
serentak dengan rumus:
                                                          menggunakan alat barometer
             ⎛ H + HB ⎞
     h AB = D⎜1 + A    ⎟ tan 1 (m' 2 − m'1 )
                             2
             ⎝      2R ⎠
dimana:
          HA dan HB tinggi pendekatan A dan
          B (dari peta topografi)
          m1’, m2’ sudut miring ukuran di A
          dan B
          t dan 1 dibuat sama tinggi.



  3.4 Pengukuran barometris
                                                                   Gambar 62. Bagian-bagian barometer
Metode        barometris       prinsipnya     adalah
                                                          Dari      ketiga     metode       di   atas   yang
mengukur beda tekanan atmosfer suatu
                                                          keuntungannya lebih besar ialah alat sipat
ketinggian menggunakan alat barometer
                                                          datar, karena setiap ketinggian berbeda-
yang kemudian direduksi menjadi beda
                                                          beda dan tekanan berbeda-beda maka hasil
tinggi.
                                                          pengukurannya pun berbeda-beda.
Pengukuran           dengan     barometer      relatif
                                                          Pengukuran sipat datar KDV maksudnya
mudah        dilakukan,      tetapi    membutuhkan
                                                          adalah pembuatan serangkaian titik-titik di
ketelitian          pembacaan         yang        lebih
                                                          lapangan yang diukur ketinggiannya melalui
dibandingkan dua metode lainnya, yaitu
                                                          pengukuran beda tinggi untuk pengikatan
metode       alat    sipat    datar    dan   metode
                                                          ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan
trigonometris
                                                          banyak. Tujuan pengukuran sipat datar KDV
Hasil     dari      pengukuran        barometer     ini   adalah untuk memperoleh informasi tinggi
bergantung pada ketinggian permukaan                      yang      relatif   akurat   di   lapangan    yang
tanah juga bergantung pada temperatur                     sedemikian rupa sehingga informasi tinggi
udara,    kelembapan,         dan     kondisi-kondisi     pada daerah yang tercakup layak untuk
cuaca lainnya.                                            diolah      sebagai     informasi      yang   lebih
                                                                                                              83




kompleks. Referensi informasi ketinggian           Menurut hukum Boyle dan Charles:
diperoleh melalui suatu pengamatan di tepi         P . V = R . T..........................................1
pantai   yang      dikenal     dengan     nama     Dimana:
pengamatan        pasut.     Pengamatan      ini           P=       tekanan gas (udara) persatuan
dilakukan dengan menggunakan alat-alat                              masa, dalam satuan Newton/m2
sederhana yang bekerja secara mekanis,                     V=       volume gas (udara) persatuan
manual, dan elektronis.                                             masa, dalam satuan m3
                                                           R=       konstanta gas (udara)
Pengukuran sipat datar KDV diawali dengan
                                                           T=       temperatur gas (udara) dalam
mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam
                                                                    satuan kelvin (00C = 2730K).
hal ini kesalahan bidik alat sipat datar optis
melalui suatu pengukuran sipat datar dalam         Disamping itu, karena antara massa m
posisi 2 stand.                                    dengan        volume        V    dan      kepadatan         δ
                                                   mempunyai hubungan:
                                                                    M=V.δ

                                                   Maka untuk satu satuan masa, V = 1/δ.
                                                   Dengan demikian rumus di atas akan
                                                   menjadi:
                                                                    P = δ . R . T....................2

                                                   Bila perubahan tekanan udara adalah dp
                                                   untuk satu satuan luas sesuai dengan
                                                   perubahan tinggi dh, maka:
                                                                    Dp = - g . δ . dh..............3
 Gambar 63. Barometer
                                                   Dimana g = percepatan gaya berat, δ =
Peristiwa alam menunjukan bahwa semakin            kepadatan udara. Kombinasi rumus 2 dan 3
tinggi suatu tempat maka semakin kecil             akan memberikan:
tekanannya. Hubungan antara tekanan dan                                       RT dp
ketinggian bergantung pada temperatur,
                                                                    Dh = -      ⋅   ............4
                                                                               g p
kelembaban dan percepatan gaya gravitasi.
                                                   Bila    P1     adalah        tekanan       udara       pada
Secara sederhana kita dapat menentukan             ketinggian H1 dan P2 adalah tekanan pada
hubungan     antara        perubahan    tekanan    ketinggian H2, maka dengan menggunakan
dengan perubahan tinggi.                           rumus 4
84




      H2
                            RT dp
                                       P2                               δs = 1.2928 kg/m3 pada temperatur
h = ∫ dh = H 2 − H 1 = − ∫    ⋅                                                00C dan tekanan 760 mmHg
    H1                   P1
                             g p
                                                                        gs = 9.80665 N/kg dimuka laut pada
                R ⋅T                                                           lintang 450
Karena               akan             merupakan          suatu
                 g
                                                                        Ts = 00C = 2730K
konstanta, maka:
                                                                    Maka :
                P2
           RT      dp                                                                  T      p
h=−
            g   ∫
                P
                    p
                                                                    h = −(18402.6)m
                                                                                       Ts
                                                                                          log( 2 ) ..................8
                                                                                              p1
                 1


                 RT                                                 Dimana:
h=−
           g{ln P2 − ln P1 }                                            P2 = tekanan udara pada ketinggian H2
                                                                               dalam mmHg
     RT      P
h=−      log( 2 ) , M = modulus log.                                    P1 = tekanan udara pada ketinggian H1
    M ⋅g     P1
                                                                               dalam mmHg
Brigg = 0.4342945.......................................5
                                                                        T = temperatur udara rata-rata pada
Harga        konstanta        R       dapat       ditentukan                   ketinggian H1 dan H2 dalam 0K
besarnya, apabila kita menentukan harga                                 Ts = temperatur udara standar = 2730K
standar untuk p = ps , δ = δs dan T = Ts. Dari                      Prosedur pengukuran:
rumus 2:                                                            Ada beberapa metode pengukuran yang
                                                                    dapat dilakukan, namun disini kita akan
       ps
R=           ...................................................6
      δ s Ts                                                        bahas dua metode, yaitu:

                                                                             metode pengukuran tunggal (single
Subtitusikan harga R persamaan 6 kedalam
                                                                             observation)
persamaan 5:
                                                                             metode     pengukuran          simultan
     ⎛    ps            ⎞      ⎛p ⎞ T                                        (simultaneous observation)
h = −⎜
     ⎜ M ⋅δ ⋅ g         ⎟ ⋅ log⎜ 2 ⎟ ⋅ ..................7
                        ⎟      ⎜p ⎟ T
     ⎝     s    s       ⎠      ⎝ 1⎠ s                               1. Pengukuran tunggal

Bila diambil harga standar sbb:                                         Misalkan titik-titik A, B, C, D akan
                                                                        ditentukan beda-beda tingginya.
      Ps = 101325 N/m2 yang sesuai dengan
                tekanan        760          mmHg          pada          Alat ukur yang digunakan satu alat
                                  0
                temperatur 0 C dan g = 9.80665                          barometer dan satu alat thermometer.

                N/kg
                                                                                                         85




                                                                                                     D
                                      B

 A                                                                C



Gambar 64. Pengukuran tunggal


Misal titik A telah diketahui tingginya.              2. Pengukuran simultan
         Pertama sekali catat tekanan dan
                                                         Pada     metode       simultan,      pencatatan
         temperatur udara di A.
                                                         tekanan dan temperatur udara di dua
         Kemudian kita berjalan menuju titik
                                                         titik yang ditentukan beda tingginya
         B, C, D dan kemudian kembali ke C,
                                                         dilakukan pada saat bersamaan.
         B, dan A. Pada titik-titik yang dilalui
         tadi (B, C, D, C, B, A) kita catat pula         Maksudnya            untuk         mengeliminir

         tekanan dan temperatur udaranya.                kesalahan karena perubahan kondisi

         Dengan       pencatatan        besaran-         atmosfir.

         besaran tekanan dan temperatur di               Alat barometer dan thermometer yang
         setiap titik, dengan rumus 8 dapat              digunakan adalah dua buah. Barometer
         dihitung beda-beda tingginya.                   dan thermometer pertama ditempatkan
         Dan dari ketinggian A dapat dihitung            di   titik   yang       diketahui      tingginya
         ketinggian B, C, dan D.                         sedangkan yang lain dibawa ke titik-titik

     Dalam keadaan atmosfir yang sama                    yang akan diukur.

     idealnya    pencatatan     di   setiap   titik      Prosedur pengukuran:
     dilakukan, namun pada pengukuran
                                                              Buat jadwal waktu penacatatan.
     tunggal hal ini tidak mungkin dilakukan.
                                                              Misalkan t0, t1, t2, t3, t4, t5, t6.
     Sehingga     pencatatan         mengandung
     kesalahan akibat perubahan kondisi                       Alat-alat pertama (I) ditempatkan di
     atmosfir.                                                A, dan alat-alat kedua (II) berjalan
                                                              dari A-B-C-D-C-B-A.
86




                                                                                                  t4

                                         t6                                                        D
                                                                      t5                               t3
 t7                                     B
                                         t1
 A                                                                    C
                                                                       t2


      Gambar 65. Pengukuran Simultan


           Pada pukul t0, catat tekanan dan           Catatan:
           temperatur di A (I) dan A (II)
                                                      1. Rumus 8 dapat ditulis lain:
           Pada pukul t1, catat tekanan dan
                                                                                          p2
           temperatur di A (I) dan B (II)                 h = −(18402.6)(1 + αt ) log(       ) ....9
                                                                                          p1
           Pada pukul t2, catat tekanan dan
           temperatur di A (I) dan C (II)                 Dimana:

           Pada pukul t3, catat tekanan dan                      T dinyatakan dalam satuan 0C

           temperatur di A (I) dan D (II)                               1
                                                                 α=        = 0.003663
           Pada pukul t4, catat tekanan dan                            273
           temperatur di A (I) dan D (II)
                                                      2. Apabila dimisalkan untuk tinggi H = 0,
           Pada pukul t5, catat tekanan dan
                                                          tekanannya adalah p = 739 mmHg
           temperatur di A (I) dan C (II)
                                                          maka rumus umum untuk menghitung
           Pada pukul t6, catat tekanan dan
                                                          tinggi adalah:
           temperatur di A (I) dan B (II)
                                                          Hi = (18402.6) (1 + 0.003663 t) log
           Pada pukul t7, catat tekanan dan
                                                              739
           temperatur di A (I) dan A (II)                 (       )
                                                               pi
           Dari pencatatan di A dan titik-titik           Tinggi      dihitung   dengan   rumus        10
           lain dapat ditentukan beda tinggi              disebut tinggi hitungan dan digunakan
           terhadap A. Dengan demikian beda               untuk menghitung beda tinggi.
           tinggi   antara    dua      titik   yang
                                                      3. Rumus berikut ini, akan memberikan
           berdekatan dapat diketahui.
                                                          hasil h yang lebih baik, karena harga g
                                                          yang digunakan disesuaikan dengan
                                                       87




ketinggian       dan       lintang        tempat
pengamatan. Sedangkan pada rumus 8
harga g yang digunakan adalah harga g
pada ketinggian nol dan lintang 450
                                             2H
H = - [18402.6] (1 + αt) (1 +                   )
                                              R
                       p2
(1 + β cos 2ϕ log (       ).......................11
                       p1
Dimana:

    2H = H1+H2 (harga pendekatan)
    R = jari-jari bumi (≈ 6370 km)
    ϕ = lintang tempat pengamatan
             rata-rata = ½ (ϕ1 +ϕ2 )
    β   = 2.64399 x 10-3
88




                              Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-03
                                           Model Diagram Alir
                         Penjelasan Metode-Metode Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal
                                Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal
                      Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT




                                                            Orde - 1
                                                                                  Benang Tengah
                                                                                  Rambu Belakang


                                Daerah Datar             Metode Sipat
                                 ( 0 - 15 %)                Datar

                                                                                   Benang Tengah
                                                                                    Rambu Muka




                                                                                      Tinggi Alat
                                                             Orde - 2


                                                                                         Jarak
                                                                                       langsung
      Pengukuran                                              Metode
                                Daerah Bukit
       Kerangka                                           Trigonometris
                                 (15 - 45 %)
     Dasar Vertikal
                                                                                        Benang
                                                                                        Tengah



                                                                                      Sudut Vertikal
                                                                                        (Inklinasi/
                                                                                          Zenith)



                                                                                            Tekanan
                                                                                            Udara di
                                                              Orde - 3                       Titik i


                                                                                            Tekanan
                                                                                            Udara di
                                    Daerah                                                   Titik j
                                                             Metode
                                   Gunung
                                                            Barometris
                                   ( > 45 %)
                                                                                            Gravitasi
                                                                                            di Titik i


                                                               Massa
                                                               Jenis                         Gravitasi
                                                               Cairan                        di Titik j




Gambar 66. Model diagram alir pengukuran kerangka dasar vertikal
                                                                                       89




                                      Rangkuman


       Berdasarkan uraian materi bab 3 mengenai pengukuran kerangka dasar vertikal,
maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

   1. Kerangka dasar vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau
       ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan
       ketinggian tertentu.

   2. Pengukuran tinggi merupakan penentuan beda tinggi antara dua titik. Pengukuran
       beda tinggi dapat ditentukan dengan tiga metode, yaitu:
        •   Metode pengkuran penyipat datar
        •   Metode trigonometris
        •   Metode barometris.

   3. Pengukran beda tinggi metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian
       dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi. Tujuan dari pengukuran
       penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur.
       Pengkuran sipat datar terdiri dari beberapa macam, yaitu:
        •   Sipat datar memanjang
        •   Sipat datar resiprokal
        •   Sipat datar profil
        •   Sipat datar luas

   4. Pengukuran beda tinggi metode trigonometris prinsipnya yaitu mengukur jarak
       langsung (jarak miring), tinggi alat, tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal
       (zenith atau inklinasi) yang kemudian direduksi menjadi informasi beda tinggi
       menggunakan alat theodolite.
   5. Pengukuran beda tinggi metode barometris prinsipnya adalah mengukur beda
       tekanan atmosfer suatu ketinggian menggunakan alat barometer yang kemudian
       direduksi menjadi beda tinggi.

   6. Tingkat ketelitian yang paling tinggi dari ketiga metode tersebut adalah sipat datar
       kemudian trigonometris dan terakhir adalah barometris. Pada prinsipnya ketiga
       metode tersebut layak dipakai bergantung pada situasi dan kondisi lapangan.
90




                                     Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1. Apa yang dimaksud dengan kerangka dasar vertikal ?
2. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang pengukuran beda tinggi metode sipat datar
     optis !
3. Apa yang dimaksud dengan pengukuran tinggi dan bagaimana cara mencari beda
     tingginya ?
4. Sebutkan dan jelaskan macam-macam pengukuran sipat datar ?
5. Sebutkan macam-macam sipat datar memanjang !
6. Sebutkan bagian-bagian pesawat sipat datar tipe dumpy level lengkap beserta
     gambarnya !
7. Jelaskan prinsip pengukuran beda tinggi metode trigonometris dan metode barometris
     yang anda ketahui !
8. Sebutkan prosedur pengukuran dan penurunan rumus                    beda tinggi metode
     trigonometris lengkap dengan gambarnya !
9. Dari ketiga metode pengukuran beda tinggi, manakah yang mempunyai tingkat ketelitian
     paling tinggi dan jelaskan alasannya !
10. Jelaskan kelebihan dari alat sipat datar tipe dumpy level, automatic level, tilting level,
     dan tipe reversi ?
                                                                                                   91




         4. Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

                                                        diketahui/diukur       dengan   menggunakan
  4.1         Tujuan dan sasaran
              pengukuran sipat datar                    prinsip sipat datar.
              kerangka dasar vertikal
                                                        Pengukuran menggunakan sipat datar optis
                                                        adalah pengukuran tinggi garis bidik alat
Ilmu      Ukur     Tanah      adalah    ilmu    yang
                                                        sipat datar di lapangan melalui rambu ukur.
mempelajari pengukuran-pengukuran yang
                                                        Rambu ukur ini berjumlah 2 buah masing-
diperlukan untuk menentukan letak relatife
                                                        masing didirikan di atas dua patok/titik yang
titik-titik     diatas,   pada       atau     dibawah
                                                        merupakan jalur pengukuran. Alat sipat
permukaan tanah, atau sebaliknya, ialah
                                                        datar optis kemudian diletakan di tengah-
memasang titik-titik dilapangan. Letak titik-
                                                        tengah antara rambu belakang dan muka.
titik yang ditentukan adalah berguna pada
                                                        Alat sipat datar diatur sedemikian rupa
kompliming peta atau untuk menentukan
                                                        sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu
garis-garis atau jalur-jalur dan kemiringan-
                                                        dengan mengetengahkan gelembung nivo.
kemiringan konstruksi pada pekerjaan teknik
                                                        Setelah gelembung nivo di ketengahkan
sipil.
                                                        (garis arah nivo harus tegak lurus pada
Pengukuran-pengukuran ini dilakukan pada
                                                        sumbu kesatu) barulah di baca rambu
daerah yang relatife sempit, dimana tidak
                                                        belakang dan rambu muka yang terdiri dari
perlu dilibatkan adanya faktor kelengkungan
                                                        bacaan benang tengah, atas dan bawah.
bumi diperhitungkan, termasuk dalam Ilmu
                                                        Beda tinggi slag tersebut pada dasarnya
Geodesi Tinggi.
                                                        adalah     pengurangan      Benang    Tengah
Sebagaimana           telah   kita     tahu    bahwa    belakang (BTb) dengan Benang Tengah
permukaan bumi ini tidak tentu, artinya tidak           muka (BTm).
mempunyai pemukaan yang sama tinggi,
                                                        Pengukuran beda tinggi dengan cara sipat
maka tinggi titik kedua tersebut dapat di
                                                        datar dapat memberikan hasil lebih baik
hitung, yaitu apabila titik pertama telah
                                                        dibandingkan           dengan        cara-cara
diketahui tingginya.
                                                        trigonometris dan barometris, maka titik-titik
Tinggi titik pertama (h1) dapat di definisikan,
                                                        kerangka dasar vertikal diukur dengan sipat
sebagai koordinat lokal ataupun terikat
                                                        datar.
dengan titik yang lain yang telah diketahui
tingginya, Sedangkan selisih tinggi atau                Pengukuran sipat datar kerangka dasar

lebih dikenal dengan beda tinggi (h) dapat              vertikal   maksudnya      adalah   pembuatan
                                                        serangkaian titik-titik    di lapangan yang
92




diukur ketinggiannya melalui pengukuran
beda tinggi untuk pengikatan ketinggian
titik–titik lain yang lebih detail dan banyak.

Tujuan pengukuran sipat datar kerangka
dasar vertikal adalah untuk memperoleh
informasi     tinggi   yang    relatif   akurat    di
lapangan       sedemikian       rupa       sehingga     Gambar 67.   Proses pengukuran

informasi tinggi pada daerah yang tercakup
layak untuk diolah sebagai informasi yang
layak kompleks.
                                                            Rambu Belakang               Rambu Muka
Referensi informasi ketinggian diperoleh
melalui suatu pengamatan di tepi pantai
yang dikenal dengan nama pengamatan                                                Arah Pengukuran
Pasut.      Pengamatan         pasut      dilakukan     Gambar 68. Arah pengukuran
menggunakan        alat-alat   sederhana        yang
bekerja     secara     mekanis,     manual        dan
                                                          4.2 Peralatan, bahan, dan
elektronis.                                                   formulir pengukuran sipat
                                                              datar kerangka dasar vertikal
Tinggi permukaan air laut direkam pada
interval waktu tertentu dengan bantuan
                                                        4.2.1     Peralatan yang digunakan :
pelampung baik dalam kondisi air laut
                                                                  1. Alat sipat datar optis
pasang maupun surut.
                                                                      Pada dasarnya alat sipat datar
Pengamatan        permukaan       air    laut   pada                  terdiri   dari     bagian   utama
interval tertentu kemudian diolah dengan                              sebagai berikut:
bantuan ilmu statistik sehingga diperoleh                 a. Teropong berfungsi untuk membidik
informasi mengenai tinggi muka air laut rata-                   rambu (menggunakan garis bidik) dan
rata atau sering dikenal dengan istilah Mean                    memperbesar bayangan rambu.
Sea Level (MSL).
                                                          b. Nivo tabung diletakan pada teropong
MSL ini berdimensi meter dan merupakan                          berfungsi mengatur agar garis bidik
referensi ketinggian bagi titik-titik lain di                   mendatar. Terdiri dari kotak gelas
darat.                                                          yang diisi alkohol. Bagian kecil kotak
                                                                tidak berisi zat cair sehingga kelihatan
                                                                ada gelembung. Nivo akan terletak
                                                                                                 93




     tegak lurus pada garis tengah vertikal
     bidang singgung di titik tengah bidang
     lengkung atas dalam nivo mendatar.

c.   Kiap      (leveling     head/base       plate),
     terdapat         sekrup-sekrup            kiap
     (umumnya tiga buah) dan nivo kotak
     (nivo      tabung)       yang       semuanya
     digunakan untuk menegakkan sumbu
     kesatu (sumbu tegak) teropong.

d. Sekrup pengunci (untuk mengunci                       Gambar 69. Alat sipat datar

     gerakan teropong kekanan/ kiri).
                                                       2. Rambu ukur 2 buah
e. Lensa        okuler      (untuk    memperjelas        Rambu ukur dapat terbuat dari kayu,
     benang).                                            campuran alumunium yang diberi skala

f.   Lensa      objektif/     diafragma      (untuk      pembacaan. Ukuran lebarnya ± 4 cm,
     memperjelas benda/ objek).                          panjang    antara    3m-5m pembacaan
g. Sekrup        penggerak           halus   (untuk      dilengkapi dengan angka dari meter,
     membidik sasaran).                                  desimeter, sentimeter, dan milimeter.

h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar
     objek).

i.   Statif     (tripod)      berfungsi      untuk
     menyangga ketiga bagian tersebut di
     atas.




                                                        Gambar 70. Rambu ukur
94




                                                   4. Unting-Unting
                                                       Unting-unting terbuat dari besi atau
                                                       kuningan      yang    berbentuk    kerucut
                                                       dengan ujung bawah lancip dan di
                                                       ujung atas digantungkan pada seutas
                                                       tali.   Unting-unting    berguna    untuk
                                                       memproyeksikan suatu titik pada pita
                                                       ukur    di    permukaan     tanah    atau
                                                       sebaliknya.




     Gambar 71. Cara menggunakan rambu
                ukur di lapangan


 3. Statif
                                                       Gambar 73. Unting-unting
      Statif merupakan tempat dudukan alat
      dan untuk menstabilkan alat seperti          5. Patok
      Sipat datar. Alat ini mempunyai 3 kaki           Patok dalam ukur tanah berfungsi
      yang sama panjang dan bisa dirubah               untuk memberi tanda batas jalon,
      ukuran    ketinggiannya.     Statif   saat       dimana titik setelah diukur dan akan
      didirikan harus rata karena jika tidak           diperlukan lagi pada waktu lain. Patok
      rata dapat mengakibatkan kesalahan               biasanya ditanam didalam tanah dan
      saat pengukuran.                                 yang menonjol antara 5 cm - 10 cm,
                                                       dengan maksud agar tidak lepas dan
                                                       tidak mudah dicabut. Patok terbuat
                                                       dari dua macam bahan yaitu kayu dan
                                                       besi atau beton.

                                                   •   Patok Kayu
                                                       Patok kayu yang terbuat dari kayu,
                                                       berpenampang bujur sangkar dengan
                                                       ukuran ± 50mm x 50mm, dan bagian
      Gambar 72. Statif                                atasnya diberi cat.
                                                                                                95




•   Patok Beton atau Besi                           7. Payung
    Patok yang terbuat dari beton atau                    Payung ini digunakan atau memiliki
    besi biasanya merupakan patok tetap                   fungsi sebagai pelindung dari panas
    yang akan masih dipakai diwaktu lain.                 dan hujan untuk alat ukur itu sendiri.
                                                          Karena     bila    alat    ukur    sering
                                                          kepanasan atau kehujanan, lambat
                                                          laun alat tersebut pasti mudah rusak
                                                          (seperti; jamuran, dll).




    Gambar 74. Patok kayu dan beton/ besi


6. Pita ukur (meteran)                                    Gambar 76. Payung
    Pita ukur linen bisa berlapis plastik
    atau    tidak,      dan     kadang-kadang     4.2.2     Bahan Yang Digunakan :

    diperkuat dengan benang serat. Pita               1. Peta wilayah study

    ini tersedia dalam ukuran panjang                       Peta digunakan agar mengetahui di

    10m, 15m, 20m, 25m atau 30m.                            daerah    mana      akan     melakukan

    Kelebihan dari alat ini bisa digulung                   pengukuran

    dan       ditarik         kembali,      dan       2. Cat dan kuas
    kekurangannya adalah kalau ditarik                      Alat ini murah dan sederhana akan
    akan memanjang, lekas rusak dan                         tetapi peranannya sangat penting
    mudah putus, tidak tahan air.                           sekali ketika di lapangan, yaitu
                                                            digunakan untuk menandai dimana
                                                            kita mengukur dan dimana pula kita
                                                            meletakan rambu ukur. Tanda ini
                                                            tidak    boleh      hilang      sebelum
                                                            perhitungan selesai karena akan
                                                            mempengaruhi perhitungan dalam
                                                            pengukuran.

    Gambar 75. Pita ukur
96




                                                     d. Perbedaan         hasil   ukuran    pergi   dan
                                                         pulang tidak melebihi angka toleransi
                                                         yang ditetapkan.
                                                         Khusus        mengenai     angka     toleransi
                                                         pengukuran sipat datar, dapat dijelaskan
                                                         sebagai berikut :

                                                                        T=±K       D
         Gambar 77. Cat dan kuas                     Dimana :
         3. Alat tulis                                       T = toleransi          dalam       satuan
             Alat   tulis     digunakan      untuk                    milimeter
             mencatat hasil pengkuran di                     K = konstanta yang menunjukan
             lapangan.                                                tingkat ketelitian pengukuran
                                                                      dalam satuan milimeter
4.2.3   Formulir Pengukuran
                                                             D = Jarak antara dua titik yang
         Formulir   pengukuran         digunakan
                                                                      diukur dalam satuan kilometer
         untuk mencatat kondisi di lapangan
         dan hasil perhitungan-perhitungan/          Berikut ini diberikan contoh harga K untuk
         pengukuran di lapangan (terlampir).         bermacam tingkat pengukuran sipat datar :
         Pengukuran         harus   dilaksanakan     Tabel 3. Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar
         berdasarkan        ketentuan-ketentuan           Tingkat                       K
         yang ditetapkan sebelumnya.
                                                                I                      3 mm
                                                                II                     6 mm
 4.3. Prosedur pengukuran sipat                                 III                    8 mm
      datar kerangka dasar
      vertikal
                                                     Contoh :
Ketentuan-ketentuan pengukuran Kerangka
                                                     Dari A ke B sejauh 2 km, harus diukur
Dasar Vertikal adalah sebagai berikut :
                                                     dengan ketelitian tingkat III. Ini berarti
a. Pengukuran       dilakukan       dengan    cara
                                                     perbedaan ukuran beda tinggi pergi dan
     sipat datar.
                                                     pulang tidak boleh melebihi 8 2 = 11 mm.
b. Panjang satu slag pengukuran.
c.   Pengukuran antara dua titik, sekurang-          Apabila beda tinggi ukuran pergi dan pulang
     kurangnya diukur 2 kali (pergi dan              ≤ 11 mm, ukuran tersebut diterima sebagai
     pulang).                                        ukuran tingkat III, Bila > 11 mm ukuran
                                                     harus diulangi.
                                                                                                         97




Dari pengalaman menunjukkan bahwa titik-                 6. Setelah selesai merencanakan lokasi-
titik kerangka dasar vertikal yang akan                     lokasi patok (menggunakan Cat) lalu
digunakan harus diukur lebih teliti.                        menandainya di lapangan.
                                                         7. Melakukan pengukuran kesalahan garis
Pengukuran sipat datar kerangka dasar
                                                            bidik. Hal ini dilakukan dengan cara
vertikal          harus         diawali         dengan
                                                            mendirikan rambu diantara 2 titik (patok)
mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam
                                                            dan dirikan statif serta alat sipat datar
hal ini kesalahan garis bidik alat sipat datar
                                                            optis kira-kira di tengah antara 2 titik
optis melalui suatu pengukuran sipat datar
                                                            tersebut.     Yang      perlu     diperhatikan
dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat).
                                                            pengukuran itu tidak harus dilaksanakan
Kesalahan garis bidik adalah kemungkinan
                                                            jauh dari laboratorium.
terungkitnya garis bidik teropong ke arah
                                                         8. Sebelum digunakan, alat sipat datar
atas       atau     bawah         diakibatkan     oleh
                                                            harus terlebih dahulu diatur sedemikian
keterbatasan pabrik membuat alat ini betul-
                                                            rupa sehingga garis bidiknya (sumbu II)
betul presisi.
                                                            sejajar dengan bidang nivo melalui
Langkah-langkah dalam pengukuran sipat                      upaya       mengetengahkan         gelembung
datar      kerangka       dasar     vertikal    adalah      nivo yang terdapat pada nivo kotak.
sebagai berikut :                                           Bidang nivo sendiri merupakan bidang
1. Siswa akan menerima peta dan batas-                      equipotensial        yaitu      bidang     yang
    batas daerah pengukuran.                                mempunyai energi potensial yang sama.
2. Ketua tim menandai semua peralatan                    9. Sebelum pembacaan dilakukan adalah
    yang dibutuhkan serta mengambil peta                    mengatur agar sumbu I (sumbu yang
    dan       batas-batas          pengukuran       di      tegak lurus garis bidik) benar-benar
    laboratorium.         Lalu     menyerahkannya           tegak lurus dengan sumbu II melalui
    pada laboran.                                           upaya       mengetengahkan         gelembung
3. Ketua tim memeriksa kelengkapan alat,                    nivo tabung. Setelah sama, langkah
    lalu     anggota      tim     membawanya        ke      selanjutnya kedua nivo yaitu nivo kotak
    lapangan.                                               dan nivo tabung diatur, barulah kita
4. Survei ke daerah yang akan dipetakan                     melakukan pembacaan rambu. Rambu
    pada jalur batas pemetaan.                              yang dibaca harus benar-benar tegak
5. Menentukan lokasi-lokasi patok atau                      lurus terhadap permukaan tanah.
    merencanakan            lokasi-lokasi        patok   10. Ketengahkan gelembung nivo dengan
    sehingga jumlah slag itu genap.                         prinsip perputaran 2 sekrup kaki kiap
                                                            dan     1   sekrup     kaki     kiap.    Setelah
98




     gelembung     nivo     di     tengah,     lalu   Kesalahan sistematis berupa kesalahan
     memasang unting-unting.                          garis bidik kita konversikan ke dalam
11. Untuk memperjelas benang diafragma                pembacaan benang tengah mentah yang
     dengan memutar sekrup pada teropong.             akan menghasilkan benang tengah setiap
12. Sedangkan untuk memperjelas objek                 slag yang telah dikoreksi dan merupakan
     rambu ukur dengan memutar sekrup                 fungsi dari jarak muka atau belakang
     fokus diatas teropong.                           dikalikan dengan koreksi garis bidik.
13. Setelah itu, membaca benang atas,
                                                      4.2.2      Penentuan beda tinggi antara dua
     benang tengah, dan benang bawah
                                                                 titik
     rambu belakang. Kemudian membaca
     kembali benang atas, benang tengah,              Penentuan beda tinggi anatara dua titik
     dan benang bawah rambu muka. Hasil               dapat       dilakukan       dengan     tiga    cara
     pembacaan di tulis pada formulir yang            penempatan           alat   ukur   penyipat   datar,
     telah disiapkan. Kemudian mengukur               tergantung pada keadaan lapangan.
     jarak dengan menggunakan pita ukur
                                                      Dengan menempatkan alat ukur penyipat
     dari rambu belakang ke alat dan dari
                                                      datar di atas titik B. Tinggi a garis bidik (titik
     alat ke rambu belakang (hasilnya di
                                                      tengah teropong) di atas titik B diukur
     rata-ratakan) serta mengukur juga jarak
                                                      dengan        mistar.       Dengan      gelembung
     rambu muka ke alat dan dari alat ke
                                                      ditengah–tengah, garis bidik diarahkan ke
     rambu muka (hasilnya dirata-ratakan).
                                                      mistar yang diletakkan di atas titik lainnya,
     Kemudian alat digeser sedikit (slag 2)
                                                      ialah     titik A.     Pembacaan pada mistar
     lakukan hal yang sama sampai slag
                                                      dimisalkan b, maka angka b ini menyatakan
     akhir pengukuran selesai.
                                                      jarak angka b itu dengan alas mistar. Maka
14. Setelah     pengukuran         selesai,    lalu
                                                      beda tinggi antara titik A dan titik B adalah t
     kembali     ke       laboratorium        untuk
                                                      = b –a.
     mengembalikan alat.
15. Setelah itu melakukan pengolahan data.            Alat ukur penyipat datar diletakkan antara
     Pengolahan data yang dilakukan adalah            titik A dan titik B, sedang di titik–titik A dan B
     pengolahan data untuk mengeliminir               ditempatkan dua mistar. Jarak dari alat ukur
     kesalahan acak atau sistematis dengan            penyipat datar ke kedua mistar ambillah
     dilengkapi instrumen tabel kesalahan             kira–kira sama, sedang alat ukur penyipat
     garis bidik dan sistematis.                      datar tidaklah perlu diletakkan digaris lurus
                                                      yang menghubungkan dua titik A dan B.
                                                      Arahkan garis bidik dengan gelembung di
                                                                                          99




tengah–tengah ke mistar A (belakang) dan           4.2.3   Kesalahan–kesalahan pada sipat
ke   mistar    B    (muka),    dan    misalkan             datar
pembacaaan pada dua mistar berturut-turut
                                                   a. Kesalahan petugas.
ada b (belakang) dan m (muka).
                                                       •   Disebabkan oleh observer.
Bila selalu diingat, bahwa angka – angka               •   Disebabkan oleh rambu.
pada rambu selalu menyatakan jarak antara          b. Kesalahan Instrumen.
angka dan alas mistar, maka dengan                     •   Disebabkan oleh petugas.
mudahlah dapat dimengerti, bahwa beda                  •   Disebabkan oleh rambu.
tinggi antara titik–titik A dan B ada t = b – m.   c. Kesalahan Alami.

Alat ukur penyipat datar ditempatkan tidak             •   Disebabkan      pengaruh    sinar

diantara titik A dan B, tidak pula di atas                 matahari langsung.

salah satu titik A atau titik B, tetapi di             •   Pengaruh refraksi cahaya.

sebelah kiri titik A atau disebelah kanan titik        •   Pengaruh lengkung bumi.
B, jadi diluar garis AB. Pembacaan yang                •   Disebabkan      pengaruh    posisi
dilakukan pada mistar yang diletakkan di                   instrument sifat datar dan rambu-
atas titik A dan B sekarang adalah berrturut-              rambu.
turut b dan m lagi, sehingga digambar
didapat dengan mudah, bahwa beda tinggi            4.2.4   Pengukuran Sipat Datar

t = b –a m.




Gambar 78. Pengukuran sipat datar
100




Eliminasi kesalahan sistematis alat sipat                    ⎛ ( BTbI − BTm I ) − ( BTbII − BTm II ) ⎞
                                                             ⎜ (db + dm ) − (db + dmII ) ⎟
                                                       kgb = ⎜                                       ⎟
datar   dengan      cara      ,mengoreksi   KGB
                                                             ⎝        I    I         "II             ⎠
(kesalahan garis bidik). Metode pengukuran
rambu muka dan belakang dengan dua                 Koreksi Kgb = -Kgb.

stand (dua kali alat berdiri).                     a     Eliminasi kesalahan sistematis karena
                                                         kondisi     alam.    Eliminasi    kesalahan
                                                         sistematis karena kondisi alam dapat
                                                         dikoreksi     dengan      membuat       jarak
                                                         belakang dan jarak muka hampir sama.

                                                   b. Jumlah slag pengukuran harus genap.
                                                         Peluang untuk meng-koreksi kesalahan
                                                         di slag ganjil dan genap lebih besar.
Keterangan :                                             Pembagian kesalahan setiap slag lebih
 ∧                                                       rata.
BT = benang tengah yang dianggap benar
BT = benang tengah yang dibaca dari                c.    Cara      meng-koreksi    kesalahan     acak
         teropong                                        (random error):
                                                         •    Dilapangan kita peroleh bacaan BA,
Koreksi = - kesalahan
                                                              BT, BB pada setiap slag (misalnya)
I = Kgb = sudut
                                                              n = genap.
             ⎛       ∧ ⎞           ⎛       ∧
                                             ⎞
             ⎜         ⎟
             ⎜ BT − BT ⎟
                           ⇒ kgb = ⎜ BT − BT ⎟           •    Dari lapangan kita peroleh jarak
   tan kgb =                       ⎜
                                   ⎜    d    ⎟
                                             ⎟
lim kgb→0    ⎜    d    ⎟           ⎝         ⎠                belakang
             ⎜         ⎟
             ⎝         ⎠
                                                         •    x jarak muka.




             Gambar 79. Pengukuran sipat datar rambu ganda
                                                        101




Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu




 Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu
102




Gambar 81. Pengukuran sipat datar dua rambu




Gambar 82. Pengukuran sipat datar menurun
                                                      103




Gambar 83. Pengukuran sipat datar menaik




  Gambar 84. Pengukuran sipat datar tinggi bangunan
104




                                                         setiap slag harus memenuhi syarat beda
 4.4 Pengolahan data sifat datar
                                                         tinggi   sama     dengan    nol    jika     jalur
     kerangka dasar vertikal
                                                         pengukur berawal dan berakhir pada titik
                                                         yang sama. Penjumlahan beda tinggi
Hasil     yang        diperoleh     dari    praktek
                                                         awal setiap slag merupakan kesalahan
pengukuran sipat datar dan pengolahan
                                                         acak beda tinggi yang harus dikoreksikan
data lapangan adalah tinggi pada titik-titik
                                                         kepada setiap slag berdasarkan bobot
(patok-patok) yang diukur untuk keperluan
                                                         tertentu.
penggambaran dalam pemetaan.
                                                      5. Menghitung jarak (∑d) setiap slag dengan
Perhitungan meliputi :
                                                         menjumlahkan jarak belakang dan jarak
      Mengoreksi hasil ukuran
                                                         muka.
      Mereduksi        hasil    ukuran,    misalnya
      mereduksi jarak miring menjadi jarak            6. Menghitung total jarak (∑ (∑d)) jalur

      mendatar dan lain-lain                             pengukuran        dengan     menjumlahkan

      Menghitung         azimuth     pengamatan          semua jarak slag.

      matahari                                        7. Menghitung bobot koreksi setiap slag
      Menghitung koordinat dan ketinggian                dengan membagi jarak slag dengan total
      setiap titik.                                      jarak pengukuran.

Langkah-langkah dalam pengolahan data                    Sebagai bobot koreksi kita menggunakan
adalah sebagai berikut:                                  jarak    setiap   slag   yang     merupakan
1. Menuliskan nilai BA, BT, BB, jarak                    penjumlahan jarak muka dan belakang.
      belakang dan jarak muka.                           Total bobot adalah jumlah jarak semua

2. Mencari nilai kesalahan garis bidik.                  slag. Koreksi tinggi setiap slag dengan
                                                         demikian     diperoleh     melalui        negatif
3. Menghitung BT koreksi (BTk) di setiap
                                                         kesalahan acak beda tinggi dikalikan
      slag.
                                                         dengan jarak slag tersebut dan dibagi
4. Menghitung beda tinggi (∆H) di setiap                 dengan total jarak seluruh slag.
      slag dari bacaan benang tengah
                                                      8. Menghitung tinggi titik-titik pengukuran
      koreksi belakang dan muka.
                                                         (Ti) dengan cara menjumlahkan tinggi titik
      Beda tinggi awal suatu slag diperoleh              sebelumnya dengan tinggi titik koreksi
      melalui pengurangan benang tengah                  yang hasilnya akan sama dengan nol.
      belakang        koreksi    dengan     benang
      tengah muka koreksi. Beda tinggi
                                                                                                         105




9. Jika tidak sama dengan nol maka
                                                      4.5 Penggambaran sipat datar
     pengolahan data harus diulangi dan
                                                          kerangka dasar vertikal
     diidentifikasi       kembali           letak
     kesalahannya. Jika tinggi titik awal
                                                    Penggambaran (pemetaan) dapat dilakukan
     diketahui, maka tinggi titik-titik koreksif
                                                    dalam bentuk konvensional (manual) dan
     diperoleh dengan cara menjumlahkan
                                                    digital.
     tinggi titik awal terhadap beda tinggi
     koreksi slag secara berurutan.                 Dengan        penggambaran             konvensional
                                                    (manual), harus terlebih dahulu menentukan
Rumus-rumus           dalam       pengukuran
                                                    luas cakupan daerah yang akan dipetakan,
kerangka dasar vertikal :
                                                    kemudian       dibandingkan          dengan          luas
BTbk     = BTb – (Kgb.db)
                                                    lembaran yang tersedia. Apakah itu A0, A1,
BTmk = BTm – (Kgb.dm)
                                                    A2 dan sebagainya. Dalam hal ini untuk tugas
∆H       = BTbk – BTmk
                                                    praktikum Ilmu Ukur Tanah, direferensikan
∑d       = db + dm
                                                    kertas yang digunakan adalah berukuran A2,
          Σd
Bobot =                                             A1    dan    A0.   Setelah        diperoleh    berupa
        Σ ( Σd )
                                                    perbandingan       luas   cakupan       wilayah        di
∆Hk      = ∆H – (∑∆H . bobot)                       lapangan dengan di ukuran kertas yang ada,
Ti       = Ti awal + ∆H                             kemudian tentukan skala dari peta yang akan
Dimana :                                            digambarkan.
BTb      = Benang Tengah Belakang                   Dengan penggambaran digital, skala bukan
BTm      = Benang Tengah Muka                       menjadi masalah tetapi yang dipentingkan
BTbk     = Benang Tengah Belakang                   adalah      masalah     koordinat     titik-titik    dan
BTmk = Benang Tengah Muka                           penggunaan            koordinat        itu          untuk
∆H       = Beda Tinggi                              mengintegrasikan        berbagai     macam          peta/
∆Hk      = Beda tinggi koreksi                      gambar yang akan ditetapkan.
∑d       = Total jarak per-slag
                                                    Penggambaran digital lebih menguntungkan
∑ (∑d) = Total Jarak dari penjumlahan ∑d
                                                    karena pada skala berapa pun peta/gambar
dm       = Jarak muka
                                                    digital dapat dikeluarkan tidak bergantung
db       = Jarak belakang
                                                    pada skala serta revisi data dari peta/ gambar
Bobot = Koreksi slag dengan membagi
                                                    digital lebih mudah dibandingkan dengan
           jarak slag dengan total jarak
                                                    peta/ gambar konvensional. Konsep yang
           pengukuran
                                                    pertama kali mendekati untuk penyajian peta/
Ti       = Tinggi titik-titik pengukuran.
106




gambar     digital      adalah       konsep     CAD      mengenai isi gambar. Legenda memiliki
(Computer Aided Design) atau suatu                       ruang di luar muka peta dan dibatasi oleh
database       grafis         yang      menyimpan        garis yang membentuk kotak-kotak.
koordinat-koordinat        kemudian          disajikan
                                                         Tanda-tanda atau simbol-simbol yang
dalam bentuk grafis, kemudian dikenal
                                                         digunakan      adalah       untuk    menyatakan
pula      istilah       GIS          (Geographical
                                                         bangunan-bangunan yang ada di atas
Information System) yaitu suatu sistem
                                                         bumi seperti jalan raya, kereta api,
yang     mampu          mengaitkan           database
                                                         sungai, selokan, rawa atau kampung.
dengan database atributnya yang sesuai.
                                                         Juga untuk bermacam-macam keadaan
Peta-peta/ gambar dalam bentuk digital                   dan tanam-tanaman misalnya ladang,
dapat disajikan dalam bentuk hard copy                   padang       rumput,        atau     alang-alang,
atau cetakan print out dari hasil-hasil file             perkebunan seperti: karet, kopi, kelapa,
komputer, soft copy atau dalam bentuk                    untuk tiap macam pohon diberi tanda
file serta dalam bentuk penyajian peta/                  khusus.
gambar digital di layar komputer.
                                                         Untuk       dapat     membayangkan           tinggi
Keuntungan-keuntungan dari penyajian                     rendahnya          permukaan        bumi,    maka
gambar dalam bentuk digital adalah:                      digunakan garis-garis tinggi atau tranches
1. Proses pembuatannya relatif cepat.                    atau kontur yang menghubungkan titik-
2. Murah dan akurasinya tinggi.                          titik   yang       tingginya    sama    di    atas
3. Tidak          dibatasi       skala         dalam     permukaan bumi.
      penyajiannya.
                                                         Muka peta
4. Jika perlu melakukan revisi mudah
                                                         Yaitu      ruang     yang      digunakan     untuk
      dilakukan         dan          tidak      perlu
                                                         menyajikan informasi bentuk permukaan
      mengeluarkan banyak biaya.
                                                         bumi baik informasi vertikal maupun
5. Dapat      melakukan          analisis     spasial
                                                         horizontal. Muka peta sebaiknya memiliki
      (keruangan) secara mudah.
                                                         ukuran       panjang        dan     lebar    yang
Unsur-unsur         yang     harus     ada     dalam     proporsional        agar       memenuhi      unsur
penggambaran          hasil    pengukuran         dan    estetik.
pemetaan adalah :
                                                         Skala peta
      Legenda                                            Yaitu      simbol     yang      menggambarkan
      Yaitu suatu informasi berupa huruf,                perbandingan jarak di atas peta dengan
      simbol dan gambar yang menjelaskan                 jarak sesungguhnya di lapangan. Skala
                                                                                                              107




    peta terdiri dari: skala numeris, skala                       pembesaran dan perkecilan peta serta
    perbandingan, dan skala grafis.                               muai susut bahan peta.

    Skala        numeris           yaitu       skala      yang    Sumber gambar yang dipetakan
    menyatakan perbandingan perkecilan                            Untuk    mengetahui       secara       terperinci
    yang ditulis dengan angka, misalnya:                          proses dan prosedur pembuatan peta.
    skala 1 : 25.000 atau skala 1 : 50.000.                       Sumber peta akan memberikan tingkat
                                                                  akurasi dan kualitas peta yang dibuat.
    Skala         grafis         yaitu         skala      yang
    digunakan untuk menyatakan panjang                            Tim pengukuran yang membuat peta
    garis        di    peta          dan        jarak     yang    Untuk mengetahui penanggung jawab
    diwakilinya          di         lapangan            melalui   pengukuran        di       lapangan         dan
    informasi grafis.                                             penyajiannya di atas kertas. Personel
1      0.5   0                                                    yang     disajikan      akan      memberikan
                           1               2       3         4
                                                                  informasi mengenai kualifikasi personel
                               Kilometer                          yang terlibat.

    Skala         grafis          memiliki        kelebihan       Instalasi dan simbol
    dibandingkan dengan skala numeris                             Instalasi dan simbol yang memberikan
    dan skala perbandingan karena tidak                           pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan
    dipengaruhi oleh muai kerut bahan                             pengukuran       dan     pembuatan         peta.
    dan      perubahan               ukuran       penyajian       Instalasi dan simbol instalasi ini akan
    peta.                                                         memberikan           informasi      mengenai

    Orientasi arah utara                                          karakteristik    tema      yang        biasanya

    Yaitu simbol berupa panah yang                                diperlukan       bagi      instalasi       yang

    biasanya mengarah ke arah sumbu Y                             bersangkutan.

    positif muka peta dan menunjukkan
    orientasi arah utara. Orientasi arah
    utara ini dapat terdiri dari: arah utara
    geodetik, arah utara magnetis, dan
    arah utara grid koordinat proyeksi.
    Skala peta grafis biasanya selalu
    disajikan         untuk         melengkapi           skala
    numeris           atau       skala         perbandingan
    untuk             mengantisipasi                    adanya
108




Ukuran kertas untuk penggambaran hasil             Penggambaran sipat datar kerangka dasar
pengukuran dan pemetaan terdiri dari :             vertikal akan menyajikan unsur unsur: jarak

  Tabel 4. Ukuran kertas untuk penggambaran
                                                   mendatar         antara      titik-titik     penggambaran,
         hasil pengukuran dan pemetaan             tinggi titik-titik dan garis hubung antara satu
  Ukuran           Panjang           Lebar         titik     ikat      dengan     titik       ikat   yang     lain.
  Kertas          (milimeter)      (milimeter)     Penggambaran secara manual pada sipat
    A0               1189               841
                                                   datar       kerangka         dasar         vertikal    memiliki
    A1               841                594
    A2               594                420        karakteristik, yaitu : skala jarak mendatar
    A3               420                297        kurang dari skala tinggi, karena jangkauan
    A4               297                210        jarak       mendatar         memiliki         ukuran      yang
    A5               210                148
                                                   signifikan          berbeda        dengan             jangkauan
                                                   tingginya.
Ukuran kertas yang digunakan untuk
pencetakkan peta biasanya Seri A. Dasar            Peralatan           yang     harus         disiapkan      untuk
ukuran adalah A0 yang luasnya setara               menggambar sipat datar kerangka dasar
dengan 1 meter persegi. Setiap angka               vertikal meliputi :
setelah huruf A menyatakan setengah                1. Lembaran              kertas        milimeter        dengan
ukuran dari angka sebelumnya. Jadi, A1                     ukuran tertentu.
adalah     setengah          A0,   A2     adalah   2. Penggaris 2 buah (segitiga atau lurus).
seperempat dari A0 dan A3 adalah                   3. Pensil.
seperdelapan dari A0. Perhitungan yang             4. Penghapus.
lebih besar dari SA0 adalah 2A0 atau dua           5. Tinta.
kali ukuran A0.
                                                   Prosedur penggambaran untuk sipat datar
                                                   kerangka         dasar     vertikal        secara       manual,
             A1
                                                   sebagai berikut :

                                                   1. Menghitung kumulatif jarak horizontal
                                                           pengukuran sipat datar kerangka dasar
                                                           vertikal.
             A3             A2
                                                   2. Menghitung                range            beda        tinggi
                                                           pengukuran sipat datar kerangka dasar
                   A4                                      vertikal.
                                                   3. Menentukan ukuran kertas yang akan
                                                           dipakai.

Gambar 85. Pembagian kertas seri A
                                                                                                       109




4. Membuat tata letak peta, meliputi                 10. Membuat         keterangan- keterangan nilai
   muka peta dan ruang legenda.                          tinggi dan jarak di dalam muka peta serta
5. Menghitung panjang dan lebar muka.                    melengkapi informasi legenda, membuat
6. Menetapkan skala jarak horizontal                     skala, orientasi pengukuran, sumber peta,
   dengan      membuat            perbandingan           tim      pengukuran,     nama     instansi    dan
   panjang muka peta dengan kumulatif                    simbolnya, menggunakan pensil.
   jarak horizontal dalam satuan yang                11. Menjiplak       draft penggambaran ke atas
   sama. Jika hasil perbandingan tidak                   bahan yang transparan menggunakan
   menghasilkan nilai yang bulat, maka                   tinta.
   nilai skala dibulatkan ke atas dan
                                                     Untuk penggambaran sipat datar kerangka
   memiliki nilai kelipatan tertentu.
                                                     dasar        vertikal     secara     digital     dapat
7. membuat skala beda tinggi dengan
                                                     menggunakan perangkat lunak lotus, excell
   membuat perbandingan lebar muka
                                                     atau      AutoCad.        Penggambaran         dengan
   peta dengan range beda tinggi dalam
                                                     masing-masing            perangkat    lunak      yang
   satuan    yang      sama.         Jika    hasil
                                                     berbeda akan memberikan hasil keluaran
   perbandingan tidak menghasilkan nilai
                                                     yang berbeda pula. Untuk penggambaran
   yang     bulat,     maka         nilai   skala
                                                     menggunakan lotus atau excell yang harus
   dibulatkan ke atas dan memiliki nilai
                                                     diperhatikan
   kelipatan tertentu.
                                                     adalah penggambaran grafik dengan metode
8. Membuat sumbu mendatar dan tegak
                                                     scatter, agar gambar yang diperoleh pada
   yang titik pusatnya memiliki jarak
                                                     arah tertentu (terutama sumbu horizontal)
   tertentu terhadap batas muka peta,
                                                     memiliki      interval     sesuai    dengan      yang
   menggunakan pensil.
                                                     diinginkan, tidak memiliki interval yang sama.
9. Menggambarkan              titik-titik   yang
                                                     Penggambaran dengan AutoCad walaupun
   merupakan         posisi       tinggi     hasil
                                                     lebih sulit akan menghasilkan keluaran yang
   pengukuran         dengan           jarak-jarak
                                                     lebih sempurna dan sesuai dengan format
   tertentu serta menghubungkan titik-
                                                     yang diinginkan.
   titik tersebut, menggunakan pensil.
110




              Contoh Hasil Pengukuran Sipat Datar Kerangka Vertikal :



Dari lapangan didapat ;
                                   HASIL PENGOLAHAN DATA


Diketahui, sipat datar Kerangka Dasar Vertikal (KDV) tertutup dengan 8 slag, titik 1
merupakan titik awal dengan ketinggian +905 meter MSL.
•     Titik 1 : BTb = 0,891 ; BTm = 1,675 ; db = 11 ; dm = 14
•     Titik 2 : BTb = 1,417 ; BTm = 1,385 ; db = 13 ; dm = 13
•     Titik 3 : BTb = 1,406 ; BTm = 1,438 ; db = 12 ; dm = 12
•     Titik 4 : BTb = 1,491 ; BTm = 0,625 ; db = 15 ; dm = 31
•     Titik 5 : BTb = 2,275 ; BTm = 1,387 ; db = 29 ; dm = 26
•     Titik 6 : BTb = 1,795 ; BTm = 0,418 ; db = 13 ; dm = 14
•     Titik 7 : BTb = 0,863 ; BTm = 1,801 ; db = 8 ; dm = 7
•     Titik 8 : BTb = 0,753 ; BTm = 2,155 ; db = 8 ; dm = 12


TITIK 1                                            4. ∑d        = db+dm
Diketahui :      BTb = 0,891                                     = 14+11
                 BTm = 1,675                                     = 25
                 db = 11 , dm = 14                                    Σd
                                                   5. Bobot =
                 Kgb = -0,00116                                     Σ ( Σd )
                 ∑(∑d) = 238
                                                                    25
                 ∑∆H = 0,02380                                  =
                                                                    238
Jawab :
                                                                = 0,10504
1. BTbk       = BTb - (Kgb . db)
                                                   6. ∆Hk       = ∆H-(∑∆H.bobot)
              = 0,891 -(-0,00116.11)
                                                                = -0,78748-(0,02380.
              = 0.90376
                                                                      0,10504)
2. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
                                                                = -0,78998
              = 1,675-(-0,00116.14)
                                                   7. Ti        = 905
              = 1,69124
3. ∆H         = BTbk-BTmk
              = 0.90376 - 1,69124
              = - 0,78748
                                                                                      111




TITIK 2                                        TITIK 3
Diketahui :         BTb=1,147                  Diketahui :        BTb=1,406
                    BTm=1,385                                     BTm=1,438 ;
                    db=13 , dm=13                                 db=12 , dm=12
                    Kgb=-0,00116                                  Kgb=-0,00116
                    ∑(∑d)= 238                                    ∑(∑d)= 238
                    ∑∆H=0,02380                                   ∑∆H=0,02380
Jawab :                                        Jawab :
8. BTbk = BTb-(Kgb.db)                         15. BTbk = BTb-(Kgb.db)
              = 1,147 -(-0,00116.13)                         = 1,406 -(-0,00116.12)
              = 1,43208                                      = 1,41992
9. BTmk = BTm-(Kgb.dm)                         16. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
          = 1,385 -(-0,00116.13)                             = 1,438 -(-0,00116.12)
          = 1,69124                                          = 1,45192
10. ∆H    = BTbk-BTmk                          17. ∆H    = BTbk-BTmk
          = 1,43208 - 1,69124                                = 1,41992 -1,45192
          = -0,78748                                         = - 0,03200
11. ∑d    = db+dm                              18. ∑d    = db+dm
          = 13+13                                            = 12+12
          = 26                                               = 24
                    Σd                                          Σd
12. Bobot =                                    19. Bobot =
                  Σ ( Σd )                                    Σ ( Σd )
                  26                                             24
              =                                              =
                  238                                            238
              = 0,10924                                      = 0,10084
13. ∆Hk   = ∆H - (∑∆H.bobot)
              = -0,78748- (0,02380. 0,10924)   20. ∆Hk   = ∆H-(∑∆H.bobot)
              = 0,02940                                      = - 0,03200-(0,02380.
                                                                 0,10084)
14. Ti        = Ti1 + ∆Hk1                                   = -0,03440
              = 905 - 0,02940                  21. T i       = Ti2+∆Hk2
              = 904,21002                                    = 904,21002-0,03440
                                                             = 904,23942
112




TITIK 4                                          TITIK 5
Diketahui :        BTb=1,491                     Diketahui :    BTb=2,275
                   BTm=0,625                                    BTm=1,387
                   db=15 , dm=31                                db=29 , dm=26
                   Kgb=-0,00116                                 Kgb=-0,00116
                   ∑(∑d)= 238                                   ∑(∑d)= 238
                   ∑∆H=0,02380                                  ∑∆H=0,02380
Jawab :                                          Jawab :
22. BTbk      = BTb-(Kgb.db)                     29. BTbk      = BTb-(Kgb.db)
              = 1,491-(-0,00116.15)                            = 2,275-(-0,00116.29)
              = 1,50840                                        = 2,30864
23. BTmk      = BTm-(Kgb.dm)                     30. BTmk      = BTm-(Kgb.dm)
               = 0,625-(-0,00116.31)                           = 1,387-(-0,00116.26)
               = 0,66096                                       = 1,41716
24. ∆H        = BTbk-BTmk
               = 1,50840-0,66096                 31. ∆H        = BTbk-BTmk
               = 0,84744                                       = 2,30864-1,41716
25. ∑d        = db+dm                                          = 0,89148
               = 15 +31                          32. ∑d        = db+dm
               = 46                                            = 29+26
                                                                   = 55
                    Σd                                               Σd
26. Bobot     =                                  33. Bobot     =
                  Σ ( Σd )                                         Σ ( Σd )
                       46                                              55
                   =                                               =
                       238                                             238
               = 0,19328                                       = 0,23109
27. ∆Hk       = ∆H-(∑∆H.bobot)                   34. ∆Hk       = ∆H-(∑∆H.bobot)
                  = 0,84744-(0,02380 .0,19328)                     = 0,89148-(0,02380.
               = 0,84284                                                0,23109)
28. Ti        = Ti3+∆Hk4                                        = 0,88598
               = 904,23942+0,84284               35. Ti        = Ti4+∆Hk5
               = 904,20502                                     = 904,20502+0,88598
                                                               = 905,04786
                                                                                  113




TITIK 6                                  TITIK 7
Diketahui :   BTb=1,795                  Diketahui :    BTb = 0,863
              BTm=0,418                                 BTm=1,801
              db=13 , dm=14                             db=8 , dm=7
              Kgb=-0,00116                              Kgb=-0,00116
              ∑(∑d)= 238                                ∑(∑d)= 238
              ∑∆H=0,02380                               ∑∆H = 0,02380
Jawab :                                  Jawab :
36. BTbk      = BTb-(Kgb.db)             43. BTbk       = BTb-(Kgb.db)
              = 1,795 - (-0,00116.13)                   = 0,863 -(-0,00116.8)
              = 1,81008                                    = 0,87228
37. BTmk      = BTm-(Kgb.dm)             44. BTmk       = BTm-(Kgb.dm)
              = 0,418 -(-0,00116.14)                    = 1,801 -(-0,00116.7)
              = 0,43424                                 = 1,80912
38. ∆H        = BTbk-BTmk                45. ∆H        = BTbk-BTmk
              = 1,81008-0,43424                         = 0,87228- 1,80912
              = 1,37584                                 = -0,93684
39. ∑d        = db+dm                    46. ∑d        = db+dm
              = 13+14                                   = 8+7
              =27                                          = 15
                    Σd                                       Σd
40. Bobot     =                          47. Bobot     =
                  Σ ( Σd )                                 Σ ( Σd )
                  27                                        15
              =                                         =
                  238                                       238
               = 0,11345                                = 0,06303
41. ∆Hk       = ∆H - (∑∆H.bobot)         48. ∆Hk       = ∆H-(∑∆H.bobot)
                  = 1,37584- (0,02380.                     = -0,93684-(0,02380.
                    0,11345)                                   0,06303)
               = 1,37314                                = -0,93834
42. Ti        = Ti5+∆Hk6                 49. Ti        = Ti6+∆Hk 7
              = 905,04786+1,37314
                                                       = 905,93384+(-0,93834)
              = 905,93384
                                                       = 907,30698
114




TITIK 8
Diketahui :    BTb=0,793
               BTm=2,155
               db=8 , dm=12
               Kgb=-0,00116
               ∑(∑d)= 238
               ∑∆H=0,02380
Jawab :
50. BTbk      = BTb-(Kgb.db)
               = 0,793-(-0,00116.8)
                  = 0,80228
51. BTmk      = BTm-(Kgb.dm)
               = 2,155 -(-0,00116.12)
               = 2,16892
52. ∆H        = BTbk-BTmk
               = 0,80228 - 2,16892
               = -1,36664
53. ∑d        = db+dm
              = 8+12
                  = 20
                    Σd
54. Bobot     =
                  Σ ( Σd )
                      20
                  =
                      238
              = 0,08403
55. ∆Hk       = ∆H-(∑∆H.bobot)
                  = -1,36664-(0,02380.
                       0,08403)
              = -1,36864

56. Ti        = Ti7+∆Hk8

               = 907,30698+(-1,36864)

               = 906,3686
                                                                                                              115




                                     Tabel 5. Formulir pengukuran sipat datar



                                     PENGUKURAN SIPAT DATAR

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan                       No.Lembar                 dari
Pengukuran                                                                 Cuaca
Lokasi                                                                     Alat Ukur
Diukur Oleh                           Tanggal                              Instruktur

                  Bacaan Benang
                                                           Jarak              Beda Tinggi
              Belakang            Muka                                                      Tinggi
Stand                                                                                                       Ket
                    Atas               Atas                                                  Titik
         Tengah
                   Bawah
                            Tengah
                                      Bawah
                                                Belakang   Muka    Total    +           -
116




                                       Tabel 6. Formulir pengukuran sipat datar




                                       PENGUKURAN SIPAT DATAR

  Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan                        No.Lembar                        dari
  Pengukuran                                                                  Cuaca
  Lokasi                                                                      Alat Ukur
  Diukur Oleh                            Tanggal                              Instruktur

                    Bacaan Benang
                                                              Jarak              Beda Tinggi
                Belakang            Muka                                                              Tinggi
  Stand                                                                                                               Ket
                      Atas               Atas                                                          Titik
           Tengah
                     Bawah
                              Tengah
                                        Bawah
                                                   Belakang   Muka    Total    +             -
      1     0.891     0.946    1.675     1.745        11       14      25                  0.78748     905
                      0.836              1.605
      2     1.417     1.482    1.385     1.450        13       13      26     0.03200                904.21002
                      1.352              1.320
      3     1.406     1.466    1.438     1.498        12       12      24                  0.03200   904.23942
                      1.346              1.378
      4     1.491     1.566    0.625     0.780        15       31      46     0.84744                904.20502
                      1.416              0.470
      5     2.275     2.420    1.387     1.517        29       26      55     0.89148                805.04786
                      2.130              1.257
      6     1.795     1.860    0.418     0.488        13       14      27     1.37584                905.93384
                      1.730              0.348
      7     0.863     0.903    1.801     1.836        8         7      15                  0.93684   907.30698
                      0.823              1.766
      8     0.793     0.833    2.155     2.215        8        12      20                  1.36664   906.36864
                      0.753              2.095


                                                                       238
117




                                                        CATATAN
                                           U           INSTITUSI
                                                     PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL - S1
                                                FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN
                                                             KEJURUAN
                                                 UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                                                                2007
                                                       LEGENDA
                                                     SIPAT DATAR OPTIS
                                                     POHON
                                                     BACAAN BENANG
                                                     BATAS JALAN
                                                          DOSEN




                                                                                    Gambar 86. Pengukuran kerangka dasar vertikal
                                               DR. IR. DRS. H. ISKANDAR
                                               MUDA PURWAAMIJAYA, MT
                                               MUDA PURWAAMIJAYA, MT
                                                    MATA KULIAH
                                                        TS 241
                                               PRAKTIK ILMU UKUR TANAH
                                                  JUDUL GAMBAR
                                                PENGUKURAN KERANGKA
                                                   DASAR VERTIKAL
      PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL                 LOKASI
                                                  GEDUNG OLAH RAGA
118




                            Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-04
                                         Model Diagram Alir
                              Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
                                              Datar Kerangka Dasar Vertikal
                        Pengukuran Sipat Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
                    Dosen Penanggung Jawab :



                                                                    Maksud :
                                        Pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur
                                     ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan
                                           ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak



                                                               Tujuan :
                                  Memperoleh informasi tinggi yang akurat untuk menyajikan informasi
                                                  yang lebih kompleks (garis kontur)




                                                           Referensi tinggi :
                                  diperoleh dengan cara pengamatan pasut pada selang waktu tertentu
                                   di tepi pantai untuk memperoleh tinggi muka air laut rata-rata atau
                                                          mean sea level (MSL)



                                                   Eliminasi kesalahan sistematis :
    Pengukuran                    Melakukan pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri
    Sipat Datar                    alat) untuk memperoleh nilai kesalahan garis bidik (kemungkinan
     Kerangka                      terungkitnya garis bidik ke atas/bawah akibat keterbatasan pabrik
   Dasar Vertikal                                  membuat alat betul-betul presisi)



                                                     Pengaturan awal alat sipat datar :
                                    Mengatur garis bidik // sumbu II teropong dengan mengetengahkan
                                    gelembung nivo kotak (menggerakkan 2 sekrup kaki kiap ke dalam/
                                    luar dan 1 sekrup kaki kiap ke kanan/kiri) ; Mengatur sumbu I tegak
                                    lurus sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo
                                   tabung. Rambu ukur diatur tegak lurus permukaan tanah dan dibaca.



                                                       Pengukuran di lapangan :
                                    Persiapan sketsa/peta jalur pengukuran dan rencana pematokan
                                  dengan jumlah slag genap. Persiapan patok-patok pengukuan. Survei
                                     awal dan pematokan. Rambu ukur didirikan di atas patok-patok
                                  pengukuran. Alat sipat datar didirikan sekitar tengah-tengah slag atau
                                     dibuat jumlah jarak belakang ~ jumlah jarak muka. Pembacaan
                                  rambu ukur belakang dan muka. Pengukuran jarak belakang & muka.


                                                        Pengolahan Data :
                        Koreksi bacaan benang tengah dengan hasil kali koreksi garis bidik dan jarak.
                      Perhitungan beda tinggi koreksi kesalahan sistematis. Perhitungan bobot koreksi
                      dari rasio jarak slag terhadap total jarak pengukuran. Perhitungan kesalahan acak.
                      Distribusi kesalahan acak ke setiap slag dengan bobot koreksi. Perhitungan beda
                        tinggi dan tinggi definitif yang telah dikoreksi kesalahan acak. Penggambaran
                                    jalur pengukuran dengan skala vertikal > skala horisontal.




Gambar 87. Diagram alir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal
                                                                                        119




                                     Rangkuman

         Berdasarkan uraian materi bab 4 mengenai pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Pengukuran menggunakan sipat datar optis adalah pengukuran tinggi garis bidik alat
    sipat datar di lapangan melalui rambu ukur.

2. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan
    serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda
    tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak.

3. Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh
    informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan sedemikian rupa sehingga informasi
    tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak
    kompleks.

4. Bagian utama pada Alat sipat datar optis adalah
    a. Teropong untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar
         bayangan rambu.
    b. Nivo tabung berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar.
    c.   Kiap (leveling head/base plate), digunakan untuk menegakan sumbu kesatu (sumbu
         tegak) teropong.
    d. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri).
    e. Lensa okuler (untuk memperjelas benang).
    f.   Lensa objektif/ diafragma (untuk memperjelas benda/ objek).
    g. Sekrup penggerak halus (untuk membidik sasaran).
    h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek).
    i.   Statif (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di atas.

5. Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar optis adalah :
    a. alat sipat datar optis.            e. patok.
    b. rambu ukur 2 buah.                 f. pita ukur
    c.   statif.                          g. payung.
    d. unting-unting.
120




                                       Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di abwah ini !

1. Jelaskan peralatan dan bahan-bahan apa sajakah yang digunakan pada pengukuran
      sipat datar kerangka dasar vertikal!
2. Jelaskan bagaimana prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal !
3. Apa sajakah keuntungan-keuntungan dari penggambaran dalam bentuk digital !
4. Jelaskan bagaimana prosedur pengolahan data pada pengukuran sipat datar kerangka
      dasar vertikal !
5. Diketahui pengukuran sipat datar dengan 4 slag (A, B, C dan D) dan tinggi titik Ti (awal) =
      + 777 meter HSL.
      Slag : 1 ( A –B) BTb = 1,568                Slag : 1 db = 25,08
                         BTm = 1,658                      dm = 25,5
      Slag : 2 ( B –C) BTb = 1,775                Slag : 1 db = 32,5
                         BTm = 1,886                      dm = 34,5
      Slag : 3 ( C –D) BTb = 1,675                Slag : 1 db = 27,5
                         BTm = 1,558                      dm = 26,95
      Slag : 4 ( D –A) BTb = 1,890                Slag : 1 db = 26,5
                         BTm = 1,780                      dm = 25,55
                                                                                                            121




        5. Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat

                                                      ellipsoid     WGS-84      adalah        6.378.137       m
 5.1. Proyeksi peta                                   dengan kegepengan 1/298.257, maka rasio
                                                      penyimpangan            terbesar         ini       adalah
Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang               1/100.000. Indonesia, seperti halnya negara
digunakan untuk menggambarkan sebagian                lainnya, menggunakan ukuran ellipsoid ini
atau keseluruhan permukaan tiga dimensi               untuk       pengukuran       dan    pemetaan            di
yang secara kasaran berbentuk bola ke                 Indonesia.      WGS-84        "diatur,         diimpitkan"
permukaan       datar    dua   dimensi     dengan     sedemikian rupa diperoleh penyimpangan
distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi            terkecil di kawasan Nusantara RI. Titik impit
peta diupayakan sistem yang memberikan                WGS-84 dengan geoid di Indonesia dikenal
hubungan antara posisi titik-titik di muka            sebagai datum Padang (datum geodesi
bumi dan di peta.                                     relatif)    yang     digunakan          sebagai       titik

Bentuk bumi bukanlah bola tetapi lebih                reference       dalam       pemetaan            nasional.

menyerupai ellips 3 dimensi atau ellipsoid.           Sebelumnya juga dikenal datum Genuk di

Istilah ini sinonim dengan istilah spheroid           daerah sekitar Semarang. Untuk pemetaan

yang digunakan untuk menyatakan bentuk                yang dibuat Belanda, menggunakan ER

bumi. Karena bumi tidak uniform, maka                 yang sama yaitu WGS-84. Sejak 1995

digunakan istilah geoid untuk menyatakan              pemetaan           nasional        di           Indonesia

bentuk bumi yang menyerupai ellipsoid                 menggunakan datum geodesi absolut DGN-

tetapi dengan bentuk muka yang sangat                 95. Dalam sistem datum absolut ini, pusat

tidak beraturan.                                      ER berimpit dengan pusat masa bumi.

Untuk     menghindari      kompleksitas     model     Sistem       proyeksi     peta      dibuat          untuk

matematik       geoid,    maka   dipilih    model     mereduksi sekecil mungkin distorsi tersebut

ellipsoid terbaik pada daerah pemetaan,               dengan:

yaitu    yang      penyimpangannya         terkecil   •   Membagi         daerah       yang           dipetakan
terhadap geoid. WGS-84 (World Geodetic                    menjadi bagian-bagian yang tidak terlalu
System)      dan         GRS-1980        (Geodetic        luas, dan
Reference System) adalah ellipsoid terbaik            •   Menggunakan          bidang         peta      berupa
untuk keseluruhan geoid. Penyimpangan                     bidang datar atau bidang yang dapat
terbesar antara geoid dengan ellipsoid                    didatarkan      tanpa     mengalami           distorsi
WGS-84 adalah 60 m di atas dan 100 m di                   seperti     bidang    kerucut        dan       bidang
bawahnya. Bila ukuran sumbu panjang                       silinder.
122




Tujuan Sistem Proyeksi Peta dibuat dan                     Pembagian Sistem Proyeksi Peta
dipilih untuk:
                                                           Secara garis besar sistem proyeksi peta
•   Menyatakan        posisi       titik-titik     pada    bisa        dikelompokkan             berdasarkan
    permukaan       bumi     ke     dalam        sistem    pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.
    koordinat bidang datar yang nantinya
                                                           Pertimbangan Ekstrinsik
    bisa digunakan untuk perhitungan jarak
    dan arah antar titik.                                  Bidang proyeksi yang digunakan:

•   Menyajikan secara grafis titik-titik pada              •   Proyeksi    azimutal     /    zenital:    Bidang
    permukaan       bumi     ke     dalam        sistem        proyeksi bidang datar.
    koordinat bidang datar yang selanjutnya                •   Proyeksi    kerucut:         Bidang      proyeksi
    bisa digunakan untuk membantu studi                        bidang selimut kerucut.
    dan pengambilan keputusan berkaitan                    •   Proyeksi silinder: Bidang proyeksi bidang
    dengan topografi, iklim, vegetasi, hunian                  selimut silinder.
    dan     lain-lainnya       yang         umumnya
                                                           Persinggungan bidang proyeksi dengan bola
    berkaitan dengan ruang yang luas.
                                                           bumi:
Cara proyeksi peta bisa dipilih sebagai:
                                                           •   Proyeksi    Tangen:          Bidang      proyeksi
•   Proyeksi langsung (direct projection):                     bersinggungan dengan bola bumi.
    yaitu dari ellipsoid langsung ke bidang                •   Proyeksi    Secant:          Bidang      Proyeksi
    proyeksi.                                                  berpotongan dengan bola bumi.
•   Proyeksi       tidak     langsung            (double   •   Proyeksi      "Polysuperficial":          Banyak
    projection):     yaitu        proyeksi         yang        bidang proyeksi.
    dilakukan menggunakan "bidang" antara,
                                                           Posisi   sumbu     simetri       bidang      proyeksi
    ellipsoid ke bola dan dari bola ke bidang
                                                           terhadap sumbu bumi:
    proyeksi.

Pemilihan sistem proyeksi peta ditentukan                  •   Proyeksi Normal: Sumbu simetri bidang

berdasarkan pada:                                              proyeksi berimpit dengan sumbu bola
                                                               bumi.
•   Ciri-ciri tertentu atau asli yang ingin
                                                           •   Proyeksi Miring: Sumbu simetri bidang
    dipertahankan sesuai dengan tujuan
                                                               proyeksi miring terhadap sumbu bola
    pembuatan / pemakaian peta.
                                                               bumi.
•   Ukuran dan bentuk daerah yang akan
    dipetakan.
•   Letak daerah yang akan dipetakan.
                                                                                                      123




•   Proyeksi Transversal: Sumbu simetri               •   Proyeksi        Matematis:         Semuanya
    bidang proyeksi ⊥ terhadap sumbu bola                 diperoleh dengan hitungan matematis.
    bumi.                                             •   Proyeksi     Semi    Geometris:        Sebagian
                                                          peta diperoleh dengan cara proyeksi dan
Pertimbangan Intrinsik
                                                          sebagian lainnya diperoleh dengan cara
Sifat asli yang dipertahankan:                            matematis.

•   Proyeksi    Ekuivalen:      Luas      daerah      Pertimbangan dalam pemilihan proyeksi
    dipertahankan, yaitu luas pada peta               peta untuk pembuatan peta skala besar
    setelah disesuaikan dengan skala peta =           adalah:
    luas di asli pada muka bumi.
                                                      •   Distorsi pada peta berada pada batas-
•   Proyeksi    Konform:       Bentuk     daerah
                                                          batas kesalahan grafis.
    dipertahankan,    sehingga     sudut-sudut
                                                      •   Sebanyak mungkin lembar peta yang
    pada peta dipertahankan sama dengan
                                                          bisa digabungkan.
    sudut-sudut di muka bumi.
                                                      •   Perhitungan      plotting     setiap     lembar
•   Proyeksi Ekuidistan: Jarak antar titik di
                                                          sesederhana mungkin.
    peta setelah disesuaikan dengan skala
                                                      •   Plotting manual bisa dibuat dengan cara
    peta sama dengan jarak asli di muka
                                                          semudah-mudahnya.
    bumi.
                                                      •   Menggunakan titik-titik kontrol sehingga
Cara penurunan peta:                                      posisinya segera bisa diplot.

•   Proyeksi Geometris: Proyeksi perspektif
    atau proyeksi sentral.

                                      Tabel 7. Kelas proyeksi peta


                                                          KELAS


                   1. Bid. Proyeksi          Bid. Datar       Bid. Kerucut            Bid. Silinder
Pertimbangan
EKSTRINSIK         2. Persinggungan          Tangent          Secant                  Polysuperficial

                   3. Posisi                 Normal           Oblique/Miring          Transversal

Pertimbangan       4. Sifat                  Ekuidistan       Ekuivalen               Konform
INTRINSIK
                   5. Generasi               Geometris        Matematis               Semi Geometris
124




                            Silinder               Kerucut            Azimut




                            Normal




                          Transversal




                            Miring




                                        Tangent              Secant


                     Gambar 88. Jenis bidang proyeksi dan kedudukannya terhadap bidang datum


Bidang datum dan bidang proyeksi:                      b. Kegepengan ( flattening ) - f = (a - b)/b,

•     Bidang datum adalah bidang yang akan                   (Gambar dapat dilihat pada Gambar 89).

      digunakan untuk memproyeksikan titik-            c. Garis geodesic adalah kurva terpendek

      titik yang diketahui koordinatnya (j ,l ).             yang menghubungkan dua titik pada

•     Bidang proyeksi adalah bidang yang                     permukaan elipsoid.

      akan digunakan untuk memproyeksikan              d. Garis Orthodrome adalah proyeksi garis

      titik-titik yang diketahui koordinatnya                geodesic pada bidang proyeksi. (Dapat

      (X,Y).                                                 dilihat pada Gambar 91).
                                                       e. Garis Loxodrome (Rhumbline) adalah
Ellipsoid:                                                   garis (kurva) yang menghubungkan titik-
      a. Sumbu panjang (a) dan sumbu                         titik dengan azimuth α yang tetap.
          pendek (b).
                                                             (Dapat dilihat pada Gambar 90).
                                                                                    125




         Gambar 89. Geometri ellipsoid




        Gambar 90. Rhumbline atau loxodrome menghubungkan titik-titik




Gambar 91. Oorthodrome dan loxodrome pada proyeksi gnomonis dan proyeksi mercator
126




Proyeksi Polyeder

Sistem proyeksi kerucut, normal, tangent
dan konform




Gambar 92. Proyeksi kerucut: bidang datum dan bidang proyeksi




Gambar 93.   Proyeksi polyeder: bidang datum dan bidang proyeksi
                                                                                                  127




Proyeksi ini digunakan untuk daerah 20° x              Meridian tergambar sebagai garis lurus yang
20° (37 km x 37 km), sehingga bisa                     konvergen ke arah kutub, ke arah KU untuk
memperkecil distorsi. Bumi dibagi dalam                daerah di sebelah utara ekuator dan ke arah
jalur-jalur yang dibatasi oleh dua garis               KS untuk daerah di selatan ekuator. Paralel-

paralel dengan lintang sebesar 20° atau tiap           paralel     tergambar       sebagai   lingkaran

jalur selebar 20° diproyeksikan pada kerucut           konsentris. Untuk jarak-jarak kurang dari 30

tersendiri.   Bidang     kerucut    menyinggung        km, koreksi jurusan kecil sekali sehingga

pada garis paralel tengah yang merupakan               bisa diabaikan. Konvergensi meridian di tepi

paralel baku - k = 1.                                  bagian     derajat     di   wilayah   Indonesia
                                                       maksimum 1,75°.




Gambar 94.    Lembar proyeksi peta polyeder di bagian lintang utara dan lintang selatan




Gambar 95. Konvergensi meridian pada proyeksi polyeder
128




Secara praktis, pada kawasan 20° x 20°,              lurus sumbu X di titik tengah bagian
jarak hasil ukuran di muka bumi dan jarak            derajatnya. Sehingga titik tengah setiap
lurusnya di bidang proyeksi mendekati sama           bagian derajat mempunyai koordinat O.
atau bisa dianggap sama.
                                                     Koordinat titik-titik lain seperti titik triangulasi
Proyeksi polyeder di Indonesia digunakan             dan titik pojok lembar peta dihitung dari titik
untuk pemetaan topografi dengan cakupan:             pusat bagian derajat masing-masing bagian
94° 40’ BT - 141° BT, yang dibagi sama tiap          derajat. Koordinat titik-titik sudut (titik pojok)
20°      atau        menjadi        139   bagian,    geografis lembar peta dihitung berdasarkan

11° LS - 6° LU, yang dibagi tiap 20° atau            skala peta, misal 1 : 100.000, 1 : 50.000, 1 :

menjadi 51 bagian. Penomoran dari barat ke           25.000 dan 1 : 5.000.

timur: 1, 2, 3,..., 139, dan penomoran dari          Pada skala 1 : 50.000, satu bagian derajat
LU ke LS: I, II, III, ..., LI.                       proyeksi polyeder (20° x 20°) tergambar
Penerapan Proyeksi Polyeder di Indonesia             dalam 4 lembar peta dengan penomoran
                                                     lembar A, B, C dan D. Sumbu Y adalah
Sistem penomoran bagian derajat proyeksi
                                                     meridian tengah dan sumbu X adalah garis
polyeder
                                                     tegak    lurus    sumbu      Y    yang     melalui
Peta dengan proyeksi polyeder dibuat di              perpotongan meridian tengah dan paralel
Indonesia sejak sebelum perang dunia II,             tengah. Setiap lembar peta mempunyai
meliputi peta-peta di pulau Jawa, Bali dan           sistem sumbu koordinat yang melalui titik
Sulawesi.                                            tengah lembar dan sejajar sumbu (X,Y) dari
                                                     sistem koordinat bagian derajat.
Wilayah Indonesia dengan 94° 40’ BT - 141°
BT dan 6° LU - 11° LS dibagi dalam 139 x LI          Keuntungan dan kerugian sistem proyeksi
bagian derajat, masing-masing 20° x 20°.             polyeder

Tergantung pada skala peta, tiap lembar              Keuntungan       proyeksi     polyeder:    karena
bisa dibagi lagi dalam bagian yang lebih             perubahan jarak dan sudut pada satu
kecil.                                               bagian derajat 20° x 20°, sekitar 37 km x 37
                                                     km bisa diabaikan, maka proyeksi ini baik
Cara     menghitung         pojok    lembar   peta
                                                     untuk digunakan pada pemetaan teknis
proyeksi polyeder
                                                     skala besar.
Setiap bagian derajat mempunyai sistem
koordinat masing-masing. Sumbu X berimpit
dengan meridian tengah dan sumbu Y tegak
                                                                                                  129




Kerugian proyeksi polyeder:                         •     Bidang silinder memotong bola bumi
a. Untuk pemetaan daerah luas harus                       pada dua buah meridian yang disebut
     sering     pindah         bagian   derajat,          meridian standar dengan faktor skala 1.
     memerlukan tranformasi koordinat.              •     Lebar zone 6° dihitung dari 180° BB
b. Grid kurang praktis karena dinyatakan                  dengan nomor zone 1 hingga ke 180°
     dalam kilometer fiktif.                              BT dengan nomor zone 60. Tiap zone
c.   Tidak praktis untuk peta skala kecil                 mempunyai meridian tengah sendiri.
     dengan cakupan luas.                           •     Perbesaran    di   meridian    tengah    =
d. Kesalahan arah maksimum 15 m untuk                     0,9996.
     jarak 15 km.                                   •     Batas paralel tepi atas dan tepi bawah
                                                          adalah 84° LU dan 80° LS.
Proyeksi Universal Traverse Mercator
                                                    Pada     Gambar     96    berikut   ditunjukkan
(UTM)
                                                    perpotongan silinder terhadap bola bumi
UTM merupakan sistem proyeksi silinder,
                                                    dan        gambar        XYZ        menujukkan
konform,      secant,    transversal.   Dengan
                                                    penggambaran proyeksi dari bidang datum
ketentuan sebagai berikut:
                                                    ke bidang proyeksi.




Gambar 96. Kedudukan bidang proyeksi silinder terhadap bola bumi pada proyeksi UTM
130




 Gambar 97. Proyeksi dari bidang datum ke bidang proyeksi




 Gambar 98. Pembagian zone global pada proyeksi UTM
                                                                                           131




Pada   kedua    gambar    tersebut,   ekuator    Garis tebal dan garis putus-putus pada
tergambar sebagai garis lurus dan meridian-      gambar menunjukkan proyeksi lingkaran-
meridian tergambar sedikit melengkung.           lingkaran melalui I, II, III dan IV yang tidak
Karena proyeksi UTM bersifat konform,            mengalami distorsi setelah proyeksi.
maka paralel-paralel juga tergambar agak
                                                 Konvergensi Meridian
melengkung     sehingga     perpotongannya
dengan meridian membentuk sudut siku.            Ukuran lembar peta dan cara menghitung

Ekuator tergambar sebagai garis lurus dan        titik sudut lembar peta UTM

dipotong tegak lurus oleh proyeksi meridian      Susunan sistem koordinat
tengah yang juga terproyeksi sebagai garis
                                                 Ukuran satu lembar bagian derajat adalah
lurus melalui titik V dan VI. Kedua garis ini
                                                 6° arah meridian 8° arah paralel (6° x 8°)
digunakan sebagai sumbu sistem koordinat
                                                 atau sekitar (665 km x 885 km).
(X,Y) proyeksi pada setip zone.
                                                 Pusat koordinat tiap bagian lembar derajat
Sistem grid pada proyeksi UTM terdiri dari       adalah      perpotongan    meridian    tengah
garis lurus yang sejajar meridian tengah.        dengan "paralel" tengah. Absis dan ordinat
Lingkaran    tempat   perpotongan     silinder   semu di (0,0) adalah + 500.000 m, dan + 0
dengan bola bumi tergambar sebagai garis         m untuk wilayah di sebelah utara ekuator
lurus. Pada daerah I, V, II dan III, VI, IV      atau +10.000.000 m untuk wilayah di
gambar proyeksi mengalami pengecilan,            sebelah selatan ekuator.
sedangkan pada daerah IA, IIB, IIIC dan IVD
mengalami perbesaran.




         Gambar 99. Konvergensi meridian pada proyeksi UTM
132




Gambar 99 dan 100 menunjukkan sistem                Misalnya, pada tepi zone atau sekitar 300
koordinat dan faktor skala pada setiap              km di sebelah barat dan timur meriadian
lembar peta. Perhatikan pada absis antara           tengah, untuk jarak 1.000 m pada meridian
320.000 m – 500.000 m dan 680.000 m –               tengah akan tergambar 1.000.070 x 1.000 m
500.000 m terjadi pengecilan faktor skala           = 1.000.070.000 m, atau terjadi distorsi
dari 1 ke 0,9996. Sedangkan pada selang             sekitar 70 cm / 1 000 m.
diluar kedua daerah ini terjadi perbesaran
faktor skala.




Gambar 100. Sistem koordinat proyeksi peta UTM




Gambar 101. Grafik faktor skala proyeksi peta UTM
                                                                                              133




Lembar Peta UTM Global                            a. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 100.000
                                                       adalah 30° x 30°.
Penomoran setiap lembar bujur 6° dari 180°
                                                  b. Satu lembar peta skala 1 : 250.000
BB – 180° BT menggunakan angka Arab 1 –
                                                       dibagi menjadi 6 bagian lembar peta
60.
                                                       skala 1 : 100.000.
Penomoran setiap lembar arah paralel 80°          c.   Angka Arab 1 – 94 untuk penomoran
LS – 84° LU menggunakan huruf latin besar              bagian lembar setiap 30° pada arah
dimulai dengan huruf C dan berakhir huruf X            94° BT – 141° BT.
dengan tidak menggunakan huruf I dan O.           d. Angka Arab 1 - 36 untuk penomoran
Selang seragam setiap 8° mulai 80° LS –                bagian lembar setiap 30° pada arah
72° LU atau C – W.                                     6° LU – 12° LS.

Menggunakan cara penomoran seperti itu,           Lembar peta UTM skala 1 : 50.000 di
secara global pada proyeksi UTM, wilayah          Indonesia
Indonesia di mulai pada zone 46 dengan
                                                  a. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 50.000
meridian sentral 93° BT dan berakhir pada
                                                       adalah 15° x 15°.
zone 54 dengan meridian sentral 141° BT,
                                                  b. Satu lembar peta skala 1 : 100.000
serta 4 satuan arah lintang, yaitu L, M, N
                                                       dibagi menjadi 4 bagian lembar peta
dan P dimulai dari 15° LS – 10° LU.
                                                       skala 1 : 50.000.
Lembar peta UTM skala 1 : 250.000 di
                                                  c.   Penomoran         menggunakan       angka
Indonesia
                                                       Romawi I, II, III dan IV dimulai dari pojok
a. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 250.000              kanan atas searah jarum jam.
      adalah 1½° x 1°. Sehingga untuk satu
      bagian derajat 6° x 8° terbagi dalam 4 x    Lembar peta UTM skala 1 : 25.000 di

      8 = 32 lembar.                              Indonesia

b. Angka Arab 1 - 31 untuk penomoran              a. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 25.000
      bagian lembar setiap 1½° pada arah               adalah 7½° x 7½ °.
      94½° BT – 141° BT.                          b. Satu lembar peta skala 1 : 50.000 dibagi
c.    Angka    Romawi      I   –   XVII   untuk        menjadi 4 bagian lembar peta skala 1 :
      penomoran bagian lembar setiap 1°                25.000.
      pada arah 6° LU – 11° LS.                   c.   Penomoran menggunakan huruf latin

Lembar peta UTM skala 1 : 100.000 di                   kecil a, b, c dan d dimulai dari pojok

Indonesia                                              kanan atas searah jarum jam.
134




1. Peta–peta khusus




      Gambar 102. Peta kota Bandung




      Gambar 103. Peta Geologi
                             135




Gambar 104. Peta statistik




Gambar 105. Peta sungai
136




          Gambar 106. Peta jaringan


2. Peta Dunia
      Peta dunia skalanya lebih kecil dari 1 :
      1.000.000 yang berisikan pulau dan
      benua.




         Gambar 107. Peta dunia
                                                                                             137




Kebaikan Proyeksi UTM
                                                   5.2. Aturan kuadran
a. Proyeksi simetris selebar 6° untuk setiap
     zone.                                       Koordinat proyeksi peta dapat didekati
b. Transformasi koordinat dari zone ke           dengan aturan diatas atau ditetapkan oleh
     zone dapat dikerjakan dengan rumus          surveyor secara pendekatan lokal jika belum
     yang sama untuk setiap zone di seluruh      tersedia    Bencmark        disekitar     lokasi
     dunia.                                      pengukuran.      Sistem      kuadran      yang
c.   Distorsi berkisar antara - 40 cm/ 1.000     digunakan pada pengukuran dan pemetaan
     m dan 70 cm/ 1.000 m.                       berbeda dengan sistem koordinat matematis
                                                 (trigonometri). Sistem kuadran matematis
Proyeksi TM-3°
                                                 bertambah besar ke arah berlawanan jarum
Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem         jam. Alasan dari aturan kuadran ilmu ukur
proyeksi      Universal   Tranverse   Mercator   tanah yang searah jarum jam adalah karena
dengan ketentuan faktor skala di meridian        peralatan pengukuran sudut menggunakan
sentral = 0,9999 dan lebar zone = 3°. Sistem     bantuan    magnet    bumi      yang     nilainya
proyeksi ini, sejak tahun 1997 digunakan         bertambah besar searah jarum jam.
oleh bekas Badan Pertanahan Nasional
                                                 Sistem     kuadran    koordinat       geometrik
(BPN) sebagai sistem koordinat nasional
                                                 berbeda    dengan    kuadran      trigonometrik
menggunakan datum absolut DGN-95.
                                                 karena alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya
                                                 dari utara dan searah jarum jam.
Ketentuan sistem proyeksi peta TM-3° :
a. Proyeksi: TM dengan lebar zone 3°.            Untuk menentukan suatu titik terhadap titik

b. Sumbu pertama (Y): Meridian sentral           yang lainnya dipergunakan sistem koordinat.

     dari setiap zone.                           Sistem koordinat yang dipergunakan adalah

c.   Sumbu kedua (X) : Ekuator.                  koordinat siku-siku (kartesien) dan koordinat

d. Satuan : Meter.                               polar.

e. Absis semu (T) : 200.000 meter + X.
                                                 Menurut teori,   sudut jurusan adalah sudut
f.   Ordinat semu (U) : 1.500.000 meter + Y.
                                                 yang dimulai dari arah utara geografis, maka
g. Faktor skala pada meridian sentral :
                                                 arah utara diambil sebagai suatu salib
     0,9999.
                                                 sumbu. Pada waktu kaki bergerak OP:

                                                 Berhimpit dengan sb, yang positif α = 90
                                                 Berhimpit dengan sb, yang positif α = 180
138




Berhimpit dengan sb, yang positif α = 270
                                                              5.3. Sistem koordinat
Berhimpit dengan sb, yang positif α = 360

Dengan demikian kaki yang bergerak OP
                                                            Sistem     koordinat      permukaan       bumi
melalui daerah-daerah 0-90, 90-180, 180-
                                                            keseluruhan menggunakan sistem koordinat
270,      270-300,           dimana       daerah-daerah
                                                            geografik (Geodetik) yang diukur dengan
tersebut disebut dengan:
                                                            menggunakan derajat (degree) garis-garis
Kuadran I            : 0 – 90                               lingkaran yang menghubungkan kutub utara
Kuadran II           : 90 – 180                             ke kutub selatan dikenal dengan nama garis
Kuadran III          : 180 – 270                            bujur (longitude) atau garis-garis meridian.
Kuadran IV           : 270 – 360                            Nilai nol derajat garis meridian melalui kota
                                                            Greenwich di kota inggris. Adalah 0 derajat
Dan kuadran berputar dengan jalannya
                                                            sampai dengan 180 derajat Bujur Barat.
jarum jam. Disamping ini digambar garis AB
                                                            Nilai garis meridian dari Greenwich ke arah
yang di sebellah kiri AB dan di sebelah
                                                            timur dikenal dengan nama bujur timur yang
kanan      αba,     Kedua          arah   BA   dan    AB
                                                            besarnya adalah 0 derajat sampai dengan
mempunyai arah yang berlawanan, dengan
                                                            180    derajat   Bujur    Timur.    Garis-garis
memperpanjang AB, maka didapat pula αab
                                                            lingkaran yang tegak lurus terhadap garis
dan      αba,     pada       sebelah      kanan     dapat
                                                            meridian dikenal dengan nama garis lintang
ditentukan hubungan antar αab dan αba
                                                            (latitude). Nilai nol derajat garis lintang
karena terbukti bahwa:
                                                            memotong di tengah garis meridian yang
α ba = α ab + 1800
                                                            menghubungkan kutub utara dengan kutub
Dengan          uraian   di        atas   tentang   sudut   selatan dikenal dengan nama garis ekuator
jurusan, maka didapat dua sifat yang                        atau garis katulistiwa. Nilai garis lintang dari
penting dari jurusan tersebut:                              ekuator ke kutub utara dikenal dengan
                         0
I.     0 ‹ α ‹ 360               (sudut jurusan terletak    istilah lintang utara yang besarnya dari 0
       antara 0º - 360º).                                   derajat sampai dengan 90 derajat Lintang
II.   α ab - α ba = 180      0
                                 (dua sudut jurusan dari    Utara. Nilai garis lintang dari ekuator ke
       dua arah yang berlawanan berselisih                  kutub Selatan dikenal dengan istilah Lintang
       180º).                                               Selatan yang besarnya dari 0 derajat
                                                            sampai dengan 90 derajat Lintang Selatan.
                                                                                                139




          Gambar 108. Sistem koordinat geografis



Beberapa      ketentuan    yang    berhubungan     •    Bujur (longitude - j), bujur barat (0° -
dengan pemodelan bumi sebagai spheroid                  180° BB) dan bujur timur (0° - 180° BT).
adalah:                                            •    Lintang ( latitude - l ), lintang utara (0° -
                                                        90° LU) dan lintang selatan (0° – 90°
•   Meridian dan meridian utama.
                                                        LS).
•   Paralel dan paralel NOL atau ekuator.




                    Gambar 109. Bumi sebagai spheroid
140




Pengukuran tempat titik – titik                              Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada
                                                             Ilmu Geodesi dari kiri ke kanan tapi daerah
•     Menggunakan garis lurus
                                                             kuadran pada dua ilmu itu menyatakan
      Apabila titik – titik tersebut terdapat
                                                             daerah yang sama ialah:
      pada satu garis lurus, dengan titik dasar
      0 dimana sebelah kanan dari titik nol                  Kuadran I             : 00 – 900

      bertanda positif dan sebelah kiri dari titik           Kuadran II            : 900 – 1800

      nol bertanda negatif.                                  Kuadran III           : 1800 – 2700
                                                             Kuadran IV            : 2700 – 3600
•     Menggunakan sumbu koordinat
      Apabila terdapat dua titik tidak pada                  Segala suatu yang telah dipelajari pada Ilmu

      satu garis lurus, dengan titik O sebagai               Ukur Sudut mengenai Sinus, Cosinus, dan

      pusat dari perpotongan garis mendatar                  Tangen berfungsi dengan penuh pada Ilmu

      X (Absis) dan garis tegak lurus Y                      Geodesi.

      (Ordinat).      Dimana      pada     sumbu        X            Tabel 8. Aturan kuadran trigonometris

      kesebelah kanan dari titik O bertanda                              Kuadran
      positif dan sebelah kiri dari titik O                                                 I      II     III    IV
                                                             Trigonometris
      bertanda negatif. Pada sumbu Y kearah
      utara dari titik O        bertanda positif dan                     Sin α

      kearah selatan dari titik O bertanda
                                                                     Cos α
      negatif.
      Untuk menentukan jarak dab dapat                               Tan α

      menggunakan Teorema Phytagoras:
                                                             Untuk menentukan besarnya atau lebih

      dab =      ( X b − X a ) 2 + (Y b − Ya ) 2             tepat di kuadran manakah sudut jurusan α di
                                                             letakkan, digunakan rumus:
                                                                             Xb − Xa
                                                             tg α        =
                                                                             Yb − Ya
                                                                    ab
    5.4. Menentukan Sudut Jurusan
                                                             Dasar–dasar            perhitungan         ini     adalah
Seperti telah dijelaskan sebelumnya sudut
                                                             geometri            analitik       yaitu    goniometri-
jurusan adalah sudut yang dibentuk dari
                                                             trigonometri adalah sebagai berikut :
arah    utara       geografis    kemudian          diputar
                                                                             x           y           x
searah jarum jam dan berhenti pada garis                     Sin    α=         ; Cos α =   ; Tgn α =
                                                                             r           r           y
yang telah ditentukan.
                                                                             Xb − X a
Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur                      Tgαab =
sudut dan pada ilmu geodesi, yaitu pada                                      Yb − Ya
                                                                                                     141




                                                                      B ( X b ,Y b )




                                                   d ab
                                    α   ab




                                                                             C
                       A ( X a ,Y a )




             Gambar 110. Sudut jurusan

                                                 d ab
Dari gambar di atas dapat dicari jarak
menggunakan aturan sinus dan cosinus :

             Y Yb − Ya
cos α ab =     =
             r   d ab
         Yb − Ya
d ab =
         cos α ab
             X Xb − Xa
sin α ab =     =
             r   d ab
         Xb − Xa
d ab =                                                    Gambar 111. Aturan kuadran geometris
         sin α ab

Untuk menentukan luas pengukuran dengan
menggunakan sistem koordinat : “Metode
Sarus”

Metode Sarus

Apabila terdapat beberapa variabel X dan Y.
Misalnya X1, X2, X3,..., Xn dan Y1, Y2, Y3,...,
Yn. Maka kedua variabel tersebut dikali
silang kemudian dibagi 2.
(X1 ⋅Y2 + X2 ⋅Y3 + X3 ⋅Y1 )−(Y ⋅ X2 +Y2 ⋅ X3 +Y3 ⋅ X1)
                              1
                                                          Gambar 112. Aturan kuadran trigonometris

                          2
142




                                         Model Ukur Tanah
                         Model Diagram Alir IlmuDiagram AlirPertemuan ke-05
                         Sistem Koordinat, Proyeksi Peta dan Aturan Kordinat
                         Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan Sistem Kuadran
                 Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT



                                    Sistem Koordinat Permukaan Bumi
                                          (dalam Degree / Derajat)
                               (Koordinat Geodetik : Longitude dan Latitude)
                                            (Bujur dan Lintang)




          Lingkaran-Lingkaran yang melalui                         Lingkaran-Lingkaran yang tegak lurus
               Kutub Utara dan Selatan                                Garis Bujur/Meridian/Longitude
           (Garis Bujur/Meridian/Longitude)                           (Garis Lintang/Paralel/Latitude)



             Nol Derajat Meridian di Kota                                Nol Derajat Paralel di Garis
                  Greenwich Inggris                                        Equator/Khatulistiwa




       Bujur Barat                 Bujur Timur                       Lintang Utara               Lintang Selatan
         0 - 180                     0 - 180                             0 - 90                       0 - 90



                                                                                        Proyeksi Peta : Proses
            Distorsi                        Bidang Bola / Ellipsoida                   memindahkan informasi
       (Perubahan Bentuk)
                                                                                       dari bidang lengkung ke
      Informasi jarak, sudut
                                                                                     bidang datar melalui bidang
            dan luas)
                                                                                               perantara
                                                     Bidang
                                                    Perantara



                      Silinder/                      Datar/                           Kerucut/
                     Cylindrical                    Zenithal                          Conical



                                       Posisi Sumbu Putar Bumi terhadap
                                        Garis Normal Bidang Perantara



              Transversal/                       Normal/Berhimpit/                      Oblique/Miring
              Tegak Lurus                            Sejajar


                 Jarak                        Informasi Geometris                         Sudut (Conform)
            (Equidistance)                    yang dipertahankan                             Navigasi
             Bina Marga /
              Jasa Marga                                                             Luas (Equivalent)
                                                                                           BPN
                                                    Bidang Datar




Gambar 113. Diagram alir Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat
                                                                                         143




                                     Rangkuman

       Berdasarkan uraian materi bab 5 mengenai Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan
Sistem Kordinat, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian
   atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke
   permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin.

2. Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi. Tujuan Sistem
   Proyeksi Peta dibuat dan dipilih untuk menyatakan dan menyajikan secara grafis posisi
   titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar.

3. Cara proyeksi peta dapat dilakukan dengan cara proyeksi langsung (direct projection)
   dan proyeksi tidak langsung (double projection). Secara garis besar sistem proyeksi peta
   bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.

4. Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang
   diketahui koordinatnya (j ,l ). Sedangkan bidang proyeksi adalah bidang yang akan
   digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (X,Y).

5. UTM merupakan sistem proyeksi silinder, konform, secant, transversal.

6. Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem proyeksi Universal Tranverse Mercator
   dengan ketentuan faktor skala di meridian sentral = 0,9999 dan lebar zone = 3°.

7. Sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari arah utara geografis, maka arah utara
   diambil sebagai suatu salib sumbu.

8. Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur sudut dan pada ilmu geodesi berjalan
   berlawanan, ialah pada Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada Ilmu Geodesi dari
   kiri ke kanan tapi daerah kuadran pada dua ilmu itu menyatakan daerah yang sama.
   Oleh karena itu, alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya dari utara dan searah jarum jam.

9. Untuk menentukan luas pengukuran dengan menggunakan sistem koordinat dapat
   menggunakan metode Sarus. Metode Sarus dapat digunakan apabila terdapat beberapa
   variabel X dan Y. Misalnya X1, X2, X3,..., Xn dan Y1, Y2, Y3,..., Yn. Maka kedua variabel
   tersebut dikali silang kemudian dibagi 2.
144




                                  Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Jelaskan pengertian dan tujuan proyeksi peta ?
2. Apa yang dimaksud dengan bidang datum dan bidang proyeksi ?
3. Keuntungan dan kerugian apa saja pada sistem proyeksi polyeder ?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem proyeksi peta TM-3°, serta ketentuan-
      ketentuannya ?
5. Jelaskan mengapa aturan kuadran Ilmu Ukur Tanah searah jarum jam ?
6. Sebutkan ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan permodelan bumi sebagai
      spheroid ?
7. Apa yang dimaksud dengan sudut jurusan ?
                                                                        LAMPIRAN A. 1




                            DAFTAR PUSTAKA


Anonim. (1983). Ukur Tanah 2. Jurusan         Hasanudin, M. dan kawan-kawan. 2004.
      Teknik Sipil PEDC. Bandung                 Survai dengan GPS. Pradnya Paramita.
                                                 Jakarta.
Barus, B dan U.S. Wiradisastra. 2000.
      Sistem Informasi dan Geografis.         Hendriatiningsih, S. 1990. Engineering
      Bogor.                                     Survey. Teknik geodesi FPTS ITB.
                                                 Bandung.
Budiono, M. dan kawan-kawan. 1999. Ilmu
      Ukur Tanah. Angkasa. Bandung.           Hayati, S. 2003. Aplikasi Geographical
                                                 Information System untuk Zonasi
Darmaji, A. 2006. Aplikasi Pemetaan Digital      Kesesuaian Lahan Perumahan di
   dan Rekayasa Teknik Sipil dengan              Kabupaten       Bandung.  Lembaga
   Autocad Development. ITB. Bandung.            Penelitian UPI. Bandung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.         Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.
      1999. Kurikulum Sekolah Menengah            2005. Struktur Kurikulum Program Studi
      Kejuruan. Depdikbud. Jakarta.               Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI.
                                                  Jurusan    Diktekbang    FPTK    UPI.
Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003.          Bandung.
      Standar Kompetensi Nasional Bidang
      SURVEYING. Bagian Proyek Sistem         Kusminingrum, N. dan G. Gunawan. 2003.
      Pengembangan. Jakarta.                     Evaluasi dan Strategi Pengendalian
                                                 Pencemaran Udara di Kota-Kota Besar
Gayo, Yusuf., dan kawan-kawan. 2005.             di Indonesia. Jurnal Litbang Jalan
     Pengukuran Topografi dan Teknik             Volume 20 No.1 Departemen Pekerjaan
     Pemetaan. PT. Pradjna Paramita.             Umum. Bandung.
     Jakarta.
                                              Lanalyawati. 2004. Pengkajian Pengelolaan
Gumilar, I. 2003. Penggunaan Computer            Lingkungan Jalan di Kawasan Hutan
   Aided Design (CAD) pada Biro Arsitek.         Lindung (Bedugul Bali). Jurnal Litbang
   Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan            Jalan Volume 21 No.2 Juli. Departemen
   FPTK UPI. Bandung.                            Pekerjaan Umum. Bandung.

Gunarta, I.G.W.S. dan A.B. Sailendra. 2003.   Marina, R. 2002. Aplikasi Geographical
   Penanganan Masalah Jalan Tembus               Information System untuk Evaluasi
   Hutan secara Terintegrasi : Kajian            Kemampuan Lahan di Kabupaten
   terhadap    Kebutuhan     Kelembagaan         Sumedang.
   Stakeholders. Jurnal Litbang Jalan
   Volume 20 No.3 Oktober. Departemen         Masri, RM. 2007. Kajian Perubahan
   Pekerjaan Umum. Bandung.                      Lingkungan   Zona     Buruk untuk
                                                 Perumahan. SPS IPB. Bogor.
Gunarso, P. dan kawan-kawan. 2004. Modul
   Pelatihan SIG. Pemkab Malinau              Mira, S. 1988. Poligon. Teknik Geodesi
                                                  FTSP ITB. Bandung.
LAMPIRAN A. 2




Mira, S. R.M. 1988. Ukuran Tinggi Teliti.         Bandung      Jawa     Barat).   Sekolah
    Teknik Geodesi FTSP ITB. Bandung.             Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
                                               Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Melani, D. 2004. Aplikasi Geographical            A Pengukuran Tinggi. Teknik Geodesi
   Information System untuk Zonasi                Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
   Kesesuaian Lahan Perumahan di                  Institut Teknologi Bandung.
   Kabupaten     Sumedang.    Jurusan
   Pendidikan Teknik Bangunan FPTK             Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
   UPI. Bandung.                                  B Pengukuran Horisontal. Teknik
                                                  Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
Mulyani, S.Y.R dan Lanalyawati. 2004.             Perencanaan       Institut    Teknologi
   Kajian Kebijakan dalam Pengelolaan             Bandung.
   Lingkungan Jalan di Kawasan Sensitif.
   Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No.1         Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
   Maret. Departemen Pekerjaan Umum.              C Pemetaan Topografi. Teknik Geodesi
   Bandung.                                       Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
                                                  Institut Teknologi Bandung.
Parhasta, E. 2002. Tutorial Arcview SIG
   Informatika. Bandung.                       Purworaharjo,U. 1982. Hitung proyeksi
                                                  Geodesi    (Proyeksi    Peta).   Teknik
Purwaamijaya, I.M. 2006. Ilmu Ukur Tanah          Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
   untuk Teknik Sipil. FPTK UPI. Bandung.         Perencanaan      Institut      Teknologi
                                                  Bandung.
Purwaamijaya,    I.M.   2005a.    Analisis
   Kemampuan Lahan di Kecamatan-               Staf    Ukur   Tanah.    1982.    Petunjuk
   Kecamatan       yang   Dilalui   Jalan             Penggunaan     Planimeter.   Pusat
   Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa                Pengembangan Penataran Guru
   Barat. Jurnal Permukiman ISSN : 0215-              Teknologi. Bandung.
   0778 Volume 21 No.3 Desember 2005.
   Departemen Pekerjaan Umum. Badan            Supratman, A.. 2002. Geometrik Jalan
   Penelitian     dan     Pengembangan.             Raya. FPTK IKIP. Bandung.
   Bandung.
                                               Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya. 1992.
Purwaamijaya,     I.M.   2005b.     Analisis        Pengukuran Horizontal. Bandung.:
   Kemampuan Lahan sebagai Acuan                    FPTK IKIP.
   Penyimpangan Gejala Konversi Lahan
   Sawah      Beririgasi  Menjadi    Lahan     Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya.
   Perumahan di Koridor Jalan Soekarno-             (1992). Modul Ilmu Ukur Tanah. FPTK
   Hatta Kota Bandung. Jurnal Informasi             IKIP. Bandung.
   Teknik ISSN : 0215-1928 No.28 – 2005.
   Departemen Pekerjaan Umum. Badan            Susanto dan kawan-kawan. (1994). Modul :
   Penelitian      dan     Pengembangan.             Pemindahan Tanah Mekanis. FPTK
   Penelitian       dan     Pengembangan             IKIP. Bandung.
   Sumberdaya Air. Balai Irigasi. Bekasi.
                                               Wongsotjitro. 1980. Ilmu     Ukur   Tanah.
Purwaamijaya, I.M. 2005c. Pola Perubahan           Kanisius .Yogyakarta.
   Lingkungan yang Disebabkan oleh
   Prasarana dan Sarana Jalan (Studi           Yulianto, W. 2004. Aplikasi AUTOCAD 2002
   Kasus : Jalan Soekarno-Hatta di Kota              untuk Pemetaan dan SIG. Gramedia.
                                                     Jakarta.
                                                                          LAMPIRAN B.1




                                GLOSARIUM

Absis             :   Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu X yang arahnya
                      horizontal pada bidang datar.
Analog            :   Sistem penyajian peta secara manual.
Astronomis        :   Ilmu yang mempelajari posisi relatif benda-benda langit terhadap
                      benda-benda langit lainnya.
Automatic level   :   Sipat datar optis yang mirip dengan tipe kekar tetapi dilengkapi
                      dengan alat kompensator untuk membuat garis bidik mendatar
                      dengan sendirinya.
Azimuth           :   Sudut yang dibentuk dari garis arah utara terhadap garis arah
                      suatu titik yang besarnya diukur searah jarum jam.
Barometri         :   Alat atau metode untuk mengukur tekanan udara yang
                      diaplikasikan untuk menghitung beda tinggi antara beberapa
                      titik di atas permukaan bumi yang berkategori gunung (slope >
                      40 %).
Benchmark         :   Titik ikat di lapangan yang ditandai oleh patok yang dibuat dari
                      beton dan besi dan telah diketahui koordinatnya hasil
                      pengukuran sebelumnya.
Bowditch          :   Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
                      bobotnya adalah perbandingan antara jarak resultante terhadap
                      total jarak resultante.
BPN               :   Badan Pertanahan Nasional (Kantor Agraria / Pertanahan).
CAD               :   Computer Aided Design. Penyajian gambar secara digital
                      menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
Cassini           :   Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
                      ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 2 titik
                      penolong dan dua buah lingkaran.
Collins           :   Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
                      ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 1 titik
                      penolong dan satu buah lingkaran.
Coordinate Set    :   Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
                      pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
                      adalah titik-titik di peta analog yang memiliki nilai-nilai
                      koordinat.
Cosinus           :   Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi datar
                      terhadap sisi miring.
Cross hair        :   Benang silang diafragma yang tampak pada lensa objektif
                      teropong sebagai acuan untuk membaca ketinggian garis bidik
                      pada rambu ukur.
Cross Section     :   Profil melintang. Penampang pada arah lebar yang
                      menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Datum             :   Titik perpotongan antara ellipsoid referensi dengan geoid (datum
                      relatif). Pusat ellipsoid referensi berimpit dengan pusat bumi
                      (datum absolut).
Digital           :   Sistem penyajian informasi (grafis atau teks) secara biner
                      elektronis.
LAMPIRAN B.2




Digitizer      :   Alat yang digunakan untuk mengubah peta-peta analog menjadi
                   peta-peta digital dengan menelusuri detail-detail peta satu
                   persatu.
Distorsi       :   Perubahan bentuk atau perubahan informasi geometrik yang
                   disajikan pada bidang lengkung (bola/ellipsoidal) terhadap
                   bentuk atau informasi geometrik yang disajikan pada bidang
                   datar.
DGN            :   Datum Geodesi Nasional, datum sistem koordinat nasional.
Dumpy level    :   Sipat datar optis tipe kekar, sumbu tegak menjadi satu dengan
                   teropong.
Ellipsoid      :   Bentuk 3 dimensi dari ellips yang diputar pada sumbu pendeknya
                   dan merupakan bentuk matematis bumi. Spheroid persamaan
                   kata ellipsoid.
Equator        :   Garis khatulistiwa yaitu garis yang membagi bumi bagian utara
                   dan bumi bagian selatan sama besar.
Flattening     :   Kegepengan. Nilai yang diperoleh dari pembagian selisih radius
                   terpendek dengan radius terpanjang ellipsoida terhadap radius
                   terpendek.
Fokus          :   Ketajaman penampakan objek pada teropong dan dapat diatur
                   dengan tombol fokus.
Fotogrametri   :   Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari mengenai
                   geometris foto-foto udara yang diperoleh dari pemotretan
                   menggunakan pesawat terbang.
Geodesi        :   Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari dan
                   menyajikan informasi bentuk permukaan bumi dengan
                   memperhatikan kelengkungan bumi.
Geodesic       :   Kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan
                   ellipsoida.
Geoid          :   Bentuk tidak beraturan yang mewakili permukaan air laut di
                   bumi dan memiliki energi potensial yang sama.
Geometri       :   Ilmu yang mempelajari bentuk matematis di atas permukaan
                   bumi.
Gradien        :   Besarnya nilai perbandingan sisi muka terhadap sisi samping
                   yang membentuk sudut tegak lurus (90o)
Grafis         :   Penyajian hasil pengukuran dengan gambar.
Greenwich      :   Kota di Inggris yang dilewati oleh garis meridian
                   (longitude/bujur) 0o.
Grid           :   Bentuk empat persegi panjang yang merupakan referensi posisi
                   absis dan ordinat yang diletakkan di muka peta yang panjang dan
                   lebarnya bergantung pada unit posisi X dan Y yang ditetapkan oleh
                   pembuat peta berdasarkan kaidah kartografi (pemetaan).
Hexagesimal    :   Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan
                   derajat, menit, second. Satu putaran = 360o. 1o=60’. 1’=60”.
Higragirum     :   Hg, air raksa yang dipakai sebagai cairan penunjuk nilai tekanan
                   udara pada alat barometer.
Horisontal     :   Garis atau bidang yang tegak lurus terhadap garis atau bidang
                   yang menjauhi pusat bumi.
Indeks         :   Garis kontur yang penyajiannya lebih tebal atau lebih ditonjolkan
                   dibandingkan garis-garis kontur lain setiap selang ketinggian
                   tertentu.
                                                                    LAMPIRAN B.3




Interpolasi    :   Metode perhitungan ketinggian suatu titik di antara dua titik
                   yang dihubungkan oleh garis lurus.
Intersection   :   Nama lain dari pengikatan ke muka, yaitu pengukuran titik
                   tunggal dari dua buah titik yang telah diketahui koordinatnya
                   dengan menempatkan alat theodolite di atas titik-titik yang telah
                   diketahui koordinatnya.
Galat          :   Selisih antara nilai pengamatan dengan nilai sesungguhnya.
GIS            :   Geographical Information System. Suatu sistem informasi yang
                   mampu mengaitkan database grafis dengan data base tekstualnya
                   yang sesuai.
GPS            :   Global Positioning System. Sistem penentuan posisi global
                   menggunakan satelit buatan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Gravitasi      :   Gaya tarik bumi yang mengarah ke pusat bumi dengan nilai +
                   9,8 m2/detik.
GRS-1980       :   GeodeticReference System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik
                   yang memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat
                   istilah geoid).
Hardcopy       :   Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk lembaran-lembaran
                   peta yang dicetak dengan printer atau plotter.
Hardware       :   Perangkat keras computer yang terdiri CPU (Central Processing
                   Unit), keyboard (papan ketik), printer, mouse.
Informasi      :   Sesuatu yang memiliki makna atau manfaat.
Inklinasi      :   Sudut vertical yang dibentuk dari garis bidik (dinamakan juga
                   sudut miring).
Interpolasi    :   Suatu rumusan untuk mencari ketinggian suatu titik yang diapit
                   oleh dua titik lain dengan konsep segitiga sebangun.
Jalon          :   Batang besi seperti lembing berwarna merah dan putih dengan
                   panjang + 1,5 meter sebagai target bidikan arah horizontal.
Jurusan        :   Sudut yang dihitung dari selisih absis dan ordinat dengan acuan
                   sudut nolnya arah sumbu Y positif searah jarum jam.
Kalibrasi      :   Suatu prosedur untuk mengeliminasi kesalahan sistematis pada
                   peralatan pengukuran dengan menyetel ulang komponen-
                   komponen dalam peralatan.
Kartesian      :   Sistem koordinar siku-siku.
Kompas         :   Alat yang digunakan untuk menunjukkan arah suatu garis
                   terhadap utara magnet yang dipengaruhi magnet bumi.
Kontrol        :   Upaya mengendalikan data hasil pengukuran di lapangan agar
                   Memenuhi syarat geometrik tertentu sehingga kesalahan hasil
                   pengukuran di lapangan dapat memenuhi syarat yang ditetapkan
                   dan kesalahan-kesalahan acaknya telah dikoreksi.
Kontur         :   Garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik
                   dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata
                   (MSL). Garis di atas peta yang menghubungkan titik-titik dengan
                   ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata dan
                   kerapatannya bergantung pada ukuran lembar penyajian (skala
                   peta).
Konvergensi    :   Serangkaian garis searah yang menuju suatu titik pertemuan.
Konversi       :   Proses mengubah suatu besaran (sudut/jarak) dari suatu sistem
                   menjadi sistem yang lain.
Koordinat      :   Posisi titik yang dihitung dari posisi nol sumbu X dan posisi nol
                   sumbu Y.
LAMPIRAN B.4




Koreksi         :   Nilai yang dijumlahkan terhadap nilai pengamatan sehingga
                    diperoleh nilai yang dianggap benar. Nilai koreksi = - kesalahan.
Kuadran         :   Ruang-ruang yang membagi sudut satu putaran menjadi 4
                    ruang yang pusat pembagiannya adalah titik 0.
Kuadrilateral   :   Bentuk segiempat dan diagonalnya yang diukur sudut-sudut dan
                    jarak-jaraknya untuk menentukan koordinat titik di lapangan.
Latitude        :   Nama lain garis parallel. Garis-garis khayal yang tegak lurus
                    garis meridian dan melingkari bumi. Paralel nol berada di
                    equator atau garis khatulistiwa.
Leveling head   :   Bagian yang terdiri dari tribach dan trivet, disebut juga kiap.
Logaritma       :   Nilai yang diperoleh dari kebalikan fungsi pangkat.
Longitude       :   Nama lain garis meridian. Garis-garis khayal di permukaan bumi
                    yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi.
                    Meridian nol berada di Kota Greenwich, Inggris.
Long Section    :   Profil memanjang. Penampang pada arah memanjang yang
                    menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Loxodrome       :   Nama lain adalah Rhumbline. Garis (kurva) yang
                    menghubungkan titik-titik dengan azimuth yang tetap.
Mapinfo         :   Desktop Mapping Software. Perangkat lunak yang digunakan
                    untuk pembuatan peta digital berinformasi yang dibuat dengan
                    spesifikasi teknis perangkat keras untuk pemakai tunggal dan
                    dibuat oleh perusahaan Mapinfo Corporation yang berdomisili di
                    Kota New York Amerika Serikat.
MSL             :   Mean Sea Level (permukaan air laut rata-rata yang diamati
                    selama periode tertentu di pinggir pantai). Sebagai acuan titik nol
                    pengukuran tinggi di darat.
Mistar          :   Papan penggaris berukuran 3 meter yang dapat dilipat dua
                    sebagai target pembacaan diafragma teropong untuk mengukur
                    tinggi garis bidik (benang atas, benang tengah, benang bawah).
Meridian        :   Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan
                    kutub utara dan kutub selatan bumi. Meridian nol berada di Kota
                    Greenwich, Inggris.
Nivo            :   Gelembung udara dan cairan yang berada pada tempat berbentuk
                    bola atau silinder sebagai penunjuk bahwa teropong sipat datar
                    atau theodolite telah sejajar dengan bidang yang memiliki energi
                    potensial yang sama.
Normal          :   Proyeksi peta yang sumbu putar buminya berimpit dengan garis
                    normal bidang perantara (datar, kerucut, silinder).
Oblique         :   Proyeksi peta yang sumbu putar buminya membentuk sudut
                    tajam (< 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar,
                    kerucut, silinder).
Offset          :   Metode pengukuran menggunakan alat-alat sederhana (prisma,
                    pita ukur, jalon).
Ordinat         :   Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu Y yang arahnya
                    vertical pada bidang datar.
Orientasi       :   Pengukuran untuk mengetahui posisi absolute dan posisi relative
                    Objek-objek di atas permukaan bumi.
Orthodrome      :   Proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi.
Overlay         :   Suatu fungsi pada analisis pemetaan digital dan GIS yang
                    Menumpangtindihkan tema-tema dengan jenis pengelompokkan
                    yang berbeda.
                                                                           LAMPIRAN B.5




Pantograph         :   Alat yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil
                       objek gambar.
Paralel            :   Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan
                       melingkari bumi. Paralel nol berada di equator atau garis
                       khatulistiwa.
Pegas              :   Gulungan kawat berbentuk spiral yang dapat memanjang dan
                       memendek karena gaya tekan atau tarik yang digunakan pada
                       alat sipat datar.
Pesawat            :   Istilah untuk alat ukur optis waterpass atau theodolite.
Phytagoras         :   Ilmuwan yang menemukan rumusan kuadrat garis terpanjang di
                       suatu segitiga dengan salah satu sudutnya 90o adalah sama
                       dengan perjumlahan kuadrat 2 sisi yang lain.
Planimeter         :   Alat untuk menghitung koordinat secara konvensional.
Planimetris        :   Bidang datar (2 dimensi) yang dinyatakan dalam sumbu X dan Y
Point Set          :   Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
                       pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
                       adalah titik-titik di peta analog yang identik dengan titik-titik di
                       peta digital yang telah ada.
Polar              :   Sistem koordinat kutub (sudut dan jarak).
Polyeder           :   Sistem proyeksi dengan bidang perantara kerucut, sumbu putar
                       bumi berimpit dengan garis normal kerucut, informasi geometric
                       yang dipertahankan sama adalah sudut (conform) dan tangent.
Polygon            :   Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva terbuka atau
                       Tertutup untuk menentukan koordinat titik-titik di atas
                       permukaan bumi.
Profil             :   Potongan gambaran turun dan naiknya permukaan tanah baik
                       memanjang atau melintang.
Proyeksi peta      :   Proses memindahkan informasi geometrik dari bidang lengkung
                       (bola/ellipsoidal) ke bidang datar melalui bidang perantara
                       (bidang datar, kerucut, silinder).
Radian             :   Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut satu putaran =
                       2 π radian. π = 22/7 = 3,14……
RAM                :   Random Acces Memory. Bagian dalam komputer yang
                       digunakan sebagai tempat menyimpan dan memroses fungsi-
                       fungsi matematis untuk sementara waktu.
Raster             :   Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan unit-unit
                       terkecil berbentuk bujur sangkar. Ketelitian unit-unit terkecil
                       dinamakan dengan resolusi.
Remote Sensing     :   Penginderaan jauh. Pemetaan bentuk permukaan bumi
                       menggunakan satelit buatan dengan ketinggian tertentu yang
                       direkam secara digital dengan ukuran-ukuran kotak tertentu yang
                       dinamakan pixel.
Resiprocal         :   Salah satu metode pengukuran beda tinggi dengan menggunakan
                       2 alat sipat datar dan rambunya yang dipisahkan oleh halangan
                       alam berupa sungai atau lembah dan dilakukan bolak-balik untuk
                       meningkatkan ketelitian hasil pengukuran.
Reversible level   :   Sipat datar optis tipe reversi yang teropongnya dapat diputar
                       pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang
                       mempunyai sumbu tegak.
Rotasi             :   Perubahan posisi suatu objek karena diputar pada suatu sumbu
                       putar tertentu.
LAMPIRAN B.6




Sarrus            :   Orang yang menemukan rumusan perhitungan luas dengan nilai-
                      nilai koordinat batas kurva.
Scanner           :   Alat yang mengubah gambar-gambar atau peta-peta analog
                      Menjadi gambar-gambar/peta-peta digital dengan cara
                      mengkilas.
Sentisimal        :   Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan grid,
                      centigrid, centicentigrid. Satu putaran = 400g, 1g=100c, 1c=100cc.
Simetris          :   Bagian yang dibagi sama besar oleh suatu garis diagonal.
Sinus             :   Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
                      sisi miring.
Skala             :   Nilai perbandingan besaran jarak atau luas di atas kertas terhadap
                      jarak dan luas di lapangan.
Softcopy          :   Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk file-file digital.
Software          :   Perangkat lunak computer untuk berbagai macam kepentingan.
Stadia            :   Benang tipis berwarna hitam yang tampak di dalam teropong
                      alat.
Statif            :   Kaki tiga untuk menyangga alat waterpass atau theodolite optis.
Tachymetri        :   Metode pengukuran titik-titik detail menggunakan alat theodolite
                      yang diikatkan pada pengukuran kerangka dasar vertikal dan
                      horisontal.
Tangen            :   Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
                      sisi miring.
Tilting level     :   Sipat datar optis tipe jungkit yang sumbu tegak dan teropong
                      Dihubungkan dengan engsel dan sekrup pengungkit.
TM-3              :   Sistem proyeksi Universal Transverse Mercator dengan faktor
                      Skala di meridian sentral adalah 0,9999 dan lebar zone = 3o.
Topografi         :   Peta yang menyajikan informasi di atas permukaan bumi baik
                      unsur alam maupun unsur buatan manusia dengan skala sedang
                      dan kecil.
Total Station     :   Alat ukur theodolite yang dilengkapi dengan perangkat elekronis
                      untuk menentukan koordinat dan ketinggian titik detail secara
                      otomatis digital menggunakan gelombang elektromagnetis.
Trace             :   Serangkaian garis yang merupakan garis tengah suatu bangunan
                      (jalan, saluran, jalur lintasan).
Transit           :   Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
                      bobotnya adalah perbandingan antara jarak proyeksi pada sumbu
                      X atau Y terhadap total jarak proyeksi pada sumbu X atau Y.
Transversal       :   Proyeksi peta yang sumbu putar buminya tegak lurus
                      (membentuk sudut 90o) dengan garis normal bidang perantara
                      (datar, kerucut, silinder).
Triangulasi       :   Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudutnya untuk
                      Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Triangulaterasi   :   Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya di
                      lapangan untuk menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Tribach           :   Penyangga sumbu kesatu dan teropong.
Trigonometri      :   Bagian dari ilmu matematika yang diaplikasikan untuk
                      Menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan
                      bumi yang berkategori bermedan bukit (8%< slope < 40 %).
Trilaterasi       :   Serangkaian segitiga yang diukur jarak-jaraknya untuk
                      Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
                                                                    LAMPIRAN B.7




Trivet          :   Bagian terbawah dari alat sipat datar dan theodolite yang dapat
                    dikuncikan pada
                    statif.
Unting-unting   :   Bentuk silinder-kerucut terbuat dari kuningan yang digantung di
                    bawah alat waterpass atau theodolite sebagai penunjuk arah titik
                    nadir atau pusat bumi yang mewakili titik patok.
UTM             :   Universal Transverse Mercator. Sistem proyeksi peta global yang
                    memiliki lebar zona 6o sehingga jumlah zona UTM seluruh dunia
                    adalah 60 zona. Bidang perantara yang digunakan adalah silinder
                    dengan posisi transversal (sumbu putar bumi tegak lurus
                    terhadap garis normal silinder), informasi geometrik yang
                    dipertahankan sama adalah sudut (konform) dan secant.
Vektor          :   Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan garis,
                    titik dan kurva. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan
                    resolusi.
Vertikal        :   Garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi.
Visual          :   Penglihatan kasat mata.
Waterpass       :   Alat atau metode yang digunakan untuk mengukur tinggi
                    garis bidik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan
                    datar (slope < 8 %).
WGS-84          :   World Geodetic System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik yang
                    Memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah
                    geoid).
Zenith          :   Titik atau garis yang menjauhi pusat bumi dari permukaan bumi.
Zone            :   Kurva yang dibatasi oleh batas-batas dengan kriteria tertentu.
                                                                               LAMPIRAN C.1




DAFTAR TABEL


No                 Teks                   Hal    No                Teks                  Hal

1    Ketelitian posisi horizontal (x,y)          30   Formulir pengukuran titik detail   374
     titik triangulasi                      14   31   Formulir pengukuran titik detail
2    Tingkat Ketelitian Pengukuran                    posisi 1                            375
     Sipat Datar                            61   32   Formulir pengukuran titik detail
3    Tingkat Ketelitian Pengukuran                    posisi 2                            376
     Sipat Datar                            96   33   Formulir pengukuran titik detail
4    Ukuran kertas untuk                              posisi 3                            377
     penggambaran hasil                          34   Formulir pengukuran titik detail
     pengukuran dan pemetaan              108         posisi 4                            378
5    Formulir pengukuran sipat                   35   Formulir pengukuran titik detail
     datar                                115         posisi 5                            379
6    Formulir pengukuran sipat                   36   Formulir pengukuran titik detail
     datar                                116         posisi 6                            380
7    Kelas proyeksi peta                  123    37   Formulir pengukuran titik detail
8    Aturan kuadran trigonometris         139         posisi 7                            381
9    Cara Sentisimal ke cara                     38   Formulir pengukuran titik detail
     seksagesimal                         148         posisi 8                            382
10                                               39   Bentuk muka tanah dan
     Cara Sentisimal ke cara radian       149
                                                      interval kontur.                    391
11   Cara seksagesimal ke cara
                                                 40   Tabel perhitungan galian dan
     radian                                150
                                                      timbunan                            431
12   Cara radian ke cara sentisimal        151   41   Daftar load factor dan
13   Cara seksagesimal ke cara                        procentage swell dan berat dari
     radian                               152         berbagai bahan                     433
14   Buku lapangan untuk                         42   Daftar load factor dan
     pengukuran sudut dengan                          procentage swell dan berat dari
     repitisi.                            186         berbagai bahan                     434
15   Metode perhitungan perbedaan                43   Keunggulan dan kekurangan
     sudut ganda dan perbedaan                        pemetaan digital dengan
     observasi                            186         konvensional                       445
16   Arti dari perbedaan sudut                   44   Contoh keterangan warna
     ganda dan perbedaan                              gambar                             468
     observasi.                           187    45   Keterangan koordinat               468
17   Buku lapangan sudut vertikal.        187    46   Kelebihan dan kekurangan
18   Daftar Logaritma                     204         pekerjaan GIS dengan
19   Hitungan dengan cara                             manual/pemetaan Digital            482
     logaritma                            208    47   Pendigitasian Konvensional di
20   Hitungan cara logaritma              230         banding pendigitasian GPS           498
21   Ukuran Kertas Seri A                 283    48   Beberapa fungsi tetangga
22                                                    sederhana                           509
     Bacaan sudut                         287    49   Perbandingan Bentuk Data
23   Jarak                                287         Raster dan Vektor                   511
24   Formulir pengukuran poligon 1        303
25   Formulir pengukuran poligon 2        304
26   Formulir pengukuran poligon 3        305
27   Contoh perhitungan garis bujur
     ganda                                319
28   format daftar planimeter tipe 1      326
29   format daftar planimeter tipe 2      326
                                                                       LAMPIRAN D.1




DAFTAR GAMBAR                               No                Teks                  Hal

                                            37   Kesalahan Skala Nol Rambu          42
No               Teks                 Hal   38   Bukan rambu standar                43
                                            39   Sipat Datar di Suatu Slag          47
1    Anggapan bumi                      2   40   Rambu miring                       54
2    Ellipsoidal bumi                   3   41   Kelengkungan bumi                  55
3    Aplikasi pekerjaan                     42   Kelengkungan bumi                  55
     pemetaan pada                          43
     bidang teknik sipil               6         Refraksi atmosfir                  56
4                                           44   Model diagram alir teori
     Staking out                       6         kesalahan                          57
5    Pengukuran sipat datar optis      7    45   Pengukuran sipat datar optis       62
6    Alat sipat datar                  9    46   Keterangan pengukuran sipat
7    Pita ukur                         9         datar                              64
8    Rambu ukur                        9    47   Cara tinggi garis bidik            64
9    Statif                            9    48   Cara kedua pesawat di tengah-
10                                               tengah                             66
     Barometris                       10    49
11                                               Keterangan cara ketiga             66
     Pengukuran Trigonometris         10    50
12                                               Cotoh pengukuran resiprokal        68
     Pengukuran poligon               12    51
13                                               Sipat datar tipe jungkit           68
     Jaring-jaring segitiga           15    52
14   Pengukuran pengikatan ke                    Contoh pengukuran resiprokal       69
     muka                             16    53   Dumpy level                        73
15   Pengukuran collins               17    54   Tipe reversi                       74
16   Pengukuran cassini               18    55   Dua macam tilting level            75
17   Macam – macam sextant            18    56   Bagian-bagian dari tilting level   76
18   Alat pembuat sudut siku cermin   19    57   Instrumen sipat datar otomatis     77
19   Prisma bauernfiend               19    58   Bagian-bagian dari sipat datar
20                                               otomatis                           77
     Jalon                            19    59
21                                               Rambu ukur                         79
     Pita ukur                        19    60   Contoh pengukuran
22   Pengukuran titik detail                     trigonometris                      80
     tachymetri                       21    61
23   Diagram alir pengantar survei               Gambar koreksi trigonometris       81
     dan pemetaan                     22    62   Bagian-bagian barometer            82
24   Kesalahan pembacaan rambu        26    63   Barometer                          83
25   Pengukuran sipat datar           27    64   Pengukuran tunggal                 85
26   Prosedur Pemindahan Rambu        27    65   Pengukuran simultan                86
27   Kesalahan Kemiringan Rambu       28    66   Model diagram alir pengukuran
28                                               kerangka dasar vertikal            88
     Pengaruh kelengkungan bumi       29    67
29                                               Proses pengukuran                  92
     Kesalahan kasar sipat datar      30    68
30                                               Arah pengukuran                    92
     Kesalahan Sumbu Vertikal         31    69
31   Pengaruh kesalahan kompas                   Alat sipat datar                   93
     theodolite                       36    70   Rambu ukur                         93
32   Sket perjalanan                  37    71   Cara menggunakan rambu
33   Gambar Kesalahan Hasil                      ukur di lapangan                   94
     Survei                           37    72   Statif                             94
34   Kesalahan karena penurunan             73   Unting-unting                      94
     alat                             39    74   Patok kayu dan beton/ besi         95
35   Pembacaan pada rambu I           40    75   Pita ukur                          94
36   Pembacaan pada rambu II          41    76   Payung                             94
LAMPIRAN D.2




No                Teks                 Hal

77    Cat dan kuas                      96
78    Pengukuran sipat datar            99   105   Peta sungai                     135
79    Pengukuran sipat datar rambu           106   Peta jaringan                   136
      ganda                            100   107   Peta dunia                      136
80    Pengukuran sipat datar di luar
                                             108   Sistem koordinat geografis      139
      slag rambu                       101
81    Pengukuran sipat datar dua             109   Bumi sebagai spheroid.          139
      rambu                            102   110   Sudut jurusan                   141
82    Pengukuran sipat datar                 111   Aturan kuadran geometris        141
      menurun                          102   112
83                                                 Aturan kuadran trigonometris    141
      Pengukuran sipat datar menaik    103   113   Model diagram alir sistem
84    Pengukuran sipat datar tinggi                koordinat proyeksi peta dan
      bangunan                         103         aturan kuadran                  142
85    Pembagian kertas seri A          108   114   Pembacan derajat                158
86    Pengukuran kerangka dasar              115
      vertikal                         117         Pembacaan grade                 158
87    Diagram alir pengukuran sipat          116   Pembacaan menit                 158
      datar kerangka dasar vertikal    118   117   Pembacaan centigrade            158
88    Jenis bidang proyeksi dan              118   Sudut jurusan                   159
      kedudukannya terhadap                  119   Sudut miring                    159
      bidang datum                     124
                                             120   Cara pembacaan sudut
89    Geometri elipsoid.               125         mendatar dan sudut miring       159
90    Rhumbline atau loxodrome               121   Arah sudut zenith (sudut
      menghubungkan titik-titik        125         miring).                        160
91    Oorthodrome dan loxodrome              122   Theodolite T0 Wild              161
      pada proyeksi gnomonis dan
                                             123   Theodolite                      162
      proyeksi mercator.               125
92    Proyeksi kerucut: bidang datum         124   Metode untuk menentukan
      dan bidang proyeksi.             126         arah titik A.                   163
93    Proyeksi polyeder: bidang              125   Metode untuk menentukan
      datum dan bidang proyeksi.       126         arah titik A dan titik B.       163
94    Lembar proyeksi peta polyeder          126   Theodolite (tipe sumbu ganda)   165
      di bagian lintang utara dan            127   Theodolite (tipe sumbu
      lintang selatan                  127         tunggal)                        165
95    Konvergensi meridian pada              128   Sistem lensa teleskop           165
      proyeksi polyeder.               127   129   Penyimpangan kromatik           167
96    Kedudukan bidang proyeksi
                                             130   Penyimpangan speris             167
      silinder terhadap bola bumi
      pada proyeksi UTM                129   131   Diafragma (benang silang)       167
97    Proyeksi dari bidang datum ke          132   Tipe benang silang              167
      bidang proyeksi.                 130   133   Pembidik Ramsden                168
98    Pembagian zone global pada             134
      proyeksi UTM.                    130         Teleskop pengfokus dalam        168
99    Konvergensi meridian pada              135   Niveau tabung batangan          169
      proyeksi UTM                     131   136   Niveau tabung bundar.           169
100   Sistem koordinat proyeksi peta         137   Hubungan antara gerakan
      UTM.                             132         gelembung dan inklinasi.        170
101   Grafik faktor skala proyeksi           138   Berbagai macam lingkaran
      peta UTM                         132         graduasi.                       171
102   Peta kota Bandung                134   139   Vernir langsung.                171
103   Peta Geologi                     134   140   Pembacaan vernir langsung       171
                                             141   Pembacaan vernir mundur
                                                   20,7.                           171
                                                                           LAMPIRAN D.3




No                 Teks                  Hal


142   Pembacaan berbagai macam
      vernir.                            172   177   Pengikatan ke muka                 207
143   Sistem optis theodolite untuk            178   Model Diagram Alir Jarak,
      mikrometer skala.                  172         Azimuth dan Pengikatan Ke
144   Pembacaan mikrometer skala         172         Muka                               209
145   Sistem optis mikrometer tipe             179   Kondisi alam yang dapat
      berhimpit.                         173         dilakukan cara pengikatan
146   Contoh pembacaan mikrometer                    ke muka                            213
      tipe berhimpit.                    173   180   Kondisi alam yang dapat
147   Sistem optis theodolite dengan                 dilakukan cara pengikatan ke
      pembacaan tipe berhimpit           173         belakang                           213
148   Alat penyipat datar speris.        174   181   Pengikatan ke muka                 214
149   Alat penyipat datar dengan               182   Pengikatan ke belakang             214
      sentral bulat.                     174   183   Tampak atas permukaan bumi         215
150   Unting-unting                      175   184   Pengukuran yang terpisah
151   Alat penegak optis                 175         sungai                             215
152   Kesalahan sumbu kolimasi.          175   185   Alat Theodolite                    216
153   Kesalahan sumbu horizontal         177   186   Rambu ukur                         217
154   Kesalahan sumbu vertikal.          177   187   Statif                             217
155   Kesalahan eksentris.               178   188   Unting-unting                      217
156   Kesalahan luar.                    178   189   Contoh lokasi pengukuran           217
157   Penyetelan sekrup-sekrup                 190   Penentuan titik A,B,C dan P        218
      penyipat datar                     179   191    Pemasangan Theodolite di titik
158   Penyetelan benang silang                       P                                  218
      (Inklinasi).                       180   192   Penentuan sudut mendatar           218
159   Penyetelan benang silang
                                               193   Pemasangan statif                  219
      (Penyetelan garis longitudinal).   180
160                                            194   Pengaturan pembidikan
      Penyetelan sumbu horizontal.       181
                                                     theodolite                         219
161   Pengukuran sudut tunggal.          182   195   Penentuan titik penolong
162   Metode arah                        185         Collins                            220
163   Metode sudut.                      186   196   Besar sudut α dan β                221
164   Koreksi otomatis untuk sudut             197   Garis bantu metode Collins         222
      elevasi                            186   198   Penentuan koordinat H dari titik
165   Metode pengukuran sudut                        A                                  222
      vertikal (1).                      188   199   Menentukan sudut αah               222
166   Metode observasi sudut
                                               200   Menentukan rumus dah               223
      vertikal (2).                      188
167   Metode observasi sudut                   201   Penentuan koordinat H dari titik
      vertikal (3).                      188         B                                  223
168   Diagram alir macam sistem                202   Menentukan sudut α bh              223
      besaran sudut                      189   203   Menentukan rumus dbh               224
169   Pengukuran Jarak                   193   204   Penentuan koordinat P dari titik
170   Lokasi Patok                       194         A                                  224
171                                            205   Menentukan sudut αap               224
      Spedometer                         195
172                                            206   Menentukan sudut γ                 224
      Pembagian kuadran azimuth          197
173                                            207   Menentukan rumus dap               225
      Azimuth Matahari                   200
174                                            208   Penentuan koordinat P dari titik
      Pengikatan Kemuka                  202
                                                     B                                  225
175   Pengikatan ke muka                 203
LAMPIRAN D.4




No                 Teks                   Hal


209   Menentukan sudut αbp                225
210   Menentukan rumus dbp                225   241   Model diagram alir cara
211   Cara Pengikatan ke belakang                     pengikatan ke belakang
      metode Collins                      227         metode cassini                  255
212   Menentukan besar sudut α dan              242   Poligon terbuka                 262
      β                                   233   243   Poligon tertutup                262
213   Menentukan koordinat titik                244   Poligon bercabang               262
      penolong Collins                    233
                                                245   Poligon kombinasi               263
214   Menentukan titik P                  233
                                                246   Poligon terbuka tanpa ikatan    263
215   Menentukan koordinat titik A,B
      dan C pada kertas grafik            234   247   Poligon Terbuka Salah Satu
216   Garis yang dibentuk sudut α                     Ujung terikat Azimuth           264
      dan β                               234   248   Poligon Terbuka Salah Satu
217   Pemasangan transparansi                         Ujung Terikat Koordinat         264
      pada kertas grafik                  234   249   Poligon Terbuka Salah Satu
218   Model diagram alir cara                         UjungTerikat Azimuth dan
      pengikatan ke belakang                          Koordinat                       265
      metode collins                      235   250   Poligon Terbuka Kedua Ujung
219                                                   Terikat Azimuth                 266
      Pengukuran di daerah tebing         239
                                                251   Poligon terbuka, salah satu
220   Pengukuran di daerah jurang         239         ujung terikat azimuth
221   Pengukuran terpisah jurang          240         sedangkan sudut lainnya
222   Pengikatan ke belakang                          terikat koordinat               266
      metode Collins                      241   252   Poligon Terbuka Kedua Ujung
223   Pengikatan ke belakang                          Terikat Koordinat               267
      metode Cassini                      241   253   Poligon Terbuka Salah Satu
224   Theodolite                          242         Ujung Terikat Koordinat dan
225                                                   Azimutk Sedangkan Yang Lain
      Rambu ukur                          242
                                                      Hanya Terikat Azimuth           268
226   Statif                              242   254   Poligon Terbuka Salah Satu
227   Unting-unting                       243         Ujung Terikat Azimuth dan
228   Pengukuran sudut α dan β di                     Koordinat Sedangkan Ujung
      lapangan.                           244         Lain Hanya Terikat Koordinat    269
229   Lingkaran yang                            255   Poligon Terbuka Kedua Ujung
      menghubungkan titik A, B, R                     Terikat Azimuth dan Koordinat   270
      dan P.                              244   256   Poligon Tertutup                270
230   Lingkaran yang                            257   Topcon Total Station-233N       272
      menghubungkan titik B, C, S
                                                258   Statif                          272
      dan P.                              245
231   Cara pengikatan ke belakang               259   Unting-Unting                   273
      metode Cassini                      245   260   Patok Beton atau Besi           273
232   Menentukan dar                      246   261   Rambu Ukur                      274
233   Menentukan αar                      246   262   Payung                          274
234   Menentukan das                      247   263   Pita Ukur                       274
235   Menentukan αas                      247   264   Formulir dan alat tulis         275
236   Penentuan koordinat titik A, B            265   Benang                          275
      dan C.                              254
                                                266   Nivo Kotak                      276
237   Menentukan sudut 900 – α dan
      900 - β                             254   267   Nivo tabung                     276
238   Penentuan titik R dan S             254   268   Nivo tabung                     276
239   Penarikan garis dari titik R ke S   254   269   Jalon Di Atas Patok
                                                                                      278
                                                                           LAMPIRAN D.5




No                 Teks                  Hal   No                 Teks                  Hal


270   Penempatan Rambu Ukur              278   301    Pembagian luas yang sama
271   Penempatan Unting-Unting           279         dengan garis lurus sejajar
272                                                  salah satu segitiga                334
      Pembagian Kertas Seri A            283
                                               302    Pembagian luas yang sama
273   Skala Grafis                       284         dengan garis lurus melalui
274   Situasi titik-titik KDH poligon                sudut puncak segitiga              335
      tertutup metode transit            306   303   Pembagian dengan
275    Situasi titik-titik KDH poligon               perbandingan a : b : c             335
      tertutup metode bowdith            307   304   Pembagian dengan
276   Situasi lapangan metode transit    308         perbandingan m : n oleh suatu
277   Situasi lapangan metode                        garis lurus melalui salah satu
      Bowditch                           309         sudut segiempat                    335
278   Model Diagram Alir kerangka              305   Pembagian dengan garis lurus
      dasar horizontal metode                        sejajar dengan trapesium           335
      poligon                            310   306   Pembagian suatu poligon            336
279   Metode diagonal dan tegak                307   Penentuan garis batas              337
      lurus                              314
                                               308   Perubahan segi empat menjadi
280   Metode trapesium                   315         trapesium                          337
281    Offset dengan interval tidak            309   Pengurangan jumlah sisi
      tetap                              316         polygon tanpa merubah luas         337
282   Offset sentral                     316   310   Perubahan garis batas yang
283   Metoda simpson                     316         berliku-liku menjadi garis lurus   338
284   Metoda 3/8 simpson                 317   311   Perubahan garis batas
285   Garis bujur ganda pada poligon                 lengkung menjadi garis lurus       338
      metode koordinat tegak lurus       318   312   Posisi start yang harus di klik    338
286   Metode koordinat tegak lurus       319   313   Start – all Program – autocad
287                                                  2000                               338
      Metode kisi-kisi                   320   314
288                                                  Worksheet autocad 2000             339
      Metode lajur                       320   315
289                                                  Open file                          339
      Planimeter fixed index model       321   316
290   Sliding bar mode dengan skrup                  Open file                          339
      penghalus                          322   317   Gambar penampang yang
291   Sliding bar mode tanpa skrup                   akan dihitung Luasnya              339
      penghalus                          323   318   Klik poin untuk menghitung
292   Pembacaan noneus model 1                       luas                               340
      dan 2                              324   319   Klik poin untuik menghitung
293                                                  luas                               340
      Bacaan roda pengukur               325   320
294                                                  Diagram alir perhitungan luas      341
      Penempatan planimeter              328   321
295                                                  Prinsip tachymetri                 347
      Gambar kerja                       328   322
296   Gambar pengukuran peta                         Sipat datar optis luas             349
      dengan planimeter liding bar             323   Pengukuran sipat datar luas        358
      model yang tidak dilengkapi              324   Tripod pengukuran vertikal         358
      zero setting (pole weight/diluar         325   Theodolite Topcon                  361
      kutub)                             329   326   Statif                             361
297   Hasil bacaan positif               330   327   Unting-unting                      361
298   Hasil bacaan negatif               331   328   Jalon di atas patok                362
299   Pengukuran luas peta pole
                                               329   Pita ukur                          362
      weight (pemberat kutup) di
      dalam peta                         332   330   Rambu ukur                         362
300   Pengukuran luas peta pole                331   Payung                             362
      weight dalam peta                        332   Formulir Ukur                      362
                                         334
LAMPIRAN D.6




No                 Teks                   Hal


333   Cat dan Kuas                        363
334   Benang                              363
335                                             360   Perubahan garis pantai dan
      Segitiga O BT O’                    366
                                                      garis kontur sesudah kenaikan
336   Pengukuran titik detail
                                                      muka air laut.                     398
      tachymetri                          367
                                                361   Garis kontur lembah,
337   Theodolit T0 wild                   369         punggungan dan perbukitan
338   Siteplan pengukuran titik detail                yang memanjang.                    399
      tachymetri                          370   362   Plateau                            400
339   Kontur tempat pengukuran titik
                                                363   Saddle                             400
      detail tachymetri                   371
340   Pengukuran titik detail                   364    Pass                              400
      tachymetri dengan garis kontur            365   Menggambar penampang               402
      1                                   372   366   Kotak dialog persiapan Surfer      403
341   Pengukuran titik detail
                                                367   Peta tiga dimensi                  404
      tachymetri dengan garis kontur
      2                                   373   368   Peta kontur dalam bentuk dua
342   Diagram alir Pengukuran titik-                  dimensi.                           404
      titik detail metode tachymetri      383   369   Lembar worksheet.                  405
343   Pembentukan garis kontur                  370   Data XYZ dalam koordinat
      dengan membuat proyeksi                         kartesian                          405
      tegak garis perpotongan                   371   Data XYZ dalam koordinat
      bidang mendatar dengan                          decimal degrees.                   406
      permukaan bumi.                     387   372   Jendela editor menampilkan
344   Penggambaran kontur                 388         hasil perhitungan volume.          406
345   Kerapatan garis kontur pada               373   Jendela GS scripter                407
      daerah curam dan daerah                   374   Simbolisasi pada peta kontur
      landai                              389         dalam surfer.                      408
346   Garis kontur pada daerah                  375    Peta kontur dengan kontur
      sangat curam.                       389         interval I.                        408
347   Garis kontur pada curah dan               376   Peta kontur dengan interval 3      409
      punggung bukit.                     390   377   Gambar peta kontur dan model
348   Garis kontur pada bukit dan                     3D.                                410
      cekungan                            390   378   Overlay peta kontur dengan
349   Kemiringan tanah dan kontur                     model 3D                           410
      gradient                            391   379   Base map foto udara.               411
350   Potongan memanjang dari                   380   Alur garis besar pekerjaan
      potongan garis kontur               392         pada surfer.                       411
351   Bentuk, luas dan volume                   381
      daerah genangan berdasarkan                     Lembar plot surfer.                412
      garis kontur.                       392   382   Obyek melalui digitasi.            413
352   Rute dengan kelandaian                    383   Model diagram alir garis kontur,
      tertentu.                           392         sifat dan interpolasinya           414
353   Titik ketinggian sama                     384   Sipat datar melintang              419
      berdasarkan garis kontur            393   385   Tongkat sounding                   419
354   Garis kontur dan titik ketinggian   393   387   Potongan tipikal jalan             420
355   Pengukuran kontur pola spot               388   Contoh penampang galian dan
      level dan pola grid.                394         timbunan                           421
356   Pengukuran kontur pola radial.      394   389   Meteran gulung                     422
357   Pengukuran kontur cara                    390   Pesawat theodolit                  422
      langsung                            395
                                                391   Jalon                              422
358   Interpolasi kontur cara taksiran    396
                                                                           LAMPIRAN D.7




No                 Teks                 Hal


392   Rambu ukur                        422
393   Stake out pada bidang datar       422
394   Stake out pada bidang yang
      berbeda ketinggian                423
395    Stake out beberapa titik
      sekaligus                         423
396   Volume cara potongan                    422   Contoh Hasil pemetaan Digital
      melintang rata-rata               424         Menggunakan AutoCAD                  463
397                                           423   Contoh : Hasil pemetaan
      Volume cara jarak rata-rata       424
                                                    Digital Menggunakan AutoCAD          463
398   Volume cara prisma                425   424   Hasil pemetaan Digital
399   Volume cara piramida kotak        425         Menggunakan AutoCAD                  464
400   Volume cara dasar sama bujur            425   Hasil pemetaan Digital
      sangkar                           425         Menggunakan AutoCAD                  464
401   Volume cara dasar sama –                426   Tampilan auto cad                    465
      segitiga                          425   427   Current pointing device              466
402   volume cara kontur                426   428    Grid untuk pengujian digitizer      467
403   Penampang melintang jalan
                                              429   Grid untuk peta skala 1:25.000.      469
      ragam 1                           430
404   Penampang melintang jalan               430   Bingkai peta dan grid UTM per
      ragam 2                           430         1000 m                               470
405   Penampang melintang jalan               431   Digitasi jalan arteri dan jalan
      ragam 3                           431         lokal, (a) peta asli, (b) hasil
406                                                 digitasi jalan, kotak kecil adalah
      Penampang trapesium               434
                                                    vertex (tampil saat objek
407   Penampang timbunan                435         terpilih).                           471
408   Koordinat luas penampang          435   432   Perbesaran dan perkecilan            472
409   Volume trapesium                  436   433   Model Digram Alir Pemetaan
410   Penampang galian                  437         Digital                              476
411   Penampang timbunan                438   434   Contoh : Penggunaan
412   Penampang galian dan                          Komputer dalam Pembuatan
      timbunan                          439         Peta                                 482
413   Penampang melintang galian              435   Contoh : Penggunaan
      dan timbunan                      440         Komputer dalam Pembuatan
414   Diagram alir perhitungan galian               Peta                                 482
      dan timbunan                      441   436   Komputer sebagai fasilitas
415                                                 pembuat peta                         483
      Perangkat keras                   446   437
416                                                 Foto udara suatu kawasan             483
      Perangkat keras Scanner           446   438   Contoh : Peta udara Daerah
417   Peta lokasi                       451         Propinsi Aceh                        483
418   Beberapa hasil pemetaan                 439   Data grafis mempunyai tiga
      digital, yang dilakukan oleh                  elemen : titik (node), garis (arc)
      Bakosurtanal                      452         dan luasan (poligon)                 484
419   Salah satu alat yang dipakai            440   Peta pemuktahiran pasca
      dalam GPS type NJ 13              453         bencana tsunami                      484
420   Hasil Foto Udara yang                   441   Komponen utama SIG                   486
      dilakukan di daerah Nangroe             442
      Aceh Darussalam yang                          Perangkat keras                      486
      dilakukan pasca Tsunami,                443   Perangkat keras keyboard             487
      untuk keperluan Infrastruktur           444   Perangkat keras CPU                  487
      Rehabilitasi dan Konstruksi       454   445   Perangkat keras Scanner              487
LAMPIRAN D.8




No                Teks                  Hal


446   Perangkat keras monitor           487
447   Perangkat keras mouse             487
448   Peta arahan pengembangan                467   Peta perubahan penutupan
      komoditas pertanian kabupaten                 lahan pulau Kalimantan             504
      Ketapang, Kalimantan Barat        490   468   Peta infrastruktur di daerah
449   Peta Citra radar Tanjung                      Nangreo Aceh Darussalam            506
      Perak, Surabaya                   490   469   Garis interpolasi hasil program
450   Peta hasil foto udara daerah                  Surfer                             517
      Nangroe Aceh Darussalam                 470   Garis kontur hasil interpolasi     517
      Pasca Tsunami                     491   471   Interpolasi Kontur cara taksiran   518
451   NPS360 for robotic Total                472   Mapinfo GIS                        519
      Station                           491
                                              473   Model Diagram Alir Sistem
452   NK10 Set Holder dan Prisma
                                                    Informasi Geografis                520
      Canister                          491
453   NK12 Set Holder dan Prisma        491
454   NK19 Set                          491
455   GPS type NL 10                    492
456   GPS type NL 14 fixed adapter      492
457   GPS type NJ 10 with optical
      plummet                           492
458   GPS type NK 12 Croth single
      prism Holder Offset : 0 mm        492
459   GPS type CPH 1 A Leica
      Single Prism Holder Offset : 0
      mm                                492
460   Peta digitasi kota Bandung
      tentang perkiraan daerah
      rawan banjir                      493
461   Peta hasil analisa SPM
      (Suspended Particular Matter)     493
462   Peta prakiraan awal musim
      kemarau tahun 2007 di daerah
      Jawa                              493
463   Peta kedalaman tanah efektif di
      daerah jawa barat Bandung         502
464   Peta Curah hujan di daerah
      Jawa Barat-Bandung                502
465   Peta Pemisahan Data vertikal
      dipakai untuk penunjukan
      kawasan hutan dan perairan
      Indonesia                         503

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2671
posted:6/12/2011
language:Indonesian
pages:180