Docstoc

Rakai Pikatan - Wikipedia b

Document Sample
Rakai Pikatan - Wikipedia b Powered By Docstoc
					Rakai Pikatan ! Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas                             http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan




         Rakai Pikatan
         Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

         Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau
         lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 840!an – 856.



          Daftar isi
                 1 Nama Asli dan Gelar
                 2 Perkawinan dengan Pramodawardhani
                 3 Perang Melawan Balaputradewa
                 4 Pendirian Candi Prambanan
                 5 Akhir Pemerintahan
                 6 Kepustakaan



         Nama Asli dan Gelar
         Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura
         adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai
         Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar.
         Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan.

         Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan
         menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali
         menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang
         berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala
         daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

         Menurut prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki
         sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu
         Mataram.

         Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Mamrati turun takhta dan menjadi brahmana bergelar Sang
         Jatiningrat pada tahun 856.

         Perkawinan dengan Pramodawardhani
         Prasasti Wantil juga menyinggung perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan
         seorang putri beragama lain. Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialah Pramodawardhani dari Wangsa
         Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agama Hindu Siwa.

         Pramodawardhani adalah putri Samaratungga yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun 824.
         Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali


1 of 4                                                                                                              5/24/2011 14:37
Rakai Pikatan ! Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas                             http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan


         tidak disebut. Mungkin saat itu Pramodawardhani belum menjadi istri Mpu Manuku.

         Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama dengan Maharaja Rakai Garung dan
         merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggota Wangsa Sanjaya yang berhasil menjalin
         hubungan perkawinan dengan Wangsa Sailendra.

         Teori ini ditolak oleh Slamet Muljana karena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dari
         pulau Sumatra dan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai
         Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat
         kecil.

         Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807, sedangkan
         Pramodawardhani masih menjadi gadis pada tahun 824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara
         keduanya cukup jauh. Mungkin, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaitu
         Samaratungga.

         Pramodawardhani bukanlah satu!satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai
         Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Kiranya saat itu gelar mpu belum identik dengan kaum
         laki!laki.

         Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istri Dyah Balitung, yaitu raja yang
         mengeluarkan prasasti Mantyasih (907).

         Perang Melawan Balaputradewa
         Balaputradewa putra Samaragrawira adalah raja Kerajaan Sriwijaya. Teori populer yang dirintis oleh sejarawan
         Krom menyebutkan bahwa, Samaragrawira identik dengan Samaratungga sehingga secara otomatis,
         Balaputradewa adalah saudara Pramodawardhani.

         Dalam prasasti Wantil disebutkan bahwa Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan berperang melawan musuh yang
         membangun pertahanan berupa timbunan batu di atas bukit. Musuh tersebut dikalahkan oleh Dyah Lokapala
         putra Jatiningrat. Dalam prasasti itu terdapat istilah Walaputra, yang ditafsirkan sebagai Balaputradewa.
         Akibatnya, muncul teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga
         yang berakhir dengan kekalahan Balaputradewa.

         Slamet Muljana menolak anggapan bahwa Samaragrawira identik dengan Samaratungga karena menurut prasasti
         Kayumwungan, Samaratungga hanya memiliki seorang anak bernama Pramodawardhani. Menurutnya,
         Samaragrawira lebih tepat disebut sebagai ayah dari Samaratungga. Dengan demikian, Balaputradewa
         merupakan paman dari Pramodawardhani.

         Teori populer menganggap Balaputradewa membangun benteng dari timbunan batu di atas bukit Ratu Baka
         dalam perang melawan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Namun, menurut sejarawan Buchari, di bukit
         Ratu Baka tidak dijumpai prasasti atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu
         Kumbhayoni. Mungkin tokoh ini yang memberontak terhadap pemerintahan Rakai Pikatan karena ia juga
         mengaku sebagai keturunan asli pendiri kerajaan, yaitu Sanjaya.

         Sementara itu istilah Walaputra dalam prasasti Wantil bermakna “putra bungsu”. Jadi, istilah ini bukan nama
         lain dari Balaputradewa, melainkan julukan untuk Dyah Lokapala, yaitu pahlawan yang berhasil mengalahkan
         Rakai Walaing, musuh ayahnya.

         Dengan demikian, teori populer bahwa telah terjadi perang saudara antara Rakai Pikatan melawan iparnya, yaitu


2 of 4                                                                                                              5/24/2011 14:37
Rakai Pikatan ! Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas                             http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan


         Balaputradewa mungkin keliru. Kiranya Balaputradewa meninggalkan pulau Jawa bukan karena kalah perang,
         tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak memiliki hak atas takhta Kerajaan Medang, mengingat ia bukan
         putra Samaratungga melainkan adiknya.

         Wangsa Sailendra di bawah pimpinan Dharanindra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, bahkan sampai
         Kamboja. Sepeninggal Dharanindra, kekuasaannya diwarisi oleh Samaragrawira. Mungkin ia tidak sekuat
         ayahnya karena menurut prasasti Po Ngar, Kamboja berhasil merdeka dari penjajahan Jawa pada tahun 802.

         Atas dasar tersebut, sepeninggal Samaragrawira mungkin kekuasaan Wangsa Sailendra dibagi menjadi dua,
         dengan tujuan agar pengawasannya bisa lebih mudah. Kekuasaan atas pulau Jawa diberikan kepada
         Samaratungga, sedangkan kekuasaan atas pulau Sumatra diberikan kepada Balaputradewa.

         Pendirian Candi Prambanan
         Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 856. Prasasti ini
         selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang
         diterjemahkan sebagai Candi Siwa.

         Berdasarkan ciri!ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi
         utama pada komplek Candi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun
         oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi!candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja!raja selanjutnya.

         Akhir Pemerintahan
         Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun takhta menjadi brahmana
         bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856. Takhta Kerajaan Medang kemudian dipegang oleh putra bungsunya,
         yaitu Dyah Lokapala alias Rakai Kayuwangi.

         Penunjukan putra bungsu sebagai maharaja ini kiranya berdasarkan atas jasa mengalahkan Rakai Walaing Mpu
         Kumbhayoni sang pemberontak. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan karena kelak muncul prasasti Munggu
         Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi. Nama ini tidak terdapat dalam daftar raja prasasti Mantyasih,
         sehingga dapat diperkirakan pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi telah terjadi perpecahan kerajaan.

         Nama Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Dyah Ranu ditemukan dalam prasasti Plaosan setelah Rakai Pikatan.
         Mungkin mereka adalah anak Rakai Pikatan. Atau mungkin juga hubungan antara Dyah Ranu dan Dyah Saladu
         adalah suami istri.

         Pada tahun 807 Mpu Manuku sudah menjadi pejabat, yaitu sebagai Rakai Patapan. Ia turun takhta menjadi
         brahmana pada tahun 856. Mungkin saat itu usianya sudah di atas 70 tahun. Setelah meninggal dunia, Sang
         Jatiningrat dimakamkan atau didharmakan di desa Pastika.

         Kepustakaan
                Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta:
                Balai Pustaka
                Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS




3 of 4                                                                                                              5/24/2011 14:37
Rakai Pikatan ! Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas                          http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan



                                                  Raja Kerajaan Medang (periode Jawa
                   Didahului oleh:                                                         Digantikan oleh:
                                                                Tengah)
                   Samaratungga                                                           Rakai Kayuwangi
                                                               840? – 856
         Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan"
         Kategori: Wangsa Sanjaya | Kerajaan Medang

                Halaman ini terakhir diubah pada 11:24, 3 Maret 2011.
                Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin
                berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.




4 of 4                                                                                                           5/24/2011 14:37