Docstoc

sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand

Document Sample
sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand Powered By Docstoc
					Sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand

INDRA - POSTAR

Sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand

INDRA - David Brown secara menarik melihat gerakan Muslim di Thailand Selatan sebagai
bagian dari reaksi atas ’kolonialisme internal di Thailand. Disparitas ekonomi antara pusat
dan provinsi di pinggiran menimbulkan tumbuhnya semangat ’separatisme’, atau istilah
Brown ’separatisme etnis’ yang terjadi di Selatan, Utara dan Timur Laut.




Masing-masing melibatkan melayu Muslim di Selatan, etnis perbukitan di Utara, dan orang
Isan di Timur Laut. Identitas Muslim Melayu di Selatan, masyarakat komunis di Utara secara
jelas berbeda dengan mayoritas Thai-Buddha, sedangkan di Timur Laut hanya berbeda etnis,
yaitu kelompok Laos-Thai, meskipun agama sama.




Disparitas ini memang sangat mencolok, pada tahun 1983, jauh sebelum krisis moneter yang
bermula di Thailand, Kota Metropolis Bangkok memiliki pendapatan per kapita, 51.441 bath,
sementara Minoritas Muslim , Konflik Dan Rekonsiliasi Di Thailand Selatan 97 Selatan,
16.148 bath, tiga kali lipat lebih rendah dibandingkan Bangkok, sementara di bagian Utara,
12.441 bath dan wilayah Timur Laut, 7.146 bath.




Disparitas ini menimbulkan kekecewaan, kecemburuan dan rasatidak adil yang kemudian
berakibat pada keinginan masyarakat untuk mengatur mereka sendiri (otonomi, dan
merdeka).


Dua puluh empat tahun kemudian, kesenjangan inipun semakin lebar, karena pemerintah
menaruh curiga atas tumbuhnya kekuatan masyarakat di wilayah ini, dan pembangunan tidak
diprioritaskan.
Disparitas memiliki konsekuensi yang mendalam diluar aspek ekonomi, yaitu lambatnya
peningkatan sumberdaya manusia, pendidikan yang tidak merata, dan tekanan kebijakan
berbasis keamanan yang mengancam masyarakat.




Masyarakat serasa tidak di ’rumah’ mereka sendiri. Kesenjangan ini pula yang menurunkan
tingkat nasionalisme masyarakat diluar mayoritas Thai-Buddha. Perbedaan yang mencolok
antara Melayu Muslim di Selatan dan Buddha-Thai di seluruh wilayah Thailand dilihat oleh
Ted Robert Gurr tidak pada keragaman etnisitasnya, tetapi lebih pada agamanya. Muslim di
Selatan Thailand dan Buddha dianut hampir diseluruh Thailand.




Negara dengan penduduk multi agama dan multietnik mendapat tantangan besar bagaimana
menyatukan mereka dalam payung satu nasionalisme. Apalagi beberapa etnik atau agama
telah    tumbuh      dalam     satu        kekuatan   dinamis      selama     ratusan    tahun.
Sebagian gerakan separatisme muncul dari satu etnik atau agama yang mendapat kebijakan
’diskriminatif’ dari pemerintah pusat.




Kebijakan ini diciptakan untuk meredam menguatnya identitas lokal sehingga pemerintah
pusat merasa terancam, atau sengaja dibuat untuk tujuan ’integrasi nasional’. Antara 1947
hingga 1953, beberapa negara baru di Asia Tenggara mendapat letupan kelompok yang
menuntut    ’otonomi     khusus’      atau    ’pemisahan   diri’   dari     pemerintah   pusat.


Dua negara yang belum berhasil ’menaklukkan’ kelompok ini diantaranya Thailand Selatan
dan Filipina.yang kebetulan sama-sama Muslim minoritas ditengah mayoritas Buddha di
Thailand dan Kristen di Filipina. Sementara Islam menyebar ke berbagai negara di Asia
Tenggara, diantaranya ke Thailand Selatan, atau dikenal dengan sebutan Muslim Patani, atau
secara resmi di Thailand, Islam Pattani.
Tulisan ini akan mengupas dinamika Islam di Thailand Selatan dari aspek etnisitas (sosial)
dan keamanan. Fokus utama pada perkembangan Muslim Pattani antara 2004 hingga Mei
2007. Periode ini sangat urgen tidak hanya karena banyaknya korban dalam kurun waktu ini,
setidaknya 2000 korban meninggal, tetapi juga karena pemerintah Thailand mulai serius
membicarakan upaya rekonsiliasi dengan mengacu pada integrasi Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) ke Indonesia.




Perdamaian Aceh menjadi model upaya perdamaian dan rekonsiliasi di Thailand
Selatan.Identitas lokal di Thailand Selatan lebih dekat dengan Kelantan dan Kedah, Malaysia.
Masyarakat secara tradisional lebih at home menggunakan bahasa Melayu dibandingkan
bahasa Thai yang digalakkan oleh pemerintah pusat sebagai bahasa resmi negara.
Keterpaksaan masyarakat Melayu Muslim di Thailand Selatan dirasakan selama puluhan
tahun, sejak integrasi Melayu di selatan Thailand menjadi bagian dari Kerajaan Thailand.




Penggunakan bahasa Thai wajib digunakan di kantor kerajaan, pemerintah, sekolah dan
media. Radio, TV dan media cetak harus menggunakan bahasa Thai sebagai medium
pemberitaan. Media elektronik, khususnya radio lokal hanya Minoritas Muslim , Konflik Dan
Rekonsiliasi Di Thailand Selatan 99 diperbolehkan menggunakan bahasa Melayu tidak lebih
dari 20 persen keseluruhan programnya.




Strategi pemerintah Thailand memang membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar 50 tahun,
banyak generasi muda Melayu Muslim lebih suka berbahasa Thai dibandingkan bahasa
Melayu, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi mereka ’dipaksa’
keluarga untuk berbicara dalam bahasa Melayu ketika mereka berkumpul dilingkungan
keluarga.


Upaya menjaga ’tradisi nenek moyang’ menjadi bagian dari identitas terkuat bagi keluarga
Muslim Melayu di Thailand Selatan yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat Thai
lainnya. Mereka menyadari bahwa niat memisahkan diri dari pemerintah Kerajaan Thailand
hanyalah suatu mimpi lama, yang kini harus ditinggalkan.




Terintegrasi dengan Thailand, bersaing dengan mayoritas masyarakat etnis Thai yang Buddis
adalah pilihan saat ini. Strategi yang perlu dibangun adalah memajukan pendidikan,
mendukung pembangunan nasional, dan menjaga stabilitas lokal.




Hal yang terakhir masih menjadi kendala bagi penciptaan perdamaian di wilayah selatan.
Berbagai teror, pembunuhan dan pengeboman sering terjadi dalam tiga tahun terakhir,
dengan jumlah meninggal settidaknya 2000 orang, sejak Januari 2004. Anehnya, belum
ditemukan kelompok yang bertanggung jawab dalam kerusuhan ini.




Ketika terjadi penyerangan atau pembunuhan yang melibatkan korban tentara, polisi atau
masyarakat Buddha, yang dituduh adalah Muslim. Bahkan Thaksin menyebut istilah mereka
’Bandit Muslim’. Istilah yang menodai perasaan Muslim Melayu di selatan, karena
pencitraan telah sengaja diciptakan oleh pemerintah, tanpa melihat lebih obyektif siapa yang
terlibat.


Muslim di Thailand sekitar 15 persen, dibandingkan penganut Budha, sekitar 80 persen.
Mayoritas Muslim tinggal di Selatan Thailand, sekitar 1,5 juta jiwa, atau 80 persen dari total
penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai
dinamika di Thailand Selatan.




Tradisi Muslim di wilayah ini mengakar 100 Minoritas Muslim , Konflik Dan Rekonsiliasi Di
Thailand Selatan sejak kerajaan Sri Vijaya yang menguasai wilayah Asia Tenggara, termasuk
Thailand Selatan.
Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla,
dengan total penduduk 6.326.732 (Kantor Statistik Nasional, Thailand, 2002). Mayoritas
penduduk Muslim terdapat di empat provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun, yaitu
sekitar 71% diperkotaan, dan 86 % di pedesaan (YCCI, 2006: 34), sedangkan di Songkhla,
Muslim sekitar 19 %, minoritas, dan 76.6 % Buddha.




Sementara mayoritas penduduk yang berbahasa Melayu, ratarata 70 persen berada di tiga
provinsi: Pattani, Yala dan Narathiwat, sementara penduduk berbahasa China, ada di tiga
provinsi: Narathiwat, 0.3 %, Pattani, 1.0 %, dan Yala, 3.0 % (Sensus Penduduk, Thailand,
2000).


Mengenai masuknya Islam ke Thailand, ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada
abad ke-10 melalui para pedgang dari Arab dan ada yang mengatakan Islam masum ke
Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.




Dahulu, ketika Kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh Thailand, banyak orang-orang
Islam yang ditawan, kemudian di bawa ke Thailand. Para tawanan itu akan dibebaskan
apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian para tawanan yang telah bebas itu ada yang
kembali ke Indonesia dan ada pula yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam.




Wilayah Thailand yang dihuni oleh orang-orang Islam adalah wilayah bagian selatan yang
berbatasan langsung dengan Malaysia. Muslim di Thailand merupakan golongan minoritas,
karena mayoritas penduduknya beragama Budha. Daerah-daerah muslim di Thailand bagian
selatan adalah Pattani, Yala, Satun, Narathiwat, dan Songkhla.
Kaum muslimin di Thailand yang terkenal dengan nama Patani memiliki perasaan kuat
tentang jati dirinya, karena daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi salah satu
pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.




Pemerintah Thailand berusaha memasukkan daerah-daerah paling selatan itu ke negeri Thai.
Hal ini dilakukan pada masa Raja Chulalongkom pada tahun 1902. Patani dijuluki tempat
kelahiran Islam di Asia Tenggara. Bahkan, seorang Patani, Daud ibn Abdillah ibn Idris al-
Fatani diakui sebagai seorang ulama terkemuka mengenai ilmu-ilmu Islam di Asia Tenggara.




Daerah yang sekarang disebut Thailand selatan pada masa dahulu berupa kesultanan-
kesultanan yang merdeka dan berdaulat, diantara kesultanan yang terbesar adalah Patani.
Pada abad ke empat belas masuklah Islam ke kawasan itu, raja Patani pertama yang memeluk
Islam ialah Ismailsyah. Pada 1603 kerajaan Ayuthia di Siam menyerang kerajaan Patani
namun serangan itu dapat digagalkan.




Pada 1783 Siam pada masa raja Rama I Phra Culalok menyerang Patani dibantu oleh oknum-
oknum orang Patani sendiri, sultan Mahmud pun gugurlah, meriam Sri Patani dan harta
kerajaan dirampas Siam dan dibawa ke Bangkok.




Maka Tengku Lamidin diangkat sebagai wakil raja atas perintah Siam tetapi kemudian ia pun
berontak lalu dibunuh dan digantikan Dato Bangkalan tetapi ia pun memberotak pula.


Pada masa raja Phra Chulalongkorn tahun 1878.M Siam mulai mensiamisasi Patani sehingga
Tengku Din berontak dan kerajaan Patani pun dipecahlah dan unit kerajaan itu disebut
Bariwen. Sebelum peristiwa itu terjadi sesungguhnya pada 1873 M Tengku Abdulqadir
Qamaruzzaman telah menolak akan penghapusan kerajaan Patani itu. Kerajaan Patani
dipecah dalam daerah-daerah kecil Patani, Marathiwat, Saiburi, Setul dan Jala.
Pada 1909 M Inggris pun mengakui bahwa daerah-daerah itu termasuk kawasan Kerajaan
Siam. Dan pada tahun 1939 M, Nama Siam diganti dengan Muang Thai. Bahasa Siam
menjadi bahasa kebangsaan di kawasan Selatan, di sekolah-sekolah merupakan bahasa resmi,
tulisan Arab Melayu digantikan tulisan Siam yang berasal dari Palawa.




Pada 1923 M, beberapa Madrasah Islam yang dianggap ekstrim ditutup, dalam sekolah-
sekolah Islam harus diajarkan pendidikan kebangsaan dan pendidikan etika bangsa yang
diambil dari inti sari ajaran Budha.




Pada saat-saat tertentu anak-anak sekolah pun harus menyanyikan lagu-lagu bernafaskan
Budha dan kepada guru harus menyembah dengan sembah Budha. Kementrian pendidikan
memutar balik sejarah : dikatakannya bahwa orang Islam itulah yang jahat ingin menentang
pemerintahan shah di Siam dan menjatuhkan raja.




Orang-orang Islam tidak diperbolehkan mempunyai partai politik yang berasas Islam bahkan
segala organisasi pun harus berasaskan: Kebangsaan. Pemerintah pun membentuk semacam
pangkat mufti yang dinamakan Culamantri, biasanya yang diangkat itu seorang alim yang
dapat menjilat dan dapat memutar balik ayat sehingga ia memfatwakan haram melawan
kekuasaan Budha.




Pada saat-saat tertentu dipamerkan pula segala persenjataan berat, alat-alat militer. Lalu
mereka mengundang ulama Islam untuk melihat-lihat, dengan harapan akan tumbuh rasa
takut untuk berontak. Akan tetapi orang-orang yang teguh dalam keislamannya itu tetap
berjuang, menegakkan sebuah negeri yang berdaulat berasas Islam Republik Islam Patani.
Segala upacara yang sekuler dikerjakan dan Islam hanya terbatas pada adat, partai-partai pun
tidak mau berdasarkan Islam dan tetap sekuler walaupun adat agama adakalanya dibawa juga
seperti salam dan bismillah seperti tercantum dalam konstitusinya itu.




Transformasi dari loyalitas primordial ke loyalitas kepada negara dalam rangka menciptakan
intergrasi nasional biasanya merupakan agenda utama di negara-negara yang proses
perwujudan gagasan negara-negaranya belum selesai.




Agenda ini menjadi sangat pelik apabila negara bersangkutan dengan pluralitas etnis, budaya
dan agama. Berdasarkan kategori primordial itu, negara tersebut memiliki kelompok
mayoritas dan minoritas, dimana kelompok minoritas hendak dipaksa untuk diintegrasikan
kedalam kelompok mayoritas.




Daftar                                        Bacaan                                       :


Badrus Sholeh, ‘Minoritas Muslim, Konflik Dan Rekonsiliasi di Thailand Selatan’, FISIP
universitas BUDI LUHUR.

2 Komentar Pembaca (reader comment) to "Sejarah Perkembangan Islam di Patani Thailand"


arkirider said :
13 Maret 2010 11:57


         Mas, tolong kirim sumber bacaannya. Bikin jadi ebook. balas ya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:259
posted:6/9/2011
language:Malay
pages:8