about otonomi pendidikan
W
Description
otonomi pendidikan its most famous article in here, list that and make really that
Document Sample


Otonomi Pendidikan
Dalam Perspektif Administrasi Reform
Dosen Pembina :
Prof. Dr. Rudy Handoko, M.S.
Oleh : AGUS SUGIANTO ZEIN
NIM : 02.09.0270
Pemberlakuan sistem desentralisasi akibat pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah memberi dampak terhadap pelaksanaan
manajemen pendidikan, yaitu manajemen yang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada
pengelolaan pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam era kompetitif
mencapai output pendidikan yang berkualitas dan mandiri.
Pemberlakuan desentralisasi pendidikan mengharuskan diperkuatnya landasan dasar
pendidikan yang demokratis, transparan, efisien, dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 sebagai pelaksanaan UU No.22 Tahun 1999
menggariskan urusan pendidikan dengan jelas menjadi kewenangan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota kecuali pendidikan tinggi. Kewenangan pemerintah pusat hanya menetapkan
standar minimal, baik persyaratan calon peserta didik, kompetensi peserta didik, kurikulum
nasional, penilaian hasil belajar, materi pelajaran pokok, pedoman pembiayaan pendidikan
dan melaksanakan fasilitas (Pasal 2 butir II).
Dalam konteks otonomi pendidikan hakikatnya bertujuan untuk memberi otonomi
dalam mewujudkan fungsi manajemen pendidikan kelembagaan. Otonomi pendidikan
terkandung makna demokrasi dan keadilan sosial, artinya pendidikan dilakukan secara
demokratis dan berkeadilan untuk mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Konsep Otonomi Pendidikan.
Pendidikan dalam perspektif demokrasi adalah sebuah komponen vital karena melalui
proses pendidikan menjadikan warga negara kritis, merdeka, dan familiar dalam praktik-
praktik demokrasi. Sejarah mencatat, intelektual-intelektual bangsa yang berpendidikan barat
memegang peranan penting sebagai penggagas semangat kebangsaan sekaligus sebagai
founding fathers republik ini. Namun tak kurang pula pendidikan yang telah dikenyam
pemimpin bangsa ketika menjadi suatu rejim yang otoriter maka pendidikan yang diberikan
menuntut penerimaan masyarakat secara paksa.
Menurut Tilaar, pengertian otonomi dalam konteks desentralisasi pendidikan mencakup enam
aspek, yaitu :
(1) Pengaturan perimbangan kewenangan pusat dan daerah.
(2) Manajemen partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
(3) Penguatan kapasitas manajemen pemerintah daerah.
(4) Pemberdayaan bersama sumber daya pendidikan.
(5) Hubungan kemitraan stakeholders pendidikan.
(6) Pengembangan infrastruktur sosial.
Otonomi pendidikan menurut Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
terungkap pada bagian ketiga Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang Tua, Masyarakat
dan Pemerintah. Pada bagian ini pasal 8 menyebutkan “Masyarakat berhak berperan serta
dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan” pasal 9
“Masyarakat berkewajban memberi dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan
pendidikan”.
Begitu juga pada bagian keempat Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah
Daerah pasal 11 ayat (2) “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya
dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai
lima belas tahun”. Ketentuan bagi perguruan tinggi pasal 24 ayat (2) “Perguruan Tinggi
memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan
pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat”.
Dapat disimpulkan bahwa konsep otonomi pendidikan mengandung pengertian yang
luas mencakup filosofi, tujuan, format, isi serta manajemen pendidikan. Implikasinya adalah
setiap daerah otonomi harus memiliki visi dan misi pendidikan yang jelas dan jauh ke depan
dengan melakukan pengkajian yang mendalam dan meluas tentang kecenderungan
perkembangan masyarakat untuk memperoleh konstruk masyarakat masa depan dan tindak
lanjutnya serta merancang sistem pendidikan yang sesuai dengan karakteristik budaya bangsa
yang Bhinneka Tunggal Ika.
Kemandirian daerah harus diawali dengan evaluasi diri, melakukan analisis faktor
eksternal dan internal daerah guna mendapat suatu gambaran nyata tentang kondisi daerah
sehingga dapat disusun strategi yang matang dan mantap dalam upaya mengangkat harkat
dan martabat masyarakat daerah yang berbudaya dan berdaya saing tinggi melalui otonomi
pendidikan yang bermutu dan produktif.
Otonomi Pendidikan Sebagai Bagian Administrasi Reform
Administrasi reform diartiakan sebagai upaya meningkatkan performance
administrasi, baik secara individu, kelompok, kelembagaan serta memberikan advis kepada
mereka tentang bagaimana cara mencapai tujuan administrasi secara efektif, efisien dan
berkualitas (Rudy Handoko).
Dari pengertian diatas konsep otonomi merupakan bagian dari implementasi
administrasi reform. Pendelegasian kewenangan pusat ke daerah adalah wujud peningkatan
performance administrasi secara kelembagaan dengan tujuan efektifitas dan efisiensi.
Selanjutnya konsep otonomi pendidikan dapat dilihat dari empat perspektif administrasi
reform (Rudy Handoko).
1. Perspektif politik, terdapat penyesuaian hubungan birokrasi dengan unsur yang ada
dalam masyarakat dan hubungannya dalam birokrasi itu sendiri. Bahwa dalam
otonomi pendidikan pengelolaan pendidikan dilakukan secara demokratis untuk
merepresentasi kepentingan masyarakat itu sendiri.
2. Perspektif ekonomi, realokasi sumber-sumber dan perubahan dari produk yang
dihasilkan. Bahwa dalam otonomi pendidikan pengalokasian anggaran pendidikan
dapat menganut prinsip-prinsip yang terkandung dalam UU Nomor 32 Tahun 2004
dan UU Nomor 33 Tahun 2004 mengenai perimbangan keuangan antara pusat dan
daerah.
3. Perspektif Psikokultural, proses perubahan pola prilaku, tata nilai administrasi, sistem
kepercayaan dan prilaku birokrasi. Bahwa dalam otonomi pendidikan terjadi
perubahan prilaku birokarasi dari kebijakan yang top down menjadi proses kebijakan
yang adaptif partisipatif serta sarat akuntabilitas publik.
4. Perspektif Kelembagaan, penyesuaian kelembagaan yang adaptif dan responsif
terhadap perubahan dengan mengarahkan pada efisiensi dan efektifitas pencapaian
tujuan. Bahwa dalam otonomi pendidikan telah merubah manajemen pendidikan yang
selama ini berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah (MBS), serta
pemberdayaan dan pembentukan komite sekolah di setiap satuan pendidikan sebagai
bagian responsibility terhadap perubahan dan dinamika masyarakat.
Permasalahan Otonomi Pendidikan
Pelaksanaan otonomi pendidikan masih belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan
yang diharapkan karena kekurangsiapan pranata sosial, politik dan ekonomi.
Ada 6 faktor yang menyebabkan pelaksanaan otonomi pendidikan belum jalan (Tim MK
UWP Sby), yaitu:
1. Belum jelas aturan permainan tentang peran dan tata kerja di tingkat kabupaten/kota.
2. Pengelolaan pendidikan belum siap dilaksanakan secara otonom karena SDM yang
terbatas dan fasilitas yang tidak memadai.
3. Dana pendidikan dari APBD belum memadai.
4. Perhatian pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan
rendah.
5. Otoritas pimpinan di daerah kurang memperhatikan dengan sungguh-sungguh sehinga
pendidikan belum menjadi prioritas utama.
6. Kondisi setiap daerah tidak sama sehingga terjadi kesenjangan dalam hal mutu dan
kemandirian masing-masing daerah.
Solusi Kendala Pelaksanaan Otonomi Pendidikan
1. Meningkatkan manajemen pendidikan
Menurut Wardiman Djoyonegoro (1995) kualitas pendidikan dapat ditinjau dari segi
proses dan produk. Pendidikan berkualitas dari segi proses jika proses belajar mengajar
berlangsung secara efektif, dan peserta didik mengalami pembelajaran yang bermakna.
Pendidikan berkualitas dari segi prodik jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a) peserta didik meenunjukkan penguasaan tinggi terhadap tugas-tugas belajar
(learning task) yang harus dikuasai dengan tujuan dan sasaran pendidikan ,
diantaranya hasil akademik yang dinyatakan dalam prestasi belajar (kualtas
internal).
b) hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam kehidupan
sehingga dengan belajar peserta didik bukan hanya mengetahui sesuatu tetapi
dapat melakukan sesuatu yang fungsional dalam kehidupannya (learning and
learning),
c) Hasil pendidikan sesuai atau relevan dengan tuntutan lingkungan khususnya
dunia kerja.
Menghadapi kondisi ini maka dilakukan pemantapan manajemen pendidikan yang
bertumpu pada kompetensi guru dan kesejahteraannya.
Simmons dan Alexander (1980) dalam penelitiannya mengemukakan tiga faktor untuk
peningkatan mutu pendidikan, yaitu motivasi guru, buku pelajaran dan buku bacaan serta
pekerjaan rumah. Dari hasil penelitian ini tampak dengan jelas bahwa akhir penentu
dalam meningkatkan mutu pendidikan bukan pada bergantinya kurikulum, kemampuan
manajemen, kebijakan di tingkat pusat dan daerah tetapi lebih kepada faktor-faktor
internal yang ada di sekolah yaitu peranan guru, fasilitas dan pemanfaatannya. Kepala
sekolah sebagai top manajemen harus mampu memberdayakan semua unit yang dimiliki
untuk dapat mengelola semua infrastruktur yang ada demi pencapaian kinerja yang
maksimal.
Kepala sekolah juga harus memiliki kemampuan untuk melibatkan partisipasi dan
komitmen dari orang tua dan anggota masyarakat sekitar sekolah untuk merumuskan dan
mewujudkan viisi, misi, dan program peningkatan mutu pendidikan secara bersama-sama.
Salah satu tujuan UU Nomor 20 tahun 2003 adalah memberdayakan masyarakat,
menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, termasuk
dalam meningkatkan simber dana dalam penyelenggaraan pendidikan.
2. Membangun Pendidikan Berbasis Masyarakat
Kondisi sumber daya yang dimiliki setiap daerah tidak merata untuk seluruh Indonesia.
Pemerintah daerah dapat melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, ilmuwan, pakar kampus
maupun pakar daerahsebagai brain trust untuk turut membangun daerahnya tidak hanya
sebagai pengamat, pemerhati, pengecam kebijakan. Sebaliknya lembaga pendidikan harus
membuka diri, banyak mendengar opini publik dan turut serta memecahkan masalah yang
dihadapi masyarakat.
3. Kemauan Pemerintah Daerah Melakukan Perubahan
Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah. Bila pemerintah
daerah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan, akan ada
peluang yang cukup luas bahwa pendidikan di wilayahnya akan maju. Sebaliknya jika
kepala daerahnya tidak memiliki visi yang baik di bidang pendidikan dapat dipastikan
daerah itu akan mengalami stagnasi dan kemandegan menuju pemberdayaan masyarakat
yang well educated.
Otonomi pendidikan harus mendapat dukungan DPRD. DPRD harus mempunyai peran
yang kuat dalam membangun paradigma dan visi pendidikan di daerahnya.
Related docs
Get documents about "