Docstoc

Materi Bahasa Indonesia

Document Sample
Materi Bahasa Indonesia Powered By Docstoc
					                         Bahasa Indonesia
A.Pengertian Bahasa Indonesia

Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat kornunikasi yang
berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusisa.


Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing
mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau
konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara
alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan
menjadi sebuah kamus atau leksikon.


Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak
tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan,
pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu
sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang
kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.


Pada bab berikutnya, sebubungan dengan tata bahasa akan kita bicarakan secara terinci
fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Fonologi ialah bagian tata bahasa
yang membahas atau mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan
kata secara gramatikal beserta unsur-unsur dan bentuk - bentuk kata. Sintaksis membicarakan
komponen - komponen kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara
khusus menganalisis arti atau makna kata ialah semantik, sedang yang membahas asal-usul
bentuk kata adalah etimologi,


Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana
untuk menyampaikan informasi (=fungsi informatif )


Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau
mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi :


   a. untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
   b. untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-
       indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
    c. sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan
        kebahasaan.
    d. untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah
        manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri
        (tujuan filologis).


Dikatakan oleh para ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri
sebagai makhluk bernalar, berbudaya, dlan berperadaban. Dengan bahasa, kita membina
hubungan dan kerja sama, mengadakan transasi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan
bidang dan peran kita rnasing-masing. Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa lampau,
rnenghadapi hari ini, dan merencanakan masa depan.


jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh,
misalnya, mahasiswa. la membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar
lulus dalam setiap ujian dan sukses meraih gelar atau tujuan yang diinginkan. Seorang dokter
juga sama. la memerlukan informasi tentang kondisi fisik dan psikis pasiennya agar dapat
menyembuhkannya dengan segera. Contoh lain, seorang manager yang mengoperasikan,
mengontrol atau mengawasi perusahaan tanpa informasi is tidak mungkin dapat mengambil
keputusan amu menemukan kebijaksanaan Karena setiap orang membutuhkan informasi,
komunikasi sebagai proses tukar-menukar informasi, dengan sendirinya juga mutlak menjadi
kebutuhan setiap orang.


Kata Indonesia berasal dari gabungan kata Yunani Indus 'India' dan nesos 'pulau alau
kepulauan'. Jadi secara etimologis berarti kepulauan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan
India, atau hanya kepulauan India. Pencipta kata tersebut ialah George Samuel Windsor Earl,
sarjana Inggris yang menulis dan memakai kata itu dalam Journal of the Indian Archipelago and
Eastern Asia, Vol. iv- him 17, bulan Februari 1850. Ia menggunakan kata Indonesians dalam
majalah itu Sedangkan, orang yang mempopulerkan kola lndnnesin adalah ahli etnologi Jerman,
Adolf Bastian, yang memakainya dalam buku-buku yang ditulisnya sejak tahun 1884. Buku-buku
ini diberi judul Indwonesien order die Inseln des Malayischen Archipel.


Bahasa Indonesia yang sekarang itu ialah bahasa Melayu Kuno, yang dahulu digunakan orang
Melayu di Riau, Johor. dan Lingga, yang telah mengalami perkembanggan berabad-abad
lamanya Dalam keputusan Seksi A No. 8. hasil Kongres Bahasa Indonesia 11 di Medan, 1954,
dikatakan bahwa dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan
pertumbuhan dalam masyarakat den kebadayaan Indonesia sekarang.
B. Perkembangan Bahasa Indonesia

Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah
yang penting, yakni :


    1. Masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih
        bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca atau bahasa
        penghubung, bahasa pengantar. Bukti, hostoris dari masa ini antara lain prasasti atau
        batu bertulis yang ditemikan di Kedukan Bukit, Kota Kapur, Talang Tuwo. Karang Brahi
        yang berkerangka tahun 680 Masehi. Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa
        Melayu paling tua justru dalam prasasti yang ditemukan di Sojomerta dekat
        Pekalongan, Jawa Tengah.

    2. Masa Kerajan Malaka, sekitar abad ke-15. Pada masa ini peran bahasa Melavu sebagai
        alat komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang
        adalah peninggalan karya sastra tertue yang ditulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521,
        Antonio Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama. Daflar itu dibuat di
        Tidore dan berisi kata-kata yang dijumpai di sana.

    3. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai
        sarana pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya
        Abdullah seperti Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah, Syair
        tentang Singapura Dimakan Api, dan Pancatanderan Tokoh lain yang Perlu dicatat di
        sini ialah Raja Ali Haji yang terkenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah
        Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.

    4. Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch. van
        Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan
        mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul
        Kitab Logat Melajoe.

    5. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan Commissie de lndlandsche School en
        Volkslectuur ( Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat) Lembaga ini mempunyai
        andil besar dalam menyebarkan Serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-
        bahan bacaan yang diterbitkan untuk umum.

    6. Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober, dalarn Sumpah Pemuda, bahasa Melayu
        diwisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi
        bahasa Indonesia. Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini
   didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa tersebut (1) telah dimengerti dan
   dipergunakan selama berabad-abad sebagai Lingua franca hampir di seluruh daerah
   kawasan Nusantara, (2) strukturnya sederhana sehingga mudah dipelajari dan mudah
   menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya. (3)
   bersifat   demokratis     sehingga   menghindarkan   kemungkinan   timbulnya    perasaan
   sentimen dan perpecahan, dan (4) adanya semangat kebangsaan yang lebih besar
   dibandingkan penggunaan bahasa jawa atau sunda. "Kami poetra dan poetri Indonesia
   mendjoendjoeng bahasa jang sama, bahasa Indonesia" demikian rumusan Sumpah
   Pemuda yang terakhir dan yang benar.

7. Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali. Pelopor pendiri
   majalah ini ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang
   ketiganya ingin dan berusaha memajukan bahasa Indonesia dalam segala bidang.

8. Tahun 1938, dalam rangka peringatan 10 tahun Sumpah Pemuda diadakan Kongres
   Bahasa Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki
   Hadjar Dewantara, Prof Dr Purbatjaraka dan Prof Dr. Husain Djajadiningrat. Dalam
   kongres      ditetapkan       keputusan     untuk     menditikan     Institut    Bahasa
   Indonesia, mengganti ejaan van Ophuysen, serta menjadikan bahasa Indonesia menjadi
   bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.

9. Masa pendudukan Jepang (1942-1945) Pada masa ini peran bahasa Indonesia semakin
   penting karena pemerintah Jepang melarang penggunnan bahasa Belanda yang
   dianggapnya sebagai bahasa musuh Penguasa Jepang terpaksa mengangkat bahasa
   Indonesia sebagai bahasa resmi dalam administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar
   di lembaga pendidikan, karena bahasa Jepang sendiri belum banyak dimengerti oleh
   bangsa Indonesia. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, akhirnya Kantor Pengajaran
   Balatentara Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia.

10. Tahun 1945, tepamya 18 Agustus bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara,
   sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36: Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

11. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Repoeblik sebagai penyempummn
   ejaan sebelumnya Ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.

12. Balai Bahasa yang dibentuk Wont 1948, yang kemudian namanya diubah menjadi
   Lembaga Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan dirubah lagi menjadi Pusat Pembinaan
   dan Pengembangan Bahasa Pada tahun 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam
   rangka usaha pemantapan perencanaan bahasa.
   13. Atas prakarsa Mentri PP dam K, Mr. Moh. Yamin, Kongres Bahasa Indonesia Kedua
       diadakan di Medan tanggal 28 Oktober s.d. 1 November 1954. Dalam kongres ini
       disepakati suatu rumusan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi
       bahasa Indonesia berbeda dari bahasa Melayu karena bahasa Indonesia adalah bahasa
       Melayu yang sudah disesuaikan pertumbuhannya dengan masyrakat Indonesia sekarang

   14. Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo, sebagai hasil usaha menyamakan ejaan
       bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang digunakan Persekutuan Tanah Melayu.
       Akan tetapi, karena pertentangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut
       menjadi tidak pernah diresmikan pemakaiannya.

   15. Tahun   1972,   pada    tanggal   17   Agustus,   diresmikan   pemakaian   Ejaan   Yang
       Disempurnakan yang      disingkat EYD. Ejaan yang pada dasarnya adalah hasil
       penyempurnaan dari Ejaan Bahasa Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai
       oleh A. M. Moeliono juga digunakan di Malaysia dan berlaku hingga sekarang.

   16. Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50. bulan
       November di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Kongres ini berhasil
       mengambil keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan
       pengembangan bahasa Indonesia. Di antaranya ialah penetapan bulan September
       sebagai bulan bahasa.

   17. Tanggal 21 - 26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsang
       Kongres Bahasa Indonesia IV. Kongres yang dibuka olch Mentri Pendidikan dan
       Kebudayaan, Prof Dr. Nugroho Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau
       tindak lanjut untuk memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai
       bahasa nasional dan negara.

   18. Jakarta 1988, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V.

   19. Tahun 1993, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres Bahasa
       Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali.


Sebagaimana kita ketahui dari uraian di atas, bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda
tanggal 28 Oklober 1928 bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan
bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini
berarti bahwa bahasa Indonesia mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan
bahasa negara.Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai
sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa
adalah nilai pemakaian bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.




C. Fungsi Bahasa Indonesia

Sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat
fungsi. Keempat fungsi tersebut ialah sebagai :


    1. lambang identitas nasional,
    2. lambang kebanggan nasionnai,
    3. alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan
        bahasa yang berbeda-beda, dan
    4. alat perhubtmgan antarbudaya clan daerah.


Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara


Berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :


    1. bahasa resmi negara,
    2. bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,
    3. bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nanional untuk kepentingan perencanaan dan
        pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan
    4. bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan
        serta teknologi.




Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang orang terdidik dan
yang dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa
Indonesia yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri
kecendekiaan. Yang dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut
selalu mengikuti kaidah atau aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima
perubahan yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya
dalam mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu
pengetahuan.
Bahasa Indonesia baku dipakai dalam :


    1. komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi
        resmi atau undang-undang;
    2. Tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku
        ilmu pengetahuan.
    3. pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato, dan
    4. pembicaraan dengan orang yang dihomnati atau yang belum dikenal.




D. Fonologi / Tata Bahasa
a. Pengertian Fonologi

Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa
secara umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani phone 'bunyi' dan 'logos'
tatanan, kata, atau ilmu' dlsebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi dua bagian :


a. Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau
bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.


b. Fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai
pembeda arti.


Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona,
sedang fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena
pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan
huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf.
Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu :


    1. udara,
    2. artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan
    3. titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.


Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan.
Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan.
Yang dimaksud dengan rintangan dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya
gerakan atau perubahan posisi artikulator .


Diftong adalah dua vokal beurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Diftong dalam
babasa Indonesia adalah ai ,au, dan oi.


Contoh :


                         harimau                               amboi
                         kerbau                                sepoi
                         imbau
                         pulau



Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti. Fonem dapat dibuktikan
melalui pasangan minimal.


Pasangan minimal adalah pasangan kata dalam satu bahasa yang mengandung kontras minimal.


Contoh :


- pola & pula : membedakan /o/ dan /u/


- barang & parang : membedakan /b/ dan /p/


Bahasa Indonesia memakai ejaan fonemis, artinya setiap huruf melambangkan satu fonem.
Namun demikian masih terdapat fonem-fonem yang dilambangkan dengan diagraf (dua huruf
melambangkan satu fonem) seperti ny, ng, sy, dan kh.


Di samping itu ada pula diafon (satu huruf yang melambangkan dua fonem) yakni huruf e yang
digunakan untuk menyatakan e pepet dan e taling.


Huruf e melambangkan e pepet terdapat pada kata seperti : sedap, segar, terjadi. Huruf e
melambangkan e taling terdapat pada kata seperti : ember, tempe, dendeng.


Bidang linguistik atau tata bahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara
gramatikal disebut morfologi. Dalam beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga
tata bentukan.
Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam
pembentukan kata atau yang rnenjadi bagian dari kata disebut morfem.Berdasarkan potensinya
untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, morfem dibedakan atas dua macam yaitu :


   1. morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga
       harus selalu hadir dengan rnengikatkan dirinya dengan modem bebas lewat proses
       morfologis, atau proses pembentukan kata.

   2. morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara
       gramatikal menduduki satu fungsi dalam kalimat.


Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga kata dasar. Satuan ujaran seperti buku,
kantor, arsip, uji, ajar, kali, pantau, dan liput merupakan modem bebas atau kata dasar;
sedang me-, pe-, -an, ke - an, di-, ,swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem terikat.
Sebuah morfem, jika bergabung dengan morfem lain, seting mengalami perubahan. Misalnya,
morfem terikat me dapat berubah menjadi men-, mem-, meny-, menge-, dan menge- sesuai
dengan lingkungan yang dimasuki. Variasi modem yang terjadi karena pengaruh lingkungan
yang dimasuki disebut alomorf.


Proses morfologis adalah proses pembentukan kata dari suatu bentuk dasar menjadi suatu
bentuk jadian. Proses ini , meliputi afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), dan
komposisi (pemajemukan).


Sebelum diuraikan lebih lanjut tentang ketiga proses morfologis di atas perlu ditegaskan
terlebih dahulu tiga istilah pokok dalam proses ini, Yaitu kata dasar, bentuk dasar, dan unsur
langsung.


Kata dasar : kata yang belum berubah, belum mengalami proses morfologis, baik berupa proses
penambaban imbuhan, proses pengulangan, rnaupun proses pemajemukan.
Bentuk dasar : bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis, dapat berupa kata dasar,
kata berimbuhan, kata ulang, dan dapat pula berupa kata majemuk.
Unsur langsung : bentuk dasar dan imbuhan yang membentuk kata jadian.



b. Kata Berimbuhan

Dalam tata bahasa tradisional afiks disebut imbuhan, yaitu morfem terikat yang dapat
mengubah makna gramatikal suatu bentuk dasar. Misalnya me- dan -kan, di- dan -kan, yang
dapat mengubah arti gramatikal seperti arsip menjadi mengarsipkan, diarsipkan.


Proses penambahan afiks pada sebuah bentuk dasar atau kata dasar imiah yang disebut
afiksasi. Afiks yang terletak di awal bentuk kata dasar. seperti ber-, di-; ke-, me-, se-, pe-,
per-, ter-, pre-, swa-,adalah prefiks atau awalan. Yang disisipkan di dalam sebuah kata dasar,
seperfi -em, -er-, -el-, di-sebut infiks atau sisipan. Yang terletak di akhir kata dasar, seperti -i
-an, -kan, -isme, -isasi, -is, -if dan lain-lain dinamakan sufiks atau akhiran.


Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk satu kesatuan dan bergabung dengan kata
dasarnya secara serentak seperti :


ke-an pada kata keadilan, kejujuran, kenakalan, keberhasilan, kesekretarisan, pe-an seperti
pada kata pemberhentian, pendahuluan, penggunaan, penyatuan, dan


per-an sebagaimana dalam kata pertukangan, persamaan, perhentian, persatuan dinamakan
konfiks.


Ingat, karena konfiks sudah membentuk satu kesaman, maka harus tetap dihitung satu morfem.
Jadi kata pemberhentian dihitung tiga morfem, bukan empat, Bentuk dasarnya henti, satu
morfem, mendapat prefiks ber-, satu morfem, dan mendapat konfiks pe-an yang juga dihitung
Satu morfem, maka semuanya tiga morfem.


Tidak semua afiks dibicarakan di sini. Yang akan dibahas hanya afiks-afiks yang memiliki
frekuensi kemunculan dalam soal-soal tinggi.


    1. Prefiks me- :
        berfungsi membentuk kata kerja atau verba. Prefiks ini mengandung arti struktural.
            a. 'melakukan tindakan seperti tersebut dalam kata dasar' contoh:
                menari, melompat, mengarsip, menanam, menulis, mencatat.
            b. 'membuat jadi atau menjadi' contoh :
                menggulai, menyatai, menjelas, meninggi, menurun, menghijau, menua
            c. mengerjakan dengan alat' contoh :
                mengetik, membajak, mengail mengunci, mengetam
            d. berbuat seperti atau dalam keadaan sebagai' contoh: membujang, menjanda,
                membabi buta
            e. mencari atau mengumpulkan' contoh :
                mendamar, merotan.
2. Prefiks ber    :
   berfungsi membentuk kata kerja (biasanya dari kata benda, kata sifat, dan kata kerja
   sendiri) Prefiks ini mengandung arti :
       a. 'mempunyai' contoh :
           bernama, beristri, beruang, berjanggut
       b. 'memakai' contoh :
           berbaju biru, berdasi, berbusana.
       c. melakukan tindakan untuk diri sendiri (refleksif)' contoh : berhias, bercukur,
           bersolek
       d. 'berada dalam keadaan' contoh :
           bersenang-senang, bermalas-malas, berpesta-ria, berleha-leha.
       e. 'saling', atau 'timbal-balik' (resiprok) contoh :
           bergelut, bertinju bersalaman, berbalasan.


3. Prefiks pe-    :
   berfungsi membentuk kata benda.(dan kata kerja, kata sifat, dan kata benda sendiri).
   Prefiks ini mendukung makna gramatikal :


       a. 'pelaku tindakan seperti tersebut dalam kata dasar contoh : penguji, pemisah,
           pemirsa, penerjemah, penggubah, pengubah, penatar, penyuruh, penambang.
       b. 'alat untuk me...' contoh :
           perekat, pengukur, penghadang, penggaris
       c. 'orang yang gemar' contoh :
           penjudi, pemabuk, peminum, pencuri pecandu, pemadat.
       d. 'orang yang di ...' contoh :
           petatar, pesuruh.
       e. 'alat untuk ...' contoh :
           perasa, penglihat, penggali.


4. Prefiks per-       :


   befungsi membentuk kata kerja imperatif. Mengandung arti :


       a. 'membuat jadi' (kausatif) contoh: perbudak, perhamba, pertuan.
       b. 'membuat Iebih' contoh. pertajam, perkecil, perbesar, perkuat
       c. `menbagi jadi' contoh: pertiga, persembilan dll.
5. Prefiks di-, berfungsi membentuk kata kerja, dan menyatakan makna pasif, contoh :
    diambil, diketik, ditulis, dijemput, dikelola.

6. Prefiks ter-, berfungsi membentuk kata kerja (pasif) atau kata sifat. Arti yang dimiliki
    antara lain ialah :
        a. ' dalam keadaan di ' contoh :
            terkunci, terikat, tertutup, terpendam, tertumpuk, terlambat.
        b. ' dikenai tindakan secara tak sengaja ', contoh :
            tertinju, terbawa, terpukul.
        c. ' dapat di- ', contoh :
            terangkat, termakan, tertampung.
        d. ' paling (superlatif) ', contoh :
            terbaik, terjauh, terkuat, termahal, terburuk.


7. Prefiks ke-, berfungsi membentuk kata bilangan tingkat dan kata bilangan kumpulan,
    kata benda, dan kata kerja.
    Sebagai pembentuk kata benda, prefiks ke- bermakna gramatikal 'yang di ... i', atau
    'yang di ... kan', seperti pada kata kekasih dan ketua.

8. Sufiks -an, berfungsi membentuk kata benda.
    Prefiks ini mengandung arti :
        a. ' hasil ' atau ' akibat dari me- ' contoh :
            tulisan, ketikan, catatan, pukulan, hukuman, buatan,tinjauan, masukan.
        b. ' alat untuk melakukan pekerjaan ' contoh :
            timbangan, gilingan, gantungan.
        c. ' setiap ' contoh :
            harian, bulanan, tahunan, mingguan.
        d. ' kumpulan ', atau ' seperti ', atau ' banyak ' contoh :
            lautan, durian, rambutan.


9. Konfiks ke-an, berfungsi membentuk kata benda abstrak, kata sifat, dan kata kerja
    pasif. Konfiks ini bermakna :
        a. ' hal tentang ' contoh :
            kesusastraan, kehutanan, keadilan, kemanusiaan, kemasyarakatan,
            ketidakmampuan, kelaziman.
        b. ' yang di...i ' contoh :
            kegemaran ' yang digemari ', kesukaan ' yang disukai ', kecintaan ' yang dicintai
            '..
            c. ' kena ', atau ' terkena ' contoh :
                kecopetan, kejatuhan, kehujanan, kebanjiran, kecolongan.
            d. ' terlalu 'contoh :
                kebesaran, kekecilan, kelonggaran, ketakutan.
            e. ' seperti ' contoh :
                kekanak-kanakan, kemerah-merahan.


    10. Konfiks pe-an, berfungsi membentuk kata benda. Arfi konfiks ini di antaranya ialah :
            a. ' proses ' contoh :
                pemeriksaan ' proses memeriksa ',
                penyesuaian ' proses menyesuaikan ',
                pelebaran ' proses melebarkan '.
            b. ' apa yang di- ' contoh :
                pengetahuan ' apa yang diketahui ',
                pengalaman ' apa yang dialami ' ,
                pendapatan ' apa yang didapat '


    11. Konfiks per-an, befungsi membentuk kata benda. Arti konfiks ini ialah :
            a. ' perihal ber- ' contoh :
                persahabatan ' perihal bersahabat ',
                perdagangan ' perihal berdagang ',
                perkebunan ' perihal berkebun ',
                pertemuan ' perihal bertemu '.
            b. ' tempat untuk ber- ' contoh :
                perhentian, perburuan persimpangan, pertapaan.
            c. ' apa yang di ' contoh :
                pertanyaan, perkataan.


Afiks produktif ialah afiks yang mampu menghasilkal terus dan dapat digunakan secara teratur
membentuk unsur-unsur baru.


Yang termasuk afiks produktif ialah :
me-, di-, pe-, ber-, -an, -i, pe-an, per- an, dan ke-an.


Sedangkan yang termasuk afiks improduktif ialah :
sisipan -el-, -em-, er-, atau akhiran -wati
Untuk memperkaya khazanah bahasa Indonesia, kita menyerap unsur-unsur dari bahasa daerah
dan bahasa asing. Conloh afiks serapan :


   1. dwi- :
       dwlingga, dwipurwa, dwiwarna, dwipihak, dwifungsi.
   2. pra- :
       praduga, prasangka, prasejarah, prasarana, prakiraan, prasaran, prabakti, prasetia,
       prawacana, prakata.
   3. swa- :
       swalayan. swadesi, swasembada, swapraja, swatantra, swadaya, swasta.
   4. awa- :
       awamang, awagas, awabau, awaracun, awalengas.
   5. a-, ab- :
       asusila, amoral, ateis, abnormal.
   6. anti- :
       antipati, antiklimaks, antitoksin, antihama, antiseptik
   7. homo- :
       homogen, homoseks, homofon, homonim, homograf, homorgan.
   8. auto- : autodidak, autokrasi, autobiografi, automobil, autonomi.
   9. hipo- :
       Hiponim,hipotesis, hipokrit, hipovitaminosis.
   10. poli- :
       polisemi, poligami, poliandri, polisilabis, poliklinik
   11. sin- :
       sintesis, sinonim, sintaksis, sinkronis, simpati, simposium
   12. tele- :
       telepon, telegraf, telegram, telepati, teleskop, teleks.
   13. trans- :
       transaksi, transisi, transportasi, transkripsi, transmisi, transliterasi, transfirmasi,
       transmigrasi,transfer, transitif.
   14. inter- :
       interaksi, interelasi, interupsi, internasional, intersuler, intermeso, interlokal, dan lain
       - lain.
   15. isasi- :
       modernisasi, tabletisasi, pompanisasi, kuningisasi, dan lain-lain


c. Kata Ulang
c. Kata Ulang

Reduplikasi adalah proses pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasar. Ada
beberapa macam reduplikasi, sebagai berikut :


   1. Kata ulang penuh, yaitu yang diperoleh dengan mengulang seluruh bentuk dasar ; ada
       dua. macam :
           a. Yang bentuk dasarnya sebuah morfem bebas, disebut dwilingga :
                ibu-ibu, buku-buku, murid-murid
           b. Yang bentuk dasarnya kata berimbuhan :
                ujian-ujian, kunjungan-kunjungan, persoalan-persoalan


   2. Dwipurwa, yang terjadi karena pengulangan suku pertama dari bentuk dasarnya :
       reranting, lelaki, leluhur, tetangga, kekasih, lelembut


       Di antara dwipurwa ada yang mendapat akhiran, seperti kata ulang pepohonan,
       rerumputan, dan tetanaman.

   3. Dwilingga salin suara adalah dwilingga yang mengalami perubahan bunyi :
       sayur-mayur, mondar-mandir, gerak-gerik, bolak-baliki,seluk-beluk, compang-
       camping, hingar-bingar, hiruk-pikuk, ramah-tamah, serba-serbi, serta-merta, dan lain-
       lain.

   4. Kata ulang berimbuhan :
       berjalan-jalan, anak-anakan, guruh-gem uruh, rias-merias, tulis-menulis, berbalas-
       balasan, kekanak-kanakan, mengulur-ulur, meraba-raba, menjulur-julurkan, dan lain-
       lain.

   5. Kata ulang semu ( bentuk ini sebenarnya merupakan kata dasar, jadi bukan hasil
       pengulangan atau redupikasi ) :
       laba-laba, ubur-ubur, undur-undur, kupu-kupu, dan empek-empek


Reduplikasi menyatakan arti antara lain sebagai berikut:


   1. 'Jamak'
       Murid-murid berkumpul di halaman sekolah. Di perpusatakaan terdapat buku-buku
       pelajaran.
2. 'intensitas kualitatif'
    Anto menggandeng tangan Anti erat-erat. Baju yang dijual di toko itu bagus-bagus.

3. 'intensitas kuantitatif'
    Berjuta-juta penduduk Bosnia menderita akibat perang berkepanjangan. Kapal itu
    mengangkut beratus-ratus peti kemas.

4. 'intensitas frekuentatif'
    Orang itu berjalan mondar-mandir. Pada akhir bulan ini ayah pergi-pergi saja.
    Berkali-kali anak itu dimarahi ibunya.

5. 'melemahkan'
    Warna bajunya putih kehijau-hijauan. Wati tersenyum kemalu-maluan melihat calon
    mertuanya datang.

6. 'bermacam-macam'
    Pepohonan menghiasi puncak bukit itu. lbu membeli buah-buahan. Sayur-mayur dijual
    di pasar itu.

7. 'menyerupai'
    Tingkah laku orang itu kekanak-kanakan. Orang-orangan dipasang di tengah sawah.
    Adik bermain mobil-mobilan.

8. 'resiproks (saling)'
    Mereka tolong-menolong menggarap ladang. Kedua anak itu berpukul-pukulan setelah
    cekcok mulut

9. 'dalam keadaan'
    Dimakannya singkong itu mentah-mentah. Pada zaman jahiliyah banyak orang dikubur
    hidup-hidup.

10. 'walaupun meskipun'
    Kecil-kecil, Mang Memet berani juga melawan perampok itu.

11. 'perihal'
    Ibu-ibu PKK di Kampung Bugis menyelenggarakan kursus masak-memasak dan jahit-
    menjahit. Sekretatis di kantor kami bukan hanya menangani surat-menyurat, tetapi
    juga pembukuan dan daftar gaji pegawai.
   12. 'seenaknya, semaunya atau tidak serius'
       Saya melihat tiga orang remaja duduk-duduk di hawah pohon Kerjanya hanya tidur-
       tiduran saja. Adik membaca-baca majalah di kamar.

   13. 'tindakan untuk bersenang-senang'
       Mereka makan-makan di restoran tadi malam


d. Kata Majemuk

Komposisi ialah proses pembentukan kata majemuk atau kompositum. Kata majemuk ialah
gabungan kata yang telah bersenyawa atau membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti
baru, contoh : kamar mandi, kereta api, rumah makan, baju tidur.


Gabungan kata yang juga membentuk satu kesatuan, tetapi tidak menimbulkan makna baru
disebut frase, contoh: sapu ijuk, meja itu, kepala botak, rambut gondrong, mulut lebar.


Jenis kata Majemuk


   1. Kata majemuk setara, yang masing-masing unsurnya berkedudukan sama, contoh :
       tua muda, laki bini, tegur sapa, besar kecil, ibu bapak, tipu muslihat dan baik buruk

   2. Kata majemuk bertingkat, yaitu yang salah satu unsurnya menjelaskan unsur yang lain.
       Jenis kata majemuk itu bersifat endosentris, yakni salah satu unsurnya dapat mewakili
       seluruh                     konstruksi,                     contoh                      :
       kamar mandi, sapu tangan, meja gambar, dan meja tulis.


Kata ialah satuan bahasa terkecil yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti
gramatikal, dan yang dapat berdiri sendiri serta dapat dituturkan sebagai bentuk bebas.


Ada dua jenis kata: kata dasar, yakni kata yang belum mengalami proses morfologis, dan kata
jadian, yakni kata yang sudah mengalami proses morfologis.


Yang termasuk kata jadian ialah kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk.


Kata dasar sering juga dinamakan kata tunggal, yaitu kata yang hanya terdiri atas satu
morfem, sedangkan kata Jadian yang terdiri atas beberapa morfem, disebut juga kata
kompleks.
e. Kelas Kata

Kelas kata ialah pengelompokan kata berdasarkan perilaku atau sifat kata tersebut dalam
kalimat. Kata-kata yang memiliki sifat atau perilaku sama dikelompokkan dalam satu kelas
kata. Misalnya:


la tidak belajar.    Ia bukan pelajar.    Ia agak tinggi.
Ia tidak membaca. Ia bukan pemalas. Ia lebih tinggi.
la tidak bekerja.    Ia bukan guru.      Ia paling tinggi.


Kata belajar, membaca, bekerja mempunyai perilaku sama, dan karena itu ketiga kata tersebut
dikelompokkan menjadi satu kelas kata. Sebaliknya kata pelajar berbeda dari kata belajar;
terbukti bahwa kata pelajar tidak dapat ditempatkan setelah kata tidak. Selanjutnya kata
belajar maupun pelajar berbeda dari kata tinggi; terbukti bahwa kedua kata itu tidak dapat
didahului oleh kata agak, lebih atau paling.


Berdasarkan perilakunya seperti di atas, kata belajar, membaca, dan bekerja dikelompokkan
ke dalam satu kelas kata kerja. Kata pelajar, pemalas, guru digolongkan ke dalam kelas kata
benda. Sedang kata-kata yang sama dengan kata tinggi dikelompokkan menjadi satu kelas kata
sifat. Selain ketiga kelas tersebut terdapat kelas lain, yakni kelas kata tugas .


f. Kata Benda

Kata benda disebut juga nomina (substantiva), yaitu semua kata yang dapat diterangkan atau
yang diperluas dengan frase yang + kata sifat. Misalnya :


       bunga yang indah,
       sekretaris yang terampil,
       guru yang bijaksana,
       siswa yang cendekia,
       Tuhan yang Maha Esa,
       udara yang segar,
       persoalan yang rumitl,
       perjanjian yang gagal,
       keadilan yang rapuh.
        Semua kata yang tercetak miring adalah nomina.
Dalam sebuah wacana, sering kata benda diganti kedudukannya oleh kata yang lain. Misalnya:


"Kemarin Amir, mengatakan kepada Hendro dan Herman bahwa Amir akan menemui Hendro
dan Herman di tempat yang sama".


yang sering dan lebih wajar jika dituturkan kembali menjadi:


"Kemarin Amir mengatakan kepada Hendro dan Herman bahwa dia akan menemui mereka di
tempat yang sama'.


Kata dia yang menggantikan Amir dan mereka yang menggantikan Hendro dan Herman adalah
kata ganti atau pronomina.
Dalam tata bahasa tradisional kata benda dibedakan atas:


   1. Kata benda abstrak,seperti kejujuran.
   2. Kata benda konkret, misalnya gedung.
   3. Kata benda nama diri, yang huruf awalnya selalu ditulis dengan huruf kapital, misalnya
       Amir Kata benda kumpulan, seperti regu, masyarakat, tim, kelas, keluarga.


Selanjutnya kata ganti juga dibedakan atas beberapa subkelas :


   1. Kata ganti orang : dia, mereka, engkau, saudara, anda.
   2. Kata ganti tunjuk : ini, itu.
   3. Kata ganti hubung: yang, tempat, serta.
   4. Kata ganti tanya : apa, siapa, kapan, berapa.


Semua kata yang dapat diperluas atau dijelaskan dengan frase dengan + kata sifat, misalnya :


      membaca dengan lancar,
      belajar dengan sungguh-sungguh,
      berpakaian dengan rapi,
      makan dengan lahap,
      berjalan dengan santai,
      tidur dengan nyenyak,
g. Kata Kerja

Kata kerja atau verba dibedakan atas :


   1. Kata kerja transitif,
       yaitu kata kerja yang memadukan objek, contoh :
       membeli, memikirkan, mengutarakan, membahas, menertawakan, memahami,
       menanamkan.
       Antara verba transitif dengan objek langsung tidak boleh disela oleh preposisi atau kata
       depan. Jadi bentuk ujaran seperti : "Panitia membicarakan tentang keuangan" tidak
       benar atau rancu. Kalimat di atas dapat dibakukan dengan menghilangkan kata
       tentang.

   2. Kata kerja transitif ganda,
       ialah kata kerja yang memerlukan objek dua, contoh: membelikan, dan membawakan
       dalam kalimat
       a. Ayah membelikan adik sepeda mini;
       b. Kakak membawakan kakek barang bawaannya.

   3. Kata kerja intransitif, ialah kata kerja yang tidak memerlukan objek, contoh :
       berlari, berdiri, tertawa, menyanyi, merokok, melamun.

   4. Kata kerja reflektif,
       yang menyatakan tindakan untuk diri sendiri, contoh :
       bersolek, berhias, bercukur, bercermin, mengaca.

   5. Kata kerja resiproks,
       yang menunjukkan tindakan atau perbuatan berbalasan atau menyatakan makna saling,
       contoh :
       bergelut, berpandangan, bergandengan, bertinju, pukul-memuku,l surat-suratan,
       senggol-senggolan.
       Sehubungan dengan kata kerja ini, kita sering membuat kesalahan dengan
       menambahkan kata saling di depan kata kerja ini, misalnya:
       saling tolong-menolong, saling bergandengan, saling bertinju.


       Semua bentuk pengungkapan tersebut salah atau rancu, dan dapat dibetulkan dengan
       menghilangkan kata saling, atau mengubah menjadi saling menolong, saling
       menggandeng, saling meninju.
    6. Kata kerja instrumental,
        yang menunjuk sarana perbuatan :
        mengetik, bermotor, bersepeda, membajak, dan mengetam.

    7. Kata kerja aktif,
        yang subjeknya melakukan tindakan seperti yang dimaksud. Biasanya berawalan me-
        atau ber-, contoh :
        menyanyi, mengungkit, berdebat, dan bermalam.

    8. Kata kerja pasif,
        yang subjeknya menjadi sasaran dari tindakan dimaksud. Biasanya berawalan di-, ter-
        dan berimbuhan ke- an. contoh :
        dibahas, diminati, diulang, terpukul, tertindas, kecopetan.
        Kata kerja yang menduduki fungsi predikat disebut kata kerja finit (predikatif),
        sedang kata kerja yang berfungsi nominal atau berfungsi sebagai kata benda, yang
        menduduki fungsi subjek atau objek, dinamakan kata kerja infinit (substantiva).
        Misalnya dalam kalimat :
        Belajar itu penting dan la belalar membaca. Belajar dan membaca adalah verba
        lnfinit.



h. Kata Sifat

Semua kata yang dapat diperluas dengan kata lebih, paling, sangat, atau mengambil bentuk se-
reduplikasi-nya, adalah kata sifat. Kata ini disebut juga adjektiv, contoh :


lebih cermat, agak membosankan, sangat cantik, semahal-mahalnya
lebih bijaksana, paling enak, sangat mahal, sebaik-baiknya
lebih bahagia, tua sekali, sangat pandai, sejelek-jeleknya
paling menarik, cantik sekali, kurang berharga, seteliti-telitinya


Kata sifat dikatakan berfungsi atributif jika digunakan untuk menjelaskan kata benda, dan kata
sifat tersebut bersama-sama dengan kata bendanya membentuk frase nominal. Jika digunakan
sebagai predikat sebuah kalimat ia dikatakan berfungsi predikatif Perhatikan contoh berikut :


(1) Mahasiswa baru itu sedang mengikuti penataran P4.
(2) Buku itu baru.
Kata baru dalam kalimat (1) berfungsi atributif, sedangkan dalam kalimat (2) berfungsi
predikatif.



i. Kata Tugas

Kata yang berfungsi total, memperluas atau mentransformasikan kalimat dan tidak dapat
menduduki jabatan-jabatan utama dalam kalimat, seperti kata dan, di, dengan, dll.
dikelompokkan ke dalam kelas kata tugas. Yang termasuk kata tugas ialah :


(1) Kata depan atau preposisi : di, ke, dari
(2) Kata hubung atau konjungsi : dan, atau, karena, dengan
(3) Kata sandang atau artikula : si, sang, para, kaum
(4) Kata keterangan atau adverbia : sangat, selalu, agak, sedang,
   secepat-cepatnya


Ciri - ciri Kata Tugas


    1. Tidak dapat berdiri sendiri sebagai tuturan yang bebas.

    2. Tidak, pernah mendapat imbuhan atau mengalami afiksasi.
        Perhatikan, kata ke, dari, di, tetapi, telah, akan, dsb., tidak mengalami afiksasi !

    3. Berfungsi menyatakan makna gramatikal kalimat. Sebuah kalimat akan berubah artinya
        jika kata tugasnya diganti dengan kata tugas yang lain. Perhatikan contoh di bawah ini
        :
              a. Herman sedang mandi
              b. Herman sudah mandi
              c. Herman belum mandi
              d. Herman akan mandi
              e. Herman selalu mandi
              f.   Herman pernah mandi

    4. Jumlah kata tugas hampir tidak, berkembang karena sifat keanggotaannya tertutup. Ini
        berbeda sekali dengan kata benda, kata kerja atau kata sifat yang terus berkembang
        dan diperkaya oleh kata-kata baru.
Fungsi Kata Tugas


Fungsi kata tugas ialah untuk menperluas atau menyatakan hubungan unsur-unsur kalimat dan
menyatakan makna gramatikal atau arti struktural kalimat tersebut. Secara terinci kata tugas
berfungsi untuk menunjukkan hubungan :


   1. arah : di, ke, dati
   2. pelaku perbuatan : oleh
   3. penggabungan : dan, lagi, pula, pun, serta, tambahan
   4. kelangsungan : sedang, akan, sudah, belum, pernah, sesekali
   5. waktu : ketika, tatkala, selagi, waktu, saat, sejak
   6. pemilihan : atau
   7. pertentangan : tetapi, padahal, namun, walaupun, meskipun, sedangkan
   8. pembandingan : seperti, sebagai, penaka, serasa, ibarat, bagai, daripada, mirip, persis
   9. persyaratan : jika, asalkan,kalau,jikalau,sekiranya, seandainya, seumpama, asal
   10. sebab : sebab, karena, oleh karena
   11. akibat : hingga, sehingga, sampai-sampai, sampai, akibatnya
   12. pembatasan : hanya, saja, melulu, sekadar, kecuali
   13. pengingkaran : bukan, tidak, jangan
   14. peniadaan : tanpa
   15. penerusan : maka, lalu, selanjutnya, kemudian
   16. penegasan : bahwa, bahwasanya, memang
   17. derajat : agak, cukup, kurang, lebih, amat, sangat, paling
   18. tujuan : agar, biar, supaya, untuk
   19. peningkatan : makin, semakin, kian, bertambah
   20. penyangsian : agaknya, kalau-kalau, jangan-jangan
   21. pengharapan : moga-moga, semoga, mudah-mudahan, sudilah
   22. orangan : sang, si, yang, para, kaum
   23. menjelaskan : ialah, adalah, yaitu, yakni, merupakan


Kata tugas yang menyatakan hubungan arah di dan ke, yang merupakan kata yang penuh berdiri
sendiri dan dipisahkan dari kata yang mengikuti, sering dikacaukan dengan prefiks di- dan ke-
yang harus digabung dengan bentuk dasarnya.


Perhatikan perbedaan berikut:


      di sini , ke sini, ditulisi, kedua
      di sana, ke samping, dikemukakan, kegemaran
       di dalam, ke luar daerah, dikelilingi, kekasih
       di bawah, ke Surabaya, dikeluarkan, kedalaman
       di luar kota, ke utara, diutarakan, keringanan




E. Sintaksis / Pembentukan Kalimat

Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari proses pembentukan kalimat, atau
yang menganalisis kalimat atas bagian-bagiannya.


Kalimat ialah kesatuan bahasa atau ujaran yang berupa kata atau kumpulan kata disertai
intonasi yang menunjukkan bahwa kesatuan itu sudah lengkap. Setiap kalimat mewakili satu
gagasan utama .


a. Frase dan Klausa

Telah dijelaskan di atas bahwa kalimat dapat berupa kata atau kelompok kata, Kelompok kata
yang membentuk satu kesatuan dan menduduki satu fungsi gramatikal dalam kalimat ialah
frase. Frase tidak bersifat predikatif dan tidak mempunyai predikat Sekelompok kata yang
menjadi bagian kalimat dan memiliki predikat ialah klausa.


"Mahasiswa itu sudah mengatakan bahwa dia tidak dapat ikut ujian bahasa Indonesia".
Kalimat di atas terdiri atas dua klausa.


    a. Mahasiswa itu sudah mengatakan dan
    b. bahwa dia tidak dapat ikut ujian bahasa Indonesia.


Klausa (a) merupakan klausa bebas, secara potensial dapat berdiri sendiri dan mampu menjadi
kalimat.
Klausa (b) adalah klausa terikat atau klausa yang menjadi bagian klausa bebas, yang dalam
kalimat di atas menjadi objek verba transitif mengatakan.
Kalimat demikian termasuk kalimat majemuk bertingkat atau subordinatif. Yang merupakan
frase dalam kalimat di atas ialah


    a. mahasiswa itu,
    b. ujian bahasa Indonesia, yang merupakan frase nominal, dan
    c. sudah mengatakan, serta
   d. tidak dapat ikut, yang merupakan frase verba


1. Klausa
adalah suatu konstruksi yang sekurang-kurangnya terdiri atas dua kata, yang mengandung
hubungan fungsional subjek-predikat, dan secara fakultatif, dapat diperluas dengan beberapa
fungsi lain seperti objek dan keterangan-keterangan lain. (Keraf, 1991: 181)


Klausa dapat dibedakan atas beberapa macam berdasarkan beberapa sudut tinjauan

1) Klausa normal, subjek mendahului predikat.
Contoh:
ia datang ke rumahku
adik penari
orang itu kurus


(2) Klausa inversi, predikat mendahului subjek.
Contoh:


datang dia malam itu
pergi ayah tak tentur arah


(3) Klausa inversi khusus, klausa inversi yang didahului oleh keterangan. Contoh:


ke tanah leluhur perrgi mereka
kemarin datanglah surat itu
karena sakit menangislah dia

(1) Klausa berpredikat kata kerja intrasitif, Contoh:


anak itu menari
kuda meringkik
kakek merokok
nenek duduk


(2) Klausa berpredikat kata kerja transitif, Contoh:


guru mengajar murid
kurir mengantar surat
(3) Klausa berpredikat kata benda. Contoh:


pamannya lurah
ibunya seorang bidan
kakaknya tentara


(4) Klausa berpredikat kata sifat. Contoh:


gadis itu cantik
bapak saya tampan
bapakmu pelit


(5) Klausa berpredikat frase konektif. Contoh:


anak itu merupakan musuh mereka
Sinta menjadi pramugari
Maman adalah pemuda berpikiran maju


(6) Klausa berpredikat adverbial (frase preposisional). Contoh:


nenekku dari Kalimantan
ibu ke Bandung kemarin
ayah ke Bekasi naik onta


Berdasarkan Ketergantungannya dengan Klausa Lainnya


(1) Klausa bebas,
klausa yang dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada klausa lain. Contoh:


Ani membawa buku
guru mengajar murid


(2) Klausa terikat,
klausa yang kehadirannya bergantung pada klausa lain dan biasanya ditandai oleh adanya
konjungsi (kata penghubung). Contoh:
ketika ayah pergi
agar tubuh subur
sebab kehadirannya tak diperhitungkan
Klausa terikat merupakan bagian dari sebuah kalimat, dan dapat hadir bersama-sama atau
dikaitkan dengan klausa bebas. Klausa di atas, misalnya, merupakan bagian dari kalimat :
Ibu merasa sedih ketika ayah pergi.
Tanamanan itu diberinya pupuk agar tumbuh subur.
Dadang kecewa sebab kehadirannya tak diperhitungkan


2.Frase
a. Pembagian Frase berdasarkan Sifatnya


   a. Frase nominal,
          yaitu frase yang intinya nomina, atau kata benda, dan dapat berfungsi menggantikan
          kata benda, buku tulis, lemari arsip, guru bahasa Indonesia, ibu bapak, para orang
          tua, dll.

   b. Frase verbal,
          yang intinya verba dan dapat mengganti kedudukan verba dalam kalimat. Misalnya :
          sedang belajar, sudah belajar, tidak belajar, akan belajar, tidak harus belajar, tidak
          akan ingin belajar, dll.

   c. Frase adjektival,
          yang intinya kata sifat atau adjektiva. Misalnya :
          sungguh pintar, cukup pintar, agak pintar, paling pintar, pintar sekali.

   d. Frase preposisional,
          yang salah satu unsurnya kata depan atau preposisi. Contoh :
          di depan, dari depan, ke depan, oleh mereka, kepada kami, dengan tangan kiri, dll


b. Pembagian Frase berdasarkan Fungsinya
1. Frase endosentris :
sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata atau lebih ,yang menunjukkan bahwa kelas
kata dari perpaduan itu sama dengan kelas kata dari salah satu (atau lebih) unsur
pembentuknya.
Contoh :
guru agama (kata benda)       guru (kata benda) agama (kata benda)
gadis cantik (kata benda)     gadis (kata benda) cantik (kata sifat)
Frase endosentris dibagi menjadi dua macam, yaitu :


   a. Frase bertingkat (frase subordinatif, frase atributif ) :
       frase yang mengandung unsur inti (D) dan unsur penjelas (M).


       baju baru
           D       M


       anak manis
           D       M


       sebatang rokok kretek
               M           D   M


       sebuah rumah mewah
           M           D       M


       seorang guru
           M           D


       sepotong roti
           M           D


   b. Frase setara (frase koordinatif): frase yang mengandung dua buah unsur inti (tidak
       ada unsur penjelas/atribut).


       suami istri
       sawah ladang
       sanak saudara


2. Frase Eksosentris:
sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata (atau lebih) yang menunjukkan bahwa
kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata dari salah satu(atau lebih) unsur
pembentukannya.


Contoh :
dari sekolah                       dari (kata depan) sekolah (kata benda),
yang memimpin                 yang (kata tugas) memimpin (kata kerja)


   a. Frase idiomatik, kelompok kata yang maknanya merupakan idiom (ungkapan),
       memiliki arti konotatif. Misalnya, bermental baja, membanting tulang.

   b. Frase biasa, yang memiliki arti sebenarnya. Misalnya, rumah Ateng, sedang pergi


3. Kalimat
Kalimat umumnya terdiri atas kumpulan kata. Kata ataupun kelompok kata dalam kalimat
memiliki fungsi sesuai dengan kedudukannya. Fungsi kata atau kelompok kata dalam kalimat
inilah yang dinamakan jabatan kalimat atau fungsi gramatikal kalimat. yang di antaranya ialah :


1. Subjek atau pokok kalimat,
yaitu bagian kalimat yang menjadi pokok pembicaraan atau masalah pokok. Jabatan ini
lazimnya diduduki oleh nomina atau frase nominal.


(1) Buku sekarang mahal.
(2) Kejujuran sudah merupakan barang langka saat ini.
(3) Rapat itu membahas kurikulum.


Umumnya subjek tidak dapat didahului oleh preposisi seperti di, dalam, bagi, kepada, dari,
dengan, untuk, dll.


Kalimat di bawah ini rancu atau tidak baku, dan dapat dibakukan dengan menghilangkan
preposisinya.
(4)* Dalam rapat itu membicarakan kurikulum.
(5)* Kepada para mahasiswa perlu diajar bahasa Indonesia .
(6)* Dengan kejadian itu menunjukkan bahwa pekerjaannya tidak         beres.


Kalimat di atas seharusnya demikian :


(4a) Rapat itu membicarakan kurikulum. atau
(4b) Dalam rapat itu dibicarakan kurikulum.


(5a) Para mahasiswa perlu diajar bahasa Indonesia.
(5b) Bahasa Indonesia perlu diajarkan kepada para mahasiswa
(6a) Kejadian itu menunjukkan bahwa pekerjaannya tidak beres.
(6b) Dengan kejadian itu ditunjukkan bahwa pekerjaannya tidak beres.


2. Predikat, atau sebutan
ialah bagian kalimat yang menandai apa yang dibicarakan tentang subjek. Predikat sebuah
kalimat dapat berupa nomina atau frase nominal, verba atau frase verbal, adjektiva atau frase
adjektival, frase preposisional, dan kata bilangan atau numeralia, seperti kita lihat pada
kalimat berikut.


(7) Suaminya guru.
(8) Suaminya bekerja
(9) Suaminya rajin.
(10) Suaminya dari kantor.
(11) Rumahnya satu.


3. Objek
adalah bagian kalimat yang mengikuti verba transitif atau yang melengkapi predikat verbal
transitif.
Ada dua macam :


    1. objek langsung, yaitu yang menjadi tujuan langsung dari tindakan yang dimaksud oleh
         verbanya, dan
    2. objek tak langsung. Objek langsung tidak dapat didahului oleh preposisi.


(12) Kami akan bertemu lagi dan akan membicarakan tentang soal itu.
(13) Guru itu sering memberi saya tugas.
(14) Guru itu menjanjikan sesuatu kepada saya.


Dalam kalimat (12) soal itu adalah objek langsung, dengan demikian penyisipan preposisi
tentang tidak dibenarkan. Jadi kalimat itu rancu dan tidak baku, dan dapat dibakukan dengan
menghilangkan preposisi tentang.


Dalam kalimat (13) saya adalah objek langsung, dan tugas merupakan objek tidak langsung


Sedangkan dalam kalimat (14) yang menjadi objek langsung ialah sesuatu, dan yang tidak
langsung adalah saya.
4. Keterangan
adalah bagian kalimat yang memberi kejelasan tentang kapan, di mana, dan bagaimana
peristiwa yang diutarakan dalam kalimat itu berlangsung.


   1. Keterangan tempat :
       (15) Pedagangh itu menjajakan barangnya di kota.
       (15a) Dia melamar pekerjaan di kantor tempat adiknya bekerja.

   2. Keterangan waktu :
       (16) Anaknya menulis surat itu kemarin.
       (16a) Dia menulis surat itu ketika saya masuk ke kamarnya.

   3. Keterangan sebab :
       (17) Anaknya tidak masuk sekolah karena sakit.
       (17a) Budiman tidak masuk sekolah karena ia sakit dan harus ke       dokter.

   4. Keterangan kecaraan :
       (18) la membaca dengan tekun.
       (18a) la membaca dengan suara keras dan nyaring.

   5. Keterangan tujuan :
       (19) la belajar tekun supaya lulus.
       (19a) la belajar tekun supaya tahun depan ia dapat ikut cepat       tepat.

   6. Keterangan syarat :
       (20) Pelajar itu diizinkan masuk kelas jika rapi.
       (20a) Pelajar itu diizinkan masuk kelas jika bajunya sudah rapi.



e. Pola Kalimat
Pola kalimat ialah susunan fungsi gramatikal yang tepat untuk mewujudkan suatu kalimat.
Dalam bahasa Indonesia banyak pola yang mungkin disusun, antara lain sebagai berikut:


1. Subjek-Predikat, atau S-P


Dia membaca.


2. Subjek-Predikat-Objek, atau S-P-O
Dia membaca buku bahasalndonesia.
Anwar mengembalikan buku saya.
3. Subjek-Predikat-Objek-Keterangan, atau S-P-O-K
Anaknya meminjam kamus kemarin.
Direktur ilu menandatangani perjanjian tersebut denganterpaksa


4. Predikat-Subjek, atau P-S


Belum dikembalikan juga buku saya.
Sedang tidur ayah.


5. Subjek-Predikat-Keterangan, atau S-P-K


Sekretarisnya sedang mengetik di ruang sebelah.
Pelajar itu menyimak dengan penuh perhatian.


6. K-S-P-01-02-K


Pada waktu itu dia menyerahkan bingkisan kepada pembantunya secara diam-diam.
Karena hujan dan meminjami saya sebuah payung kemarin




f. Pola Dasar Kalimat
Pola dasar kalimat adalah tinjauan terhadap fungsi subjek dan predikat kalimat berdasarkan
kelas kata yang menduduki kedua fungsi tersebut. Pola dasar kalimat bahasa Indonesia adalah
sebagai berikut:
1. Kata Benda + Kata Benda
  Paman saya pedagang.
  Itu rumah paman.
2. Kata Benda + Kata Kerja
  Paman Ateng melawak
  Iwan yang pandai itu pergi.
3. Kata Benda + Kata Sifat
  Kelinci itu lucu sekali.
  Motor Honda Samsu rusak.
4. Kata Benda + Kata Tugas
  Ibu ke pasar.
g. Ragam Kalimat
Dengan sejumlah kosa kata yang kita kuasai, kita dapat menyusun berbagai jenis kalimat sesuai
dengan pikiran, gagasan, atau perasaan yang ingin kita utarakan. Variasi bentuk atau jenis
kalimat ini lazim disebut ragam kalimat.
Berdasarkan kandungan informasi (isi) dan intonasinya, kalimat dapat dibedakan atas :


1. Kalimat deklaratif atau kalimat pernyataan,
yaitu kalimat yang mengandung informasi tentang suatu hal untuk disampaikan kepada orang
kedua agar yang bersangkutan memakluminya.


Besok paman pergi ke Medan.
Menyerah kepada takdir bukan berarti menyerah untuk kalah karena sesungguhnya manusia
ditakdirkan untuk menang.
Kecemburuan pribumi terhadap nonpribumi, terutama golongan Cina, saya pikir hanya karena
perbedaan status sosia.l
2. Kalimat interogatif atau kalimat tanya,
ialah yang berisi permintaan agar orang kedua memberi informasi tentang sesualu.


Dia pergi ke situ?
Siapa menurut pendapatmu yang akan lulus?
Hidup sederhana sudah sering dan sudah lama kita gembar- gemborkan. Tetapi hasilnya?
Benarkah generasi muda sukar diajak maju? Ataukah sebaliknya generasi tua yang kurang
mampu menawarkan kesempatan?
3. Kalimat imperatif atau kalimat perintah,
yaitu kalimat yang mengandung permintaan agar orang kedua melakukan tindakan atau
mengambil sikap tertentu sesuai dengan kata kerja yang dimaksud. Contoh:


Silakan dipahami kenyataan bahwa kaum tua-muda, wajib saling menghargai untuk saling
melengkapi.
Sebagai kaum tua, Saudara harus ,sadar bahwa dalam diri kaum        muda pun tersirat nilai-
nilai dan harapan yang jauh lebih sesuai     dengan situasi baru serta dunianya sendiri.
Sebaliknya kalian, kaum muda, harap mencari, bimbingan dan pegangan dari kaum tua yang
lebih berpengalaman, sebab kamu       tak akan dapat bergerak meraba-raba dalam gelap
menuju ide      atau cita-cita.
Berdasarkan jenis kata yang menduduki fungsi atau jabatan predikat kalimat dibedakan
atas:


1. Kalimat verbal.
yaitu yang predikatnya kata kerja.


Adik tidur.
Dia tidak melamun, tetapi berpikir,
Rasa hormat memang tidak selalu mendatangkan persahabatan, tetapi persahabatan selalu
menuntut adanya rasa hormat dan mustahil tanpa itu.


2. Kalimat nominal,
yang predikatnya bukan kata kerja.


Nartosabdo dalang.
Mereka murid-murid kebanggaan.
Pelajar di sekolah ini hampir semuanya rajin dan disiplin
Yang bersampul merah berada di meja kami.


Berdasarkan jumlah unsur pusat dan penjelasannya:
1. Kalimat inti,
ialah kalimat yang terdiri dari dua unsur pusat atau inti.
Adik menangis.


2. Kalimat transformasi,
ialah kalimat inti yang mengalami
a. Pembalikan susunan
  Menangis adik.
b. Perubahan intonasi
  Adik menangis?
  Adik, menangis?
c. Perluasan
  Adik saya sedang menangis dikamar.
d. Penegasian
  Adik tidak menangis.
Berdasarkan jumlah klausa serta sifat hubungan antarklausanya, kita mengenal kalimat
tunggal, kalimat majemuk setara kalimat kompleks, dan kalimat majemuk rapatan.


1. Kalimat tunggal
ialah yang hanya mengandung satu klausa atau yang hanya mempunyai satu objek dan satu
predikat.
Kita perlu berkreasi.
Mahasiswa itu mengadakan penelitian
Kini mahasiswa itu sedang mengadakan penelitian tentang        fluktuasi harga semen.


2. Kalimat majemuk setara,
bila hubungan antara kedua pola itu sederajat, maka terdapatlah kalimat majemuk yang
setara. Hubungan setara itu dapat diperinci lagi atas:


    a. Setara menggabungkan: penggabungan ini dapat terjadi dengan merangkaikan dua
        kalimat tunggal dengan diantarai kesenyapan antara atau dirangkaikan dengan kata-
        kata tugas seperti :
        dan, lagi, sesudah itu, karena itu


        Saya menangkap ayam itu, dan ibu memotongnya.
        Ayah memanjat pohon mangga itu, sesudah itu dipetiknya         beberapa buah.

    b. Setara memilih: kata tugas yang dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah : atau.


        Engkau tinggal saja di sini, atau engkau ikut dengan    membawa barang itu.

    c. Setara mempertentangkan: kata-kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah :
        tetapi, melainkan,hanya


        Adiknya rajin, tetapi ia sendiri malas .
        la tidak meniaga adiknya, melainkan membiarkannya saja.

    d. Setara menguatkan: kata tugas yang digunakan :
        bahkan. lagipula lagi.


        Anak ini pintar, bahkan budi pekertinya baik.
3. Kalimat kompleks / majemuk bertingkat
yang disebutl juga kalimat majemuk bertingkat, yaitu kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri
atas dua klausa, sedangkan klausa yang satu menjadi bagian klausa yang lain.
Klausa yang menjadi bagian klausa yang lain disebut klausa terikat atau anak kalimat, sedang
klausa yang memuat klausa terikat dinamakan klausa bebas.


Saya tidak tahu kapan ayahnya kembali.
Saya sendiri, yang sudah sedemikian dekat kepadanya,juga tidak tahu apa sebenamya yang dia
lnginkan sehingga tega berbuat semacam itu terhadap istrinya.


4. Kalimat majemuk rapatan
adalah gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek atau predikatnya sama maka
bagian yang sama hanya disebutkan sekali.


Pekerjaannya hanya makan.
Pekerjaannya hanya tidur.
Pekerjaannya hanya merokok.


Semua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi:
Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok.


Mereka tidak perlu tahu kapan kita harus pergl
Mereka tidak perlu tahu bagaimana kita harus pergi.
Yang pentlng tugas itu harus terlaksana.


Kedua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi:
Mereka tidak perlu tahu kapan dan bagaimana kita harus pergi. Yang penting tugas ltu harus
tertaksana.


Berdasarkan cara penyampaian pendapat atau ujaran orang ketiga, kalimat dibedakan atas
kalimat langsung dan kalimat tak langsung.


1. Kalimat langsung
yaitu yang menyatakan pendapat orang ketiga dengan mengutip kata-katanya persis seperti
waktu dikatakannya.
"Aku benar-benar mencintaimu.Aku ingin kau menjadi millkkul"         kata ibu kepada ayah.
"Kontak batin antara lbu dan anak," katanya, "ialah rahmat Tuhan        yang tak ternilai
harganya."


2. Kalimat tak langsung
kebalikan kalimat langsung, yaitu yang menyatakan isi ujaran orang ketiga tanpa mengulang
kata-katanya secara tepat. Misalnya :


Dia mengatakan bahwa kontak batin antara ibu dan anak adalah          rahmat Tuhan ya,ng tak
ternilai harganya.
D. J Schwartz menegaskan bahwa, yang pentlng bukan kenapa           kita tidak maju, tetapl
bagaimana kita harus maju.


Berdasarkan lengkap tidaknya unsur utama, kalimat dibedakan atas kalimat lengkap dan
kalimat elips.
1. Kalimat lengkap
Kalimat yang unsur-unsur penyusunnya disebutkan semua


2. Kalimat elips
disebut juga kalimat tidak sempurna atau kalimat tak lengkap, yaitu kalimat yang sebagian
unsurnya dihilangkan karena dianggap sudah jelas dari konteksnya.


Ah, masa?
Yah... mudah-mudahan saja!


Berdasarkan urutan kedudukan subjek dan predikatnya, kalimat dibedakan atas kalimat
normal dan kalimat inversi.
1. Kalimat normal
Kalimat yang disusun subyek dahulu baru predikat


2. Kalimat inversi,
disebut juga kalimat susun balik yaitu predikatnya mendahului subjek.
Telah dibenahi kakak semua mainan adik
Sadarlah Andi bahwa mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri adalah jalan
terbaik menuju bahagia.
Dialah pencurinya.
Berdasarkan diatesis, kalimat dibedakan atas kalimat aktif dan kalimat pasif.


1. Kalimat aktif
yaitu yang subjeknya dianggap melakukan tindakan seperti yang dimaksud oleh kata kerjanya.


Amat belajar.
Kita dapat mengenal watak seseorang dengan jalan mengetahui dengan siapa saja dia bisa
bergaul.
Amsah sedang tidur.


2. Kalimat pasif
ialah kalimat yang mengandung predikat verbal yang menunjukkan bahwa subjek menjadi
tujuan dan sasaran perbuatan yang dimaksud oleh verba tersebut. Contoh:


Bukunya sadah diambil.
Bingkisan tersebut sudah mereka kirim.
Tidak lama setelah dibebaskan dari hukuman itu, dia ketahuan       mencuri lagi.
Akhirnya persoalan itu terselesaikan juga.


Berdasarkan unsur pusatnya
1. Kalimat minor
yaitu yang hanya mengandung satu unsur pusat atau inti.


Diam!
Sangat bahagia.
Silakan saja!
Apa?


2. Kalimat mayor
yaitu yang mengandung lebih dari satu unsur pusat


Dia sudah berangkat
Kasur kakak rusak
Jika ingat melakukan kebajikan, lakukanlah sekarang; jika bermaksud berbuat kejahatan
tundalah hingga esok.
F. Semantik / Arti Kata

Bagian tata bahasa atau linguistik yang mempelajari arti kata ialah semantik. Sedangkan arti
atau makna ialah hubungan abstrak antara kata sebagai simbol dengan objek atau konsep yang
ditunjuk atau diwakili.


a. Arti Kata
Ada beberapa arti, Di antaranya ialah:


1. Arti leksikal,
yaitu arti kata (leksem) sebagai satuan yang bebas. Arti ini umumnya dianggap sejajar dengan
arti denotatif. Biasa pula dianggap sebagai arti menurut kamus (leksikon).


2. Arti gramatikal,
ialah arti yang timbul setelah suatu bentuk ujaran mengalami proses ketatabahasaan. Arti ini
juga disebut anti struktural. Misainya prefiks pe- lazim dianggap rnempunyai arti gramatikal
'alat untuk melakukan sesuatu, atau pelaku perbuatan tertentu'.


3. Arti denotatif,
disebut juga arti harfiah, arti lugas, arti sebenarnya, anti tersurat, yaitu arti yang didasarkan
penunjukan secara langsung pada objek atau konsep yang dimaksud. Kata bunga dalam kalimat
berikut mengandung arti denotatif .
        Bunga melati harum baunya.
        Untuk ulang tahunnya, saya mengirimi bunga waktu itu.
4. Arti konotatif,
sama dengan arti kias yaitu arti tersirat, yaitu arti yang didasarkan pada penunjukkan secara
tidak langsung. Kata bunga dalam kalimat berikut digunakan menurut arti konotatifnya.


        Yuniar adalah bunga di kelas itu.
        Generasii muda adalah bunga bangsa yang harus dibina.


5. Arti idomatik,
arti yang timbul karena dua kata bersenyawa membentuk satu kesatuan dengan rnakna baru,
dan makna barunya itu tidak dapat ditelusuri dan unsur pembentuknya. Contoh:
        Sehubungan dengan kasus itu, dia akan dihadapkan ke meja hijau.
        Jalan itu terlalu banyak polisi tidurnya.
Meja hijau = pengadilan, dan polisi tidur = tanggul penghambat, agar pengendara rnengurangi
kecepatannya
b. Hubungan Arti Kata

Sebuah kata mempunyai hubungan arti dengan kata yang lain. Ada kata yang artinya sama
dengan kata yang lain, artinya berlawanan dengan kata yang lain, atau artinya dicakup oleh
kata yang lain. Berikut ini adalah macam-macam hubungan arti.


(1) Sinonim,
ialah dua kata atau lebih yang mempunyai arti sama atau hampir sama. Misalnya :




                          an,




Sinonim yang hampir sama menyebabkan nuansa makna (perbedaan yang sangat halus).
Misalnya : bulat-bundar, menyongsong-menyambut.


Sinonirn yang hampir sama juga menyebabkan nilai rasa yang berbeda Misalnya : karyawan,
pegawai, buruh.


(2) Antonim,
yaitu dua kata atau lebih yang artinya berlawanan. Misalnya :


       Wanita dengan lelaki,
       hidup dengan mati,
       lebar dengan sempit,
       efisien dengan boros,
       dll.


(3) Hiponim,
ialah kata-kata yang artinya dicakup oleh arti kata yang lain.
Misalnya :
arti kata melati, mawar, famboyan, anggrek dicakup oleh arti kata bunga.


Di sini melati adalah hiponim dari bunga, sedang bunga adalah hiperonim dari kata melati.


Jadi hiperonim adalah kata yang mencakup kata yang lain. Kohiponim adalah hubungan yang
selajar, misalnya apel dengan anggur, kucing dengan harimau, merah dengan putih.



(4) Polisemi,
ialah kata-kata yang artinya berkaitan. Misalnya: kaki orang, kaki gunung, kaki langit, kaki
bukit.




c. Kesamaan Kata

Dalam realitas bahasa dapat ditemukan kesamaan bentuk antara kata yang satu dengan kata
yang lain, Kesamaan itu dapat berupa kesamaan tulisan, kesamaan ucapan, atau kesamaan
ucapan dan tulisan sekaligus.


    1. Homonim ialah dua kata atau lebih yang tulisan dan bunyinya sama sedang artinya
         berbeda. Misalnya bisa 'dapat', bisa 'racun', beruang yang berarti 'mempunyai uang',
         'mempunyai ruang' dan yang mengandung makna 'nama binatang', serta kopi yang
         berarti 'sejenis minuman' dan yang bermakna 'salinan'.

    2. Homofon adalah sejenis homonim, tetapi hanya bunyinya saja yang sama, sedang
         tulisan dan artinya berbeda. Contoh: massa dengan masa, tang dengan tank, bang
         dengan bank, sangsi dengan sanksi, keranjang dengan ke ranjang, dll. Seperti kita
         lihat, homofon yang sama hanya bunyinya.

    3. Homograf, juga merupakan homonim, namun yang sama hanya tulisannya sedang bunyi
         dan arti berbeda. Misalnya, serang yang berarti 'menyerbu' dan serang yang nama
         sebuah kota; teras yang bermakna bagian depan rumah' dan teras yang berarti inti.
d. Perubahan Arti Kata

Arti suatu kata dapat berubah oleh beberapa penyebab, antara lain: perubahan nilai rasa,
perubahan cakupan makna, perubahan tanggapan antara dua indera, dan perubahan makna
karena persamaan sifat.


   1. Peyorasi,
       ialah perubahan nilai rasa menjadi lebih rendah dari yang sebelumnya. Arti kata
       dianggap mengalami peyorasi jika nilainya merosot, misalnya, dari yang semula bernilai
       hormat, menjadi hina, disukai menjadi tidak atau kurang disukai, dll. Misalnya, kata
       abang, perempuan, bini, gerombolam, betina, emak eksekusi, dll.


       Dahulu kata abang mempunyai arti yang sejajar dengan kata kakak. Karena, terlalu
       sering digunakan untuk menunjuk orang-orang dari lapisan sosial bawah, seperti abang
       becak, abang bakso, dll, kemudian orang dari lapisan sosial tertentu tidak suka jika
       disapa dengan kata abang. Dengan demikian nilai kata tersebut menjadi merosot.


   2. Ameliorasi
       ialah perubahan nilai rasa menjadi lebih tinggi, lebih hormat, dan lebih disukai.
       Misalnya perubahan arti kata istri. wanita, suami, kakak, putra, dll.

   3. Perluasan
       adalah perubahan arti kata yang semula cakupan maknanya lebih sempit dari yang
       sekarang. Misalnya perubahan arti pada kata saudara, bapak, ibu, berlayar, kereta api,
       dll.

   4. Penyempitan
       yaitu perubahann arti dari yang semula cakupan maknanya luas kini menjadi lebih
       sempit. Misalnya perubahan arti pada, kata Ulama, pendeta, sarjana, pena, lafal,
       golongan, dan perkosa.

   5. Sinestesia,
       yaitu perubahan arti karena adanya pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda,
       misalnya kata keras, lembut, manis, dalam ungkapan kata-katanya pedas, suaranya
       keras, gerak tubuhnya lembut, wajahnya manis. Kata manis yang seharusnya
       berhubungan dengan indra pengecap di sini diterapkan pada indra penglihatan atau
       visual.
   6. Asosiasi
       ialah perubahan arti karena adanya persamaan sifat atau hubungan makna secara tidak
       langsung. Misalnya kata amplop dihubungkan dengan sesuatu yang dimasukkan di
       dalamnya, yang biasanya berupa uang untuk melicinkan persoalan. Misalnya, dalam
       ungkapan berikut: agar persoalan itu lekas beres, beri saja dia amplop. Begitu juga
       kata catut yang dihubungkan dengan arti kata korupsi.


Catatan                                                                                       :
Yang dimaksud dengan nilai rasa suku kata ialah kesan baik buruk, positif negatif kata
tersebut. Misalnya kata tolol yang mengandung nilai rasa penghinaan, dan angka tiga belas
dkanggap mempunym nilai rasa kesialanAsal-usul bentuk kata dipelajari oleh etimologi.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kata memiliki sejarah, mempunyai asal-usul. Dia lahir,
tumbuh, dan berkembang. Ada yang hidup terus dipakai orang, dan sebaliknya ada yang begitu
lahir, langsung menghilang. Kata-kata, seperti manusia, mempunyai sejarah dan mengalami
perubahan, baik bentuk maupun isinya, baik bunyi maupun artinya. Kita ambil sebagai contoh,
misalnya, kata iklan. Kata ini berasal dari bahasa Arab i'lam, bentuk verba imperatif yang
berani 'ketahuilah!' .Sekarang sinonim dengan advertensi.


e. Gejala Bahasa

Dalam komunikasi sehari-hari kita sering rnemakai kata harta dan arti. Siapa mengira kedua
kata ini ternyata memiliki sejarah kelahiran yang sama, berasal dari akar yang sama. Dan
keduanya mempunyai hubungan erat dengan kata permata. Baik arti maupun harta berasal dari
kata Sansekerta artha 'arti atau guna'. Harta adalah 'sesuatu yang sangat berarti atau berguna'
Kata parama juga mempunyai arti yang sama, yakni parama 'utama' dan artha. Jadi secara
etimologis kata itu bermakna 'arti atau guna yang utama' Dan sekarang? Apa maknanya?


Dalam bagian ini kita tidak akan menelusuri asal-usul setiap kata, tetapi kita hanya mencoba
untuk memahami konsep-konsep yang menandai perubahan bentuk kata atau proses
pembentukan kata, yang lazim kita sebut gejala bahause.


Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:


(1) Adaptasi,
penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis
Contoh :
         vyaya menjadi biaya
         pajeg menjadi pajak
         voorloper menjadi pelopor
         fardhu menjadi perlu
         igreja menjadi gereja
         voorschot menjadi persekot
         coup d'etat menjadi kudeta
         postcard menjadi kartu pos
         certificate of deposit menjadi sertifikat deposito
         mass producIion menjadi produkmassa


(2) Analogi,
pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.
Contoh :


         Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata :
          putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari


         Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata :
          hutanisasi, Indonesianisasi


         Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata :
          pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi


         Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata :
          swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan


         Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata :
          tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna
          busana.


(3) Anaptiksis (Suara Bakti),
penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan Disebut juga suara bakti.
Contoh:


         sloka menjadi seloka
         srigala menjadi serigala
         negri menjadi negeri
         ksatria menjadi kesatria


(4) Asimilasi,
proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir
sama.
Contoh:


         in-moral menjadi immoral
         in-perfect menjadi imperfek
         al-salam menjadi asalam
         ad-similatio menjadi asimilasi
         in-relevan menjadi irelevan
         ad-similatio menjadi asimilasi


(5) Disimilasi,
kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang
sama dijadikan berbeda. Contoh :


saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur


(6) Diftongisasi,
perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan
monoftongisasi.Contoh :


         sentosa menjadi sentausa
         cuke menjadi cukai
         pande menjadi pandai
         gawe menjadi gawai


(7) Monoftongisasi,
perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi
monoftong (vokal tunggal) Contoh :


         autonomi menjadi otonomi
         autobtografi menjadi otobiografi
        satai menjadi sate
        gulai rnenjadi gule


(8) Sandi (Persandian),
perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan,
dengan akibat jumlah suku kata berkurang satu. Contoh :


        keratuan menjadi keraton
        kedatuan menjadi kedaton
        sajian menjadi sajen
        durian menjadi duren


Perhatikan jumlah suku kata!


ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton
1   2      3   4       1   2   3


du - ri- an ~> du - ren
1       2 3        1   2
(9) Hiperkorek,
pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.


Contoh :


        Sabtu menjadi Saptu
        jadwal menjadi jadual
        manajemen menjadi menejemen
        asas menjadi azas
        surga menjadi sorga
        Teladan menjadi tauladan
        izin menjadi ijin
        Jumat menjadi Jum'at
        kualifikasi menjadi kwalifikasi
        frekuensi menjadi frekwensi
        kuantitas menjadi kwantitas
        November menjadi Nopember
      kuitansi menjadi kwitansi
      mengubah menjadi merubah
      februari menjadi Pebruari
      persen menjadi prosen
      pelaris menjadi penglaris
      system menjadi sistim
      teknik menjadi tehnik
      apotek menjadi apotik
      telepon menjadi telfon
      ijazah menjadi ijasah
      atlet menjadi atlit
      nasihat menjadi nasehat
      biaya menjadi beaya
      perusak menjadi pengrusak
      zaman menjadi jaman
      koordinasi menjadi kordinasi


(10) Kontaminasi,
disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan
dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan. Contoh :


      berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali
      saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian
      musnah dan punah menjadi musnah


(11) Metatesis,
pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam
suatu kata bergeser tempatnya. Contoh :


      rontal menjadi lontar
      anteng menjadi tenang
      usap menjadi sapu
      palsu menjadi sulap
      keluk menjadi lekuk
   
(12) Protesis,
perubahan fonem di depan bentuk kata asal. Contoh :


      lang menjadi elang
      mak menjadi emak
      mas menjadi emas
      undur menjadi mundur
      stri menjadi istri
      arta menjadi harta
      alangan menjadi halangan
      sa menjadi esa
      atus menjadi ratus
      eram menjadi peram


(13) Epentesis,
perubahan bentuk kata yang terjadi karma penyisipan fonem ke dalam kata asal Contoh :


      baya menjadi bahaya
      bhayamkara menjadi bhayangkara
      gopala menjadi gembala
      jur menjadi jemur
      bahasa menjadi bahasa.


(14) Paragog,
perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal. Contoh :


      mama, bapa menjadi mamak dan bapak
      pen menjadi pena
      datu menjadi datuk
      hulu bala menjadi hulubalang
      boek menjadi buku
      abad menjadi abadi
      pati menjadi patih
      bank menjadi bangku
      gaja menjadi gajah
(15) Aferesis,
penghilangan fonem di awal bentuk asal. Contoh :


      adhyaksa menjadi jaksa
      empunya menjadi punya
      sampuh menjadi ampuh
      wujud menjadi ujud
      bapak menjadi pak
      ibu menjadi bu.


(16) Sinkop,
penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal. Contoh :


      laghu menjadi lagu
      vidyadhari menjadi bidadari
      pelihara menjadi piara
      mangkin menjadi makin


(17) Apokop,
penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal. Contoh :


      sikut menjadi siku
      riang menjadi ria
      balik menjadi bali
      anugraha menjadi anugerah
      pelangit menjadi pelangi.


(18) Kontraksi, gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru. Contoh


      tidak ada menjadi tiada
      kamu sekalian menjadi kalian
      kelam harian menjadi kemarin
      bagai itu menjadi begitu
      bagai ini menjadi begini.
       Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala
       kontraksi.
(19) Nasalisasi,
atau penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/,
den /ny/. Contoh :


       me baca menjadi membaca
       pe duduk menjadi penduduk
       pe garis menjadi penggaris.


(20) Palatalisasi,
penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan. Contoh :


pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/,
/priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan
/a/ yang digunakan berdampingan.


(21) Labialisasi,
penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah
kata. Contoh :


pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul
di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada
waktu kita lafalkan
kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut
timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,


(22) Onomatope,
proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi. Contoh :


       hura-hura dari hore-hore.
       aum (suara harimau)
       meong (suara kucing)
       embik (suara kambing)
       desis (suara ular)
       desah (suara napas)
       ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)
(23) Haplologi,
proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
Contoh :


       samanantara menjadi sementara
       mahardhika menjadi merdeka
       budhidaya menjadi budaya



G. Kesusastraan

Secara morfologis kata kesusastraan, yang lebih sering hanya disebut sastra, dapat diuraikan
atas konfiks ke-an yang berarti 'semua yang berkaitan dengani, prefiks su 'baik, indah, berguna'
dan bentuk dasar sastra yang berarti 'kata, tulisan, ilmu'.


Jadi, menurut uraian di atas kesusastraan adalah semua yang berkaitan dengan tulisan yang
indah. Sedang menurut arti istilah, kesusastraan atau sastra ialah cabang seni yang
menggunakan bahasa sebagai medium.


Umumnya dikatakan bahwa keindahan atau nilai estetis suatu cipta sastra timbul karena
adanya keserasian, kesepadanan, atau keharmonisan antara isi (= topik, amanat) dengan
bentuk (= cara pengungkapan isi).


Keindahan inilah yang kemudian merebut perhatian pembaca, dan menarik mereka ke dalam
penghayatan    terhadap    cipta    sastra   tersebut.   Adanya   nilai   keindahan   itulah   yang
membangkitkan perasaan hati, sedih, gembira, puas atau sebaliknya kecewa di dalam batin
pembaca.



a. Sejarah Kesusastraan

Yang dimaksud dengan sejarah kesusastraan di sini ialah keterangan yang membeberkan
perkembangan kesusastraan dari mulai timbulnya sampai sekarang. Kesusastraan Indonesia
dapat dikatakan berawal dari jenis sastra lisan yang disampaikan secara leluri atau dari mulut
ke mulut. Sumber karya sastra Indonesia tertua berbentuk tambo karya Tuno Muhamad Sri
Lanang, yaitu Sejarah Melayu (1615).
Penulisan sastra kemudian dikembangkan oleh pelopor masa peralihan, yaitu Abdullah bin
Abdulkadir Munsi, yaim pada tahun 1797. Setelah itu muncul Angkatan Balai Pustaka (1920-an),
Angkatan Pujangga Baru (1930-an), Angkatan 45, Angkatan 50, Angkatan 66, dan sampai
sekarang. Pembagian kesusastraan menurut perkembangan jaman di Indonesia yang juga
disebut Periodisasi Kesusastraan Indonesia adalah sebagai berikut:


I. Kesusastraan Lama :


    1. masa Purba.
    2. masa Hindu-Arab.


II. Kesusastraan Peralihan :


    1. masa Abdullah bin Abdulkadir Munsi.
    2. masa Balai Pustaka (1920-an )


III. Kesusastraan Baru :


    1. masa Angkatan Pujangga Baru.
    2. masa Angkatan 45.
    3. masa Angkatan 50.
    4. masa Angkatan 66.


b. Ragam Karya Sastra

Ragam karya sastra secara garis besar ada dua, yaitu :


    1. Prosa
        Prosa ialah karangan yang tidak terikat, yang ditonjolkan adalah isi dan keindahan
        bahasanya;

    2. Puisi.
        Puisi adalah karya sastra yang terikat oleh rima, irama, dan bait.


Puisi ini merupakan bentuk karya sastra yang terikat oleh jumlah bait, jumlah larik tiap bait,
jumlah silaba tiap larik, dan rima.
c. Puisi Lama :
1. Mantra


Mantra merupakan salah satu bentuk puisi asli Indonesia terdiri atas beberapa bait dengan
rangkaian kata yang benilai ritmis. Bahasa mantra dianggap mengandung kekuatan magis, oleh
karenanya tidak semua orang dizinkan membacanya kecuali ahlinya, yaim pawang.


Pasu jantan, pasu rencana
Tutup pasu, penolak pasu
Kau menantang pada aku
Terjantang mataku




Jantungku sudah kugantung
Hati kau sudah kurantai
Sipulut namanya usar
Berderailah daun selasih


Aku tutup hati yang besar
Aku gantung lidah yang fasik
Jantungku sudah kugantung
Hatiku sudah kurantai


Rantai Allah, rantai Muhammad
Rantai Baginda Rasulallah


2. Pantun
Bentu puisi asli Indonesia yang biasanya tiap bait terdiri atas empat baris yang dibagi atas dua
baris pertama mempakan sampiran, dan dua baris berikutnya merupakan isi. Rimanya adalah a
b a b.

Berburu ke padang datar
mendapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
bagai bunga kembang tak jadi
Karmina atau Pantun kilat (Pantun 2 larik; I sampiran dan 1 isi)
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula


3. Talibun (Parma 6 larik: 3 sampiran, 3 isi)

Kalau anak pergi ke lepau
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi merantau
lbu cari sanakpun cari
lnduksemang cari dahulu


4. Seloka atau Pantun Berkait (Ada pertalian antarbait)

Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tidak akan rusuh
Ibu mati bapak berjalan


Kayu jati bertimbal jalan
turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
kemana untung diserahkan


5. Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India). Tiap bait terdiri alas dua baris,
berisi nasihat. Pengarang gurindam yang terkenal adalah Raja Ali Haji dengan karyanya yang
berjudul Gurindam Dua Belas.


Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat


Barang siapa tinggalkan sembahyang
Bagai rumah tiada bertiang


Jika suami tak berhati lurus
Istripun kelak memadi kurus
6. Syair
Merupakan puisi lama yang berasal dari Arab. Tiap bait terdiri atas empat baris. Tiap baris
biasanya mempunyai delapan sampai dua belas silaba (suku kata). Isinya cerita den rimanya
adalah a a a a.

Bulan purnama cahaya terang
bintang seperti intan di karang
Pungguk merawan seorang-orang
Berahikan bulan di amah seberang


Pungguk becinta pagi dan petang
melihat bulan di pagar bintang
Terselap merindu dendamnya datang
dari saujana pungguk menentang.



d. Puisi Baru

Bentuk puisi ini berbait dan berirama tetapi tidak terikat oleh jumlah bait, jumlah baris,
jumlah silaba dan rima. Puisi baru lebih mementingkan isi daripada irama.


Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan atas balada, elegi, romans, ode, himne, epigram, dan
satire.


1. Balada :
bentuk puisi baru yang isinya berupa cerita dan kisah perjalanan hidup seseorang.


2. Elegi :
bentuk puisi baru yang berisi kesedihan, suara sukma yang meratap, batin yang mengeluh,
serta tangisan hati.


3. Romans :
bentuk puisi baru yang isinya merupakan luapan perasaan kasih sayang, cinta terhadap sesama.


4. Ode :
bentuk puisi baru yang isinya berupa senjungan kepada pahlawan. Bentuk puisi ini juga
dikatakan puisi kepahlawanan.
5. Himne :
bentuk puisi baru yang isinya berupa sanjungan terhadap Tuhan.


Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta.


Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.


Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)


6. Epigram :
bentuk puisi baru yang isinya mengandung semangat yang ditujukan kepada generasi muda.

Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)


7. Satire :
Bentuk puisi baru yang berisi sindiran.


Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
Berdasarkan jumlah lariknya, puisi baru dibedakan atas :


         distikon (2 larik),
         terzina (3 larik),
         kuatrin (4 larik),
         selestet atau dobel terzina (6 larik),
         septima (7 larik),
         oktaf (8 larik), dan
         soneta (14 larik).




e. Prosa Lama

Prosa lama cenderung bersifat imajinatif, istanasentris, didaktif, anonim, dan bentuk serta
isinya statis, sedangkan prosa baru bersifar realistis (melukiskan kenyataan sehari-hari),
dinamis atau mengalami perubahan terus-menerus sesuai dengan pembahan masa, dan tidak
anonim.


Yang termasuk prosa lama ialah:


A. Dongeng
yaitu bentuk prosa lama yang semata-mata berdasarkan khayal dan disampaikan secara lisan,
Selanjutnya dongeng dibedakan lagi alas:


1. Fabel (dongeng tentang binatang)
Contoh:


Kancil Yang Cerdik
Bayan Budiman


2. Legenda (dongeng yang isinya dikaitkan dengan keunikan atau keajaiban alam)
Contoh:


Asal-usul Kota Banyuwangi
Sangkuriang
3. Sage (dongeng yang mengandung unsur-unsur sejarah)
Contoh :


Darmuawulan
Terjadinya Kota Majapahit


4. Mite (dongeng lentang dewan-dewa atau makhluk lain yang diauggap mempunyai sijat
kedewaan, dan sakral)
Contoh:


Cerita Gerhana
Nyi Loro Kidul
Hikayat Sang Boma



5. Epos (Wiracarita/dongeng kepahlawanan)
Contoh:


Ramayana
Mahabarata


6. Dongeng Jenaka (dongeng yang menceritakan kebodohan atau perilaku seseorang yang
penuh kejenakaan atau lelucon)
Contoh:


Pak Pandir
Pak Belalang
Si Lebai Malang
Abu Nawas


B. Hikayat
yaitu prosa lama yang isinya mengenai kejadian-kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga
raja.
Contoh:


Hikayat Hang Tuah
Hikayat Si Miskin
Hikayal Panca Tantra
Hikayat Panji Semirang
Hikayat Dalang Indra Kusuma
Hikayat Amir Hamzah


C. Silsilah atau tambo,
yaitu semacam sejarah, tetapi isinya sudah bercampur dengan khayalan sehingga banyak cerita
yang tidak tercerna oleh pikiran sehat.
Contoh:


Sejarah Melayu
HikayatRaja-raja Pasai
Sejarah Melayu-Bugis




f. Prosa Baru
Yang tergolong prosa baru adalah roman, novel, cerpen, biografi, drama, kritik, dan esai.


a. Roman
Bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya.
Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa
atau meninggal dunia. Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam,
antara lain sebagai berikut:


1. Roman bertendens,
yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang
dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh:


Layar Terkembang oleh : Sutan Takdir Alisyahbana.
Salah Asuhan oleh: Abdul Muis.
Darah Muda oleh: Adinegoro.


2. Roman sosial,
memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai
keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan.
Contoh:


Sengsara Membawa Nikmat oleh: Tulis St. Sati.
Neraka Dunia oleh: Adinegoro.
3. Roman sejarah,
yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau
kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh:


Hulubalang Raja oleh: Nur St. Iskandar.
Tambera oleh: Utuy Tatang Sontani.
Surapati oleh: Abdul Muis.


4. Roman psikologis,
yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan
perilaku tokoh utamanya.
Contoh:


Atheis oleh: Achdiat Kartamiharja.
Katak Hendak Menjadi Lembu oleh: Nur St. Iskandar.
Belenggu oleh: Armijn Pane.


5. Roman detektif,
yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku
utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan.
Contoh:


Mencari Pencuri Anak Perawan oleh: Suman HS.
Percobaan Seria oleh: Suman HS.
Kasih Tak Terlerai oleh: Suman HS.


b. Novel
Berasal dari Italia yaitu novella 'berita' . Bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian
kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik.
Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku. lika roman
condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan
lebih panjang dari cerpen.
Contoh:


Ave Maria oleh: Idrus
Keluarga Gerilya oleh: Pramoedya Ananta Toer.
Perburuan oleh: Pramoedya Ananta Toer.
Ziarah oleh: Iwan Simatupang.
Surabaya oleh: Idrus


c. Cerpen
Cerpen Bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang
terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi
hat itu tidak menyebabkan perubahannasib pelakunya.
Contoh:


Radio Masyarakat oleh : Rosihan anwar
Bola Lampu oleh : Asrul Sani
Teman Duduk oleh : Moh. Kosim
Wajah yang Bembah oleh : Trisno Sumarjo
Robohnya Surau Kami oleh : A.A. Navis


d. Biografi
Bentuk prosa yang menceritakan riwayat hidup seseorang. Biografi yang menceritakan
kehidupan pengarangnya sendiri disebut autobiografi. Contoh:


Hikayat Abdullah oleh: Abdullah bin Abdul kadir Munsi.
Pengalaman Masa Kecil oleh: Nur St Iskandar.


e. Drama
(Yunani: drama 'Tindakan, perbuatan'); karya sastra yang ditulis untuk dipanggungkan, dan
bercorak dramatik. Sebuah drama terbagi atas beberapa bagian yang disebut babak dan babak
dibagi atas beberapa adegan.Diawali oleh prolog, yaitu kata pendahuluan yang menarik
perhatian penonton ke dalam suasana yang dikehendaki, dan diakhiri oleh epilog, yakni kata-
kata yang mengandung iktisar seluruh cerita. Sedang percakapan antara dua pelaku disebut
dialog
Contoh:


Nyai Dasimah oleh: Rustandi
Bebasari oleh: Rustam Effendi
Kertajaya oleh: Sanusi Pane
Lukisan Masa oleh: Armijn Pane
Manusia Baru oleh: Sanusi Pane
Sandyangkalaning Majapahit oleh Sanusi Pane
Ken Arok Ken Dedes oleh: Mohamad Yamin
Sedih dan Gembira oleh:Usmar Ismail
Taufan Atas Asia oleh: El Hakim
Bulan Bujur Sangkar oleh: Iwan Simatupang



g. Karya Sastra
I. Masa Kesusastraan Lama


    1. Mahabarata, oleh: Wyasa
    2. Ramayana, oleh: Walmiki
    3. Arjuna Wiwaha, oleh: Empu Kanwa
    4. Centini, oleh: Ronggowarsito
    5. Negara Kertagama, oleh: Empu Prapanca
    6. Gatot Kaca Seraya, oleh: Empu Sedah
    7. Syair Perahu, oleh Hamzah Fansuri
    8. Syair Burung Pungguk, oleh Hamzah Fansuri
    9. Syair Abdul Muluk, oleh: Raja Ali Haji
    10. Gurindam Dua-belas, oleh: Raja Ali Haji
    11. Sejarah Melayu, oleh: Tun Muhamad Sri Lanang


II. Masa Kesusastraan Peralihan (Abdullah bin Abdulkadir Munsi)


    1. Hikayat Abdullah
    2. Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah
    3. Syair Singapura Dimakan Api
    4. Hikayat Sang Boma
    5. Hikayat Bakhtiar


III. Masa Balai Pustaka


    1. Siti Nurbaya, oleh: Marah Rusli
    2. Salah Asuhan, oleh: Abdul Muis
    3. Kasih Tak Terlerai, oleh: Suman HS
    4. Salah pilih, oleh: Nur St. Iskandar
    5. Cinta Membawa Maut, oleh: Nur St. Iskandar
    6. Hulubalang Raja, oleh: Nur St. Iskandar
    7. Katak Hendak Menjadi Lembu, oleh: Nur St. Iskandar
    8. Neraka Dunia, oleh: Nur St. Iskandar
    9. Karena Mertua, oleh: Nur St. Iskandar
   10. Cinta dan Keajaiban, oleh: Nur St. Iskandar
   11. Darah Muda, oleh: Adinegoro
   12. Surapati, oleh: Abdul Muis
   13. Pertemuan Jodoh, oleh: Abdul Muis
   14. Robert Anak Surapati, oleh: Abdul Muis
   15. Percobaan Setia, oleh: Suman HS
   16. Mencari Pencuri Anak Perawan, oleh: Suman HS
   17. Teman Duduk (cerpen), oleh: M. Kosim
   18. Menebus Dosa, oleh: Aman Datuk Majoindo
   19. Sukreni Gadis Bali, oleh: I Gusti Nyoman panji Tisna
   20. l Swasta Setahun di Bedahulu, oleh: I Gusti Nyoman panji Tisna
   21. Kehilangan Mestika, oleh: Hamidah
   22. Pahlawan Minahasa, oleh: M.H. Dayoh
   23. Andong Teruna, oleh: Sutomo jauhar Arifin


IV. Masa Pujangga Baru


   1. Layar Terkembang, oleh: S.T. Alisyahbana
   2. Dian yang Tak Kunjung Padam, oleh: S.T. Alisyahbana
   3. Anak Perawan di Sarang Penyamun, oleh: S.T. Alisyahbana
   4. Di Bawah Lindungan Ka'bah, oleh: Hamka
   5. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, oleh: Hamka
   6. Bebasari (drama), oleh: Sanusi Pane
   7. Kertajaya ( drama), oleh: Sanusi Pane
   8. Sandyangkalaning Majapahit(drama), oleh: Sanusi Pane
   9. Puspa Mega, oleh: Sanusi Pane
   10. Madah Kelana, oleh: Sanusi Pane
   11. Manusia Baru (drama), oleh: Armijn Pane
   12. Lukisan Manusia(drama), oleh: Armijn Pane
   13. Ratna (drama), oleh: Armijn Pane
   14. Lenggang Kencana (drama), oleh: Armijn Pane
   15. Ken Arok Ken Dedes, oleh: M Yamin
   16. Diponegoro, oleh: M Yamin
   17. Tanah Air, oleh: M Yamin
   18. Dalam Lingkungan Kawat Berduri, oleh: Asmara Hadi
   19. Rindu Dendam, oleh: Y.E. Tatengkeng
   20. Buah Rindu, oleh: Amir Hamzah
   21. Nyanyi Sunyi, oleh: Amir Hamzah
   22. Setanggi Timur, oleh: Amir Hamzah
   23. Puspa Aneka, oleh: Yogi ( A. Rivai )
   24. Dewan Sajak, oleh: A. Hasjimi ( Ali Hasjim )


V. Masa Angkatan 45


   1. Sedih dan Gembira (kumpulan drama), oleh: Usmar Ismail
   2. Kita Berjuang(puisi), oleh: Usmar Ismail
   3. Cahaya Merdeka (puisi), oleh: Usmar Ismail
   4. Puntung Berasap (puisi), oleh: Usmar Ismail
   5. Taufan di Atas Asia (kumpulan drama), oleh: El Manik
   6. lnlelek lstimewa, oleh: El Manik
   7. Benciku Melaut, oleh: Amal Hamzah
   8. Pembebasan Pertama (puisi), oleh: Amal Hamzah
   9. Radio Masyarakat, oleh: Rosihan Anwar
   10. Kerikil Tajam(puisi), oleh: Chairil Anwar
   11. Deru Campur Debu (puisi), oleh: Chairil Anwar
   12. Kejahatan Membalas Dendam(drama), oleh: Idrus
   13. Coret-coret di Bawah Tanah (drama), oleh: Idrus
   14. Jalan Tak Ada Ujung, oleh: Mochtar Lubis
   15. Tak Ada Esok, oleh: Mochtar Lubis
   16. Keretakan dan Ketegangan,(Kumpulan cerpen), oleh: Achdijat Kartamiharja
   17. Yang Terhempas dan yang Terkandas,(Kumpulan cerpen), oleh: Rusman Sutiasumarga
   18. Kata Hati dan Perbuatan (puisi), oleh: Trisno Sumardjo
   19. Wajah yang Berubah (kumpulan cerpen), oleh: Trisno Sumardjo
   20. Kota Harmoni, oleh: Idrus


VI. Masa Angkatan 50


   1. Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen),oleh: A.A. Navis
   2. Kemarau (roman), oleh: A.A. Navis
   3. Bianglala (kumpulan cerpen), oleh: A.A. Navis
   4. Kisah-kisah Revolusi, oleh: Trisno Yuwono
   5. Pagar Kawat Berduri (roman), oleh: Trisno Yuwono
   6. Laki-laki dan Mesiu, (kumpulan cerpen), oleh: Trisno Yuwono
   7. Bulan Bujur Sangkar(dmma), oleh: Iwan Simatupang
   8. Lebih hitam dari Hitam (cerpen), oleh: Iwan Simatupang
   9. Kering (roman), oleh: Iwan Simatupang
   10. Merahnya Merah, oleh: Iwan Simatupang
   11. Ziarah (novel), oleh: Iwan Simatupang
   12. Pulang (roman), oleh: Toha Mochtar
   13. Daerah tak Bertuan (roman), oleh: Toha Mochtar
   14. Kejantanan di Sumbing (kumpulan cerpen),oleh: Subagio Sastrowardojo
   15. Simphoni, oleh: Subagio Sastrowardojo
   16. Perjalanan Pengantin, oleh: Ajip Rosidi
   17. Jalan ke Surga, oleh: Ajip Rosidi


VII. Masa Angkatan 66


   1. Benteng dan Tirani (kumpulan puisi), oleh: Taufik Ismail
   2. Sajak Ladang Jagung(kumpulan puisi), oleh: Taufik Ismail
   3. Selamatan Anak Cucu Sulaiman(drama), oleh: W.S. Rendra
   4. Blues untuk Bonnie(kumpulan puisi), oleh: W.S. Rendra
   5. Ia Sudah Bertualang (kumpulan cerpen), oleh: W.S. Rendra
   6. Balada Orang-Orang Tercinta (k. puisi), oleh: W.S. Rendra
   7. Pada Sebuah Kapal (novel), oleh: Nh. Dini
   8. Namaku Hiroko (novel), oleh: Nh. Dini
   9. Sebuah Lorong di Kotaku (novel), oleh: Nh. Dini
   10. Ladang Perminus(novel), oleh: Ramadhan K.H.
   11. O, Amuk, Kapak (kumpulan puisi), oleh: Sutardji Calzoum Bachri
   12. Perahu Kertas (kumpulan poisi), oleh: Sapardi Djoko Damono
   13. Pergolakan (novel), oleh: Wildan Yatim
   14. Stasiun (novel), oleh: Putu Wijaya
   15. Raumanen (novel), oleh: Mariane Katoppo


h. Unsur-unsur Karya Sastra

   1. Unsur lntrinsik,
       unsur-unsur yang tendapat di dalam diri karya sastra itu sendiri, yakni :
           a. Tema (pokok penceritaan)
           b. Alur (plot) adalah jalinan peristiwa yang membangun cerita yang mempunyai
               hubungan sebab-akibat
           c. Penokohan/perwatakan
           d. Latar (tempat, waktu, dan suasana yang melingkupi terjadinya cerita)
           e. Gaya bahasa penceritaan
             f.   Sudutpandang
             g. Amanat


    2. Unsur Ekstrimik,
        unsur-unsur (faktor-faktor) yang terdapat di luar karya sastra yang mempengaruhi
        kelahiran dan keberadaan suatu karya sastra dan mempermudah memahami karya
        sastra tersebut.


        Faktor-faktor tersebut antara lain: biografi pengarang, agama, dan falsafah yang dianut
        pengarang, sejarah, dan kondisi sosial ekonomi masyrakat yang melatarbelakangi
        terciptanya karya sastra.




i. Persamaan dan Perbedaan Karmina, Distikon, clan Gurindam

Persamaan : Sama-sama dua baris dalam satu bait


Perbedaan :
Karmina :
baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi. contoh :
dahulu karang sekarang besi, dahulu sayang sekarang benci.


Distikon :
lebih mementingkan isi di samping irama, tidak terikat (bebas). contoh :
berkali kita tinggal,ulangi lagi dan cari akal


Gurindam :
baris pertama merupakan sebab atau persoalan sedangkan baris kedua merupakan akibat atau
penyelesaian. contoh : kurang pikir kurang siasat,tentu dirimu akan sesat.


j. Persamaan dan Perbedaan antara Pantun dari Syair

Persamaan :
keduanya mempunym baris yang sama dalam satu bait, yaitu 4 baris.
Perbedaan :
sajak akhir berirama ab-ab pada pantun dan aa-aa pada syair. Pantun berisi sampiran dan isi
sedangkan syair merupakan rangkaian cerita.


Persamaan dan Perbedaan antara Pantun dan Soneta


Persamaan :
oktaf (8 baris pertama) pada soneta melukiskan alam sama halnya sampiran pada pantun, dan
sektet (6 baris terakhir) merupakan kesimpulan dari oktaf, sama halnya dengan isi pada
pantun. Peralihan dari oktaf ke sektet dalam soneta disebut volta.


Perbedaan :
terletak dari rumus sajak akhir, soneta rumus persajakan akhirnya masing-masing abba-abba-
cdc-dcd sedangkan pantun ab-ab, dan tentu saja jumlah baris pada soneta 14 baris, terdiri dari
4 bait yakni dua buah kuatrain yang disebut oktaf dan dua buah terzina yang disebut sektet,
sedangkan pantun hanya 4 baris. Pantun mewakili kesusastraan puisi lama sedangkam soneta
mewakili kesusastramn puisi baru.


k. Persamaan dan Perbedaan antara Roman, Novel, dan Cerpen

Persamaan : sama-sama mewakili kesusastraan prosa baru.


Perbedaan :


                    a. Roman lebih panjang daripada novel dan novel lebih panjang daripada
                        cerpen.
                    b. Roman menceritakan seluruh kehidupan dari kecil sampai mati, novel
                        menceritakan kejadian yang luar biasa yang mengubah nasib pelaku,
                        dan cerpen hanya menceritakan kejadian dalam kehidupan yang luas.
                    c. Roman dan novel terdiri atas beberapa alur sedangkan cerpen hanya
                        sate alur.


l.   Perbedaan antara Novel dan Hikayat

      a. Novel merupakan bentuk kesusastraan baru sedangkan hikayat bentuk kesusastraan
         lama.
      b. Novel lebih pendek daripada roman sedangkan hikayat sama dengan roman.
    c. Novel menceritakan kehidupan masyarakat sedangkan hikayat menceritakan kehidupan
        raja-raja atau dewa-dewa.
    d. Novel dihiasi ilustrasi kehidupan yang realistis sedangkan hikayat dihiasi dongengan
        yang serba indah dan fantastis.



m. Aliran-aliran Kesusastraan

1. Realisme,
Aliran kesusastraan yang mengambil realitas sebagai unsur terpenting bagi karya sastra. Jadi,
merupakan aliran yang berlandaskan pada kenyataan sehari-hari yang hidup dalam suatu
masyarakat.
Realisme dibagi menjadi :


    a. lmpresionisme, aliran yang mementingkan kesan sepintas dalam karya sastra.
    b. Naturalisme, bagian dari realisme, yang cenderung melukiskan segi-segi bentuk atau
        kebobrokan yang terdapat dalam lingkungan masyarakat.
    c. Determinisme, cabang naturalisme, yang menampilkan semacam paksaan nasib atas
        pelakunya. Dalam hal ini nasib bukan yang dikarenakan ketidakmampuan pelaku, tetapi
        karena keadaan masyarakat, penyakit keturunan, dll.


2. Ekspresionisme,
Aliran yang menampilkan curahan atau gejolak jiwa pengarang sendiri. Kebanyakan digunakan
dalarn puisi. Ekspresionisme dibagi menjadi :


    a. Romantik, aliran yang terlalu mengutamakan perasaan; bahkan kadang-kadang penuh
        angan-angan yang menyeret kita pada alam yang fantastis.
    b. Simbolik, aliran yang mempelajari pemakaian citraan yang konkret untuk
        mengungkapkan perasaan atau ide yang abstrak.
    c. Surealisme, aliran yang berusaha mengungkapkan pengaruh bawah sadar.
    d. Psikologisme,aliran yang mengutamakan penguraian jiwa tokoh dalam karya sastra
        berdasarkan teori psikologi yang dipergunakan pengarangnya.


n. Jenis-jenis Cerita
1. Epik,
berasal dari bahasa, Yunani yang berarti 'kata' atau 'kisah' dalam hal ini epik merupakan cerita
yang tidak terlalu dipengaruhi oleh perasaan pengarangnya. Jadi merupakan karangan objektif.
2. Lirik,
dari kata lier, `sejenis gitar', Di sini lirik mengandung arti karangan yang terlalu menonjolkan
perasaan atau terlalu dipengaruhi perasaan. Jadi, karangannya bersifat subjektif
3. Alur (plot)
ialah jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang diwujudkan,
antara lain, oleh hubungan sebab-akibat, tokoh wira, tema, atau ketiganya.
4. Bombas (bombast)
ialah gaya bercerita dengan menggunakan kata-kata yang muluk-muluk, yang dibesar-besarkan,
atau yang mengandung bualan.
5. Citraaan (imagery)
ialah gambaran kejiwaan yang diperoleh pembaca dari bahasa yang digunakan oleh pengarang.
6. Hikayat
ialah jenis cerita rekaan populer dalam sastra Melayu lama, yang berkisah tentang
pengembaraan, percintaan, peperangan putra raja, pahlawan, atau saudagar, yang dalam
perwujudannya dianggap cerita sejarah atau biografi.
7. Kaba
ialah jenis prosa berirama yang dapat didendangkan dalam sastra Minangkabau. Penggalan yang
didendangkan itu terdiri atas tujuh sampai sepuluh suku kata. Contoh: Siapa orang yang
terbakar, kabar Raja Babanding, dalam negeri Padang Tarap, di Ranah Payung Sekaki, di
Kerambil nan atap tungku, di Cempedak nan besar, di Anjung nan lah tinggi.
8. Kritik sastra (literary criticism)
ialah suatu cabang ilmu sastra yang melakukan penganalisisan, penafsiran, dan penilaian
tentang baik dan buruknya karya sastra yang bersangkutan.


9. Langgam; gaya bahasa (style)
ialah kata, ungkapan, struktur atau wacana yang dipakai secara khas sehingga menjadi ciri
penulisnya.
10. Mitos (myth)
ialah cerita tradisional yang tidak diketahui pengarangnya, yang berkisah mengenai manusia
dan peristiwa adikodrati, serta yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat pemilik cerita
tersebut.
11. Pelipur lara (folkroman)
ialah jenis cerita rakyat dalam sastra Melayu lama yang mengungkapkan kehidupan istana;
cerita yang bersifat menghibur ini umumnya bermula dengan kelahiran tokoh, kemudian
peperangan, dan akhimya perkawinan serta kehidupan yang bahagia; istilah ini juga digunakan
untuk mengacu kepada pembawa cerita semacam itu.
12. Sage (saga)
ialah kisahan panjang atau legenda tentang peristiwa heroik yang biasanya dikaitkan dengan
cerita kuno yang mengungkapkan petualangan para bangsawam; kini sage merujuk kepada
legenda tradisional atau dongeng yang melibatkan pengalaman dan prestasi luar biasa. Contoh:
Hang Tuah.




H. Gaya Bahasa
Yang dimaksud dengan gaya bahasa ialah cara pengungkapan perasaan atau pikiran dengan
bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan den efek terhadap pembaca atau pendengar dapat
dicapai semaksimal den seintensif mungkin.




Ragam Gaya Bahasa
Gaya Bahasa Penegasan


   1. Alusio
       adalah gaya bahasa yang menggunakan peribahasa yang maksudnya sudah dipahami
       umum.
       Contoh :
             o    Dalam bergaul hendaknya kau waspada;
             o    Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja.
             o    Segala yang berkilau bukanlah berarti emas.

   2. Antitesis
       adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya
       bertentangan.
       Contoh :
       Tinggi-rendah harga dirimu bukan elok tubuhmu yang menentukan, tetapi kelakuanmu.

   3. Antiklimaks
       adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin
       lama makin rendah tingkatannya.
       Contoh :
       Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, anaknya dan sekarang cucunya tak luput dari penyakit
       keturunan itu.
4. Klimaks
   adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin
   lama makin tinggi tingkatannya.
   Contoh :
   Di dusun-dusun, di desa-desa, di kota-kota, sampai ke ibu kota, hari proklamasi ini
   dirayakan dengan meriah.

5. Antonomasia
   adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama
   seseorang. Kata-kata ini diambil dari sifat-sifat yang menonjol yang dimiliki oleh orang
   yang dimaksud. Contoh :
   Si Pelit den Si Centil sedang bercanda di halaman rumah Si Jangkung

6. Asindeton
   adalah gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa
   menggunakan kata penghubung.
   Contoh :
   Buku tulis, buku bacaan, majalah, koran, surat-surat kantor semua dapat anda beli di
   toko itu.

7. Polisindeton
   (kebalikan asindeton) gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hat berturut-turut
   dengan menggunakan kata penghubung.
   Contoh :
   Buku tulis, majalah, dan surat-surat kantor dapat di beli di toko itu.

8. Elipsis
   adalah gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tak lengkap), yakni
   kalimat yang predikat atau subjeknya dilesapkan karena dianggap sudah diketahui oleh
   lawan bicara.
   Contoh :
   "Kalau belum jelas, akan saya jelaskan lagi."
   "Saya khawatir, jangan-jangan dia ...."

9. Eufemisme
   adalah gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang digunakan untuk tuntutan tatakrama
   atau menghindari kata-kata pantang (pamali, tabu), atau kata-kata yang kasar dan
   kurang sopan. Contoh :
   Putra Bapak tidak dapat naik kelas karena kurang mampu mengikuti pelajaran.
   Pegawai yang terbukti melakukan korupsi akan dinonaktifkan

10. Hiperbolisme
   adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan sesuatu hal dengan melebih-lebihkan
   keadaan yang sebenarnya.
   Contoh :
   Suaranya mengguntur membelah angkasa.
   Air matanya mengalir menganak sungai.

11. Interupsi
   adalah gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang
   disisipkan di tengah-tengah kalimat.
   Contoh :
   Saya, kalau bukan karena terpaksa, tak mau bertemu dengan dia lagi.

12. Inversi
   adalah gaya bahasa dengan menggunakan kalimat inversi, yakni kalimat yang
   predikatnya mendahului subjek. Hal ini sengaja dibuat untuk memberikan ketegasan
   pada predikatnya.
   Contoh :
   Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencari harapan baru di kota.

13. Koreksio
   adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi
   (menggantikan kata yang dianggap salah).
   Contoh :
   Setelah acara ini selesai, silakan saudara-saudra pulang, eh maaf silakan saudara-
   saudara mencicipi hidangan yang telah tersedia.

14. Metonimia
   adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata atau sebuah nama yang
   berhubungan dengan suatu benda untuk menyebut benda yang dimaksud. Misal,
   penyebutan yang didasarkan pada merek dagang, nama pabrik, nama penemu, dun lain
   sebagainya.
   Contoh :
   Ayah pergi ke Bandung mengendarai kijang.
   Udin mengisap Gentong, Husni mengisap Gudang Garam.
15. Paralelisme
   adalah gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi.
   Pengulangan di bagian awal dinamakan anafora, sedang di bagian akhir disebut epifora.


   Contoh Anafora :
   - Sunyi itu duka
   - Sunyi itu kudus
   - Sunyi itu lupa
   - Sunyi itu lampus


   Contoh Epifora :
   - Rinduku hanya untukmu
   - Cintaku hanya untukmu
   - Harapanku hanya untukmu


16. Pleonasmse
   adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak
   perlu karena artinya sudah terkandung dalam kata sebelumnya.
   Contoh :
   Benar! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa Tono berkelahi di tempat
   itu.
   Dia maju dua langkah ke depan.

17. Parafrase
   adalah gaya bahasa penguraian dengan menggunakan ungkapan atau frase yang lebih
   panjang daripada kata semula. Misal, pagi-pagi digantikan ketika sang surya merekah di
   ufuk timur; materialistis diganti dengan gila harta benda.
   Contoh :
   "Pagi-pagi Ali pergi ke sawah." dijadikan "Ketika mentari membuka lembaran hari, anak
   sulung Pak Sastra itu melangkahkan kakinya ke sawah."

18. Repetisi
   adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang sebuah kata berturut-turut dalam
   suatu wacana. Gaya bahasa jenis ini sering dipakai dalam pidato atau karangan
   berbentuk prosa.
   Contoh :
   Harapan kita memang demikian, dan demikian pula harapan setiap pejuang.
   Sekali merdeka, tetap merdeka!
19. Retoris
   adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya, tetapi sebenannya
   tidak bertanya.
   Contoh :
   Bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan?
   Inikah yang kau namakan kerja?

20. Sinekdoke,
   gaya bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu :
   (a) Pars pro toto (sebagian untuk keseluruhan) dan
   (b) Totem pro parte (keseluruhan untuk sebagian).


   Pars pro Toto
   adalah gaya babasa yang menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan.
   Contoh :
   Setiap kepala diwajibkan membayar iuran Rp1.000,00.
   Sudah lama ditunggu-tunggu, belum tampak juga batang hidungnya.


   Totem pro parte
   adalah gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.
   Contoh :
   Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas.

21. Tautologi
   adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sama artinya dalam
   satu kalimat.
   Contoh :
   Engkau harus dan wajib mematuhi semua peraturan.
   Harapan dan cita-citanya terlalu muluk.
22. Alegori
   ialah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua buah keutuhan berdasarkan
   persamaannya secara menyeluruh.
   Contoh :
   Kami semua berdoa, semoga dalam mengarungi samudra kehidupan ini, kamu berdua
   akan sanggup menghadapi badai dan gelombang.
23. Litotes
   adalah gaya bahasa perbandingan yang menyatakan sesuatu dengan memperendah
   derajat keadaan sebenarnya, atau yang menggunakan kata-kata yang artinya
   berlawanan dari yang dimaksud untuk merendahkan diri.
   Contoh :
       o     Dari mana orang seperti saya ini mendapat uang untuk membeli barang semahal
             itu.
       o     Silakan, jika kebetulan lewat, Saudara mampir ke pondok saya.
24. Metafora
   adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berbeda
   berdasarkan persamaannya.
   Contoh :
       o     Gelombang demonstrasi melanda pemerintah orde lama.
       o     Semangat juangnya berkobar, tak gentar menghadapi musuh.

25. Personifikasi atau penginsanan
   adalah gaya babasa perbandingan. Benda-benda mati atau benda-benda hidup selain
   manusia dibandingkan dengan manusia, dianggap berwatak dan berperilaku seperti
   manusia.
   Contoh :
       o     Bunyi lonceng memanggil-manggil siswa untuk segera masuk kelas.
       o     Nyiur melambai-lambai di tepi pantai

26. Simile
   adalah gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan kata-kata pembanding
   (seperti, laksana, bagaikan, penaka, ibarat, dan lain sebagainya) dengan demikian
   pernyataan menjadi lebih jelas.
   Contoh :
       o     Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam.
       o     Wajahnya seperti rembulan.

27. Simbolik
   adalah gaya, bahasa kiasan, mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol
   untuk menyatakan sesuatu. Misal, bunglon lambang manusia yang tidak jelas
   pendiriannya; lintah darat lambang manusia pemeras; kamboja lambang kematian.
   Contoh :
   janganlah kau menjadi bunglon.

28. Tropen
   adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan
   pengertian yang dimaksudkan.
   Contoh :
   Seharian ia berkubur di dalam kamarnya.
   Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi.
29. Anakronisme
   adalah gaya bahasa yang mengandung uraian atau pernyataan yang tidak sesuai dengan
   sejarah atau zaman tertentu. Misalnya menyebutkan sesuatu yang belum ada pada
   suatu zaman.
   Contoh :
   Mahapatih Gadjah Mada menggempur pertahanan Sriwijaya dengan peluru kendali jarak
   menengah.

30. Kontradiksio in terminis
   adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan, yakni apa yang dikatakan terlebih
   dahulu diingkari oleh pernyataan yang kemudian.
   Contoh :
   Suasana sepi, tak ada seorang pun yang berbicara, hanya jam dinding yang terus
   kedengaran berdetak-detik.

31. Okupasi
   adalah gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan.
   Contoh :
       o   Sebelumnya dia sangat baik, tetapi sekarang menjadi berandal karena tidak
           ada perhatian dari orang tuanya.
       o   Ali sebenarnya bukan anak yang cerdas, namun karena kerajinannya melebihi
           kawan sekolahnya, dia mendapat nilai paling tinggi.

32. Paradoks
   adalah gaya bahasa yang mengandung dua pernyataan yang bertentangan, yang
   membentuk satu kalimat.
   Contoh :
   Dengan kelemahannya, wanita mampu menundukkan pria. Tikus mati kelaparan di
   lumbung padi yang penuh berisi.
33. Inuendo
   adalah gaya bahasa sindiran yang mempergunakan pernyataan yang mengecilkan
   kenyataan sebenarnya.
   Contoh :
   la menjadi kaya raya lantaran mau sedikit korupsi.
   34. Ironi
       adalah gaya bahasa sindiran paling halus yang menggunakan kata-kata yang artinya
       justru sebaliknya dengan maksud pembicara.
       Contoh :
       Eh, manis benar teh ini. (maksudnya: pahit).

   35. Sarkasme
       adalah gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar. Biasanya gaya
       bahasa ini dipakai untuk menyatakan amarah.
       Contoh :
       jangan coba-coba mengganggu adikku lagi, monyet!
       Dasar goblok, sudah berkali-kali diberi tahu, tetap saja tidak mengerti.

   36. Sinisme
       adalah semacam ironi, tetapi agak lebih kasar.
       Contoh :
       Hai, harum benar baumu. Tolong agak menyisih sedikit.




I. Kemahiran Berbahasa

Yang dimaksud dengan kemahiran berbahasa disini ialah kesanggupan seseorang menggunakan
bahasa dalam berkominikasi. Jika seseorang mempunyai kemampuan menggunakan bahan
untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara efektif dan efisien kepada orang lain, dan
dia sanggup pula memahami amanat yang disampaikan oleh orang lain kepadanya melalui
bahasa, berarti orang tersebut mempunyai kemahiran berbahasa.


Kemahiran berbahasa meliputi kemahiran berbicara, mendengar, menulis, dan membaca.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam bab ini akan kita bicarakan hal-hal yang berkaitan
dengan penggunaan kalimat efektif, alinea atau paragraf, ragam karangan ilmiah, diskusi
dengan segala ragamnya, serta tipe pemimpin dan peserta diskusi yang dianggap baik.


a. Kalimat     efektif

adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, serta
sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca
seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
Kalimat efektif mudah ditangkap dan mudah dipahami, dan mempunyai potensi untuk tampil
lebih hidup dan lebih segar.


Syarat kalimat efektif :


    1. Dilihat dari segi pembicara atau penulis, kalimat efektif menghendaki syarat berupa
        penguasaan kaidah sintaksis (tata kalimat) dan beberapa aspek kebahasaan esensial
        lainnya, antara lain penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan
        kata) dan kemampuan menemukan gaya yang paling cocok untuk mengungkapkan atau
        menyampaikan gagasan.

    2. Dilihat dari segi kalimat itu sendiri, kalimat efektif menghendaki syarat sebagai
        berikut:
            a. kesatuan gagasan yang jelas (kesatuan)
            b. koherensi yang baik dan kompak (kepaduan)
            c. penekanan yang wajar
            d. paralelisme (kesejajaran)
            e. logika (penalaran)
            f.     variasi (keanekaragaman)


b. Kesatuan Gagasan

Kesatuan gagasan sebuah kalimat akan terwujud dengan baik apabila fungsi-fungsi ( jabatan-
jabatan ) kalimat jelas. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi kalimat yang jelas diperlukan:


    1. kecermatan penggunaan kata tugas,
    2. ketetapan pemakaian kata,
    3. kecermatan penggabungan dua buah konstruksi atau lebih guna menghindari
        kontaminasi (kerancuan),dan
    4. Ketepatan makna kalimat dengan menghindari kemungkinan penafsiran ganda.


Perhatikan contoh berikut!


(1.a)    Di desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (salah)

(1.b)    Desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (benar)

(2.a)    Bagi yang berminat mengikuti lomba ini diharap segera menghubungi panitia. (salah)

(2.b)    Yang berminat mengikuti lomba ini harap segera menghubungi panitia. (benar)
(3.a)   Jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (salah)

(3.b)   Jalan layang mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (benar)

(3.c)   Jalan layang dibuat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraaan. (benar)

        Suami yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan istri dan anaknya lahir di
(4.a)
        atas tikar usang yang sudah koyak. (salah)

        Bapak yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan anaknya lahir di atas tikar
(4.b)
        usang yang sudah koyak. (benar)

        Suami yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan istrinya melabirkan anak di
(4.c)
        atas tikar usang yang sudah koyak. (benar)

(5.a)   Abas mendapat bagian dua puluh lima ribuan. (salah)

(5.b)   Abas mendapat bagian dua puluh lima ribu rupiah. (benar)

(5.c)   Abas mendapat bagian seratus ribu rupiah. (benar)

(6.a)   Togop bersembunyi di kamar kecil itu. (salah)

(6.b)   Togop bersembunyi di kamar sempit itu. (benar)

(6.c)   Togop bersembunyi di kakus itu. (benar)




c. Koherensi

Koherensi atau perpautan adalah hubungan timbal balik antar unsur yang membangun kalimat.
Koherensi dapat terwujud dengan tata urutan kata atau kelompok kata yang tepat dalam
sebuah kalimat.
Perhatikan contoh berikut!


(7.a)   Tarmudi meninggalkan Surabaya bersama anak dan istrinya. (salah)

(7.b)   Tarmudi bersama anak dan istrinya meninggalkan Surabaya. (benar)

        Kakek saya menikmati dengan sepuas-puasnya tadi pagi teh manis buatan ibu saya.
(8.a)
        (salah)

        Tadi pagi kakek saya menikmati teh manis buatan ibu saya dengan sepuas-puasnya.
(8.b)
        (benar)


Koherensi akan rusak oleh kesalahan penggunam kata tugas, pemakaian kata yang maknanya
tumpang-tindih, pemakaian kata-kata yang maknanya kontradiktif, dan kesalahan penempatan
keterangan aspek.
Perhatikan contoh berikut!


         Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan bagi nama baik keluarga dan dirinya.
(9.a)
         (salah)

         Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan nama baik keluarga dan dirinya sendiri.
(9.b)
         (benar)

         Banyak para pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara
(10.a)
         terbaik guna menyukseskan pemilu mendatang. (salah)

         Banyak pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik
(10.b)
         guna menyukseskan pemilu mendatang. (benar)

(11.a)   Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (salah)

(11.b)   Kita sering membuat kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (benar)

(12.a)   Saya sudah dengar berita itu kemarin siang. (salah)

(12.b)   Sudah saya dengar berita itu kemarin siang. (benar)

(13.a)   Mereka akan ambil sendiri barang-barang ini nanti sore. (salah)

(13.b)   Akan mereka ambil sendiri barang-barang ini nanti sore. (benar)


Penekanan yang wajar dapat dilakukan dengan jalan membubuhkan partikel penekan,
mempergunakan repetisi, membuat pertentangan, dan menambahkan kata yang maknanya
menyangatkan.


Perhatikan contoh berikut!


(14.a)   Pergi dia mengikuti kehendak hatinya.

(14.b)   Pergilah dia mengikuti kehendak hatinya.

(15.a)   Kamu suka kepadanya, aku suka kepadanya.

(15.b)   Kamu suka kepadanya, aku pun suka kepadanya.

(16.a)   Harapan kita begitu.

(16.b)   Harapanmu begitu, harapanku juga begitu, harapan kita memang begitu.

(17.a)   Ia seorang pemberani.

(17.b)   la bukan seorang penakut, melainkan seorang pemberani.

(18.a)   lstri Pak Ali cantik.

(18.b)   Istri Pak Ali sangat cantik.
(18.c)   lstri Pak Ali cantik sekali.


Penekanan yang berlebihan adalah salah, contoh:


(18.d)   Istri Pak Ali sangat cantik sekali.


         Paralelisme atau kesejajaran sangat penting artinya bagi kejelasan kalimat.
         Paralelisme diperlukan dalam kalimat-kalimat yang mengandung rincian. Untuk
         mewujudkan adanya kesejajaran, kata-kata yang merupakan rincian atas salah satu
         fungsi kalimat hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang sama atau sejajar.


         Perhatikan contoh berikut!


         Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian,
(19.a)   penambahan partikel, menggarisbawahi kata tersebut, atau mengulang kata yang
         sama. (salah)

         Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian,
(19.b)   penambahan partikel, penggarisbawahan kata tersebut, atau pengulangan kata yang
         sama. (benar)

         Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah
(19.c)   menggarisbawahi kata tersebut, mengulang kata yang sama, memutasikan, atau
         menambahkan partikel penekan. (benar)

         Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan keterampilan
(20.a)
         para pekerjanya. (salah)

         Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan para pekerja
(20.b)
         yang terampil. (benar)


d. Contoh-contoh Kalimat Efektif

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang memperlihatkan logika yang balk. Logika atau
penalaran adalah proses berpikir yang baik dan teratur. Sebuah kalimat yang tidak
menunjukkan keteraturan berpikir penuturnya adalah kalimat yang tidak efektif


Perhatikan contoh berikut!


(21.a)   Tina memang pandai menari, tetapi mendung yang hitam itu membuat orang ragu-
         ragu untuk bepergian. (salah)

         Tina memang pandai menari, tetapi ia tidak menjadi sombong karena kepandaiannya
(21.b)
         itu. (benar)

         Biasanya pada hari libur banyak orang bepergian, tetapi mendung yang hitam ini
(21.c)
         membuat orang ragu-ragu untuk bepergian. (benar)

         Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu
(22.a)
         orang lebih. (salah)

         Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu
(22.b)
         orang. (benar)

         Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa mencapai seratus dua puluh ribu orang
(22.c)
         lebih. (benar)


e. Variasi

Variasi sangat penting artinya dalam karangan yang panjang. Sebuah karangan yang monoton
akan membosankan pembaca. Bila pembaca menjadi bosan dengan kalimat-kalimat yang kurang
variatif, berarti secara keseluruhan karangan tersebut tidak efektif.


Variasi dalam sebuah karangan dapat berupa variasi panjang-pendek kalimat, variasi bentuk
kalimat, variasi bentuk predikat, variasi pilihan kata, dan sebagainya.
Perhatikan contoh berikut!


            Selesai mengerjakan PR, lalu Andi membaca majalah, lain menggunting artikel
   (23.a)
            yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kain. (salah)

            Setelah selesai mengerjakan PR, Andi membaca majalah, kemudian menggunting
   (23.b)   artikel yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kertas.
            (benar)




J. Karangan

Alinea, atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang berkaitan satu sama lain, membentuk
satu kesatuan untuk mengungkapkan atau mengemukakan satu gagasan pokok. Alinea
mempunyai satu kesatuan pikiran yang lebih luas dari kalimat.
Sebuah alinea hanya memuat satu gagasan utama atau satu pikiran pokok. Jika kita hendak
mengemukakan dua gagasan utama, kita harus menuangkannya dalam dua alinea yang berbeda.
Gagasan utama biasanya didukung oleh beberapa gagasan bawahan, yang disebut juga pikiran
penjelas.


Gagasan utama lazimnya dituang dalam sebuah kalimat topik, sedang pikiran penjelas dituang
dalam kalimat-kalimat penjelas. Jadi, kalimat topik ialah kalimat yang memuat gagasan utama
sebuah alinea, sedang kalimat penjelas ialah kalimat yang mengandung pikiran penjelas alinea
itu.


a. Alinea
Sebuah alinea yang kalimat topiknya terletak di bagian awal dinamakan alinea deduktif, sedang
yang terletak di bagian akhir kalimat disebut alinea induktif. Jika kalimat topik sebuah alinea
diletakkan di bagian awal kemudian diulang lagi di bagian akhir, alinea demikian dinamakan
alinea campuran atau alinea induktif-deduktif


1. Contoh alinea deduktif:


Komunikasi umumnya tampil dalam bentuknya yang informatif, edukatif dan persuasif
maksudnya, komunikasi biasa digunakan orang untuk menyampaikan pesan, mendidik, atau
mempengaruhi persepsi lawan bicara, sehingga terbentuk sikap dan bahkan opini baru.


2. Contoh alinea induktif:

Orang tua, siapa pun dia, janganlah menjajah anak. Sebaliknya anak patutlah selalu ingat
hahwa sejahat-jahatnya orang tua, dia tidak akan sampai hati membunuh anak hanya karena
haknya tidak dipenuhi oleh anak. Namun perlu sekali menyadari, bahwa orang tua selamanya
menghendaki yang baik bagi anaknya, sekalipun harus diakui bahwa yang menurutnya baik itu,
tidak selalu demikian menurut ukuran umum. Dengan demikian, yang perlu ialah bagaimana
menciptakan cara terbaik untuk mencapai saling pengertian.


3. Contoh alinea campuran:

Mencari dasar baru yang kekal, aman, dan pasti, bukan perkara kecil Satu, langkah ke
depan dalam hal ini sulit sekali. Sebaliknya, satu langkah ke belakang yang tanpa kita sadari
mudah sekali terjadi Karena itu sering kita terjebak langkah mundur, dari sekarang itulah
yang sedang kita alami.
Selain ketiga jenis alinea di atas, ada alinea yang tidak mempunyai kalimat topik. Gagasan
nama alinea tersebut terdapat pada seluruh kalimat yang ada, yang satu sama lain
menggambarkan keadaan tertentu. Alinea demikian lazimnya dinamakan alinea deskriptif.


Contoh alinea deskriptif :
Hamparan sawah membentang luas. Padi menguning menunduk berayun-ayun, meliuk-liuk
ditiup angin lembah, beromba-ombak bagai samudra. Dangau-dangau berpencaran. Bocah-
bocah bertepuk sorak dengan suara nyaring, mengusir kawanan-kawanan parkit yang berpesta
pora memakarn bulir-bulir padi. Bukit yang membujur bagaikan raksasa tidur, membatas di
kejauhan, berselimut mega seputih kapas, menambah asri pemandangan.


b. Jenis-jenis Karangan berdasarkan kebenarannya

Biasanya karangan dibedakan atas karangan fiktif dan karangan faktual. Yang pertama disebut
fiksi, sedang yang kedua dinamakan nonfiksi. Fiksi umumnya hanya mengetengahkan hasil
rekaan atau imajinasi atau khayal pengarang. Imajinasi tersebut sering pula didasarkan pada
peristiwa sehari-hari sehingga ada kemungkinan dapat terjadi. Sebaliknya karangan nonfiksi
menyajikan peristiwa secara apa adanya atau secara objektif. Bahasa fiksi biasanya bersifat
konotatif dan subjektif, bahasa nonfiksi cenderung objektif dan denotatif.


Termasuk karangan fiktif ialah roman, novel, cerpen, kisah perjalanan, legenda, fabel, mite,
dan hikayat. Sedang contoh karangan nonfiktif dapat kita kemukakan misalnya, resensi, skripsi,
tesis, desertasi, laporan, paper atau makalah, yang semuanya termasuk karangan ilmiah


Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil
pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan
sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.


Cirt-ciri Karangan Ilmiah:


(1)    logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat
       diterima akal

(2)    sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan

(3)    objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasarkan pada apa yang
       benar-benar ada atau sesuai dengan fakta

(4)    teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan ;
(5)      bahasanya bersifat lugas atau denotatif.


Syarat-syarat Karangan Ilmiah:


(1)      mengandung masalah serta pemecahannya

(2)      masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca

(3)      lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan
         masalahnya

(4)      disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan
         dipahami.




Yang tergolong karangan ilmiah antara lain:


(1) Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang
      dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk
      dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.

(2) Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi
      tertentu. Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan.

(3) Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan
      dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar,
      simposium, dan sebagainya.

(4) Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi
      ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau
      penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan
      dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.

(5) Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan
      dan teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan
      dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertanngungjawab
      dalam bidang studi tertentu.

(6) Desertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor. yaitu gelar tertinggi
      yang diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor
      atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks
      dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis.
(7) Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah
      buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan
      kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi
      pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku
      yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.


Contoh kutipan sebuah resensi


"Buku ini tidak mudah dibaca. Susunan yang kronologis, rangkaian kutipan, dan dokumen
otentik membuatnya tergolong bacaan berat. Maksud penulis memang hanya, menyuguhkan
fakta-fakta yang tercecer dalam kumpulan dokumen Amerika dan Belanda serta dalam, arsip-
arsip Inggris dan Belanda."




(8)     Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim'. Kritik sebagai bentuk karangan
        berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari
        kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan
        karya itu seperti adanya.

(9)     Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang
        dikemukakan dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya




c. Jenis-jenis Karangan berdasarkan Isinya

1) Eksposisi atau paparan
ialah salah satu bentuk wacana atau karangan yang bermaksud menjelaskan, mengembangkan,
atau menerangkan suatu gagasan. Tujuannya untuk menambah pengetahuan pembaca tanpa
berusaha untuk mengubah pendirian atau mempengaruhi sikap pembaca. Contoh:

Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang representatif, kini mulai
dibangun di Palu, setelah tertunda dua tahun. Pembangunan kantor di Jalan Sam Ratulangi
Palu Timur itu, direncanakan rampung 2 - 3 tahun mendatang, dengan biaya sekitar Rp 10
milyar. Demikian keterangan Sekwilda Sulteng, Amur Muchasim SH, Rabu (4/10) di Palu la
menjelaskan, untuk tahap pertama, seta bangunan sayap dapat dirampungkan Februari 1996.
(2) Narasi
adalah sejenis karangan atau cerita yang isinya mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa
menurut urutan waktu atau secara kronologis. Kejadian yang dikisahkan dapat bersifat khayali
atau faktual, atau gabungan dari keduanya. Narasi ini sering dimasukkan ke dalam golongan
karangan fiktif, jadi tercakup di dalamnya ialah roman, novel, cerpen, hikayat, tambo, dan
dongeng. Contoh:


    "Beratus-ratus tahun Indonesia telah dljajah Belanda. Perang Dunia II pecah, dan Belanda
    di Indonesia kemudian takluk oleh Jepang, kini Jepanglah yang menguasai dan
    mengangkangi Indonesia. Ini tidak lama memang, karena Sekutu dapat mengalahkan
    Jepang dengan dibomnya Hiroshima dengan bom atom. Kesempatan baik ini tidak disia-
    siakan oleh bangsa Indonesia umuk memproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi itu
    dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hata, pada tangga 17 Agustus 1945."




(3) Deskripsi
disebut juga lukisan, yaitu salah satu bentuk karangan yang menggambarkan suatu keadaan,
kejadian, atau peristiwa sejelas mungkin sehingga pembaca mendapat kesan seperti melihat
sendiri sesuatu yang digambarkan itu. (Lihat contoh paragraf deskriptif).


(4) Argumentasi
adalah sebuah wacana yang berusaha meyakinkan atau membuktikan kebenaran suatu
pernyataan, pendapat, sikap, atau keyakinan. Dalam Argumentasi ini, suatu gagasan atau
pernyataan dikemukakan dengan alasan yang kuat dan meyakinkan sehingga orang yang
membacanya akan terpengaruh untuk membenarkan pernyataan, pendapat, dan sikap yang
diajukan. Contoh:


"Amin memang murid yang baik. Setiap hari la datang ke sekolah selalu lebih awal dari teman-
temannya. Semua pekerjaan rumah tidak ada yang tidak diselesaikannya. Kepada gurunya dan
orang tua ia selalu bersikap hormat. Bahwa prestasi belajarnya juga jauh lebih baik dari
teman-temannya dapat dilihat dalam rapornya yang tidak pernah ada angka merah, Tak ayal
lagi ia akan menjadi mahasiswa yang baik. "

(5) Persuasi,
ialah bentuk wacana yang tujuannya adalah meyakinkan, mengajak atau membangkitkan suatu
tindakan dengan mengemukakan alasan-alasan yang kadang-kadang agak emosional. Jika
argumentasi berusaha membuktikan kebenaran atau pernyataan melalui proses penalaran yang
sehat, persuasi berusaha merebut perhatian dan membangkitkan tindakan terhadap
pembacanya. Contoh:

Semua orang tahu bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Namun demikian, masih
banyak anggota masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Inilah
masalah yang sulit dipecahkan. Seandainya saja setiap anggota masyarakat peduli akan
kebersihan di sekitar tempat tinggalnnya tentulah kualitas kesehatan dapat ditingkatkan. Oleh
karena itu, marilah kita mencoba untuk menjadikan diri kita masing-masing peduli terhadap
kebersihan lingkungan . Kesadaran ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk,
diantaranya ialah tidak membuang sampah sembarangan.


d. Persamaan Diskripsi dan Argumentasi

a. Persamaan:


       Sama-sama menjelaskan pendapat dan keyakinan penulis.
       Sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau diperjelas dengan angka, peta,
        statistik, grafik, gambar, dan lain-lain.
       Sama-sama memerlukan analisis dan sintesis pada waktu mengupas sesuatu.
       Sama-sama menggali sumber ide melalui:
          - pengalaman
          - pengamatan dan penelitian
          - sikap dan keyakinan
          - daya khayal tidak digunakan


b. Perbedaan:


Tujuan paparan hanya menjelaskan dan menerangkan, sehingga pembaca memperoleh
informasi yang sejelas-jelasnya. Sedangkan argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca,
sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa pendapat, keyakinan, dan sikap penulis benar.


Grafik, statistik, dan lain-lain pada paparan untuk menjelaskan. Sedangkan grafik, statistik dan
lain-lain pada argumentasi untuk membuktikan.


Pendahuluan pada paparan memperkenalkan topik dan tujuan yang akan dipaparkan.
Sedangkan pendahuluan atau pembuka pada argumentasi berisi latar belakang dan sejarah
persoalan, sistematika yang digunakan, pengertian persoalan, sera tujuan argumentasi.
Penutup pada akhir paparan biasanya manegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya.
Sedangkan pada akhir argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang telah diuraikan
sebelumnya.


e. Diskusi

Diskusi ialah percakapan yang sifatnya resmi, serius sesuai dengan aturan yang ada. Tujuannya
untuk memahami masalah atau persoalan, mencari sebab-sebab sekaligus berusaha manemukan
pemecahan atau jalan keluar bagi persoalan tersebut. Jadi, di dalam sebuah diskusi harus ada
masalah yang dibahas. Ada peserta dan pemimpin, serta ada aturan dan disiplin.
Sebuah diskusi perlu dipersiapkan. Persiapan ini meliputi penentuan topik atau pokok
permasalahan, menetapkan pemimpin yang mempunyai pengetahuan luas, dan menentukan
tempat serta waktunya. Seorang pemimpin diskusi yang baik harus
(1) mengetahui langkah-langkah kegiatan,
(2) memahami pokok masalah,
(3) mengenal semua peserta,
(4) berwibawa dan sabar,
(5) mampu mengembangkan dan menjaga jalannya diskusi sehingga tidak terjadi benturan,
(6) dapat menjaga suasana sehingga tidak berat sebelah.


Sebaliknya seorang peserta diskusi yang baik akan
(1) mengadakan persiapan awal,
(2) menyiapkan garis besar masalah sebelum diskusi berlangsung,
(3) menjadi penyampai gagasan yang baik,
(4) menghindari kata-kata kasar yang menyinggung perasaan lawan bicara,
(5) berbicara secukupnya dan yang hanya berkaitan dengan masalah, (6) menjadi pendengar
yang baik, dan
(7) menghindarkan diri dari perdebatan yang emosional.


Tugas seorang pemimpin diskusi antara lain ialah
(1) menetapkan topik atau pokok pembicaran dengan peserta,
(2) menyiapkan garis besar atau kerangka diskusi,
(3) membuka diskusi dengan membacakan rangkuman tentiang masalah dan sasaran yang ingin
dicapai,
(4) memimpin jalannya diskusi dengan sabar, jujur, dan tidak berat sebelah,
(5) membuat rangkuman pembicaraan setiap peserta,
(6) mengarahkan pembicaraan agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan, dan,
(7) menyimpulkan seluruh pembicaraan dalam diskusi.

f. Jenis-jenis Diskusi


(1) Diskusi Kelompok,
yaitu diskusi yang terdiri atas beberapa kelompok orang, dan masing-masing kelompok
mempunyai seorang ketua dan notulis. Tidak ada pendengar.


(2) Diskusi Panel,
ialah diskusi yang terdiri atas seorang pemimpin, sejumlah peserta, dan beberapa pendengar.
Dalam jenis diskusi ini tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga pendengar dapat
mengikuti jalannya diskusi dengan seksama. Setelah berlangsung tanya jawab antara pemimpin
dan peserta, peserta dan pendengar, pemimpin merangkum hasil tanya-jawab atau
pembicaraan, kemudian mengajak pendengar ikut mendiskusikan masalah tersebut sekitar
separuh dari waktu yang tersedia


(3) Seminar
adalah pertemuan berkala yang biasanya diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa dalam
rangka melaporkan hasil penelitiannya, dan umumnya di bawah bimbingan seorang dosen atau
ahli. Tujuan diskusi jenis ini tidak untuk memutuskan sesuatu. Seminar dapat bersifat tertutup
atau terbuka. Yang terakhir dapat dihadiri oleh umum, tetapi mereka tidak ikut berdiskusi,
melainkan hanya bertindak sebagai peninjau. Untuk menyelenggarakan seminar harus dibentuk
sebuah panitia. Pembicara yang ditentukan sebelumnya, umumnya menguraikan gagasan atau
topiknya dalam bentuk kertas kerja.


(4) Simposium
ialah pertemuan ilmiah untuk mengetengahkan atau membandingkan berbagai pendapat atau
sikap mengenai suatu masalah yang diajukan oleh sebuah panitia. Uraian pendapat dalam
simposium ini diajukan lewat kertas kerja yang dinamakan prasaran. Dan beberapa prasaran
yang disampaikan dalam simposioum harus berhubungan. Orang yang mengajukan prasaran,
yang dinamakan pemrasaran, berkewajiban
(1) membuat makalah atau prasaran,
(2) menepati waktu yang diberikan,
(3) menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tepat.
Persiapan-persiapan yang perlu untuk menyelenggarakan simposium, yaitu:
(1) memilih dan merumuskan masalah,
(2) menetapkan tujuan,
(3) menempatkan pembicara berdasarkan sumbangannya dalam mencapai tujuan,
(4) menetapkan pemimpin,
(5) menjelaskan kepada pemimpin dan pembicara tentang tujuan simposium, waktu yang
tersedia, dan tata cara yang berlaku.


(5) Konferensi


adalah pertemuan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi atau badan resmi sehubungan
dengan masalah tertentu. Jika konferensi hanya bertujuan menyampaikan hasil keputusan
suatu organisasi atau badan pemerintah mengenai suatu masalah maka hal tersebut dinamakan
dengar pendapat atau jumpa pers.Salah satu bentuk kemahiran berbahasa yang lain dan yang
umum sekali ialah pidato. Yang dimaksud dengan pidato ialah penyampaian pesan, gagasan
atau pengungkapan suatu maksud dengan bahasa yang tersusun baik kepada orang banyak.


g. Pidato

Berdasarken sifat isinya, pidato dibedakan atas:
(1) pidato pembukaan,
(2) pidato sambutan,
(3) pidato pengarahan,
(4 ) pidato laporan, dan
(5) pidato prasaran.


Berdasarkan sifat tujuannya, pidato dibedakan atas:
(1) Pidato instruktif atau memberitahukan atau menyampaikan sesuatu       termasuk
pengarahan;
(2) Pidato persuasif atau bertujuan mempengaruhi pendapat     pendengar serta
membangkitkan tindakan;
(3) Pidato rekreatif, bertujuan menciptakan suasana gembira, akrab    dan menyenangkan
seperti dalam jamuan makan, dan
(4) Pidato edukatif bertujuan menumnbuhkan kesadaran pendengar        atau untuk mendidik.
Catatan :
Baik dalam diskusi maupun dalam pidato, seorang pembicara dapat memperkuat atau
memperjelas pendapatnya dengan mengemukakan contoh-contoh, ilustrasi, fakta, angka, atau
perbandingan-perbandingan, di samping tabel dan grafik.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6920
posted:6/8/2011
language:Indonesian
pages:91