Dinamika Tarikh Tasyri

Document Sample
Dinamika Tarikh Tasyri Powered By Docstoc
					Dinamika Tarikh Tasyri‟ Masa Imam Mazhab


A. IMAM HANAFI


1. Biografi Imam Hanafi (80 – 150 H / 699-767 M)


Imam Hanafi atau nama lainnya disebut Abu Hanifah, yang memiliki nama lengkapnya
adalah Al-Numan ibn Tsabit ibn Zuhthi (80-150 H). Secara politik, Abu Hanifah hidup
dalam dua generasi. Ia dilahirkan dikufah pada Tahun 80 H, artinya ia lahir pada zaman
Dinasti Umayyah, tepatnya pada Tahun 80 H, yaitu pada zaman kekuasaan Abd Al-Malik
ibn Marwan (Manna al-Qaththan, 1989:202). Beliau meninggal pada zaman kekuasaan
Abbasiah pada saat beliau berumur 70 tahun.


Beliau hidup selama 52 tahun pada zaman Umayyah dan 18 tahun pada zaman Abbasiah.
Selama hidupnya ia melakukan ibadah haji lima puluh lima kali. Beliau diberi gelar Abu
Hanifah, karena diantara putranya ada yang bernama Hanifah. Selain itu, menurut riwayat
lain beliau bergelar Abu Hanifah, karena beliau begitu taat beribadah kepada allah, yaitu
berasal dari bahasa arab Haniif yang artinya condong atau cenderung kepada yang benar.
Menurut riwayat lain, beliau diberi gelar Abu Hanifah, karena begitu dekat dan eratnya
beliau berteman dengan tinta. Hanifah menurut bahasa Irak adalah tinta.[1] Sikap
politiknya berpihak pada keluarga Ali (Ahlul Bait) yang selalu dianiaya dan ditindas oleh
Dinasti Umayyah. Ketika Zaid berontak terhadap Hisyam dan terbunuh, termasuk
putranya Yahya ibn Zaid, Abu Hanifah sangat berduka. “Perjuangan Zaid sama dengan
perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam perang Badar,” katanya.


Ketika Yazid ibn Umar ibn Hubairah (zaman Dinasti Umayyah) menjadi Gubernur Irak,
Abu Hanifah diminta menjadi hakim dipengadilan atau bendaharawan negara, tetapi ia
menolaknya. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjarakan, bahkan dicambuk. Namun, atas
pertolongan juru cambuk, ia berhasil meloloskan diri dari penjara dan pindah ke Mekah.
Ia tinggal disana selama enam tahun (130-136 H). Setelah pemerintahan Umayyah
berakhir, ia kembali ke Kufah dan menyambut kekuasaaan Abbasiah dengan rasa
gembira.


Tidak berbeda dengan pemerintahan Bani Umayyah, Bani Abbas juga melakukan
kekerasaan terhadap Ahlul Bait, seperti tindakan yang dilakukan oleh Al – Manshur
terhadap Al – Nasf, Al – Zakiah pada tahun 145 Hijriah. Abu hanifah tampil mengkritik
Abbasiah. Ia mengkritik para Hakim dan Mufti pemerintah. Ketika diminta oleh al –
Manshur untuk menjadi hakim di pengadilan, Abu Hanifah menolaknya.. akhirnya ia
dipenjara dan dicambuk. Ia meninggal pada tahun 150 H, akibat penderitaannya dalam
tahanan[2].


2. Guru dan Murid Imam Hanafi


Imam hanafi adalah sorang imam yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu beliau
belajar kepada hammad bin abbas sulaiman dan bliaupun belajar kepada para-para tabi‟in
seperti atha bin abi rabahdan nafi‟maulana ibnu umar.


Adapun yang menjadi murid-muridnya antara lain:


a. Abu Yusuf bin Ibrahim


b. Zufar bin Huzail


c. Muhammad bin Hasan


Murid imam Abu Hanifah yang terkenal dan yang meneruskan pemikiran-pemikirannya
adalah : Imam Abu Yusuf al-An sharg, Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, dan
lain-lain.[3]


3. Dinamika Tarikh Tasyri‟ Pada Masa Imam Hanafi
Pada awalnya Imam Hanafi (Abu hanifah) adalah seorang pedagang, atas anjuran Al-
Syabi ia kemudian menjadi pengembang ilmu. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama
aliran Irak (ra‟yu). Semua ilmu yang di pelajari bertalian dengan keagamaan. Mula –
mula ia mempelajari hukum agama, kemudian ilmu kalam. Akan tetapi, difokuskan
kepada masalah fiqh saja, tanpa mengecilkan arti ilmu yang lain, dan Abu Hanifah
sendiri memang sangat tertarik mempelajari ilmu fiqh yang mengandung berbagai aspek
kehidupan. Imam Abu Hanifah mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan
masalah-masalah baru yang belum terdapat dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah. Ia banyak
mengandalkan qiyas (analogi) dalam menentukan hukum.


Di bawah ini akan dipaparkan beberapa contoh ijtihad Abu Hanifah dalam penerapan
tarikh tasyri‟, diantaranya :


a. Bahwa benda wakaf masih tetap milik wakif. Kedudukan wakaf dipandang sama
dengan „Ariyah (pinjam-meminjam). Karena masih tetap milik wakif, benda wakaf dapat
dijual, diwariskan, dan dihibahkan oleh wakif kepada yang lain, kecuali wakaf untuk
masjid, wakaf yang ditetapkan berdasarkan keputusan hakim, wakaf wasiat, dan wakaf
yang diikrarkan secara tegas bahwa itu terus dilanjutkan meskipun wakif telah meninggal
dunia. Adapun alasan yang digunakan adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
al Baihaqi Yang artinya


“ Nabi Muhammad SAW telah menjual benda wakaf”.(Baihaqi, VI, 1352-E: 163)


Pada awalnya, Abu Yusuf dan Muhammad sependapat dengan Abu Hanifah. Ketika
melakukan ibadah haji bersama Harun al – Rasyid (salah seorang raja Dinasti Abbasiah)
‟Abu Yusuf mendapat wakaf Umar bin Khattab yang tidak dibolehkan untuk dijual,
diwariskan, dan dihibahkan. Perbuatan Umar ini kemudian dimuat dalam Hadits Bukhari
(Lihat Shahih al Bukhari, II, t.th: 14). Oleh karena itu, Abu Yusuf berpedapat bahwa
benda wakaf tidak boleh dijual, diwariskan, dan hibahkan. Ia berkata, “ kalau saja hadis
tersebut sampai ke Abu Hanifah ia pasti akan mengubah pendapatnya”. (Ibnu Syuhnah
al-Hanafi, 1973:294).
b. Bahwa Perempuan menjadi hakim di pengadilan yang tugasnya khusus menangani
perkara perdata, bukan perkara pidana. Karena perempuan tidak dibolehkan menjadi
saksi pidana, ia hanya dibenarkan menjadi saksi perkara perdata. Karena itu, menurutnya
perempuan boleh menjadi hakim yang menagani perkara perdata. Dengan demikian
metode ijtihad yang digunakannya adalah Qiyas dengan menjadikan kesaksian sebagai al-
Ashl dan menjadikan hakim perempuan sebagai far‟i.


c. Abu Hanifah dan Ulama Hufadh berpendapat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan
dilakukan dua rakaat sebagaimana sholat id, tidak dilakukan dua kali rukuk dalam satu
rakaat.[4]


Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan sempat pula menambah
pengalaman dalam masalah politik, karena di masa hidupnya ia mengalami situasi
perpindahan kekuasaan dari khlifah Bani Umayyah kepada khalifah Bani Abbasiyah,
yang tentunya mengalami perubahan situasi yang sangat berbeda antarta kedua masa
tersebut.


Madzhab Hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya menyebarkan ke
masyarakat luas, namun kadang-kadang ada pendapat murid yang bertentangan dengan
pendapat gurunya, maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah yang terkadang
memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya.


4. Sumber – Sumber Imam Hanafi


Ulama Hanafiyah menyusun kitab-kitab fiqih, diantaranya Jami‟ al-Fushulai, Dlarar al-
Hukkam, kitab al-Fiqh dan Qawaid al-Fiqh, dan lain-lain.


Sumber-sumber hukum madzhab hanafi :


1. Al-Qur‟an
2. Sunnah


3. Ijma‟ sahabat


4. Pendapat sahabat pribadi


5. Qiyas


6. Istihsan


7. „Urf


1. Al-Quran, Hadist dan Ijma‟


Bagi mazhab hanafi al-quran, sunnah dan ijma‟ merupakan sumber hukum yang
terpenting, jika hukum tersebut tidak terdapat didalam al-quran maka meruju‟ ke hadist
dan jika tidak terdapat didalam hadist maka meruju‟ ke ijma‟. Terkait dengan sunnah,
imam hanafi hanya menggunakan hadist yang sahih dan masyhur.


Pendapat para sahabat, imamhanafi hanya menggunakan pendapat yang memadai
permasalahan pada masa itu, dalam menetapkan pandangan ini sebagai prinsip penting
mazhab hanafi.


2. Qiyas (Deduksi Analogis)


Konsep yang di utarakan oleh hanifah bahwa beliau tidak harus menerima rumusan
hukum dari para tabi‟in atau dari muritnya sahabat, dia memandang bahwa dirianya
setara dengan para tabi‟in dan melakukan atau menetapkan hukum dengan qiyasnya
sendiri[5].
3. Istihsan (Preperensi)


Istihsan sederhananya adalah satu bukti yang lebih disukai dari pada bukti lainnya karena
ia tampak lebih sesuai dengan situasinya yang, walupun bukti yang dugunakan ini lebih
lemah dari pada bukti lain.


4. „Urf (Tradisi Lokal)


Tradisi lokal diberi bobot hukum dalam wilayah dimana tidak terdapat tradisi islam yang
mengikat, melalui penerapan prinsip ini tradisi-tradisi yang beragam dalam budaya yang
berbeda didalam dunia islam menjadi sumber hukum.


5. Metode dan Cara Ijtihat Abu Hanifah


Metode ijtihad yang digunakan oleh imam hanafi adalah :


1. Metode Dialektika


Dengan menggunakan analogi terhdap suatu permasalahan, metode yang digunakan oleh
hanafi      independen    dalam   artian   lebih   menjurus   kepada   pemikiran-pemikiran
individualistik, yang diikuti dengan pola qiyas.


2. Metode Istihsan


Yaitu upaya untuk mentawaqufkan prinsip-prinsip umum dalam sat nas desebabkan
adanya nas lain yang menghendaki demikian, metode ini dikaitkan dengan maqsid al-
syari‟ah.


Thaha Jabir Fayadl al Ulwani membagi cara ijtihad Abu Hanifah menjadi dua yaitu: Cara
Ijtihad yang pokok dan cara ijtihad yang merupakan tambahan. Cara ijtihadnya yang
pokok dapat diringkas sebagai berikut:
“Aku (Abu Hanifah) merujuk kepada Al-Quran apabila aku mendapatnya, apabila tidak
ada dalam Al-Quran, aku merujuk kepada Sunnah Rasulullah SAW dan Atsar yang
Shahih yang diriwayatkan oleh orang-orang Tsiqah. Apabila tidak mendapatkan dalam Al
Quran dan sunnah rasul, aku merujuk kepada Qaul Sahabat, (apabila sahabat Ikhtikaf),
aku mengambil pendapat sahabat yang mana saja yang kukehendaki, aku tidak akan
pindah dari pendapat yang satu ke pendapat sahabat yang lain. Apabila didapatkan
pendapat Ibrahim, al-Sya‟bi, dan Ibn al-Musayyab serta yang lainnya, aku berijtihad
sebagaimana mereka berijtihad.”(Thaha Jabir Fayadl Al Ulwani,1987:91)


Sedangkan cara berijtihad Abu Hanifah yang bersifat tambahan adalah:


(a) Bahwa Dilalah lafad umum (“am”) adalah Qoth‟i seperti lafadz Khash;


(b) Bahwa pendapat sahabat yang tidak sejalan dengan pendapat umum adalah bersifat
Khusus


(c) bahwa banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat (Rajih)


(d) adanya penolakan terhadap Mafhum (makna tersirat) syarat dan sifat


(e) bahwa apabila perbuatan Rawi menyalahi riwayatnya yang dijadikan dalil adalah
perbuatannya, bukan riwayatnya,


(f) mendahulukan Qiyas Jali atas Khabar Ahad yang dipertentangkan


(g) menggunakan Istikhsan dan meninggalkan Qiyas apabila diperlukan.[6]


Langkah ijtihad yang ditempuh oleh Abu Hanifah dapat dilihat dari ungkapannya yaitu “
sungguh, saya berpegang pada Kitab Allah jika aku dapati disana. Jika tidak saya
mengambil sunnah Rasulullah Saw. Dan atsar shahihah yang tersiar di kalangan ulama
tsiqah. Jika tidak aku dapati juga di Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saya mengambil
pendapat sahabat yang aku kehendaki pula. Kemudian aku tidak keluar dari pendapat
mereka ke pendapat yang lain. Bila kasus tersebut pernah diputuskan oleh orang-orang
seperti Ibrahim, al-Sya‟bi, al-Hasan, Ibn Sirin, dan Sa‟id al-Musayyab, maka saya akan
berijtihad juga seperti mereka telah berijtihad”.


B. Imam Malik


1. Biografi Imam Malik (93-179 H)


Nama lengkap pendiri mazhab maliki adalah Malik bin Annas bin Abu Amir. Lahir pada
tahun 93 H = 721M di Madinah pada perkembangan selanjutnya beliau dikenal dengan
sebutan Imam Malik. Beliau wafat pada tahun 179 H, hanya berbeda 29 tahun dengan
Abu Hanifah, walaupun pada zaman yang sama, tetapi tempatnya yang berbeda.


Pada waktu beliau masih kecil, Malik juga belajar berdagang dan pekerjaan ini tidak
mnghalangi ia untuk menuntut ilmu fiqh kepada Alkamah bin Alkamah, disamping itu
dia juga menuntu ilmu nahwu, syair dan juga menghafal Al-Quran, beliau juga menuntut
ilmu kepada seorang ulama‟ yang dikenal sangat cerdas diantara par ulam‟ lainnya yaitu
Rabi‟ah, Imam Malik sangat mengagumi gurunya tersebut, karena kecerdasan dan
kealimanya.


Imam Malik belajar kepada ulama‟-ulama‟ Madinah, dan yang menjadi guru pertamanya
adalah Abdurrahman bin Hurmuz, beliau juga belajar kepada Nafi‟ Maulana ibnu Umar,
Imam Malik diakui oleh ulama di madinah sebagai Ahli hadist, bliau menghafal hadist
sebanyak 100.000 ribu hadist.


Imam Malik adalah seorang tokok dihijas dalam segala hal, baik fiqh, al-quran dan
hadist, Imam Malik tumbuh besar dikalangan ulama Ahlu Al-Hadist, maka hal tersebut
mempengaruhi pemikiran Imam Malik[7]. Imam Malik membangun madzhabnya di atas
dua puluh dalil, sebagaimana di kutip dari perkataan para Ulama Madzhab Maliki. dua
puluh dalil tersebut yaitu:


1. Nash Al-Qur‟an


2. Keumuman Al-Qur‟an, yakni zhahir Al-Qur‟an


3. Dalil Al-Qur‟an, yakni mafhum mukhalafahnya


4. Mafhum Al-Qur‟an, yakni mafhum muwafaqahnya


5. Tambih Al-Qur‟an, yakni memperhatikan illat (sebab) suatu ayat, seperti firman Allah,
“Karena sesungguhnya semua itu kotor (najis).” (Al-An‟am:145)


Lima dalil ini adalah yang bersumber dari Al-Qur‟an. Sedangkan yang berasal dari
sunnah, juga sama seperti lima yang dari Al-Qur‟an. Dengan demikian jumlahnya
menjadi sepuluh. Adapun yang selanjutnya:


11. Ijma‟


12. qiyas


13. Amal/perbuatan penduduk Madinah


14. Perkataan Sahabat


15. Istihsan


16. Saddu Dzari‟ah


17. Memperhatikan perbedaan
18. Istishab


19. Mashlahah Mursalah


20. Syar‟u man qablana (syariat sebelum kita).


Dalam pelaksanaannya tidak berurutan seperti yang disebutkan di atas. Qadhi Iyadh
berkata: Setelah menjelaskan susunan ijtihad sesuai dengan yang dikehendaki, akal dan
disaksikan syara‟ , mendahulukan Kitabullah pada dalilnya dengan jelas daripada
mendahulukan nash-nashnya, kemudian dzahir mafhumnya. Demikian juga sunnah
menurut susunan mutawatir, masyhur dan ahad, lalu susunan nash-nashnya, dzahir-
dzahirnya, dan mafhum-mafhumnya. Kemudian Ijma‟ ketika tidak ada dalam Al-Qur‟an
dam sunnah mutawatir. Ketika tidak ada semua yang pokok ini maka menggunakan
Qiyas dan mengistimbatkan darinya. Qadhi Iyad berkata setelah menjelaskan hal itu dan
berhujjah dengannya: Bila Anda perhatikan pertama kali sikap para imam dan sumber
pengambilan mereka dalam fiqih dan ijtihadnya dalam syara‟, niscaya Anda dapati Malik
menempuh cara ini dalam Ushulnya, susunannya, mendahului Al-Qur‟an dari pada Atsar,
mendahulukan Atsar dari pada Qiyas dan I‟tibar. Meninggalkan Qiyas terhadap sesuatu
yang orang-orang arif terpercaya tidak melakukannya dengan apa yang mereka lakukan
atau mendapati sesuatu dari mayoritas penduduk Madinah yang telah melakukan yang
lainnya dan menyelisihinya, kemudian beliau menempuh cara Salaf dalam menghadapi
berbagai kesulitan. Dia mengutamakan ittiba dan tidak menyukai bid‟ah.


Dapat di pahami bahwa Imam Malik secara umum mengikuti cara orang-orang Hijaz
dengan menetapkan Atsar selagi memungkinkan dan tidak menyukai perluasan masalah
dan memaparkannya sebelum terjadi.


2. Murid dan Guru Imam Malik


Guru-guru imam malik sangat banyak, kebanyakan berasal dari antara lain:
a. Abdurrahman bin Hurmuz


b. Nafi‟ Maulan ibnu Umar


c. Abnu Shihab Az-Zuhri, dan lain-lain


Adapun murid-muridnya adalah :


a. abumuhammad abdullah bin wahab


b. asbah bin farj


c. imam syafi‟i


d. muhammad bin ibrahim, dan lain-lain


3. Dinamika Tarikh Tasyri‟ Pada Masa Imam Malik


Ditangah bekembangnya Mazhab hanafi, Imam Maliki memosisikan diri sebagai ulama‟
Ahlu Al-Hadist, yang berpijak kepada tekstualitas dan memasukkan beberapa konsep
Dhuruf wa Al-Hal serta diikuti dengan maslahah mursalah. Fikiran Imam Malik pada
keseluruhannya hampir sama dengan ulama‟ di iraq, khusunya dalam ketergantungannya
baik dalam praktek yang dipandang ideal maupun dalam tradisi yang hidup dari para
ulama.


Tujuan imam malik adalah ingin mengemukakan doktrin-doktrin yang deterima dari
kalangan ulama‟ madinah dan begitu jauh konsep-konsepnya didasari pada pemikiran
perorangan dan wakil aliran madinah tersebut. Didalam menggabungkan penggunaan
fikiran dengan ketergantungan kepada tradisi yang hidup, Malik menampakan cirikhas
madinah, sehingga fiqh yang di karang olehnya Imam Maliki dilatar belakangi oleh
background madinah.


Dalam berbagai hal banyak ditemui bahwa pemikiran imam malik banyak diilhami oleh
tradisi masyrakat madinah yang didasari pertimbangan-pertimbangan yang matang.


Masyarakat penduduk madinah banyak menerima fatwah-fatwah imam maliki walaupun
kondisi masyarakat yang beragam aliran, ada beberapa fakto yang mempengaruhi fatwah-
fatwah imam malik antara lain, budaya, sifat, dan kondisi masyarakat pada masa itu yang
plural, sehingga imam malik menggunakan tiori maslahah mursalah.


4. Sumber-Sumber Hukum Imam Maliki


Dalam menentukan hukum-hukum, imam maliki memeberi runtutan pengambilan sumber
hukum, adapun sumber-sumber hukum yang digunakan imam malik antara lain:


1. Al-Quran


2. Hadist (yang berkwalitas shahih dan masyhur)


3. Ijma‟ (amalan ulama‟ madinah ketika itu)


4. Qiyas (analogis)


5. Maslahah mursalah (kepentingan umum)


Konsep maslahah mursalah[8] yang di gunakan oleh imam malik di dasari oleh kondisi
masyarkat madinah, walaupun banyak para ulama yang tidak setuju dengan penggunaan
metode maslahah mursalah dikarenakan tidak ada dalil yang menunjukkan terhadap
metode tersebut.
Imam malik lebih banyak menggunakan ijma‟ dalam menentukan sebuah hukum,
khusunya hokum-hukum baru yang tidak terdapat didalam alqu‟an dan hadist.


5. Metode Ijtihad Imam Malik


Hal-hal yang membuat metodenya istimewa, yang memberi pengaruh dalam perluasan
lapangan perselisihan/perbedaan di antara dia dan yang lainnya, yaitu:


1) Amal/perbuatan Penduduk Madinah, adalah sebagai hujjah bagi Malik dan
didahulukan dari pada Qiyas dan Khobar Ahad.


2) Mashlahah Mursalah Istishlah yaitu kemaslahatan-kemaslahatan yang tidak
diperlihatkan oleh syara‟ kebatalannya dan tidak pula disebutkan oleh nash tertentu dan
dikembalikan pada pemeliharaan maksud syara‟ yang keadaan maksudnya dapat
diketahui dengan Al-Qur‟an, Sunnah, Ijma dan tidak diperselisihkan mengikutinya
kecuali ketika terjadi pertentangan dengan maslahat lain. Maka ketika seperti ini Malik
mendahulukan beramal dengannya.


3) Perkataan Sahabat


4) As-Sunnah


5) Beliau berpendapat menggunakan istihsan dalam berbagai masalah, seperti jaminan
pekerjaan, menolong pemilik dapur roti dan mesin giling, bayaran kamar mandi bagi
semua orang itu sama dan pelaksanaan Qisas harus menghadirkan beberapa orang saksi
dan sumpah; hanya saja Malik tidak meluaskan dalam pendapatnya tidak seprti madzhab
Hanafi.


C. Mazhab Imam Syafi‟i


1. Biografi Imam Syafi‟i (150-204 H)
Mazhab ini dibangun oleh imam Abu A‟dullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin
Syafi‟i, beliau di juluki Imam Syafi‟i karena kakeknya bernama Syafi‟i, Imam Syafi‟i
adalah keturunan Bani Hasyim yang memiliki nasab kepada Rasul, beliau lahir di gazah
pada tahun 150 H dan wafat di mesir pada tahun 204 H[9] pada saat imam berumur 52
tahun.


Setelah ayahnya meninggal pada saat Imam Safi‟i berumur hampir 2 tahun maka ibunya
membawa Imam Syafi‟i ke gazah karena dikhawatirkan kalau dia tinggal di gazah maka
nasabnya dengan kaum Quraisy akan hilang sehingga Imam Syafi‟i tidak dapat
memperoleh pendidikan yang semestinya, pada saat itu keturunan quraisy sangat di
junjung tinggi, dan orang-orang Quraisy adalah keturunan atau masih memilki hubungan
dengan Rasul Saw, sehingga segala kebutuhan pasti dibantu oleh kaum Quraisy, dilatar
belakangi hal tersebut maka Imam Syafi‟i pindah ke mekkah.


Imam Syafi‟i dikenal sangat pintar dalam segi keilmuan agama, hafalannya yang tajam
dan kuat, sehingga pada umur 7 tahun beliau sudah menghafal Al-Quran, dan pada waktu
menuntu ilmu Imam Syafi‟i juga dapat mengulangi apa yang telah disampaikan oleh
gurunya, setiap kali gurunya menjelaskan beberapa materi imam syafi‟i selalu
mencatatnya dan menghafalnya.


Jika kita telusuri sejarah perjuangan yang dilakukan oleh Imam Syafi‟i untuk mencari
ilmu pengetahuan, maka itu semua tidak luput dari keserisusan dan semangat beliau
untuk menjadi yang lebih baik. Kepribadian imam syafi‟I yang suka merantau dari suatu
daerah ke daerah yang lain hanya untuk mencari ilmu, itu dapat dicermati dalam syairnya
:


Merantaulah ! pasti kamu akan mendapat ganti atas apa yang engkau tinggalkan


Maka tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah,
sehingga dengan berbekal keberanian Imam Syafi‟i melakukan rihlahnya ke berbagai
daerah, rihlah dilakukan beliau antara lain ke Madinah, Mekkah, Iraq, Yaman[10].


Pada saat Imam Syafi‟i berumur 20 tahun, beliau pergi ke Mekah Al-Mukarramah untuk
menuntut ilmu fiqh kepada seorang ulama‟ besar yaitu Syekh Muslim bin Khalid yaitu
imam masjidil haram. Setelah menggali ilmu fiqh dari Muslim bin Khalid, Imam Syafi‟i
melanjutkan rihlahnya ke Madina dengan tujuan menuntut ilmu kepada ulama‟
terkemuka yaitu Imam Malik ( tekstual normatif) dengan kitab fiqihnya yang terkenal Al-
Muwattaq. Imam Syafi‟i dapat menghafal dengan waktu yang singkat semua kitab Al-
Muwattaq Imam Malik. Karena merasa belum puas dengan keilmuannya, Setelah
memguasai kitab Al-Muwattak. Syafi;I melanjutkan rihlahnya ke Iraq berguru kepada
imam terkemuka disana yaitu Imam Abu Hanifah (rasionalistis),


Imam Syafi‟i mencoba mengkolaborasikan pendapat, pola fikir dan fiqh kedua Imam
tersebut, antara Ahlul Al-Hadist (tesa) dan Ahlul Ar-Ra‟yu (antitesa). Jadi dapat
dikatakan bahwa Imam Syafi‟i adalah sintesa dari dua Imam tersebut. Setelah berguru
kepada Abu Hanifah, Syafi‟i melanjutkan rihlahnya ke yaman untuk berguru disana,
karena keterbatasan dana Imam Syaf‟i‟i mencari kerja di yaman, dengan bantuan
temannya beliau diangkat menjadi hakim di Yaman, tetapi itu hanya sebentar saja, lalu
beliau kembali ke mekkah.


2. Guru dan Murid Imam Syafi‟i


Imam safi‟I adalah imam yang ke tiga setelah Imam Malik, Hanifah dan Safi‟i. didorong
dengan kemauan yang kuat maka beliau berkelana mencari guru-guru yang terkenal di
setiap kota, sehingga Imam Safi‟i dapat menggali keilmuan dari beberapa gurunya antara
lain:


1. Di Makkah antara lain:


a. Muslim bin Khalid Az-Zanji
b. Isma‟il bin Qistanti


c. Sofyan bin Ujainah


d. Sa‟ad bin Abi Salim


e. Daud bin Abdurrahman


f. Abdullah bin Nafi‟


2. Di Madinah :


a. Imam Malik


b. Ibrahim ibnu Sa‟ad


c. Abdul Azis bin Sa‟id


d. Ibrahim ibnu Abi


e. Muhammad bin Sa‟ad


f. Abdullah bin Naïf


3. Di Iraq :


a. Waqi‟ bin Jarra


b. Humad bin Usamah
c. Ismail bin Ulyah


d. Abdul Wahhab bin Abdul Majid


e. Muhammad bin Hasan


4. di Yaman :


a. Mathraf bin Mazin


b. Hisyam bin Abu Yusuf


c. Umar bin Abi Salamah


d. Yahya bin Hasan


e. Qadhi bin Yusuf


Sedangkan murid-muridnya antara lain:


1. Di Bagdad :


a. Abu Ali Al-Hasan


b. Ahmad bin Hambal


c. Ishaq bin Rabuyah


2. Sedangkan muridnya yang ada di Mesir:


a. Abu Usman
b. Abu Hanifah


c. Abu Bakr Al Khumaini


Sebenarnya masih banyak lagi murid dan guru Imam syafi‟I yang berasal dari madinah,
makkah, iraq, dan yaman, tetapi kami hanya menulis sebagian kecil saja sebagai penguat
dari histories Imam syafi‟i.


3. Dinamika Tarikh Tasyri‟ Pada Masa Imam syafi‟i (767-820 M)


Pada awal terbentuknya Mazhab Imam Syafi‟i bertepatan dengan awal pertengahan
Khalifah Bani Abbas berkisar antara kekhalifahan Abu Ja‟far Almansur (754-775 M) dan
Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)[11].


Pola penalaran Imam syafi‟I yang sangan kompleks dalam menyikapi dua aliran mazhab
tersebut. Imam syafi‟I dipandang seorang aggota aliran Madinah dan berjasa dalam
keberhasilan Ahli Hadist dan hukum islam dengan bukti emperik yang telah di berikan
oleh syafi‟i yantu kitab Ar-Risalah yang memuat tentang Al-Qur‟an, Al-Hadist dan Usul
Fiqh, walaupun pada dasarnya banyak yang membantah tentang eksistensi Usul fiqh di
dalam kitab Ar-Risalah[12].


Imam Syafi‟i berusaha mengembangkan eksinitas hukum yang bisa menjawab
permasalahan-permasalahan pada masa itu khususnya di Mesir dan Iraq, dengan
mempelajari fiqh-fiqh Imam Malik dan Hanafi, Imam Syafi‟i memperoleh perbandingan
dan mengetahui kelemahan-kelemahan kedua Imam tersebut[13], maka Imam Syafi‟i
berusaha menciptakan yang lebih kompleks dari kedua imam tersebut. Prinsip dasarnya
produk-produk fiqh Imam Syafi‟i masih berbau pemikiran Imam Maliki dan Hanafi,
karena bertapapun pengaruh gurunya imam Malik ulama‟ madinah yang Ahli „Ubudiah
dan Imam Hanafi ulama hijaz (Sufi) tidak bisa hilang dari muridnya.
Pada prinsipnya Imam Syafi‟i hanya mengakui cara berfikir analogis dan sistematis yang
terbatas, tidak menerima pendapat-pendapat arbitrer dan ketetapan-ketetapan yang
bebas[14], ini merupakan suatu pembaharuan penting dengan pembaharuan tersebut teori
hukum Syafi‟i sangat berbeda dengan teori aliran hukum lama, dalam menerima hadist
Imam Syafi‟i tetap mengikuti aliran lama yaitu guru-gurunnya, dan dia hanya mengambil
prinsip yang hanya menimbulkan ketidak fleksibelan. Berkenaan dengan hadist Nabi,
Imam Syafi‟i lebih teliti dalam memilahnya, dia hanya menggunakan hadist mutawatir
dan ahad saja yang dijadikan sebagai sumber hokum ke dua setelah Al-Quran.


Masyarakat pada masa itu sudah mengalami kemajuan yang pesat dari segi keilmuan,
sastra, budaya, perekonomian dan biro-biro pemerintahan[15]. Dibidang keilmuan sudah
mulai menterjemahkan buku-buku keilmuan romawi kedalam bahasa Persia, dari segi
sastra telah muncul seni-seni ukir dan lukis, perekonomianpun sudah tertata dengan baik
selaras dengan berjalannya biro-biro pemerintahan seperti lembaga peradilan dan yang
lainnya.


Padamulanya Imam Syafi‟i hanya mengarang kitab usul fiqh yang diberi nama Ar-
Risalah yang dikarang oleh beliau di iraq, kitab ini ditulis atas permintaan Abdurrahman
bin Al-Mahdi di makkah yang meminta penjelasan kepada imam Syafi‟i tentang suatu
kitab yang mencakup keilmuan Al-Quran, Hadist, Ijma‟ dan Qiyas. Setelah ditulis oleh
Imam Syafi‟i yang di Bantu oleh murid-muridnya lalu dikirim ke Abdurrahan bin Al-
Mahdi di Makkah, di kerenakan kitab tersebut dikirim ke makkah maka kitab yang
dikarang olek Syafi‟i diberi nama Ar-Risalah qadimah (Qaul Qadim[16]).


Sebagai bapak ilmu usul fiqh, Imam Safi‟i sangat berjasa dalam penerapan hukum islam
terkait dengan keilmuan dan keluasan berpikir, ketertarikan konsep yang ditawarkan oleh
imam Syafi‟i memicu daya tarik dari kalangan imam-imam yang ada di Iraq, Mesir,
Yaman dan Makkah. sehingga proses penyebaran Mazhab Syafi‟i sangat pesat.
Setelah Syafi‟i berada di Iraq beliau pindah ke mesir, di mesir Syafi‟i juga menulis
sebuah kitab fiqh yang dikenal dengan Qaul Jadid[17] yaitu fiqh yang disesuaikan dengan
kondisi orang-orang yang ada di mesir


Pada masa ini perkembangan tasyri‟ sudah berjalan dengan baik, pengadilan-pengadilan
sudah terbentuk, pembukuan kitab-kitab fiqh mulai beredar. Buku-buku yang notabennya
banyak dikarang oleh kaum lelaki, factor tersebut menyebabkan dari kalangan wanita
tidak begitu berperan dalam perkembangan keilmuan, tetapi tetap saja pengaruh dan
kondisi orang arab yang keras dan masih berbau badui dan mazhab yang berbeda
mewarnai perjalanan tasyri‟ pada masa itu.


4. Sumber-Sumber Hukum Imam Syafi‟i


Pengetahuan-pengetahuan untuk menggali hukum diperlukan keilmuan tentang dalil-
dalil, tentang perintah dan larangan. Pengetahuan-pengetahuan ini diakumulasikan
melalui asas-asas tertentu sehingga tersusun dengan baik. Asas-asas yang di maksud
misalnya asas tasyri‟. Pengetahuan tentang dalil tidak berdiri sendiri melainkan berkaitan
dengan daya nalar fikir dan daya kepahaman dalam menggali hukum tersebut, begitu juga
yang dilakukan oleh Imam Syafi‟i, dalam menggali hukum Sari‟ah, Imam Syafi‟i hanya
menggunakan empat macam, hal ini di utarakan Imam Syafi‟i dalam kitab Ar-Risalah:


a) Al-Qur‟an


b) Al-Hadist


c) Ijma‟


d) Ra‟yu (Qiyas)


1. Al-Qur‟an
Konsep Al-Quran menurut para ulama‟ dan Syafi‟i sama yaitu suatu sumber hukum yang
mutlaq, ini adalah landasan dasar, karena tidak mungkin di dapati perbedaan dalamnya
baik lafald dengan lafald[18]. Pemahaman Imam Syafi‟i dikuatkan dengan firman allah
(QS. 2:132). “Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”


Dalam menggali hukum didalam Al-Quran Imam Syafi‟i lebih menekankan kepada
keilmuan bahasa sebagi mana yang telah beliau utarakan bahwa Al-Quran diturunkan
dengan bahasa arab dengan tujuan agar mudah dipelajari dan dipahami tidak mungkin
terdapat lafadz-lafadz „ajam[19]. Imam Syafi‟i selalu mencantumkan ayat-ayat Al-Quran
setiap kali beliau berfatwah, namun Safi‟i menganggap bahwa Al-Quran tidak bisa
dilepaskan dari Al-Sunnah, karena kaitan antara keduanya sangat erat[20].


Gagasan yang meyangkut keluasan bahasa, pada kenyataannya ia ingin mengatakan
bahwa bahas arab tidak mungkin dapat dikuasai dengan sempurna kecuali Nabi, telah kita
ketahui bersama bahwa penukilan Al-Quran telah dikenal adanya penukilan Mutwatir dan
penukilan Ahad. Imam Syaf‟i membenarkan penukilan Mutawatir kaitan untuk
diamalkan dan di jadikan hujjah.[21]


2. Al-Sunnah


Arti sunnah yang biasanya disebut dalam Ar-Risalah adalah “khabar”[22] dalam arti
istilah ilmu hadist adalah berita, bentuk jama‟nya adalah khabar dalam artian yag
keseluruhannya datang dari Nabi atau selainnya, penggunaan khabar lebih luas dari pada
hadist[23].


Pemahaman Syafi‟i tentang hadist adalah segala bentuk :


a) Al-Aqwal Nabi


b) Al-Af‟al Nabi
c) Al-Taqdiru Nabi ‟ala amrin


untuk hadist Nabi Imam Syafi‟i hanya menggunakan hadist yang bersifat Mutawati dan
Ahad, sedangkan untuk hadist yang dhaif hanya digunakan untuk li afdhalil amal, dalam
menerima hadist ahad mazhab Syafi‟i mnsyaratkan[24]:


1. Perawinya tsiqah dan terkenal shidiq


2. Perawinya cerdikdan mahami hadistyang diriwaytkannya


3. Perawinya engan riwayat bi lafdhi bukan dengan riwayat bilmakn.


4. Perawinya tidak mnyalahi ahl-ilmi


Kalau kita perhatikan, persyaratan yang di syaratkan oleh Syafi‟i hanya untuk keshahihan
suatu hadist, hadist ahad yang diterimanya sebatas kalau hadist tersebut sahih dan
bersambung.


Factor yang melatarbelakangi Syafi‟i lebih teliti dalam menerima hadist karena sesudah
Nabi wafat banyak dari kelangan aliran politik yang membuat hadist-hadist palsu untuk
menguatkan posisinya sebagai pemimpin. Dan hadist pun bisa di atur dan di ubah sesuai
denegan kenginan pemimpin.


3.Ijma‟


Ijma‟ yang dimaksud oleh Syafi‟i adalah ijma‟nya para sahabat, dalam arti perkara yang
di putuskan oleh para sahabat dan di sepakati, maka itu menjadi sumber hukum yang
ketiga jika tidak ada didalam nash baik Al-Quran maupun hadist, contoh ijma‟ yaitu
shalat terawih 20 raka‟at. Jika terjadi perbedaan diantar para sahabat, maka Imam Syafi‟i
memilih pendapat yang lebih dekat kepada Al-Quran dan sunnah[25].
Ijma‟ menurut para ulama‟ menempati posisi ketiga setelah Al-Quran dan Hadist, begitu
juga dengan Syafi‟i, konsep ijma‟ yang di tawarkan oleh Syafi‟i mengharuskan merujuk
kepada dalil yang ada yaitu Al-Kitab dan Al-Sunnah yang memiliki hubungan kepada
qiyas, alasan yang di utarakan oleh Syafi‟i kenapa ijma‟ harus disandarkan kepada nash.
Petama, bila ijma‟ tidak dikaitkan kepada dalil maka ijma‟ tersebut tidak akan sampai
kepada kebenaran. Kedua, bahwa para sahabat tidak lebih benar dari pada nabi,
sementara nabi tidak pernah menetapkan hukum tanpa mengkaitkan dengan dalil-dalil
Al-Quran. Ketiga, pendapat agama tanpa dikaitkan kepada dalil maka itu adalah salah
besar Keempat, pandapat yang tidak dikaitkan dengan dalil maka tidak diketahui hokum
syara‟ nya[26].


4. Qiyas


Qiyas menurut para ahli hukum islam berarti penalaran analogis, yaitu pengambilan
kesimpulan dari prinsip tertetu, perbandingan hukum permasalahan yang baru
dibandingkan dengan hukum yang lama, contoh yang diberikan oleh Imam Syafi‟i, zakat
beras, tulang babi dan lain-lain.


Imam Syafi‟i sangat membatasi pemikiran analogis, qiyas yang dilakukan oleh Syafi‟i
tidak bisa independent karena semua yang diutarakan oleh Syafi‟i dikaitkan dengan nash
Al-Quran dan Sunnah.


5. Metode Ijtihad Imam Syafi‟i


Dalam berijtihad Imam Syafi‟i menggunakan pemikiran-pemikiran yang jeli dan teliti,
kita lihat model ijtihadnya sebagai berikut :


1. Metode induktif (Istiqra‟i)[27]


Metode ini lebih menekankan kepada penelitian fakta lapangan, cara ini pernah dilakukan
oleh Imam Syafi‟i dalam menentukan waktu terpanjang dan terpendek bagi wanita yang
lagi haid, dalam menentukan waktu tersebut Imam Syafi‟i melakukan penelitian kepada
beberapa wanita yang ada di mesir, hasil penelitian tersebut dihasilkan data yang
beragam, ada yang satu hari satu malam, ada yang sepuluh hari dan lima belas hari. Dari
data tersebut Imam Syafi‟i menyimpulkan bahwa paling cepat masa haid adalah satu hari
dan paling lama adalah lima belas hari.[28]


2. Metode dialektika (Jadali)[29]


Terkait dengan hukum menikahi anak dari hasil perzinahan,Dalam menetapkan hokum
ini syafi‟I meruju‟ kepada firman allah yaitu surat An-Nisa‟ ayat 23, “Diharamkan
kepada kamu menikahi ibu-ibumu, anak-anak (perempuanmu)”


Imam Syafi‟i memberi devinisi bahwa yang diharamkan adalah anak dari istri yang telah
kamu kawini dengan halal bukan dengan perbuatan haram, jadi kamu boleh menikahi
anak istrimu dari hasil perbuatan zina antara kamu dan istrimu, dikarenakan dia bukan
anak istrimu yang syah, dan dia tidak memiliki nasab dengan kumu(suami), tetapi
kebolehan yang diberikan oleh Imam Syafi‟i adalah kebolehan dalam arti Makruh.


Jawaban yang diberikan oleh Imam Syafi‟i menjelaskan, bahwa Syafi‟i berusaha
memberikan suatu eksistenti kekuatan daya nalar terhadap penggalian hukum.


D. IMAM MADZHAB HAMBALI


1. Biografi Imam Ahmad ibn Hambal


Beliau bernama Abu Abdillah Ahmad ibn Hambal ibn Hilal Ibn Asad al-Syaibani al-
Marwazi. Ia lahir di Baghdad pada Tahun 164 H, dibesarkan dan wafat disana pada
Tahun 231 H. [30] Ahmad ibn Hambal dilahirkan ketika kekalifahan dipegang oleh Musa
Al-Mahdi dari kalangan Abbasiyah. Musa al-Mahdi meninggal dan digantikan oleh
Harun Ar-Rasyid (170-194H), Harun Ar-Rasyid digantikan oleh Al-Amin (194-198 H),
Al-Amin digantikan oleh al-Makmun ( 198-218 H). Al-Makmun adalah khalifah yang
menjadikan Mu‟tazilah sebagai Madzhab Negara. Karena Imam Ahmad Ibn Hambal ini
tidak memiliki pemikiran yang sejalan dengan Mu‟tazilah, sehingga beliau mendapatkan
penyiksaan bahkan dipenjarakan. Hal itu diketahui ketika Imam Ahmad diajukan
pertanyaan tentang apakah Firman Tuhan (Al-Qur‟an) adalah makhluk. Akan tetapi
beliau tidak sependapat dengan menjawab bahwa Al-Qur‟an bersifat Qadim dan bukan
Makhluk. Karena menurut Mu‟tazilah bahwa Al-Qur‟an adalah baru, dan tidak bersifat
qadim[31].Keberanian mempertahankan keyakinan ini disamping membawa resiko juga
membawa keuntungan , yaitu membuatnya mempunyai banyak pengikut di kalangan
umat Islam yang tak sepaham dengan kaum Mu‟tazilah. Karena itu kendati banyak
Ulama‟ yang menjalani hukuman mati , Al-Mu‟Tashim dan Al-Watsiq tidak berani
menjatuhkan hukuman mati terhadap Imam Ahmad karena takut menimbulkan
kekacauan. Akhirnya Al-Mutawakkil kahlifah berikutnya menghapuskan pemaksaan
paham Mu‟tazilah.


2. Guru dan Murid Imam Hanbali


Adapun guru imam hanbali adalah


a. Muhammad ibn Idris Al-Syafi‟i


b. Hasyim


c. Abu Yusuf


d. Ibrahim Ibn Sa‟ad


e. Sufyan Ibn Uyainah


Dan murid-muridnya antara lain :


a. Shalih ibn Ahmad Ibn Hambali
b. Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hambali


c. Ahmad ibn Muhammad ibn Hani abu Bakar


d. Abdul malik Ibn Abd Al-Hamid


e. Ahmad Ibn Muhammad IbnAl-Hajjaj


3. Dinamika Tarikh tasryi‟ Pada Masa Imam Hambali


Sebagaimana diketahui bahwa Imam Ahmad dilahirkan di Baghdad, kemudian
melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Daerah yang pernah dikunjungi adalah Kufah,
Bashrah, Mekah, Madinah, Syam, dan Yaman. Perjalanan ini dilakukan untuk belajar dan
mengumpulkan Hadist, karena perjalanan yang begitu luas dalam mengumpulkan hadist
Imam ibn Hambal menurut beberapa ulama‟ dikenal dengan ahli hadist bukan imam
Fiqh. Akan tetapi Imam Ahmad memiliki salah satu guru dalam belajar ilmu Fiqih yang
berkesan yaitu Imam Syafi‟I yang dijumpainya di Baghdad. Ia pun menjadi murid Imam
Syafi‟I yang terpenting bahkan menjadi seorang mujtahid mandiri. Orang yang belajar
hadist akan mengenalnya seperti halnya orang yang belajar ilmu fiqh. Karena belajar
kepada Imam Syafi‟I, para pengikut Imam Syafi‟I menilai bahwa Ahmad Ibn Hambal
adalah pengikut Imam syafi‟I, meskipun dalam kasus tertentu ia berijtihad sendiri. Selain
Imam Syafi‟I yang dikenal menjadi guru Imam Ahmad adalah Abu Yusuf yaitu murid
dan penerus Madzhab Hanafi. Akan tetapi dalam proses Tasyri‟ Imam Hambali banyak.


Terpengaruh oleh Imam Syafi‟I, yang masih nelakukan pendekatan tekstual, tidak seperti
imam Hanafi yang menggunakan Ra‟yu dan Qiyas dalam mengistinbathkan hukum.


4. Sumber-Sumber Hukum Madzhab Hambali


Pendapat-pendapat Ahmad ibn Hambal dibangun atas lima dasar yaitu sebagai berikut :
 1. Al-Nushush dari Al-qur‟an dan Sunnah. Apabila telah ada ketentuan dalam Al-
Qur‟an dan Sunnah, ia berpendapat sesuai dengan makna yang tersurat , makna yang
tersiratnya ia abaikan.
 2. Apabila tidak didapatkan dalam Al-qur‟an dan Sunnah ia menukil fatwa sahabat
memilih pendapat sahabat yang disepakati sahabat lainnya.
 3. Apabila fatwa sahabat berbeda-beda ia memilih salah satu pendapat yang lebih dekat
kepada Al-Qur‟an dan As-Sunnah.[32]
 4. Imam Ahmad mengambil hadist mursal dan Dhaif sekiranya tidak ada dalil yang
menghalanginya. Dimaksud dengan Dhaif disini bukan Dhaif yang batil dan yang
mungkar. Tetapi Dhaif yang tergolong sahih atau hasan. Dalam pandangan imam ahmad,
hadist itu tidak terbagi atas sahih, hasan dan dhaif, tetapi terbagi atas dua yaitu shahih dan
dhaif saja. Pembagian hadist menjadi shahih, hasan dan dhaif dipopulerkan oleh al-
Tirmidzi (209-279 H). Karenanya tidak mengherankan kalau di masa Imam Ahmad
pembagian hadist masih kepada shahih dan dhaif. Hadist dhaif ada bertingkat-tingkat.
Yang dimaksud dhaif tadi adalah pada tingkat yang paling atas. Menggunakan hadist
semacam ini lebih utama daripada menggunakan Qiyas. [33]
 5. Qiyas adalah digunakan dalam keadaan darurat yaitu bila tidak ada “senjata” yang
disebut sebelumnya.


5. Metode Ijtihad Imam Ahmad ibn Hambal


Metode yang di kembangkan oleh ahmad bin hambal adalah Metode Dialektika hal ini
dpat kita lihat cara beliau menjelaskan tentang seatu hukum, Fiqih Imam Ahmad
menjelaskan tentang syarat-syarat penegakan sanksi potong tangan. Dari sisi pelaku
pencurian, syarat-syarat yang meski dipenuhi adalah pencurinya sudah mukallaf, dapat
memilih, merdeka, dan budak pemilik, meskipun Syubhat. Sedangkan syarat dari segi
benda adalah benda yang dicurinya berupa harta dan sudah mencapai nishab.Menurut
Ahmad ibn Hambal, nishab harta curian yang pencurinya harus dikenai sanksi potong
tangan adalah ¼ dinar atau 3 Dirham.
Dalam bidang pemerintahan Imam Ahmad berpendapat bahwa khalifah yang memimpin
adalah dari kalangan Quraisy sedangkan taat kepada khalifah adalah mutlak. Imam
Ahmad berpendapat :


“Mendengarkan dan taat kepada para imam dan amirul mu‟minin (adalah wajib), baik ia
seorang yang baik maupun Fajir”


Dalam bidang Mu‟amalah, terutama tentang Khiyar al-Majlis. Imam Ahmad berpendapat
bahwa jual beli belum dianggap lazim (meskipun telah terjadi ijab dan qabul) apabila
penjual dan pembeli masih dalam satu ruangan yang di tempat itu akad dilakukan.
Apabila keduanya atau salah satunya tidak di tempat itu lagi (berpisah) maka akad sudah
lazim. Alasannya adalah hadist riwayat Nafi‟ dan „Abdullah ibn Umar r.a yang
menyatakan bahwa nabi Muhammad Saw bersabda :


“Setiap penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar (pilih) selama keduanya belum
berpisah “


Selanjutnya, tokoh yang membaharui dan melengkapi pemikiran Madzhab Hambali,
terutama di bidang Mu‟amalah adalah Syeikh al-Islam Taqiyudin Ibn Taimiyah (wafat
728 H) dan Ibn Al-Qayim al-Jauziyyah (Wafat 751 H) murid ibn Taimiyyah. Tadinya
pengikut Madzhab Mahbali tidak begitu banyak, setelah dikembangkan oleh dua tokoh
tersebut maka madzhab Hambalimenjadi semarak terlebih setelah dikembangkan lagi
oleh Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1206 H). dan kini menjadi Madzhab resmi
pemerintah Kerajaan Saudi Arabia.




E. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Berkembangnya Empat Mazhab


Ada beberapa faktor yang menyebabkan berkembangannya mazhab para imam-imam
tersebut antara lain:
1. Pendapat-pendapat imamnya itu dikumpulkan dan dibukukan, hal ini tidak terdapat
pada salah satu imam salaf atau mazhab-mazhab yang lain.


2. Adanya murid-murid mereka yang berusaha menyebarluaskan pendapat-pendapat
mereka.


3. Adanya kecendrungan imam-imam muslim (penguasa) agar keputusan suatu perkara
diberikan oleh hakim yang berasal dari imam mazhab[34].


BAB III


PENUTUP


A. Kesimpulan


1. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan sempat pula
menambah pengalaman dalam masalah politik, karena di masa hidupnya ia mengalami
situasi perpindahan kekuasaan dari khlifah Bani Umayyah kepada khalifah Bani
Abbasiyah, yang tentunya mengalami perubahan situasi yang sangat berbeda antarta
kedua masa tersebut. Madzhab Hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya
menyebarkan ke masyarakat luas, namun kadang-kadang ada pendapat murid yang
bertentangan dengan pendapat gurunya, maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah
yang terkadang memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya.


2. Imam Malik adalah seorang tokok dihijas dalam segala hal, baik fiqh, al-quran dan
hadist, Imam Malik tumbuh besar dikalangan ulama Ahlu Al-Hadist, maka hal tersebut
mempengaruhi pemikiran Imam Malik


3. Dalam menggali hukum didalam Al-Quran Imam Syafi‟i lebih menekankan kepada
keilmuan bahasa sebagi mana yang telah beliau utarakan bahwa Al-Quran diturunkan
dengan bahasa arab dengan tujuan agar mudah dipelajari dan dipahami tidak mungkin
terdapat lafadz-lafadz „ajam[35]. Imam Syafi‟i selalu mencantumkan ayat-ayat Al-Quran
setiap kali beliau berfatwah, namun Safi‟i menganggap bahwa Al-Quran tidak bisa
dilepaskan dari Al-Sunnah, karena kaitan antara keduanya sangat erat[36].


4. Imam ibn Hambal menurut beberapa ulama‟ dikenal dengan ahli hadist bukan imam
Fiqh. Akan tetapi Imam Ahmad memiliki salah satu guru dalam belajar ilmu Fiqih yang
berkesan yaitu Imam Syafi‟I yang dijumpainya di Baghdad. Ia pun menjadi murid Imam
Syafi‟I yang terpenting bahkan menjadi seorang mujtahid mandiri.


B. Saran dan Kritik


Dengan selesainya makalah ini kami sadar bahwasanya makalah kami ini masih jauh dari
kesempurnaan, karena masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dar segi materi
pembahasan maupun ejaan kata, maka dari itu kami mengharapkan adanya saran dan
kritik yang membangun dari pembaca agar di kemudian hari kami dapat menyusun
makalah lebih baik lagi. Harapan kami makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah
wawasan mengenai salah satu periodisasi yang ada dalam sejarah tasyri‟. Amien.


DAFTAR PUSTAKA


sAli, M. Hasan. Perbandingan Mazhab. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995)


Ameanah, Abu Bilah Philip.Asal-Usus dan Perkembangan Fiqh. (Bandung: Nusa Media,
2005)


Tahido Yanggo, Huzaemah, Pengantar Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1997)


Mubarok, Jaih, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2003)
Al-Jamal, Hasan. Biografi 10 imam Besar. (Jakarta: Pustaka Al-Kaustar, 2003)


Al Mansur, Asep Saifuddin. Kedudukan mazhab dalam syari‟at islam. Jakarta: pustaka
Al-Husna, 1984)


Abbas, Siradjuddin. Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi‟i.( Jakarta: Pustaka
Tarbiah,.1994)


Khalil, Rasyad Hasan. Abdul Fatah Abdullah Al-Barsumi. Tarikh Al-Tasyri‟ Al-Islami.(
Beirut: Dar Al-Fikr, Tanpa tahun)


Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004)


B. Hallaq, Wael. Melacak Akar-Akar Kontroversi Dalam Pemikiran Hukum Islam.
(Surabaya: Sribandi, 2005)


Hanafi, Ahmad. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam. (Jakarta: Bulan Bintang,1995)


Schacht, Joseph. Pengantar Hukum Islam. (Jakarta: Departemen Agama, 1985)


K. Hitti, Phillip. Historis Of The Arabs. (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006)


Mu‟alim, Amir. Yusdani. Konfigurasi Hukum Islam.(Jakarta: UII Pres, 2004)


Al-Ruhaili, Wahbah. Usul Fiqh Al-Islamiyah. (Damsyik: Dar Fiqr, 1996)


Syafi‟I, Rahmat. Usul Fiqh. (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998)


Roibin. Sosiologi Hukum Islam (Telaah Sosio-Historis pemikiran Syafi‟i). (Malang: UIN
Malang, 2008)
Al-Qathan, Manna. Mabahits Fi Ulumu Al-Hadist.(terj oleh Mifdhol Abdurrahman).
(Jakarta: Pustaka Al-Kautar)


[1] M. Ali Hasan. Perbandingan Mazhab. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995),
188.


[2] Huzaemah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997), 95


[3] M. Ali Hasan. Op.Cit.188.


[4] Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2003), 75-76.


[5] Abu Ameanah Bilah Philip.Asal-Usus dan Perkembangan Fiqh. (Bandung: Nusa
Media, 2005), 88


[6] Asep Saifuddin Al Mansu. Op.Cit. 47-48


[7] Hasan Al-Jamal. Biografi 10 imam Besar. (Jakarta: Pustaka Al-Kaustar, 2003), 37


[8] Adanya mamfaat baik secara asal maupun melului suatu proses, seperti manghasilkan
kenikmatan dan faedah ataupun menjauhkn dari kemudharatan.


[9] Rasyad Hasan khalil. Abdul Fatah Abdullah Al-Barsumi. Tarikh Al-Tasyri‟ Al-
Islami.( Beirut: Dar Al-Fikr, Tanpa tahun), 307


[10] Siradjuddin Abbas. Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi‟i.( Jakarta: Pustaka
Tarbiah,.1994),14-32


[11] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 52
[12] Wael B. Hallaq. Melacak Akar-Akar Kontroversi Dalam Pemikiran Hukum Islam.
(Surabaya: Sribandi, 2005),126-129


[13] Ahmad Hanafi. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam. (Jakarta: Bulan
Bintang,1995),154


[14] Joseph Schacht. Pengantar Hukum Islam. (Jakarta: Departemen Agama, 1985), 63


[15] Phillip K. Hitti. Historis Of The Arabs. (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), 406


[16] Qaul Qadim adalah prodak fiqh yang di karang oleh Imam Syafi‟i pada saat berada
di iraq. Perlu diketahui bahwa term yang digunahkan pada saat itu hanyalah untuk
membedakan fatwahnya yang ada di Iraq dan di Mesir, ada sedikit perbedaan dalam
penerapan yang di gunanakan oleh Imam Syafi‟i terkait dengan fatwah yang ada di Qaul
Jadid dengan Qaul Qadim, tidak semua fatwah yang ada didalam Qaul Qadim diterapkan
di mesir, yang tidak sesuai maka diganti dengan Qaul Jadid, hal tersebut dilatar belakangi
oleh factor social, ekonomi, budaya. Masyarakat antara iraq dan mesir. Lihat juga Roibin,
sosiologi hukum islam, 172


[17] Qaul jadid adalah prodak fiqh yang di karang oleh Imam Syafi‟i pada saat berada di
mesir.


[18] Rasyad Hasan khalil. Abdul Fatah Abdullah Al-Barsumi. Op.cit. 306


[19] Wahbah Al-Ruhaili. Usul Fiqh Al-Islamiyah. (Damsyik: Dar Fiqr, 1996), 420


[20] Rahmat Syafi‟i. Usul Fiqh. (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), 52


[21] Roibin. Sosiologi Hukum Islam (Telaah Sosio-Historis pemikiran Syafi‟i). (Malang:
UIN Malang, 2008), 93
[22] Ibid. 95


[23] Manna Al-Qathan. Mabahits Fi Ulumu Al-Hadist.terj oleh Mifdhol Abdurrahman.
(Jakarta: Pustaka Al-Kautar), 25


[24] Rahmad Syafi‟i Op.cit.


[25] Rasyad Hasan khalil. Abdul Fatah Abdullah Al-Barsumi Rasyad Hasan khalil.
Op.cit. 308.


[26] Robin, Op.Cit. 105


[27] Yaitu metode pengambilan kesimpulan umum yang dihasilkan dari fakta-fakta
umum


[28] Amir Mu‟alim. Yusdani. Konfigurasi Hukum Islam.(Jakarta: UII Pres, 2004), 32


[29] Metode penalaran melalui pertanyaan dan perbandingan yang bersifat tesa dan
antitesa serta analogi kepada sumber-simber dasar


[30] Muh Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan sejarah.grafindo. hal 122


[31] Ibid. 123


[32]Ibid.124


[33] Ibid.125


[34] Asep saifuddin.,Op.Cit. 32
[35] Wahbah Al-Zuhaili. Usul Fiqh Al-Islamiyah. (Damsyik: Dar Fiqr, 1996), 420


[36] Rahmat Syafi‟i. Usul Fiqh. (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), 52


<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
http://m-syarifuddin.blogspot.com/2009/05/dinamika-tarikh-tasyri-pada-masa-imam.html
Melacak akar sejarah Isfun dan Islib
Nadirsyah Hosen


Secara garis besar ada dua kelompok dalam Islam: mereka yang memahami teks-teks suci
dengan pendekatan tekstual atau lebih condong untuk berpegang pada bunyi teks (untuk
mudahnya kini disebut sebagai islam fundamentalis atau isfun); dan mereka yang lebih
cenderung memahami teks dengan mempertimbangkan konteks dari teks-teks suci
tersebut (untuk sederhananya kini disebut dengan islam liberal atau islib). Kedua
kelompok ini akar sejarahnya bisa dilacak jauh ke belakang sampai pada masa Nabi
masih hidup.


Ada sebuah riwayat yang kira-kira menceritakan sebagai berikut: Ketika sekelompok
sahabat tersesat dan tidak mengetahui arah kiblat, sebagian di antara mereka tetap
melaksanakan sholat dengan menghadap ke arah yang mereka duga sebagai arah kiblat
(dengan resiko dugaan tersebut keliru); sebagian lagi menunggu sampai mereka kembali
ke jalur perjalanan yang tepat (dengan resiko waktu sholat akan habis) baru kemudian
menunaikan sholat. Ketika mereka kembali ke Madinah dan menceritakan peristiwa
tersebut, Nabi yang mulia konon membenarkan kedua „ijtihad‟ tersebut.


Ketika sekolompok sahabat menuju sebuah perkampungan, Nabi berpesan agar sholat
ashar di perkampungan yang dituju tersebut. Rupa-rupanya perjalanan mereka berjalan
dengan lambat dan sampai menjelang habisnya waktu ashar mereka belum tiba juga di
perkampungan tersebut. Sebagian sahabat memahami tujuan perintah Nabi tersebut
adalah agar mereka bergegas dan dapat tiba di kampung tersebut sebelum maghrib.
Untuk itu, meskipun belum sampai di kampung tsb, mereka memutuskan untuk sholat
ashar di perjalanan. Mereka merasa tidak melanggar perintah Nabi. Sebagian lagi dari
mereka memahami perintah Nabi secara harfiah, sehingga mereka tetap menjalankan
sholat ashar di kampung tersebut meskipun ketika mereka tiba di kampung itu waktu
ashar telah habis. Ketika mereka kembali ke Madinah dan melaporkan peristiwa tersebut,
Nabi yang mulia membenarkan kedua kelompok tersebut.


Kita juga mengenal Khalifah Umar bin Khattab yang melarang haji tamattu‟,
menganggap talak tiga sekali sebut sebagai jatuh talak tiga, tidak memotong tangan
pencuri di saat paceklik, dan meng-had peminum khmar dua kali lebih banyak dari yang
dilakukan Nabi. Sementara itu kita juga mengenal Imam Ali bin Abi Thalib yang terkenal
sangat „kaku‟ dan „apa adanya‟ dalam memahami nash. Ada ulama yang melihat bahwa
posisi Umar sebagai khalifah dan, saat itu, posisi Ali sebagai hakim membuat mereka
„terpaksa‟ menjalankan ijtihad yang berbeda. Khalifah bergerak dalam fiqh siyasah yang
lentur dan fleksibel, sedangkan Hakim bergerak dalam wilayatul qadha yang kaku dan
rigid sebagai penjaga gawang keadilan.


Ijtihad Umar (dan Abdullah bin Mas‟ud) mendapat sambutan di wilayah Kufah. Posisi
Kufah yang jauh dari Madinah memaksa mereka untuk melakukan ijtihad secara lebih
luas. Disamping itu, Kufah adalah kota metropolitan yang berbeda karakternya dengan
Madinah. Di kota Kufah inilah lahir Imam Abu Hanifah. Beliau sangat terkenal dengan
kecenderungannya menggunakan ra‟yu atau akal pikiran atau ijtihad. Imam Abu Hanifah
memiliki murid-murid seperti Abu Yusuf dan Muhammad. Dalam kitab tarikh tasyri‟,
ulama Kufah sering disebut dengan ahlur ra‟yi.


Sementara itu, di Madinah kita mengenal Imam Malik yang telah melahirkan kitab al-
Muwatha‟. Problem yang dihadapi Imam Malik tidak jauh berbeda dengan problem yang
dihadapi pada masa-masa sebelumnya. Disamping itu para sahabat di Madinah juga
meninggalkan „jejak‟ dan „warisan‟ serta „khazanah‟ yang luar biasa untuk menjawab
persoalan-persoalan itu. Hal ini „memaksa‟ Imam Malik untuk cenderung berpegang pada
teks secara lebih ketat ketimbang para ulama di Kufah. Para penyusun kitab tarikh tasyri‟
menggolongkan kelompok ini dengan ahlul hadis.
Ahlur ra‟yi tidak berarti sama sekali meninggalkan hadis, sebagaimana ahlul hadis tidak
berarti melupakan peranan akal sama sekali. Tingkat atau rasio penggunaan antara teks
dan ijtihad itulah yang membedakan mereka. Ahlul ra‟yi cenderung memahami teks
dengan melihat substansi, semangat, ruh, jiwa atau konteks sebuah teks suci. Mereka
tidak segan mengambil makna tersirat dan meninggalkan makna tersurat, tanpa merasa
telah meninggalkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Mereka merasa problem Kufah
berbeda dengan problem di Madinah. Andaikata Nabi masih hidup dan tinggal di Kufah,
mereka yakin Nabi akan membenarkan mereka. Imam Abu Hanifah melahirkan konsep
qiyas dan istihsan, sebagai salah satu, cara menjawab persoalan yang baru muncul.


Ahlul hadis merasa makna tersurat sebuah nash sudah berhasil menjawab persoalan-
persoalan yang mereka hadapi. Jadi, untuk apa meninggalkan bunyi nash dan repot-repot
mencari makna dibalik teks. Untuk persoalan tertentu yang telah berkembang sedemikian
rupa dan bunyi nash tidak lagi cukup memberikan jawaban, barulah mereka
menggunakan konsep qiyas, dan mashalih mursalah [silahkan merujuk pada kitab-kitab
ushul al-fiqh untuk mengetahui istilah-istilah ini lebih mendalam].


Imam Syafi‟i bolehlah disebut dengan „bunglon‟, ketika beliau belajar dengan
Muhammad (murid Abu Hanifah di Kufah) dan belajar pula dengan Imam Malik di
Madinah. Syafi‟i mencoba berdiri di kedua kelompok dan merumuskan metode
ijtihadnya dengan menggunakan kedua pendekatan tsb. Syafi‟i menerima penggunaan
qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Namun Syafi‟i tidak segan-segan
menolak istihsan (Abu Hanifah) dan Mashalih Mursalah (Malik). Syafi‟i sendiri tampil
memukau dengan pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki nashir al-sunnah
(pembela sunnah nabi).


Imam Syafi‟i tinggal di Baghdad dan lahirlah ijtihad-ijtihad beliau. Namun ketika beliau
pindah ke Mesir, beliau mendapati kenyataan dan problematika yang berbeda dengan
suasana Baghdad. Lahirlah ijtihad beliau yang berbeda. Alih-alih menjuluki Syafi‟i
sebagai „bunglon‟ atau „inkonsisten‟, para ulama menjuluki perbedaan itu dengan
menggunakan istilah qaul qadim (pendapat yang lama) dan qaul jadid (pendapat yang
baru). Kedua qaul itu masih berlaku dan valid sampai sekarang. Qaul jadid tidak berarti
menghapus qaul qadim. Jikalau ada kondisi yang cocok dengan qaul qadim, maka
digunakanlah qaul qadim untuk merepsonnya. Begitupula sebaliknya.


Imam Syafi‟i memiliki murid yang bernama Ahmad bin Hanbal. Belakangan Imam
Ahmad –yang telah menguasai hadis dan fiqh sekaligus– banyak berbeda pendapat
dengan gurunya (suatu hal yang wajar-wajar saja dalam dunia akademik). Kecnderungan
Imam Ahmad adalah lebih kaku ketimbang Syafi‟i. Namun demikian Imam Ahmad
masih menerima penggunaan qiyas meskipun dengan sangat terbatas. Imam Dawud al-
Zhahiri juga murid Imam Syafi‟i. Bagi yang terakhir ini, posisinya lebih kaku ketimbang
Imam Ahmad dan Imam Syafi‟i. Alasan Syafi‟i menolak konsep istihsan, misalnya,
dikembangkannya sedemikian rupa sehingga dia menolak qiyas. Dia memahami teks suci
sangat harfiah dan lahiriah (makanya mazhabnya disebut mazhab zhahiri).


Dalam dunia ushul al-fiqh, Imam Syafi‟i terkenal sebagai perumus pertama metodologi
hukum Islam. Dalam filsafat ilmu tentu saja dibedakan antara metode dan metodologi.
Yang terakhir ini lebih luas cakupannya. Ushul al-fiqh (atau sebut saja metodologi
hukum Islam) tidak dikenal pada masa Nabi dan sahabat. Ilmu ini baru lahir ketika
Syafi‟i menulis al-Risalah.


Mazhab Hanafi juga belum melahirkan metodologi saat itu. Jadi, metodologi Abu
Hanifah dibuat belakangan („sambil jalan‟ kalau istilah aktivis Jaringan Islam Liberal).
Ini bukan berarti para sahabat dan ulama sampai masa Syafi‟i tidak memiliki metode;
mereka punya metode namun belum terumuskan dengan sistematis dan komprehensif
untuk pantas disebut sebagai metodologi. Karena itu, kalau Syafi‟i merumuskan
metodologi terlebih dahulu, baru ber-ijtihad; mazhab Hanafi ber-ijtihad dulu dan baru
kemudian para murid Abu Hanifah, berdasarkan ijtihad- ijtihad mazhab mereka,
merumuskan ushul al-fiqh mazhab Hanafi. Kedua pendekatan ini sama sahnya dan
diterima oleh para ulama.
Saya baru saja menggambarkan –dengan sangat singkat dan sederhana serta mengandung
resiko disalahpahami– perjalanan sejarah dua kelompok besar saat ini: isfun dan islib.


Kita sangat berharap akan kejayaan ummat Islam melalui kedua kelompok tsb. Kita juga
berharap ada sosok seperti Imam Syafi‟i yang mau belajar dari kedua kelompok tersebut.
Andaikan jarum jam kita putar kembali dan kedua kelompok tsb tiba di Madinah untuk
menemui Nabi yang mulia serta melaporkan perbedaan pendekatan yang mereka ambil,
saya menduga kuat Nabi SAW akan membenarkan keduanya. Wa Allahu A‟lam bi al-
Shawab.


salam hangat,
=nadir=


Date: Wed, 27 Mar 2002 15:41:43 +1100 (EST)
From: Nadirsyah Hosen <nhosen@yahoo.com.au>
To: is-lam@isnet.org
Subject: [is-lam] Islam liberal dan Islam fundamentalis


Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta


http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/isfun-lib.html


SILABUS


Mata Kuliah: Tarikh Tasyri‟
Jurusan: Perbandingan Madzhab dan Hukum & Siyasah
Kode/SKS: 2 Sks
Dosen : Ayi Yunus Rusyana, M.Ag.
NIDN: 2008107501
Kompetensi: Mahasiswa mengetahui sejarah perkembangan hukum Islam dari masa Nabi
Muhammad SAW, sampai dengan Asia Tenggara dan Indonesia, dan konteks
kemunculan hukum Islam


Topik Bahasan:
1. Pengantar Kuliah Tarikh Tasyri‟
2. Dimensi, Macam-macam dan Prinsip Syari‟ah
3. Syari‟at Sebelum Islam
4. Tasyri‟ pada masa Rasululullah
5. Tasyri‟ pada masa sahabat
6. Tasyri‟ pada masa Tabi‟in
7. Tasyri‟ pada masa awal abad ke-2 s.d. abad ke-4 (Bagian ke-1)
8. Tasyri‟ pada masa awal abad ke-2 s.d. abad ke-4 (Bagian ke-2)
9. Tasyri‟ pada Abad Ke-4 sampai runtuhnya Daulah Abasiyah
10. Pembinaan Hukum pada Masa Taqlid
11. Munculnya Gerakan Pembaharuan Islam
12. Perkembangan Hukum Islam di Asia Tenggara
13. Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia (Bagian I)
14. Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia (Bagian II)


Daftar Referensi:
1. Ahmad Hasan, Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup. Bandung: Pustaka.
2. Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
3. Hudhari Bik, Tarikh Al-Tasyri‟ Al-Islami.
4. Jaih Mubarak, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Rosyda Karya, 2000.
5. JND. Anderson, Hukum Islam di Dunia Muslim
6. Joseph Schacht, an Introduction to Islamic Law
7. Juhaya S. Praja, Hukum Islam di Indonesia; Perkembangan dan Pembentukan
8. Khalil Abdul Karim, Al-Judzuurat at-Tarikhiyyah li asy-Syari‟ah al-Islamiyah
9. M. Ali Syais, Tarikh al-Fiqih al-Islamy.
10. Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara
11. MB. Hooker, Islam Mazhab Indonesia, Mizan
12. Mun‟im A. Sirri, Sejarah Fiqh Islam
13. Sudirman Tebba, Perkembangan Mutakhir Hukum Islam di Asia Tenggara; Studi
Kasus Hukum Keluarga dan Pengkodifikasiannya,
14. Yusuf Qardhawi, Bagaimana memahami Syari‟at Islam. Jakarta: Islamuna Press.


http://punayi.wordpress.com/2009/02/12/silabus-tarikh-tasyri/


Tarikh Tasyri‟


Seorang ulama ekonomi syariah yang bertugas berijtihad di bidang ekonomi syariah, juga
harus memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu tarikh-tasyri‟. Kegunaan ilmu tarikh
tasyri‟ ini antara lain :


1. Melalui kajian tarikh tasyri‟ kita dapat mengetahui prinsip-prinsip dan tujuan syariat
Islam dan aplikasi (terapannya) dalam sejarah. Pengetahuan ini akan memberikan makna
yang penting bagi ulama (ahli ekonomi islam) sekarang untuk menjawab tantangan
problematika ekonomi keuangan modern.


2. Melalui tarikh tasyri‟ kita dapat mengetahui tahapan-tahapan penerapan syariah
sepanjang sejarah.


3. Melalui tarikh tasyri‟ kita dapat mengetahui latar belakang sosio cultural ketika suatu
hukum Islam dirumuskan sepanjang sejarah.


4. Melalui tarikh tasyri‟ kita dapat mengetahui sejarah ijtihad dan bagaimana ulama
menerapkannya dalam menjawab persoalan yang muncul


5. Melalui tarikh tasyri‟ dapat diketahui sejarah munculnya qaidah-qaidah fiqh dari
zaman ke zaman. Pengetahuan ini akan mendorong ulama saat ini untuk mereformulasi
kaedah-kaedah baru ekonomi, baik mikro maupun makro, khususnya kedah fiqh moneter.
6. Melalui tarikh tasyri‟ dapat diketahui metode-metode ulama dalam menetapkan hukum
Islam, termasuk hukum ekonomi Islam.


7. Dengan mempelajari tarikh tasyrik akan dapat memberikan pelajaran bagi ilmuan dan
ulama saat ini saat ini dalam menetapkan dan merumuskan hukum, karena sejarah adalah
pelajaran (‟ibrah).


8. Melalui kajian tarikh tasyri‟ kita dapat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai
dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam
mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin. Semua itu mereka ambil dari
cahaya kenabian yang dibawa oleh Rasulullah saw.


9. Melalui kajian tarikh tasyri‟ akan tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat
Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari‟ah (kepemimpinan syariat)
dalam kehidupan umat di masa depan.


10. Dengan mempelajari tarikh tasyri‟ akan menumbuhkan semangat untuk berijthad
berdasarkan metode para ulama terdahulu, berijtihad menjawab tantangan zaman yang
senantiasa berkembang. Dengan bekal ushul fiqh yang memadai, para ulama ekonomi
syariah yang memahami tarikh tasyri‟ akan mampu mengukir sejarah di masa kini dalam
melahirkan fatwa-fatwa, mendesign akad-akad secara inovatif di LKS, dan memberikan
solusi pemikiran konstruktif untuk permasalah ekonomi bangsa dan dunia, sebagaimana
para ulama terdahulu.


11. Melalui kajian tarikh tasyri‟ kita dapat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah
(komprehensifnya) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan yang terlihat dalam
sejarah peradaban umat yang agung terutama di masa kejayaannya. Bahwa penerapan
syariat Islam berarti perhatian dan kepedulian negara dan masyarakat terhadap
pendidikan (ilmu pengetahuan), ekonomi, akhlaq, aqidah, hubungan sosial, sangsi
hukum, politik dan aspek-aspek lainnya.
Buku-buku mengenai tarikh tasyri‟ ini antara lain.


Muhammad Anis ‟Ubadah, Tarikh al-Fiqh al-Islami, Dal al-Taba‟ah al-Hadisah, Mesir,
1975.
Al-Badawi, Abdul Rahman, Mazahib al-Islamiyah, Dar al-„Ilm al-Malayin, Beirut, tt.
Muhammad Faruq al-Nabhan, Al-Madkhal Li al-Tasyri‟ al-Islami, Dar al-Qalam, Beirut,
1977.
Al-Khudari Bik, Tarikh al-Tasyri‟ al-Islami, Maktabah Muhammad Bin Ahmad Bin
Nabhan Wa Auladih, Surabaya, Indonesia, tt.
Abdul wahab al-Khallaf, Khulasah Tarikh al-Tasyri. Al-Islami, (Edisi Indonesia, „Ikhtisar
sejarah pembentukan hukum Islam, Terj. Ali Imran, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1981.
Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Fiqhiyah, Juz II, Dar al-Fikri, Mesir, tt.
79. Muhammad Ali al-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islami, Matba‟ah Muhammad „Ali Subaih,
Mesir, tt.
80. Muhammad Ali al-Sayis, Nasy‟ah al-Fiqh al-Ijtihad Wa At-Waruhu, Silsilah al-
Buhus al-Islamiyah, Mesir, 1975.
81. Muhammad Yusuf Musa, Tarikh al-Fiqh al-Islami, Dar al-Kutub al-Qurtubi, Mesir,
1958.
82. Abdul Karim Zaidan, Al-Madkhal Li Dirasah al-Tasyri‟ al-Islami, Maktabah al-Quds,
Bagdad, tt.
83. Abu Zahrah, Muhammad, Ibn Hanbal Hayatuhu Wa „Asruhu Wa Fiqhuhu, Dar al-
Fikri, al-„Arabi, Kairo, 1944.
84. Ahmad Hasan, The Early Development Of Islamic Jurisprudence, Terj. Agah
Barnadi, Pintu Ujtihad Sebelum Tertutup, Pustaka, Bandung, 1984
85. Ali Yafie, Disiplin Ilmu Tradisional : Fiqh, Paramadina, Seri KKA. 06/thn.I, 1987.
86. Muslim Ibrahim Perkembangan Ilmu Fiqh Di Dunia Islam, Proyek PPS. PTA/ IAIN,
Depag. RI., Jakarta, 1986.
87. Noel J. Coulson, The History Of Islamic law, Edinburg, University Press, Inggris,
1964. (Edisi Indonesia, Hukum Islam Dalam Pespektif Sejarah, P3M, Jakarta, 1987).
88. Rakhmat, Jatnika, Perkembangan Ilmu Fiqh Di Dunia Islam, Dalam Buku Orientasi
Pengembangan Ilmu Agama Islam, Proyek PPS. PTA/ IAIN, Jakarta, 1986.
89. TM. Sabih Al-Siddiqy, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Hukum Islam,
Bulan Bintang, Jakarta, 1981.


Sedangkan buku-buku yang terkait dengan falsafah hukum Islam atau falsafah tasyri‟
Islam dapat dilihat di bawah ini. Tetapi harus dimaklumi bahwa buku-buku ushul fiqh
yang ditulis oleh Asy-Syatibi dan Al-Ghazali juga banyak membahas maqashid syariah.
Demikian pula buku-buku ushul fiqh kontemporer, seperti ushul fiqh Abu Zahroh dan
Abdul Wahhab Khallaf, Ali Hasbah,
Buku-buku di bawah ini, bukan buku uhsul fiqh secara spesifik, tetapi banyak
mengandung pelajaran tentang falsafah hukum Islam atau falsafah tasyri‟ , seperti buku :


90. Al-Dihlawi, Syah Wali Allah, Hujjah Allah al-Baligah, I-darah al-Tiba‟ah al-
Muniriyah, Damaskus, 1352 H.
91. Ibnu al-Qayyim, Syamsuddin Muhammad Ibn Abi Bakr al-Jawziah, I‟lam al-
Muwaqqi‟in „An Rabb al-„Alamin, Dar al-Jail, Beirut, 1977.
92. Mahmassani, Sobhi, Falsafah al-Tasyri‟ al-Islami, Dar al-Kasysyaf, Mesir, 1956.
(Edisi Indonesia, Falsafah Hukum Dalam Islam, Terj. Ahmad Sujono, PT. Al-Ma‟arif,
Bandung, 1981.
93. Qardawi, yusuf, „Awamil al-Sa‟ah Wa al-Murunah Fi al-Syari‟ah al-Islamiyah, (Edisi
Indonesia, Keluasan Dan Keluesan Syari‟at Islam, Terj. Rifyal Ka‟bah, Minaret, Jakarta,
1988.
94. Al-Siddiqy, T.M. Hasbi, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.
95. Muzhar Ata, Fiqh Dan Reaktualisasi Pemahaman Islam, Dalam Jurnal Mimbar
Hukum Nomor 3 Tahun II, Yayasan al-Hikmah dan Direktorat Pembinaan Badan
Peradilan Agama Islam, Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Dept. Agama
RI., Jakarta, 1992.
96. Yusuf Qardawi, Al-Syari‟ah al-Islamiyah Khuluduha Wa Salahuha Li Tatbiq Li Kulli
Zaman Wa Makan, (Edisi Indonesia, Syari‟at Islam Ditantang Zaman, Posisi Dan
Relevansi Hukum Islam Di Berbagai Tempat Dan Zaman, Pustaka Progressif, Surabaya,
1990).
97. Al-Siddiqy, T.M. Hasbi, Syari‟at Islam Menjawab Tantangan Zaman, Bulan Bintang,
Jakarta, 1966.
98. Syaltut, Mahmud dan Muhammad Ali al-Sais, Muqaranah al-Mazahib Fi al-Fiqh,
Matba‟ah Muhammad Ali Subaih, Kairo, 1953.


99. Syarifuddin, Amir, Aktualisasi Fiqh Mu‟amalah di Indonesia, Dalam Miqat, Balai
Penelitian IAIN SU, Thn.XVI, Mei – Juni, Medan, 1990.
100. Muhammad Yusuf Musa, Al-Madkhal Li Dirasah al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikri al-
„Arabi, Beirut, tt.
101. Ahmad Zaki Yamani, Al-Syari‟ah al-Khalidah Wa Musykilat al-„Asr, (Edisi
Indonesia, Syari‟at Islam Yang Abadi Menjawab Tantangan Masa Kini, Terj. Mahyuddin
Syaf, PT. Al-Ma‟arif, Bandung, 1986.
102. Faruq Abu Zad, Asy-Syariah al-Islamiyah Baina Mhafizin wal Mujadddin, Dar
Waqaf, Cairo.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:697
posted:6/6/2011
language:Indonesian
pages:45