Docstoc

Bayi Tabung

Document Sample
Bayi Tabung Powered By Docstoc
					                  Bayi Tabung ( Test Tube Baby) Dalam Hukum Islam


          Dalam kehidupan modern dewasa ini ada kemungkinan seorang istri yang sulit
untuk mendapatkan keturunan bisa menghamilkan suatu benih bukan melalui jalur biasa
yaitu hubungan kelamin, melainkan melalui cara suntikan atau operasi, sehingga benih
tersebut di masukkan kedalam rahim istri ( wanita) itu sampai mengandung, karena benih
tersebut di ambil dari zakar laki-laki da disimpan lebih dulu dalam suatu tabung. Maka
kehamilan seperti inilah yang disebut dengan kehamilan bayi tabung. Dan pada paper ini
penulis akan membahas pengertian, teknik pembuatan serta pendapat beberapa ulama
tentang bayi tabung.
          Inseminasi buatan adalah terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu Artificial
Insemination. Dalam bahasa Arab disebut dengan Al- Talqih Al- Shina’iy. Dalam bahasa
Indonesia orang menyebutnya dengan inseminasi buatan, pembuahan buatan, atau
penghamilan buatan. Bayi tabung istilah ilmiahnya adalah usaha manusia untuk
mengadakan pembuahan dengan sebuah tabung gelas. Proses pembuahan seperti ini
disebut dengan in vivo, sedangkan proses pembuahan secara alamiah disebut dengan in
vitro.banyak batasan yang dikemukakan oleh para ahli dengan redaksi yang berbeda-
beda. Dalam buku ini akan mengangkat dua batasan saja. Pertama, Dra. Djamalin Djanah
memeberikan pengertian, bayi tabung inseminasi buatan adalah “ suatu pekerjaan
memasukkan mani kedalam rahim (kandungan) dengan menggunakan alat khusus dengan
maksud terjadinya pembuahan”. Dr. H. Ali Akbar mendefinisikan” memasukkan sperma
kedalam alat kelamin perempuan tanpa persetubuhan untuk membuahi telur atau ovum
wanita.
          Dari beberapa definisi diatas dapat diambil pengertian bahwa inseminasi buatan
adalah suatu cara atau teknik untuk memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan (
coitus). Adapun proses kerja inseminasi buatan untuk menghasilkan anak yang dilakukan
tanpa persetubuhan, maka teknik yang digunakan adalah:
             1. Fertilisasi In Vitro ( FIV), caranya dengan mengambil sperma suami dan
                 ovum istri, kemudian diproses di vitro ( tabung) dan setelah terjadi
                 pembuahan, lalu ditranfer ke wanita. Teknik ini dikenal dengan bayi
                 tabung atau pembuahan di luar tubuh.
             2. Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT), dengan cara mengambil sperma suami
                 dan ovum istri, setelah dicampur, terjadi pembuahan, maka sagera ditanam
                 dan di salurkan telur ( tuba falupi), atau dengan kata lain, mempertemukan
                 sel benih ( gamet) yaitu sperma dan ovum dengan cara menyemprotkan
                 campuran sel benih itu memekai kanul tuba kedalam ampulla, namun
                 teknik ini bukan merupakan bayi tabung. Teknik kedua ini lebih alamiah
                 dibanding teknik pertama, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di
                 tuba falupi si ibu sendiri setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan
                 seksual.
          Bayi tabung ( test tube baby) yang kita kenal dengan bayi tabung yang didapatkan
melalui proses pembuahan yang dilakukan diluar rahim sehingga terjadi embrio tidak
secara alamiah, melainkan dengan bantuan ilmu kedokteran.


          Sejarah
          Borner berkomentar terhadap penemuan Abbe Lazaric Spallanzani pada tahun
1784 yang berhasil untuk pertama kali mengawinkan serangga, binatang ampibi dan
kemudian anjing yang melahirkan tiga ekor anak anjing. Atas keberhasilan ini, Borner
berkomentar,” akan datang waktunya penemuan amat penting ini terjadi pada masyarakat
manusia”. Di Rusia karena Stalin sangat mencemaskan akibat perang atom, maka ia
setuju untuk mendirikan bank ayah atau bank sperma. Tahun 1968, Kruschov dengan
adanya bank sperma ingin mengumpulkan sperma orang- orang jenius dalam ilmu
pengetahuan, peperangan, sastra, dan lain- lain yang ingin dikembangbiakkan dalam
rahim gadis- gadis cantik yang sehat yang memiliki IQ tinggi agar nantinya lahir generasi
jenius.
          Praktek inseminasi pada manusia juga terkandung dalam cerita “midrash”, diman
Ben Sirah dikandungsecar tidak sengaja karena ibunya memakai air bak yang sudah
tercampur sedikit air mani. Di Indonesia, keberhasilan inseminasi buatan ditandai dengan
lahirnya Akmal dari pasangan Linda- Soekotjo pada tanggal 25 Agustus 1987 dan Dimas
Aldila Akmal Sudiar, lahir pada 2 Oktober 1988 dari pasangan Wiwik Juwari- Sudirman.
Keduanya lahir atas kerja sama team Makmal Terpadu Imuno Endilrinologi Fakultas
Kedokteran UI. Atas keberhasilan ini dekan Fakultas Kedokteran UI ketika itu Asri
Rasyad, mengatakan :” Teknologi ini semata- mata untuk membantu pasangan suami istri
yang sulit mendapatkan keturunan”.


       Adapun alasannya ialah:
            untuk mengembangbiakkan manusia secara cepat.
            Untuk menciptakan manusia jenius, ideal dan sesuai dengan keinginan.
            Alternative bagi wanita yang ingin punya anak dan tidak mau menikah.
            Untuk percobaan ilmiah.
            Solusi bagi pasangan yang mandul.
            Mengembangkan teknologi kedokteran.
            Menolong pasangan suami- istri yang sulit mendapatkan anak.


       Adapun alasan lain yaitu sesuai dengan hadist Abu Hurairah yang artinya : Dari
Abu Hurairah bahwa Rasululloh Saw telah bersabda: apabila seseorang telah mati, maka
putuslah dari sagala amalnya, kecuali dari tiga hal yaitu shadaqoh jariah, ilmu yang
bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.


       Teknik pembuatan dan pendapat ulama
       Pembuatan inseminasi buatan ini membutuhkan proses dari mulai pengambilan
bibit, dalam pengambilan bibit ini terdapat analisa hukum islam dan sumber pengambilan
bibit itu, cara mengeluarkan sperma dan dokter yang menanganinya. Setelah pengambilan
bibit, lalu bagaimana juga menganalisa hukum islam tentang penanaman bibit. Dalam
tahap ini yang menjadi permasalahan adalah rahim wanita yang akan mengandungnya.


       Pengambilan bibit sel telur
       Pengambilan bibit ini meliputi pengambilan sel telur ( ovum pik up) dan
pengambilan/ pengeluaran sperma. Untuk pengambilan bibit sel telur wanita dapat
ditempuh dengan dua cara. Pertama dengan laparosopi dan USG ( ultrasonografi), cara
pertama : indung telur di pegang dengan penjepit dan dilakukan pengisapan. Cairan
folikel yang berisi sel telur di periksa di mikroskop untuk ditemukan sel telur. Sedangkan
cara kedua ( USG) folikel yang tampak di layar ditusuk dengan jarum melalui vagina
kemudian dilakukan pengisapan folikel yang berisi sel telur seperti pengisapan
laparoskopi.
       Analisa hukum islam, lalu bagaimana hukum melihat aurat besar wanita, meraba,
dan memasukkan sesuatu pada vagina wanita. Semua aktifitas ini dibutuhkan dalam
pengambilan sel telur dari wanita. Para ulama dari kalangan mahab sepakat bahwa vagina
adalah bagian dari aurat wanita yang paling vital atau disebut aurat besar yang wajib
dijaga dan tidak boleh dilihat. Akan tetapi, ketika darurat tidak ada jalan lain kecuali
harus membuka dan memegangnya, seperti untuk kepentingan medis ( berobat), maka
semata untuk keadaan darurat para ulama sepakat aurat wanita boleh dibuka.
       Dalam pengambilan sel telur dari wanita, seorang dokter tidak bisa melakukannya
kecuali harus melihat, meraba, dan memasukkan alat kedalam aurat besar wanita dalam
ruangan yang tidak ada orang lain.


       Pendapat ulama:
      Yusuf Qardawi mengatakan dalam keadaan darurat atau hajat melihat atau
         memegang aurat diperbolehkan dengan syarat keamanan dan nafsu dapat dijaga.
         Hal ini sejalan dengan kaidah ushul fiqih: “ Kebutuhan yang sangat penting itu
         diperlakukan seperti keadaan terpaksa ( darurat). Dan keadaan darurat itu
         membolehkan hal-hal yang dilarang”.
       Menurut hemat penulis adalah keadaan seperti ini di sebut dengan keadaan
darurat , dimana orang lain boleh melihat dan memegang aurat besar wanita. Karena
belum ditemukan cara lain dan kesempatan unutuk melihat dan memegang aurat wanita
itu ditujukan semata- mata hanya untuk kepentingan medis yang tidak menimbulkan
rangsangan.


       Pengeluaran sperma
       Dibanding pengambilan sel telur, pengambilan sperma lebih mudah. Untuk
mendapatkan sperma laki- laki dapat ditempuh dengan cara :
      Istimna’ ( onani)
      Azl ( senggama terputus)
      Dihisap dari pelir ( testis)
      Jima’ dengan memakai kondom
      Sperma yang ditumpahkan kedalam vaginayang disedot tepat dengan spuit
      Sperma mimpi malam
       Diantara kelima cara diatas, cara yang dipandang baik adalah dengan cara onani (
mastrubasi) yang dilakukan di rumah sakit sebagaiman yang di sponsori oleh Universitas
Indonesia.
       Lalu bagaimana hukum onani untuk kepentingan inseminasi buatan? Karena
sebagaimana kita ketahui bahwa islam islam memandang onani adalah perbuatan yang
tidak etis, namun dalam penetapannya terjadi perbedaan pendapat.


       Pendapat ulama:
       Ulama    Malikiyah,   Syafi’iyah,   Zaidiyah,   mengharamkan    secara   multak
berdasarkan Al-Qur’an surat Al- Mu’minun ayat 5-7, dimana Allah telah memerintahkan
manusia untuk menjaga kehormatan kelamin dalam setiap keadaan, kecuali terhadap istri
dan budak.
       Ulama Hanabilah mengharamkan onani, kecuali khawatir berbuat zina atau
terganggu kesehatannya, sedang ia tidak punya istri atau tidak mampu kawin. Yusuf
Qardawi juga sependapat dengan ulama Hanabilah.
       Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa istimna’ pada prinsipnya diharamkan,
namun istimna’ diperbolehkan dalam keadaan tertentubahkan wajib, jika dikhawatirkan
jatuh kepada perbuatan zina. Hal ini didasari oleh kaidah ushul adalah: “Wajib
menempuh bahaya yang lebih ringan diantara dua bahaya”
       Pendapat penulis adalah onani dapat dibolehkan apabila dalam keadaan terpaksa,
sebagaimana tersirat pada pendapat sebelumnya. Jika dikaitkan dengan keperluan
inseminasi buatan, maka dapat digolongkan dalam keadaan terpaksa. Dimana istimna’
dibolehkan, baik dengan tangannya sendiri atau tangan istrinya. Sesuai dengan firman
Allah: “Barang siapa dalam keadaan terpaksa ( memakannya), sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Seseungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


       Asal dan tempat penanaman bibit
             1. Bibit dari suami istri yang sah ( inseminasi homolog)
        Islam membolehkan senggama antara laki- laki dan perempuan, jika keduanya
sudah diikat oleh tali pernikahan. Motif senggama yang di lakukan oleh pasangan yang
sah adalah untuk mendapatkan keturunan. Adapun senggama diluar pernikahan adalah
untuk memuaskan nafsu belaka. Jika dikaitkan dengan inseminasi buatan yang bibitnya
berasal dari suami istri yang sah, baik dengan cara pembuahan diluar rahim kemudian
disuntikkan kedalah rahim istri atau dengan cara mengambil sperma suami kemudian
disuntikkan ke uterus istri. Tindakan ini tidaklah tergolong zina atau boleh hukumnya
karena berasal dari pasangan suamu istri yang sah. Hal ini diperbolehkan kalau memang
kondisi suami istri benar- benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh
anak.
        Diperbolehkannya bayi tabung bagi suami istri yang sah, disebabkan karena
manfaatnya sangat besar dalam kehidupan rumah tangga. Bagi suami istri yang sangat
merindukan anak, namun tidak bisa berproses secara alami maka melalui proses bayi
tabung, anak yang dirindukannya akan segara hadir disisinya. Disinilah letak
kemaslahatannya, sehingga kebolehannya didasarkan melalui maslahah mursalah.


        Pendapat ulama:
        Jumhur ulama membolehkan inseminasi buatan yang berasal dari bibit suami istri.
Mereka adalah Syeik Mahmud Syaltut, Yusuf Qardawi, Ahmad Ribasyi, Zakaria Ahmad
Al- Barry.
        Majelis ulama DKI Jakarta dan Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’
Department Kesehatan RI.
        Menurut hemat penulis adalah membolehkan inseminasi buatan, asalkan berasal
dari bibit suami istri yang sah. Karena dengan adanya inseminasi buatan ini memudahkan
bagi pasangan suami istri yang sulit untuk mendapatkan keturunan agar dapat hidup
normal dan memperpanjang keturunan.


2.Bibit bukan pasangan suami istri ( heterolog)
Inseminasi buatan berasal dari donor sperma laki- laki yang disuntikkan kedalam vagina
yang bukan istrinya. Kedua dengan cara pembuahan di luar rahim, dimana
pembuahannya diambil dari sel sperma suami istri, kemudian dititipkan ke rahim
perempuan lain.


Diantaranya pendapat ulama adalah:


·Jumhur ulama menghukuminya haram. Karena sama hukumnya dengan zina yang akan
mencampur adukkan nashab dan sebagai akibat, hukumnya anak tersebut tidak sah dan
nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Sesuai firman Allah
dalam surat (At-Tiin: 4) adalah:


“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya”


Dan hadist Rasululloh Saw:


“Tidak boleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyirami air spermanya
kepada tanaman orang lain ( vagina perempuan bukan istrinya). HR. Abu Daud At-
Tarmidzi yang dipandang shahih oleh Ibnu Hibban”.


·Majlis Tarjih Muhammadiyah melalui Mukhtamar tahun 80-an dengan tegas
mengharamkan bayi tabung dengan donor sperma. Begitu juga dengan (OKI) Organisasi
Konferensi Islam juga membuat fatwa yang sama yaitu mengharamkan bayi tabung dari
donor sperma.bahkan diluar islam Vatikan tahun 1987, telah mengecam keras pembuatan
bayi tabung ibu titipan, karena dipandang tidak bermoral dan bertentangan dengan harkat
kemanusian.


·Robin Rowlan ( Australia) menentang inseminasi buatan dengan donor sperma, karena
mempertimbangkan nantinya wanita menjadi incubator buatan. Ninoek Laksono
berpendapat jika model inseminasi ini dijalankan maka definisi anak dan ibu menjadi
tidak menentu dan akan memunculkan ibu- ibu titipan.
·Syekh Syaltut berpendapat bahwa mengharamkan mutlak. Karena suatu perbuatan zina
dalam satu waktu, sebab intinya adalah satu dan hasilnya satu juga: itu meletakkan
sperma laki-laki lain dengan suatu kesengajaan pada lading yang tidak ada ikatan
perkawinan secara syara’ yang dilindungi hukum naluri dan syariat agama. Andaikata
tidak ada pembatasan- pembatasan dalam masalah bentuk pelanggaran hokum niscaya
pencangkokan ini dapat dihukumi berzina yang oleh syariat Allah telah diberi
pembatasan dan kitab- kitab agama akan menurunkan ayat tentang itu. Menisbatkan anak
kepada selain ayahnya sendiri menyebabkan laknat.


·Namun berbeda dengan pendapat Dr. Ali. Akbar, menurutnya bahwa inseminasi model
kedua yaitu yang berasal dari sperma dan ovum suami istri kemudian kedalam rahim
perempuan lain bukanlah perbuatan zina. Karena yang ditanamkan pada rahim orang lain
itu adalah sperma dan ovum yang sudah bercampur terlebih dahulu, sehingga hanya
menitipkan untuk memperoleh kehidupan, yaitu makanan untuk menjadi bayi yang
sempurna. Dibolehkannya menitipkan sperma suami istri yang telah terjadi proses
pembuahan kerahim perempuan lain jika si istri dinyatakan secara medis tidak bisa
mengandung atau kalaupun bisa akan berbahaya. Maka wanita lain itu hanya berfungsi
sebagai titipan saja tempat kelangsungan perkembangbiakkan embrio. Dan wanita yang
dititipi tidak ada kaitan apa-apa dengan embrio yang sudah berkembang. Dari sini
inseminasi model kedua tidak merusak nasab, karena bibit tetap dari suami istri yang sah.
Namun efek negative yang ditimbulkannya juga harus dapat dikendalikan.karena akan
munculnya ibu sewaan. Demi karir mungkin banyak perempuan ingin punya anak, tapi
tidak mau hamil, dan cukup menitipkan kepada orang lain. Adanya kemungkinan ingkar
janji anak yang dilahirkan tidak dikembalikan kepada yang menitipkan kurangnya kasih
saying dan sebagainya.


·Penulis berpendapat adalah usaha untuk memperoleh anak adalah naluriah setiap
manusia dan usaha yang dianjurkan oleh agama. Karenanya jika dengan cara biasa tidak
dapat memperoleh anak, maka hendaklah dapat mengusahakan melalui bayi tabung,
termasuk hal yang dianjurkan, namun harus memperhatikan norma- norma agama.
Karena bayi tabung lebih banyak berhubungan dengan masalah teknis atau proses
memperoleh keturunan. Jika ini sudah dipegang maka suami istri boleh saja menempuh
cara yang tidak lazim ( bayi tabung) kalau memang cara alamiah tidak menghasilkan
anak. Karena ini termasuk kebutuhan yang daruriyat, selam tidak berbenturan dengan
nash yang qat’I bayi tabung dengan sperma yang berasal dari suami istri yang sah, maka
hukumnya boleh.


Kesimpulan


Bayi tabung ( test tube baby) yang kita kenal dengan bayi tabung yang didapatkan
melalui proses pembuahan yang dilakukan diluar rahim sehingga terjadi embrio tidak
secara alamiah, melainkan dengan bantuan ilmu kedokteran. Dalam proses pembuahan
yang dilakukan diluar rahim perlu disediakan ovum/ sel telur dan sperma, ovum diambil
dari tuba faluppi ( kandung telur) seorang ibu dan sperma diambil dari ejakulasi seorang
ayah diperiksa apakah benih tersebut memenuhi persyaratan atau tidak. Begitu juga
dengan sel telur seorang ibu. Dan bila pada saat ovulasi terdapat sel- sel yang benar-benar
masak maka sel telur itu dihisap dengan jarum suntik melalui sayatan pada perut. Sel
telur itu kemudian ditaruh dal suatu tabung yang diberi suhu menyamai panas badan
seorang wanita.


Kedua sel kelamin tersebut dibiarkan bercampur (zygota) dalam tabung sehingga
terjadilah fertilisasi. Zygota yang dihasilkan berkembang dalam medium yang terdapat
dalam tabung reaksi sehingga menjadi morulla, morulla yang terbentuk melalui teknik
embrio, lalu ditransfer kerahim seorang ibu yang telah disiapkan akan ibu akan hamil.


Para ulama banyak yang menghukumi boleh atas bayi tabung. Dengan catatan benihnya
berasal dari sel suami istri yang sah. Dan pasangan tersebut sulit untuk mendapatkan
keturunan. Namun dengan adanya bayi tabung tidak menimbulkan banyaknya ibu- ibu
sewaan yang hanya memanfaatkan karena factor ekonomi saja.


Daftar Bacaan :
 Agil, Said, Husein Al- Munawwar, Hukum Islam Dan Pluralisme Islam, ( Jakarta
   :Penama)
 Hasan. M. Ali, Masail Fiqhiyah Al- Haditsah, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo
   Persada, 2000)
 Shidik Safiudin, Hukum Islam Tentang Berbagai Persoalan Kontemporer,
   (Jakarta: Intimedia, 2004)
 Qardawi,Yusuf, Halal Dan Haram Dalam Islam, ( Jakarta : PT. Bina Aksara,
   1993)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:596
posted:6/6/2011
language:Indonesian
pages:10