Khutbah ied
Shared by: AmirSabri2
-
Stats
- views:
- 66
- posted:
- 6/6/2011
- language:
- Indonesian
- pages:
- 5
Document Sample


Nama : Saifuddin
Nim : 130707577
Khutbah ied, sekali atau dua kali?
Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Pendapat yg benar adl pendapat yg
mengatakan bahwa khutbah Id hanya satu khutbah. Dan ini adl pendapat Asy-Syaikh Al-
‟Utsaimin dan guru besar kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahumallah. Hal ini berdasarkan
dzahir dari hadits yg shahih dlm permasalahan ini seperti hadits Ibnu „Umar radhiallahu
„anhuma:
“Adalah Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam Abu Bakr „Umar dan „Utsman
radhiallahu „anhum melaksanakan shalat Id sebelum khutbah.”
Dan yg lbh jelas lagi adl hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu „anhuma dia
berkata:
“Aku menyaksikan shalat Id pada hari „Ied bersama Rasulullah Shallallahu
„alaihi wa sallam. mk beliau memulai dgn shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan
iqamat. Kemudian beliau berdiri bersandar pada Bilal radhiallahu „anhu memerintahkan
utk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala dan menganjurkan kepada ketaatan
menasehati para shahabat dan memberi peringatan kepada mereka. Kemudian beliau
mendatangi shaf para wanita menasehati dan memberi mereka peringatan.”
Asy-Syaikh Al-‟Utsaimin rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengamati
hadits-hadits muttafaq „alaih dlm Shahih Al-Bukhari dan Muslim serta yg lain mk akan
jelas bagi bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tdk melakukan khutbah Id kecuali
hanya satu khutbah. Ha saja setelah beliau menyampaikan khutbah pertama beliau
mendatangi shaf para wanita dan menasehati mereka. Jika ini hendak kita jadikan sebagai
dalil disyariatkan dua khutbah mk ada kemungkinan. Akan tetapi tetap tdk bisa
dibenarkan krn beliau mendatangi shaf wanita dan berkhutbah di hadapan mereka
disebabkan salah satu dari dua kemungkinan:
1. Karena khutbah yg beliau sampaikan tdk terdengar oleh mereka
2. Atau khutbah tersebut terdengar sampai ke tempat mereka akan tetapi beliau
ingin memberikan nasehat-nasehat khusus kepada mereka.”
Beliau juga berkata dlm Majmu‟ Rasa„il : “Sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi
wa sallam pada khutbah Id adl satu khutbah. Jika seorang berkhutbah melalui mikrofon
mk hendaklah dia mengkhususkan kaum wanita di akhir khutbah dgn nasehat tentang
mereka. Dan apabila dia berkhutbah tanpa pengeras suara dan para wanita yg hadir tdk
mendengar khutbah mk hendaklah dia mendatangi shaf mereka utk memberi nasehat
khusus didampingi oleh satu atau dua orang.”
Apa yg dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-‟Utsaimin rahimahullahu bahwa hendaklah
dia mendatangi shaf para wanita utk memberi nasehat khusus.. dst tentu jika tdk
dikhawatirkan ada mafsadah dan fitnah terhadap diri sang khatib atau para wanita yg
hadir atau yg lainnya. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh An-Nawawi dlm Syarh
Muslim dan Asy-Syaukani dlm Nailul Authar . Dan kekhawatiran tersebut sangat besar
pada kondisi dan keadaan kaum muslimah di negeri ini yg mana mereka menghadiri Id
tanpa memakai hijab yg syar‟i.
Sesungguh ada beberapa hadits yg menunjukkan dua khutbah tetapi semua dha‟if:
1. Hadits Jabir radhiallahu „anhu bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam
berkhutbah „Ied dgn berdiri kemudian beliau duduk lalu berdiri kembali
diriwayatkan oleh Ibnu Majah dlm Sunan- . Namun pendalilan ini tertolak krn
hadits lemah. dlm sanad terdapat perawi yg dha‟if bernama Isma‟il bin Muslim
Al-Makki. Bahkan hadits ini dihukumi mungkar oleh Al-Albani dlm Dha‟if Ibnu
Majah. Karena riwayat yg benar dari hadits tersebut adl bahwa itu pada khutbah
Jum‟at.
2. Hadits Sa‟d bin Abi Waqqash diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Hadits ini sangat
dha‟if krn dlm sanad terdapat perawi yg sangat dha‟if bernama Abdullah bin
Syabib syaikh Al-Bazzar. Lihat Tamamul Minnah .
3. Hadits „Ubaidullah bin Abdillah bin „Utbah rahimahullahu diriwayatkan oleh
Asy-Syafi‟i dlm Al-Umm . Hadits ini juga sangat lemah krn syaikh Asy-Syafi‟i
yg bernama Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami matruk . Juga
„Ubaidullah bin Abdillah bin „Utbah seorang tabi‟in sehingga terputus sanad
antara dia dan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. Berarti hadits ini mursal
dha‟if.
Jadi hadits-hadits di atas tdk bisa dijadikan dalil utk mengatakan bahwa khutbah
„Ied adl dua khutbah. Demikian pula tdk benar berdalil meng-qiyas-kan dgn khutbah
Jum‟at krn bertentangan dgn dzahir hadits-hadits yg shahih sebagaimana telah
diterangkan di awal pembahasan.
KHUTBAH ‘IED: SATU ATAU DUA KHUTBAH?
Apakah pendapat yang rojih dalam bilangan khutbah „ied yaitu satu kali ataukah
dua kali khutbah?
Masalah diatas terjadi silang pendapat dikalangan ulama rohimahumulloh, ada
diantara mereka yang berpendapat bahwa khotib hanya berkhutbah satu khutbah tanpa
ada duduk dan ada pula yang berpendapat bahwa khotib khutbah dua kali dengan ada
duduk diantara kedua khutbahnya seperti khutbah jum‟at bahkan ada sebagian ulama
yang mengisyaratkan adanya ijma‟ akan pendapat kedua ini. Dari pemaparan tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa setidaknya ada dua pendapat dalam masalah ini;
Pendapat pertama, yang sunnah bahwa khotib hanya khutbah satu kali khutbah
saja. Ini merupakan pendapat Atho‟ dari kalangan tabi‟in bahkan beliau menghikayatkan
ijma‟ generasi sahabat dalam hal pendapatnya tersebut, ini pula yang menjadi pilihan
sebagian masyaikh dizaman ini semisal syaikh Al Albaniy, syaikh Ibnu Utsaimin juga
syaikh Yahya.
Dalil mereka diantaranya adalah tekstual dari hadis – hadis sifat sholat ied
Rasululloh sholallohu „alaihi wasallam seperti hadis Abu Sa‟id Al Khudriy dll dimana
khutbah hanya disebut secara tunggal [tekstual hadis adalah yang pokok sehingga jika
ada penafsiran lain maka dibutuhkan dalil shohih ]. Bahkan lebih terang lagi adalah hadis
Jabir bin Abdillah riwayat Muslim yang artinya: “aku menyaksikan hari „ied bersama
Nabi sholallohu „alaihi wasallam maka beliau memulai dengan sholat sebelum
berkhutbah tanpa adzan tanpa iqomat kemudian beliau berdiri dengan berpegangan
pada Bilal lalu beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Alloh, menyemangati
untuk taat kepadaNya dan menasehati mereka serta mengingatkan mereka kemudian
beliau pergi hingga mendatangi para wanita maka beliau menasehati dan mengingatkan
mereka”.
Sisi kejelasan hadis ini bahwa Jabir mehikayatkan perbuatan – perbuatan Nabi
dengan lafadz [kemudian] yang menunjukkan akan tartibnya perbuatan – perbuatan
tersebut namun beliau tidak menyinggung adanya khotbah kedua selepas duduk yang
padahal kalau kedua hal itu termasuk perbuatan Nabi saat tersebut tentulah tidak akan
dilewatkan oleh Jabir terlebih kedua perbuatan itu ada disela – sela perbuatan yang
lainnya. Sebagaimana pula mereka berdalilkan dengan ijma‟ yang dihikayatkan oleh
Atho‟ riwayat Abdurrozaq dalam Mushonnafnya ( 5650 ) bab khuruju man madho wal
khutbah wa fi yadihi „asho dari jalan Ibnu Juraij berkata aku bertanya kepada Atho‟ dst
syahidnya adalah ucapan Atho‟ : “ Nabi sholallohu „alaihi wasallam tidak pernah duduk
dimimbar hingga beliau wafat, tidak lain khutbah beliau hanyalah berdiri ” juga “ tiada
lain khutbah beliau adalah satu kali dalam keadaan beliau berdiri, tiada lain mereka
mengucap syahadat hanya sekali ”. Sisi hikayat ijma‟nya adalah ucapan beliau mereka –
mereka yaitu para sahabat bahkan beliau tegaskan diantaranya adalah Abu Bakr, Umar
dan Utsman, dimaklumi bahwa ucapan tabi‟in [ mereka melakukan demikian adalah
termasuk hikayat ijma‟ ].
Pendapat kedua, yang sunnah bahwa khotib berkhutbah dua kali khutbah dengan
ada duduk diantara dua khutbahnya seperti khutbah jum‟at. Ini merupakan pendapat
imam madzhab yang empat juga Ibnu Hazm bahkan boleh dikata pendapat mayoritas.
Dalil mereka adalah beberapa hadis dan atsar yang terang – terang menyebut
khutbah „ied dua kali seperti jum‟at namun sayang hadis – hadis dan beberapa atas
tersebut adalah lemah seluruhnya sebagaimana dinyatakan oleh An Nawawi sehingga
beliau jelaskan : “ tidak lain pijakan dalam masalah ini adalah qiyas kepada jum‟at ”.
Namun qiyas disini bisa terdiskusikan dari beberapa sisi diantaranya : perlu ditanyakan
bentuk „illahnya, adanya beberapa perbedaan dengan jum‟ah dan bertabrakannya dengan
tekstual hadis – hadis shohih diatas. Sebagaimana mereka juga berdalilkan dengan ijma‟
yang diisyaratkan oleh Ibnu Hazm dalam Al Muhalla namun sangkaan ini terdiskusi dari
beberapa sisi diantaranya : pendapat Atho‟ diatas menunjukkan ada perbedaan pendapat
bukan ijma‟ sebab [ ijma tidak disebut ijma jika ada ulama yang menyelisihi meski satu
alim ] terlebih Atho‟ hidup jauh sebelum Ibnu Hazm, diantaranya juga menyendirinya
Ibnu Hazm dalam mengisyaratkan ijma‟ itupun dalam Al Muhalla sementara beliau
punya kitab Marotib Ijma‟ secara khusus toh tidak menyebutkan masalah ini didalamnya
juga Ibnul Mundzir dll dari para ahli yang berkompeten dalam mengumpulkan ijma pun
tidak, diantaranya pula ucapan An Nawawiy diatas “ tidak lain pijakan dalam masalah ini
adalah qiyas kepada jum‟ah ” artinya jika ada ijma tentulah beliau lebih menetapkannya
sebagai pijakan dibandingkan qiyas.
Menilik dari pemaparan diatas hati kami merasa lebih tenang untuk mengikuti
pendapat yang dipilih oleh para ulama yang menyatakan satu khutbah saja.
Related docs
Get documents about "