Docstoc

laporan kasus tifoid (PowerPoint)

Document Sample
laporan kasus tifoid (PowerPoint) Powered By Docstoc
					                                             Oleh:
                     Putra Prasetio Nugraha, S.Ked
                                        Ria, S.Ked

                                      Pembimbing:
                              Dr. Rosiana AM, SpA
                                   Dr. Dio Badriani

  Fakultas Kedokteran/Bagian Ilmu Kesehatan Anak
UNIVERSITAS SRIWIJAYA/RSUD Dr. Ibnu Sutowo
                                         Baturaja

                                              2011
Identifikasi
 Nama            : An. A
 Umur            : 8 tahun
 Jenis kelamin   : laki-laki
 Alamat          : Kuang Anyar kecamatan
                  Muara Kuang OKU
 Kebangsaan      : Indonesia
 MRS             : 12 Februari 2011
Anamnesis
 Keluhan utama :
      Demam
 Keluhan Tambahan :
      BAB cair
Anamnesis                                           lanjutan

 Riwayat perjalanan penyakit :
  ± 10 hari SMRS penderita demam tinggi mendadak
    terus menerus terutama pada sore/malam hari.
    Menggigil ada, mengigau kadang-kadang, kejang tidak
    ada, sakit kepala ada, sakit perut ada. Keluhan batuk
    pilek tidak ada, mual ada dan muntah tidak ada. BAB
    seperti bubur, 2-3x/hari, warna kuning, @1/2 gelas
    belimbing, lendir (-), darah (-), dan BAK biasa. Nafsu
    makan berkurang. Kemudian penderita berobat ke
    bidan dan diberi obat penurun panas ( pil berwarna
    merah)  demam turun tapi kemudian naik lagi.
Anamnesis                                         lanjutan

± 7 hari SMRS penderita mengeluh tidak ada perubahan,
  demam masih tinggi, menggigil kadang-kadang,
  mengigau kadang-kadang, kejang tidak ada, sakit
  kepala ada, sakit perut ada. Keluhan batuk pilek tidak
  ada, mual ada dan muntah tidak ada. BAB seperti
  bubur, 2-3x/hari, warna kuning, @1/4 gelas belimbing,
  lendir (-), darah (-), dan BAK biasa. Penderita tidak
  nafsu makan. Kemudian penderita berobat ke bidan
  lainnya dan diberi obat penurun panas (sirup) 
  demam turun tapi kemudian naik lagi.
Anamnesis                                       lanjutan

± 3 hari SMRS penderita mengeluh tidak ada
  perubahan, demam masih tinggi, menggigil kadang-
  kadang, mengigau tidak ada, kejang tidak ada, sakit
  kepala ada, sakit perut ada. Keluhan batuk pilek
  tidak ada, mual ada dan penderita selalu
  memuntahkan kembali apa yang ia makan. BAB
  masih seperti bubur, 1-2x/hari, warna kuning, @1/4
  gelas belimbing, lendir (-), darah (-), dan BAK
  berwarna seperti teh. Penderita tidak nafsu makan,
  dan sangat lemah. Kemudian penderita berobat ke
  bidan pertama dan dirujuk ke dokter puskesmas.
Anamnesis                                       lanjutan

± 1 hari SMRS penderita mengeluh tidak ada
  perubahan, demam masih tinggi, menggigil kadang-
  kadang, mengigau tidak ada, kejang tidak ada, sakit
  kepala ada, sakit perut ada. Keluhan batuk pilek
  tidak ada, mual ada dan penderita selalu
  memuntahkan kembali apa yang ia makan. BAB
  masih seperti bubur, 1-2x/hari, warna kuning, @1/4
  gelas belimbing, lendir (-), darah (-), dan BAK
  berwarna seperti teh. Penderita tidak nafsu makan,
  dan sangat lemah. Kemudian penderita dirujuk dari
  dokter puskesmas ke RSUD Ibnu Sutowo dengan
  diagnosa demam tifoid
Anamnesis                                        lanjutan

Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat penyakit dengan gejala yang sama disangkal
 Riwayat transfusi darah disangkal


Riwayat penyakit dalam keluarga
 Riwayat penyakit dengan gejala yang sama disangkal.
Anamnesis                                          lanjutan

Riwayat sosial ekonomi :
   Penderita adalah anak kedua dari ayah Tn. M. Jais
    berusia 35 tahun, pendidikan SD, pekerjaan Petani
    dan ibu Ny. Susiana berusia 35 tahun, pekerjaan ibu
    rumah tangga.

 Kesan : status sosial ekonomi kurang

Riwayat kehamilan
 Lahir aterm, spontan, langsung menangis, ditolong
  bidan, BBL = 3000gram
Anamnesis                                        lanjutan

Riwayat makanan
 Umur 0-2 tahun       : ASI
 Umur 6 bulan-8 bulan : Bubur tim
 Umur 8 bulan-sekarang: Nasi biasa


Kesan : Kualitas dan kuantitas pemberian gizi cukup
Anamnesis                                              lanjutan

Riwayat tumbuh kembang
 Tengkurap  : Umur 4 bulan
 Duduk      : Umur 8 bulan
 Berdiri    : Umur 10 bulan
 Berjalan   : Umur 12 bulan
Kesan: perkembangan motorik dalam batas normal.

Riwayat imunisasi
 BCG                      : (+), skar (+)
 DPT I, II, III           : (+)
 Polio I, II, III, IV     : (+)
 Hepatitis B I, II, III   : (+)
 Campak                   : (+)
Kesan                      : Imunisasi dasar lengkap
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum :              BB : 18 kg
 KU : Tampak sakit sedang      TB : 120 cm
 Sense: CM, GCS 15             BB/U: 18/26 = 69,2%
 TD : 90/60 mmHg, isi &        TB/U: 126/128 = 98,4%
       tegangan cukup
                                BB/TB: 18/22,5 = 80%
 Nadi: 96x/menit, reguler
 RR : 26 x/menit
 Temp: 39ºC
                             Kesan : KEP 1

                              Anemis : Ada (conj. palp)
                              Sianosis : Tidak ada
                              Ikterus : Tidak ada
Pemeriksaan Fisik                                                     lanjutan

Pemeriksaan khusus :
 Kulit           :Warna kulit sawo matang, pucat (-), turgor baik,
                  keropeng kulit (-), kering (+)

 Kepala
    Bentuk     : Bulat, simetris
    Rambut     : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
    Mata       : Tidak cekung, konjungtiva palpebra pucat +/+, sklera tidak
                ikterik, pupil bulat, isokor, reflek cahaya (+) edema palp (-)
      Telinga  : Bentuk dan ukuran dalam batas normal, sekret tidak ada
      Hidung   : Bentuk dan ukuran normal, sekret tidak ada
      Mulut    : Mukosa bibir kering (+), Rhagaden (+),thyphoid tongue(-)
      Teggorok : Faring tidak hiperemis.
Pemeriksaan Fisik                                                 lanjutan

 Leher                  : JVP tidak meningkat, tidak ada
  pembesaran KGB

 Thoraks
   Paru-paru
    Inspeksi : Statis-dinamis simetris, retraksi dinding dada (-)
    Perkusi     : Sonor pada kedua lapangan paru
    Auskultasi : Vesikuler (+) normal ka-ki, wheezing (-), ronkhi (-)

   Jantung
    Inspeksi            : Ictus cordis tidak terlihat
    Palpasi             : Ictus cordis tidak teraba
    Auskultasi          : HR 96x/menit, murmur (-), gallop (-)
Pemeriksaan Fisik                                              lanjutan

Abdomen
     Inspeksi : Datar
     Palpasi   : Lemas, hepar 1/3-1/3, lien tt
     Perkusi : Tympani
     Auskultasi: Bising usus (+) normal

Lipat paha &Genitalia             : Pembesaran KGB tidak ada

Ekstremitas
     Akral dingin        : Tidak ada
     Sianosis            : Tidak ada
     Piting edema        : Tidak ada
     Ptechie             : Tidak ada
Pemeriksaan Fisik                                                                lanjutan

      Pemeriksaan    Tungkai kanan   Tungkai kiri   Lengan kanan   Lengan kiri

 Gerakan                 Luas           Luas           Luas           Luas

 Kekuatan                 5               5              5             5

 Tonus                  Eutoni         Eutoni          Eutoni        Eutoni

 Klonus                                                  -              -

 Reflek fisiologis    (+) Normal     (+) Normal      (+) Normal    (+) Normal

 Reflek patologis          -              -              -              -



 Fungsi sensorik                       : Dalam batas normal
 Fungsi nervi craniales                : Dalam batas normal
 GRM                                   : Tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
PEMERIKSAAN LABORATORIUM (8 Februari 2011)
 Darah Rutin
    Hb            : 9,4 g/dl
    Leukosit      : 7.500 /mm3
    Hitung jenis  : 0/0/0/53/47/0

 Sero-Imunologi
   Widal
    Typhi H          : 1/640
    Para typhi A-H   : 1/80
    Para typhi B-H   : 1/80
    Typhi O          : 1/320
    Para typhi A-O   : 1/80
    Para typhi B-O   : 1/640
    Para typhi C-O   : 1/80
Diagnosis dan Prognosis
DIAGNOSIS KERJA
 Demam lama e.c Typhoid

DIAGNOSIS BANDING
 Demam lama e.c Malaria
Penatalaksanaan
 Tirah baring
 IVFD D5 ¼ NS, gtt 15/m makro
 Diet Nasi bubur 1500 kal/hari
 Chloramphenicol tab 4 x 400 mg
 Paracetamol 3x 2 cth (prn)
 Observasi vital sign
Rencana Pemeriksaan
 Darah rutin (Hb, Ht, Leuko, Trombo)
 Kimia klinik (faal hati: SGOT, SGPT)
 DDR
Prognosis
 Quo ad vitam        : bonam
 Quo ad fungtionam   : bonam
Follow up
 Tanggal    Pemeriksaan          Pemeriksaan fisik         Laboratorium   Diagnosis         Tindakan
               umum
  12/2/11   Kel: demam,     Kepala: NCH (-)                               Demam          IVFD D5% 1/4 NS
                                                                                          gtt XV x/m
                mual        Leher: t.a.k                                  Typhoid
                                                                                         Ampicilin 3x800
              Sens: CM      Thoraks:simetris,
                                                                                          mg
             TD: 90/60      Jantung: BJ I-II N
                                                                                         Gentamycin 2x40
            N: 80x/menit    Paru: vesikuler normal
                                                                                          mg
            RR: 24x/menit   wheezing (-),
                                                                                         Paracetamol 3x2
              T: 38,2°C     Abdomen:datar, lemas,                                         cth (prn)
                            hepar /lien tidak teraba,
                                                                                         Diet Nasi biasa
                            BU(+)N                                                        1500 kal/hari
                            Extremitas: akral dingin -/-
                                                                                      Rencana :DR, DDR
                            sianosis-/-
Follow up                                                                                                                                             lanjutan
  14/2/11   Kel: mual, demam (-) Kepala: NCH (-)                             Darah Rutin             Demam Typhoid            IVFD D5% 1/4 NS gtt
                                                                                                                               XV x/m
                 Sens: CM           Leher: t.a.k                             Hb: 9,4 g/dl
                 TD: 90/60          Thoraks:simetris,                        L: 7.500 /mm3                                    Chloramphenicol 4 x
                                                                                                                               400 mg
               N: 76x/menit         Jantung: BJ I-II N                       DC: 0/0/0/53
               RR: 24x/menit        Paru: vesikuler normal wheezing (-),         /47/0                                        Paracetamol 3x2 cth
                 T: 36,8°C          Abdomen:datar, lemas, hepar teraba                                                         (prn)

                                    ¼ - ¼ lien tidak teraba, BU(+)N          Serologi-Imunologi                               Diet Nasi biasa 1500
                                    Extremitas: akral dingin -/- sianosis-   Widal                                             kal/hari
                                    /-                                       Typhi H:1/640
                                                                             Para typhi A-H: 1/80
                                                                             Para typhi B-H: 1/80
                                                                             Typhi O: 1/320
                                                                             Para typhi A-O: 1/80
                                                                             Para typhi B-O: 1/640
                                                                             Para typhi C-O: 1/80


  15/2/11   Kel: mual, demam (-)    Kepala: NCH (-)                           Parasitologi : tidak   Demam Typhoid            IVFD D5% 1/4 NS gtt
                                                                                                                               XV x/m
            sejak 2hari yang lalu   Leher: t.a.k                              ditemukan adanya       dengan perbaikan
                 Sens: CM           Thoraks:simetris,                           bentuk parasit              +                 Chloramphenicol 4 x
                                                                                                                               400 mg
                 TD: 90/60          Jantung: BJ I-II N                                                    KEP I
               N: 80x/menit         Paru: vesikuler normal wheezing (-),                                                      Diet Nasi biasa 1500
               RR: 24x/menit        Abdomen:datar, lemas, hepar teraba                                                         kal/hari

                 T: 36,4°C          ¼ - ¼ lien tidak teraba, BU(+)N                                                     Rencana :
                                    Extremitas: akral dingin -/- sianosis-
                                    /-                                                                                  DDR ulang
Follow up                                                                                                 lanjutan

      16/2/11    Kel: mual     Kepala: NCH (-)                            Demam          IVFD D5%
                                                                                          1/4 NS gtt
                 Sens: CM      Leher: t.a.k                               Typhoid         XV x/m
                 TD: 90/60     Thoraks:simetris,                           dengan
                                                                                         Chloramphe
                N: 96x/menit   Jantung: BJ I-II N                         perbaikan       nicol 4 x 400
                    RR:        Paru: vesikuler normal                        +            mg
                 26x/menit     wheezing (-),                               KEP I         Paracetamol
                  T: 39°C      Abdomen:datar, lemas,                                      3x2 cth (prn)
                               hepar teraba ¼ - ¼ lien
                                                                                         Diet Nasi
                               tidak teraba, BU(+)N                                       biasa 1500
                                                                                          kal/hari
                               Extremitas: akral
                               dingin -/- sianosis-/-
      17/211     Kel: mual     Kepala: NCH (-)           Parasitologi :   Demam          IVFD D5%
                                                                                          1/4 NS gtt
                 Sens: CM      Leher: t.a.k                  tidak        Typhoid         XV x/m
                TD: 100/60     Thoraks:simetris,          ditemukan        dengan
                                                                                         Chloramphe
                N: 90x/menit   Jantung: BJ I-II N        adanya bentuk    perbaikan       nicol 4 x 400
                    RR:        Paru: vesikuler normal       parasit          +            mg
                 24x/menit     wheezing (-),                               KEP I         Diet Nasi
                 T: 37,0°C     Abdomen:datar, lemas,                                      biasa 1500
                                                                                          kal/hari
                               hepar teraba ¼ - ¼ lien
                               tidak teraba, BU(+)N
                               Extremitas: akral
                               dingin -/- sianosis-/-
Follow up                                                                                lanjutan

      18/211     Kel: mual     Kepala: NCH (-)           Demam          IVFD D5%
                                                                         1/4 NS gtt
                 Sens: CM      Leher: t.a.k              Typhoid         XV x/m
                TD: 100/60     Thoraks:simetris,          dengan
                                                                        Chloramphe
                N: 98x/menit   Jantung: BJ I-II N        perbaikan       nicol 4 x 400
                    RR:        Paru: vesikuler normal       +            mg
                 24x/menit     wheezing (-),              KEP I         Diet Nasi
                 T: 36,7°C     Abdomen:datar, lemas,                     biasa 1500
                                                                         kal/hari
                               hepar teraba ¼ - ¼ lien
                               tidak teraba, BU(+)N
                               Extremitas: akral
                               dingin -/- sianosis-/-
      19/2/11    Kel: mual     Kepala: NCH (-)           Demam          R/pulang

                 berkurang     Leher: t.a.k              Typhoid        Chloramphe
                 Sens: CM      Thoraks:simetris,          dengan         nicol 4 x 400
                                                                         mg (selama
                TD: 110/70     Jantung: BJ I-II N        perbaikan       3 hari)
                    N:         Paru: vesikuler normal       +
                                                                        Diet Nasi
                104x/menit     wheezing (-),              KEP I          biasa 1500
                    RR:        Abdomen:datar, lemas,                     kal/hari
                 24x/menit     hepar teraba ¼ - ¼ lien
                 T: 37,0°C     tidak teraba, BU(+)N
                               Extremitas: akral
                               dingin -/- sianosis-/-
Analisis Kasus
Seorang anak laki-laki berumur 8 tahun datang dengan :
 KU: demam lama
 Anamnesis
   demam selama 10 hari SMRS, terus menerus, tinggi
    terutama pada sore/malam hari,
   keluhan gastrointestinal: mual, muntah, sakit perut,
    tidak nafsu makan, BAB cair.

Dari keluhan utama yakni demam lama maka dapat
 dipikirkan penyebab demam lama adalah suatu proses
 infeksi, seperti demam tifoid ataupun malaria.
Analisis Kasus                                      lanjutan

 Diagnosa sementara pasien ini adalah demam thypoid
 tapi masih harus dibuktikan dengan:
   pemeriksaan fisik
   pemeriksaanpenunjang : widal dan gall kultur.


 Malaria masih belum dapat disingkirkan karena
 penderita tinggal di daerah resiko tinggi malaria  R/
 transfusi darah disangkal
   malaria  pemeriksaan fisik + pemeriksaan apusan
    darah tebal dan tipis.
Analisis Kasus                                                                        lanjutan
Pemeriksaan fisik didapatkan
 status gizi penderita tergolong KEP I,
 kesadaran compos mentis,
 denyut jantung: 96x/mmenit, suhu tubuh: 39°C,
 hepar teraba 1/3 – 1/3 permukaan rata, tepi tajam, tanpa splenomegali.

Untuk lebih memastikan maka dilakukan
 Pemeriksaan serologi Widal : mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap
  antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen) uji cepat (rapid test) ,
  dilakukan pada awal minggu kedua sakit, positif bila titer O antigen >1/160 atau
  meningkat 4 kali dalam interval 1 minggu. hasil pemeriksaan :
     titer Typhi O : 320, Para typhi A-O 1/80, Para typhi B-O 1/640, dan Para typhi C-O 1/80 
       widal positif.  u/diagnosis pasti tifoid dilakukan pemeriksaan gall kultur (Salmonella)

 Akan tetapi diagnosis Malaria belum dapat disingkirkan sebab pada malaria juga dapat
   ditemukan pembesaran hepar dengan tipe demam tinggi disertai menggigil.
Analisis kasus                                              lanjutan

Penatalaksanaan demam tifoid
   Pengobatan suportif :istirahat tirah baring.
    (mencegah komplikasi dan mempercepat
    penyembuhan)
       Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
        bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi
        dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien
   IVFD karena keadaan umum penderita lemah
   Diet makanan rendah selulosa (pantang sayuran dengan
    serat kasar
Analisis kasus                                lanjutan

 Pemberian IVFD D5% dirasakan perlu karena anak
 tersebut sangat sulit untuk makan,minum bahkan
 minum obat sekalipun, dan penderita cenderung mual
 dan muntah bila minum obat, sehingga selain sebagai
 IV line tempat obat masuk secara IV maka IVFD juga
 diharapkan dapat memantain kebutuhan cairan pada
 penderita ini
Analisis kasus                                  lanjutan

 Pengobatan medikamentosa yang diberikan adalah
  kloramfenikol sebagai drug of choice/pilihan pertama
  pada pengobatan demam tifoid.
 Kloramfenikol diberikan karena tidak terdapat
  kontraindikasi pemberian (depresi sumsum tulang (-
  ),Hb > 8 g%, leukosit >2000/mm3).
 Dosis 50 – 100 mg/kgBB/hari oral dalam 4 dosis
  sampai tujuh hari bebas demam atau antara dosis
  900 – 1800 mg/hari dan dibagi 4 dosis ( 4 x 225 mg
  sampai 4 x 450 mg). Pada penderita ini
  kloramfenikol diberikan dengan dosis 4 x 400 mg iv.
Analisis kasus                                     lanjutan

 Prognosis pasien ini Quo ad vitam bonam dan Quo ad
 fungtionam bonam karena pada pasien ini tidak
 terdapat komplikasi dari demam tifoid seperti
 perforasi usus, perdarahan usus, dan sebagainya
Tinjauan Pustaka
Demam tifoid atau typhus abdominalis merupakan
 penyakit infeksi sistemik terutama mengenai sistem
 retikuloendotelial, jaringan limfoid intestinal, dan
 kantung empedu, yang disebabkan oleh kuman basil
 gram negatif Salmonella typhi maupun Salmonella
 paratyphi . [1] Gejala dengan spektrum klinis yang
 sangat luas
Tinjauan Pustaka                                  lanjutan

 World Health Organization (WHO) tahun 2003
  memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam
  tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus
  kematian tiap tahun.
 Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan pada
  semua umur, tetapi yang paling sering pada anak
  besar,umur 5- 9 tahun. [2]
Tinjauan Pustaka                                                   lanjutan

Etiologi
 Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah
  bakteri Gram negatif,
      mempunyai flagella,
      tidak berkapsul,
      tidak membentuk spora,
      fakultatif anaerob.
      Mempunyai antigen:
          somatic (O)oligosakarida,
          flagelar antigen (H)  protein
          envelope antigen (K) polisakarida.
          Endotoksin  Makromolekuler lipopolisakarida kompleks membentuk
           lapis luar dari dinding sel
          Plasmid faktor-R  resistensi terhadap multipel antibiotik. [1]
Tinjauan Pustaka                                                                     lanjutan

Gejala Klinik
 Anak biasanya lebih ringan dibandingkan dewasa.
 Masa tunas rata-rata 10-20 hari, tersingkat 4 hari (makanan) dan sampai 30 hari (minuman).
 Gejala prodormal:
     perasaan tidak enak badan,
     lesu,
     nyeri kepala,
     pusing dan
     tidak bersemangat.
 Gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
     Demam
     Gangguan saluran pencernaan
     Gangguan kesadaran


Gejala lain dapat ditemukan bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.
   Biasanya ditemukan dalam minggu pertama demam. Kadang dapat pula ditemukan epistaksis.
Tinjauan Pustaka                                                     lanjutan

Metode Diagnosis
 Demam tifoid pada anak  gejala klinik yang sering tidak khas
  terutama pada anak kecil (dibawah lima tahun).
    Sesuai dengan bertambahnya usia, gejala klinik lebih mendekati orang
     dewasa  panas yang 1 minggu atau lebih, adanya lidah tifoid,
     pembesaran hati dan limfa, adanya diare atau konstipasi.

 Diagnosis pasti : ditemukannya kuman Salmonella typhi dari biakan
  darah, urin, tinja, sumsum tulang atau dari aspirat duodenum 
  membutuhkan waktu yang lama sehingga secara klinik tidak
  menjadi patokan untuk memberikan terapi.

 Cara praktis diagnosis klinis demam tifoid ditegakkan berdasarkan
  gejala klinik, pemeriksaan darah tepi, dan pemeriksaan
  serologis.
Tinjauan Pustaka                                         lanjutan

 Pemeriksaan serologis : tes widal.
    Pemeriksaan titer agglutinin O dan H.
    Faktor yang mempengaruhinya antara lain
       stadium penyakit,
       pemberian antibiotika,
       faktor gizi penderita,
       penyakit tertentu yang menghambat pembentukkan antibodi
        seperti leukemia, tumor ganas, serta pemakaian obat
        imunosupresif,
       pernah mendapat infeksi sebelumnya,
       tehnik laboratorium,
       riwayat imunisasi, dll
Tinjauan Pustaka                                       lanjutan

Bagian IKA FK UNSRI RSMH, interpretasi positif
 terhadap tes widal adalah bila didaparkan:
   Titer O agglutinin 1/160 atau lebih. Bila pemeriksaan
    pertama titer O rendah, terutama pada awal penyakit,
    maka pemeriksaan dilakukan 1 minggu kemudian dan
    bila ternyata titer meningkat 4 kali atau lebih maka tes
    dianggap positif.
   Titer H tidak dijadikan patokan diagnosis.
Tinjauan Pustaka                                           lanjutan

Secara praktis di klinik IKA FK UNSRI RSMH, dibedakan atas : [1]
 Demam tifoid klinis :panas >7 hari, disertai gejala klinik lain
  berupa gangguan GIT (typoid tongue, rhagaden, anoreksia,
  konstipasi/diare), hepatomegali dan tidak ditemukan penyebab
  panas lain.
 Demam tifoid : demam tifoid klinis + biakan empedu
  Salmonella Typhi positif dari darah, urin, atau feses dan atau
  pemeriksaan serologis di dapatkan titer O antigen lebih besar
  atau sama dengan 1/160 atau meningkat 4 kali atau lebih pada
  pemeriksaan berulang interval 1 minggu.
 Tifoid ensefalopati : demam tifoid atau demam tifoid
  klinis + satu atau lebih gejala kejang, kesadaran menurun
  dan kesadaran berubah (kontak psikik tidak ada).
Tinjauan Pustaka                              lanjutan

Diagnosa Banding
 Demam berdarah dengue,
 gastroenteritis,
 influenza, dll.


Pada fase lanjut perlu dibedakan dengan penyakit
  lainnya seperti malaria. Demikian juga perlu
  dipikirkan untuk menyingkirkanpenyakit keganasan
  seperti leukemia.
Tinjauan Pustaka                                                  lanjutan

Penatalaksanaan
 Indikasi rawat
    Klinis ringan : rawat jalan, kontrol poli teratur.
    Klinis: hiperpireksia, muntah-muntah, intake tidak adekuat,
     dehidrasi, keadaan umum lemah, rawat inap
 Perawatan
    Penderita harus tirah baring 5-7 hari bebas panas, kemudian
     secara bertahap mulai mobilisasi.
 Diet
    Tahap awal:
      lunak, mudah dicerna, tidak merangsang, bebas serat, dan tidak
       menimbulkan gas.
      Porsi kecil tetapi sering
Tinjauan Pustaka                                              lanjutan

 Medikamentosa
   DOC: kloramphenikol, dosis 50-100 mg/kgBb/ hari maksimal 2
    gr/hari. Obat diberikan sampai 7 hari bebas panas, minimal
    diberikan selama 10 hari. Bila dalam 10 hari pemberian
    kloramphenikol panas tidak turun maka obat diganti ampicilin
    200mg/kgBb/hari diberkan secara Iv selama 10-14 hari. Demikian
    juga bila ditemukan Hb<8 g/dl, dan atau leukosit <2000/mm3 obat
    diganti dengan ampicilin.
   Kasus berat seftriakson dengan dosis 80 mg/kg BB/kali dan
    diberikan sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari.
   Ensefalopati tifoid diberikan juga dexamethason , dosis awal 3
    mg/kgBB/kali, dilanjutkan 1 mg/kgBB/6 jam, sebanyak 8 kali
    (selama 48 jam), lalu di stop tanpa tapering off, Reduksi cairan
    4/5 kebutuhan, lakukan pemeriksaan elektrolit, dan dilakukan
    Lumbal Punksi bila tidak terdapat kontraindikasi.
Tinjauan Pustaka                                                           lanjutan

Komplikasi
 Komplikasi intestinal
    Perdarahan usus
    Perforasi usus
    Ileus paralitik
 Komplikasi ekstraintetstinal
    Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer (renjatan/sepsis),
     miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
    Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia dan atau koagulasi
     intravaskular diseminata dan sindrom uremia hemoltilik.
    Komplikasi paru: penuomonia, empiema dan peluritis.
    Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis.
    Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.
    Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis dan artritis.
    Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, mengingismus, meningitis, polineuritis
     perifer, sindrim Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatonia
Tinjauan Pustaka                                              lanjutan

Pencegahan
 Peningkatan higiene dan sanitasi
 Vaksinasi : vaksin inaktif (injeksi) dan vaksin yang dilemahkan
  (oral)
    KI vaksin inaktif: Rx. anafilaktik thdp vaksinasi
     sebelumnya
    KI vaksin tifoid yang dilemahkan (per oral) :
        Rx. Anafilaktik terhadap vaksinasi sebelumnya
        Immunocompromised

Vaksin tifoid oral tidak boleh diberikan dalam waktu 24 jam
  bersamaan dengan pemberian antibiotik.
Terima Kasih

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:1935
posted:6/6/2011
language:Malay
pages:46