Hipertensi Esensial

Document Sample
Hipertensi Esensial Powered By Docstoc
					                            HIPERTENSI ESENSIAL



1. Definisi

       Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah
di dalam arteri, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri
menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung,
serangan jantung dan kerusakan ginjal. Hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial, disebut juga hipertensi
primer.1,2
       Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC
7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2.1
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 71
         Klasifikasi Tekanan Darah                    TDS (mmHg)      TDD
                                                                     (mmHg)
 Normal                                          < 120        dan     < 80

 Prahipertensi                                   120 – 139    atau   80 – 89

 Hipertensi derajat 1                            140 – 159    atau   90 – 99

 Hipertensi derajat 2                            ≥ 160        atau    ≤ 100

TDS = Tekanan Darah Sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik
       Masih ada beberapa klasifikasi dan pedoman penanganan hipertensi lain
dari World Health Organization (WHO), International Society of Hypertension
(ISH), dan yang lainnya, tetapi umumnya digunakan JNC 7.1


2. Epidemiologi
       Data epidemiologis menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya
populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar
juga akan bertambah. Hipertensi sering timbul pada lebih dari separuh orang yang



                                          1
berusia > 65 tahun. Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar
berasal dari negara-negara yang sudah maju. Data dari The National Health and
Nutrition Examination Survey (NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-
2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti
terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta
dari data NHANES III tahun 1988-1991. Hipertensi esensial sendiri merupakan
95% dari seluruh kasus hipertensi.1


3. Etiologi, Patogenesis, dan Patofisiologi


Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 kategori2:
   1. Hipertensi primer: kasusnya sebanyak 90 – 95%, tidak diketahui
       penyebabnya.
   2. Hipertensi sekunder: kasusnya sebanyak 5 – 10%
           a. Beberapa     perubahan   pada   jantung   dan   pembuluh    darah
              kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan
              darah.
           b. Penyakit ginjal.
           c. Kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil
              KB).
           d. Feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang
              menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin
              (noradrenalin).
           e. Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas
              berolahraga), stres, alkohol, atau garam dalam makanan.
           f. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk
              sementara waktu, jika stres telah berlalu; maka tekanan darah
              biasanya akan kembali normal.




                                        2
     Patogenesis
               Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama
     karena interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang
     mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah1:
          1. Faktor risiko, seperti: diet dan asupan garam, stres, ras, obesitas, merokok,
               genetis.
          2. Sistem saraf simpatis
                  a. Tonus simpatis
                  b. Variasi diurnal
          3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi: endotel
               pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos
               dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir.
          4. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin,
               angiotensin dan aldosteron.
               Kaplan      menggambarkan        beberapa   faktor   yang   berperan    dalam
     pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar Tekanan Darah =
     Curah Jantung x Tahanan Perifer.1
    Asupan            Jumlah            Stres          Perubahan      Obesitas          Bahan-
     garam             nefron
                                                        genetis                       bahan yang
    berlebih         berkurang
                                                                                      berasal dari
                                                                                        endotel

Retensi        Penurunan          Aktivitas          Renin          Perubahan            Hiper-
natrium        permukaan          berlebih         angiotensin      membran           insulinemia
 ginjal          filtrasi           saraf           berlebih           sel
                                  simpatis


      ↑ Volume cairan                   Konstriksi vena

                ↑ Preload           ↑ Kontraktilitas         Konstriksi          Hipertrofi
                                                             fungsional          struktural


                          Tekanan Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer


                   Hipertensi = Peningkatan CJ dan / atau Peningkatan TP


                                                   3
Gambar 1. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pengendalian tekanan darah1


Kerusakan Organ Target
       Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum
ditemui pada pasien hipertensi adalah1:
       1. Jantung
              a. Hipertrofi ventrikel kiri
              b. Angina atau infark miokardium
              c. Gagal jantung
       2. Otak
              a. Strok atau transient ischemic attack
       3. Penyakit ginjal kronis
       4. Penyakit arteri perifer
       5. Retinopati
       Adanya kerusakan organ target, terutama pada jantung dan pembuluh
darah, akan memperburuk prognosis pasien hipertensi. Tingginya morbiditas dan
mortalitas pasien hipertensi terutama disebabkan oleh timbulnya penyakit
kardiovaskular.1
       Faktor risiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi antara lain
adalah1:
      Merokok
      Obesitas
      Kurangnya aktifitas fisik
      Dislipidemia
      Diabetes melitus
      Mikroalbuminuria atau perhitungan LFG < 60 ml/menit
      Umur (laki-laki > 55 tahun, perempuan > 65 tahun)
      Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular prematur (laki-
       laki < 55 tahun, perempuan < 65 tahun)
       Pasien dengan prehipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan
darah menjadi hipertensi; mereka memiliki dua kali risiko menjadi hipertensi dan


                                          4
mengalami penyakit kardiovaskular dari pada yang tekanan darahnya lebih
rendah. Risiko penyakit kardiovaskular bersifat kontinyu, konsisten, dan
independen dari faktor risiko lainnya. Individu berumur 55 tahun memiliki 90%
risiko untuk mengalami hipertensi.1


4. Diagnosis


Riwayat
       Dokumentasi hipertensi dikonfirmasi setelah tekanan darah tinggi
setidaknya diukur pada 3 kesempatan terpisah (berdasarkan rata-rata dari 2 atau
lebih pembacaan setelah screening awal), informasi berikut haruslah rinci3:
   -   Tingkat kerusakan target organ
   -   Penilaian status risiko kardiovaskular pasien
   -   Pengecualian penyebab sekunder hipertensi
       Pasien mungkin memiliki hipertensi yang tidak terdiagnosis selama
bertahun-tahun, tidak pernah memeriksa BP. Riwayat kerusakan end organ harus
ditanyakan secara hati-hati. Riwayat faktor risiko kardiovaskular termasuk
hiperkolesterolemia, diabetes mellitus, dan penggunaan tembakau ditanyakan.
Kemudian riwayat penggunaan obat over-the-counter; obat-obatan herbal, efedrin,
obat antihipertensi yang tidak berhasil, kontrasepsi oral, etanol, dan obat-obatan
terlarang seperti kokain3.


Pemeriksaan Fisik
       Pengukuran tekanan darah yang akurat adalah kunci diagnosis. Hasil
pengukuran tekanan darah yang tinggi. Jika pada pengukuran pertama
memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian
diukur sebanyak dua kali pada dua hari berikutnya untuk meyakinkan adanya
hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah
tinggi, tetapi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.2,3
       Pasien harus beristirahat tenang setidaknya selama 5 menit sebelum
pengukuran. Tekanan darah harus diukur dalam posisi terlentang dan duduk,
dengan auskultasi menggunakan bel stetoskop.3



                                        5
       Evaluasi funduskopi mata harus dilakukan untuk mendeteksi retinopati
hipertensi dini atau lambat, kronis atau akut. Palpasi semua nadi perifer, jika tidak
ada, lemah, atau naadi femoralis terlambat menunjukkan koartasio aorta atau
penyakit pembuluh darah perifer berat. Dengarkan auskultasi arteri renalis di atas
abdomen bagian atas, kehadiran bruit pada kedua komponen sistolik dan diastolik
menunjukkan stenosis arteri renalis. Pemeriksaan jantung secara hati-hati
dilakukan untuk mengevaluasi tanda-tanda LVH.3
       Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC
7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2.1


Pemeriksaan Laboratorium Rutin
       Jika tidak terdapat dugaan penyebab sekunder untuk hipertensi, hanya
harus dilakukan penelitian laboratorium rutin sebagai berikut3:
   -   Complete blood count (CBC), serum electrolytes, serum creatinine, serum
       glucose, uric acid, dan urinalysis
   -   Lipid profile (total cholesterol, low-density lipoprotein [LDL], high-
       density lipoprotein [HDL], dan triglycerides)


5. Penatalaksanaan
       Hipertensi adalah penyakit seumur hidup. Untuk hasil yang optimal,
diperlukan komitmen jangka panjang dalam modifikasi gaya hidup dan terapi
farmakologi.3
       Gaya hidup yang baik mempengaruhi tingkat tekanan darah dan
mengurangi risiko penyakit jantung secara keseluruhan. Beberapa strategi untuk
menurunkan risiko berkembangnya penyakit kardiovaskular adalah2,3:
   -   Menurunkan berat badan sampai batas ideal.
   -   Jumlah aktifitas fisik aerobik yang tepat.
   -   Diet rendah garam (mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3
       gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya), diet rendah
       lemak total, dan kolesterol.



                                            6
    -   Pembatasan konsumsi alkohol.
    -   Menghindari merokok.


        Terapi antihipertensi secara signifikan mengurangi risiko kematian akibat
stroke dan penyakit jantung koroner. Terapi obat pada hipertensi dimulai dengan
salah satu obat berikut ini2,3:
    a. Hidroklorotiazid (HCT) 12,5 – 25mg perhari, dosis tunggal pada pagi hari
        (pada hipertensi dalam kehamilan, hanya digunakan bila disertai
        hemokonsentrasi / edem paru).
    b. Reserpin 0,1 – 0,25mg sehari sebagai dosis tunggal.
    c. Propranolol mulai dari 10mg 2 x sehari dapat dinaikkan 20mg 2 x sehari
        (Kontraindikasi untuk penderita asma).
    d. Kaptopril 12,5 – 25mg 2 – 3 kali sehari. (Kontraindikasi pada kehamilan
        selama janin hidup dan penderita asma).
    e. Nifedipin mulai dari 5mg 2 x sehari, bisa dinaikkan 10mg 2 x sehari.


Pesan Kunci dari Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) adalah
sebagai berikut3,4:
    -   Prehipertensi (120-139 sistolik, 80-89 diastolik) memerlukan modifikasi
        gaya hidup untuk mencegah peningkatan progresif tekanan darah dan
        penyakit jantung.
    -   Pada hipertensi tanpa komplikasi, diuretik thiazide, baik sendiri atau
        dikombinasikan dengan obat dari kelas lain, digunakan untuk pengobatan
        pada kebanyakan kasus.
    -   Dalam kondisi berisiko tinggi, ada indikasi kuat untuk penggunaan obat
        antihipertensi kelas lain (misalnya, angiotensin-converting enzyme [ACE]
        inhibitor, angiotensin-receptor blocker [ARB], beta blockers, calcium
        channel blockers).
    -   Dua atau lebih obat antihipertensi diperlukan untuk mencapai tujuan BP
        (<140/90 mm Hg atau <130/80 mm Hg) untuk pasien dengan diabetes dan
        penyakit ginjal kronis.



                                        7
   -   Untuk pasien yang BP nya lebih dari 20 mm Hg di atas target BP sistolik
       atau lebih dari 10 mm Hg di atas target BP diastolik, inisiasi terapi
       menggunakan 2 agen, salah satu biasanya menggunakan thiazide diuretik.
   -   Terlepas dari terapi atau perawatan, hipertensi dapat dikendalikan hanya
       jika pasien termotivasi untuk konsisten dalam rencana pengobatan mereka.


Medikasi
       Tujuan farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan mencegah
komplikasi. Medikasi termasuk diuretik, alpha- dan beta-adrenergic blockers,
calcium channel blockers, ACE inhibitors, dan vasodilator.3,4,5
Medikasi yang digunakan adalah sebagai berikut3,4,5:
   1. Diuretik, Thiazide
       Diuretik thiazide menghambat reabsorbsi sodium dan klorida di bagian
       asenden loop of Henle dan tubulus distal, juga meningkatkan ekskresi
       potasium dan bikarbonat, menurunkan ekskresi kalsium, dan retensi uric
       acid.
           a. Hydrochlorothiazide
                  Hydrochlorothiazide menghambat reabsorbsi sodium di tubulus
                  distal, menyebabkan peningkatan ekskresi sodium, air, potasium,
                  dan ion hidrogen.
           b. Chlorthalidone
           c. Metolazone
           d. Indapamide
   2. Diuretik hemat potasium/kalium
       Diuretik hemat potasium menghambat reabsorbsi sodium di tubulus distal,
       sementara itu juga menurunkan sekresi potasium, merupakan diuretik
       lemah, dan memiliki efek anti hipertensi yang lemah pula jika digunakan
       sendiri.
           a. Spironolactone
                  Spironolactone menghambat efek aldosteron pada otot polos
                  arteriol.
           b. Amiloride



                                          8
      c. Triamterene
3. Loop Diuretics
   Diuretik loop bekerja pada bagian asenden loop of Henle, menghambat
   reabsorbsi sodium dan klorida.
      a. Furosemide (lasix)
            Furosemide meningkatkan ekskresi air dengan menginterfensi
            sistem ko-transpor yang berikatan dengan klorida, sehingga
            menghambat reabsorbsi sodium dan klorida di bagian asenden loop
            of Henle dan tubulus renal distal. Dosis untuk setiap pasien bersifat
            individual.
      b. Torsemide
      c. Bumetanide
      d. Ethacrynic acid
4. Alpha – Adrenergic Blocking Agents
   Agen ini secara selektif menghambat reseptor adrenergik alfa1,
   menyebabkan dilatasi arteriol dan vena, sehingga menurunkan tekanan
   darah.
      a. Prazosin
      b. Terazosin
      c. Phentolamine
      d. Doxazosin
5. Beta – Adrenergic Blocking Agents
   Beta blocker digunakan untuk mengobati hipertensi sebagai agen inisial
   atau dikombinasi dengan obat lain (misal, thiazide).
      a. Atenolol
      b. Metoprolol
      c. Propranolol
            Propranolol    memiliki       aktivitas   stabilisasi   membran   dan
            menurunkan automatisitas kontraksi. Obat ini tidak cocok untuk
            pengobatan emergensi pada hipertensi. Jangan berikan propranolol
            secara IV hipertensi emergensi.
      d. Nebivolol



                                      9
       e. Esmolol
6. Alpha and Beta Adrenergic Blocking Agents
   Agen ini menghambat reseptor adrenergik alfa, beta1, dan beta2, sehingga
   menurunkan tekanan darah.
       a. Labetalol
       b. Carvedilol
7. Vasodilator perifer
   Agen ini merelaksasi pembuluh darah untuk memperbaiki aliran darah,
   sehingga menurunkan tekanan darah.
       a. Hydralazine
       b. Minoxidil
8. Calcium Channel Blockers, Dihydropyridine
   Dihydropyridine berikatan dengan kanal kalsium tipe L di otot polos
   vaskular, menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Efektif
   sebagai monoterapi pada pasien kulit hitam dan geriatri.
       a. Nifedipine (Adalat)
          Nifedipin merelaksasi otot polos koroner, meningkatkan aliran
          oksigen ke miokardium. Pemberian sublingual cukup aman.
       b. Clevidipine butyrate
       c. Amlodipine
       d. Felodipine
9. Calcium Channel Blockers, Non – Dihydropyridine
   Agen ini berikatan dengan kanal kasium tipe L di sinoatrial dan nodus
   atrioventrikular, memberikan efek pada miokardium dan vaskular.
       a. Diltiazem
       b. Verapamil
10. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors
   Agen ini merupakan inhibitor kompetitif dari angiotensin-converting
   enzyme (ACE), menurunkan kadar angiotensin II, sehingga menurunkan
   sekresi aldosteron.
       a. Captopril




                                   10
          Kaptopril mencegah konversi angiotensin I menjadi angiotensin II,
          merupakan vasokonstriktor kuat, sehingga menyebabkan sekresi
          aldosteron yang lebih rendah.
       b. Ramipril
       c. Enalapril
       d. Lisinopril
11. Angiotensin II Receptor Antagonists
   Angiotensin II receptor antagonists, atau angiotensin receptor blockers
   (ARBs), digunakan pada pasien yang tidak mampu mentoleransi ACE
   Inhibitors. Yang termasuk golongan ini adalah: Losartan, Valsartan,
   Olmesartan, Eprosartan, Azilsartan.
12. Aldosterone Antagonists
   Berkompetisi dengan reseptor aldosteron, menurunkan tekanan darah dan
   reabsorpsi sodium. Yang termasuk golongan ini adalah: Epleronone.
13. Alpha Adrenergic Agonists
   Menstimulasi reseptor adrenergik alfa2 presinaptik di batang otak,
   menurunkan aktivitas saraf simpatis. Yang termasuk golongan ini adalah:
   Methyldopa, Clonidine, Guanfacine.
14. Renin Inhibitor
   Kelas terbaru obat anti hipertensi, bekerja dengan mengganggu lingkaran
   feedback sistem renin – angiotensin – aldosteron. Yang termasuk golongan
   ini adalah: Aliskiren.
15. Vasodilators
   Nitrogliserin dan nitroprusside menyebabkan dilatasi arteri dan vena.
   Nitroglycerin terutama mempengaruhi sistem vena dan membantu
   mengurangi preload. Nitroprusside menurunkan preload dan afterload,
   yang membantu untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard.
16. Dopamine Agonist
   Dopamine agonist seperti fenoldopam memiliki efek hipotensi melalui
   penurunan resistensi pembuluh darah perifer, menyebabkan peningkatan
   aliran darah ginjal, diuresis, dan natriuresis.
17. Kombinasi Antihipertensi




                                      11
           Kombinasi obat yang memiliki mekanisme berbeda memberikan efek
           aditif. Direkomendasikan untuk memulai terapi dengan agen tunggal dan
           kemudian ke terapi kombinasi dengan dosis rendah. Beberapa contoh
           kombinasi obat termasuk enalapril / hidroklorotiazida (Vaseretic),
           metoprolol   /      Hidroklorotiazid    (Lopressor    HCT),      triamterene   /
           hidroklorotiazida     (Maxzide,    Maxzide-25,       Dyazide),     valsartan   /
           Hidroklorotiazid     (Diovan    HCT),     dan   valsartan   /    amlodipine    /
           hydrochlorothiazide (Exforge HCT).


7. Komplikasi dan Prognosis
           Kebanyakan individu yang didiagnosis mengidap hipertensi akan
mengalami peningkatan tekanan darah seiring pertambahan usia. Hipertensi yang
tidak diobati meningkatkan risiko mortalitas dan sering dianggap sebagai “silent
killer”.     Hipertensi ringan hingga moderat, jika tidak diobati, berisiko untuk
terjadinya penyakit aterosklerotik pada 30% orang dan kerusakan organ pada 50%
orang setelah 8 – 10 tahun dari onset penyakit.3,4
           Kematian akibat penyakit jantung iskemik maupun stroke meningkat
secara progresif seiring kenaikan tekanan darah. Untuk setiap kenaikan tekanan
sistolik sebesar 20 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 10 mmHg dari tekanan
darah 115/75 mmHg, angka mortalitas meningkat dua kali lipat.3,4
           Morbiditas dan mortalitas pada hipertensi emergency tergantung pada
sejauh mana disfungsi end organ dan sejauh mana pengontrolan tekanan darah.
Dengan pengontrolan tekanan darah dan kepatuhan dalam pengobatan, angka
kelangsungan hidup 10-tahun penderita dengan krisis hipertensi mendekati
70%.3,4
           Dalam studi jantung Framingham, risiko gagal jantung kongestif pada usia
yang sama, 2,3 kali lebih tinggi pada pria dan 3 kali lebih tinggi pada wanita
dibandingkan dengan orang yang tekanan darahnya lebih rendah. Data Multiple
Risk Factor Intervention Trial (MRFIT) menunjukkan bahwa risiko relatif untuk
mortalitas pada penyakit jantung koroner bervariasi yaitu 2,3-6,9 kali lebih tinggi
pada orang-orang dengan hipertensi ringan hingga berat dibandingkan dengan
orang-orang dengan tekanan darah normal. Resiko relatif untuk stroke berkisar



                                             12
antara 3,6-19,2. Persentase risiko populasi untuk penyakit arteri koroner bervariasi
yaitu 2,3-25,6%, sedangkan risiko untuk stroke berkisar antara 6,8-40%.3,4
       Nephrosclerosis adalah salah satu kemungkinan komplikasi pada
hipertensi kronis. Pasien dengan nefropati diabetes yang menderita hipertensi juga
berisiko tinggi untuk menderita penyakit ginjal stadium akhir. Pengurangan
tekanan darah dapat memperbaiki fungsi ginjal. Deteksi awal nephrosclerosis
hipertensi adalah dengan mendeteksi mikroalbuminuria dan intervensi terapi
agresif, terutama dengan obat ACE inhibitor, dapat mencegah progresi ke
penyakit ginjal stadium akhir3.




                                        13
                            LAPORAN KASUS


UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II


STATUS PASIEN
  1. Identitas Pasien
     a. Nama/Kelamin/Umur           : Marni / Perempuan / 51 tahun.
     b. Pekerjaan/pendidikan        : Ibu rumah tangga / Tamat SD.
     c. Alamat                      : Batuang, Padang.


  2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
     a. Status Perkawinan           : Menikah.
     b. Jumlah Anak                 : 3 orang.
     c. Status Ekonomi Keluarga : Miskin. Suami bekerja sebagai nelayan,
         penghasilan tidak tentu.
     d. KB                          : Implant.
     e. Kondisi Rumah               :
         -   Rumah permanen, tidak ada pekarangan, luas bangunan ± 9m x
             6m.
         -   Listrik ada.
         -   Sumber air : air sumur.
         -   Jamban dan kamar mandi di dalam rumah.
         -   Sampah dibakar.
         -   Jumlah penghuni rumah 3 orang, yaitu pasien, suami pasien, satu
             orang anak.
         -   Kesan : higine dan sanitasi cukup baik
     f. Kondisi Lingkungan Keluarga
         -   Pasien tinggal di lingkungan permukiman nelayan yang cukup
             padat penduduk.




                                        14
3. Aspek Psikologis di keluarga
       -   Pasien tinggal bersama suami dan 1 orang anaknya.
       -   Hubungan dengan keluarga baik.
       -   Faktor stress dalam keluarga adalah masalah ekonomi.


4. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga
       -   Pasien tidak mengetahui pasti sejak kapan menderita hipertensi.
           Pasien telah berobat untuk hipertensinya ± 3 tahun terakhir.
       -   Riwayat hipertensi pada keluarga disangkal.
       -   Riwayat DM, penyakit jantung disangkal.


5. Keluhan Utama
           Sakit kepala sejak ± 2 hari sebelum berobat ke puskesmas.


6. Riwayat Penyakit Sekarang
          Sakit kepala sejak ± 2 hari sebelum berobat ke puskesmas. Sakit
           kepala dirasakan setiap saat, berkurang dengan istirahat. Sakit
           dirasakan di seluruh bagian kepala. Tidak berdenyut.
          Mual tidak ada, muntah tidak ada.
          Rasa berat di tengkuk.
          Mudah lelah, cepat marah, dan sulit tidur.
          Mata kabur tidak ada.
          Keluhan nyeri dada tidak ada.
          BAK biasa.
          Pasien suka makan makanan yang mengandung banyak garam dan
           lemak.
          Pasien tidak merokok.
          Aktifitas fisik sehari-hari kurang. Kebiasaan berolah raga tidak
           ada.
          Pasien biasa berobat ke puskesmas untuk hipertensinya, pasien
           diberi obat captopril 2 x 12,5mg dan keluhan sakit kepalanya




                                    15
            berkurang. Pasien tidak teratur berobat dan memeriksakan tekanan
            darah.
7. Pemeriksaan Fisik
    Status Generalis
    Keadaan Umum                   : Baik
    Kesadaran                      : CMC
    Nadi                           : 84x/ menit
    Nafas                          : 22x/menit
    TD                             : 160/100 mmHg
    Suhu                           : Afebris
    BB                             : 65 kg
    TB                             : 152 cm
    Status Gizi                    : Overweight (BMI = 28 kg/m2)
    Mata                    : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
    Dada
            Paru                   : Tidak ditemukan kelainan.
            Jantung                : Tidak ditemukan kelainan.
    Abdomen                        : Tidak ditemukan kelainan.
    Anggota gerak                  : reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/-,
    Oedem tungkai -/-


8. Pemeriksaan Laboratorium Anjuran :

-   Complete blood count (CBC), serum electrolytes, serum creatinine, serum
    glucose, uric acid, dan urinalysis.
-   Lipid profile (total cholesterol, low-density lipoprotein [LDL], high-
    density lipoprotein [HDL], dan triglycerides)


9. Diagnosis Kerja
            Hipertensi Grade II ec Esensial


10. Diagnosis Banding : -




                                      16
  11. Manajemen
      a. Preventif :
          -    Menghindari makan makanan yang banyak mengandung garam
               lemak, dan kolesterol
          -    Menurunkan berat badan ke rentang BB ideal
          -    Olahraga teratur
          -    Manajemen stress dan istirahat yang cukup
      b. Promotif :
          -    Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat
               disembuhkan, akan tetapi dapat dikontrol dengan membiasakan
               pola hidup sehat.
      c. Kuratif         :

               -     Hidroklorotiazid 1 x 25mg (pagi hari)

               -     Captopril 2 x 12,5 mg

               -     Rehabilitatif : Pemeriksaan tekanan darah teratur ke puskesmas
                     untuk memastikan tekanan darah dalam batas terkontrol dan
                     untuk memeriksakan tanda-tanda kerusakan organ target dan
                     komplikasi akibat hipertensi.
                                                  d.
                              Dinas Kesehatan Kodya Padang
                                    Puskesmas Bungus

Dokter             : Yuni Astria
Tanggal            : 29 April 2011

R/ Hidroklorotiazid 25mg tab              No. V
        S 1 dd tab 1 (pagi hari)

R/ Captopril 12,5 mg tab                  No. X
       S 2 dd tab I


Pro     : Marni
Umur : 51 tahun
Alamat : Batuang, Padang.




                                           17
                                        Diskusi


       Seorang pasien wanita, umur 51 tahun, datang berobat ke puskesmas
Bungus pada tanggal 29 April 2011, dengan keluhan utama sakit kepala sejak ± 2
hari sebelum berobat ke puskesmas. Setelah dilakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis menderita Hipertensi Grade II ec Esensial.
       Hasil anamnesis yang mendukung diagnosis adalah adanya keluhan pasien
berupa sakit kepala yang dirasakan setiap saat di seluruh bagian kepala, dan rasa
berat di tengkuk. Pasien biasa berobat ke puskesmas ketika mengalami keluhan
seperti ini, pasien diberi obat captopril 2 x 12,5mg dan keluhan sakit kepalanya
berkurang.
       Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, diperoleh: keadaan umum baik,
kesadaran CMC, nadi dan nafas dalam batas normal, TD (Tekanan Darah)
160/100 mmHg, suhu afebris. Status Gizi pasien adalah overweight dengan BMI
= 28 kg/m2. Pada pemeriksaan dada, meliputi jantung dan paru, tidak ditemukan
kelainan. Pada pemeriksaan abdomen tidak ditemukan kelainan. Pada ekstremitas
tidak ditemukan kelainan.
       Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosis kerja
Hipertensi Grade II ec Esensial. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, tidak
ditemukan tanda-tanda adanya kerusakan organ atau komplikasi akibat hipertensi,
yaitu keluhan mata kabur tidak ada, keluhan nyeri dada tidak ada, BAK biasa,
hasil pemeriksaan jantung dalam batas normal, dan tidak ada edema pada tungkai
bawah. Walaupun demikian, kecurigaan akan adanya kerusakan organ target dan
komplikasi akibat hipertensi tetap harus diwaspadai mengingat umur pasien yang
lanjut dan onset hipertensi yang tidak diketahui.
       Pada pasien dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut:
   -   Complete blood count (CBC), serum electrolytes, serum creatinine, serum
       glucose, uric acid, dan urinalysis.
   -   Lipid profile (total cholesterol, low-density lipoprotein [LDL], high-
       density lipoprotein [HDL], dan triglycerides).




                                         18
       Manajemen yang dilakukan pada pasien ini, disesuaikan dengan fakor
risiko yang ada pada pasien, derajat hipertensi yang dideritanya, serta
kewaspadaan akan adanya kerusakan organ target dan komplikasi akibat
hipertensi, adalah sebagai berikut:
       Preventif         :
           -   Menghindari makan makanan yang banyak mengandung garam
               lemak, dan kolesterol
           -   Menurunkan berat badan ke rentang BB ideal
           -   Olahraga teratur
           -   Manajemen stress dan istirahat yang cukup
       Promotif          :
           -   Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat
               disembuhkan, akan tetapi dapat dikontrol dengan membiasakan
               pola hidup sehat
       Kuratif :

               -   Hidroklorotiazid 1 x 25mg (pagi hari)

               -   Captopril 2 x 12,5 mg

       Rehabilitatif :
               -   Pemeriksaan tekanan darah teratur ke puskesmas untuk
                   memastikan tekanan darah dalam batas terkontrol dan untuk
                   memeriksakan       tanda-tanda   kerusakan   organ   target   dan
                   komplikasi akibat hipertensi.




                                          19
                            Daftar Pustaka


1. W.Sudoyo, Aru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
   Penerbitan Departemen Ilmu penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
   Universitas Indonesia; 2007.
2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas.
   Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2007.
3. Riaz, kamran. Hypertension. Ohio: Department of Internal Medicine,
   Wright State University School of Medicine; 2005.
4. Makmun, H. Lukman. Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular II.
   Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam
   Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003.
5. Ganiswarna, Sulistia G. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian
   Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1995.




                                  20

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2099
posted:6/5/2011
language:Indonesian
pages:20