tugas mata kuliah pengemasan, shelf life time test by DianIka3

VIEWS: 1,152 PAGES: 11

									                                     BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

       Keterangan umur simpan (masa kadaluarsa) produk pangan merupakan salah satu informasi
yang wajib dicantumkan oleh produsen pada label kemasan produk pangan. Pencantuman informasi
umur simpan menjadi sangat penting karena terkait dengan keamanan produk pangan dan untuk
memberikan jaminan mutu pada saat produk sampai ke tangan konsumen. Kewajiban pencantuman
masa kadaluarsa pada label pangan diatur dalam Undang-undang Pangan no. 7/1996 serta
Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan, dimana setiap industri pangan
wajib mencantumkan tanggal kadaluarsa (expired date) pada setiap kemasan produk pangan.

       Informasi umur simpan produk sangat penting bagi banyak pihak, baik produsen, konsumen,
penjual, dan distributor. Konsumen tidak hanya dapat mengetahui tingkat keamanan dan kelayakan
produk untuk dikonsumsi, tetapi juga dapat memberikan petunjuk terjadinya perubahan citarasa,
penampakan dan kandungan gizi produk tersebut. Bagi produsen, informasi umur simpan merupakan
bagian dari konsep pemasaran produk yang penting secara ekonomi dalam hal pendistribusian
produk serta berkaitan dengan usaha pengembangan jenis bahan pengemas yang digunakan. Bagi
penjual dan distributor informasi umur simpan sangat penting dalam hal penanganan stok barang
dagangannya.

      Penentuan umur simpan produk pangan dapat dilakukan dengan menyimpan produk pada
kondisi penyimpanan yang sebenarnya. Cara ini menghasilkan hasil yang paling tepat, namun
memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar. Kendala yang sering dihadapi oleh industri
dalam penentuan umur simpan suatu produk adalah masalah waktu, karena bagi produsen hal ini akan
mempengaruhi jadwal launching suatu produk pangan. Oleh karena itu diperlukan metode pendugaan
umur simpan cepat, mudah, murah dan mendekati umur simpan yang sebenarnya. Hal tersebut yang
mendasari pembuatan makalah yang berjudul ” Pengujian Umur Simpan Produk Ikan Tuna Kaleng ”.

I.2 Tujuan

       Mengetahui informasi tentang umur simpan
       Mengetahui metode-metode pengujian umur simpan
       Mengetahui manfaat pengujian umur simpan

I.3 Manfaat

       Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar dapat mengetahui macam-macam metode
pengujian umur simpan, sehingga metode ini dapat diterapkan pada proses pengemasan dalam
kehidupan sehari-hari maupun pada industri yang ada.
                                         BAB II PEMBAHASAN

II.1 Umur Simpan
      Pada umumnya, mutu makanan dan minuman menurun selama selang waktu penyimpanan dan
proses distribusi. Penurunan mutu tersebut salah satunya disebabkan oleh oksidasi O2 yang mendukung
untuk tumbuhnya mikroba, perubahan organoleptik, serta perubahan sifat fisik kimia pangan akibat
perbedaan lingkungan selama proses penyimpanan dan distribusi produk tersebut(Winarno, 1997).
Hal ini menunjukkan bahwa akan ada akhir dari waktu sebelum produk menjadi tidak dapat diterima
yang nantinya dikenal dengan istilah umur simpan (Robertson, 1993).
      Menurut Davis (2003) umur simpan suatu produk pangan adalah waktu dimana produk diterima
oleh konsumen, dimana faktor yang mempengaruhi penerimaan adalah sifat sensoris, kimia dan
mikrobiologis. Menurut Arpah dan Syarief (2000) Institute of Food Technology (IFT) menyatakan bahwa
umur simpan produk pangan adalah selang waktu antara saat produksi hingga saat konsumsi dimana
produk berada dalam kondisi yang memuaskan pada sifat-sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur,
dan nilai gizi. Sedangkan menurut Ellis (1994) umur simpan adalah waktu antara saat produksi dan
dikemas, sampai saat produk tidak dapat diterima pada kondisi lingkungan dimana produk tersebut
digunakan. Beberapa definisi diatas mempunyai maksud yang sama, yaitu rentang waktu antara saat
akhir proses produksi hingga batas akhir produk dapat dikonsumsi tanpa perubahan sifat sensoris,
kimia dan mikrobiologis yang tidak dapat diterima konsumen.
      Berdasarkan hal tersebut, biasanya suatu perusahaan yang bergerak pada produk pangan
dalam kemasan selalu menyertakan tanggal kadaluarsa pada kemasannya. Menurut Robertson(1993),
sudah menjadi praktek standar sebagian besar produsen pangan untuk mencantumkan closed code(
kode yang hanya bisa diinterpresentasikan oleh orang – orang yang memiliki pengetahuan tentang
sistem pengkodean tersebut). Umumnya kode – kode tersebut menunjukkan waktu pengolahan dan
pengemasan yaitu hari atau tahun atau shift produksi. Seiring dengan perkembangan zaman,
beberapa open dating system yang berbeda diusulkan agar konsumen dapat mengetahui informasi
mengenai umur simpan suatu produk. Dalam perdagangan, jangka waktu kadaluarsa memiliki
beberapa istilah lain yang sering digunakan, antara lain (Astawan, 2007) :
          Tanggal dikemas (Park date)
           Menunjukkan tanggal dari suatu produk diproses dan dikemas tetapi pada tipe ini tidak
           dicantumkan informasi spesifik tentang mutu produk. Informasi kadaluarsanya diperoleh
           dari setelah membeli produk tersebut, sehingga diperoleh seberapa lama produk tersebut
           akan mempertahankan mutunya.
          Tanggal pemajangan (Display date)
           Waktu pada saat produk ditempatkan pada rak – rak penjualan oleh retailer.
          Tanggal masuk toko (Sell by date)
           Waktu terakhir pada saat produk seharusnya dijual dengan tujuan untuk memberikan
           waktu yang cukup kepada konsumen untuk mengkonsumsinya atau menggunakannya.
          Baik digunakan sebelum (Best before)
           Waktu terakhir dari mutu maksimum produk yang dikemas
             Gunakan sebelum (Use by/Expired date)
              Waktu setelah produk tidak lagi pada tingkat mutu yang diterima atau dikonsumsi oleh
              konsumen.
     Faktor-faktor yang mempengaruhi umur simpan produk yang dikemas adalah sebagai berikut
(Syarief dan Halid, 1993) :
1.   Keadaan alamiah atau sifat makanan dan mekanisme berlangsungnya perubahan, misalnya
     kepekaan terhadap air dan oksigen serta kemungkinan terjadinya perubahan kimia internal dan
     fisik.
2.   Ukuran kemasan dalam hubungannya dengan volume.
3.   Kondisi atmosfer (terutama suhu dan kelembaban) dimana kemasan dapat bertahan selama
     transit dan sebelum digunakan.
4.   Spesifikasi kemasan yang digunakan terhadap keluar masuknya air, gas, dan bau, termasuk
     sistem perekatannya dan bagian – bagian yang terlipat.
5.   Faktor internal yang dipengaruhi oleh komposisi bahan yang terkandung didalamnya.
6.   Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kualitas mutu dari produk meliputi :
         Faktor utama             Penurunan mutu
         Oksigen                 -    Oksidasi lipid
                                 -    Kerusakan vitamin
                                 -    Kerusakan protein
                                 -    Oksidasi pigmen
         Uap air                 - Kehilangan / kerusakan vitamin
                                 - Perubahan organoleptik
                                 - Reaksi browning
                                 - Oksidasi lipid
         Cahaya                  - Oksidasi
                                 - Pembentukan off – flavor
                                 - Kerusakan vitamin
                                 - Kerusakan pigmen dan perubahan
                                      warna
         mikroorganisme          - Kehilangan nutrisi
                                 - Keracunan / alergi
                                 - Pembentukan racun
         Kompresi, abrasi dan - Perubahan organoleptik
         vibrasi                 - Kebocoran pada kemasan
         Bahan kimia toksik / - Perubahan organoleptik
         off – flavour           - Perubahan kimia
                                 - Pembentukan racun
II.2 Umur Simpan Produk Ikan Tuna Kaleng
      Bahan pangan pada umumnya mudah mengalami kerusakan. Sehingga untuk mengatasi masalah
tersebut diperlukan perlakuan tambahan setelah proses pembuatan. Produk ikan tuna kaleng (canned
tuna) pada beberapa perusahaan pengalengan ikan akan tetap awet tanpa penambahan bahan
pengawet karena terdapat penambahan larutan brine pada produk, penggunaan metode
pengemasan vakum serta terdapat proses sterilisasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi umur simpan produk ikan tuna kaleng (canned tuna) adalah :
1.   Kematangan ikan
     Untuk mendapatkan ikan yang matang, ikan tuna dimasak pada tahapan pemasakan (cooking)
     dengan suhu 100°C dengan waktu yang berbeda tergantung jenis dan ukuran ikan (lampiran G).
2.   Suhu Pendinginan
     Pendinginan dilakukan setelah proses sterilisasi produk. Suhu pendinginan yang digunakan saat
     adalah < 35°C. Proses pendinginan bertujuan untuk mengantisipasi mikroba tahan panas
     (termofilik) agar tidak berkembang biak. Proses ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya
     overcooking pada ikan tuna kaleng. Temperatur produk yang dikehendaki setelah pendinginan
     adalah 40°C, jika lebih dari itu,dilakukan proses penyemprotan air (showering) ± 10 menit.
3.   Masa tunggu
     Masa tunggu (holding time) adalah lamanya waktu tunggu ikan tuna baik setelah maupun setelah
     penutupan kaleng menuju proses selanjutnya. Masa tunggu ikan dari pemasakan menuju tahapan
     pembersihan awal maksimal 1 jam, dan masa tunggu ikan tuna kaleng dari penutupan kaleng ke
     sterilisasi maksimal 1 jam. Jika masa tunggu lebih dari itu, dikhawatirkan produk akan
     terkontaminasi.
4.   Penghampaan Udara (Exhausting)
     Penghampaan udara adalah proses pembuangan gas atau udara yang masih terdapat di dalam
     produk dalam kaleng. Penghampaan udara dilakukan setelah pengisian produk ke dalam kaleng,
     sebelum proses penutupan kaleng. Tujuan utama penghampaan udara adalah untuk mencapai IT
     (Initial Temperature) ± 27°C. Tujuan lain dilakukan proses penghampaan udara             adalah
     mengurangi tekanan dalam kaleng yang disebabkan oleh pemuaian pada proses pemanasan
     yang dapat menyebabkan kaleng menngembung.
5.   Ruang hampa (Headspace)
     Ruang hampa adalah batas antara permukaan larutan dan bibir kaleng yang diperlukan untuk
     pemuaian produk dan udara ketika proses sterilisasi. Rentang headspace ± 3-5mm. Semakin besar
     headspace yang terbentuk maka vakum yang terbentuk akan semakin tinggi hingga kemasan
     dapat menjadi cekung. Apabila headspace kurang maka vakum yang terbentuk kurang dan
     kaleng menggembung karena tidak dapat menahan tekanan udara yang memuai saat sterilisasi.
6.   Sterilisasi
     Sterilisasi yang diaplikasikan terhadap bahan pangan adalah sterilisasi komersial. Sterilisasi
     komersial merupakan salah satu usaha pengawetan produk menggunakan suhu tinggi dan waktu
     yang singkat dengan tujuan membunuh bakteri patogen dan pembusuk terutama Clostridium
      botulinum namun kualitas produk yaitu kandungan nutrisi dan kenampakan fisik bahan pangan
      tetap terjaga.
7.    Klorinasi
      Klorinasi adalah penambahan klorin pada semua air yang digunakan pada semua proses mulai
      dari penerimaan bahan baku hingga proses sterilisasi, kecuali pada air sebagai campuran
      larutan brine. Klorinasi berfungsi sebagai desinfektan.


II.3 Pengujian Umur Simpan
      Dalam pengujian umur simpan, bisa terdapat satu atau lebih kriteria yang digunakan untuk
menunjukkan kerusakan produk. Salah satu kriteria adalah kerusakan mikrobiologis yang
menyebabkan tidak aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Kriteria yang lain adalah perubahan fisika
seperti perubahan bau, warna, tekstur, flavor dan sebagainya yang menyebabkan sampel tidak
dapat diterima oleh panelis atau konsumen.
Syarief dan Halid (1993) menyatakan, beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan
umur simpan produk pangan adalah sebagai berikut :
1.    Studi Literatur
     Pendugaan umur simpan dengan metode ini yaitu umur simpan suatu produk pangan diperoleh dari
     literatur yang analog dengan produk pangan tersebut. Berdasarkan asumsi bahwa produk
     mempunyai proses produksi yang sama akan menghasilkan umur simpan yang hampir sama pula.
2.    Turnover Time
     Pendugaan dengan cara ini dilakukan dengan menentukan jangka waktu produk pangan selama
     berada di rak penjual sehingga konsumen memperkirakan sendiri berapa lama umur simpannya.
     Hal ini tidak diasumsikan bahwa produk masih dapat diterima untuk beberapa waktu setelah
     jangka waktu tertentu berada pada penjual.
3.    End Point Study
     Produk diambil secara random dari penjual eceran kemudian diuji di laboratorium untuk dianalisa
     kualitasnya. Dari sinilah umur simpan produk pangan dapat ditetapkan karena produk pangan
     sudah mengalami perlakuan selama penyimpanan dan penjualan.
4.    Accelerated Shelf Life Time
     Pendugaan umur simpan dengan mempercepat kerusakan produk pangan yaitu dengan
     mengkondisikan produk di luar kondisi normal dengan tujuan untuk menetapkan laju kerusakannya.
     Setelah laju reaksi penurunan mutu diketahui, umur simpan dapat diketahui dengan persamaan
     kinetika reaksi. Metode ASLT model Arrhenius banyak digunakan untuk pendugaan umur simpan
     produk pangan yang mudah rusak oleh akibat reaksi kimia, seperti oksidasi lemak, reaksi Maillard,
     denaturasi protein, dan sebagainya. Secara umum, laju reaksi kimia akan semakin cepat pada suhu
     yang lebih tinggi yang berarti penurunan mutu produk semakin cepat terjadi. Produk pangan yang
     dapat ditentukan umur simpannnya dengan model Arrhenius di antaranya adalah makanan kaleng
     steril komersial, susu UHT, susu bubuk/formula, produk chip/snack, jus buah, mi instan, frozen meat,
     dan produk pangan lain yang mengandung lemak tinggi (berpotensi terjadinya oksidasi lemak)
     atau yang mengandung gula pereduksi dan protein (berpotensi terjadinya reaksi kecoklatan).
     Karena reaksi kimia pada umumnya dipengaruhi oleh suhu, maka model Arrhenius mensimulasikan
     percepatan kerusakan produk pada kondisi penyimpanan suhu tinggi di atas suhu penyimpanan
     normal. Laju reaksi kimia yang dapat memicu kerusakan produk pangan umumnya mengikuti laju
     reaksi ordo 0 dan ordo 1 (persamaan 1 dan 2). Tipe kerusakan pangan yang mengikuti model
     reaksi ordo nol adalah degradasi enzimatis (misalnya pada buah dan sayuran segar serta
     beberapa pangan beku); reaksi kecoklatan non-enzimatis (misalnya pada biji-bijian kering, dan
     produk susu kering); dan reaksi oksidasi lemak (misalnya peningkatan ketengikan pada snack,
     makanan kering dan pangan beku). Sedangkan tipe kerusakan bahan pangan yang termasuk
     dalam rekasi ordo satu adalah (1) ketengikan (misalnya pada minyak salad dan sayuran kering);
     (2) pertumbuhan mikroorganisme (misal pada ikan dan daging, serta kematian mikoorganisme
     akibat perlakuan panas); (3) produksi off flavor oleh mikroba; (4) kerusakan vitamin dalam
     makanan kaleng dan makanan kering; dan (5) kehilangan mutu protein (makanan kering) (Labuza,
     1982).




5.    Metode Konvensional
     Metode ini dilakukan dengan menyimpan produk pada tempat penyimpanan dengan kondisi suhu
     ruang. Pengamatan dilakukan secara berkala untuk mengetahui perubahan yang terjadi selama
     penyimpanan melalui uji organoleptik untuk mengetahui batas penerimaan panelis. Pengamatan
     dihentikan sampai perubahan yang terjadi menunjukkan penurunan mutu sehingga produk tidak
     layak untuk dikonsumsi.
6.    Metode Diagram Isohidrik, Isotermik dan Isokhorik Penyimpanan
     Metode ini digunakan untuk biji-bijian dan serealia dengan menggambarkan diagram isohidrik,
     isotermik dan isokhorik. Diagram-diagram tersebut dibuat berdasarkan hasil percobaan empiris
     yang memerlukan waktu lama. Untuk dpata membuat diagram tersebut harus ditentukan dulu salah
     satu faktor mutu yang menjaid tolak ukur. Misalnya, susut bahan kering karena respirasi,
     kontaminasi jasad renik (kapang), asam lemak bebas dan viabilitas benih.


        Dalam menentukan umur simpan produk ikan tuna kaleng perusahaan pengalengan ikan akan
menyesuaikan dengan permintaan pembeli. Produk ikan tuna kaleng rata-rata mempunyai umur
simpan 5 tahun. Penentuan umur simpan tersebut didasarkan pada proses pengolahan ikan tuna
tersebut yang telah sesuai dengan prosedur atau SOP yang ditetapkan oleh keinginan pembeli yang
produsen.
        Pada salah satu perusahaan pengalengan ikan di Indonesia terdapat proses penentuan
kualitas mutu pada produk akhir namun bukan sebagai penentu umur simpan produk. Metode
penentuannya dilakukan dengan cara konvensional, produk dinkubasi selama 7 hari pada suhu 37°C
dan 8 minggu pada suhu 55°C. Suhu inkubasi 37°C dan 55°C digunakan karena berturut-turut
merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri mesofilik dan thermofilik, sehingga setelah
inkubasi dapat diketahui ada tidaknya tanda-tanda perubahan sifat fisik akibat pertumbuhan bakteri
tersebut. Setelah 7 hari dan 8 minggu tersebut, dilakukan pengujian terhadap kevakuman, pH, warna,
tekstur dan bau. Jika tidak terjadi penyimpangan maka produk tersebut diberi status accepted. Namun
jika terjadi penyimpangan maka dilakukan reject. Dengan hasil tersebut perusahaan tersebut dapat
menjamin umur simpan produk ikan tuna kaleng selama 5 tahun dari proses produksi produk.
        Metode Accelerated Shelf Life Time (ASLT) dapat diterapkan dalam penentuan umur simpan
produk ikan tuna kaleng. Metode ini dilakukan dengan mempercepat proses atau reaksi penurunan
mutu dalam suatu percobaan. Biasanya dengan menaikkan suhu penyimpanan pada beberapa tingkat
suhu. Pengujian ASLT ini dilakukan dengan pendekatan Arrhenius. Pada persamaan Arrhenius
diasumsikan bahwa energai aktivasi dan faktor eksponensial tidak berubah dengan suhu. Oleh karena
itu, jika mekanisme reaksi berubah degan suhu, energi aktivasi kemungkinan berubah. Nilai EA
merupakan ukuran sensivitas reaksi terhadap suhu,yaitu seberapa cepat reaksi akan berlangsung jika
suhu dinaikkan.
        Penentuan umur simpan metode ASLT dengan pendekatan Arrhenius dilakukan dengan cara
pengelompokan menjadi tiga. Masing-masing kelompok selanjutnya disimpan pada 3 suhu yang
berbeda biasanya di atas suhu ruang atau suhu penyimpanan. Selanjutnya diamati parameter mutu
kritis dari produk, untuk ikan tuna kaleng antara lain warna, tekstur, pH, rasa dan aroma. Data dari
analisa produk terhadap waktu diplotkan dan didapatkan persamaan regresi linier. Dari sini diperoleh
tiga persamaan linier untuk tiga kondisi penyimpanan produk Y = ax + b dimana Y = nilai
karakteristik, X = waktu penyimpanan, b = nilai karakteristik pada awal penyimpanan, a= laju
perubahan nilai karakteristik. Dari masing-masing persamaan tersebut diperoleh nilai slope (a) yang
merupakan konstanta laju reaksi perubahan karakteristik produk atau laju penurunan mutu (k), dan
dari nilai k ini dapat digunakan untuk menentukan orde reaksi.
        Untuk pendekatan Arrhenius, nilai ln k diplotkan terhadap I/T (K-1) dan didapatkan nilai
intersep dan slop dari persamaan regresi linier ln k = ln k0- (EA/R.T). Dimana ln k0 = intersep (b). EA =
energi aktivasi dan R = konstanta gas ideal (1,987 kal/mol°K). Dengan persamaan Arrhenius dapat
dihitung nilai konstanta Arrhenius (k) pada suhu (T) penyimpanan yang ditentukan. Menentukan
parameter penentu dilihat dari parameter yang mempunyai energi aktivasi terendah.
        Perlunya dilakukan ASLT pada produk adalah menurut Robertson (1993) bahwa jika
beberapa produk mempunyai umur simpan sekurang-kurangnya satu tahun, pengujian efek pada umur
simpan dari perubahan pada produk, proses atau pengemas, akan memerlukan waktu sekurang-
kurangnya sepanjang waktu umur simpannya. Perusahaan tidak dapat menunggu dalam periode yang
lama sebelum mendapatkan data apakah produk/proses/pengemas baru akan memberikan umur
simpan yang cukup, karena keputusan lain memerlukan waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Diperlukan beberapa cara untuk mempercepat waktu penentuan umur simpan produk salah satunya
ASLT.
                                        BAB III PENUTUP




III.1 Kesimpulan

    Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan umur simpan produk pangan adalah
    sebagai berikut :
       Studi Literatur
      Turnover Time
      End Point Study
      Accelerated Shelf Life Time
      Metode Konvensional
      Metode Diagram Isohidrik, Isotermik dan Isokhorik Penyimpanan
    Metode Accelerated Shelf Life Time (ASLT) dapat diterapkan dalam penentuan umur simpan
    produk ikan tuna kaleng.

    Metode penentuan umur simpan ikan tuna kaleng secara konvensional dengan cara produk
    dinkubasi selama 7 hari pada suhu 37°C dan 8 minggu pada suhu 55°C. Setelah 7 hari dan 8
    minggu tersebut, dilakukan pengujian terhadap kevakuman, pH, warna, tekstur dan bau. Jika
    tidak terjadi penyimpangan maka perusahaan tersebut dapat menjamin umur simpan produk ikan
    tuna kaleng selama 5 tahun dari proses produksi produk.
                                           DAFTAR PUSTAKA




Arpah, M dan Syarief, R. 2000. Evaluasi Metode-Metode Pendugaan Umur Simpan Pangan dari
   Difusi Hukum Fick Undirectional.Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. PATPI, IPB Bogor

Astawan,     M.      2007.      Awas,       Bencana       dalam       Makanan                 Kadaluarsa.
    http://www.depkes.go.id/index.php?option=3. Diakses 27 April 2011

Davis, C. 2003. Using Reaction Kinetics to Study Factor Affecting the Quality and Shelf Life of Product.
   www.wmrc.com/bussiness briefing.pdf

Ellis, M.J. The Methodology of Shelf Life Determination. Di dalam Shelf Life Evaluation of Food. Man,
      D dan A. Jones.2002. Hal.27. Aspen Publisher, Inc. Gaithersburg. Maryland

Robertson, G.L. 1993. Food Packaging Principle and Practice. Marcell Dekker, Inc. New York.

Syarief, R. dan Halid, Y. 1993. Teknologi Pengemasan Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan
   Gizi. IPB. Bogor

Winarno, F. G. 1997. Sterilisasi Komersial Produk Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Labuza,T.P. 1982. Shelf Life Dating of Foods. Food and Nutrition Press Inc., Westport, Connecticut.
                 TUGAS PENGEMASAN:


PENGUJIAN UMUR SIMPAN PADA
  PRODUK IKAN TUNA KALENG




                              OLEH:
       DIAN IKA RACHMAWATI – 0811010112
              ...........................................
            ..............................................
           .................................................
            ..............................................




    PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
       JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
          FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
               UNIVERSITAS BRAWIJAYA
                            MALANG
                          APRIL, 2011

								
To top