ekstrak jahe

Document Sample
ekstrak jahe Powered By Docstoc
					EKSTRAK JAHE

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

        Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman rempah dan obat yang sudah lama
dikenal masyarakat Indonesia. Selain digunakan sebagai bumbu penyedap masakan dan
ramuan tradisional, tanaman ini juga menjadi komoditas perdagangan sebagai bahan industri
obat obatan, kosmetik, minuman, makanan ringan dan kebutuhan dapur (Suharyon dan
Rozak, 1997). Jahe Indonesia diekspor ke beberapa negara tujuan antara lain Jepang, Emirat
Arab, Malaysia dan banyak negara lainnya dalam bentuk jahe segar, jahe kering dan olahan
(Paimin dan Murhananto, 1999).

        Jahe dikenal baik di masyarakat Indonesia sebagai salah satu rempah. Hampir semua
wilayah di tanah air umumnya memanfaatkan jahe sebagai salah satu bahan masakan penting.
Dalam taksonomi tanaman, jahe (Zingiber officinale) termasuk dalam divisi Spermatophyta,
subdivisi Angiospermae, klas Monocotyledonae, ordo Zingiberales, famili Zingiberaceae, dan
genus Zingiber.

        Genus Zingiber sendiri terdiri dari sekitar 100 spesies, yang tersebar di daratan tropis
Asia, di antaranya yang banyak memiliki manfaat adalah Zingiber officinale atau yang kita
kenal sebagai Jahe, Zingiber zerumbet (lempuyang gajah), Zingiber aromaticum (lempuyang
wangi), dan Zingiber purpureum yang kita kenal sebagai bangle.

        Jahe dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan ginger, ada dalam bahasa Bengali,
jeung, ciang, atau jiang dalam bahasa Cina, zenzero dalam bahasa Italia, dan jengibre dalam
bahasa Spanyol. Di beberapa daerah di Indonesia juga dikenal dengan sebutan aliah
(Sumatra), jahi (lampung), jae (Jawa, sasak), jhai (Madura), cipakan (Bali), sipados (Kutai),
dan pese (Bugis).

        Menurut data dari Bagian Riset dan Pengembangan PT Sido Muncul, jahe
mengandung satu sampai empat persen minyak atsiri dan oleoresin. Komposisi minyak yang
terkandung bervariasi tergantung dari geografi tanaman berasal. Kandungan utamanya yaitu
zingiberene, arcurcumene, sesquiphellandrene, dan bisabolene. Juga memiliki kandungan
Zingiberol, Zingiberene, Phellandrene, Curcumene, Borneol, Champhene, Citral, Garanial,
Galanolactone, Furanogermenone, Pipecolic Acid, Aspartic Acid, Glutamic Acid, dll.
Secara tradisional jahe digunakan sebagai peluruh dahak atau obat batuk, peluruh keringat,
peluruh angin perut, diare, dan pencegah mual. Baik untuk menghilangkan mual dan
kembung karena perjalanan jauh (mabuk darat, mabuk udara, atau mabuk laut) bahkan pada
beberapa buku teks pengobatan menganjurkan wanita hamil agar mengonsumsi jahe untuk
menghilangkan rasa mual dan muntah selama kehamilan. Pembuktian ilmiah telah dilakukan
di Inggris yang menunjukkan jahe efektif mengurangi mual bahkan mual yang timbul setelah
operasi.

       Penelitian di Denmark membuktikan bahwa pemberian jahe pada pasien rematik dan
gangguan muskuloskleletal sangat bermanfaat dalam menghilangkan nyeri dan gejala yang
berhubungan dengan rematik. Beberapa pengujian telah memberikan hasil yang baik dengan
menghilangnya rasa nyeri, sakit serta peradangan/pembengkakan. Dan, pada percobaan in
vitro, jahe Indonesia ternyata mengandung bahan antirhinovirus yaitu beta-
sesquiphelandrone.

       Diketahui bahwa rhinovirus adalah salah satu virus penyebab utama penyakit
common cold atau influenza. Kalau diperhatikan banyak obat-obat OTC (obat bebas) yang
beredar baik di Indonesia maupun di Eropa mengandung ekstrak Jahe. Mengunyah jahe dapat
merangsang pengeluaran air liur dan cairan pencernaan, juga mengurangi mual dan muntah.
Tradisi ngemut jahe ini tetap dilakukan sampai sekarang pada beberapa tukang masak
profesional Cina yang selalu mengunyah jahe untuk mencegah terjadinya mual karena
terpapar dalam waktu lama dengan bau masakan yang kuat. Jahe bisa dikonsumsi dalam
bentuk teh untuk memperbaiki pencernaan, menghilangkan gas dalam saluran pencernaan,
dan merangsang nafsu makan.

       B. Identifikasi Masalah

       Identifikasi Masalah dari praktikum ini adalah:

       1.        Dapatkah dilakukan berbagai uji pendahuluan pada rimpang jahe untuk
                 mengetahui kandungan senyawa aktifnya?
       2.        Zat aktif apakah yang terdapat pada rimpang jahe?
       3.        Dapatkah rimpang jahe diekstraksi dengan cara dimaserasi?
       4.        Dapatkah maserat rimpang jahe difraksinasi dengan cara corong pisah?
5.   Dapatkah maserat rimpang jahe dipisah-pisahkan menjadi partisi-partisinya
     dengan cara kromatografi kolom?
6.   Mengidentifikasi adanya zat kimia dalam jamu ?


     C. Pembatasan masalah Praktikum ini dibatasi pada uji identifikasi
     kandungan zat aktif yang terdapat pada rimpang jahe.
     D. Perumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perumusan masalahnya adalah
     1. Bagaimanakah uji pendahuluan pada rimpang jahe untuk mengetahui
     kandungan senyawa aktifnya?
     2. Apakah ekstrak rimpang jahe dapat dipisah-pisahkan menjadi fraksi-
     fraksi yang terpisah?
     Kandungan kimia apakah yang terdapat dalam rimpang jahe?
     Mengidentifikasi adanya zat kimia dalam jamu ?
     E. Tujuan Praktikum
     Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai
     adalah:
     1. Tujuan Umum
               1. Untuk mengetahui kandungan kimia apakah yang terdapat
                  dalam rimpang
               2. jahe.
     ii. Mengidentifikasi adanya zat kimia dalam jamu ?


         2. Tujuan Khusus
         a. Untuk mengetahui apakah ekstrak rimpang jahe dapat dipisah-
         pisahkan menjadi fraksi-fraksi yang terpisah.
         b. Bagaimanakah uji pendahuluan pada rimpang jahe untuk
         mengetahui kandungan senyawa aktifnya?


         F. Manfaat Praktikum
         Hasil praktikum ini diharapkan bermanfaat bagi:
         1. Masyarakat
         a. memberikan informasi ilmiah tentang manfaat tanaman obat yang
         bermanfaat bagi ksehatan.
b. Untuk dijadikan masukan dan penambahan pengetahuan masyarakat
tentang kandungan dan penggunaan rimpang jahe sebagai alternatif
dalam pengobatan tradisional.
2. Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang penggunaan
obat-obatan tradisional terutama rimpang jahe sebagai alternatif dalam
pengobatan tradisional.
3. Pengembangan Ilmu
Sebagai khasanah perpustakaan dan referensi bagi peneliti lain dalam
melakukan penelitian tentang penggunaan jahe sebagai obat
tradisional.




BAB II
KERANGKA TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Klasifikasi tanaman jahe (Zingiber officinale)
a. Sistematika tumbuhan
• Divisi : Pteridophyta
• Sub divisi : Angiosperma
• Kelas : Monocotyledoneae
• Bangsa : Scitamineae
• Suku : Zingiberaceae
• Marga : Zingeber
• Jenis : Zingiber officinale


b. Karakteristik tanaman
• Tanaman tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 0,4 – 1 m
• Berumur tahunan
• Batangnya merupakan batang semu yang tersusun dari helaian daun,
berbentuk ramping, bulat dan agak lunak
• Jahe tumbuh tegak dan merumpun


c. Morfologi
Daun dan Bunga
• Daunnya berbentuk langsing membulat dengan ujung melancip
• warna hijau tua dengan pertulangan daun berwarna lebih muda yang
terlihat jelas
• Pertumbuhan daunnya menyirip berseling
• Bunga keluar dari permukaan tanah, muncul dari rimpang samping
bila tanaman sudah cukup dewasa
• Tinggi bunga biasanya hanya seperempat kali tinggi tanaman.
• Tandan bunga terdiri atas kumpulan bunga-bunga kecil berbetuk
kerucut.
• Warna bunga putih kekuningan


Rimpang
• Akarnya berbentuk rimpang, berbau harum dan pedas
• Rimpang jahe bercabang rapat, panjang membulat agak pendek.
Rimpang jahe bercabang rapat, panjang membulat agak pendek.
• Kulit luar rimpang berwarna cokelat kotor
• Jika rimpang dibelah, tampak daging rimpang berwarna kuning,
beraroma khas jahe yang tajam dan agak pedas.
• Rimpang jehe emprit terlihat lebih merah dibandingkan jahe biasa


Berdasarkan aroma, bentuk dan besarnya rimpang dikenal tiga jenis
jahe :
• jahe besar, jahe gajah atau jahe badak,
• jahe kecil atau lebih sering disebut jahe emprit
• jahe merah atau lebih dikenal dengan jahe sunti


d. Nama Daerah
Begitu akrabnya kita, sehingga tiap daerah di Indonesia mempunyai
sebutan sendiri-sendiri bagi jahe. Nama-nama daerah bagi jahe tersebut
antara lain halia (Aceh), bahing (Batak karo), sipadeh atau sipodeh
(Sumatera Barat), Jahi (Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhai
(Madura), pese (Bugis), lali (Irian), dan sipados (Kutai).


e. Kandungan Kimia
Rimpang jahe memiliki kandungan banyak zat aktif, seperti:
* Minyak atsiri 2-3% * Zingberin
* Kamfena * Limonene
* Borneol * Sineol
* Zingiberal * Linalool
* Geraniol * Gingerin.
* Kavikol * Zingiberen
* Zingiberol * Gingerol
* Shogaol * Minyak dammar
* Pati * Asam malat
* Asam oksalat
Minyak atsiri dalam jahe
• Minyak atsiri merupakan campuran senyawa organik mudah
menguap (volatile), tidak larut air dan mempunyai bau khas.
• Komponen utama minyak atsiri yang menyebabkan bau harum adalah
zingiberen dan zingiberol
• Komponen volatile minyak atsiri tersebut yaitu : seskuiterpen,
monoterpen dan monoterpen teroksidasi.
• Komponen minor minyak atsiri antara lain bisabolene, curcumene,
camphene, citral, cineol, borneol, linaoll, methylheptenone


Komponen non volatil jahe:
Komponen non volatile jahe yaitu oleoresin merupakan senyawa fenol
dengan rantai karbon samping yang terdiri dari tujuh atau lebih atom
karbon seperti :
* Gingerol, * Gingerdiols
* Gingerdiones, * Dihidrogengerdiones
* Shogaol


f. Kegunaan
Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak,
pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biscuit,
kembang gula dan berbagai minuman. Jahe yang digunakan sebagai
bumbu masak terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan,
memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini
dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan
usus oleh minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe. Minyak jahe
berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan
mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau
pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang
nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas
usus serta membantu fungsi jantung.
Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati
selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis.
Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui
keringat.
Penelitian modern telah membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat
jahe, antara lain :
• Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang
pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah,
akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan
kerja jantung memompa darah.
• Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan
yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan
lemak.
• Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah
penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah,
penyebab utama stroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga
membantu menurunkan kadar kolesterol.
• Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu
senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga
timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabok perjalanan.
• Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan
membantu mengeluarkan angin.
• Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek
merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.
Jahe sebagai Obat Praktis Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami
dan dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala, dan migren. Caranya,
minum wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde,
mengulum permen jahe, atau menambahkan jahe saat pada soto,
semur, atau rendang.
Daun jahe juga berkhasiat, antara lain dengan ditumbuk dan diberi
sedikit air dapat dipergunakan sebagai obat kompres pada sakit kepala
dan dapat dipercikan ke wajah orang yang sedang menggigil.
Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan direbus dalam air mendidih
selama lebih kurang ½ jam, kemudian airnya dapat diminum sebagai
obat untuk memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas di
dalamnya, mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam.
Jahe juga digunakan dalam industri obat, minyak wangi dan jamu
tradisional. Jahe muda dimakan sebagai lalaban, diolah menjadi asinan
dan acar. Disamping itu, karene dapat memberi efek rasa panas dalam
perut, maka jahe juga digunakan sebagai bahan minuman seperti
bandrek, sekoteng dan sirup. Jahe yang nama ilmiahnya Zingiber
officinale sudah tak asing bagi kita, baik sebagai bumbu dapur maupun
obat-obatan.




2. Isolasi Simplisia
Isolasi simplisia adalah pemisahan suatu kandungan simplisia untuk
memperoleh zat aktif yang murni atau yang tidak mengandung zat
yang inert.
Simplisia adalah bahan alami yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa
simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelican atau mineral.




BAB III
METODELOGI PENELITIAN


A. Isolasi Simplisia
Alat dan bahan
Pisau, papan, waterbath, tabung reaksi, corong, pipet, wadah tahan
panas.
Simplisia (rimpang Jahe merah), kloroform 0,05 N, asam sulfat 2 N,
pereaksi Meyer, methanol, logam Mg, etanol, FeCl3, pereaksi
Lieberman Bouchardat, aquadest.


Cara kerja
1. Pengumpulan simplisia
a. Pengumpulan simplisia yang akan digunakan
b. Sortasi simplisia dari pengotornya (seperti: tanah atau pasir), dengan
cara dikupas dan di cuci bersih
c. Perajangan dengan menggunakan pemotong
d. Pengeringan, dengan cara diangin-anginkan dalam udara terbuka.
2. Uji Pendahuluan
a. Pemeriksaan alkaloid dengan cara Calvenor dan Fitzgerald
a). Siapkan 2-4 gram sampel, digerus dengan pasir dan 10 ml FeCl3,
b). Tambahkan 10 ml amoniak, 5 ml kloroform 0,05 N saring ke dalam
tabung reaksi.
c). Tambahkan 0,5 ml asam sulfat 2 N kocok selama 1 menit
d). Diamkan, dan terdapat 2 lapisan asam, lapisan asam tersebut
diambil lalu dibagi 2:
Lapisan asam pertama tambahkan pereaksi Mayer, maka timbul
endapan putih
Lapisan asam kedua tambahkan pereaksi Bouchardat, maka akan
timbul warna putih
b. Pemeriksaan Flavonoid
a). Siapkan 2 gram sampel tambahkan methanol, kemudian dipanaskan
lalu disaring panas dan pekatkan di waterbath.
b). Tambahkan HCl pekat dan logam Mg, hasil positif akan
menunjukkan warna merah.
c. Pemeriksaan terpen atau steroid, dan fenol atau saponin
a). Siapkan 2 gram sampel tambahkan 25 ml etanol, kemudian
panaskan selama 25 menit
b). Saring panas-panas filtrat lalu uapkan di waterbat sampat kering.
c). Sisanya ditriturasi tambahkan kloroform
d). Bagian yang tidak larut dalam kloroform tambahkan air
e). Terdapat 2 lapisan, yaitu lapisan air dan lapisan kloroform,
pisahkan.
Ambil lapisan air:
o Untuk uji Saponin: lapisan air dimasukkan ke dalam tabung gelas
dikocok, terbentuk busa yang mantap setinggi 3 cm yang tidak akan
hilang selama 15 menit.
o Untuk uji Fenol: lapisan air ditambahkan HCl dan FeCl3, hasil
positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah.
Ambil lapisan kloroform
o Ambil beberapa tetes lapisan kloroform lalu keringkan dalam plat
tetes tambahkan pereaksi Lieberman Bouchardat (10 tetes asetat
anhidrat) dan tambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat maka akan
terbentuk warna hijau sampai biru untuk terpen dan warna merah untuk
steroid.
d. Pemeriksaan Tanin


B. Ekstraksi
Alat dan Bahan
Toples, wadah untuk maserat, batang pengaduk, ayakan,
kain/pembungkus warna gelap (kertas cokelat), Vakum rotary
evaporator.
Simplisia, pelarut (etanol), aguadest, es batu.
Prosedur kerja
1. Penetapan derajat kehalusan serbuk sesuai dengan metode yang
digunakan
a. Rajang sampel sesuai dengan ukuran yanga akan digunakan dalam
metode praktikum.
b. Ayak dengan nomor ayakan yang sesuai
2. Pengekstrakan dengan cara maserasi
a. Masukan simplisia dalam toples kemudian rendam dengan pelarut
etanol sampai terndam.
b. Tutup toples dengan kain atau kertas pembungkus warna gelap agar
terlindung dari cahaya.
c. Aduk minimal 2 kali sehari untuk meratakan konsentrasi larutan di
luar butir simplisia, sehingga dengan pengadukan tersebut terjaga
adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara
larutan didalam sel dengan larutan diluar sel.
d. Setelah 2 hari pisahkan antara sari dengan ampasnya dengan cara
penyaringan.
3. Pemekatan dengan vakum rotary evaporator
a. Masukan maserat ke dalam labu
b. Masukan aqua ke dalam waterbath secukupnya, atur suhu aqua di
waterbath di atas titik didih pelarut.
c. Nyalakan speker evaporator dengan menekan tombol ON pada stop
kontak.
d. Tekan tombol pengatur untuk memutar labu.
e. Nyalakan vakum
f. Tunggu sampai proses berakhir dan cairan penyari sampai habis,
usahakan tidak terlalu pekat agar memudahkan dalam proses
pengambilan ekstrak kental dari labu.
g. Matikan alat.


C. Fraksinasi
Alat dan Bahan
Corong pisah, gelas ukur, erlenmeyer, botol vial, Kromatografi kolom,
eluen
H2SO4, CHCl3, methanol
Prosedur kerja
1. Metode corong pisah
a. Cara kerja lihat dalam bagan




b. Semua proses dilakukan dalam corong pisah
c. Setelah didapat beberapa fraksi, fraksi-fraksi tersebut disimpan
dalam botol
d. Simpan
2. Metode kromatografi kolom
a. Ekstrak yang telah kering dilarutkan dengan eluen
b. Buat fase diam dalam kolom dengan silika gel
c. Kemudian ditempatkan pada kromatografi kolom
d. Hasil kromatografi ditampung kedalam vial


D. Kromatografi
Alat dan Bahan
Lampu UV, chamber, pipa kapiler, plat silica gel
Fraksi-fraksi, eluen


Prosedur kerja
1. Fraksi-fraksiyang ada masing-masing diambil dengan pipa kapiler
2. Kemudian masukkan ke dalam bejana atau chamber yang sudah
jenuh dengan eluen sampai silika gel sedikit terendam, tutup chanber
3. Biarkan sampai eluen merambat naik hingga garis akhir
4. Setelah itu diangkat dan dibiarkan mengering
5. Lakukan pendeteksian yaitu dengan disinari oleh lampu UV untuk
melihat bercak yang timbul, dan setiap bercak yang timul atau
terdeteksi dilingkari
6. Amati warna yang ditimbulkan
7. Hitung harga Rf dengan rumus
Rf = jarak titik pusat spot noda dari titik awal = X
Jarak garis depan dari titik awal = Y


E. Pemanfaatan KLT dalam Identifikasi Pemalsuan Jamu
Alat dan Bahan
Mikroskop, chamber, lampu UV, pipa kapiler, objek glass, plat silika
gel
Jamu, methanol, pembanding kimia, eluen


Prosedur kerja
1. Bukalah kantong jamu dengan hati-hati
2. Amati secara visual dan mikroskopis kemungkinan dijumpai partikel
asing dalam jamu tersebut, dan apabila dijumpai adanya kristal,
gambarlah bentuk kristal yang diamati
3. larutkan 100 mg jamu dalam 2 ml metanol
4. buatlah eluen yang sesuai untuk bahan sintetik yang dicurigai
5. totolkan larutan sampel jamu pasar dan pembanding kimia ke dalam
plat KLT
6. elusi sampai garis besar terbasahi
7. keringkan plat
8. amati timbulnya bercak di bawah sinar UV, dan lingkari bercak
tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
I. Hasil
Pada praktikum kami, kami menggunakan simplisia JAHE (Zingiber
officinale) sebagai bahan yang digunakan pada penelitian ini. Metode
yang kami gunakan adalah metode maserasi dengan cairan penyari
adalah etanol. Dari hasil praktikum kami mengidentifikasi bahwa jahe
mengandung senyawa :
1. Alkaloid
2. Flavonoid
3. Fenol
4. Steroid
Namun dalam literature lain tumbuhan jahe mengandun senyawa lain
yaitu :
- Minyak atsirih
- Gingerol
- Zingerol
- Resin
- Pati
- Gula
- Karbohidrat
- Protein
- Lemak
- Serat dan
- Abu


A. Isolasi Simplisia
Pada praktikum isolasi simplisia maka didapatkan zat aktif yang
dikandung oleh rimpang jahe adalah:
1. Alkaloid
2. Flavonoid
3. Fenol
4. Steroid


B. Ekstraksi
Pada praktikum ekstraksi, Karena kami mengestraksi rimpang jahe,
maka cara penyarian yang kami lakukan adalah maserasi selama 3 hari
dengan pengadukan dilakukan pada pagi dan sore hari.
Hasil dari ekstraksi adalah maserat kental sebanyak 30 ml.


C. Fraksinasi
Pada praktikum fraksinasi maka didapatkan fraksi-fraksi zat aktif yang
dikandung oleh rimpang jahe adalah:
1. Fraksi I: ekstrak polar
2. Fraksi II: ekstrak basa : alkaloid
3. Fraksi III: ekstrak polar ; methanol: alkaloid kuartener dan N-Oksida


D. Kromatografi
Didapat nilai Rf:
Rf T1 = 4,7 = 0,94
5
Rf T2 = 4,9 =0,98
5
Rf F1 = 3,85 =0,77
5
Rf F1 = 4,9 =0,98
5
Rf F2 = 4,9 5= 0,99
5
Rf A1 = 0,65 =0,13
5
Rf A1 (f3) = 0,5/5 =0,1
Rf A2 =0,9 =0,18
5
Rf A2 =0,9 =0,18
5
E. Pe manfaatan KLT dalam Identifikasi Pemalsuan Jamu
Tidak terdapat kenaikan eluen. Jadi kami simpulkan bahwa jamu itu
tidak mengalami pemalsuan.




II. PEMBAHASAN
A. Isolasi
Sebagai bahan simplisia, tumbuhan obat dapat berupa tumbuhan liar
ataupun tumbuhan budidaya. Tumbuhan liar umumnya kurang baik
untuk dijadikan bahan simplisia, jika dibandingkan dengan hasil
budidaya, karena simplisiaayang dihasilkan mutunya tiadak seragam.
Hal ini disebabkan oleh :
1. Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen tidak tepat dan
beragam. Ummur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen
berpengaruh pada kadar senyawa aktif, sehingga mutu simplisisa yang
di hasilkan sering tidak seragm
2. Jenis tumbuhan yang di panen sering kurang diperhatikan, sehingga
simplisia yang diperoleh tidak sergam mutunya, wwalaupun sepintas
kelihatannya sama. Sering juga terjadi kekeliruan dalam menetapkan
jenis tumbuhan, terutama untuk jenis-jenis tumbuhan dalam satu marga
yang sering kali mempunyai bentuk morfologi yang sama.
3. Lingkungan tempat tumbuh yang berbeda sering mengakibatkan
perbedaan kadar kandungan zat aktif. Faktor lingkungan yang
berpengaruh antara lain : tingi tempat, keadaan tanah dan cuaca.
Untuk meningkatkan mutu hasil budidaya tumbuhan obat dapat
ditempuh dengan cara :
a. Bibit dipilih uuntuk mendapatkan tumbuhan unggul, sehingga
simplisia yang dihasilkan memiliki kandungan senyawa aktif yang
oftimal.
b. Pengolahan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan perlindungan
tumbuhan dilakukan dengan seksama.
c. Pelaksanaan panen pada umur yang seragam dari tumbuhan obat,
pemilihan lingkungan tempat tumbuh dan pemilihan jenis tumbuhan
obat yang tepat.
Isolasi adalah pemisahan suatu kandungan simplisia untuk
memperoleh zat aktif yang murni. Sudah ratusan tahun yang lalu,
manusia mengetahuiu adanya ―Quinta essentia ‖yang terdapat dalam
tumbuhan, hewan dan mineral. Manusia memerlukan quinta essential,
maka mereka berusaha untuk memisahkan untuk memisahkannya dari
tumbuhan atau hewan tersebut. Pada tauhun1300 Raymudus Lullius
menarik quintq essential dengan anggur yang dimasukkan dalam botol
dan dibiarkan diluar rumah agar terkena sinar ultra violet yang dapat
merusak quinta essential tersebut, maka penarikan berikutnya dijaga
jangan sampai terkena sinar matahari. Di Indonesia penarikan sari
tersebut dilaksanakan dengan memipis yaitu melumatkan bahan
dengan bantuan air, pada alat yang disebut pipisan, kamudian diperas
dan ampsnya dibuang.
Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang apat larut dari bahan
yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari
mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti
serat, karbohidrat, protein da lain-lain. Zat aktif yang terdapat di dalam
simplisia dapat di golongkan kedalam alkaloida, glikosida, flavonoid
dan lain-lain. Adapun proses penyarian dapat dilakukan melalui tahap-
tahap sebagai berikut: pembuatan serbuk, pembasahan, panyarian dan
pemekatan. Secara umum penyarian dapat dilakukan dengan
menggunakan metode ekstraksi antara lain: Infundasi, maserasi,
perkolasi dan destilasi uap. Namun dari ketiga macam metode tersebut
dapat dilakukan modifikasi seperti misalnya maserasi dapat di
modifikasi dengan digesti (bantuan dengan pemanasan).
Tahap Pembuatan
Pengupulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dala suatu simplisia berbeda-beda yang
tergantung pada beberapa faktor, antara lain : bagian tumbuhan yang
digunakan, umur tumbuhan atau bagia tumbuhan pada saat panen,
waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat
hubungannya dengan pembentuka senyawa aktif didalam bagian
tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat
bagian tumbuhan tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah
yang terbesar.
B. Ekstraksi
Agar dapat diperoleh simplisia dengan bibit terbaik, terhadap hasil
panen perlu dilakukan sortasi. Ada dua cara sortasi, yaitu sortasi basa
dan sortasi kering.
a. Sortasi basa
Sortasi basa dilakukan untuk memisahkan kotoran-kkotoaran atau
bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada
simplisisa yang dibuat dari akar tumbuhan obat, bahan-bahan asing
seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yangtelah rusak, serta
pengotor lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-
macam mikroba dalam jumlah tinggi, oleh karena itu pembersihan
simplisia dari tanah yang terbawa dapat mengurangi jumlah mikroba.


Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilnagkan tanah dan pengotpr lainnya
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air
bersih mislnya air dari mata air, air sumur, atau air PAM. Bahan
simplisia yang mengandung zat yang mudah mengandung zat yang
larut dalam air mengalir, agar pencucian dilakukan dalam waktu yang
sesingkat mungkin.
Cara sortasi dengan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah
mikroba wal simplisia. Mmisalnnya jika air digunakan kotor, maka
jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia akan dapt bertambah.
Bakteri yang umumnya yang terdapat dalam air adalah pseudomonas.
SP, proteus. SP, mikrococus.SP, bacillus. SP, streptococcus. SP.dan
lain-lain.
Pada simplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan
kulit luar, untuk mengurangi jumlah mikroba karena sebagian besar
mikroba biasanya terdapat pada bagian luar tumbuhan. Bahan yang
telah dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan pencucian jika
pengupasan dilakukan dengan baik.


Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan. Tumbuhan yang baru di ambil jangan langsung dirajang
tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama satu hari. Prajangan dapat
dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga
diperoleh irisan tipas atua potongan dengan ukura yang dikehendali.
Semakin tipis bahan yang di keringkan semkin cepat penguapan air,
sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang
terlalu tipis juga akan menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat
berkhasiat yang mudah menguap sehingga mempengaruhi komposis,
baud an rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia seperti
temukawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya
dihindari peraajngan yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya
kadar minyak atsirih. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba
tidak bertambah. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk
mengurangi pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau
.
Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak
mudah rusak sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.
Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan pada dasarnya
dikenal dua cara pengeringan yaitu : pengeringan alami dan buatan.
Dengan mengurangi kadar air dan penghentian reaksi enzimatis akan
dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masi
tersisah dalam simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media
pertumbuhan kapang dan zat renik lainnya.
Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja menguraikan senyawa
aktif sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masi
mengadung air tertentu. Pada tumbuhan yang masi hidup pertumbuhan
kapang dan reaksi enzimatis yang merusak itu tidak terjadi karena
adannya ketidak seimbangan antara proses metabolism, yakni proses
sintesis, transformasi dan penggunaan isi sel. Keseimbangan ini hilang
setelah sel mati.


a. Pengeringan Alami
- Dengan panas sinar matahari langsung
Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tumbuhan yang relative
keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya yang mengandung
senyawa aktif yang relative stail. Pengeringan dengan sinsr kmatahari
merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan
cara membiarkan bahan yang telah dipotong-potong diudara terbuka
dialas tampah, tanpa kondisi yang terkontrol, seperti suhu, kelembaban
dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengerinngan sangat
tergantung pada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan
didaerah yang udaranya panas serta kelembabannya rendah.
- Dengan angin-angin
Dengan angin-angin dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian
tumbuhan yang lunak seperti bunga, daun dan sebagainya yang
mengandung senyawa aktif aygn mudah menguap. Pada kedua cara
tersebut, tempat pengeringan mempunyai dasar berlubang-lubang
seperti anyaman bamboo, kain kasa dan sebagainya. ;etak pengeingan
juga diatur sehingga memungkinkan terjadinya aliran udara dari atas
kebawah.
b. Pengeringan buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan
cara alami dapat diatasi dengan melakukan pengeringan buatan dengan
menggunakan suatu alat mesin pengering yang suhu, kelembaban,
tekanan dan aliran udara dapat diatur.
b. Sortasi Kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir
pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda
asing seperti bagian tumbuhan yang tidak diinginkan dan pengotor lain
yang masih ada dan tertinggal pada simplisis kering.


c. Pembuatan Serbuk
Agar memudahkan proses penarikan zat, maka simplisia harus dibuat
dalam bentuk yang lebih kecil, yaitu dengan pembuatan serbuk. Zat
aktif yang berada di dalam sel ditarik kedalam cairan penyari sehingga
terjadi larutan zat aktif dalam larutan cairan penyari tersebut.
Pada umumnya penyarian akan lebuh baik bila permukaan serbuk
bersentuhan lebih luas dengan cairan penyari. Namum dalam
pelaksanaannya tidak selalu demikian karena penyarian masih
tergantung sifat fisik dan kimia simplisia yang bersangkutan. Kendala
yang akan ditemui bila membuat serbuk simplisia yang terlalu halus
akan memberikan kesulitan pada proses penyarian itu sendiri. Hal ini
Nampak pada proses perkolasi, bila serbuk terlalu halus maka serbuk
tidak mau turun. Selain itu, serbuk yang terlalu halus butir-butir halus
tersebut akan membentuk suatu suspensi yang sulit dipisahkan dengan
penyarian. Ddengan demikian hasil penyarian tidak murni lagitetapi
tercampur dengan partikel-partikel halus tadi.


d. Pembasahan
Dinding sel tumbuhan terdiri dari selulosa. Serabut selulosa pada
simplisia segar dikelilingi oleh air. Jika simplisia tersebut di keringkan
maka air akan keluar dari sel terjadi pengerutan sehingga terbentuk
pori-pori yang terisi udara. Bila serbuk simplisia dibasahi, maka serbuk
simplisia tersebut akan dikelilingi oleh cairan penyari dan
mengembang kembali.
Pembasahan serbuk dimaksudkan untuk memberikan kesempatan
sebesar-besarnya pada cairan penyari yang masuk ke dalam seluruh
pori-porisimplisia sehingga mempermmudah penyarian selanjudnya.
e. Penyarian
Pada waktu pembuatan serbuk simplisia, beberapa sel ada yang
dinding sel nya pecah dan ada jjuaga yang masih utuh. Sel yang sudah
pecah maka tidak ada penghalang pembebasan sari, namun sel yang
masih utuh zat aktif dalam sel harus melewati dinding sel untuk keluar.
Peristiwa osmosa dan difusi sangat berpengaruh pada proses penyarian
tersebut.
Penyarian dipengaruhi oleh: 1) derajat kehalusan, 2) perbedaan
konsentrasi yang terdapat mulai dari pusat butir sampai ke permukaan
simplisia.




Cairan Penyari
Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak factor.
Cairan penyari yang baik harus memenuhi criteria berikut ini:
1. Murah dan mudah diperoleh
2. Stabil secara fisika dan kimia
3. Tidak bereaksi
4. Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar
5. Selektif yaitu hanya menarik zat yang berkhasiat yang dikehendaki
6. Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
7. Diperbolehkan oleh peraturan
Pelarut organic kurang digunakna dalam penyarian, kecuali dalam
proses penyarian tertentu. Salah satu contoh eter minyak tanah
digunakan untuk menarik lemak dari serbuk simplisia sebelum proses
penyarian.
Untuk penyarian ini Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai
cairan penyari adalah air, etanol, etanol-air atau eter. Penyarian pada
peusahaan obat tradisional masi terbatas pada penggunaan penyari air
etanol atau etanol air.


Air dipertimbangkan sebagai penyari karena :
1. Murah dan mudah diperoleh
2. Stabil
3. Tidak mmudah menguap
4. Tidak mudh terbakar
5. Tidak beracun
6. Alami


Kerugian menggunakan air sebagai penyari:
1. Tidak selektif
2. Saari dapat ditumbuhi mikroorganisme dan cepat rusak
3. Untuk pengeringan diperlukan waktu lama
Air disamping melarutkan garam alkaloid, minyak menguap, glikosida,
tannin dan gula, juga melarutkan gom, pati, protein dan enzim. Dengan
demikian penggunaan air sebagai cairan penyari kurang
menguntungkan. Disamping zat aktif ikut tersari juga at lain yang tidak
diperlukan.
Etanol dipertimbangkan sebagai cairan penyari karena :
1. Lebih selektif
2. Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol
3. Tidak beracun
4. Netral
5. Absorbsinya baik
6. Etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan
7. Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit




Kerugiannya bahwa etanol harganya libih mahal.


Cara penyarian :
a. Infundasi
Infundasi adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia
dengan air pada suhu 90oC selama 15 manit. Infundasi merupakan
proses penyarian yang paling umum digunakan untuk menyaari
kandungan zat aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati.
Penyarian dengan cara ini menghasikan sari yang tidak stabil dan
mudah tercemar oleh kuman dan kapng sehingga sari yang diperoleh
dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
Infuse dibuat dengan cara :
a. Membasahi bahan bakunya biasanya dengan air 2 kali bobotbahan,
untuk bunga 4 kali bobot, unutk karagen 10 kali bobot bahan.
b. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit
pada suhu 90oC
c. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambah
bahan kimia misalnya : asam sittrat unutk infuse kina dan lain-lain
d. Penyaringan dilakukan pada saat cairan masih panas, kecuali bahan
yang mengandung bahan yang mudah menguap.


b. Maserasi
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari. Cairan penyari akan menembus sel dan masuk kedalam
rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena
adanya perbedaan konsentrasi antara zat dalam sel dengan cairan diluar
sel.
Maserai digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat
aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat
yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung
stirak, benzoin dan lain-lain.
Maserai dapat dilakukan modifikasi misalnya dengan digesti : digesti
adalah cara maserasi dengan penambahan pemanasan lemah (40 – 50
oC). cara ini hanya dapat dilakukan untuk zat yang ahan terhadap
panas.
Maserasi dapat juga dimodifikasi dengan maserasi dengan mesin
pengaduk, remaserasi, maserasi melingkar dan lain-lain.


c. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan
cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi dalam
wadah yang disebut perkolator. Cara perrkolasi lebuh baik
dibandingkan dengan maserasi karena :
- Aliran cairan penyari menyebabkan pergantian larutan yang terjadi
dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah.
- Ruang diantara butir-butir serbuk membentuk simplisia membentuk
saluran tempat cairan penyari mengalir.
d. Destilasi Uap
Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia
yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi pada
tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan
terjadi kerusakan zat aktif nya. Untuk mencegah hal tersebut maka
penyarian dilakukan dengan destilasi uap.
Dengan adanya pengaupan pada air yang masuk, maka tekanan
kestimbangan uap zat kandungan akan diturunkan menjadi sama
dengan tekanan bagian didalam suatu system, sehingga produk akan
terdestilasi dan terbawah oleh uap air yang mengalir.


f. Pemekatan
Pemekatan dilakukan denga rotary evaporator Cara kerja :
- Masukan maserat dalam labu rotary,
- Masuk air ke dalam waterbath secukupnya, atur suhu ,
- Nyalakan speker evaporator dengan menekan tombol ON,
- Tekan tombol pemutar labu
- Tunggu sampai proses berakhir dan cairan penyari sampai habis,
usahakan tidak terlalu pekat agar memudahkan dalam proses
pengambilan ekstrak kental dari labu.




C. Fraksinasi
Setelah proses Ekstraksi selesai, maka proses selanjudnya adalah
melakukan pemisahan (yang di sebut dengan fraksinasi). Fraksinasi
adalah pemisahan golongan sennyawa yang berdasarkan sifat
kepolarannya dan merupakan suatu metode untuk memisahkan dan
membedakan golongan senyawa yang terkandung dengan
menggunakan suatu alat yang disebut corong pisah, simplisia di
asamkan denga menggunakan asam sulfat , di basahkan dengan
menggunnakan klorofom serta diuapkan dengan menggunakan
methanol. Selain memisahkan dengan corong pisah, Fraksinasi dapat
juga dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi yaitu
kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis.


D. Kromatografi
Setelah dilakukan fraksinasi maka langkah selanjudnya adalah
Kromatografi. Tehnik pemisahan kromatografi adalah tehnik
pemisahan fisik suatu zat kimia berdasarkan pada perbedaan migrasi
dari masiing-masing komponen campuran yang terpisah pada fase
diam dengan pengaruh pergerakan fase gerak. Tujuan kromatografi
adalah :
- Pemisahan komponen zat dalam campuran
- Analisa
- Freparatif
Azas pemisahan kromatografi adalah :
- Adsorbsi
- Partisi
- Filtrasi
- Suhu kritis
Pada praktikum ini metode kromatografi yang di gunakan adalah
kromatografi kolom dan kromatografi kertas.
Kromatografi Kolom, Menurut FI edisi III, fase diam berupa zat
penyerap seperti aluminiumoksida yang telah diaktifkan, silica gel,
kiesselgur yang ddalam keadaan kering atau bubur dimampatkan
dalam tabung kaca atau tabung kuarsa dengan ukuran tertentu yang
mempunyai lubang pengalir keluar. Pemisahan terjadi berdasarkan
derajat kepolaran.
Kromatografi lapis tipis, eluen yang digunakan adalah silica gel sgGF
245 dengan penggikat kalsium sulfat.
Cara kerja :
Sampel dari masing-masingtinta ditotolkan pada garis dasar pensil
pada selembar KLT, kemmudian dimasukkan dalam eluen yang sesuai
hingga diperoleh RF (jarak rambat spot noda). Untuk mengetahuui
komponen-komponen yang ada dalam sampel maka dapat di lakukan
dengan cara menghitung nilai RF tersebut
Pada praktikum kromatografi ini, kami menggunakan metode
kromatografi lapis tipis untuk mengedentifikasi pemalsuan jamu.
Berhubungan dengan hokum kedokteran yang terpenting adalah
janganlah merugikan sang pasien, maka dalam mempergunakan jamu
tanpa penyelidikan secara alamiah terlebih dahulu dianggap
bertentangan dengan hukum kedokteran. Maka kami menguji salah
satu produk jamu yang beredar di pasar dengan menerapkan metode
kromatografi lapis tipis.


E. Identifikasi pemalsuan Jamu
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan
populer dengan sebutan herba atau herbal.
Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan
seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah.
Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu
kambing atau tangkur buaya.
Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai
pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya.
Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang
berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan
menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu
oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau
Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet.
Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu
sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual
dalam bentuk tablet kaplet dan kapsul
Tujuan kami melakukan praktek uji identifikasi jamu adalah untuk
mengetahui apakah jamu yang ada dipasaran layak untuk para
konsumen/masyarakat,karena pada saat ini banyak beredar jamu-jamu
palsu yang dampaknya sangat merugikan
konsumen/masyarakat.sehingga kami menguji jamu-jamu yang telah
beredar dilingkungan masyarakat,berikut ini artikel-artikel yang
membuktikan banyaknya jamu-jamu palsu yang telah beredar
dilingkungan kita.
Hati-hati memilih jamu


Thursday, 17 January 2008


Di Indonesia, banyak orang yang tergolong fanatik mengonsumsi
jamu. Jika badan terasa tak enak dan rasa ngilu mendera segera mereka
minum jamu untuk menghilangkannya. Hal ini telah mereka lakukan
belasan tahun kemudian menjadi tradisi yang dilakukan secara turun
temurun. Bagi mereka yang sudah terbiasa, jamu tradisional dianggap
lebih mujarab dan lebih aman dibandingkan dengan obat-obatan
sintetis.
Para penggemar dan pengguna jamu di kalangan masyarakat bahkan
jumlahnya kian bertambah. Bagi mereka, minum cairan pahit dengan
aroma rempah-rempah yang sangat kuat bukan menjadi masalah; hal
terpenting adalah khasiat dan kegunaan yang dirasakan. Selama ini ada
anggapan bahwa jamu identik dengan bahan-bahan natural yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan, berupa akar-akaran, daun-daunan,
umbi-umbian dan berbagai bagian tumbuhan yang lain.
Oleh karena itu menurut pandangan ini jamu dapat diminum kapan saja
dan oleh siapa saja tanpa takut adanya efek samping. Dengan demikian
banyak orang yang menganggap bahwa jamu selama ini hanya dikenal
sebagai campuran bahan-bahan dari tumbuhan. Namun pada
kenyataannya bahan-bahan yang berasal dari hewan juga digunakan
sebagai ramuan jamu. Dengan demikian perlu ada kehati-hatian dalam
memilih jamu.
Terlebih lagi ketika jamu sudah menjelma menjadi komoditi industri
dan berinteraksi dengan bahan-bahan obat modern. Beberapa waktu
lalu di daerah Cilacap dan sekitarnya ditengarai adanya jamu
tradisional yang menggunakan bahan kimia obat. Fakta ini
menunjukkan bahwa sebenarnya jamu-jamuan yang lainpun tidak akan
lepas dari peran bahan-bahan olahan dan bahan kimia. Oleh karena itu
perlu kewaspadaan dan kehati-hatian dalam mengkonsumsinya, baik
dari aspek kehalalan maupun keamanan fisik. Dari segi bahan dasar,
jamu tidak sepenuhnya berasal dari bahan-bahan tumbuhan.
Perkembangan jamu dimulai dari ramu-ramuan tradisional yang
berkembang di tengah masyarakat, yang kemudian berkembang
menjadi ramuan jamu yang diyakini memiliki khasiat tertentu bagi
tubuh manusia. Pada kenyataannya ramuan tradisional itu juga
mengenal bahan-bahan hewani, seperti kuda laut, jeroan ayam
(empedu, limpa, tembolok, dsb) dan ekstrak berbagai bagian dan jenis
binatang. Kehadiran ekstrak atau bahan dari hewan itu tentu saja
menimbulkan masalah tersendiri dari segi kehalalan.
Sebab penggunaan hewan ini harus dilihat dari segi jenis hewannya
dan metode pemotonganya. Dari data yang dihimpun Jurnal Halal
ternyata ada indikasi penggunaan bahan-bahan hewani dalam jamu-
jamu modern yang beredar di masyarakat. Selain itu bahan penolong
dan bahan pembantu lainnya dalam pengolahan jamu modern juga
dapat melibatkan bahan-bahan haram atau subhat. Kini jamu tidak
hanya berbentuk serbuk kasar yang berserat saja, seperti halnya jamu-
jamu pada zaman dahulu.
Perkembangan teknologi proses dan pengolahan telah menyentuh
industri jamu. Kini produk tersebut sudah ada yang berbentuk ekstrak
(sari) instan, berbentuk kaplet, tablet dan juga kapsul. Nah selama
proses ekstraksi, pembentukan kaplet dan tablet serta penggunaan
kapsul ini memungkinkan masuknya bahan-bahan haram semisal
gelatin. Kini jamu semakin berkembang dalam dunia modern dengan
penampilan yang lebih baik dan menarik.
Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bagi kalangan pengusaha yang
meghasilkan jamu tersebut adalah bahwa aspek kehalalan jangan
sampai terlupakan. Sebab jika hal ini tidak dicermati dengan baik,
pandangan jamu sebagai bahan yang alami, halal dan aman terkikis
dengan kecurigaan dan was-was di kalangan masyarakat.
Kamis, 03 Juli 2008 | 16:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Kesehatan Bojonegoro
kembali menyita delapan produk jamu berbagai merk ketika
melakukan razia di 12 toko dan apotik di daerah itu, Kamis (3/7).
Sebelumnya ditemukan dua produk. Jamu-jamu tersebut mengandung
bahan kimia berbahaya, dan termasuk dalam daftar 54 jamu dan obat
yang dilarang dijualbelikan. Pada kemasannya dicantumkan nomor
registrasi fiktif.
Di antara jamu tersebut, terdapat merk Remurat, produksi perusahaan
jamu Barapai, Kalimantan. Juga serbuk Subur Kandungan, produksi
Sabdo Palon, Solo. Ada pula jamu pelangsing, Pri Perkasa, kending
manis, ambeien, syaraf dan hepatitis. Jamu-jamu tersebut berupa
serbuk.
Pada razia sebelumnya, ditemukan sejumlah merk, di antaranya, obat
flu tulang merek Onta, dan merek Langsung Ayu Sing Ayu. Keduanya
berbentuk kapsul.
Mohammad Iksan, Kepala Subdinas Farmasi Makanan dan Minuman
(Farmakin), Dinas Kesehatan Bojonegoro, mengatakan telah
memperingatkan pemilik toko obat dan apotek yang menjual jamu-
jamu terlarang itu. ’’Jamu yang mereka jual tidak ada izin Depkes,’’
katanya, Kamis(3/7).
Contoh dari seluruh jamu tersebut akan dikirim ke Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) di Surabaya, untuk diteliti komposisi
bahan-bahan yang digunakan.
Sebelum digelar operasi Dinas Kesehatan telah menggelar pertemuan
dengan Asosiasi Pedagang Jamu Bojonegoro untuk menjelaskan jamu-
jamu berbahaya. Tapi toko obat dan apotik masih tetap menjualnya.
Jamu atau dikenal juga dengan suplemen makanan bermanfaat bagi
tubuh kita apabila dibuat 100% dari bahan alami namun apabila
dicampur dengan zat tambahan kimia lainnya maka dapat
menimbulkan efek samping yang berbahaya buat tubuh, berikut ini
tuturan dari Kompas mengenai fenomena Jamu Campuran Kimia:
"Sayangnya, ada juga jamu-ja¬muan yang pada bungkus luarnya
tertera nomor registrasi Ba¬dan POM dan Depkes, tetapi ternyata—
setelah ditelusuri lebih lanjut—palsu. Padahal, masyarakat sulit untuk
mengecek apakah nomor Badan POM tersebut asli atau karangan
belaka. Inilah yang membahayakan sebab kita tidak pernah tahu apa
saja bahan-bahan yang terkandung da¬lam jamu-jamuan tersebut.
Kompas edisi Kamis, 14 Desember 2006, menurunkan tulisan berjudul
"Cara Bijak Pilih Obat Tradisional". Di dalamnya dibahas mengenai
adanya 93 jenis jamu yang mengandung obat keras. Bahan-bahan obat
keras tersebut di antaranya fenibutason, metampiron, CTM,
piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafii sitrat, sibutramin
hidroklorida, dan parasetamol."
Produk - produk suplemen Dr. Liza antara lain Temulawak (mengatasi
penyakit hati dan penambah nafsu makan), Purwoceng (meningkatkan
vitalitas pria dewasa), Bangle (membantu menurunkan berat badan),
Pegagan (meningkatkan daya ingat & merevitalisasi sel), Rosella
(mencegah pengapuran tulang & penuaan dini), Temu Putih
(membantu mengatasi kanker), dan lain-lain diproduksi oleh PT. Liza
Herbal International (Dr. Liza), Bogor, Jawa Barat yang berasal dari
100% Herbal Alami tanpa Zat Tambahan & Pengawet Kimia. Produk
Dr. Liza telah terdaftar di Badan POM, Dinas Kesehatan, mendapatkan
Sertifikat Halal dari MUI, mendapatkan penghargaan Juara I dari
Pemda Propinsi Jawa Barat dan telah melalui test serta supervisi para
ahli dari Laboratorium IPB Bogor.




Bocor Lambung karena Jamu
Kompas, 7 Sept 2007
Jamu merupakan ramuan tradisional yang sangat umum ditemukan di
Indonesia, yang digunakan baik sebagai tambahan/ suplemen sehari-
hari maupun sebagai "obat" untuk berbagai macam penyakit. Khusus
bagi.golongan masyara-kat menengah-bawah, jamu masih kerap
menjadi pilihan pertama untuk mengatasi gangguan kesehatan sehari-
hari.
Tidak semua jamu-jamuan di Indonesia masuk ke dalam daftar Badan
Pengawas Obat dan Makanan (POM). Jamu gendong, misalnya, yang
pembuatannya dilakukan langsung oleh si penjual jamu dengan ilmu
yang turun-temurun. Akan tetapi, banyak pula jamu-jamuan yang
masuk ke dalam daftar Ba¬dan POM dan Depkes serta memiliki
nomor registrasi resmi.
Sayangnya, ada juga jamu-ja¬muan yang pada bungkus luarnya tertera
nomor registrasi Ba¬dan POM dan Depkes, tetapi ternyata—setelah
ditelusuri lebih lanjut—palsu. Padahal, masyarakat sulit untuk
mengecek apakah nomor Badan POM tersebut asli atau karangan
belaka. Inilah yang membahayakan sebab kita tidak pernah tahu apa
saja bahan-bahan yang terkandung da¬lam jamu-jamuan tersebut.
Kompas edisi Kamis, 14 Desember 2006, menurunkan tulisan berjudul
"Cara Bijak Pilih Obat Tradisional". Di dalamnya dibahas mengenai
adanya 93 jenis jamu yang mengandung obat keras. Bahan-bahan obat
keras tersebut di antaranya fenibutason, metampiron, CTM,
piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafii sitrat, sibutramin
hidroklorida, dan parasetamol.
Hampir semua bahan terse¬but dapat menyebabkan efek samping
langsung terhadap lapisan sel pelindung pada lambung (mukosa
lambung), yaitu peptic ulcer (borok pada dinding mukosa lambung).
Peptic ulcer, merupakan penyebab utama bocor lambung (± 70 persen)
selain keganasan/kanker pada lambung (± 30 persen). Masyarakat pada
umumnya mengetahui penyakit peptic ulcer sebagai penyakit mag.
Pengobatan yang tidak adekuat akan mengakibatkan komplikasi lebih
lanjut berupa perdarahan lambung, keganasan dan akhirnya bocor
lambung.
Penyebab tersering dari peptic ulcer adalah produksi asam lam¬bung
yang berlebih, obat-obatan, serta infeksi Helicobacter pylori, sejenis
bakteri tahan asam yang memiliki sifat khusus dapat memproduksi
enzim urease yang dapat mengubah derajat keasarnan di dalam
lambung menjadi suasana basa. Dengan demlkian, bakteri itu dapat
hidup dan berkembang biak di da¬lam mukosa lambung.
Produksi asam lambung berlebih dapat disebabkan oleh faktor stres
dan rokok, sedangkan infeksi H.Pylori dapat dieradikasi dengan obat-
obatan tertentu sehingga pameo saat ini berubah dari no acid, no ulcer
(1910) menjadi no H.Pylori, no ulcer (1989).
Obat-obatan yang paling sering menyebabkan peptic ulcer adalah
golongan anti-inflamasi non-steroid (misalnya, parace¬tamol,
fenilbutason, metampiron), serta golongan obat-obat steroid (misalnya,
prednison, deksametason). Semua hal di atas menjadi penyebab utama
terjadinya kebocoran lambung yang belakangan ini meningkat tajam
insidensinya di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.
Jamu-jamuan sebenarnya dimasukkan ke dalam golongan suplemen
makanan, bukan obat-obatan, yang dibuat dari bahan-bahan alami
berupa bagian dari tumbuhan, seperti akar-akaran, daun-daunan, dan
kulit batang. Ada juga yang menggunakan bahan dari tubuh hewan,
seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Efeknya ju¬ga tidak akan
langsung dirasakan oleh peminumnya. Karena sifatnya berupa
suplemen, jika ada jamu yang efeknya "cespleng", justru harus
dicurigai mengandung bahan obat-obatan kimia tertentu.
Dalam tahun ini, kejadian pasien dengan bocor lambung (perforasi
gastef) meningkat drastis. Di RS Hasan Sadikin, Bandung, kasus
pasien dengan bocor lambung pada tahun 2005 sejumlah 26 orang,
tahun 2006 sejumlah 38 orang, dan 2007 dari Januari hingga Juli (6
bulan) saja terdapat peningkatan men¬jadi 53 pasien.
Insidensi ini tampaknya akan meningkat terus. Hal ini serupa dengan
penelitian di RS Immanuel, Bandung, di mana kasus¬nya pada tahun
2006 tidak lebih dari 10 orang, tetapi dalam enam bulan terakhir
(Januari-Juli 2007) kasusnya mencapai 40 orang dan cenderung
bertambah. Mayoritas kasusnya adalah pria (77 persen), yang sesuai
dengan insidensi populasi di seluruh dunia. Usia terbanyak berada di
kisaran 50-70 tahun, dengan usia penderita termuda 22 tahun, dan
tertua 80 tahun (rata-rata 60 tahun).
Hal yang menarik mengenai kasus-kasus bocor lambung di kedua
rumah sakit pendidikan di Bandung tersebut adalah se¬luruh penderita
adalah pengonsumsi jamu-jamuan kronis (menahun) akibat penyakit
rematik, nyeri kepala, flu, dan sebagainya. Kebanyakan penderita
membeli jamu-jamu tersebut dari warung-warung jamu dan bukan dari
produsen yang terpercaya.
Hubungan langsung antara konsumsi jamu-jamuan "gelap" ini dengan
peningkatan kasus bocor lambung yang sangat drastis memang belum
jelas terbukti. Namun, dari hasil pemeriksaan patologi anatomi
(pemeriksaan jaringan di sekifar dinding lambung yang bocor)
menunjukkan tidak adanya kuman H.pylori yang merupakan penyebab
paling banyak borok dinding mukosa lambung, maupun adanya
keganasan/tumor pada mukosa lambung penderita.
Hal ini yang menimbulkan suatu hipotesis penyebab lainnya, yaitu
konsumsi obat-obat yang dapat mengiritasi mukosa lambung. Salah
satunya adalah jamu-jamuan, yang menurut Badan POM dicampur
dengan obat-obat kimia keras.
Penderita dengan perforasi gaster umumnya datang dengan keluhan
nyeri perut mendadak dan sangat hebat dirasakan di perut bagian atas
(ulu hati, mirip gejala penyakit mag), wajah pucat, keringat dingin,
napas pendek-pendek, demam, dan muntah-muntah, khususnya pa-da
jam-jam pertama setelah kebocoran terjadi.
Setelah beberapa jam, penderita biasanya tampak lebih baik, nyeri
berkurang, muntah-mun¬tah berhenti, suhu dan nadi nor¬mal, bahkan
penderita bisa tidur. Namun, justru pada periode "intermediate' inilah
waktu yang paling baik untuk dilakukan tindakan segera berupa
operasi/pembedahan sehingga diagno¬sis penderita harus dilakukan
dengan cepat dan benar.
Pada periode lanjut (lebih da¬ri 12 jam setelah kebocoran lam¬bung
terjadi), pasien akan memburuk dengan cepat dan mulai masuk ke
dalam keadaan peri¬tonitis (peradangan hebat pada rongga perut) dan
sepsis (infeksi hebat. Racun/toksin bakteri sudah menyebar ke seluruh
tubuh) akibat kontaminasi rongga perut oleh asam lambung dan isi
lam¬bung lainnya, berupa sisa makanan dan enzim-enzim pencernaan.
Jika penderita baru ditangani pada periode lanjut ini, atau bahkan lebih
lama, prognosis (kemungkinan yang terjadi pada penderita) pada
pasien tersebut akan menjadi lebih buruk. Apalagi diperberat lagi
dengan faktor usia penderita yang umumnya sudah lanjut, serta
penyakitpenyakit usia lanjut lainnya.
Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster
adalah penanganan secara pembedahan karena ke¬bocoran tersebut
harus dicari dan ditutup oleh ahli bedah yang bersangkutan. Umumnya,
jika penderita datang pada periode-periode awal penyakitnya, pasien
dapat sembuh sempurna dalam waktu 7-10 hari.
Namun, penelitian di RS Immanuel pada enam bulan terakhir
menunjukkan 57 persen saja penderita dengan perbaikan atau sembuh
sempurna, 22 per¬sen meninggal dunia, sisanya dibawa pulang paksa
oleh keluarga atau hal lainnya. Pada kasus penderita yang meninggal
dunia, 89 persen akibat menolak dioperasi atau keadaannya yang sudah
sangat berat sehingga ti¬dak mungkin lagi untuk dilaku¬kan
pembiusan. Hal ini menun-jukkan bahwa level of patient awareness
(tingkat kesadaran) masyarakat kita masih sangat rendah untuk kasus
ini, apalagi jika dokter yang pertama menanganinya juga kurang aware
terhadap penyakit ini.
Manajemen paling baik untuk penderita perforasi gaster adalah
pencegahan. Sebab, jika kebo¬coran lambung sudah terjadi,
penanganannya akan menghabiskan banyak biaya kesehatan yang
harus ditanggung oleh pa¬sien, keluarga, rumah sakit, dan ujungnya
adalah negara kita. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang hubungan langsung konsumsi jamu-jamuan "gelap" dengan
pe¬nyakit bocor lambung pada pen-derita.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


I. Kesimpulan
• Isolasi simplisia
Dari hasil praktikum kami mengidentifikasi bahwa jahe mengandung
senyawa :
1. Alkaloid
2. Flavonoid
3. Fenol
4. Steroid
Khasiat dari jahe adalah:
Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati
selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis.
Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui
keringat.
Penelitian modern telah membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat
jahe, antara lain :
• Menurunkan tekanan darah.
• Membantu pencernaan,
• Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan,
• Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin,
• Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan
membantu mengeluarkan angin.
• Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek
merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.
Jahe sebagai Obat Praktis Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami
dan dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala, dan migren.


• Ekstraksi
Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi, sehinnga didapat ekstrak
yang kita inginkan, setelah tiga hari kita pekatkan dengan vakum
rotary evaporator.
• Fraksinasi
Maserat yang didapat difaksinasi menjadi beberapa fraksi, yaitu fraksi
I, ekstrak polar (fenol,terpenoid). Fraksi II, ekstra basa (alkaloid).
Fraksi II, ekstra polar dan metanol (alkaloid kurtener dan N-Oksida)
• Kromatografi
Pada praktikum ini kami menggukan kromatografi lapis tipis (KLT)
dengan lempeng silika gel GF 254.
Dengan Rf T1 =4,7/5= 0,94
T2 =4,9/5=0,98
F1(1)=3,85/5=0,77
F1(2)=4,9/5=0,98
F2=4,95/5=0,99
A1(f2)=0,65/5=0,13
A1(f3)=0,5/5=0,1
A2(f2)=0,9/5=0.18
A2(f3)=0,9/5=0,18
• Identifikasi Pemalsuan Jamu
Dalam praktikum jamu yang telah kami teliti tidak mengandung zat
kimia dan tidak mengalami perubahan dalam kandungan dalam suatu
jamu.
II. Saran
Pada penalitaian ataupun praktikum selanjudnya metode isolasi
(penyarian) hendaknya menggunakan metode perkolasi. Karena cara
perkolasi lebih baik dibandingkan dengan maserasi.
Selain hasil yang tidak benar-benar murni cairan penyari yang di
butuhkan juga sedikit lebih banyak.
Pada pembuatan serbuk jangan membuat serbuk terlalu halus.
Laboratorium yang digunakan harap segera di renopasi.

				
DOCUMENT INFO