PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN by zakyiri

VIEWS: 491 PAGES: 10

									       Disalin kembali oleh Mulyadi Nurdin, Lc

(dari bahan seminar tahun 1980, untuk dapat dibaca oleh
                   masyarakat luas)




      PERKEMBANGAN ISLAM DI
            KAWASAN
    ASIA TENGGARA DEWASA INI
                        Disusun




                           O

                            L

                           E

                           H




              Dr. Tgk.H. Muslim Ibrahim, MA



       PUSAT STUDI ISLAM ASIA TENGGARA (PSIAT)

                 IAIN JAM’AH AR-RANIRY
                        DARUSSALAM – BANDA ACEH

                                         1988




     PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN ASIA TENGGARA DEWASA INI

                        Oleh : Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA

I.     PENDAHULUAN

       Membicarakan masalah perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara
bukanlah suatu hal yang mudah. Kawasan yang secara geografis meliputi tujuh buah
negara ini sungguh mempunyai identitas dan kekhasannya yang tersendiri. Di samping
itu bahan-bahan rujukan yang dapat penulis kumpulkan sangat amat sedikit, di samping
tukar menukar informasi yang sempat penulis lakukan juga relatif amat terbatas. Oleh
kerana itu, tulisan yang amat singkat ini adalah semata-mata penulis siapkan atas dasar “
NIBAK BUTA LEUBEH GOT JULENG, NIBAK PUTOH LEUBEH GOT
GEUNTENG ”.

        Negara-negara Asia Tenggara, terutama yang bergabung salam ASEAN, ditinjau
dari segi sosiokultural dan perkembangan Islam, kiranya dapat di kelompokkan ke
dalam empat ke lompok, yaitu negara-negara yang penduduk muslimnya amat sedikit,
seperti Thailand; negara-negera yang mayoritas warga negaranya beragama Islam,
seperti Malaysia; negara-negara yang pertumbuhan ekonominya cukup lumayan tetapi
negara tidak begitu memerhatikan masalah agama, seperti Singapore; dan negara yang
amat meperhatikan masalah agama, khususnya Islam seperti Brunei Darussalam.

       Atas dasar pertimbangan seperti tersebut diatas, maka makalah ini membatasi
diri pada perkembangan Islam dewasa ini di empat negara tersebut, yaitu Thailand,
Malaysia, Singapore, dan Brunei.
II.   URAIAN
   A. Thailand

          Kerajaan Thailand yang berbatasan sebelah utara dengan Burma, sebelah
  selatan dengan Malaysia, sebelah barat dengan Burma dan sebelah timur dengan Laos
  ini di diami oleh 54.141.818 jiwa (1986), dan 4 % di antaranya beragama Islam,
  sedangkan lainnya menganut agama Budha (94 %) sedangkan sisanya menganut
  agama Kristen dan lain-lain. Kerajaan yang penduduk muslimnya wajib mempunyai
  dua nama ini, terbagi kepada 72 propinsi. Dari kesemua propinsi yang ada, di ketahui
  bahwa yang paling ketinggalan di bidang pembangunan adalah 4 propinsi di bagian
  selatan, yaitu : Yala, Pattani, Narratiwath dan Satun. Ke empat propinsi ini adalah
  markas utama Kerajaan Islam Pattani dahulu, sehigga sampai sekarang ini
  penduduknya mayoritas beragama Islam. Berpijak dari kenyataan ini Budhist Thailand
  menuduh sebab-sebab ketinggalan pembangunan di empat propinsi ini adalah kerana
  hambatan dari agama Islam. Benarkah demikian? Umat Islam hendaknya harus segera
  memberikan jawabanya.

           Menurut Wan Ahmad bin Abdurrahman, teman penulis yang kini menjabat
  Wakil ketua Persatuan Pondok (pesantren) di bagian selatan Thailand: Indentitas
  Islam di empat propinsi ini, kian hari kian menipis, tulisan Jawi di jalan-jalan sedikit
  demi sedikit terus diganti dengan tulisan Thai, sehingga di beberapa tempat tulisan
  yang identik dengan Islam ini hanya di gunakan untuk penulisan nama Pondok,
  Mesjid, Surau dan warung-warug Islam saja. Memang jumlah Mesjid menjadi 500
  buah di samping Mesjid agung Pattani itu sendiri, akan tetapi kehidupan kami terus
  terjepit; mendirikan Mesjid dan Pondok perlu surat izin; untuk menjadi pegawai negeri
  amat sukat, sehingga dari 100 orang pegawai Kantor Gubernur Pattani, cuma 10 orang
  saja yang beragama Islam. Namun demikian, kami tetap bertekad untuk
  mempertahankan aqidah dengan segala kemampuan yang ada, baik melalui The
  Pattani United Liberation Organization ( PULO), Barisan Revolusi Nasional (BRN),
  Barisan Nasional Pembebasn Pattani (BNPP), ataupun dengan menggalakkan
  pendidikan Pondok yang kitab pegangan utama untuk mubtadiinya adalah Sabilal
  Muhtadin, dan sekolah-sekolah Ugama yang sebahagian alumninya sedang
  melanjutkan pendidikannya di negara-negara Islam Timur Tengah, dan alhamdulillah
 dewasa ini hanya sekitar 20% anak-anak usia sekolah saja yang masuk Sekolah Siam
 (kerajaan), sedangkan selebihnya memilih Pondok ataupun Sekolah-sekolah Ugama (
 Islam). Demikian Wan Ahmad dalam suratnya yang baru penulis terima pada
 penghujung bulan Februari yang lalu.

          Jeritan tangis kaum Muslimin Pattani dan Thailand pada umumya, akhir-akhir
 ini mulai diperhatikan Kerajaan, sehingga sejak 3 tahun yang lalu Haji Praset
 Mohammad Chularatchmmontori diangkat oleh Raja menjadi Syaikhul Islam dan
 penasehat Departemen Agama yang berada pada Kementerian Pendidikan dan
 Kebudayaan Thailand. Dalam melaksanakan tugasnya, Ulama yang lebih dari 20
 tahun belajar di Mekkah ini telah membentuk The Central Muslim Committee of
 Thailand. Komite yang diketuai sendiri oleh Syaikul Islam ini telah dengan resmi
 membuka cabang di 28 propinsi. Melalui Komite inilah secara resmi Kerajaan
 menyambung rasa dengan kaum Muslimin, menyalurkan bantuan-bantuan walaupun
 relatif amat minim, namun Komite telah dirasa manfaat oleh sebagian kaum Muslimin,
 terutama dalam masalah penyelenggaraan haji, restorsi mesjid, pengadaan Musabaqah
 Tilawatul Quran dan lain-lain sebagainya.

       Ala kulli hal, di dalam tubuh umat Islam Pattani kini ada dua kutub pemikiran,
 yang kesemuanya bertujuan untuk dapat berkembang Islam di Thailand secara wajar.
 Kutub pertama disponsori oleh Haji Zinal Abidin bin Haji Sulong, seorang di antara
 11 orang muslim yang menjadi anggota MPR Thailand. Beliau berpendapat bahwa
 dengan memajukkan pendidikan dan ekonomi, masyarakat Muslim dapat kuat dan
 hidup terhormat. Kita harus menerima realitas negara Muslimin di bidang agama, adat
 istiadat, bahasa dan kebudayaan.

       Pandangan Pak.Zainal ini amat berbeda dengan pandangan adik kandungya
 sendiri yaitu Haji Amin bin Sulong yang sampai sekarang berada si
 Kelantan(Malaysia) untuk memimpin BRN dari kawasan luar Thailand. Beliau tetap
 berkeras untuk menuntut hak otonomi penuh bagi 4 propinsi yang mayoritas muslim
 di bahagian selatan Thailand itu.

       Menurut penelitian awal pimpinan Pondok Rahmaniyah Pattani bahwa mayoritas
 kaum muslimin Thailand lebih condong kepada pemikiran Haji Zainal, kerana itulah
 jalan yang lebih mudah di tempuh dan tidak akan membawa kepada pengorbanan jiwa
 yang banyak. Demikian menurut kutipan dari majalah HARAKAH edisi 7 Ogos 1987
 (Malaysia ) muka 23.


B. Malaysia

          Malaysia yang resmi diproklamirkan berdirinya pada tanggal 31 Agustus
   1957 ini berpenduduk lk 16,1 juta, 72 % di antaranya beragama Islam. Negara
   Kerajaan yang terdiri dari 13 buah Negera Wilayah yang masing-masing Wilayah
   mempunyai DPR, Menteri Besar dan seorang Raja ini sekarang di kepalai oleh Yang
Dipertuan Agung Sultan Mutawakkil Alallah Sultan Iskandar Alhaj dan Perdana
Menterinya dr. Mahathir Muhammad.

         Menurut riwayat sejarah Malaysia khususnya Melaka dan beberapa Wilayah
lainnya adalah tempat kedua bertapak Islam, setelah Perlak dan Samudera Pasai,
yang keduanya termasuk ke dalam DI.Aceh. Sejak dari masa itu, Islam berkembang
dengan cukup baik di semenanjung ini, sehingga di dalam UUD Malaysia di
cantumkan “ Ugama Islam adalah Ugama resmi Negara”, dan realisasinya dapat
terlihat dalam sebahagian Undang-undang seperti Hukum Perkawinan, Warisan dan
juga dalam adat istiadat yang berlaku hingga hari ini, seperti acara maulid,
musabaqah Al-quran dan lain-lain.

       Sebagaimana di Thailand, di Malaysia Islam juga indentik dengan suku
kaum Melayu dan huruf Jawi. Hingga sekarang ini, huruf Jawi masih terpakai di
negara ini, baik dalam Surat Kabar, Majallah, Nama Toko, Nama Jalan dan juga
bahan pelajaran, perkuliahan di samping huruf Latin yang lebih dikenal dengan
Huruf / Tulisan Rumi.

        Sebagai negara yang lama dijajah oleh Inggeris, sudah barang tentu pengaruh
Sekularisme juga telihat di Negara ini, namun kerana urusan Ugama langsung
dipegang oleh Raja / Yang Dipertuan Agung, maka dewasa ini kita lihat Kerajaan
secara aktif mendorong berdirinya Institusi-Institusi yang langsung merupakan
realisasi dari ajaran Islam, seperi Bank Islam, Asuransi Islami, Islamic Center,
Koperasi Islam, Badan Zakat, Tabungan Haji dan lain-lain.

        Dari segi lain, penerapan hukum Islam juga terlihat dalam pengharaman
“dadah”, penggalakkan busanah Muslimah, hukuman zina (di beberapa Wilayah)
malah sebagaimana diturunkan “ Utusan Malaysia” tanggal 25 September 1987 “ Di
beberapa negara Bagian, orang Islam yang kedapatan tidak melakukan Shalat Jumat
akan di bawa ke Mahkamah Syariah. Mereka akan dikenakan denda. Kantor Hal
Ehwal Agama Trenggano mengumumkan akan menangkap umat Islam yang tidak
menunaikan fardhu sembayang Jumat tanpa alasan keuzhuran syar’i. Meraka yang
di tangkap akan di hadapkan ke Makhkamah Syariah dapat didenda sampai 100
ringgit atau 6 bulan penjara atau kedua-duanya”.

        Cara pengelolaan zakat di Malaysia cukup menarik untuk dikaji, sehingga
hak Ibnu Sabil, Sabilillah ditambah dengan sedekah-sedekah lainnya dapat
dimanfaatkan untuk biaya belajar Agama ke Negara-negara Islam berupa beasiswa
yang di kalangannya di kenal dengan “dana siswa”. Menurut penelitian dari sekitar
1700 mahasiswa / siswa Malaysia yang belajar di beberapa Perguruan Tinggi di
Mesir pada tahun 1982-1984, 30% di antaranya dibiayai dengan dana siswa yang
besarnya hampir sama dengan dengan beasiswa itu sendiri, yaitu berkisar antara LE
80, sampai dengan LE 160, (Al-Azhar Cuma memberikan beasiswa sebesar LE 25
untuk tingkt S (1) dan LE 35 untuk tingkat S (2)).
       Dengan disponsori oleh Kerajaan, mahasiswa Malaysia memiliki sebuah
asrama putra dan sebuah asrama putri di Cairo, yang lebih di kenal dengan Rumah /
Bait Melayu. Di sampig itu atas kebijaksanaan Raja Negara Bagian, semua daerah
tempatan itu mempunyai asrama putra dan asrama putri tersendiri, malah ada
sebahagian yang mempunyai dua asrama putra dan dua asrama putri seperti yang di
miliki mahasiswa / mahasiswi kerajaan Johor.



        Dalam rangka pengembangan Agama ini, alumni Timur Tengah yang ingin
jadi kaki tangan Kerajaan (Pegawai Negeri), mereka dapat mengajukan borangnya (
surat permohonan ) untuk itu sebelum mereka pulang ke Malaysia, dengan cara
mengirim melalui Kedutaan Besarnya. Malah meraka menyediakan dana khusus
semacam ikatan dinas bagi kandidat S (3), walaupun bukan Warga Negara Malaysia
dengan syarat akan berbakti di Malaysia sejumlah masa pemberian ikatan dinas itu.

        Namun harus diakui bahwa ajaran agama Islam belum diterapkan seratus
persen di Malaysia, sehingga nada-nada protes karena tak puas terkadang muncul ke
permukaan, baik secara terorganisir atau secara berkelompok dan perorangan. Partai
Politik PAS, kemudian pecah menjadi HAMIN, TABLIGH dan Darul Arqam
menjadi lidah-lidah Umat yang menginkan penerapan ajaran Islam seratus persen di
negeri ini. Dikalangan belia ABIM, juga pernah mendapat tempat di PBB Pemuda
Islam IFSO dan MAWY yang masing-masing Sekretaris Generalnya berkedudukan
di Kuweit dan Riyadh.

        Untuk melempangkan jalan, kesemua perkumpulan itu membaut program-
program-program yang cukup jitu dan paten, seperti Darul Alqam (umpamanya)
sejak tahun 1972 meraka membeli tanah seluas 5 hektar Sungai Pancala beberapa
kilometer di luar Kuala Lumpur untuk dijadikan pilot proyek dengan nama
perkampungan Arqam.

       Di sini mereka membuka kedai-kedai, yang juga menjual pakaian-pakaian
made in sendiri yang khas dan wajib dipakai, yaitu jubah, serban, dan memelihara
jengot bagi lelaki, sedangkan bagi wanita adalah pakaian Muslimah berupa burdah
yang menutup seluruh tubuh dan mukanya.

      Dewasa ini, Al-Arqam berkembang sangat pesat. Mereka membuka cabang-
cabangnya di hampir seluruh kota di Malaysia, bahkan di Singapura, Sabah dan
Serawak juga terdapat cabang-cabang Al-Arqam.

       Mereka juga menebarka para pendakwahnya sekarang ini sampai ke
Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan beberapa negera Asia dan Eropah.
          Untuk mengembangkan konsep “Masyarakat Islam” mereka membangun
   pabrik-pabrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat “yang dijamin halal”,
   misalnya pabrik minyak goreng, saos tomat, kecap dan lain-lain. Untuk memenuhi
   santapan rohani, mereka menerbitkan majalah-majalah, buku-buku yang dikerjakan
   secara professional dan dapat diserap oleh orang awam, intelek, ibu dan anak-anak.
   Bahan – bahan bacaan itu dicetak di percetakan sendiri. Meraka juga mempunyai
   armada dakwah, berupa kenderaan-kenderaan yang dilengkapi dengan peralatan
   canggih, sehingga meraka dapat menerangkan hakikat islam dengan audio, visio dan
   audio visual.

          Perkembangan Islam di Malaysia terutama dengan Al-Arqam menurut
   Dr.Faizah Hj Othman, Wadek Fakulti Pengajian Islam University Kebangsaan
   Malaysia “ adalah merupakan petanda dari kebangkitan Islam yang selalu di
   dambakan Umat ini ”.


C. Singapore

           Negeri yang terkadang mendapat julukam Parisnya Asia Tenggara ini
   berpenduduk lebih kurang 2.590.246 jiwa, dan sekitar 25 % di antaranya beragama
   Islam, sedangkan lainnya beragama Hindu, Budha dan Konghucu.

           Pada dasarnya Singapore adalah negara yang bersikap netral terhadap agama.
   Negara sebenarnya tidak mau tahu dengan agama rakyatnya. Namun demekian,
   kelihatannya di negara yang terstabil ekonominya ini tubuh berkembang dengan
   subur, seirama dengan perkembangan pembangunan dan pertumbuhan gedung-
   gedung pencakar langit Singapore itu sendiri. Namun demikian, perkembangan
   Islam di negeri ini tidak dapat dikatakan terlalu mundur, ketimbang negara-negara
   tetangganya, seperti Indonesia. Hal ini dapat terlihat pada sekolah Agama swastanya
   yang berjumlah dari TK sampai dengan SMAnya sebanyak 21 buah. Suraunya
   berjumlah 76 buah dan mesjid 40 buah. Memang pada tiga tahun yang lalu 23 buah
   mesjid-mesjid itu telah dirubuhkan karena terdesak dengn pemodenan kota. Namun
   23 mesjid yang menampung 5.830 jema’ah yang digusur itu telah berganti dengan
   10 buah mesjid baru yang berdaya tamping 26.000 jema’ah, sementara 5 buah lagi
   sedang menunngu penyelesaiannya (awal 1988) akan dapat menampung 15.000
   orang jema’ah. Memang tak dapat disangkal di negeri yang berlambang singa ini
   terdapat 700 kuil Cina, 27 kuil Hindu dan 19 Gereja Kristen. Di antara hal yang
   cukup menarik dalam pembangunan mesjid di negeri ini ialah seluruh dananya
   adalah sumbangan masyarakat yang di kumpul oleh The Administation of Muslim
   Law Act. Yang wujudnya itu diakui oleh Parlemen Singapore sejak tahun 1968,
   yang sekaligus berarti memberikan kedudukan hukum terhadap adanya institusi bagi
   melaksanakan hukum-hukum agama. Malah lebih dari itu Majlis Ulama Singapore
   (MUIS) mempunyai autoritas untuk memberikan nasehat terhadap Presiden
   Singapore tentang masalah Islam, sesuai dengan pelaksanaan pasal 42 akta tersebut.
   Di bawah AMLA itu terdapat sebuah badan pengurus Mesjid yang diberi nama
   dengan Building Fund Scheme.

          Bertitik tolak dari ungkapan Saidina Ali yang maksudnya kebatilan yang
   terorganisasir akan dapat mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir, kita merasa
   bahwa masa depan Islam di Singapore, Insya Allah akan hebat, mengingat
   pertumbuhan organisasi-organisasi Islam kian hari kian banyak tumbuhya dan kian
   terorganisir segalanya, termasuk dakwah yang dilakukan dengan menggunakan alat-
   alat canggih, baik audio-visual ataupun media cetak dan lainnya. Di antara
   Organisasi Islam amat banyak berperan dalam bidang dakwah, antara lain :




     1.   Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)
     2.   Majlis Pendidikan Anak-Anak Islam (MENDAKI)
     3.   Lembaga Beasiswa Kenangan Maulid (LBKM)
     4.   Persatuan Seruan Islam Singapura (IAMIYAY)
     5.   Persatuan Guru-Guru Agama Singapura (PERGAS)
     6.   Persatuan Muhammadiyah
     7.   Persatuan Pelajar-Pelajar Agama Dewasa Singapura (PERDAUS)
     8.   Persatuan Taman Pengajian Islam Singapura (PERTAPIS)
     9.   Darul Arqam
    10.   Himpunan Belia Islam (HBI)
    11.   Persatuan Pemudi Islam Singapura (PPIS)
    12.   Persatuan Muslim Singapura (PERMUSI )
    13.   Tamil Muslim Jemaah Singapura.

       Menyadari, dakwah walaupun amat hebat dan rapi, namun akan kurang berhasil
tanpa didukung oleh Lembaga-lembaga social, pelajaran, pendidikan, penulisan dan
kebudayaan serta institusi kemasyarakatan lainnya, maka dalam bidang Pendidikan dan
Kebudayaan kiat di unjukkan “islamnya”, seperti :

     1.   Majelis Pusat Pertumbuhan Budaya Melayu Singapura (Majlis Pusat)
     2.   Taman Bacaan Pemuda Pemudi Melayu Singapura (Taman Bacaan)
     3.   Persatuan Persuratan pemuda Pemudi Melayu Singapura (P4M)
     4.   Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS)



   Sedangkan dalam lembaga masyarakat dan social, kita kenal juga nama-nama yang
   di sebut dengan :

     1. Mahkamah Syar’iyyah
     2. Pendaftaran Perkawinan Orang-Orang Islam
     3. Darul Ihsan
       4. Dewan Pwerniagaan Melayu Singapura.

     Dan beberpa organisasi / lembaga lainnya yang peranannya cukup besar dalam
     bidang pengembangan Ugama Islam di negeri yang terdiri dari satu pulau besar dan
     53 pulau kecil yang menyatu dengannya kini.

D. Brunei Darussalam

        Kerajaan Brunei Darussalam adalah egara termuda di ASEAN, ia memperoleh
  kemerdekaan penuh baru pada tanggal 1 Januari 1984. Negara yang bertetangga batas
  dengan Sarawak, Sabah dan Indonesia ini berpenduduk Cuma 226.054 jiwa, manyoritas
  beragama Islam dan luasnya Cuma 5.765 km2 saja. Di bidang ekonomi ia termasuk
  Negara nomor 11 terbesar income percapita di dunia, yaitu lebih kurang 11.890.000, dan
  mempunyai tanah pertanian yang cukup lumanyan luasnya di Australia.

          Berbeda dengan negara-negara tetangga, Kerajaan ini menggariskan bahwa
  agama resmi adalah Islam, menurut Ahlusunnah Wal Jamaah, bermazhab Syafi’ie. Jiwa
  ke Islaman terlihat di mana-mana, sampai kepada gelar Rajanya, yaitu “Mu’izuddin”
  berarti Penjunjung Islam, istana Raja bernam Nurul Iman yang berarti Cahaya Iman. Di
  negara yang bebas pajak pendapatan ini di adakan acara “tahlil dan berzanji” tiap malam
  jumat di Istana dan juga diadakan berzanji di setiap kali Raja ataupun pembesar Negara
  pulang dari luar negeri, sebagai pernyataan kegembiraan dan syukur atas keselamatan
  perjalanan pemimpin negaranya.

          Secara intensif negara Islam ini terus menerus menata dan memantapkan institusi
  politik, social, ekonomi dan budaya agar di dominir oleh Islam dan berkembang serta
  dapat diterima oleh dunia Internasional.

          Dua tahum sebelum Brunei merdeka, mereka telah mengirim tim-tim peneliti
  hukumnya ke Mesir, Saudi Arabia, Surya, Pakistan, Sudan, Kuweit dan lainnya untuk
  meneliti tata cara penerapan hukum Islam di negara-negera tersebut, di mana pada tahun
  1983, penulis termasuk salah seorang staff peneliti lokal untuk Mesir, yang setelah
  seminggu bertugas, hasilnya didiskusikan secara matang dengan anggota tim dan juga
  anggota tim-tim untuk negara lain yang kemudiannya berkumpul di Mesir. Pada waktu
  itu Hakim Agungnya Haji Muhammad Sarudin (sekarang Menteri Agamanya yang baru
  saja menerima Dr (HC) dari IAIN Hidayatullah ) hadir dan memimpin sendiri sebagian
  dari sidang-sidang tim kajian penerapan hukum itu. Penulis pun diajak untuk beberapa
  tahun membantu Brunei, terutama Perguruan Tinggi yang akan di buka “ katanya pada
  tahun 1985”. Tetapi entah karena apa mungkin karena bodohnya penulis tawaran itu
  tidak penulis penuhi.

         Memang besar Universitas Brunei Darussalam (UBD) di buka pada pertengahan
  tahun 1985 dan kini mempunyai 500 orang mahasiswa dan 80 orang tenaga pengajar,
  termasuk bapak Dr.H. Ahmad Daud dari Aceh.
      Menurut Menteri Hal Ehwal Ugama Brunei, system IAIN cocok di kembangkan
di UBD itu dengan penambahan beberapa fasilitas, seperti Sain dan Teknologi yang
Islami di samping fakultas-fakultas kajian Islam guna memproduk perundang-undangan
negara yang sesuai 100 % dengan ajaran Islam, karena sampai dengan hari ini sebagai
dari perundang-undangan Inggeris masih dipakai di negara itu, sebab belum ada
penggatinya yang islami.

       Dakwah islamiyah secara resmi dikembangkan oleh Negara, bersaman
pembangunan Universitas, negara juga membangun Pusat Dakwah Islamiyah yang
megah dengan fasilitas yang serba modern dan canggih, sehingga pertemuan Menteri-
menteri Pertanian ASEAN yang baru lalu berlangsung di gedung Pusat Dakwah ini.

       Televisi dan Radio Brunei memberikan porsi yang amat besar terhadap siaran
agama Islam yang di asuh oleh tenaga-tenaga terampil, baik pesanan dari luar ataupun
putra Brunei sendiri yang sudah di apgret di Cairo dan negara-negara Timur Tengah
lain. Hampir tiap tahun sejak 1978 tidak kurangdari 5 orang putra Brunei yang belajar
pada Akademi Iman, Khattib dan Wa’azh yang di kelola oleh Darul Ifta’ Mesir di Cairo.
Di samping itu rata-rata 20 orang mahasiswa / mahasiswi Brunei yang menggeluti ilmu
pengetahuan di berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Mesir, terutama di Al-Azhar
yang amat terkenal itu.

        Menyedari adanya angin beracun Orientalisme dan faham-faham sesat lainnya
yang akan menyusup untuk mengoyahkan keimanan dan keyakinan rakyat Brunei
terhadap agamnya, pada bulan November 1987 yang lalu, Sultan Brunei dalam sebuah
pidato, yang diulangi kembali pada pidato ultahnya pada bulan Januari, dimana beliau
memperingat masyarakat terhadap munculnya ajaran yag merusak faham agama dan
menganjurkan agar masyrakat berjaga-jaga terhadap faham pelampau (ekstrem) itu.
Aliran dan faham ini yang baru saja dibekuk dan perkumpulannya di bubarkan pada
bulan Februari yang lalu itu.

								
To top