Pengaruh Model STAD dengan CTL terhadap Hasil belajar

Document Sample
Pengaruh Model STAD dengan CTL terhadap Hasil belajar Powered By Docstoc
					   PENGARUH METODE PEMBELAJARAN STAD BERBASIS CTL TERHADAP
    HASIL BELAJAR PERANGKAT KERAS UNTUK AKSES INTERNET SISWA
                     KELAS XI SEMESTER 1 SMAN 7 MALANG.



STAD dilaksanakan dengan menyertakan tujuh komponen CTL yang meliputi:
konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning),
masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian autentik (authentic assesment) seperti yang telah diungkapkan di depan.

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis CTL akan dilaksanakan dengan urutan
sebagai berikut.

a. Menyampaikan tujuan pembelajaran/indikator.

b. Memberikan informasi/menyampaikan materi yang akan diberikan.

c. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari 4–5 siswa.

d. Memberikan nama kelompok untuk masing-masing kelompok.

e. Menyajikan kartu soal dan membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing
   anggota kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan secara berkelompok.

f. Mengingatkan siswa tetap bersama kelompoknya masing-masing sampai selesai
   tugasnya dan bekerja dengan menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif yang
   dikembangkan.

g. Memberikan bimbingan kepada kelompok.

h. Meminta salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

i. Memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk berpendapat dan mengajukan
   pertanyaan, kemudian membahasnya bersama-sama.

j. Pemberian kuis yang dikerjakan secara individu.

k. Jawaban dari kuis dikoreksi bersama-sama.

l. Siswa dengan bantuan guru menarik kesimpulan.

m. Guru memberikan umpan balik.

n. Memberikan tugas kelompok sebagai tugas rumah yang dikerjakan secara
berkelompok.

o. Memberikan PR.
A. Latar Belakang
        Berdasarkan pengamatan guru mata pelajaran TIK Kelas XI bahwa sebagian
   besar siswa pasif dalam proses pembelajaran, hasil belajar siswa di bawah SKM
   untuk 50% jumlah siswa, dan 50% siswa yang lain di atas SKM tetapi terlalu dekat
   dengan SKM. Ini dikarenakan pemahaman siswa yang kurang, dan jarang
   memperhatikan apa yang disampaikan guru serta guru TIK menyimpulkan bahwa
   siswa kelas XI tidak tertarik dengan mata pelajaran TIK. Berdasarkan wawancara
   terhadap beberapa siswa kelas XI, dalam pembelajaran, guru hanya ceramah,
   transfer ilmu, dan kemudian memberi tugas. Hal ini menyebabkan murid kurang
   termotivasi, proses belajar menjadi membosankan dan mata pelajaran TIK tidak
   disukai murid-murid serta banyak siswa yang mengikuti remidi. Permasalahan ini
   terjadi pada materi perangkat keras internet dan materi yang lain.
        Dari permasalahan diatas, dapat disimpulkan bahwa guru mengajar dengan
   metode Konvensional, dan siswa cenderung pasif saat proses pembelajaran. Hal ini
   menyebabkan hasil belajar yang diperoleh tidak memuaskan. Solusi untuk
   permasalahan seperti ini, dibutuhkan metode pembelajaran yang inovatif, yang
   membuat siswa mengonstruksi pemahamannya sendiri, sehingga pemahaman dan
   hasil belajar siswa meningkat serta menghilangkan persepsi siswa, bahwa TIK itu
   membosankan dan dinomor duakan.
        Pendekatan yang digunakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
   (KTSP) adalah memposisikan siswa sebagai subjek didik bukan sebagai objek
   didik, yang berarti bahwa siswa lebih dominan dalam pembelajaran. Untuk itu,
   dalam pembelajaran TIK harus mampu mengaktifkan siswa dan mengurangi
   kecenderungan guru untuk mendominasi. Sehingga ada perubahan dalam hal
   pembelajaran TIK yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru sudah sewajarnya
   diubah menjadi berpusat pada siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang
   berfungsi membantu siswa untuk mengembangkan potensinya.
        Salah satu variasi pembelajaran yang bisa digunakan adalah metode
   pembelajaran STAD sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
   STAD dapat mengarahkan siswa belajar dengan cara mengkonstruksi berbagai
   pengetahuan yang diperoleh dari belajar sendiri dan sharing dengan teman
   sekelompoknya. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dari bertanya, pemodelan
   dan berbagai sumber informasi yang lain. STAD ini juga sebagai salah satu cara
   membentuk masyarakat belajar. Kelebihan STAD antara lain menekankan pada
   aktivitas dan interaksi untuk saling membantu dalam penguasan konsep / kognitif.
         Namun dalam penelitian ini, STAD akan dilaksanakan dengan menyertakan
   tujuh komponen CTL. Dikarenakan pada penelitian-penelitian sebelumnya, sudah
   banyak yang membuktikan bahwa STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
   dalam mata pelajaran apapun. Sehingga peneliti memberikan inovasi yaitu
   pelaksanaan metode pembelajaran STAD berbasis CTL. STAD berbasis CTL
   dalam penelitian ini merupakan pembelajaran kooperatif dengan mengangkat
   masalah-masalah keseharian siswa sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah
   dan cara untuk menyelesaikannya.
         Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang
   berjudul ” Pengaruh Metode Pembelajaran STAD Berbasis CTL Terhadap Hasil
   Belajar Siswa Mata Pelajaran TIK Pada Materi Perangkat Keras Untuk Akses
   Internet Kelas XI Semester 1 SMAN 7 Malang.”

B. Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas maka rumusan
   masalah dalam penelitian ini adalah :
   1.   Apakah ada perbedaan hasil belajar secara signifikan antara kelompok siswa
        yang diberi perlakuan menggunakan pembelajaran metode STAD berbasis
        CTL dengan kelompok siswa yang diberi perlakuan menggunakan
        pembelajaran STAD?
   2.   Apakah ada interaksi yang signifikan antara pembelajaran metode STAD dan
        model Pembelajaran CTL terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran TIK pada
        materi perangkat keras untuk akses internet?

C. Hipotesis

        Metode pembelajaran STAD berbasis Contextual Teaching And Learning
   (CTL) lebih baik dibandingkan metode pembelajaran STAD terhadap hasil belajar
   siswa mata pelajaran TIK pada materi perangkat keras untuk akses internet kelas
   XI semester 1 SMAN 7 Malang.
D. Manfaat Penelitian
   1. Bagi Siswa
           Meningkatkan hasil belajar siswa secara individu dan kerjasama antar siswa
      dalam satu kelompok .
   2. Bagi Guru
           Dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru untuk pemilihan metode
      pembelajaran yang lain pada mata pelajaran TIK yang dapat meningkatkan kualitas
      pembelajaran di kelas.
   3. Bagi Peneliti
           Sebagai informasi dan alternatif dalam mengembangkan model pembelajaran
      yang efektif dan efisien sebagai bekal kegiatan pembelajaran di masa yang akan
      datang.
   4. Bagi Sekolah
           Dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi sekolah untuk meningkatkan mutu
      pendidikan di sekolah tersebut.


E. Asumsi Penelitian

        Asumsi dalam penelitian ini adalah kedua kelas sampel memiliki kemampuan
   awal yang sama. Untuk menentukan kemampuan awal siswa untuk kelas
   eksperimen maupun kontrol. Nilai dari ujian posttest dan hasil observasi pada mata
   pelajaran TIK materi perngkat keras internet digunakan untuk menggambarkn hasil
   belajar siswa baik kelas kontrol maupun kelas.

F. Definisi Operasional.

       Guna menghindari timbulnya masalah pemahaman dalam penafsiran hasil
   penelitian, maka dalam definisi ini akan disajikan istilah-istilah yang digunakan
   dalam penelitian, yaitu:


   1. Pembelajaran model STAD adalah pembelajaran kooperatif dengan
       menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap
       kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian
       tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan
       penghargaan kelompok.
   2. Model pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan
      pembelajaran yang mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa
      memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga
      dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya.
      Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam model
      pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang
      kuat dan mendalam sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara
      untuk menyelesaikannya.
   3. Pembelajaran model STAD berbasis CTL adalah dalam pebelajaran model
      STAD juga disertakan ketujuh komponen dari CTL yaitu konstruktivisme
      (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar
      (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian
      autentik (authentic assesment) seperti yang telah diungkapkan di depan.
   4. Hasil belajar yang diamati adalah peningkatan hasil belajar tes teori pada
      kompetensi dasar menjelaskan berbagai perangkat keras dan fungsinya untuk
      keperluan akses internet. Prestasi belajar berupa skor peningkatan diukur
      dengan tes teori materi perangkat keras internet yang dilakukan sebelum dan
      sesudah pelaksanaan pembelajaran.


G. Kajian Teori
   1. Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams Achievement Division)
            Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah
      STAD. STAD merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang
      paling sederhana, dan merupakan pendekatan yang baik untuk guru yang baru
      memulai menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam kelas.
            Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa dalam suatu kelas
      dibagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4-5
      siswa, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan
      perempuan, memiliki kemampuan yang beragam, kalau dimungkinkan berasal
      dari berbagai suku. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat
      pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian
      saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran atau
      melakukan diskusi.
      Menurut Slavin (1995:71): “STAD terdiri dari lima komponen utama,
yaitu penyajian materi, tim/kelompok, kuis, skor perkembangan individu, dan
penghargaan kelompok”. Selanjutnya Slavin menjelaskan bahwa STAD dibagi
menjadi beberapa kegiatan pengajaran, yaitu sebagai berikut.
a. Pengajaran
           Tujuan pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai
   dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam model pembelajaran
   kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian ini
   mencakup pembukaan, pengembangan, dan latihan terbimbing dari
   keseluruhan pelajaran.
b. Belajar kelompok
           Tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan
   guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut.
   Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih
   keterampilan yang sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan
   teman satu kelompok. Guru mengamati kegiatan pembelajaran secara
   seksama, memperjelas perintah, mereview konsep, atau menjawab
   pertanyaan.
c. Kuis
           Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Tujuannya untuk menunjukkan
   apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil
   kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan
   dalam nilai kelompok.
d. Penghargaan kelompok
           Langkah awal adalah menghitung nilai kelompok dan nilai
   perkembangan individu. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan
   pada rata-rata nilai perkembangan individu.
      Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai
berikut.
  a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  b. Memberikan informasi/menyajikan materi yang akan diberikan
  c. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok
      beranggotakan 4-5 siswa.
  d. Memberikan nama kelompok untuk masing-masing kelompok.
     e. Menyajikan kartu soal dan memberikan lembar kerja siswa yang
         dikerjakan dengan berdiskusi dalam kelompok masing-masing.
     f. Mengingatkan siswa tetap bersama kelompoknya masing-masing sampai
         selesai tugasnya dan bekerja dengan menggunakan keterampilan-
         keterampilan kooperatif yang dikembangkan.
     g. Memberikan bimbingan pada kelompok.
     h. Pemberian kuis yang dikerjakan secara individu.
     i. Jawaban dari kuis dikoreksi secara bersama-sama.
     j. Pemberian tugas kelompok.

2. Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)

         Model pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan
   pengetahuan yang fleksibel, yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke
   permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lainnya.

         Model pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah
   pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika
   siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga
   dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya.
   Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam model
   pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang
   kuat dan mendalam sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara
   untuk menyelesaikannya.

   a. Kunci Dasar Model Pembelajaran Kontekstual

      1. Pembelajaran Bermakna

          Dalam pembelajaran bermakna, pemahaman, relevansi, dan penilaian
          pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi
          materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan sangat terkait dengan
          kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, jika
          mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di
          masa mendatang.
  2. Penerapan Pengetahuan

      Jika siswa telah memahami apa yang dipelajari, maka siswa dapat
      menerapkannya dalam tatanan kehidupan.

  3. Berpikir Tingkat Tinggi

      Siswa diminta untuk berpikir kritis dalam pengumpulan data,
      pemahaman suatu isi dan pemecahan suatu masalah.

  4. Kurikulum yang Dikembangkan Berdasarkan kepada Standar

      Isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal, nasional, dan
      perkembangan IPTEK dan dunia kerja.

  5. Responsif terhadap Budaya

      Guru harus memahami dan menghormati nilai, kepercayaan, dan
      kebiasaan siswa, sesama rekan guru dan masyarakat tempat ia
      mendidik. Setidaknya ada empat perspektif yang harus diperhatikan:
      individu siswa, kelompok siswa, tatanan sekolah, dan tatanan
      masyarakat.

  6. Penilaian Autentik

      Beberapa strategi penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa
      diantaranya: penilaian atas proyek dan kegiatan siswa, pengetahuan
      porofolio, rubrics, ceklis, dan panduan pengamatan disamping
      memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut aktif berperan serta
      dalam menilai pembelajaran mereka sendiri.

b. Komponen CTL

       Tujuh komponen pelaksanaan model pembelajaran CTL adalah
  sebagai berikut.

  1. Konstruktivisme (constructivism)

     Konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi)
     pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
   sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
   terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Manusia harus
   mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
   pengalaman nyata.

2. Menemukan (Inquiry)

   Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan
   dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
   menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang
   merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

3. Bertanya (Questioning)

   Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari „bertanya‟.
   Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang
   berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai
   kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan
   berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting
   dalam melaksanakan pembelajaran inquiri, yaitu menggali informasi,
   mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan
   perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

   Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari
   kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara
   teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.

5. Pemodelan (Modelling)

   Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu,
   ada model yang bisa ditiru. Dalam pendekatan CTL guru bukan satu-
   satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

6. Refleksi (Reflection)
         Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau
         berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa
         lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur
         pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari
         pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian,
         aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

      7. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)

         Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
         memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang
         benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar
         mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada
         diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode
         pembelajaran. Karena assement menekankan proses pembelajaran, maka
         data yang dikumpulkan harus pada saat melakukan proses pembelajaran.

   c. Pelaksanaan Model Pembelajaran CTL
      1. Menyampaikan tujuan pembelajaran/indikator.
      2. Menyajikan kartu soal dan lembar kerja siswa.
      3. Siswa diminta berdiskusi dengan teman sebangku untuk
          menyelesaiakan lembar kerja siswa tersebut.
      4. Memberikan bimbingan pada siswa.
      5. Meminta salah satu siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di
          depan kelas.
      6. Siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan dan
          mengajukan pertanyaan, kemudian dibahas bersama-sama.
      7. Siswa dengan bantuan guru menarik kesimpulan.
      8. Memberikan umpan balik.

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD berbasis CTL

           Pada model pembelajaran kooperatif Tipe STAD berbasis CTL, siswa
      memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga
      dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya,
      yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara
   yang fleksibel, yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke
   permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lainnya.

         STAD dilaksanakan dengan menyertakan tujuh komponen CTL yang
   meliputi: konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya
   (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan
   (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian autentik (authentic
   assesment) seperti yang telah diungkapkan di depan.

         Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis CTL akan
   dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut.

a. Menyampaikan tujuan pembelajaran/indikator.
b. Memberikan informasi/menyampaikan materi yang akan diberikan.
c. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari 4–
   5 siswa.
d. Memberikan nama kelompok untuk masing-masing kelompok.
e. Menyajikan kartu soal dan membagikan lembar kerja siswa kepada masing-
   masing anggota kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan secara
   berkelompok.
f. Mengingatkan siswa tetap bersama kelompoknya masing-masing sampai
   selesai tugasnya dan bekerja dengan menggunakan keterampilan-
   keterampilan kooperatif yang dikembangkan.
g. Memberikan bimbingan kepada kelompok.
h. Meminta salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
i. Memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk berpendapat dan
   mengajukan pertanyaan, kemudian membahasnya bersama-sama.
j. Pemberian kuis yang dikerjakan secara individu.
k. Jawaban dari kuis dikoreksi bersama-sama.
l. Siswa dengan bantuan guru menarik kesimpulan.
m. Guru memberikan umpan balik.
n. Memberikan tugas kelompok sebagai tugas rumah yang dikerjakan secara
   berkelompok.
o. Memberikan PR.
            STAD berbasis CTL dalam penelitian ini merupakan pembelajaran
      kooperatif dengan mengangkat masalah-masalah keseharian siswa sehingga
      siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya.

4. Hasil Belajar

         Siswa yang belajar akan mengalami perubahan sebagai hasil belajar yag
   telah dilakukan. Salim (2002:512) mendefinisikan hasil belajar sebagai sesuatu
   yang diperoleh, didapatkan atau dikuasai setelah proses belajar yang biasanya
   ditunjukkan dengan nilai atau skor. Slameto (2003:4) menjelaskan hasil belajar
   adalah perubahan yang terjadi secara sadar, bersifat kontinyu dan fungsional
   setelah mengalami pelatihan dan pengalaman dalam kegiatan pembelajaran.
   Sedangkan Sudjana (1995:32) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan
   yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Penilaian hasil
   belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai
   siswa dalam kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilai
   adalah hasil belajar.

         Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai
   hasil dari proses belajar mengajar. Perubahan ini berupa pengetahuan,
   pemahaman, keterampilan dan sikap yang biasanya meliputi ranah kognitif,
   afektif dan psikimotorik. Dimyati dan Mudjiono (2002:174-176) serta
   Arikunto (2001:116-118) menjelaskan ranah-ranah tersebut sebagai berikut.

  1. Ranah kognitif (Cognitive domain) Berkaitan dengan hasil belajar
      intelektual yang terdiri atas enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan
      (kognitif tingkat rendah) dan pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi
      (kognitif tingkat tinggi).
  2. Ranah afektif (Affective domain)Berkenaan dengan sikap yang terdiri atas
      lima aspek, yaitu; penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi,
      dan internalisasi.
  3. Ranah psikomotorik (Psychomotor domain) Berkenaan dengan hasil
      keterampilan dan kemampuan bertindak meliputi; gerakan refleks,
      keteraturan gerakan dasar, keharmonisan atau ketepatan, gerakan
      keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif.
             Hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dengan semakin bermutunya
       kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang diketahui dari hasil
       pengukuran. Tes hasil belajar merupakan salah satu alat ukur yang banyak
       digunakan untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Dalam penelitian ini
       hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih skor antara pre-test dan post-test
       serta ketuntasan belajar yang dicapai oleh siswa pada kelas eksperimen
       maupun kontrol.


F. METODE PENELITIAN
   1. Rancangan Penelitian
        Penulis menggunakan rancangan penelitian jenis eksperimen semu yang akan
   membandingkan akibat perlakuan tertentu dengan tanpa perlakuan. Rancangan
   penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimen
   dengan model pretest postest control group design dengan satu macam perlakuan.
   Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dipilih memiliki kemampuan
   yang relatif sama karena pemilihan kedua kelas tersebut didasarkan pada nilai dari
   hasil pretest yang dilakukan sebelum perlakuan.
        Table rancangan penelitian.
         Kelas Pretest Perlakuan Postest
           K        O1          -         O2
           E        O1         X          O2
          (Sumber: Arikunto 1989,30)
          Keterangan:    K = Kelas Kontrol        X = Perlakuan
                         E = Kelas Eksperimen T = Tes Prestasi Belajar


   2. Populasi dan sampel
        Populasi yang diambil oleh penulis adalah seluruh siswa kelas XI di SMA
   Negeri 7 Malang semester 1 tahun ajaran 2005/2006 yang terdiri dari 9 kelas.
   Masing-masing kelas terdiri dari 42 siswa. Semua kelas dari anggota populasi
   mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. Sampel yang dipilih
   oleh peneliti adalah kelas XI-IS1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI-IA2
   sebagai kelas kontrol karena kedua kelas ini adalah kelas reguler di SMA Negeri 7
   Malang dan juga kedua kelas ini diajar oleh guru yang sama.
3. Instrumen Penelitian
     Penulis menggunakan dua instrumen yaitu instrumen perlakuan dan
instrumen prestasi belajar.


      1. Instrumen Perlakuan
            Instrumen perlakuan dikembangkan dengan mengikuti pola metode
       pembelajaran STAD berbasis CTL yang berupa rencana pelakasanaan
       pembelajaran STAD berbasis CTL dan pemberian tugas berupa lembar
       kerja siswa.


      2. Instrumen Pengukuran Kemampuan awal siswa.
            Tes kemampuan awal siswa pada materi perangkat keras untuk akses
       internet dilakukan sebelum dilakukan perlakuan. Test ini terdiri dari 20 soal
       berbentuk objektif. Pemberian skor pada satu soal apabila benar maka diberi
       skor 5 dan jika salah diberi skor 0. Skor siswa dihitung dengan cara
       menghitung jumlah jawaban yang benar di seluruh soal, dan selanjutnya
       diasumsikan sebagai kemampuan awal siswa antara kelas eksperimen dan
       kelas kontrol.


      3. Instrumen Pengukuran Hasil Belajar Matematika
            Tes hasil belajar perangkat keras internet siswa kelas XI di SMA
       Negeri 7 Malang dilakukan setelah perlakuan sebanyak 1 kali. Tes ini terdiri
       dari 25 soal berbentuk objektif. Pemberian skor pada satu soal apabila benar
       maka diberi skor 4 dan apabila salah diberi skor 0. Skor siswa dihitung
       dengan cara menghitung jumlah jawaban yang benar di seluruh soal, yang
       selanjutnya diasumsikan sebagai ukuran tinggi rendahnya hasil belajar
       perangkat keras akses internet siswa kelas XI.


      4. Ujicoba Instrumen
             Instrumen yang baik dapat ditinjau dari berbagai segi sebagai berikut.
        a. Validitas
             Rumus yang digunakan untuk menghitung validitas soal tes yaitu
       validitas butir soal pilihan ganda adalah rumus rpbi.
                       ............... (Arikunto, 2003:79)




       Keterangan:
                    = Koefisien korelasi biserial
                    = Rerata skor dari subyek yang menjawab benar bagi item
                       yang dicari validitasnya
                    = Rerata skor total
                    = Proporsi subjek yang menjawab item yang benar
                    = Proporsi subjek yang menjawab item yang salah
                    = Standar deviasi
                    = Banyaknya siswa
                    = Nilai uji t


       Signifikan koefisien korelasi point biserial (rpbi) dapat dilihat pada t
tabel dengan derajat kebebasan dk = n – 2. Butir soal dikatakan valid jika
thitung > ttabel.


b. Reliabilitas
       Rumus yang digunakan untuk menguji realibilitas tes obyektif adalah
rumus Kuder-Richardson 20(KR20).




 Keterangan:
          = banyaknya soal
          = proporsi banyaknya subjek yang menjawab benar
          = proporsi banyaknya subjek yang menjawab salah
          = varians total
         Kriteria untuk menentukan derajat reliabilitas adalah sebagai berikut.
 0 ≤ r11 < 0,20             derajat realibilitas sangat rendah
 0, 20 ≤ r11 < 0,40         derajat realibilitas rendah
0 ,40 ≤ r11 < 0,60     derajat realibilitas sedang
0 ,60 ≤ r11 < 0,80     derajat realibilitas tinggi
0 ,80 ≤ r11 < 1,00     derajat realibilitas sangat tinggi


c. Indeks Kesukaran
     Rumus yang digunakan untuk menghitung derajat kesukaran butir
soal adalah.
                   ..........(Arikunto, 2003:208)

Keterangan :
P     = indeks kesukaran butir soal
B     = banyaknya siswa yang menjawab dengan benar
JS    = banyaknya seluruh siswa tes.
     Tingkatan indeks kesukaran menurut Arikunto (2003:210) adalah
sebagai berikut.
0,00 ≤ P < 0,30        : soal sukar
0,30 ≤ P < 0,70        : soal sedang
0,70 ≤ P < 1           : soal mudah
     Soal yang baik adalah soal yang mempunyai indeks kesukaran 0,30
sampai 0,70 (Arikunto, 2003:210).


d. Daya Pembeda
     Daya pembeda digunakan untuk mengetahui kualitas butir soal
dilihat dari kemampuan siswa yang mengerjakan baik yang
berkemampuan tinggi maupun rendah. Rumus yang digunakan adalah.

                                ............(Arikunto, 2003:213)

     Keterangan:
               = Daya pembeda butir soal
               = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal
                   dengan benar
               = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal
                   dengan benar
               = banyaknya peserta kelompok atas
               = banyaknya peserta kelompok bawah
                  Kriteria daya pembeda soal yang digunakan (Arikunto, 2003:218)
         adalah sebagai berikut.
         0,7 < D ≤ 1            : baik sekali
         0,4 < D ≤ 0,7          : baik
         0,2 < D ≤ 0,4          : cukup
         0   < D ≤ 0,2          : jelek
              D ≤ 0,2           : jelek sekali
         Jika D bernilai negatif maka butir soal dibuang saja.


4. Teknik Pengumpulan Data
      Penulis mengemukakan Data yang diperlukan dalam penelitian ini ada dua
yaitu data kemampuan awal siswa sebelum diberi perlakuan dan data hasil belajar
matematika setelah diberi perlakuan. Data kemampuan awal siswa diperoleh
dengan teknik dokumenter yaitu dengan cara mengambil nilai ulangan sebelum
materi persamaan linier yaitu nilai ulangan materi sistem kuadrat. Data ini
digunakan untuk mengetahui kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen. Data hasil belajar matematika siswa diperoleh dari dengan cara
memberi tes kepada siswa setelah eksperimen pembelajaran dilakukan.


5. Teknik Analisis Data
      Penulis menuliskan analisis data yang digunakan untuk memeriksa keabsahan
data dua jenis:
1. Uji Prasyarat
   Uji prasyarat analisis yang digunakan ada dua macam, yaitu :
   a. Uji Normalitas
             Uji normalitas digunakan untuk mengkaji apakah data berdistribusi
       normal atau tidak. Rumus yang digunakan adalah:

                                          ....... (Sudjana, 1996:273)

       Keterangan:
                  = nilai Chi-kuadrat
                  = frekuensi hasil pengamatan
                  = frekuensi yang diharapkan
   b. Uji homogenitas
               Uji homogenitas digunakan untuk menguji homogenitas dari dua
        kelompok sampel atau untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok yang
        digunakan sebagai sampel berasal dari populasi yang sama. Rumus yang
        digunakan adalah:

                                              ...........(Sudjana, 1996:250)


2. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
             Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki
    kemampuan awal yang sama atau tidak. Pasangan hipotesis yang akan diuji
    adalah.




             Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah rumus
    uji t.
3. Uji Hipotesis
             Untuk menguji hipotesis penelitian yang berbunyi bahwa hasil belajar
   siswa dengan pembelajaran STAD berbasis CTL lebih tinggi dibandingkan
   dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran STAD digunakan
   uji t satu ekor pihak kanan. Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah.




             Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah rumus
    uji t. Kriteria pengujian yang berlaku adalah     diterima jika                 .

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: STAD
Stats:
views:1406
posted:6/4/2011
language:Indonesian
pages:18