Pemilu 2009 paling rusuh dalam sejarah
Kata Gus DUR ini pemilu 2009 paling kacau balau Rusuh stressss bikin mulenggggggggggg Tepat 10 Tahun Lalu Category: Indonesian, Thoughts — kamaruddin @ 10:53 am Berbagai media cetak dan elektronik membangkitkan kembali ingatan saya tentang naiknya harga BBM yang ikut menarik harga sembako dan lainnya. Saya sudah cukup dewasa untuk mengingat peristiwa yang kemudian berujung ke kerusuhan masal. Tepat 10 tahun lalu. Saya membongkar kembali sebuah tabloid yang sudah 10 tahun lalu sengaja diarsipkan. Ketika itu saya membeli tabloid Aksi Vol. 2 No. 27 12-18 Mei 1998 untuk mendapatkan berita yang “berani” dan mengungkap fakta. Tabloid ini barangkali sudah almarhum sekarang. Terbit pertama kali tahun 1996, zaman di mana masih memakai SIUPP untuk menerbitkan koran. Beberapa daerah di Indonesia dan Medan sejak kemarin (16/05) sudah mengalami kelangkaan BBM. Apakah ini histeria masal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan kelangkaan atau karena pipa distribusi bawah laut Pertamina mengalami kerusakan? Saya tidak berani mengomentari. Dari beberapa percakapan lepas, singgungan masalah “Mei Kelabu” kembali mencuat. Trauma kenaikan sembako tak terjangkau, PHK masal, penjarahan, pembakaran, kerusuhan, anti etnis, pemerkosaan tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan. “… di saat situasi tidak menguntungkan, tiba-tiba saja pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM (4 Mei). Akibatnya, muncul gerakan massa di Medan (juga Kupang) serta menjadikan dua kota itu lumpuh. Sementara di Jakarta, Bandung dan Ujung Pandangpun terjadi bentrokan serta kerusuhan. Dengan demikian, batas antara gerakan moral reformis dan perut lapar menjadi tidak jelas lagi…” — Aksi Vol.2 No. 27 1998 “… di Medan pada tanggal 5 Mei 1998 setelah beredar isu seorang mahasiswi ditangkap dan ditelanjangi juga ketika masyarakat merasa frustasi akibat efek ekonomi serta harga BBM naik, sekitar pukul 09:00 tiba-tiba saja massa menyerang Polsek Percut Sei Tuan. Tak jelas kenapa pos polisi menjadi sasaran awal. Namun hingga pukul 20:15 agaknya situasi kemanan benar-benar di luar kendali mengingat amuk massa menyebabkan pembakaran terhadap mobil, sepeda motor dan ruko. atau rumah penduduk dirusak bahkan isi toko dijarah. Celakanya setelah hari itu, anarki yang semula cuma melanda Medan malah merembet ke Deli Serdang atau PematangSiantar (129 km dari Medan) …” — Aksi Vol.2 No. 27 1998 “… tampaknya sangat terorganisasi. Soalnya sebelum kerusuhan selalu saja muncul orang-orang bersepeda motor di satu tempat. Setelah mereka melempari toko, kemudian
tindakan itu menyebabkan orang lain mengikuti, provaktor itu lantas kabur…” — Aksi Vol.2 No. 27 1998 Jangan salah tafsir bahwa saya sengaja memprovokasi atau membangkitkan ingatan traumatis. Tidak akan ada orang gila manapun yang menginginkan kekacauan dan peristiwa tersebut kembali. Cukup sudah pelajaran 10 tahun lalu! Sebuah pembelajaran mahal bangsa demi reformasi dan demokrasi sepenuhnya, dengan persembahan nyawa dan air mata. Adakah hal baik hari ini dibandingkan 10 tahun lalu? Kasus penangkapan sejumlah besar koruptor termasuk jaksa merupakan kemajuan besar menuju cita-cita reformasi yang masih diperjuangkan hingga saat ini. Pejabat yang diperiksa dan ditangkap tersangkut kasus korupsi jauh lebih banyak dibandingkan 10 tahun lalu. Sebuah indikator positif menuju Indonesia lebih baik. Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah kalimat zaman doeloe, “Era Tinggal Landas” ™ yang sering didengungkan di bangku sekolah dulu. Apakah “pesawat Indonesia” sudah terbang, masih tinggal landas atau kembali ke apron? Ada yang bisa menjawab?
Date: 04 Agustus 1998 20:45
Rekan Bhinnekawan, Dalam minggu ini kembali Tabloid AKSI mencoba trik-trik murahannya mendongkrak oplah. Sebelumnya Jakarta sempat diramaikan oleh berita yang dimuat oleh tabloid picisan ini mengenai wanita-wanita korban perkosaan kerusuhan Mei dari etnis Tionghoa yang ternyata tidak lebih dari kumpulan cerita-cerita yang selama ini kita baca melalui Internet. Sebegitu hebohnya cover tabloid tersebut sampai-sampai tabloid berbandrol Rp 1.000,- ini ditawarkan dengan harga Rp 3.000,- di persimpangan lampu merah. Kali ini, dalam terbitan Vol.2, No. 90, 4 - 10 Agustus 1998 dengan judul besar: Ki Gendeng Pamungkas:'SAYA AKAN SANTET SOEHARTO" menampilkan wawancara wartawan AKSI Akhmad Abdul Rokhman dengan paranormal Ki Gendeng Pamungkas (KGP) yang isinya ternyata tidak lebih dari obrolan ngalor-ngidul tak bermutu. Sebagaimana biasa dan lebih sering ngaco daripada benar, itupun kebetulan, KGP meramalkan akan terjadi huru-hara besar dan revolusi pada pertengahan Agustus ini dan mengutip yang katanya ramalan Jayabaya bahwa "wong jawa tinggal separoh dan wong cina tinggal sejodoh" yang menurutnya akan terbukti. Ketika ditanya siapa orang cina yang tinggal sejodoh itu, jawabannya adalah Anton Medan dengan istrinya. Wawancara diawali dengan pembicaraan mengenai keadaan politik di Indonesia dan janji KGP yang akan menyantet Suharto jika ybs tidak menyerahkan dirinya untuk diadili. Kemudian wawancara dilanjutkan dengan bualan-bualan rasial dari KGP dan ditanggapi dengan senang hati oleh wartawan tabloid picisan tersebut. Misalnya mengenai posko masyarakat anti-cina yang didirikan KGP dan keberatannya atas kedatangan orang cina menghadap Habibie. "Wah, kalau aku jadi dia, saya kemplangin cina-cina itu", katanya. KGP mengakui bahwa ia tidak ada pengalaman pribadi yang buruk selama berhubungan dengan orang cina, namun apa yang membuatnya begitu anti-cina, komentarnya "survai saya selama 20 tahun berkesimpulan cina-cina di sini brengsek semua". Lalu apa tanggapannya mengenai revolusi? ini jawabannya: "Jayabaya sudah meramalkan orang jawa akan tinggal separoh, orang cina tinggal sejodoh. Jadi kalau
penduduk kita yang 200 juta mati separoh, juga nggak apa-apa. Namanya juga revolusi, saya malah senang kalau itu terjadi". Demikian lah secara garis besar isi dari pembicaraan yang kurang layak dianggap wawancara tersebut. Saya sangat menyesalkan keputusan yang diambil redaksi AKSI, B. Sudharmanto, untuk menerbitkannya. Kalau memang membutuhkan komentar picisan demikian setiap hari ada ribuan yang bertebaran di Internet dan jika memang berminat redaksi AKSI bahkan dapat membuat tabloid tersendiri yang khusus untuk itu. Di masa krisis ini, saya maklum jika setiap orang berusaha mencari kesempatan, sebagaimana yang dilakukan tabloid tersebut untuk menaikkan oplahnya dan sekaligus menjadi ajang mencari popularitas buat yang diwawancarai. Tetapi apakah sudah sedemikian putus-asanya tabloid tersebut sehingga harus mencetak sesuatu yang tidak lebih dari obrolan ngelantur di warung kopi? Saya menghimbau rekan-rekan sekalian yang tinggal di Indonesia untuk tidak membeli setiap kali tabloid tersebut diterbitkan karena selain membuang uang, Anda juga menyia-nyiakan waktu saja membaca isinya yang tidak berbobot. Apalagi iklannya di dominasi oleh paranormal yang lagi "rindu order". Saya sendiri dipinjami oleh seorang teman yang merasa tertipu setelah membeli tabloid tersebut. Setelah ini mudah-mudahan hanya satu fungsi dari tabloid ini, kertas pembungkus nasi di warteg. Salam persatuan.
IN: GJA - Kisah Iklan Misterius di
From: apakabar@clark.net Date: Fri Sep 29 1995 - 15:40:00 EDT
From: John MacDougall
Subject: IN: GJA - Kisah Iklan Misterius di Tiras Date: Fri, 29 Sep 1995 17:00:59 +0800 To: apakabar@clark.net (John McDougall) From: george@sunarc.murdoch.edu.au (George Aditjondro) Subject: Kisah iklan misterius majalah TIRAS KISAH IKLAN MISTERIUS DI MAJALAH TIRAS, 23 MARET 1995 -----------------------------------------------------George J. Aditjondro HARI KAMIS, 23 Maret lalu, majalah TIRAS memuat suatu pengumuman berkabung di halaman 15, yang agak aneh. Menurut iklan itu, "Keluarga Besar Majalah Mingguan Berita TIRAS turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Bapak H. Noor Slamet Asmoprawiro dalam usia 49 tahun, pada hari Jumat 10 Maret 1995, di Jakarta". Semoga arwah almarhum diterima di
sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah, begitu doa keluarga besar TIRAS. Namun iklan itu tidak menjelaskan, siapa H. Noor Slamet Asmoprawiro (NSA)? Apa pekerjaannya, dan di mana rumahnya? Juga, siapa-siapa saja anggota "keluarga yang ditinggalkan"? Dan, yang paling penting, apa kaitan almarhum dengan TIRAS, sehingga "keluarga besar" majalah itu sampai merasa perlu memasang iklan dukacita satu halaman penuh bagi almarhum? Tampaknya agak susah bagi majalah TIRAS untuk terang-terangan membeberkan identitas NSA. Soalnya, almarhum adalah adik kandung Harmoko, boss Golkar yang juga "juru cuap" Suharto, yang petunjuknya selalu dengan setia diteruskan oleh Bung Moko kepada rakyat Indonesia. Pemuatan iklan itu sendiri barangkali lantaran "kecolongan", barangkali itulah cara Eddy Herwanto dkk menyatakan kesetiaan mereka pada pemberi SIUPP majalah TIRAS, reinkarnasi majalah EDITOR. Dan sebagai "reinkarnasi" majalah EDITOR, tentunya para pemegang saham EDITOR harus "dioperkan" pula ke majalah TIRAS, dengan tambahan perusahaan milik keluarga Menteri Tenaga Kerja, Abdul Latief, yang juga merupakan kongsi berbagai usaha strategis PT Freeport Indonesia, perampas hak-hak asasi suku Amungme, Komoro, dan Mimika di bumi kasuari. Nama NSA memang cukup meriah berkibar di dunia media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Di media massa, ia memperoleh 20% saham penerbit tabloid mingguan GEMA OLAHRAGA (GO) milik Bakrie Brothers, 10% saham penerbit tabloid Bintang milik Sudwikatmono, dan 8% saham penerbit majalah EDITOR, sebelum dibredel. Setelah EDITOR menjelma kembali menjadi majalah TIRAS, besar sekali kemungkinan bahwa dia tetap mewarisi sahamnya di majalah EDITOR almarhum. Dan ketika Bakrie Brothers juga membeli harian NUSA TENGGARA milik Kodam Udayana di Denpasar, besar kemungkinan bahwa NSA juga kecipratan saham harian itu, yang tampaknya sengaja dibeli oleh konglomerat kesayangan istana itu, untuk meredam suara-suara kritis dari Bali s/d Timor Timur, wilayah kekuasaan para serdadu Bali itu. Kalau tidak percaya, tanya saja pada Ical, atau anak buahnya di GO dan NUSRA. Pasti mereka akan menyangkal. Karena itu, cek saja langsung ke notaris atau ke lembaran negara yang memuat akte pendirian perusahaan-perusahaan penerbit media massa itu. Menurut sumber saya di Deppen, keluarga Harmoko juga punya saham dalam maskapai pemancar televisi AN-teve, juga dari kelompok perusahaan Bakrie Brothers, dan SCTV, dari kelompok perusahaan milik Sudwikatmono dkk. Besar kemungkinan, NSA jugalah yang "mewakili" kepentingan keluarga Harmoko di sana. Sebab ketika ia meninggal, berita dukacitanya hanya disiarkan oleh SCTV, bukan oleh TVRI. Kalaun tidak percaya, tanyakan saja pada Ical dan Sudwikatmono, atau cek langsung di notaris atau di lembaran negara yang memuat akte pendirian pemancar AN-teve dan SCTV.
Seperti halnya Adi Sutrisno, adik iparnya yang juga "bermain" di luar media massa, NSA juga ikut "berkecimpung" di luar bidang media massa. Tapi seperti halnya Adi Sutrisno, NSA tidak jauh berkutat dari bidang yang dikuasai oleh kakak kandungnya, Harmoko, serta kawan dekat Harmoko di masa kecil, Lukminto (terlahir Ie Djie Sien). Menurut sumber saya di PT Sritex, Lukminto adalah "teman berenang di Kali Brantas" di masa kecil Harmoko di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Persahabatan Harmoko dan Lukminto di masa kecil rupanya dilanjutkan oleh sang adik, NSA, di masa dewasanya. Tahun 1985, Lukminto bersama NSA dan Nuke Mayasaphira, seorang bekas bintang film, mendirikan satu perusahaan yang tidak terlalu jauh dari dunia artis, yakni PT Golden Multi Cahaya Video, sebuah rumah produksi film-film video untuk televisi. Dua tahun kemudian, juga bersama NSA dan Nuke Mayasaphira, Lukminto membeli perusahaan makanan & minuman PT Merdecindo Permai, namun dua tahun kemudian, Lukminto dan kedua kerabat bisnisnya untuk menjual saham-saham mereka dalam perusahaan itu. Hubungan bisnis antara keluarga Lukminto dan keluarga Harmoko kemudian membuahkan hasil yang cukup lumayan, ketika Harmoko ketiban sampur dari Suharto menjadi boss Golkar. Kontan PT Sritex, "kapal induk" konglomerat milik keluarga Lukminto dan keluarga Harmoko, mendapat monopoli pembuatan batik seragam Golkar maupun batik seragam salah satu ormas onderbouw Golkar. Rezeki yang lumayan besarnya, melihat banyak pegawai negeri -- serta perangkat desa di seluruh Indonesia -- yang dirampas hak-hak asasinya sebagai manusia, dengan dipaksa menjadi anggota Golkar, dan diharuskan membeli batik buatan PT Sritex itu. Sementara itu, NSA dan bekas bintang film yang partner bisnisnya, mulai merambah ke bidang iklan luar ruang (outdoor advertising). Walhasil, sekarang ini, walaupun partner bisnisnya sudah meninggal dunia, bendera Nuke Mayasaphira tetap berkibar di jagat perusahaan iklan billboard dan sebangsanya, bersama bendera seorang bekas bintang film yang kini juga berkiprah di bidang itu, Gatot Teguh Ariffianto. Sedangkan di dunia pers sendiri, Nuke Mayasaphira masih tetap "kecipratan" sawab Harmoko dengan menjadi pemimpin perusahaan salah satu koran Harmoko yang terbaru, BISNIS MARITIM. Dengan posisi di koran pengusaha-pengusaha maritim itu Nuke Mayasaphira memperoleh kedudukan di organisasi perusahaan pers,SPS, demi mengamankan jatah kertas koran bagi media cetak yang dikuasai keluarga Harmoko. Betul-betul sesuai dengan pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Walaupun Noor Slamet Asmoprawiro sudah tiada, demi kejayaan keluarga besar Harmoko Nuke Mayasaphira-lah penggantinya.
Itulah kisah di balik iklan misterius di majalah TIRAS, 23 Maret lalu. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Eddy Herwanto dkknya di TIRAS.
Dewan Pers Akan Pertemukan Monitor dan Rizal Mallarangeng Jum'at, 3 Juli 2009 - 18:41 wibAmiruddin MR Ritonga - Okezone TEXT SIZE : JAKARTA - Tabloid Indonesia Monitor mengadukan Rizal Mallarangeng ke Dewan Pers karena dianggap melecehkan media tersebut dengan menyebut Tabloid Indonesia Monitor sebagai, media comberan. Untuk menyelesaikan masalah ini, Dewan Pers akan berencana mempertemukan kedua pihak. "Dewan Pers akan menjadi mediator kedua belah pihak untuk mempermudah tercapainya Winwin Solution," ujar anggota Dewan Pers Komisi Pengaduan, Abdullah Alamudi di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (3/7/2009). Mengenai kapan pertemuan itu akan dilakukan, Alamudi belum bisa memastikan, sebab Rizal Mallareng dipastikan belum dapat memenuhi panggilan Dewan Pers dalam waktu dekat terkait pemilihan presiden. Pihak Tabloid Monitor sebelumnya menyatakan tidak terkait dengan penyebaran kertas selembaran kampanye hitam yang berisi wawancara Tabloid Monitor dengan Habib Husein Alhabsy di edisi 49 Juni 2009. Wawancara itu berjudul "Apakah PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik". Wawancara yang difotokopi itu dibagi-bagikan oleh Adi Zein Ginting, dan bukan oleh pihak Monitor. "Mengapa Rizal tidak menggunakan hak jawab atau melapor kepada Dewan Pers terkait edaran selebaran tersebut, mengapa ia melakukan penghinaan," kata Alamudi.