ASKEP KECEMASAN Sulfikar Aferil Praditya Akper Makassar by sulfikar

VIEWS: 1,805 PAGES: 21

More Info
									ASUHAN KEPERAWATAN PADA
      KLIEN CEMAS
OLEH
KELOMPOK IV


                  Asdaria
                 Dewi Astuti
              Iqbal Muhammad
                    Mirna
                Rita Anastaia
                   Rosmiati
               St.Hajar Rahma
A. Pengertian
 Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional terhadap
 penilaian individu yang subjektif, yang dipengaruhi oleh
 alam bawah sadar berkaitan dengan perasaan tidak pasti
 atau tidak berdaya dan tidak diketahui secara khusus
 penyebabnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa :

 Cemas adalah perasaan tidak pasti dan tidak menentu
  terhadap ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa
  alasan yang jelas.
 Keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik.
 Kondisi    yang    dialami  secara     subjektif    dan
  dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.
 Merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang
  berbahaya.
B.Rentang Respon Ansietas

Rentang respon berfluktuasi antara respon adaptif dan mal adaptif.

                  RENTANG RESPON ANSIETAS


   Respon Adaptif                                  Respon Maladaptif




            Antisipasi   Ringan   Sedang   Berat      Panik
C.Tingkatan Cemas

Cemas terdiri atas empat tingkatan yaitu :
  • Cemas ringan
  • Cemas Sedang
  • Cemas Berat
  • Panik
PROSES
 KEPERAWATAN
1.Pengkajian

A. Respon individu
 Fokus pengkajian pada kecemasan
 diarahkan pada respon individu dalam
 sistem fisiologis, perilaku, kognitif dan
 afektif
a.Fisiologis

    •   Kardiovaskuler
    •   Pernapasan
    •   Neuromuskuler
    •   Gastro Intestinal
    •   Perkemihan
    •   Muskuloskeletal
b. Perilaku
   •   Gelisah
   •   Ketegangan fisik
   •   Tremor
   •   Gugup
   •   Bicara Cepat
   •   Tidak ada koordinasi
   •   Kecenderungan untuk celaka
   •   Menarik diri
   •   Menghindar
   •   Terhambat melakukan aktifitas
   •   Hiperventilasi
c. Kognitif
    •   Gangguan perhatian
    •   Konsentrasi hilang
    •   Pelupa
    •   Salah tafsir
    •   Adanya bloking pada pikiran
    •   Penurunan lahan persepsi
    •   Kreatifitas dan produktivitas menurun
    •   Bingung
    •   Khawatir yang berlebihan
    •   Kehilangan penilaian objektif
    •   Sangat waspada
    •   Takut kehilangan control
    •   Ketakutan yang berlebihan
    •   Takut cedera/ kematian
    •   Takut pada gambaran visual
d. Afektif
    •   Mudah terganggu
    •   Tidak sabar
    •   Gelisah
    •   Tegang
    •   Nervous
    •   Alarm
    •   Teror
    •   Gelisah
2.Masalah Keperawatan Yang Lazim
     Terjadi Pada Kecemasan

• Kerusakan penyesuaian        • Ansietas
• Pola pernapasan in           • Diare
  efektif
                               • Ketakutan
• Kerusakan komunikasi
  verbal                       • Perubahan nutrisi
• Koping individu in efektif   • Respon pasca trauma
• Resiko terhadap cedera       • Ketidakberdayaan
• Gangguan harga diri          • Perubahan persepsi
                                 sensori
• Gangguan pola tidur
                               • Osolasi social
• Kerusakan interaksi
  social                       • Perubahan proses pikir
• Perubahan eliminasi urin     • Inkontinensia
• Perubahan pemeliharaan
  kesehatan
3.Rencana Keperawatan
Berikut ini contoh asuhan keperawatan pada kecemasan secara umum :

  Ansietas (panik ) b/d krisis situasional dan maturasional, ancaman
    terhadap konsep diri, pengalaman traumatis.

 Intervensi :
    • Salam terapeutik
    • Pertahankan cara yang tenang, tidak mengancam selama bekerja dengan
       pasien.
    • Tenangkan pasien tentang keselamatan dan keamanannya.
    • Gunakan kata – kata yang sederhana dan pesan – pesan yang singkat,
       bicara tenang dan jelaskan pengalaman rumah sakit pada klien
    • Jaga agar lingkungan rendah dari stimulus.
    • Kolaborasi pemberian obat – obatan sesuai indikasi
    • Saat ansietas menurun, gali bersama klien kemungkinan penyebab
       terjadinya ansietas
    • Anjurkan klien menceritakan pengalaman traumatisnya dalam kondisi
       yang tidak mengancam
    • Ajarkan tanda dan gejala ansietas yang meningkat dan cara memutus
       progresnya.
 Ketakutan b/d pelecehan terhadap diri sendiri di depan orang
  lain, pobia yang spesifik.

  Intervensi :
    • Tenangkan pasien akan keselamatan dan keamanannya
    • Gali persepsi klien tentang ancaman terhadap integritas
       fisik atau terhadap konsep diri
    • Diskusikan sesuatu yang realistis dengan pasien agar
       mengenali aspek – aspek yang dapat dan tidak dapat di ubah
    • Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang
       berhubungan dengan seleksi alternatif strategi koping
    • Jika pasien memilih untuk menghilangkan ketakutan, teknik
       – teknik desensitisasi dapat digunakan
    • Dorong pasien untuk menggali perasaan dasar yang mungkin
       memperberat ketakutan yang irasional
 Koping individu in efektif b/d ego yamg tidak berkembang, super ego
  yang menghukum, takut gagal, fiksasi pada tahap perkembangan
  awal, sistem pendukung yang tidak adekuat.

  Intervensi :
    • Kaji tingkat ansietas klien
    • Mulailah menemukan kebutuhan ketergantungan pasien sesuai
      kebutuhan.
    • Pada permulaan perawatan sediakan banyak waktu untuk untuk
      ritual
    • Dukung usaha klien untuk menemukan arti dan tujuan perilaku.
    • Berikan jadwal yang terstruktur kepada klien termasuk waktu
      yang cukup untuk menyelesaikan kegiatan ritual.
    • Secara bertahap batasilah jumalah waktu yang digunkan untuk
      kegiatan ritualistic dengan mengganti dengan kegiatan lain.
    • Berikan penguatan yang positif terhadap perilaku yang tidak
      ritualistic
    • Dorong pengakuan situasi yang memancing pikiran obsesif dan
      perilaku ritualistic.
 Ketidakberdayaan b/d takut di tolak oleh orang lain, kurangnya
  umpan balik yang     positif,   tidak   terpenuhinya   kebutuhan
  ketergantungan.

  Intervensi :
   • Libatkan pasien sebanyak mungkin untuk perawatan dirinya
      sendiri.
   • Bantu pasien untuk menata tujuan – tujuan yang realistis
   • Bantu klien mengidetifikasi area – area situasi kehidupan
      yang dapat dikontrol oleh klien.
   • Identifikais cara – cara yang dengannya pasien dapat
      mengalami suatu keberhasilan.
 Isolasi Sosial b/d kesulitan berinteraksi dengan orang lain dimasa
   lampau, panik

   Intervensi :
    • Sampaikan sikap yang menerima melalui kontak yang sering dan
       singkat.
    • Perlihatkan perhatian positif secara mutlak
    • Temani pasien saat akan memberikan dukungan terhadap
       aktivitas yang sukar dan menakutkan untuknya.
    • Jujur dan tepati semua janji.
    • Waspada dengan sentuhan
    • Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
    • Diskusikan dengan klien tanda – tanda peningkatan kecemasan
       dan ajarkan teknik untuk memutusnya.
    • Berikan pengenalan dan penguatan yang positif terhadap
       kesukarelaan pasien berinteraksi dengan orang lain.
4.Hasil Yang Diharapkan
 Ansietas (panik ) b/d krisis situasional dan
 maturasional, ancaman terhadap konsep diri,
 pengalaman traumatis.


  • Pasien mempu mempertemukan ansietas dimana
    pemecahan masalah dapat diselesaikan
  • Pasien mampu menyebutkan tanda dan gejala ansietas
  • Pasien mampu mendemonstrasikan teknik – teknik
    memutuskan peningkatan ansietas sampai di tingkat
    panik.
  Ketakutan b/d pelecehan terhadap diri sendiri di
  depan orang lain, pobia yang spesifik.

• Pasien tidak mengalami ketakutan yang melumpuhkan saat
  terpajan pada objek atau situasi pobik
• Pasien mengatakan cara yang mempu dilakukan untuk
  menghindari objek atau situasi pobik dengan perubahan
  gaya hidup yang minimal
• Pasien mampu mendemonstrasikan teknik – teknik koping
  yang    adaptif   yang   mungkin     di gunakan  untuk
  mempertahankan ansietasnya pada tingkat yang dapat
  ditoleransi
  Koping individu in efektif b/d ego yamg tidak
  berkembang, super ego yang menghukum, takut
  gagal, fiksasi pada tahap perkembangan awal,
  sistem pendukung yang tidak adekuat.

• Pasien mampu mengungkapkan tanda dan gejala peningkatan
  ansietas dan mengintervensi untuk mempertahankan
  ansietas pada tingkat yang dikontrol
• Pasien mendemonstrasikan kemampuan untuk memutus
  pikiran – pikiran kompulsif dan menahan diri dari perilaku
  ritualistic dalam berespon terhadap situasi stres
  Ketidakberdayaan b/d takut di tolak oleh orang lain,
  kurangnya umpan balik yang positif, tidak
  terpenuhinya kebutuhan ketergantungan.

• Pasien mengatakan pilihan yang dapat dibuat dalam suatu
  perencanaan untuk mempertahankan control situasi
  kehidupannya.
• Pasien mengatakan secara jujur tentang situasi kehidupannya
  yang tidak dapat dikontrolnya
• Pasien mampu mengatakan sistem untuk menyelesaikan
  masalah sesuai penempilan peran yang adekuat.
  Isolasi Sosial b/d kesulitan berinteraksi dengan
  orang lain dimasa lampau, panik

• Pasien mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk
  berinteraksi dengan orang lain
• Pasien secara suka rela mengikuti aktivitas kelompok
• Pasien mendekati orang lain dengan cara yang sesuai untuk
  interaksi satu persatu.

								
To top