Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

DEWASA MUDA SEBAGAI MASA TRANSISI

VIEWS: 353 PAGES: 9

									DEWASA MUDA SEBAGAI MASA TRANSISI


 A. Pendahuluan
             Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung
    jawabnya tentu semakin bertambah besar. Dia tidak lagi harus bergantung secara
    ekonomis, sosiologis ataupun psikologis pada orang tuanya. Mereka justru merasa
    tertantang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa yang mandiri.
    Segala urusan ataupun masalah yang dialami dalam hidupnya sedapat mungkin dapat
    ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain termasuk orang tua. Berbagai pengalaman baik
    yang berhasil maupun gagal dalam menghadapi suatu masalah akan dapat dijadikan
    pelajaran berharga guna membentuk seorang pribadi yang matang, tangguh dan
    bertanggung jawab terhadap masa depannya.
             Secara fisik, seorang dewasa muda (young adulthood) menampilkan profil yang
    sempurna dalam arti bahwa pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek fisiologis telah
    mencapai posisi puncak. Mereka memiliki daya tahan dan taraf kesehatan yang prima
    sehingga dalam melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik, cepat dan
    proaktif.
             Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda ialah mereka yang berusia
    20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang
    dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physiacally trantition),
    transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role
    trantrition)
 B. Transisi Fisik
             Dari pertumbuhan fisik, menurut Santrock (1999) diketahui bahwa dewasa muda
    sedang mengalami peralihan dari masa remaja untuk memasuki masa tua. Pada masa ini,
    seorang individu tidak lagi disebut sebagai masa tangguh (akil balik), tetapi sudah
    tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar dewasa (maturity). Dia tidak lagi
    diperlakukan sebagai seorang anak atau remaja, tetapi sebagaimana layaknya seperti
    orang dewasa lainnya. Penampilan fisiknya benar-benar matang sehingga siap melakukan
    tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja, menikah, dan mempunyai
    anak. Dia dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk dirinya ataupun orang lain
    (termasuk keluarganya). Segala tindakannya sudah dapat dikenakan aturan-aturan hokum
    yang berlaku. Artinya bila terjadi pelanggaran, akibat dari tindakannya akan memperoleh
    sanksi hukum (misalnya denda, dikenakan hukum pidana atau perdata). Masa ini ditandai
    pula dengan adanya perubahan fisik. Misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara,
    menstruasi dan kemampuan reproduksi.
 C. Transisi Intelektual
             Menurut anggapan Piaget (dalam Crain, 1992; Miller, 1993; Santrock, 1999;
    Papalia, Olds & Feldman, 1998), kapasitas kognitif dewasa muda tergolong masa
    operasional formal, bahkan kadang-kadang mencapai masa post-operasi formal (Turner
    & Helms, 1995). Taraf ini menyebabkan, dewasa muda mampu memecahkan masalah
    yang kompleks dengan kapasitas berpikir abstrak, logis dan rasional. Dari sisi intelektual,
    sebagian besar dari mereka telah lulus dari SMU dan masuk ke perguruan tinggi
    (universitas/akademik). Kemudian setelah lulus tingkat universitas, mereka
    mengembangkan karier untuk meraih puncak prestasi dalam pekerjaannya. Namun
    demikian, dengan perubahan zaman yang makin maju, banyak di antara mereka yang
    bekerja, sambil terus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, misalnya pascasarjana.
    Hal ini mereka lakukan sesuai tuntutan dan kemajuan perkembangan zaman yang
    ditandai dengan masalah-masalah yang makin kompleks dalam pekerjaan di lingkungan
    sosialnya.
 D. Transisi Peran Sosial
           Pada masa ini, mereka akan menindaklanjuti hubungan dengan pacarnya (dating)
    untuk segera menikah agar dapat membentuk dan memelihara kehidupan rumah tangga
    yang baru, yakni terpisah dari kedua orang tuanya. Di dalam kehidupan rumah tangga
    yang baru inilah, masing-masing pihak baik laki-laki maupun wanita dewasa, memiliki
    peran ganda yakni sebagai individu yang bekerja di lembaga pekerjaan ataupun sebagai
    ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga,
    sedangkan seorang wanita sebagai ibu rumah tangga. Tanpa meninggalkan tugas karir
    tempat mereka bekerja. Namun demikian, tidak sedikit seorang wanita mau
    meninggalkan karirnya untuk menekuni tugas-tugas kehidupan sebagai ibu rumah tangga
    (domestic tasks) agar dapat mengurus dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebagai
    anggota masyarakat, mereka pun terlibat dalam aktivitas-aktivitas sosial, misalnya dalam
    kegiatan pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK) dan pengurus RT/RW.




PERKEMBANGAN KOGNITIF DEWASA MUDA
 A. Pendahuluan
 B. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Warner Schaie
    Warner Schaie (dalam Hoffman, Paris dan Hall, 1994; Papalia; Olds dan Feldman, 2001;
    Santrock, 1999) berdasarkan pandangan Jean Piaget, mengemukakan tahap
    perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif tersebut dikaitkan dengan kehidupan
    pekerjaan yang dialami individu sesama dewasa muda. Schaie membagi tahap
    perkembangan kognitif menjadi beberapa tahap yaitu :
    1. Tahap Menguasai pengetahuan dan keterampilan (acquisitive, 6-25 tahun)
           Tahap akuisitif adalah tahap yang terjadi pada masa anak dan remaja (bahkan
       dewasa awal) dan mereka berusaha menguasai pengetahuan dan keterampilan melalui
       jalur pendidikan (formal dan nonformal) guna persiapan masa depannya, terutama
       ketika mereka bekerja dalam lembaga-lembaga sosial masyarakat. Dalam hal ini,
     peran orang tua sangat penting untuk memberi kesempatan dan dukungan anak-
     anaknya agar memperoleh pendidikan terbaik. Demikian pula, tersedianya lembaga-
     lembaga pendidikan yang baik di masyarakat, akan dapat menguntungkan bagi
     terciptanya kualitas sumber daya manusia yang andal.
2.   Tahap pencapaian prestasi (achieving stage, 24-34 tahun)
         Masa pencapaian prestasi dianggap sebagai kemampuan untuk mempraktikan
     seluruh potensi intelektual, bakat, minat, pengetahuan dan keterampilan yang
     diperoleh selama masa akuistif ke dalam dunia karir. Individu telah menempuh
     pendidikan formal jenjang akademik atau universitas, kemudian mulai memasuki
     jenis pekerjaan praktis. Ia mencoba menerapkan ilmu dan keterampilannya, apakah
     cocok atau tidak dengan jenis pekerjaan yang dihadapinya.
3.   Tahap tanggung jawab (responsibility stage)
         Sebagai makhluk sosial, mau tidak mau seseorang harus mampu
     mempertanggungjawabkan segala tindakannya secara etika moral kepada masyarakat.
     Demikian pula orang yang memasuki masa dewasa muda akan dituntut rasa tanggung
     jawabnya sebagai individu yang bekerja di lembaga sosial tempat ia bekerja, seta
     dituntut tanggung jawab sebagai individu yang telah membina kehidupan rumah
     tangga. Jadi yang disebut dengan masa tanggung jawab yang harus diwujudkan dalam
     kehidupan masa dewasa muda sebagai seorang yang bekerja di lingkungan lembaga
     sosial pekerjaan ataupun lembaga sosial keluarga. Hal ini dicapai masa dewasa muda
     hingga masa dewasa menengah.
4.   Tahap eksekutif (executive stage)
         Masa ketika individu telah mencapai puncak karir sehingga ia memiliki
     pekerjaan, peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam system organisasi yang
     dibina sesama dewasa muda sebelumnya. Individu biasanya memerlukan kemampuan
     pemikiran dan keterampilan yang lebih kompleks, berkaitan dengan masalah yang
     dihadapinya pun lebih besar dan rumit. Mereka memantau pertumbuhan dan
     perkembangan segala aktivitas organisasi dari masa lalu, sekarang dan masa yang
     akan dating. Untuk itu, dibutuhkan misi dan visi ke depan yang lebih baik.
     Kebanyakan individu telah mencapai puncak karir seperti direktur perusahaan,
     direktur rumah sakit, kepala sekolah, dekan fakultas, rector dan dewan perwakilan
     rakyat atau menteri. Biasanya mereka telah mencapai masa dewasa menengah.
5.   Tahap reorganisasional (reorganizational stage)
         Orang memasuki masa pension sehingga ia mulai mengatur ulang (reorganisasi)
     seluruh kemampuan intelektual, keterampilan dan pengalaman guna mencari makna
     atau arti pekerjaan dalam kehidupannya. Ia tidak lagi berorientasi pada beberapa gaji
     yang ia peroleh dalam suatu pekerjaan, tetapi apa arti/makna yang diperoleh jika ia
     melakukan jenis pekerjaan tersebut.
6.   Tahap mencipta dalil-dalil hukum (legacy creating stage)
           PERKEMBANGAN PSIKOLOGI DEWASA MUDA


       Sebagian besar golongan dewasa muda telah menyelesaikan pendidikan sampai taraf
universitas dan kemudian mereka segera memasuki jenjang karir dalam pekerjaannya.
Kehidupan psikologi dewasa muda makin kompleks dibandingkan dengan masa remaja karena
selain bekerja, mereka akan memasuki kehidupan pernikahan, membentuk keluarga baru,
memelihara anak-anak dan tetap harus memperhatikan orang tua yang semakin tua. Selain itu,
dewasa muda mulai membentuk kehidupan keluarga dengan pasangan hidupnya yang telah
dibina sejak masa remaja/masa sebelumnya. Havighurts (Turner dan Helms, 1995)
mengemukakan tugas-tugas perkembangan dewasa muda diantaranya :

      1. Mencari dan menemukan calon pasangan hidup

      2. Membina kehidupan rumah tangga
      3. Meniti karir dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga
      4. Menjadi warga Negara yang bertanggung jawab.




Perkembangan Sosio-Emosional pada Masa Dewasa Awal


Masa dewasa awal/dini adalah awal dari seseorang menyesuaikan diri dengan pola-pola
kehidupan baru dan harapan-hrapan sosial baru.

Hurlock (1980) membagi masa dewasa dalam 3 bagian:

1. Masa dewasa awal

Masa dewasa awal berlangsung mulai dari umur 18 sampai 40 tahun. Masa ini merupakan saat-
saat seseorang mengalami perubahan psikologis dan fisik bersamaan dengan penyesuiaan diri
dan harapan harapan terhadap perubahan tersebut.

2. Masa dewasa tengah/madya
Masa dewasa tengah berlangsung dari umur 40 tahun sampai enam puluh tahun. Pada masa ini
kemampuan psikologis dan fisik mulai berkurang.

3. Masa dewasa lanjut

Masa dewasa lanjut berlangsung mulai dari umur 60 tahun sampai menjelanag kematian. Pada
masa ini keuatan fisik dan psikologis sangat mudah menurun.

Tetapi pembagian ini tidak mutlak dan ketat, karena pembagian ini hanya menunjukan umur
rata-rata pria dan wanita yang mulai menunjukan perubahan-perubahan dalam segi penampilan,
minat, sikap, dan perilaku.


   Tugas-tugas Perkembangan Dewasa Muda
Sebagian besar golongan dewasa muda telah menyelesaikan pendidikan sampai taraf
universitas dan kemudian mereka segera memasuki jenjang karier dalam pekerjaannya. Kehidup-
an psikososial dewasa muda makin kompleks dibandingkan dengan masa remaja karena selain
bekerja, mereka akan memasuki kehidupan pernikahan, membentuk keluarga baru, memelihara
anak-anak, dan tetap hams memperhaukan orang tua yang makin tua.

 Selain itu, dewasa muda mulai membentuk kehidupan keluarga dengan pasangan hidupnya,
yang telah dibina sejak masa remaja/masa sebelumnya. Havighurst (Turner dan Helms, 1995}
mengemukakan tugas-tugas perkembangan dewasa muda, di antaranya (a) mencari dan
menemukan calon pasangan hidup, (b) membina kehidupan rumah tangga, (c) meniti karier
dalam rangka rnemantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga, dan (d) menjadi warga negara
yang bertanggung jawab.

A. Mencari dan Menemukan Calon Pasangan Hidup

Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan
fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi,yaitu mampu melakukan
hubungan seksual dengan lawan jenisnya,asalkan memenuhi persyaratan yang
syah(perkawinan resmi)

B. Membina Kehidupan Rumah Tangga


Papalia, Olds, dan Feldman (1998; 2001} menyatakan bahwa golongan dewasa muda berkisar
antara 21-40 tahun. Masa ini dianggap sebagai rentang yang cukup panjang, yaitu dua puluh
tahun. Terlepas dari panjang atau pendek rentang waktu tersebut, golongan dewasa muda
yang berusia di atas 25 tahun, umum-nya telah menyelesaikan pendidikannya minimal setingkat
SLTA (SMU-Sekolah Menengah Umum), akademi atau uni-versitas. Selain itu, sebagian besar
dari mereka yang telah menyelesaikan pendidikan, umumnya telah memasuki dunia pekerjaan
guna meraih karier tertinggi. Dari sini, mereka mem-persiapkan dan membukukan diri bahwa
mereka sudah mandiri secara ekonomis, artinya sudah tidak bergantung lagi pada orang tua.
Sikap yang mandiri ini merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan
sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru. Namun, lebih dari itu,
mereka juga hams dapat membentuk, membina, dan mengembangkan kehidupan rumah
tangga dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup. Mereka harm

dapat menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing. Mereka
juga hams dapat melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-anak dalam
keluarga. Selain itu, tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua ataupun saudara-
saudara.

C. Meniti Karier dalam Rangka Memantapkan Kehidupan Ekonomi Rumah Tangga

Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas, umumnya
dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahliannya. Mereka ber-
upaya menekuni karier sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki, serta memberi jaminan
masa depan keuangan yang baik. Bila mereka merasa cocok dengan kriteria tersebut, mereka
akan merasa puas dengan pekerjaan dan tempat kerja. Sebalik-nya, bila tidak atau belurn
cocok antara minat/ bakat dengan jenis pekerjaan, mereka akan berhenti dan mencari jenis
pekerjaan yang sesuai dengan selera. Tetapi kadang-kadang ditemukan, meskipun tidak cocok
dengan latar belakang ilrnu, pekerjaan tersebut memberi hasil keuangan yang layak {baik),
mereka akan bertahan dengan pekerjaan itu. Sebab dengan penghasilan yang layak
(memadai), mereka akan dapat mem-bangun kehidupan ekonomi rumah tangga yang mantap
dan mapan. Masa dewasa muda adalah masa untuk mencapai puncak prestasi. Dengan
semangat yang menyala-nyala dan penuh idealisme, mereka bekerja keras dan bersaing
dengan teman sebaya (atau kelompok yang lebih tua) untuk menunjukkan prestasi kerja.
Dengan mencapai prestasi kerja yang terbaik, mereka akan mampu memberi kehidupan yang
makmur-sejahtera bagi keluarganya. melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu melakukan
hubung-an seksual dengan lawan jenisnya, asalkan memenuhi persyarat-an yang sah
(perkawinan resmi). Untuk sementara waktu, dorong-an biologis tersebut, mungkin akan
ditahan terlebih dahulu. Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk
dijadikan pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga
berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa
tertentu, sebagai prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang
berbeda-beda.

D. Menjadi Warga Negara yang Bertanggung Jawab


Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup tenang, damai,
dan baliagia di tengah-tengah masyarakat. Warga negara yang baik adalah warga negara yang
taat dan patuh pada tata aturan perundang-undangan yang ber-laku. Hal ini diwujudkan dengan
cara-cara, seperti (1) mengurus dan memiliki surat-surat kewarganegaraan (KTP, akta
kelahiran, surat paspor/visa bagi yang akan pergi ke luar negeri), (2) mem-bayar pajak (pajak
televisi, telepon, listrik, air. pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan), (3) menjaga
ketertiban dan ke-amanan masyarakat dengan mengendalikan diri agar tidak ter-cela di mata
masyarakat, dan (4) mampu menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat (ikut
terlibat dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti membersihkan selokan, memper-baiki jalan,
dan sebagainya).Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi
seseorang, sesuai dengan norma sosial-budaya yang berlaku di masyarakat. Bagi orang
tertentu, yang menjalani ajaran agama (rnisalnya hidup sendu^ selibat), mungkin tidak
mengikuti tugas perkembangan bagian, yaitu mencari pasangan hidup dan bagian B membina
kehidupan rumah tangga. Baik disadari atau tidak, bagian C dan D, setiap orang dewasa muda
akan melakukan tugas perkembangan tersebut dengan baik.




Ciri-ciri Masa Dewasa Awal
Ada 10 ciri-ciri masa dewasa awal (Hurlock,1980), yaitu:

1. Masa Pengaturan (settle down)

Pada masa ini, seseorang akan mencoba-coba sebelum ia menentukan sesuatu yang sesuai dan
cocok agar memberikian kepuasan yang permanen. Ketika pola hidup yang diyakini oleh
seseorang telah ditemukan, maka itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, ia akan
mengembangkan pola-pola perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang cenderung memberikan kekhasan
tersendiri bagi dirinya selama hidupnya.

2. Masa Usia Produktif
Pada masa usia produktiflah waktu yang cocok untuk seseorang menentukan pasangan hidunya,
menikah, dan bereproduksi atau menghasilkan anak. Pada masa organ reproduksi sangat produtif
untuk menghasilkan individu baru (anak).

3. Masa Bermasalah

Masa dewasa awal dikatakan juga sebagai masa-masa yang sulit dan bermasalah. Hal ini
dikarenakan seseorang harus mengadakan penyesuaian dengan peran barunya (perkawinan VS
pekerjaan). Jika ia tidak bisa mengatasinya, maka akan menimbulkan masalah. Ada 3 faktor yang
membuat masa ini begitu rumit yaitu; Pertama, individu tersebut kurang siap dalam menghadapi
babak baru bagi dirinya dan tidak bisa menyesuaikan dengan babak/peran baru tersebut. Kedua,
karena kurang persiapan maka ia kaget dengan 2 peran/lebih yang harus diembannya secara
serempak. Ketiga, ia tidak memperoleh bantuan dari orang tua atau siapapun dalam
menyelesaikan masalah.

4. Masa Ketegangan emosional

Pada saat seseorang beranjak ke bumur duapuluhan (sebelum 30-an), biasanya kondisi
emosionalnya tidak terkendali. Ia cenderung labil, resah, dan mudah memberontak. Pada masa
ini juga emosi seseorang sangat bergelora dan mudah tegang. Ia juga sering khawatir dengan
status dalam pekerjaan yang belum tinggi dan posisinya yang baru sebagai orang tua. Maka
kebanyakan akan tidak terkendali dan akan berakhir pada stress bahkan bunuh diri. Namun,
ketika sudah berumur 30-an, seseorang akan cenderung stabil dan tenang dalam emosi.

5. Masa Keterasingan Sosial

Masa dewasa dini adalah masa dimana seseorang mengalami “krisis isolas”, ia terisolasi atau
terasingkan dari kelompok sosial. Kegiatan social dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaan
dan keluarga. Hubungan dengan teman-teman sebaya juga menjadi renggang. Keterasingan
diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat untuk maju dalam berkarir..

6. Masa Komitmen

Pada masa ini juga setiap individu mulai sadar akan pentingnya sebuah komitmen. Ia mulai
membentuk pola hidup, tanggungjawab, dan komitmen baru..

7. Masa ketergantungan

Pada awal masa dewasa dini sampai akhir usia 20-an, seseorang masih punya ketergantungan
pada orang tua atau organisasi/instnasi yang mengikatnya.

8. Masa Perubahan Nilai

Nilai yang dimiliki seseorang ketika ia berada pada masa dewasa dini berubah karena
pengalaman dan hubungan sosialnya semakin meluas. Nilai sudah mulai dipandang dengan kaca
mata orang dewasa. Nilai-nilai yang berubah ini dapat meningkatkan kesadaran positif. Alasan
kenapa seseorang berubah nilia-nilainya dalam kehidupan karena agar dapat diterima oleh
kelompoknya yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati. Pada masa ini
juga seseorang akan lebih menerima/berpedoman pada nilai konvensional dalam hal keyakinan.
Egosentrisme akan berubah menjadi social ketika ia sudah menikah.

9. Masa Penyesuain Diri dengan Hidup Baru

Ketika seseorang sudah mencapai masa dewasa berarti ia harus lebih bertanggungjawab karena
pada masa ini ia sudah mempunyai peran ganda. (peran sebagai orang tua dan sebagai pekerja.

10. Masa Kreatif

Dinamakan sebagai masa kreatif karena pada masa ini seseorang bebas untuk berbuat apa yang
diinginkan. Namun kreatifitas tergantung pada minat, potensi, dan kesempatan



Masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan bercinta,terkadang menyisakan sedikit waktu
untuk hal lainnya.Bagi sebagian kita,menemukan tempat dalam masyarakat dewasa dan
mencapai kehidupan yang lebih mapan membutuhkan waktu yang lebih panjang dari yang kita
bayangkan.Kita masih bertanya pada diri kita,siapa kita dan khawatir jika tidak cukup untuk
menjadi diri kita yang sekarang.Mimpi kita berlanjut dan pikiran kita semakin dalam,namun
pada titik tertentu kita menjadi lebih pragmatis.Seks dan cinta adalah hasrat yang kuat dalam
hidup kita,di satu sisi sebuah kenikmatan,namun di sisi lain sebuah siksaan.Dan kita mungkin
tidak pernah tahu cinta orang tua sampai kita sendiri menjadi orang tua.sosio-emosional menjadi
salah satu aspek perkembangan dalam kehidupan pada masa dewasa awal.

Makalah ini disajikan untuk membahas secara mendalam mengenai perkembangan sosio-
emosional pada masa dewasa awal,yang di dalamnya terdapat berbagai subtansi kehidupan
manusia dewasa

								
To top