Docstoc

ASKEP LANSIA PPOM [ Sulfikar Aferil Praditya - Akper Makassar]

Document Sample
ASKEP LANSIA PPOM  [ Sulfikar Aferil Praditya - Akper Makassar] Powered By Docstoc
					ASKEP LANSIA GANGGUAN SISTEM
PERNAFASAN

           OLEH KELOMPOK V
              ERFINAWATI
             EVI WIDYAWATI
               MAHARANI
              RIA HARIANA
              RIA IRAWAN
               TUTI ASTINI
                  PPOM/COPD
       (Penyakit Paru Obstruktif Menahun/
     Chronic Obstructive Pulmonary Disease)
A.   PENGERTIAN

     PPOM adalah klasifikasi luas dari gangguan, yang mencakup
     bronkitis kronis, bronkietaksis, emfisema, dan asma.

     PPOM merupakan kondisi ireversibel yang berkaiyan dengan
     dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar
     udara paru-paru.

     Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20 sampai 30
     tahunan.
B. ETIOLOGI
  PPOM dianggap sebagai penyakit yang berhubungan
    dengan interaksi genetik dengan lingkungan.
  Penyebab tersering PPOM adalah
     Bronkhitis kronik
     Empisema paru
                             Merokok
                             Polusi udara
                             Dan pemajanan di tempat kerja
                              (terhadap batu bara, kapas padi-
                              padian)


      Merupakan faktor resiko penting yang menunjang pada
      terjadinya penyakit PPOM.
C. PATOFISIOLOGI
           Perjalanan penyakit PPOM sangat berhubungan
  dengan perjalanan penyakit seperti bronkitis kronik,
  bronkiektasis, emfisema, dan asma.
           Obstruksi jalan nafas yang mnyebabkan reduksi
  aliran udara beragam tergantung pada penyakit. Pada jenis
  penyakit yang disebutkan di atas penumpukan lendir dan
  sekresi yang sangat banyak menyumbat jalan nafas.
           PPOM tampak timbul cukup dini dalam kehidupan
  dan merupakan kelainan yang mempunyai kemajuan lambat
  yang timbul bertahun-tahun sebelum awitan gejala-gejala
  klinis kerusaka fungsi paru. Sering menjadi simtomatik
  selama tahun-tahun usia baya, tetapi insidennya meningkat
  sejalan dengan peningkatan usia.
    Meskipun aspek-aspek fungsi paru tertentu,
seperti kapasitas vital dan volume ekspirasi kuat,
menurun sejalan dengan peningkatan usia, PPOM
memperburuk banyak perubahan fisiologis yang
berkaitan dengan penuaan dan mengakibatkan
obstruksi jalan nafas (dalam bronkitis) dan kehilangan
daya kembang elastik paru (pada emfisema).
Karenanya terdapat perubahan tambahan dalam rasio
ventilasi-perfusipada pasien lansia dengan PPOM.
D. TANDA DAN GEJALA
     Keluhan pokok pasien
      ◦   Perokok
      ◦   Batuk kronis
      ◦   Berdahak
      ◦   Sesak nafas
     Tanda penting
      ◦   Ronkhi kering/ basa
      ◦   Suara pernafasan melemah
      ◦   Waktu ekspirasi memanjang
      ◦   Udara pernafasan kurang
Ro thoraks
Tes fungsi paru (PFT) yang
 menunjukkan obstruksi saluran
 nafas.
CT scan
   Istirahat
   Menghentikan merokok
   Mencegah infeksi dengan pemberian
    antibiotik
   Meringankan bronkospasme dengan obat
    bronkodilator
   Mengeluarkan sekresi bronkus dengan perkusi
    dan drainase postural, hidrasi
   Meningkatkan keefektifan pernafasan
    dengan latihan pernapasan
   Mencegah/memperlambat hipertensi
    pulmonal kor pulmonal dengan oksigen aliran
    rendah yang terus menerus
     KONSEP KEPERAWATAN
A.     PENGKAJIAN
           Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-
       gejala terakhir juga manifestasi penyakit sebelumnya.
       Beberapa pertanyaan yang bisa digunakan sebagai pedoman
       untuk mendapatkan riwayat kesehatan yang jelas dari proses
       penyakit.
    Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan?
    Apakah aktivitas meningkatkan dispnea?
    Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
    Kapan selama siang hari pasien mengeluh paling letih dan sesak
     nafas?
    Apakah kebiasaan makan dan tidur berpengaruh?
    Apa yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinya?
DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
 AKTIVITAS/ISTIRAHAT
 Gejala:
   Keletihan, kelelahan, malaise
   Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena
    sulit bernafas
   Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk
    tinggi.
   Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau
    latihan.
  Tanda :
   Keletihan
   Gelisah, insomnia
   Kelemahan umum/kehilangan massa otot.
INTEGRITAS   EGO
 Gejala:
  Peningkatan faktor resiko
  Perubahan pola hidup
 Tanda:
  Ansietas
  Ketakutan
  Peka rangsang
   MAKANAN/CAIRAN
    Gejala:
      Mual/muntah

      Nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema)

      Ketidakmampuan untuk makan karena disters pernafasan.

      Penurunan berat badab menetap (emfisema), peningkatan
       berat badan menunjukkan edema (bronkitis).
     Tanda:
      Turgor kulit buruk

      Edema dependen

      Berkeringat

      Penurunan berat badan, penurunan massa otot/lemak
       subkutan (emfisema).
      Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali.
   PERNAPASAN
    Gejala:
      Napas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea
       sebagai gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada
       kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit napas (asma),
       rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas
       (asma).
       Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari
       (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bln
       berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi
       sputum (hijau, putih, atau kuning) dapat banyak sekali
       (bronkitis kronik).
      Pernapasan: biasanya cepat, dapat lambat, fase ekspirasi
       memanjang dengan mendengkur, nafas bibir (emfisema).
   KEAMANAN
    Gejala :
       Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor
        lingkungan.
       Adanya / berulangnya infeksi
       Kemerahan/berkeringat (asma).
   SEKSUALITAS
    Gejala:
     Penurunan libido.
   INTERAKSI SOSIAL
    Gejala:
       Hubungan ketergantungan.
       Kurang sistem pendukung.
       Kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang
        terdekat.
       Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik.
     B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1.    Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan
      ketidaksamaan ventilasi-perfusi.

2.    Bersihan jalan nafas tidak efektif yang be

3.    rhubungan dengan peningkatan produksi lendir, batuk
      tidak efektif dan infeksi bronkopulmonal.

4.    Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan
      dengan napas pendek, lendir dan iritan jalan napas.

5.    Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan
      kurang sosialisasi ansietas, tingkat aktivitas rendah,
      dan ketidakmampuan untuk kerja.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1.   Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan
     ventilasi-perfusi.
     Tujuan: perbaikan dalam pertukaran gas.
     Intervensi :
     1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan.
           R/:mengetahui derajat distres pernapasan dan kronisnya proses penyakit.
     2. Kaji secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
           R/:mencegah kemungkinan terjadinya sianosis perifer (terlihat pada kuku)
     3. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah
        untuk bernafas.
           R/:posisi duduk tinggi dapat menurunkan kolaps jalan napas,dispnea, dan
           kerja napas.
     4. Dorong pasien mengeluarkan sputum, penghisapan bila diindikasikan.
           R/:kental, tebal dan banyaknya sputum adalah sumber utama gangguan
           pertukaran gas pada jalan napas. Penghisapan bila batuk tidak efektif.
     5. Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi dan toleransi pasien.
           R/:dapat mencegah/memperbaiki memburuknya hipoksia.
2.Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan
   peningkatan produksi lendir, batuk tidak efektif dan infeksi
   bronkopulmonal.
   Tujuan :pencapaian jalan napas yang bersih.
   Intervensi :
   1. Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas mis: mengi,
       ronki.
       R/:mengetahui derajat spasme bronkus dan obstruksi jalan
       napas.
   2. Kaji frekuensi pernapasan
       R/:takipnea biasanya ada, dan pernapasan dapat melambat serta
       ekspirasi memanjang di banding          inspirasi.
   3. Tingkatkan masukan air minum hangat.
       R/:air hangat dapat mengencerkan sputum dan sebagai
       pengganti makanan.
   4. Bantu pasien dalam latihan napas abdomen atau bibir.
       R/:memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan
       mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara.
   5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
       R/: mencegah komplikasi.
3.Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir dan
   iritan jalan napas.
   Tujuan: perbaikan dalam pola pernapasan.
   Intervensi:
   1. Ajarkan pasien pernapasan diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.
         R/:membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan tekhnik ini
         pasien akan bernapas lebih efisien dan efektif.
   2. Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
         R/:memberikan jeda aktivitas akan memungkinkan pasien untuk melakukan
         aktivitas tanpa disters berlebihan.
   3. Berikan dorongan pengguanaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.
         R/:menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernapasan.
   4. Berikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang nyaman.
         R/: posisi yang nyaman dapat memperlancar sirkulasi.
   5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
         R/: mengurangi komplikasi lebih lanjut.
4.Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kurang sosialisasi
   ansietas, tingkat aktivitas rendah, dan ketidakmampuan untuk kerja.
   Tujuan: pencapaian tingkat koping yang optimal.
   Intervensi:
   1.Mengadopsi sikap yang penuh harapan dan memberikan semangat
         yang ditujukan pada pasien.
         R/:suatu perasaan harapan akan memberikan pasien sesuatu
         yang dapat dikerjakan, ketimbang sikap yang yang merasa kalah, tidak
         berdaya.
   2.Dorong aktivitas sampai tingkat toleransi gejala.
         R/:aktivitas mengurangi ketegangan dan mengurangi tingkat dispnea
         sejalan dengan pasien menjadi terkondisi.
   3.Ajarkan tekhnik relaksasi atau berikan rekaman untuk relaksasi bagi
         pasien.
         R/:relaksasi mengurangi stres dan ansietas dan membantu pasien
         untuk mengatasi ketidakmampuannya.
   4.Daftarkan pasien pada program rehabilitasi pulmonari bila tersedia.
         R/:program rehabilitasi paru telah menunjukkan dapat meningkatkan
         perbaikansubjektif status dan harga diri pasien juga meningkatkan
         toleransi latihan serta mengurangi hospitalisasi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:640
posted:6/1/2011
language:Indonesian
pages:19