Docstoc

Numeralia

Document Sample
Numeralia Powered By Docstoc
					                                         Numeralia

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau
urutannya dalam suatu deretan. Kata bilangan dapat dibagi menjadi dua jenis: kata
bilangan tentu (takrif), misalnya satu, setengah, ketujuh; serta kata bilangan tak tentu,
misalnya beberapa, seluruh, banyak.

Kata Bilangan atau Numeralia

Kata Bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan atau
urutan tempat dari nama-nama benda.

Menurut sifatnya kata bilangan dapat dibagi atas:

      1. Kata Bilangan Utama (Numeralia Caedinalia): satu, dua, tiga, empat, seratus,
         seribu, dan sebagainya.
      2. Kata Bilangan Tingkat (Numeralia Ordinalis): pertama, kedua, ketiga, kelima,
         kesepuluh, keseratus, dan sebagainya.
      3. Kata Bilangan Tak Tentu: beberapa, segala, semua, tiap-tiap dan sebagainya.
      4. Kata Bilangan Kumpulan: kedua, kesepuluh, dan sebagainya; bertiga, berdua,
         bersepuluh.

Catatan :

a. Dari segi morfologi tidak ada perbedaan antara kata bilangan tingkat dan kata bilangan
kumpulan yang memakai prefiks ke-. Tetapi dalam distribusi kalimat nampaklah
perbedaan struktur keduanya, yaitu kata bilangan tingkat tempatnya selalu mengikuti kata
benda sedangkan kata bilangan kumpulan selalu mendahului kata benda.

                 Kata bilangan tingkat                      Kata bilangan kumpulan
                 bangku yang kedua                              kedua bangku itu
                 permainan kesepuluh                            kesepuluh permainan
itu
                 soal yang ketiga                                     ketiga soal itu
b. Mengenai kata bilangan utama, perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

1. Kata-kata delapan, sembilan, bukanlah kata bilangan utama asli, tetapi merupakan kata
jadian yang kini sudah tidak dirasakan lagi.

Kata-kata tersebut berasal dari:

Delapan > dua alapan (= dua ambilan, yaitu dua diambil dari sepuluh).

Sembilan > sa ambilan (= diambil satu dari sepuluh)

2. Orang-orang Nusantara dahulu mengenal bilangan yang paling tinggi hanya sampai
ribuan. Akibat adanya kontak dengan negeri-negeri lain, terutama India, mereka
menerima bilangan yang lebih tinggi dari ribuan. Karena perkenalan mereka dengan
orang-orang India, mereka memasukkan kata-kata laksa, keti, dan juta. Tetapi pada
mulanya dalam bahasa Sansekerta kata-kata itu mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi
yaitu:

         Laksa   : Sansekerta : 100.000
         Keti : Sansekerta : 10.000.000


Bagi orang-orang Nusantara waktu itu, bilangan itu terlalu samar-samar, sedangkan di
pihak lain mereka memerlukan istilah untuk bilangan genap sesudah seribu; karena itu
laksa diturunkan nilanya menjadi 10.000, sedangkan keti diturunkan menjadi 100.000.

3. Bilangan yang lebih dari satu juta biasanya dipinjam dari istilah-istilah Barat. Namun
ada dua sistem yang biasa digunakan yaitu system Perancis dan Amerika, yang diikuti
Indonesia , dan sistim Inggris dan Jerman.

4. Kata bilangan biasanya ditulis dengan angka Arab, dan dalam hal tertentu
dipergunakan juga angka Romawi.




C.       NUMERALIA
Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya
maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti lima hari, setengah abad,
orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing lima,
setengah, ketiga, dan beberapa.
Pada dasarnya dalam bahasa Indonesia ada dua macam numeralia: (1) numeralia pokok,
yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan ( 2) numeralia tingkat yang memberi
jawab atas pertanyaan “Yang ke berapa?”. Numeralia pokok juga disebut numeralia
kardinal, sedangkan numeralia tingkat disebut pula numeralia kardinal. Tiap kelompok
itu dapat pula dibagi lagi menjadi subbagian yang lebih kecil, seperti yang akan terlihat di
bagian-bagian berikut.
1.     Numeralia Pokok
Numeralia pokok adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan¬-bilangan
yang lain. Numeralia pokok terbagi menjadi numeralia: (a) pokok tentu, (b) kolektif, (c)
distributif, (d) pokok tak tentu. Di samping itu, ada (e) numeralia klitika dan (f)
numeralia ukuran.




a.     Numeralia Pokok Tentu
       Numeralia pokok tentu mengacu pada bilangan pokok, yakni :
0      -       nol                     5       -      lima
1      -       Satu                    6       -      enam


b.     Numeralia Pokok Kolektif


Numeralia pokok kolektif dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di muka nomina
yang diterangkan.
Contoh :
ketiga pemain -          semua pemain dari nomor satu sampai ke nomor tiga.
kedua gedung -           baik gedung pertama maupun gedung kedua.


c.             Numeralia Pokok Distributif
Numeralia pokok distributif dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan.
Artinya ialah (1) ... demi …, (2) masing masing.
Contoh :
sau satu
dua dua
empat empat
Kata (se) tiap, tiap tiap, dan masing masing termasuk numeralia distributif juga. (Se) tiap
atau tiap tiap mempunyai arti yang sangat mirip dengan masing-¬masing, tetapi kata
masing masing dapat berdiri sendiri tanpa nomina, sedang¬kan (se) tiap dan tiap tiap
tidak. Kita dapat mengatakan Semua siswa akan mendapat buku, masing masing satu
buah, tetapi tidak “Semua siswa akan men¬dapat buku, tiap tiap satu buah. Bandingkan
juga kalimat Tiap-tiap peserta wajib membayar uang pendaftaran dengan Masing-masing
peserta wajib membayar uang pendaftaran yang kedua duanya dapat diterima.
d.      Numeralia Pokok Taktentu
Numeralia pokok tak tentu mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagi¬an besar
aumeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang me¬makai kata tanya
berapa. Yang termasuk ke dalam numeralia taktentu adalah banyak, berbagai; beberapa,
pelbagai, semua, seluruh, segala dan segenap. Numeralia pokok taktentu ditempatkan di
muka nomina yang diterangkannya.
Contoh :
banyak orang           semua jawaban
berbagai masalah       selurah rakyat
pelbagai budaya               segala penjuru
sedikit air            segenap anggota


e.      Numeralia Pokok Klitika
Di samping numeralia pokok yang telah kita sebutkan, ada pula numeralia lain yang
dipungut dari bahasa Jawa Kuna, tetapi numeralia itu umunmya berben¬tuk proklitika.
Jadi, numeralia macam itu dilekatkan di muka nomina yang bersangkutan.
Contoh:
eka     „satu‟         : ekamatra       „satu dimensi‟
dwi      „dua‟          : dwiwarna    „dua warna‟


f.       Numeralia Ukuran
Bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan ukuran, baik yang
berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, lusin, kodi meter,
liter, atau gram. Nomina ini dapat didahului oleh numeralia sehingga terciptalah
numeralia gabungan. Perhatikan contoh berikut.
(189) Kalau ke toko, belilah dua lusin piring.
(190) Wanita, itu membeli kemeja satu kodi.


2.       Numeralia Tingkat
Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubah¬nya adalah
dengan menambahkan ke di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan
satu dipakai pula istilah pertama.
Contoh :
kesatu atau pertama
kedua
kelima
kesepuluh


3. Numeralia Pecahan
         Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang
dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia itu ialah dengan memakai
kata per di antara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, per ditempelkan
pada bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis yang memisahkan
kedua bilangan itu. Lihatlah contoh berikut.
½        -       seperdua, setengah, separuh
1/10     -       sepersepuluh


4.       Frasa Numeralia
Umumnya, frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong.
Contoh :
dua ekor (kerbau)
lima orang (penjahat)
tiga buah (rumah)


D.     PENGGOLONG NOMINA: ORANG, BUAH, EKOR
Bahasa Indonesia memiliki sekelompok kata yang membagi bagi nomina maujud dalam
kategori tertentu. Manusia, misalnya, disertai oleh penggolong .orang, binatang oleh
penggolong ekor, dan surat oleh penggolong pucuk. Peng¬golong seperti itu semata
mata didasarkan pada konvensi masyarakat yang memakai bahasa itu. Manusia dan
binatang mendapat kedudukan khusus dengan adanya penggolong orang dan ekor.
Maujud lain disertai penggolong yang berbeda beda. Berikut ini adalah beberapa kata
penggolong dalam bahasa Indonesia.
orang untuk manusia
ekor           untuk binatang
buah   untuk buah buahan atau hal lain yang ada di luar golongan manusia dan binatang
batang untuk pohon, rokok, atau barang lain yang berbentuk bulat panjang
bentuk untuk cincin, gelang atau barang lain yang dapat dibengkokkan atau dilentur¬kan


E.     KONSEP TUNGGAL, JAMAK, DAN GENERIK
Dalam kebanyakan bahasa konsep tunggal, jamak, dan generik itu ada. Dalam bahasa
Indonesia konsep tunggal itu ditandai oleh pemakaian kata seperti satu, suatu atau esa, se
, sedangkan konsep jamak umumnya dinyatakan dengan per¬ulangan. Jika kata yang
merujuk pada konsep ketunggalan itu dipandang sebagai kumpulan, nominanya dapat
berbentuk reduplikasi seperti batu batuan atau diwatasi di depannya dengan kata para
atau kaum.
Contoh :
Tunggal                 Jamak
meja           meja meja
satu orang              orang orang
suatu jawaban jawaban jawaban
daun   daun daunan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1253
posted:5/31/2011
language:Indonesian
pages:7