Docstoc

Tinjauan Umum Keanekaragaman Hayati

Document Sample
Tinjauan Umum Keanekaragaman Hayati Powered By Docstoc
					TINJAUAN UMUM KEANEKARAGAMAN HAYATI
    (Tugas Mata Kuliah Analisis dan Implementasi
        Konservasi Keanekaragaman Hayati)




                 Disusun Oleh :

        1. Merza Rahmawati        1020011003
        2. Yovita Agustina        1020011006




PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU LINGKUNGAN
        FAKULTAS PASCASARJANA
         UNIVERSITAS LAMPUNG
           BANDAR LAMPUNG
                 2011
                          BAB I. PENDAHULUAN



Keanekaragaman hayati di ujung tanduk, begitulah keadaan keanekaragaman
hayati pada tingkatan global di seluruh dunia. Tidak berbeda keadaannya dengan
di Indonesia. Bangsa di bagian dunia manapun akan tergantung pada
keanekaragaman hayati untuk kelangsungan hidupnya. Keanekaragaman hayati
merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup, dan
komplek ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk hidup.

Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara
berbagai bentuk kehidupan dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini
menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang
dan jasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia (Perhimpunan Biologi
Indonesia, 2007 dalam Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008).

Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bahwa keanekaragaman hayati terus
menerus   mengalami    penyusutan.   Hutan   tropika   yang menjadi    gudang
keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dari setengahnya. Kecenderungan
penyusutan keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh berbagai kasus
lingkungan memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang lebih serius.

Perubahan status dan/atau fungsi kawasan hutan untuk kegiatan lain misalnya
perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri, penebangan ilegal,
penambangan ilegal, perburuan dan perdagangan satwa, serta introduksi spesies
asing adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan ancaman terhadap
keanekaragaman hayati. Perubahan iklim, sebagai salah satu fenomena perubahan
alam yang juga dipicu oleh berbagai aktivitas manusia akan menjadi ancaman
serius keanekaragaman hayati di masa mendatang (Status Lingkungan Hidup
Indonesia, 2008).
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 18 ribuan pulau, bertempat
tinggalnya flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal-usulnya yaitu bagian
barat (Indo-Malayan) dan bagian timur termasuk kawasan Pasifik dan Australia.
Walaupun luas daratan hanya 1,3 % dari seluruh daratan bumi, tetapi Indonesia
memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang unik dan menakjubkan. Sekitar
10% spesies berbunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptil dan amphibia,
17% spesies burung serta 25% spesies ikan dunia yang dikenal manusia
terdistribusi di perairan Indonesia (BSP-Kemala, 2000 dalam Wikantika 2003 ).

Dengan panjang wilayah pesisir yang mencapai 81,000 kilometer atau sekitar 14%
dari panjang pantai dunia, maka ekosistem kelautan Indonesia sangat kaya dan
bervariasi. Hutan bakau Indonesia sangat luas dan memiliki jenis terumbu karang
yang spektakuler di Asia. Perairan pesisir Indonesia menjadi sumber makanan
bagi sejumlah besar mamalia laut, reptil, ikan dan burung-burung. Wilayah pesisir
yang dangkal dengan terumbu karangnya dan hutan bakau melindungi wilayah ini
dari dampak pasang laut dan tsunami. Secara tradisional terumbu karang menjadi
sumber makanan yang sangat penting bagi masyarakat pesisir.

Indonesia diperkirakan memiliki kawasan hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik
yaitu sekitar 1, 15 juta kilometer persegi dengan keanekaragaman jenis pohon
yang paling beragam di dunia. Hutan tropis Indonesia kaya akan spesies palm
(447 spesies, dimana 225 diantaranya tidak terdapat di bagian dunia lainnya),
lebih dari 400 spesies dipterocarp yaitu jenis kayu yang bernilai sangat tinggi
secara ekonomis di Asia Tenggara, dan tersebarnya sekitar 25,000 spesies
tumbuhan berbunga (Albar, 1997 dalam Wikantika 2003). Karena begitu kayanya
keanekaragaman hayati Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia sebagai
salah satu negara di dunia yang mempunyai jumlah keanekaragaman hayati
terbesar.

Untuk pulau Jawa saja, jumlah spesies setiap 10.000 km2 antara 2000 – 3000
spesies. Sedangkan Kalimantan dan Papua mencapai lebih dari 5000 spesies.
Masih banyak keanekaragaman hayati Indonesia lainnya yang berpotensi dan
berprospek secara ekonomis maupun keilmuan. Sejak Konvensi Keanekaragaman
Hayati (KKH) di antara negara-negara di dunia pada pertemuan KTT Bumi tahun
1992 di Rio de Janeiro maka setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk
memanfaatkan    sumber-sumber    daya   hayati   sesuai   dengan   kebijakan
pembangunan lingkungannya sendiri dan mempunyai tanggungjawab untuk
menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam yuridiksinya tidak
menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan negara lain atau kawasan di luar
batas yuridiksi nasional. Dengan kata lain negara dapat memanfaatkan dan
mengelola keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan bangsanya sendiri
(Wikantika 2003).

Dengan tingginya tingkat keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia,
maka kita perlu melakukan tindakan konservasi sehingga selain dapat
mensejahterakan bangsa juga dapat dimanfaakan secara berkelanjutan untuk
generasi yang akan datang. Makalah ini mencoba membahas tinjauan secara
umum keanekaragaman hayati.
                                      II. ISI



II.1. Definisi dan Pengertian Keanekaragaman Hayati



Menurut UU No. 5 Tahun 1990 yang dimaksud dengan Sumber Daya Hayati
adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati
(tumbuhan) dan sumber daya hewani (satwa) yang bersama unsure nonhayati
disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Sedangkan konservasi
Sumber Daya Alam Hayati adalah pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaannya     dengan    tetap   memelihara      dan   meningkatkan      kualitas
keanekargaman dan nilainya.


Bersumber       dari   Southwest    Australia      Ecoregion   Initiative   (2006),
Keanekaragaman alami atau keanekaragaman hayati, atau biodiversitas, adalah
semua kehidupan di atas bumi ini tumbuhan, hewan, jamur dan mikroorganisme
serta berbagai materi genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem
ekologi di mana mereka hidup. Termasuk didalamnya kelimpahan dan
keanekaragaman genetik relatif dari organisme-organisme yang berasal dari
semua habitat baik yang ada di darat, laut maupun sistem-sistem perairan lainnya.


Keanekaragaman hayati adalah Seluruh keanekaan bentuk kehidupan di bumi,
beserta interaksi diantara mereka dan antara mereka dengan lingkungannya.
Keanekaragaman hayati atau keragaman hayati merujuk pada keberagaman
bentuk-bentuk      kehidupan:   tanaman     yang     berbeda-beda,    hewan     dan
mikroorganisme, gen-gen yang terkandung di dalamnya, dan ekosistem yang
mereka bentuk. Kekayaan hidup adalah hasil dari sejarah ratusan juta tahun
berevolusi (Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, 2007).
Keanekaragaman hayati adalah keseluruhan gen, spesies, dan ekosistem di dalam
suatu wilayah. Kekayaan hayati di bumi adalah produk beratus-ratus juta tahun
sejarah evolusi (World Research Institute, The World Conservation Union, dan
United Nations Environment Programme, 1995).



II.2. Tingkatan Keanekaragaman Hayati


Keanekaragaman hayati dapat dibagi ke dalam tiga kategori hirarkis yaitu, genus,
spesies, dan ekosistem, Ketiga kategori tersebut menggambatkan aspek yang
cukup berbeda dalam system kehidupan dan para cendikiawan mengukurnya
dengan cara yang berbeda-beda pula.


1. Keanekaragaman gen

Keanekaragaman genus/genetic menunjuk pada variasi genetik di dalam spesies
yang meliputi populasi yang perbedaannya jelas berada dalam spesies yang sama
(seperti ribuan varietas padi tradisional di india) atau varietas genetik di dalam
suatu populasi (misalnya varietas genetik yang sangat tinggi di antara badak india,
tetapi sangat rendah diantar cheetah).

Sampai dengan saat ini pengukuran keanekaragaman genetik dipakai terutama
hanya untuk spesies yang telah dibudidayakan dan populasi yang terdapat di
kebun binatang, tetapi banyak dipakai untuk spesies liar juga (World Research
Institute, The World Conservation Union, dan United Nations Environment
Programme, 1995).

Keragaman genetik mengacu pada variasi gen di dalam spesies. Ini meliputi
variasi genetik antara populasi yang berbeda dari spesies yang sama, seperti 4
jenis rosella pipi putih, Platycercus eximius. Hal tersebut juga meliputi variasi
genetik dalam populasi yang sama, dimana tampak relatif tinggi pada eukaliptus
yang tersebar luas seperti Eucalyptus cloeziana, E. delegatensis, dan E. saligna.
Keragaman genetik dapat diukur dengan menggunakan variasi berdasarkan DNA
dan tehnik lainnya.
Variasi genetik baru terbentuk dalam populasi suatu organisme yang dapat
bereproduksi secara seksual melalui kombinasi ulang dan pada individu melalui
mutasi gen serta kromosom. Kumpulan variasi genetik yang berada pada populasi
yang bereproduksi terbentuk melalui seleksi. Seleksi tersebut mengarah kepada
salah satu gen tertentu yang disukai dan menyebabkan perubahan frekuensi gen-
gen-gen pada kumpulan tersebut.

Perbedaan yang besar dalam jumlah dan penyebaran dari variasi genetik ini dapat
terjadi sebagian karena banyaknya keragaman dan kerumitan dari habitat-habitat
yang ada, serta berbedanya langkah-langkah yang dilakukan tiap organisme untuk
dapat hidup.

Jumlah yang diperkirakan adalah terdapat kurang lebih 10,000,000,000 gen
berbeda yang tersebar pada biota-biota di dunia, walaupun tidak semuanya
memberikan kontribusi yang sama pada keragaman genetik. Secara khusus, gen-
gen yang mengontrol dasar proses biokimia dipertahankan secara kuat oleh
berbagai kelompok spesies (atau taksa) dan umumnya memperlihatkan perbedaan
yang kecil. Gen lain yang lebih terspesialisasi meperlihatkan tingkat variasi yang
lebih besar (Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, 2007).

Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen),
satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini
dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis. misalnya :
- variasi jenis kelapa : kelapa gading, kelapa hijau
- variasi jenis anjing : anjing bulldog, anjing herder, anjing kampung


Yang membuat variasi tadi adalah : Rumus : F = G + L
F = fenotip
G = genotip
L = lingkungan


Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi
perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.
Contoh lain adalah bunga mawar. Tanaman ini memiliki bunga yang berwarna-
warni, dapat berwarna merah, putih atau kuning. Atau pada tanaman mangga,
keanekaragaman dapat Anda temukan antara lain pada bentuk buahnya, rasa, dan
warnanya. Demikian juga pada hewan. kita dapat membandingkan ayam
kampung, ayam hutan, ayam ras, dan ayam lainnya. Kita akan melihat
keanekaragaman sifat antara lain pada bentuk dan ukuran tubuh, warna bulu dan
bentuk pial (jengger).


Keanekaragaman warna bunga pada tanaman mawar. Bentuk, rasa, warna pada
buah mangga, serta keanekaragaman sifat, warna bulu dan bentuk pial pada ayam,
ini semua disebabkan oleh pengaruh perangkat pembawa sifat yang disebut
dengan gen. Semua makhluk hidup dalam satu spesies/jenis memiliki perangkat
dasar penyusun gen yang sama. Gen merupakan bagian kromosom yang
mengendalikan ciri atau sifat suatu organisme yang bersifat diturunkan dari
induk/orang tua kepada keturunannya.


Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi
susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing induknya. Susunan
perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu individu dalam satu
spesies.


Penyebab terjadinya keanekaragaman gen adalah perkawinan antara dua individu
makhluk hidup sejenis merupakan salah satu penyebabnya. Keturunan dari hasil
perkawinan memiliki susunan perangkat gen yang berasal dari kedua induk/orang
tuanya. Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan
menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-
varietas (varitas) yang terjadi secara alami atau secara buatan.


Keanekaragaman yang terjadi secara alami adalah akibat adaptasi atau
penyesuaian diri setiap individu dengan lingkungan, seperti pada rambutan. Faktor
lingkungan juga turut mempengaruhi sifat yang tampak (fenotip) suatu individu di
samping ditentukan oleh faktor genetiknya (genotip). Sedangkan keanekaragaman
buatan dapat terjadi antara lain melalui perkawinan silang (hibridisasi), seperti
pada berbagai jenis mangga.


Pada manusia juga terdapat keanekaragaman gen yang menunjukkan sifat-sifat
berbeda, antara lain ukuran tubuh (besar, kecil, sedang); warna kulit (hitam, putih,
sawo matang, kuning); warna mata (biru, hitam, coklat), serta bentuk rambut (ikal,
lurus, keriting).


2. Keanekaragaman jenis (spesies)

Keanekaragaman spesies menunjuk pada varietas spesies di dalam suatu daerah.
Jumlah spesies dalam suatu daerah adalah ukuran yang biasa digunakan untuk
pengukuran          keanekaragaman.     Keanekaragaman        taksonomis       juga
memperhitungkan hubungan spesies dengan spesies lainnya. Misalnya suatu pulau
yang memiliki spesies burung dan satu spesies kadal memiliki keanekaragaman
taksonomis yang lebih besar daripa suatu pulau yang memiliki tiga spesies burung
tetapi tidak memiliki spesies kadal. Jadi walaupun di permukaan bumi ini lebih
banyak spesies kumbang dipada jumlah keseluruhan spesies lainnya, spesies
kumbang tersebut tidak dapat disebut sebagai kekayaan keanekaragaman spesies
(World Research Institute, The World Conservation Union, dan United Nations
Environment Programme, 1995).


Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen.
Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka
macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan
mikroba.


Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis pada tumbuhan atau
hewan, anda dapat mengamati, antara lain ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk dan
ukuran tubuh, warna, kebiasaan hidup dan lain-lain. Contoh, dalam keluarga
kacang-kacangan, antara lain; kacang tanah, kacang kapri, kacang hijau dan
kacang buncis. Di antara jenis kacang-kacangan tersebut Anda dapat dengan
mudah membedakannya, karena antara mereka ditemukan ciri-ciri yang berbeda
antara ciri satu dengan yang lainnya. Misalnya ukuran tubuh atau batang (ada
yang tinggi dan pendek); kebiasaan hidup (tumbuh tegak, ada yang merambat),
bentuk buah dan biji, warna biji, jumlah biji, serta rasanya yang berbeda.


Contoh lain, keanekaragaman pada keluarga kucing. Di kebun binatang, kita dapat
mengamati hewan harimau, singa, citah dan kucing. Walaupun hewan-hewan
tersebut termasuk dalam satu familia/suku Felidae, tetapi diantara mereka terdapat
perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok. Misalnya, perbedaan warna bulu, tipe
lorengnya,   ukuran    tubuh,   tingkah   laku,   serta   lingkungan    hidupnya.


Demikian pula pada kelompok tumbuhan yang tumbuh di dataran tinggi dan
dataran rendah akan memperlihatkan perbedaan-perbedaan sifat pada tinggi
batang, daun dan bunga. Contohnya kelapa, aren, pinang, dan lontar.
Dari contoh-contoh di atas, kita dapat mengetahui ada perbedaan atau variasi sifat
pada kucing, harimau, singa dan citah yang termasuk dalam familia/suku Felidae.
Variasi pada suku Felidae ini menunjukkan keanekaragaman pada tingkat jenis.
Hal yang sama terdapat juga pada tanaman kelapa, aren, pinang, dan lontar yang
termasuk suku Palmae atau Arecaceae.


3. Keanekaragaman ekosistem

Keanekaragaman ekosistem lebih sulit diukur dibandingkan keanekaragaman
spesies dan genetik, karena batas-batas komunitas, gabungan spesies, dan
ekosistem sulit ditentukan. Walaupun demikian, selama serangkaian kriteria yang
konsisten dipakai untuk mendefinisikan komunitas dan ekosistem, jumlah dan
penyebarannya dapat diukur (World Research Institute, The World Conservation
Union, dan United Nations Environment Programme, 1995).


Semua makhluk hidup berinteraksi atau berhubungan erat dengan lingkungan
tempat hidupnya. Lingkungan hidup meliputi komponen biotik dan komponen
abiotik. Komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup mulai yang
bersel satu (uni seluler) sampai makhluk hidup bersel banyak (multi seluler) yang
dapat dilihat langsung oleh kita. Komponen abiotik meliputi iklim, cahaya,
batuan, air, tanah, dan kelembaban. Ini semua disebut faktor fisik. Selain faktor
fisik, ada faktor kimia, seperti salinitas (kadar garam), tingkat keasaman, dan
kandungan mineral.

Baik komponen biotik maupun komponen abiotik sangat beragam atau bervariasi.
Oleh karena itu, ekosistem yang merupakan interaksi antara komponen biotik
dengan komponen abiotik pun bervariasi pula. Di dalam ekosistem, seluruh
makhluk hidup yang terdapat di dalamnya selalu melakukan hubungan timbal
balik, baik antar makhluk hidup maupun makhluk hidup dengan lingkungnnya
atau komponen abiotiknya. Hubungan timbal balik ini menimbulkan keserasian
hidup di dalam suatu ekosistem.

Perbedaan letak geografis antara lain merupakan faktor yang menimbulkan
berbagai bentuk ekosistem. Perbedaan letak geografis menyebabkan perbedaan
iklim. Perbedaan iklim menyebabkan terjadinya perbedaan temperature, curah
hujan, intensitas cahaya matahari, dan lamanya penyinaran. Keadaan ini akan
berpengaruh terhadap jenis-jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang
menempati suatu daerah. Di daerah dingin terdapat bioma Tundra. Di tempat ini
tidak ada pohon, yang tumbuh hanya jenis lumut. Hewan yang dapat hidup, antara
lain rusa kutub dan beruang kutub.

Di daerah beriklim sedang terdpat bioma Taiga. Jenis tumbuhan yang paling
sesuai untuk daerah ini adalah tumbuhan conifer, dan fauna/hewannya antara lain
anjing hutan, dan rusa kutub. Pada iklim tropis terdapat hutan hujan tropis. Hutan
hujan tropis memiliki flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang sangat kaya dan
beraneka ragam. Keanekaragaman jenis-jenis flora dan fauna yang menempati
suatu daerah akan membentuk ekosistem yang berbeda. Maka terbentuklah
keanekaragaman tingkat ekosistem.


Totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem menunjukkan terdapat berbagai variasi
bentuk, penampakan, frekwensi, ukuran dan sifat lainnya pada tingkat yang
berbeda-beda merupakan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati
berkembang dari keanekaragaman tingkat gen, keanekaragaman tingkat jenis dan
keanekaragaman tingkat ekosistem.


Keanekaragaman hayati perlu dilestarikan karena didalamnya terdapat sejumlah
spesies asli sebagai bahan mentah perakitan varietas-varietas unggul. Kelestarian
keanekaragaman hayati pada suatu ekosistem akan terganggu bila ada komponen-
komponennya     yang   mengalami     gangguan.   Gangguan-gangguan      terhadap
komponen-komponen ekosistem tersebut dapat menimbulkan perubahan pada
tatanan ekosistemnya. Besar atau kecilnya gangguan terhadap ekosistem dapat
merubah wujud ekosistem secara perlahan-lahan atau secara cepat pula.


Contoh-contoh gangguan ekosistem, antara lain penebangan pohon di hutan-hutan
secara liar dan perburuan hewan secara liar dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem. Gangguan tersebut secara perlahan-lahan dapat merubah ekosistem
sekaligus mempengaruhi keanekaragaman tingkat ekosistem. Bencana tanah
longsor atau letusan gunung berapi, bahkan dapat memusnahkan ekosistem. Tentu
juga akan memusnahkan keanekaragaman tingkat ekosistem. Demikian halnya
dengan bencana tsunami.


Keanekaragaman tingkat ekosistem dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dari
ekosistem di biosfir. misalnya : ekosistem lumut, ekosistem hutan tropis,
ekosistem gurun, masing-masing ekosistem memiliki organisme yang khas untuk
ekosistem tersebut. misalnya lagi, ekosistem gurun di dalamnya ada unta, kaktus,
dan ekosistem hutan tropis di dalamnya ada harimau.


Ketiga macam keanekaragaman tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lain. Ketiganya dipandang sebagai suatu keseluruhan atau totalitas yaitu sebagai
keanekaragaman hayati.
II.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kondisi Keanekaragaman Hayati di Indonesia


Kekayaan sumberdaya hayati Indonesia saat ini diperkiraan sedang mengalami
penurunan dan kerusakan. Krisis keanekaragaman hayati ini bisa disebabkan oleh
berbagai faktor, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Faktor-faktor ini
dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu faktor teknis dan faktor struktural.


Adapun            penjelasannya              adalah            sebagai        berikut:
1.                                   Faktor                                    Teknis
Ada 3 (tiga) aspek yang masuk kedalam kategori faktor teknis yaitu kegiatan manusia,
teknologi yang digunakan, dan kondisi alam itu sendiri. Ketiga aspek ini diperkirakan
mampu menimbulkan kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati seperti yang
diuraikan                                   berikut                                ini:


a.Faktor                                 kegiatan                            Manusia


1).Kesadaran, pemahaman dan kepedulian yang rendah: Sebagian lapisan masyarakat
kurang memiliki kesadaran dan pemahaman tentang makna penting keanekaragaman
hayati bagi kehidupan seharihari maupun sebagai aset pembangunan. Ketidaktahuan ini
menimbulkan sikap tidak peduli yang mengarah pada perusakan keanekaragaman
hayati.


2). Pemanfaatan berlebih: Pemanfaatan sumber daya sering dilakukan tanpa
mempertimbangkan                  daya                dukung               lingkungan.


3). Pemungutan dan perdagangan ilegal: Contoh jelas tentang hal ini adalah penebangan
liar, serta perdagangan flora dan fauna, yang dilindungi maupun yang tidak, juga marak
di Indonesia. Di kawasan laut, terjadi pencurian ikan, sebagian besar oleh kapal asing
yang                                                                          nilainya
diperkirakan antara US$ 3 sampai 4 miliar atau Rp. 36 triliun (Kwik, 2002;
Kompas 15 Februari 2003).
II.4. Ukuran Keanekaragaman Hayati

Nilai keanekaragaman spesies tampak jelas dalam bidang pertanian. Secara turun-
temurun manusia telah bercocok tanam dan memelihara berbagai ragam ternak
dan tanaman pertanian guna menjaga kestabilan dan meningkatkan produktivitas.
Kebijaksanaan teknik tersebut termasuk kontribusinya terhadap perlindungan
daerah serapan air, pemeliharaan kesuburan lapisan tanah, dan kesediaannya
menerima strategi pengontrolan hama secara terpadu.

Keanekaragaman genetik yang ditemukan pada tiap spesies tanaman pangan juga
mempunyai nilai yang sangat besar. Keanekaragaman genetik berfungsi sebagai
perisai dalam perang evolusi yang tiada hentinya antara tanaman pangan dan
ternak dalam melawan hama serta penyakit yang menyerang.

Para peternak dan petani juga memanfaatkan keanekaragaman genetik pada
tanaman maupun ternak sebagai cara untuk meningkatkan produktivitas dan
menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Kemungkinan-kemungkinan
yang diberikan oleh rekayasa genetika yang memungkinkan pemindahan gen dari
tiap spesies akan memperbesar peluang bagi keanekaragaman genetik dalam
meningkatkan produktivitas pertanian. Rekayasa genetika tanaman budidaya telah
berjasa terhadap separuh dari hasil pertanian di Amerika Serikat dari tahun 1930
hingga 1980; hasil pertanian Amerika Serikat meningkat sekitar 1 miliar dollar per
tahun yang disebabkan perkembangan ilmu genetika.

Nilai keanekaragaman hayati yang terbesar tampak pada kesempatan yang
tersedia bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan yang bersifat lokal
maupun global. Potensi gen, spesies, dan ekosistem yang tidak ataupun belum kita
ketahui memperlihatkan adanya batas biologis yang tidak terukur namun jelas
tinggi nilainya. Keanekaragaman genetik memberikan kemungkinan kepada para
petani untuk “menciptakan” tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim yang baru.


Karena keanekaragaman hayati berhubungan erat dengan kebutuhan manusia,
maka pelestariannya harus dipertimbangkan sebagai salah satu dasar keamanan
nasional. Dimensi ekologis keamanan nasioanal tidak dapat diabaikan jika Negara
saling memperebutkan sumber air tawar. Bangsa yang aman bukan berarti hanya
bangsa yang kuat, melainkan juga bangsa yang memiliki penduduk sehat dan
berpendidikan, serta lingkungan yang sehat dan produktif. Ketahanan nasional
terkuat ada pada Negara yang memelihara keaneakaragaman hayatinya dengan
segala keuntungan yang diberikannya.

Meskipun demikian, berkurangnya keanekaragaman hayati menjadi konsekuensi
yang tidak dapat dihindari sebagai akibat perkembangan umat manusoa; pada saat
hutan dan rawa yang kaya akan spesies diubah menjadi lahan pertanian dan
perkebunan yang relatif lebih miskin spesies. Perubahan semacam itu merupakan
aspek pemanfaatan dan pengelolaan keanekaragaman hayati, dan tidak diragukan
lagi bahwa perubahan tersebut bersifat menguntungkan. Namun, banyak pula
ekosistem yang dipermiskin sehingga menjadi kurang produktif secara ekonomis
maupun biologis. Penggunaan sumber daya alam yang salah ini bukan hanya
mengganggu fungsi ekosistem melainkan juga membawa kerugian ekonomi.

Banyaknya manfaat keanekaragaman hayati dan pentingnya bagi pembangunan
menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati tidak sama dengan
pelestarian alam secara tradisional. Pelestarian keanekaragaman hayati menuntut
perubahan sikap dari defensive, yaitu melindungi alam dari dampak buruk
pemanfaatan sumber daya alam bagi pembangunan ke arah usaha yang ofensif
untuk memenuhi kebutuhan manusia akan sumber daya hayati. Sasaran yang
dituju adalah ekosistem yang telah dimodifikasi dan dikelola secara intensif, juga
ekosistem yang masih asli demi kepentingan manusia(World Research Institute,
The World Conservation Union, dan United Nations Environment Programme,
1995).
Ukuran Keanekaragaman Hayati meliputi :

a.   Keanekaragaman Alpha

Keanekaragaman Alpha (α-keragaman) adalah keanekaragaman hayati dalam,
wilayah     tertentu masyarakat atau ekosistem ,     dan    biasanya       dinyatakan
sebagai kekayaan spesiesdari daerah tersebut. Hal ini dapat diukur dengan
menghitung jumlah taksa (kelompok yang berbeda dari organisme) dalam
ekosistem    tersebut     (misalnya keluarga , genera , spesies ).Namun,    perkiraan
tersebut kekayaan spesies yang sangat dipengaruhi oleh ukuran sampel, sehingga
beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk mengoreksi ukuran sampel
untuk mendapatkan nilai yang sebanding.

Alternatif cara untuk mengukur keanekaragaman hayati meliputi:

1.   Beta keanekaragaman - jenis keanekaragaman antara ekosistem; ini
     melibatkan membandingkan jumlah taksa yang unik untuk masing-masing
     ekosistem.
2.   Gamma keanekaragaman - keanekaragaman taksonomi daerah dengan
     beberapa ekosistem.
3.   Filogenetik keragaman - 'atau' Omega keanekaragaman. Perbedaan atau
     keanekaragaman antara taksa.
4.   Global keragaman - keseluruhan keanekaragaman hayati Bumi


b. Keanekaragaman Gamma

Keanekaragaman          Gamma (γ-keragaman)      adalah     ukuran keanekaragaman
hayati . Hal ini mengacu pada kekayaan spesies total atas area yang luas atau
wilayah. Ini adalah produk dari α keanekaragaman ekosistem komponen dan
keragaman β antara komponen ekosistem.


Menurut Whittaker (1972), keragaman gamma adalah kekayaan spesies dari
berbagai habitat di daerah geografis (misalnya, pemandangan, pulau) dan itu
adalah akibat pada keragaman alpha masyarakat individu dan jangkauan
diferensiasi atau keragaman beta di antara mereka. Seperti keragaman alpha, itu
adalah kualitas yang hanya memiliki besar, tidak arah dan dapat diwakili oleh
suatu angka tunggal (skalar).

Gamma keragaman dapat dinyatakan dalam hal kekayaan jenis komponen
masyarakat sebagai berikut:

γ=S1+S2-c

dimana, S 1 = jumlah total spesies yang dicatat dalam komunitas pertama, S 2 =
jumlah spesies yang dicatat dalam komunitas kedua, dan c = jumlah spesies
umum untuk kedua masyarakat.


Hubungan internal antara alfa, beta dan gamma keragaman dapat
direpresentasikan sebagai

β=γ/α

c.   Keanekaragaman Beta
Keanekaragaman beta (β-keragaman) adalah ukuran keanekaragaman hayati yang
bekerja dengan cara membandingkan keragaman spesies antara ekosistem atau
sepanjang gradien lingkungan . Hal ini melibatkan membandingkan jumlah taksa
yang unik untuk masing-masing ekosistem.

Ini adalah tingkat perubahan dalam komposisi spesies tumbuhan di habitat atau
antar masyarakat. Ini memberikan ukuran kuantitatif dari keragaman masyarakat
yang mengalami perubahan lingkungan.

Pada sederhana, keragaman beta adalah jumlah total spesies yang unik antara
masyarakat. Hal ini dapat diwakili oleh persamaan berikut:

β = (S 1 - c) + (S 2 - c)

dimana, S 1 = jumlah total spesies yang dicatat dalam komunitas pertama, S 2 =
jumlah spesies yang dicatat dalam komunitas kedua, dan c = jumlah spesies
umum untuk kedua masyarakat.




dimana, S 1 = jumlah total spesies yang dicatat dalam komunitas pertama, S 2 =
jumlah spesies yang dicatat dalam komunitas kedua, dan c = jumlah spesies
umum untuk kedua masyarakat. Indeks Sørensen adalah sederhana ukuran yang
sangat keragaman beta, mulai dari nilai 0 dimana tidak ada spesies tumpang tindih
antara masyarakat, dengan nilai 1 kapan tepatnya spesies yang sama ditemukan di
kedua komunitas.

Mengukur Whittaker




dimana, S = jumlah spesies yang dicatat di kedua masyarakat,    = Rata-rata
jumlah spesies yang ditemukan dalam masyarakat.


II.5. Analisis



BAB III. KESIMPULAN




DAFTAR PUSTAKA



STARTEGI    KEANEKARAGAMAN     HAYATI   GLOBAL,  WORLD
     RESOURCES INSTITUTE (WRI), THE WORLD CONSERVATION
     UNION (IUCN), UNITED NATIONS ENVIRONMENT PROGRAMS
     (UNEP), 1995

Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Konservasi Sumber Daya
       Alam Hayati di Era Pelaksanaan Otonomi Daerah, Sudarmadji-Staf
       Pengajar Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember, Jurnal ILMU
       DASAR, Vol. 3 No. 1, 2002:50-55, 2002

Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, PRAKTEK UNGGULAN PROGRAM
      PEMBANGUNAN           BERKELANJUTAN    UNTUK     INDUSTRI
      PERTAMBANGAN, Australian Government, Departement of Industry
      Tourism and Resources, 2005

TEJOYUWONO NOTOHADIDININGRAT, ILMU TANAH UNIVERSITAS
     GADJAH MADA, 2006
HUKUM LINGKUNGAN, dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan
    Lingkungan Hidup, Muhammad Erwin, SH, M.Hum, Refika Aditama,
    2009

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, KEMENTERIAN
     LINGKUNGAN HIDUP, 2005

KELEMBAGAAN LINGKUNGAN          HIDUP   DI   INDONESIA,   AGUS
    SUGIYONO, 2005

HUKUM LINGKUNGAN, KEBIJAKAN PENGATURAN HUKUM GLOBAL
    DAN NASIONAL, MUHAMMAD AKIB, LEMBAGA PENELITIAN
    UNIVERSITAS LAMPUNG, 2008

HUKUM LINGKUNGAN DAN KEBIJAKSANAAN                LINGKUNGAN
    NASIONAL,  SITI   SUNDARI    RANGKUTI,        UNIVERSITAS
    AIRLANGGA PRESS, SURABAYA, 2000




Friday, September 30, 2005

KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KONSERVASINYA DI
INDONESIA ENDARWATI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1275
posted:5/29/2011
language:Indonesian
pages:19