Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

ETIKA AGAMA(HINDU)

VIEWS: 990 PAGES: 8

									1. PENGERTIAN YADNYA
         Upacara Yadnya merupakan satu bentuk kewajiban yang harus
dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari, Yadnya
sendiri bermakna suatu pengorbanan atau persembahan suci yang tulus dan
ikhlas, menurut ajaran agama Hindu.
         Didalam ajaran Hindu , terdapat filsafat yang mengajarkan agar
selalu menjaga keharmonisan, baik itu hubungan dengan Sang Pencipta
(Tuhan Yang Maha Esa) maupun dengan alam dan lingkungan sekitarnya,
yang dikenal dengan Tri Hita Karana yang mengandung arti tentang 3
keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan yaitu hubungan yang
harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara
manusia dengan manusia dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan
alam. Dari semua ini tetap berpedoman pada agama dan untuk pelaksanaan
upacara berpatokan pada Panca Yadnya.
         Panca Yadnya kalau diuraikan terdiri dari 2 kata, panca artinya lima
dan Yadnya artinya upacara pengorbanan/persembahan suci yang tulus
ikhlas kehadapan Tuhan, jadi kalau digabungkan mempunyai pengertian 5
upacara persembahan suci yang tulus dan ikhlas kehadapan Sang Pencipta
(Tuhan Yang Maha Esa).
Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari:
1. Dewa Yadnya, bermakna upacara pengorbanan/persembahan suci yang
   tulus ikhlas kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan
   seluruh manifestasi - Nya yang yang berwujud Dewa Brahma selaku
   Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa
   selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya).
2. Butha Yadnya, bermakna upacara pengorbanan/persembahan suci yang
   tulus ikhlas kepada Bhuta Kala, makhluk- makhluk yang terlihat (sekala)
   ataupun yang tak terlihat (niskala).
3. Manusa Yadnya, bermakna upacara pengorbanan/persembahan suci yang
   tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia, dari awal terwujudnya
   jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Contohnya :
   Upacara 3 bulanan, Upacara Otonan , dan Upacara perkawinan .
4. Pitra Yadnya, bermakna upacara pengorbanan/persembahan suci yang
   tulus ikhlas, dilaksanakan dengan tujuan untuk penyucian (kremasi) bagi
   manusia yang telah meninggal atau roh leluhur, mengangkat serta
   menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga, juga sebagai
   wujud hormat dan bakti atas segala jasanya (Ngaben).
5. Rsi Yadnya, bermakna upacara persembahan,pemujaan suci yang tulus
   ikhlas dan penghormatan kepada para orang suci, Resi, pendeta yang telah
   memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahir-bathin di dunia
   dan akhirat.

2. FUNGSI DAN TUJUAN YADNYA :
         Fungsi yadnya adalah sebagai lembaga ritual dan bertujuan untuk
melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara langsung dan tidak
langsung. Yadnya juga sebagai upaya untuk pensucian diri dan alam semesta
(Bhuawana alit dan Bhuwana Agung). Yadnya adalah sebagai ekspresi pikiran
dalam bentuk budaya.
Adapun tujuan pokok dari yadnya itu sendiri adalah :
• Untuk menyebarluaskan ajaran Weda.
• Sebagai sarana menyebrangkan Atma untuk mencapai moksa.
• Sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yang
    Maha Esa.
• Sebagai sarana untuk menciptakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha
    Esa.
• Sebagai sarana untuk menciptakan keseimbangan.
• Sebagai sarana untuk mendidik yang bersifat paktis tata laku pengamalan
  ajaran agama.

3. DASAR HUKUM YADNYA:
        Di dalam Reg Weda, Mandala X, kita mendapatkan dua sukta yang
   amat penting yaitu Nasadiya Sukta dan Purusa Sukta. Kedua Sukta inilah
   yang menjadi dasar utama ajaran yadnya.

4. PENTINGNYA SEBUAH PELAKSANAAN YADNYA :
          Yadnya itu sesungguhnya bukanlah suatu kegiatan sebatas upacara/
    upakara saja. Upacara dan upakara hanyalah merupakan bagian dari yadnya
    itu sendiri. Sedangkan kerja dan ketulus ikhlasan yang melandasi upacara
    dan upakara itu sebagai wujud persembahan kepada Tuhan. Jadi yadnya itu
    penting ,sebagai wujud persembahan manusia sebagai umat beragama
    kepada Tuhan.
5. LATAR BELAKANG YADNYA :
     Di dalam Menawa Dharmasastra VI.35, disebutkan bahwa pikiran (manas)
     baru dapat ditujukan kepada kelepasan setelah tiga hutang terbayar. Tiga
     hutang yang ada dalam bahasa Sansekerta disebut Tri Rna, terdiri dari
     hutang kepada Tuhan yang disebut Dewa Rna, hutang kepada leluhur yang
     disebut Pitra Rna, dan hutang kepada para Rsi yang disebut Rsi Rna.

6.    KUALITAS YADNYA :
      Kitab Bhagawangita menyebutkan ada tiga tingkatan yadnya dlihat dari
      kualitas Tri-guna yang melandasi pelaksanaan Yadnya tersebut, yaitu :
      a. Satwika Yadnya
          Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan karena kewajiban
          dan dilandasi dengan ketulus ikhlasan, dengan berpedoman pada
          sastra-sastra Agama, dan dengan pemahaman dan penghayatan yang
          betul-betul baik terhadap apa yang dilaksanakannya.
b.  Rajasika Yadnya
    Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan dengan
    menekannya Yadnya hanya pada penampilan dan terkesan hanya
    sekedar untuk pamer, serta lebih mementingkan kesenangan Panca
    Indriyanya saja, dengan penuh harapan pada hasil dari yadnya yang
    mereka laksnakan tersebut.
 c. Tamasika Yadnya
    Tamasika Yadnya adalah suatu Yadnya yang dilaksanakan tanpa
    mengindahkan petunjuk sastra-sastra Agama, dan dilakukan penuh
    dengan tidak mengerti, rasa takut, setiap Yadnya yang mereka
    laksanakan selalu disertai dengan perhitungan untung rugi belaka.
7.   PENERAPAN ETIKA BERYADNYA DALAM MASYARAKAT
     MODERN :
          Etika dalam beryadnya tidak hanya berpatokan kepada upakaranya
     saja, tetapi dalam beryadnya ada hal-hal lain yang mesti diperhatikan.
     Seperti halnya Dewa Yadnya yang tidak harus diukur dari besar-kecil
     sarana upacara dan megah atau sederhananya pura, melainkan apakah
     yang bersangkutan mampu mengedepankan sikap para dewa, objektif,
     bebas dari kepentingan pribadi. Rsi Yadnya bukan pula hanya daksina,
     upah atau hadiah kepada para pendeta, tetapi penghargaan kepada dunia
     ilmu pengetahuan. Pitra Yadnya, bukan pula penghormatan kepada roh
     leluhur melalui upacara pengabenan, tetapi kesadaran akan pentingnya
     masa lampau untuk melangkah di masa kini. Manusa Yadnya, juga tidak
     semata-mata upacara siklus kehidupan lahir-hidup-mati tetapi juga
     upakara kemanusiaan, perikemanusiaan. Demikian dengan Bhuta Yadnya,
     bukan berarti hanya untuk bhuta kala melainkan mahluk hidup, segala
     yang berwujud dan berupa.

								
To top