ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Shared by: anamaulida
-
Stats
views:
7320
posted:
5/28/2011
language:
Indonesian
pages:
120
Document Sample
scope of work template
							ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga
disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah
5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul
mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah
lima tahun.

2. Patofisiologi

a. Etiologi

Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma,
bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus
alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia
serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).

1) Intrakranial

Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik

Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular

Infeksi : Bakteri, virus, parasit

Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli
– Opitz.

2) Ekstra kranial
Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan
elektrolit (Na dan K)

Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.

Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan
kekurangan produksi kernikterus.

3) Idiopatik

Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)

b. Patofisiologi

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan
keotak melalui system kardiovaskuler.

Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi,
dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam
keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,
kecuali ion clorida.

Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion
diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri
karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh
tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat
mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+
maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan
listrik.

Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter
sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada
umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA
meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi
hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.

c. Manifestasi klinik

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf
pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi
dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat
berbentuk tonik-klonik.

Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul
pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita
epilepsy.

untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan
yaitu :

1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)

2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever

Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah
dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam
sederhana, yaitu :

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun

2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.

3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.

3. Klasifikasi kejang

Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai
dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang
mioklonik.
   1. Kejang Tonik

Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan
masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.
Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik
yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan
oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus

   1. Kejang Klonik

Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak
diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.

   1. Kejang Mioklonik

Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.
Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

4. Diagnosa banding kejang pada anak

Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar, apnea dan mioklonus
nokturnal benigna.

   1. Gemetar

Gemetar merupakan bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan
terutama bagi yang belum berpengalaman. Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal
dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia dengan hiperiritabilitas
neuromuskular, bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR. Gemetar adalah
gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo teratur dan sama, kadang-kadang
bentuk gerakannya menyerupai klonik .

b. Apnea

Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti napas 3-6 detik dan
sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Berhentinya pernafasan tidak disertai
dengan perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit. Bentuk
pernafasan ini disebut pernafasan di batang otak. Serangan apnea selama 10 – 15 detik
terdapat pada hampir semua bagi prematur, kadang-kadang pada bayi cukup bulan.
Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai
adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak. Pada keadaan ini USG
perlu segera dilakukan. Serangan Apnea yang termasuk gejala kejang adalah apabila
disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain dan tidak disertai bradikardia.

c. Mioklonus Nokturnal Benigna

Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur.
Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari
persendian tangan dan siku yang berulang. Apabila serangan tersebut berlangsung lama
dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik. Mioklonik
nokturnal benigna ini dapat dibedakan dengan kejang dan gemetar karena timbulnya
selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi dan pemeriksaan EEG normal. Keadaan ini
tidak memerlukan pengobatan

5. Penatalaksanaan

Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang merupakan
tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang memerlukan tindakan segera
untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.

Penatalaksanaan Umum terdiri dari :

a. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati

b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung

c. Usahakan suhu tetap stabil

d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain

e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena

Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila
terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 – 4 ml/kg BB secara
intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 –
80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca – glukosa hendaknya disertai dengan
monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan
peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca
glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.

Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50%
Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 –
6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy
infant dapat muncul.
Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti
hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi
baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang
rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia
dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis
selama 20 menit.

Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang
pada BBL dengan alasan

a. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya

b. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan

c. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi
peningkatan bilirubin dalam darah.

6. Pemeriksaan fisik dan laboratorium

a. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik, pemeriksaan
ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :

1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal
yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan
struktur otak.

2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti
nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan
terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.

3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang
disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan
adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan
sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari
luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena
kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.

4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang
mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.

5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau
subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural.
Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan
rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok – kelok di retina
terlihat pada sindom hiperviskositas.

6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural
atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.

7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising
jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.

b. Pemeriksaan laboratorium

Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula dengan cara
dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap
pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.

Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu

1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara
berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.

2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan
analisis gas darah.

3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila
cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan
berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya trauma
pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang
diisi cairan serebro spinal

4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia

5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan
untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG latar
belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion
atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 %
diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat
juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dengan
kejang tidak dapat meramalkan prognosis.

6) Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang
pasti yaitu mencakup :

a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic

b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella, citomegalovirus dan
virus herpes.
c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan
baku

d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, dan
vertikular

e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial,
klasifikasi dan kelainan bawaan otak

e) Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif
dengan ubun – ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar.

7. Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu

1. Fisik

f. Ubun-ubun anterior tertutup.

g. Physiologis dapat mengontrol spinkter

2. Motorik kasar

a. Berlari dengan tidak mantap

b. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan

c. Menarik dan mendorong mainan

d. Melompat ditempat dengan kedua kaki

e. Dapat duduk sendiri ditempat duduk

f. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh

3. Motorik halus

a. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan

b. Melepaskan dan meraih dengan baik

c. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu

d. Menggambar dengan membuat tiruan

4. Vokal atau suara
a. Mengatakan 10 kata atau lebih

b. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh

5. Sosialisasi atau kognitif

a. Meniru

b. Menggunakan sendok dengan baik

c. Menggunakan sarung tangan

d. Watak pemarah mungkin lebih jelas

e. Mulai sadar dengan barang miliknya

8. Dampak hospitalisasi

Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang
kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut
terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.

Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :

a) Rasa takut

1) Memandang penyakit dan hospitalisasi

2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal

3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit

4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan

5) Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol,
menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang.

b. Ansietas

1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal

2) Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)

3) Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat

4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit
5) Tidak berdaya

6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan

7) Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi
pengobatan atau perawatan

Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol

9) Protes dan Ansietas karena restrain

c. Gangguan citra diri

1) Sedih dengan perubahan citra diri

2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)

3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian

Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan
gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda
misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot
lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang.

Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor
pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kejang.

1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.
Gerakan involunter

2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan

3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau
penanganan, peka rangsangan.

4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus
spinkter

5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi
6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra

7. Riwayat jatuh / trauma

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan
koordinasi otot.

2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular

3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

3. INTERVENSI

Diagnosa 1

Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi
otot.

Tujuan

Cidera / trauma tidak terjadi

Kriteria hasil

Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan
keamanan lingkungan

Intervensi

Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum,
sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali
terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi klien
dari trauma atau kejang.

Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti
compulsan

Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular

Tujuan

Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

Kriteria hasil

Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR
dalam batas normal

Intervensi

Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan
penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi

Diagnosa 3

Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

Tujuan

Aktivitas kejang tidak berulang

Kriteria hasil

Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal

Intervensi

Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda
daerah dahi dan ketiak.

Diagnosa 4

Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

Tujuan

Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

Kriteria hasil

Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi
Intervensi

Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam
pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.

Diagnosa 5

Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil

Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya
lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.

Intervensi

Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Jelaskan
pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan
pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan keluarga dalam
setiap tindakan pada klien.

6. EVALUASI

1. Cidera / trauma tidak terjadi

2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

3. Aktivitas kejang tidak berulang

4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

5. Pengetahuan keluarga meningkat

http://hidayat2.wordpress.com/2009/06/10/askep-pada-anak-dengan-kejang-demam/

Askep Kejang dan Demam Pada Anak

Minggu, 14 Februari 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang




Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak
mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada
awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan
memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu,
dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal
kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat
terjadi selama lebih dari 15 menit.
Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit kejang
demam dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya
kepada anak.

B. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien dengan gangguan
sistem saraf yaitu kejang demam

2. Tujuan khusus

Mahasiswa dapat menjelaskan :

1. definisi penyakit kejang demam pada anak.

2. etiologi penyakit kejang demam pada anak.

3. manifestasi klinik penyakit kejang demam pada anak .

4. patofisiologi penyakit kejang demam pada anak.
5. komplikasi penyakit kejang demam pada anak.

6. pemeriksaan diagnostik penyakit kejang demam pada anak .

7. penatalaksanaan penyakit kejang demam pada anak.

8. asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan kejang demam.

BAB II

TINJAUAN TEORI

I. Konsep dasar Kejang Demam

A. Pengertian Kejang Demam

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif
Mansjoer. 2000)

Kejang demam (febrile convulsion) ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Taslim. 1989)

Kejang Demam (KD) adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu
badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. (Livingston, 1954)

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga
disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah
5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul
mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami
demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi
anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali
terjadi untuk pertama kalinya pada usia <> 3 tahun. (Nurul Itqiyah, 2008)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah
lima tahun.

Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada
anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas
38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah
infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah,
1997; 229).

B. Etiologi Kejang Demam

Penyebab kejang demam menurut Buku Kapita Selekta Kedokteran belum diketahui
dengan pasti, namun disebutkan penyebab utama kejang demam ialah demam yag tinggi.
Demam yang terjadi sering disebabkan oleh :

1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

2. Gangguan metabolik

3. Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis, otitis media, bronchitis.

4. Keracunan obat

5. Faktor herediter

6. Idiopatik.

(Arif Mansjoer. 2000)

C. Patofisiologi Kejang Demam
D. Klasifikasi Kejang Demam

Menurut Livingston ( 1954) Kejang demam di bagi atas dua :

Kejang demam sederhana : Kejang demam yang berlangsung singkat. Yang digolongkan
kejang demma sederhana adalah

a. kejang umum

b. waktunya singkat

c. umur serangan kurang dari 6 tahun

d. frekuensi serangan 1-4 kali per tahun

e. EEG normal

Sedangkan menurut subbagian saraf anak FKUI, memodifikasi criteria livingston untuk
membuat diagnosis kejang demam sederhana yaitu :

a. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun

b. Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit.

c. Kejang bersifat umum.

d. Kejang timbul dalam 16 jam pertama

e. Pemeriksaan neurologist sebelum dan sesudah kejang normal

f. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.

g. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

(Taslim. 1989)

E. Manifestasi klinis

Gejala berupa

1. Suhu anak tinggi.

2. Anak pucat / diam saja

3. Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.
4. Umumnya kejang demam berlangsung singkat.

5. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau hanya sentakan atau
kekakuan fokal.

6. Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )

7. Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa menit

8. Seringkali kejang berhenti sendiri.

(Arif Mansjoer. 2000)

F. Komplikasi

Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :

1. Kerusakan sel otak

2. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan
bersifat unilateral

3. Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)

G. Pemeriksaan laboratorium

1. EEG

Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi otak akibat lesi organik, melalui
pengukuran EEG ini dilakukan 1 minggu atau kurang setelah kejang.

2. CT SCAN

Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis: infark, hematoma, edema serebral, dan Abses.

3. Pungsi Lumbal

Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan
kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis

4. Laboratorium

Darah tepi, lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit ) mengetahui sejak dini apabila ada
komplikasi dan penyakit kejang demam.
(Suryati, 2008), ( Arif Mansyoer,2000), (Lumbatobing,1989)

H. Penatalaksanaan Medis

Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :

1. Pengobatan Fase Akut

Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk
mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi
terjami. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan
fungsi jantung. Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian
antipiretik.

Obat yang paling cepat menghentikan kejangadalah diazepam yang diberikan intravena
atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2
mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis,
hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut.
Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam
intrarektal 5 mg (BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit
kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB
secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus
dilakukan pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan
menyebabkan iritasi vena.

Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung
setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun
ke atas 75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis
rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis,
untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama
keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral.
Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek sampingnya adalah
hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan
fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis awal.

2. Mencari dan mengobati penyebab

Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian
kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai
meningitiss, misalnya bila ada gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.

3. Pengobatan profilaksis

Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam atau (2) profilaksis
terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian
diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat
pasien demam. Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak
5mg (BB<10kg)>10kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek
samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.

Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat
yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy
dikemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-
5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam
valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun
setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan

Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau
2) yaitu :

1. sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau
perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)

2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara
dan menetap.

3. Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara kandung.

4. bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang
multiple dalam satu episode demam.

Bila hanya mmenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan obat jangka panjang maka
berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau
rectal tuap 8 jam disamping antipiretik.

( Arif Mansyoer,2000)

II. Konsep asuhan keperawatan

A. Pengkajian

Menurut Doenges (1993 ) dasar data pengkajian pasien adalah :
a. Aktifitas / Istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri / orang
terdekat / pemberi asuhan kesehatan atau orang lain.
Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot
Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.

b. Sirkulasi
Gejala : Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sianosis
Posiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.

c. Eliminasi
Gejala : Inkontinensia episodik.
Tanda : Iktal : Peningkatan tekanan kandung kemih dan
tonus sfingter.
Posiktal : Otot relaksasi yang menyebabkan inkontenensia ( baik urine / fekal ).

d. Makanan dan cairan
Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang
berhubungan dengan aktifitas kejang.

e. Neurosensori
Gejala : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma
kepala, anoksia dan infeksi cerebral.

f. Nyeri / kenyaman
Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal.
Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati –hati.
Perubahan pada tonus otot.
Tingkah laku distraksi / gelisah.

g. Pernafasan
Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat, peningkatan
sekresi mukus.
Fase posiktal : apnea.

B. Pemeriksaan diagnostik

1. Periksa darah / lab : Hb. Ht, Leukosit, Trombosit

2. EEG

3. Lumbal punksi

4. CT-SCAN

C. Diagnosa keperawatan

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah

2. Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas b.d Peningkatan Sekresi Mukus

3. Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu tubuh

4. Resiko tinggi kejang berulang b.d riwayat kejang
5. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.

D. Intervensi keperawatan

1. Dx 1 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan klien terpenuhi.

Kriteria hasil :

- TTV stabil

- Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urin adekuat.

-Turgor kulit baik

- membrane mukosa mulut lembab

Intervensi :

1. Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi.

R/ : menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan tubuh

2. Berikan makanan dan cairan

R/ : memnuhi kebutuhan makan dan minum

3. Berikan support verbal dalam pemberian cairan

R/ : meningkatkan konsumsi cairan klien

4. Kolaborasi berikan pengobatan seperti obat antimual.

R/ : menurunkan dan menghentikan muntah klien

5. Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium

R/ Untuk mengetahui status cairan klien.

2. Dx 2 Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas b.d Peningkatan Sekresi Mukus

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif

Kriteria hasil :
-sekresi mukus berkurang

- tak kejang

- gigi tak menggigit

Intervensi :

1. Ukur Tanda-tanda vital klien.

R/ : untuk mengetahui status keadaan klien secara umum.

2. Lakukan penghisapan lendir

R/ : menurunkan resiko aspirasi

3. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar

R/ : mencegah lidah jatuh kebelakang dan menyumbat jalan nafas

4. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen

R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas

3. Dx. 3 Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu
tubuh

Tujuan : Keseimbangan cairan terpenuhi

1. Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam

R/ peningkatan suhu tubuh dari yang normal membutuhkan penambahan cairan.

2. Hitung Intak & Output setiap pergantian shift.

R/ Untuk mengetahui keseibangan cairan klien.

3. Anjurkan pemasukan/minum sesuai program.

R/ membantu mencagah kekurangan cairan.

4. Kolaborasi pemeriksaan lab : Ht, Na, K.

R/ mencerminkan tingkat / derajat dehidrasi.
4. Dx. 4 Resiko tinggi kejang berulang b.d riwayat kejang

Tujuan : Agar tidak terjadi kejang berulang

1. Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam

R/ peningkatan suhu tubuh dapat mengakibatkan kejang berulang.

2. Observasi tanda-tanda kejang.

R/ untuk dapat menentukan intervensi dengan segera.

3. Kolaborasi pemberian obat anti kejang /konvulsi.

R/ menanggulangi kejang berulang.

5. Dx. 5 Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.

Tujuan : Peningkatan status nutrisi

1. Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi gangguan
seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan.

R/ cara khusus meningkatkan napsu makan.

2. Bantu klien makan

R/ membantu klien makan.

3. selingi makan dengan minum

R/ memudahkan makanan untuk masuk.

4. Monitor hasil lab seperti HB, Ht

R/ : Monitor status nutrisi klien

5. Atur posisi semifowler saat memberikan makanan.

R/ : Mengurangi regurtasi.

E. Evaluasi

1. Kekurangan volume cairan tidak terjadi

2. Bersihan Jalan Nafas kembali efektif
3. Keseimbangan kebutuhan cairan klien tercukupi.

4. Resiko tinggi kejang berulang tidak terjadi

5. kebutuhan Nutrisi klien dapat terpenuhi.

BAB III

CONTOH GAMBARAN KASUS

A. Gambaran kasus

Klien An. D umur 3 tahun 6 bulan dirawat di RSF dari tanggal 10 Juni 2008 dengan
keluhan kejang demam selama dirumah 3 kali selama 24 jam, kejang pertama ± 15 menit,
kejang kedua ±10 menit, kejang ketiga ± 5 menit, tangan dan kaki mengepal pada saat
kejang, suhu klien 39,5O C. Keadaan umum klien lemah,nadi 120x/menit, RR 26
kali/menit, Suhu 39,5O C, klien terlihat gelisah, ubun-ubun besar cekung, mukosa mulut
kering, BB saat masuk RS IGD 9,5 kg,Berat badan saat ini 8,1 kg, Lingkar lengan atas 14
cm (ideal 16 cm) ,Tb 75 cm, muntah sebanyak ½ aqua geas (120cc) berisi cairan kuning
kecoklatan, sebelum & saat dirawat klien tidak mau makan. Intake klen minum sebanyak
300 cc & infuse 400 cc, total 700 cc, Output BAK&BAB :340 cc, Iwl 110 cc, Total :450
cc, Balance : 250 cc Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 10 Juni 2008 Hb: 11,6 g/dl
(N:13,2-17,3 g/dl), Ht: 38% (N:31-59%), Leukosit : 13.500/ul, Trombosit: 81 ribu/ul,
Eritrosit: 3.51 juta/ul. Leukosit: 13.500/µL(N= 6.000 – 17.500/µL), Trombosit : 400.000
/µL (N= 150.000 – 440.000/µL), Eritrosit : 5juta/µL(N= 3,60 – 5,20 juta/µL), Natrium :
131 mmol/L (N= 135 – 145 mmol/L), Kalium: 2,4 mmol/L (N= 3,5 – 5,5 mmol/L),
Clorida : 100 mmol/L (N= 98 – 105 mmol/L)

B. Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.

Dari data diatas penulis mengangkat tiga diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut :

Diagnosa 1 : Kekurangan Volume cairan b.d mual dan muntah. Ditandai dengan : DS : -.
DO : keadaan umum lemah, mucosa mulut kering,konjungtiva anemis, capilarry refill 3
detik, muntah ± ½ aqua gelas (120cc) berisi cairan kuning kecoklatan, Nadi :120x/menit,
RR 26x/menit, Suhu : 39,5º C, Hasil Lab 10 Juni 2008 Natrium: 131 mmol/L (N= 135 –
145 mmol/L), Kalium: 2,4 mmol/L (N= 3,5 – 5,5 mmol/L), Clorida : 100 mmol/L (N= 98
– 105 mmol/L).

Perencanaan keperawatan : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x
24 jam kebutuhan cairan klien terpenuhi. Kriteria hasil : Tanda – tanda vital dalam batas
normal :N : 60 – 80 x / mnt, S : 36º - 37ºC, RR : 16 – 20 x / mnt, mukosa mulut lembab,
muntah teratasi,konjungtiva tidak anemis, capilarry refill < style=""> hasil laboratorium
normal Natrium: 135 – 145 mmol/L, Kalium: 3,5 – 5,5 mmol/L, Clorida : N= 98 – 105
mmol/L.
Intervensi : Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi. Berikan
makanan dan cairan, Berikan support verbal dalam pemberian cairan, Kolaborasi berikan
pengobatan seperti obat antimual, Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Implementasi : Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi.
Berikan makanan dan cairan, Berikan support verbal dalam pemberian cairan, Kolaborasi
berikan pengobatan seperti obat antimual, Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Evaluasi akhir : S : Klien mengatakan sudah dapat minum. O : Tanda – tanda vital dalam
batas normal :N : 60 – 80 x / mnt, S : 36º - 37ºC, RR : 16 – 20 x / mnt, mukosa mulut
lembab, muntah teratasi, Lingkar lengan atas ideal 16 cm, hasil laboratorium normal
Natrium: 135 – 145 mmol/L, Kalium: 3,5 – 5,5 mmol/L, Clorida : N= 98 – 105 mmol/L..
A: Masalah kekurangan cairan dapat teratasi. P : hentikan intervenís

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat Ditandai dengan data – data sebagai berikut : DS: Ibu klien mengatakan sebelum
dan saat dirawat tidak napsu makan. DO: K.U: lemah, BB awal mei 2008 9,5 kg saat
masuk RS IGD 8,1 kg, muntah ½ gelas Aqua(120cc), Lingkar lengan atas 14 cm ( ideal
16 cm), Hasil Laboratorium tanggal 10 Juni 2008 Hb: 11,6 g/dl (N:13,2-17,3 g/dl), Ht:
38% (N:31-59%).

Perencanaan keperawatan, Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperwatan 3 x 24 jam
nutrisi terpenuhi dan berat badan meningkat. Kriteria hasil : BB naik 0.25kg(ideal 12kg),
mual dan muntah klien dapat teratasi, napsu makan bertambah, Hb&Ht dalam batas
normal (Hb:10.8-15.6 g/dl & Ht: 35-43%).

Intervensi : Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi
gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan. Bantu klien makan, selingi
makan dengan minum, Monitor hasil lab seperti HB & Ht, Atur posisi semifowler saat
memberikan makanan.

Implementasi : Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi
gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan. Bantu klien makan, selingi
makan dengan minum, Monitor hasil lab seperti HB & Ht, Atur posisi semifowler saat
memberikan makanan. Evaluasi akhir : S: ibu mengatakan susu diberikan sesuai jadwal.
O : BB naik 0.3 Kg jadi 9.5kg Hb: 9.2g/dl, Ht: 30%, A : masalah kekurangan nutrisi
belum teratasi. P : lanjutkan intervensi Dx.2

Diagnosa 3 : Resiko injuri berhubungan dengan kejang berulang. Ditandai dengan data –
data sebagai berikut : DS : ibu klien bertanya penanganan kejang. DO : penghalang
tempat tidur tidak terpasang, S : 38.3ºC, N: 124x/menit, RR:42X/menit

Perencanaan keperawatan : Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x
24 jam injuri tidak terjadi. Kriteria hasil : orang tua dapat mengidentifikasi faktor yang
dapat menimbulkan cidera, mampu melakukan penanganan kejang, menunjukan koping
positif.

Intervensi : berikan posisi yang aman, memasang pengaman tempat tidur, memberikan
penjelasan kepada orang tua tentang penanganan kejang.

Implementasi : observasi suhu(penyebab kejang), memberikan posisi yang aman,
memberikan penjelaan kepada orang tua tentang penanganan kejang..

Evaluasi akhir : S : ibu klien mengatakan sudah tidak terjadi kejang, sudah memasang
penghalang. O : S : 37,2ºC, N: 124x/menit, RR: 42X/menit. Klien tidak kejang,
pengaman tempat tidur sudah terpasang dengan baik A : masalah resiko injuri tidak
terjadi. P: Lanjutkan intervensi Dx.2

.

BAB IV

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan membahas contoh asuhan keperawatan pada An.D yang
mengalami kejang demam yang telah divas pada bab III serta memberikan saran untuk
masalah keperawatan yang harus diintervensi serta berkesinambungan.

A. Kesimpulan

1. Dari hasil pengkajian pada An. D menurut contoh gambaran kasus diatas mendapatkan
hasil data yang sesuai dengan teori yaitu seperti adanya kejang demam yang disebabkan
demam yang tinggi yaitu dengan suhu 39,5º , tidak ada respon verbal, frekuensi
pernapasan meningkat 26 x/menit.

2. Diagnosa keparawatan yang ditemukan pada klien sesuai gambaran kasus diatas yaitu :
Kekurangan Volume cairan b.d mual dan muntah, Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat, Resiko injuri berhubungan dengan kejang
berulang.

3. Intervensi keperawatan pada An. D telah disusun sesuai dengan teori atau konsep dasar
asuhan keperawatan. Intervensi meliputi juga tindakan yang dilakukan secara mandiri
dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.

4. Implementsi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang dibuat dan
disesuaikan dengan keadaan klien yang terjadi di rumah sakit.

5. Adapun evaluasi akhir dari keseluruhan asuhan keperawatan yang telah diberikan.
Evaluasi dilaksanakan secara sumatif yaitu dengan memberikan kesimpulan dari hasil
pelaksanaan asuhan keperawatan secara keseluruhan.
B. Saran

Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan
yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan
datang, diantaranya :

1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang
rencana keperawatan pada pasien dengan kejang demam, pendokumentasian harus jelas
dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.

2. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan kejang demam maka
tugas perawat yang utama hádala sering memantau frekuensi pernapsan anak,
memperhatikan posisi anak, pengaman pada tempat tidur anak.

3. Untuk keluarga diharapkan selalu membantu dan memotivasi klien dalam proses
penyembuhan.

http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2010/02/askep-kejang-dan-demam-pada-
anak.html

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK KEJANG DEMAM




ASKEP ANAK KEJANG DEMAM
Download Askep Lengkap DI SINI
A. PENGERTIAN
1. Kejang demam : bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (Rectal di
atas 38o C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngastiyah, 1997: 229)
2. Kejang demam : bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu tubuh
rectal di atas 38o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Mansjoer, A.dkk.
2000: 434)
3. Kejang demam : kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan
oleh kelainan ekstrakranium (Lumban tobing, 1995: 1)
4. Kejang demam : gannguan sementara yang terjadi pada anak-anak yang ditandai
dengan demam (Wong, D.T. 1999: 182)
5. Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).
6. Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).
7. Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering
juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di
bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul
mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu 38o C yang sering di jumpai pada usia anak
dibawah lima tahun.

B. ETIOLOGI
Menurut Mansjoer, dkk (2000: 434) Lumban Tobing (1995: 18-19) dan Whaley and
Wong (1995: 1929)
1. Demam itu sendiri
Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang
tinggi.
2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau
enselofati toksik sepintas.
Menurut staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI (1985: 50), faktor presipitasi kejang
demam: cenderung timbul 24 jam pertama pada waktu sakit demam atau dimana demam
mendadak tinggi karena infeksi pernafasan bagian atas. Demam lebih sering disebabkan
oleh virus daripada bakterial.

C. PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yaitu glukosa sifat proses
ini adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui
sestem kardiovaskuler.
Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang melalui
proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh membran yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat
sulit oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya
konentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na+ rendah, sedang di luar sel neuron
terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan tersebut, maka terjadi perbedaan potensial
membran yang disebut potesial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na - K Atp – ase yang
terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan konsentrasi ion di
ruang ekstraseluler. Rangsangan yang datangnya mendadak seperti mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya dan perubahan patofisiologi dan membran sendiri karena
penyakit atau keturunan.
Pada demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan suhu 1o C akan
mengakibatkan metabolisme basal 10 - 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi
difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini demikian besarnya
sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan
yang tersebut ”neurotransmitter” dan terjadi kejang.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38o C dan
anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40o C atau lebih,
kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai apnea. Meningkatnya
kebutuhan O2 dan untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, denyut jantung yang tidak teratur dan makin meningkatnya suhu tubuh
karena tingginya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otek
meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul oedema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak (Hasan dan Alatas, 1985: 847 dan Ngastiyah,
1997: 229)

D.PATHWAY
Untuk Melihat Pathway klik DI SINI
Untuk Mendownload Pathway klik DI SINI

E. MANIFESTASI KLINIS
Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan berupa klonik atau
tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak
memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak
terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Kejang demam dapat
berlangsung lama dan atau parsial. Pada kejang yang unilateral kadang-kadang diikuti
oleh hemiplegi sementara (Todd’s hemiplegia) yang berlangsung beberapa jam atau
bebarapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap.
(Lumbantobing,SM.1989:43)
Menurut Behman (2000: 843) kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang tinggi
dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39o C atau lebih ditandai dengan
adanya kejang khas menyeluruh tionik klonik lama beberapa detik sampai 10 menit.
Kejang demam yang menetap > 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti proses
infeksi atau toksik selain itu juga dapat terjadi mata terbalik ke atas dengan disertai
kekakuan dan kelemahan serta gerakan sentakan terulang.

F. PENATALAKSANAAN
Menurut Ngastiyah (1997: 232-235) dan Hassan & Alatas (195: 850-854) ada 4 faktor
yang perlu dikerjakan :
1. Segera diberikan diezepam intravena -->dosis rata-rata 0,3mg/kg
atau diazepam rektal ---------------->dosis ≤ 10 kg = 5mg/kg
Bila diazepam tidak tersedia langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal
selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
2.Membebaskan jalan nafas, oksigenasi secukupnya
3.Meurunkan panas bila demam atau hipereaksi, dengan kompres seluruh tubuh dan bila
telah memungkinkan dapat diberikan parasetamol 10 mg/kgBB/kali kombinasi diazepam
oral 0,3 mg/kgBB
4.memberikan cairan yang cukup bila kejang berlangsung cukup lama (> 10 menit)
dengan IV : D5 1/4, D5 1/5, RL.

Ada juga penatalaksanaan yang lain yaitu:
a. Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan.
Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 - 4 ml/kg BB secara
intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 -
80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca - glukosa hendaknya disertai dengan monitoring
jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan peroral
sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10 %
sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.
b. Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan
50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak
2 – 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai
floppy infant dapat muncul.
c. Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti
hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi
baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang
rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia
dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis
selama 20 menit.

Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang
pada BBL dengan alasan efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang
berikutnya. Disamping itu pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan
mempengaruhi pusat pernafasan karena zat pelarut diazepam mengandung natrium
benzoat yang dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah

G. KLASIFIKASI
Menurut Ngastiyah ( 1997: 231), klasikfikasi kejang demam adalah
1. Kejang demam sederhana
yaitu kejang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum. Adapun pedoman untuk
mendiagnosa kejang demam sederhana dapat diketahui melalui criteria Livingstone, yaitu
:
a. umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
b. kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit.
c. Kejang bersifat umum
d. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam.
e. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kjang normal
f. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukan kelainan.
g. Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali

2. Kejang kompleks
Kejang kompleks adalah tidak memenuhi salah satu lebih dari ketujuh criteria
Livingstone. Menurut Mansyur ( 2000: 434) biasanya dari kejang kompleks diandai
dengan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple ( lebih dari 1
kali dalam 24jam). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurology atau
riwayat kejang dalam atau tanpa kejang dalam riwayat keluarga.

H. KOMPLIKASI
Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI
(1985: 849-850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit
yaitu :
1. Kerusakan otak
Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu kejang
melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl D Asparate ) yang
mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang merusak sel neuoran secara
irreversible.
2. Retardasi mental
Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonatus.

I. PENCEGAHAN
Menurut Ngastiyah ( 1997: 236-239) pencegahan difokuskan pada pencegahan
kekambuhan berulang dan penegahan segera saat kejang berlangsung.
1. Pencegahan berulang
a. Mengobati infeksi yang mendasari kejang
b. Penkes tentang
1) Tersedianya obat penurun panas yang didapat atas resep dokter
2) Tersedianya obat pengukur suhu dan catatan penggunaan termometer, cara pengukuran
suhu tubuh anak, serta keterangan batas-batas suhu normal pada anak ( 36-37ºC)
3) Anak diberi obat anti piretik bila orang tua mengetahuinya pada saat mulai demam dan
jangan menunggu sampai meningkat
4) Memberitahukan pada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah mengalami kejang
demam bila anak akan diimunisasi.

2. Mencegah cedera saat kejang berlangsung kegiatan ini meliputi :
a. Baringkan pasien pada tempat yang rata
b. Kepala dimiringkan unutk menghindari aspirasi cairan tubuh
c. Pertahankan lidah untuk tidak menutupi jalan napas
d. Lepaskan pakaian yang ketat
e. Jangan melawan gerakan pasien guna menghindari cedera

J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Komite Medik RSUP Dr. sardjito ( 2000:193) dan LUmbantobing dan Ismail
(1989 :43), pemeriksaannya adalah :
1. EEG-->Pemeriksaan EEG dibuat 10-14 hari setelah bebas panas tidak menunjukan
kelainan likuor. Gelombang EEG lambat didaerah belakang dan unilateral menunjukan
kejang demam kompleks.
2. Lumbal Pungsi
Tes ini untuk memperoleh cairan cerebrospinalis dan untuk mengetahui keadaan lintas
likuor. Tes ini dapaat mendeteksi penyebab kejang demam atau kejang karena infeksi
pada otak.

- Pada kejang demam tidak terdapat gambaran patologhis dan pemeriksaan lumbal pungsi
- Pada kejang oleh infeksi pada otak ditemukan :

1)Warna cairan cerebrospinal : berwarna kuning, menunjukan pigmen kuning santokrom
2)Jumlah cairan dalam cerebrospinal menigkat lebih dari normal (normal bayi 40-60ml,
anak muda 60-100ml, anak lebih tua 80-120ml dan dewasa 130-150ml)
3) Perubahan biokimia : kadar Kalium menigkat ( normal dewasa 3.5-5.0 mEq/L, bayi
3.6-5.8mEq/L)

DAFTAR PUSTAKA
- Depkes RI. 1989. Perawatan Bayi Dan Anak. Ed 1. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga
Kesehatan.
- Lumbantobing,SM.1989.Penatalaksanaan Muthakhir Kejang Pada Anak.Jakarta : FKUI
- Sachann, M Rossa. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.
- Suriadi, dkk2001. Askep Pada Anak. Jakarta. Pt Fajar Interpratama.
- Sataf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2000. Buku Kuliah Dua Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta : Percetakan Info Medika Jakarta
- Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta: EGC.
- Hidayat, aziz alimun. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Selengkapnya Anda bisa download lewat link di bawah ini



http://teguhsubianto.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-anak-kejang-
demam.html

Kejang demam anak serta askep kejang demam pada anak




                   Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada
anak–anak yang berusia dibawah 5 tahun, gejala–gejala yang timbul dapat bermacam–
macam tergantung dibagian otak mana yang terpengaruh, tetapi kejang demam yang
terjadi pada anak adalah kejang umum .
Insidensi kejang demam di berbagai negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa barat
mencapai 2 – 4 % sedangkan di negara–negara Asia jumlah penderitanya lebih tinggi
lagi. Sekitar 20 % diantara jumlah penderita mengalami kejang kompleks yang harus
ditangani secara lebih teliti.
Faktor resiko utama yang umum menimpa anak balita usia 3 bulan sampai 5 tahun ini
adalah
demam tinggi. Bisa diakibatkan oleh infeksi ekstrakranial seperti ISPA, radang telinga,
campak, cacar air. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 1 0C pun bisa
mengakibatkan kenaikan metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan
oksigen jaringan sebesar 10 – 15 % dan otak sebesar 20 %. Apabila kebutuhan tersebut
tidak terpenuhi maka anak akan kejang. Umumnya kejang tidak akan menimbulkan
dampak sisa jika kejang tersebut berlangsung kurang dari 5 menit tetapi anak harus tetap
mendapat penanganan agar tidak terjadi kejang ulang yang biasanya lebih lama
frekuensinya dari kejang pertama. Timbulnya kejang pada anak akan menimbulkan
berbagai masalah seperti resiko cidera, resiko terjadinya aspirasi atau yang lebih fatal
adalah lidah jatuh ke belakang yang mengakibatkan obstruksi pada jalan nafas.

A. PENGERTIAN
Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari
aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan (Betz &
Sowden,2002).
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi
otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan
renjatan berupa kejang.

(askep ini ada di blog.ilmukeperawatan.com)

B. ETIOLOGI
Infeksi ekstrakranial , misalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas

C. PATOFISIOLOGI
Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan
dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan
bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi
singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi
kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme
anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh
makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah
gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron
otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang
yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari sehingga terjadi serangan
epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.
D. MANIFESTASI KLINIK
1. Kejang parsial (fokal, lokal)
a. Kejang parsial sederhana :
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :
? Tanda-tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan
setiap kejang sama.
? Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.
? Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan jatuh
dari udara, parestesia.
? Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
b. Kejang parsial kompleks
? Terdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks
? Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap–ngecapkan bibir,
mngunyah, gerakan menongkel yang berulang–ulang pada tangan dan gerakan tangan
lainnya.
? Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku
2. Kejang umum (konvulsi atau non konvulsi)
a. Kejang absens
? Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
? Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik
? Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
b. Kejang mioklonik
? Kedutan–kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara
mendadak.
? Sering terlihat pada orang sehat selama tidur tetapi bila patologik berupa kedutan
kedutan sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
? Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
? Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c. Kejang tonik klonik
? Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas,
batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
? Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
? Saat tonik diikuti klonik pada ekstremitas atas dan bawah.
? Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d. Kejang atonik
? Hilangnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun,
kepala menunduk, atau jatuh ke tanah.
? Singkat dan terjadi tanpa peringatan.

E. KOMPLIKASI
1. Aspirasi
2. Asfiksia
3. Retardasi mental
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Memberantas kejang secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang,
ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan
dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang
diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan
kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau
paraldehid 4 % secara intravena.
2. Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh dilupakan perlunya pengobatan penunjang
? Semua pakaian ketat dibuka
? Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
? Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu
dilakukan intubasi atau trakeostomi.
? Penhisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.
3. Pengobatan rumat
? Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan
antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat
kejang demam sederhana yaitu kira-kira sampai anak umur 4 tahun.
? Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan
? Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
? Kejang demam yang mempunyai ciri :
- Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi perkembangan
dan mikrosefali
- Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau diikuti kelainan saraf
yang sementara atau menetap
- Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik
- Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
4. Mencari dan mengobati penyebab

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM
A. Pengkajian
Pengkajian neurologik :
1. Tanda – tanda vital
? Suhu
? Pernapasan
? Denyut jantung
? Tekanan darah
? Tekanan nadi
2. Hasil pemeriksaan kepala
? Fontanel : menonjol, rata, cekung
? Lingkar kepala : di bawah 2 tahun
? Bentuk Umum
3. Reaksi pupil
? Ukuran
? Reaksi terhadap cahaya
? Kesamaan respon
4. Tingkat kesadaran
? Kewaspadaan : respon terhadap panggilan
? Iritabilitas
? Letargi dan rasa mengantuk
? Orientasi terhadap diri sendiri dan orang lain
5. Afek
? Alam perasaan
? Labilitas
6. Aktivitas kejang
? Jenis
? Lamanya
7. Fungsi sensoris
? Reaksi terhadap nyeri
? Reaksi terhadap suhu
8. Refleks
? Refleks tendo superfisial
? Reflek patologi
9. Kemampuan intelektual
? Kemampuan menulis dan menggambar
? Kemampuan membaca

B. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi cidera
2. Gangguan citra tubuh
3. Resiko tinggi koping keluarga dan koping individu tidak efektif

C. Intervensi keperawatan
1. Kejang
? Lindungi anak dari cidera
? Jangan mencoba untuk merestrain anak
? Jika anak berdiri atau duduk sehingga terdapat kemungkinan jatuh, turunkan anak
tersebut agar tidak jatuh
? Jangan memasukan benda apapun ke dalam mulut anak
? Longgarkan pakaiannya jika ketat
? Cegah anak agar tidak terpukul benda tajam, lapisi setiap benda yang mungkin
terbentur dengan anak dan singkirkan semua benda tajam dari daerah tersebut
? Miringkan badan anak untuk memfasilitasi bersihan jalan nafas dari sekret
2. Lakukan observasi secara teliti dan catat aktiitas kejang untuk membantu diagnosis
atau pengkajian respon pengobatan
? Waktu awitan dan kejadian pemicu
? Aura
? Jenis kejang
? Lamanya kejang
? Intervensi selama kejang
? Tanda tanda vital
http://blog.ilmukeperawatan.com/kejang-demam-anak-serta-askep-kejang-demam-pada-
anak.html



Askep Anak Demam Kejang

Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa,
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI, 1989, 154)

Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data
serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan
dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan
lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan
lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode pengumpulan data
melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara
(yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa
catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur (mencakup semua
materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).

Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :

2.3.1.1 Data subyektif

Biodata/Identitas

Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.

Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi
nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.

   1. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)

Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :

Apakah betul ada kejang ?

Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan gerakan kejang si
anak

Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah
infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara
timbulnya kejang dengan demam..

Lama serangan

Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama
bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan
pengobatan.

Pola serangan

Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah
bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?

Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi
mioklonik ?

Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti
epilepsi akinetik ?

Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara tangan naik
sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?

Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.

Frekuensi serangan

Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk
pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin kurang baik apabila
kejang timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.

Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan

Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu yang dapat
menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana
kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah
penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise, menangis dan
sebagainya ?

Riwayat penyakit sekarang yang menyertai

Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi),
gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.

Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah
mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali ?

Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA dan lain-lain.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami infeksi atau sakit
panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per vaginam sewaktu hamil,
penggunaan obat-obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan
apakah sukar, spontan atau dengan tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum,
asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak
mau menetek, dan kejang-kejang.

Riwayat Imunisasi

Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta umur
mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya setelah mendapat
imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan kejang.

Riwayat Perkembangan

Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :

Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati
sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya
menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.

Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.

Riwayat kesehatan keluarga.

Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita kejang demam
mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf
atau lainnya ? Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau
penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.

Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji siapakah yanh
mengasuh anak ?

Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya ?

Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan

Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ?

Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :

Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat

Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan,
pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis ?

Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan yang
diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan
pertolongan pertama.

Pola nutrisi

Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana kualitas dan
kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak ?

Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan anak ? Berapa
kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?

Pola Eliminasi :

BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan bagaimana
warna, bau, dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak
kencing.

BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana konsistensinya
lunak,keras,cair atau berlendir ?

Pola aktivitas dan latihan

Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya ? Berkumpul dengan
keluarga sehari berapa jam ? Aktivitas apa yang disukai ?

Pola tidur/istirahat

Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam berapa ?
Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?
2.3.1.2 Data Obyektif

Pemeriksaan Umum (Corry S, 2000 hal : 36)

Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi,
respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan
kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan
neurologi.

Pemeriksaan Fisik

Kepala

Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah
tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana
keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ?.

Rambut

Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan
malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut
jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.

Muka/ Wajah.

Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak
menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus
sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?

Mata

Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman
penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?

Telinga

Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti
pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga,
berkurangnya pendengaran.

Hidung

Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas ? Apakah
keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?

Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah
stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi ?

Tenggorokan

Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan
eksudat ?

Leher

Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena
jugulans ?

Thorax

Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya, irama,
kedalaman, adakah retraksi

Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?

Jantung

Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ?
Adakah bradicardi atau tachycardia ?

Abdomen

Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit
dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?

Kulit

Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema,
hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?

Ekstremitas

Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana
suhunya pada daerah akral ?

Genetalia

Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi ?

2.3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi :

   1. Darah

Glukosa Darah     : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)

BUN                : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan
indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.

Elektrolit        : K, Na

Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang

Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )

Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

   1. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,
      pendarahan penyebab kejang.
   2. Skull Ray              : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan
      adanya lesi
   3. Tansiluminasi           : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB
      masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk
      transiluminasi kepala.
   4. EEG                    : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui
      tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya
      normal.
   5. CT Scan                : Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma,
      cerebral oedem, trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.

2.3.2   Analisa dan Sintesa Data

Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi,
menyeleksi, mengelompokkan, mengaitkan data, menentukan kesenjangan informasi,
melihat pola data, membandingakan dengan standar, menginterpretasi dan akhirnya
membuat kesimpulan. Hasil analisa data adalah pernyataan masalah keperawatan atau
yang disebut diagnosa keperawatan.

2.3.3   Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang masalah
pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan
keperawatan.

Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
2.3.3.1 Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi.

2.3.3.2 Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot

2.3.3.3 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi yang ditandai :

   1. Suhu meningkat
   2. Anak tampak rewel

2.3.3.4 Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi
yang ditandai : keluarga sering bertanya tentang penyakit anaknya.

2.3.4 Perencanaan

Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana,
kapan itu dilakukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut. Rencana
keperawatan yang memberikan arah pada kegiatan keperawatan. (Santosa. NI, 1989;160)

2.3.4.1 Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan
hipertermi

Tujuan       : Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan hiperthermi

Kriteria hasil :

   1. Tidak terjadi serangan kejang ulang.
   2. Suhu 36,5 – 37,5 º C (bayi), 36 – 37,5 º C (anak)
   3. Nadi 110 – 120 x/menit (bayi)

100-110 x/menit (anak)

   1. Respirasi 30 – 40 x/menit (bayi)

24 – 28 x/menit (anak)

   1. Kesadaran composmentis

Rencana Tindakan :

   1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat.

Rasional    : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap
keringat.

   1. Berikan kompres dingin
Rasional     : perpindahan panas secara konduksi

   1. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)

Rasional     : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.

   1. Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam

Rasional     : Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang akan dilakukan.

   1. Batasi aktivitas selama anak panas

Rasional     : aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan panas.

   1. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.

Rasional     : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai propilaksis

2.3.4.2 Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi trauma fisik berhubungan dengan
kurangnya koordinasi otot

Tujuan         : Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.

Kriteria Hasil :

   1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
   2. Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
   3. Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.

Rencana Tindakan :

   1. Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang rendah.

Rasional : meminimalkan injuri saat kejang

   1. Tinggalah bersama klien selama fase kejang..

Rasional : meningkatkan keamanan klien.

   1. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.

Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.

   1. Letakkan klien di tempat yang lembut.
Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstimitas ketika kontrol otot
volunter berkurang.

    1. Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.

Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang terganggu.

    1. Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang

Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal

2.3.4.3 Diagnosa Keperawatan / Masalah : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan
hiperthermi.

Tujuan            : Rasa nyaman terpenuhi

Kriteria hasil    : Suhu tubuh 36 – 37,5º C, N ; 100 – 110 x/menit,

RR : 24 – 28 x/menit, Kesadaran composmentis, anak tidak rewel.

Rencana Tindakan :

    1. Kaji faktor – faktor terjadinya hiperthermi.

Rasional      : mengetahui penyebab terjadinya hiperthermi karena penambahan
pakaian/selimut dapat menghambat penurunan suhu tubuh.

    1. Observasi tanda – tanda vital tiap 4 jam sekali

Rasional     : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan
keperawatan yang selanjutnya.

    1. Pertahankan suhu tubuh normal

Rasional      : suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas, suhu lingkungan,
kelembaban tinggiakan mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh.

    1. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala / ketiak .

Rasional         : proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan perantara.

    1. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun

Rasional     : proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal dan tidak
dapat menyerap keringat.
   1. Atur sirkulasi udara ruangan.

Rasional       : Penyediaan udara bersih.

   1. Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum

Rasional       : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.

   1. Batasi aktivitas fisik

Rasional       : aktivitas meningkatkan metabolismedan meningkatkan panas.

2.3.4.4 Diagnosa Keperawatan / Masalah : Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan
keterbataaan informasi

Tujuan         : Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit anaknya.

Kriteria hasil :

   1. Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.
   2. Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.
   3. keluarga mentaati setiap proses keperawatan.

Rencana Tindakan :

   1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga

Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan kebenaran
informasi yang didapat.

   1. Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam

Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu menambah
wawasan keluarga

   1. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.

Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan

   1. Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan mencegah
      kejang demam, antara lain :
          1. Jangan panik saat kejang
          2. Baringkan anak ditempat rata dan lembut.
          3. Kepala dimiringkan.
          4. Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah, lalu
             dimasukkan ke mulut.
           5. Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat tunggu
              sampai keadaan tenang.
           6. Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres dingin dan beri banyak
              minum
           7. Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama.

Rasional   : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga agar mandiri dalam
mengatasi masalah kesehatan.

   1. Berikan Health Education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak panas.

Rasional    : mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan kejang ulang.

   1. Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan
      menghindari orang atau teman yang menderita penyakit menular sehingga tidak
      mencetuskan kenaikan suhu.

Rasional    : sebagai upaya preventif serangan ulang

   1. Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar
      memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita
      kejang demam.

Rasional   : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat menyebabkan
kejang demam

2.3.5 Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan
kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

2.3.6 Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan
obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai
atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan
analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).

Tabel 2.2 Evaluasi Pada Kasus Kejang Demam

NO.   Diagnosa/Masalah                     Evaluasi
1.    Potensial kejang berulang berhu-     Klien tidak mengalami kejang selama
      bungan dengan hiperthermi.           2×24 jam.
2    Potensial terjadi trauma fisik    Kriteria :
     berhubungan kurangnya koordina-si
3.   otot.                             -      Tidak terjadi serangan ulang

4.   Gangguan rasa nyaman berhu-        -      Suhu : 36 – 37,5 º C
     bungan dengan hiperthermi.
.                                       -      N     : 100 – 110 kali/menit
     Kurangnya pengetahuan keluarga
     berhubungan dengan keterbatasan    -      Kesadaran : composmentis
     informasi.
                                        Tidak terjadi trauma fisik selama
                                        perawatan.

                                        Kriteria :

                                        -     Tidak terjadi traumas fisik
                                        selama kejang.

                                        -    Mempertahankan tindakan yang
                                        mengontrol aktivitas kejang.

                                        -      Mengidentifikasi tindakan yang
                                        harus diberikan ketika terjadi kejang.

                                        Rasa nyaman terpenuhi

                                        Kriteria :

                                        -      Tanda vital :

                                        Suhu : 36 – 37,5ºC

                                        N     : 100 – 110 kali/ menit

                                        RR    : 24 – 28 kali/menit

                                        -      Kesadaran : composmentis

                                        -      Anak tidak rewel

                                        Pengetahuan keluarga bertambah
                                        tentang penyakit anaknya.

                                        Kriteria :
                                          -      Keluarga tidak sering bertanya
                                          tentang penyakit anaknya.

                                          -      Keluarga mampu diikutserta-
                                          kan dalam proses perawatan.

                                          -     Keluarga mentaati setiap proses
                                          perawatan.
   http://morningcamp.com/?p=380

                            Askep Anak Kejang Demam


   A.KONSEP DASAR

1.Pengertian

   Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang

   mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang

   bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).

   Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala

   dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).

   Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu

   rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang

   demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai

   pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu

   awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia

   A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

          Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan

   kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada

   usia anak dibawah lima tahun.

2. Patofisiologi
a.Etiologi

   Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak,

   trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan

   gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik

   subcutan dan anoksia serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak

   diketahui etiologinya).

1)Intrakranial

   Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik

   Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular

   Infeksi : Bakteri, virus, parasit

   Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith

   – Lemli – Opitz.

2)Ekstra kranial

   Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan

   elektrolit (Na dan K)

   Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.

   Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan

   dan kekurangan produksi kernikterus.

3)Idiopatik

   Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)


                 b.Patofisiologi

   Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi

   yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang
terpenting adalah glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara

pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.

Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses

oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh

membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan

luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh

ion NA + dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.

Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.

Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu

perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat

perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk

menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan

enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan

konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak

misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari

patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang

anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang

dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan

dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+

melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.

Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas

keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang
   disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang

   yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak

   meninggalkan gejala sisa.

   Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA

   meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya

   terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.


          c.Manifestasi klinik

   Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan

   dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh

   infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut,

   bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu

   demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.

   Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin

   timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak

   menderita epilepsy.

   untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2

   golongan yaitu :

1.Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)

2.Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever

   Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah

   dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang

   demam sederhana, yaitu :

1.Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
2.Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.

3.Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali

4.Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam

5.Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

6.Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak

   menunjukkan kelainan.


          3.Klasifikasi kejang

   Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan

   tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang

   tonik dan kejang mioklonik.

a.Kejang Tonik

   Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah

   dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi

   prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu

   ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai

   yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah

   dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi

   harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang

   meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus

b.Kejang Klonik

   Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal

   dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal

   berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan
   kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat

   disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup

   bulan atau oleh ensepalopati metabolik.

c.Kejang Mioklonik

   Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau

   keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut

   menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan

   saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada

   bayi tidak spesifik.


          4.Diagnosa banding kejang pada anak

   Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar, apnea dan

   mioklonus nokturnal benigna.

a.Gemetar

   Gemetar     merupakan    bentuk    klinis   kejang   pada   anak   tetapi   sering

   membingungkan terutama bagi yang belum berpengalaman. Keadaan ini dapat

   terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia

   dengan hiperiritabilitas neuromuskular, bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi

   dan BBLR. Gemetar adalah gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo

   teratur dan sama, kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik .

b.Apnea

          Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti

   napas 3-6 detik dan sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Berhentinya

   pernafasan tidak disertai dengan perubahan denyut jantung, tekanan darah,
   suhu badan, warna kulit. Bentuk pernafasan ini disebut pernafasan di batang

   otak. Serangan apnea selama 10 – 15 detik terdapat pada hampir semua bagi

   prematur, kadang-kadang pada bayi cukup bulan.

          Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR

   perlu di curigai adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak.

   Pada keadaan ini USG perlu segera dilakukan. Serangan Apnea yang termasuk

   gejala kejang adalah apabila disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain

   dan tidak disertai bradikardia.

c.Mioklonus Nokturnal Benigna

          Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang

   waktu tidur. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan

   fleksi pada jari persendian tangan dan siku yang berulang. Apabila serangan

   tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang

   klonik fokal atau mioklonik. Mioklonik nokturnal benigna ini dapat dibedakan

   dengan kejang dan gemetar karena timbulnya selalu waktu tidur tidak dapat di

   stimulasi dan pemeriksaan EEG normal. Keadaan ini tidak memerlukan

   pengobatan


          5.Penatalaksanaan

   Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang

   merupakan tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang

   memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.


   Penatalaksanaan Umum terdiri dari :
a.Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati

b.Memonitor pernafasan dan denyut jantung

c.Usahakan suhu tetap stabil

d.Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain

e.Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena

   Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera

   dilakukan. Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 –

   4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan

   glukosa 10 % sebanyak 60 – 80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca –

   glukosa   hendaknya     disertai   dengan    monitoring   jantung   karena    dapat

   menyebabkan      bradikardi.   Kemudian     dilanjutkan   dengan    peroral   sesuai

   kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10

   % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.

   Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk

   larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4

   (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia

   umum menyerupai floppy infant dapat muncul.

   Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik

   seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan

   utama untuk bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang,

   mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak

   sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia). Fenobarbital

   dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit.
   Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas

   kejang pada BBL dengan alasan

a.Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya

b.Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat

   pernafasan

c.Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi

   peningkatan bilirubin dalam darah.


          6.Pemeriksaan fisik dan laboratorium

a.Pemeriksaan fisik

          Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik,

   pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :

1)hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal

   yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya

   kelainan struktur otak.

2)Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi,

   henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya

   negatif,   dan     terdapatnya   kuadriparesis   flasid   mencurigakan   terjadinya

   perdarahan intraventikular.

3)Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang

   disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol

   menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan

   oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan

   kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau
   fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi

   pada ibu.

4)Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang

   mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.

5)Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau

   subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural.

   Ditemukannya       korioretnitis   dapat   terjadi   pada   toxoplasmosis,   infeksi

   sitomegalovirus dan rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang

   berkelok – kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas.

6)Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan

   subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.

7)Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan

   bising jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.


                b.Pemeriksaan laboratorium

          Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan

   gula dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk

   menentukan       sikap   terhadap    pengobatan      hipoglikemia   dan   meningitis

   bakterilisasi.

   Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu

1)Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara

   berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.

2)Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan

   analisis gas darah.
3)Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia.

   Bila cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila

   cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk

   mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir

   darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal

4)Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia

5)Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga

   diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang

   menunjukkan EEG latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam

   multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai

   prognosis yang tidak baik dan hanya 12 % diantaranya mempunyai /

   menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan

   untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dengan

   kejang tidak dapat meramalkan prognosis.

6)Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis

   yang pasti yaitu mencakup :


                     a)Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic


                     b)Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis

                     rubella, citomegalovirus dan virus herpes.


                     c)Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil

                     atau lebih besar dari aturan baku
                      d)USG      kepala   untuk   mendeteksi      adanya   perdarahan

                      subepedmal, pervertikular, dan vertikular


                  e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark,

                      perdarahan intrakranial, klasifikasi dan kelainan

                      bawaan otak


                  e)Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi

                      lumbal bila transluminasi positif dengan ubun –

                      ubun besar tegang, membenjol dan kepala

                      membesar.


          7.Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu

1.Fisik

f.Ubun-ubun anterior tertutup.

g.Physiologis dapat mengontrol spinkter

2.Motorik kasar

a.Berlari dengan tidak mantap

b.Berjalan diatas tangga dengan satu tangan

c.Menarik dan mendorong mainan

d.Melompat ditempat dengan kedua kaki

e.Dapat duduk sendiri ditempat duduk

f.Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh

3.Motorik halus
a.Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan

b.Melepaskan dan meraih dengan baik

c.Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu

d.Menggambar dengan membuat tiruan

4.Vokal atau suara

a.Mengatakan 10 kata atau lebih

b.Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh

5.Sosialisasi atau kognitif

a.Meniru

b.Menggunakan sendok dengan baik

c.Menggunakan sarung tangan

d.Watak pemarah mungkin lebih jelas

e.Mulai sadar dengan barang miliknya


        8.Dampak hospitalisasi

   Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis,

   perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi,

   protes secara verbal, takut terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta

   dapat mendepak saat berinteraksi.

   Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :

a)Rasa takut

1)Memandang penyakit dan hospitalisasi

2)Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal

3)Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit
4)Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan

5)Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol,

   menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang.

b.Ansietas

1)Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal

2)Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)

3)Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak

   berminat

4)Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit

5)Tidak berdaya

6)Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan

7)Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang

   memberi pengobatan atau perawatan

  Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol

9)Protes dan Ansietas karena restrain

c.Gangguan citra diri

1)Sedih dengan perubahan citra diri

2)Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)

3)Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut


   B.ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1.Pengkajian

   Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi

   kejangnya dan gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai
   karakteristik yang berbeda misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti

   pergerakan bola mata , kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk

   waktu kejang dimulai dan lamanya kejang.

   Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor

   pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan

   yang ditimbulkan oleh kejang.

1.Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.

   Gerakan involunter

2.Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan

   penurunan nadi dan pernafasan

3.Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan

   dan atau penanganan, peka rangsangan.

4.Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus

   spinkter

5.Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang

   berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi

6.Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra

7.Riwayat jatuh / trauma

2.Diagnosa keperawatan

   Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1.Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan

   koordinasi otot.
2.Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan

   neoromuskular

3.Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

4.Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

5.Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi


   3.INTERVENSI


   Diagnosa 1

   Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan

   koordinasi otot.

   Tujuan

   Cidera / trauma tidak terjadi

   Kriteria hasil

   Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan

   keamanan lingkungan

   Intervensi

   Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan

   umum, sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang

   dan beberapa kali terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah

   kejang. Lindungi klien dari trauma atau kejang.

   Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian

   therapi anti compulsan

          Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan

neuromuskular

Tujuan

Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

Kriteria hasil

Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak

ada, RR dalam batas normal

Intervensi

Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler.

Lakukan penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi

Diagnosa 3

Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

Tujuan

Aktivitas kejang tidak berulang

Kriteria hasil

Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal

Intervensi

Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada

klien. Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres

dingin pda daerah dahi dan ketiak.

Diagnosa 4

Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

Tujuan
   Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

   Kriteria hasil

   Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi

   Intervensi

   Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien

   dalam pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan

   klien. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.

   Diagnosa 5

   Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

   Tujuan

   Pengetahuan keluarga meningkat

   Kriteria hasil

   Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak

   bertanya lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.

   Intervensi

   Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien.

   Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes.

   Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti.

   Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien.


   6.EVALUASI


1.Cidera / trauma tidak terjadi

2.Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
3.Aktivitas kejang tidak berulang

4.Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

5.Pengetahuan keluarga meningkat

http://askep-askeb.cz.cc/2009/08/askep-anak-kejang-demam.html




   ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM



   A. KONSEP DASAR



   1. Pengertian



   Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
   mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
   sementara (Hudak and Gallo,1996).



   Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
   demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).



   Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
   atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga
   disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah
   5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul
   mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).



   Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang
   terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah
   lima tahun.
2. Patofisiologi



a. Etiologi



Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma,
bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus
alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia
serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).



1) Intrakranial



Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik



Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular



Infeksi : Bakteri, virus, parasit



Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli
– Opitz.



2) Ekstra kranial



Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan
elektrolit (Na dan K)
Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.



Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan
kekurangan produksi kernikterus.



3) Idiopatik



Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)



b. Patofisiologi



Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan
keotak melalui system kardiovaskuler.



Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi,
dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam
keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,
kecuali ion clorida.



Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion
diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri
karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh
tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat
mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+
maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan
listrik.



Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter
sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada
umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.



Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA
meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi
hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.



c. Manifestasi klinik



Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf
pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi
dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat
berbentuk tonik-klonik.



Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul
pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita
epilepsy.



untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan
yaitu :
1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)



2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever



Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah
dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam
sederhana, yaitu :



1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun



2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.



3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali



4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam



5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal



6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.



3. Klasifikasi kejang



Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai
dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang
mioklonik.
   1. Kejang Tonik




Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan
masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.
Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik
yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan
oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus




   1. Kejang Klonik




Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak
diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.




   1. Kejang Mioklonik




Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.
Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.



4. Diagnosa banding kejang pada anak
Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar, apnea dan mioklonus
nokturnal benigna.




   1. Gemetar




Gemetar merupakan bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan
terutama bagi yang belum berpengalaman. Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal
dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia dengan hiperiritabilitas
neuromuskular, bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR. Gemetar adalah
gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo teratur dan sama, kadang-kadang
bentuk gerakannya menyerupai klonik .



b. Apnea



Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti napas 3-6 detik dan
sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Berhentinya pernafasan tidak disertai
dengan perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit. Bentuk
pernafasan ini disebut pernafasan di batang otak. Serangan apnea selama 10 – 15 detik
terdapat pada hampir semua bagi prematur, kadang-kadang pada bayi cukup bulan.



Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai
adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak. Pada keadaan ini USG
perlu segera dilakukan. Serangan Apnea yang termasuk gejala kejang adalah apabila
disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain dan tidak disertai bradikardia.



c. Mioklonus Nokturnal Benigna
Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur.
Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari
persendian tangan dan siku yang berulang. Apabila serangan tersebut berlangsung lama
dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik. Mioklonik
nokturnal benigna ini dapat dibedakan dengan kejang dan gemetar karena timbulnya
selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi dan pemeriksaan EEG normal. Keadaan ini
tidak memerlukan pengobatan



5. Penatalaksanaan



Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang merupakan
tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang memerlukan tindakan segera
untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.



Penatalaksanaan Umum terdiri dari :



a. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati



b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung



c. Usahakan suhu tetap stabil



d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain



e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena



Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila
terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 – 4 ml/kg BB secara
intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 –
80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca – glukosa hendaknya disertai dengan
monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan
peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca
glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.



Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50%
Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 –
6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy
infant dapat muncul.



Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti
hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi
baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang
rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia
dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis
selama 20 menit.



Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang
pada BBL dengan alasan



a. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya



b. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan



c. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi
peningkatan bilirubin dalam darah.



6. Pemeriksaan fisik dan laboratorium
a. Pemeriksaan fisik



Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik, pemeriksaan
ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :



1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal
yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan
struktur otak.



2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti
nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan
terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.



3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang
disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan
adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan
sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari
luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena
kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.



4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang
mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.



5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau
subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural.
Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan
rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok – kelok di retina
terlihat pada sindom hiperviskositas.



6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural
atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising
jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.



b. Pemeriksaan laboratorium



Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula dengan cara
dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap
pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.



Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu



1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara
berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.



2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan
analisis gas darah.



3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila
cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan
berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya trauma
pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang
diisi cairan serebro spinal



4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia



5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan
untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG latar
belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion
atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 %
diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat
juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dengan
kejang tidak dapat meramalkan prognosis.



6) Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang
pasti yaitu mencakup :



a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic



b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella, citomegalovirus dan
virus herpes.



c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan
baku



d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, dan
vertikular



e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial,
klasifikasi dan kelainan bawaan otak



e) Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif
dengan ubun – ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar.



7. Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu



1. Fisik
f. Ubun-ubun anterior tertutup.



g. Physiologis dapat mengontrol spinkter



2. Motorik kasar



a. Berlari dengan tidak mantap



b. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan



c. Menarik dan mendorong mainan



d. Melompat ditempat dengan kedua kaki



e. Dapat duduk sendiri ditempat duduk



f. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh



3. Motorik halus



a. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan
b. Melepaskan dan meraih dengan baik



c. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu



d. Menggambar dengan membuat tiruan



4. Vokal atau suara



a. Mengatakan 10 kata atau lebih



b. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh



5. Sosialisasi atau kognitif



a. Meniru



b. Menggunakan sendok dengan baik



c. Menggunakan sarung tangan



d. Watak pemarah mungkin lebih jelas



e. Mulai sadar dengan barang miliknya
8. Dampak hospitalisasi



Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang
kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut
terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.



Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :



a) Rasa takut



1) Memandang penyakit dan hospitalisasi



2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal



3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit



4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan



5) Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol,
menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang.



b. Ansietas



1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal
2) Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)



3) Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat



4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit



5) Tidak berdaya



6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan



7) Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi
pengobatan atau perawatan



Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol



9) Protes dan Ansietas karena restrain



c. Gangguan citra diri



1) Sedih dengan perubahan citra diri



2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)
3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut



B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS



1. Pengkajian



Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan
gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda
misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot
lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang.



Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor
pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kejang.



1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.
Gerakan involunter



2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan



3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau
penanganan, peka rangsangan.



4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus
spinkter
5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi



6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra



7. Riwayat jatuh / trauma



2. Diagnosa keperawatan



Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul



1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan
koordinasi otot.



2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular



3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh



4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan



5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi



3. INTERVENSI
Diagnosa 1



Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi
otot.



Tujuan



Cidera / trauma tidak terjadi



Kriteria hasil



Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan
keamanan lingkungan



Intervensi



Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum,
sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali
terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi klien
dari trauma atau kejang.



Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti
compulsan



Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular



Tujuan



Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi



Kriteria hasil



Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR
dalam batas normal



Intervensi



Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan
penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi



Diagnosa 3



Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh



Tujuan



Aktivitas kejang tidak berulang
Kriteria hasil



Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal



Intervensi



Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda
daerah dahi dan ketiak.



Diagnosa 4



Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan



Tujuan



Kerusakan mobilisasi fisik teratasi



Kriteria hasil



Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi



Intervensi
Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam
pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.



Diagnosa 5



Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi



Tujuan



Pengetahuan keluarga meningkat



Kriteria hasil



Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya
lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.



Intervensi



Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Jelaskan
pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan
pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan keluarga dalam
setiap tindakan pada klien.



6. EVALUASI
1. Cidera / trauma tidak terjadi



2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi



3. Aktivitas kejang tidak berulang



4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi



5. Pengetahuan keluarga meningkat

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
ttp://download-gratis-kti-skripsi.blogspot.com/2010/07/askep-pada-anak-dengan-kejang-
demam.html
Feb
23rd

Asuhan Keperawatan Kejang demam
Author: admin | Files under Asuhan Keperawatan

I. PENGERTIAN

a). Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

b). Kejang adalah pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel syaraf cortex serebral
yang ditandai dengan serangan yang tiba – tiba (marillyn, doengoes. 1999 : 252)

II. ETIOLOGI

Penyebab dari kejag demam dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :

1. Obat – obatan

racun, alkhohol, obat yang diminum berlebihan

2. Ketidak seimbangan kimiawi

hiperkalemia. Hipoglikemia dan asidosis
3. Demam

paling sering terjadi pada anak balita

4. Patologis otak

akibat dari cidera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tik

5. Eklampsia

hipertensi prenatal, toksemia gravidarum

6. Idiopatik

penyebab tidak diketahui

III. PATOFISIOLOGI

IV. MANIFESTASI KLINIK

Ada 2 bentuk kejang demam, yaitu :

1. Kejang demam sementara

· Umur antara 6 bulan – 4 tahun

· Lama kejang <15 menit

· Kejang bersifat umum

· Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam

· Tidak ada kelainan neurologis, baik klinis maupun laboratorium

· Eeg normal 1 minggu setelah bangkitan kejang

2. Kejang demam komplikata

· Diluar kriteria tersebut diatas

V. KOMPLIKASI DARI KEJANG DEMAM

1. hipoksia

2. hiperpireksia
3. asidosis

4. ernjatan atau sembab otak

VI. FASE – FASE KEJANG DEMAM

1. Fase prodromal

Perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin mengawali kejang beberapa
jam/ hari

2. Fase iktal

Merupakan aktivitas kejang yag biasanya terjadi gangguan muskulosketal.

3. Fase postiktal

Periode waktu dari kekacauan mental atau somnolen, peka rangsang yang terjadi setelah
kejang tersebut.

4. Fase aura

Merupakan awal dari munculnya aktivitas kejang, yang biasanya berupa gangguan
penglihatan dan pendengaran.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIK

1. Pemberian diazepam

· dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/ kg bb/ dosis iv (perlahan )

· bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosisi ulangan setelah 20 menit

2. Turunkan demam

· anti piretik : para setamol atau salisilat 10 mg/ kg bb/ dosis

· kompres air biasa

3. Penanganan suportif

· bebaskan jalan nafas

· beri zat asam

· jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
· pertahankan tekanan darah

VIII. PENCEGAHAN KEJANG DEMAM

1. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri diazepam dan
anti piretika pada penyakit yang disetai demam.

2. Pencegahan kontinu untuk kejang komplikata

· fenobarbital : 5 – 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis

· fenotoin : 2- 8 mg/ kg BB/ 24 jam 2 – 3 dosis

· klonazepam : indikasi khusus

3. Diberikan sampai 2 tahun bebas kejang atau sampai umur 6 tahun

IX. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Elektrolit : tidak seimbang dapat berpengaruh pada aktivitas kejang

2. Glukosa : hipoglikemia dapat menjadi presipitasi (pencetus) kejang.

3. Ureum/ kreatinin : dapat maningkatkan resiko timbulnya aktivitas kejang

4. Kadar obat dalam serum : untuk membuktikan batas obat anti konvulsi yang
terapeutik.

5. Elektroensepalogram (eeg) : dapat melokalisir daerah serebral yang tidak berfungsi
dengan baik, mengukur aktivitas otak.

X. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Data Dasar Pasien

1. Aktivitas/ istirahat

Gejala : keletihan, kelemahan umum

Keterbatasan dalam beraktivitas

Tanda : perubahan tonus dan kekuatan

2. Sirkulasi

Gejala : iktal : hiertensi, peningkatan nadi, sianosis
Postiktal : depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan

3. Elimnasi

Gejala : inkontinensia episodik

Tanda : iktal : peningkatan tekanan kandung kemih

Posiktal : inkontenensia urine

4. Makanan dan cairan

Gejala : sensitivitas terhadap makanan, mual, muntah

Tanda : kerusakan jaringan lunak (cidera selama kejang)

5. Neurosensori/ kenyamanan

Gejala : riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsang, pusing

Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area paralitik

6. Pernafasan

Gejala : iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun/ cepat, peningkatan sekresi
mukus

B. Diagnosa Yang Mungkin Muncul

1. Resiko terhadap penghentian pernafasan barhubungan dengan kelemahan dan
kehilangan koordinasi otot besar dan kecil

2. Bersihkan jalan nafas inefektif berhubungan dengan obstruksi trakeobronkial dan
peningkatan sekresi mukus

C. Intervensi Keperawatan

DX 1 : Resiko Terhadap Penghentian Pernafasan Berhubungan Dengan Kelemahan Dan
Kehilangan Koordinasi Otot Besar Dan Kecil

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan penghentian pernafasan tidak terjadi

Kriteria hasil :

RR dalam batas normal (16 – 20 x/ menit )
Tak kejang

Klien mengungkapkan perbaikan pernafasannya

Intervensi :

1. Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur dengan tempat tidur rendah

R/ : mengurangi trauma saat kejang

2. Masukan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik / biarkan pasien menggigit benda
lunak atara gigi.

R/ : menurunkan resiko terjadinya trauma mulut

3. Observasi TTV

R/ : menentukan kegawatan kejang dan intervensi yang sesuai

4. catat tipe dari aktivitas kejang

R/ : membantu untuk melokalisir daerah otak

5. Lakukan penilaian neurologis, tingkat kesadaran, orientasi

R/ : mencatat keadaan postiktal dan waktu penyembuhan

6. Biarkan tingkah laku “ automatik” tanpa menghalangi

R/ : untuk menghindari cidera atau trauma yang lebih lanjut

7. Kolaborasi dalam pemberian obat anti convulsi

R/ : untuk mencegah kejang ulangan

DX 2 : Bersihan Jalan Nafas Inefektif Berhubungan Dengan Peningkatan Sekresi Mukus,
Obstruksi Jalan Nafas

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif

Kriteria hasil : sekresi mukus berkurang

tak kejang

gigi tak menggigit
Intervensi :

1. Anjurkan klien mengosongkan mulut dari benda

R/ : menurunkan aspirasi atau masukanya benda asing ke faring

2. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar

R/ : mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas

3. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen

R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas

4. Masukan spatel lidah

R/ : untuk membuka rahang dan mencegah tergigitnya lidah

5. Lakukan penghisapan lendir

R/ : menurunkan resiko aspirasi

http://panduankeperawatan.com/asuhan-keperawatan/asuhan-keperawatan-kejang-
demam/


Kejang Demam

Definisi

       Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang
disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. Derajat tinggi suhu yang dianggap cukup untuk
diagnosa kejang demam adalah 38 derajat celcius atau lebih (Soetomenggolo, 1989;
Lumbantobing, 1995). Kejang terjadi akibat loncatan listrik abnormal dari sekelompok
neuron otak yang mendadak dan lebih dari biasanya, yang meluas ke neuron sekitarnya
atau dari substansia grasia ke substansia alba yang disebabkan oleh demam dari luar otak
(Freeman, 1980).

Etiologi

       Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering
menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut,
pneumonia, gastroenteritis akut, exantema subitum, bronchitis, dan infeksi saluran kemih
(Goodridge, 1987; Soetomenggolo, 1989). Selain itu juga infeksi diluar susunan syaraf
pusat seperti tonsillitis, faringitis, forunkulosis serta pasca imunisasi DPT (pertusis) dan
campak (morbili) dapat menyebabkan kejang demam.

Faktor lain yang mungkin berperan terhadap terjadinya kejang demam adalah :

- Produk toksik mikroorganisme terhadap otak (shigellosis, salmonellosis)

- Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi.

- Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit.

- Gabungan dari faktor-faktor diatas.

Patofisiologi




       Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam
adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal, membran sel
neuron dapat dilalui oleh ion K, ion Na, dan elektrolit seperti Cl. Konsentrasi K+ dalam
sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat
keadaan sebaliknya.
       Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat
perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron.

   Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan
enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Perbedaan potensial membran
sel neuron disebabkan oleh :

1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.

2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi, aliran listrik dari
sekitarnya.

3. Perubahan patofisiologis dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

   Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 derajat celcius akan menyebabkan
metabolisme basal meningkat 10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada
seorang anak yang berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
sedangkan pada orang dewasa hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi
difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas
ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter sehingga terjadi kejang.

   Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seorang anak. Ada anak yang ambang kejangnya rendah,
kejang telah terjadi pada suhu 38 derajat celcius, sedangkan pada anak dengan ambang
kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 derajat celcius.

Klasifikasi Kejang Demam

Menurut Livingstone (1970), membagi kejang demam menjadi dua :

1. Kejang demam sederhana

Diagnosisnya :
       - Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun

       - Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit

       - Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali

       - Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam

       - Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

       - Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
           menunjukkan kelainan

2. Epilepsi yang diprovokasi demam

Diagnosisnya :

       - Kejang lama dan bersifat lokal

       - Umur lebih dari 6 tahun

       - Frekuensi serangan lebih dari 4 kali / tahun

       - EEG setelah tidak demam abnormal

Menurut sub bagian syaraf anak FK-UI membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :

1. Kejang demam kompleks

Diagnosisnya :

       - Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun

       - Kejang berlangsung lebih dari 15 menit

       - Kejang bersifat fokal/multipel

       - Didapatkan kelainan neurologis
       - EEG abnormal

       - Frekuensi kejang lebih dari 3 kali / tahun

       - Temperatur kurang dari 39 derajat celcius

2. Kejang demam sederhana

Diagnosisnya :

       - Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun

       - Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat

       - Kejang bersifat umum (tonik/klonik)

       - Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang

       - Frekuensi kejang kurang dari 3 kali / tahun

       - Temperatur lebih dari 39 derajat celcius

3. Kejang demam berulang

Diagnosisnya :

       - Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam

(Soetomenggolo, 1995)

Manifestasi klinik

       Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,
berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik, fokal,
atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak tidak
member reaksi apapun sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun
dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti oleh hemiparesis
sementara (Hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.
Kejang unilateral yang lama diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang
yang berlangsung lama sering terjadi pada kejang demam yang pertama (Soetomenggolo,
1995).

          Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung beberapa menit sampai lebih dari 30
menit, tergantung pada jenis kejang demam tersebut. Sedangkan frekuensinya dapat
kurang dari 4 kali dalam 1 tahun sampai lebih dari 2 kali sehari. Pada kejang demam
kompleks, frekuensi dapat sampai lebih dari 4 kali sehari dan kejangnya berlangsung
lebih dari 30 menit.

Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium

          Pada kejang demam sederhana, tidak dijumpai kelainan fisik neurologi maupun
laboratorium. Pada kejang demam kompleks, dijumpai kelainan fisik neurologi berupa
hemiplegi, diplegi (Goodridge, 1987; Soetomenggolo, 1989). Pada pemeriksaan EEG
didapatkan gelombang abnormal berupa gelombang-gelombang lambat fokal bervoltase
tinggi, kenaikan aktivitas delta, relatif dengan gelombang tajam (Soetomenggolo, 1989).
Perlambatan aktivitas EEG kurang mempunyai nilai prognostic, walaupun penderita
kejang demam kompleks lebih sering menunjukkan gambaran EEG abnormal. EEG juga
tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi di kemudian hari
(Soetomenggolo, 1995).

Diagnosis

          Diagnosis kejang tidak selalu mudah. Ensefalopati tanpa sebab yang jelas kadang
memberi gejala kejang yang hebat. Sinkop atau kejang sebagai refleksi anoksia juga
dapat terpacu oleh demam. Demam menggigil pada bayi juga dapat keliru dengan kejang
demam. Sering orang tua menyangka anak gemetar karena suhu yang tinggi sebagai
kejang.

Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda menurut kriteria Livingstone sebagai berikut :
1. Umur anak kejang pertama antara 6 bulan sampai 4 tahun

2. Kejang terjadi dalam 16 jam pertama setelah mulai panas.

3. Kejang bersifat umum

4. Kejang berlangsung tak lebih dari 15 menit

5. Frekuensi bangkitan tak lebih dari 4 kali dalam setahun

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat 10-14 hari setelah bebas panas tidak menunjukkan
kelainan

7. Tidak didapatkan kelainan neurologic

(Pedoman tatalaksana medik anak RSUP DR. SARDJITO, 1991)

Diferensial Diagnosa

       Kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat terjadi karena kelainan lain,
misalnya radang selaput otak (meningitis), radang otak (ensefalitis), dan abses otak.

       Menegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan anak
yang masih muda. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan gangguan
neurologisnya kurang nyata. Oleh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang berakibat
fatal harus dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya diambil melalui
fungsi lumbal (Lumbatobing, 1995).

Penatalaksanaan

Dalam penanggulangan kejang demam ada 6 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :

- Mengatasi kejang secepat mungkin

- Pengobatan penunjang

- Memberikan pengobatan rumat

- Mencari dan mengobati penyebab
- Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas

- Pengobatan akut

A. Mengatasi kejang secepat mungkin

      Sebagai orang tua jika mengetahui seorang kejang demam, tindakan yang perlu
   kita lakukan secepat mungkin adalah semua pakaian yang ketat dibuka. Kepala
   sebaiknya   miring untuk      mencegah    aspirasi   isi   lambung.   Penting sekali
   mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin. Dan bisa juga
   diberikan sesuatu benda yang bisa digigit seperti kain, sendok balut kain yang
   berguna mencegah tergigitnya lidah atau tertutupnya jalan nafas. Bila suhu penderita
   meninggi, dapat dilakukan kompres dengan es/alkohol atau dapat juga diberi obat
   penurun panas/antipiretik.

B. Pengobatan penunjang

      Pengobatan penunjang dapat dilakukan di rumah, tanda vital seperti suhu, tekanan
   darah, pernafasan dan denyut jantung diawasi secara ketat. Bila suhu penderita tinggi
   dilakukan dengan kompres es atau alkohol. Bila penderita dalam keadaan kejang
   obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara per rectal, disamping cara
   pemberian yang mudah, sederhana dan efektif telah dibuktikan keampuhannya
   (Lumbantobing, SM, 1995). Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau tenaga lain
   yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan, yaitu berat badan
   kurang dari 10 kg diberikan 5 mg dan berat badan lebih dari 10 kg rata-rata
   pemakaiannya 0,4-0,6 mg/KgBB. Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mg dalam
   rectiol. Bila kejang tidak berhenti dengan dosis pertama, dapat diberikan lagi setelah
   15 menit dengan dosis yang sama.

      Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan
   dosis 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Golongan glukokortikoid seperti
   deksametason diberikan 0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.

C. Pengobatan rumat
   Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara
mengirim penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.
Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:

1. Profilaksis intermitten

          Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang
    demam sederhana diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang
    harus diberikan kepada anak yang bila menderita demam lagi. Antikonvulsan
    yang diberikan ialah fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari yang
    mempunyai      efek      samping   paling   sedikit    dibandingkan   dengan   obat
    antikonvulsan lainnya.

          Obat yang kini ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah
    terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik diberikan secara rectal maupun
    oral pada waktu anak mulai terasa panas.

          Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak
    untuk menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur
    4 tahun.

2. Profilaksis jangka panjang

          Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis
    teurapetik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah
    terulangnya kejang di kemudian hari.

    Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:

      a. Fenobarbital

                   Dosis     4-5   mg/kgBB/hari.    Efek    samping   dari   pemakaian
          fenobarbital jangka panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif,
          perubahan siklus tidur dan kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi
          luhur.
         b. Sodium valproat / asam valproat

                       Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun,
             obat ini harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan
             gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan hepar, pancreatitis.

         c. Fenitoin

                       Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan
             gangguan sifat berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya
             tidak atau kurang memuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis
             jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti
             mengobati epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus
             perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.

D. Mencari dan mengobati penyebab

      Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi
   traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang
   tepat dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut.

      Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk pertama
   kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk
   menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis.

      Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif
   perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula
   darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

E. Mencegah Terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas

      Dalam hal ini tindakan yang perlu ialah mencari penyebab kejang demam
   tersebut. Misalnya pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Untuk mencegah
   agar kejang tidak berulang kembali dapat menimbulkan panas pada anak sebaiknya
   diberi antikonvulsan atau menjaga anak agar tidak sampai kelelahan, karena hal
   tersebut dapat terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut.

      Kambuhnya kejang demam perlu dicegah karena serangan kejang merupakan
   pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga. Bila kejang
   berlangsung lama dapat mengakibatkan kerusakan otak yang menetap (cacat).

   Ada 3 upaya yang dapat dilakukan :

      1. Profilaksis intermitten

      2. Profilaksis terus menerus dengan obat antikonvulsan tiap hari

      3. Mengatasi segera jika terjadi serangan kejang

F. Pengobatan Akut

   Dalam pengobatan akut ada 4 prinsip, yaitu :

      1. Segera menghilangkan kejang

      2. Turunkan panas

      3. Pengobatan terhadap panas

      4. Suportif

   Diazepam diberikan dalam dosis 0,2-0,5 mg/kgBB secara IV perlahan-lahan selama
   5 menit.

   Bersamaan dengan mengatasi kejang dilakukan:

      1. Bebaskan jalan nafas, pakaian penderita dilonggarkan kalau perlu dilepaskan

      2. Tidurkan penderita pada posisi terlentang, hindari dari trauma. Cegah trauma
          pada bibir dan lidah dengan pemberian spatel lidah atau sapu tangan diantara
          gigi
       3. Pemberian oksigen untuk mencegah kerusakan otak karena hipoksia

       4. Segera turunkan suhu badan dengan pemberian antipiretika
           (asetaminofen/parasetamol) atau dapat diberikan kompres es

       5. Cari penyebab kenaikan suhu badan dan berikan antibiotic yang sesuai

       6. Apabila kejang berlangsung lebih dari 30 menit dapat diberikan kortikosteroid
           untuk mencegah oedem otak dengan menggunakan cortisone 20-30 mg/kgBB
           atau dexametason 0,5-0,6 mg/kgBB

Bagan Penatalaksanaan




http://doctorology.net/?p=9
Newbie


-2

Joined: 30 Jan 2010
Location: jakarta
Online Status: Offline
Posts: 84 Post Options

Post Reply

Quote iskandar

Report Post

     Quote Reply Topic: askep kejang demam
   Posted: 30 Jan 2010 at 5:37pm
Asuhan Keperawatan Kejang demam
I. PENGERTIAN
a). Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
b). Kejang adalah pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel syaraf cortex serebral
yang ditandai dengan serangan yang tiba – tiba (marillyn, doengoes. 1999 : 252)
II. ETIOLOGI
Penyebab dari kejag demam dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
1. Obat – obatan
racun, alkhohol, obat yang diminum berlebihan
2. Ketidak seimbangan kimiawi
hiperkalemia. Hipoglikemia dan asidosis
3. Demam
paling sering terjadi pada anak balita
4. Patologis otak
akibat dari cidera kepala, trauma, infeksi, peningkatan tik
5. Eklampsia
hipertensi prenatal, toksemia gravidarum
6. Idiopatik
penyebab tidak diketahui



III. PATOFISIOLOGI


IV. MANIFESTASI KLINIK
Ada 2 bentuk kejang demam, yaitu :
1. Kejang demam sementara
• Umur antara 6 bulan – 4 tahun
• Lama kejang <15 menit
• Kejang bersifat umum
• Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam
• Tidak ada kelainan neurologis, baik klinis maupun laboratorium
• Eeg normal 1 minggu setelah bangkitan kejang
2. Kejang demam komplikata
• Diluar kriteria tersebut diatas
V. KOMPLIKASI DARI KEJANG DEMAM
1. hipoksia
2. hiperpireksia
3. asidosis
4. ernjatan atau sembab otak
VI. FASE – FASE KEJANG DEMAM
1. Fase prodromal
Perubahan alam perasaan atau tingkah laku yang mungkin mengawali kejang beberapa
jam/ hari
2. Fase iktal
Merupakan aktivitas kejang yag biasanya terjadi gangguan muskulosketal.
3. Fase postiktal
Periode waktu dari kekacauan mental atau somnolen, peka rangsang yang terjadi setelah
kejang tersebut.
4. Fase aura
Merupakan awal dari munculnya aktivitas kejang, yang biasanya berupa gangguan
penglihatan dan pendengaran.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIK
1. Pemberian diazepam
• dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/ kg bb/ dosis iv (perlahan )
• bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosisi ulangan setelah 20 menit

2. Turunkan demam
• anti piretik : para setamol atau salisilat 10 mg/ kg bb/ dosis
• kompres air biasa
3. Penanganan suportif
• bebaskan jalan nafas
• beri zat asam
• jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
• pertahankan tekanan darah
VIII. PENCEGAHAN KEJANG DEMAM
1. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri diazepam dan
anti piretika pada penyakit yang disetai demam.
2. Pencegahan kontinu untuk kejang komplikata
• fenobarbital : 5 – 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis
• fenotoin : 2- 8 mg/ kg BB/ 24 jam 2 - 3 dosis
• klonazepam : indikasi khusus
3. Diberikan sampai 2 tahun bebas kejang atau sampai umur 6 tahun
IX. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Elektrolit : tidak seimbang dapat berpengaruh pada aktivitas kejang
2. Glukosa : hipoglikemia dapat menjadi presipitasi (pencetus) kejang.
3. Ureum/ kreatinin : dapat maningkatkan resiko timbulnya aktivitas kejang
4. Kadar obat dalam serum : untuk membuktikan batas obat anti konvulsi yang
terapeutik.
5. Elektroensepalogram (eeg) : dapat melokalisir daerah serebral yang tidak berfungsi
dengan baik, mengukur aktivitas otak.


X. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Data Dasar Pasien
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktivitas
Tanda : perubahan tonus dan kekuatan
2. Sirkulasi
Gejala : iktal : hiertensi, peningkatan nadi, sianosis
Postiktal : depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan
3. Elimnasi
Gejala : inkontinensia episodik
Tanda : iktal : peningkatan tekanan kandung kemih
Posiktal : inkontenensia urine
4. Makanan dan cairan
Gejala : sensitivitas terhadap makanan, mual, muntah
Tanda : kerusakan jaringan lunak (cidera selama kejang)
5. Neurosensori/ kenyamanan
Gejala : riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsang, pusing
Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area paralitik
6. Pernafasan
Gejala : iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun/ cepat, peningkatan sekresi
mukus

B. Diagnosa Yang Mungkin Muncul
1. Resiko terhadap penghentian pernafasan barhubungan dengan kelemahan dan
kehilangan koordinasi otot besar dan kecil
2. Bersihkan jalan nafas inefektif berhubungan dengan obstruksi trakeobronkial dan
peningkatan sekresi mukus
C. Intervensi Keperawatan
DX 1 : Resiko Terhadap Penghentian Pernafasan Berhubungan Dengan Kelemahan Dan
Kehilangan Koordinasi Otot Besar Dan Kecil
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan penghentian pernafasan tidak terjadi
Kriteria hasil :
RR dalam batas normal (16 – 20 x/ menit )
Tak kejang
Klien mengungkapkan perbaikan pernafasannya
Intervensi :
1. Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur dengan tempat tidur rendah
R/ : mengurangi trauma saat kejang
2. Masukan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik / biarkan pasien menggigit benda
lunak atara gigi.
R/ : menurunkan resiko terjadinya trauma mulut
3. Observasi TTV
R/ : menentukan kegawatan kejang dan intervensi yang sesuai
4. catat tipe dari aktivitas kejang
R/ : membantu untuk melokalisir daerah otak
5. Lakukan penilaian neurologis, tingkat kesadaran, orientasi
R/ : mencatat keadaan postiktal dan waktu penyembuhan
6. Biarkan tingkah laku “ automatik” tanpa menghalangi
R/ : untuk menghindari cidera atau trauma yang lebih lanjut
7. Kolaborasi dalam pemberian obat anti convulsi
R/ : untuk mencegah kejang ulangan
DX 2 : Bersihan Jalan Nafas Inefektif Berhubungan Dengan Peningkatan Sekresi Mukus,
Obstruksi Jalan Nafas
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif
Kriteria hasil : sekresi mukus berkurang
tak kejang
gigi tak menggigit
Intervensi :
1. Anjurkan klien mengosongkan mulut dari benda
R/ : menurunkan aspirasi atau masukanya benda asing ke faring
2. Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar
R/ : mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas
3. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen
R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas
4. Masukan spatel lidah
R/ : untuk membuka rahang dan mencegah tergigitnya lidah
5. Lakukan penghisapan lendir
R/ : menurunkan resiko aspirasi
DAFTAR PUSTAKA
Marillyn, doengoes. 2001. rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC
Sylvia, A. pierce.1999. patofisologi konsep klinis. Proses penyakit. Jakarta : EGC

						
Shared by: mr doen
About
just a nice girl
Related docs
Other docs by anamaulida
Which Babolat Tennis Racket
Views: 12  |  Downloads: 0
Arthritis & Joint Pain
Views: 1  |  Downloads: 0
Importance Of Romance Literature
Views: 5  |  Downloads: 0
Bab 1 12-09-2009
Views: 28  |  Downloads: 0
MI Kiat memburu dan menjaring naskahlst
Views: 4  |  Downloads: 0
Askep Pneumonii
Views: 162  |  Downloads: 0
Patologi gangguan sirkulasi darah dr helmiza
Views: 429  |  Downloads: 0