PENGARUH LAMA WAKTU KEJUTAN PANASTERHADAP KEBERHASILAN TRIPLOIDISASI IKAN LELE(Clarias batrachus)

Document Sample
PENGARUH LAMA WAKTU KEJUTAN PANASTERHADAP KEBERHASILAN TRIPLOIDISASI IKAN LELE(Clarias batrachus) Powered By Docstoc
					FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



             PENGARUH LAMA WAKTU KEJUTAN PANAS
         TERHADAP KEBERHASILAN TRIPLOIDISASI IKAN LELE
                       (Clarias batrachus)

     The Effect of Heat Shock Time on the Triploidization Succsess of Catfish
                               (Clarias batrachus)

                                   Komsanah Sukarti

                                      ABSTRACT

               The aim of the study was to find out the effect of heat shock time (0
      minute, 0,5 minute, 1 minute, and 1,5 minutes) on the triploidization success
      of catfish (Clarias batrachus) at the temperature 36º C and was done 4,5
      minutes after fertilization.
               The observed parameters were percentage of triploid, larvae
      survival, and growth of the catfish. The identification of ploidical rate was
      done by counting the maximum number of nuclei per cell.
               The catfish can become triploid at the temperature of 36º C starting
      at 4,5 minutes after fertilization with the length of shock 0,5, 1, and 1,5
      minutes. The indentification of triploid can be done by counting the number
      of nucleoli per cell. The maximum result is 6 nucleoli per cell with the
      percentage of triploid 73 – 93 %. The calculation of the number of the
      catfish nucleoli without a shock is 100 % diploid with the maximum 4
      nucleoli per cell. The highest triploidization success is at the length of heat
      shock 1,5 minutes. The catfish triploid with the length of shock 1,5 minutes
      indicates the lowest larvae survival, whereas the development of weight and
      length after 60 days is high.



                                   PENDAHULUAN

        Keberhasilan budidaya ikan lele (Clarias batrachus) dapat diperoleh dengan
usaha ketersediaan benih yang berkualitas baik. Penyediaan benih ikan lele
berkualitas dapat didukung dengan teknik triploidisasi, yakni individu yang
mempunyai tiga set kromosom. Thorgaard, (1983) menjelaskan, bahwa ikan triploid
bersifat steril karena jumlah set kromosomnya ganjil dan akan menyebabkan
gangguan pada meiosis selama gametogenesis. Triploidisasi ikan berpotensi dalam
mengontrol overpopulasi, meningkatkan laju pertumbuhan juvenil, untuk
mempertahankan sintasan, dan untuk pertumbuhan pada ikan dewasa. Menurut Zohar

                                            67
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



(1989) dan Chao, dkk., (1993) bahwa gonad ikan triploid tidak berkembang sehingga
dapat mengatasi persoalan terlalu cepatnya kematangan kelamin dan pertumbuhan
tubuh serta kualitas daging ikan menjadi meningkat. Beaumont, (1994)
menambahkan, bahwa sterilitas dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi
karena energi metabolisme yang biasanya digunakan untuk perkembangan gonad
dimanfaatkan untuk pertumbuhan.
         Perlakuan kejutan panas dapat digunakan untuk memproduksi ikan triploid,
perlakuan ini banyak dilakukan karena selain tidak mahal juga berhasil diadaptasikan
untuk skala besar. Kejutan panas digunakan untuk menghambat pelepasan polar body
II sehingga individu tersebut memiliki 3 set kromosom, 2 dari telur dan 1 dari sperma
(Thorgaard, 1983). Proses pelepasan polar body II pada kejutan panas merupakan
masa yang kritis, sintasan larvanya rendah (Rustidja, 1989).
         Menurut Thorgaard (1983), teknik triploidisasi jarang mencapai keberhasilan
100 %, keberhasilan triploidisasi sangat ditentukan oleh ketepatan waktu awal, lama,
dan suhu kejutan yang sebaiknya diteliti pada setiap ikan. Menurut Johnstone, (1985),
semakin lama kejutan panas yang diberikan, derajat tetas telur semakin rendah tetapi
rata-rata jumlah ikan triploid semakin tinggi. Alimuddin, (1994) melaporkan
keberhasilan triploid dengan kejutan panas 36 °C yang dilakukan selama 1,5 menit
dan dimulai 4,5 menit setelah pembuahan pada ikan lele (Clarias batrachus),
menghasilkan individu triploid 92 %. Derajat penetasan 66,80 % dan sintasan larva
umur 7 hari sebesar 41,56 %.
         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama kejutan panas
terhadap keberhasilan triploidisasi ikan lele. Parameter yang diamati meliputi
persentase individu triploid, sintasan larva dan pertumbuhan larva. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang lama kejutan panas yang tepat
pada triploidisasi dan dapat digunakan untuk meningkatkan benih ikan lele yang
berkualitas.



                             METODE PENELITIAN

        Hewan uji yang digunakan adalah induk ikan lele matang gonad, panjang
                                 a
induk betina 31,1 ± 4,45 cm dan j ntan 28,7 ± 2,39 cm, berat induk betina 254,0 ±
63,11gr dan jantan 232,2 ± 48,24 gr. Induk betina disuntik larutan Ovaprim 0,3 ml
dan induk jantan 0,2 ml, suntikan ini gunanya untuk mempercepat kematangan
gonad.
        Untuk mendapatkan telur dilakukan stripping terhadap induk betina 13 jam
setelah penyuntikan. Sperma ikan lele diperoleh dengan melakukan pembedahan
untuk mengambil testesnya 13 jam setelah penyuntikan. Testes dipotong-potong dan
digerus sehingga sperma keluar dari kantong sperma. Sperma ditambah larutan

                                         68
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



fisiologis (campuran 7,98 gr NaCl + 0,02 gr NaHCO3 dalam 1 liter air), larutan ini
gunanya untuk mengencerkan sperma..
        Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampur telur dengan sperma,
dan menambahkan larutan pembuahan (campuran 4 gr NaCl + 3 gr urea dalam 1 liter
air), larutan ini gunanya agar tidak terjadi perlekatan sesama telur. Selanjutnya telur
yang sudah terbuahi segera disebarkan ke atas lempengan kaca dengan bulu ayam.
Perlakuan kejutan suhu dilakukan dengan perendaman dalam waterbath. Kejutan
panas diberikan pada saat 4,5 menit setelah pembuahan dengan suhu 36 °C dan lama
kejutan sesuai perlakuan yakni 0; 0,5; 1; dan 1,5 menit.
         Penetasan dan pemeliharaan larva dilakukan dalam akuarium 30 x 25 x 25 cm.
Kepadatan larva di akuarium pemeliharaan 10 ekor/liter. Setelah kantung kuning telur
habis terserap, pada umur 4 hari larva diberi makan Moina sp. yang telah disaring
dengan frekuensi tiga kali sehari sampai larva berumur 12 hari. Kepadatan larva di
akuarium pemeliharaan 10 ekor/liter. Pada saat larva berumur 13 hari diberi pakan
buatan Pokphand HI-Pro-Vite 781. dengan dosis 8 %/ berat tubuh pada sore hari dan
diberi cacing tubifex 100 % / berat tubuh pada pagi hari sampai larva berumur 60
hari. Untuk menghitung penambahan jumlah pakan yang diberikan, dilakukan
penimbangan berat total setiap seminggu sekali.
         Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan 3 kelompok (3 ulangan) dan 4 perlakuan. Kelompok perlakuan
merupakan pasangan-pasangan induk untuk pemijahan. Adapun perlakuannya adalah
: (A) tanpa kejutan panas (B) kejutan panas selama 0,5 menit, (C) kejutan panas
selama 1 menit (D) kejutan panas selama 1,5 menit. Untuk pemeliharaan larva lele
digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan dan 4 perlakuan.
Adapun perlakuannya adalah : (A) tanpa kejutan panas (B) kejutan panas selama 0,5
menit, (C) kejutan panas selama 1 menit (D) kejutan panas selama 1,5 menit.
         Peubah yang diukur meliputi persentase individu triploid dihitung dari
persentase jumlah ikan triploid dari jumlah ikan yang diamati. Derajat sintasan larva
dihitung dari jumlah larva yang hidup dari jumlah total telur yang menetas dihitung
setelah larva berumur 7 dan 12 hari sampai 60 hari (Alimuddin, 1994). Pertumbuhan
berat dan panjang ikan dihitung dari pertambahan berat dan panjang pada akhir
pemeliharaan dikurangi berat dan panjang pada awal pemeliharaan.
         Penentuan tingkat ploidi dilakukan pada saat larva berumur 7 – 14 hari
dengan metode penghitungan jumlah maksimal nukleolus per sel. Jaringan yang
digunakan adalah sepotong sirip ekor yang diambil dari ikan hidup. Pengamatan di
bawah mikroskop dilakukan pada pembesaran 400 kali – 1000 kali. Penghitungan
nukleoli setiap ekor dilakukan sebanyak kurang lebih 200 sel.




                                          69
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



                             HASIL DAN PEMBAHASAN

        Nilai persentase individu triploid tertinggi diperoleh pada perlakuan lama
waktu kejutan panas 1,5 menit yaitu 93 %, lama kejutan 1 menit sebesar 87 % dan
0,5 menit sebesar 73 %. Pada perlakuan tanpa kejutan 100 % diploid. Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan kejutan panas yang diberikan pada telur
mampu mencegah terjadinya pelepasan polar body II dan tidak mengakibatkan
kematian total pada zigot.

Tabel 1. Persentase individu triploidi ikan lele tanpa kejutan (P0), lama kejutan 0,5
         menit (P1), 1 menit (P2), dan 1,5 menit (P3)

    Perlakuan       Jumlah ikan            Jumlah ikan (ekor)           Individu triploid
                   dianalisa (ekor)                                           (%)
                                            2N              3N
        P0                15                15               0                  0
        P1                15                 4              11                 73
        P2                15                 2              13                 87
        P3                15                 1              14                 93

         Individu triploid ikan lele lokal dapat dihasilkan dengan suhu kejutan 36 °C,
lama kejutan 0,5 – 1,5 menit dan waktu awal kejutan 4,5 menit setelah pembuahan.
Pada penelitian ini diperoleh tingkat keberhasilan triploidisasi yang semakin menurun
dengan semakin singkatnya lama kejutan. Menurut Johnstone (1985), setelah batas
tertentu, hasil triploid menurun, karena polar body II telah lepas sehingga tidak dapat
menyatu kembali ke dalam pronukleus embrio.
         Bagian tubuh ikan yang digunakan untuk pemeriksaan triploid adalah sirip
ekor, dengan tujuan agar ikan hasil uji atau yang diambil bagian tubuhnya tidak
mengalami kematian. Jaringan yang dibutuhkan dalam pembuatan preparat amat
sedikit sehingga sampel dapat diperoleh tanpa membunuh ikan. Pemeriksaan triploid
dengan perhitungan jumlah nukleolus pada setiap sel dapat dilakukan karena
disamping murah biayanya juga peralatan yang digunakan relatif sederhana dan
perhitungan nukleolus dapat diterapkan pada setiap spesies ikan. Distribusi jumlah
nukleolus satu dan dua nukleoli pada sirip ekor juga lebih merata.
         Dari pengamatan preparat nukleolus diperoleh 100 % ikan tanpa kejutan
memiliki maksimal 4 nukleolus per sel, individu triploid memiliki maksimal 6
nukleolus per sel. Adanya variasi jumlah nukleolus kemungkinan karena kemampuan
pewarnaan perak nitrat yang digunakan. Ukuran nukleolus yang diamati juga
bervariasi, ada yang besar dan kecil. Sel-sel dengan jumlah maksimal nukleoli lebih
sedikit ukuran nukleolusnya lebih besar dari ukuran nukleolus pada sel-sel dengan
jumlah maksimal nukleoli lebih banyak. Dengan pewarnaan perak nitrat, sel berwarna
kuning-kecoklatan dan nukleolus nampak berwarna coklat-kehitaman. Menurut
                                             70
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



Carman (1992), pewarna perak hanya mampu mewarnai nukleolus pada NOR yang
aktif, tidak semua NOR aktif pada saat pembuatan preparat dilakukan.
          Terdapat hubungan antara jumlah maksimal nukleolus per sel dengan tingkat
ploidi, pengujian tingkat ploidi pada ikan lele lokal dengan penghitungan maksimal
nukleolus bisa dikatakan cukup akurat, terdapat perbedaan jelas antara individu
diploid dengan triploid. Terjadinya peningkatan jumlah maksimal nukleolus sebagai
indikasi peningkatan jumlah kromosom pada ikan triploid.
          Perkembangan larva diamati dari tahap prelarva sampai postlarva.     Pada
tahap prelarva kuning telur masih ada, tubuhnya transparan Sirip ekor sudah ada
tetapi belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prelarva yang baru keluar dari
cangkang telur belum terlihat bintik matanya. Mulut dan rahang belum berkembang
dan ususnya masih merupakan tabung yang lurus.
          Pada hari kedua setelah penetasan sungut sudah kelihatan, kepala berbercak
hitam, ada bintik mata, mulut terlihat terbuka, detak jantung lebih nyata.
Makanannya didapatkan dari sisa kuning telur yang belum habis diserap. Sebagian
larva ikan ada yang mulai berenang ke permukaan air lalu turun kembali, seperti
sedang mengambil udara di permukaan air.

Tabel 2. Rata-rata nilai derajat sintasan larva umur 7 hari, 12 hari, dan 60 hari larva
         ikan lele tanpa kejutan dan perlakuan kejutan

          Perlakuan                Umur 7 hari         Umur 12 hari          Umur 60 hari
 P0 (tanpa kejutan)               91,2 ± 7,28 a        77,9 ± 10,70 a        51,7 ± 4,51a
 P1(lama kejutan 0,5 menit)       80,8 ± 10,44 a       67,8 ± 9,47 a         45,7 ± 4,04 a
 P2 (lama kejutan 1 menit)        87,1 ± 7,57 a         66,2 ± 5,54 a        40,7 ± 3,51ab
 P3 (lama kejutan 1,5 menit)      86,5 ± 7,46 a        67,1 ± 14,53 a        33,7 ± 6,11 b

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata,
              sedangkan huruf yang tidak sama menunjukka berbeda nyata berdasarkan hasil
              uji BNT 5 %.

        Tahap postlarva ikan adalah masa larva mulai dari hilangnya kantung kuning
telur sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan
organ-organ yang telah ada, sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara
morfologis bentuk ikan lele hampir seperti induknya. Bentuk yang jelas setelah
terjadi pembesaran antara sirip punggung, ekor dan anus setelah larva umur 3
minggu.
        Masa kritis pemeliharaan larva ketika perubahan dari masa kuning telur
setelah habis ke masa mulai mencari makan. Larva lemah yang tidak mampu
mendapatkan makanan akan mati, larva yang perkembangannya abnormal setelah
kuning telur habis juga segera mati.


                                              71
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



         Hasil penetasan dari pemijahan buatan yang dicapai ini kondisi larvanya lebih
lemah. Selain itu perlakuan kejutan juga mempengaruhi sintasan larva yang ada.
         Kejutan panas berpengaruh terhadap sintasan larva pada tingginya mortalitas
Walaupun beresiko tinggi terhadap kelangsungan hidup larva dengan pemberian
kejutan panas, tetapi peluang untuk mendapatkan keturunan triploid sangat besar.
         Hasil penelitian derajat sintasan larva menunjukkan nilai yang cukup tinggi
pada hari ke 7 antara 80,80 – 91,15 % jika dibandingkan penelitian Alimuddin (1994)
yakni 30,60 – 35,62 %. Sedangkan penelitian Rustidja (1989) hanya mencapai 5,87 –
18,15 % pada hari ke 3, dalam hal ini Rustidja menggunakan kejutan dingin. Untuk
menghasilkan individu triploid pada ikan lele, perlakuan kejutan panas lebih efektif
dan relatif murah serta mortalitas yang dialami lebih rendah jika dibandingkan
kejutan dingin.
         Pada awal kehidupannya setelah telur menetas secara alami larva ikan lele
sudah dibekali cadangan makanan berupa kuning telur yang relatif besar. Kuning
telur berada dari bagian kepala sampai perut. Gerak larva sudah terlihat aktif sejak
menetas, walaupun ada juga yang terlihat masih lemah. Berdasarkan pengamatan
kantung kuning telur tersebut hanya cukup untuk persediaan selama tidak lebih dari 3
hari, setelah itu larva sudah aktif mengambil makanan dari lingkungan.

Tabel 3. Pertumbuhan berat dan panjang larva ikan lele pada hari ke-60 tanpa
         kejutan dan perlakuan kejutan

           Perlakuan                     Berat (mg)                Panjang (mm)
 P0 (tanpa kejutan)                   597,9 ± 120,87 a              26,1 ± 3,11 a
 P1 (lama kejutan 0,5 menit)          767,1 ± 104,99 a             31,0 ± 0,78 b
 P2 (lama kejutan 1 menit)             647,2 ± 60,19 a             29,5 ± 1,78 ab
 P3 (lama kejutan 1,5 menit)         1472,8 ± 250,30 b              38,6 ± 3,22 c

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata,
             sedangkan huruf yang tidak sama menunjukkan berbeda nyata berdasarkan hasil
              uji BNT 5 %.

        Larva yang baru menetas panjang rata-rata 3,5 mm, umur 3 hari mencapai 5
mm, umur 5 hari panjangnya 7 mm, larva ikan sudah tidak bergerombol lagi
melainkan aktif berenang dan warna tubuh nampak sudah hitam serta mata nampak
jelas. Umur larva 7 hari panjang 11,4 mm dan beratnya 20,2 mg, umur 15 hari
mencapai 14 mm dengan berat rata-rata 46,7 mg. Sampai umur 2 minggu, sirip
punggung dan dubur masih menyatu dengan sirip ekor, setelah umur 3 minggu, sirip
punggung dan dubur tidak bersambung lagi dengan sirip ekor.




                                           72
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001




                        1,600

                        1,400
                                                                                                      Tanpa kejutan
                        1,200
                                                                                                      Kejutan 0,5 menit
     Berat larva (mg)




                        1,000                                                                         Kejutan 1 menit
                                                                                                      Kejutan 1,5 menit
                         800

                         600

                         400

                         200

                             0
                                 15                  30                    45                  60
                                                      Pengamatan hari ke-


                                       Gambar 1. Grafik rata-rata pertambahan berat larva ikan lele




                        60

                        50
 Panjang larva (mm)




                                                                                                    Tanpa kejutan
                        40                                                                          Kejutan 0,5 menit
                                                                                                    kejutan 1 menit
                        30                                                                          Kejutan 1,5 menit

                        20

                        10

                         0
                             15                    30                    45               60
                                                  Waktu pengamatan (hari ke-)

                                      Gambar 2. Grafik rata-rata pertambahan panjang larva ikan lele

        Flajshans, dkk. (1993) menemukan bahwa ikan tinca betina triploid tumbuh
nyata lebih cepat dari pada betina diploid dan jantan diploid serta lebih cepat dari
triploid jantan. Menurut Rustidja (1989), ikan lele betina triploid lebih kecil
ovarinya, berlemak, dan Gonado Somatik Indeksnya rendah. Ratio lemak/protein
lebih tinggi pada ikan triploid, sedangkan pada diploid lemaknya rendah tetapi

                                                                     73
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



proteinnya tinggi. Pada umur 109 hari gonad ikan lele secara normal mulai
berkembang, sedang ikan lele dewasa dicapai pada umur 178 hari.
         Dengan masa pemeliharaan yang singkat, tahap perkembangan gonad ikan
lele masih belum bisa diketahui. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ikan
lele triploid pertumbuhannya lebih tinggi dari ikan lele diploid sampai umur 60 hari.
Perbedaan antara jantan dan betina ikan lele juga belum jelas sehingga tidak diketahui
juga perbedaan pertumbuhannya. Sebaiknya kecepatan pertumbuhan ikan triploid
steril dibuktikan setelah ikan diploid normal berkembang gonadnya dan mendekati
musim pemijahan. Menurut Zohar (1989), pengamatan yang dilakukan terhadap
pertumbuhan ikan lidah dan Channel Catfish triploid dalam 1 tahun menunjukkan jika
pada ikan diploid belum berkembang gonadnya, maka ikan triploid lebih cepat
tumbuhnya.



                                      KESIMPULAN

1. Ikan lele dapat menjadi triploid dengan perlakuan kejutan panas yang dilakukan
   pada suhu 36 °C, dimulai 4,5 menit setelah pembuahan dengan lama waktu
   kejutan 0,5, 1, dan 1,5 menit.
2. Identifikasi triploid dapat dilakukan dengan penghitungan jumlah nukleolus.
   Hasilnya maksimal 6 nukleolus per sel dengan persentase individu triploid 73 –
   93 %. Penghitungan jumlah nukleolus ikan lele tanpa kejutan hasilnya 100 %
   diploid maksimal 4 nukleolus per sel.
3. Keberhasilan triploidisasi pada perlakuan lama waktu kejutan panas 1,5 menit
   menunjukkan hasil persentase individu triploid dan pertumbuhan berat maupun
   panjang yang tertinggi.



                               DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin. (1994). Pengaruh Waktu Awal Kejutan Panas Terhadap Keberhasilan
      Triploidisasi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus L.). Program Studi
      Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 44 h

Beaumont, A.R. (1994). Genetics and Evolution of Aquatic Organisms. Chapman &
     Hall. London. p. 467 – 485

Carman, O. (1992). Chromosome Set Manipulation in Some Warm-Water Fish.
      Doctoral Thesis. Tokyo University of Fisheries. Tokyo. 131 p.

                                         74
FRONTIR Nomor 33, Maret 2001



Chao, N.H., H.W. Hsu, H. Y. Hsu, W. H. Liang, and I. C. Liao. (1993). Studies on
      Methods of Triploidy Percentage Analysis. TML. Conference Proceedings 3 :
      203 – 210.

Flajshans, M., O. Linhart, and P. Kvasnicka. (1993). Genetic Studies of Tench
       (Tinca tinca L.) : Induced Triploidy and Tetraploidy and First Performance
       Data. Aquaculture, 113 : 301 – 312.

Johnstone, R.. (1985). Induction of Triploidy in Atlantic Salmon by Heat Shock.
       Aquaculture, 49 : 133 – 139.

Liao, I.C. (1993). Finfish Hatcheries in Taiwan : Recent Advances TML Conference
        Proceedings 3 : 1 – 25.

Rustidja. (1989). Artificial Induced Breeding and Triploidy in the Asian Catfish
       (Clarias batrachus Linn.). Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
       Bogor. 80 h.

Thorgaard, G.H. (1983). Chromosome Set Manipulation and Sex Control in Fish. In
      “Fish Physiology” (Editor : W.S.Hoar, D.J.Randall, and E.M.Donaldson).
      Volume IXB. Academic Press, Inc. London. p. 405 – 434.

Zohar, Y. (1989). Fish Reproduction : Its Physiology and Artificial Manipulation. In
       “Fish Culture in Warm Water Systems : Problems and Trends” (Editor :
       M. Shilo and S. Sarig). CRC Press, Inc. Boca Raton. Florida. p. 65 – 120.




                                        75

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:453
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:9
Description: Keberhasilan budidaya ikan lele (Clarias batrachus) dapat diperoleh dengan usaha ketersediaan benih yang berkualitas baik. Penyediaan benih ikan lele berkualitas dapat didukung dengan teknik triploidisasi