Docstoc

BAHAN AJAR TOKSIKOLOGI CND

Document Sample
BAHAN AJAR TOKSIKOLOGI CND Powered By Docstoc
					   KERACUNAN
      DAN
PENANGANANNYA
      OLEH
Dr.HELMIZA FAHRY
Keracunan adalah masuknya suatu zat
 kedalam tubuh kita yang dapat
 mengganggu kesehatan bahkan dapat
 mengakibatkan kematian.

 Zat yang dapat menimbulkan keracunan
 dapat berbentuk :
Padat, misalnya obat-obatan, makanan
Gas, misalnya CO
Cair, misalnya alcohol, bensin, minyak
 tanah, zat kimia.
SIFAT RACUN DAPAT DIBAGI :
 Korosif – misalnya asam / basa kuat
 (asam klorida, asam sulfat, natrium
 hidroksida), bensin, minyak.
 Non korosif – misalnya makanan, obat-
 obatan.
 Zat yang dapat menimbulkan keracunan
 dapat berbentuk :
 Padat – misalnya obat-obatan / makanan.
 Gas – misalnya CO, H2S, dll.
 Cair – misalnya alkohol, bensin, minyak
 tanah.
 Seseorang dapat mengalami keracunan dengan cara :
 Tertelan melalui mulut, keracunan makanan, minuman.
 Terhisap melalui hidung, misalnya keracunan gas CO
 Terserap melalui kulit/mata, misalnya keracunan zat
  kimia
 Berikut ini adalah Macam-Macam Keracunan yang
  sering terjadi di masyarakat




.
1.Keracunan Alkohol
Gejala keracunan alkohol :
Kekacauan mental
Pupil mata dilatasi (melebar)
Sering muntah-muntah
Bau alkohol
  Apa yang dapat dilakukan sebagai
  pertolongan awal :
1. Upayakan muntah bila pasien sadar
2. Pertahankan agar pernapasan baik
3. Bila sadar, beri minum kopi hitam
4. Bawa ke sarana kesehatan
RUMAH SAKIT
Tindakan :
 • Bilas lambung dengan air
 • Beri kopi pahit
 • Infus glukosa : mencegah hipoglikemia.
2. Keracunan asetosal/aspirin/naspro
 Gejala keracunan asetosal/aspirin/naspro :
 Nafas dan nadi cepat
 Gelisah
 Nyeri perut
 Muntah (sering bercampur darah)
 Sakit kepala
 Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan
  pertama :
 Upayakan pertolongan dengan membuat
  nyaman pasien
 Bila sadar beri minum air atau susu
 Bawa ke sarana kesehatan
3. Keracunan luminal dan obat tidur sejenisnya
 Gejala keracunan luminal dan obat tidur
  sejenisnya :
 Refleks berkurang
 Depresi pernapasan
 Pupil kecil à akhirnya dilatasi (melebar)
 Shock à bisa koma
 Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan
  Pertama :
 Bila penderita sadar, berikan minum hangat serta
  upayakan agar penderita muntah
 Bila penderita tidak sadar, bersihkan saluran
  pernapasan
 Penderita dibawa ke sarana kesehatan terdekat
RUMAH SAKIT:
Tindakan :
 • Jangan lakukan emesis atau bilas
 lambung
 • Bila sadar beri kopi pahit secukupnya
 • Bila depresi pernafasan, beri amphetamin
 4-10 mg intra muskular.
4. Keracunan Amfetamin
- Gejala : mulut kering, hiperaktif, anoreksia,
  takikardi, aritmia, psikosis, kegagalan
  pernafasan dan sirkulasi.
  - Tindakan :
  • Bilas lambung
  • Klorpromazin 0,5-1 mg/kg BB, dapat diulang
  tiap 30 menit
  • Kurangi rangsangan luar (sinar, bunyi)
  n. Keracunan Aminopirin (Antalgin)
- Gejala : gelisah, kelainan kulit, laborat :
  agranolositosis
  - Tindakan :
  • Beri antihistamin im/iv
  • Beri epinefrin 1 %o 0,3 cc sub kutan.
5. Keracunan Narkotika (Heroin, Morfin, Kodein)
  - Gejala : mual, muntah, pusing, klulit dingin,
  pupil miosis, pernafasan dangkal sampai koma.
  - Tindakan :
  • Jangan lakukan emesis
  • Beri Nalokson 0,4 mg iv tiap 5 menit (atau
  Nalorpin 0,1 mg/Kg BB.
  Obat terpilih Nalokson (dosis maximal 10 mg),
  karena tidak mendepresi pernafasan,
  memperbaiki kesadaran, hanya punya efek
  samping emetik.
  Karenanya pada penderita koma tindakan
  preventif untuk aspirasi harus disiapkan.
6.Keracunan arsen/racun tikus :
Gejala keracunan arsen/racun tikus :
Perut dan tenggorokan terasa terbakar
Muntah, mulut kering
Buang air besar seperti air cucian beras.
Nafas dan kotoran berbau bawang
Kejang dan syok
Apa yang dapat dilakukan sebagai
  pertolongan pertama :
Usahakan agar dimuntahkan
Beri minum hangat /susu atau larutan
  norit
Tindakan :
 • Bilas lambung dengan Natrium
 karbonat/sorbitol
 • Atasi syok dan gangguan elektrolit
 • Beri BAL (4-5 Kg/BB) setiap 4 jam
 selama 24 jam pertama. Hari kedua
 sampai ketiga setiap 6 jam (dosis sama).
 Hari keempat s/d ke sepuluh dosis
 diturunkan.
7.Keracunan bensin/minyak tanah
Gejala keracunan bensin/minyak tanah :
  Inhalasi : nyeri kepala, mual,lemah, sesak
  nafas
  Ditelan : Muntah,diare, sangat berbahaya
  jika terjadi aspirasi (terhisap saluran
  pernafasan)
  Apa yang dapat dilakukan sebagai
  pertolongan pertama :
  Jangan lakukan muntah buatan
  Beri minum air hangat
  Segera kirim kepuskesmas/rumah sakit
RUMAH SAKIT:
Jangan lakukan emesis
 • Bilas lambung hati-hati
 • Beri pencahar
 • Depresi pernafasan : Kafein 200-500 mg
 im
 • Pengawasan : kemungkinan edem paru.
8. Keracunan makanan laut
 Beberapa jenis makanan laut seperti kepiting,
  rajungan dan ikan lautnya dapat menyebabkan
  keracunan ;
Gejala :
  Panas sekitar mulut,
  rasa tebal pada anggota badan
  mual, muntah, diare, nyeri perut
  nyeri sendi
  pruritus,
  demam
   paralisa otot pernafasan.
 Masa laten 1/3 – 4 jam
 Rasa panas disekitar mulut
 Rasa baal pada ekstremitas
Apa yang dapat dilakukan sebagai
 pertolongan pertama:
Netralisir dengan cairan
Upayakan muntah

RUMAHSAKIT:
Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.
9. Keracunan jengkol
 Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya kristal
  asam jengkol dalam saluran kencing. Ada beberapa hal
  yang diduga mempengaruhi timbulnya keracunan yaitu
  jumlah yang dimakan, cara penghidangan dan makanan
  penyerta lainnya.
 Gejala :
 Nafas, mulut dan air kemih penderita berbau jengkol
 Sakit pinggang yang diserta sakit perut
 Nyeri waktu buang air kecil
 Buang air kecil disertai darah.
 Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan
  pertama:
 minum air putih yang banyak
 Obat penghilang rasa sakit dapat diberikan untuk
  menghilangkan rasa sakitnya.
Rumah sakit:
 Infus Natrium bikarbonat
 Natrium bicarbonat tablet : 4 x 2 gr/hari
10. Keracunan jamur
  Gejala alam yang muncul dalam jarak
  beberapa menit sampai 2 jam.
Gejala :
1. Keluar air mata dan mata miosis
2. Sakit perut, muntah dan diare
3. Ludah dan berkeringat banyak
4. kejang, dehidrasi, syok sampai koma
Apa yang dapat dilakukan sebagai
  pertolongan pertama:
Netralisasi dengan cairan
Upayakan pasien muntah
Rumah sakit:
Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.
Infus Glukosa.
Injeksi Sulfas Atropin 1 mg / 1-2 jam
11. Keracunan Makanan
 Penyebab adalah staphylococcus. Seringkali
  menyebabkan keracunan dengan masa laten 2-8 jam.
  Gejala :
 Mual, muntah
 Diare
 Nyeri perut
 Nyeri kepala, demam
 Dehidrasi
 Dapat menyerupai disentri
  Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan
  pertama :
 Muntah buatan
 Beri minuman yang banyak
 Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit
.
Prinsip penatalaksanaan keracunan
 Mungkin jika kita harus menghapalkan langkah-
  langkah yang harus dilakukan seperti tertera di
  atas, barangkali akan sulit, tapi prinsip utama
  penatalaksanaan keracunan adalah:
“ Mencegah /menghentikan penyerapan racun”.
  A. Bila Racun ditelan, prinsipnya cuma dua:
 Encerkan racun yang ada dalam lambung,
  sekaligus menghalangi penyerapannya dengan
  cara memberikan cairan dalam jumlah banyak.
  Cairan yang dipakai adalah air biasa atau susu.
  Pengenceran dengan susu tidak boleh
  dilakukan pada penderita yang menelan
  kamper.
Upayakan pasien muntah (emesis), efektif
 bila dilakukan dalam 4 jam setelah racun
 ditelan. Dapat dilakukan dengan cara
 mekanik yaitu dengan merangsang dinding
 faring dengan jari atau suruh penderita
 untuk berbaring tengkurap, dengan kepala
 lebih rendah dari pada bagian dada. Emesis
 tidak boleh dilakukan pada keracunan zat
 korosif, keracunan zat kerosene, serta pada
 penderita tidak sadar.
 Tindakan di atas tidak boleh dilakukan
 pada pasien yang tidak sadar. Segera bawa
 ke Rumah Sakit.
 Tindakan di atas tidak boleh dilakukan pada
  pasien yang tidak sadar. Segera bawa ke
  Rumah Sakit.
  B. Bila racun melalui kulit/mata
 Pakaian yang terkontaminasi dilepas
 Cuci/bilas bagian yang terkena dengan air
 Perhatikan jangan sampai penolong ikut
  terkena.
  C. Segera bawa ke Rumah Sakit,.
 Apabila kita membawa ke Rumah sakit <> jam,
  maka tindakan kuras lambung tidak bisa
  dilakukan. Dan pengobatan biasanya hanya
  penanganan simptomatiknya saja.
12. Keracunan Makanan Kaleng (Botulisme)
- Gejala : gangguan penglihatan, reflek
  pupil (-), disartri, disfagi, kelemahan otot
  lurik, tidak ada gangguan pencernaan dan
  kesadaran.
  - Tindakan :
  • Bilas lambung dengan norit
  • Beri ATS 10.000 unit.
  • Ber Fenobarbital 3 x 30-60 mg / oral.
ZAT-ZAT KIMIA BERACUN DAN
  PENATALAKSANAANNYA
             Oleh
      Dr. Helmiza Fahry
A. Keracunan Asam / Basa Kuat (Asam
Klorida, Asam Sulfat, Asam Cuka Pekat,
Natrium Hidroksida, Kalium Hidroksida).
- Dapat mengenai kulit, mata atau ditelan.
- Gejala : nyeri perut, muntah dan diare.
- Tindakan :
• Keracunan pada kulit dan mata :
- irigasi dengan air mengalir
- beri antibiotik dan antiinflamasi.
• Keracunan ditelan / tertelan :
- asam kuat dinetralisir dengan antasida
- basa kuat dinetralisir dengan sari buah atau
cuka
- jangan bilas lambung atau tindakan emesis
- beri antibiotik dan antiinflamasi.
Bila sadar berikan 2 gelas air atau susu
 pada orang dewasa dan 1 gelas pada
 anak-anak, lalu berikan campuran putih
 telur dengan air atau minyak kelapa
Bila menelan basa keras setelah diberi
 minum air,berilah larutan cuka dapur
 encer atau air jeruk, bila menelan asam
 keras setelah minum air, beri minuman
 basa lemah ( soda kue atau bicnat)
B. Keracunan Arsenikum
- Gejala : mulut kering, kulit merah, rasa
 tercekik, sakit menelan, kolik usus,
 muntah, diare, perdarahan, oliguri, syok.
 - Tindakan :
 • Bilas lambung dengan Natrium
 karbonat/sorbitol
 • Atasi syok dan gangguan elektrolit
 • Beri BAL (4-5 Kg/BB) setiap 4 jam
 selama 24 jam pertama. Hari kedua
 sampai ketiga setiap 6 jam (dosis sama).
 Hari keempat s/d ke sepuluh dosis
 diturunkan.
C. Keracunan Formalin
- Gejala :
 • Inhalasi : iritasi mata, hidung dan saluran
 nafas, spasme laring, gejala bronchitis
 dan pneumonia.
 • Kulit : iritasi, nekrosis, dermatitis.
 • Ditelan/tertelan : nyeri perut, mual,
 muntah, hematemesis, hematuria, syok,
 koma, gagal nafas.
 - Tindakan : bilas lambung dengan larutan
 amonia 0,2 %, kemudian diberi minum
 norit / air susu
D. Keracunan Makanan Kaleng (Botulisme)
- Gejala : gangguan penglihatan, reflek
 pupil (-), disartri, disfagi, kelemahan otot
 lurik, tidak ada gangguan pencernaan
 dan kesadaran.
 - Tindakan :
 • Bilas lambung dengan norit
 • Beri ATS 10.000 unit.
 • Fenobarbital 3 x 30-60 mg / oral.
E. Keracunan Insektisida Gol.Organofosfat
  (Diazinon, Malathion)
- Gejala : mual, muntah, nyeri perut,
  hipersalivasi, nyeri kepala, mata miosis,
  kekacauan mental, bronchokonstriksi,
  hipotensi, depresi pernafasan dan kejang.
  - Tindakan :
  • Atropin 2 mg tiap 15 menit sampai pupil
  melebar
  • Jangan diberi morfin dan aminophilin.
F. Keracunan Insektisida Gol.(Endrin, DDT)
 - Gejala : muntah, parestesi, tremor, kejang,
  edem paru, vebrilasi s/d kegagalan ventrikel,
  koma
  - Tindakan :
  • Jangan gunakan epinefrin
  • Bilas lambung hati-hati
  • Beri pencahar
  • Beri Kalsium glukonat 10 % 10 cc iv pelan-
  pelan.
G. Keracunan Senyawa Hidrokarbon
(Minyak Tanah, Bensin)
- Gejala :
• Inhalasi : nyeri kepala, mual, lemah, dispneu,
depresi pernafasan
• Ditelan/tertelan : muntah, diare, sangat
berbahaya bila terjadi aspirasi (masuk paru)
- Tindakan :
• Jangan lakukan emesis
• Bilas lambung hati-hati
• Beri pencahar
• Depresi pernafasan : Kafein 200-500 mg im
• Pengawasan : kemungkinan edem paru.
  H. Keracunan Karbon Mono-oksida (CO)
 - Gejala : kulit dan mukosa tampak merah
  terang, nyeri dan pusing kepala, dispneu, pupil
  midriasis, kejang, depresi pernafasan sampai
  koma.
  - Tindakan :
  • Pasang O2 bertekanan
  • Jangan gunakan stimulan
  • Pengawasan : kemungkinan edem otak
I. Keracunan Amfetamin
- Gejala : mulut kering, hiperaktif, anoreksia,
  takikardi, aritmia, psikosis, kegagalan
  pernafasan dan sirkulasi.
  - Tindakan :
  • Bilas lambung
  • Klorpromazin 0,5-1 mg/kg BB, dapat diulang
  tiap 30 menit
  • Kurangi rangsangan luar (sinar, bunyi)
  K. Keracunan Aminopirin (Antalgin)
- Gejala : gelisah, kelainan kulit, laborat :
  agranolositosis
  - Tindakan :
  • Beri antihistamin im/iv
  • Beri epinefrin 1 %o 0,3 cc sub kutan.
KERACUNAN NARKOTIKA
         DAN
PENATALAKSANAANNYA
        OLEH
 Dr. HELMIZA FAHRY Z
Masalah narkotika dan maraknya kenakalan remaja
menjadi perhatian yang serius dari semua pihak.
Presiden RI melalui Instruksi Presiden No 6/1971,
tentang penanggulangan peredaran gelap dan
penyalahgunaan narkotika seperti morphine, heroin,
obat-obatan yang mengandung opium dan merokok
ganja.
Undang- undang yang mengatur tentang zat- zat ini
sudah jelas, yaitu Undang- Undang No. 9 tahun 1976
yang berkaitan dengan narkotika.
Dalam UU Narkotika, yang tergolong narkotika
adalah ganja, kokain, dan opioid/opiat
SEJARAH
  Sumber opium, zat – zat dari opium yang belum diolah,
  dan morfin bersumber dari bunga opium Papaver
  somniferum. Tanaman ini telah digunakan selama lebih
  dari 6000 tahun, dan penggunaanya terdapat dalam
  dokumen – dokumen kuno Mesir, Yunani, dan Romawi.
  Yang menarik pada opium ialah bahwa sampai pada
  abad ke 18 belum ada perhatiaan akan kecenderungan
  adiksi opium. Dasar dari farmakologi modern telah
  diletakkan oleh Sertüner, seorang ahli farmasi Jerman,
  yang mengisolasi suatu zat alkali murni yang aktif dari
  opium pada tahun 1803. Hal ini peristiwa penting dimana
  telah dimungkinkan untuk menstandarisasi potensi
  suatu produk alamiah. Setelah melakukan pengujian
  pada dirinya sendiri dan beberapa kawannya, Sertüner
  mengajukan ”morfin” untuk senyawa ini, yang berasal
  dari bahasa Yunani ; Morpheus yang berarti mimpi dari
  Dewa (God of dreams).
RESEPTOR OPIOID
 Reseptor opioid yang terdapat didalam susunan saraf pusat sama
  baiknya dengan yang ada disepanjang jaringan periper. Reseptor
  – reseptor ini normalnya distimulasi oleh peptida endogen
  (endorphins, enkephalins, dan dynorphins) diproduksi untuk
  merespon rangsangan yang berbahaya. Dalam dokumen –
  dokumen yunani nama – nama dari reseptor opioid berdasarkan
  atas bentuk dasar agonistnya (tabel 1).(4)
 Mu (µ) (agonis morphine) reseptor – reseptor Mu terutama
  ditemukan di batang otak, dan thalamus medial. Reseptor –
  reseptor Mu bertanggung jawab pada analgesia supraspinal,
  depresi pernapasan, euphoria, sedasi, mengurangi motilitas
  gastrointestinal, ketergantungan fisik. Yang termasuk bgiannya
  ialah Mu1 dan Mu2, yang mana Mu1 berhubungan dengan
  analgesia, euphoria, dan penenang, Mu2 berhubungan dengan
  depresi     pernapasan,      preritus,     pelepasan  prolaktin,
  ketergantungan, anoreksia, dan sedasi. Ini juga disebut sebagai
  OP3 atau MOR (morphine opioid receptors).
 Kappa (κ) (agonis ketocyklazocine) reseptor – reseptor
  Kappa dijumpai didaerah limbik, area diensephalon,
  batang otak, dan spinal cord, dan bertanggung jawab
  pada analgesia spinal, sedasi, dyspnea,
  ketergantungan, dysphoria, dan depresi pernapasan.
  Ini juga dikenal dengan nama OP2 atau KOR (kappa
  opioid receptors).
 Delta (δ) (agonis delta-alanine-delta-leucine-
  enkephalin) reseptor – reseptor Delta lokasinya luas di
  otak dan efek – efeknya belum deketahui dengan baik.
  Mungkin bertanggung jawab pada psykomimetik dan
  efek dysphoria. Ini juga dikenal dengan nama OP1 dan
  DOR (delta opioid receptors).
 Sigma (σ) (agonis N-allylnormetazocine) reseptor –
  reseptor Sigma bertanggung jawab pada efek – efek
  psykomimetik, dysphoria, dan stres-hingga depresi.(
.
    KLASIFIKASI OPIOID
    Yang termasuk golongan opioid ialah :
   obat yang berasal dari opium-morfin
   senyawa semisintetik morfin
   senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.(2)
   Didalam klinik opioid dapat digolongkan menjadi
    lemah (kodein) dan kuat (morfin). Akan tetapi
    pembagian ini sebetulnya lebih banyak didasarkan
    pada efikasi relatifnya, dan bukannya pada potensinya.
    Opioid kuat mempunyai rentang efikasi yang lebih
    luas, dan dapat menyembuhkan nyeri yang berat lebih
    banyak dibandingkan dengan opioid lemah.
    Penggolongan opioid lain adalah opioid natural
    (morfin, kodein, pavaperin, dan tebain), semisintetik
    (heroin, dihidro morfin/morfinon, derivate tebain) dan
    sintetik (petidin, fentanil, alfentanil, sufentanil dan
    remifentanil).
  Sedangkan berdasarkan kerjanya pada reseptor opioid
  maka obat-obat Opioid dapat digolongkan menjadi :
1.Agonis opoid
 Merupakan obat opioid yang menyerupai morfin yang
  dapat mengaktifkan , dan mungkin pada reseptor k contoh
  : morfin, m reseptor, terutama pada reseptor
  papaveretum, petidin (meperidin, demerol), fentanil,
  alfentanil, sufentanil, remifentanil, kodein, alfaprodin.
2.Antagonis opioid
 Merupakan obat opioid yang tidak memiliki aktivitas
  agonis pada semua reseptor dan pada saat bersamaan
  mencegah agonis merangsang reseptor, contoh :
  nalokson.
3.Agonis-antagonis (campuran) opioid
 Merupakan obat opioid dengan kerja campuran, yaitu
  yang bekerja sebagai agonis pada beberapa reseptor dan
  sebagai antagonis atau agonis lemah pada reseptor lain,
  Berikut ini merupakan turunan opioit
  yang sering disalahgunakan :
1. Candu
 Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap
  (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar
  berwarna putih dan dinamai “Lates”. Getah ini dibiarkan
  mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat
  kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang
  menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah
  atau candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam
  zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu masak
  warnanya coklat tua atau coklat kehitaman. Diperjual belikan
  dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap,
  antara lain ular, tengkorak,burung elang, bola dunia, cap 999,
  cap anjing, dsb. Pemakaiannya dengan cara dihisap.
Morfin
 Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah.
  Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium
  ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung
  halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan
  berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan
  disuntikkan.
Heroin (putaw)
Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali
 lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis
 opiat yang paling sering disalahgunakan
 orang di Indonesia pada akhir – akhir ini.
 Heroin, yang secara farmakologis mirip
 dengan     morfin    menyebabkan    orang
 menjadi mengantuk dan perubahan mood
 yang tidak menentu. Walaupun pembuatan,
 penjualan dan pemilikan heroin adalah
 ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap
 tersedia bagi pasien dengan penyakit
 kanker terminal karena efek analgesik dan
Kodein
Codein termasuk garam / turunan dari
 opium / candu. Efek codein lebih lemah
 daripada heroin, dan potensinya untuk
 menimbulkan ketergantungaan rendah.
 Biasanya dijual dalam bentuk pil atau
 cairan jernih. Cara pemakaiannya ditelan
 dan disuntikkan.
Demerol
Nama lain dari Demerol adalah pethidina.
 Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan
 suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil
 dan cairan tidak berwarna.
                   MORFIN
Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik,
tetapi secara komersial lebih mudah dan
menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah
papaver somniferum. Morfin paling mudah larut
dalam air dibandingkan golongan opioid lain
dan kerja analgesinya cukup panjang (long
acting). Efek kerja dari morfin (dan juga opioid
pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak
begitu mempengaharui unsur sensoris lain,
yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan
dan pendengaran, bahakan persepsi nyeripun
tidak selalu hilang setelah pemberian morfin
dosis terapi.
Efek analgesi morfin timbul berdasarkan
  3 mekanisme :        .
(1) morfin meninggikan ambang
  rangsang nyeri
(2) morfin dapat mempengaharui
  emosi, artinya morfin dapat mengubah
  reaksi yang timbul dikorteks serebri
  pada waktu persepsi nyeri diterima
  oleh korteks serebri dari thalamus
(3) morfin memudahkan tidur dan pada
  waktu tidur ambang rangsang nyeri
  meningkat.
            Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf
pusat dan organ yang mengandung otot
polos. Efek morfin pada system syaraf
pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi
dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu
analgesia, sedasi, perubahan emosi,
hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk
stimulasi parasimpatis, miosis, mual
muntah, hiper aktif reflek spinal, konvulsi
dan sekresi hormone anti diuretika (ADH).
                   Farmakokinetik
  Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat
  menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat
  mmenembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi
  efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah
  daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian
  parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat
  melewati sawar uri dan mempengaharui janin. Ekresi
  morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin
  bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.
 Indikasi Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan
  untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang
  tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih
  hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan.
Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang
 menyertai :
 Infark miokard
 Neoplasma
 Kolik renal atau kolik empedu
 Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau
  koroner
 Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan
 Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri
  pasca bedah.(7)
 Dosis dan sediaan Morfin tersedia dalam tablet, injeksi,
  supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan
  teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk
  menghilangkan atau mengguranggi nyeri sedang adalah
  0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg
  intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan.
Morfin diperdagangkan secara bebas
 dalam bentuk:
 Bubuk atau serbuk berwarna putih dan mudah
  larut dalam air. Dapat disalahgunakan dengan
  jalan menyuntikkan, merokok atau mencampur
  dalam minuman, adakalanya ditaburkan begitu
  saja pada luka-luka bekas disilet sendiri oleh
  para korban.
 Cairan berwarna putih disimpan dalam ampul
  atau botol, pemakaiannya hanya dilakukan
  dengan jalan menyuntik.
 Balokan dibuat dalam bentuk balok-balok kecil
  dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda.
 Tablet Dibuat dalam bentuk tablet kecil putih.(5)
Gejala kelebihan dosis :
 Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu- satu
  dan coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat
  terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga
  nausea (mual). Kadang-kadang timbul edema paru (paru-
  paru basah).
 Gejala–gejala lepas obat :
 Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila
  pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat
  terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata
  (lakrimasi), keluar air dari hidung(rhinorhea), berkeringat
  banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah
  meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh
  sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor, kadang-
  kadang psikosis toksik.
Gejala objektif sindroma putus opioid,
 yaitu mual/muntah, nyeri otot, lakrimasi,
 rinorea, dilatasi pupil, diare,
 menguap/sneezing, demam, dan
 insomnia. Untuk mengatasinya, diberikan
 simptomatik. Misalnya, untuk mengurangi
 rasa sakit dapat diberi analgetik, untuk
 menghilangkan muntah diberi antiemetik,
 dan sebagainya
Anamnesa dan Pemeriksaan fisik
 Gejala klinis :
 pada umumnya sama dengan gejala klinis
  keracunan barbiturate; antara lain nausea,
  vomiting, nyeri kepala, otot lemah, ataxia, suka
  berbicara, suhu menurun, pupil menyempit, tensi
  menurun dan sianosis.
 pada keracunan akut : miosis, koma, dan
  respirasi lumpuh.
 gejala keracunan morfin lebih cepat nampak
  daripada keracunan opium.
 gejala ini muncul 30 menit setelah masuknya
  racun, kalau parenteral, timbulnya hanya
  beberapa menit sesudah masuknya morfin.
Tahap 1, tahap eksitasi, Berlangsung
 singkat, bahkan kalau dosisnya tinggi,
 tanpa ada tahap 1, terdiri dari :
Kelihatan tenang dan senang, tetapi tak
 dapat istirahat.
Halusinasi.
Kerja jantung meningkat, wajah
 kemerahan dan kejang-kejang.
Dapat menjadi maniak.(2)
Tahap 2, tahap stupor, dapat berlangsung beberapa menit
  sampai beberapa jam (gejala ini selalu ada), terdiri dari :
 Kepala sakit, pusing berat dan kelelahan.
 Merasa ngantuk dan selalu ingin tidur.
 Wajah sianosis, pupil amat mengecil.
 Pulse dan respirasi normal.
Tahap 3, tahap koma, tidak dapat dibangunkan kembali,
  terdiri dari :
 Tidak ada reaksi nyeri, refleks menghilang, otot-otot
  relaksasi.
 Proses sekresi.
 Pupil pinpoint, refleks cahaya negative. Pupil melebar
  kalau ada asfiksisa, dan ini merupakan tanda akhir.
 Respirasi cheyne stokes.
 Pulse menurun, kadang-kadang ada kejang, akhirnya
  meninggal.
Pemeriksaan Toksikologi Sebagai barang
 bukti :
1. Urin, cairan empedu dan jaringan
 tempat suntikan.
2. Darah dan isi lambung, diperiksa bila
 diperkirakan keracunannya peroral.
3. Nasal swab, kalau diperkirakan melalui
 cara menghirup.
4. Barang bukti lainnya.(8)
PROGRAM PENGOBATAN ATAU TERAPI
 (ANTI DOTUM)
 Naloxone merupakan salah satu obat untuk melawan
  keracunan narkotika atau disebut opiat antagonis. Obat
  lain untuk melawan pengaruh morfin atau heroin adalah
  nalorphine, levallophan, cyclazocine, tetapi risikonya
  cukup berbahaya. Naloxone dapat membantu dengan
  cepat kalau diberikan dalam bentuk suntikan. Pemberian
  dalam bentuk suntikan naloxone HCl (Narcan, Nokoba)
  yang dimulai dengan dosis 0,4 mg/dl, dapat memperbaiki
  keadaan gangguan pernapasan. Pemberian sebaiknya
  langsung masuk pembuluh darah balik atau intravena.
  Setelah disuntik, diperhatikan keadaan pernapasannya.
  Jika belum membaik, setelah diobservasi dalam 3–5
  menit dapat diulangi lagi ditambah satu ampul lagi
  sampai efeknya tercapai dengan respons perbaikan
  kesadaran, hilangnya depresi pernapasan, dan dilatasi
 Program terapi penyalahgunaan narkotika terdiri atas 2
  fase, yaitu:
 Terapi detoksifikasi
 Terapi rumatan (pemeliharaan)
 Kedua terapi di atas harus berkesinambungan, sebab
  terapi detoksifikasi saja bukan merupakan penyembuhan.
  Setelah penderita melewati fase kritisnya maka dia harus
  menghentikan ketergantungannya melalui program terapi
  di atas. Para pecandu narkotika jumlahnya semakin tahun
  semakin meningkat. Penyembuhan secara medis untuk
  para pecandu narkotika sering menimbulkan kondisi
  relaps, kambuh lagi. Pasien ketergantungan narkotika
  dimungkinkan menjalani detoksifiksi di rumahnya selama
  5 hari berturut-turut.
Selain itu, untuk penyembuhan
 membutuhkan terapi rumatan
 (pemeliharaan). Khusus untuk
 ketergantungan opioida, diperlukan suatu
 program terapi khusus.
Selain diberikan terapi obat, perlu
 dilakukan terapi sosial, terapi
 okupasional, atau terapi religius.
 Pendekatan holistik melibatkan tim
 profesional seperti dokter/psikiater,
 perawat, psikolog, tokoh agama, dan
 pekerja sosial akan memberikan hasil
 yang memuaskan.
Diagnosis
Keluhan pokok:
1.Suka berbohong
2. Suka mencuri dan menjual barang
3.Sering mabuk
4. Menjual diri
5.Muntah
6. Gagal ginjal akut
7. Pemakai obat
Tanda penting:
1. Ada bekas suntikan atau kontak dengan
   bahan kimia
2. Kesadaran menurun/koma
3. Depresi nafas
4. Miosis
5. Dilatasi pupil
6. Hipotensi atau hipertensi
7. Bradikardi dan aritmia jantung
8. Nadi lemah
9. Hipotermi atau hipertermi
10.Edema paru
11. Peristaltik usus menurun
12. Hiporefleksi
13. Bronkospasme
14. Kejang
15. Kulit kemerahan
PENATALAKSANAAN:
1. Istirahat dan bebaskan jalan nafas,
   berikan oksigen 100%
2. Dekontaminasi:
   Arang aktif 30 gr puls 240 ml cairan
   dapat sampai 100 gr
   pencahar
   obar perangsang muntah
   bilas lambung
3. Medika mentosa
   infus dekstrosa 5% atau NaCl 0,9%
   antidotum nalokson opiat: 0,4-2,0 mg
Keracunan Narkotika (Heroin, Morfin,
 Kodein)
 - Gejala : mual, muntah, pusing, klulit dingin,
 pupil miosis, pernafasan dangkal sampai koma.
 - Tindakan :
 • Jangan lakukan emesis
 • Beri Nalokson 0,4 mg iv tiap 5 menit (atau
 Nalorpin 0,1 mg/Kg BB.
 Obat terpilih Nalokson (dosis maximal 10 mg),
 karena tidak mendepresi pernafasan,
 memperbaiki kesadaran, hanya punya efek
 samping emetik.
 Karenanya pada penderita koma tindakan
 preventif untuk aspirasi harus disiapkan.
KERACUN AN GAS/INHALASI DAN
    PENATALAKSANAANNYA
            OLEH
     Dr.HELMIZA FAHRY Z
Keracunan gas dapat terjadi dari:
1. Gas monoksida
2. Gas karbondioksida
3. Gas untuk pendingin
4. Senyawa klorin’
5. Obat bius
6. Gas penyemprot hama
Gas terhirup dapat menyebabkan
 keracunan.
 Keracunan gas yang cukup sering di
 indonesia :
 Gas CO (carbon monoksida)
 Asap dari api (gabungan CO, CO2 dan
 35 jenis lainnya)
 Gas pembius (di rumah sakit)
 Keracunan gas yang jarang terjadi :
 Gas amonia
 Gas dari bahan kimia
 Gas industri lain
Gejala keracunan gas :
 Ada riwayat terhirup gas
 Gejala umum keracunan
 Batuk-batuk, mungkin ada suara
 stridor
 Suara serak
 Sesak
 Rasa terbakar di dada
 Tindakan dan Penanganan keracunan gas
  terhirup adalah :
  Pindahkan penderita ke tempat yang aman.
  Jangan memaksa masuk bila keadaan tidak
  aman, keamanan si penolong merupakan
  prioritas.
  Airway – Breathing – Circulation terlebih
  dahulu. Pernafasan buatan penting untuk
  mengeluarkan udara beracun yang terhisap.
  Jangan lakukan pernafasan buatan secara
  mulut ke mulut.
  Berikan oksigen dengan konsentrasi tinggi.
  Ini hanya dapat dicapai dengan mengunakan
  Non-Rebreathing Mask
Karbon monoksida
1. Terbentuk dari pembakaran tidak
   sempurna ( sampah, gas masak, knalpot)
2. Bersifat: tidak berasa, tidak bau dan tidak
   berwarna
3. Dalam darah: cepat berikatan dengan
   hemoglobin menjadi methemoglobin
4. Pengangkutan oksigen tidak ada: anoksia
5. Gejala: kulit dan mukosa tampak merah
   terang, nyeri dan pusing kepala, dispneu,
   pupil midriasis, kejang, depresi
   pernafasan sampai koma
Penanganan:
1. Pindahkan korban ketempat terbuka
2. Berikan oksigen
3. Nafas buatan bila diperlukan
4. Istirahatkan
5. Jangan gunakan stimulan
6. Pengawasan : kemungkinan edem otak
Bahan bakar (premium, bensin, terpentin,
  dll)
1. Gejala mirip keracunan alkohol
2. Pernafasan terganggu lalu asfiksia
Penanganan:
1. Pindahkan korban ke udara bebas
2. Beri oksigen
3. Nafas buatan bila diperlukan
4. istirahatkan
Hidrokarbon klorida
1. Terdapat pada pelarut minyak, lemak
   atau lilin seperti metilena klorida,
   kloroform, tetraklorida (pada pemadam)
   , diklormetana
2. gejala: sakit kepala, mual, pikiran kacau
Penanganan:
1. Pindahkan korban ke udara bebas
2. Beri oksigen
3. Nafas buatan bila diperlukan
4. istirahatkan
FREON
1. Di pakai pada AC atau kulkas
2. Tidak berwarna dan tidak berbau
3. Hati- hati : bola mata dapat beku, bila
   terkena oleska salep mata atau minyak
   zaitun atau minyak mineral
4. Merupakan derivat karbon
   tetrahidroklorida
5. Bila terkena panas:terurai menjadi
   fosgene yg sangat beracun
AMONIA
1. Sebagai obat mesin pendingin
2. Berbau keras menusuk hidung
3. Membuat mata pedih
4. Menyebabkan batuk dan kejang pada
   saluran nafas
Penanganan
1. Pindahkan korban ke udara bebas
2. Beri oksigen
3. Ciumkan asam cuka ke hidung korban
4. istirahatkan
KERACUNAN JAMUR (FUNGI)
           DAN
 PENATALAKSANAANNYA
          OLEH
   Dr. HELMIZA FAHRY
 KERACUNAN JAMUR
  Keracunan dapat terjadi karena cara
  penyimpanan, pengolahan, dan
  penghidangan yang tidak baik.
Keluhan pokok:
1.Mual muntah
2. Sakit perut
3. Hematemesis
4. Diare
5. Bronkorea
6.Palpitasi
7. Nyeri kepala hebat
8. Lemah dan halusinasi
Tanda penting:
1. Miosis
2. Hipotensi
3. Dehidrasi
4. Oliguri
5. Takikardi atau bradikardi
6. Aritmia
7. Flushing
8. Diaforesis
9. Letargi
10.Eufuria
Penatalaksanaan:
1. Jaga ventilasi dan jalan nafas
2. Resusitasi cairan
3. Atasi hipoglikemi
4. Tangani hipertemi
5. Berikan benzodiazepin untuk mengatasi
   kejang
6. Berikan karbon aktif 1 gr/kgbb peroral atau
   dengan NB tube bersama katartis (
   sorbiotal)
7. Perlu dipertimbangkan irigasi saluran cerna
   bagian bawah dengan 0,5-2 liter/jam
   golyteliu per oral/NGT dalam 24 jam
Ada 2 jenis :
 1. AMANITA MUSCARINA
 Gejala dan tanda :
 Masa laten kurang 2 jam
 Lakrimasi saliva
 mual muntah
 diare nyeri perut
 Pusing
 kejang
 Koma


 Penanganan :
 Netralisasi dengan cairan
 Upayakan muntah
 Berikan Norit 1-2 sendok makan dengan air hangat.
2. AMANITA PHALLOIDINE
 Gejala dan tanda :
 Masa laten 6-24 jam
 Mual muntah
 Dehidrasi
 Syok
 Penanganan :
 Netralisasi dengan cairan
 Upayakan muntah
 Berikan Norit 1-2 sendok makan dengan
 air hangat.
Dengan pengobatan yang tepat
 keracunan karena jamur, biasanya
 akan terjadi penyembuhan dalam
 waktu 24 jam, meskipun bisa terjadi
 kematian dalam waktu beberapa
 jam. Untuk itu siapapun yang
 menjadi sakit setelah makan jamur
 yang tidak dikenal, harus mencoba
 untuk segera muntah dan
 memeriksakan muntahannya ke
 laboratorium, karena jamur yang
 berbeda memerlukan penanganan
 yang berbeda pula beberapa jam.
Pada keracunan amatoksin:
1. HD dan hemoperfusi charcoat
   merupakan terapi standar
2. Forced diuresis
3. Penisilin G (0,3-1 juta unit/kgbb/hr)
   untuk mencegah uptake hepar dan
   meningkatkan ekskresi ginjal
4. Simetidin dosis tinggi ( 10 gr/hari)
5. Plasma feresis
6. silimarin
  GIGITAN BINATANG
        DAN
PENATALAKSANAANYA
        OLEH
 Dr.HELMIZA FAHRY Z
Di kehidupan sehari-hari kadang
 kita menjumpai orang dengan
 kasus gigitan serangga dan
 kadangkala membuat panik kita
 karena ketidaktahuan tentang
 penanganannya. Pada umumnya
 resiko infeksi pada gigitan binatang
 sedikit lebih besar daripada luka
 biasa
GIGITAN BINATANG DARAT
1. GIGITAN ANJING. KUCING, KERA DAN
MANUSIA
Dapat menyebabkan luka memar yang hebat, robekan dari
jaringan dan infeksi.
Gejala dan tanda :
Sakit kepala
Demam
Kejang-kejang
Kemungkinan rabies
Penanganan :
Amankan diri dan lingkungan sekitar
Selalu Airway – Breathing – Circulation terlebih dahulu
Cuci luka dengan air mengalir dan sabun atau larutan deterjen
Imobilisasi bagian yang digigit / luka tersebut.
Berikan SAR (serum anti rabies) bila ada.
Bila dapat dilakukan penangkapan binatang yang menggigit untuk
identifikasi.
Langkah dan penanganan bila tergigit
 anjing:
 1. anjingnya di tangkap dan diobservasi selama 2
  minggu, bila tidak mati lanjutkan sampai 1 bulan, bila
  tetap hidup kecil kemungkinan terkena rabies
 2. luka diobati dan di beri ATS 1500 IU atau TFT 0,5 ml
  sebanyak 3 kali dalam jarak waktu sebulan, berikan
  juga antibiotik
 3. bila anjingnya lari, tetap lakukan langkah diatas,
  berikan juga VAR ( Vaksin Anti Rabies)
 4. bila anjingnya terlanjur dibunuh, serahkan ke dinas
  peternakan untuk di ambil otaknya, bila dalam
  pemeriksaan ditemukan Negry Body, beraarti anjing
  tersebut positif rabies
 5. bila di gigit anjing yang di duga gila di muka, kepala,
  atau tangan selain diberi ATS, antibiotik, VAR, diberi
  pula tambahan serum anti rabies
2. GIGITAN ULAR
 Tidak semua ular berbisa, akan tetapi
 karena hidup pasien tergantung pada
 ketepatan diagnosa, maka bila ada
 keadaan meragukan ambillah sikap
 menganggap setiap gigitan ular tersebut
 berbisa. Gigitan ular berbisa sangat
 berbahaya bahkan penderita dapat
 meningggal dunia akibat bisa ular yang
 dapat bersifat hematoksik, neurotoksik
 atau histamin.
Gejala dan tanda :
 Bekas gigitan yang khas, yaitu dua luka
 tusuk dengan jarak tertentu dapat disertai
 luka bekas gigitan gigi bawah yang
 dangkal.
 Ekimosis, edema dan perdarahan lokal,
 dapat disertai nyeri setempat.
 Gejala lanjut berupa depresi pernafasan
 dan sirkulasi atau gejala neurologik.
 Bila ada demam, mual muntah, pingsan,
 kelemahan, nadi cepat dan kecil, kejang
 dan gangguan pernafasan maka selalu
 merupakan tanda bahwa luka gigitan
 serius.
PENANGANAN PADA GIGITAN ULAR :
 1. Proteksi diri dan lingkungan
 2. Selalu Airway – Breathing – Circulation
 terlebih dahulu
 3. Sedapat mungkin ular penggigit
 ditangkap untuk dibawa
 4. Cegah penyebaran bisa dari daerah
 gigitan :
 Pasang ikatan proksimal dari luka gigitan
 / pembengkakkan untuk membendung
 sebagian aliran limfe dan vena tetapi
 tidak menghalangi aliran arteri (denyut
 nadi di bawah tetap teraba)
Penderita harus tenang dan istirahat total
 dari anggota gerak yang tergigit untuk
 meminimalkan bisa ular menjalar lewat
 aliran getah bening. Penderita bisa
 dilakukan pemasangan bidai mirip
 penderita fraktur.
 Daerah gigitan diposisikan lebih rendah
 dari tubuh
 Boleh diberikan kompres es lokal
 Rujuk penderita ke rumah sakit, kalau
 bisa dengan data jenis ular
 Di rumah sakit akan diberikan suntikan
 anti bisa ular (antivenin).
Langkah-langkah bila pasien digigit ular
 1.Baringkan pasien, tetap tenang, anggota badan yang digigit
 jangan di gerak-gerakkan
 2. Pasang tornikuet 5-10 cm proksimal dari tempat gigitan,
 tekanan di pasang antara sistole dan diastole, tornikuet
 dilepaskan selama 30 detik setiap 20 menit
 3. Cuci luka dengan air dan sabun, jangan di gosok, buat sayatan
 silang di bekas gigitan, isaplah darahnya dgn mulut atau alat
 penyedot ( bisa sudah tidak membahayakan)
 4. Beri SABU ( 5 ml subkutan di sekitar luka, 15 ml intra
 muskular). Beberapa ahli menyarankan melalui infus dan SABU di
 berikan berdasarkan derajat yang ditentukan)
 5. Suntikkan 100mg hidrokortison IM, atau 30 mg prednison
 6. Berikan antibiotik ( penisilin 1,2 juta U)
 7. Suntikkan ATS 1500 U, atau TFT 0,5ml 3 kali berturut
 8. Temukan ularnya segera, bila termasuk golongan tidak
 beracun, SABU tidak diberikan
3. GIGITAN KALAJENGKING
  Terutama pada spesies Centroides
  exilicauda
  Tanda-tandanya :
  Terdapatnya luka gigit 1 mm dan
  dikelilingi daerah eritematus
  Nyeri
  Setelah 10 menit sampai 2 jam dapat
  timbul berbagai gejala seperti spasme
  otot terutama pada tungkai pelvis
  punggung
Gejala :
 Terasa nyeri pada luka gigitan
 Gejala sistemik dapat terjadi baik perangsangan
 simpatik maupun parasimpatik berupa kelelahan,
 kecemasan, hipersaliva, lidah menebal, disfagia,
 takipnea, distress dan paralisis.


 Penanganan gigitan kalajengking :
 Amankan diri dan lingkungan sekitar
 Nilai Airway – Breathing – Circulation
 Dapat diberikan kompres dingin atau amonia, atau
 bikarbonas natrikus atau kalamin lasio
 Tenangkan penderita
 Berikan analgetik, bila kejang, berikan sedativa seprti
 valium atau luminal
 Bawa segera ke rumah sakit untuk pemberian
 Antivenin dan perawatan lebih lanjut.
KERACUNAN PESTISIDA
         DAN
PENATALAKSANANNYA
        OLEH
 Dr. HELMIZA FAHRY Z
 Panggillah segera dokter atau bawa penderita
  kepoliklinik yang terdekat. Beritahukan kepada
  dokter nama bahan yang menyebabkan
  keracunan dengan jelas. .Ini penting untuk
  menentukan pengobatannya.
  Apabila termakan bahan beracun, dalam
  menunggu kedatangan dokter dapat pula
  diusahakan meringankan keracunan dengan
  jaIan memuntahkan. Jika kulit badan terkena
  hendaknya lekas dicuci bersih. Tanggaikan pula
  pakaian yang terkena racun
  Apabila mata yang terkena, cucilah dibawah air
  yang mengalir. Apabila asam atau basa yang
  mengenainya cucilah paling sedikit selama 15
  menit. Janganlah mencuci dengan cairan lain
  selain air biasa
 Pada keracunan yang disebabkan oleh
  terhisapnya gas beracun (fumigan), bawalah
  penderita segera ketempat yang berudara bersih.
  Apabila pernafasan kelihatan lemah atau
  herhenti, segera usahakan pernafasan buatan.
  Apabila bahan beracun itu termakan dapat segera
  diusahakan pemuntahan dengan jalan
  memasukkan jari yang bersih kedalam
  tenggorokan penderita. jika cara ini tidak berhasil
  berikan air garam (1 gelas air dengan 2 sendok
  garam).
  Peringatan apabila tidak sadar penderita jangan
  sekali-kali dimuntahkan ataupun diberi minum,
  tunggu sampai ía sadar kembali.
Setelah penderita muntah dapat juga
 kemudian diberi norit; 50 gram norit
 dengan 500 cc air sudah cukup. Dapat
 juga diusahakan pemuntahan lagi. Hanya
 pada keracunan tertentu penderita dapat
 diberi air susu atau minuman yang
 mengandung minyak lemak. Pemberian air
 susu atau yang mengandung minyak
 lemak TIDAK BOLEH dilakukan dalam
 keracunan bahan beracun yang mudah
 LARUT DALAM MINYAK, karena hal ini
 akan menambah kerasnya keracunan.
 Pemberian norit selalu tidak menambah bahaya
  karena hanya bekerja sebagai ABSERBEN saja.
  Pada umumnya beberapa waktu sampai
  beberapa jam setelah terjadi keracunan masih
  boleh diusahakan pemuntahan.
  Tetapi apabila yang termakan itu ASAM, BASA
  atau CARBOLINEUM setengah jam setelah
  terjadi keracunan tidak boleb diusahakan
  pemuntahan lagi. Bahan-bahan ini merusak
  dinding usus dan apabila terjadi pemuntahan
  maka dinding usus itu akan lebih rusak lagi
  karena gerakan-gerakan sewaktu muntah,
  sebagai gantinya berikan kepada penderita:
1) minum banyak air, apabila mungkin
 tambahkanlah putihnya telur kedalamnya;
 2) untuk keracunan karena asam, dapat
 ditambahkan air sabun yang encer
 kedalam air;
 3) untuk keracunan basa, beri minum air
 CUKA ENCER atau AIR JERUK/ ASAM;
 4) untuk keracunan ASAM atau BASA
 dapat juga diberi minum campuran air
 susu dan telur.
 Apabila keracunan telah berjalan cukup lama,
  pemuntahan tidak akan banyak menolong.
  Serahkan saja segera penderita kepada dokter
  untuk perawatan lebih lanjut.
  Jika penderita tidak sadar, tidurkan penderita
  terlentang dengan kepala miring, supaya
  apabila muntah, muntahannya tidak menutup
  jalan pernafasan. Tanggalkan pakaian yang
  terkena bahan beracun dan lepaskan segera
  benda-benda yang mengikat bagian badannya.
  Cuci segera bagian badan yang terkena. Jangan
  sekali-kali diusahakan pemuntahan atau dicoba
  diberi minum. Penderita baru boleh diberi
  minum apabila ia sudah sadar kembali.
 Penderita harus selalu dijaga, supaya kalau
  perlu dapat diusahakan pernafasan buatan.
  Apabila semua usaha pertolongan pertama ini
  telah dikerjakan dan penderita kelihatan lebih
  baik jangan sekali-kali menyangka bahwa ia
  telah mulai sembuh. Pemeriksaan dokter harus
  lekas diusahakan. Ingat akibat yang lebih
  berbahaya masih mungkin tiba.
  Jangan lupa beritahukan kepada dokter apa
  yang telah terjadi mengenai keracunannya
  sendiri dan pertolongan pertama yang telah
  dilakukan ini sangat membantu usaha dokter
  untuk mengobatinya.
KERACUNAN LAMBAT
 Apa yang diuraikan diatas adalah
 keracunan yang disebabkan oleh
 termakannya bahan beracun.
 Jangan lupa bahwa baban pemberantas
 dapat pula masuk kedalam badan sedikit
 demi sedikit melalui kulit, hidung atau
 mulut. Terutama bahan-bahan
 pemberantas yang berbentuk larutan peka
 dalam minyak dan e.c. (emulsifiable
 concentrate) mudah masuk melalui kulit.
GEJALA UMUM keracunan lambat adalah
 sebagai berikut :
 a. badan terasa lemah, sukar tidur,
 gangguan perut, berkeringat tidak wajar
 (banyak dan dingin), gugup karena syaraf
 terganggu, dsb.
 b. Semua jenis bahan pemberantas dapat
 menyebabkan gejala keracunan tsb.,
 tetapi khususnya bahan yang
 mengandung logam berat seperti;
1. air raksa (Hg),
 2. timbel (Pb),
 3. arsen (As),
 4. insektisida-insektisida yang
 mengandung chior (Cl) seperti DDT,
 endrin, dsb.
 5. insektisida-insektisida yang
 mengandung fosfor (P) seperli parathion,
 foliclol, malathion, dsb.
Kalau terasa gejala-gejala sebagai tsb
 diatas hendaknya lekas pergi kedokter
 untuk diperiksa.
 Pada umumnya bahan pemberantas itu
 lebih mudah melalui kulit yang berluka
 dan pada kulit yang sehat. Kalau ada luka
 pada bagian badan yang terbuka
 hendaknya berhati-hati sekali dalam
 bekerja dengan bahan-bahan
 pemberantas itu atau mencari ganti lain
 orang yang tidak mempunyai luka. Jangan
 lupa usahakan supaya kulit yang
 sehatpun tidak terkena bahan
 pemberantas itu.
JENIS-JENIS BAHAN PEMBERANTAS DAN
PERTOLONGAN PERTAMA JIKA TERJADI
KERACUNAN.
1. ALDRIN: mudah diserap kulit, terutama yang berbentuk larutan
minjak dan e.c.
Dalam hal keracunan usahakan pemuntahan; tidak boleh diberi
minum air susu atau minuman yang mengandung minyak/lemak.
Setelah muntah boleh diberi norit.
2. ANTU : Dalam keracunannya muntahkan dan beri norit.
3. CARBAMAT : Meskipun persenyawaan ini kurang beracun, jangan
sampai terkena kulit atau termakan. Pertolongannya seperti pada
ALDRIN.
4. CARBOL, CARBOLINEUM (plantanium):
Jika terkena kulit menimbulkan lepuh. Cucilah lepuh dengan alkohol
atau glycerin. Untuk menjaga supaja tidak terjadi lepuh bagian yang
terluka dilumas dengan vaselin.
Dalam keracunan hanya boleh dimuntahkan apabila keracunan
belum berselang lebih dari 30 menit. Beri minum air dicampur
putihnya telur, air susu dan kemudian norit.
Gejala keracunannya: lumpuh, kejang, dapat juga pernafasan
 6. DDT: Keracunan sedikit demi sedikit melalui kulit atau
  mulut menimbulkan gejala-gejala pusing kepala atau sakit
  perut. Pertolongan pertama seperti pada ALDRIN.
  7. DIELDRIN, ENDRIN, HCH atau BHC (awas merangsang
  mata dan selaput lendir); Dalam keracunan pertolongan
  seperti pada ALDRIN, LINDANE. HEXYCLAN; GAMMEXAN
  E; MALATHION; METADEL HYDE: untuk pertolongan
  pertamanya seperti ALDRIN.
  8. NICOTIN Jika terhisap dalam penafasan atau termakan
  menyebabkan sakit kepala, muak,mungkin juga tidak
  sadar dan pernapasan berhenti. Dalam keracunan berikan
  norit dan bawa penderita ketempat yang berudara bersih.
  Kalau perlu kerjakan pernafasan buatan. Keracunan
  sedikit demi sedikit dapat menyebabkan rabun mata..
  9. PARATHION dan METHYLARATHION : Lebih beracun
  dari MALATHION.
  Dalam pertolongan pertamanya seperti pada MALATHION.
  10. PYRETHRUM: Dalam kepekatan-pakai tidak beracun
 11. ROTENON-DEARIS : merangsang mata dan selaput lendir.
  Dalam kepekatan pakai tidak beracun untuk manusia. Beracun
  sekali untuk ikan.
  12. SYSTOX; METASYSTOX: Lebih beracun dari pada PARATHION.
  Pertolongan pertamanya seperti pada MALATHION.
  13. ZINCPHOSPHIDE (racun tikus): Jangan dipegang dengan
  tangan: Apabila basah (Lembab) mengeluarkan gas yang beracun;
  karenanya harus disimpan dalam tempat yang tertutup dan kering.
  Dalam keracunan muntahkan dan beri norit.
  14. BAHAN PEMBERANTAS YANG MENGANDUNG TEMBAGA (Cu):
  Dalam keracunan muntahkan dan beri norit.Baik juga diberi air teh
  pekat atau air dicampur putihnya telur. Yangan diberi minum air
  susu atau minuman yang mengandung minyak/lemak.
  15. BAHAN PEMBERANTAS YANG MENGANDUNG AIR RAKSA
  (Hg): Pada kulit menyebabkan lepuh. Cuci lepuh dengan air dan
  kompres dengan air teh yang pekat jangan diberi salep atau obat
  lain. Pergilah kedokter dalam keracunan muntahkan, beri norit, air
  yang pekat atau air susu.
  16. BAHAN PEMBERANTAS SANG MENGANDUNG FOSFOR (P):
  Membakar kulit. Dalam keracunan muntahkan dan beri nonit, baik
  juga diberi gula atau sirop. Jangan diberi minum air susu atau
  minuman yang mengandung minyak/lemak.
Penatalaksanaan:
Keluhan pokok:
1.   Baru minum atau kontak dengan bahan kimia
2.   Visus menurun
3.   Kram pada perut dan abdomen, kejang-kejang
4.   Mual, muntah dan diare
5.   Inkontinesia urin
6.   Salivasi
7.   Rinorea, sesak nafas
8.   Sianosis
9.   lemah
Tanda penting:
1.Hipotensi
2. Miosis sampai pinpoint
3. Hiperhidrosis
4.Hiperperistaltik
5.Lakrimasi
6. Kelemahan otot
7. mengi
1.Istirahat
- Buka pakaian
- Isap lendir dijalan nafas
- Berikan oksigen
- Bila racun baru tertelan ( kurang
  dari 4 jam), kosongkan lambung
  dgn cara di rangsang muntah, atau
  asiprasi dan kubah lambung dan
  berikan karbon aktif
- Bila lewat kulit, cuci berulang
  dengan deterjen atau sabun
2. Atropin perenteral dengan dosis 2 mg
  setiap 10-15 menit sampai terjadi
  atropinisasi :
- Pupil melebar
- Haus, mulut kering
- Saliva berkurang
- Spasme bronkus berhenti
- Takikardi
- Flushing ( muka memerah)
- panas
KEPUSTAKAAN
1. Halim Mubin A. : Panduan Praktis
 Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosa
 dabn Terapi, EGC, Jakarta 2001 :
 98-115.
 2. Panitia Pelantikan Dokter FK-
 UGM : Penatalaksanaan Medik,
 Senat Mahasiswa Fak.Kedokteran
 UGM, Yogyakarta 1987 : 18-22.
 3. Purnawan J., Atiek S.S., Husna A.
 : Kapita Selekta Kedokteran, Media
 Aesculapius, Jakarta 1982: 185-198
.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3531
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:134
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl