Docstoc

psikologi wanita

Document Sample
psikologi wanita Powered By Docstoc
					1. PERKAWINAN DAN REGULASI DALAM PERKAWINAN
         Perkawinan adalah suatu peristiwa, dimana sepasang mempelai atau aepasang calon
  suami-isteri di pertemukan secara formal di hadapan penghulu/kepala agama tertentu, para
  saksi dan sejumlah hadirin, untuk kemudian di syahkan secara resmi sebagai suami isterI
  dengan upacara dan ritus-ritus tertentu. Peristiwa perkawinan merupakan suatu bentuk
  proklamasi, dalam mana secara resmi sepasang pria dan wanita di umumkan untuk “ saling
  memiliki satu sama lain”; dan kedua pribdi yang berlainan jenis itu kemudian di paterikan
  menjadi satu DWI TUNGGAL atau satu WIRHEIT yang utuh.
         Perkaiwinan pada umumnya di rayakan secara meriah, di iringi dengan upacara-
  upacara, peristiwa makan-minum yang cukup mahal, dn perayaan atau beberapa keramaian.
  Perkawinan di kalangan keluarga-leluarga elite, senantiasa di ikiti dengan pesta perayaan
  dan keramaian besar-besaran, yang menelan biaya berpuluh-puluh atau ratusan juta rupiah
  dan ada yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam lamanya.
         Jika pada zaman purba seorang laki-laki itu menerkam serta menyeret “korbannya” ke
  dalam gua tempat kediamannya untuk di jadikan isteri atau teman berkumpul, maka pada
  zaman sekarang seorang pria pada umumnya harus memboyong calon isterinya dengan
  upacara kebesaran dan seremoni perkawinan. Yang paling penting dalam perkawinan
  tersebut ialah di sertakannya beberapa regulasi atau tata atura. Regulasi ini pada beberapa
  aliran agama tertentu berlangsung secara kompleks sekali, sehingga sietem perkawinan tadi
  tampak sangat rumit.
         Regulasi dan beberaparestriksi dalam peristiwa perkawinan tadi antara lain meliputi
  faktor : umur, seks,upacara perkawinan, pembayaran uang nikah, hak dan kewajiban suami
  isteri, batas-batas kekuasaan sebagai suami, pembagian harta dan waris, peraturan
  perceraian, hak dan kewajiban memelihara anak keturunan, dan lain sebagainya. Regulasi
  sosial mengenai perkawinan kita jumpai pula pada banyak suku banga-bangsa primitif yang
  mempunyai kebudayaan yang relatif sangat rendah.
         Tujuan regulasi bukan untuk menghalang-halangi peristiwa perkawina, akan tetapi
  justru untuk menjamin kerukunan kedua belah pihak (suami –isteri) dan melindungi
  masyarakat. Regulasi dalam perkawinan ini bobotnya sama beratnya dengan hukum-hukum
  sosial lainnya; yaitu berlandaskan pada kepeningan insaniah, dan bermaksud melindungi
  individu serta masyarakat dari perbuatan menyimpang dari norma sosial.
         Semakin banyak terdapat penduduk di dunia ini dan semakin beraneka ragam kegiatan
  manusia daam kehidupan sehari-hari, maka semakin perli pula masyarakat manusia di
  organisir dan di atur. Sehubungan dengan itu juga perlu adanya regulasi sosial dalam hal
  perkawinan, untuk menciptakan ketenangan dan menjamin security terhadap pasangan-
  pasangan keluarga.
         Senyatanyalah, bahwa kebudayaan manusia itu seluruhnya berdiri diatas norma-
  norma, untuk menetapkan hak dan kewajiban setiap individu. Dengan pengaturan tersebut
  dapat diciptakan tingkah laku yang bisa dikendalikan dalam orde tertentu. Oleh karna itu
  adanya hukum dan regulasi terhadap perkawinan tidak merupakan peristiwa yang berlebih-
  lebihan, akan tetapi jasrtru merupakan satu kebutuhan sosial.
        Sekalipun proses menyeleksi calon jodoh dan memperistri/mempersuami seseorang
  itu adalah murni masalah pribadi, sehingga tidak diperlukan adanya kontrol pihak luaran,
  akan tetapi perlu kiranya perkawinan itu diatur dengan peraturan yang cukup ketat untuk
  menjamin security pribadi dan stabilitas sosial. Sehingga tercegah perbuatan merampas hak

2. ALASAN UNTUK KAWIN

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:71
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:2
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl