Docstoc

MAKALAH PEMBAGIAN HADIS

Document Sample
MAKALAH PEMBAGIAN HADIS Powered By Docstoc
					         PEMBAGIAN HADIS DITINJAU DARI SEGI NILAINYA
I. PENDAHULUAN


          Pembagian hadis dapat ditinjau dari segi nilainya, antara lain
berdasarkan jumlah perawinya dan berdasarkan kualitas/nilai sanad serta
matannya. Dalam pembagian hadis dari jumlah perawinya para ulama
terbagi pada dua kelompok.
Kelompok pertama membagi hadis dari segi jumlah perawinya yaitu hadis
Mutawātir, masyhur dan ahad. Para ulama berpandangan demikian antara
lain Abu Bakar al-Jashshash (w.370H), Iibn Hajar al-Asqalani (w.852H)
dan Ajjaj al-ahad. Kelompok kedua membagi Hadis hanya Hadis Mutawātir
dan hadis ahad. Para ualam berpandangan ini antara lain „Abd al-Karim
Murad dan „Abd al-Muhsin al-„abbad. 1
          Pembagian hadis dari segi kualitas sanad dan matannya dibagi
menjadi dua golongan yaitu hadis Maqbul dan hadis Mardud. Hadis Maqbul
terdiri atas hadis Sahih dan Hasan, sedangkan hadis Mardud adalah hadis
daif.2
          Dalam pembahasan makalah ini, penulis akan menguraikan secara
singkat pengertian Mutawātir dan makna pengerian ahad dan macam-
macamnya serta hukum orang yang mengingkarinya.


II. PENGKLASIFIKASIAN HADIS
A. Hadis Mutawātir
1. Pengertian hadis Mutawātir
           Mutawātir secara kebahasaan adalah isim fa‛il dari kata at-tawātur,
                                                                3
yang berarti at-tatābu‛, yaitu berturut-turut datangnya.            Para ulama hadis
telah memberikan pengertian mutawatir secara istilah, diantaranya Nur al-
Din „Itr yaitu :

             1
              Ramli Daud Wahid, Saudi Ilmu Hadis, (Medan = PP2-K, 2007), H. 145
             2
              Ibid, h. 172-176.
            3
              Ibn as – Shalah, „Ulum al-Hadis, Ed. Nur al-Din „Ātar (Madinah: Al-
         Makrabat al-„Ilmiyyah, cet. Kedua:1972), h. 241



                                          -1-
        Menurut istilah ulama Hadis, mutawātir berarti :
                              ‫ٍا سٗآ ػذد مثٍش ذحٍو اىؼادج ذ٘اطؤ ٌٕ ػيى اىنزب‬
        Hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang mustahil menurut
adat bahwa mereka bersepakat untuk berbuat dusta.
        Ibn al-shalah mendefinisikan Hadis Mutawātir, sebagai berikut :
                          ٔ‫فأّ ػثاسجػِ اىخثش اىزي ٌْقئ ٍِ ٌحصو اىؼيٌ تصذ ق‬
                                   .ٓ‫ضشٗؤج, ؤال تذ فً سٗاذٔ ٍِ اٗىٔ اىى ٍْرٖا‬
        Sesungguhnya Mutawātir itu adalah ungkapan tentang kabar yang
    dinukilkan (diriwayatkan) oleh orang yang menghasilkan ilmu dengan
    kebenaranyya secara pasti. Dan persyaratan ini harus terdapat secara
    berkelanjutan pada setiap tingkatan perawi dari awal sampai akhir.
        Didalam ta‛liq (catatan kaki)-nya ketika mengedit karya Ibn al-
Shalah ini, Nur al-Din ‛Atar merinci definisi yang dikemukakan oleh Ibn al-
Shalah tersebut dengan mengatakan, bahwa :
                       ‫اىَر٘اذش ٕ٘ اىخثش ػِ اٍش حسً اىزي ٌْقئ جَغ مثٍش ٌَرْغ‬
                        .4ٓ‫ذشاطؤٌٕ ػيى اىنز ب ػِ ٍثيٌٖ ٍِ اٗه اىسْذ اىى ٍْرٖا‬
        Mutawātir adalah kabar tentang sesuatu yang dapat dijangkau oleh
    pancra indra yang diriwayatkan oleh orang banyak, yang jumlahnya
    tidak memungkinkan mereka untuk bersepakat dalam melakukan dusta,
    yang diriwayatkan mereka dari orang banyak seperti mereka, dari awal
    sanad sampai ke akhir sanad
        Kata amir hissī dialam definisi diatas maksudnya adalah sesuatu
yang dapat dijangkau oleh para perawinya melalui pancaindera, seperti
pendengaran dan penglihatan. Dalam hal ini, tidaklah disebut mutawātir
apabila suatu informasi yang diriwayatkan itu diperoleh bukan melalui
panca indera, seperti melalui proses berpikir atau penggunaan daya
nalarnya. 5



          4
              Ibid..
          5
              Ibid.



                                        -2-
        Imam Nawawi mengemukakan definisi yang hampir senada dengan
Ibnu Al-Shalah, yaitu :
                         ٍِ ٌٖ‫ٕٗ٘ ٍا ّقئ ٍِ ٌحصو اىؼيٌ تصذ قٌٖ ضشٗسج ػِ ٍثي‬
                                                                        .ٓ‫اٗىٔ6 اىى اخش‬
        Mutawātir adalah Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang
    yang menghasilkan ilmu dengan kebenaran mereka secara pasti dari
    orang yang sama keadaannya dengan mereka mulai dari awal (sanad)-
    nya sampai ke akhirnya.
               M. ‛Aajjaj al-Khatib memilih definisi berikut :
                  ٌٖ‫ٕٗ٘ ٍا سٗآ جَغ ذحٍو اىؼاد ج ذ٘ا طؤٌٕ ػيى اىنزب ػِ ٍثي‬
                     7
                         ‫ٍِ اٗه اىسْذ اىى ٍْرٖآ ػيى اُ ال ٌخرو ٕزا اىجَغ فً اي‬
                                                             ‫طثقح ٍِ طثقا خ اىسْذ‬
        Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perowi yang mustahil
    secara adat mereka akan sepakat untuk melakukan dusta, (yang
    diterimanya) dengan sejumlah perowi yang sama dengan mereka, dari
    awal sanad sampai kepada akhir sanad, dengan syarat tidak rusak
    (kurang) jumlah perowi tersebut pada seluruh tingkatan sanad.
        Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulka bahwa hadis
mutawātir adalah hadis yang memiliki sanad yang pada setiap tingkatannya
terdiri atas perawi yang banyak dengan jumlah yang menurut hukum adat
atau akal tidak mungkin bersepakat untuk melakukan kebohongan terhadap
Hadis yang mereka riwayatkan tersebut.


2. Kriteria Hadis Mutawātir
        Berdasarkan definsi mengenai hadis Mutawātir diatas, para ulama
Hadis selenjutnya menetapkan bahwa suatu Hadits dapat dinyatakan sebagai
Mutawātir apabila telah memenuhi kriteria tertentu. Kriteria tersebut adalah
sebagai berikut :

          6
             Jalal al – Dīń al-Suyuti, Tadrībal-Rāwi fi Syarh Taqrīb an-Nawawi, Ed „Irfan
      al- „Asysya Hassunah (Beirut: Dar al-Fikir, 1414 H/1993), h. 352)
           7
             „Ajjal al-Khatīb, Ishul al-Hadis, h. 301



                                          -3-
1. Perawi Hadis tersebut terdiri atas jumlah yang banyak. Sekurang –
   kurang jumlahnya, menurut sebagian ulama Hadis, adalah sepuluh
   orang. Namun, ada yang berpendapat minimal empat orang dalam setiap
   tabaqāt, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu-Althayyib, karena
   dianalogikan kepada saksi dalam Qazf; ada yang mengharuskan lima
   orang, dianalogikan kepada jumlah nabi yang Ulul Azmi; ada yang
   mengharuskan 20 orang, karena diqiyaskan kepada Alqur‛an surat 8, Al-
   Anfal: 65; dan bahkan ada yang mensyaratkan minimal 40 orang, karena
   diqiyaskan kepada Alqur‛an surat 8, al-Anfal: 64. penentuan jumlah
   tersebut sebenarnya adalah relatif, karena yang menjadi tujuan utamanya
   adalah terpenuhinya syarat nomor tiga, yaitu mustahilnya mereka untuk
   bersepakat melakukan dusta atas berita yang mereka riwayatkan.
2. Jumlah tersebut harus terdapat pada setiap lapisan atau tingkatan sanad.
3. Mustahil menurut adat bahwa mereka dapat sepakat untuk berbuat
   dusta.
4. Sandaran riwayat mereka adalah pancaindera (mahsusat), umpamanya
   pendengaran atau penglihatan.


3. Macam-macam Hadis Mutawātir
        Hadis mutawātir terbagi kepada dua, yaitu : mutawātir lafzi dan
mutawātir ma‛nawi
1) Mutawātir lafzi
   Yang dimaksud dengan hadis mutawātir lafzi adalah :
                                                           8
                                                               ٓ‫ٍا ذ٘اذش ىفظٔ سٍؼْا‬
   Yaitu, hadis yang Mutawātir lafaz dan maknanya.”
Atau,
                                           ‫ٕٗ٘ ٍا ذ٘ا ذشخ سٗاترٔ ػيى ىفظ ٗاخذ‬
   Yaitu hadis yang Mutawātir riwayatnya pada suatu lafaz ‛Ajjaj al-
   khathib definisi berikut:


         8
             Mahmud al-Thahhan, TaisirMusthalah al-Hadits, h. 19



                                        -4-
                             9
                                 ‫ٍا سٗٓ تيفظٔ جَغ ػِ دٍٍغ ال ٌر٘ ٌٕ ذ٘ا طؤ ٌٕ ػيى‬
                                                        .ٓ‫اىنزب ٍِ اٗىٔ اىى ٍِ ذٖا‬
       Hadis yang diriwayatkan dengan lafaznya oleh sejumlah perawi dari
sejumlah perawi yang lain yang tidak disangsikan bahwa mereka akan
bersepakat untuk berbuat dusta, dari awal sampai akhir sanad-nya.
Contoh hadis Mutawātir Lafzi adalah :
                       10
                            ‫ٍِ مزب ػيً ٍرؼَذا فيٍرث٘ا ٍقؼذٓ ٍِ اىْاس {سٗآ تضؼح‬
                                                                  }‫ٗسثؼُ٘ صحا تٍا‬
       Barang siapa yang berbuat dusta terhadapku dengan sengaja, maka
   berarti ia menyediakan tempatnya dineraka. (hadis ini diriwayatkan oleh
   lebih dari 70 oarang sahabat).
2) Mutawātir Ma‛ nawi
   Yang dimaksud dengan hadis Mutawātir Ma‛nawi adalah :
                                                        11
                                                             .ٔ‫ٍا ذ٘ا ذش ٍؼْآ دُٗ ىفظ‬
   Hadis yang Mutawātir maknanya saja, tidak pada lafaznya.
   Atau,
                        12
                             ‫ٕٗ٘ اُ ٌْقو جَا ػح ٌسرحٍو ذ٘ا طؤٌٕ ػيى اىنزب ٗق‬
                                  ‫ا ئغ ٍحريفح ذشرشك فً اٍش ٍؼٍِ فٍنُ٘ ٕزا االٍش‬
                                                                              .‫ٍر٘اذشا‬
   Yaitu bahwa meriwayatkan sejumlah perawi, yang mustahil mereka
   bersepakat untuk melakukan dusta, akan beberapa peristiwa yang
   berbeda namun hakikat permasalahannya adalah sama, maka jadilah
   permasalahan itu Mutawātir
Contoh hadis Mutawātir Ma‛nawi adalah :
1. Hadis tentang mengangkat tangan ketika berdoa. Telah diriwayatkan
   lebih dari seratus Hadis mengenai mengangkat tangan ketika berdoa,
   namun dengan lafaz yang berbeda antara yang satu dengan yang

           9
              Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, hal. 301
           10
              Al-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, (Beirut; Dar al-Qaib, 1982)h. 19
           11
              Ibid. H.20
           12
              Ibn al-Shalah, „Ulum al-Hadits, h. 242; Al Suyuthi, Tadribal-Rawi, h.35



                                            -5-
   lainnya. Masing-masing lafaz tidak sampai ke derajat Mutawātir, tetapi
   makna dari keseluruhan lafaz-lafaz tersebut mengacu kepada satu
   makna, sehinnga secara Ma‛nawi hadis tersebut adalah Mutawātir.
2. Contoh lain adalah hadis tentang mengusap sepatu (al-mash ‛ala-
   khuffain), yang diriwayatkan secara bervariasi lafaznya oleh sekitar 70
   orang. 13
   Hadis Mutawātir bila dibandingkan dengan hadis ahad, jumlahnya
   sangat sedikit. Hadis-hadis mutawātir tersebut telah dihimpun didalam
   beberapa kitab, diantaranya :
a) Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akhbar al-Mutawātirah, oleh Al-suyuthi;
b) Qathfu al-Azhar oleh Al-suyuthi. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab
   yang pertama diatas diatas; dan
c) Nazhm al-Mutanatsir min al-hadits al-Mutawātir, oleh Muhammad bin
   ja‛far al-kattani.
d) Hukum dan kedudukan hadis Mutawātir
   Status dan hukum hadis Mutawātir adalah qat‛i al-wurud, yaitu pasti
   keberadaannya dan menghasilkan ilmu yang diharuri (pasti). Oleh
   karenanya, adalah wajib bagi umat islam untuk menerima dan
   mengamalkannya. Dan karenanya pula, orang yang menolak Hadis
   Mutawātir dihukumkan kafir. Seluruh Hadis Mutawātir adalah Maqbul,
   dan karena itu pembahasan mengenai keadaan para perawinya tidak
   diperlukan lagi. 14


B. Hadis Ahad
1. Pengertian Hadis Ahad
       Kata ahad berarti “satu”. Khabar al-wahid adalah kabar yang
diriwayatkan oleh satu orang. 15
Menurut istilah ilmu hadis, hadis Ahad berarti :

         13
            Ibn al-Shalah, „Ulum al-Hadits, h. 242; Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, h. 354;
     Al-Thahhan, Taisir, h. 20-2
         14
            Al-Thahhan, Taisir, h. 19
         15
            Ibid. h. 21



                                         -6-
                                                 16
                                                      .‫ٕ٘ ٍا ىٌ ٌجَغ ششٗط اىَر٘ا ذش‬
Hadis yang tidak memenui syarat Mutawātir.
       ‛Ajjaj al-khatib, yang membagi hadis berdasarkan jumlah kepada
tiga, yaitu Mutawātir, Mahsyur, dan Ahad, mengemukakan definisi Hadis
Ahad sebagai berikut :
                      17
                           ‫ٕ٘ ٍا سٗآ اى٘احذ اٗاالثْاُ فامثش ٍَا ىٌ ذر٘فش فٍٔ ششٗط‬
                                                                .‫اىَشٖ٘س اٗاىَر٘اذش‬
       Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi,
dua atau lebih, selama tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Mahsyur atau
Hadis Mutawātir.
       Dari definisi ‛Ajjaj al-khatib diatas dapat dipahami bahwa Hadis
Ahad adalah Hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang
terdapat pada hadis Mutawātir ataupun Hadis Mahsyur. Didalam
pembahasan berikut, yang dipedomani adalah definisi yang dikemukakan
oleh jumhur ulama Hadis, yang mengelompokkan Hadis Masyhur kedalam
kelompok Hadis Ahad.


2. Macam-macam Hadis Ahad
          Hadis Ahad terbagi menjadi tiga macam, yaitu : Mahsyhur, ‛Aziz,
dan Gharib.
1) Hadis Masyhur
               Secara bahasa, kata Mahsyur adalah isim maf‛ul dari syahara,
yang berarti “al-zhuhur”, yaitu nyata. Sedangkan pengertian Hadis Mahsyur
menurut istilah Ilmu Hadis adalah :
                 18
                      .‫ٍا سٗآ ثال ثح فامثش – فً مو طثقح – ٍا ىٌ ٌثيغ حذ اىر٘ا ذش‬
   Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih, pada setiap
tingkatan sanad, selama tidak sampai kepada tingkat , Mutawātir.



         16
            Ibid.
         17
            „Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, h.302
         18
            Al-Thahhan, Taisir, h.22



                                          -7-
    Definisi diatas menjelaskan, bahwa Hadis Masyhur adalah Hadis yang
memiliki perowi sekurang – kurangnya tiga orang, dan jumlah tersebut haus
terdapat pada setiap tingkatan sanad
                  Menurut Ibnu Hajar, Hadis Masyhur adalah :
                            19
                                 ‫اىَشٖ٘س ٍا ىٔ طشق ٍحص٘سج تامثش ٍِ اثٍِْ ٗىٌ ٌثيغ‬
                                                                       .‫حذ اىر٘اذش‬
                  Dalam pada itu, terdapat istilah lain yang sering disamakan
dengan Mahsyur, yaitu Al-Mutafidh secara bahasa adalah isim fa‛il dari
istifadha, berasal dari kata fadha, yang berarti “melimpah”. Para ulama
Hadis berbeda pendapat dalam memberikan definisi al-Mustafidh kepada
tiga, yaitu :
1) Sama pengertiannya (muradif) dengan Mahsyhur.
2) Lebih khusus pengertiannya dari Masyhur, karena pada Mustafidh
    disyaratkan kedua sisi sanadnya harus sama, sedangkan pada Mahsyur
    tidak disyaratkan demikian.
3) Lebih luas dari masyhur, yaitu kebalikan dari pengertian nomor (2)
    diatas. 20
      Selain hadis masyhur yang dikenal secara khusus dikalangan Ulama
Hadis, sebagaimana yang telah dikemukakan definisinya diatas dan disebut
dngan al-Masyhur al-ishthilahi, juga terdapat hadis Masyhur yang dikenal
dikalangan Ulama lain selain Ulama Hadis dan dikalangan Umat secara
umum. Hadis mahsyur dalam ishthilahi yang mencakup Hadis-hadis yang
sanad-nya terdiri dari satu orang perawi atau lebih pada setiap tingkatannya,
atau bahkan yang tidak mempunyai sanad sama sekali.
      Dengan demikian, hadis masyhur dapat dibedakan menjadi enam
macam, yaitu :
(1) Hadis masyhur dikalangan ulama hadis, yaitu hadis yang diriwayatkan
oleh tiga orang perawi atau lebih. Contohnya, adalah hadis yang berasal dari
Anas r.a., dia berkata :

           19
                Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, h. 302
           20
                Al-Thahhan, Taisir, h. 22



                                             -8-
                           ‫اُ سس٘ه اهلل صيى اهلل ػئٍ ٗسيٌ قْد تؼذ اىشم٘ع‬
                             }ٌ‫ٌذػ٘ ػيى سػو ٗر م٘اُ {سٗآ اىثخاسي ٍٗسي‬
Bahwsanya Rasulullah saw berkunut selama satu bulan setelah rukuk
mendoakan hukuman atas (tindakan kejahatan) penduduk Ri‛lin dan
Zakwan. (HR Bukhari dan Muslim).


(2)   Hadis Masyhur dikalangan fuqaha, seperti hadis :
                             ِ‫اتغض اىحاله اىى اهلل اىطالق {سٗآ ات٘داٗد ٗات‬
                                                                    }ٔ‫ٍا ج‬
              Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak. (HR
      Abu Dawud dan Ibn Majah)
(3)   Hadis masyhur dikalangan ulama Ushul Fiqh, contohnya :
                    ِ‫سفغ ػِ اٍرً اىخطا ّٗسٍاُ ٍٗا ىسرنشٕ٘ا ػئٍ {ؤٗآ ات‬
                                                                     }ٔ‫ٍاج‬
      Diangkatkan (dosa / hukuman) dari umatku karena tersalah (tidak
      disengaja), lupa, dan perbuatan yang dilakukan karena terpaksa. (HR
      Ibn Majah).
(4)   Hadis masyhur dikalangan ulama hadis, Fuqaha, ulama ushul fiqh, dan
      dikalangan awam, seperti :
                          ‫اىَسيٌ ٍِ سيٌ اىَسيَُ٘ ٍِ ىسأّ ٌٗذٓ, ٗاىَٖاجش‬
                                   }ٌ‫ٍِ ٕجش ٍا حشً اهلل {سٗآ اىثخاسي ٍٗسي‬
      Muslim yang sebenarnya itu adalah orang yang selamat Muslim-
      muslim lainnya dan akibat lidah dan tangannya dan orang yang
      berhijrah itu adalah orang yang pindah (meninggalkan) segala
      perbuatan yang diharamkan Allah.
(5)   Hadis Masyhur dikalangan ahli Nahwu, yaitu seperti :
                                                           .‫ّؼٌ اىؼثذ صٍٖة‬
      Sebaik-baik hamba adalah shuhaib.
(6)   Hadis Masyhur dikalangan awam adalah seperti :




                                     -9-
                                                 }‫اىؼجيح ٍِ اىشٍطاُ {سٗآ اىرشٍزي‬
     Tergesa-gesa itu adalah dari (perbuatan) setan. (HR Tirmidzi).
     Para Ulama Hadis telah menghimpun Hadis-hadis Masyhur tersebut
kedalam beberapa kitab, diantaranya :
a) Al-Maqashid al-Hasanah fima Isyatahara ‛ala al-Alsinah, karya Al-
   sakhawi;
b) Kasyf al-Khafa‛ wa Muzil al-Ilbas fima isytahara min al-hadits ‛ala
   alsinat al-Nas, karya Al-‛ijlawani; dan
c) Tamyiz al-thayyib min al-khabits fima yaduru ‛ala Alsinat al-Nas min
   al-Hadits, karya Ibn al-Daiba‛ al-Syaybani.21


2) Hadis ‛Aziz
     ‛Aziz menurut bahasa adallah shifat musyabbahat dari kata ‛azza-
ya‛izzu yang berarti qalla dan nadara, yaitu, “sedikit” dan “jarang”, atau
berasal dari kata ‛azza-ya‛azzu yang berarti qawiya dan isytadda, yaitu
“kuat” dan “sangat”.22
         Menurut istilah ilmu hadis, ‛Aziz berarti :
                                23
                                     .‫اّال ٌقو سٗاذٔ ػِ اثٍِْ فً جٍَغ طثقاخ اىسْذ‬
     Bahwa tidak kurang perawinya dari dua orang pada seluruh tingkatan
sanad.
     Definisi diatas menjelaskan bahwa hadis ‛Aziz adalah Hadis yang
perawinya tidak boleh kurang dari dua orang pada setiap tingkatan
sanadnya, namun boleh lebih daridua orang, seperti tiga, empat, atau lebih
dengan syarat bahwa pada salah satu tingkatan sanad harus ada yang
perawinya terdiri atas dua orang. Hal ini adalah untuk membedakannya dari
Hadis Masyhur.
     Contoh Hadis ‛Aziz adalah :



           21
              AL-Thahhan, Taisir, hal. 24
           22
              Ibid., h. 25
           23
              Ibid.



                                            - 10 -
                           24
                                  ُ‫ٍا سٗآ اىثخاسي ػِ اتً ٕشٌشج سضً اهلل ػْٔ ا‬
                         ‫سس٘ ه اهلل صيى اهلل ػئٍ ٗسيٌ قاه : ال ٌؤ ٍِ احذمٌ جرى‬
                                                          .ٓ‫امُ٘ احة اىٍٔ ٍِ ٗاىذٓ ٗىذ‬
       "Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah,
bahwa Rasul SAW bersabda, “tidak beriman salah seorang kamu sehingga
aku dicintai dari orang tuanya dan anaknya.”
     Hadis tersebut diatas diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari
Anas, dan dari Anas oleh Qatadah dan ‛Abd al-‛Aziz ibn Shuhaib, dan
diriwayatkan dari Qatadah oleh Syu‛bah dan Sa‛id, dan diriwayatkan dari
‛Abd al-‛Aziz oleh Isma‛il ibn ‛Aliyah dan ‛Abd al-Waris. Dan
diriwayatkan dari masing-masingnya oleh sekelompok (banyak) perawi.25
     Dari contoh diatas terlihat bahwa jumlah perawi yang terdiri atas dua
orang adalah mulai dari tingkatan sahabat dan Tabi‛in, dan pada tingkatan
selanjutnya jumlah perawinya mulai melebihi dari dua dan seterusnya, yang
keadaan demikian merupakan ciri dari Hadis ‛Aziz.


     Buku yang secara khusus menghimpun hadis-hadis ‛Aziz belum ada.
Hal ini mungkin karena sangat sedikitnya jumlah Hadis yang berstatus
‛Aziz, sehingga karenanya tidak ada Motivasi yang kuat bagi para Ulama
untuk menulis karya tentang Hadis ‛Hadis ‛Aziz ini.


3)   Hadis Garīb
     Menurut bahasa, kata gharib adalah shifat musyabbahat yang berarti
al-munfarid atau al-ba‛id ‛an aqaribihi, yaitu “yang menyendiri” atau “jauh
dari kerabatnya”.
                                Gharib menurut istilah ilmu hadis berarti :
                                                    26
                                                         .‫ٍٕ٘ا ٌْفشد تش ٗا ٌرٔ ساٗ ٗاحذ‬

          24
               Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Beirut; Dar al-Fikir, 1401 H/1981 M). 8 Juz I,
     hal. 9
          25
               Al-Thahhan, Taisir, h. 25-26
          26
               Ibid., hal. 27



                                           - 11 -
               Yaitu   Hadis     yang      menyendiri         seorang    perawi    dalam
      periwayatannya.
      Dari definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa setiaphadis yang
diriwayatkan oleh seorang perawi, baik pada setiap tingkatan sanad atau
pada bagian tingkatan sanad dan bahkan mungkin hanya pada satu tingkatan
sanad, maka Hadis tersebut dinamakan Hadis Gharib.
Pembagian Hadis gharib
               Hadis gharib terbagi dua, yaitu gharib muthlaq dan gharib Nisbi.
a. Gharib Muthlaq, yaitu :
                                  27
                                       ‫ٍا ٌْفشد ٌشٗاٌرٔ شخص ٗاحذ فً اصو سْذٕز‬
      Hadis yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya pada
asal sanad.
               Contoh hadis Ghsrib Muthlaq adalah hadis mengenai niat:
                                          28
                                               }ُ‫اَّا االػَو تا ىٍْا خ {اخشجٔ اىشٍحا‬
               Sesengguhnya seluruh amal itu bergantung pada niat. (HR
Bukhari dan Muslim).
               Hadis niat tersebut hanya diriwayatkan oleh ‛umar ibn al-
Khathab Sendiri ditingkat sahabat.
b. Gharib Nisbi, adalah :
                                                  29
                                                       ٓ‫ٍٕ٘ا ماّد اىغشا تح فً اثْاء سْذ‬
      Hadis yang terjadi gharib dipertengahan sanad-nya.
               Hadis Gharib Nisbi ini adalah Hadis yang diriwayatkan oleh
lebih dari seorang perawi pada asal sanad (perawi pada tingkat sahabat),
namun dipertengahan sanad-nya terdapat tingkatan yanga perawinya hanya
sendiri (satu orang)
      Contoh Hadis Gharib Nisbi, adalah




          27
              Ibid., h. 28
          28
              Bukhari, Shalih Al Bukhari, juz I, h. 2; Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar
      al-Fikr, 1414 H/1993 M), 2 juz: juz 2, h. 223
           29
              Al-Thahhan, Taisir, h. 28



                                          - 12 -
                              ْٔ‫ٍا سٗآ ٍاىل ػِ اىزٕشي ػِ اّس سضً اهلل ػ‬
                          ‫اىْثً صيى اهلل ػئٍ ٗسيٌ دخو ٍنح ٗػيى ساسٔ اىَغفش‬
                                                          }ُ‫{اخش دٓ اىشٍخا‬
      Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari al-Zuhri dari Anas r.a,
bahwasannya Nabi saw memasuki kota mekah dan di atas kepalanya
terdapat al-mighfar (alat penutup / penutup kepala). (HR Bukhari dan
Muslim).
       Pada Hadis diatas, hanya Malik sendiri yang menerima Hadis
tersebut dari al-Zuhri.
       Kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis Gharib diantaranya
adalah :
a. Ghara‛ib Malik, karya Al-Dar Quthni;
b. Al-Afrad, karya Al-Dar Quthni; dan
c. Al-Sunan allati tafarrada bi kulli sunnah minha Ahl Baldah, oleh Abu
Dawud al-Sijistani.


C. Hukum Orang Yang Mengingkari
      Hukum hadis masyhur tidak ada hubbungannya dengan sahhih atau
tidak suatu hadis karena diantara hadis masyhur terdapat hadis yang
mempunyai stataus shahih, hasan, atau daif, dan bahkan ada yang maudhu‛.
Akan tetapi, apabila suatu hadis masyhur tersebut berstatus shahih maka
hadis masyhur itu hukumnya lebih kuat dari pada hadis ‛Aziz dan gaib.
      Dikalangan ulama Hanafiah, hadis masyhur hukumnya adalah shaun,
yaitu mendekati yakin sehingga wajib beramal dengannya, akan tetapi,
karena kedudukannya tidak sampai kepada derajat Mutawātir, maka tidaklah
dihukumkan kafir sebagai orang yang menolak atau tidak beramal
dengannya.


III. PENUTUP




                                     - 13 -
Berdasarkan pembahasan diatas dapatlah diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. berdasarkan jumlah perawinya, hadis dapat dibagi kepada dua bagian
    yaitu hadis Mutawātir dan hadis ahad.
2. hadis Mutawātir adalah Hadis yang memiliki sanad yang pada setiap
    tingkatannya terdiri atas perowi yang banyak dengan jumlah yang
    menurut hukum adat atau akal tidak mungkin bersepakat untuk
    melakukan kebohongan terhadap Hadis yang mereka riwayatkan
    tersebut
3. hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, dua
    atau lebih, selama tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Mahsyur atau
    Hadis Mutawātir
4. hadis ahad terbagi menjadi tiga macam yaitu hadis Masyhur, ‛Aziz dan
    Ghaib.
5. hadis ahad hukumnya adalah shaun, yaitu mendsekati yakin sehingga
    wajib beramal dengannya, akan tetapi, karena kedudukannya tidak
    sampai kepada derajat Mutawātir, maka tidaklah dihukumkan kafir
    sebagai orang yang menolak atau tidak beramal dengannya.




                                  - 14 -
                         DAFTAR PUSTAKA
1. A. Yazid Qasim Koho, "Himpunan Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu",
         Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1986
2. Al-Thahhan. "Tafsir Mushthalah al-Hadits", Beirut : Dar al-jail, 1982
3. M. Ali Usman, dkk, "Hadis Qutsi, Bandung : CV. Penerbit diponegoro,
         2003
4. Muhammad ‛Ajjaj al-Khatib, "Usul al-Hadis", Beirut Dar al-Fikar,
         1981
5. Muhammad. Juhri, dkk, Sunan "At-Tirmidji", Semarang : CV. Asy
         Syifa‛. 1992
6. Nawir Yuslim, "Ulumul Hadis", Jakarta : Mutiara Sumber Widya. 2003
7. Ramli Abdul Wahid, "Study Ilmu Hadis", Medan : PP2-IK, 2003
8. Syekh Muhammad M. Ghazali, "Analisis Polemik Hadis", Surabaya :
         Dunia Ilmu, 1997
9. Jainuddin Hamidi, dkk, "shahih Bukhari", Jakarta : Widjaya, 1992




                                  - 15 -

				
DOCUMENT INFO
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl