Docstoc

Pencegahan Infeksi Nosokomial Dalam Praktek Dokter Gigi

Document Sample
Pencegahan Infeksi Nosokomial Dalam Praktek Dokter Gigi Powered By Docstoc
					Pencegahan Infeksi Nosokomial Dalam Praktek Dokter
Gigi
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada pasien setelah pasien dirawat di rumah sakti
selama 42-72 jam atau dalam kurun waktu 10 hari setelah keluar dari rumah sakit. Dengan
adanya Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang memberikan pelayanan rawat-inap bagi pasien, maka
ada kemungkinan terjadi infeksi nosokomial bagi pasien tersebut.

Infeksi nosokomial dapat terjadi karena :
1. Daya tahan atau kekebalan pasien rendah.
2. Jumlah pasien yang dirawat terlalu banyak.
3. Kurangnya petugas kesehatan, sehingga cenderung tidak dapat menjalankan prosedur baku.
4. Fasilitas perawatan dalam rumah sakit tidak memadai.
5. Keberadaan keluarga pasien yang turut membantu perawatan.
6. Tata ruang rumah sakit kurang baik.
7. Adanya kasus rujukan dari rumah sakit lain yang memiliki masalah penyakit endemik.
8. Adanya kasus karier penyakit menular yang tidak relevan dengan penyakit yang sedang
diderita.
9. Pergantian petugas dari satu unit ke unit lain.

Resiko terjadinya infeksi nosokomial dipengaruhi oleh faktor resiko pada pasien itu sendiri
misalnya usia tua atau bayi premature, juga dipengaruhi oleh lingkungan misalnya rawat-inap
yang terlalu lama.

Untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui darah di rumah sakit, Center for
Disease Control telah menetapkan pedoman pencegahan. Konsep tersebut adalah : semua darah
dan cairan tubuh tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV, hepatitis
dan berbagai penyakit lainnya.

Pedoman pencegahan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit
dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien.
   a. Harus menggunakan sarung tangan bila : menyentuh darah atau cairan tubuh, selaput
lendir atau kulit yang tidak utuh; mengelola alat kedokteran/kedokteran gigi yang tercemar darah
atau cairan tubuh; mengerjakan semua prosedur yang menyangkut pembuluh darah. Sarung
tangan harus diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien.
   b. Menggunakan masker dan pelindung mata (kacamata) atau pelindung wajah (face shield)
bila mengerjakan prosedur yang memungkinkan terjadinya percikan darah atau cairan tubuh agar
mukosa mulut, hidung dan mata terhindar dari percikan. Masker dipakai hanya dalam waktu 20
menit, satu masker untuk satu pasien. Bila dipakai lebih dari 20 menit, permukaan luar masker
akan menjadi tempat perlekatan bakteri patogen dan tidak lagi berfungsi sebagai barrier.
   c. memakai baju praktek khusus pada waktu melakukan tindakan yang dapat menimbulkan
percikan darah atau cairan tubuh lainnya.
2. Tangan dan bagian tubuh lainnya harus dicuci sebersih mungkin dengan sabun antiseptik bila
tercemar darah atau cairan tubuh lainnya. Tangan harus segera dicuci segera setelah melepas
sarung tangan.
3. Semua petugas kesehatan harus memakai sarung tangan khusus (heavy duty) untuk mencegah
kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan benda tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan, pada
saat membersihkan peralatan, membuang sampah atau ketika membereskan peralatan setelah
berlangsungnya prosedur/tindakan. Semua benda tajam yang telah selesai digunakan harus
ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan tusukan dan dimasukkan ke dalam kantung
khusus (Bio Hazzard Bag), serta harus terjamin aman untuk dibawa ke tempat pemrosesan alat
atau ke tempat pemusnahannya (incinerator).
4. Tindakan resusitasi dari mulut ke mulut harus dihindarkan, sehingga perlu disediakan alat
resusitasi di setiap tempat yang mungkin memerlukan tindakan resusitasi.
5. Petugas yang mempunyai luka atau lesi yang mengeluarkan cairan, misalnya dermatitis basah,
harus menghindari tugas yang bersifat kontak langsung dengan peralatan yang telah digunakan
untuk pasien. Bila dokter gigi/perawat gigi memiliki luka pada jarinya, maka luka tersebut harus
ditutup dengan plester sebelum memakai sarung tangan.

Penatalaksanaan bagi tenaga kesehatan yang berkontak dengan darah atau cairan tubuh :
1. Bila tertusuk jarum, terpotong dan lain-lain, keluarkan darah sebanyak-banyaknya, cuci
dengan sabun antiseptik dan air atau dengan air saja sebanyak-banyaknya.
2. Bila mengenai mata, cuci mata dengan air atau NaCl secara hati-hati dengan mata dalam
keadaan terbuka.
3. Bila mengenai mulut, keluarkan cairan infektif dengan cara berludah, kemudian kumur-
kumur dengan air beberapa kali.
4. Bila mengenai kulit utuh/sedang mengalami luka, lecet atau dermatitis, cucilah sebersih
mungkin dengan air dan sabun antiseptik.


Oleh : Ratna I.S., sumber : Tabloid BIDI, Rabu 10 November 2004)

Dikutip dari Bulletin PDGI Jakarta Barat vol. 01 no. 01, Desember 2005

                             < Sebelumnya           Berikutnya >
[ Kembali ]
http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=410&Itemid=1

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:312
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:2
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl