Docstoc

BAB II (senin 10 Mei 2010)

Document Sample
BAB II (senin 10 Mei 2010) Powered By Docstoc
					                                     BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

2.1.1. Pengertian

              Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak

      segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar,

      2005)

              Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas

      spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin

      meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih

      lanjut. (Manuaba, 2003)

              Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat

      bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir

      (Mansjoer, 2000)

              Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan

      asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan

      kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi

      organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001)

              Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2),

      hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).




                                        7
                                                                            8




2.1.2. Jenis Asfiksia

       Ada dua macam jenis asfiksia, yaitu :

2.1.2.1. Asfiksia livida (biru)

       Warna kulit pada bayi kebiru-biruan, tonus otot masih baik, reaksi ada,

       bunyi jantung masih teratur, prognosis lebih baik.

2.1.2.2. Asfiksia pallida (putih)

       Warna kulit pada bayi pucat, tonus otot sudah kurang, reaksi terhadap

       ransangan tidak ada, bunyi jantung tidak teratur, prognosis tidak baik

       (Mochtar, 2005).


2.1.3. Klasifikasi Asfiksia

       Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR

2.1.3.1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3

2.1.3.2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6

2.2.3.3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9

2.2.3.4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10


2.1.4. Etiologi

       Penyebab asfiksia menurut Mochtar (2005) adalah :

2.1.4.1. Asfiksia dalam kehamilan

2.1.4.1.1. Penyakit infeksi akut

2.1.4.1.2. Penyakit infeksi kronik

2.1.4.1.3. Keracunan oleh obat-obat bius

2.1.4.1.4. Uraemia dan toksemia gravidarum

2.1.4.1.5. Anemia berat
                                                                                      9




2.1.4.1.6. Cacat bawaan

2.1.4.1.7. Trauma

2.1.4.2. Asfiksia dalam persalinan

2.1.4.2.1. Kekurangan O2.

2.1.4.2.1.1. Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)

2.1.4.2.1.2. Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus

             mengganggu sirkulasi darah ke uri.

2.1.4.2.1.3. Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.

2.1.4.2.1.4. Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.

2.1.4.2.1.5. Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.

2.1.4.2.1.6. Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.

2.1.4.2.1.7. Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.

2.1.4.2.2. Paralisis pusat pernafasan

2.1.4.2.2.1. Trauma dari luar seperti oleh tindakan forseps

2.1.4.2.2.2.Trauma dari dalam : akibat obet bius.

Penyebab asfiksia Stright (2004) :

1. Faktor ibu, meliputi amnionitis, anemia, diabetes hioertensi yang diinduksi

   oleh kehamilan, obat-obatan iinfeksi.

2. Faktor uterus, meliputi persalinan lama, persentasi janin abnormal.

3. Faktor plasenta, meliputi plasenta previa, solusio plasenta, insufisiensi plasenta.

4. Faktor umbilikal, meliputi prolaps tali pusat, lilitan tali pusat.

5. Faktor janin, meliputi disproporsi sefalopelvis, kelainan kongenital, kesulitan

   kelahiran.
                                                                                 10




2.1.5. Manifestasi Klinik

2.1.5.1. Pada Kehamilan

        Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100

        x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.

2.1.5.1.1. Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia

2.1.5.1.2. Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia

2.1.5.1.3. Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat

2.1.5.2. Pada bayi setelah lahir

2.1.5.2.1. Bayi pucat dan kebiru-biruan

2.1.5.2.2. Usaha bernafas minimal atau tidak ada

2.1.5.2.3. Hipoksia

2.1.5.2.4. Asidosis metabolik atau respiratori

2.1.5.2.5. Perubahan fungsi jantung

2.1.5.2.6. Kegagalan sistem multiorgan

2.1.5.2.7. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik :

          kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.


2.1.6. Patofisiologi

              Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah

      rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin)

      menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus

      tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus

      simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan

      menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita
                                                                             11




      periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru,

      bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak

      berkembang .

                     Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti,

          denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler

          berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu

          primer.

             Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam,

      denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan

      bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah

      sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder,

      denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus

      menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan

      menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika

      resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera

      ((Mochtar, 2005)


2.2. Penanganan

2.2.1. Jangan biarkan bayi kedinginan (balut dengan kain, bersihkan mulut dan

      jalan nafas.

2.2.2. Lakukan resusitasi dengan alat yang dimasukkan ke dalam mulut untuk

      mengalirkan O2 dengan tekanan 12 mmHg. Dapat juga dilakukan mesase

      jantung atau menekan dan melepaskan dada bayi.
                                                                               12




                Pemberian O2 harus hati-hati, terutama bayi prematur. Bisa

      menyebabkan lenticular fibrosis oleh pemberian O2 dalam konsentrasi

      lebih dari 35 % dan lebih dari 24 jam sehingga bayi menjadi buta.

2.2.3. Gejala perdarahan otak biasanya terjadi pada beberapa hari postpartum, jadi

      kepala dapat direndahkan, supaya lendir yang menyumbat pernapasan dapat

      keluar.

2.2.4. Kalau ada dugaan perdarahan otak berikan injeksi vit. K 1-2 mg.

2.2.5. Berikan transfusi darah via tali pusat atau pemberian glukosa

      (Mochtar, 2005)


2.3. Pengawasan

            Pengawasan bayi pada saat partus adalah hal yang penting. Hal ini

    didukung dengan kerja sama bagian ilmu kesehatan anak.

    Yang harus diperhatikan :

    - Hindari forsep tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta

      pemberian pituitarin dalam dosis tinggi.

    - Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan O2

      dan darah segar

    - Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat dan jangan menunggu

      terlalu lama kala II (Mochtar, 2005)
                                                                              13




2.4. Pengawasan Observasi Tanda-Tanda Asfiksia

    Dapat dilihat dengan Apgar-Score


     No. Tanda-tanda Vital        Nilai = 1         Nilai = 2         Nilai = 3

      1. Denyut jantung      Tidak ada          < 100               > 100
      2. Usaha bernafas      Tidak ada          Lemah/Tidak         Menangis kuat
                                                teratur
      3. Tonus Otot          Lumpuh             Ekstremitas dalam   Gerakan aktif
                                                fleksi sedikit
      4. Refleks             Tidak ada          Sedikit gerakan     Menangis kuat
      5. Warna kulit         Pucat atau biru    Tubuh               Seluruh tubuh
                             seluruh tubuh      kemerahan,          kemerahan
                                                ekstremitas biru


2.5. Klasifikasi Klinik Nilai APGAR

2.5.1. Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)

              Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen

      terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan natrikus

      bikarbonas 7,5% dengan dosi 2,4 ml/Kg BB ; dan cairan glukosa 40% 1-2

      ml/Kg BB, diberikan via vena umbilicus.

2.5.2. Asfiksi Ringan (Nilai APGAR 4-6)

              Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat

      bernafas normal kembali.

2.5.3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (Nilai APGAR 7-9)

2.5.4. Bayi Normal dengan nilai APGAR 10


2.6. Tinjauan Variabel

2.6.1. Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam

      tingkatan, yaitu :
                                                                             14




2.6.1.1. Tahu (Know)

                Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari

        sebelumnya, termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

        kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

        dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh sebab itu tahu ini

        merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

        mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain

        menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagai-

        nya.

2.6.1.2. Memahami (Comprehension)

                Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

        secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan

        materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau

        materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

        meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

2.6.1.3. Aplikasi (Aplication)

                Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

        materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang real

        (sebenarnya). Aplikasi disini diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan

        hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks

        atau situasi yang lain.
                                                                                  15




2.6.1.4. Analisis (Analysis)

                Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

        suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur

        organisasi tersebut dan kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini

        dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan

        (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan

        sebagainya.

2.6.1.5. Sintesis (Syntesis)

                Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan meletakkan atau

        menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang

        baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

        formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat

        menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan,

        dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah

        ada.

2.6.1.6. Evaluasi (Evaluation)

                Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

        penelitian-penelitian terhadap suatu objek. Penelitian itu berdasarkan

        suatu kriteria yang ditentukan sendiri dengan menggunakan kriteria yang

        telah ada (Notoatmodjo, 2003).


    2.6.2. Sikap

                   Sikap       adalah   pandangan   atau   perasaan   yang   disertai

           kecendrungan untuk bertindak sesui dengan objek (Purwanto, 1993),
                                                                             16




         Menurut Notoatmodjo (2005), sikap merupakan reaksi terhadap

         stimulus atau objek setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek,

         proses selnjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus.

                 Sikap adalah kesiapan merespon yang sifatnya positif atau

          objek atau situasi secara konsisten (Sunaryo, 2004).

                 Sedangkan menurut purwanto (2007), dalam beberapa hal

         sikap penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Setiap orang

         mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu ransangan . Ini

         disebabkan oleh berbagai factor yang ada pada individu masing-

         masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman,

         pengetahuan dan intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan.


2.7. Kerangka Teori


        Notoadmojo, 2005
          Pengetahuan
             Sikap


          Sunaryo, 2004                                Penanganan Asfiksia
              Sikap


          Purwanto, 2000
              Sikap

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:271
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:10
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl