Docstoc

No2 Syakhrudin 04 08

Document Sample
No2 Syakhrudin 04 08 Powered By Docstoc
					                                             Working Paper Series No. 2
                                               April 2008, First Draft




                 Pelayanan Kesehatan
                     Dasar Gratis
        Dampaknya terhadap Motivasi Kerja
      Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Banjar



                                  Syakhrudin,
                                    Kristiani




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                      1
                                                                                     Daftar Isi
Daftar Isi .............................................................................................. 2
Abstract ............................................................................................... 3
Latar Belakang .................................................................................... 4
Metode ................................................................................................. 5
Hasil dan Pembahasan ......................................................................... 6
 Karakteristik Subyek. ....................................................................... 6
 Insentif Material. .............................................................................. 6
 Motivasi Kerja Petugas. .................................................................. 10
 Dampak Kebijakan Pelayanan Gratis. ............................................ 10
Kesimpulan ........................................................................................ 12
Saran .................................................................................................. 12
Daftar Pustaka ................................................................................... 13
Lampiran ........................................................................................... 16




                                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
 2
                                                                   Abstract
        The Impact of Free Primary Health Service to the Work
            Motivation in Patientcommunity Health Center
                     Banjar Regent South Borneo
                                  Syakhrudin1, Kristiani2
        In order to increasing public’s welfare, especially in a health, Banjar Re-
gent made one policy to create primary health service charge of free in Commu-
nity Health Center to the public without differentiate the socioeconomic status,
with 2006 Decision Letters of Banjar Regent, No. 05. In performing this policy,
there is much problem both technical and operational. Among others is, that the
policy not be balanced with increasing incentive, compensation, and equity add-
ing earning for the official that provide the service. To knowing the depiction of
official’s work motivation in inpatient Community Health Center, product of
free health service policy.
        The research was descriptive research by qualitative approach. The re-
search perform in three in patient of Community Health Center, the research
subject, head, physician, obstetrician, and nurse of inpatient of Community
Health Center. The research data was obtained by in-depth interview, and focus
group discussion, the research variable was independent variable, material in-
centive and compensation sub variable and the earning number, and dependent
variable was motivation to work of the official.
        The result showed that material incentive system before free service poli-
cy not be problem for the official because the action that be perform not so
much, after the policy be implemented, material incentive not suite with the ac-
tion that be performing, the patient number increasing two time, while the offi-
cial are limited, they hope of extra incentive in material form and the non ma-
terial. The official response to compensation that be given, not had worth at all if
compared to the work burden that very much, infrastructure and equipment that
very limited, then the compensation in financial form that be given in while time
made can not fast and decreasing the official’s work motivation caused by in-
equality, not transparency, and less on clear information from fund management.
After there is free health service policy, just directly the official’s work motiva-
tion had decreasing, caused by perception on material incentive and compensa-
tion that not clearly its allocation and not budgeting exactly from the regional
government. After there is free health service policy, just directly the official’s
work motivation had decreasing, caused by perception on material incentive and
compensation that not clearly its allocation and not budgeting exactly from the
regional government.
Keyword: free service policy, work motivation, primary health service
1 Health Office of Banjar Regent, Province South Borneo
2 Salam Health Center, Magelang District


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                              3
                                                 Latar Belakang
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan merupakan tanggung jawab
bersama antara pemerintah dan masyarakat, sebagian besar dilakukan
melalui puskesmas. Bertujuan meningkatkan derajat kesehatan dan
mensejahtrakan masyarakat khususnya dibidang kesehatan maka
pemerintah Kabupaten Banjar mengeluarkan SK Bupati Nomor 05
Tahun 2006 tentang pelayanan kesehatan dasar gratis di puskesmas
yang diberlakukan sejak tanggal 1 Januari tahun 2006. Pelayanan ini
diberlakukan untuk semua lapisan masyarakat yang ada di Kabupaten
Banjar tidak melihat tingkat ekonomi. Bentuk dari program ini
pemerintah Kabupaten Banjar menyediakan subsidi melalui DASK
Dinas Kesehatan dalam bentuk jasa pelayanan, bahan dan alat
kesehatan habis pakai serta pelayanan rawat inap, harapan dari
program ini adalah agar masyarakat Kabupaten Banjar mempunyai
akses terhadap pelayanan kesehatan. Sebagai konsekuensi dari
pelayanan gratis ini berakibat jumlah pasien yang dilayani di
puskesmas rawat inap menjadi meningkat sementara penambahan
petugas tidak ada, sehingga timbul rasa ketidakpuasan petugas
terhadap kebijakan ini yang berdampak pada motivasi kerja petugas
yaitu tidak imbangi dengan penambahan insentif material bagi
petugas, untuk lebih jelasnya dapat dilihat penambahan jumlah pasien
yang dirawat di puskesmas rawat inap sebagaimana tabel 1.
Sistem pembagian jasa pelayanan berupa insentif dianggap sangat
bernilai bagi karyawan, maka akan mendatangkan persepsi yang
positif terhadap sistem pembagian jasa pelayanan tersebut1. Sementara
petugas akan menjadi turun motivasi kerjanya karena sistem insentif
yang mereka harapkan tidak sesuai dengan beban kerja yang
dilakukan dan kemungkinan merekan akan mencari pekerjaan dengan
insentif yang memenuhi harapan sebagai mana pendapat berikut,
bahwa apabila persepsi karyawan terhadap imbalan yang diterimanya
tidak memadai, maka kemungkinan karyawan tersebut akan berusaha
memperoleh imbalan yang lebih besar atau mengurangi insensitas
usaha dalam melaksanakan tanggung jawabnya2. Penelitian lain
menyebutkan menurut Silalahi3, tidak menemukan hubungan yang
kuat antara insentif dengan motivasi kerja karyawan. Tujuan
penelitian ini adalah mengevaluasi motivasi kerja petugas puskesmas
rawat inap setelah adanya kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis,
mengetahui gambaran insentif material, tanggapan petugas terhadap
kompensasi yang diterima setelah kebijakan pelayanan gratis.

                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
4
                                                         Metode
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitarif4, yang menggambarkan motivasi kerja petugas puskesmas
rawat inap akibat adanya pelayanan kesehatan dasar gratis menjadi
meningkat dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada
masyarakat, bagaimana insentif material yang didapat petugas
sebelum dan sesudah kebijakan pelayanan gratis, bagaimana
tanggapan petugas terhadap kompensasi yang diterima, dan
mengamati morivasi kerja petugas dalam rangka memberikan
pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Lokasi penelitian ini
dilakukan ditiga puskesmas rawat inap yang ada di kabupaten Banjar,
meliputi puskesmas Aluh-aluh, Pengaron, Sungai Alang. Subyek
penelitian adalah, kepala puskesmas, dokter puskesmas, Perawat
puskesmas, dan bidan puskesmas yang ada di puskesmas rawat inap.
Pemilihan informan dilakukan secara purposive, dengan kriteria
karyawan yang bertugas ditiga puskesmas rawat inap, jumlah
keseluruhan informan untuk tiga puskesmas adalah sebanyak dua
belas orang yang terdiri dari tiga orang kepala puskesmas, tiga orang
dokter, tiga orang perawat, dan tiga orang bidan. Subyek penelitian
adalah unit analisis yang akan diteliti yang menjadi pusat perhatian
atau sasaran penelitian, responden adalah orang yang memberikan
keterangan tentang fakta atau pendapat berupa lisan atau tulisan.
Informan adalah orang yang diharapkan dapat memberikan informasi5.
Data didapatkan melalui observasi dan, wawancara mendalam, diskusi
kelompok terarah. Alat bantu yang digunakan adalah pedoman
wawancara mendalam, pedoman diskusi kelompok terarah, dan
catatan lapangan dan tape recorder. Pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu 1) Pengambilan data
sekunder dilakukan dengan cara pengamatan dokumen yang
berhubungan dengan kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis di
puskesmas rawat inap, 2) Pengambilan data primer untuk wawancara
mendalam dilakukan kepada kepala puskesmas, dokter puskesmas,
perawat puskesmas, dan bidan puskesmas, untuk diskusi kelompok
terarah dilakukan kepada masing-masing 3 orang perawat yang
bertugas di puskesmas rawat inap. Analisis data dilakukan dengan
cara analisis deskriptif, yaitu dengan menguraikan fenomena
pemahaman dan persepsi dengan faktor yang melatar belakanginya.

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan               5
Selanjutnya dilakukan pengelompokan untuk mencari keterkaitan
antara berbagai variabel tersebut. Proses analisis data dimulai setelah
proses pengumpulan data dilakukan. Tahapan yang dilakukan adalah
setelah data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dari
informan untuk selanjutnya dilakukan, 1) melakukan traskrip hasil
pengumpulan data, 2) dilakukan koding yaitu proses pemecahan data
menjadi unit-unit dapat berupa kata, kalimat, paragrap pendek,
maupun bagian data yang memiliki makna sendiri, 3) axial coding
yaitu proses memahami unit-unit tersebut, merangkum kembali unit-
unit dalam bentuk kategori dan hubungan antar kategori, 4) Hasil di
interpretasikan untuk dibuat laporan6.

                                   Hasil dan Pembahasan
Karakteristik Subyek. Karakteristik subyek penelitian ini di bagi da-
lam dua yaitu kelompok pertama adalah subyek sebagai informan
wawancara mendalam seperti pada tabel 2. Kelompok subyek yang
kedua adalah sebagai informan diskusi kelompok terarah masing-
masing terdiri dari 2 orang perawat puskesmas rawat inap sebagai ma-
na pada tabel 3. Dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi pus-
kesmas pengaturan manajemen di dalam sebuah organisasi sangat me-
nentukan untuk keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan, berkaitan
dengan kebijakan pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat Kabu-
paten Banjar telah ditentukan berdasarkan SK Bupati No 05 tahun
2006 tetapi untuk petugas tidak dibuat SK yang menyatakan bagi
pemberi pelayanan diberikan penghasilan tambahan sebagai mana pe-
nelitian, Oda Rahmaniah (2007) menyatakan bahwa pemberian insen-
tif dari pemerintah daerah sangat berarti dalam penegakan disiplin dan
motivasi kerja sebab jika tidak masuk kerja akan terjadi pemotongan
insentif7. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberikan motivasi kerja
pada petugas dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.
Insentif Material. Rangkuman hasil penelitian yang berkenaan den-
gan insentif material dalam meningkatkan motivasi kerja petugas sete-
lah dilakukan koding dan dikatekorikan dari kepala , dokter, perawat,
dan bidan puskesmas rawat inap dapat dilihat pada tabel 4.
Berdasarkan rangkuman hasil penelitian yang terdapat pada tabel di
atas dapat diuraikan adalah semua informan menyatakan beban kerja
sangat tinggi karena selama kebijakan pelayanan kesehatan dasar ratis
dijalankan jumlah pasien meningkat 3 kali lipat dari sebelumnya dapat
dilihat pada tabel 4, namun peningkatan beban kerja ini tidak

                           Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
6
diimbangi dengan penambahan insentif yang sudah dari awalnya
sangat sedikit di perburuk lagi dengan adanya peningkatan jumlah
pasien yang dirawat, membuat semua petugas puskesmas rawat inap
menjadi sangat berat dalam melakukan tugasnya , dan dari tabel 4
kondisi trasparansi dan keadilan dalam pembagian insentif juga
menjadi persoalan yang mendasar bagi petugas dalam melakukan
kegiatan di puskesmas rawat inap karena hal ini menyebabkan ketidak
harmonisan kerja dan ketidak ada saling percaya diantara sesama
dalam sebuah organisasi, akan berdampak terhadap penurunan
motivasi kerja bagi petugas. Indikator-indikator tentang harapan ( hal-
hal yang diinginkan ) para pegawai adalah kondisi kerja yang baik,
perasaan ikut terlibat, pendisiplinan yang bijaksana, penghargaan
penuh atas penyelesaian pekerjaan, pemahaman yang simpatik atas
persoalan-persoalan pribadi dan jaminan pekerjaan8. Imbalan intrinsik
yang berupa uang yang paling sering digunakan di dalam kegiatan
organisasi, dan diberikan dalam bermacam-macam bentuk dan
berbagai basis, karena hal itu sangat besar pengaruhnya dalam
meningkatkan motivasi kerja para karyawan9.
Sebagian besar informan menyatakan bahwa sebelum kebijakan
pelayanan kesehatan dasar gratis dijalankan sudah ada pembagian
insentif di puskesmas rawat inap, sekalipun jumlahnya tidak banyak
sebagaimana kutipan wawancara mendalam berikut :
      ”...Saya rasa sudah ada pak..ini kan didapat dari hasil pembayaran pasien yang
     dirawat, yang taripnya sudah ditentukan berdasarkan Perda Bupati, uang itu
     dikumpul oleh bendahara puskesmas dan setelah itu dibagi-bagi untuk keperluan
     pembiayaan puskesmas dan selebihnya untuk dibagikan kepada petugas jaga, selain
     itu ada pula yang bersumber dari operasional puskesmas rawat inap yang sudah ada
     pembagiannya per shif jaga... ” (Informan No.6 ).

Sebagai mana diketahui insentif sangat berpengatuh terhadap petugas
dalam melakukan pekerjaan, Insentif adalah merupakan program
kompensasi yang mengaitkan bayaran (pay) dengan produktifitas,
tujuan dasar dari semua program insentif adalah meningkatkan
produktivitas para karyawan guna mencapai suatu keunggulan
kompetetitif10, Insentif finansial juga berfungsi untuk memuaskan
kebutuhan biologis, Karena ditengah masyarakat uang dianggap
menjadi salah satu tolok ukur pencapaian, nilainya sebagai motivator
dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan akan pengakuan, untuk realisasi
diri, dan untuk pencapaian lainnya, dalam manajemen sumber daya
manusia salah satu strategi implementasi sistem pemberian insentif
dapat memotivasi petugas untuk meningkatkan produktivitas kerja11.
Hal ini didukung berdasarkan hasil penelitian Elfian (2006) yang

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                    7
menyatakan bahwa untuk mencapai pelayanan prima perlu lebih
dahulu mensejahtrakan petugas dimana petugas akan bekerja
maksimal jika kompensasi yang diterima ada12.
Hasil penelitian pelayanan kesehatan gratis yang dilaksanakan di
Kabupaten Banjar baik sebelum maupun sesudah kebijakan secara
garis besar sebagai berikut, terutama yang dalam bentuk insentif
petugas, sangat segnefikan perbedaannya hal ini kalau di lihat kepada
kinerja petugas sangat berdampak dalam penyelesaian pekerjaan yang
mereka lakukan, karena mereka seolah-olah hanya setengah hati saja
untuk melaksanakan tugas dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun penelitian ini sesuai dengan Departemen Kesehatan RI, (2004)
bahwa puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya13. Sehubungan dengan
hal tersebut diatas pemberian kompensasi dalam bentuk finansial juga
merupakan salah satu aspek yang paling berarti bagi petugas maupun
keberhasilan tujuan organisasi organisasi.
Harapan petugas terhadap kompensasi dalam bentuk finansial, tidak
hanya itu mereka juga mengharapkan adanya uang transportasi dan
uang konsumsi, dan juga yang mengharapkan kompensasi non
finansial yaitu berupa rumah dinas, kendaraan dinas , peluang
melanjutkan pendidikan atas biaya pemerintah, peluang mengikuti
diklat, peluang mendapat kenaikan pangkat istimewa untuk PNS,
peluang untuk diangkat menjadi pegawai negeri bagi PTT. Hal ini
sesuai dengan Departemen Kesehatan RI, (2004), untuk
terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab puskesmas perlu
ditun ang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup14. Semua itu
akan menyangkut kepada peningkatan motivasi kerja petugas yang
berdampak kepada produktivitas kerja yang sesuai dengan apa yang
kita harapkan, pendapat Anoraga (2000), pada dasarnya seseorang
yang bekerja, mengharapkan imbalan yang sesuai dengan jenis
pekerjaannya, karena adanya upah yang sesuai dengan pekerjaannya,
maka timbul pula rasa gairah kerja yang semakin baik15.
Harapan Petugas terhadap Kompensasi. Harapan petugas terhadap
kompensasi yang diberikan adalah yang utama kompensasi dalam
bentuk finansial, tidak hanya itu mereka juga mengharapkan adanya
uang transportasi dan uang konsumsi bagi petugas jaga. Sebagian in-
foman mengharapkan kompensasi non finansial yaitu berupa kemuda-

                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
8
han-kemudahan untuk meningkatkan SDM seperti dokter yang mau
mengambil spesialis dan paramedis yang mau peneruskan kejenjang
pendidikan    yang    lebih   tinggi   atas   biaya    pemerintah,
mereka juga berharap untuk diikutkan dalam beberapa pelatihan yang
berhubungan dengan keperawatan dan kegawat daruratan yang rele-
fansinya sesuai dengan beban tugas yang dilaksanakan sehati-hari di
puskesmas rawat inap, sebagaimana diungkapkan beberapa petugas
yang ada dalam kutipannya berikut :
      ”...... Memang kompensasi material itu semua kita harapkan, tetapi kompensasi non
     material juga sangat diharapkan, dapat diberikan kemudahan-kemudahan untuk
     meningkatkan SDM seperti dokter yang mau meneruskan kespesialisasi dan
     paramedias yang mau melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, dan
     diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan tambahan yang berhubungan
     dengan kegiatan dipuskesmas rawat inap, seperti pelatihan Emergency Nursing, BTLS,
     dan juga kendaraan dinas roda dua atau roda empat.....” ( Informan No.1 ).

Rangkuman hasil penelitian yang berkenaan dengan harapan petugas
terhadap kompensasi dalam meningkatkan motivasi kerja petugas
setelah dilakukan koding dan dikatekorikan dari kepala, dokter,
perawat, dan bidan puskesmas rawat inap dapat dilihat pada tabel 5.
Dapat disimpulkan bahwa semua infoman ada kesamaan dalam
menyebutkan sumber kompensasi yang diharapkan dalam rangka
untuk memotivasi petugas puskasmas rawat inap, memang sumber
yang dominan adalah yang berasal dari pemerintah baik
daripemerintah daerah kabupaten/kota maupun dari pemerintah
propensi atau pemerintah pusat, memang sumber kompensasi yang
resmi ini adalah hal yang sangat penting untuk diketahui dengan jelas
agar kita dapat mengadakan pendekatan sebelumdan sesudah
diterimanya kompensasi. Bentuk kompensasi yang diharapkan dari
informan ada sebagian besar kesamaan namun itu tidak menjadi
persoalan yang menjadi perhatian didalam penelitian ini apakah
kompensasi yang di berikan baik sebelum atau sesudah adanya
kebijakan pelayanan kesehatan gratis ini ada perbedaan yaitu
perubahan yang sudah baik menjadi lebih baik atau yang masih buruk
menjadi lebih parah lagi. Berdasarkan hasil kutipan yang telah
tercantum pada hasil penelitian ini menyatakan bahwa kompensasi
yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja yang dilakukan
oleh petugas dan yang lebih parah lagi adalah pembagiannya tidak
dilakukan tiap bulan kepada petugas, sehingga dengan adanya
kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis ini sungguh sangat tidak
menyenangkan bagi petugas. Dengan demikian bahwa pemberian
kopensasi juga merupakan salah satu aspek yang paling berarti bagi
petugas maupun organisasi. Sistem kompensasi ini terbukti lebih

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                      9
efektif dalam pemeliharaan tenaga kerja dengan memotivasi petugas
untuk mencapai tingkat prestasi kerja yang lebih baik. Kompensasi
yang dirasakan bagi petugas sekarang ini belum begitu berarti kalau
dilihat dari segi beban kerja yang mereka lakukan, setelah kebijakan
pelayanan kesehatan gratis ini pasien yang dirawat menjadi meningkat
dua kali lipat kalau dibandingkan sebelumnya. Semakin tinggi
produktivitas yang dihasilkan oleh karyawan dalam waktu tertentu
maka semakin banyak kompensasi yang didapat dari perusahaan itu16,
sementara pembuat kebijakan sama sekali tidak bijak dalam menilai
dan memberikan kompensasi yang sesuai dengan beban kerja yang
ada, kenyataan di lapangan menunjukan terjadi kenaikan jumlah
pasien yang dirawat di pukesmas rawat inap.
Motivasi Kerja Petugas. Dari hasil penelitian ini semua petugas
menyatakan motivasi kerja petugas puskesmas rawat inap menurun,
mereka merasa tidak puas dengan pelaksanaan sistem insentif dan
kompensasi yang dijalankan selama ini, tujuan pemberian insentif dan
kompensasi untuk meningkatkan semangat kerja malah sebaliknya.
Tambahan penghasilan diluar gaji yang berupa insentif merupakan
faktor motivasi utama bagi para keryawan yang mampu menghasilkan
produktivitas yang lebih tinggi17. sesuai dengan apa yang diungkapkan
oleh informan dalam wawancara mendalam pada penelitian ini
sebagaimana kutipan berikut :
     ”.....Kalau untuk memotivasi petugas jaga sangat kurang, hanya dengan uang
     insentif segitu aja, yang diurusi pasiennya tambah banyak dari biasanya sebelum
     kebijakan ini, petugas kelihatannya bekerja setengah terpaksa......” ( Informan No 5 ).

Sehubungan dengan harapan dari petugas puskesmas rawat inap
terhadap insentif yang dapat mendorong petugas bekerja lebih
produktif dan bertanggung jawab, sehinga dapat terpenuhi kepuasan
kerja sebagaimana yang diharapkan. Kepuasan kerja seseorang
dipengaruhi faktor higienis dan faktor motivation. Faktor higienis
harus mencakup untuk memuaskan karyawan, sedangkan faktor-faktor
yang berkaitan dengan pekerjaan merupakan faktor motivation18.
Konsekuensi dari suatu tindakan kebijakan tidaklah pernah diketahui
secara penuh, dan oleh karena itu memantau tindakan kebijakan
merupakan suatu keharusan. Dalam memantau hasil kebijakan kita
harus membedakan dua jenis yaitu, keluaran dan dampak, keluaran
adalah barang, layanan, sumber daya yang diterima oleh kelompok
sasaran atau kelompok penerima 19.
Dampak Kebijakan Pelayanan Gratis. Dengan diberlakukanya
kebijakan sistem pelayanan kesehatan dasar gratis di Kabupaten

                                    Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
10
Banjar keadilan terhadap orang miskin jadi tidak jelas, dimana
masyarakat ekonomi menengah ke atas juga ikut menikmati
pelayanan, yang seharusnya masyarakat dengan ekonomi menengah
ke atas membantu masyarakat miskin dibidang pelayanan kesehatan
dengan jalan membayar apabila datang berobat ke puskesmas.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan gratis terhadap seluruh masyarakat
mengurangi porsi orang mampu untuk bisa membantu orang miskin.
Disamping itu dengan adanya pelayanan yang tidak dipungut bayaran
ini membuat masyarakat tidak menghargai dan meresapi arti penting
kesehatan, dampak kebijakan ini sangat tidak memberi motivasi kerja
kepada petugas puskesmas rawat inap dalam melaksanakan kegiatan
sebagai petugas pelaksana pelayanan keperawatan, berikut kutipan
wawancara mendalam dengan informan :
     ”......Kalau saya lihat sepintas dengan adanya kebijakan pelayanan kesehatan gratis
     ini, terkesan masyarakat kayaknya kurang meresapi bagaimana harus menjaga
     kesehatan secara mandiri, karena apa ?... Kalau memang akhirnya sakit batuk pilek
     saja ke puskesmas kan gratis, tinggal meminta obat, terlebih lagi bagaimana dengan
     program promotifnya sementara kita harus memberikan penyuluhan hidup bersih,
     hidup sehat, minum air sesudah dimasak dan membuang sampak harus begini....,
     harus begitu, sementara mereka menganggap untuk apa itu semua, untuk apa kita
     menjaga kesehatan toh lakau sakit kan berobatnya juga gratis sampai sakit dirawat
     pun gratis.....” (Informan No.9 ).


Pelayanan publik model baru arus bersifat nondiskriminatif
sebagaiman dimaksud oleh teori demokrasi yang menjamin adanya
persamaan hak warga negara tanpa membedakan asal usul, suku, ras,
etnes, agama dan latar belakang lainnya. Hal ini sesuai dengan
pendapat subarsono ( 2005 ) bahwa pelayanan publik yang non
diskriminatif dapat dilihat dari beberapa indikator, adanya akses
yangsan untuk semua orang mendapatkan pelayanan, pemberian
pelayanan publik kepada pelanggan berdasarkan nomor urut, tidak
diberlakukannya dispensasi pelayanan kepada pelanggan20. Sebagian
informan berpendapat kebijakan pelayanan gratis ini ada segi politis
dan tidak mendidik, menurut mereka masyarakat jadi ketergantungan.
Masyarakat diharapkan dapat mandiri dalam menjaga kesehatannya
dan mereka sebenarnya mampu membayar mahal dalam hal pelayanan
kesehatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Hidayat (1997)
bahwa kompensasi finansial yang dilaksanakan menimbulkan ketidak
puasan para dokter dan menurunkan motivasi kerja21, pernyataan
diatas juga sesuai dengan penelitian Basuki (2007) ketidak puasan
karyawan terjadi karena pihak penentu kebijakan tidak fokus pada
kualitas jasa petugas22.


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                       11
                                                       Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, perumusan masalah dan
tujuan penelitian dapat disimpulkan bahwa kebijakan pelayanan
kesehatan dasar gratis ini tidak disertai dengan penambahan insentif
yang sesuai dengan keinginan dan beban kerja petugas puskesmas
rawat, karena jumlah petugas sedikit dan jumlah pasien meningkat
tiga kali lipat dari sebelumnya. Kompensasi yang dirasakan bagi
petugas puskesmas rawat inap belum meningkatan motivasi kerja,
karena tidak seimbang dengan kegiatan yang dilaksanakan, dan
ketidak jelasan sumber, bentuk, serta manfaatnya. Motivasi kerja
petugas puskesmas rawat inap setelah kebijakan pelayanan kesehatan
gartis ini sangat menurun, karena jumlah insenti yang diterima petugas
terlalu kecil, bentuk insentifnya tidak jelas, dan tidak transparan.

                                                                   Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta mengacu kepada
manfaat penelitian, maka rasan yang diberikan antara lain kepada
Pemerintah daerah Kabupaten Banjar petugas puskesmas rawat inap
hendaknya di berikan kompensasi material dan non material dalam hal
ini diberikan kesempatan meningkatkan SDM dengan bantuan
tunjangan tugas belajar, diberikan kemudahan dalam kenaikan
pangkat, serta bagi pegawai yang masih berstatus PTT/honorer agar di
prioritaskan untuk dapat diangkat menjadi pegawai negeri sipil penuh.
Kebijakan Bupati tentang PKDG ini bisa diteruskan dengan membuat
suatu modifikasi kebijakan yaitu bagi masyarakat miskin dan yang
kurang mampu silahkan untuk diberikan pelayanan gratis tetapi bagi
masyarakat yang mampu di sediakan jenis pelayanan yang berbeda
sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang mereka miliki yaitu
dengan pola pelayanan prabayar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar bekerja sama dengan
bagian Tata Usaha, Subagian Perencanaan, dan Sudin Pelayanan
Kesehatan serta seksi tekait melakukan pengkajian ulang terhadap
pembuatan anggaran oprasional, dan mengusulkan tunjangan kinerja
petugas untuk peningkatan kesejahtraan petugas puskesmas rawat
inap. Hendaknya kepala puskesmas memahami dan menilaian lebih
jauh tentang makna insentif material dan kompensasi, di mana
keduanya bagi petugas pelaksana puskesmas rawat inap tidak
dipandang dari segi besarnya uang tetapi lebih ditekankan pada

                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
12
penghargaan terhadap upaya-upaya yang telah mereka lakukan.
Diperlukan transparansi bagi pengelola keuangan yang merupakan
masalah paling penting dalam mempengaruhi para petugas puskesmas
rawat inap terhadap sisten insentif dan kompensasi yang telah
dilaksanakan. Perlu informasi yang jelas dari pihak pengelola
keuangan puskesmas terhadap sistem keuangan yang diberlakukan,
pada waktu rapat interen atau pada waktu lokmin bulanan puskesmas
agar menghilangkan persepsi yang kurang trasparan. Kepada peneliti
lain disarankan melakukan penelitian lanjutan untuk mengembangkan
alat ukur motivasi dan kepuasan kerja terhadap petugas dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat.

                                                       Daftar Pustaka
1. Sculer, R.S., and Huber, V.L. Personal and Human Resource Man-
   agement, St.Paul, Minesota.1993
2. Siagian, S,P., (2001), Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, PT
   Rineka Cipta: Jakarta
3. Silalahi,H.E, Hubungan Persepsi Mengenai Sistem Pembagian
   Insentif dan Kepuasan Kerja Karyawan di RS HKBP Balige, Tesis,
   MMR UGM, Yogyakarta. 1999
4. Utarini, A., (2005), Metode Penelitian Kualitatif, Gadjah Mada
   University Press, 2005
5. Sudrajat, M.B., (2005), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Pustaka
   Setia: Bandung
6. Arikunto., S, (2002), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
   Praktek edisi V,: Jakarta : Rinika Cipta
7. Rahmasiah,O., (2007), Mutu Pelayanan Setelah Kebijakan
   Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis di Kota Banjarbaru, Tesis,
   KMPK UGM, Yogyakarta. 2007
8. Hersey, P & Blancadrd, K, (1992), Manajemen Perilaku
   Organisasi, Pemberdayaan Sumberdaya Manusia, Penerbit
   Erlangga, Jakarta




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan               13
9. Simamora, H, (2003), Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi
   Ketiga, STIE YKPN : Yogyakarta
10. Ayuningtyas, (2006), Sistem Pemberian Insentif yang Berpihak
    pada Sumber Daya Manusia Kesehatan di Derah Terpencil,
    Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol 9, No. 02 Juni
    2006 PP: 90.
11. Simamora, H., (2003), Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi
    Ketiga, STIE, YKPN : Yogyakarta
12. Elfian, (2006), Penerapan Sistem Pelayanan gratis oleh dokter
    dan perawat di Puskesmas Kampar, Tesis Program Pascasarjana
    IKM, UGM Yogyakarta
13. Dep Kes (2004)a, Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
14. Dep Kes (2004)b,         Kebijakan      Dasar      Pusat     Kesehatan
    Masyarakat
15. Amoraga, P., (2000), Psikologi kerja , edisi IV ; Jakarta : Rinika
    Cipta
16. Tjiptono, F., (2000), Manjemen Jasa, Yogyakarta : Andi Offset
17. Siagian, S,P., (2001), Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja,
    PT Rineka Cipta: Jakarta
18. Dunn, W, N., (2003), Pengantar Analisis Kebijakan Publik Edisi
    kedua, Gadjah Mada University Press, Yoigyakarta
19. Subardono, F., (2000), Pelayanan Publik Yang efisien, Resposif,
    dan Not partisan. In: Dwiyanto, A edisi Mewujudkan Good
    Governace Melalui Pelayanan Kesehatan Publik : Gadjah Mada
    University Press
20. Hidayat.D., (1997), Sistem Kompensasi dan Motivasi Kerja
    Dokter di RSUD Tasikmalaya, Tesis Program Pascasarjana
    IKM,UGM Yogyakarta
21. Basuki. P.S., (2007), Harapan Pelanggan dan Litatih Terhadap
    Pelayanan Balai Pelatihan Kesehatan Provensi Kalimantan
    Selatan, Tesis Program Pascasarjana IKM, UGM Yogyakarta


                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
14
22. Handoko, H., (2001), Manajemen Personalia dan Sumber Daya
    Manusia, BPFE :Yogyakarta




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan       15
                                                                Lampiran
           Tabel 1. Pemanfaatan Rawat Inap Puskesmas

                                           Tahun
       Puskesmas
                          2003         2004      2005             2006
       Aluh-aluh           110          118      134              368
       Pengaron            30           44        48              205
      Sungai Alang         34           48        50              215
        Jumlah            174          210       232              788




                  Tabel 2. Jabatan Petugas Puskesmas
                                   JABATAN/PROFESI
PUSKESMAS
                        Kepala
                                         Dokter        Perawat        Bidan
                      puskesmas
     Aluh-aluh             1                 1              1            1
     Pengaron              1                 1              1            1
     Sei Alang             1                 1              1            1
     Jumlah                3                 3              3            3




                 Tabel 3. Pendidikan Petugas Puskesmas
                                        PENDIDKAN
      PUSKESMAS                PROFESI      SKP                   AKPER
        Aluh-aluh               Perawat       1                     1
        Pengaron                Perawat      0                      2
       Sungai Alang             Perawat      0                      2
         Jumlah                               1                     5




                            Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
16
              Tabel 4. Pendapat Petugas Tentang Beban kerja,
                    Imbalan,Transparansi dan Keadilan

                                                                           Transaptan dan
  Petugas               Beban kerja                Imbalan
                                                                              keadilan
                  - Petugas jaga sesuai      - Terasa sangat sedikit   - Tidak jadi masalah
Kepala            - Profesi                  - Sebagai perangsang      - Tdk disampaikan
Puskes            - Dihitung stlh akhir        kerja                     pada rapat bulanan
                    bln                      - Terima atau tdk         - Yang dpt petugas
                                               sama saja                 terlibat langsung
                  - Petugas jaga sendiri.   - Jasa Layanan tdk         - Tidak mengetahui jlh
                  - Semua minta di             dihargai.                 dana yang ada.
                    periksa dokter          - Tidak ada tambahan       - Pembicaraan khusus
                  - Waktu tdk terbatas         lain                      insentif tdk ada
   Dokter
                  - Kerja tdk efesien       - Insentif terlalu kecil   - Insentif sama dgn
                  - Banyak tugas yg         - Perlu ada tunjangan        petugas lain
                    dilakukan.                 khusus.

                  - Petugas kerja           - Insentif sangat kecil    - Jumlah dana tdk
                    rangkap                 - Jasa dibayar pershif       pernah tahu.
                  - Kerja 24 jam dan tdk    - Perlu ada dana           - Pembagian tdk di
Perawat             mengenal hari           - Tambahan.                  bicarakan sblmnya.
                    libur/hari besar.       - Insentif sering          - Prosentase pembagian
                  - Jumlah pasien             terlambat.                 tdk jelas
                    banyak yg rawat.        - Tdk ada bonus lain       - Kerja banyak
                  - Petugas kerja sendiri                                sosialnya.
                  - Jaga sore & malam.
                  - Pasien banyak.          -   Insentif tidak ber-    -   Tdak pernah
                  - Petugas kerja               dasarkan jlh pasien        pertemuan
                      sendiri.              -   Insentif sering            membahas insentif.
                  - Kebanyakan                  terlambat.             -   Prosentase
Bidan                 pasien datang pd      -   Tidak ada dana             pembagian tdk
                      malam hari.               tambahan.                  sesuai
                  - Pasien jarang mau                                  -   Sumber dana utk
                      di rujuk.                                            insentif tidak jelas.

Sumber : Dari Hasil Koding




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                            17

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:35
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:17
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl